Anda di halaman 1dari 16

TITRASI KOMPLEKSOMETRI

7 Jun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Analisa kimia farmasi kuantitatif untuk zat-zat anorganik yang mengandung ion logam
seperti aluminium, bismuth, kalsium, magnesium dan zink dengan cara gravimetrik memakan
waktu yang lama, karena prosedurnya meliputi pengendapan, penyaringan, pencucian dan
pengeringan atau pemijaran sampai bobot tetap.
Sediaan-sediaan kalsium dapat juga ditetapkan dengan cara titrimetri menggunakan
prosedur permanganometri yang memerlukan teknik pengendapan yang diikuti dengan titrasi
kelebihan ion oksalat yang panas. Sekarang ditemukan prosedur titrimetri yang baru untuk
penentuan ion-ion logam ini dengan pereaksi etilen diamin tetra-asetat dinatrium, yang umumnya
disebut EDTA dengan menggunakan indikator terhadap pH pada titrasi asam basa, dengan dasar
pembentukan kompleks khelat yang digolongkan dalam golongan komplekson.
Pengertian persenyawaan kompleks sudah mulai timbul sejak teori Archenius dalam
tahun 1884. Mula-mula sudah dikenal adanya garam rangkap yaitu zat-zat yang mengkristal dan
terbentuk 2 macam garam rangkap yang dalam larutannya akan memberikan ion-ion yang sama
dengan garam tunggal pembentukannya. Sedangkan garam kompleks adalah garam rangkap
yang dalam larutannya memberikan ion-ion yang berbeda dengan ion-ion garam tunggal
pembentuknya.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana cara menentukan kadar Zink Sulfat?
C. Maksud Praktikum
Adapun maksud dari percobaan kali ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari serta
memahami cara menentukan kadar suatu senyawa dengan menggunakan metode
kompleksometri.
D. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan kadar Zink Sulfat dengan metode
kompleksometri.

E. Manfaat Praktikum
Setelah praktikum ini dilakukan diharapkan dapat :
1. Memberikan pengtahuan tentang bagaimana cara menentukan kadar suatu senyawa
dengan menggunakan metode kompleksometri.
2. Memberikan data hasil analisa yang dapat dijadikan acuan untuk praktikum selanjutnya
serata pengembangan aplikasi dan pemamfaatannya dalam bidang farmasi.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Teori Umum
Titrasi kompleksometri adalah titrasi berdasarkan pembentukan senyawa kompleks antara
kation dengan zat pembentuk kompleks. Salah satu zat pembentuk kompleks yang banyak
digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah garam dinatrium etilendiamina tetraasetat
(dinatrium EDTA).(Khopkar, 1990)
Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling mengkompleks,
membentuk hasil berupa kompleks. Reaksireaksi pembentukan kompleks atau yang
menyangkut kompleks banyak sekali dan penerapannya juga banyak, tidak hanya dalam titrasi.
Karena itu perlu pengertian yang cukup luas tentang kompleks, sekalipun disini pertama-tama
akan diterapkan pada titrasi. (Khopkar, 1990)
Salah satu tipe reaksi kimia yang berlaku sebagai dasar penentuan titrimetrik melibatkan
pembentukan (formasi) kompleks atau ion kompleks yang larut namun sedikit terdisosiasi.
Kompleks yang dimaksud di sini adalah kompleks yang dibentuk melalui reaksi ion logam,
sebuah kation, dengan sebuah anion atau molekul netral. (Basset, 1994)
Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan
ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan.
Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan tinggi. Selain
titrasi komplek biasa seperti di atas, dikenal pula kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi
kelatometri, seperti yang menyangkut penggunaan EDTA. (Khopkar, 1990)
Asam etilen diamin tetra asetat atau yang lebih dikenal dengan EDTA, merupakan salah satu
jenis asam amina polikarboksilat. EDTA sebenarnya adalah ligan seksidentat yang dapat
berkoordinasi dengan suatu ion logam lewat kedua nitrogen dan keempat gugus karboksil-nya
atau disebut ligan multidentat yang mengandung lebih dari dua atom koordinasi per molekul,
misalnya asam 1,2diaminoetanatetraasetat (asametilenadiamina tetraasetat, EDTA) yang
mempunyai dua atom nitrogen penyumbang dan empat atom oksigen penyumbang dalam
molekul. (Harjadi, 1993)

Suatu EDTA dapat membentuk senyawa kompleks yang mantap dengan sejumlah besar
ion logam sehingga EDTA merupakan ligan yang tidak selektif. Dalam larutan yang agak asam,
dapat terjadi protonasi parsial EDTA tanpa pematahan sempurna kompleks logam, yang
menghasilkan spesies seperti CuHY-. Ternyata bila beberapa ion logam yang ada dalam larutan
tersebut maka titrasi dengan EDTA akan menunjukkan jumlah semua ion logam yang ada dalam
larutan tersebut. (Harjadi, 1993)
Indikator dalam titrasi kompleksometri tidak berubah karena perubahan pH, tidak juga karena
daya oksidasi titrat berubah, akan tetapi karena perubahan pM (M adalah khelat logam). (Roth
1988)
Syarat-syarat indikator logam, yaitu:
-

Reaksi warnanya harus sensitif, dengan kepekaan yang besarterhadap logam.

Reaksi warnanya harus spesifik.

Perbedaan warna dari indikator bebas dengan indikator kompleks harus mempunyai
kestabilan yang efektif dimana pH titrasi tidak boleh tidak teroksidasi dan tereduksi.
-

Kestabilan kompleks logam indikator harus cukup.

Reaksi pengusiran indikator oleh EDTA harus belangsung cepat.

(Underwood, 1993)
Dan berdasarkan perubahan warna dari indikator logam ini dapat kita beda-bedakan :
1. Cara titrasi langsung, pada titrasi ini larutan ion logam ditambah larutan dapar dan
indikator, kemudian langsung dititrasi dengan komplekson III. Titrasi ini digunakan
untuk penentuan ion-ion logam kalium, magnesium dan zink.
2. Cara titrasi tidak langsung, digunakan untuk menentukan senyawa aluminium dan
bismth, karena pada titrasi secara langsung terjadi kesalahan yang disebabkan karena
pengendapan dari logam sebagai hidroksida dalam suasana alkali. (Susanti, 2003)
B.Uraian bahan
1. 1.

Zink sulfat (DITJEN POM, 1995)

Nama Resmi : ZINCI SULFAS


Nama Lain
RM / BM

: Zink sulfat
: ZnSO4.7H2O / 287,54

Pemerian
: Hablur transparan atau serbuk hablur tidak berwarna, atau tidak berbau, rasa
sepat dan mirip logam, sedikit merapuh
Kelarutan
gliserol.

: Sangat mudah larut dalam air, larut dalam etanol 95%, mudah larut dalam

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat


Kegunaan

: Sebagai sampel

1. Dinatrium EDTA (DITJEN POM, 1995)


Nama Resmi : DINATRII EDETAS
Nama lain
RM / BM

: Dinatrium EDTA
: C10H14N2Na2O8.2HHhhhhhH2O/ 372,24

Pemerian

: Serbuk hablur, putih.

Kelarutan

: Larut dalam air

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat


Kegunaan

: Sebagai titran

1. EBT atau eriokrom hitam (DITJEN POM, 1995)


Nama Resmi : Hitam Mordant II
Nama Lain

: Hitam eriokrom

RM / BM

: C20H12N8NaO2S / 461,38

Pemerian

: Serbuk hitam kecoklatan

Kelarutan

: Larut dalam air

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat


Kegunaan

: Sebagai indikator

1. Air suling (DITJEN POM, 1979)


Nama Resmi : AQUA DESTILLATA

Nama Lain
RM / BM
Pemerian

: Aquades, Air suling


: H2O / 18,02
: Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.


Kegunaan

: Sebagai pelarut.

1. Amonia (Ditjen POM, 1979)


Nama resmi

: AMMONIA

Nama lain

: Amonia

RM / BM

: NH4OH / 35,05

Pemerian

: Cairan jernih, tidak berwarna, bau khas, dan menusuk kuat

Kelarutan

: Mudah larut dalam air

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat dan ditempat sejuk


Kegunaan

: Sebagai dapar pH 10

1. NaOH (Ditjen POM, 1995)


NamaResmi

: NATRII HYDROXIDUM

Nama Lain

: Natrium hidroksida

RM / BM

: NaOH / 40,00

Pemerian
: Putih atau praktis putih, massa melebur, berbentuk pellet, serpihan atau batang
atau bentuk lain, keras, rapuh dan menunjukkan pecahan hablur. Bila dibiarkan di udara akan
cepat menyerap CO2 dan lembab.
Kelarutan

: Mudah larut dalam air dan dalam etanol

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat


Kegunaan

: Sebagai pereaksi

C. Prosedur Kerja ( Anonim,2012)


Ditimbang saksama 100 mg zat uji, kemudian dilarutkan dalam erlenmeyer dengan 100
ml air suling, tambahkan NaOH encer tetes demi tetes secukupnya hingga terbentuk endapan
yang mantap. Tambahkan 5 ml dapar amonia pH 10, titrasi dengan EDTA 0,05 M menggunakan
indikator EBT-NaCL 20 mg hingga terjadi warna biru.
Tiap ml EDTA 0,05 M setara dengan 14,38 mg ZnSO4.
BAB III
KAJIAN PRAKTIKUM
1. A. Alat Yang Dipakai
Alat yang dipakai dalam percobaan ini yaitu buret, erlenmeyer, statif dan klem, pipet
tetes, corong, dan gelas kimia.
1. B. Bahan Yang Digunakan
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu Aquadest, dapar amonia pH 10%,
indikator EBT, larutan EDTA, Natrium hidroksida, tissue, dan zink sulfat
1. C. Cara Kerja
Ditimbang saksama 100 mg zink sulfat, kemudian dilarutkan dalam erlenmeyer dengan
100 ml air suling, ditambahkan NaOH encer tetes demi tetes secukupnya hingga terbentuk
endapan yang mantap. Ditambahkan 5 ml dapar amonia 10 %, ditambahkan indikator EBT-NaCl
sampai larutan berwarna biru, dan dititrasi dengan larutan EDTA 0,0499 N, setelah itu catat
volume titran yang digunakan.
BAB IV
KAJIAN HASIL PRAKTIKUM
1. A. Hasil Praktikum
1. Tabel Pengamatan
Penetapan kadar Zink Sulfat

Kelompok

Berat Sampel

Volume EDTA 0,0502 N

% Kadar

50 mg

1,9 mL

27,42 %

18,6 mL
II

101,6 mg

2,1 mL

132,12 %

III

50,7 mg

13,9 mL

29,89 %

IV

49,6 mg

202,5 %

1. Reaksi
Reaksi sampel dengan pelarut air
ZnSO4 + H2O

Zn2+ + SO42-

Reaksi sampel ditambahkan NaOH


Zn2+ +NaOH + NH3
Reaksi sampel dengan EDTA

1. Perhitungan
Penetapan kadar Zink Sulfat
I.

Kelompok I

%=
=
=
= 27,42 %

Zn(OH)2 + Na+ + NH3

II.

Kelompok II

%=
=
=
= 132,12 %
III.

Kelompok III

%=
=
=
= 29,89 %
IV. Kelompok IV
%=
=
=
= 202,25 %
Kadar rata-rata =
=
= 97,98 %

1. B. Pembahasan
Titrasi kompleksometri adalah titrasi berdasarkan pembentukan senyawa kompleks antara
kation dengan zat pembentuk kompleks. Salah satu zat pembentuk kompleks yang banyak
digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah garam dinatrium etilendiamina tetraasetat
(dinatrium EDTA).

Kestabilan dari senyawa kompleks yang terbentuk tergantung dari sifat kation dan pH
dari larutan, oleh karena itu titrasi dilakukan pada pH tertentu. Pada larutan yang terlalu alkalis
perlu diperhitungkan kemungkinan mengendapnya logam hidroksida.
Dalam praktikum kali ini dilakukan titrasi kompleksometri untuk penentuan kadar dari
ZnSO4 dengan menggunakan komplekson III (dinatrium-EDTA) dan menggunakan bantuan
indikator eriochrome black T (EBT) untuk penentuan titik akhir titrasi.
Jenis titrasi yang dilakukan adalah titrasi langsung, dimana ion logam yang ada dalam
larutan dititrasi langsung dengan larutan dinatrium-EDTA dengan menggunakan indikator
eriochrome black T (EBT).
Zat pengkhelat atau komplekson yang digunakan pada praktikum ini adalah dinatrium
EDTA yang merupakan bentuk garam dari asam etilene diamin tetraasetat yang mempunyai aksi
mengkompleks yang sangat kuat dan banyak tersedia.
Pada saat titrasi pH larutan harus terus dijaga oleh karenanya diberikan larutan dapar
amonia pH 10. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya perubahan warna indikator logam yang
digunakan eriochrome black T (EBT) adalah tergantung pada proses serah terima proton pada
gugus asam sulfonat yang akan menghasilkan perubahan warna yang berbeda pada pH tertentu.
Oleh karenanya dilakukan pemberian larutan dapar amonia pH 10 agar perubahan warna dari
ungu menjadi biru tua (yang dijadikan sebagai titik akhir titrasi) dapat tercapai. Selain itu pH
larutan dijaga agar tetap basa, dikarenakan kompleks EDTA akan mencapai kestabilan dengan
ion logam divalen (Zn2+ adalah logam divalen) pada suasana basa atau sedikit asam. Selain itu
fungsi dapar adalah untuk mempertahankan pH dengan penambahan sedikit asam atau sedikit
basa
Setelah larutan ZnSO4 ditambahkan larutan dapar amonia pH 10 dan kemudian
ditambahkan dengan indikator logam hitam eriokrom, maka indikator hitam eriokrom akan
terdisosiasi melepaskan dua atom hidrogennya dan mengikat ion Zn2+ yang ada dalam air dan
segera membentuk kompleks Zn2+-indikator hitam eriokrom. Kestabilan kompleks ini cukup
tinggi akan tetapi lebih stabil jika dibandingkan dengan kompleks antara Zn2+ dengan dinatrium
EDTA.
Pada reaksi kompleks indikator logam beraksi dengan dinatrium EDTA yang
menghasilkan perubahan warna pada larutan dari ungu menjadi biru, dimana ion Na+ pada
dinatrium EDTA terlepas dan berikatan dengan O- sehingga terbentuk ONa dan ion Na yang satu
juga terlepas dan berikatan dengan ion SO4 sehingga terbentuk NaSO4, dan Zn juga berikatan
dengan SO4 sehingga terbentuk ZnSO4.
Dari percobaan yang kami lakukan, diperoleh bahwa persen kadar ZnSO4 pada
Kelompok I adalah 27,42 %, persen kadar ZnSO4 pada Kelompok II adalah 132,12 %. persen
kadar ZnSO4 pada Kelompok III adalah 29,89 %, dan persen kadar ZnSO4 pada Kelompok IV
adalah 202,5%. Dari data diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kadar zink sulfat tidak sesuai
dengan kadar yang ada dalam Farmakope Indonesia yaitu mengandung tidak kurang dari 99,0 %
dan tidak lebih dari 108,7 % Zn.SO4.7H2O.

Faktor kesalahan yaitu pada penentuan titik akhir titrasi, dan penggunaan indicator yg
berlebihan. Hal ini yang menyebabkan volume titran tidak sesuai yang kita inginkan dan
perhitungan kadarnya pun menjadi salah.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil percobaan yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa kadar rata-rata
ZnSO4 adalah 97,98%. Hal ini tidak sesuai dengan syarat kadar yang tercantum dalam farmakope
Indonesia bahwa kadar ZnSO4.7H2O tidak kurang dari 99,0 % dan tidak lebih dari 108,7 %.
B. Saran
Disarankan agar tempat pencucian alat diperbaiki untuk memperlancar praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim .2012. Penuntun dan Laporan Kimia Analisisk. Laboraturium Kimia Farmasi
Universitas Muslim Indonesia: Makassar.
Basset, J., 1994, Buku Ajar Vogel : Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. EGC. Penerbit Buku
Kedokteran, Jakarta
Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia :
Jakarta.
Roth. J. & Blaschke G, 1988, Analisis Farmasi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
Harjadi, W. 1993. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Erlangga. Jakarta.
Khopkar S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press. Jakarta
Susanti, 2003. Analisis Kimia Farmasi Kuantitatif. Fakultas Farmasi Universitas Muslim
Indonesia. Makassar
Underwood A.L. 1993. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi Keenam. Erlangga : Jakarta.

Titrasi kompleksometri

Titrasi

kompleksometri

adalah penetapan

kadar zat

berdasarkan atas pembentukkan senyawa kompleks yang


larut, yang berasal dari reaksi antara ion logam / kation
(komponen zat uji) dengan zat pembentuk kompleks
sebagai ligan (pentiter).

Jenis Ligan
1.

Unidentat
Ligan yang mempunyai 1 gugus donor pasangan elektron.
Contoh : NH3, CN.

2.

Bidentat

Ligan yang mempunyai 2 gugus donor pasangan elektron.


Contoh : Etilendiamin.
3.

Polidentat
Ligan yang mempunyai banyak gugus donor pasangan elektron.
Contoh : asam etilendiamintetraasetat (EDTA).

Pengaruh pH
1.

Suasan terlalu asam


Proton yang dibebaskan pada reaksi yang terjadi dapat mempengaruhi pH, dimana
jika H+ yang dilepaskan terlalu tinggi, maka hal tersebut dapat terdisosiasi
sehingga kesetimbangan pembentukkan kompleks dapat bergeser ke kiri, karena
terganggu oleh suasana system titrasi yang terlalu asam.
Pencegahan : sistem titrasi perlu didapar untuk mempertahankan pH yang
diinginkan.

2.

Suasana terlalu basa


Bila pH system titrasi terlalu basa, maka kemungkinan akan terbentuk endapan
hidroksida dari logam yang bereaksi.
Mn+

n(OH)

M(OH)n

Sehingga jika pH terlalu basa, maka reaksi kesetimbangan akan bergeser ke kanan,
sehingga pada suasana basa yang banyak akan terbentuk endapan.

Indikator Logam
Senyawa yang dapat membentuk kompleks dengan suatu ion logam, dan larutan
indikator bebas yang mempunyai warna yang berbeda dengan larutan kompleks
indikator.

Syarat-syarat indikator logam


1.

Stabilitas dari ikatan kompleks indikator-logam harus lebih rendah daripada ikatan

kompleks logam-EDTA.
2.
Terjadi perubahan warna pada range pH yang ditetapkan, dimana terjadi
pembentukan kompleks stabil.
3. Perubahan warna terjadi oleh adanya indicator bebas dari kompleks logam dalam
larutan, karena sejumlah eqivalen EDTA ditambahkan untuk membentuk kompleks
logam-EDTA.

Beberapa indikator yang paling banyak digunakan dalam titrasi kompleksometri.


1.

Eriochrom Black-T (EBT)


Merupakan asam lemah, tidak stabil dalam air karena senyawa organic ini
merupakan gugus sulfonat yang mudah terdisosiasi sempurna dalam air dan
mempunyai 2 gugus fenol yang terdisosiasi lambat dalam air.

Penggunaan :
Penentuan kadar Ca, Mg, Cd, Zn, Mn, Hg.

2.

Murexide
Merupakan indikator yang sering digunakan untuk titrasi Ca 2+, pada pH=12.

3.

Jingga Xylenol
Kompleks dengan logam memberikan warna merah.

4.
5.
6.

Calmagite
Tiron
Violet cathecol

Beberapa indikator logam sering menglami penguraian apabila dilarutkan dalam air.
Sehingga stabilitas di dalam larutan rendah sekali. Oleh karena itu, dalam
prakteknya

sering

perbandingan 1:500.

dibuat

pengenceran

dengan

NaCl

atau

KNO 3

dengan

Titrasi Langsung
a.

Prinsip :
Ion logam yang berada dalam larutan dititrasi langsung oleh EDTA dengan
menggunakan indikator yang sesuai.

b.

Perhatian :
Perlu dilakukan titrasi blanko untuk memeriksa adanya senyawa pengotor logam
dalam pereaksi, karena pengotor logam dapat bereaksi dengan EDTA sehingga
dikhawatirkan dapat membentuk kompleks logam-EDTA, karena sifat EDTA yang
tidak spesifik.

Titasi Kembali
a.

Prinsip :
Dilakukan jika penentuan TA secara titrasi langsung tidak mungkin.

b. Penggunaan :
Digunakan untuk penentuan logam yang mengendap sebagai hidroksida/senyawa
yang tidak larut pada pH kerja titrasi. Seperti : Pb-sulfat dan Ca-oksalat.
Digunakan untuk logam yang bereaksi lambat dengan EDTA, dimana pembentukan
kompleks logam-EDTA terjadi sangat lambat dan labil pada pH titrasi.
Tidak ada indikator yang sesuai.
c. Cara titrasi kembali :
Larutan yang mengandung logam ditambah EDTA berlebih, lalu system titrasi
didapar pada pH yang sesuai, kemudian

dipanaskan

(untuk mempercepat

terbantuknya kompleks). Setelah dingin, kelebihan EDTA dititrasi kembali dengan


larutan baku Zn2+ (ZnCl2, ZnSO4, ZnO) atau larutan baku logam Mg2+ (MgO,
MgSO4).

Titrasi Subtitusi
Prinsip :

a)

Dipilih titrasi substitusi jika cara titrasi langsung dan titrasi kembali tidak dapat

b)
c)

memberikan hasil yang baik.


Dipilih jika ion logam tidak bereaksi sempurna dengan indikator logam.
Stabilitas kompleks logam-EDTA lebih besar dibandingkan dengan stabilitas
kompleks logam lain, seperti : Mg2+ atau Zn2+ (Mg-EDTA dan Zn-EDTA).