Anda di halaman 1dari 3

Abstrak

Background
Metode shouldice dan metode yang menggunakan jaringan lainnya masih
diterima dan diakui sebagai tatalaksana yang utama untuk mengobati hernia
inguinal menurut peraturan organisasi hernia eropa. Teknik desarda dikenalkan
kepada masyarakat pada 2001 dan merupakan tatalaksana yang asli dan orisinil
dalam menatalaksana hernia dengan menggunakan beberapa strip yang tifak
terpasang dari eksternal oblque aponeurosis. Penelitian ini adalah untuk
membandingkan hasil dari tatalaksana hernia menggunakan teknik desarda (D)
dengan teknik lictenstein (L) .
Metode
Total 208 pasien pria didaftarkan ke grup D dan L secara random. Hasil utama
yang dilihat adalah kekambuhan dan sakit kronik. Dan tambahannya komplikasi
awal dan akhir, sensasi badan yang asing dan kembali ke rutinitas hari-hari
akan diuji di rumah sakit pada hari ke 7, 30 dan 6,12,24,dan 36 bulan setelah
operasi
Hasil
Selama folow up diketahuiada 2 kekambuhan yang terjadi di tiap grup, sakit
kronik dirasakan 4,8 dan 2,9% pasien dari grup D dan grup L. Sensasi badan
yang sing dan kemampuan untuk kembali ke rutinitas sehari hari tidak terlalu
berbeda di kedua grup. Didapatkan adanya kurangnya produksi seroma secara
signifikan di grup D.
Hasil
Hasil dari tatalaksana utama dari hernia inguinal dengan teknik desarda dan
teknik lichtenstein diamati selama 3 tahun follow up. Teknik-teknik tersebut
dapat meningkatkan atau menambah jumlah metode tatalaksana hernia inguinal
yang tersedia untuk mengobati hernia.
Introduksi
Karena frekuensi kejadian hernia inguinal menjadi salah satu masalah kesehatan
yang penting. Perkiraan risiko hidup hernia inguinal untuk laki laki 27 % dan
perempuan 3%. Kematian dari berbagai negara mencatat sekitar 100-300 dari
100.000 penduduk. Hingga 2009 tidak ada peraturan tentang tindakan bedah
pada pasien hernia inguinal, sehingga eropa hernia society (EHS) membuat
rekomendasi tatalaksana hernia inguinal berdasarkan analisis dari literature dan
hasil dari percobaan klinik. Dalam peraturan EHS metode menggunakan mesh
khususnya teknik lichtensein dan metode endoskopi direkomendasikan sebagai
tatalaksana yang utama hernia inguinal pada pria. Dari hasil pemikiran dan
pendapat yang kuat ini metode shouldice juga diterima sebagai salah satu
tatalaksana hernia inguinal.
Material dan metode
Pasien
Pasien dambil di polandia dari 2 departemen (departemen umum dan operasi
endokrin dan departemen umum dan operasi gastrointestinal dan kanker) dan

komunitas bedah. Komite etik serta para peneliti mensetujui protokol penelitian.
Total dari 208 pasien pria kaukasia dengan hernia inguinal dipilih secara random
untuk melakukan salah satu operasi dari grup D atau grup L. Pasien diberikan
inform consent dari pembedahan dan penilitan. Setiap pasien setuju untuk tidak
diberitahukan jenis metode apa yang diberikan kepada mereka hingga setelah 2
tahin dari operasi, setiap pasien menandatangani kertasinform consent.
Pemilihan pasien dilakukan pada januari 2005 dan dilakukan pembedahan pada
juni 2006. Pasien di follow up selama 3 tahun paling minimum. Penelitian
berakhir pada 30 juni 2009.
Tretament
Menggunakan standar protokol semua pasien diberikan obat sedatif dan suntikan
dari anti microba prophylaksis (30 menit sebelum operasi). Menurut pasien dan
anestetist semua operasi dilakukan dengan anestesi lokal dan general. Operasi
dilakukan oleh dokter bedah dan staff bedah dengan jumlah yang sama di kedua
grup.
Follow up
Pasien di follow up oleh pemeriksa hingga keluar rumah sakit dan difollow up
pada hari ke 7, dan 30 sera pada 6,12,24,36 bulan setelah operasi.
hasil
tujuan dari studi ini untuk menguji hipotesis nahwa teknik desarda dapat secara
efektif menyembuhkan hernia inguinal sama efektifnya dengan menggunakan
prosedur lichenstein.
Statistical analisis
Studi ini dilakukan untuk menegetahui 15% perbedaan kekambuhan rate
terhadap 2 kelompok dengan sample 72 hernia per grup paling minimal.
Result
Ada 105 pasien pada grup D dan 103 pasien pada grup L, dari 208 pasien di
follow up dan diuji pada hari ke 7 dan 30 dan pada 6 bulan kunjungan ke rumah
sakit. Terdapat 2 kekambuhan pada setiap grup selama 3 tahun follow up. Tidak
ada perbedaan signifikan terhadap laporan kesakitan yang dialami pasien
setelah 6 bulan pasca operasi.
Diskusi
Tidak ada perbedaan signifikan terhadap hasil klinik yang diamatai selama 3
tahun follow up terhadap pasien pria dengan hernia inguinal yang ditatalaksana
dengan teknik desarda atau teknik lichenstein. Tanpa melihat formasi seroma,
frekuensi dari komplikasi dari kedua teknik adalah sama/mirip.
Kesimpulan
Dari penelitian ini dipastikan bahwa hasil dari teknik desarda terhadap
tatalaksana hernia inguinal adalah sama dengan hasil dari standar prosedur
lichenstein selama 3tahun follow up. Berdasar dari hasil studi ini, teknik desarda
secara potensial meningkatkan atau menambah metode tatalaksana hernia
inguinal yang tersedia. Indikasi yang paling cocok untuk menggunakan teknik

desarda adalah dapat dilakukan pada pasien muda, di lokasi operasi yang
terkontaminasi/tidak steril, dalam permasalahan finansial pasien atau ketika
pasien menolak untuk menggunakan mesh dalam tatalaksananya.