Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA

(Hydraulic Gradient)

Oleh :
Nama

: Muhammad Rizky Ramanda

NPM

: 240110130064

Hari, Tanggal Praktikum

: Senin, 25 Mei 2014

Asisten Dosen

: 1. Dhanti Hanifa M.
2. Billy Hagantha S.

LABORATORIUM SUMBER DAYA AIR


JURUSAN TEKNIK DAN MANAJEMEN INDUSTRI PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2014

DAFTAR ISI
I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang....................................................................................1


1.2 Tujuan Praktikum................................................................................1
II Tinjauan Pustaka
2.1

Hukum Bernoulli.............................................................................. 2

2.1.1 Aliran Tak Termampatkan.................................................................2


2.1.2 Aliran Termampatkan........................................................................3
2.2

Prinsip Bernoulli................................................................................3

2.3

Debit Air............................................................................................3

2.4 Aliran Fluida......................................................................................4


2.5 Tekanan Fluida..................................................................................5
2.6

Kecepatan Fluida...............................................................................6

2.7

Hydraulic Head.................................................................................6

III Metode Praktikum .................................................................................7


3.1 Alat.....................................................................................................7
3.2 Bahan................................................................................................. 7
3.3 Prosedur Pelaksanaan.........................................................................7
IV Hasil dan Pembahasan

4.1 Hasil.....................................................................................................9
4.2 Pembahasan......................................................................................... 15
V Kesimpulan

16

DAFTAR PUSTAKA

17

LAMPIRAN

18

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Zat yang terus menerus mengalir dan mengikuti bentuk medium atau wadah
yang ditempatinya karena memiliki sifat tidak menolak terhadap perubahan
bentuk atau ketidakmampuan mengadakan tegangan geser dan kemampuan untuk
mengalir disebut dengan fluida. Fluida sendiri bentuknya dapat berupa cairan
ataupun gas. Perbedaan antara cairan dan gas adalah cairan membentuk
permukaan bebas (yaitu, permukaan yang tidak diciptakan oleh bentuk
wadahnya), sedangkan gas tidak.
Diperlukan sebuah cara agar fluida mengalir, yaitu menggunakan pipa atau
selang yang merupakan media untuk mengalirkan fluida hingga tempat yang
dituju. Setiap pipa atau selang tersebut pasti memiliki debit. Debit tersebut
dipengaruhi oleh panjang dan diameter pipa, sehingga berpengaruh pada volume,
waktu alir dan tekanan fluida dalam pipa tersebut.
Pada praktikum kali ini membahas tentang hubungan sistem jaringan aliran
fluida berupa air yang dapat diketahui melalui debit air yang mengalir melewati
sebuah pipa dari persamaan hukum Bernoulli. Disebutkan pula dalam prinsip
bernoulli yang menyatakan bahwa pada suatu aliran fluida, peningkatan pada
kecepatan fluida akan menimbulkan penurunan tekanan pada aliran tersebut.
Mempelajari karakterisitik fluida akan sangat membantu dalam pemecahan
masalah yang berhubungan dengan aliran fluida melalui pipa atau selang.
1.2 Tujuan
Tujuan praktikum hydraulic gradient kali ini adalah :
1. Mampu memahami konsep aliran fluida dalam pipa.
2. Mampu mengukur debit, tekanan dan kecepatan suatu aliran fluida dalam pipa,
serta mampu mengukur ketinggian elevasi pipa.
3. Mampu memahami aspek tekanan dan kecepatan suatu fluida dalam suatu
sistem sirkulasi aliran dalam pipa.
4. Mampu mengetahui dan memahami prinsip dan hukum Bernoulli II.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hukum Bernoulli


Asas Bernoulliberbunyi pada pipa mendatar (horizontal), tekanan fluida
paling besar adalah pada bagian yang kelajuan alirnya paling kecil, dan tekanan
paling kecil adalah pada bagian yang kelajuannya paling besar.
Dalam bentuknya yang sudah disederhanakan, secara umum terdapat dua
bentuk persamaan Bernoulli; yang pertama berlaku untuk aliran tak termampatkan
(incompressible flow), dan yang lain adalah untuk fluida termampatkan
(compressible flow). (Anonim, 2014)
2.1.1 Aliran Tak Termampatkan
Aliran tak-termampatkan adalah aliran fluida yang dicirikan dengan tidak
berubahnya besaran kerapatan massa (densitas) dari fluida di sepanjang aliran
tersebut. Contoh fluida tak-termampatkan adalah: air, berbagai jenis minyak,
emulsi, dll. Bentuk Persamaan Bernoulli untuk aliran tak-termampatkan adalah
sebagai berikut:
P + gh +

1
2

v2 = konstan

Dimana:
P : Tekanan fluida (kPa)
: densitas fluida (kg/m3)
g : percepatan gravitasi (9,81 m/s2)
h : ketinggian relatif terhadap suatu referensi (m)
v : kecepatan fluida (m/s)
Persamaan di atas berlaku untuk aliran tak termampatkan dengan asumsi asumsi
sebagai berikut :
-

Aliran bersifat tunak (steady state)


Tidak terdapat gesekan (inviscid)

Dalam bentuk lain, persamaan Bernoulli dapat ditulisakan sebagai berikut :


P + gh +

1
2

2
v 1 = P + gh +

2.1.2 Aliran Termampatkan

1
2

2
v2

Aliran termampatkan adalah aliran fluida yang dicirikan dengan


berubahnya besaran kerapatan massa (densitas) dari fluida di sepanjang aliran
tersebut. Contoh fluida termampatkan adalah: udara, gas alam, dll. Persamaan
Bernoulli untuk aliran termampatkan adalah sebagai berikut:
2

v
2

+ + w = konstan

Dimana:

: energi potensial gravitasi per satuan massa; jika gravitasi konstan,

maka = gh.
w : entalpi fluida per satuan massa.
+

Catatan : w =
Dimana

P
;

adalah energi termodinamika per satuan massa, juga disebut sebagai

energi internal spesifik.


2.2 Prinsip Bernoulli
Prinsip Bernoulli adalah sebuah istilah yang menyatakan bahwa pada
suatu aliran fluida, peningkatan pada kecepatan fluida akan menyebabkan
penurunan tekanan pada aliran tersebut. Prinsip ini ssbenarnya merupakan
penyederhanaan dari persamaan Bernoulli yang menyatakan bahwa jumlah energi
pada suatu aliran tertutup sama besarnya dengan jumlah energi di tiitk lain pada
jalur aliran yang sama. (Anonim, 2014)
2.3. Debit Air
Debit aliran adalah jumlah volume fluida yang mengalir per satuan waktu
pada suatu penampang, debit aliran kemudian dinyatakan dengan Q dalam [L 3/T].
(Bambang Aris Sistanto, 2003)
Debit air merupakan ukuran banyaknya volume air yang dapat mengalir
atau dapat ditampung dalam suatu tempat tiap satuan waktu. Satuan debit

dinyatakan dalam satuan meter kubik per detik (m3/s). Debit air dapat dirumuskan
menjadi,
Q=

v
t

atau Q = A v

Dimana :
Q = debit air (m3/s atau l/s)
V = volume air (m3 atau liter)
t = waktu (s)
A = luas penampang (m2)
v = kecepatan fluida (m/s)
Aliran air dikatakan memiliki sifat ideal apabila air tersebut tidak dapat
dimanfaatkan dan berpindah tanpa mengalami gesekan, hal ini berarti pada
gerakan air tersebut memiliki kecepatan yang tetap pada masing-masing titik
dalam pipa dan gerakannya beraturan akibat pengaruh gravitasi.
2.4 Aliran Fluida
Aliran fluida adalah pergerakkan massa atau partikel-partikel fluida.
Persoalan aliran fluida sesungguhnya sangat kompleks, sehingga tidak selalu
dapat diselesaikan dengan persamaan yang eksak, maka dari itu perlu dilakukan
percobaan untuk mendapatkan rumus empirik.
Cairan yang mengalir dalam pipa umumnya tidak mempunyai permukaan
bebas (aliran penuh) dan cairan tersebut berada di bawah tekanan. Bila aliran tidak
penuh, misalnya gorong-gorong, persoalan semacam ini dapat diselesaikan
dengan prinsip-prinsip saluran terbuka. (Bambang Aris Sistanto, 2003)
Tipe aliran :

Aliran Tetap (steady)

Aliran dimana pada suatu titik tertentu besarnya tekanan dan kecepatan tidak
berubah dengan waktu.
dP
=0
dt

Aliran Tidak Tetap (unsteady)

dv
=0
dt

Aliran dimana pada suatu titik tertentu dan kecepatan tertentu berubah setiap
saat.
dP
0
dt

dv
0
dt

Aliran Seragam (uniform)

Aliran dimana kecepatan pada arah tertentu dari titik adalah konstan.

Aliran Tidak Seragam (non uniform)

Aliran dimana sifat aliran berubah dari titik ke titik sepanjang lintasan.

Aliran Laminer (laminar)

Aliran dimana setiap partikel menempuh jalan tertentu yang tidak berpotongan
satu sama lain.

Aliran Turbulen (turbulen)

Aliran dimana lintasan partikel tidak mempunyai lintasan tertentu tau dengan
lintasan yang saling berpotongan.

Aliran Mampu Mampat (compressible flow)

Aliran yang kerapatannya berubah-ubah sepanjang aliran.

Aliran Tak Mampu Mampat (incompressible flow)

Aliran yang kerapatannya tetap sepanjang aliran.


2.5 Tekanan Fluida
Tekanan didefinisikan sebagai gaya normal (tegak lurus) yang bekerja
pada suatu bidang dibagi dengan luas bidang tersebut. Tekanan dalam fluida juga
dinyatakan demikian dengan satuan (kN/m2) atau Pascal (Pa). Bila suatu
permukaan fluida seluas A ditekan dengan gaya F, maka tekanan dan gaya dapat
dirumuskan sebagai berikut
P=

F
A

dan F = h.A.

Tekanan juga dipengaruhi tinggi. Tinggi tekanan (h) pada suatu titik dalam
cairan adalah tinggi cairan di atas titik tersebut. Jadi tekanan pada suatu bidang
adalah

F
A

P=

P=

hA
A

P=h.

Tekanan juga biasanya dipengaruhi oleh tekanan atmosfer pada suatu


tempat dan tekanan absolut. Tekanan atmosfer (Pa) pada suatu bidang adalah berat
kolom udara yang berada di atas per satuan luas. Sedangkan tekanan absolut
adalah tekanan yang bekerja pada suatu titik ditambah tekanan udara, disebut juga
tekanan total. (http://atophysics.wordpress.com)
2.6 Kecepatan Fluida
Kecepatan merupakan suatu besaran yang memiliki arah yang menunjukan
seberapa cepat benda berpindah. Besar dari kecepatan yang memiliki arah ini
dinyatakan dalam satuan meter per detik (m/s) dan dirumuskan menjadi,
v=

s
t

Kecepatan suatu fluida dalam pipa dapat ditentukan dan dicari dengan
prinsip Hukum Bernoulli. Untuk kecepatan suatu fluida dalam pipa dapat
dirumuskan sebagai berikut
v2
=h
2g

v 2=2 g h

v = 2 g h

(Siti Nurma Nugraha, 2007)


2.7 Hydraulic Head
Hydraulic head biasanya diukur sebagai elevasi permukaan cairan,
dinyatakan dalam satuan panjang, di pintu masuk (atau bawah) dari piezometer.
Hydraulic head dapat diukur dalam kolom air menggunakan piezometer pipa
tegak dengan mengukur ketinggian permukaan air dalam tabung relatif terhadap
datum umum. Hydraulic head dapat digunakan untuk menentukan hydraulic
gradient antara dua atau lebih poin. (Anonim, 2014)

BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
1. Jaringan pipa yang dihubungkan dengan manometer air.
2. Bak : Sebagai constant head (berwarna biru).
3. Bak limpasan : sebagai tempat pembuangan air.
4. Bak Sirkulasi : sebagai penghubung anatar bak limpasan dan pompa.
5. Pompa air 200 watt : sebagai pengalir air.
6. Instrumen : Sebagai alat ukur.
7. Kalkulator : Sebagai alat bantu hitung.
8. Mistar 60 cm : sebagai alat bantu ukur tekanan dan kecepatan.
9. Gelas ukur 1000 ml : sebagai alat bantu mengukur debit.
10. Stopwatch : sebagai alat bantu menghitung waktu.
11. Meteran panjang 3 meter : untuk mengukur panjang dan tinggi elevasi.
12. Alat tulis dan mistar : untuk menulis.
13. Bak sirkulasi air : untuk menampung air.
3.2 Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut.
1. Air : fluida yang digunakan dalam sistem sirkulasi.
3.3 Prosedur Pelaksanaan
Hal-hal yang digunakan pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut.

1. Memeriksa Tangki Thorn dalam kondisi penuh dengan cara menyalakan


pompa, secara otomatis akan berhenti bila tangki thorn sudah penuh, karena
inlet ke Thorn menggunakan pelampung.
2. Memeriksa Bak Constant Head lalu menyiapkan gelas ukur 1000ml,
stopwatch, meteran 3 meter, alat tulis, dan mistar. Kemudian membuka kran
bak konstan, kemudian menghitung debit dengan banyaknya jumlah air yang
keluar dibagi waktu dalam tiga posisi bukaan yang berbeda.
3. Mencatat setiap debit dari tiga posisi bukaan yang berbeda tersebut.
4. Dalam keadaan awal, mengukur ketinggian awal pipa (h 1 dan h2), lalu mencatat
ketinggiannya.
5. Memasang kembali selang pada keran lalu memperhatikan adanya pergerakan
air pada setiap masing-masing manometer tekanan (P 1 dan P2) dan kecepatan
(v1 dan v2).
6. Mengubah elevasi pada pipa dan mengukur ketinggian kedua (h 1 dan h2),
mencatat ketinggiannya lalu melakukan prosedur 5.
7. Mengubah elevasi pada pipa dan mengukur ketinggian kedua (h1 dan h2),
mencatat ketinggiannya lalu melakukan prosedur 5.
8. Memasukkan semua hasil pengukuran ke dalam tabel, lalu menghitung untuk
memperoleh setiap data yang diperlukan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1. Hasil Pengukuran
Tabel 1. Data Hasil Pengukuran

Posisi
ke
h-h
h'-h'
h''-h''
h-h
h'-h'
h''-h''
h-h
h'-h'
h''-h''

P
15
14,5
13,5
24,8
23,5
22,5
99
89
86

V
15,5
15
14,5
24,9
23,4
22,5
98
88
86

Data Pengukuran (cm)


P
V
Alas
18
35
150
17,3
34
150
16
34,5
150
25
25
152
23,7
23,8
152
23
23
152
103
102
156
93
91
156
90
89
156

Sudut ()
Tinggi
0
8
18
0
10
16
0
8
14

Sumber Data : Hasil Praktikum di Lab. SDA FTIP (26 Mei 2014)

g=9,81m/s

=9,81 KN /m

Q1 = 0,096 /detik
Q2 = 0,022 /detik
Q3 = 0,084 /detik

4.1.2 Hasil Perhitungan


a.Sudut

0
=0
1. Arc tan 150

0
3,052882515
6,842773413
0
3,76403486
6,009005957
0
3,012787504
5,2623954

2. Arc

tan

8
=3,052882515
150
3. Arc

6. Arc

tan

16
=6,009005957
150
tan

18
=6,842773413
150
0
=0
4. Arc tan 150
10
=3,76403486
5. Arc tan 150

0
=0
7. Arc tan 150
8. Arc
8
=3,012787504
150
14
=5,2623954
9. Arc tan 150

tan

10.
11.
12.
13.

b.Tekanan

x h

14.

P ,= x h = 9,81 x

0,87

= 8,5347 kPa

15.

P , = x h

= 9,81 x

0,95

= 9,3195 kPa

16.

P , = x h

= 9,81 x

1,05

= 10,3005 kPa

17.

P ,= x h

= 9,81 x

18.

P ,= x h

= 9,81 x

0,98

= 9,613 kPa

19.

P ,= x h

= 9,81 x

1,04

= 10,202 kPa

20.

P , = x h

= 9,81 x

0,915

= 8,976 kPa

21.

P ,= x h

= 9,81 x

0,995

= 9,76 kPa

22.

P ,= x h

= 9,81 x

1,055 = 10,34 kPa

0,88 = 8,632 kPa

23.
24.

c.Kecepatan

2 x g x h

25.

V ,= 2 x g x h =

2 x 9,81 x 0,87

= 4,13151304 m/s

26.

V , = 2 x g x h

2 x 9,81 x 0,95

= 4,317290817 m/s

27.

V , = 2 x g x h

2 x 9,81 x 1,05

= 4,5388324 m/s

28.

V ,= 2 x g x h

2 x 9,81 x 0,88

= 4,155189526 m/s

29.

V ,= 2 x g x h

2 x 9,81 x 0,98

= 4,384928734 m/s

30.

V ,= 2 x g x h

2 x 9,81 x 1,04

31.

V , = 2 x g x h

2 x 9,81 x 0,915

= 4,237015459 m/s

32.

V ,= 2 x g x h =

2 x 9,81 x 0,995

= 4,418359424 m/s

33.

V ,= 2 x g x h =

2 x 9,81 x 1,055

= 4,549626358 m/s

= 4,517167254 m/s

34.
4.1.3 Grafik
35.

Grafik 1. Perbandingan Tekanan (P) terhadap Kecepatan (V) debit pertama


12

10.3

10

8.53f(x) = 4.34x - 9.4


R = 1

P (kPa)

9.32

6
4
2
0
4.1

4.15

4.2

4.25

4.3

4.35

4.4

4.45

V (m/s)

36.

Sumber: Dok. Pribadi, 2014

4.5

4.55

4.6

37.

Grafik 2. Perbandingan Tekanan (P) terhadap Kecepatan (V) debit kedua


10.5

10.2

10

f(x) = 4.33x - 9.36


R = 1

9.61

9.5

P (kPa)

8.63

8.5
8
7.5
4.1

4.15

4.2

4.25

4.3

4.35

4.4

4.45

4.5

4.55

V (m/s)

38.

Sumber: Dok. Pribadi, 2014

39.

Grafik 2. Perbandingan Tekanan (P) terhadap Kecepatan (V) debit ketiga


10.34

10.5
f(x) = 4.36x - 9.5
R = 1

10

9.76

9.5

P (kPa)

8.98

9
8.5
8
4.2

4.25

4.3

4.35

4.4

4.45

V (m/s)

40.
41.

Sumber: Dok. Pribadi, 2014

4.5

4.55

4.6

42. 4.2 Pembahasan


43.

Praktikum kali ini adalah memahami tentang hydraulic gradient.

Fluida yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah air yang dialirkan ke
dalam sistem sirkulasi dari bak thorn menuju bak konstan dan dialirkan lagi
menuju manometer air. Untuk mengetahui adanya tekanan dan kecepatan pada
fluida tersebut diawali dengan menggunakan pengukuran debit air.
44.

Pada pengukuran praktikum ini, diperoleh pembuktian dari hukum

Bernoulli bahwa dari hasil perhitungan dapat terlihat kecepatan memiliki nilai
lebih besar jika tekanannya rendah. Dalam prinsip Bernoulli yang menyebutkan
bahwa pada suatu aliran fluida, peningkatan pada kecepatan fluida akan
menyebabkan penurunan tekanan pada aliran tersebut. Prinsip ini sebenarnya
merupakan penyederhanaan dari persamaan Bernoulli yang menyatakan bahwa
jumlah energi pada suatu titik di dalam suatu aliran tertutup sama besarnya
dengan jumlah energi di titik lain pada jalur aliran yang sama.
45.

Hukum Bernoulli II masih sama dengan hukum Bernoulli yang

pertama, bedanya adalah untuk hukum Bernoulli II membandingkan dua nilai


ketinggian, yaitu tinggi nilai kecepatan dan tinggi nilai tekanan yang diperoleh
dari hasil pengukuran. Pembandingan ini dilakukan untuk membuktikan
kekonstanan antara P1 dan v1 dengan P2 dan v2.
46.

Faktor-faktor yang mempengaruhi hydraulic gradient line adalah

tekanan yang tersedia dalam sistem arah aliran. Kemiringan pipa yang berubahubah hingga pada bagian tertentu dapat menjadikan tekanan negatif. Kecepatan
dan debit juga mempengaruhi, karena jika tidak ada maka tekanan pun juga tidak
akan ada. Selanjutnya adalah panjang dari pipa tersebut sebagaimana diketahui
pipa adalah medium fluida dan berpengaruh terhadap jalannya aliran kecepatan
dan debit fluida tersebut.
47.

Hasilnya setelah melihat percobaan dan aplikasinya dalam

penghitungan tersebut, ternyata praktikum ini menghasilkan hal diinginkan


walaupun kurang 0,001 untuk mencapai konstan.
48.

Sedikit persamaan yang dapat terlihat pada regresi grafik,

dipengaruhi kerjasama yang bagi dalam melakukan praktikum, stabilnya debit air
walaupun ada sedikit udara yang masuk ditengah-tengah air tersebut.

49.
50.

BAB V

KESIMPULAN
51.

52.

Dalam praktikum tentang hubungan antara tekanan (P), kecepatan

(v), dan elevasi (z) diperoleh kesimpulan, yaitu :


-

Debit air dapat ditentukan dengan mengukur volume air tiap satuan waktu.
Jika kecepatan fluida besar, maka tekanan fluida tersebut akan lebih kecil.

Sebaliknya, jika tekanan besar, maka kecepatan fluida akan lebih besar.
Hukum Bernoulli menyatakan bahwa, jumlah energi di titik di dalam suatu
aliran tertutup sama besarnya dengan jumlah energi di titik lain pada jalur

aliran yang sama.


Hukum Bernoulli II dapat menentukan perbandingan kedua nilai tinggi pada

setiap aliran secara konstan.


Hydraulic Gradient Line dipengaruhi oleh kemiringan pipa, tekanan,

kecepatan, tekanan, debit, dan panjang pipa.


Prinsip Bernoulli menyatakan bahwa, pada suatu aliran fluida, peningkatan
pada kecepatan fluida akan menimbulkan penurunan tekanan pada aliran
tersebut.
Sudut dan ketinggian pipa mempengaruhi debit, tekanan, dan kecepatan laju

aliran fluida.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
65.
66.
67.
68.
69. DAFTAR PUSTAKA
70.

71. Anonim. 2012. Mengukur Aliran fluida Menggunakan Perbedaan Tekanan.


Terdapat pada http://elektronika-dasar.web.id/teori-elektronika/mengukuraliran-fluida-menggunakan-perbedaan-tekanan/ (diakses pada 27 Mei 2014,
19.15 WIB)
72.
73. Anonim. 2013. Fluida. Terdapat pada http://id.wikipedia.org/wiki/Fluida
(diakses pada 27 Mei 2014, 19.00 WIB)
74.
75. Anonim.
2013.
Prinsip
Bernoulli.
Terdapat
pada
http://id.wikipedia.org/wiki/Prinsip_Bernoulli (diakses pada 27 Mei 2014,
19.10 WIB)
76.
77. Anonim.

2013.

Hydraulic

Head.
Terdapat
pada
http://en.wikipedia.org/wiki/Hydraulic_head (diakses pada 27 Mei 2014, 20.00
WIB)
78.

79. Anonim. Fluida. Terdapat pada http://atophysics.wordpress.com (diakses pada


27 Mei 2014, 20.10 WIB)
80.
81. Nurma, Siti. 2008. Intisari Fisika SMA/MA. Bekasi: Laskar Aksara.
82.
83. Sistanto, Bambang Aris, Ir.,Dipl.IE. 2003. Mekanika Fluida. Bandung.
84.
85. Sistanto, Bambang Aris, dkk. 2011. Penuntun Praktikum Mekanika Fluida.
Bandung.
86.
87.
88.
89.
90.
91.
92.
93.
94.
95.
96.
97.
98.
99. LAMPIRAN
100.

101.
102.
103.
104.
105.
106.
107.
108.
109.
110.
111.
112.
113.
114.
116.
117.
118.
119.
120.
121.
122.
123.
124.
125.
126.
127.
128.
129.
130.

Gambar 1. Bak Konstan (constant head)


115.

Gambar 2. Manometer Air

131.
132.
133.
134.
135.
136.

Gambar 3 Bak Limpasan