Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masa remaja merupakan masa yang bergejolak dan sangat mudah untuk
dipengaruhi atau diprovokasi baik segi yang positif maupun yang negatif, dimana
remaja lebih mudah dipengaruhi dari segi negatif yaitu untuk melakukan
tindakan-tindakan yang merugikan orang lain atau dirinya sendiri. Misalnya
memaki teman, merokok, minum-minuman keras, mengeroyok teman, tawuran,
kebut-kebutan. Remaja tersebut terkadang tidak ingin melakukannya tetapi karena
didesak atau bahkan disepelekan oleh teman-teman sebayanya maka remaja
tersebut akhirnya melakukan perilaku agresi.
Masalah perilaku agresi merupakan masalah yang menarik untuk dikaji.
Terutama pada akhir-akhir ini timbul akibat yang sangat mencemaskan
masyarakat yang akan membawa kehancuran bagi masyarakat itu sendiri. Perilaku
agresi merupakan problem yang dapat timbul di mana saja dan kapan saja.
Perilaku agresi juga merupakan tindakan kriminal yang bermaksud untuk melukai
orang lain. Tindakan kriminal seperti perilaku agresi bukan merupakan peristiwa
herediter (bawaan sejak lahir, warisan). Tetapi tindakan itu bisa dilakukan oleh
siapapun juga. Tindakan perilaku agresi bisa dilakukan secara sadar, yaitu
dipikirkan, direncanakan, dan diarahkan pada satu maksud tertentu secara sadar
benar. Namun bisa juga dilakukan secara setengah sadar, misalnya tindakan
perilaku agresi yang dilakukan tidak ada sangkut pautnya dengan masalah instink,
akan tetapi ditentukan oleh kondisi eksternal.
Adapun faktor eksternal yang menjadi penyebab timbulnya perilaku agresi
antara lain adalah frustasi, yakni situasi di mana individu terhambat atau gagal
dalam usaha mencapai tujuan tertentu yang diinginkannya, atau mengalami
hambatan untuk bebas bertindak dalam rangka mencapai tujuan. Hal ini terjadi
karena kegagalan yang dialaminya, dan biasanya dinyatakan dalam bentuk agresi.
Di samping faktor frustasi, faktor lain adalah provokasi langsung yang bersifat
verbal atau fisik yang mengenai kondisi pribadi.
1.2 Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui dan


memahami tentang perilaku agresi, teori-teori agresi, jenis perilaku agresi, faktorfaktor yang mempengaruhi dan mengurangi perilaku agresi serta contoh perilaku
agresi dalam kejidupan sehari-hari.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perilaku Agresif
Perilaku agresif adalah perilaku yang kompetitif. Tujuan perilaku ini, baik
yang terlihat maupun tidak adalah untuk menjadi pemenang. Dalam kondisi ini,
harus ada sesorang yang kalah (Jackman, 2005). Agresi merupakan perilaku
tambahan dan mungkin paling serius, yang termasuk dalam kelompok gangguan.
Beberapa teori telah mencoba untuk menjelaskan agresi manusia. Teori dorongan
menyatakan bahw respons agresif secara biologis terprogram dalam spesies
manusia. Pendekatan fenomenologis memberi kesan bahwa kehidupan sehari-hari
yang cukup menghalangi dan mengecawakan itulah yang menyebabkan agresi.
Teori belajar sosial menyatakan bahwa agresi itu dipelajari dan berturut-turut
diperkuat selama masa anak dan masa remaja. Lagipula, teori sosial menyatakan
bahwa pergaulan modern, rusaknya nilai kegotong-royongan

secara umum,

hilangnya pola keluarga tradisional dalam pemeliharaan anak dalam sistem


kekeluargaan, kelainan sosial baik pada individu maupun pada kelompok besar
mengakibatkan peningkatan agresi pada anak, remaja, dan orang dewasa. Agresi
pada masa anak juga berkolerasi dengan pengangguran, perselisihan, kriminalitas
dan gangguan-gangguan psikiatrik keluarga (Behrman et al, 2000). Menurut
Priyatna (2010) perilaku agresi dicirikan oleh :
a) Adanya kesengajaan untuk menyakiti korbannya.
b) Adanya pengulangan, tidak terjadi secara kebetulan atau cuma sekali
saja.
c) Adanya ketidakseimbangan power antara si pelaku agresi dan
korban bullying.
2.2 Teori-Teori Agresi
Teori tentang agresi terbagi dalam beberapa kelompok yaitu (Sarwono,
2002):
a. Teori Bawaan.
Teori Bawaan atau bakat ini terdiri atas teori Psikoanalisa dan teori
Biologi.
1) Teori Naluri.

Freud dalam teori Psikoanalisis klasiknya mengemukakan


bahwa agresi adalah satu dari dua naluri dasar manusia. Naluri agresi
atau tanatos ini merupakan pasangan dari naluri seksual atau eros.
Naluri seks berfungsi untuk melanjutkan keturunan sedangkan naluri
agresi berfungsi mempertahankan jenis. Kedua naluri tersebut berada
dalam alam ketidaksadaran, khususnya pada bagian dari kepribadian
yang disebut Id yang pada prinsipnya selalu ingin agar kemauannya
dituruti (prinsip kesenangan atau Pleasure Principle) dan terletak pada
bagian lain dari kepribadian yang dinamakan Super Ego yang
mewakili norma-norma yang ada dalam masyarakat dan Ego yang
berhadapan dengan kenyataan.
2) Teori Biologi.
Teori biologi ini menjelaskan perilaku agresi, baik dari proses
faal maupun teori genetika (illmu keturunan). Proses faal adalah
proses tertentu yang terjadi otak dan susunan saraf pusat. Menurut tim
American Psychological Association (1993), kenakalan remaja lebih
banyak terdapat pada remaja pria, karena jumlah testosteron
meningkat sejak usia 25 tahun. Produksi testosteron yang lebih besar
ditemukan pada remaja dan dewasa yang nakal, terlibat kejahatan,
peminum, dan penyalah guna obat dibanding pada remaja dan dewasa
biasa.
b. Teori Lingkungan.
Inti dari teori lingkungan adalah perilaku agresi merupakan reaksi
terhadap peristiwa atau stimulus yang terjadi di lingkungan.
1) Teori Frustrasi-Agresi Klasik, yaitu: agresi dipicu oleh frustrasi.
Frustrasi artinya adalah hambatan terhadap pencapaian suatu tujuan.
Berdasarkan teori tersebut, agresi merupakan pelampiasan dari perasaan
frustrasi.
2) Teori Frustrasi-Agresi

Baru,

yaitu:

frustrasi

menimbulkan

kemarahandan emosi, kondisi marah tersebut memicu agresi. Marah


timbul jika sumber frustrasi dinilai mempunyai alternatif perilaku lain
daripada yang menimbulkan frustrasi itu.
3) Teori Belajar Sosial, yaitu lebih memperhatikan faktor tarikan dari luar.
Bandura menekankan kenyataan bahwa perilaku agresi, perbuatan yang

berbahaya, perbuatan yang tidak pasti dapat dikatakan sebagai hasil


bentuk dari pelajaran perilaku sosial. Bandura menerangkan agresi
dapat dipelajari dan terbentuk pada individuindividu hanya dengan
meniru atau mencontoh agresi yang dilakukan oleh orang lain atau
model yang diamatinya, walaupun hanya sepintas dan tanpa penguatan.
c. Teori Kognitif.
Teori kognitif ini memusatkan proses yang terjadi pada kesadaran
dalam membuat penggolongan (kategorisasi), pemberian sifat-sifat
(atribusi), penilaian, dan pembuatan keputusan.
2.3 Jenis-Jenis Perilaku Agresif
Myers (dalam Sarwono, 2002) membagi agresi dalam dua jenis, yaitu
agresi rasa benci atau agresi marah (hostile aggression) dan agresi sebagai sarana
untuk mencapai tujuan lain (instrumental aggression). Agresi rasa benci atau
agresi marah (hostile aggression) adalah ungkapan kemarahan dan ditandai
dengan emosi yang tinggi dimana perilaku agresi ini adalah tujuan agresi itu
sendiri. Akibat dari agresi ini tidak dipikirkan oleh pelaku dan pelaku memang
tidak peduli jika akibat perbuatannya lebih banyak menimbulkan kerugian
daripada manfaat. Agresi instrumental (instrumental aggression) pada umumnya
tidak disertai emosi, bahkan antara pelaku dan korban kadang-kadang tidak ada
hubungan pribadi. Agresi disini hanya merupakan sarana untuk mencapai tujuan
lain, misalnya: seorang preman yang memukuli pemilik toko untuk memungut
uang paksa bagi organisasinya.
Menurut Atkinson (1999) ada beberapa jenis perilaku agresi yaitu:
a. Agresi instrumental, yaitu: agresi yang ditujukan untuk membuat
penderitaan kepada korbannya dengan menggunakan alat-alat baik benda
ataupun orang atau ide yang dapat menjadi alat untuk mewujudkan rasa
agresinya, misalnya: orang melakukan penyerangan atau melukai orang lain
b.

dengan menggunakan suatu benda atau alat untuk melukai lawannya.


Agresi verbal, yaitu: agresi yang dilakukan terhadap sumber agresi secara
verbal. Agresi verbal ini dapat berupa kata-kata kotor atau kata-kata yang
dianggap mampu menyakiti atau menyakitkan, melukai, menyinggung

c.

perasaan atau membuat orang lain menderita.


Agresi fisik, yaitu: agresi yang dilakukan dengan fisik sebagai pelampiasan
marah oleh individu yang mengalami agresi tersebut, misalnya: agresi yang

pada perkelahian, respon menyerang muncul terhadap stimulus yang luas


d.

baik berupa objek hidup maupun objek yang mati.


Agresi emosional, yaitu: agresi yang dilakukan semata-mata sebagai
pelampiasan marah dan agresi ini sering dialami orang yang tidak memiliki
kemampuan untuk melakukan agresi secara terbuka, misalnya: karena
keterbatasan kemampuan, kelemahan dan ketidakberdayaan. Agresi ini
dibangkitkan oleh perasaan tersinggung atau kemarahan, tetapi agresi

2.4 Faktor-faktor untuk Mempengaruhi Perilaku Agresif


Menurut Anantasari (2006) penyebab perilaku agresif bisa digolongkan
dalam enam kelompok faktor berikut ini.
a. Faktor-faktor psikologis
1) Perilaku naluriah.
Menurut Sigmund Freud, dalam diri manusia ada naluri kematian,
yang ia sebut pula thanatos yaitu energi yang tertuju untuk perusakan
atau pengakhiran kehidupan. Memang Freud juga mengatakan bahwa
dalam diri manusia terdapat naluri kehidupan, yang ia sebut pula eros.
Dalam pandangan Freud, agresi terutama berakar dalam naluri kematian
yang diarahkan bukan ke dalam diri sendiri melainkan ke luar diri
sendiri, ke orang lain. Sedangkan menurut Konrad Lorenz, agresi yang
membuahkan bahaya fisikal buat orang-orang lain berakar dalam naluri
berkelahi yang dimiliki manusia.
2) Perilaku yang dipelajari.
Menurut Albert Bandura, perilaku agresif berrakar dalam responsrespons agresif yang dipelajari manusia lewat pengalamannya masa
lampau. Dalam proses pembelajaran perilaku agresif, terlibat pula
berbagai kondisi sosial atau lingkungan yang mendorong perwujudan
perilaku agresif.
b. Faktor-faktor sosial
1) Frustasi:
Tidak diragukan lagi pengaruh frustasi dalam peruyakan perilaku
agresif. Seperti diuraikan dalam hipotesis frustasi-agresi dari John
Dollard, frustasi bisa mengakari agresi. Kendati demikian, tidak setiap
anak atau orang yang mengalami frustasi serta merta meruyakkan
agresi. Ada variasi luas sehubungan denga reaksi yang bisa muncul dari
anak atau orang yang mengalami frustasi. Reaksi lain semisal berupa

penarikan diri dan depresi. Di samping itu, tidak setiap agresi berakar
dalam frustasi.
2) Provokasi langsung:
Bukti-bukti mengindikasikan betapa pencederaan fisikal (physical
abuse) dan ejekan verbal dari orang-orang lain bisa memicu perilaku
agresif.
3) Pengaruh tontonan perilaku agresif di televisi:
Terdapat kaitan antara agresi dan paparan tontonan kekerasan lewat
televisi. Semakin banyak anak menonton kekerasan lewat televisi,
tingkat agresi anak tersebut terhadap orang-orang lain bisa makin
meningkat pula. Ternyata pengaruh tontonan kekerasan lewat televisi
itu bersifat kumulatif, artinya makin panjangnya paparan tontonan
kekerasan dalam kehidupan sehari-hari makin meningkatkan perilaku
agresif.
c. Faktor-faktor lingkungan
Faktor lingkungan meliputi pengaruh polusi udara, kebisingan dan
kesesakan karena kondisi manusia yang terlalu berjejal. Kondisi-kondisi
itu bisa melandasi peruyakan perilaku agresif.
d. Faktor-faktor situasional
Termasuk dalam kelompok faktor ini antara lain adalah rasa sakit atau
nyeri yang dialami manusia, yang kemudian mendorong si manusia
meruyakkan perilaku agresif.

e. Faktor-faktor biologis
Para peneliti yang menyelidiki kaitan antar cedera kepala dan perilaku
kekerasan mengindikasikan etapa kombinasi pencederaan fisikal yang
pernah dialami dan cedera kepala, mungkin ikut melandasi peruyakan
perilaku agresif.
f. Faktor-faktor genetik
Pengaruh faktor genetik antara lain ditunjukka oleh kemungkinan yang
lebih besar untuk peruyakan perilaku agresif dari insan pria yang memiliki
kromosom XYY.
2.5 Cara-Cara Untuk Mengurangi Perilaku Agresi
Menurut Koeswara (1988), cara atau teknik sebagai langkah langkah
konkret yang dapat diambil untuk mencegah kemunculan atau berkembangnya

tingkah laku agresi itu adalah penanaman modal, pengembangan tingkah laku
non agresi, dan pengembangan kemampuan memberikan empati.
a. Penanaman Modal
Penanaman modal merupakan langkah yang paling tepat untuk mencegah
kemunculan tingkah laku agresi. Penanaman modal ini akan berhasil
apabila dilaksanakan secara berkesinambungan dan konsisten sejak usia
dini di berbagai lingkungan dengan melibatkan segenap pihak yang
memikul tanggung jawab dalam proses sosialisasi.
b. Pengembangan Tingkah Laku Non Agresi
Untuk mencegah berkembangnya tingkah laku agresi, yang perlu
dilakukan

adalah

mengembangkan

nilai-nilai

yang

mendukung

perkembangan tingkah laku non agresi, dan menghapus atau setidaknya


mengurangi nilai-nilai yang mendorong perkembangan tingkah laku
agresi.
c. Pengembangan Kemampuan Memberikan Empati
Pencegahan tingkah laku agresi bisa dan

perlu

menyertakan

pengembangan kemampuan mencintai pada individu-individu. Adapun


kemampuan mencintai itu sendiri dapat berkembang dengan baik apabila
individu-individu dilatih dan melatih diri untuk mampu menempatkan diri
dalam dunia batin sesama serta mampu memahami apa yang dirasakan
atau dialami dan diinginkan maupun tidak diinginkan sesamanya.
Pengembangan kemampuan memberikan empati merupakan langkah yang
perlu diambil dalam rangka mencegah berkembangnya tingkah laku agresi.
2.6 Contoh Perilaku Agresi
MEMBUNUH KARENA SINGKONG
(Contoh Kasus Perilaku Agresif)
Kejadiannya di Bambu Apus, Jakarta Timur, pada tanggal 9 Oktober 1995.
Seorang ibu berusia 31 tahun dan tiga orang anaknya (8, 3, dan 2 tahun)
tewas terbunuh dengan luka-luka bacokan yang mengerikan. Saat itu sang
ayah, bapak Rohadi yang guru SMP, sedang bertugas mengajar. Dua anak
Rohadi selamat, yaitu putri sulung (11 tahun) yang kebetulan sedang sekolah
(dialah yang pertama kali menemukan jenazah keluarganya yang sedang
berserakan di dalam rumahnya ketika ia pulang sekolah sekitar pukul 10.00)
dan anak bungsu mereka (8 bulan) yang kebetulan tidak tewas (diduga sudah
meninggal waktu dicekik). Yang menarik adalah bahwa dalam waktu dua hari
polisi sudah berhasil menemukan pelakunya, yaitu Philipus (profesi Satpam,
umur 46 tahun) yang dibantu oleh anak laki-lakinya (15 tahun) dan dua
keponakan laki-lakinua (17 tahun). Istri Philipus dan seorang keponakan
perempuannya dianggap sebagai saksi karena mereka mengetahui

pembunuhan itu walaupun tidak terlibat aktif. Yang lebih menarik lagi adalah
alasan dari rencana itu bahwa anak-anak keluarga rohadi sering bermain
dan berlari-larian di kebun singkong garapan keluarga philupus sehingga
philipus marah dan nekat membunuh keluarga tetangga itu. Setelah kasus ini
terbongkar dan dimuat dalam media massa, massa (banyak di antaranya yang
datang dari luar kota) berdatangan ke lokasi TKP (tempat kejadian perkara).
Semakin hari massa makin banyak mengelilingi TKP yang sudah di mainkan
dengan penjagaan oleh petugas. Sebuah kotak sumbangan yang disediakan
cepat terisi penuh dan mencapai balasan juta rupiah sebagai tanda simpati
masyarakat. Akan tetapi, massa ternyata tidak puas dengan hanya melihat
TKP dan memberi sumbangan. Pada hari keempat atau kelima, massa mulai
mengamuk dan menyerang rumah Philipus. Ketika rumah Philipus dijaga
ketat oleh petugas, massapun menyerang, merusak dan membakar
rumahrumah penduduk atau tetangga Philipus yang diduga masih ada
pertalian darah dengan Philipus. Massa semakin ganas ketika ada isu bahwa
anak bungsu Rohadi meninggal dunia (padahal isu tidak benar). Akhirnya,
polisi menutup seluruh wilayah sekitar TKP untuk mencegah berkembangnya
isu-isu SARA (masalah suku, agama, rasial atau antar golongan) yang tidak
dikehendaki.
GATRA, 14 Oktober 1996
Fenomena Tawuran antar Pelajar
Tawuran, sepertinya masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi. Hampir
setiap minggu, berita itu menghiasimedia massa. Bukan hanyatawuran antar
pelajar saja yang menghiasi kolom-kolom media cetak, tetapi tawuran
antar polisi dan tentara antar polisi pamong praja dengan pedagang kaki
lima, sungguh menyedihkan. Inilah fenomena yang terjadi di masyarakat
kita. Tawuran antar pelajar maupun tawuran antarremaja semakin menjadi
semenjak terciptanya geng-geng.
Perilaku anarki selalu dipertemukan antar pelajar saja yang menghiasi
kolom-kolom media cetak, tetapi tawuran antar polisi dan tentara
,antar polisi pamong praja dengan pedagang kaki lima, sungguh
menyedihkan. Inilah fenomena yang terjadi di masyarakat kita.
Tawuran antar pelajar maupun tawuran antar remaja semakin menjadi
semenjak terciptanya geng-geng. Perilaku anarki selalu dipertontonkan di
tengah-tengah masyarakat.
Mereka itu sudah tidak merasa bahwa perbuatan itu sangat tidak terpuji dan
bisa mengganggu ketenangan pelajar saja yang menghiasi kolom-kolom
media cetak, tetapi tawuran antar polisi dan tentara , antar polisi pamong
praja dengan pedagang kaki lima, sungguh menyedihkan. Inilah fenomena
yang terjadi di masyarakat kita. Tawuran antar pelajarmaupun tawuran
antar remaja semakin menjadi semenjak terciptanya geng-geng.
Perilaku anarki selalu dipertontonkan di tengah-tengah masyarakat. Mereka
itu sudah tidak merasa bahwa perbuatan itu sangat tidak terpuji dan bisa
mengganggu ketenangan masyarakat Indonesia. Sehingga jika mendengar
kata tawuran, sepertinya masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi.

Hampir setiap minggu, berita itu menghiasi media massa. Bukan hanya
tawuran antar pelajar saja yang menghiasi kolom-kolom media cetak, tetapi
tawuran antar polisi dan tentara , antar polisi pamong praja dengan
pedagang kaki lima, sungguh menyedihkan. Inilah fenomena yang terjadi di
masyarakat kita. Tawuran antar pelajar maupun tawuran antar remaja
semakin menjadi semenjak terciptanya generasi yang tidak bertanggung
jawab.
Tawuran sepertinya sudah menjadi bagian dari budaya bangsa Indonesia.
Sehingga jika mendengar kata tawuran, sepertinya masyarakat Indonesia
sudah tidak asing lagi. Hampir setiap minggu, berita itu menghiasi media
massa. Bukan hanya tawuran antar pelajar saja yang menghiasi kolomkolom media cetak, tetapi tawuran antar polisi dan tentara , antar polisi
pamong praja dengan pedagang kaki lima, sungguh menyedihkan. Inilah
fenomena yang terjadi di masyarakat kita.
Tawuran antar pelajar maupun tawuran antar remaja semakin menjadi
semenjak terciptanya geng-geng. Perilaku anarki selalu dipertontonkan di
tengah-tengah masyarakat. Mereka itu sudah tidak merasa bahwa perbuatan
itu sangat tidak terpuji dan bisa mengganggu ketenangan
masyarakat.Sebaliknya mereka merasa bangga jika masyarakat itu takut
dengan gengkelompoknya. Seorang pelajar seharusnya tidak melakukan
tindakan yang tidak terpuji seperti itu.Biasanya permusuhan antar sekolah
dimulai dari masalah yang sangat sepele. Namun remaja yang masih labil
tingkat emosinya justru menanggapinya sebagai sebuah tantangan. Pemicu
lain biasanya dendam Dengan rasa kesetiakawanan yang tinggi para siswa
tersebut akan membalas perlakuan yang disebabkan oleh siswa sekolah yang
dianggap merugikan seorang siswa atau mencemarkan nama baik sekolah
tersebut.Sebenarnya jika kita mau melihat lebih dalam lagi, salah satu akar
permasalahannya adalah tingkat kestressan siswa yang tinggi dan
pemahaman agama yang masih rendah. Sebagaimana kita tahu bahwa
materi pendidikan sekolah.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Masa remaja merupakan masa yang bergejolak dan sangat mudah untuk
dipengaruhi atau diprovokasi baik segi yang positif maupun yang negatif, dimana
remaja lebih mudah dipengaruhi dari segi negatif yaitu untuk melakukan
tindakan-tindakan yang merugikan orang lain atau dirinya sendiri atau cenderung
melakukan perilaku agresi. Agresi merupakan perilaku tambahan dan mungkin
paling serius, yang termasuk dalam kelompok gangguan. Teori-teori tentang
perilaku agresi ini dapat dibagi menjadi tiga, yaitu teori bawaan, teori lingkungan,
teori kognitif. Sedangkan jenis-jenis perilaku agresif meliputi, agresi instrumental,
agresi verbal, agresi fisik dan agresi emosional.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku agresi meliputi faktor
psikologis, sosial, lingkungan, situasional, biologis dan faktor genetik. Sedangkan
cara atau teknik sebagai langkah langkah konkret yang dapat diambil untuk
mencegah kemunculan atau berkembangnya tingkah laku agresi itu adalah
penanaman modal, pengembangan tingkah laku non agresi, dan pengembangan
kemampuan memberikan empati.

DAFTAR PUSTAKA
Jackman, A. 2005. How to Negotiate. Jakarta: Erlangga
Behrman, Kiegman and Arvin. 2000. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta:
EGC
Priyatna, Andri. 2010. Lets End Bullying: Memahami, Mencengah dan
Mengatasi Bullying. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo
Anantasari. 2006. Menyikapi Perilaku Agresif Anak. Yogyakarta:
Kanisius
Sarwono, S. W. 2002. Psikologi Sosial: Individu dan Teori-teori
Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka
Atkinson, R. L. 1999. Pengantar Psikologi. Jakarta: Erlangga
Koeswara, E. 1988. Agresi Manusia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Anda mungkin juga menyukai