Anda di halaman 1dari 72

LABORATORIUM KIMIA FARMASI

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
LAPORAN LENGKAP
ANALISIS KARBOHIDRAT

OLEH
1. VIVI AFRIANI

KELOMPOK III
7. ASLINDA ARSYAD

2. YULIANTI PATTANG

8. MARCE DATU RANDA

3. MELISA AMIR

9. TAUFIK ASHARI

4. UMMU SUMAYAH

10. KWAN KRISTINA KWANDOU

5. RISYAH

11. ARDI ARISANDY

6. DILLA PARAMITA

12. SYAMSUL ALAM

7. GRACE TRIFENA
GOLONGAN SABTU
ASISTEN

: SITTI KHULIQAT AQNA

MAKASSAR
2013

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Karbohidrat sangat akrab dengan kehidupan manusia. Karbohidrat
adalah sumber energi utama manusia. Contoh makanan sehari-hari yang
mengandung karbohidrat adalah pada tepung, gandum, jagung, beras,
kentang, sayur-sayuran dan lain sebagainya.
Karbohidrat merupakan sumber kalori utama bagi hampir seluruh
penduduk

dunia,

khususnya

bagi

penduduk

negara

yang

sedang

berkembang. Walaupun jumlah kalori yang dapat dihasilkan oleh 1 gram


karbohidrat hanya 4 kal (kkal) bila di banding protein dan lemak, karbohidrat
merupakan sumber kalori yang murah. Selain itu beberapa golongan
karbohidrat menghasilkan serat-serat (dietary fiber) yang berguna bagi
pencernaan.
Karbohidrat juga mempunyai peranan penting dalam menentukan
karakteristik bahan makanan, misalnya rasa, warna, tekstur dan lain-lain.
Sedangkan dalam tubuh, karbohidrat berguna untuk mencegah timbulnya
ketosis, pemecahan protein tubuh yang berlebihan, kehilangan mineral, dan
berguna untuk membantu metabolisme lemak dan protein. Dalam tubuh
manusia karbohidrat dapat dibentuk dari beberapa asam amino dan sebagian
dari gliserol lemak. Tetapi sebagian besar karbohidrat diperoleh dari bahan

makanan yang dimakan sehari-hari, terutama bahan makanan yang berasal


dari tumbuh-tumbuhan.
Banyak cara untuk mengetahui adanya karbohidrat dalam suatu bahan
antara lain dengan uji kualitatif dan uji kuantitatif. Uji kualitatif karbohidrat
diantaranya yaitu: uji Molisch, uji Iod, uji Fehling, uji Seliwanoff, uji Bial, dan
lainnya. Pada praktikum kali ini akan dilakukan uji kualitatif dengan
menggunakan uji Molisch, Tollens, Seliwanorf, Benedict, Fehling, Iod, Bial,
Barfoed, dan hidrolisis amilum.

I.2. Maksud dan Tujuan Percobaan


I.2.1. Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami beberapa cara mengidentifikasi senyawasenyawa karbohidrat.
I.2.1. Tujuan Percobaan
Mengetahui

sampel

yang

merupakan

karbohidrat

dan

bukan

karbohidrat pada uji molisch, uji tollens, uji benedict, uji seliwanorf, uji fehling,
uji iod, uji bial, uji barfoed dan uji hidrolisis amilum pada sampel sukrosa,
laktosa, fruktosa, terigu, pisang, air kelapa, gula Tropicana Slim, tepung
beras, urin, dan urin patologis.

I. 3 Prinsip Percobaan
1.

Uji Molisch
Karbohidrat

oleh

asam

sulfat

pekat

akan

dihidrolisa

menjadi

monosakarida dan selanjutnya monosakarida mengalami dehidrasi oleh


asam sulfat menjadi furfural atau hidroksi metil furfural. Furfural atau hidroksil
metil furfural dengan -naftol akan berkondensasi membentuk senyawa
kompleks yang berwarna ungu. Apabila pemberian asam sulfat pada larutan
karbohidrat yang telah diberi -naftol melalui dinding gelas dan secara hatihati maka warna ungu yang terbentuk berupa cincin pada batas antara
larutan karbohidrat dengan asam sulfat pekat. Dehidrasi pentosa oleh asam
akan dihasilkan furfural, dehidrasi heksosa menghasilkan hidroksi metil
furfural dan dehidrasi ramnosa menghasilkan metil furfural. (5:79)
2.
Uji Seliwanoff
Peristiwa dehidrasi monosakarida ketosa menjadi furfural lebih cepat
jika

dibandingkan

dengan

dehidrasi

monosakarida

aldosa.

Hal

ini

dikarenakan aldosa sebelum mengalami dehidrasi lebih dahulu mengalami


transformasi menjadi ketosa. Dengan demikian aldosa akan bereaksi negatif
pada uji Seliwanoff. Pada pengujian ini furfural yang terbentuk dari dehidrasi
tersebut dapat bereaksi dengan resorcinol membentuk senyawa kompleks
berwarna merah. Sebagai zat untuk dehidrator dapat digunakan asam klorida
12% atau asam asetat atau asam atau asam sulfat alkoholik. (5:79)
3.

Uji Barfoed

Larutan Barfoed (campuran kupri asetat dan asam asetat) akan


bereaksi dengan gula reduksi sehingga dihasilkan endapan kuprooksida.
Dalam suasana asam ini gula reduksi yang termasuk dalam golongan
disakarida memberikan reaksi yang sangat lambat dengan larutan Barfoed
sehingga tidak memberikan endapan merah kecuali pada waktu percobaan
yang diperlama. Uji ini untuk menunjukkan gula reduksi monosakarida. (5:80)
4.

Uji Iodin
Karbohidrat golongan polisakarida akan memberikan reaksi dengan

larutan iodin dan memberikan warna spesifik bergantung pada jenis


karbohidratnya. Amilosa dengan iodin akan berwarna biru, amilopektin
dengan iodin akan berwarna merah violet, glikogen maupun dekstrin dengan
iodin akan berwarna merah coklat. (2:63)
5.
Uji Fehling
Larutan fehling yang terdiri dari campuran kupri sulfat, Na-K-tartrat dan
NaOH dengan gula reduksi dan dipanaskan akan terbentuk endapan yang
berwarna hijau,kuning-orange atau merah bergantung dari macam gula
reduksinya. (2:65)
6.
Uji Benedict
Pereaksi Benedict terdiri dari tembaga sulfat dalam larutan natrium
karbonat dan natrium sitrat yang dapat mereduksi glukosa. Dimana glukosa
terlebih dahulu dioksidasi dalam bentuk garam asam glukoronat. Reaksi ini
juga akan membentuk endapan merah bata Cu 2O dan produk oksidasi
lainnya. (5:82)
7.
Uji Hidrolisis Amilum

Pati dan iodium membentuk ikatan kompleks berwarna biru. Pati dalam
suasana asam bila dipanaskan dapat terhidrolisis menjadi senyawa yang
lebih sederhana, hasilnya diuji dengan iodium yang akan memberikan warna
biru sampai tidak berwarna dan hasil akhir ditegaskan dengan uji Benedict.
(2:64)
8.
Uji Tollens
Uji

tollens

merupakan

salah

satu

uji

yang

digunakan

untuk

membedakan senyawa aldehid dan senyawa keton. Pembuatan Pereaksi


Tollens

dengan

mencampurkan

AgNO3 dengan

NaOH

10%

akan

menghasilkan pengoksidasi ringan yaitu larutan basa dari perak nitrat dan
ditambahkan larutan amonia, amonia membentuk kompleks larut air dengan
ion perak yang digunakan untuk meguji sampel termasuk ke dalam senyawa
aldehid atau senyawa keton dengan terjadi perubahan warna larutan menjadi
coklat keruh dan tebentuk endapan berwarna hitam, kemudian dipanaskan
terjadi lagi perubahan yaitu warna larutan abu-abu keruh dan terbentuknya
endapan cermin perak pada dinding tabung reaksi dan endapan berwarna
kehitaman, setelah larutan didinginkan warna larutan berubah lagi menjadi
bening kehijauan dan endapannya berwarna hitam merupakan senyawa
aldehid, dan terjadi perubahan warna pada sampel berubah menjadi coklat
dan terbentuk endapan abu abu kemudian pada saat dipanaskan warna
larutan berubah warna dan terdapatnya endapan hitam
merupakan senyawa keton. (2:69)

atau ungu

9.

Uji Bial
Uji Bial digunakan untuk mengidentifikasi adanya pentosa. Dasar teori

dari uji bial adalah dehidrasi pentosa oleh HCl pekat menghasilkan furfural
dan dengan penambahan orsinol (3,5-dihidroksi toluena) dalam pereaksi Bial
akan berkondensasi membentuk senyawa kompleks berwarna biru. (2:71)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Teori Umum
II. 1. 1. Pengertian Karbohidrat
Karbohidrat yaitu senyawa organik terdiri dari unsur karbon, hidrogen,
dan oksigen. Terdiri atas unsur C, H, O dengan perbandingan 1 atom C, 2
atom H, 1 atom O. Karbohidrat adalah komposisi yang terdiri dari elemen
karbon, hydrogen dan oksigen, terdapat dalam tumbuhan seperti beras,
jagung, gandum, umbi-umbian, dan terbentuk melalui proses asimilasi dalam
tumbuhan (Pekik, 2007). Karbohidrat berasal dari kata karbon (C) dan
anhidrat (H2O). Rumus umumnya dikenal sebgai Cx(H2O)n. (1:6)
Karbohidrat banyak terdapat pada tumbuhan dan binatang yang
berperan struktural & metabolik. sedangkan pada tumbuhan untuk sintesis
CO2 + H2O yang akan menghasilkan amilum/selulosa, melalui proses
fotosintesis, sedangkan hewan tidak dapat menghasilkan karbohidrat
sehingga tergantung tumbuhan. Karbohidrat merupakan sumber energi dan
cadangan energi, yang melalui proses metabolisme. (2:42)
Karbohidrat merupakan salah satu makromolekul alam yang banyak
ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan maupun hewan. Pada tanaman
karbohidrat dibentuk melalui reaksi antara karbon dioksida dan molekul air
dengan bantuan sinar matahari dalam proses fotosintesis : (1:6)
nCO2 + nH2O

(CH2O)n + nO2

II. 1. 2. Penggolongan Karbohidrat


Adapun karbohidrat sederhana dapat digolongkan menjadi : (2:44-46)
1. Monosakarida
Sebagian besar monosakarida dikenal sebagai heksosa, karena terdiri
atas 6-rantai atau cincin karbon. Atom-atom hidrogen dan oksigen terikat
pada rantai atau cincin ini secara terpisah atau sebagai gugus hidroksil(-OH).
Ada tiga jenis heksosa yang penting dalam ilmu gizi, yaitu glukosa, fruktosa,
dan galaktosa. Ketiga macam monosakarida ini mengandung jenis dan
jumlah atom yang sama, yaitu 6 atom karbon, 12 atom hidrogen, dan 6 atom
oksigen. Perbedaannya hanya terletak pada cara penyusunan atom-atom
hidrogen dan oksigen di sekitar atom-atom karbon. Perbedaan dalam
susunan

atom

inilah

yang

menyebabkan

perbedaan

dalam

tingkat

kemanisan, daya larut, dan sifat lain ketiga monosakarida tersebut.


Monosakarida yang terdapat di alam pada umumnya terdapat dalam
bentuk isomer dekstro (D). gugus hidroksil ada karbon nomor 2 terletak di
sebelah kanan. Struktur kimianya dapat berupa struktur terbuka atau struktur
cincin. Jenis heksosa lain dalam ilmu gizi adalah manosa. Monosakarida
yang mempunyai lima atom karbon disebut pentosa, seperti ribosa dan
arabinosa.
a. Glukosa, dinamakan juga dekstrosa atau gula anggur, terdapat luas di
alam dalam jumlah sedikit, yaitu di dalam sayur, buah, sirup jagung,
sari pohon, dan bersamaan dengan fruktosa dalam madu. Glukosa

memegang peranan sangat penting dalam ilmu gizi. Glukosa


merupakan hasil akhir pencernaan pati, sukrosa, maltosa, dan laktosa
pada hewan dan manusia. Dalam proses metabolisme, glukosa
merupakan bentuk karbohidrat yang beredar di dalam tubuh dan di
dalam sel merupakan sumber energi.
b. Fruktosa, dinamakan juga levulosa atau gula buah, adalah gula paling
manis. Fruktosa mempunyai rumus kimia yang sama dengan glukosa,
C6H12O6, namun strukturnya berbeda. Susunan atom dalam fruktosa
merangsang jonjot kecapan pada lidah sehingga menimbulkan rasa
manis.
c. Galaktosa, tidak terdapat bebas di alam seperti halnya glukosa dan
fruktosa, akan tetapi terdapat dalam tubuh sebagai hasil pencernaan
laktosa.
d. Manosa, jarang terdapat di dalam makanan. Di gurun pasir, seperti di
Israel terdapat di dalam makanan yang mereka olah untuk membuat
roti.
e. Pentosa, merupakan bagian sel-sel semua bahan makanan alami.
Jumlahnya sangat kecil, sehingga tidak terlalu dibutuhkan sebagai
sumber energi.
2. Disakarida
Ada empat jenis disakarida, yaitu sukrosa atau sakarosa, maltosa,
laktosa, dan trehaltosa.Trehaltosa tidak begitu penting dalam ilmu gizi, oleh

karena itu akan dibahas secara terbatas. Disakarida terdiri atas dua unit
monosakarida yang terikat satu sama lain melalui reaksi kondensasi. kedua
monosakarida saling mengikat berupa ikatan glikosidik melalui satu atom
oksigen (O). ikatan glikosidik ini biasanya terjadi antara atom C nomor 1
dengan atom C nomor 4 dan membentuk ikatan alfa, dengan melepaskan
satu molekul air. hanya karbohidrat yang unit monosakaridanya terikat dalam
bentuk alfa yang dapat dicernakan. Disakarida dapat dipecah kembali mejadi
dua molekul monosakarida melalui reaksi hidrolisis. Glukosa terdapat pada
ke empat jenis disakarida; monosakarida lainnya adalah fruktosa dan
galaktosa.
a. Sukrosa atau sakarosa dinamakan juga gula tebu atau gula bit. Secara
komersial gula pasir yang 99% terdiri atas sukrosa dibuat dari kedua
macam bahan makanan tersebut melalui proses penyulingan dan
kristalisasi. Gula merah yang banyak digunakan di Indonesia dibuat
dari tebu, kelapa atau enau melalui proses penyulingan tidak
sempurna. Sukrosa juga terdapat di dalam buah, sayuran, dan madu.
b. Maltosa (gula malt) tidak terdapat bebas di alam. Maltosa terbentuk
pada setiap pemecahan pati, seperti yang terjadi pada tumbuhtumbuhan bila benih atau bijian berkecambah dan di dalam usus
manusia pada pencernaan pati.
c. Laktosa (gula susu) hanya terdapat dalam susu dan terdiri atas satu
unit glukosa dan satu unit galaktosa. Kekurangan laktase ini

menyebabkan ketidaktahanan terhadap laktosa. Laktosa yang tidak


dicerna tidak dapat diserap dan tetap tinggal dalam saluran
pencernaan. Hal ini mempengaruhi jenis mikroorgnaisme yang
tumbuh, yang menyebabkan gejala kembung, kejang perut, dan diare.
Ketidaktahanan terhadap laktosa lebih banyak terjadi pada orang tua.
Laktosa adalah gula yang rasanya paling tidak manis (seperenam
manis glukosa) dan lebih sukar larut daripada disakarida lain.
d. Trehalosa seperti juga maltosa, terdiri atas dua mol glukosa dan
dikenal sebagai gila jamur. Sebanyak 15% bagian kering jamur terdiri
atas trehalosa. Trehalosa juga terdapat dalam serangga.
3. Gula Alkohol
Gula alkohol terdapat di dalam alam dan dapat pula dibuat secara
sintesis. Ada empat jenis gula alkohol yaitu sorbitol, manitol, dulsitol, dan
inositol.
a. Sorbitol, terdapat di dalam beberapa jenis buah dan secara komersial
dibuat dari glukosa. Enzim aldosa reduktase dapat mengubah gugus
aldehida (CHO) dalam glukosa menjadi alkohol (CH2OH). Struktur
kimianya dapat dilihat di bawah. Sorbitol banyak digunakan dalam
minuman dan makanan khusus pasien diabetes, seperti minuman
ringan, selai dan kue-kue. Tingkat kemanisan sorbitol hanya 60% bila
dibandingkan dengan sukrosa, diabsorpsi lebih lambat dan diubah di
dalam hati menjadi glukosa. Pengaruhnya terhadap kadar gula darah

lebih kecil daripada sukrosa. Konsumsi lebih dari lima puluh gram
sehari dapat menyebabkan diare pada pasien diabetes.
b. Manitol dan Dulsitol adalah alkohol yang dibuat dari monosakarida
manosa dan galaktosa. Manitol terdapat di dalam nanas, asparagus,
ubi jalar, dan wortel. Secara komersialo manitol diekstraksi dari sejenis
rumput laut. Kedua jenis alkohol ini banyak digunakan dalam industri
pangan.
c. Inositol merupakan alkohol siklis yang menyerupai glukosa. Inositol
terdfapat dalam banyak bahan makanan, terutama dalam sekam
serealia.
4. Oligosakarida
Oligosakarida terdiri atas polimer dua hingga sepuluh monosakarida.
a. Rafinosa, stakiosa, dan verbaskosa adalah oligosakarida yang terdiri
atas

unit-unit

glukosa,

fruktosa,

dan

galaktosa.

Ketiga

jenis

oligosakarida ini terdapat du dalam biji tumbuh-tumbuhan dan kacangkacangan serta tidak dapat dipecah oleh enzim-enzim perncernaan.
b. Fruktan adalah sekelompok oligo dan polisakarida yang terdiri atas
beberapa unit fruktosa yang terikat dengan satu molekul glukosa.
Fruktan terdapat di dalam serealia, bawang merah, bawang putih, dan
asparagus. Fruktan tidak dicernakan secara berarti. Sebagian ebsar di
dalam usus besar difermentasi.
Adapun karbohidrat kompleks dapat digolongkan menjadi: (2:47-48)

1. Polisakarida
Karbohidrat kompleks ini dapat mengandung sampai tiga ribu unit gula
sederhana yang tersusun dalam bentuk rantai panjang lurus atau bercabang.
Jenis polisakarida yang penting dalam ilmu gizi adalah pati, dekstrin,
glikogen, dan polisakarida nonpati.
a. Pati merupakan simpanan karbohidrat dalam tumbuh-tumbuhan dan
merupakan karbohidrat utama yang dimakan manusia di seluruh
dunia. Pati terutama terdapat dalam padi-padian, biji-bijian, dan umbiumbian. Jumlah unit glukosa dan susunannya dalam satu jenis pati
berbeda satu sama lain, bergantung jenis tanaman asalnya. Bentuk
butiran pati ini berbeda satu sama lain dengan karakteristik tersendiri
dalam hal daya larut, daya mengentalkan, dan rasa. Amilosa
merupakan rantai panjang unit glukosa yang tidak bercabang,
sedangkan amilopektin adfalah polimer yang susunannya bercabangcabang dengan 15-30 unit glukosa pada tiap cabang.
b. Dekstrin merupakan produk antara pada perencanaan pati atau
dibentuk melalui hidrolisis parsial pati. Dekstrin merupakan sumber
utama karbohidrat dalam makanan lewat pipa (tube feeding). Cairan
glukosa dalam hal ini merupakan campuran dekstrin, maltosa, glukosa,
dan air. Karena molekulnya lebih besar dari sukrosa dan glukosa,
dekstrin mempunyai pengaruh osmolar lebih kecil sehingga tidak
mudah menimbulkan diare.

c. Glikogen dinamakan juga pati hewan karena merupakan bentuk


simpanan karbohidrat di dalam tubuh manusia dan hewan, yang
terutama terdapat di dalam hati dan otot. Dua pertiga bagian dari
glikogen disimpan dalam otot dan selebihnya dalam hati. Glikogen
dalam otot hanya dapat digunakan untuk keperluan energi di dalam
otot tersebut, sedangkan glikogen dalam hati dapat digunakan sebagai
sumber energi untuk keperluan semua sel tubuh. Kelebihan glukosa
melampaui kemampuan menyimpannya dalam bentuk glikogen akan
diubah menjadi lemak dan disimpan dalam jaringan lemak.
2. Polisakari dan Nonpati/Serat
Serat akhir-akhir ini banyak mendapat perhatian karena peranannya
dalam mencegah berbagai penyakit. Ada dua golongan serat yaitu yang tidak
dapat larut dan yang dapat larut dalam air. Serat yang tidak larut dalam air
adalah selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Serat yang larut dalam air adalah
pektin, gum, mukilase, glukan, dan algal.
Karbohidrat mempunyai fungsi yang amat penting dalam kehidupan
seluruh organisme. Kabohidrat bisa dalam bentuk sederhana (monomerik)
dan dalam bentuk komponen (polimerik). Karbohidrat digolongkan juga atas
karbohidrat yang tidak dapat dicerna dan dapat dicerna. Yang dalam bentuk
karbohidrat mudah dicerna adalah pati, amilum yang strukturnya dalam
bentuk alpha 1,4 dan alpha 1,6 sedangkan karbohidrat serat biasanya
berbentuk struktur beta 1,6 misalnya pektin dan selulosa. (6:21)

Adapun gugus aldehida dapat ditunjukkan dengan : (5:78)


1.

Adisi HCN menghasilkan siano hidrin dan perubahan dari senyawa ini
menjadi heptanoat.

2.

Reduksi glukosa menjadi sorbitol C6H14O6.

3.

Okisidasi glukosa menjadi asam glukonat, asam glukonat dapat


dioksidasi lebih lanjut menjadi asam glukorat, menunjukkan bahwa glukoa
mengandung pula gugus CH2OH. Glukosa membentuk penta asetat,
sedang sarbitol membentuk asetat.
Secara

biokimia,

karbohidrat

adalah

polihidroksil-aldehid

atau

polihidroksil-keton, atau senyawa yang menghasilkan senyawa-senyawa ini


bila dihidrolisis. Karbohidrat mengandung gugus fungsi karbonil (sebagai
aldehid atau keton) dan banyak gugus hidroksil. (7:241)

II. 1. 3. Struktur Karbohidrat


Molekul karbohidrat terdiri atas atom atom karbon, hidrogen dan
oksigen. Jumlah atom hidrogen dan oksigen merupakan perbandingan 2:1
seperti pada molekul air. Sebagai contoh molekul glukosa mempunyai rumus
kimia C6H12O6 sedangkan rumus sukrosa adalah C12H22O11. Pada glukosa
tampak bahwa jumlah atom hidrogen berbanding jumlah atom oksigen ialah
12:6 atau 2:1, sedangkan pada sukrosa 22:11. (6:24)
Dengan demikian dahulu orang berkesimpulan adanya air dalam
karbohidrat. Karena inilah maka dipakai kata karbohidrat, yang berasal dari

karbon yang berarti mengandung unsur karbon dan hidrat yang berarti air.
(6:24)
Pada senyawa yang termasuk karbohidrat terdapat gugus fungsi yaitu
gugus OH, gugus aldehid atau gugus keton. Struktur karbohidrat selain
mempunyai hubungan dengan sifat kimia yang ditentukan oleh gugus fungsi,
ada pula hubungannya dengan sifat fisika, dalam hal ini aktifitas optik. (5:35)
Rumus Fischer : molekul KH terbentuk dari rantai atom C & tiap atom C
mengikat atom/gugus atom C mengikat 4 atom dengan tiap sudut 109o
tetrahedron dengan atom C sebagai pusatnya.
a. Bila C mengikat 4 atom/gugus yang berlainan: atom C asimetrik/tidak
simetrik.
b. Struktur senyawa yang membentuk bayangan cermin senyawa
semula : pasangan enansiomer.
c. Rumus proyeksi:

Rumus struktur gliseraldehida punya titik lebur & kelarutan dalam air
yang sama, perbedaan sifat pada pemutaran bidang getar cahaya
terpolarisasi/rotasi optik. Senyawa yang dapat menyebabkan rotasi optik.

Enansiomer yang memutar cahaya terpolarisasi ke kanan diberi tanda (+)


atau D (dekstro); yang memutar ke kiri diberi tanda (-) atau L (levo).

a. Besarnya sudut putar/rotasi () tergantung jenis senyawa, suhu,


panjang gelombang cahaya terpolarisasi & banyaknya molekul pada
jalan yang dilalui.
b. Rotasi spesifik : rotasi yang dihasilkan 1 gr senyawa dalam 1 ml
larutan dalam suatu sel sepanjang 1 dm pada suhu & panjang
gelombang yang ditentukan (589,3 mu atau 5893 A ~ garis D natrium,
20). (4:27)

= rotasi spesifik menggunakan cahaya D natrium pada suhu 20 C

= sudut rotasi yang diamati pada polarimeter

= Panjang sel dalam (dm)

= konsentrasi larutan (gr/ml)

Harga rotasi spesifik KH pada 20 dengan sinar natrium


_________________________________________________________
D fruktosa

- 92,4

sukrosa

+ 66,5

D galaktosa

+ 80,2

maltosa

+ 130,4

L arabinosa

+ 104,5

gula invert

- 19,8

D manosa

+ 14,2

dekstrin

+ 195

D arabinosa

- 105

amilum

+ 196 lebih

D xilosa

+ 18,8

glikogen

+ 196 197

a. Rumus Haworth
Jika kristal glukosa murni dilarutkan dalam air maka larutannya akan
memutar cahaya terpolarisasi ke arah kanan. Namun bila dibiarkan,
terlihat sudut putaran berubah menjadi makin kecil hingga tetap.
MUTAROTASI : perubahan rotasi/putaran

.
Sir Walter Norman Haworth (1883-1950) ahli kimia Inggris
mengusulkan rumus struktur KH : bentuk cincin FURAN atau PIRAN

b. Rumus fischer
Seperti senyawa organik lainnya, molekul karbohidrat terbentuk
dari rantai atom karbon dan tiap atom karbon mengikat atau gugus
tertentu. Apabila atom karbon mengikat empat buah atom atau gugus,
maka terbentuk sudut antara dua ikatan yang besarnya 109 0C.

II. 1. 4. Sifat Kimia


Berbeda dengan sifat fisika yang telah diuraikan, yaitu aktifitas optik,
sifat kimia karbohidrat berhubungan erat dengan gugus fungsi yang terdapat
pada molekulnya, yaitu OH, gugus aldehida dan gugus keton. (9:27)
1. Sifat Mereduksi
Monosakarida dan beberapa disakarida mempunyai sifat dapat
mereduksi terutama dalam suasan basa. Sifat sebagai reduktor ini dapat
digunakan

untuk

keperluan

identifikasi

karbohidrat

maupun

analisis

kuantitatif. Sifat mereduksi ini disebabkan oleh adanya gugus aldehida atau
keton bebas dalam molekul karbohidrat. Sifat ini tampak pada reaksi reduksi
ion-ion logam misalnya ion Cu2+ dan ion Ag+ yang terdapat pada pereaksipereaksi tertentu.

2. Pembentukan Furfural
Dalam larutan asam yang encer, walaupun dipanaskan, monosakarida
umumnya stabil. Tetapi apabila dipanaskan dengan kuat yang pekat,
monosakarida menghasilkan furfural atau derivatnya. Reaksi pembentukan
furfural ini adalah reaksi dehidrasi atau pelepasan molekul air dari suatu
senyawa.
Pentosa-pentosa hampir secara kuantitatif semua terdrhidrasi menjadi
furfural. Dengan dehidrasi heksosa-heksosa menghasilkan hidroksimetil
furfural. Oleh karena furfural dan derivatnya dapat membentuk senyawa yang
berwarna apabila direaksikan dengan naftol atau timol, reaksi ini dapat
digunakan sebagai reaksi pengenal karbohidrat.
3. Pembentukan Osazon
Semua karbohidrat yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas
akan membentuk osazon bila dipanaskan bersama fenilhidrazina berlebih.
Osazon yang terjadi mempunyai bentuk kristal dan titik lebur yang khas bagi
masing-masing karbohidrat. Hal ini sangat penting karena dapat digunakan
untuk mengidentifikasi karbohidrat dan merupakan salah satu cara untuk
membedakan beberapa monosakarida, misalnya antara glukosa dan
galaktosa yang terdapat dalam urine wanita dalam masa menyusui.
4. Pembentukan Ester
Adanya gugus hidroksil pada karbohidrat memungkinkan terjadinya
ester apabila direaksikan dengan asam. Monosakarida mempunyai beberapa

gugus OH dan dengan asam fosfat. Ester yang penting dalam tubuh kita
adalah D glukosa-6-fosfat dan D-fruktosa-1,6-difosfat. Kedua jenis ester
ini terjadi dari reaski monosakarida dengan adenosintrifosfat (ATP) dengan
bantuan enzim tertentu dalam tubuh kita Proses esterifikasi dengan asam
fosfat yang berlangsung dalam tubuh kita disebut juga proses fosforilasi.
Pada glukosa dan fruktosa, gugus fosfat dapat terikat pada atom karbon
nomor 1,2,3,4 atau 6. Pada D-glukosa-6-fosfat, gugus fosfat terikat pada
atom nomor 6, sedangkan pada dan D-fruktosa-1,6-difosfat dua gugus
fosfat terikat pada atom karbon nomor 1 dan 6.
5. Isomerisasi
Kalau dalam larutan asam encer monosakarida dapat stabil, tidak
demikian halnya apabila monosakarida dilarutkan dalam basa encer. Glukosa
dalam larutan basa encer akan berubah sebagai menjadi fruktosa dan
manosa. Ketiga
Demikian

pula

monosakarida ini ada dalam keadaan keseimbangan.


apabila

yang

dilarutkan

itu

fruktosa

atau

manosa,

keseimbangan antara ketiga monosakarida akan tercapai juga. Reaksi ini


dikenal sebagai transformasi Lobry de Bruon van Eckenstein yang
berlangsung melalui proses enosisasi.
6. Pembentukan Glikosida
Apabila glukosa direaksikan dengan metil alkohol, menghasilkan dua
senyawa. Kedua senyawa ini dapat dipisahkan satu dari yang lain dan
keduanya tidak memiliki sifat aldehid. Keadaan ini membuktikan bahwa yang

menjadi pusat reaski adalah gugus OH yang terikat pada atom karbon
nomor 1. Senyawa yang terbentuk adalah suatu asetal dan disebut secara
umum glikosida. Ikatan yang terjadi antara gugus metil dengan monosakarida
disebut ikatan glikosida dab gugus OH yang bereaksi disebut gugus OH
glikosidik.

II. 1. 5. Proses Metabolisme Karbohidrat


Proses-proses pada metabolisme karbohidrat : (9:184-196)
1. Glikolisis
Glikogen adalah molekul polisakarida yang tersimpan dalam sel-sel
hewan bersama dengan air dan digunakan sebagai sumber energi. Ketika
pecah di dalam tubuh, glikogen diubah menjadi glukosa, sumber energi yang
penting bagi hewan. Banyak penelitian telah dilakukan pada glikogen dan
perannya dalam tubuh ,sejak itu glikogen diakui sebagai bagian penting dari
sistem penyimpanan energi tubuh.
Glikolisis adalah serangkaian reaksi biokimia di mana glukosa dioksidasi
menjadi

molekul

asam

piruvat.

Glikolisis

adalah

salah

satu

proses metabolisme yang paling universal yang kita kenal, dan terjadi
(dengan berbagai variasi) di banyak jenis sel dalam hampir seluruh
bentuk organisme.

Proses

glikolisis

sendiri

menghasilkan

lebih

sedikit energi permolekul glukosa dibandingkan dengan oksidasi aerobik


yang sempurna. Energi yang dihasilkan disimpan dalam senyawa organik

berupa adenosine triphosphate atau yang lebih umum dikenal dengan


istilah ATP dan NADH. Terjadi dalam semua sel tubuh manusia. Degradasi
an-aerob glukosa menjadi laktat.
Proses penguraian karbohidrat menjadi piruvat. Juga disebut jalur
metabolisme Emden-Meyergoff dan sering diartikan pula sebagai penguraian
glukosa menjadi piruvat. Proses ini terjadi dalam sitoplasma.Glikolisis
anaerob: proses penguraian karbohidrat menjadi laktat melalui piruvat tanpa
melibatkan oksigen. Proses penguraian glukosa menjadi CO 2 dan air seperti
juga semua proses oksidasi. Energi yang dihasilkan dari proses penguraian
glukosa ini adalah 690 kilo-kalori (kkal).
Jumlah energi ini sebenarnya jauh lebih besar daripada jumlah energi
yang dapat disimpan secara sangkil dalam bentuk energi kimia ATP yang
dihasilkan dalam proses penguraian tersebut. Dengan adanya oksigen
(dalam suasana aerob), glikolisis menghasilkan piruvat, atau tanpa oksigen
(glikolisis anaerob) menghasilkan laktat. Glikolisis menghasilkan dua
senyawa karbohidrat beratom tiga dari satu senyawa beratom enam; pada
proses ini terjadi sintesis ATP dari ADP + Pi. menunjukkan proses glikolisis
secara keselurhan. Seperti halnya reaksi dengan glukokinase (reaksi tahap
pertama) dan fosfofruktokinase (reaksi tahap ketiga), reaksi dengan piruvat
kinase ini juga merupakan reaksi yang tidak reversibel, sehingga merupakan
salah satu tahap reaksi pendorong glikolisis.

Reaksi

kebalikannya

yang

merupakan

reaksi

tahap

pertama

glukoneogenesis merupakan suatu reaksi yang kompleksyang melibatkan


beberapa enzim dan organel sel yaitu mitokondrion, yang diperlukan untuk
terlebih dahulu mengubah piruvat menjadi malat sebelum terbentuknya
fosfoenol piruvat. Pada jalan metabolisme ini, piruvat diangkut kedalam
mitokondria dengan cara pengangkutan aktif melalui membran mitokondrion.
Selanjutnya piruvat bereaksi dengan CO2 menghasilkan asam oksalasetat.
Reaksi ini dikatalis oleh piruvat karboksilase (enzim yang terdapat pada
mitokondria tetapi tidak terdapat pada sitoplasma), dan memerlukan koenzim
biotin dan kofaktor ion maggan, serta ATP sebagai sumber energi.
Dalam mekanisme reaksinya, biotin (sebagai gugus biotinil) yang terikat
pada gugus lisina dari piruvat karboksilase, menarik CO 2 atau HCO3 dalam
mitokondrion kemudian mengkondensasikan dengan asam piruvat (dengan
bantuan ATP dan Mn-2) menghasilkan asam oksalasetat. Asam oksalasetat
kemudian direduksi menjadi asam malat oleh NADH dan dikatalis malat
dehidrogenase. Asam malat diangkut keluar mitokondria dengan cara
pengangkutan aktif melalui membran mitokondrion yang kemudian dioksidasi
kembali menjadi asam oksalasetat oleh NAD + dan malat dehidrogenase yang
terdapat dalam sitoplasma.
Akhirnya oksalasetat dikarboksilasi dengan CO 2 dan difosforilasi dengan
gugus fosfat dari GTP (guanosin trifosfat, sebagai sumber energi yang khas
disamping

ATP)

dan

dikatalis

oleh

fosfoenolpiruvat

karboksikinase

menghasilkan fosfoenolpiruvat. Dengan demikian untuk mengubah satu


molekul piruvat menjadi fosfoenolpiruvat diperlukan energi sebanyak satu
ATP plus satu GTP dan melibatkan paling sedikit empat macam enzim.
Dibandingkan dengan reaksi kebalikannya, yaitu perubahan sat molekul
fosfoenol piruvat menjadi piruvat, dihasilkan satu ATP dan melibatkan satu
macam enzim saja. Dilihat dari keseluruhan, glikolisis terbagi menjadi dua
bagian. Bagian pertama meliputi tahap reaksi enzim yang memerlukan ATP,
yaitu tahap reaksi dari glukosa sampai dengan pembentukan fruktosa 6fosfat., yang menggunaka dua molekul ATP tiap satu molekul glukosa yang
dioksidasi. Bagian kedua meliputi tahap reaksi yang menghasilkan energi
(ATP dan NADH) yaitu dari gliseraldehide 3-fosfat sampai dengan piruvat.
Dari bagian kedua ini dihasilkan dua molekul NADH dan empat molekul ATP
untuk tiap molekul glukosa yang dioksidasi (atau untuk dua molekul
gliseraldehid 3-fosfat yang dioksidasi). Karena satu molekul NADH yang
masuk rantai pengangkutan elektron dapat menghasilkan tiga molekul ATP,
maka tahap reaksi bagian kedua ini menghasilkan 10 molekul ATP. Dengan
demikian, keseluruhan proses glikolisis menghasilkan 10-2 = 8 molekul ATP
untuk tiap molekul glukosa yang dioksidasi.
Sebaliknya, untuk mensintesis satu molekul glukosa dari dua molekul
piruvat dalam proses glukoneogenesis diperlukan energi dari 4 molekul ATP,
2 GTP (sebanding dengan 2 ATP) dan 2 NADH (= 6 ATP) atau sebanding
dengan 12 molekul ATP.

2. Glikogenesis
Glikogenesis adalah poses pembentukan glikogen dari glukosa.
Glikogenolisis adalah proses penguraian Glikogen menjadi Glukosa.
Fermentasi adalah Penguraian Glukosa menjadi Senyawa antara (asam
laktat, alkohol) karena penguraian glukosa dalam suasana Anaerob.
Respirasi adalah sebutan penguraian Glukosa menjadi CO2 dan H2O dalam
suasana Aerob. Pada metabolisme karbohidrat pada manusia dan hewan
secara umum, setelah melalui dinding usus halus sebagian besar
monosakarida dibawa oleh aliran darah ke hati. Di dalam hati, monosakarida

mengalami sintesis menghasilkan glikogen, oksidasi menjadi CO 2 dan H2O


atau dilepaskan untuk dibawa dengan aliran darah kebagian tubuh yang
memerlukannya sebagaimana digambarkan sbb.
Sebagian lain monosakarida dibawa langsung ke sel jaringan organ
tertentu dan mengalami proses metabolisme lebih lanjut. Karena pengaruh
berbagai faktor dan hormon insulinyang dihasilkan oleh kelenjar pankreas,
maka hati dapat mengatur kadar glukosa dalam darah. Bila kadar glkosa
dalam darah meningkat sebagai akibat naiknya proses pencernaan dan
penyerapan karbohidrat, sintesis glikogen dari glukosa oleh hati akan naik.
Sebaliknya bila kadar glukosa menurun, misalnya akibat latihan olahraga,
glikogern diuraikan menjadi glukosa yang selanjutnya mengalami proses
katabolisme menghasilkan energi (dalam bentuk energi kimia, ATP) yang
dibutuhkan oleh kegiatan olahraga tersebut. Kadar glukosa dalam darah
merupakan faktor yang sangat penting untuk kelancaran kerja tubuh. Kadar
normal glukosa dalam darah adalah 70-90 mg/100 ml.
Keadaan dimana kadar glukosa berada di bawah 70mg/100ml
disebut hipoglisemia, sedangkan diatas 90mg/100ml disebut hiperglisemia.
Hipoglisemia yang ekstrem dapat menghasilkan suatu rentetan reaksi
goncangan yang ditunjukkan oleh gejala gemetarnya otot, perasaan lemah
badan

dan

pucatnya

warna

kulit.

Hipoglisemia

yang

serius

dapat

menyebabkan kehilangan kesadaran sebagai akibat kekurangan glukosa

dalam otak yang diperlukan untuk pembentukan energi, sehingga pada


akhirnya dapat menyebabkan kematian.
Kadar glukosa yang tinggi merangsang pembentukan glikogen dari
glukosa, sintesis asam lemak dan kolesterol dari glukosa. Kadar glukosa
antara 140 dan 170 mg/100 ml disebut kadar ambang ginjal, karena pada
kadar ini glukosa diekskresi dalam kemih melalui ginjal. Gejala ini
disebut glukosuria yaitu keadaan ketidakmampuan ginjal untuk menyerap
kembali glukosa yang telah mengalami filtrasi melalui sel tubuh. Kadar
glukosa dalam darah diatur oleh beberapa hormon. Insulin dihasilkan oleh
kelenjar

pankreas

menurunkan

kadar

glukosa

dengan

menaikkan

pembentukan glikogen dari glukosa.


Adrenalin (epineprin) yang juga dihasilkan oleh pankreas, dan glukagon
berperan dalam menaikkan kadar glukosa dalam darah. Semua faktor ini
bekerjasama secara terkoordinasi mempertahankan kadar glukosa tetap
normal untuk menunjang berlangsungnya proses metabolisme secara
optimum.
Proses pembentukan glikogen ringkasnya sebagai berikut :
a. Tahap pertama adalah pembentukan glukosa-6-fosfat dari glukosa,
dengan bantuan enzim glukokinase dan mendapat tambahan energi dari
ATP dan fosfat.
b. Glukosa-6-fosfat dengan enzim glukomutase menjadi glukosa-1-fosfat.

c. Glukosa-1-fosfat bereaksi dengan UTP (Uridin Tri Phospat) dikatalisis oleh


uridil transferase menghasilkan uridin difosfat glukosa (UDP-glukosa) dan
pirofosfat (PPi).
d. Tahap terakhir terjadi kondensasi antara UDP-glukosa dengan glukosa
nomor satu dalam rantai glikogen primer menghasilkan rantai glikogen
baru dengan tambahan satu unit glukosa.
Glukosa 6-fosfat dan glukosa 1-fosfat merupakan senyawa antara
dalam proses glikogenesis atau pembentukan glikogen dari glukosa. Proses
kebalikannya,

penguraian

glikogen

menjadi

glukosa

yang

disebut

glikogenolisis juga melibatkan terjadinya kedua senyawa antara tersebut


tetapi dengan jalur yang berbeda seperti digambarkan pada Gambar
dibawah. Senyawa antara UDP-glukosa (Glukosa Uridin Difosfat) terjadi pada
jalur pembentukan tetapi tidak pada jalur penguraian glikogen. Demikian pula
enzim yang berperan dalam kedua jalur tersebut juga berbeda.

Gambar Glikogenesis

Gugus fosfat dan energi yang diperlukan dalam reaksi pembentukan


glukosa 6-fosfat dsari glukosa diberikan oleh ATP yang berperan sebagai
senyawa kimia berenergi tinggi. Sedang enzim yang mengkatalisnya adalah
glukokinase.

Selanjutnya,

dengan

fosfoglukomutase,

mengalami reaksi isomerasi menjadi glukosa 1-fosfat.

glukosa

6-fosfat

Gambar Pembentukan Uridin Di Phosphat Glucosa

Glukosa 1-fosfat bereaksi dengan uridin tri fosfat (UTP) dikatalis oleh
glukosa 1-fosfat uridil transferase menghasilkan uridin difosfat glukosa (UDPglukosa)dan pirofosfat (PPi). Mekanisme reaksi glikogenesis juga merupakan
jalur metabolisme umum untuk biosintesis disakarida dan polisakarida. Dalam
berbagai tumbuhan seperti tanaman tebu, disakarida sukrosa dihasilkan dari
glukosa dan fruktosa melalui mekanisme biosintesis tersebut. Dalam hal ini
UDP-glukosa abereaksi dengan fruktosa 6-fosfat, dikatalis oleh sukrosa fosfat
sintase, membentuk sukrosa 6-fosfat yang kemudian dengan enzim sukrosa
fosfatase dihidrolisis menjadi sukrosa.
3. Glikogenolisis
Tahap pertama penguraian glikogen adalah pembentukan glukosa 1fosfat. Berbeda dengan reaksi pembentukan glikogen, reaksi ini tidak

melibatkan UDP-glukosa, dan enzimnya

adalah glikogen fosforilase.

Selanjutnya glukosa 1-fosfat diubah menjadi glukosa 6-fosfat oleh enzim


yang

sama

seperti

pada

reaksi

kebalikannya

(glikogenesis)

yaitu

fosfoglukomutase.

Tahap reaksi berikutnya adalah pembentukan glukosa dari glukosa 6fosfat. Berbeda dengan reaksi kebalikannya dengan glukokinase, dalam
reaksi ini enzim lain, glukosa 6-fosfatase, melepaskan gugus fosfat sehigga
terbentuk glukosa. Reaksi ini tidak menghasilkan ATP dari ADP dan fosfat.
Glukosa yang terbentuk inilah nantinya akan digunakan oleh sel untuk
respirasi sehingga menghasilkan energi, yang energi itu terekam/tersimpan
dalam

bentuk ATP. Istilah

yang

berhubungan

penguraian glukosa Dibagi menjadi dua :

dengan

metabolisme

a. Fermentasi (Respirasi Anaerob)


Fermentasi atau peragian adalah proses penguraian senyawa
kimia

glukosa

tanpa

oksigen

melalui

proses

Glikolisis

yang

menghasilkan asam Piruvat , namun tidak berlanjut dengan siklus krebs


dan transport Elektron karena suasana reaksi tanpa oksigen. Asam
Piruvat kemudian akan diproses tanpa oksigen menjadi Asam piruvat
(Fermentasi Asam Piruvat) atau Asam Piruvat menjadi Asetal dehide
kemudian Alkohol dalam Fermentasi Alkohol. Fermentasi menghasilkan
gas CO2.
b. Respirasi Aerob
Respirasi aerob adalah proses reaksi kimia yang terjadi apabila sel
menyerap O2, menghasilkan CO2 dan H2O. Respirasi dalam arti yang
lebih

khusus adalah

prosesproses penguraian

glukosa

dengan

menggunakan O2, menghasilkan CO2, H2O, dan energi (dalam bentuk


energi kimia, ATP).
4. Glukoneogenesis
Glukoneogenesis adalah suatu pembentukan glukosa dari senyawa
yang bukan karbohidrat Glukoneogenesis penting sekali untuk menyediakan
glukosa, apabila didalam diet tidak mengandung cukup karbohidrat. Syaraf,
medulla dari ginjal, testes, jaringan embrio dan eritrosit memerlukan glukosa
sebagai sumber utama penghasil energi. Glukosa diperlukan oleh jaringan
adiposa untuk menjaga senyawa antara siklus asam sitrat. Didalam

mammae, glukosa diperlukan untuk membuat laktosa. Didalam otot, glukosa


merupakan satu-satunya bahan untuk membentuk energi dalam keadaan
anaerobik.
Untuk membersihkan darah dari asam laktat yang selalu dibuat oleh sel
darah merah dan otot, dan juga gliserol yang dilepas jaringan lemak,
diperlukan suatu proses atau jalur yang bisa memanfaatkannya. Pada hewan
memamah

biak,

asam

glukoneogenesis. Jalur

propionat

yang

dipakai

merupakan
dalam

bahan

utama

glukoneogenesis

untuk
adalah

modifikasi dan adaptasi dari jalur Embden-Meyerhof dan siklus asam sitrat.

II. 1. 6. Fungsi karbohidrat


Fungsi utama karbohidrat adalah sebagai sumber biokalori dalam bahan
makanan, disamping itu juga sebagai bahan pengental atau GMC pada
teknologi makanan sebagai bahan penstabil, bahan pemanis (sukrosa,
glukosa, fruktosa) dan bahan bakar, misalnya pada glukosa dan pati dan
sebagai penyusun struktur sel, misalnya selulosa dan khitin. (Sudarmadji,
1996). (5:76)
Karbohidrat

mempunyai

peranan

penting

dalam

menentukan

karakteristik bahan makanan seperti rasa, warna dan tekstur. Sedangkan


fungsi karbohidrat di dalam tubuh adalah: (5:79)
1. Fungsi

utamanya

sebagai

sumber

energi

(1

gram

karbohidrat

menghasilkan 4 kalori) bagi kebutuhan sel-sel jaringan tubuh. Sebagian

dari karbohidrat diubah langsung menjadi energi untuk aktifitas tubuh, dan
sebagian lagi disimpan dalam bentuk glikogen di hati dan otot. Ada
beberapa jaringan tubuh seperti sistem syaraf dan eritrosit hanya dapat
menggunakan energi yang berasal dari karbohidrat saja.
2. Melindungi protein agar tidak terbakar sebagai penghasil energi.
3. Kebutuhan tubuh akan energi merupakan prioritas pertama, bila
karbohidrat yang dikonsumsi tidak mencukupi untuk kebutuhan energi
tubuh dan jika tidak cukup terdapat lemak di dalam makanan atau
cadangan lemak yang disimpan di dalam tubuh, maka protein akan
menggantikan fungsi karbohidrat sebagai penghasil energi. Dengan
demikian protein akan meninggalkan fungsi utamanya sebagai zat
pembangun. Apabila keadaan ini berlangsung terus-menerus, maka
keadaan kekurangan energi dan protein (KEP) tidak dapat dihindari lagi.
4. Membantu metabolisme lemak dan protein, dengan demikian dapat
mencegah terjadinya ketosis dan pemecahan protein yang berlebihan.
5. Di dalam hepar berfungsi untuk detoksifikasi zat-zat toksik tertentu.
6. Beberapa jenis karbohidrat mempunyai fungsi khusus di dalam tubuh.
Laktosa misalnya berfungsi membantu penyerapan kalsium. Ribosa
merupakan komponen yang penting dalam asam nukleat.
7. Selain itu beberapa golongan karbohidrat yang tidak dapat dicerna,
mengandung serat (dietary fiber) berguna untuk pencernaan, seperti
selulosa, pektin dan lignin.

Kekurangan karbohidrat akan menyebabkan badan lemah, kurus,


semangat kerja atau belajar menurun, dan daya tahan terhadap penyakit
berkurang. Beberapa penyakit yang berhubungan dengan metabolisme
karbohidrat adalah diabetes melitus, galaktosemia, glycogen storage disease
dan milk intolerance. (6:32)

II. 1. 8. Penyakit-penyakit yang berkaitan dengan Karbohidrat


1. Diabetes Mellitus (2:10)
Pada defesiensi insulin, glukosa tidak dapat masuk ke dalarn sel-sel,
sehingga kadar gula darah meninggi, namum timbunan glukosa tersebut
tidak dapat dimanfaatkan untuk rnenghasilkan enersi untuk keperluan sel-sel
yang membutuhkannya. Glukosa yang tertumpuk itu dibuang melalui ginjal ke
dalam urine, sehingga terjadi glukosuria.
Karena glukosa tidak dapat dipergunakan sebagai penghasil enersi, maka
lemak dan protein lebih banyak dipecah untuk menghasilkan enersi yang
dibutuhkan, sehingga terjadi peningkatan glukoneogenesis. Peningkatan
pemecahan asam lemak akan menghasilkan keton bodies, sehingga bila
keton bodies ini meninggi dalam darah (ketosis) akan mengakibatkan
penurunan pH darah, sehingga terjadi asidosis.
2. Karies dentis (2:10)
Hubungan antara konsumsi karbohidrat dengan terjadinya karies dentis
ada kaitannya dengan pembentukan plaque pada permukaan gigi. Plaque

terbentuk dari sisa-sisa makanan yang melekat di sela-sela gigi. Plaque ini
akhirnya akan ditumbuhi bakteri yang dapat mengubah pH rongga mulut
menurun sampai dengan pH 4,5. Pada keadaan demikian maka struktur
email gigi akan terlarut (email tidak larut pada pH 5,41). Konsumsi gula murni
(permen, coklat, karamel) sering, akan menyebabkan keasaman rongga
mulut menjadi permanen, sehingga semakin banyak email yang terlarut.
Kerusakan email yang parah, disebut dengan karies dentis.
Dari berbagai penelelitian sukrosa (gula bit dan gula tebu) mempunyai
efek kariogenik lebih tinggi dibandingkan dengan fruktosa, glukosa dan
maltosa. Sedangkan karbohidrat kompleks seperti amilum dan dekstrin, efek
kariogeniknya tidak ada sama sekali.

II. 2. Uraian Bahan


1. Aquades (7:96)
Nama Resmi
Nama Lain
Rumus Molekul
Berat Molekul
Pemerian

: Aqua Destillata
: Aquades
: H2O
: 18,02
: Cairan Jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak
berasa.
: Pelarut
: Dalam wadah tertutup baik

Kegunaan
Penyimpanan
2. Asam Sulfat (7:58)
Nama Resmi
: Acidum Sulfuricum
Nama Lain
: Asam Sulfat
Rumus Molekul
: H2SO4
Berat Molekul
: 98,07

Pemerian

: Cairan Kental seperti minyak, korosif, tidak


berwarna, jika ditambah dalam air menimbulkan

panas.
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup rapat
3. Asam Klorida (7:53)
Nama Resmi
: Acidum Chloridum
Nama Lain
: Asam Klorida
Rumus Molekul
: HCl
Berat Molekul
: 36,06
Pemerian
: Tidak berwarna, berasap, bau merangsang
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup rapat
4. Natrium Karbonas (8:400)
Nama Resmi
: Natrii Carbonas
Nama Lain
: Natrium Karbonas
Rumus Molekul
: Na2CO3
Berat Molekul
: 306
Pemerian
: Hablur, tidak berwarna/serbuk hablur putih
Kelarutan
: Mudah larut dalam air
5. Tembaga II Sulfat (8:731)
Nama Resmi
: Cuprii Sulfas
Nama Lain
: Tembaga II Sulfat
Rumus Molekul
: CuSO4
Berat Molekul
: 249,68
Pemerian
: Serbuk hablur biru
Kelarutan
: Larut dalam 3 bagian air, dan 3 bagian gliserol dan
sukar larut dalam etanol (95%) P.
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup rapat
6. Asam Asetat Glasial (7:42)
Nama Resmi
: Acidum Acetacum
Nama Lain
: Asama Asetat Glasial
Rumus Molekul
: C2H2O2
Berat Molekul
: 60,05
Pemerian
: Cairan Jernih tidak berwarna, bau tajam, jika
Kelarutan

dicampurkan dengan air rasa asam.


: Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%) P

Penyimpanan

dan dengan gliserol P.


: Dalam wadah tertutup rapat

7. Alkohol (7:65)
Nama Resmi
Nama Lain
Rumus Molekul
Berat Molekul
Pemerian
Penyimpanan
8. Fehling B (8:1127)
Nama Resmi
Kandungan
Pemerian
Kelarutan
Penyimpanan
9. Iod (8:316)
Nama Resmi
Nama Lain
Rumus Molekul
Berat Molekul
Pemerian
Kelarutan

: Aethonolum
: Alkohol
: C2H2O
: 46,0
: Cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap, bau
khas, rasa panas.
: Dalam wadah tertutup rapat
: Fehling B
: Na. tetrat 176 g, NaOH 77 g, Aquades 500 ml.
: Cairan tidak berwarna, tidak berbau
: Mudah larut air
: Dalam wadah tertutup rapat
: Iodum
: Iod
:I
: 126,91
: Keping, hablur, hitam kelabu, warna biru.
: Larut dalam 3/20 bagian air, dalam 13 bagian etanol
(95%) P dan dalam lebih kurang 80 bagian gliserol P
dan dalam lebih kurang 4 bagian karbon disulfida P,

larut dalam kloroform P dan karbon tetrahedroksida P


Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup rapat
10. Natrium Hidroksida (7:412)
Nama Resmi
: Natrii Hidroksida
Nama Lain
: Natrium Hidroksidum
Rumus Molekul
: NaOH
Berat Molekul
: 40,06
Pemerian
: Bentuk batang, masa hablur, rapuh, mudah meleleh,
basah
Kelarutan
: Sangat mudah larut dalam air dan etanol
Kegunaan
: Reagen uji hidrolisis amilum
11. Tembaga II Asetat (8:730)
Nama Resmi
: Cuprii Asetat
Nama Lain
: Tembaga II asetat

Rumus Molekul
: Cu (CH3COO)2
Pemerian
: Serbuk hablur, warna hijau biru, bau lemah
Kelarutan
: Larut dalam air, larut jenuh
Kegunaan
: Reagen uji Barfoed
12. Natrium Sitrat (8:406)
Nama Resmi
: Natrii Citrus
Nama Lain
: Natrium Sitrat
Rumus Molekul
: C6H5Na2O3.2H2O
Berat Molekul
: 294,10
Pemerian
: Hablur tidak berwarna, serbuk hablur putih
Kelarutan
: Mudah larut dalam air, sangat mudah larut dalam air
Kegunaan
13. Resordinol (8:740)
Nama Resmi
Nama Lain
Rumus Molekul
Berat Molekul
Pemerian
Kelarutan
Penyimpanan
Kegunaan
14. -Naftol (8:708)
Nama Resmi
Nama Lain
Sinonim
Rumus Molekul
Pemerian
Kelarutan
Kegunaan
15. Oscinol (8: 719)
Nama Resmi
Nama Lain
Rumus Molekul
Berat Molekul
Pemerian

mendidih, praktis tidak larut dalam etanol.


: Reagen uji Benedict
: Resorandum
: Resordinol
: C6H6O2
: 110,11
: Serbuk, hablur bentuk jarum, putih
: Mudah larut dalam etanol, gliserol P, eter P, sukar
larut dalam air
: Dalam wadah tertutup baik
: Reagen uji Seliwanorf
: 1-Naftol
: -Naftol
: -Naftol
: C10H7OH
: Hablur, tidak berwarna/putih, serbuk hablur putih bau
khas
: Larut dalam 5 bagian etanol (95%) P
: Reagen uji Molisch
: Oscinol
: Orcin
: C7H8O2
: 124,13
: Hablur, rasa manis tidak enak, teroksidasi oleh udara
menjadi kemerahan

Kelarutan

: Mudah larut dalam air, dalam etanol (95%) P dan


dalam eter P, sukar larut dalam kloroform, P, dalam

Kegunaan
16. Perak Nitrat (7:79)
Nama Resmi
Nama Lain
Rumus Molekul
Berat Molekul
Pemerian
Kelarutan
Penyimpanan
17. Amonia (7:86)
Nama Resmi
Nama Lain
Rumus Molekul
Berat Molekul
Pemerian
Kelarutan
Penyimpanan
Kegunaan

karbon disulfida P dan dalam benzen P.


: Sebagai bahan pereaksi uji Bial
: Argenti Nitras
: Perak Nitrat
: AgNO3
: 169,87
: Hablur transparan atau serbuk hablur berwarna putih,
tidak berbau, menjadi gelap jika kena cahaya.
: Sangat mudah larut dalam air, larut dalam etanol
(95%) P.
: Dalam wadah tertutup baik terlindung dari cahaya.
: Ammonia
: Amonia
: NH4OH
: 35,05
: Cairan jernih tidak berwarna, bau khas, menusuk
kuat.
: Mudah larut dalam air.
: Dalam wadah tertutup rapat ditempat sejuk.
: Pereaksi

BAB III
METODE KERJA
III.1 Alat dan Bahan
III.1.1 Alat
Alat yang digunakan di antaranya yaitu gelas beaker, gelas ukur, pipet
tetes, tabung reaksi, dan penangas air.
III.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan -naftol, larutan H 2SO4, larutan HCl Pekat,
larutan Iod, pereaksi bial, pereaksi fehling A, pereaksi fehling B, pereaksi
Seliwanorf, pereaksi tollens, reagen barfoed, reagen benedict, dan sampel
(Sukrosa, Laktosa, Fruktosa, Terigu, Pisang, Air kelapa, Tropicana Slim,
Tepung beras, Urin, dan Urin Patologis).

III.2. Prosedur Kerja


1. Uji Molisch
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Dimasukkan 2 ml sampel ke dalam tabung reaksi
c. Ditambahkan 3 tetes -naftol dan 2 ml H2SO4
d. Diamati perubahan yang terjadi (hasil positif lapisan ungu)
2. Uji Tollens
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Dimasukkan 2 ml sampel ke dalam tabung reaksi
c. Ditambahkan pereaksi tollens
d. Diamati perubahan yang terjadi (hasil positif terbentuk cermin perak)
3. Uji benedict
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Dimasukkan 2 ml sampel ke dalam tabung reaksi

c. Ditambahkan 1 ml reagen benedict, kemudian dipanaskan 2 menit.


d. Didinginkan dan diamati perubahan yang terjadi (hasil positif endapan
merah bata)
4. Uji seliwanoff
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Dimasukkan 2 ml sampel ke dalam tabung reaksi
c. Ditambahkan 3 tetes pereaksi seliwanoff, kemudian dipanaskan.
d. Amati perubahan yang terjadi (hasil positif warna merah cerry)
5. Uji fehling
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Dimasukkan 2 ml sampel ke dalam tabung reaksi
c. Ditambahkan pereaksi fehling A
d. Ditambahkan pereaksi fehling B, kemudian panaskan.
e. Amati perubahan yang terjadi (hasil positif endapan merah bata)
6. Uji iod
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Dimasukkan 2 ml sampel ke dalam tabung reaksi
c. Ditambahkan 1 tetes larutan iod dan dipanaskan.
d. Amati perubahan yang terjadi (hasil positif warna biru hilang)
7. Uji bial
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Dimasukkan 2 ml sampel ke dalam tabung reaksi
c. Ditambahkan 4 tetes pereaksi bial
d. Ditambahkan 1 ml HCL pekat, kemudian di panaskan.
e. Amati perubahan yang terjadi (hasil positif terbentuk warna biru)
8. Uji barfoed
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Dimasukkan 2 ml sampel ke dalam tabung reaksi
c. Ditambahkan reagen barfoed, kemudian panaskan
d. Amati perubahan yang terjadi (hasil positif terbentuk endapan merah
bata)
9. Uji hidrolisis amilum
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Dimasukkan 3 ml sampel (amilum 3 %) ke dalam tabung reaksi
c. Ditambahkan 1 ml HCL pekat, kemudian dipanaskan
d. Ditambahkan 10 tetes NaOH 10 %
e. Dipisahkan larutan tadi kedalam 2 tabung reaksi masing masing 2 ml
f. Di tambahkan pereaksi Fehling A dan Fehling B pada tabung pertama.
g. Ditambahkan pereaksi benedict pada tabung ke dua
h. Dipanaskan kedua tabung.

i. Amati perubahan yang terjadi (hasil positif terbentuk endapan merah


bata).

BAB IV
HASIL PENGAMATAN

IV. 1 Tabel Hasil Pengamatan


UJI KARBOHIDRAT
KLP.

UJI

UJI

UJI

UJI

UJI

UJI

UJI

UJI

UJI

MO-

IODI-

BAR-

BENE-

BIAL

SELLIWA-

FEH-

TOL-

AMI-

LISCH

UM

FOED

DICT

NORF

LING

LENS

LUM

(*)

(*)

Laktosa

(*)

Pisang

(*)

Fruktosa

(*)

Air Kelapa

(*)

Tropicana

Urin

(*)

Urin DM

(*)

(*)

(*)

(*)

(*)

(*)

(*)

(*)

Urin Normal

(*)

(*)

(*)

(*)

(*)

(*)

(*)

(*)

SAMPEL

Sukrosa
1

Tepung
Terigu

Tepung
5

Beras

KET:
+ : Hasil Positif
Pada Uji :

1.
2.
3.
4.

Uji Molisch
Uji Seliwanoff
Uji Barfoed
Uji Iodin

: warna ungu yang terbentuk berupa cincin.


: terbentuk senyawa kompleks berwarna merah.
: terbentuk endapan merah.
: Amilosa dengan iodin akan berwarna biru, amilopektin

dengan iodin akan berwarna merah violet, glikogen maupun dekstrin


dengan iodin akan berwarna merah coklat.
5. Uji Fehling
: terbentuk endapan yang berwarna hijau, kuning-orange
atau merah (bergantung dari macam gula reduksinya).
6. Uji Benedict
: terbentuk endapan merah bata Cu2O.
7. Uji Hidrolisis Amilum : terbentuk ikatan kompleks berwarna biru sampai
tidak berwarna.
8. Uji Tollens

a. terjadi perubahan warna larutan menjadi coklat keruh dan tebentuk


endapan berwarna hitam, dipanaskan berwarna abu-abu keruh dan
terbentuknya endapan cermin perak pada dinding tabung reaksi
dan endapan berwarna kehitaman, didinginkan berwarna bening
kehijauan dan endapannya berwarna hitam merupakan senyawa
aldehid.
b. terjadi perubahan warna menjadi coklat dan terbentuk endapan
abu abu, dipanaskan warna berubah warna dan terdapatnya
endapan ungu merupakan senyawa keton.
9. Uji Bial

: terbentuk senyawa kompleks berwarna biru.

: Hasil Negatif

(*) : Tidak Dilakukan Uji

IV. 2. Gambar Hasil Pengamatan


Kelompok 1
LABORATORIUM KIMIA FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Molisch
Sampel : (a) Sukrosa
(b) Tepung Terigu

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji

: Molisch

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Bial
Sampel : (a) Sukrosa
(b) Tepung Terigu

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji

: Barfoed

Sampel : (a) Sukrosa


(b) Tepung Terigu

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Benedict
Sampel : (a) Sukrosa
(b) Tepung Terigu

Sampel : (a) Sukrosa


(b) Tepung Terigu

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Iod
Sampel : (a) Tepung Terigu
(b) Sukrosa

Kelompok 2
LABORATORIUM KIMIA FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Benedict
Sampel : (a) laktosa
(b) Pisang

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Tollens
Sampel : (a) Laktosa
(b) Pisang

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Fehling
Sampel : (a) Laktosa
(b) Pisang

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Seliwanorf
Sampel : (a) Laktosa
(b) Pisang

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Bial
Sampel : Pisang

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Tollens
Sampel : (a) Laktosa
(b) Urin

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Fehling
Sampel : (a) Laktosa
(b) Pisang

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Barfoed
Sampel : Laktosa

Uji
: Molisch
Sampel : (a) Laktosa
(b) Pisang

KELOMPOK 3
LABORATORIUM KIMIA FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Tollens
Sampel : (a) Fruktosa (+)
(b) Air kelapa (-)

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Iod
Sampel : (a) Fruktosa (-)
(b) Air kelapa (-)

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Barfoed
Sampel : (a) Fruktosa (+)
(b) Air kelapa (-)

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Selliwanorf
Sampel : (a) Fruktosa (+)
(b) Air kelapa (-)

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI

Uji
: Bial
Sampel : (a) Fruktosa (-)
(b) Air kelapa (-)

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Molisch
Sampel : (a) Fruktosa (-)
(b) Air kelapa (-)

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji

: Benedict

Sampel : (a) Fruktosa (+)


(b) Air kelapa (-)

UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji

: Fehling

Sampel : (a) Fruktosa (-)


(b) Air kelapa (-)

KELOMPOK IV
LABORATORIUM KIMIA FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Barfoed
Sampel : (a) Tropicana Slim
(b) Urin

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Bial
Sampel : (a) Urin
(b) Tropicana Slim

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Molisch
Sampel : (a) Urin
(b) Tropicana Slim

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Tollens
Sampel : (a) Tropicana Slim
(b) Urin

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Iod
Sampel : (a) Urin
(b) Tropicana Slim

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Selliwanorf
Sampel : (a) Tropicana Slim
(b) Urin

Uji
: Fehling
Sampel : Urin

KELOMPOK V
LABORATORIUM KIMIA FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Tollens
Sampel : Tepung Beras (-)

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Iod
Sampel : Tepung Beras (+)

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Barfoed
Sampel : Tepung Beras (-)

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Selliwanorf
Sampel : Tepung Beras (-)

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI

Uji
: Bial
Sampel : Tepung Beras (-)

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Molisch
Sampel : Tepung Beras (+)

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Benedict
Sampel :
(a) Tepung Beras + Fehling A + B (-)
(b) Tepung Beras + Benedict (+)

UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Fehling
Sampel : Tepung Beras (+)

LABORATORIUM KIMIA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Uji
: Benedict
Sampel : (a) Urin (-)
(b) Urin DM (+)
(c) Tepung Beras (+)

IV. 3. Reaksi
1. Uji Molisch

HO
O

H3O+

HO

-3H2O

HO

HO
O

OH
H

OH

D-glukosa

5-(hidroksimetil) furfural

H 3O
O

HO

-H2O

OH

OH

OH
+

[O] H3O+

HO
O

HO
O

-H+, -2e-

OH

OH

5-(hidroksimetil) furfural

alfa aftol

2. Uji Seliwanorf

senyawa berwarna ungu

3. Uji Barfoed
:
O

Cu2+ asetat
R C H

R C OH

Cu2O(s)

Kalor

n-glukosa
monosakarida
4. Uji Iodin

endapan merah bata

Reaksi amilum dengan Iodium sebelum pemanasan:

CH3COOH

CH2OH
O
H
OH H

H
O

OH
H

CH2OH
O
H
OH H

OH

H
OH

OH

I2

CH2OH
O
H
OH H

I
H

CH2OH
O
H
OH H

OH

OH

H
OH

OH

Reaksi amilum setelah pemanasan:


H

CH2OH
O
H
OH H

H
O

OH
H

CH2OH
O
H
OH H

OH

H
OH

OH

CH2OH
O
H
OH H

Pemanasan

OH

CH2OH
O
H
OH H

O
H

OH

H
OH

OH

5. Uji Fehling

O
C

OH

HO

OH

OH

2 CuO
pereaksi
fehling

glukosa

OH

HO

OH

OH

2Cu2O
merah
bata

asam glutamat

6. Uji Benedict

Gula Pereduksi

CH2OH

CH2OH

R C H

OH

Cu2+ +

2OH-

R C OH + Cu2O
Endapan Merah Bata

7. Uji Hidrolisis Amilum :


Reaksi amilum dengan asam dan basa

NaOH

HCl

Reaksi Fehling A dan Fehling B

Na

a. Reaki Glukosa dengan Fehling A dan Fehling B

Na

b. Reaksi glukosa dengan benedict


OOH

Na

8. Uji Tollens

Glukosa

Na

+ Cu2+
:

reagen Tollens

9. Uji Bial

+ Cu2O

asam glutamat

cermin perak

Pentosa

HCl

Furfural

orsinol
(kompleks berwarna biru)

BAB V
PEMBAHASAN
Karbohidrat sangat akrab dengan kehidupan manusia sebagai sumber
energi utama manusia. Karbohidrat adalah polihidroksildehida dan keton
polihidroksil

atau

turunannya.

Selain

itu,

tersusun

oleh

beberapa

monosakarida yang dikenal sebagai polisakarida. Karbohidrat mempunyai


rumus umum Cn(H2O)n. Rumus itu membuat para ahli kimia terdahulu
menganggap karbohidrat adalah hidrat dari karbon. Penting bagi kita untuk
lebih banyak mengetahui tentang karbohidrat beserta reaksi-reaksinya,
karena sangat berperan penting bagi kehidupan manusia dan mahluk hidup
lainnya. Pada praktikum ini membahas mengenai uji kualitatif karbohidrat
yang dapat dijelaskan sebagai berikut ini.
Pada uji molisch, asam sulfat pekat menghidrolisis ikatan glikosidik
menghasilkan monosakarida yang selanjutnya di dehidrasi menjadi furfural
dan turunannya.
Larutan yang bereaksi positif akan memberikan cincin yang berwarna
ungu ketika direaksikan dengan -naftol dan asam sulfat pekat. Konsentrasi
asam sulfat pekat bertindak sebagai agen dehidrasi yang bertindak pada gula
membentuk furfural dan turunannya yang kemudian dikombinasikan dengan
-naftol untuk membentuk produk berwarna. Apabila ditambahkan asam
sulfat pekat akan terbentuk dua lapisan zat cair. Pada batas antara kedua
lapisan itu akan terjadi warna ungu karena terjadi reaksi kondensasi antara
furfural dengan -naftol.

Berdasarkan percobaan, hasil uji menunjukkan sampel sukrosa, tepung


terigu, gula Tropicana Slim, dan tepung beras membentuk cincin yang
berwarna ungu. Namun pada sampel laktosa, pisang, fruktosa, air kelapa,
dan urin setelah ditetesi -naftol terjadi perubahan pada sampel uji menjadi
lebih kuning, namun setelah ditambahkan H 2SO4 pekat, terbentuk warna
hitam pada larutan, menandahkan bahwa sampel tidak mengandung
karbohidrat, namun berdasarkan pustaka, laktosa merupakan karbohidrat
yang termasuk golongan disakarida dan fruktosa merupakan karbohidrat
yang termasuk golongan monosakarida dan pisang serta air kelapa memiliki
senyawa karbohidrat.
Pada uji barfoed bertujuan untuk membedakan monosakarida dan
disakarida dengan

mengontrol kondisi pH dan waktu pemanasan. Uji ini

dilakukan pada suasana asam untuk membedakan monosakarida dan


disakarida dapat dilihat dengan pembentukan ion kupri. Larutan Barfoed
hanya dapat direduksi oleh monosakarida. Pereduksi ini disebabkan sakarida
mempunyai gugus aldehid atau keton bebas, yang mempunyai sifat
mereduksi. Sifat ini dapat diketahui dengan menambahkan ion kupri dalam
suasana alkalis ke dalam larutan barfoed yang nantinya terbentuk endapan
Cu2O yang berwarna merah bata. Pada disakarida sulit terbentuk ion kupri
pada suasana asam dengan reagen barfoed karena disakarida merupakan
pereduksi lemah, sedangakan monosakarida merupakan pereduksi kuat dan
mampu membentuk ion kupri dengan reagen barfoed dalam suasana asam.

Pada karbohidrat disakarida diperlukan pemanasan yang lebih lama untuk


memutuskan ikatan glikosidik sehingga sehingga dapat mereduksi dan
terbentuk endapan.
Berdasarkan

percobaan,

hasil

uji menunjukkan

sampel

fruktosa,

laktosa, dan pisang terbentuk endapan merah. Namun pada sampel sukrosa,
tepung terigu, air kelapa, gula Tropicana Slim, urin, dan tepung beras tidak
terbentuk endapan merah pada larutan, menandahkan bahwa sampel tidak
mengandung karbohidrat, namun berdasarkan pustaka, sukrosa, merupakan
karbohidrat yang termasuk golongan disakarida serta tepung terigu dan
tepung

beras termasuk golongan pati, air kelapa, gula Tropicana Slim

memiliki senyawa karbohidrat.


Uji iodium ini digunakan untuk menunjukkan adanya polisakarida atau
tidak. Jika amilum dengan iodium akan membentuk kompleks biru, jika
amilopeptin akan memberikan warna merah ungu dan dengan glikogen akan
membentuk warna merah coklat. Reaksi antara polisakarida dengan iodin
membentuk rantai poliiodida. Polisakarida umumnya membentuk rantai heliks
(melingkar), sehingga dapat berikatan dengan iodin, sedangkan karbohidrat
berantai pendek seperti disakarida dan monosakarida tidak membentuk
struktur heliks sehingga tidak dapat berikatan dengan iodine.
Berdasarkan percobaan, hasil uji menunjukkan sampel tepung terigu
dan tepung beras terjadi perubahan warna menjadi warna biru dan coklat
muda kekuningan. Hal tersebut menunjukkan bahwa sampel tersebut

mengandung polisakarida dalam jumlah yang sedikit. Sedangkan pada


sampel fruktosa, laktosa, pisang, sukrosa, air kelapa, gula Tropicana Slim,
dan urin bukan merupakan karbohidrat golongan polisakarida, sehingga tidak
memiliki rantai heliks tiap glukosanya. Selain itu juga tidak memiliki
kandungan amilosa dan amilopeptin sehingga tidak memberi warna larutan
yang spesifik.
Uji Benedict menggunakan sampel ditambahkan larutan Benedict dan
dipanaskan selama 2 menit. Hasil yang didapat adalah endapan merah pada
dasar tabung reaksi. Munculnya endapan merah karena sakarida dengan
bentuk gugus aldehid (aldosa), dapat berperan sebagai reduktor yang
mereduksi Cu2+ pada reagen benedict menjadi Cu+ pada Cu2O yang
merupakan endapan pada akhir reaksi ini. Adanya natrium karbonat dan
natrium sitrat membuat pereaksi benedict bersifat basa lemah. Larutan
tembaga yang basa bila direduksi oleh karbohidrat yang mempunyai gugus
aldehida atau keton bebas akan membentuk kuprooksida (CuO). Endapan
yang terbentuk dapat berwarna merah bata, hijau kebiruan, hijau dan kuning.
Warna endapan ini bergantung kepada konsentrasi karbohidrat yang diuji.
Berdasarkan

percobaan,

hasil

uji menunjukkan

sampel

fruktosa,

laktosa, pisang, tepung terigu, gula Tropicana Slim, urin DM, dan tepung
beras terbentuk endapan yang berwarna merah bata yang menunjukkan
sakarida pada sampel mampu mereduksi Cu2+ pada reagen benedict,
sedangkan pada sampel sukrosa, air kelapa, dan urin tidak terbentuk

endapan. Namun berdasarkan pustaka sampel sukrosa memiliki gugus


aldehid sehingga seharusnya mampu mereduksi Cu2+ pada reagen benedict.
Uji Fehling bertujuan untuk mengetahui adanya gugus aldehid. Reagent
yang digunakan dalam pengujian ini adalah Fehling A (CuSO 4) dan Fehling B
(NaOH dan Kalium/Na. Tartarat). Pemanasan dalam reaksi ini bertujuan agar
gugus aldehida pada sampel terbongkar ikatannya dan dapat bereaksi
dengan ion OH- membentuk asam karboksilat. Cu2O (endapan merah bata)
yang terbentuk merupakan hasil sampingan dari reaksi pembentukan asam
karboksilat.
Berdasarkan percobaan, hasil uji menunjukkan sampel sukrosa, laktosa,
gula Tropicana Slim, tepung beras, dan pisang terbentuk endapan merah.
Namun pada sampel tepung terigu, air kelapa, air kelapa, fruktosa, dan urin
tidak terbentuk endapan merah pada larutan, menandahkan bahwa sampel
tidak mengandung karbohidrat, namun berdasarkan pustaka, fruktosa
merupakan karbohidrat yang termasuk golongan monosakarida serta tepung
terigu dan air kelapa memiliki senyawa karbohidrat.
Uji Bial bertujuan mengidentifikasi adanya pentosa. Dasar teori dari uji
bial adalah dehidrasi pentosa oleh HCl pekat menghasilkan furfural dan
dengan penambahan orsinol (3,5-dihidroksi toluena) akan berkondensasi
membentuk senyawa kompleks berwarna biru.

Berdasarkan percobaan, hasil uji dari sampel tidak ada sampel yang
menunjukkan hasil positif dengan tidak berubahnya warna larutan menjadi
biru.
Pada uji Seliwanorf bertujuan membuktikan adanya ketosa (fruktosa).
Dasar teorinya adalah dehidrasi fruktosa oleh HCl pekat menghasilkan
hidroksi metilfurfural dan dengan penambahan resorcinol akan mengalami
kondensasi membentuk senyawa kompleks berwarna merah jingga.
Berdasarkan percobaan, sampel yang menunjukkan hasil yang positif
dengan berubahnya warna larutan menjadi berwarna merah jingga adalah
fruktosa.
Pada uji Tollens, aldehid dan keton bereaksi dengan berbagai senyawa,
tetapi pada umumnya aldehid lebih reaktif dibanding keton. Uji Tollen
merupakan salah satu uji yang digunakan untuk membedakan mana yang
termasuk senyawa aldehid dengan keton. Aldehid lebih mudah dioksidasi
dibanding keton. Oksidasi aldehid menghasilkan asam dengan jumlah atom
karbon yang sama. Hampir setiap reagensia yang mengoksidasi alkohol juga
dapat mengoksidasi suatu aldehid.
Pereaksi tollens, pengoksidasi ringan yang digunakan dalam uji ini,
adalah larutan basa dari perak nitrat. Untuk mencegah pengendapan ion
perak sebagi oksida pada suhu tinggi, maka ditambahkan beberapa tetes
larutan amonia. Amonia membentuk kompleks larut air dengan ion perak.
Pereaksi Tollens sering disebut sebagai perak amoniak, merupakan

campuran dari AgNO3 dan amonia berlebihan. Gugus aktif pada pereaksi
tollens adalah Ag2O yang bila tereduksi akan menghasilakan endapan perak.
Endapan perak ini akan menempel pada tabung reaksi yang akan
menjadi cermin perak. Oleh karena itu, Pereaksi Tollens sering juga disebut
pereaksi cermin perak. Aldehid dioksidasi menjadi anion karboksilat, ion Ag +
dalam reagensia Tollens direduksi menjadi logam Ag. Uji positf ditandai
dengan terbentuknya cermin perak pada dinding dalam tabung reaksi. Reaksi
dengan pereaksi Tollens mampu mengubah ikatan C-H pada aldehid menjadi
ikatan C-O. Alkohol sekunder dapat dioksidasi menjadi keton selanjutnya
keton tidak dapat dioksidasi lagi dengan menggunakan pereaksi Tollens. Hal
ini disebabkan karena keton tidak mempunyai atom hidrogen yang menempel
pada atom karbon karbonil. Keton hanya dapat dioksidasi dengan keadaan
reaksi yang lebih keras dibandingkan dengan aldehid. Ikatan antara karbon
karbonil dan salah satu karbonnya putus, memberikan hasil-hasil oksidasi
dengan jumlah atom karbon yang lebih sedikit daripada bahan keton asalnya.
Terkecuali dalam oksidasi keton siklik, karena jumlah atom karbonnya tetap
sama.
Berdasarkan hasil percobaan, diperoleh bahwa sampel laktosa,
fruktosa, pisang, dan gula Tropicana Slim terbentuk cermin perak pada
dinding tabung reaksi, sedangkan pada sampel sukrosa, tepung terigu, air
kelapa, urin, dan tepung beras tidak terbentuk cermin perak.

Pada percobaan hidrolisis amilum, amilum yang direaksikan dengan


HCl menjadi berwarna bening. kemudian jika dihidrolisis dan ditambahkan
dengan iodium menghasilkan warna ungu kehitaman. Hal ini karena ada 2
macam amilum atau pati yang larut dan pati yang tidak larut. Contoh pati
yang larut adalah amilosa dan pati yang tidak larut adalah amilopektin. Jika
amilosa direaksikan dengan iodium maka akan berwarna biru, sedangkan jika
amilopektin direaksikan dengan iodium akan menghasilkan warna ungu
kehitaman. Pada uji hidrolisis pati, hidrolisis sempurna apabila menjadi
senyawa yang lebih sederhana yang terdeteksi pada perubahan warna. Hasil
percobaan yang diperoleh bahwa gula Tropicana Slim direaksikan dengan
HCl menjadi berwarna bening. kemudian jika dihidrolisis dan ditambahkan
dengan iodium menghasilkan warna ungu kehitaman. sedangkan pada
sampel urin direaksikan dengan iodium maka akan berwarna biru.
Adapun

faktor

kesalahan

yang

terjadi

dalam

praktikum

yang

mempengaruhi hasil uji yaitu telah rusaknya larutan yang digunakan,


peralatan uji yang telah terkontaminasi, pengamatan yang kurang teliti,
hingga kesalahan dalam menerapkan metode kerja dalam percobaan.

BAB VI
PENUTUP
VI.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, maka dapat
disimpulkan :
1. Sampel tepung terigu, pisang, tepung beras, gula Tropicana Slim, serta
urin DM mengandung Karbohidrat.
2. Larutan sukrosa dan laktosa merupakan karbohidrat golongan disakarida,
fruktosa merupakan karbohidrat golongan monosakarida, serta tepung
terigu dan tepung beras merupakan karbohidrat golongan polisakarida
(pati).
3. Saampel urin dan air kelapa positif tidak mengandung karbohidrat.

VI. 2. Saran
Diharapkan agar air dalam laboratorium disediakan agar praktikan tidak
perlu membawa air.

DAFTAR PUSTAKA
1. Willbraham, dan Michael S. Matta. 1992. Kimia Organik dan Hayati.
Bandung: ITB.
2. Hutagalung, Halomoan. 2004. Karbohidrat. Sumatera Utara: USU digital
library.
3. Tim Dosen Kimia. 2002. Kimia Dasar 2 Tahun Pertama. Makassar:
Universitas Hasanuddin.
4.
5.
6.
7.
8.

Kusnawidjaja, K..1987. Biokimia Dasar. Bandung: Alumni.


Respati.1980. Pengantar Kimia Organik. Yogyakarta: Rineka Cipta.
Anna, P..1999. Dasar Biokimia. Jakarta: Yayasan Cendrawasih.
Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Depkes RI.
Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Depkes RI.

9. Hart, Harold. 1990. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga.