Anda di halaman 1dari 30

Pengaruh Metabolisme Lemak, Hormon, Persarafan Otonom

terhadap Sekresi Cairan dan Garam Empedu

Kelompok B6
Defita 102010290
James 102011016
Anita A. S 102011064
Pulela D.L 102011150
Richard K 102011190
Claudia Z. P 102011273
Olivia C.K 102011370
Faruq F 102011401

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
JAKARTA
2012

Pendahuluan

Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah
sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya menjadi
zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian
makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh. Makanan
harus dicerna dan diuraikan menjadi molekul-molekul kecil untuk diserap dari saluran
pencernaan ke dalam system sirkulasi dan di distribusikan ke sel-sel. Traktus digestivus
terdiri dari mulut, tenggorokan (pharynx), larynx, gaster, usus halus, usus besar, rektum dan
anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ tambahan yang terletak diluar saluran
pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.

Skenario 2 : seorang perempuan berusia 30 tahun, datang ke polklinik mengeluh mual,


kembung, sembelit, dan buang air besarnya berwarna putih, seperti dempul kayu. Dokter
mendiagnosa pasien itu ada gangguan pada metabolisme empedunya.

A. ALAT ALAT INTRA ABDOMEN


Alat alat intra abdomen terbagi dua oleh mesocolon transversum menjadi :
1. Alat- alat supra mesocolica adalah alat-alat yang terletak antara diaphragmadan mesocolon
transversum, yang terdiri dari : gaster, duodenum, pancreas,hepar, vesica fellea dan lien.
2. Alat- alat intra mesocolica adalah alat- alat yang terletak dibawah mesocolontransversum
atau alat-alat yang terletak antara mesocolon transversum dan linea terminalis pada panggul,
yaitu : intestinum tenuae ( usus halus ) danintestinum crassum ( usus besar ).1

Strukrur makroskopik, vaskularisasi, inervasi, dan fungsi


1. Gaster (lambung)
Bentuk umumnya adalah bentuk-J dengan pars pylorica sedikit naik keatas kepylorus
tertutup oleh peritonium, kecuali pada lintasan pembuluh darah sepanjang curvatura gastrica
dan pada daerah kecil disebalah dorsal ostium cardiacum. Gaster terdiri dari 2 muara yaitu
cardia merupakan muara oesophagus ke gaster dan pylorus gaster ke duodenum, Mempunyai
2

2 tepi yaitu kurvactura minor dan cuvactura major, mempunyai 2 permukaan facies anterior
dan posterior. Mempunyai dua lekukan incisura cardiaca dan angularis. Pada permukaan
ventral gaster bersentuhan dengan diaphragma, lobus hapatis sinister dan dinding abdomen
ventral. 1
Pendarahan :
Arteri
-

A. Gastrica sinistra : cabang a. Coeliaca beranastomose dengan a. Gastrica dextra

dicurvactura minor dan a. Oesophagus


A. Dastricae braves : cabang a. Lienale difundus ventriculi mempendarahi fundus

venticuli
A. Gastroepiploica

sinistra

cabang A.lienale

bernastomoses

dengan A.

Gastroepoploica dextra dicurvactura major, mempendarahi curvactura major dan


omentum majus.
Vena
-

Darah dari v. Gastrica dextra dan sinistra dialirkan ke dalam v. Porta


Darah dari v. Gastrica brevis, v. Gastroepiploica sinistra dialirkan ke dalam v.l lienalis
yang bergabung dengan v. Mesenterica superior menuju v. Porta.

Persarapan
-

Parasimpatis berasal dari nervi spinalis T6-T9 melalui plexus coeliacus dan
mendistribusikan melalui anyaman seraf disekitar a. Gastrica dan a. Gastroomentalis.1

Gaster melakukan tiga fungsi utama yaitu:


-

Fungsi terpenting dari lambung adalah menyimpan makanan yang masuk sampai
makanan dapat disalurkan ke usus halus (intestinum tenue) dengan kecepatan yang
sesuai untuk pencernaan dan penyerapan yang optimal. Karena intestinum tenue
adalah tempat utama pencernaan dan penyerapan, maka gaster perlu menyimpan
makanan dan menyalurkannya secara mencicil ke duodenum dengan kecepatan yang

tidak melebihi kapasitas intestinum tenue.


Gaster mengeluarkan asam hidroklorida (HCl) dan enzim yang memulai pencernaan

protein.
Melalui gerakan mencampur gaster, makanan yang tertelan dihaluskan dan dicampur
dengan sekresi lambung untuk menghasilkan campuran cairan kental yang dikenal
3

sebagai kimus. Isi gaster harus diubah menjadi kimus sebelum dapat dialirkan ke
duodenum.1

Gambar 1. Anatomi gaster

2. Hepar (hati)
Hepar merupakan kelenjar yang terbesar dalam tubuh manusia. Pada vertebra rendah
gambaran strukturnya memang benar-benar sebagai kelenjar. Pada manusia dan juga pada
vertebra tinggi sudah berubah strukturnya sebagai susunan sel-sel dalam lempeng-lempeng.
Hepar pada manusia terletak pada bagian atas cavum abdominis, di bawah diafragma, di
kedua sisi kuadran atas, yang sebagian besar terdapat pada sebelah kanan. Permukaan hepar
sebagian ditutupi peritoneum yang merupakan Capsula Glissoni, permukaan bawah tidak rata
dan memperlihatkan lekukan, fisura transversus. Permukaannya dilintasi berbagai pembuluh
yang masuk-keluar hati. Fisura longitudinal memisahkan belahan kanan dan kiri di
permukaan bawah, sedangkan ligamen falsiformis melakukan hal yang sama di permukaan
atas hati.2
Permukaan atas hepar yang cembung melengkung di bawah kubah diaphragm. Facies
visceralis, atau posteroinferior, membentuk catatan visera yang letaknya berdekatan sehingga
bentuknya menjadi tidak beraturan. Permukaan ini berhubungan dengan pars abdominalis
oesophagus, gaster, duodenum, flexura coli dextra, rend extra, dan glandula suprarenalis
dextra, serta vesica fellea.2
Secara anatomis hepar terdiri dari lobus kanan yang besar dan lobus kiri yang lebih
kecil. Keduanya dipisahkan di anterosuperior oleh ligamentum falsiforme dan di posteriinferior oleh fisura untuk ligamentum venosum dan ligamentum teres. Pada klarifikasi
anatomis, lobus kanan terdiri atas lobur kaudatus dan kuadratus. Akan tetapi, secara
fungsional lobus kaudatus dan sebagian besar lobus kuadratus merupakan bagian dari lobus
4

kiri karena mendapat darah dari arteri hepatika sinistra dan aliran empedunya menuju duktus
hepatikus sinistra. Oleh karenanya, klasifikasi fungsional hepar menyatakan bahwa batas
antara lobus kanan dan kiri terletak pada bidang vertical yang berjalan ke posterior dari
kandung empedu menuju vena cava inferior.2
Pendarahan :
arteri :
-

Hepatica communis, a. Hepatica propia, a. Hepaticadextra dan sinistra.

Pembuluh balik :
vena
-

menampung darah balik dari alat-alat tractusgastrointestinal melalui v. Porta. V. Porta


merupakan bagian dari pembuluhbalik sistema portal yang mengumpulkan darah dari
alat-alatgastrointestinal untuk dialirkan ke hepar.

Persarafan
-

Saraf simpatis dan parasimpatis membentuk pleksus coeliacus. Truncus vagalis


anterior mempercabangkan banyak tami hepatici yang berjalan langsung ke hepar.

Fungsi:
-

Peran hepar dalam sistem pencernaan adalah sekresi garam empedu, yang membantu
pencernaan lemak dan penyerapan lemak.2

Gambar 2. Anatomi hepar

3. Kandung Empedu (Vesica Fellea)


Vesica fellea adalah sebuah kantong berbentuk buah pir yang terletak pada permukaan
bawah (facies visceralis) hepar.3
Untuk mempermudah deskripsinya, vesica fellea dibagi menjadi fundus, corpus, dan
collum. Fundus fesica fellea berbentuk bulat dan biasanya menonjol dibawh margo inferior
hepar, penonjolan ini merupakan tempat fundus bersentuhan dengan dinding anterior
abdomen setinggi cartilage costalis IX dextra. Corpus vesicae fellea terletak dan berhubungan
dengan facies visceralis hepar dan arahnya ke atas, belakang, dan kiri. Collum vesicae biliaris
melanjutkan diri sebagai duktus cysticus, yang berbelok ke dalam omentum minus dan
bergabung dengan sisi kanan duktus hepaticus communis untuk membentuk diktus
choledochus.

Peritoneum meliputi seluruh bagian fundus vesica fellea dan menghubungkan corpus
dan collum vesica fellea dengan facies visceralis hepar.3
Pendarahan:
A. cysticus yang biasanya, namun tidak selalu, merupakan

suatu cabang dari arteri hepatica dextra, dan cabang-cabang kecil


arteriosus hepatica yang melalui fossa dimana terletak kandung empedu.
Arteri cysticus merupakan sumber pasokan darah yang paling signifikan.

Persarafan :
-

Saraf simpatis dan parasimpatis membentuk pleksus coeliacus.


Vesica fellea berkontraksi sebagai respons terhadap hormone

kolesistokinin yang dihasilkan oleh tunika mukosa duodenum karena


masuknya makanan berlemak dari gaster.
Fungsi:
-

fungsi utama kandung empedu adalah untuk mengkonsentrasikan dan menyimpan


empedu yang diproduksi oleh hati.

Gambar 3. Anatomi vesika fellea

4. Pangkreas.
Pankreas merupakan struktur berlobus yang memiliki fungsi eksokrin dan endokrin.
Kelenjar eksokrin mengeluarkan cairan pankreas menuju dukus pankreatikus, dan akhirnya
ke duodenum. Sekresi ini penting untuk pencernaan dan absorpsi protein, lemak, dan
karbohidrat. Endokrin pankreas bertanggung jawab untuk produksi serta sekresi glukagon
dan insulin, yang terjadi dalam sel-sel khusus di pulau Langerhans.4
-

Pankreas memiliki: kaput, kolum, korpus, dan kauda. Pankreas merupakan organ
retroperitoneal yang terletak kira-kira sepanjang L1. Kaput terikat di lateral oleh

duodenum yang melengkung dan kauda memanjang ke hilus lienpada ligamentum


lienorenale.

Perdarahan:
-

Pendarahan pancreas berasal dari aa. pancreaticoduodenalis.2 Sampai 10 cabang aa.


lienalis

mengantar

darah

kepada

corpus

dan

cauda

pancreatis.

Aa.

pancreaticoduodenalis anterior et posterior (cabang aa. gastroduodenalis), dan aa.


pancreaticoduodenalis inferior ramus anterior dan posterior (cabang a. mesenterica
superior), mengantar darah ke caput pancreatis. Vena-vena pancreas menyalurkan
darah ke v. porta hepatis, v. lienalis, dan v. mesenterica superior, tetapi yang lebih
banyak ke v. lienalis.

Gambar 4. Anatomi pankreas

5. Usus kecil (Intestinum tenue)


Usus kecil memiliki panjang6-8 meter dan terdiri dari 2/3 bagian jejunum dan 1/3
bagian ileum. Intestinum tenue terletak intraperitoneal dan berkelok-kelok. Jejunum mengisi
rongga perut kiri atas sedangkan ileum mengisi rongga perut kanan bawah. Besarnya jejunum
kearah ileum makin mengecil. Intestinum tenue berhubungan dengan dinding belakang perut
melalui lipatan peritoneum yang di sebut mesostenium, mulai dari flexura duodenojejunalis
setinggi vertebra L2 berjalan kearah kanan miring ke bawah , menyilangi garis tengah
setinggi vertebra L3 di depan pars inferior duodeni dab V.cava inferior , berakhir ke bawah
8

pada fossa iliaca dextra di depan articulation sacroiliaca. Fungsi usus halus ialah untuk
mengakhiri proses pencernaan makanan yang di mulai dimulut dan dilambung. Proses ini
diselesaikan oleh enzim usus dan enzim pankreas serta di bantu empedu dalam hati.4
Pendarahan:
Arteri:
-

Aa.jejunales et ilei : Arteri ini merupakan cabang dari A.mesenterica superior yang
saling beranastomosis dan memberikan cabang-cabang lurus ( vasa Rectae) dan
cabang lengkung (arcade). Arteri ini berjumlah 15-18 buah, dimana pada jejunum
arcadenya setingkat dan vasa rectanya panjang, sedangkan pasa ileum arcadenya
bertingkat dan vasa rectanya pendek.

Vena :
-

Darah dari Vv. Jejunales et ilei akan di alirkan ke dalam v.mesenterica superior.
V. mesentrica superior terletak depan a.mesenterica superior di dalam radix mesenterii
dan berakhir di belakang collum pancreatic bersama-sama dengan

Struktur mikroskopik
1. GASTER.
Pada lambung yang kosong dan berkerut, mukosa dan submukosa mengadakan
lipatan-lipatan memanjang, atau ruga, yang akan menghilang bila diregangkan. Otot lambung
yang tebal berfungsi untuk mengaduk dan menggerus bahan makanan didalamnya serta
mencampur secara sempurna dengan getah sekret pencernaan yang dikeluarkan oleh
lambung.5
Dalam keadaan hidup mukosa lambung berwarna pucat, kemerah-merahan dan
dibatasi epitel selapis kolumnar. Mukosa lambung tebal karena adanya massa kelenjar
lambung, yang bermuara ke permukaan melalui sumur-sumur atau foveolae. Beberapa
kelenjar bermuara ke dalam satu sumur. Sumur-sumur ini biasanya berbentuk tabung tetapi
juga berbentuk celah-celah sempit.

Berdasarkan perbedaan-perbedaan pada kelenjar dan sumur, dapat dibedakan tiga


zona :
1. Kelenjar kardia.
Terletak pada daerah sempit, berbentuk cincin mengelilingi kardia. Sumur-sumur di
daerah ini panjangnya (dari permukaan) sepertiga sampai seperempat tebal mukosadan sisa
mukosa diisi oleh kelenjar tubulosa simpleks atau bercabang. Sel-sel yang menyusun kelenjar
terutama terdiri atas sel-sel penghasil mukus dan mirip dengan sel-sel kardia esofagus tetapi
juga terdapat sedikit sel parietal penghasil asam dan beberapa sel enteroendokrin. Fungsi
kelenjar ini belum diketahui, tetapi mungkin dapat menghasilkan losozom.5
2. Kelenjar lambung.
Kelenjar lambung menempati daerah terbesar dalam lambung dan sebgaian besar
enzim dan asam yang disekresikan oleh mukosa lambung dihasilkan olehnya. Pada daerah ini
sumur-sumurnya relatif pendek, menempati kuranng lebih seperempat tebal mukosa
sedangkan kelenjarnya tubulosa simpleks, bercabang, panjang-panjang dan lurus-lurus. Epitel
kelenjar tersusun oleh jenis sel yang berbeda menskresikan asam, enzim-enzim, mukus dan
hormon-hormon, yaitu :
- Sel zimogen ( chief cell )
Jenis sel ini terletak di dasar kelenjar lambung, dan menunjukan ciri-ciri sel yang
menskresikan protein (zimogen). Sel-sel meluas mulai dari dari lamina basal
kelenjar lambung sampai ke lumen, dan berbentuk piramid pada potongan
melintang. Intinya bulat terletak di bagian basal sel. Sitoplasma bagian basal
basofilik berisi retikulum granular dan mitokondria. Sel zimogen mengeluarkan
pepsinogen, yang dalam suasana asam lambung, diubah menjadi enzim pepsin
aktifm, dan berfungsi menghidrolisis protein menjadi peptida lebih kecil.
-

Sel parietal.
Sel parietal atau sel oksintik (berarti membentuk asam) tersebar satu-satu dalam
kelompokan kecil di antara jenis sel lainnya mulai dari ismus sampai dasar kelenjar
lambung, tetapi paling banyak didaerah leher dan ismus. Ciri sel parietal mencakup
sel besar berbentuk bulat atau piramid dengan sitoplasma asidofilik atau pucat, dan
tampak menonjol ke dalam lamina propria inti berbentuk bulat dan terletak di
tengah, biasanya dengan aparat golgi di bawah atau di sampingnya. Sitoplasma
mengandung banyak mitokondria dengan krista yang mencolok. Sekresi asam
hidroklorida terjadi pada permukaan membran yang luas ini. sel parietal juga
mensekresikan faktor intrinsik, suatu glikoprotein yang terikat dengan vitamin B12,

10

dan membantu absorpsi vitamin ini dalam usus halus. Vitamin B12 diperlukan untuk
pembentukan sel darah merah, kekurangannya menyebabkan anemia pemistosa.

Sel mukus leher


Sel-sel ini terletak di daerah leher kelenjar lambung, dalam kelompok kecil atau satusatu. Bentuknya cenderung tidak teratur seakan-akan terdesak oleh sel-sel di
sekitarnya (terutama sel parietal), biasanya mempunyai dasar sepit dan puncak
melebar. Intinya terletak di basal, sitoplasma basal basofilik, dengan retikulum
granular cukup mencolok, dan aparat golgi yang berkembang baik terletak di atas

inti.
Sel enteroendokrin
Pada umumnya sel-selnya kecil berbenuk piramid dengan sitoplasma jernih tak
berwarna. Kebanyakan sel dapat di warnai dengan kalium bikromat dan karenanya
disebut sel enterokromafin. 5

Gamabar 5. Histologi lambung

2. HEPAR.
pada sajian histology biasanya berbentuk polygonal. Sisi bidang ini merupakan batas
lobules yang dibentuk oleh jaringan ikat longgar (jaringan ikat interlobular). Perhatikan vena
sentralis hepatis, biasanya terletak di tengah lobules. Diluar vena sentralis terdapat deretan sel
hati yang tersusun radier mengarah ke jaringan interlobular. Di antara deretan sel hati tersebut
terdapat sinusoid hati yang nantinya bermuara ke dalam vena sentralis. Muaranya tidak selalu
terlihat jelas, karena tidak selalu terpotong. 5

11

Dinding sinusoid berupa selapis sel endotel yang terlihat melekat pada deretan sel
hati. Sel endotel sinus ini berbentuk gepeng dengan inti yang gepeng juga dan mempunyai
kromatin padat. sitoplasma bercabang-cabang dan menempel pada dinging sinusoid di
seberangnya. Dalam sitoplasmanya mungkin dapat dilihat benda-benda asing yang telah
difagosiot, sel ini disebut sel Kupffer. Tanpa adanya benda asing ini sulit untuk memastikan
bahwa yang terlihat itu benar-benar sel Kupffer.
Saluran Herring merupakan saluran empedu atau duktus biliaris intralobuluaris.
Letaknya di tepi lobules, dindingnya sebagian dibatasi oleh sel hati dan sebagian lagi oleh
epitel selapis kubis. Saluran ini pendek sehingga sering sukar dicari.5

Gambar 6. Histologi hepar

3. VESIKA VELEA (KANDUNG EMPEDU).


Tunika mukosa organ ini dilapisi epitel selapis torak yang biasanya tidak mempunyai
sel goblet. Epitel bersama lamina propria membentuk lipatan mirip vilus intestinalis. Di
dalam lamina propria terdapat sejumlah bangunan bulat atau lonjong yang dilapisi epitel yang
sama dengan epitel mukosa. Ini adalah potongan lipatan mukosa dan disebut sinus
Rokitansky-Aschoff. Dinding vesika velea tidak mempunyai tunika muskularis mukosa.5
Tunika muskularisnya terdiri ats berkas-berkas otot polos yang tidak teratur seperti
otot polos pada dinding usus.
Tunika serosa/adventisia terdiri atas jaringan ikat longgar. Pada daerah yang
berhadapan dengan jaringan hati kadnag-kadang dapat dijumpai sisa saluran keluar empedu
yang rudimenter, disebut duktus aberans Luschka.5

12

4. PANKERAS.
Sepintas kelenjari ini mirip kelenjar parotis. Kelenjar pankreas merupakan kelenjar
ganda, terdiri atas kelenjar eksokrin yang terpulas lebih gelap dan bagian endokrin yang lebih
pucat.6
Bagian eksokrin kelenjar pankreas mirip dengan kelenjar parotis karena pars
terminalisnya berupa asinus. Dalam asinus sering dapat dijumpai sel sentroasinar yang
membatasi lumen asinus. Sel ini merupakan awal dinding duktus interlakaris yaitu saluran
keluar kelenjar yang terkecil. Saluran ini pada awalnya, dindingnya berupa epitel selapis
kubis atau selapis kubis rendah. Duktus sekretorius (intralobular)lebih sedikit jumlahnya
daripada yang terdapat dalam kelenjar parotis. Adanya sel sentroasinar dan sedikitnya duktus
sekretorius pada kelenjar pancreas dapat digunakan untuk membedakan dari kelenjar parotis.
Bagian endokrein disebut juga pulau Langerhans, terdiri atas kelompokan sel yang
terpulas lebih pucat daripada asinus di sekitarnya (bagian eksokrin). Sel-seli pulau
Langerhans juga lebih kecil daripada asinus. Pada umumnbya sel kelihatan bulat dan dinding
selnya tidak mudah dilihat. Di antara sel-sel itu terdapat kapiler darah. Kelompokan sel ini
pun tidak mempunyai simpai jaringan ikat yang jelas. 6

Gambar 7. Histologi pankreas

13

5. DUODENUM.
Tunika mukosa diliputi epitel selapis torak yang mempunyai mikrovil (brush borders).
Di antara sel epitel ada sel goblet yang jumlahnya di sini belum begitu banyak. Tunika
mukosa membentuk vilus intestinalis yang gemuk-gemuk. Lamina propira terdapat di bawah
epitel vilus intestinalis maupun di sekitar kriptus Lieberkuhn. Di dasar kriptus dapat
ditemukan sel Paneth, suatu sel berbentuk kerucut dengan puncaknya menghadap lumen. Di
dalam sitoplasmanya terdapat granula kasar berwarna merah. Tunika muskularis mukosa
tidak ikut membentuk vilus intestinal. Lapisan ini sering terlihat terpenggal-penggal karena
ditembusi perluasan massa kelenjar Brunner.6
Tunika submukosa dipenuhi kelenjar Brunner. Tunika mukosa dan submukosa
bersama-sama membentuk plika sirkularis Kerckringi. Artinya, pada stiap plika sirkularis
terdapat banyak vilus intestinalis. Pleksus submukosus Meissneri juga dapat ditemukan di
sini.
Tunika muskularis sirkularis dan longitudinalis, diantaranya terdapat pleksus
mienterikus Auerbachi.
Tunika adventisia berupa jaringan ikat jarang.
Tunika mukosa. Pada pylorus, epitelnya selapis torak dan pada duodenum epitelnya
juga selapis torak tetapi sudah mulai terdapat sel goblet di antara sel-sel epitelnya. Pada
pylorus terdapat foveola gastrika, sedangkan pada duodenum terdapat vilus intestinali.
Pada pylorus terdapat kelenjar pylorus di dalam lamina propria, sedangkan pada
duodenum terdapat kriptus Lieberkuhn, berupa kelenjar tubulosa simpleks. Dadang pada
lamina propria tampak nodulus limfatikus.
Tunika submukosa. Pada pylorus tidak terdapat kelenjar, sedangkan di duodenum
dipenuhi kelenjar Brunner yang merupakan kelenjar tubulosa bercabang dan bergelung dan
bersifat mukosa.
Tunika muskularis. Pada pylorus, tunika muskularis sirkularis tebal,sedangkan di
duodenum biasa. Tunika muskularis longitudinalis gambarannya sama padakeduannya.
Tunika serosa/adventisia. Sama seperti lambung.6

14

Gambar 8. Histologi duodenum

6. JEJUNUM.
Tunika mukosa jejunum gambarannya mirip duodenum tetapi vilus intestinalisnya
lebih langsing dan sel gobletnya lebih banyak. Sel paneth lebih mudah dikenali. Tunika
submukosa di sini tidak mengandung kelenjar. Hanya terdiri atas jaringan ikat jarang dengan
pleksus Meissneri di dalamnya. Lapisan ini juga ikut membentuk plika sirkularis Kerckringi.
Tunika muskularis susunannya sama seperti duodenum. Tunika serosa berupa jaringan ikat
jarang.6

Gambar 9. Histologi Jejenum

15

7. ILEUM.
Tunika mukosa mirip dengan jejunum, tetapi sel goblet jauh lebih banyak. Di dalam
lamina propria terdapat kelompokan nodulus limfatikus yang membentuk bangunan khusus
disebut plaque Peyeri. Kelompokan nodulus limfatikus ini sering terlihat meluas ke dalam
tunika submukosa sehingga sering menjadikan tunika muskularis mukosa terpenggalpenggal.6
Tunika submukosa terdiri atas jaringan ikat jarang dengan pleksus Meissneri di
dalamnya. Di sini juga tidak terdapat kelenjar. Plika sirkularis Kerckringi tampak lebih
pendek disbanding yang terdapat pada duodenum maupun jejunum. Tunika muskularis,
gambarannya sama seperti duodenum dan jejunum. Tunika serosa juga terdiri atas jaringan
ikat jarang.6

Gambar 10. Histologi ileum

B. Kolesterol
Kolesterol merupakan sebuah bagian lipid plasma utama yang ada di seluruh tubuh.
Kolesterol ini diproduksi terutama di hati dan usus. Kolesterol dan trigliserida diabsorbsi dari
lemak makanan selain disintesis dari hati. Keduanya tidak larut dalam air, sehingga
ditransport dalam plasma sebagai partikel lipoprotein larut air, dimana tetasan lemak berupa
ester kolesterol tak larit dan trigliserida dikelilingi oleh satu atau lebih selubung substansi
yang lebih polar seperti fosfolipid, kolesterol bebaas, dan protein spesifik yang disebut
apoprotein. Selain kompleks lipoprotein penstabil ini, apopreotin bekerja sebagai kofaktor
enzim dan berinteraksi dengan reseptor permukaan sel.7
Kepadatan lipoprotein menurun dengan meningkatnya kandungan trigliserida.
Lipoprotein densitas rendah adlah pembawa kolesterol utama dalam plasma. Lipoprotein ini
mentransport kolesterol ke sel-sel perifer untuk sintesis membran dan produksi hormon, dan
16

ke hati untuk produksi asam empedu. Lipoprotein densitas tinggi membawa kembali
kolesterol dari jaringan perifer ke hati untuk disekresi.7
Dalam mukosa usus, trigliserida diselubungi kolesterol, lipoprotein dan fosfolipid
membentuk kilomokron yang disekresi kelenjar getah bening mesenterika. Kilomikron dalam
sirkulasi secara bertahap mengalami penurunan kadar trigliserida akibat kerja enzim yang
terdapat dalam endotel vaskular otot dan lemak. Sisa-sisa kilomikron dengan trigliserida yang
rendah diambil oleh hati. Dalam keadaan normal kilomikron tidak ada lagi setelah puasa 10
jam. Apopoprotein CII dalam kilomikron mengaktifkan lipoprotein lipase, sedangkan
apolipoprotein E menjadi mediator ambilan sisa-sisa kilomikron di hati.7
Kolesterol disintesis dalam hati dari asetil koenzim A. Enzim 3-hidroksi-3 metilglutaril koenzim A reduktase mengkatalis tahap awal dalam sintesis kolesterol. Trigliserida
dibentuk melalui ikatan 3 asam lemak dengan gliserol. Lipoprotein densitas sangat rendah
(VLDL) yang kaya trigliserida disintesis dalam hati dan menurunkan kadar trigliserida dari
sirkulasi darah untuk membentuk lipoprotein densitas menengah (IDL). idL memiliki paruh
singkat dalam sirkulasi. IDL ini bisa diambil oleh hati dan mengalami penurunan kadar
trigliserida lebih lanjut untuk membentuk LDL.7
LDL bisa mengantarkan kolesterol ke jaringan, sebagian melalui interaksi dengan
reseptor LDL di permukaan sel. Lipoprotein mirip dengan LDL. Namun mengandung
apopreotein A, yang secara struktural mirip dengan plasminogen. Selain merupakan sumber
kolesterol, lipoptrotein A mungkin juga turut berperan dalam usus dan hati, dan memiliki
kandungan apoprotein yang relatif tinggi. HDL mendapat kolesterol dari lipoprotein lain dan
sel-sel lain. Oleh karenanya LDL adalah bentuk kolesterol utama dalam darah dan VLDL
adalah bentuk dari trigliserida serum saat puasa.7

Gambar11. Siklus Kilomikron4


17

Gambar 12. Pembentukan Garam Empedu4

C. Metabolisme Bilirubin
Bilirubin yang merupakan pigmen kristal berbentuk jingga ikterus yang merupakan
bentuk akhir dari pemecahan katabolisme heme melalui proses reaksi oksidasi-reduksi.
Bilirubin berasal dari katabolisme protein heme, dimana 75% berasal dari penghancuran
eritrosit dan 25% berasal dari penghancuran eritrosit yang imatur dan protein heme lainnya
seperti mioglobin, sitokrom, katalase dan peroksidase. 8
Hepar mempunyai peranan sentral dalam metabolism pigmen pigmen empedu. Proses
ini dapat dibagi menjadi tiga fase yang berbeda : ambilan hepatic, konjugasi dan ekskresi ke
dalam empedu. Diantara ketiga fase ini ekskresi tampaknya merupakan tahapan yang
membatasi kecepatan metabolism dan salah satu faktor yang paling rentan terhadap gangguan
ketika sel hepar mengalami kerusakan.9
a. Ambilan
Bilirubin tidak terkonjugasi yang terikat pada albumin akan dibawa ke dalam sel hepar
tempat kompleks tersebut berdisosiasi dan bilirubin nonpolar memasuki hepatosit melalui
difusi atau transport melintasi membrane plasma. Proses ambilan dan penyimpanan bilirubin
selanjutnya dalam hepatosit meliputi pengikatan bilirubin pada protein pengikat-anion
sitoplasmik, khususnya ligandin (glutation-S-transferase B) yang mencegah aliran bilirubin
kembali kedalam plasma.
b. Konjugasi

18

Bilirubin tidak terkonjugasi merupakan bilirubin yang tidak larut dalam air kecuali bila
jenis bilirubin terikat sebagai kompleks dengan molekul amfipatik seperti albumin. Karena
albumin tidak terdapat dalam empedu, bilirubin harus dikonversikan menjadi derivat yang
larut air sebelum disekresikan oleh sistem bilier. Proses ini terutama dilaksanakan oleh
konjugasi bilirubin pada asam glukuronat hingga terbentuk bilirubin glukuroid. Reaksi
konjugasi terjadi dalam retikulum endoplasmic hepatosit dan dikatalis oleh enzim bilirubin
glukuronosil transferase dalam reaksi dua.
c. Ekskresi
Pada keadaan yang normal, hanya bilirubin terkonjugasi yang dapat diekskresikan ke
dalam empedu. Meskipun keseluruhan proses belum dipahami dengan jelas, ekskresi
bilirubin tampaknya merupakan proses dependen-energi yang terbatas pada membrane
kanalikularis. Ekskresi merupakan tahapan yang membatasi kecepatan metabolism pigmen
ini di dalam hepar.
Fase Intestinal Metabolisme Bilirubin
Setelah disekresikan ke dalam empedum bilirubin terkonjugasi akan diangkut lewat
saluran-saluran biler ke dalam duodenum. Bilirubin terkonjugasi tidak terabsorbsi kembali
oleh mukosa usus. Jenis bilirubin ini akan diekskresikan tanpa perubahan ke dalam tinja atau
dimetabolis oleh bakteri ileum dan kolon menjadi urobilinogen yang direduksi oleh bakeri
usus, serta produk yang ada hubungannya. Urobilinogen dapat diserap kembali dari usus
halus serta kolon dan memasuki sirkulasi portal. Sebagian urobilinogen portal diambil oleh
hepar dan disekresikan kembali kedalam empedu, dan sisanya akan melintasi hepar serta
diekskresikan oleh ginjal. Zat-zat ini menyebabkan feses berwarna coklat. Sekitar 10 hingga
20% urobilinogen mengalami siklus enterohepatik, sedangkan sejumlah kecil diekskresikan
dalam urine

19

Gambar 13 Proses Metabolisme Bilirubin

D. Empedu
Cairan empedu disekresi oleh hepar ke dalam sebuah saluran empedu dan diteruskan
ke dalam duodenum. Empedu bukan suatu enzim dan tidak berperan langsung salam proses
pencernaan. Komposisi cairan empedu ini antara lain air, garam empedu, pigmen empedu,
kolesterol, lesitin, dan garam inorganik. Dari semua komposisi itu yang paling penting dalam
proses pencernaan adalah efek hidrotropiknya. Tegangan permukaan yang rendah dari lemak,
dan sebagian tanggung jawab untuk emulsifikasi lemak sebelum dicerna dan diarbsorbsi oleh
usus halus. Selain penting untuk proses absorbsi lemak, empedu juga penting untuk proses
absorbsi vitamin-vitamin yang larut dalam lemak (Vitamin A,D,E, dan K). Garam empedu
juga berfungsi untuk menetralkan asam lambung yang masukke dalam duodenum. Asam
empedu meransang produksi garam-garam empedu.10
Dalam keadaan normal, hepar dapat menyekresikan garam empedu sebanyak kurang
lebih 24 gram garam perhari atau 700-1000 mL cairan empedu perharinya. Sekitar 85%
garam empedu dan asam empedu diabsorbsi kembali dari usus, melalui aliran darah vena
porta masuk kembali ke hepar, lalu diekstresi lagi oleh hepar melalui saluran empedu ke usus.
Sehingga setiap harinya hanya sekitar 800 mg kadar empedu yang perlu disintesis.10

20

Gambar 14. Siklus Enterohepatic

Jalur Keluar Empedu dan Enzim Pankreas

Gambar 15. Saluran empedu.

Dari gambar di atas ada sebuah saluran yang menghubungkan hati dengan duodenum,
saluran ini dinamakan duktus biliaris. Saluran ini pada akhirnya akan bertemu dengan saluran
dari pankreas sebelum masuk kedalam duodenum pars descendens. Terdapat sfingter oddie
yang menutup saat awal makan yang bertujuan untuk mengalihkan cairan empedu ke kantung
empedu untuk disimpan.

21

E. Metabolisme Lemak
Lemak merupakan molekul besar yang sulit dicerna. Pencernaan lemak ini
membutuhkan sebuah enzim yaitu lipase yang disekresi oleh pankreas. Metabolisme lemak
ini memiliki beberapa tahap dikarena partikel lemak yang sulit larut dalam air. Maka untuk
memecah lemak ini pertama-tama diperlukannya garam empedu agar dapat membuat ukuran
lemak menjadi kecil. Hal ini dapat membantu penyerapan lemak.11
Pemecahan lemak ini dimulai dari menempelnya garam-garam empedu pada lemak
sehingga membentuk misel, pembentukan misel ini bertujuan untuk mempermudah
berpindahnya bahan yang tidak larut air melainkan yang dapat larut dalam lemak seperti
asam lemak dan monoasilgliserol serta vitamin A, D, E, K.11
Misel ini menggunakan konsep detergen dimana garam empedu menggunakan
kemampuan hidrotropiknya, yaitu menempel pada bagian larut lemak dan membiarkan
bagian larut airnya berada di luar. Hal ini dapat membantu mengangkut partikel lemak ke
dalam mikrovili, dan berpindah ke dalam sel. Hasil pencernaan lemak ini tidak dapat
menembus kapiler darah sehingga mereka dibawa melalui saluran limf sebelum akhirnya
dibawa ke dalam darah lagi.11
Di dalam usus halus terdapat brush border dimana lapisan ini merpakan jembatan
antara rongga usus dengan kapiler darah, asam lemak dan monogliserida bersatu kembali
setelah melewati batasan ini dan membentuk trigliserida. Trigliserida ini sekali lagi
dibungkus oleh lapisan larut air dan membentuk kilomikron, maka kilomikron inilah yang
membawa asam lemak tersebut kedalam saluran limf.11

22

Gambar 16. Emulsi Lemak

Gambar 17. Pembetukan Misel

Perjalanan Garam Empedu


Garam empedu perlu didaur ulang melalui sebuah siklus bernama siklus entero
hepatik dimana sebagian besar garam empedu tetap direarbsorbsi ke hati dan sisanya
dibuang.
23

Gambar 18. Perjalanan garam empedu

Pengaruh Hormon pada Siklus Empedu


Kantong

empedu

menempel

di

hati,

sebagai

tempat

menampung

cairan

empedu. Empedu dihasilkan dari perombakan sel darah merah yang tua atau rusak oleh
hati. Cairan empedu dialirkan ke dalam duodenum. Pengeluaran cairan empedu dipengaruhi
oleh hormon kolesistokinin. Hormon ini dihasilkan oleh duodenum.
Getah pangkreas di sekresikan dibawah pengaruh hormone jika isi lambung yang
bersifat asam masuk ke dalam duodenum, sel-sel tertentu pada duodenum akan melepaskan
hormone sekretin dan hormone kolesitokinin kedalam darah jika hormone sekretin sampai di
pangkreas, akan merangsang produksi dan melepaskan getah pangkreas sedangkan hormone
kolesitokinin merangsang empedu untuk mengeluarkan bilus, bilus mengandung garam
empedu dan bilirubin (zat warna empedu) yang dapat mengemulsi lemak. Empedu tidak
mengandung enzim-enzim pencernaan melainkan mengandung senyawa organic seperti
garam-garam empedu, bilirubin, kolestrol asam-asam lemak dan lesitin dan senyawa
anorganik dalam bentuk ion seperti Na+, k+, Ca+, Cl-, dan HCo3- hormone kolesitokinin
dihasilkan oleh sel-sel dalam sel-sel dalam selaput lendir usus dua belas jari.

24

Kolesitokinin adalah hormone yang ditemukan tahun 1943 yang terdapat dalam
ekstrak mukosa usus halus berbeda dengan sekretin. Hormone ini merangsang sekresi
pangkreas yang mengandung banyak enzim. Hormone lain yang juga terdapat dalam mukosa
usus halus bagian atas adalah pangkreozimin, pangkriozimin tahan terhadap panas. Tidak
dapat dirusak oleh asam tetapi tidak setabil terhadap alkali. Senyawa ini dapat dipisahkan dari
sekretin dalam larutan alkhohol dengan penambahan Nacl hingga jenuh. Pangkreozim adalah
suatu protein yang dapat dalam keadaan murni.
Pengeluaran hormone ini disebabkan oleh beberapa macam zat antara lain kasein,
dekrtin maltose, laktosa dan lain-lain.apabila sekretin merangsang keluarnya cairan
pangkreas yang mengandung bikarbonat banyak dan hormone kolesitokinin merangsang
keluarnya cairan pangkreas dengan kadar enzim tinggi, maka pengkreozimin merangsang
keluarnya cairan pangkreas dengan kadar bikarbonat maupun enzim tinggi
inin adalah hormon yang ditemukan tahun 1943 yang ter dapat dalam ekstrak mukosa ususus.
Kolesistokinin adalah suatu polipeptida yang mengandung 33 asam amino disekresi dari
mukosa. Sekresi isi khususnya berasal dari adanya proteosa dan pepton yang merupakan hasil
pencernaan parsial protein dan dari lemak; akan tetapi asam juga akan menyebabkan
pengeluara kolisistokinin dalam jumlah lebih sedikit. Kolesistokinin masuk ke dalam darah
dan menuju ke pankreas tetapi sebagai ganti sekresi hidrelatik, menyebabkan sekresi enzimenzim pencernaan dalam jumlah besar yang efeknya sama seperti perangsangan vagus. Jenis
sekresi ini dinamakan sekresi ekbolik.11

F. Kolesistokinin
Ketika makanan mulai dicerana di dalam traktus gastro intestinal bagian atas kantong
empedu mulai dikosongkan, terutama sewaktu makanan berlemak mencapai duodenum
sekitar 30 menit setelah makan. Mekanisme pengosongan kantong empedu adalah kontraksi
ritmis dinding kantong empedu, tetapi pengosongan yang efektif juga membutuhkan relaksasi
yang bersamaaan dari sfingter oddie,yang menjaga pintu keluar duktus biliaris komunis ke
dalam duodenum. Sejauh ini rangsangan yang paling poten menyebabkan kontraksi kantong
empedu adalah hormon kolesistokinin. Hormon ini yang menyebabkan peningkatan sekresi
enzim penceranaan oleh sel-sel asinar pankreas.

25

Rangsangan untuk memasukan kolesistokinin kedalam darah dari mukosa duodenum


terutama adalah kehadiran makanan berlemak dalam duodenum. Selalin kolesistokinin,
kantong empedu juga di rangsang sevara kuat oleh serabut-serabut saraf yang menyekresi
asetil kolin dari sistem syaraf Vagus dan enterik usus. Keduanya adalah syaraf yang sama
yang meningkatkan motilitas dan sekresi dalam bagian lain traktus gastro intestinal bagian
atas. Kantong empedu mengosongkan simpanan empedu pekatnya kedalam duodenum
terutama sebagai respon perangsanagan kolesistokinin yang terutama di cetuskan oleh
makanan berlemak.
Saat lemak tidak tedapat dalam makanan, pegosongan kantong empedu berlangsung
buruk, tetapi bila terdapat lemak dalam jumlah yang berarti dalam makanan, normalnya
kantong empedu kosong secara menyeluruh dalam waktu sekitar 1 jam. Garam empedu,
lesitin, dan kolesterol merupakan komponen terbesar (90%) cairan empedu. Sisanya adalah
bilirubin, asam lemak, dan garam anorganik. Garam empedu adalah steroid yang dibuat oleh
hepatosit dan berasal dari kolesterol. Pengaturan produksinya dipengaruhi mekanisme umpan
balik yang dapat ditingkatkan sampai 20 kali produksi normal Kalau diperlukan.12
Selain itu persarafan simpatis dan parasimpatis (otonom) juga mempengaruhi
keluarnya empedu, jika ransangan yang diberi adalah ransangan simpatis maka empedu tidak
keluar karena sfingter oddie mengalami fase relaksasi sebaliknya jika diberi peransangan
parasimpatis maka cairan empedu dapat keluar karena sfingter oddie mengalami fase
konstriksi sama seperti respon terhadap hormon CCK.

G. Pembahasan Kasus
Pada kasus diceritakan bahwa orang tersebut mengalami mual, kembung, sembelit,
dan buang air besar berwarna dempul kayu. Untuk mempermudah pembahasan, kasus ini
akan dibahas dengan alur berikut.

26

27

Maka dapat terlihat dengan meningkatnya kolesterol dan tersumbatnya saluran


empedu maka feses dapat berwarna putih sehingga masalah lain dapat muncul karena kendala
ini. Hal ini bisa disebabkan diet yang tidak sehat seperti makan yang terlalu banyak lemak
atau tidak makan lemak sama sekali. Maka dari itu diperlukannya keseimbangan dengan apa
yang kita makan dan apa yang kita keluarkan karena kolesterol hanya bisa dikeluarkan
melalui siklus enterohepatic.

Kesimpulan
Empedu berperan penting dalam metabolisme lemak dan pewarnaan feses. Tidak
disekresikannya empedu berarti feses akan berwarna putih seperti dempul kayu. Hal ini dapat
terjadi karena tersumbatnya saluran empedu karena pengendapan kolesterol. Pengendapan
kolesterol ini terjadi karena ketidak seimbangan metabolisme lemak sehingga jumlah
kolesterol yang keluar tidak sebanding dengan yang diserap atau dihasilkan. Pengaruh

28

hormon dan saraf juga mempengaruhi terjadinya hal ini karena proses yang saling
mendukung.

Daftar Pustaka
1. Gibson J. Fisiologi dan anatomi moderen untuk perawat. edisi 2. Jakarta: EGC,
2.

2003.
Wati WW, Kindangen K, Kasim YI. Buku ajar traktus digestivus.edisi ke-2.

Jakarta: Fakultas kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, 2010.


3. Williams L. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Jakarta: EGC,
2006.h.240-8
4. Faiz O, Moffat D. At a glance anatomi. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2004.
5. Gunawijaya FA, Kartawiguna E. Penuntun praktikum kumpulan foto mikroskop
histologi. Jakarta: Universitas Trisakti, 2009.
6. Eroschenko VP. Atlas histologi di Fiore dengan korelasi fungsional. Jakarta: EGC,
2003.h.215-22.
7. Rubenstein D, Wayne D, Bradley J. Kedokteran kimia. Jakarta: Erlangga;
2007.h.191.
8. Baranano DE, Rao M, Ferris CD, Snyders SH. Biliverdin reductase : a major
physiologic cytoprotectant. USA: The Johns Hopkins University School of
Medicine; 2010: 59.
9. Harrison. Principles of internal medicine. Singapore: Mc Graw-Hill, Co; 2002:
263-4.
10. Sherwood L. Fisiologi manusia. Edisi ke-6. Jakarta: EGC; 2009.h.327-75.
11. Sloane Ethel. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: EGC; 2003.h.281-95.
12. Barrett KE, Barman SM, Boitano S, Brooks HL. Ganongs review of medical
physiology. 23rd editions. North AMerica: Mc Grwa Hills; 2010.h.509-57.

29

30