Anda di halaman 1dari 31

LABOLATORIUM BIOFARMASEUTIKA

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR

LAPORAN LENGKAP
ANALGETIK

KELAS

: B.11

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR
MAKASSAR
2013

BAB I
PENDAHULUAN
Farmakologi mempelajari efek-efek asing atau eksogen dan zat-zat
endogen terhadap suatu organisme. Topik utamanya adalah pengamatan
terhadap efek-efek farmaka, toksikologi mempelajari efek-efek merugikan.
(Toksik) dari zat-zat. (Schmitz, 2009)
Analgetik atau obat penghilang rasa nyeri adalah zat-zat mengurangi
atau menghilangkan kesadaran ( Berbeda dengan anastesi umum ). Rasa
nyeri sebenarnya merupakan gejala yang berfungsi melindungi atau
merupakan tanda bahaya tentang adanya gangguan-gangguan tubuh seperti
peradangan ( Rematik / Encok ), infeksi kuman maupun kejang otot. (Tim
Dosen, 2013)
Analgetik adalah senyawa dalam dosis terapeutik meringankan atau
menekan rasa nyeri, tanpa memiliki kerja anastesi umum.
Semua

obat

mirip

aspirin

bersifat

antipiretik,

analgetik

dan

antiinflamasi. Ada perbedaan aktivasi diantara obat-obat tersebut, misalnya :


Paracetamol (Acetaminofen) bersifat antipiretik dan analgetik tetapi sifat
antiinflamasinya lemahisekali (Gunawan,2007).

Maksud dari percobaan adalah untuk mengetahui dan memahami


mekanisme dari obat-obat analgsik (Antalgin, Acetosal, Paracetamol) yang
dapat mengurangi rasa nyeri pada mencit (Mus musculus)
Tujuan dari percobaan adalah untuk mengetahui efek farmakodinamik
dari obat Acetosal, Antalgin dan Paracetamol terhadap hewan uji mencit (Mus
musculus)
Prinsip dari percobaan adalah berdasarkan percobaan yang telah
dilakukan, dengan cara meletakkan mencit (Mus musculus) diatas plat panas
setelah diberikan obat-obat analgesic secar oral.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori umum
Nyeri adalah gejala adanya penyakit atau kerusakan yang
paling sering. Walaupun nyeri sering berfungsi untuk mengingatkan dan
melindungi, memudahkan diagnosis. Pasien merasakannya sebagai hal
yang mengenakkan, kebanyakan menyiksa dan dan karena itu
berusaha untuk bebas darinya. Seluruh kulit luar mukosa yang
membatasi jaringan dan juga banyak organ dalam dan tubuh peka
terhadap rasa nyeri, tetapi ternyata terdapat juga organ yang tak
mempunyai reseptor nyeri, seperti misalnya otak. Nyeri timbul jika
rangsangan mekanik, termal, kimia atau listrik melampui suatu nilai
ambang tertentu (Nilai ambang nyeri) dank arena itu menyebabkan
kerusakan jaringan dengan pembebnasan senyawa yang disebut nyeri.
Mekanisme kerja nyeri yaitu perangsangan baik mekanik,
kimiawi, panas maupun listrik akan menimbulkan kerusakan pada
jaringan sel sehingga sel-sel tersebut melepaskan suatu

zat yang

disebut mediator nyeri. Mediator nyeri ini juga disebut zat autakoid yaitu
Histamin, Serotonin, Plasmakinin, Prostaglandin (asam lemak) dan ion
kalium. Prostaglandin dan brakinin menimbulkan vasodilatasi dan
memperbesar permiabilitas kapiler sehingga mudah dilewati senyawa

cairan tubuh sehingga timbul radang atau udema. Selain udema


senyawa ini merupakan mediator demam ( panas )
Mekanisme penghambat rasa nyeri ada tiga yaitu :
1. Merintangi pembentukkan rangsangan alam reseptor rasa nyeri,
seperti yang terjadi pada analgetik perifer dan anastesi local.
2. Merintangi penyaluran rangsangan dalam saraf sensories, seperti
pada anastesi local.
3. Blockade rasa nyeri pada system saraf pusa seperti pada analgetik

1.
2.
3.
4.

sentral dan anastesi umum.


Jenis-jenis nyeri ada empat yaitu :
Nyeri ringan
Nyeri ringan menahun
Nyeri hebat
Nyeri hebat menahun
(Tim Dosen, 2013)
Reseptor nyeri (Nosiseptor) rangsangan nyeri diterima oleh

reseptor nyeri khusus, yang merupakan ujung saraf bebas juga dapat
menerima rangsangan sensai lain, maka kespesifakkan fungsional
mungkin berkaitan berkaitan deng diferensiasi pada tahap molekul,
yang

tidak

dapat

diketahui

dengan

pengamatan

cahaya

dan

elektronopik secara fungsional dibedakan menjadi dua system serabut


beda :
1. Mekanoreseptor, yang meneruskan nyeri permukaan melalui
serabut A-delta bermielin
2. Termoreseptor, yang meneruskan nyeri kedua melalui serabutserabut C yang tidak bermielin.
Neurotransmitter

dapat

bekerja

sebagai

zat

nyeri

pada

kerusakan jaringan. Histami pada konsentrasi relative tinggi (10 -8gr/L)

terbukti sebagai zat nyeri: Asetilkolin pada konsentrasi rendah


mensensibilitasi reseptor nyeri terhadap zat nyeri lain, sehingga
senyawa ini bersama-sama dengan senyawa yang dalam konsentrasi
yang sesuai secara sendiri tidak berkhasiat, dapat menimbulkan nyeri.
Pada konsentrasi tinggi, asetilkolin bekerja sebagai zat nyeri dengan
obat menurut pernyataan yang disebut diatas, terdapat kemungkinan
sebagai berikut:
1. Mencegah stabilitas reseptor dengan cara penghambatan sintesis
prostaglandin
2. Mencegah pembentukan rangsangan dalam reseptor nyeri.
3. Mencegah pembentukan rangsangan dalam serabut saraf
4. Menghambat penerusan rangsangan atau meniadakan nyeri melalui
kerja dalam system saraf pusat.
5. Mempengaruhi pengalaman nyeri dengan psikofarmaka.
(Mutschler, 1991)
Kerusakan jaringan menyebabkan pelepasan zat-zat kimia (Misalnya :
Bradikinin, Prostaglandin, ATP, Proton) yang menstimulasi reseptor nyeri
dengan mengionisasi letupan pada serabut aferen primer yang bersinaps
pada lamina I dan II karena posterior medulla spinalis. (Neal, 2006)
Rasa nyeri sebenarnya merupakan gejala yang berfungsi melindungi
atau merupakan tanda bahaya tentang adanya gangguan-gangguan tubuh
seperti peradangan, infeksi kuman maupun kejang otot.

Sebagai analgetik, obat mirip aspirin hanya efektif terhadap nyeri


dengan intensitas rendah sampai sedang misalnya sakit kepala, mialgia,
antalgin dan nyeri lain yang berasal dari inflamasi. Obat mirip aspirin
sebaliknya nyeri ksonis pasca bedah dapat diatasi oleh obat mirip aspirin
(Gunawan, 2007).
Semua

obat

mirip

aspirin

bersifat

antipiretik,

analgetik

dan

antiinflamasi. Ada perbedaan aktivasi diantara obat-obat tersebut, misalnya :


Paracetamol (Acetaminofen) bersifat antipiretik dan analgetik tetapi sifat
antiinflamasinya lemah sekali.

Skema Sintesa prostaglandin:


Trauma/Luka pada sel
Gangguan pada membrane sel
Fosfolipid
Dihambat kartiokosterioi

Enzim fosfilipase

Asam arakidonal
Enzim
siklooksigenase

Dihambat
obat AINS
(sarips-aspirin

Endoperosid

Hidroperokoid

Leukotilen
PGE2

Trombeso Prostasiklin
r A2

B. Penggolongan obat Analgetik


1. Analgetik narkotik
Analgetik ini mempunyai efek analgetik yang kuat sekali dengan
titik kerja terletak pada ssp. Efeknya antara lain dapat mempengaruhi
kesadaran dengan efek samping berupa timbulnya rasa nyama,
toleransi,

hibituasi,ketergantungan

fisik

dan

psikis

dan

gejala

abstinenstia bila obat dihentikan.


Mekanisme kerja analgetik narkotika ini mulai diketahui sekitar
tahun 1975. Setelah diketahui bahwa pada otak binatang percobaan
dikemukakan senyawa peptide yaitu enikofein, endorphin, dan

diodorfin yang diduga sebagai neurotransmitter seperti halnya


asetilkolin dan adrenalin dalam sso. (Tim Dosen, 2013)
2. Analgetik non narkotik dan antiinflamasi
Pada pengobatan nyeri dengan anti radang, factor-faktor psikis
turut memegang peranan seperti yang sudah diuraikan diatas.
Misalnya kesabaran individu dan daya menekan nyerinya.
Analgetik perifer (Non narkotik) yang terdiri dari obat-obatan yang
tidak bekerja sentral. Nyeri ringan dapat ditangani dengan obat perifer
seperti paracetamol, asetosal, mefenamat, profifenazone begitupula
dengan rasa nyeri dengan demam. Untuk nyeri sedang dapat
ditambahkan kofein atau kodein nyeri yang hebat perlu ditanggulangi
dengan morfin atao obat lainnya (Tjay, dan Rahardja, 2007)
Nyeri pada kanker umumnya menurut suatu skema bertingkat empat,
yakni:
1.
2.
3.
4.

Obat perifer (non narkotik) peroral atau rectal : paracetamol, asetosal


Obat perifer bersama kodein atau tramadol
Obat sentral (opioid) peroral atau rectal
Obat opioid parenteral
Guna memperkuat efek analgetikum, dapat ditambahkan Co-

analgetikum,

seperti

psikofarmaka

prednisone). ((Tjay, dan Rahardja, 2007)

(amitripilin,lovepromazine,atau

C. Uraian bahan
1. Aquadest (Depkes RI 1979, hal 96)
Nama Resmi
: AQUA DESTILLATA
Nama Lain
: Air suling
Berat Molekul
: 18,02
Rumus Molekul
: H2O
Pe merian
: Cairan jernih, tidak berwarna, tidak
Penyimpanan

berasa,tidak

berbau.
: Dalam wadah tertutup rapat

2. Na. CMC (Depkes RI 1979, hal 401)


Nama Resmi

: NATRII CARBOXIMETHYL CELLULOSUM

Nama Lain

: Natrium Karboksimethil Selulosa

Pemerian

: Serbuk atau butiran, putih atau putih kekuningan,


tidak berbau atau hamper tidak berbau.

Kelarutan

: Mudah mendispersi dalam air membentuk


suspense koloid, tidak larut dalam etanol (95%)P
dalam eter P

Khasiat
Penyimpan

: Zat tambahan
: Dalam wadah tertutup rapat

D. Uraian obat
1. Asetosal (Depkes RI 1979, hal 43)
Nama Resmi
: ACIDUM ACETYLSALICYLICUM
Nama Lain
: Asetosal, asam asetilsalisilat
Rumus Molekul
: C9H8O4
Berat Molekul
: 180,16
Pemerian
: Hablur tidak berwarna atau serbuk hablur
putih, tidak berbau atau hamper tidak
Kelarutan

berbau, rasa asam


: Agak sukar larut dalam air, mudah larut
dalam

etanol,

(95%)P

larut

dalam

Penyimpanan
Khasiat
Dosis Maksimum

kloroform P dan dalam eter P


: Dalam wadah tertutup rapat
: Analgetikum, antipiretikum
: Sekali 1 gram, sehari 8 gram (Depkes RI,

Indikasi

2007)
: Nyeri, sakit kepala, nyeri-nyeri ringan lain
yang

berhubungan

dengan

adanya

inflamasi. Nyeri ringan sampai sedang


asetelah opersi, melahirkan, sakit gigi,
dismenore.

Farmakologi

:IAspirinibekerjaidenganimengasetilasi enzimIprostaglandin
Hzendoperoxidesintase (PGHS) dan menghambat kerja

Stabilitas

enzim cox secara permanen.


: Stabil pada udara kering. Lembab, panas dan perubahan
PH dapat menghidrolisis aspirin. Aspirin stabil pada PH

Kontra indikasi
Efek samping

rendah (2-3)
:iAlergi terhadap aspirin dan golongan salisilat
:Iritasi lambung karena bersifat asam, nyeri pada ujung
saraf, sakit kepala, epilepsy, agitasi, perubahan mental,

pusing, demam, penurunan fungsi ginjal.


Mekanisme aksi : Asetilasi enzim PGHS

2. Antalgin (Depkes RI 1979, hal 369)


Nama Resmi
: METAMPYRONUM
Nama Lain
: Metampiron, antalgin
Berat Molekul
: 351,17
Rumus Molekul
: C13H16N3N4O4SH5H2O
Pemerian
: Serbuk hablur, putih atau putih kekuningan
Penyimpanan
: Dalam wadah tertutup baik
Farmakologi
: Obat ini sering dikombinasikan dengan obatoba lain. Obat ini dapat secara mendadak dan
tak terduga menimbulkan kelainan darah yang

adakalanya

fatal

karena

bahaya

Indikasi

agronologositosis. (Tjay, HT 2006)


: Meringankan rasa sakit, terutama nyeri kolik dan

Kontra indikasi

sakit setelah operasi.


: Hipersensitif hamil dan menyusui, penderita dengan

Efek sampan

tekanan darah sistolik <100 mmHg


: Hipersensitif,
agronologositosis.i(Tim

Redaksi,

2010)

3. Paracetamol (Depkes RI 1979, hal 37)


Nama Resmi
: ACETAMINOPHENUM
Nama Lain
: Asetaminofen, paracetamol
Berat Molekul
: 151,16
Rumus Molekul
: C8H9NO2
Pemerian
: Hablur atau serbuk hablur putih, tidak
Kelarutan

berbau: rasa pahit


: Larut dalam 27 bagian air, dalam 7
bagian etanol (95%)P, dalam 13 bagian

Penyimpanan
Khasiat
(Depkes RI, 2007)
Indikasi

bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol


: Dalam wadah tertutup baik
: Analgetikum, antipiretikum
: Nyeri ringan sampai dengan sedang dan

Kontra indikasi
Farmakologi

demam
: Hipersensivitas
: Memiliki aktifitas sebagai analgetik dan

Efek samping

antipiretik
: Efek samping dalam dosis jarang; kecuali
kulit, kelainan darah, pangkreatitis akut

Mekanisme aksi

: Bekerja

langsung

pada

system

pengaturan panas dihipotalamus dengan


menghambat

sintesa

disistem saraf pusat

prostaglandin

E. Uraian hewan uji


1. Klasifikasi mencit (Mus musculisI). (Anonim, 2013)
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Chordata
Class
: Mammalia
Ordo
: Rodentia
Family
: Muridae
Genus
: Mus
Spesies
: Mus musculus
2. Morfologi
Mencit (Mus musculus) adalah hewan pengerat (Rodentia) yang
cepat berbiak, mudah dipelihara dalam jumlah banyak variasi
genetiknya cukup besar, serta sifat anatomi dan fisiologinya
berkarakteristik dengan baik. Mencit hidup dalam daerah yang
cukup luas, penyebarannya mulai dari iklim dingin, sedang maupun
panas dan dapat hidup terus menerus. Kadang secara bebas
sebagai hewan liar, mencit paling banyak digunakan adalah mencit
albino swiss yang dibagi berdasarkan sifat genetiknya dan sifat
lingkungan hidup. (Malole dan Pramono, 1989)
3. Karakteristik mencit (Mus musculus). (Malole dan Pramono 1989)
Kriteria
Nilai
Berat badan dewasa
-

Jantan
Betina

Berat lahir

: 20-40 gram
: 25-40 gram
: 0,5-1,5 gram

Temperature tubuh

: 36,30c-38,00c

Jumlah diploid

: 40

Konsumsi makanan

: 15 g/100 g/hari

Konsumsi air minum

: 15 ml/100 g/hari

Siklus birahi

4-5 hari

Lama kebuntingan

19-21 hari

Jumlah anak kelahiran

10-12

Umur sepih

: 21-28 hari

Produksi anak

: 8 bulan

Tidal volume

: 0.09-0,23

Detak jantung

: 325-70/menit

Volume darah

: 76-80 mmHg

Etrus postpartum fertile

BAB III
METODE KERJA
A. Alat dan bahan
1. Alat-alat yang digunakan
a. Batang pengaduk
b. Botol
c. Gelas kimia
d. Gelas ukur
e. Kompor listrik
f. Lap halus
g. Lap halus
h. Penangas air

i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.

Plat panas
Sensok tanduk
Stopwatch
Spoit oral 1 ml
Spoit injeksi 1 ml
Timbangan analitik
Timbangan digital

2. Bahan-bahan yang digunakan


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Aquadest
Antalgin 500 mg
Asetosal 100 mg
Alcohol 70 %
Kapas
Mencit (Mus musculus)
Nacmc 1 % b/v
Paracetamol 500 mg

B. Prosedur kerja
1. Pembuatan suspense Na.CMC 1 % b/v
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Ditimbang Na.CMC 4 gram
c. Dipanaskan air sebanyak 400 ml sampai mendidih dan dilarutkan
Nacmc perlahan-lahan diaduk ad homogeny.
d. Dicukupkan volumenya ad 400 ml, beri label Na.CMC 1% b/v

2. Pembuatan suspensi Antalgin


a. Disiapkan alat dan bahan
b. Dikalibirasi botol 100 ml
c. Ditimbang antalgin sebanyak 29 mg kemudian dimasukkan dalam
botol, yang telah dikalibirasa
d. Kemudian disuspensikan dengan Na.CMC hingga batas tanda
lalu dihomogenkan lalu beri label suspense antalgin.
3. Pembuatan suspensi paracetamol
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Dikalibirasi botol 100 ml
c. Ditimbang paracetamol sebanyak 230,1 mg

kemudian

dimasukkan dalam botol, yang telah dikalibirasa


d. Kemudian disuspensikan dengan Na.CMC hingga batas tanda
lalu dihomogenkan lalu beri label suspense paracetamol
4. Pembuatan suspensi asetosal
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Dikalibirasi botol 100 ml
c. Ditimbang asetosal sebanyak 92 mg kemudian dimasukkan
dalam botol, yang telah dikalibirasa
d. Kemudian disuspensikan dengan Na.CMC hingga batas tanda
lalu dihomogenkan lalu beri label suspense asetosal
5. Cara kerja perlakuan pada hewan uji
a. Disiapkan alat dan bahan
b. Mencit, dipuasakan ditimbang, kemudian dikelompokan menjadi
4 kelompok
c. Diberi perlakuan terhadap hewan uji mencit
1. Untuk kelompok 1 diberi suspense obat Na.CMC 1% b/v
secara per oral dengan berat badan 21 gram, diberi suspense
obat sebanyak 0,7 ml

2. Untuk kelompok 2 diberi suspense obat Antalgin secara per


oral dengan berat badan 21 gram, diberi suspense obat
sebanyak 0,7 ml
3. Untuk kelompok 3 diberi suspense obat paracetamol secara
per oral dengan berat badan 21 gram, diberi suspense obat
sebanyak 0,7 ml
4. Untuk kelompok 4 diberi suspense obat Asetosal secara per
oral dengan berat badan 15 gram, diberi suspense obat
sebanyak 0,5 ml
d. Dihitung berapa kali pengangkatan kaki pada mencit (Mus
e.
f.
g.
h.

musculus) pada menit 5, 10, 15 dan 20


Dikumpul data dari semua kelompok
Analisis data
Dibuat kesimpulan
Ditarik kesimpulan

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil pengamatan
1. Table hasil pengamatan

N
o

Suspensi
obat

BB
mencit

Pengangkatan kaki
5
menit

10
menit

15
menit

20
menit

1 Na.CMC 1 %

21 gram

15 x

25 x

30 x

20 x

2 Asetosal

15 gram

14 x

10 x

13 x

21 x

3 Antalgin

22 gram

25 x

18 x

19 x

15 x

21 gram

21 x

13 x

10 x

30 x

Paracetamo
l

B. Pembahasan
Analgetik atau obat pebghalang nyeri adalah zat-zat yang
mengurangi

atau

menghalangi

rasa

nyeri

tanpa

menghilangkan

kesadaran. Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak


nyaman

berkaitan

dengan

ancaman

kerusakan

jaringan.

Nyeri

merupakan suatu perasaan subjektif pribadi dan ambang toleransi nyeri


berbeda-beda bagi setiap orang. Batas nyeri untuk suhu adalah konstan,
yakni pada suhu 44o-45

C.

Reseptor yang bekerja pada analgetik ialah reseptor PGE 2,


reseptor ini bekerja menekan fungsi saraf pusat. Pada pemberian obat
analgetik dalam percobaan, setelah diamati pada menit ke,5, 10, 15, dan
20

pengangkatan

kakinya

berbeda-beda.

Hal

ini

disebabkan

kemungkinan kerja dari reseptor PGE 2 tidak stabil. Pada reseptor PGE 2
dia menerima partikel-partikel obat yang disalurkan lewat darah,
kemudian reseptor PGE2 bekerja menghambat atau menghilangkan rasa
nyeri. Reseptor PGE 2 belum bisa bekerja jikalau partikel-partikel obat
yang masuk dalam reserptor PGE 2 membutuhkan waktu paruh yang agak
sedikit lama sehingga PGE2 dapat memberikan efek yang baik.
Pada percobaan ini digunakan hewan uji mencit (Mus musculus)
dengan diamati beberapa kali pengangkatan kaki mencit dari atas plat
panas. Dalam percobaan analgetik ini obat yang digunakan yaitu
Asetosal 100 mg, Antalgin 500 mg, Paracetamol 500 mg, serta Na.CMC
1 % b/v sebagai pembanding dari kerja obat analgetik.
Pada pengamatan yang dilakukan terhadap pengangkatan kaki
mencit dengan menggunakan obat analgetik dengan cara oral pada
menit ke-5 berbeda-beda, begitu pula menit ke-10 serta ke-15 dan ke-20.
Hal ini dikarenakan dari indikasi atau unsure-unsur yang terkandung
didalam obat atau tiap obat berbeda-beda.
Dalam percobaan ini, seharusnya kerja obat dari kakinya yang
diangkat pada interval waktu 5, 10, 15 dan 20 menit lama kelamaan
memberikan efek bahwa tidak lagi meningkat. Pengangkatan kaki ini

dikarenakan kerja daro obat analgetik berjalan baik, kerja obatnya tidak
stabil namun dalam pengangkatan tidak demikian, kerja obatnya tidak
stabil hal ini disebabkan karena lama atau lama waktu paruh yang
diamati dalam percobaan ini hanya pada menit ke-5, 10, 15 dan 20.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka hasil yang
didapat dapat disimpulkan bahwa :
1. Dengan menggunakan suspense

obat

Asetosal,

Antalgin,

Paracetamol dan Nacmc 1% b/v sebagai control negative dianggap


tidak memberikan efek kepada hewan uji mencit sebagai obat anti
nyeri. (Analgetik)
2. Suspensi obat yang paling memberika efek terhadap hewan uji
adalah Asetosal karena hewan uji mencit dapat menahan rasa nyeri
pada saat diletakkan diatas plat panas.
B. Saran
1. Untuk labolatorium
Mohon agar alat dan bahan lebih diperlengkap agar praktikum
bisa berjalan sesuai dengan yang diinginkan.
2. Untuk Asisten
Mohon agar dapat meluangkan waktunya untuk mendampingi
praktikan pada saat praktikum berjalan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2013. Mencit. (online) (http://id.wikipedia.org/wiki/mencit). Diakses
pada tanggal 14 juli
Depkes RI, 1979. Farmakope Indonesia Edisi III Depkes RI : Jakarta
Depkes RI, 2007.

Pelayanan Informasi Obat

Direktorat bina farmasi

Komunitas dan klinik : Jakarta


Gunawan, G.S. 2007. Farmakologi dan Terapi Edisi v Bagian Farmakologi
FKUI : Jakarta
Tim Redaksi. 2010 ISO Indonesia Vol 46 Penerbit PT ISFI : Jakarta
Malole. M.B.B. dan pramono, S.C.U. 1989 Penanganan Hewan Percobaan Di
Laboratorium Universitas biotekhnologi, ITB : Bandung
Mutschler T. 1991. Dinamika Oba ITB : Bandung
Neal, M.J. 2006. At a Glance Farmakologi Medis Edisi V Penerbit Erlangga :
Jakarta
Schmitz, G. 2009. Farmakologi dan Toksikologi Penerbit Buku Kedokteran
EGC : Jakarta

Tim Dosen, 2013.

Penuntun Farmakologi dan Toksikologi

I Universitas

Indonesia Timur : Makassar


Tjay, T.H. dan Rahardja, K. 2007.

Obat-Obat Penting.

Kompoitindo Gramedia : Jakarta

PT Elex Media

LAMPIRAN
A. Skema kerja
mencit (Mus musculus)
Dipuasakan
Ditimabang
Dikelompokkan
Perlakuan
Na.CMC 1 % b/v Antalgin 500 mg

Asetosal 100 mg

Paracetamol 500 mg

Diletakkan diatas plat panas pada suhu 20-50 oC


Diamati berapa kali pengangkatan kaki pada menit ke-5, 15, 15 dan 20

Analisis Data

Pembahasan
Kesimpulan
B. Perhitungan Dosis
1. Asetosal 100 mg
Berat badan standar

= 20 g

Berat bada standar


= 30 g
Factor konversi mencit = 0,0026
Dosis untuk BB standar = dosis X FK
= 100 mg X 0,0026
= 0,26 mg / 20 g BB / 1 ml
Dosis untuk BB 30
= 30 g
X 0,26 mg
20 g
= 0,39 mg / 30 g BB / 1 ml
= 0,00039 g
Untuk sediaan % b/v
= 100 ml X 1 ml X 0,00039
1 ml
= 0,039 %
Berat 20 tab
Berat rata-rata
Berat rata-rata

= 14,32 gram
= 0,716 gram (716 mg)
= berat rata-rata X berat serbuk yang
Berat etiket
yang dibutuhkan
= 716 mg X 0.39 mg
100 mg
= 2,79 mg

untuk sediaan 100 ml

= 100 ml X 2,79 mg
1 ml
= 279 mg = 0,279 gram
Jadi, ditimbang serbuk efdrin HCL sebanyak 0,279 gram, lalu
disuspesikan dengan NA. CMC sebanyak 100 ml
2. Paracetamol 500 mg
Berat badan standar
Berat bada standar
Factor konversi mencit
Dosis untuk BB standar
Dosis untuk BB 30

Untuk sediaan % b/v

=
=
=
=
=
=
=

20 g
30 g
0,0026
dosis X FK
500 mg X 0,0026
1,3 mg / 20 g BB / 1 ml
30 g
X 1,3 mg
20 g
= 1,95 mg / 30 g BB / 1 ml
= 1,00095 g
= 100 ml X 1 ml X 0,00095
1 ml

= 0,095 %
Berat 20 tab
Berat rata-rata
Berat rata-rata

= 0,59 gram
= 0,0295 gram (29,5 mg)
= berat rata-rata X berat serbuk yang
Berat etiket
yang dibutuhkan
= 29,5 mg X 1,95 mg
500 mg
= 0, 11 mg

untuk sediaan 100 ml

= 100 ml X 0,11 mg
1 ml
= 11 mg = 0,011 gram
Jadi, ditimbang serbuk efdrin HCL sebanyak 0,011 gram, lalu
disuspesikan dengan NA. CMC sebanyak 100 ml

C. perhitungan volume pemerian


1. Na. CMC 1 % b/v
Berat badan hewan

= 21 gram

Berat badan maksimal

= 30 gram

Volume pemberian secara oral = 1 ml


VP

= BB mencit

X 1 ml

BB maksimal
= 21 gram

X 1 ml

30 gram
= 0,7 ml
2. antalgin
Berat badan hewan

= 22 gram

Berat badan maksimal

= 30 gram

Volume pemberian secara oral = 1 ml


VP

= BB mencit

X 1 ml

BB maksimal
= 22 gram
30 gram
= 0,73 ml

3. asetosal
Berat badan hewan

= 15 gram

Berat badan maksimal

= 30 gram

Volume pemberian secara oral = 1 ml

X 1 ml

VP

= BB mencit

X 1 ml

BB maksimal
= 15 gram

X 1 ml

30 gram
= 0,5 ml
4. paracetamol
Berat badan hewan

= 21 gram

Berat badan maksimal

= 30 gram

Volume pemberian secara oral = 1 ml


VP

= BB mencit

X 1 ml

BB maksimal
= 21 gram

X 1 ml

30 gram
= 0,7 ml

D. Foto Perlakuan
Pemberian obat secara Per oral
Spoit Oral 1 ml
Mencit (Mus musculus)

Pengamatan di atas RRA


H.

Mencit (Mus musculus)


Plat panas