Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Kehilangan atau tidak adanya gigi, baik sebagian ataupun seluruhnya akan
menimbulkan berbagai gangguan pada seseorang, terutama apabila gigi yang hilang
tersebut tidak segera diganti dengan gigi tiruan. Akibat-akibat yang timbul karena
hilangnya gigi dalam jangka waktu yang lama dan tidak segera dibuatkan gigi tiruan
pengganti yakni dapat berupa terjadinya migrasi patologis, penurunan efisiensi
pengunyahan, hingga kelainan bicara. Oleh karena itu, pembuatan gigi tiruan sangat
penting pada kasus kehilangan gigi.
Untuk menegakkan suatu diagnosis agar perawatan dapat dilakukan, maka kita harus
melakukan beberapa tahapan prosedur pemeriksaan prostodontik. Riwayat pasien
mencakup semua informasi yang berhubungan dengan alasan tanpa pasien meminta
perawatan, disertai denan info personal, info yang relevan hasil riwayat medis dan
dental.

1.2.

Deskripsi Topik
Seorang pasien perempuan berusia 50 tahun datang ke praktek dokter gigi dengan
keluhan ingin membuat gigi palsu. Pasien sudah mengalami kehilangan gigi pada daerah
posterior dan anterior 5 tahun yang lalu. Menurut pasien, dia menderita hipertensi dan
rutin mengonsumsi anti hipertensi. Pada pemeriksaan ekstra oral terlihat bibir pasien

pendek. Setelah dilakukan pemeriksaan intra oral terlihat:


1. Gigi yang hilang 17, 16, 12, 11, 21, 25, 26, 32, 33, 36, 37, 46, 47
2. Gigi 45 terdapat poket dengan kedalaman 5 mm tanpa adanya kehilangan perelekatan
gingiva
3. Gigi 34, 35 karies dentin di bagian mesial meluas ke oklusal
4. Ditemukan plak hampir pada seluruh gigi yang tersisa dan resesi 1 mm pada gigi 14,
15, 27
5. Gigi 27 elongasi +/- 2mm
Produk :
1. Tentukan klasifikasi Klas Kennedy pada kasus di atas
2. Bagaimana caranya drg mengetahui penderita hipertensi?
3. Apakah ada hubungan antara pemakaian obat anti hipertensi dengan kelainan rongga
mulut?
4. Bagaimanakah pendekatan drg terhadap pasien hipertensi?
5. Jelaskan jenis poket pada gigi 45 dan jelaskan jenis klasifikasi resesi pada gigi
14,15,27 kasus tersebut
6. Jelaskan diagnosis dan rencana perawatan kelainan periodontal pada kasus tersebut
7. Jelaskan diagnosis dan rencana perawatan jaringan keras gigi pada kasus tersebut
1

8. Jelaskan diagnosis dan rencana perawatan kehilangan gigi sebagian pada kasus
tersebut
9. Jelaskan persiapan pada gigi geligi yang tinggal yang harus dilakukan untuk
persiapan pembuatan gigitiruan pada pasien tersebut
10. Bagaimana penyusunan gigi yang baik menurut saudara sehingga menghasilkan
gigitiruan yang estetis terutama pada daerah anterior, jelaskan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Klasifikasi Klas Kennedy
Kehilangan gigi sebagian adalah kehilangan satu atau lebih gigi pada rahang atas atau
rahang bawah. Kehilangan gigi sebagian diklasifikasikan menjadi empat metode
berdasarkan Klasifikasi Kennedy (1928). Kennedy tidak mengklasifikasikan geligi
2

tiruan, namun mengklasifikasikan lengkung rahang yang bergigi sebagian.


Klasifikasinya menghubungkan ruang yang tidak bergigi terhadap gigi-gigi yang masih
ada. Adapun klasifikasi kehilangan gigi menurut Kennedy yakni sebagai berikut:
1. Klas I : sadel/gigi berujung bebas bilateral dengan berbagai modifikasi, misalnya
modifikasi
2. Klas II. Pada kondisi Klas II, sadel berujung bebas unilateral dengan modifikasi
sesuai kebutuhan.
3. Klas III. Pada kondisi Klas III, sadel bounded unilateral dengan berbagai modifikasi.

4. Klas IV. Pada kondisi Klas IV, sadel bounded tunggal di anterior gigi-gigi pendukung
Berdasarkan uraian di atas, pada kasus pemicu 2 ini, rahang atas diklasifikasikan ke
dalam Klas II modifikasi II Kennedy karena unilateral free end dan memiliki dua daerah
edentulus yang dibatasi oleh gigi. Sedangkan pada rahang bawah diklasifikasikan ke
dalam Klas I modifikasi I Kennedy di mana bilateral free end dan memiliki satu daerah
edentulus yang dibatasi oleh gigi.
2.2. Cara Dokter Gigi Mengetahui Penderita Hipertensi
Cara dokter gigi mengetahui bahwa pasien menderita hipertensi melalui anamnesis
dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesis, seorang dokter gigi dapat mengetahui apakah
pasien memiliki riwayat kesehatan umum, seperti pada kasus diketahui bahwa pasien
menderita hipertensi dan rutin mengonsumsi obat. Dari anamnesis juga, dokter gigi
mengetahui bahwa hipertensi pasien dalam keadaan terkontrol.
Pada pemeriksaan fisik, seperti mengukur tekanan darah pasien, dokter gigi dapat
mengetahui tekanan darah pasien saat itu. Setelah mengetahui bahwa pasien mengaku
menderita hipertensi dan rutin mengonsumsi obat, ditunjang dengan pemeriksaan fisik
maka dapat ditegakkan bahwa pasien menderita hipertensi. Di mana perlakuan terhadap
pasien hipertensi sedikit berbeda dibandingkan pasien normal.
2.3. Hubungan Antara Pemakaian Obat Anti Hipertensi dengan Kelainan Rongga
Mulut
Obat antihipertensi dari golongan diuretik, ACE-inhibitor dan beberapa -Blocker
dapat menyebabkan reaksi likenoid. ACE-inhibitor juga diasosiasikan dengan kehilangan
sensasi pada lidah dan rasa terbakar pada mulut. ACEinhibitor dan penghambat reseptor
angiotensin II pernah diimpliksikan bahwa keduanya menyebabkan angioedema pada
rongga mulut pada sekelompok 1% dari pasien yang mengonsumsinya. Meskipun

oedema pada lidah, uvula, dan palatum lunak yang paling sering terjadi, tetapi oedema
larynx adalah yang paling serius karena berpotensi menghambat jalan nafas. Efek
samping obat obatan antihipertensi pada rongga mulut adalah xerostomia, reaksi
likenoid, pertumbuhan gingiva yang berlebih, pendarahan yang parah, penyembuhan
luka yang tertunda. Sedangkan efek samping yang sistemik yang paling sering
dilaporkan adalah konstipasi, batuk, pusing, mengantuk, letih, frekuensi berkemih yang
meningkat, berkuranya konsentrasi, disfungsi seksual dan rasa tidak enak pada perut.
2.4. Pendekatan Dokter Gigi Terhadap Pasien Hipertensi
Kecemasan yang biasa dialami pasien saat akan menerima perawatan gigi dapat
mempengaruhi tekanan darah. Dengan komunikasi yang terjalin dengan baik antara
dokter gigi dan pasien, diharapkan pasien menjadi tenang dan nyaman. Selain itu,
prosedur perawatan yang memakan waktu mungkin dapat dibagi menjadi beberapa sesi,
supaya pasien tidak duduk terbaring terlalu lama di dental chair.
Pasien dengan hipertensi terkontrol tidak memberikan resiko besar pada praktek
dokter gigi.
Konsultasikan dengan dokter sangat disarankan untuk mengetahui tingkat
pengkontrolan hipertensi dan obat-obatan yang diresepkan saat itu.
Pasien diinstruksikan untuk mengonsumsi obat-obatan seperti biasa saat perawatan
gigi.
Tekanan darah pasien harus dicatat dan apabila nilai tekanan darah tinggi, perlu

dilakukan penundaan perawatan sampai tekanan darah terkontrol.


Menjalin komunikasi yang baik antara drg dan pasien
Menghindari stres dan kecemasan pada pasien
Utarakan penjelasan secara spesifik
Mulailah penjelasan dengan hal-hal positif
Kemukakan seluruh perawatan yang direncanakan

2.5. Jenis Poket pada Gigi 45 dan Jenis Resesi pada Gigi 14,15,27
Pendalaman sulkus gingiva terjadi karena pergerakan koronal margin gingiva,
perpindahan ke arah apikal gingiva cekat, atau kombinasi keduanya. Poket dibagi dua,
yaitu poket gingiva dan poket periodontal.
Pada kasus pemicu dua, jenis poket yang dialami pasien adalah poket gingiva. Poket ini
terbentuk karena pembesaran gingiva tanpa adanya kerusakan jaringan periodontal di
bawahnya. Pendalaman sulkus terjadi karena bertambahnya ketebalan gusi.

Klasifikasi resesi gingiva berdasarkan keadaan marginal gingiva terhadap CEJ dan
mucogingival junction menurut Miller:

Kelas I : Resesi pada marginal gingiva yang belum meluas ke mucogingival junction.
Pada kelas ini belum terjadi kehilangan tulang atau jaringan lunak di daerah

interdental. Resesi ini dapat berukuran kecil atau besar.


Kelas II : Resesi pada marginal gingiva meluas ke mucogingival junction, tetapi

belum terjadi kehilangan tulang atau jaringan lunak di daerah interdental.


Kelas III : Resesi pada marginal gingiva meluas ke mucogingival junction disertai
dengan kehilangan tulang dan jaringan lunak di daerah interdental atau terdapat

malposisi gigi yang ringan.


Kelas IV : Resesi pada marginal gingiva meluas ke mucogingival junction disertai
dengan kehilangan tulang dan jaringan lunak yang parah di daerah interdental atau
terdapat malposisi gigi yang parah.
Pada kasus terjadi resesi Kelas I, di mana resesi 1 mm pada gigi 14, 15, 27.

2.6. Diagnosis dan Rencana Perawatan Kelainan Periodontal


Diagnosis pada kasus adalah gingivitis diinduksi plak diperparah faktor lokal. Salah
satu ciri gingivitis yaitu terbentuknya saku gusi yang apda kasus terdapat pada gigi 45.
Saku gusi, yaitu sulkus gingiva yang dinding jaringan lunaknya terinflamasi tanpa
adanya migrasi epitel penyatu epitel. Faktor lokal yang memperparah gingivitis pada
pasien ini adalah edentulus dan karies.
Rencana perawatan pada kelainan periodontal pasien, yaitu:
a. Fase I (fase etiotropik)
DHE
Kontrol plak
Skeling
Ekskavasi karies dan restorasi sementara
Penyelarasan oklusal
b. Evaluasi respon terhadap fase I
c. Fase II (fase bedah) : tidak dilakukan
d. Fase III (fase restoratif)
Restorasi akhir
Prosthetic treatment
e. Evaluasi respon terhadap fase III
f. Fase IV (fase pemeliharaan)
Kunjungan berkala 1-2 bulan dalam satu tahun pertama.
2.7. Diagnosis dan Rencana Perawatan Jaringan Keras
Klasifikasi karies menurut GV Black dapat dibagi atas 5, yaitu:
5

a. Kelas I adalah karies yang mengenai permukaan oklusal gigi posterior.


b. Kelas II adalah karies gigi yang sudah mengenai permukaan oklusal dan bagian
aproksimal gigi posterior.
c. Kelas III adalah karies yang mengenai bagian aproksimal gigi anterior.
d. Kelas IV adalah karies yang sudah mengenai bagian aproksimal dan meluas ke bagian
insisal gigi anterior.
e. Kelas V adalah karies yang mengenai bagian servikal gigi anterior dan posterior.
Klasifikasi karies menurut ICDAS, yaitu:
a.
b.
c.
d.

D1 : dalam keadaan gigi kering, terlihat lesi putih pada permukaan gigi
D2 : dalam keadaan gigi basah, sudah terlihat adanya lesi putih pada permukaan gigi
D3 : terdapat lesi minimal pada permukaan email gigi
D4 : lesi email lebih dalam, tampak bayangan gelap dentin atau lesi sudah mencapai

bagian dentinoenamel junction


e. D5 : lesi telah mencapai dentin
f. D6 : lesi telah mencapai pulpa
Klasifikasi karies menurut G.J Mount and WR.Hume, yaitu:
a. Berdasarkan site (lokasi).
Site 1 : karies terletak pada pit dan fissure.
Site 2 : karies terletak di area kontak gigi (proksimal), baik anterior maupun
posterior.
Site 3 : karies terletak di daerah servikal, termasuk enamel/permukaan akar yang
terbuka.

b. Berdasarkan size (ukuran)


Size 0 : lesi dini.
Size 1 : kavitas minimal, melibatkan dentin namun belum terjadi. Kavitas yang
masih minim dapat dilakukan perawatan remineralisasi.
Size 2 : ukuran kavitas sedang, dimana masih terdapat struktur gigi yang cukup
untuk dapat menyangga restorasi yang akan ditempatkan.
Size 3 : kavitas yang berukuran lebih besar, sehingga preparasi kavitas di perluas
agar restorasi dapat digunakan untuk melindungi struktur gigi yang tersisa dari
retak/patah.
Size 4

: sudah terjadi kehilangan sebagian besar struktur gigi seperti cups/sudut

insisal.
Diagnosis jaringan keras pada kasus menurut GV Black yaitu karies Klas II, menurut
ICDAS yaitu D5, dan menurut Mount dan Hume yaitu site 2 size 3 karena terdapat karies
dentin di bagian mesial yang meluas ke oklusal.

Rencana perawatan yang akan dilakukan yaitu penambalan resin komposit Klas II.
Resin komposit dipilih karena memiliki beberapa keunggulan dibandingakan bahan
tambalan yang lain. Bahan resin komposit termasuk bahan yang aman digunakan. Reaksi
alergi yang dilaporkan akibat penggunaan bahan resin komposit sangat sedikit.
Sensitifitas setelah pembuatan restorasi gigi dengan bahan resin komposit jarang ditemui.
Pencapaian estetik yang bagus merupakan kelebihan utama dari resin komposit. Ikatan
antara resin komposit dan gigi mendukung struktur gigi yang tersisa dimana dapat
mencegah kerusakan dan melindungi gigi dari perubahan temperatur yang berlebihan.
2.8. Diagnosis dan Rencana Perawatan Kehilangan Gigi Sebagian
Diagnosis pada rahang atas adalah Klas II modifikasi II Kennedy karena unilateral
free end dan memiliki dua daerah edentulus yang dibatasi oleh gigi. Sedangkan pada
rahang bawah diklasifikasikan ke dalam Klas I modifikasi I Kennedy di mana bilateral
free end dan memiliki satu daerah edentulus yang dibatasi oleh gigi.
Rencana perawatan yang dilakukan pada kehilangan gigi sebagian pada kasus terdiri
dari:
a. Perawatan Pendahuluan
Perawatan periodontal : penyingkiran plak dan kalkulus, serta occlusal adjustment
pada gigi 27
Perawatan konservasi : penambalan klas II pada gigi 34 dan 35
b. Perawatan rujukan tidak dilakukan karena kondisi hipertensi pasien dalam keadaan
terkontrol.
c. Perawatan utama
Pada kasus ini dipilih GTKL karena GTKL memiliki beberapa keunggulan
dibandingkan GTSL berbahan akrilik. Selain itu, dilihat juga dari kondisi rongga
mulut pasien ditemukan plak hampir pada seluruh gigi yang tersisa. Oleh karena itu
kami memilih GTKL yang memiliki kelebihan mudah dibersihkan, akurat, dan lebih
nyaman.
2.9. Persiapan Gigi Geligi yang Tinggal
Persiapan gigi yang tinggal bertujuan untuk memperoleh retensi, oklusi, stabilisasi,
dan estetik gigitiruan yang baik. Persiapa yang dilakukan, yaitu:

Tindakan periodontal
Berguna untuk mendapatkan jaringan sehat pada gigi yang ada sehingga memberikan
dukungan dan fungsi yang baik bagi gigitiruan. Pada kasus contohnya,

menghilangkan kalkulus, menghilangkan poket, dan kontrol plak.


Tindakan konservasi
7

Berguna sebagai perbaikan yang akurat terhadap gigi yang ada, antara lain

penambalan.
Tindakan pada gigi yang tinggal
Penentuan dataran oklusal
Pengkonturan kembali permukaan proksimal gigi anterior dan posterior
Pengkonturan kembali permukaan bukal dan lingual gigi
Preparasi dudukan sandaran
Penghalusan dan pemolesan seluruh permukaan yang dikontur

2.10. Penyusunan Gigi yang Baik pada Daerah Anterior


Penyusunan anasir gigitiruan anterior harus mengikuti aturan sebagai berikut:

Inklinasi Labiopalatal
Inklinasi Mesiodistal, harus diperhatikan karena penyusunan anasir gigitiruan anterior
menyangkut segi estetis dan disamping itu penyusunannya harus mengikuti lengkung

rahang
Hubungan dengan gigi antagonis, pada gigi anterior yang harus diperhatikan, yaitu
overbite dan overjet berkisar antara 1-2 mm.

Pada kasus juga disebutkan bahwa bibir pasien pendek, sehingga kita harus memilih gigi
dengan ukuran yang sedikit lebih panjang, tetapi jangan melewati garis servikal gigi
tetangga.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pasien dengan kehilangan gigi harus segera dibuatkan gigitiruan agar kondisi rongga
mulut pasien tetap baik. Selain itu untuk mengembalikan fungsi dan estetis pasien. Sebelum
dilakukan perawatan, pasien harus dianamnesis dan dilakukan pemeriksaan fisik untuk
mengetahui apakah pasien memiliki masalah pada kesehatan umumnya. Apabila pasien
tersebut memiliki masalah kondisi sistemik, seperti hipertensi maka harus diperlakukan
khusus agar tekanan darah pasien tidak naik. Pada pembuatan gigitiruan, harus dilakukan
perawatan pendahuluan untuk mengembalikan kesehatan gigi yang nantinya akan dijadikan
gigi penyangga, seperti perawatan periodontal, konservasi, dan bedah. Perawatan rujukan
dilakukan apabila dibutuhkan. Dan terakhir perawatan utama di mana akan dibuatkan
gigitiruan.

DAFTAR PUSTAKA

Kumala A. Resesi gingiva dan cara penutupannya. JITEKGI 2009; 6(1): 21-6.

Newman MG, Takei HH, Klokkevorl PR, Carranza FA. Carranzas Clinical Periodontology.
Ed 11th. China: Elsevier Saunders, 2012

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28623/3/Chapter%20II.pdf

Buku Ajar Ilmu Gigitiruan Sebagian Lepasan

Dalimunthe SH. Terapi Periodontal. Medan: Departemen Periodonsia FKG USU, 2006

Dalimunthe SH. Terapi Peridonsia. Medan: Departemen Periodonsia FKG USU, 2008

10