Anda di halaman 1dari 20

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pertambangan memberi kontribusi ekonomi penting bagi banyak daerah
sedang berkembang di wilayah tropis. Hal yang menarik perhatian adalah
banyak lokasi tambang di tropis berada pada pulau yang memiliki area
daratan terbatas. Sementara itu, area daratan yang terbatas menghendaki
adanya pertimbangan untuk mebuang tailings ke laut, dimana hal lain yang
penting untuk dikenali yaitu masyarakat lokal tergantung pada laut sebagai
pemasok utama sumber protein. Pengkajian dampak dari buangan tailings
ke laut biasanya dibatasi oleh dana dan waktu, dimana hasil yang diperoleh
juga terbatas untuk memahami resiko lanjutannya ke rantai makanan dan
ekosistem laut, mencakup interaksi antara ekosistem perairan dalam dan
dangkal.
Areal penambangan emas Newmon Minahasa Raya (NMR) memiliki sebesar
527.448

hektar

yang

mencakup

Kecamatan

Minahasa

dan

Bolaang

Mongondow Sulawesi utara, dan merupakan penambangan dengan system


terbuka. Saham sebesar 80% dari Pertambangan emas Newmont Minahasa
Raya (NMR) dimiliki oleh US-Newmont Mining Korporasi, yang merupakan
perusahaan pertambangan paling besar di dunia, dan 20% lainnya dimiliki
oleh Tanjung Serapung Indonesia (JATAM,2001).
Tahun 1986, NMR menandatangani kontrak penambangan emas dengan
pemerintah Indonesia. Dalam kontraknya ternyata tidak ada perjanjian yang
dibuat dengan masyarakat lokal (orang) Ratatotok, dan perusahaan tidak
memiliki rencana manajemen lingkungan yang sesuai. Sebelum NMR, orang
Desa Ratatotok mekalukan aktivitas bertani di bukit-bukit yang subur dan
orang Desa di Teluk Buyat memancing pada perairan biru yang jernih. Akan
tetapi semenjak NMR memulai penambangan emas, maka gaya hidup
masyarakat yang berbasis subsisten itu mengalami hancur.
Terkait upaya menunjang aktivitas penambangannya, PT. NMR melakukan
kegiatan pembangunan, yaitu penyiapan lahan penambangan, fasilitas
penujang operasi yang menghendaki pembukaan lahan. Selain itu, NMR
membangun jalan yang menyebabkan genangan-genangan parah yang
menghancurkan hutan bakau dan kerusakan rumah penduduk. Denagn
1

demikian,

muncul

pertanyaan,

yaitu

bagaimana

dampak

kerusakan

lingkungan pesisir akibat kegiatan penambangan emas NMR tersebut.


Pada Maret 1996, kegiatan penambangan NMR mulai produksi dan
masyarakat mengalami penderitaan akibat dampaknya. Mereka tidak
pernah dilibatkan dalam pengambilan keputusan terhadap aktivitas-aktivitas
pertambangan, malahan menjadi korban akibat penyerobotan lahan serta
dipaksa menandatangani surat pelepasan lahannya, serta menerima
kompensasi terhadap lahan yang dicaplok. Suatu pernyaaan penting yang
perlu dilacak yaitu sejauh mana pencemaran perairan Teluk Buyat akibat
operasi Submarine Tailing Disposal (STD) dari penambangan emas NMR ini.

Gambar 1. Stasiun Choke NMR di Teluk Buyat (Sumber : Glynn, 2002).


1.2. Tjuan dan Kegunaan
Pada dasarnya, tugas ini

bertujuan

mengidentifikan

(1).

Kerusakan

lingkungan pesisir akibat kegiatan penambangan emas NMR, dan (2).


Pencemaran perairan Teluk Buyat akibat Operasi Pemnuangan Tailings
Bawah

Laut

(Submarine

Tailing

Disposal

Operasion)

dari

kegiatan

penambangan emas NMR Sulawesi Utara.


METODE PENULISAN
Tugas dengan judul Identifikasi Kerusakan Dan Pencemaran Lingkungan
Pesisir Teluk Buyat Akibat Penambangan Emas P.T. Newmon Minahasa Utara
di Provinsi Sulawesi Utara ini disusun melalui suatu penelusuran data dan
informasi yang terdapat pada berbagai artikel ilmiah, laporan penelitian
atau kajian yang dilakukan, serta surat kabar yang memuat masalah
pencemaran Teluk Buyat akibat pertambangan emas P.T. Newmon Minahasa
Utara, terutama operasi dari Submarine Tailing Disposal (STD). Data dan
informasi dari berbagai sumber tersebut dicuplik dengan menyebutkan
2

sumbernya untuk mengembangkan narasi menyangkut pembahasan tugas


ini.
3. URAIAN HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Kerusakan Lingkungan Akibat Penambangan Eemas NMR.
Penambangan emas Newmont Minahasa Raya (NMR) adalah suatu
penambangan

terbuka,

penambangannya

diawali

dimana

dalam

dengan

kegiatan

menunjang
land

aktivitas

clearing

daerah

penambangan dan daerah pembangunan fasilitas penunjang. Pembangunan


fasilitas

penunjang

dimaksud

adalah

jaringan

jalan

menunju

lokasi

penambangan, fasilitas pengolahan biji emas, tailing dump, jaringan


pembuangan

limbah,

termasuk

Submarine

Tailing

Disposal

(STD),

pembangunan perumahan bagi staf pimpinan perusahaan, karyawan dan


pekerja tambang emas tersebut.

Selain itu, pembangunan jaringan jalan

menunju lokasi penambangan juga menghendaki adanya upaya pembukaan


lahan sepanjang jalur jalan yang direncanakan.
Pada dasarnya penyiapan lokasi penambangan dan pembangunan fasilitas
penunjang penambangan emas NMR dimaksud menyebabkan perubahan
bentangan alam, yang diikuti oleh berbagai dampak kerusakan lingkungan.
Melalui hasil-hasil kajian, pendekatan teoritis dan pengalaman yang dimiliki,
maka dampak dari kegiatan penambangan emas NMR terhadap lingkungan
dapat diuraikan berikut ini.
3.1.1.

Kerusakan

Lingkungan

Akibat

Land

Clearing

Areal

Penambangan
Kegiatan land clearing (penggusuran) pada areal rencana penambangan
dan areal pembangunan fasilitas penunjang penambangan emas NMR
menyebabkan lahan menjadi terbuka. Kerusahan lingkungan yang terjadi
akibat penggusuran tersebut dapat dikemukakan seperti berikut ini :
Bila terjadi hujan, maka lahan yang terbuka akan mengalami erosi, yaitu
kulit tanah dan tanah bagian atas akan tercuci dan terbawa air hujan dari
lahan atas yang berbukit-bukit menunju lahan bawah yang datar di
daerah pesisir pantai. Sedimen yang tererosi ini akan menutupi
kumunitas-kumunitas atau ekosistem di lahan bawah, seperti vegetasi
daratan, ekosistem mangrove di Teluk Buyat, serta pemukiman dan atau

rumah-rumah penduduk.
Erosi tanah saat hujan tersebut terbawah ke sungai/kali sekitar dan
mengalir ke muara, dimana akhirnya masuk ke perairan Teluk Buyat,
3

sehingga terjadi sedimentasi pada perairan Teluk Buyat. Dampak


lanjutannya adalah terjadi kerusakan dalam hal perubahan kondisi
lingkungan fisik, kimia (kualitas air) dan biologis perairan Teluk Buyat,
dengan

dampak

turunan

berikutnya

adalah

mempengaruhi

mata

pencaharian, pendapatan penduduk, serta kondisi sosial dan budaya

masyarakat di lingkungan pesisir Teluk Buyat.


Pada musim panas, besar kemungkingan partikel tanah yang halus akan
terbawa angin ke udara dalam bentuk debu halus dan menyebabkan
kerusakan lingkungan, yaitu pencemaran udara pada daerah-daerah
sekitar lahan penambangan emas yang dilakukan oleh PT. NMR ini.

3.1.2. Kerusakan lingkungan akibat Pembangunan Jaringan Jalan.


Pembangunan jaringan jalan untuk menunjang aktivitas penambangan
emas NMR menyebabkan sejumlah kerusakan lingkungan. Kerusakanan
lingkungan yang disebabkan oleh pembangunan jaringan jalan tersebut,
diantaranya :
Mengingat jaringan jalan yang dibangun adalah jalan tanah, maka terjadi

genangan-genangan air yang parah bila terjadi hujan.


Terjadinya kehancuran hutan bakau akibat pembangunan jalan dan
sedimen atau lumpur yang menumpuk saat terjadi hujan, dengan
dampak lanjutannya adalah terjadi kematian anakan mangrove ataupun
mengrove dewasa karena akar nafasnya tertututup sedimen, serta

kematian biota penghuni hutan mangrove.


Terjadi kerusakan rumah-rumah penduduk sepanjang jalur jalan akibat
ditimpah sedimen dan getarab dump-Truck yang beroperasi selama

kegiatan penambangan.
Terjadi peningkatan debu

di

udara

pada

musim

panas

yang

menyebabkan gangguan terhadap kesehatan masyarakat di sekitar jalur


jalan dan masyarakat.
3.1.3.

Perubahan

kondisi

sosial

masyarakat

akibat

kegiatan

penambangan
Berdasarkan data yang tersedia, ternyata kegiatan penambangan emas
NMR yang mulai produksi pada bulan Maret 1996 telah sejumlah masalah
social kemasyarakat dari penduduk sekitar areal penambangan, diantaranya
:

Masyarakat pada dan sekitar areal penambangan tidak pernah dilibatkan


dalam

pengambilan

keputusan

terhadap

aktivitas

pertambangan,

sehingga mereka menjadi korban penyerobotan lahan dan dipaksa

menandatangani surat untuk melepaskan lahannya, serta menerima

kompensasi terhadap lahan yang diambil.


Masyarakat mengalami penderitaan, terurama kesehatan masyarakat
akibat dampak berbagai kegiatan penambangan emas dengan derivatederivatnya

yang

menurunkan

kualitas

lingkungan

pemukiman

pendduduk sekitar.
3.2. Pencemaran Perairan Teluk Buyat Akibat Operasi STD
3.2.1. Buangan Tailling Bawa Laut (STD) Newmont Minahasa Raya
Pada tahun 1996, masyarakat Teluk Buyat pertama kali menderita
konsekuensi Submarine Tailings Disposal (STD) atau Tailings Pembuangan
Bawah Laut di Minahasa Raya. NMR membuang 2,000 ton ltailing tambang
emasnya setiap hari ke dalam Buyat Bay. Dalam jangka waktu lima tahun,
penambangan emas Newmont telah membuang 2.8 juta ton limbah melalui
tailings ke dalam Teluk Buyat (JATAM, 2001).
Secara visual tailings dari tambang emas NMR teridentifikasikan berwarna
merah muda hingga ke warna coklat karatan (Gambar 2), dan secara
kimiawi dicirikan oleh kelimpahan relatif dari trace element yang berbeda
dalam tailings, terutama perbandingan sangat tinggi dari As dan Sb
terhadap logam lebih ringan seperti Cr, Cu, Co, dan Ni, yang ditemukan
dalam konsentrasi yang kira-kira sama dalam fluvial yang dihasilkan,
referensi, dan sedimen sebelum penambangan (Edinger et al., 2007).
Tailings juga ditemukan di dalam sedimen terumbu karang tepi pada
kedalaman 20 m (Edinger et al., 2007), dan karang dibungkus lapisan dalam
bentuk butiran halus warba merah menyerupai tailings yang teramati di
kedalaman air 10 m.

Gambar 2. Foto tailing yang terambil dengan grap sampler, june 2002 di
Teluk Buyat
NMR memakai sianida untuk melarutkan bijih emas dari batuan yang
dihancurkan. NMR kemudian konon katanya menghilangkan sianida, arsenik
dan mercury melalui proses penawaran serta mengungsikan tailings di
bawah tekanan ruang hampa untuk meminimumkan gelembung oksigen.
Tailings dibuang melalui suatu pipa yang mengalir dari lubang galian Mesel
ke pantai dan kemudian dari pantai berjarak 8,000 meter ke dalamk Teluk
Buyat pada kedalaman air 82 meter di bawah permukaan laut (JATAM,
2001). Kedalaman ini hanya dua meter di bawah level minimum yang bisa
diterima untuk STD membebaskan/memecat.
Rakyat setempat dibiarkan berada dalam ketidaktahuan menyangkut selukbeluk

pengkajian dampak lingkungan. Berkaitan dngan kajian tersebut,

maka Environmental Impact Monitoring Agency (BAPEDAL) mengeluarkan


satu pernyataan, yaitu limbah buangan tailing NMR adalah tidak sah.

Gambar 3. Pipa buangan 2000 ton tailing NMR per hari ke Teluk Buyat
(Sumber : Glynn, 2002)
Seorang pakar toksikologi, yaitu Professor Rizal Max Rompas dari Universitas
Sam Ratulangi (UNSRAT), yang melakukan suatu penelitian tahun 1999
menyimpulkan: Aktivitas-aktivitas pertambangan PT. Newmont Minahasa
Raya perlu ditinjau. Terdapat sejumlah bahan beracun yang terdeteksi telah
berada dalam konsentrasi yang tinggi di Teluk Buyat. Sejumlah bahan
beracun dalam air laut telah melewati ambang batas yang kemungkinan
dapat ditolerir oleh Peraturan Pemerintah (PP) No. 20 Tahun 1990 tentang
Pengendalian Polusi Air. Selanjutnya, penelitian telah menemukan beberapa
indikasi pencemaran plankton dan ikan pelagis yang hidup di Teluk Buyat
tersebut (JATAM, 2000).
Laporan tersebut juga menyatakan bahwa kandungan bahan beracun yang
tinggi di Teluk Buyat, yaitu dengan bioakumulatif dan karsinogenik alami.
(Rompas, 1999). Melalui laporan ini ditemukan bahwa terdapat beberapa
kandungan logam yang meliputi mercury, timah, arsenik, tembaga, dan
kadmium dalam Teluk Buyat.

Rompas merekomendasikan suatu evaluasi

dan rancang ulang sistem buangan tailing, tetapi rekomendasinya itu tidak
pernah diimplementasikan.
Hasil penelitian Pusat Studi Sumberdaya Alam Dan Lingkungan UNSRAT
menemukan air dari daerah mulut pipa mengandung konsentrasi mercury
sebesar 34 ppb.

Konsentrasi merucury ini telah melebihi ambang batas


7

konsentrasi mercury yang ditetapkan sebesar 2 ppb dalam PP. No. 20 Tahun
1990 (JATAM, 2001).
Dalam ringkasan Edinger (2012) yang melakukan studi kasus tambang
emas Newmont Minahasa Raya telah menyoroti adanya bahaya dari STD
tambang emas ini berikut ini :
1. Orang desa lokal mengamati ikan mati tidak lama sesudah STD mulai
operasi, dan mereka juga mencatat sedimen berwarna merah dari
tailings menutupi karang pada terumbu karang yang terletak sekitar
lokasi pembuangan tailings.
2. Tailings dari tambang ini tersebar dari kedalaman STD 82 m sampai
sekitar terumbu karang, dan luas semburannya sampai 3.5 km dari
ujung pipa.
3. Fase arsenik tidak stabil pada tailings sekitar 32% dari total arsenik
dalam tailings tambang, dan <10% dari total arsenik dalam fluvial dari
sedimen laut.
4. Mercury dalam tailings bawah laut mengandung metil dalam proporsi
kira-kira sama dengan mercury yang digunakan sebagai pelebur pada
tambang emas rakyat

dan dalam sedimen tepi laut yang tidak

terkontaminasi dekat suatu batas air dengan batuan dasargeologi


serupa.
5. Metil mercury yang berasal dari tailings menyatu ke dalam rantai
makanan lokal, yang kemungkinan melalui invertebrata bentik. Hal ini
tampak jelas pada Model konseptual yang disajikan pada Gambar 4.

Sehubungan
penambangan

dengan
ke

pembuangan
laut,

tailings

distribusinya

dan

dari

suatu

kegiatan

factor-faktor

yang

mempengaruhinya, maka Reichelt-Brushett (2012) menyajikan suatu model


konseptual seperti disajikan pada Gambar 4. Melalui ilustrasi pada Gambar
3 tersebut, beberapa hal penting yang dapat dikemukakan, yaitu :

Saluran pipa taoling secara umum diletakan sampai dekat bawah laut
yang curam, dengan harapan ketika tailing dikeluarkan dari mulut
saluran pipa bawah laut tersebut dapat melakukan perjalanan turun ke
dasar laut lebih dalam dan mengendap (settle). Kepadatan tailings,
upwelling (pengangkatan masa air) lokal, arus, dan kondisi perairan
lainnya akan mempengaruhi kemungkinan tailing untuk terdistribusi
8

ulang dan kemudian mengendap, Tampak jelas pada Gambar 3, tailing


yang terdistribusi ulang itu dapat naik ke badan air di bagian atas mulut
pipa dan bahkan mencapai perairan permukaan.

Pergerakan tailings mungkin mengikuti plume shering, dimana bagian


dari plume tailings terpotong pada berbagai kedalaman. Sebaliknya,
tailing jatuh ke dasar laut, kemudian terdistribusi dalam kolom air dan
terangkut melalui air pasang serta arus, yang setelah itu akan menimpa
suatu area yang lebih besar (luas) dan meningkatkan resiko bahan-kimia
dalam tailing memasuki rantai makanan di laut.

Upwelling dan pola arus dapat mempengaruhi dimana atau kemana


tailings dari kegiatan penambangan ditranspor serta didepositkan.
Upwelling dan arus diketahui

berhubungan dengan sistem dan siklus

samudra (laut) yang terjadi selama bertahun-tahun dalam beberapa


dekade yang lalu (misalnya : El Nio/La Nia).

Figure 4. Model konseptual memperlihatkan gerakan tailings dari lokasi


buangan di bawah laut (Sumber : Reichelt-Brushett, 2012).
Buangan tailing dari pertambangan yang mengandung berbagai bahan
kimia

berbahaya

menimbulkan

yang

berbagai

terdistribusi
kejadian

dalam

kolom

perubahan

perairan

kualitas

itu

akan

peraira

dan

pencemaran terhadap biota atau sumberdaya perairan, diantaranya terjadi :


(1). Peningkatan turbiditas perairan akibat sedimentasi dari tailing, (2).
Bioakumulasi dan atau Bioakumulasi/biomagnifikasi biota perairan akibat
9

masuknya bahan kimia beracun dalam rantai makanan, (3). Hilangnya


komunitas-komunitas bentik akibat diselimuti oleh lapisan tailing. Bila
terjadi hal demikian, maka perairan pesisir mengalami pencemaran,
terumbu karang mengalami degradasi dan bahkan hilang akibat ditutupi
lumpur yang terdistribusi ke perairan dangkal, mengganggu keamanan
pangan, rekreasi dan wisata (pantai maupun bahari).
3.2.2. Dampak STD Newmont Minahasa Raya
NMR Environmental Impact Assessment (EIA) mengatakan bahwa ada suatu
termoklin

di

Teluk

Buyat.

Berbasis

pernyataan

tersebut,

NMR-EIA

mengatakan bahwa termoklin akan mencegah tailings dari NMR untuk


kemungkinan tersebar di dalam laut (Lihat : Science and Submarine
Tailings Disposal). Bagaimanapun juga, Prof. Rompas mengatakan pada
Tabloid Kabar, No. 16 tanggal 26 Juli, 1999 (publikasi berita mingguan
Manado) bahwa tidak ada termoklin permanen di Teluk Buyat. Pernyataan
Rompas ini di dasarkan pada fakta hasil penelitiannya, yaitu tidak ada
perbedaan temperatur yang ekstrim antara perairan permukaan dan
perairan di bawah laut yang dapat membentuk suatu lapisan termoklin.
Pada bagian lain, NMR-EIA mengatakan bahwa tailings harus dibuang pada
82 meter di bawah permukaan laut. Kenyataan di lapangan melalui rekaman
NMR menunjukan buangan tailings berada antara 70-80 meter di bawah
permukaan laut
Melalui uraian fakta di atas, maka dapat dikemukakan beberapa hal sebagai
berikut:
Tailing NMR yang dibuang di bawah laut akan tersebar di perairan Teluk
Buyat karena tidak ada lapisan termolin yang menghambat limbah
penambangan emas NMR untuk menyebar hingga bagian perairan di
atas kedalaman tailing, bahkan dapat mencapai lapisan permukaan laut
Teluk Buyat. Ini berarti buangan tailing tersebut akan mencemari seluruh
badan air Teluk Buyat, yang selanjutnya

akan berdampak pada biota

perairan yang hidup di perairan Teluk Buyat.


Tailing yang dibuang di kedalaman lebih rendah dari kedalaman yang
direncanakan akan menyebabkan perairan Teluk Buyat mengalami
pencemaran, sehingga juga akan berdampak pada biota perairan yang
menempati Teluk Buyat.

Salah satu dampak penting dari tailings NMR pada ekosistem dan biota laut
Teluk Buyat adalah ekosistem terumbu karang. Suatu fakta nyata tentang
10

dampak tersebut terlihat pada Gambar 5, dengan beberapa catatan sebagai


berikut :
1. Karang pada terumbu karang yang dekat dengan muara tailings
(kedalaman 3 m) mengalami kekeruhan air yang tinggi akibat buangan
tailing sehingga proporsi karang mati tergolong tinggi dan spesiesspesies karang batu tampak tidak sehat.
2. Karang pada terumbu karang dekat ke muara tailings (kedalaman 5 m)
dengan yang melimpah di dasar laut, dimana sebagian diantaranya
menutupi koloni-koloni karang hidup menyebabkan koloni-koloni karang
tersebut mengalami kematian.
3. Karang di terumbu karang yang berjarak 2 km ke arah laut dari muara
tailings, tidak mengalami kontaminasi buangan tailings. Perairan di
daerah terumbu karang ini sangat jernih, dengan keragaman spesies
dan persen tutupan karang tinggi.

Gambar 5. Foto-foto karang di Teluk Buyat. (A). Karang dekat dengan muata tailings
pada kedalaman air 3 m. (B) Karang dekat ke muara tailings pada
kedalaman air 5 m. (C) Karang sekitar 2 km ke arah laut dari muara
tailings, tanpa evidens kontaminasi (Sumber : Edinger, 2012).

Pada dasarnya skeleton Karang dapat merekam sejarah polusi logam dari
tailing pertambangan dan sumber lain (David, 2003; Reichelt-Brushett dan
McOrist, 2003). Skeleton karang hidup genus Porites yang berada dekat ke
muara tailings mengandung konsentrasi chromium, tembaga, kobalt, timah,
arsenik, antimonium, dan thallium lebih tinggi dibanding karang dari
terumbu referensi (Edinger, 2012).
Ironisnya, secara statistik terdapat perbedaan sebagian besar trace element
yang signifikan antar terumbu, tetapi tidak untuk arsenik. Trace element
yang berasal dari buangan tailings, terutama arsenik dan antimony,
terkandung dalam skeleton karang sebagai partikel mikroskopik sedimen,
bukan sebagai logam terlarut secara langsung yang menyatuh ke dalam
skeleton karang (Edinger et al., 2008). Arsenik adalah satu dari beberapa
11

trace element beracun yang berasal dari tambang dimana ukuran atomnya
tidak kompatibel dengan pola-pola geometris dari melekuk-molekul kristal
aragonit yang membangun/membentuk skeleton karang (Howard dan
Brown, 1984). Walaupun banyak karang yang mati di terumbu karang dekat
ke muara tailings, dan banyak karang mati atau sekarat ditutupi sedimen
berwarna tailings, tidak mempunyai bukti kimia yang langsung dari
toksisitas tailings pada karang. Setidaknya, skeleton karang terlihat
menjadi perekam pasif dari pencemaran sedimen. Nelayan melaporkan ikan
karang karang dengan tumor tertangkap pada terumbu karang dekat muara
tailings dan terumbu karang lain sekitarnya menjadi sasaran sebaran
tailings.
3.2.3.Kematian Ikan dan Kehilangan Mata Pencaharian
Hasil pengamatan yang dilakukan selama fase operasial penambangan
emas NMR menunjukan berkali-kali terjadi kematian ikan yang signifikan di
dalam Teluk Buyat Bay dari tahun 1996 hingga tahun 1997. Fakta ini
menunjukan bahwa bahan-bahan beracun yang tersimpan dalam buangan
tailing di bawah laut menyebar dalam badan air, kemudian meracuni dan
mematikan ikan-ikan di Teluk Buyat.
Menyangkut kejadian kematian ikan ini, masyarakat telah membawa ikan
mati ke perusahaan, tetapi pihak perusahaan menuduh masyarakat yang
meracuni ikan itu. Masyarakat juga membawa ikan mati ke laboratorium
UNSRAT guna mencari penyebab kematiannya. Ternyata, Dekan yang
membawahi Laboratorium menolak mendiagnosa ikan, dan mengatakan
mungkin ikan itu dibeli dari pasar dan telah memiliki kandungan sianida.
Dekan mengatakan dia dan koleganya bisa mendiagnosa ikan hanya jika
mereka sendiri pergi ke tempat dimana ikan mati ditemukan. Tetapi ketika
masyarakat mengundang Dekan untuk datang ke tempat mereka, Dekan
menolak. Terlepas dari kronologis pelaporan masyarakat tentang kematian
ikan tersebut, ternyata akibat kematian ikan ini berdampak pada lingkungan
Teluk Buayat, yaitu :
1. Ikan yang mati terdampat ke pantai dan mengotori lingkungan pantai.
2. Masyarakat mengalami polusi udara yaitu selalu mencium bau busuk
dari air laut dan lingkungan pantai dimana terdapat bangkai dari ikanikan yang mati tersebut.
Polusi laut benar-benar telah berdampak bagi nelayan sekitarTeluk Buyat.
Dalam hal ini, dasar laut sebagi area laut produktif bagi ikan telah tertutup
12

tailings. Akibat dasar laut yang tertutup tailing dari NMR ini, maka muncul
dua dampak penting, yaitu :
1. Jumlah spesies dan populasi ikan di Teluk Buyat telah mengalami
penurunan.

2. Nelayan tidak bisa menangkap ikan sekitar teluk dan laut terbuka karena
tidak memiliki perahu besar bermesin. Nelayan harus melaut 3-4 mil
untuk

menangkap

ikan,

sedangkan

sebelum

ada

NMR

mereka

menangkap ikan hanya sejauh mil.


Melalui hasil penelitian, ternyata hanya empat bulan setelah NMR mulai
beroperasi

(Juli

1996),

ditemukan

beberapa

kenyataan

menyangkut

sumberdaya ikan, produksi dan pendapatan masyarakat (Glynn, 2002)


sebagai berikut :
1. Sebelum kehadiran NMR, perairan Teluk Buyat memiliki 59 spesies ikan,
tetapi pada tahun 1997 hanya ditemukan 13 spesies ikan.
2. Produksi ikan di Teluk Buyat mengalami penurunan mencapai 70% dan
pendapatan nelayan juga menurun sebesar 50%.
3. Sebelum kehadiran NMR, pendapatan tiap keluarga masyarakat bisa
mencapai US$ 51 - 76 per bulan. Akan tetapi, sejak STD mulai beroperasi
tahun 1996, pendapatan rata-rata tiap keluarga masyarakat menurun
menjadi US$ 10 per bulan.
4. Nelayan di Teluk Buyat menerima lebih sedikit uang, dan harus
mengayuh perahu mereka semakin jauh ke laut.
5. Sehubungan dengan budaya masyarakat Minahasa Utara yang bermukim
di sekitar Teluk Buyat telah mempraktekan manajemen sumberdaya
alam bertanggung jawab, tetapi NMR telah menghancurkan sumberdaya
dan anggota masyarakat tidak memiliki sumber mata pencaharian lain.
3.2.4.Perubahan Kontur Dasar Laut
Data hasil penelitian Pusat Studi Sumberdaya Alam dan Lingkungan UNSRAT
tahun 1999 menunjukan STD dari NMR telah mengubah kedalaman dasar
laut Teluk Buyat. Selain itu, hasil yang diperoleh Komunitas Pemetaan
Masyarakat Teluk Buyat dan WALHI tahun 2000 juga menunjukan adanya
perubahan kedalaman dasar laut Teluk Buyat akibat STD dari NMR ini.
Kelompok ini menemukan suatu endapan tailings berupa lumpur setinggi
kira-kira 10 meter dan radiusnya antara 500-800 meter di mulut pipa.
Pengendapan lumpur itu menunjukan area di sekitar mulut pipa menjadi
semakin dangkal. Berkaitan dengan fakta tersebut, kedalaman mulut pipa
sesuai dokumentasi NMR EIA tahun 1997 adalah 82 meter, tetapi sesuai
hasil pengamatan PLS UNSRAT tahun 1999 telah berkurang menjadi 70
meter.
13

Temuan penelitian lanjut yang didukung BAPEDAL menunjukan proses


pendangkalan akibat endapan lumpur tailing telah mengubah sudut
kemiringan dasar laut Teluk Buyat dari 5O tahun 1997 menjadi 2.2O di tahun
1999. Dengan demikian, dalam kurun waktu 2 tahun, kemiringan dasar laut
Teluk Buyat telah berkurang dari kemiringan alaminya. Fakta ini
membuktikan bahwa sistem buangan tailings bawah laut yang digunakan
oleh NMR tidak memenuhi persyaratan seperti ditetapkan oleh EIA.
Kurmurur dan Lasut (2001) mengatakan bahwa kemiringan pantai dan laut
yang diperlukan untuk menyiapkan suatu sistem STD pertambangan adalah
10-20O. Laporan dari Tim Penelitian Independen (1998) yang dibentuk
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menyimpulkan bahwa sistem buangan
tailings miliki NMR di Teluk Buyat tidak sesuai persyaratan. Salah satu
Rekomendari dari Tim ini, yaitu limbah dalam bentuk partikel halus (> 90%
berukuran < 74 ) agar tidak dibuang di dasar laut. Jika NMR harus
melanjutkan proses penambangan emasnya, maka pipa buangan harus
meluas atau jauh ke laut. Akan tetapi, sebelum laporan diterbitkan, NMR
berhasil meyakinkan Pemerintah Provinsi untuk mengumumkan temuan
penelitiannya cacat.
Dokumentasi video bawah air oleh WALHI, yang dimulai pada kedalaman 10
meter, ditemukan tailling NMR telah menyebar, dan mengendap hampir di
seluruh bagian Teluk Buyat. Rekaman Video tersebut memperlihatkan
adanya dampak serius dari sebaran tailing yang mengendap tersebut,
yaitu : (1). Rumput laut menjadi rusak dan mati, serta terumbu karang yang
mati, serta (2). Derah-daerah penangkapan ikan lokal ditutupi lumpur dan
sedimen

dari

mulut

pipa.

Tim

penyelam

WALHI

berencana

mendokumentasikan area pipa sampai kedalaman 82 meter, tetapi mereka


terpaksa menghentikan pembuatan film bawah air pada kedalaman 30
meter karena jarak pandang yang sangat rendah akibat partikel limbah dan
elemen materi yang diselimuti lendir menyerupai penghalang.
3.2.5.Pipa Pecah Dan Krisis Kesehatan
Pipa tailling NMR yang menuju Teluk Buyat telah mengalami insiden pecah
dan terjadi genangan berkali-kali

di

berbagai

tempat,

serta terjadi

pelepasan sejumlah besar logam berat pada tingkat kedalaman laut


berbeda. Bau yang tercium di udara memberi suatu peringatan bagi orangorang desa tentang pecahnya pipa tailing yang lain. Berkaitan dengan
kenyataan ini, maka perusahaan dipaksa untuk menunda operasinya karena
14

pipa tailing mengalami kerusakan. Warga masyarakat telah memprotes


permasalahan pipa pecah ini ke NMR. Kandungan logam berat yang tersebar
dalam air dapat mengkontaminasi ikan di perairan Teluk Buyat, yang secara
potensial dapat melebar ke masyarakat dalam tingkat mercury tinggi.
Rompas memiliki sampel ikan yang memperlihatkan dampak dramatis dari
polusi tetapi temuannya telah dianggal NMR 15. Khususnya, di Sulawesi
Utara, orang senang makan bekasang, yaitu makanan dibuat dari hati dan
perut ikan. Contoh darah diambil secara acak dari anggota masyarakat dan
dianalisa 26 Oktober 2000 menunjukkan tingkat darah tak dapat terima
arsenik dan mercury.16

Dibandingkan dengan nilai kisaran dari referensi

yang ditetapkan Specialty Laboratorium, Michigan, yaitu mercury < 5.0


mg/L dan arsenik < 11.0 mg/L, dimana tingkat kontaminasi dalam sistem ini
berada jauh di luar batas yang dapat ditolerir.
Sembilan belas orang dari contoh (95%) mempunyai tingkat arsenik di atas
nilai toleransi dan tigabelas (65%) mempunyai tingkat mercury di atas nilai
toleransi, senhingga menjadi satu ancaman serius bagi kesehatan mereka
(masyarakat).

Tampaknya

anggota

masyarakat

telah

menderita

permasalahan kesehatan. WALHI melaporkan bahwa dari bulan April-Mei


1999,

hampir

50

nelayan

menderita

penyakit

kulit.

Banyak

warga

masyarakat, terutama para wanita dan anak-anak di pantai Buyat menderita


penyakit kulit dan penyakit mengerikan lainnya. 17

15

Gambar 6. Anak-anak Teluk Buyat menderita berbagai masalah kesehatan,


mencakup penyakit kulit menyakitkan akibat STD-NMR (Sumber :
Glynn, 2002).
Suatu survei medis yang dilakukan terhadap masyarakat di Teluk Buyat
bulan Desember 2000 ditemukan berbagai penyakit yang diderita sebagai
hasil dari makan ikan yang terkontaminasi, yaitu : (1). Orang kadang-kadang
menderita sakit kepala yang disertai menggigil dan berbicara sendiri; (2).
Ketidakteraturan fungsi mental termasuk gagap dalam berbicara, hilang
memor, dan membuat pingsan; (3). Ketidakteraturan perasaan termasuk
lemah penglihatan mata, kurang mendengar, mata bengkak dan penyakit
mata lain; (4). Komplikasi pangkal tenggorokan dan kesukaran menelan; (5).
Ketidakteraturan fungsi pencernaan meliputi syarat-syarat perut serius; (6).
Tumor pada kepala, kaki dan pangkal tenggorokan; (7). Ketidakteraturan air
seni pria; (8). Demam dan gejala dingin/kaku; (9). Sakit pada pergelangan
tangan, tangan serta kaki; (10). ruam dan sores;

(11). timbulnya

kelumpuhan sementara dan tidak mungkin lagi (Siregar, 2001).


BAPEDAL tidak pernah mengeluarkan ijin kepada NMR untuk membuang
tailingsnya ke laut. Pada bulan Juni 2000, menteri lingkungan, Sonny Keraf
memerintahkan NMR untuk melakukan satu kajian resiko lingkungan dan
pada detoxify tailings sebelum membuangnya ke laut. Akan tetapi NMR
telah menghasilkan suatu pengkajian resiko lingkungan sesuai dan Keraf
pada bulan Mei 2001 menolak pengkajian NMR yang berbasis pada
penggunaan teknologi cacat. Keraf (2001) sebagai pimpinan BAPEDAL,
mengakui ada pengeluaran ijin kepada NMR untuk membangun tailings
bawah laut pada lokasi pertambangannya tidak berbasis suatu studi yang
seksama.
Bagaimanapun, selanjutnya NMR membuang 2,000 ton tailings per hari ke
dalam Teluk Buyat dan telah mendatangkan pakar yang diharapkan
mempromosikan penggunaan STD. George W. Pling dari konsultan Canadabased Rescan Environmental Services Kanada, menyatakan bahwa resiko
dari penempatan limbah penambangan ke dalam laut adalah kurang
dibanding resiko menempatkannya pada lahan daratan. 20 Pernyataan ini
tergolong ironis karena kenyataannya buangan limbah penambangan ke
dalam laut secara efektif menimbun di Kanada. (Lihat: Legislation Kanada
terhadap Submarine Tailings Disposal.)
3.2.6.Perhatian Dan Aksi-Aksi Masyarakat
16

Masyarakat telah banyak menunjukan perhatiannya pada pemerintah


Indonesia menyangkut pembuangan tailing ke perairan Teluk Buyat.
Perhatian ini meliputi peningkatan sejumlah silt di dalam laut, penurunan
tangkapan ikan, dan hilangannya beberapa spesies ikan. Pada tanggal 20
September, 1999, Lembaga Bantuan hukum Manado dan YSN Tomohon
menyelenggarakan suatu pertemuan dengan warga masyarakat di Teluk
Buyat untuk mendiskusikan dampak STD dan permintaan mereka untuk
melawan perusahaan.
Anton yang adalah seorang warga Teluk Buyat dalam orasi protesnya
kepada NMR tanggal 25 November 1999 mengemukakan 5 pernyataan
sebagai berikut : (1). Anda semua pendusta, (2). Anda mengatakan laut
tidak tercemar, tetapi mengapa ikan mati dan mengapa pantai yang
digunakan begitu indah, tetapi sekarang ini penuh dengan lumpur? (3).
Mengapa baru sekarang kita menemukan berbagai kesulitan menangkap
ikan? (4). Kulit anak-anak kita mengalami gatal-gatal (Gambar 7), dan (5).
Adalah benar anda semua suka memutar-balikan fakta.

Gambar 7. Anak-anak yang hidup sepanjang garis pantai Teluk Buyat Bay
tidak lagi berenang dan bermain laut (Sumber : Glynn, 2002).
Pada tanggal 2 Juli, 1998, sebanyak 300 orang masyarakat Teluk Buyat
menduduki kantor NMR selama tujuh jam. Mereka menuntut semua tenaga
17

kerja NMR serta kewajiban lingkungan seperti ditulis dalam kontrak


pekerjaan adalah ful-filled. Mereka juga menuduh perusahaan mengesankan
kenakan

denda terhadap

membayar

pajak

terhadap

buruh tambang
materi

lain

kecil

yang

dan menuntut NMR

dihilangkan

pertambangan. Mengikuti hal ini, warga memprotes

dari

areal

berkali-kali sebagai

respons terhadap kematian ikan dan pipa tailing yang pecah atau rusak.
Pos polisi telah

dibangun di sekitar Ratatotok untuk mengamankan

kehadiran NMR di areanya.

Kepolisian Provinsi ditempatkan diluar kantor

Humas NMR. Pada tahun 1997, NMR membangun satu pos polisi besar
secara langsung di depan jalan menuju ke lokasi pertambangan. Kepolisian
provinsi bertindak sebagai satu kekuatan keamanan unofficial untuk NMR.
NMR telah memberikan uang kepada sekelompok orang, menyebabkan
persilisihan di antara orang di dalam masyarakat.
3.2.7.Update Penutupan penambangan Newmont Minahasa Raya
Rencana penutupan NMR pada tahun 2003, meninggalkan enam lubang
tambang terbuka pada total area lebih dari 26 hektar. NMR telah membuat
rencana reklamasi terbatas untuk area tertentu, mencakup hanya satu
lubang terbuka dan tidak untuk lima lubang terbuka lainnya. Artinya
rencana

NMR

hanya

terhadap

perolehan

kembali

15.4%

dari

area

pertambangannya. NMR juga telah menyatakan bahwa dasar laut Teluk


Buyat akan kembali normal setelah tujuh tahun mempunyai 2,000 ton
buangan limbah per hari di dalamnya. Sampai sekarang tidak ada rencana
menyangkut ekonomi alternatif untuk masyarakat lokal di sekitar daerah
pertambangan.

18

DAFTAR PUSTAKA
Edinger, E.N. 2008. Environmental impacts of nickel mining: Four case
studies, three continents, and two centuries. Pp. 103124 in Mining
Town Crisis : Globalization, Labour, and Resistance in Sudbury. D.
Leadbeater, ed.,
Edinger, E. 2012. Gold mining and submarine tailings disposal: Review and
case
study.
Oceanography
Vol.25(2):184199,
http://dx.doi.org/10.5670/oceanog.2012.54.
Glynn, T., 2002. Coastal communities under attack by Newmont The Peoples
of Sulawesi and Sumbawa are being victimized by Newmonts
Submarine Tailings Disposal operations. STD Toolkit: Indonesia Case
Studies, A Joint Publication of Project Underground and Mining Watch
Canada. 8 pp.
Howard, L.S., and B.E. Brown. 1984. Heavy metals and reef corals.
Oceanography and Marine Biology Annual Review 22:195210.
JATAM, 2000. Buyat Suffers. The Ugly Face of The Submarine Tailing Disposal
Policy of Newmont in Indonesia.
JATAM, 2001. Petaka pembuangan Tailing ke Laut, P 42.
Lasut, M.T, Y. Yasuda, E.N. Edinger and J.M. Pangemanan, 2009. Distribution
and Accumulation of Mercury Derived from Gold Mining in Marine
Environment and Its Impact on Residents of Buyat Bay, North Sulawesi,
Indonesia. Water Air Soil Pollut. Springer Science + Business Media B.V,
Published Online : 04 April 2009. DOI 10.1007/s11270-009-0155-0 : 12
pp.
Keraf, S., 2001. No more permits for submarine tailings placements says
Sonny Keraf. Petromindo.
Kurmurur, V.A. and M.T. Lasut, 2001. Submarine Tailings Disposal of
Newmont Minahasa Raya at Buyat Bay, North Sulawesi, Indonesia: The
Impacts on Seabed Contour and Fishing Grounds. Presented at
International Submarine Tailings Conference, April 2001.
Reichelt-Brushett, A. 2012. Risk assessment and ecotoxicology: Limitations
and recommendations for ocean disposal of mine waste in the Coral
Triangle.
Oceanography Vol.25(4):4051,
http://dx.doi.org/10.5670/oceanog.
Rompas, R.M. 1999. Dampak Penempatan Tailing di Dasar Laut Terhadap
Ekosistem Pantai, Materi Seminar Penempatan Tailing di Dasar Laut.
Manado.

19

Siregar, R., 2001. Survey Response on Impact of Submarine Tailings


Disposal: Hindered by Poor Law Enforcement and Limited Government
Concerns, Presented at the International Submarine Tailings
Conference.
WALHI, North Sulawesi, Community Participative Mapping, 2000. Minamata
to Minahasa. Environmental Pollution in Buyat Bay as a Result of PT
Newmont Minahasa Raya Mining. p. 24. Online: www.jatam.org.

20