Anda di halaman 1dari 16

Gangguan Akibat Kekurangan Yodium pada Anak

Kelompok A4
Wilfridus Erik Eke Lamawato

102010309

Olivia Halim Kumala

102010002

Nathania Hosea

102011054

Adinda Aotearoa Afta

102011152

Antonius Jonathan

102011182

Monica Cynthia Dewi

102011233

Stefanus Jonathan

102011376

Jelita Septiwati Sitanggang

102011385

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Terusan Arjuna No. 6 Jakarta 11510

Pendahuluan
1

Gangguan akibat kurang yodium (GAKY) masih merupakan masalah gizi di Indonesia.
Penyebab utama timbulnya masalah GAKY adalah kekurangan yodium. Secara epidemiologi
kebutuhan yodium per orang per hari hanya 1-2 ug per kilogram berat badan. Apabila tidak
terpenuhi secara kontinyu dan berlangsung lama maka akan menimbulkan gondok. Gondok
dikatakan endemik apabila lebih dari 5% penduduk atau anak sekolah berusia 6-12 thn menderita
gondok. Masalah GAKY sering terjadi atau diketemukan di daerah pegunungan di mana
makanan yang dikonsumsi sangat tergantung pada produksi pangan setempat pada kondisi tanah
yang miskin yodium. Selain karena kurang yodium, masalah Gaky juga disebabkan oleh
beberapa factor seperti: faktor geografi, faktor lingkungan: goitrogen, cemaran limbah pabrik
seperti Pb dan Hg, faktor unsur kelumit (trace element) dan faktor Gizi (KEP dan KVA).
Pembahasan
Anamnesis
Menanyakan kepada Ibu pasien (karena pasien adalah anak-anak, allo anamnesis)
1. Keluhan utama pasien: pertumbuhan anak yang terlambat
2. Keluhan tambahan: 3. Riwayat Penyakit sekarang: bagaimana dan apa saja jenis makanan makanan/asupan yang
dikonsumsi oleh anak dari bayi sampai sekarang? apakah nafsu makan anak baik?
Apakah anak sering sakit berulang? Apakah ada masalah dalam mengerti pelajaran jika
anak sudah sekolah?
4. Riwayat Penyakit dahulu: bagaimana riwayat kehamilan dan kelahiran ibu? Apa yang
dikonsumsi ibu saat hamil? Apa ada obat yang dikonsumsi obu saat hamil?
Pemeriksaan Fisik
1. Membuat kesan klinis tentang status gizi
- Gizi lebih (overweight dapat menjadi obesitas)
- Gizi baik (wellnourished)
- Gizi kurang (undernourished)
- Gizi buruk (severe malnutrition)
Kesan klinis dibuat berdasarkan tanda atau gejala klinis.
2. Menentukan status gizi secara ANTROPOMETRIS :
- Berat Badan (BB)/Umur (U) - BB/U
- Tinggi Badan (TB)/U (Umur) LILA (Lingkar Lengan Atas),
Dari pemeriksaan fisik didapat berat badan 17 kg dengan tinggi badan 97 cm, wajah
tampak seperti orangtua, kulit kasar dan perut membucit. Anak tersebut sulit untuk diajak
berkomunikasi oleh dokter. Dari berat badan dan tinggi badan anak, didapatkan IMT = 17/
2

(0.97)2 = 18.083
Pemeriksaan Laboratorium
Dari pemeriksaan urin, didapatkan yodium 20 ug/l.

Darah, air kemih, tinja, kolestrol serum

T3, T4, TSH

Pemeriksaan primer TSH

Pemeriksaan T4 ditambah dengan pemeriksaan TSH dari sample darah yang sama, bila
hasil T4 rendah
Pemeriksaan TSH dan T4 sekaligus pada satu sample darah
Differential diagnosis
1. KEP
Kurang energi protein (KEP) adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan rendahnya
konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi angka
kebutuhan gizi (AKG).
Di Indonesia, klasifikasi dan istilah yang digunakan sesuai dengan hasil Lokakarya
Antropometri Gizi:
1. KEP ringan bila berat badan menurut umur (BB/U) = 80-70% baku median WHO-NCHS
dan/atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) = 90-80% baku median WHO-NCHS
2. KEP sedang bila berat badan menurut umur (BB/U) = 70-60% baku median WHO-NCHS
dan/atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) = 80-70% baku median WHO-NCHS
3. KEP ringan bila berat badan menurut umur (BB/U) = < 60% baku median WHO-NCHS
dan/atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) < 70% baku median WHO-NCHS
Manifestasi Klinis
KEP berat secara klinis terdapat 3 tipe yaitu kwashiorkor, marasmus, dan marasmikkwashiorkor. KEP ringan atau sedang disertai edema yang bukan karena penyakit lain disebut
KEP berat tipe kwashiorkor.
a. KEP berat tipe kwashiorkor

Edema, umumnya seluruh tubuh dan terutama pada kaki (dorsum pedis)
Wajah membulat dan sembab
Pandangan mata sayu
Rambut tipis, kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah dicabut tanpa rasa sakit,
rontok
3

Perubahan status mental: cengeng, rewel, kadang apatis


Pembesaran hati
Otot mengecil (hipotrofi), lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk
Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi

coklat kehitaman dan terkupas (crazy pavement dermatosis)


Sering disertai: infeksi, anemia, diare.

b. KEP berat tipe marasmus

Tampak sangat kurus, hingga tulang terbungkus kulit


Wajah seperti orang tua
Cengeng, rewel
Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada
Perut cekung
Sering disertai: penyakit kronik, diare kronik.

c. KEP berat tipe marasmik-kwashiorkor


Gambaran klinik merupakan campuran dari beberapa gejala klinik kwashiorkor dan marasmus, dengan BB/U < 60% baku median WHO-NCHS disertai edema yang tidak mencolok.
Pada setiap penderita KEP berat, selalu periksa adanya gejala defisiensi nutrien mikro yang
sering menyertai seperti xerophthalmia (defisiensi vitamin A), anemia (defisiensi Fe, Cu, vitamin
B12, asam folat), stomatitis (vitamin B, C), dll.1

Epidemiologi
Garam beryodium adalah garam yang telah diIodisasi sesuai dengan SNI dan
mengandung yodium sebanyak 30ppm untuk konsumsi manusia atau ternak dan industri
pangan. Di Indonesia, upaya penanggulangan GAKY difokuskan pada peningkatan konsumsi
garam beryodium. Target yang harus dicapai dalam program penanggulangan GAKY ini yaitu:
1. 90% rumah tangga yang mengkonsumsi garam beryodium cukup (>30 ppm) secara
nasional, propinsi dan kabupaten/kota.
2. Median EYU secara rata-rata nasional propinsi dan kabupaten/kota adalah 100-299
g/L.
Berdasarkan hasil Riskesdas 2007, menunjukkan bahwa cakupan konsumsi garam
mengandung yodium cukup (30ppm) masih jauh dari target USI (Universal salt Iodization) 90%.
4

Yaitu baru tercapai 62,3% rumah tangga di Indonesia yang mengonsumsi garam beriodium.
Bahkan, dari sampel di 30 Kabupaten/Kota, hanya 24,5% rumah tangga yang menggunakan
garam beriodium sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI), yakni 30-80 ppm KIO3. Demikian
Kabalitbangkes menyebutkan, terdapat enam provinsi yang sudah mencapai target konsumsi
garam beryodium, diantaranya Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung,
Gorontalo, dan Papua Barat.1
Angka kejadian GAKY lebih sering ditemukan di daerah pegunungan, hal ini
dikarenakan komponen tanahnya yang sedikit mengandung yodium. Kandungan yodium yang
rendah di pegunungan disebabkan terjadinya pengikisan yodium oleh salju atau air hujan,
sehingga hal tersebut menyebabkan pula kandungan yodium dalam makanan juga sangat rendah.
Air tanah, air dari sumber mata air, atau air dari sungai di daerah pegunungan tidak mengandung
yodium yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh manusia, demikian pula halnya dengan
ternak serta tanaman yang tumbuh di pegunungan hampir tidak mengandung yodium sama
sekali. Karena sebab itulah, maka angka kejadian GAKY lebih sering ditemukan di daerah
pegunungan dibandingkan dengan daerah pantai.
Namun saat ini, terjadi perubahan pola daerah endemik GAKY. Berdasarkan hasil studi
epidemiologi GAKY menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran/pola daerah endemik yang
mulai terlihat di Indonesia, diantaranya sebagai berikut:
1.

Gaky Di Daerah Pesisir Pantai

Penelitian dengan mengambil latar belakang prevalensi gondok yang tinggi dipesisir Kab.
Halmahera. Berdasarkan hasil Survei Nasional Gondiok tahun 1980/1982 dan hasil survei tahun
1995/1996, gugus pulau Halmahera Utara-Barat telah memiliki GTR (Total Goiter Rate) 54,7%.
TGR didapat melalui pemeriksaan pe rabaan pada kelenjar tiroid di daerah leher dan ditemukan
adanya pembesaran. Dari Gambaran TGR >30 % berarti termasuk wilayah endemik berat. Tahun
2002/2003 dilakukan survei pada Kecamatan Tobelo (Desa Pitu) dan Kecamatan Tobelo Selatan
(Desa Kupa-kupa dan Tomahalu) dengan hasil TGR masih >30% atau masih masuk dalam
kategori endemik berat (Dachlan dan Thaha 2001). Besarnya nilai TGR atau tingkat endemisistas
GAKI di kawasan pesisir Kabupaten Halmahera Utara merupakan sesuatu yang sangat ironis jika
dilihat dari potensi sumberdaya alamnya. Sumberdaya pesisir merupakan sumberdaya yang
memiliki kandungan gizi cukup tinggi terutama kandungan iodin, misalnya ikan dan rumput laut.
Konsumsi harian sebagian besar masyarakat juga tidak terlepas dari produk perikanan baik
5

produk segar maupun olahan. Berdasarkan kondisi tersebut, tingginya nilai TGR atau
endemisitas GAKI yang terjadi dimungkinkan karena faktor lain, misalnya rendahnya kadar
iodium pada air minum, konsumsi umbi-umbian yang mengandung goitrogenik, serta
penggunaan garam yang tidak memenuhi standar kandungan iodiumnya.1,2
2.

GAKY Di Daerah Dataran Rendah

Beberapa penelitian telah menemukan kejadian gondok di daerah dataran rendah yang
cukup yodium, di mana kandungan yodium dari air, tanah dan produk-produk pertanian di daerah
tersebut mestinya cukup memadai, Berkaitan dengan hal tersebut, muncul beberapa teori ; antara
lain kemungkinan adanya paparan oleh kontaminan di lingkungan yang dapat menyebabkan
terjadinya gangguan fungsi tiroid, seperti logam berat (Plumbum=Pb, Hydrargyrum=Hg dan
Cadmium=Cd), polychlorinated biphenyl (PCB), dan pestisida. Hasil penelitian Samsudin
(2007), mengenai risiko pajanan Pb di Yogyakarta, diketahui proporsi Wanita Usia Subur(WUS)
menderita hipotiroid sebesar 19,2%. Proporsi WUS dengan kadar Pb tinggi (PbB = 50 gr/L)
adalah 49,5%. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara kadar Pb dalam darah dengan
fungsi tiroid. Kadar Pb tinggi dalam darah merupakan faktor risiko terjadinya hipotiroid pada
WUS risiko terpajan Pb di perkotaan. Tingginya kadar Pb dalam darah ini mengakibatkan
terbentuknya ikatan dengan unsur yodium di dalam tubuh yang akibatnya akan menyebabkan
timbulnya gondok.
3. GAKY Di Daerah Dengan Pola Konsumsi Makanan Yang Banyak Mengandung Zat
Goitrogenik
Goitrogenik adalah zat yang dapat menghambat pengambilan zat iodium oleh kelenjar
gondok, sehingga konsentrasi iodium dalam kelenjar menjadi rendah. Selain itu, zat goitrogenik
dapat menghambat perubahan iodium dari bentuk anorganik ke bentuk organik sehingga
pembentukan hormone tiroksin terhambat (Linder, 1992). Laporan penelitian BP2GAKI (2012),
dalam penelitiannya tentang pola makan pada anak penderita gangguan akibat kekurangan
yodium (gaky) di kabupaten Wonosobo menunjukkan hasil bahwa pola makan anak penderita
GAKY masih banyak mengandung zat-zat goitrogenik.
4.

Peran Selenium Terhadap Penyerapan Iodium

Selenium merupakan senyawa penting pada metabolismeiodin. Penemuan fungsi


selenium dalam metabolisme hormon tiroid memiliki implikasi penting bagi penafsiran efek
defesiensi selenium pada gondok. Suatu kejadian/musibah air bandang yang menimpa,
6

menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan mikromineral dalam tanah, salah satunya adalah


selenium. Hal ini terjadi pada daerah pada bagian timur gunung Muria untuk 10 tahun terakhir.1,2
Etiologi
Penyebab masalah gizi secara umum dapat dikelompokan menjadi dua yaitu penyebab
primer dan penyebab sekunder. Penyebab primer disebabkan oleh ketidak seimbangan antara
asupan dan kebutuhan. Apabila asupan lebih besar dibandingkan dengan kebutuhan maka akan
terjadi dengan defisiensi zat gizi, hal yang sebaliknya terjadi dengan defisiensi gizi. Sedangkan
penyebab sekunder disebabkan karena ketidak mampuan tubuh untuk menggunakan zat gizi
yang ada, antara lain dapat disebalan oleh inborn defect metabolism.
Berdasarkan konsep UNICEF penyebab langsung gaky adalag defisiensi zat gizi yodium.
Hal tersebut sedikit berbeda dengan penyebab langsung defisiensi zat gizi lainnya, misalnya
anemia, kurang energy protein dan kurang vitamin A, yang melibatkan penyakit infeksi sebagai
salah satu penyebab langsung. Dengan demikian dapat diketahui dengan jelas bahwa defisiensi
yodium disebabkan oleh ketidak cukupan asupan yodium.
Ketidakcukupan asupan yodium disebabkan oleh kandungan yodium dalam bahan
makanan yang rendah atau konsumsi garam yodium yang rendah. Masih banyak masyarakat
yang kurang mengetahui manfaat dari garam yang beryodium merupakan salah satu penyebab
rendahnya konsumsi garam beryodium. Berbagai alasan dikemukakan sehubungan hal itu, antara
lain garam beryodium mahal, rasanya pahit, rasanya kurang asin dibandingkan dengan garam
yang tidak beyodiu,. Hal ini mendadar dari penyebab GAKY adalah kandungan yodium dalam
tanah yang rendah dan kondisi tersebut bersiat menetap. Semua tumbuhan yang berasal dari
daerah endemis GAKY akan mengandung yodium yang rendah sehingga sangat diperlukan
adanya garam beryodium atau bahan makanan dari luar daerah yang nonendemis.2
Permasalahan pada GAKY
GAKY atau Gangguan akibat kekurangan yodium suatu spektrum yang cukup luas dan
mengenai semua segmen usia, sejak fetus hingga penduduk dewasa. Sehingga bukan saja
pembesaran kelenjar tiroid atau gondok yang dinamakan GAKY, tetapi gangguan fungsional lain
yang dapat dan sering menyertai yaitu hipotiroidisme, kretin endemik serta gangguan
perkembangan fisik/mental dan rendahnya IQ. Kelainan GAKY itu sendiri didefinisikan sebagai
7

semua kelaianan dan gangguan (reversibel maupun irreversibel), yang dapat dicegah dengan
pemberian unsur yodium secara adekuat. Terdapat 3 bentuk kelainan klinis, yaitu gondok
endemic, kretin endemik, hipotiroidisme.
Gondok Endemik
Semula gondok endemik disama artikan dengan GAKY, namun kini telah dipisahkan.
Gondok hanya sebagian kecil dari spectrum GAKY. Penyebab utama gondok adalah defisiensi
yodium dan penyebab lain seperti goitrogen dan kelebihan yodium dan mikronutrien yang lain.
Dengan member yodium dalam jumlah yang cukup, prevalensi gondok akan berkurang, tetapi
tidak berarti GAKY telah tiada.3
Kretin Endemik
Merupakan akibat defisiensi yodium berat pada masa fetus dan merupakan indikator
klinik penting bagi GAKY yang belum diketahui tepat peneybabnya. Prevalensinya di daerah
defisiensi yodium derajat berat berkisar antara 1-15%. Kretin endemik umumnya lahir di daerah
defisiensi yodium yang sangat berat, dengan Urine Iodine Excretion (UIE) < 25 ug/L8.
Gambaran klinis seseorang dikatakan kretin endemic, jika ia lahir di daerah gondok endemik dan
menunjukkan dua dari tiga gejala ini, yaitu retardasi mental, tuli perseptif (sensorineural) nada
tinggi dan gannguan neuromuscular. Kretin sendiri dibedakan menjadi 3 bentuk yaitu kretin tipe
nervosa, kretin tipe miksedematosa dan kretin tipe campuran.
Kretin Tipe Nervosa
Jenis ini terdapat di China, Indonesia, Thailand an New Guinea, ditandai dengan retardasi
mental yang sangat berat, dengan penyebab kekurangan hormon tiroid intrauterine, yang
menyebabkan, yaitu:

Gangguan pendengaran dan bisu tuli


Sindroma paresis sistem piramidalis khisusnya tungkai bawah, hipertonia, klonus
Sikap berdiri dan cara berjalan yang khas, spastic, ataksik atau bajkan tidak mampu
beridiri.

Kretin Tipe Miksedematosa


Tipe ini banyak dijumpai di Kongo, disebabkan karena atrofi kelenjar gondok oleh sebab
yang belum dapat diungkapkan, ditandai dengan:

Retardasi mental, namun derajatnya lebih ringan


8

Tanda-tanda hipotiroid klinis. Tubuh sangat pendek (cebol), miksedema, kulit kering,

rambut jarang
Gangguan neurologis: spastisitas tungkai bawah, reflex plantaris dan gangguan gaya
berjalan

Kretin Tipe Campuran


Terdapat di Jawa Tengah dan Thailand. Gambaran klinisnya merupakan gabungan dari keduanya.
Patofisiologi
Aktifitas utama kelenjar tiroid adalah untuk berkonsentrasi yodium dari darah untuk
membuat hormon tiroid. Kelenjar tersebut tidak dapat membuat hormon tiroid cukup jika tidak
memiliki cukup yodium. Oleh karena itu, dengan defisiensi yodium individu akan menjadi
hipotiroid. Akibatnya, tingkat hormon tiroid terlalu rendah dan mengirim sinyal ke tiroid. Sinyal
ini disebut thyroid stimulating hormone (TSH). Seperti namanya, hormon ini merangsang tiroid
untuk menghasilkan hormon tiroid dan tumbuh dalam ukuran yang besar Pertumbuhan abnormal
dalam ukuran menghasilkan apa yang disebut sebuah gondok.4
Kelenjar tiroid dikendalikan oleh thyroid stimulating hormone (TSH) yang juga dikenal
sebagai thyrotropin. TSH disekresi dari kelenjar hipofisis, yang pada gilirannya dipengaruhi oleh
hormon thyrotropin releasing hormon (TRH) dari hipotalamus. Thyrotropin bekerja pada
reseptor TSH terletak pada kelenjar tiroid. Serum hormon tiroid levothyroxine dan
triiodothyronine umpan balik ke hipofisis, mengatur produksi TSH. Interferensi dengan sumbu
ini TRH hormon tiroid TSH menyebabkan perubahan fungsi dan struktur kelenjar tiroid.
Stimulasi dari reseptor TSH dari tiroid oleh TSH, TSH reseptor antibodi, atau agonis reseptor
TSH, seperti chorionic gonadotropin, dapat mengakibatkan gondok difus. Ketika sebuah
kelompok kecil sel tiroid, sel inflamasi, atau sel ganas metastasis untuk tiroid terlibat, suatu
nodul tiroid dapat berkembang.
Kekurangan dalam sintesis hormon tiroid atau asupan menyebabkan produksi TSH
meningkat. Peningkatan TSH menyebabkan peningkatan cellularity dan hiperplasia kelenjar
tiroid dalam upaya untuk menormalkan kadar hormon tiroid. Jika proses ini berkelanjutan, maka
akan mengakibatkan gondok. Penyebab kekurangan hormon tiroid termasuk kesalahan bawaan
sintesis hormon tiroid, defisiensi yodium, dan goitrogens.
Gondok dapat juga terjadi hasil dari sejumlah agonis reseptor TSH. Pendorong reseptor
TSH termasuk antibodi reseptor TSH, resistensi terhadap hormon tiroid hipofisis, adenoma
9

kelenjar hipofisis hipotalamus atau, dan tumor memproduksi human chorionic gonadotropin.
Pemasukan iodium yang kurang, gangguan berbagai enzim dalam tubuh, hiposekresi
TSH, glukosil goitrogenik (bahan yang dapat menekan sekresi hormone tiroid), gangguan pada
kelenjar tiroid sendiri serta factor pengikat dalam plasma sangat menentukan adekuat tidaknya
sekresi hormone tiroid. Bila kadar kadar hormone tiroid kurang maka akan terjadi mekanisme
umpan balik terhadap kelenjar tiroid sehingga aktifitas kelenjar meningkat dan terjadi
pembesaran (hipertrofi).3,4
Dampak goiter terhadap tubuh terletak pada pembesaran kelenjar tiroid yang dapat
mempengaruhi kedudukan organ-organ lain di sekitarnya. Di bagian posterior medial kelenjar
tiroid terdapat trakea dan esophagus. Goiter dapat mengarah ke dalam sehingga mendorong
trakea, esophagus dan pita suara sehingga terjadi kesulitan bernapas dan disfagia yang akan
berdampak terhadap gangguan pemenuhan oksigen, nutrisi serta cairan dan elektrolit. Penekanan
pada pita suara akan menyebabkan suara menjadi serak atau parau.
Bila pembesaran keluar, maka akan memberi bentuk leher yang besar dapat simetris atau
tidak, jarang disertai kesulitan bernapas dan disfagia. Tentu dampaknya lebih ke arah estetika
atau kecantikan. Perubahan bentuk leher dapat mempengaruhi rasa aman dan konsep diri klien
Klasifikasi goiter pada GAKY
Survei epidemiologis untuk gondok endemik biasanya didasarkan atas besarnya kelenjar
tiroid, dilakukan dengan metode Palpasi, menurut klasifikasi Perez atau modifikasinya (1960):

Grade 0 : Tidak teraba


Grade 1 : Teraba dan terlihat hanya dengan kepala yang ditengadahkan
o Grade 1a : Tidak teraba atau teraba tidak lebih besar daripada kelenjar
tiroid normal.
o Grade 1b : Jelas teraba dan membesar, tetapi pada umumnya tidak terlihat

meskipun kepala ditengadahkan


Grade 2 : Mudah terlihat, kepala posisi biasa
Grade 3 : Terlihat dari jarak tertentu

Karena perubahan gondok pada awalnya perlu diwaspadai, maka grading system,
khususnya grade 1 dibagi lagi dalam 2 klas, yaitu:. Kelenjar tiroid tersebut ukurannya sama atau
lebih besar dari falangs akhir ibu jari tangan pasien.4

10

Penilaian status gizi anak


Ada beberapa cara melakukan penilaian status gizi pada kelompok masyarakat. Salah
satunya adalah dengan pengukuran tubuh manusia yang dikenal dengan Antropometri. Dalam
pemakaian untuk penilaian status gizi, antropomteri disajikan dalam bentuk indeks yang
dikaitkan dengan variabel lain. Variabel tersebut adalah sebagai berikut:
a. Umur
Umur sangat memegang peranan dalam penentuan status gizi, kesalahan penentuan akan
menyebabkan interpretasi status gizi yang salah. Hasil penimbangan berat badan maupun tinggi
badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat.
Kesalahan yang sering muncul adalah adanya kecenderunagn untuk memilih angka yang mudah
seperti 1 tahun; 1,5 tahun; 2 tahun. Oleh sebab itu penentuan umur anak perlu dihitung dengan
cermat. Ketentuannya adalah 1 tahun adalah 12 bulan, 1 bulan adalah 30 hari. Jadi perhitungan
umur adalah dalam bulan penuh, artinya sisa umur dalam hari tidak diperhitungkan.
b. Berat
Berat badan merupakan salah satu ukuran yang memberikan gambaran massa jaringan,
termasuk cairan tubuh. Berat badan sangat peka terhadap perubahan yang mendadak baik karena
penyakit infeksi maupun konsumsi makanan yang menurun. Berat badan ini dinyatakan dalam
bentuk indeks BB/U (Berat Badan menurut Umur) atau melakukan penilaian dengam melihat
perubahan

berat badan pada saat pengukuran dilakukan, yang dalam penggunaannya

memberikan gambaran keadaan kini. Berat badan paling banyak digunakan karena hanya
memerlukan satu pengukuran, hanya saja tergantung pada ketetapan umur, tetapi kurang dapat
menggambarkan kecenderungan perubahan situasi gizi dari waktu ke waktu.5
c. Tinggi Badan
Tinggi badan memberikan gambaran fungsi pertumbuhan yang dilihat dari keadaan
kurus kering dan kecil pendek. Tinggi badan sangat baik untuk melihat keadaan gizi masa lalu
terutama yang berkaitan dengan keadaan berat badan lahir rendah dan kurang gizi pada masa
balita. Tinggi badan dinyatakan dalam bentuk Indeks TB/U ( tinggi badan menurut umur), atau
juga indeks BB/TB ( Berat Badan menurut Tinggi Badan) jarang dilakukan karena perubahan
tinggi badan yang lambat dan biasanya hanya dilakukan setahun sekali. Keadaan indeks ini
pada umumnya memberikan gambaran keadaan lingkungan yang tidak baik, kemiskinan dan
akibat tidak sehat yang menahun ( Depkes RI, 2004).
11

Berat badan dan tinggi badan

adalah salah satu parameter penting untuk menentukan

status kesehatan manusia, khususnya yang berhubungan dengan status gizi. Penggunaan Indeks
BB/U, TB/U dan BB/TB merupakan indikator status gizi untuk melihat adanya gangguan fungsi
pertumbuhan dan komposisi tubuh.
Penggunaan berat badan dan tinggi badan akan lebih jelas dan sensitive/peka dalam
menunjukkan keadaan gizi kurang bila dibandingkan dengan penggunaan BB/U. Dinyatakan
dalam BB/TB, menurut standar WHO bila prevalensi

kurus/wasting < -2SD diatas 10 %

menunjukan suatu daerah tersebut mempunyai masalah gizi yang sangat serius dan berhubungan
langsung dengan angka kesakitan.
Tabel 1 Penilaian Status Gizi berdasarkan Indeks BB/U,TB/U, BB/TB Standart
Baku Antropometeri WHO-NCHS
N

Indeks

o
1

dipakai
BB/U

yang Batas

Pengelompokan
< -3 SD
- 3 s/d <-2 SD
- 2 s/d +2 SD
> +2 SD
2
TB/U
< -3 SD
- 3 s/d <-2 SD
- 2 s/d +2 SD
> +2 SD
3
BB/TB
< -3 SD
- 3 s/d <-2 SD
- 2 s/d +2 SD
> +2 SD
Sumber : Depkes RI 2004.

Sebutan Status Gizi


Gizi buruk
Gizi kurang
Gizi baik
Gizi lebih
Sangat Pendek
Pendek
Normal
Tinggi
Sangat Kurus
Kurus
Normal
Gemuk

Data baku WHO-NCHS indeks BB/U, TB/U dan BB/TB disajikan dalan dua versi yakni
persentil (persentile) dan skor simpang baku (standar deviation score = z). Menurut
Waterlow,et,al, gizi anak-anak dinegara-negara yang populasinya relative baik (well-nourished),
sebaiknya digunakan presentil, sedangkan dinegara untuk anak-anak yang populasinya relative
kurang (under nourished) lebih baik menggunakan skor simpang baku (SSB) sebagai persen
terhadap median baku rujukan ( Djumadias Abunaim,1990).
Tabel 2. Interpretasi Status Gizi Berdasarkan Tiga Indeks Antropometri (BB/U,TB/U,
12

BB/TB Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS)


No

Indeks yang digunakan


BB/U
TB/U

BB/TB

Interpretasi

Rendah
Rendah
Normal Normal, dulu kurang gizi
Rendah
Tinggi
Rendah Sekarang kurang ++
Rendah
Normal
Rendah Sekarang kurang +
2
Normal
Normal
Normal Normal
Normal
Tinggi
Rendah Sekarang kurang
Normal
Rendah
Tinggi
Sekarang lebih, dulu kurang
3
Tinggi
Tinggi
Normal Tinggi, normal
Tinggi
Rendah
Tinggi
Obese
Tinggi
Normal
Tinggi
Sekarang lebih, belum obese
Keterangan : untuk ketiga indeks ( BB/U,TB/U, BB/TB) :
Rendah : < -2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS
Normal : -2 s/d +2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS
Tinggi

: > + 2 SD Standar Baku Antropometri WHO-NCHS

Sumber : Depkes RI 2004.


Pengukuran Skor Simpang Baku (Z-score) dapat diperoleh dengan mengurangi Nilai
Induvidual Subjek (NIS) dengan Nilai Median Baku Rujukan (NMBR) pada umur yang
bersangkutan, hasilnya dibagi dengan Nilai Simpang Baku Rujukan (NSBR). Atau dengan
menggunakan rumus :
Z-score = (NIS-NMBR) / NSBR

Status gizi berdasarkan rujukan WHO-NCHS dan kesepakatan Cipanas 2000 oleh para
pakar Gizi dikategorikan seperti diperlihatkan pada tabel 1 diatas serta di interpretasikan
berdasarkan gabungan tiga indeks antropometri seperti yang terlihat pada tabel 2.
Untuk memperjelas penggunaan rumur Zskor dapat dicontohkan sebagai berikut
Diketahui BB= 60 kg TB=145 cm
Umur : karena umur dengan indeks BB/U, TB/U dan BB/TB berdasarkan WHO-NCHS hanya
dibatasi < 18 tahun maka disini dicontohkan anak laki-laki usia 15 tahun
Table weight (kg) by age of boys aged 15 year from WHO-NCHS
Age

Standard Deviations
13

Yr mth -3sd
-2sd
-1sd
Median +1sd
+2sd
15 0
31.6
39.9
48.3
56.7
69.2
81.6
Sumber: WHO, Measuring Change an Nutritional Status, Genewa 1985

+3sd
94.1

Table weight (kg) by stature of boys 145 cm in Height from WHO-NCHS


Stature
Standard Deviations
cm
-3sd
-2sd
-1sd
Median +1sd
+2sd
145
0 24.8
28.8
32.8
36.9
43.0
49.2
Sumber: WHO, Measuring Change an Nutritional Status, Genewa 1985

+3sd
55.4

Table stature (cm) by age of boys aged 15 year from WHO-NCHS


Stature
Standard Deviations
Yr mth
-3sd
-2sd
-1sd
Median +1sd
+2sd
15
0 144.8
152.9
160.9
169.0
177.1
185.1
Sumber: WHO, Measuring Change an Nutritional Status, Genewa 1985

+3sd
193.2

Jadi untuk indeks BB/U adalah


= Z Score = ( 60 kg 56,7 ) / 8.3 = + 0,4 SD
= status gizi baik
Untuk IndeksTB/U adalah
= Z Score = ( 145 kg 169 ) / 8.1 = - 3.0 SD
= status gizi pendek
Untuk Indeks BB/TB adalah
= Z Score = ( 60 36.9 ) / 4 = + 5.8 SD
= status gizi gemuk
Penanggulangan dan Pencegahan
Penanggulangan dan pencegahan defisiensi yodium dapat dilakukan dengan berbagai
cara diantaranya pemberian suntikan yodium, pemberian kapsul yodium dan fortifikasi yodium
pada beberapa makanan diantaranya garam, minyak, gula dan lain-lain.6 Di Indonesia, upaya
penanggulangan GAKY difokuskan pada peningkatan konsumsi garam beryodium. Target yang
harus dicapai dalam program penanggulangan GAKY ini yaitu:
1. 90% rumah tangga yang mengkonsumsi garam beryodium cukup (>30 ppm) secara nasional,
propinsi dan kabupaten/kota.
2. Median EYU secara rata-rata nasional propinsi dan kabupaten/kota adalah 100-299 g/L.
Intervensi GAKY terus dilakukan dengan bantuan sejumlah badan dunia. Program
intensifikasi penanggulangan GAKY yang berlangsung tahun 1997-2003 bertujuan menurunkan
14

prevalensi GAKY lewat pemantauan status GAKY pada penduduk, meningkatkan persediaan
garam beriodium serta meningkatkan kerja sama lintas sektoral. Upaya penanggulangan GAKY
sudah dimulai sejak pemerintahan Belanda melalui distribusi garam beryodim ke daerah
endemik berat. Penanggulangan GAKY dilakukan dalam dua jangka waktu, yaitu :
1. Jangka Panjang: suplementasi tidak langsung melalui fortifikasi garam konsumsi dengan
iodium dimana program ini disebut garam iodium.
2. Jangka pendek: suplementasi langsung dengan ,minyak iodium baik secara oral maupun
suntikan lipiodol intramuscular dengan dosis 2 ml, diebrikan kepada anak-anak dan
kepada ibu usia subur khususnya yang sedang hamil. Upaya ini hanya ditunjukkan pada
daerah endemik berat dan telah dilaksanakan sejak tahun 1974.
Menurut ketentuan Peraturan Menteri Kesehatan RI 1986, kandungan KIO 3 yang
dianjurkan adalah 40 ppm. Iodium diperlukan semata-mata untuk biosintesis hormon thyroid
yang mengandung iodium. Kebutuhan iodium meningkat pada kaum remaja dan kehamilan.
Banyaknya metoda suplementasi Iodium tergantung pada beratnya GAKY pada populasi, grade
iodium urine dan prevalensi goiter dan kretinism.
-

GAKY ringan

Akan lenyap dengan sendirinya jika status ekonomi penduduk ditingkatkan.


-

GAKY sedang

Dapat dikontrol dengan garam berjodium (biasanya 20 40 mg/kg pada tingkat rumah tangga).
Disamping itu minyak beriodium diberi secara oral atau suntik yang dikoordinasi melalui
puskesmas.
-

GAKY berat
Penanganannya : minyak beriodium diberikan (secara oral pada 3, 6, dan 12 bulan
maupun suntikan setiap 2 tahun) sampai sistim garam berjodium efektif, jika sistim saraf
pusat dicegah dengan sempurna.7

Kesimpulan
Anak laki-laki mengalami gangguan kurang gizi yaitu kekurangan zat yodium yang
menyebabkan terhambatnya pertumbuhan serta perkembangannya.

15

Daftar Pustaka
1.

Arisman W. Gizi dalam Daur Kehidupan. Jakarta : EGC, 2004.h.56-9

2.

Depkes RI. Pedoman Pelaksanaan Pemantauan Garam Beryodium di Tingkat

Masyarakat. Jakarta : Depkes RI, 2000.h.234-6


3.

Notoatmodjo S. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka Cipta, 2007.h.22-

8
4.

Pranoto. Warga Tinggar sepakat basmi GAKY. Maret 2003. Diunduh dari

http://www.fk.unair.ac.id/index.php/, 27 September 2014


5.

Sediaoetama AD. Ilmu Gizi I. Jakarta : Dian Rakyat, 2006.h.55.64

6.

Sediaoetama AD. Ilmu Gizi II. Jakarta : Dian Rakyat, 2006.h.31-33

7.

Thesa.

Gangguan

Akibat

Kekurangan

Yodium

(GAKY).

Diunduh

dari

http://dokterthesa.wordpress.com/2009/06/25/gaki/, 27 September 2014

16

Anda mungkin juga menyukai