Anda di halaman 1dari 15

I.

1.1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Ahli fisiologi benih biasanya menetapkan perkecambahan sebagai suatu
kejadian yang diawali dengan imbibisi dan diakhiri ketika radikula (akar lembaga)
atau kotiledon atau hipokopotil memanjang atau muncul melewati kulit biji. Biji
dapat tetap viabel (hidup), tetapi tak dapat berkecambah atau tumbuh karena
beberapa penyebab, baik itu berasal dari luar maupun dari dalam biji itu sendiri.
Peristiwa ini kemudian kita kenal dengan istilah dormansi biji (Salisburry dan
Ross 1995).
Di dalam dormansi biji dapat disebabkan karena embrio yang belum
masak, impermeabilitas kulit biji terhadap air dan kadang-kadang terhadap
oksigen. Penyebab lain terjadinya dormansi pada biji

adalah adanya zat

penghambat perkecambahan. Cairan buah tertentu seperti jeruk mengandung zat


penghambat perkecambahan, sehingga mencegah biji buah berkecambah ketika
masih dalam tubuh (Latunra et al. 2008).
Dormansi karena adanya zat penghambat dapat dihilangkan dengan
mencuci biji dalam air, sehingga zat penghambatnya hilang. Senyawa penghambat
kimia juga sering terdapat pada biji dan sering penghambat ini harus dikeluarkan
lebih dulu sebelum perkecambahan dapat berlangsung. Penghambatan biji tidak
hanya terjadi di biji, tetapi juga di daun, akar, dan bagian tumbuhan lain
(Salisburry dan Ross 1995).
Walaupun dormansi itu sendiri tidak berlangsung konstan atau tetap, tetapi
akan terhenti sehingga pertumbuhan dapat berjalan kembali Dormansi itu sendiri
terjadi disebabkan oleh adanya zat-zat penghambat tadi seperti etilen dan asam
absisat. Zat-zat tersebut mampu membuat perkecambahan pada biji terhambat. Zat
ini terkandung dalam cairan beberapa jenis buah-buahan seperti jeruk dan tomat.
Sehingga untuk dapat lebih memahami mengenai zat penghambat pada tumbuhan
maka dilakukanlah percoban ini.
I.2. Tujuan
1.

Mengetahui pengaruh cairan daging buah terhadap perkecambahan suatu


benih

2. Mengetahui pengaruh konsentrasi cairan daging buah terhadap perkecambahan


benih

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Perkecambahan ditandai dengan munculnya kecambah, yaitu tumbuhan


kecil dan masih hidup dari persediaan makanan yang berada dalam biji. Ada
empat bagian penting pada biji yang berkecambah, yaitu batang lembaga
(kaulikulus), akar embrionik (akar lembaga) atau radikula) , Kotiledon (daun
lembaga), dan pucuk lembaga (plumula). Kotiledon merupakan cadangan mkanan
pada kecambah karena pada saat perkecambahan, tumbuhan belum bisa
melakukan fotosintesis (Ahapidin 2009).
Perkecambahan biji ada dua macam, yaitu perkecambahan epigeal dan
hypogeal (Ahapidin 2009).
a. Perkecambahan epigeal adalah tumbuhnya hipokotil yang memanjang
sehingga plumula dan kotiledon terangkat kepermukaan tanah. Kotiledon
tersebut dapat melakukan fotosisntesis selama daun belum terbentuk contoh
perkecambahan kacang hijau, bunga matahari, kedelai, kacang tanah. Dalam
proses perkecambahan ini organ pertama yang muncul dari biji yang
berkecambah adalah radikula, berikutnya ujung radikula harus menembus
permukaan tanah.Pada banyak tumbuhan dikotil dengan rangsangan oleh
cahaya, ruas batang dibawah daun lembaga (hipokotil) akan tumbuh lurus
mengangkat kotiledon dan epikotil. Dengan demikian epikotil dan kotiledon
terangkat ke atas permukaan tanah. Epikotil memunculkan helai daun
pertamanya mengembang dan menjadi hijau, serta mulai membuat makanan
melalui fotosintesis. kotiledon akan layu dan rontok dari benih karena
cadangan makanannya telah habis oleh embrio yang berkecambah.
b. Perkecambahn hipogeal adalah tumbuhnya epikotil yang memanjang sehingga
plumula keluar menembus kulit biji dan muncul diatas permukaan tanah,
sedangkan kotiledon tertinggal dalam tanah contoh perkecambahan kacang
kapri, kacang ercis, jagung dan rumput-rumputan.
Benih dikatakan dormansi bila benih tersebut sebenarnya hidup tetapi
berkecambah walaupun diletakkan pada keadaan yang secara umum dianggap
telah memenuhi syarat bagi suatu perkecambahan. Dormansi merupakan
terhambatnya proses metabolisme dalam biji. Dormansi dapat berlangsung dalam
waktu yang sangat bervariasi (harian-tahunan) tergantung oleh jenis tanaman dan
pengaruh lingkungannya. Dormansi pada benih dapat disebabkan oleh keadaan
fisik dari kulit, keadaan fisiologis dari embrio, atau kombinasi dari kedua keadaan

tersebut. Namun demikian, dormansi bukan berarti benih tersebut mati atau tidak
dapat tumbuh kembali, disini hanya terjadi masa istirahat dari pada benih itu
sendiri. Masa ini dapat dipecahkan dengan berbagai cara, seperti cara mekanis
atau kimiawi. Cara mekanis dengan menggunakan sumber daya alat atau bahan
mekanis yang ada seperti amplas,jarum, pisau, alat penggoncang dan sebagainya.
Sedangkan cara kimiawi dengan menggunakan bahan-bahan kimia seperti asam
sulfat pekat dan HNO3pekat. Pada intinya cara-cara tersebut supaya terdapat celah
agar air dan gas udara untuk perkecambahan dapat masuk kedalam benih (Sutopo
2002).
Variasi umur benih suatu tanaman sangatlah beragam, namun juga bukan
berarti bahwa benih yang telah masak akan hidup selamanya. Seperti, kondisi
penyimpanan selalu mempengaruhi daya hidup benih. Meningkatnya kelembaban
biasanya mempercepat hilangnya daya hidup, walaupun beberapa biji dapat hidup
lebih lama dalam air. Penyimpanan dalam botol atau di udara terbuka pada suhu
sedang sampai tinggi menyebabkan biji kehilangan air dan sel akan pecah apabila
biji diberi air. Pecahnya sel melukai embrio dan melepaskan hara yang merupakan
bahan yang baik bagi pertumbuhan pathogen penyakit. Tingkat oksigen normal
umumnya mempengaruhi dan merugikan masa hidup biji. Kehilangan daya hidup
terbesar bila benih disimpan dalam udara lembab dengan suhu 35oC atau lebih
(Dwidjoseputro 1995).
Tipe dormansi:
a Dormansi fisik : yang menyebabkan pembatasan struktural terhadap
perkecambahan. Seperti kulit biji yang keras dan kedap sehingga menjadi
penghalang mekanisme terhadap masuknya air dan gas pada beberapa jenis
tanaman.
b Dormansi fisiologi : dapat disebabkan oleh beberapa mekanisme, umumnya
dapat disebabkan oleh pengatur tumbuh baik penghambat atau perangsang
tumbuh, dapat juga oleh faktor-faktor dalam seperti ketidaksamaan embrio
dan sebab-sebab fisiologi lainnya.
Faktor-faktor yang menyebabkan hilangnya dormansi pada benih sangat
bervariasi tergantung pada jenis tanaman dan tentu saja tipe dormansinya, antara
lain yaitu: karena temperatur yang sangat rendah di musim dingin, perubahan

temperatur yang silih berganti, menipisnya kulit biji, hilangnya kemampuan untuk
menghasilkan zat-zat penghambat perkecambahan, adanya kegiatan dari
mikroorganisme. Dormansi dapat dipengaruhi faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari keadaan biji itu sendiri misalnya
kulit biji yang keras sehingga menyebabkan dormansi. Faktor eksternal
perkecambahan meliputi air, suhu, kelembaban, cahaya dan adanya senyawasenyawa kimia tertentu yang berperilaku sebagai inhibitor perkecambahan.
Perlakuan skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi biji, sedangkan
skarifikasi adalah salah satu upaya perlakuan pada benih yang ditujukan untuk
mematahkan dormansi. Upaya ini dapat berupa pemberian perlakuan dengan cara
fisik, mekanis dan khemis. Larutan asam kuat seperti asam sulfat dengan
konsentrasi pekat membuat kulit biji menjadi lunak sehingga dapat dilalui air
dengan mudah (Esmaeili 2009).
Adanya zat penghambat menyebabkan dormansi lebih lama, karena biji
mengalami penghambatan tumbuh.

Sejumlah jenis

mengandung

zat-zat

penghambat dalam buah atau benih yang mencegah perkecambahan. Zat


penghambat yang paling sering dijumpai ditemukan dalam daging buah. Untuk itu
benih tersebut harus diekstrasi dan dicuci untuk menghilangkan zat-zat
penghambat.
Inhibitor adalah zat yang menghambat pertumbuhan pada tanaman, sering
didapat pada proses perkecambahan, pertumbuhan pucuk atau dalam dormansi.
Di dalam tanaman, inhibitor menyebar disetiap organ tubuh tanaman tergantung
dari jenis inhibitor itu sendiri. Menurut weaver (1972), beberapa jenis inhibitor
adalah merupakan bentuk phenyl compound termasuk phenol, benzoic acid,
cinamic acid dan coffeic acid. Gallic acid dan shikimic acid merupakan turunan
dari benzoic acid. Selanjutnya ia mengemukakan pula bahwa gallic acid dapat
diketemukan pada buah yang matang, sedangkan ferulic acid dan p-coumaric acid
merupakan ko faktor untuk IAA oksida (Goldsworthy dan Fishern 1992).
Menurut Lambers (2008), didalam buah tomat Solanum lycopersicum
mengandung zat-zat penghambat seperti vitamin c, vitamin A, kalsium, fosfor,
mineral dan zat besi. Selain itu, tomat juga mengandung zat inhibitor berupa asam
absisat (ABA) yang merupakan suatu zat dan hormon yang dapat menunda

pertumbuhan akibat lingkungan yang jelek atau kurang baik bagi pertumbuhan.
Asam Abisat atau ABA yang terkandung dalam cairan tomat memiliki 3 efek
utama yang ditentukan oleh jaringan yang terlibat didalamnya, yaitu memberikan
efek pada membran plasma sel akar sehingga biji lambat memunculkan akar,
menghambat sintesa protein, menonaktifkan gen dan enzim tertentu yang
menunjukkan adanya pengendalian yang kuat terhadap proses perkecambahan
tumbuhan, termasuk dalam perkecambahan biji.

III. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat

Waktu pelaksanaan praktikum pengaruh cairan daging buah ini, pada hari
Jumat, tanggal 28 November 2014, Pukul 08.00 s/d Selesai dan tempat
pelaksanaan praktikum yaitu di KP2 FPPB Universitas Bangka Belitung.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang digunakan untuk praktikum Dasar-dasar Agronomi
yaitu buah tomat, biji padi, petridish, dan kertas merang.
3.3.

Cara Kerja
1. Bersihkan buah tomat yang akan dibuat ekstrak. Kemudian haluskan
menggunakan blender, buat dengan konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100%.
2. Setelah ekstrak selesai dibuat, gunting kertas merang untuk media tumbuh
biji padi.
3. Setelah itu siapkan petridish sebanyak 5 buah, letakkan 2 lapis kertas merang
untuk masing-msaing petridish, kemudian kecambahkan biji padi sebanyak
20 butir tiap petridishnya.
4. Setiap satu petridish disiram dengan konsentrasi cairan buah tomat yang
berbeda.
5. Kemudian amati, berapa banyak perkecambahan tiap petridish selama 10
hari
6. Buatlah laporan dan diagram perbandingan perkecambahannya.

IV.
IV.1.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
a. Jumlah biji yang berkecambah

Kosentrasi

Hari Pengamatan

cairan tomat
100 %
75%
50%
25%
0%

1
0
0
0
0
0

2
0
0
0
0
0

3
0
0
0
0
0

4
3
2
3
4
5

5
2
3
3
3
4

6
2
3
4
2
4

7
0
3
3
2
2

8
2
3
1
1
1

9
2
2
5
1
1

10
0
1
0
0
0

b. Grafik jumlah benih yang berkecambah


20
18
16
14
12
10

100%

75%

50%

25%

0%

8
6
4
2
0
1

c. Perhitungan daya kecambah benih


Rumus :
Jlh. Benih berkecambah
Jlh. Benih yang ditanam
1. Konsentrasi 100%
=

11

X 100%

20
= 55 %
2. Konsentrasi 75%
=

17
20

= 85 %

X 100%

X 100%

10

3. Konsentrasi 50%
=

19

X 100%

20
= 95 %
4. Konsentrasi 25%
=

14

X 100%

20
= 70%
5. Konsentrasi 0%
=

17

X 100%

20
= 85 %
IV.2.

Pembahasan
Biji yang dikecambahkan disuatu media tanam, dapat mengalami dormansi

yang lebih lama lagi, bila diberikan penyiraman dengan cairan daging buah
tomat. Salah satu penyebab dari terjadinya dormansi adalah dari faktor kimia
yaitu dikarenakan adanya zat-zat penghambat dalam biji tumbuhan tersebut. Zat
pengahambat ini ada berbagai macam jenisnya. Zat-zat penghambat tersebut
yang pada umumnya dikenal dengan nama inhibitor. Zat-zat penghambat ini
akan menunda terjadinya perkecambahan, meskipun kondisi lingkungan sudah
sangat mendukung untuk terjadinya suatu proses perkecambahan (Ismail 2006).
Pada buah tomat, terdapat zat penghambat/inhibitor perkecambahan yang
dinamakan coumarin. Coumarin adalah cairan pada daging buah tomat yang
berpengaruh terhadap prose perkecambahan biji karena terhambatnya kerja
enzim.
Pada

praktikum

yang

telah

dilakukan

pengamatan

pengaruh

perkecambahan biji padi terhadap adanya inhibitor, pengamatan dilakukan


melalui pemberian cairan daging buah tomat dengan konsentrasi cairan yang
berbeda. Perlakuan konsentrasi cairan daging buah tomat yang diberikan adalah
100%, 75%, 50%, 25%, dan 0%. Konsentrasi tersebut menentukan seberapa
besar pengaruh cairan daging buah terhadap perkecambahan biji padi.

Bedasarkan hasil pengamatan yang kami lakukan didapatkan hasil, benih


padi yang disiram dengan menggunakan cairan tomat mengalami penghambatan
dalam proses perkecambahannya. Biji yang terbalut dengan cairan daging buah
proses perkecambahannya berlangsung lebih lambat bila dibandingkan dengan
perkecambahan biji padi sebagai kontrol. Biji padi yang tumbuh, pada
konsentrasi 0% (kontrol) memiliki daya berkecambah sebesar 85%. Konsentrasi
cairan daging buah tomat dengan konsentrasi 25% memiliki daya kecambah
sebesar 70%.

Biji padi yang tumbuh pada kosentrasi 50%

lebih banyak

daripada konsentrasi 25% yaitu dengan daya perkecambahan sebesar 95%. Pada
konsentrasi 75%, biji padi yang tumbuh memiliki daya kecambah 85%,
sedangkan untuk konsentrasi 100%, biji padi memiliki daya kecambah sebesar
55%.
Hasil yang diperoleh dari praktikum, ada yang sesuai dengan literatur yaitu
kosentrasi cairan tomat 100%. Perkecambahan suatu biji dapat terhambat karena
adanya inhibitor dari cairan daging buah yang diberikan. Semakin tinggi
kandungan coumarin, maka semakin sedikit jumlah biji yang dapat
berkecambah. Biji akan tumbuh lebih lambat ketika diberikan cairan daging
buah yang mengandung coumarin dibandingkan dengan tapa diberikan. Hal ini
disebabkan karena coumarin dikenal sebagai zat penghambat perkecambahan
karena coumarin dapat menghambat kerja enzim yang membantu proses
perkecambahan (Salisbury 1995)
Sedangkan pada kosentrasi 75%,50%,dan 25% pertumbuhannya tidak
terhambat ini mungkin dikarenakan pada saat kami melakukan pengamatan kami
tidak menyiram biji padi dengan cairan tomat tetapi menggunakan air sehingga
pertumbuhan kecambahnya meningkat.
Dalam buah tomat Solanum lycopersicum mengandung zat-zat penghambat
seperti vitamin c, vitamin A, kalsium, fosfor, mineral dan zat besi. Selain itu,
tomat juga mengandung zat inhibitor berupa asam absisat (ABA) yang merupakan
suatu zat dan hormon yang dapat menunda pertumbuhan akibat lingkungan yang
jelek atau kurang baik bagi pertumbuhan. Asam Abisat atau ABA yang
terkandung dalam cairan tomat memiliki 3 efek utama yang ditentukan oleh
jaringan yang terlibat didalamnya, yaitu memberikan efek pada membran plasma
sel akar sehingga biji lambat memunculkan akar, menghambat sintesa protein,

menonaktifkan gen dan enzim tertentu yang menunjukkan adanya pengendalian


yang kuat terhadap proses perkecambahan tumbuhan, termasuk dalam
perkecambahan biji.

V.

SIMPULAN

Salah satu penyebab dari terjadinya dormansi dapat dikarenakan adanya zatzat penghambat dalam biji tumbuhan tersebut yang umumnya dikenal dengan
inhibitor. Pada buah tomat, terdapat zat penghambat/inhibitor perkecambahan
yang dinamakan coumarin. Coumarin diketahui dapat menghambat kerja enzim
yang berperan penting dalam proses perkecambahan biji. Semakin tinggi
kandungan coumarin, maka semakin sedikit jumlah biji yang dapat berkecambah
atau tidak dapat berkecambah sama sekali.

DAFTAR PUSTAKA
Ahapidin, 2009, Pertumbuhan dan Perkembangan-Tumbuhan, http://ahapidin.
blogspot.com/2009/08/ pertumbuhan-dan-perkembangan-tumbuhan.html,
diakses pada tanggal 10 Desember.
Dwijoseputro. D. 1995. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : Gramedia
Pustaka Utama.
Goldswanthy, Peter, R., dan N. M. Fisher, 1992, Fisiologi Tanaman Budidaya
Tropik, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Lambers, H., Chapin III S. F., And Pons L.T. 2008. Plant Physiology Ecology 2rd
Edition. Philadelphia press.

Salisburry, F. R., dan C. W. Ross, 1985, Fisiologi Tumbuhan Jilid 2, Penerbit ITB,
Bandung.
Sutopo, Lita. 2002. Teknologi Benih. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

LAMPIRAN

Kosentrasi 0%

Kosentrasi 25%

Kosentrasi 50%

Kosentrasi 75%

Kosentrasi 100%