Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA

MASERASI

Disusun Oleh :
Rifqi Wafda Rozana

(112210101028)

Dessy Pradesyawati

(112210101030)

Zulviyati

(112210101038)

Yuniar Wahyu Rahmawati

(112210101042)

Nikmatur Rohmah

(112210101044)

Ratnaning Setyowati

(112210101048)

Putri Eka Maryani

(112210101050)

Sendika Widi Saputri

(112210101058)

Ichlasul Amalia Erfani

(112210101060)

Maulana Fadlil Saputra

(112210101066)

Binar Indah Marwati

(112210101068)

LABORATORIUM BIOLOGI FARMASI


FAKULTAS FARMASIUNIVERSITAS JEMBER
2013

JURNAL PRAKTIKUM FITOKIMIA


MASERASI
1. TUJUAN
Mahasiswa mengetaui cara pembuatan ekstrak nabati dengan maserasi
2. TEORI DASAR
Ekstraksi adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari
simplisia nabati atau simplisia hewai menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau
hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tesisa diperlakukan sedemikian
rupa hingga memenuhi baku yang ditetapkan
Proses ekstraksi bahan atau bahan obat alami dapat dilakukan berdasarkan teori tentang
penyarian. Penyarian merupakan peristiwa pemindahan massa. Zat aktif yang semula berada
di dalam sel, ditarik oleh cairan penyari sehingga terjadi larutan zat aktif dalam cairan penyari
tersebut
Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan cara
meredam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari akan menembus dinding sel
dan masuk kedalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dan karena
adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang diluar sel
Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang aktif
yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, stirak dan bahan sejenis
yang mudah mengembang
Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, air-etanol atau pelarut lain. Bila
cairan digunakan air maka untuk mencegah timbulnya kapang, dapat ditambahkan bahan
pengawet, yang diberikan pada awalpenyarian. Keuntungan dari dengan maserasi adalah cara
pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan
Maserasi dapat dimodifikasi menjadi beberapa metode :
a. Digesti
Adalah cara maserasi dengan menggunakan pemanasan lemah yaitu pada suhu 40-50oC. Cara
maserasi ini hanya dapat dilakukan untuk simplisia yang zat aktifnya tahan terhadap
pemanasan
b. Maserasi dengan mesin pengaduk
Penggunaan mesin pengaduk berputar terus menerus, waktu proses maserasi dapat
dipersingkat 6-24 jam
c. Remaserasi

Cairan penyari dibagi 2. Seluruh serbuk simplisia dimaserasi dengan cairan penyari
utama, sesudah diendap tuangkan dan diperas, ampas dimaserasi lagi dengan cairan penyari
kedua
Prinsip Rotavapor
Proses pemisahan ekstrak dari cairan penyarinya dengan pemanasan yang dipercepat
oleh putaran dari labu alas bulat, cairan penyari dapat menguap 5-10 C di bawah titik didih
pelarutnya disebabkan oleh karena adanya penurunan tekanan. Dengan bantuan pompa
vakum, uap larutan penyari akan menguap naik ke kondensor dan mengalami kondensasi
menjadi molekul-molekul cairan pelarut murni yang ditampung dalam labu alas bulat
penampung.
3. ALAT DAN BAHAN
Alat
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Maserator
Batang pengaduk
Pipet tetes
Corong buchner
Kertas saring
Rotavapour

Bahan
1. Simplisia daun jambu biji
2. Etanol 96%

4. CARA KERJA

110 gram serbuk kering dimasukkan dalam maserator ditambahkan


etanol 96% sebanyak 6 kali bobot serbuk
diaduk
Menyaring
ampas
dengan
corong
Maserasi
selama
5 hari
dalam
maserator
Ekstrak kental
Menguapkan
pelarut2dengan
rotavapour
Larutan
Maserat
simplisia
dengan
dalam
ampas
etanol
Maserat
yang
belum
jernih
Maserat
murni
tanpa
endapan
Diendapkan
selama
hari
Dipisahkan
dari
endapan
buchner
tertutup

HASIL PENGAMATAN
PEMBUATAN EKSTRAK DENGAN MASERASI

Hari / tanggal percobaan

: Senin, 7 Oktober 2013

Berat awal simplisia kering

: 150 gram

Volume etanol 96% yang ditambahkan

: 900 mL

Lama maserasi

: 45 jam

Berat simplisia basah

: 300 gram

Volume maserat

: 600 ml

Proses penguapan dengan rotavapour

Hari, tanggal

: Rabu, 9 Oktober 2013

Waktu

: 13.55 15.00 WIB

Suhu

: 50 0C

Kecepatan

: 90 rpm

Bobot gelas

: 118,29 gram

Bobot gelas+ekstrak

: 147,81 gram

Bobot ekstrak

: 29,52 gram

Pengadukan : Selasa, 8 Oktober 2013


PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, dilakukan pembuatan ekstrak kental daun jambu biji dengan
maserasi. Sebanyak 150 gram serbuk daun jambu dimasukkan ke dalam wadah kaca yang
dilengkapi tutup, kemudian ditambahkan etanol 96 % sebanyak 900 ml, diaduk hingga semua
serbuk simplisia terbasahi cairan penyari, kemudian ditutup dan serbuk simpisia dibiarkan
terendam selama beberapa hari. Proses perendaman ini bertujuan agar cairan penyari tersebut
bisa melarutkan zat-zat aktif yang terkandung di dalam serbuk simplisia. Selama proses
perendaman berlangsung, sambil sesekali dilakukan pengadukan dengan tujuan untuk menjamin
bahwa semua permukaan serbuk dapat kontak dengan cairan penyari, sehingga zat aktifnya dapat
terlarut dengan sempurna.
Setelah dilakukan perendaman serbuk simplisia selama kurang lebih 2 x 24 jam (2 hari),
filtrat atau menstrum yang terbentuk kemudian disaring dan dipisahkan dari endapannya
menggunakan corong yang pada bagian atasnya diletakkan kertas saring. Filtrat hasil saringan
kemudian ditampung di dalam beaker glass yang telah dikalibrasi sebelumnya. Diperoleh filtrat
sebanyak 600 ml, dengan endapan yang berupa serbuk simplisia basah seberat 300 gram. Filtrat
tersebut tentunya masih bercampur dengan cairan penyari yaitu etanol 96 %. Proses selanjutnya
adalah menguapkan cairan penyari dengan menggunakan alat rotary vacuum evaporator. Rotary
vacuum evaporator adalah instrumen yang menggunakan prinsip destilasi (pemisahan). Prinsip
utama dalam instrumen ini terletak pada penurunan tekanan pada labu alas bulat dan pemutaran
labu alas bulat dengan kecepatan tertentu bertujuan agar pelarut dapat menguap lebih cepat
dibawah titik didihnya sedangkan senyawa yang larut dalam pelarut tersebut tidak ikut menguap
namun mengendap. Instrumen ini lebih disukai, karena hasil yang diperoleh sangatlah akurat.
Bila dibandingkan dengan teknik pemisahan lainnya, misalnya menggunakan teknik pemisahan
biasa yang menggunakan metode penguapan menggunakan oven. Adanya pemanasan dibawah
titik didih pelarut, senyawa yang terkandung dalam pelarut tidak rusak oleh suhu tinggi.Dengan
bantuan pompa vakum yang mengalirkan air dingin secara kontinyu malalui kondensor, uap dari
pelarut yang mengenai dinding-dinding kondensor akan mengalami proses kondensasi, yaitu

proses yang mengalami perubahan fasa dari fasa gas ke fasa cair. Adapun demikian, proses
penguapan ini dilakukan hingga diperoleh pelarut yang sudah tidak menetes lagi pada labu alas
bulat penampung dan juga bisa dilihat dengan semakin kentalnya zat yang ada pada labu alas
bulat sampel dan terbentuk gelembung-gelembung pecah pada permukaan zatnya.Proses
penguapan cairan penyari menggunakan evaporator ini dilakukan selama kurang lebih 1 jam
pada suhu 50oC dengan kecepatan putaran labu alas bulat yaitu 90 rpm.

Hasil ekstrak yang sudah


disaring sebanyak 600ml

Hasil ekstrak yang sudah di


saring di masukkan
kedalam wadah untuk
rotavapor

Ampas perasan ekstrak


ditimbang kembali

Berat gelas yang dipakai


wadah hasil ekstras

Dilakukan proses
rotavapor

Keterangan gambar beserta fungsinya :


1. Hotplate

: mengatur suhu pada waterbath dengan temperatur yang diinginkan

(tergantung titik didih dari pelarut).


2. Waterbath
: wadah air yang dipanaskan oleh hotplate untuk labu alas bulat yang
berisi sampel.

3. Ujung rotor

: sebagai tempat labu alas bulat sampel dan labu

alas bulat pelarut

bergantung.
4. Lubang kondensor : pintu masuk dan keluar bagi air dari dan ke dalam kondensor.
5. Kondensor
: pendingin yang mempercepat proses perubahan fasa, dari fasa gas ke
fasa air.
6. Labu alas bulat

: tempat menampung sampel dan juga pelarut

Dari proses ini dihasilkan ekstrak kental seberat 29,53 gram yang kemudian ditampung di
dalam gelas penampung ekstrak dan ditutup dengan aluminium foil. Ekstrak inilah yang nantinya
akan digunakan untuk praktikum selanjutnya.