Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Judul Skripsi
Analisis Pengaruh Fragmentasi Hasil Peledakan terhadap Produktivitas

Alat Muat pada PT. Berau Coal, Tanjungredep, Kalimantan Timur


1.2

Latar Belakang Masalah


Dalam industri pertambangan sering dijumpai sifat batuan yang relatif

keras,sehingga tidak dapat digali secara langsung karena berpengaruh pada


produktivitas alat gali muat tersebut. Dengan berkembangnya teknologi,
ditemukan solusi untuk memberaikan batuan tersebut yaitu dengan proses
peledakan. Dimana proses ini merupakan salah satu metode yang paling sering
digunakandalam pemberaian batuan keras sehingga operasi penambangan dapat
berjalan secara efektif dan efisien.
Keberhasilan proses peledakan tersebut dinyatakan dengan perhitungan
pendistribusian ukuran fragmentasi. Dimana ukuran fragmen yang dihasilkan
berpengaruh untuk proses penggalian dan pemuatan material yang terledakkan.
Oleh karena itu diperlukannya rancangan geometri peledakan yang optimal
dengan mengkaji geometri peledakan yang telah digunakan dan fragmentasi yang
dihasilkan agar tujuan dari adanya proses peledakan tersebut sesuai dengan
sasaran.
Sebagai perusahaan berbadan hukum, PT Berau Coal resmi berdiri pada
tanggal 5 April 1983, kemudian memperoleh kontrak karya penambangan
batubara nomor J2/JI>DU/12/83 pada tanggal 26 April 1983 dengan PN Tambang
Batubara. Kontrak dengan pemerintah masi berjalan baik hingga dan berjalan
sesuai dengan ketentuan hokum yang di tetapkan oleh pemerintah.
Produksi batubara dan ukuran fragmen yang diinginkan untuk tahapan
proses selanjutnya tetap sesuai dengan target, maka perlu dilakukan perhitungan

dan analisis terhadap fragmentasi hasil peledakan tersebut. Hal di atas


melatarbelakangi keinginan saya untuk melakukan pengamatan dan penelitian
lebih lanjut mengenai fragmentasi hasil peledakan, dengan judul

Analisis

Pengaruh Fragmentasi Hasil Peledakan terhadap Produktivitas Alat Muat pada PT.
Berau Coal, Tanjungredep, Kalimantan Timur.
1.3

Perumusan Masalah
Pada penelitian ini akan dilakukan pengamatan , pengukuran , perhitungan

dan analisis fragmentasi hasil peledakan terhadap penggunaan bahan peledak baik
berdasarkan densitas bahan peledak , powder factor dan geometri peledakan yang
dilakukan oleh perusahaan.
1.4

Batasan Masalah
Batasan masalah yang dilakukan pada penelitian ini merujuk kepada :
1. Penelitian dilakukan pada lokasi penambangan.
2. Mengkaji geometri peledakan dan powder factor (PF) yang digunakan oleh
perusahaan.
3. Perbandingan

dan

perhitungan

fragmentasi

menggunakan

metode

photographic dengan bantuan software split-dekstop dan metode teoritis


( model Kuz-Ram).
4. Menganalisa produktivitas alat muat terhadap fragmentasi yang dihasilkan
dari proses peledakan.
5. Tidak menghitung keekonomian.
1.5

Hipotesa
Hasil dari fragmentasi peledakan akan menghasilkan perhitungan

distribusi fragmen secara teliti pada perhitungan metode teoritis dikarenakan


perhitungan distribusi ukuran tanpa memperhatikan kendala yang terjadi di
lapangan secara langsung.
1.6
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengkaji dan menghitung ukuran fragmentasi batuan hasil peledakan.
2. Menganalisis hasil peledakan dan memberikan rekomendasi untuk
meningkatkan produktivitas alat muat bagi perusahaan.
1.7

Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian yang dilakukan adalah :
1. Masukan bagi perusahan dalam melakukan perencanaan peledakan.

2. Bagi peneliti , untuk menambah wawasan tentang penambangan khususnya pada


fragmentasi peledakan.
1.8

Metode Penelitian
Metode penelitian meliputi :
1. Studi literatur.
Dilakukan dengan cara mencari bahan-bahan pustaka yang bertujuan dengan

penelitian yang akan dilakukan dari buku-buku dan laporan penelitian yang ada.
2. Observasi lapangan.
3. Pengambilan data.
a. Data primer
Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari hasil
pengamatan di lapangan. Data primer yang didapatkan pada saat penelitian
sebagai berikut :
b. Data sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung, yaitu
data yang didapat dengan menyalin dari data yang sudah ada. Data sekunder yang
didapatkan pada saat penelitian adalah:
4. Pengolahan dan analisis data.
Pengolahan data dapat dilakukan dengan melakukan perhitungan-perhitungan
secara teoritis kemudian menganalisis hadil pengolahan data tersebut dengan
menggunakan :
a. Perhitungan geomteri peledakan.
b. Menganalisis frakmentasi hasil

peledakan

secara

actual

dengan

menggunakan metode photographic.


c. Menggunakan software Microsoft office excel dengan formula Kuz-Ram
Fragmentation untuk mengambil tingkat fragmentasi batuan hasil
peledakan.
5. Kesimpulan
Setelah melakukan pengolahan dan menganalisis data yang didapat
selanjutnya ditarik kesimpulan terhadap permasalahan yang muncul dengan teliti.
Sifatnya merupakan hasil dari pembahasan yang terjadi di lapangan yang
kemudian dibandingkan dengan teori yang digunakan sehingga memunculkan
sebuah gagasan dari pembahasan tersebut.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Metode Peledakan


Metode peledakan yaitu suatu metode pemberaian batuan dari batuan
induk dengan menggunakan bahan peledak. Menurut kamus pertambangan umum,
bahan peledak adalah senyawa kimia yang dapat bereaksi dengan cepat apabila
diberikan suatu perlakuan, menghasilkan sejumlah gas bersuhu dan bertekanan
tinggi dalam waktu yang sangat singkat.
Peledakan memiliki daya rusak bervariasi tergantung jenis bahan peledak
yang digunakan dan tujuan digunakannya bahan peledak tersebut. Peledakan
dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, baik itu positif maupun negatif,
seperti untuk memenuhi tujuan politik, ideologi, keteknikan, industri dan lain-lain.
Contohnya besi, baja dan logam lainnya, serta bahan galian industri, seperti

batubara dan gamping seringkali menggunakan peledakan untuk memperoleh


bahan galian tersebut, apabila dianggap lebih ekonomis dan efisien dari pada
penggalian bebas (free digging) maupun penggaruan (ripping).
Suatu operasi peledakan dinyatakan berhasil dengan baik pada kegiatan
penambangan apabila (Koesnaryo, 1988 ; 1-2) :
1. Target produksi terpenuhi (dinyatakan dalam ton/hari atau ton/bulan).
2. Penggunaan bahan peledak efisien yang dinyatakan dalam jumlah batuan
yang berhasil dibongkar per kilogram bahan peledak (disebut powder faktor).
3. Diperoleh fragmentasi batuan berukuran merata dengan sedikit bongkah
(kurang dari 15% dari jumlah batuan yang terbongkar per peledakan).
4. Diperoleh dinding batuan yang stabil dan rata (tidak ada overbreak, overhang,
retakan retakan).
5. Aman.
2.2 Pola Pemboran
Kegiatan pemboran lubang ledak merupakan suatu hal yang sangat penting
diperhatikan sebelum kegiatan pengisisan bahan peledak. Kegiatan pemboran
lubang ledak dilakukan dengan menempatkan lubang lubang ledak secara
sistematis, sehingga membentuk suatu pola. Berdasarkan leak lubang bor maka
pola pemboran dibagi menjadi dua pola dasar, yaitu:
1. Pola pemboran sejajar (parallel pattern), terdiri dari dua macam, yaitu :
a. Pola bujursangkar (square pattern), yaitu jarak burden dan spasi yang
sama.
b. Pola persegipanjang (rectangular pattern), yaitu jarak spasi dalam satu
baris lebih besar dibandingkan dengan burden.
2. Pola pemboran selang seling (staggered pattern), adalah pola pemboran yang
penempatan lubang ledak ditempatkan secara selang seling pada setiap
kolomnya. Dalam pola ini distribusi energi peledakan antar lubang akan lebih
terdistribusi secara merata daripada pola bukan staggered.

3m

3m

2,5 m

3m

Bidang bebas

Bidang bebas
a. Pola bujursangkar

b. Pola persegipanjang

3m

3m

2,5 m

3m

Bidang bebas
c. Pola zigzag bujursangkar

Bidang bebas
d. Pola zigzag persegipanjang

Gambar 2.1
Pola Pemboran (Suwandi, 2009)
2.3 Pola Peledakan
Pola peledakan merupakan urutan waktu peledakan antara lubang lubang
bor dalam satu baris dengan lubang bor pada baris berikutnya ataupun antara
lubang bor yang satu dengan lubang bor yang lainnya. Pola peledakan ini
ditentukan berdasarkan urutan waktu peledakan serta arah runtuhan material yang
diharapkan. Urutan waktu peledakan juga sangat mempengaruhi arah dan ukuran
material yang terledakan.

Umumnya jika menggunakan masa tenggang urutan waktu (delay) batuan


yang terledakkan memiliki distribusi ukuran fragmen yang lebih beragam atau
dapat dikatakan persentase menghasilkan boulder lebih kecil. Beberapa contoh
pola peledakan berdasarkan sistem inisiasi dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 2.2
Pola Peledakan Berdasarkan Sistem Inisiasi (Suwandi, 2009)
Berdasarkan arah runtuhan batuan, pola peledakan diklasifikasikan sebagai
berikut :
1.

Box cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya ke depan

2.

dan membentuk kotak.


Echelon cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya ke

salah satu sudut dari bidang bebasnya.


3.
V cut, yaitu pola peledakan yang arah runtuhan batuannya kedepan
dan membentuk huruf V.

Energi yang dilepaskan tersebut tidak dapat terkonsentrasi sepenuhnya


untuk menghancurkan massa batuan (membentuk fragmentasi), tetapi terbagi
dalam beberapa jenis energi yang terdistribusi menjadi dua bagian besar, yaitu
energi terpakai (work energy) dan energi tak terpakai (waste energy). Secara
umum pola peledakan menunjukan urutan atau sekuensial ledakan dari sejumlah
lubang ledak. Adanya urutan peledakan berarti terdapat jeda waktu ledakan
diantara lubang-lubang ledak yang disebut dengan waktu tunda atau delay time.
Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan menerapkan waktu tunda (delay
time) pada sistem peledakan antara lain adalah:
1.

Mengurangi getaran.

2.

Mengurangi overbreak dan batu terbang (flyrock).

3.

Mengurangi getaran dan suara.

4.

Dapat mengarahkan lemparan fragmentasi batuan.

5.

Dapat memperbaiki ukuran fragmentasi batuan hasil peledakan.


2.4 Geometri Peledakan Menurut C.J. Konya (1990)
Untuk memperoleh hasil pembongkaran batuan sesuai dengan yang

diinginkan maka perlu suatu perencanaan peledakan dengan memperhatikan


besaran-besaran geometri peledakan, karena keberhasilan dari suatu proses
peledakan juga ditentukan dari perencanaan geometri peledakan. Berikut
penjelasan mengenai perhitungan geometri peledakan yang diambil berdasarkan
pendapat ahli yaitu menurut C.J. Konya (1990) tentang perencanaan geometri
peledakan :

KOLOM LUBANG
LEDAK ( L )

H
PC

Gambar 2.3
Geometri Peledakan Jenjang (Suwandi, 2009)
Terminologi dan simbol yang digunakan pada geometri peledakan seperti
terlihat pada Gambar 2.3 yang artinya sebagai berikut:
B = burden

;L

= kedalaman kolom lubang ledak

S = spasi

;T

= penyumbat (stemming)

H = tinggi jenjang ; PC = isian utama (primary charge atau powder column)


J = subdrilling
2.4.1

Burden (B)
Burden yaitu jarak tegak lurus terpendek antara muatan bahan peledak

dengan bidang bebas yang terdekat atau ke arah mana pelemparan batuan akan
terjadi :
a. Burden terlalu kecil: bongkaran terlalu hancur dan tergeser dari dinding
jenjang serta kemungkinan terjadinya batu terbang sangat besar.
b. Burden terlalu besar : Fragmentasi kurang baik ( gelombang tekan yang
mencapai bidang bebas menghasilkan gelombang tarik yang sangat lemah di

bawah kuat tarik batuan).Besarnya burden tergantung dari karakteristik batuan,


karakteristik bahan peledak dan diameter lubang ledak.

B 3,15 x d e x 3 e
r
.......................................................
( 2.1)

Keterangan:
B = burden (ft),
de = diameter bahan peledak (inci),

e = berat jenis bahan peledak, dan


r = berat jenis batuan.
2.4.2

Spacing (S)
Spasi adalah jarak diantara lubang ledak dalam satu garis yang sejajar

dengan bidang bebas.


a. Spacing terlalu besar

: fragmentasi tidak baik, dinding akhir yang

ditinggalkan relative tidak rata


b. Spacing terlalu kecil

: tekanan sekitar stemming yang lebih besar dan

mengakibatkan gas hasil ledakan dihamburkan ke atmosfer diikuti dengan


suara bising (noise).
Tabel 2.1
Penentuan Spasi Geometri Peledakan (C.J.Konya, 1990)
Sistem Penyalaan

H/B < 4

Serentak

Tunda

H/B > 4

H 2B
3

H 7B
8

S = 2B

S = 1,4 B

2.4.3

Stemming (T)
Stemming disebut juga collar. Stemming berfungsi untuk mengurung

gas yang timbul dan mendapatkan stress balance, maka steamming sama dengan
burden. Jenis batuan massif dengan persamaan T = B, sedangkan batuan berlapis
T = 0,7 B.
2.4.4

Subdrilling
Subdrilling merupakan tambahan kedalaman dari lubang bor di bawah

rencana lantai jenjang. Subdrilling berfungsi supaya batuan dapat meledak secara
full face sebagaimana yang diharapkan. Lantai yang tidak rata disebabkan oleh
tonjolan tonjolan yang terjadi setelah dilakukan peledakan akan menyulitkan
waktu pemuatan dan pengangkutan.

Tingginya sub drilling tergantung dari

struktur dan jenis batuan dan arah lubang bor. Pada lubang bor yang miring,
subdrilling lebih kecil. Sub Drilling (J) = 0,3 B.
2.4.5

Penentuan diameter lubang dan tinggi jenjang


Penentuan diameter lubang dan tinggi jenjang mempertimbangkan 2

aspek, yaitu :
1.

Efek ukuran lubang ledak terhadap fragmentasi, airblast, flyrock, dan

getaran tanah.
2.

Biaya pengeboran.
Dalam menyusun perencanaan geometri lubang ledak untuk proses

peledakan, tinggi jenjang (H) dan burden (B) sangat erat hubungannya untuk
keberhasilan peledakan dan ratio perbandingan antara tinggi jenjang dengan
burden H/B (yang dinamakan Stifness Ratio) yang bervariasi memberikan respon
berbeda yang ditimbulkan setiap proses peledakan di lakukan terhadap
fragmentasi distribusi ukuran material yang dihasilkan, airblast, flyrock, dan
getaran tanah yang besaran dan dampak yang akan ditimbulkan harus sesuai
dengan standar aman yang telah ditetapkan dari pemerintah dan hal tersebut
haruslah menjadi perhatian penting dan hasilnya seperti terlihat pada Tabel 2.2.
Adanya dampak yang akan muncul dimungkinkan untuk melakukan evaluasi
secara bertahan terhadap proses peledakan yang dilakukan. Penentuan diameter

lubang ledak untuk proses peledakan dapat ditentukan secara sederhana dengan
menerapkan Aturan Lima (Rule of Five), yaitu menentukan ketinggian jenjang
(dalam feet) Lima kali dari diameter lubang ledaknya (dalam inci).
Tabel 2.2
Potensi yang Terjadi Akibat Variasi Stiffness Ratio (C.J. Konya, 1990)
Stifness
Ratio
1

Fragmentasi
Buruk

Ledakan

Batu

Getaran

udara

terbang

tanah

Besar

Banyak

Besar

Komentar
Banyak muncul backbreak di bagian toe.
Jangan dilakukan dan
rancang ulang

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Bila memungkinkan,
rancang ulang

Baik

Kecil

Sedikit

Kecil

Kontrol dan
fragmentasi baik

Memuaskan

Sangat

Sangat

Sangat

kecil

sedikit

kecil

Tidak akan menambah


keuntung-an bila
stiffness ratio di atas 4

2.5 Definisi Fragmentasi


Suatu metode pembongkaran batuan dapat dilakukan dengan cara
peledakan berdasarkan pendekatan dari pengukuran sifat karakteristik massa
batuan sebagai acuan diberlakukannya metode pembongkaran batuan dengan
metode tersebut. Hasil akhir dari peledakan batuan adalah fragmentasi.
Fragmentasi adalah istilah yang digunakan sebagai petunjuk ukuran setiap
bongkah batuan setelah peledakan. Keberhasilan suatu proses peledakan dapat
dilakukan dengan menganalisis distribusi ukuran fragmentasi bongkah batuan.
Fragmentasi yang optimal berkaitan dengan peningkatan produktivitas ,
berkurangnya tingkat keausan alat muat dan berkurangnya perbaikan alat mesin
pengolahan di pabrik. Disamping itu , menginginkan fragmen hasil peledakan
yang optimal juga memerlukan biaya dalam pemboran dan peledakan yang lebih

tinggi dibandingkan dengan pembongkaran batuan dalam bentuk bongkahbongkah.


Dalam mengontrol ukuran fragmentasi berkaitan dengan bahan peledak
yang digunakan , geometri lubang peledakan serta perencanaan peledakan yang
akan dilakukan. Ritringer berpendapat bahwa energi yang dibutuhkan pada
fragmentasi berhubungan dengan sejumlah area permukaan baru yang diledakkan
(energi adalah fungsi area). Perencanaan peledakan meliputi peletakkan bahan
peledak yang sesuai dengan konfigurasi geometri lubang ledak serta perhitungan
delay dari tiap masing-masing lubang ledak. Berdasarkan studi Beattie dan Grant
(1988) , Konig (1991) , Norell (1985 ) berpendapat jika penggunaan delay yang
tepat akan memungkinkan tercapainya fragmentasi yang optimal.
Fragmentasi yang dihasilkan pada proses peledakan terjadi akibat
gelombang kejut yang dihasilkan dari pemantulan gelombang tekan pada bidang
bebas , tegangan tarik yang dihasilkan dalam massa batuan di sekeliling lubang
ledak oleh tekanan gas-gas peledakan dan benturan antar fragmen batuan yang
terlempar antara fragmen di dinding batuan yang menyebabkan energi dari suatu
fragmen tersampaikan akibat saling tumbukan antar partikel.
Diameter lubang ledak sangat berpengaruh terhadap proses peledakan,
ketika diameter lubang bor ditingkatkan maka akan menambah produktivitas dan
hasil fragmentasi. Variasi dalam peningkatan diameter lubang ledak mempunyai
keuntungan diantaranya adalah penginkatan kecepatan peledakan dari bahan
peledak yang juga meningkatkan energy gelombang regangan. Tetapi juga
terdapat kekurangan , antara lain :
1. Powder factor yang diperlukan besar untuk mendapatkan distribusi ukuran
2.
3.
4.
5.

yang sama.
Sistem inisiasi harus lebih akurat.
Tingginya tingkat getaran.
Resiko terjadinya batuan terbang (flyrock) lebih tinggi.
Tingginya tingkat kebisingan yang akan muncul setelah dari proses peledakan

yang dilakukan.
Adapun keuntungan dengan meningkatkan besar ukuran diameter lubang
ledak antara lain:
1. Tingkat produksinya tinggi.

2. Tidak ada keterbatasan dalam kapasitas pemuatan, pengangkutan, dan alat


peremuk.
3. Tidak ada masalah toe dan backbreak.
4. Tidak ada masalah lingkungan, seperti getaran tanah dan airblast.
Suatu fragmentasi hasil peledakan dapat dikatakan optimal apabila mudah
digali, didapatkan bentuk muckpile hasil peledakan tidak rata, melainkan
menumpuk keatas, didapatkan distribusi ukuran material yang rata, dan tidak
terdapat material berukuran besar.
2.6 Faktor faktor Fragmentasi
Kegiatan peledakan dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu faktor rancangan yang
dapat dikendalikan dan faktor rancangan yang tidak dapat dikendalikan.
Faktor rancangan yang dapat dikendalikan sebagai berikut :
a. Geometri pemboran
b. Pola pemboran
c. Geometri peledakan

: diameter, kedalaman, kemiringan, tinggi jenjang.


: paralel pattern dan staggerd pattern.
: burden, spasi, stemming, subdrill, kolom isian,

kedalaman lubang.
d. Pola peledakan
e. Bahan peledak

: box cut, corner cut, V-cut.


: macam-macam bahan peledak, kekuatan, detonasi,

densitas, sumbu ledak, ketahanan terhadap air.


Faktor rancangan yang tidak dapat dikendalikan sebagai berikut :
a. Karakteristik massa batuan.
b. Bidang-bidang diskontinu.
c. Litologi batuan dan formasi batuan.
Tingkat

ukuran

fragmentasi

diukur

berdasarkan

batuan

hasil

pembongkaran yang akan di tambang. Hal tersebut berkaitan dengan tingkat


keekonomian baik dalam penggunaan alat angkut serta perawatan yang digunakan
dalam mengangkut material hasil peledakan. Hal tersebut berkaitan dengan
seberapa berhasilnya proses peledakan yang dilakukan sehingga mendapatkan
ukuran fragmentasi dengan perencanaan peledakan baik berdasarkan geometri
lubang ledak , hingga bahan peledak yang akan digunakan. Adapun faktor-faktor
yang mempengaruhi fragmentasi adalah karakteristik batuan , kelurusan lubang
ledak, properti bahan peledak, pemuatan lubang ledak, spesifikasi isian, sistem
pembakaran.

2.7 Metode Pengukuran Fragmentasi


Metode pengukuran fragmentasi hasil peledakan dapat dilakukan dengan
berbagai cara meliputi :
1. Metode Visual
Pada umumnya metode ini hanya mengamati fragmentasi hasil peledakan
berdasarkan karakterisitik bentuk farmen yang terbentuk, pusat gravitasi dari
muckpile, perpindahan batuan yang terbongkar akibat proses peledakan, dan
flyrock. Dilakukan pengamatan dan pengukuran secara manual di lapangan, dalam
satuan luas tertentu yang dianggap mewakili (representatif).
2. Bentuk Profil Muckpile
Sudut untuk profil tumpukan dari horizontal sebesar 43 o - 45o untuk
batubara sedangkan untuk batuan keras dan kuat dari 45 o - 60 o.
3. Metode Perhitungan Boulder
Hasil pembongkaran batuan terkadang menghasilkan oversize atau boulder
yang tidak menguntungkan dalam proses produksi selanjutnya terutama
mempengaruhi spesifikasi alat muat yang digunakan dan khususnya alat-alat
peremuk. Selain itu semakin banyak boulder yang terbentuk akan membuat
penambahan biaya perbaikan alat-alat produksi yang digunakan seperti alat-alat
peremuk dan resiko kecelakaan dalam proses pemuatan hingga proses
pengangkutan menuju ke area pengolahan untuk melalui tahapan proses
pengolahan lebih lanjut.
Metode ini mengukur hasil peledakan melalui proses berikutnya, apakah
terdapat kendala dalam proses tersebut, misalnya melalui pengamatan yang dapat
dilakukan dengan pemantauan alat muat dan angkut dengan mengamatai digging
rate, secondary breakage dan produktivitas crusher.
4. Peledakan Sekunder
Penggunakan peledakan sekunder seharusnya tidak boleh lebih 2% dari
peledakan primer karena secara tidak langsung akan mencerminkan fragmentasi
yang dicapai.
5. Monitoring Alat Muat dan Excavators
Pengawasan dan pengamatan secara bertahap terhadap alat muat dan
excavator ini akan menentukan indeks penggalian (dig ability index) sebagai
perhitungan fragmentasi batuan yang terbongkar.
6. Analisis Fotografi

Menganalisis tumpukan material hasil pembongkaran batuan dapat dengan


menggunakan foto yang sudah didigitasi dan di simpan didalam komputer.
Digitasi foto merupakan proses dalam komputer dengan menggunakan bantuan
software split-dekstop untuk menganalisis ukuran fragmen dari tumpukan material
hasil pembongkaran batuan. Data foto yang di ambil haruslah mewakili material
yang akan diukur ukuran fragmennya.
Software tersebut antara lain Fragsize, Split Engineering, gold size, power
sieve, fragscan, dan wipfrag.
2.8 Hubungan Perencanaan Peledakan dengan Fragmentasi
Suatu perencanaan peledakan pada dasarnya juga memperhatikan letak
dan posisi serta keadaan bidang diskontinu. Hal ini juga akan menentukan
seberapa optimal fragmentasi yang akan terbentuk sebagai hasil dari proses
peledakan. Sebagai prinsip umum pembongkaran batuan yang lebih efektif
dicapai dengan menempatkan lubang ledak pada blok padatan yang dibatasi oleh
bidang diskontinu daripada mencoba untuk mentransfer energi peledakan ke area
yang akan di ledakan.
Optimalisasi ukuran fragmentasi dari proses peledakan memang menjadi
perhatian utama dari keberhasilan proses peledakan tersebut terhadap biaya
produksi. Hal tersebut data dilakukan dengan meningkatkan jumlah dan kualitas
bahan peledak yang digunakan dengan meningkatkan densitas dan komposisi
bahan peledakan yang akan di ledakan. Untuk memperkirakan fragmentasi dari
hasil peledakan dapat digunakan rumusan yang dikemukakan oleh Kuznetsov
(1973) :
=A Vo
X
Q

0,8

( )

Q 6

..

(2.2)
Keterangan :

= ukuran rara-rata fragmentasi batuan , centimeter

A = faktor batuan, 7 untuk batuan menengah


10 untuk batuan keras dan banyak kekar

13 untuk batuan sangat keras dan sedikit kekar


Vo= volume batuan yang terbongkar , m3

Q = berat bahan peledak tiap lubang ledak , kilogram


E = relative weight strength (TNT = 115)
Jika menentukan massa TNT dengan RWS TNT = 115, maka :
Q=

Qe E
115
Kuznetsov (1983) melakukan pengembangan modifikasi persamaan

dengan menggunakan ketetapan angka yang memasukan bahan peledak ANFO


kedalam persamaan yang baru sehingga persamaan menjadi:
Vo
X =A
Qe

0,8

( )

Qe 6

E
115

19 /30

( )

..(2.3)

Keterangan:

= ukuran rara-rata fragmentasi batuan , centimeter

A = Rock Factor (RF), dihitung dengan menggunakan Blastabiltity Index.


Vo= volume batuan yang terbongkar , m3
Qe = berat bahan peledak tiap lubang ledak , kilogram
E = relative weight strength (ANFO = 100; TNT = 115)
Modifikasi persamaan model Kuz-Ram dengan faktor koreksi berkisar
0,06 sampai dengan 0,073 yang termasuk dalam prediksi material pembongkaran
dari perhitungan fragmentasi yang dilakukan pada proses peledakan.
Persamaan yang digunakan untuk memprediksi seberapa kemungkinan
ukuran fragmen rata-rata yang akan di hasilkan dengan menggunakan persamaan
berikut :
0,06
1
0,8
X =[ ( 0,073 ) BI ] Vo Qe 6 E
Qe
115

( )

19/ 30

( )

Keterangan:

= ukuran rara-rata fragmentasi batuan , centimeter

..(2.4)

Vo= volume batuan yang terbongkar , m3


Qe= berat bahan peledak tiap lubang ledak , kilogram
E = relative weight strength (ANFO = 100; TNT = 115)
Salah satu data masukan untuk model Kuz-Ram adalah faktor batuan yang
diperoleh dari indeks kemampuledakkan. Indeks kemampuledakan atau sering
dikatakan dengan Blastability Index. Nilai BI ditentukan dari penjumlahan bobot
lima parameter yang diberikan oleh Lily (dalam Hustrulid, 1999), yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.

Rock mass description (RMD).


Join plane spacing (JPS).
Joint plane orientation (JPO).
Specific gravity influence (SGI).
Mohs hardness (H).
Dari

kelima

parameter

dalam

perhitungan

besar

nilai

indeks

kemampuledakan atau blastability index (BI) mempunyai beberapa penilaian dan


karakterisitik yang bergantung pada sifat dari batuan yang akan dilakukan proses
peledakan dan sangat berbeda antara suatu wiliayah dengan wiliayah lainnya,
sehingga parameter-parameter tersebut kenyataanya sangat bervariasi seperti
keadaan jenis batuan dan kondisi geologi yang mendukung terjadinya variabilitas
jenis batuan.
Menghitung faktor batuan dengan nilai parameter batuan yang bervariasi
dapat menggunakan simulasi Monte Carlo. Dari simulasi Monte Carlo, diperoleh
total bobot parameter batuan dari proses peledakan sebagai dasar penentuan
indeks kemampuledakan (BI) . Selanjutnya dari total bobot parameter dapat
ditentukan berdasarkan tabel pembobotan indeks kemampuledakan (BI) dan
faktor batuan dimasukan pembobotan dari faktor batuan, geometri peledakan, dan
jumlah bahan peledak yang digunakan untuk memprediksi distribusi fragmen
batuan hasil peledakan. Secara lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.3
Pembobotan Masa Batuan Untuk Peledakan (Hustrulid, 1999)
No.
1

Parameter
Rock Mass Description (RMD)
Powdery / Friable

Pembobotan
10

Blocky

20

Totally Massive

50

Joint Mass Description (JPS)


Close (Spasi < 0,1m)
Intermediet (Spasi 0,1 - 1 m)
Wide (Spasi > 1 m)

10
20
50

Joint Plane Orientation (JPO)


Horizontal

10

Dip Out of face

20

Strike normal to face

30

Dip into face

40

Specific Gravity Influence (SGI)

Hardness (H)

SGI = 25 x SG -50
1 - 10

Hubungan antara kelima parameter tersebut terhadap Blastability index (BI) dapat
dilihat pada persamaan berikut :
BI = 0,5 x (RMD+JPS+JPO+SGI+H)

......(2.5)

Persamaan yang memberikan hubungan antara faktor batuan dengan


indeks kemampuledakkan atau Blastability index (BI) yang dikemukakan oleh
Lily (1986) sebagai berikut :
RF = 0,12 x (BI) ........(2.6)
Untuk

menentukan

distribusi

fragmen

batuan

hasil

peledakan

menggunakan persamaan Rossin Rammler, yaitu :


n

( XcX )

Rx=e

....

(2.7)
Keterangan :
R = Persentase massa batuan yang lolos dengan ukuran X (cm)
Xc= Karakteristik ukuran (cm)
X = Ukuran Ayakan (cm)

n = Indeks Keseragaman
Persamaan

mengetahui

distribusi

fragmentasi

digunakan

rumus

keseragaman dan karakteristik ukuran pada persamaan yang dikembangkan oleh


Cunningham (2005) dengan persamaan sebagai berikut :
n=ns

D
30 B 1+mb
2
1 t
d
2
B

Ib
Hb

0,3

)( )

C ( n ) .........(2.8)

Keterangan :
m b = nisbah perbandingan spasi dan burden
Dt

= standar deviasi dari keakuratan pengeboran, meter

Ib

= panjang isian, meter

H b = tinggi jenjang, meter


d

= diameter bahan peledak, milimeter

B = burden, meter
n s = faktor penggabungan scatter of delay time yang digunakan dalam
peledakan
Faktor

ns

yang ada dari persamaan tersebut dapat dinyatakan sebagai

berikut :

n s=0,206+ 1

Rs =

Tr
Tx

Rs
4

0,8

......(2.9)

...

(2.10)
Keterangan :
Tr

= range of delay scatter, ms

T x = desired delay between holes, ms

2.9 Analisis dengan Menggunakan Sofware Split-Dekstop


Program Split Desktop merupakan program yang berfungsi untuk
menganalisa ukuran fragmen batuan. Split Desktop adalah program penganalisaan
gambar yang dikembangkan oleh Universitas Arizona, Amerika Serikat. Pada
penelitian ini program Split Desktop digunakan untukmembantu menganalisis
gambar fragmen material hasil peledakan, hasilnya berupa grafik prosentase lolos
material dan ukuran fragmen rata-rata yang dihasilkan dalam suatu peledakan.
Kelebihan program Split Desktop adalah sebagai berikut :
1.
Dapat membaca file gambar dengan format : TIF, JPEG atau Windows
BMP.
2.
Mengambil

gambar

dari

video

(video

capture)

dengan

Scion

3.
4.
5.
6.
7.
8.

Framegrabber.
Digital Video Capture dengan IEEE 1394 (fireware).
Kelebihan prosesing gambar standar (Scaling, filtering, dan sebagainya).
Peralatan edit gambar (image editing tools).
Digitasi automatik partikel batuan.
Identifikasi automatik partikel halus.
Menggunakan ukuran ayakan yang bisa disesuaikan (standar ISO, US,

9.
10.
11.

UK).
Hasil berupa grafik distribusi ukuran butir yang bisa disesuaikan.
Basis pelaporan dalam HTML dan Text.
Menggunakan perhitungan algoritma untuk menggabung dua gambar yang

berbeda skala.
12. Kalkulasi automatik parameter dengan pendekatan metode distribusi
Rossin-Ramler atau Schumann.
Split Desktop merupakan program pemprosesan gambar (image analysis)
untuk menentukan distribusi ukuran dari fragmen batuan pada proses
penghancuran batuan yang terjadi pada proses penambangan. Program Split
Desktop dijalankan oleh insinyur tambang atau teknisi di lokasi tambang dengan
mengambil input data berupa foto digital fragmentasi. Sistem Split Desktop terdiri
dari software, computer, keyboard dan monitor. Terdapat mekanisme untuk
mengunduh gambar dari kamera digital ke dalam komputer. (Duna, 2010).
2.10

Hubungan Fragmentasi dengan Produktivitas

Fragmentasi batuan merupakan pengamatan utama dari suatu keberhasilan


dari peledakan sehingga dapat dilakukan beberapa pengamatan dan pengukuran

secara metode kualitatif dan subjektif seperti pengamatal visual , penggunaan


secondary explosive , perhitungan bongkah dan monitoring pengangkutan oleh
alat angkut. Metode tersebut memiliki beberapa kelemahan seperti membutuhkan
waktu yang banyak , ketidakpercayaan terhadap perhitungan dan mudah
terjadinya kesalahan.
Metode kuantitatif merupakan salah satu solusi yang menjadikan
perhitungan fragmentasi lebih dapat dijadikan suatu bahan evaluasi terhadap
performa peledakan yang dilakukan. Seperti pengamatan akan karakteristik batuan
, homogenitas , maksimum , minimum dan rata-rata ukuran fragmen yang
terbentuk hasil peledakan. Beberapa faktor jika hasil fragmentasi optimal akan
mempengaruhi produktivitas antara lain :
1. Menaikkan kapasitas operasi alat muat .
2. Mengurangi cycle time dumper karena pengurangan masa tunggu dan
pemuatan.
3. Menambah faktor bucket fill karena berkurangnya cycle time pemuatan.
4. Mengurangi penggunaan secondary blasting sehingga menurunkan biaya
operasional.
5. Meningkatkan ukuran fragmen sehingga mengurangi penggunaan energi yang
digunakan mesin peremuk yang secara tidak langsung mengurangi biaya
operasinya.
6. Mengingkatkan kinerja hubungan alat gali-muat-angkut.
Perhitungan tingkat fragmentasi batuan berdasarkan analisa produktivitas
alat muat adalah dengan cara membandingkan batuan yang berukuran umumnya
80 cm yang dapat dimuat ke dalam alat angkut secara optimal dengan
keseluruhan berat batuan yang terbongkar, dengan persamaan sebagai berikut :
Tf =

Wo
100
Wt

..(2.11)

Keterangan:
Tf = tingkat fragmentasi batuan ,%
Wo = berat batuan hasil peledakan 80 cm, ton
Wt = berat keseluruhan batuan yang terbongkar, ton

Untuk menentukan berat batuan hasil peledakan

80 cm dihitung dari

data berat batuan yang terangkut oleh alat setiap trip alat muat yang digunakan
untuk mengisi 1 trip alat angkut. Berat muatan alat angkut dihitung dengan
persamaan :
T =Fp Vm Np Di ...(2.12)

Keterangan:
T

= berat muatan alat angkut setiap trip, ton

Fp = faktor pengisian alat muat, %


Vm = kapasitas menunjung bucket alat muat, m3
Np = jumlah oemuatan alat muat kedalam alat angkut
Di = bobot isi batuan, ton/m3
Untuk perhitungan produksi per siklus alat gali muat yaitu muatan yang
diangkut oleh alat berdasarkan kapasitas alat muat dan kapasitas alat angkut dalam
hitungan trip dapat menggunakan persamaan dibawah ini :
q = q1 x K..(2.13)
Keterangan :
q = Produksi per siklus, m3
q1 = Kapasitas Bucket Fill, m3
K = Bucket Fill Factor
Kemudian untuk perhitungan produktivitas alat gali muat dapat menggunakan
persamaan di bawah ini :
Q=

3600
qE
CT

..

(2.14)
Keterangan :
Q = Produktivitas alat gali muat, m3/jam
q

= Produksi per siklus,m3

E = Efisiensi kerja
CT = Cycle Time, detik
Pembatasan yang mengikuti pandangan dari produksi para teknisi
peledakan terhadap prediksi model fragmentasi adalah sebagai berikut : (Scott,
1993)

1. Terlalu banyak input parameter yang tidak familiar.


2. Model ini tidak dapat menentukan perkiraan distribusi fragmentasi atau faktor
kerusakan dari batas keamanan yang dibutuhkan oleh para teknisi lapangan.
3. Hasil model dipengaruhi oleh faktor-faktor teknis peledakan.
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1

Diagram Alir Penelitian


Metode yang digunakan dalam penelitian ini didasarkan pada metode

perhitungan aktual lapangan yang bertujuan untuk mendapatkan hasil pada waktu
sekarang yang digunakan untuk menganalisis data hasil penelitian yang dilakukan.
Rancangan kegiatan penelitian ini terdiri dari 4 tahapan yaitu tahap persiapan,
tahap pengumpulan data, tahap pengolahan data, dantahap penyusunan laporan
akhir. Adapun rincian tahapan tersebut antara lain :
1. Tahap Persiapan
Pada tahap ini dilakukan penyusunan usulan tugas akhir. Sasaran utama studi
pendahuluan ini adalah gambaran umum daerah penelitian. Studi literatur
dilakukan dengan mencari bahan-bahan pustaka yang menunjang kegiatan
penelitian, yang diperoleh dari :
a.
Instansi terkait.
b.
Perpustakaan.
c.
Informasi penunjang lainnya.
d.
Konsultasi dosen keahlian.
2. Pengamatan Lapangan
Pengamatan di lapangan ditujukan untuk mendapatkan data-data yang
diperlukan secara langsung di lapangan yang tidak dapat dilakukan di lain waktu.
Pengambilan data dilakukan dengan pengamatan dan pengukuran yang dilakukan
di lapangan.
3. Pengolahan Data

Pengolahan data hasil penelitian dilakukan dengan perhitungan berdasarkan


teori yang ada dan data hasil penelitian dan percobaan yang dilakukan dengan
dasar teori pendukung sebagai pembanding.
4. Analisa data
Dari rumusan-rumusan yang telah didapat kemudian dilakukan analisa untuk
menemukan jawaban atas pertanyaan perihal rumusan dan hal-hal yang diperoleh
dalam penelitian.
5. Kesimpulan
Hasil sintesis data keseluruhan dirangkum ke dalam laporan tertulis untuk
dipertanggungjawabkan dalam bentuk laporan hasil penelitian tugas akhir.
3.2

Teknik Pengumpulan Data


Cara pengumpulan data-data yang diperlukan dalam penelitian ini

meliputi:
1.

Studi kepustakaan, yaitu pengumpulan data-data dari literatur dan


internet tentang perhitungan fragmentasi peledakan dan produktivitas alat
muat.

2.

Observasi lapangan, yaitu pengamatan di lapangan meliputi


kegiatan peledakan.

3.

Wawancara dengan instruktur lapangan serta orang-orang yang ahli


dibidangnya.
Adapun data data yang dikumpulkan terbagi menjadi dua, yaitu data

primer dan data sekunder. Data yang termasuk dalam data primer antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Produktivitas alat muat dan spesifikasi alat muat yang digunakan.


Perencanaan produksi peledakan.
Metode peledakan yang dilakukan.
Geometri peledakan.
Bahan peledak yang digunakan.
Kuat tekan, kondisi bidang diskontinu dan densitas batuan.
Fragmentasi hasil peledakan.
Data yang termasuk dalam data sekunder antara lain :

1. Peta lokasi perusahaan.


2. Peta wilayah IUP.
3. Kondisi geologi setempat.

4. Data curah hujan.


5. Peralatan yang digunakan dan produksi ton/bulan.
6.
Sistem penambangan yang digunakan.
7.
Kualitas batubara yang di produksi.
8.
Kontraktor dan sub kontraktor.
9.
Komoditas batubara.
3.3

Teknik Pengolahan Data


Adapun pengolahan data yang diperlukan dilakukan dengan merangkum

keseluruhan data yang di dapat di lapangan baik itu merupakan data primer
maupun data sekunder dan di lihat saling keterkaitannya satu sama lainnya. Dalam
penelitian ini pengolahan data yang dilakukan antara lain :
1. Perhitungan geometri peledakan dan powder factor (PF) yang efisien.
2. Perhitungan distribusi fragmentasi hasil peledakan dengan menggunakan
metode teoritis dan aktual.
3. Perhitungan produktivitas alat muat dengan memonitoring alat muat yang
berkeja di lapangan.
3.4

Teknik Analisis Data


Teknik analisis data yang dipergunakan yaitu analisis kualitatif, kuantitatif,

dan deskriptif. Berupa pengamatan dan melakukan perhitungan fragmentasi yang


dihasilkan oleh peledakan yang dilakukan. Data yang didapat di olah dan dianalisa
berdasarkan metode yang ditetapkan sejak awal.
Di ambil beberapa cara pengolahan data sebagai langkah untuk
perbandingan antara teori yang digunakan dengan teori penunjang lainnya
sehingga dapat disimpulkan dari dasar pembanding tersebut sebagai analisis data
yang dilakukan dari hasil pengolahan data tersebut. Adapun data yang akan diolah
yaitu :
1.

Analisa geometri peledakan dan powder factor (PF).

2.

Analisa fragmentasi hasil peledakan.

3.

Analisa produktivitas alat muat.

4.

Analisa fragmentasi yang dihasilkan terhadap produktivitas alat gali muat.

3.5

Tahapan Penelitian

BAB IV
RENCANA PENELITIAN

4.1

Jadwal Kegiatan Penelitian


Waktu

No.

4.2

Kegiatan

Study literatur

Orientasi lapangan

Pengambilan data

Pengolahan data

Pembuatan draft

Rencana Daftar Isi

RINGKASAN
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
DAFTAR LAMPIRAN
BAB
I

PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
I.2. Tujuan Penelitian
I.3. Rumusan Masalah
I.4. Batasan Masalah
I.5. Hipotesa

Februari

Maret

April

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3

I.6.
I.7.

Metode Penelitian
Manfaat Penelitian

II

TINJAUAN UMUM
2.1. Lokasi dan Kesampaian Daerah
2.2. Keadaan Geologi
2.3. Iklim dan Curah Hujan
2.4 Kualitas Batubara
2.5 Target Produksi
2.6 Kegiatan Penambangan
III
DASAR TEORI
3.1. Fragmentasi
3.2. Geometri Peledakan
3.3. Pola Pemboran
3.4. Pola Peledakan
3.5. Teori Perhitungan Distribusi Material
3.6. Pengambilan Data Photographic
IV
HASIL PENELITIAN
4.1. Lokasi Penelitian
4.2. Struktur Massa Batuan di Lokasi Penelitan
4.3. Pengamatan dan Pengukuran Fragmentasi Hasil Peledakan
4.4. Data Hasil Pengukuran Fragmentasi
4.5. Pengolahan Data
4.6 Percobaan (trial)
4.7 Perhitungan Metode Teoritis dan Aktual
V
PEMBAHASAN
5.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Fragmentasi
5.2. Analisis Fragmentasi Teoritis
5.3. Analisis Fragmentasi Photographic
5.4. Perhitungan Produktivitas
VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
6.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR PUSTAKA

1. Holmberg, R, 2003. Explosives and Blasting Technique: Proceedings of Efee


Second World Conference on Explosives and Blasting Technique, 2003,
Netherlands: A.A. Balkema. pp 459-466.
2. Konya, C. J. and E. J. Walter, 1990. Surface Blast Design. New Jersey:
Prentice-Hall, Inc, Page 127 136.
3. Suwandi, A, 2009. Diktat Kursus Juru Ledak XIV pada Kegiatan
Penambangan Bahan Galian, Pusdiklat Teknologi Mineral dan Batubara:
Bandung, Halaman 6 26.
4. Koesnaryo, S, 2011. Teknik Peledakan Batuan, Program Studi Teknik
Pertambangan- FTM, Universitas Pembangunan Nasional Veteran
Yogyakarta: Yogyakarta.
5. Indonesianto, Yanto, 2013. Pemindahan Tanah Mekanis, Program Studi
Teknik Pertambangan- FTM, Universitas Pembangunan Nasional Veteran
Yogyakarta, Awan Poetih: Yogyakarta.
6. Dyno, Nobel, 1997. Efficient Blasting Techniques, Blast Dynamics: U.S.A.
7. Demenegas, Vasileicos, 2008. Fragmentation Analysis of Optimized Blasting
Rounds In The Aitik Mine Effect od Specific Charge, Lulea University of
Technology Department of Civil Mining and Environmental Engineering.
8. Mohard, Robert C, 1954. Explosive and Rock Blasting, Field Technical
Operations Atlas Power Company Subsidiary of The Tyler Corporation:
U.S.A.
9. Naapuri, J., 1988. Surface Drilling and Blasting, Tamrock: Norway.
10. Langerfors, U. and Kihlstrom, B., 1963. Modern Rock Blasting. Almqvist and
Wiksell: Stockholm.
11. Hemphill, Gary B. 1981. Blasting Operations. Mc Graw Hill: New York