Anda di halaman 1dari 12

Citric Acid Plant From Pineapple Waste By Submerged Fermentation

Using Aspergillus Niger

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Awalnya asam sitrat diperoleh dalam bentuk kristal
melalui proses isolasi dari juice lemon oleh Scheele pada tahun
1784. Lalu pada tahun 1880 Grimoux dan Adam mensintesis
asam sitrat dari glycerol. Dan pada tahun 1893 Wehmer
mengindikasikan bahwa asam sitrat dapat diperoleh melalui
proses fermentasi larutan gula oleh beberapa jenis fungi. Hingga
kini proses produksi komerasial asam sitrat diperoleh melalui
proses fermentasi.
(Othmer, K, 1984)

Produksi asam sitrat secara komersial pertama kali


dimulai pada tahun 1923 di New York, Amerika Serikat
menggunakan mikroorganisme dengan proses fermentasi pada
kultur permukaan (surface culture). Proses ini digunakan oleh
industri asam sitrat di Inggris, Belgia dan Jerman dengan
molasses sebagai bahan bakunya. Dan pada akhir tahun 1940-an
dan 1950-an diperkenalkan proses fermentasi dengan kultur
terendam (submerged fermentation), dengan sirup glukosa , beet
atau cane molasses sebagai bahan bakunya.
(Blanch, H. W.,1979)
Asam sitrat digunakan oleh banyak industri di dunia
sebagai bahan baku produksi seperti industri makanan, minuman,
farmasi, kosmetik, dan lain-lain. Berdasarkan kenyataan bahwa
penggunaan asam sitrat yang luas dalam dunia industri, maka
kebutuhan pemenuhan bagi asam sitrat baik di dalam maupun luar
negeri masih sangat besar.
Dari berbagai macam bahan baku yang dapat digunakan
dalam proses produksi asam sitrat, maka digunakan limbah dari
Pabrik pengalengan nanas sebagai bahan baku proses produksi
Asam sitrat. Pemilihan ini berasal dari asumsi bahwa buah nanas
dapat diolah menjadi beragam produk, seperti selai, cocktail,

LAPORAN TUGAS AKHIR


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS SURABAYA

I-1

I-2
Citric Acid Plant From Pineapple Waste By Submerged Fermentation
Using Aspergillus Niger

sirup, sari buah, keripik hingga manisan buah kering. Dalam


proses pengolahan antar jenis olahan nanas sering terdapat
keterkaitan. Dari berbagai macam pengolahan tersebut, akan
diperoleh limbah nanas dalam jumlah yang cukup besar. Limbah
buah nanas tersebut terdiri dari : limbah kulit, limbah mata, dan
limbah hati. Limbah atau hasil ikutan (side product) nanas belum
banyak dimanfaatkan dan relatif hanya dibuang begitu saja.
Produk sampingan tersebut dapat diolah menjadi produk lain,
seperti sari buah atau sirup.
(http: semnaskimxviii-2008-iqmal-nanas.pdf)

Nanas merupakan salah satu jenis buah-buahan yang


banyak dihasilkan di Indonesia. Dari data statistik, produksi nanas
di Indonesia untuk tahun 1997 adalah sebesar 542.856 ton dengan
nilai konsumsi 16,31 kg/kapita/tahun (Anonymous, 2001).
Dengan semakin meningkatnya produksi nanas, maka limbah
yang dihasilkan akan semakin meningkat pula.
(http: semnaskimxviii-2008-iqmal-nanas.pdf)

Hal pemilihan bahan baku limbah nanas dibanding bahan


baku lain yang dapat digunakan sebagai asam sitrat yaitu
didasarkan pada pemanfaatan limbah nanas dari pabrik
pengalengan nanas yang masih sangat terbatas, antara lain
digunakan sebagai makanan ternak petelur, vinegar, namun belum
begitu banyak dimanfaatkan untuk industri Asam sitrat secara
komersil. Pemanfaatan kulit nanas untuk industri Asam sitrat
dapat meningkatkan nilai ekonomis kulit nanas sekaligus
menambah keanekaragaman industri asam sitrat di Indonesia.

I.2 Dasar Teori


Asam sitrat merupakan asam yang tersebar luas sebagai
bahan penyusun rasa buah-buahan diantaranya buah jeruk, nanas,
pear, dan lain-lain. Asam sitrat termasuk salah satu asam organik
dengan nama kimia 2-hydroxy-1,2,3-propanetricarboxylic acid
memiliki rumus bangun seperti berikut :

LAPORAN TUGAS AKHIR


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS SURABAYA

I-3
Citric Acid Plant From Pineapple Waste By Submerged Fermentation
Using Aspergillus Niger

Gambar I.1. Rumus bangun asam sitrat


(Ullmanns, 2003)

Asam sitrat bersifat tidak beracun, dapat mengikat logamlogam berat (besi maupun bukan besi), dan dapat menimbulkan
rasa asam. Asam sitrat banyak dimanfaatkan dalam industriindustri makanan dan minuman, kosmetika, farmasi, dan dalam
industri peengolahan alkyd resin.
(Tjokroadikoesoemo, P. S., 1993.)

Asam sitrat digunakan dalam industri untuk mengikat


(squester) ion, menetralkan basa dan berperan sebagai buffer.
Dalam kosmetika, asam sitrat digunakan sebagai buffer untuk
pengatur pH produk. Beberapa jenis sitrat, khususnya garam
sodiumnya, dipakai luas dalam produk makanan, farmasi dan
detergen. Ester dari asam sitrat dipakai secara komersial sebagai
plasticizer dalam penyiapan komposisi polimer, coating dan
adhesive.
(Kirk Othmer, 1984)

Di pasaran, asam sitrat biasa dijumpai dalam tiga jenis,


yaitu asam sitrat anhidrat, monohidrat dan larutan teknis 50%.
Spesifikasi asam sitrat kristal berdasarkan USP adalah:
Tabel I.1. Spesifikasi produk asam sitrat
Variabel
Prosetase asam sitrat dengan
basis anhidrat, min
Kadar air, maks
Logam berat
Kadar abu, maks
Arsenic, maks
(Kirk Othmer,1984.)

LAPORAN TUGAS AKHIR


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS SURABAYA

Nilai
99.5 %
0.5%
0.05%
0.001%
0.0003%

I-4
Citric Acid Plant From Pineapple Waste By Submerged Fermentation
Using Aspergillus Niger

Sedangkan spesifikasi produk asam sitrat berdasarkan ukuran


partikelnya adalah:
Tabel I.2. Spesifikasi ukuran partikel asam sitrat
Tipe partikel
anhidrat
hidrat
Granular
Maks 2% di atas 16 Maks 10% di atas
mesh
16 mesh
Maks 10% melalui
Maks 10% melalui
50 mesh
50 mesh
Granular halus
Maks 3% di atas 30 Maks 30% di atas
mesh
30 mesh
Maks 5% melalui
Maks 10% di atas
100 mesh
100 mesh
Bubuk (powder)
Maks 2% di atas 60 Maks 20% di atas
mesh
60 mesh
Min 50% melalui
Maks 20% melalui
200 mesh
100 mesh
(Kirk Othmer, 1984.)

I.3. Kegunaan
Industri makanan dan farmasi menggunakan asam sitrat
dikarenakan alasan keamanan secara umum, dapat memberikan
rasa asam, kelarutannya yang tinggi didalam air dan sebagai
buffering dan chelating agent. Industri kosmetik dan wewangian
menggunakannya sebagai buffering agent. Serta secara luas
digunakan sebagai buffering dan chelating agent di berbagai
macam industri. Berikut ini adalah penggunaan asam sitrat dalam
industri-industi tersebut.
I.3.1. Industri Makanan
1. Minuman
Asam sitrat digunakan dalam industri minuman untuk
memberikan rasa asam pada minuman dan sebagai
komplemen pada rasa berry pada minuman. Pada minuman
yang tidak berkarbonisasi asam sitrat dapat memberikan pH

LAPORAN TUGAS AKHIR


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS SURABAYA

I-5
Citric Acid Plant From Pineapple Waste By Submerged Fermentation
Using Aspergillus Niger

yang beragam pada minuman, selain itu asam sitrat pada


minuman jus buah merupakan komponen alami yang
tercampur secara baik dengan aroma dari minuman tersebut.
Untuk minuman berkarbonisasi asam sitrat digunakan sebagai
penguat rasa.
2. Jeli dan selai
Asam sitrat digunakan sebagai pemberi rasa asam pada jeli
dan selai serta digunakan untuk menyesuaikan pH.
3. Kembang Gula
Asam sitrat digunakan untuk memberikan rasa asam dan
meminimalkan inversi sukrosa pada produk kembang gula.
4. Makanan Beku
Asam sitrat digunakan sebagai chelating agent dan pengatur
pH sehingga memungkinkan pengoptimalan kestabilan dari
makanan beku dengan meniadakan aktivitas antioksidan dan
menon-aktifkan enzim.
I.3.2. Industri Farmasi, Kosmetik dan Pewangi
1. Farmasi
Asam sitrat digunakan sebagai bahan dasar tablet
effervescence, dimana asam sitrat bila bereaksi dengan zat
yang mengandung bikarbonat atau karbonat dalam air akan
membentuk gas karbondioksida dan garam dari asam
tersebut. Selain itu asam sitrat digunakan sebagai buffering
agent dan pemberi rasa asam pada obat-obatan.
2. Kosmetik dan Pewangi
Dalam industri ini asam sitrat digunakan sebagai pengatur pH
dan sebagai antioxidan pada metallic-ion chelator.
I.3.3. Industri Lainnya
Untuk industri-industri lainnya asam sitrat digunakan
untuk industri detergen, agrikultur, fotografi, tekstil, kertas dan
lain sebagainya. Selain itu dalam industri asam sitrat dapat
digunakan sebagai pembersih metal dan pengabsorbsi sulfur

LAPORAN TUGAS AKHIR


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS SURABAYA

I-6
Citric Acid Plant From Pineapple Waste By Submerged Fermentation
Using Aspergillus Niger

dioxide dan dapat digunakan pula dalam proses treatment pada


limbah.
(Kirk Othmer,1984.)

Berikut ini komposisi penggunaan asam sitrat secara umum :


1. Industri makanan dan minuman
75 %
2. Farmasi
10 %
3. Industri lainnya
15 %
I.4. Sifat Fisik dan Kimia Bahan
I.4.1. Bahan Baku Utama
I.4.1.1. Limbah Nanas

Gambar I.2. Buah nanas dan limbah nanas


Menurut Suprapti (2001), limbah nanas berupa kulit, ati/
bonggol buah atau cairan buah/ gula dapat diolah menjadi
produk lain seperti sari buah atau sirup. Menurut
Kumalamingsih(1993), secara ekonomi kulit nanas mash
bermanfaat untuk diolah menjadi pupuk dan pakan ternak.
Komposisi limbah kulit nanas dapat dilihat pada tabel berikut
ini:
Tabel I.4. Hasil analisis proksimat limbah kulit nanas
berdasarkan berat basah
Komposisi
Rata-rata berat basah (%)
Air

86,70

Protein

0,69

LAPORAN TUGAS AKHIR


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS SURABAYA

I-7
Citric Acid Plant From Pineapple Waste By Submerged Fermentation
Using Aspergillus Niger

Lemak

0,02

Abu

0,48

Serat basah

1,66

Karbohidrat

10,54

(Sidhata, 1989)

I.4.1.1. Aspergillus Niger


Banyak jenis mikroba yang dapat digunakan dalam
pembuatan asam sitrat, diantaranya A. niger, A. wentii, A.
ciavatus, Penicillum luteum. Diantara semuanya, A. niger
merupakan galur yang paling produktif. A. niger termasuk
salah satu jenis kapang. Berbeda dengan bakteri dan khamir,
kapang adalah multiseluler, terdiri dari banyak sel yang
bergabung menjadi satu. Melalui mikroskop dapat dilihat
bahwa kapang terdiri dari benang yang disebut hifa.
Kumpulan dari hifa disebut miselium. Kapang tumbuh
dengan cara memperpanjang hifa pada ujungnya. Kapang
dapat berwarna hitam, putih atau lainnya. Secara biokimia
kapang bersifat aktif karena merupakan organisme saprofit.
Organisme ini dapat menguraikan bahan-bahan organik
komplek menjadi bahan yang lebih sederhana.

Gambar I.3 Aspergillus niger

LAPORAN TUGAS AKHIR


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS SURABAYA

I-8
Citric Acid Plant From Pineapple Waste By Submerged Fermentation
Using Aspergillus Niger

I.4.2. Bahan Baku Pendukung


I.4.2.1. Asam Sulfat ( H2SO4 )
Asam sulfat digunakan untuk mengatur pH molases pada
tangki pencampuran dan sterilisasi serta mengubah endapan
kalsium sitrat menjadi asam sitrat pada acidullizer. Sifat
sifat fisik asam sulfat adalah :

Korosif dan reaktif


Tidak berwarna atau berwarna coklat tua
Larut dalam air
Berat Molekul
= 98 gr/mol
Spesifik gravity
= 1,84
Titik leleh
= 10,4 oC
Titik didih
= 315 338 oC

I.4.2.2. Lime ( Ca(OH)2 )


Berupa bubuk kristal putih, larut dalam air, gliserida dan
asam, tidak larut dalam alkohol serta menyerap CO2 dari
udara. Kegunaan dari lime ini untuk menetralkan cairan
asam sitrat menjadi kalsium sitrat agar dapat dipisahkan
dari hasil samping yang terbentuk. Sifat fisika dari lime
adalah sebagai berikut :

Spesifik gravity
Titik lebur
Kelarutan (0 oC)
(100 oC)

=
=
=
=

2,34
540 oC
0.185
0,077

1.4.2.3. Karbon aktif


-

Tidak mudah larut dalam air


Bersifat non-polar
Larut dalam minyak
Mudah teroksidasi pada suhu kamar
Berat molekul
= 12,01 gram/mol

LAPORAN TUGAS AKHIR


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS SURABAYA

I-9
Citric Acid Plant From Pineapple Waste By Submerged Fermentation
Using Aspergillus Niger

Iodine number
Ukuran partikel

= 85 mgram/gram
= 25-30 mm

1.4.2.4. Magnesium sulphate pentahydrate


Rumus molekul = MgSO4.7H2O
BM
= 246.47 g/mol
Wujud
= padat
Kenampakan
= kristal putih
Titik didih
= 99.974 C (373.124 K)
Densitas
= 2,66 g/cm3
Melting point
= 1124 oC
Solubility in water = 25.5 g/100 ml (20 C)
I.4.2.5. Pottasium hydrogen phosphate
Rumus molekul
= KH2PO4
BM
= 204.23 g/mol
Wujud
= padat
Kenampakan
= kristal putih
Titik didih
= 99.974 C (373.124 K) (211.95 F)
Densitas
= 1.64 g/cm3, solid
Melting point
= ca. 295 C (568 K)
I.4.2.6. Ammonium nitrate
Rumus molekul
BM
Wujud
Kenampakan
Titik didih
Densitas
Melting point
Solubility in water

= NH4NO3
= 80.043 g/mol
= padat
= kristal putih
= approx. 210 C
= 1.72 g/cm3
= 169.6 C
= 190 g/100 ml (20 C)

LAPORAN TUGAS AKHIR


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS SURABAYA

I-10
Citric Acid Plant From Pineapple Waste By Submerged Fermentation
Using Aspergillus Niger

I.4.2.7. Udara
Wujud
Kelembaban relative rata-rata
Komposisi rata-rata
Uap air
Nitrogen
Oksigen
Argon
CO2

= gas
= 80%
= 2,16 % mol
= 76,4 % mol
= 20,94 % mol
= 0,91 % mol
= 0,03 % mol

I.4.2.8. Air Proses


Rumus molekul
= H2O
BM
= 18.0153 g/mol
Wujud
= cair
Kenampakan
= jernih, tak berwarna
Titik didih
= 99.974 C (373.124 K) (211.95 F)
Densitas
= 0.996 g/cm (liquid at 30 C, 1 atm)
Melting point
= 0 C (273.15 K) (32 F)
Specific heat capacity = 74.539 J/ (molK) (liquid at 25 C)
I.4.3. Produk Utama
Sifat Fisik Asam Sitrat adalah sebagai berikut :
Tabel I.4. Sifat Fisik Asam Sitrat
PARAMETER
Rumus molekul
Berat molekul
Bentuk
Density (gr/cc)
Melting point
Boiling point

ANHYDROUS
MONOHYDRATE
C6H8O7
C6H8O7.H2O
192,12
210,14
Kristal tak berwarna
Kristal tak berwarna
1,67
1,542
o
153 C
Kehilangan air
Terdekomposisi
pada Terdekomposisi pada
175oC
175oC

LAPORAN TUGAS AKHIR


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS SURABAYA

I-11
Citric Acid Plant From Pineapple Waste By Submerged Fermentation
Using Aspergillus Niger

Proses
pembentukan

Kristalisasi dari larutan Kristalisasi dari larutan


panas
dingin
o
(>36,6 C)
(<36,6oC)

Kelarutan (g/100
gr air pada 25 oC)
Kelarutan di air pd
30oC

161.8

208.6

64,3%

64,3%

70oC
Struktur kristal
Panas pembakaran

76,2%
Orthorombic
468,5 kcal/mol

76,2%
Orthorombic
466,6 kcal/mol

(Othmer, K, 1984.)

Beberapa sifat kimia asam sitrat adalah :


Pada pemanasan 175oC, asam sitrat berubah menjadi aconitic
acid. Aconitic acid jika ditambah dengan hydrogen berubah
menjadi tricarballylic acid.
Pada pemanasan 175oC, asam sitrat jika dieliminasi dengan
oksigen dan menghilangkan karbon dioksida berubah menjadi
acetonedicarboxylic acid. Acetonedicarboxylic acid jika
diuapkan karbon dioksidanya berubah menjadi acetone.
Pada pemanasan 175oC, asam sitrat jika dihilangkan karbon
dioksida berubah menjadi itaconic acid.
Larutan asam sitrat bila dicampur dengan asam sulfat atau
oksidasi
dengan
larutan
potassium
permanganate
menghasilkan asam acetonedicarboxylic.
Pada suhu 35oC, jika asam sitrat dioksidasi dengan potassium
permanganate menghasilkan asam oksalat.
Asam sitrat terdekomposisi menjadi asam oksalat dan asam
asetat jika dibakar dengan potassium hydroxide atau
dioksidasi dengan asam nitrit.
Dalam bentuk larutan, asam sitrat sedikit korosif terhadap
karbon steel dan tidak korosif terhadap stainless steel.

LAPORAN TUGAS AKHIR


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS SURABAYA

I-12
Citric Acid Plant From Pineapple Waste By Submerged Fermentation
Using Aspergillus Niger

Sebagai asam polybasic, asam sitrat dapat membentuk


berbagai macam garam termasuk garam alkali metal dan
alkali tanah, selain itu dapat pula membentuk berbagai
macam ester, amida dan acyl klorida.
(Othmer, K, 1984.)

I.4.4. Produk Samping


I.4.4.1. Kalsium Sulfat (CaSO4)
Bersifat lunak dan tidak berbau, berupa granul atau
serbuk putih. Kegunaan dari CaSO4 ini adalah sebagai
salah satu bahan baku untuk pembuatan semen. Sifat
fisika dari CaSO4 adalah sebagai berikut :
Berat molekul
= 136,14 gram/mol
Kelarutan
= 0,27 g dalam air 100 g @ 20oC
Densitas
= 2,93-2,97 gram/ml
Boiling point
= 11930C (21790F)
Melting point
= 14500C (26420F)
Sangat hidroskopis dan stabil di bawah kondisi yang
biasa
digunakan
dan
penyimpanan.
(Royer,D.J, 2000)

I.4.4.2. Kalsium oksalat (CaC2O4)


Sifat fisik dan kimia dari kalsium oksalat :
Rumus molekul
= CaC2O4
Warna
= Tidak berwarna
Berat molekul
= 128,10 gram/mol (anhidrat)
146,12 gram/mol (monohidrat)
Densitas
= 2,2 gram/ml
Melting point
= 200oC
Solubility in water = 0,00067 gram/100 ml pada 20oC

LAPORAN TUGAS AKHIR


PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
FTI-ITS SURABAYA