Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN KISTA OVARIUM


Pada Ny. R di Ruang Kemuning Obgyn
RSUP. Dr. HASAN SADIKIN
BANDUNG

DANITA SUCI LESTARI


220112140092

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XXVIII


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2014

ASUHAN KEPERAWATAN KISTA OVARIUM


Pada Ny. R di Ruang Kemuning Obgyn
RSUP. Dr. HASAN SADIKIN

A. Pengertian
Ovarium merupakan sumber hormonal wanita yang paling utama,
sehingga mempunyai dampak kewanitaan dalam pengatur proses menstruasi.
Ovarium terletak antara rahim dan dinding panggul, dan digantung ke rahim oleh
ligamentum ovari propium dan ke dinding panggul oleh ligamentum infudibulopelvikum.Fungsinya sebagai tempat folikel, menghasilkan dan mensekresi
estrogen dan progesteron. Fungsi ovarium dapat terganggu oleh penyakit akut dan
kronis. Salah satu penyakit yang dapat terjadi adalah kista ovarium. (Tambayong,
2002).
Kista adalah suatu jenis tumor berupa kantong abnormal yang
berisi cairan atau benda seperti bubur. Menurut (Winkjosastro, et. all, 1999) kista
ovarium merupakan suatu tumor, baik yang kecil maupun yang besar, kistik atau
padat, jinak atau ganas. Kista ovarium merupakan perbesaran sederhana ovarium
normal, folikel de graf atau korpus luteum atau kista ovarium dapat timbul akibat
pertumbuhan dari epithelium ovarium.Tumor ovarium sering jinak bersifat kista,
ditemukan terpisah dari uterus dan umumnya diagnosis didasarkan pada
pemeriksaan fisik. Sebagian besar kista terbentuk karena perubahan kadar hormon
yang terjadi selama siklus haid, produksi dan pelepasan sel telur dari ovarium.
B. Etiologi
Penyebab kista belum diketahui secara pasti tapi ada beberapa faktor
1.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
2.

pendukung yaitu:
Gaya hidup yang tidak sehat. Diantaranya :
Konsumsi makanan yang tinggi lemak dan kurang serat
Zat tambahan pada makanan
Kurang olah raga
Merokok dan konsumsi alkhohol
Terpapar dengan polusi dan agen infeksius
Sering stres
Zat polutan
Faktor genetik

Dalam tubuh kita terdapat gen yang berpotensi memicu kanker yang
disebut protoonkogen, misalnya karena makanan yang bersifat karsinogen, polusi,
terpapar radiasi, protoonkogen ini dapat berubah menjadi onkogen yaitu gen
pemicu kanker.
C. Klasifikasi
Menurut etiologinya, kista ovarium dibagi menjadi dua, yaitu
(Ignativicius, Bayne, 1991) :
1. Kista non neoplasma, disebabkan karena ketidakseimbangan hormon estrogen dan
progesteron, diantaranya adalah :
1). Kista non fungsional
Kista serosa inklusi, berasal dari permukaan epitelium yang berkurang di
dalam kortek.
2). Kista fungsional
a. Kista folikel, disebabkan karena folikel yang matang menjadi ruptur
atau folikel yang tidak matang direabsorbsi cairan folikuler diantara siklus
menstruasi. Banyak terjadi pada wanita yang menarche kurang dari 12 tahun.
b. Kista korpus luteum, terjadi karena bertambahnya sekresi progesteron
setelah ovulasi.
c. Kista tuka lutein, disebabkan karena meningkatnya kadar HCG terdapat
pada mola hidatidosa.
d. Kista stein laventhal, disebabkan karena peningkatan kadar LH yang
menyebabkan hiperstimulasi ovarium.
2. Kista neoplasma (Wiknjosastro, et.all, 1999)
1). Kistoma ovarii simpleks. Adalah suatu jenis kistadenoma serosum yang
kehilangan epitel kelenjarnya karena tekanan cairan dalam kista.
2). Kistadenoma ovarii musinosum. Asal kista ini belum pasti, mungkin
berasal dari suatu teratoma yang pertumbuhannya satu elemen mengalahkan
elemen yang lain.

3). Kistadenoma ovarii serosum. Berasal dari epitel permukaan ovarium


(germinal ovarium).
4). Kista endometroid. Belum diketahui penyebabnya dan tidak ada
hubungannya dengan endometrioid.
5). Kista dermoid. Tumor berasal dari sel telur melalui proses patogenesis.
D. Patofisiologi
1.
1.

Kista non neoplasma (Ignativicius, Bayne, 1991 )


Kista non fungsional
Kista serosa inklusi, di dalam kortek yang dalam timbul invaginasi dari
permukaan epitelium yang berkurang. Biasanya tunggal atau multiple, berbentuk
variabel dan terbatas pada cuboidal yang tipis, endometri atau epitelium tuba.
Berukuran 1 cm sampai beberapa cm.

2.
1).

Kista fungsional
Kista folikel. Kista dibentuk ketika folikel yang matang menjadi ruptur
atau folikel yang tidak matang direabsorbsi cairan folikuler diantara siklus
menstruasi. Bila ruptur menyebabkan nyeri akut pada pelvis. Evaluasi lebih lanjut
dengan USG atau laparaskopi. Operasi dilakukan pada wanita sebelum pubertal,
setelah menopause atau kista lebih dari 8 cm.

2).

Kista korpus luteum. Terjadi setelah ovulasi dikarenakan meningkatnya


hormon progesteron. Ditandai dengan keterlambatan menstruasi atau menstruasi
yang panjang, nyeri abdomen bawah atau pelvis. Jika ruptur pendarahan
intraperitonial, terapinya adalah operasi oovorektomi.

3).

Kista tuka lutein. Ditemui pada kehamilan mola, terjadi pada 50 % dari
semua kehamilan. Dibentuk sebagai hasil lamanya slimulasi ovarium dari
berlebihnya HCG. Tindakannya adalah mengangkat mola.

4).

Kista Stein Laventhal. Disebabkan kadar LH yang berlebihan


menyebabkan hiperstimulasi dari ovarium dengan produksi kista yang banyak.
Hiperplasia endometrium atau koriokarsinoma dapat terjadi. Pengobatan dengan
kontrasepsi oral untuk menekan produksi LH dan oovorektomi.

2.

Kista neoplasma jinak (Wiknjosastro, et.all, 1999)

1.

Kistoma ovarii simplek. Kista ini bertangkai


dan dapat menyebabkan torsi (putaran tangkai). Di duga kista ini adalah jenis
kistadenoma serosum yang kehilangan kelenjarnya karena tekanan cairan dalam
kista. Tindakannya adalah pengangkatan kista dengan reseksi ovarium.

2.

Kistadenoma ovarii musinosum. Asal tumor


belum diketahui secara pasti, namun diduga berasal dari teratoma yang
pertumbuhan satu elemen mengalahkan elemen yang lain, atau berasal dari epitel
germinativum.

3.

Kistadenoma ovarii serosum. Berasal dari


epitel permukaan ovarium (germinal ovarium). Bila kista terdapat implantasi pada
peritonium disertai asites maka harus dianggap sebagai neoplasma yang ganas,
dan 30% sampai 35% akan mengalami keganasan.

4.

Kista endometroid. Kista biasanya unilateral


dengan permukaan licin, pada dinding dalam terdapat satu lapisan sel-sel yang
menyerupai lapisan epitel endometrium.

5.

Kista dermoid. Adalah suatu teratoma kistik


yang jinak dimana strukturstruktur ektoderma dengan diferensiasi sempurna
seperti epitel kulit, rambut, gigi dan produk glandula sebasea putih menyerupai
lemak nampak lebih menonjol dari pada elemen-elemen ektoderm dan mesoderm.
Tumor berasal dari sel telur melalui proses patogenesis.

E. Manifestasi Klinik
Kebanyakan kista ovarium tidak menunjukan tanda dan gejala.
Sebagian besar gejala yang ditemukan adalah akibat pertumbuhan aktivitas
hormon atau komplikasi tumor tersebut. Gejala umum yang sering muncul,
diantaranya :
1. Menstruasi yang tidak teratur yang disertai nyeri
2. Perasaan penuh dan tertekan di perut bagian bawah
3. Nyeri saat bersenggama
Pada stadium awal gejalanya dapat berupa :
1. Gangguan haid
2. Jika sudah menekan rectum mungkin terjadi konstipasi atau sering
berkemih.

3. Dapat terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang


menyebabkan nyeri spontan dan sakit perut
4. Nyeri saat bersenggama
Pada stadium lanjut gejala yang biasa muncul diantaranya:
1. Asites
2. Penyebaran ke omentum ( lemak perut ) serta organ-organ di rongga
perut ( usus dan hati ).
3. Perut membuncit, kembung, mual, nafsu makan menurun
4. Gangguan buang air besar dan kecil
5. Sesak nafas akibat penumpukan cairan di rongga dada
F. Komplikasi
Komplikasi dari kista ovarium yaitu:
1. Perdarahan intra abdomen
2. Perputaran tangkai pada kista yang ovarium yang bertangkai yang bisa
menimbulkan nyeri pada abdomen.
3. Infeksi
4. Robekan dinding kista
5. Keganasan kista ovarium
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Laparaskopi
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor
berasal dari ovarium atau tidak, dan untuk menentukan silat-sifat tumor itu.
2. Ultrasonografi
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor apakah
tumor berasal dari uterus, ovarium, atau kandung kencing, apakah tumor kistik
atau solid, dan dapatkah dibedakan pula antara cairan dalam rongga perut yang
bebas dan yang tidak.
3. Foto Rontgen
Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks.
Selanjutnya, pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat gigi dalam tumor.
Penggunaan foto rontgen pada pictogram intravena dan pemasukan bubur barium
dalam colon disebut di atas.
4. Parasentesis

Telah disebut bahwa fungsi pada asites berguna menentukan sebab asites.
Perlu diingatkan bahwa tindakan tersebut dapat mencemarkan cavum peritonei
dengan kista bila dinding kista tertusuk. (Wiknjosastro, et.all, 1999)

H. Penatalaksanaan
Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas
ialah pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang
mengandung tumor. Akan tetapi jika tumornya besar atau ada komplikasi, perlu
dilakukan pengangkatan ovarium, bisanya disertai dengan pengangkatan tuba
(Salpingo-oovorektomi). (Wiknjosastro, et.all, 1999)
Asuhan post operatif merupakan hal yang berat karena keadaan yang
mencakup keputusan untuk melakukan operasi, seperti hemorargi atau infeksi.
Pengkajian dilakukan untuk mengetahui tanda-tanda vital, asupan dan keluaran,
rasa sakit dan insisi. Terapi intravena, antibiotik dan analgesik biasanya
diresepkan. Intervensi mencakup tindakan pemberiaan rasa aman, perhatian
terhadap eliminasi, penurunan rasa sakit dan pemenuhan kebutuhan emosional
Ibu. (Hlamylton, 1995).
Efek anestesi umum. Mempengaruhi keadaan umum penderita,
karena kesadaran menurun. Selain itu juga diperlukan monitor terhadap
keseimbangan cairan dan elektrolit, suara nafas dan usaha pernafasan, tanda-tanda
infeksi saluran kemih, drainese urin dan perdarahan. Perawat juga harus
mengajarkan bagaimana aktifitas pasien di rumah setelah pemulangan,
berkendaraan mobil dianjurkan setelah satu minggu di rumah, tetapi tidak boleh
mengendarai atau menyetir untuk 3-4 minggu, hindarkan mengangkat bendabenda yang berat karena aktifitas ini dapat menyebabkan kongesti darah di daerah
pelvis, aktifitas seksual sebaiknya dalam 4-6 minggu setelah operasi, kontrol
untuk evaluasi medis pasca bedah sesuai anjuran. (Long, 1996)

ASUHAN KEPERAWATAN KISTA OVARIUM


Pada Ny. R di Ruang Kemuning Obgyn

Pengkajian
A. Identitas Klien
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Nama
Umur
Alamat
Pendidikan
Agama
Diagnosa
No.medrek

: Ny.R
: 35 tahun
: Karawang
: S1
: Islam
: kista ovarium
: 0004320954

B. Identitas Penanggung Jawab


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Nama
: Tn. Suhendra
Umur
: 37 tahun
Alamat
: Karawang
Pendidikan
: SMA
Agama
: Islam
Hub. Dg Klien: Suami

C. Keluhan Utama
Klien mengeluh nyeri pada daerah operasi
E. Riwayat kesehatan sekarang :
Pada saat dikaji klien mengatakan nyeri pada daerah luka operasi,
nyeri dirasakan bertambah bila bergerak dan berkurang bila klien miring kiri
atau miring kanan. Nyeri dirasakan seperti teriris-iris dan dirasakan pada
daerah abdomen sampai ke pinggang, skala nyeri 6 (rentang 1-10) dan nyeri
dirasakan sewaktu-waktu.

F. Riwayat Kesehatan Masa Lalu

: klien mangatakan tahu bahwa dirinya

memiliki kista saat hamil 2 bulan saat USG di dokter spesialis


kandungan.
G. Riwayat Obstretrik
-

Siklus
Lama
Jumlah
Warna

: 28 hari
: 6-7 hari
: 4-5 pembalut perhari
: merah darah, kadang terdapat gumpalan
darah

II. Pengkajian Fisik


1. Penampilan umum
kesadaran ibu komposmentis.
2. TTV
:
- TD
: 120/90 mmHg
- N
: 98 x/menit
- RR
: 20 x/menit
- S
: 36 x/menit
3. Payudara
: puting simetris, tidak terdapat tonjolan masa saat
diraba
4. Abdomen
5. Eksternal genitalia

: terdapat luka post-operasi di abdmen bawah


: terdapat keluaran darah merah kecoklatan. Ibu

mengganti pembalut 2-3 kali sehari


6. Urination
: klien mengatakan BAK 3-4 kali sehari, dan BAB 1
hari sekali
7. Pemeriksaan penunjang
:8. Psikologis dan sosial:
Klien mengatakan bahwa ia dapat menerima kondisinya saat ini
dan rajin melakukan kontrol ke rumah sakit. Klien juga mengatakan
bahwa saat ini ia merasa khawatir dengan hasil operasinya nanti karena
ia belum pernah dioperasi.
10. Pengkajian Spiritual
Klien mengatakan ia pasrah dengan kondisinya saat ini, penyakitnya
saat ini dirasakan sebagai ujian dari Tuhan
Analisa data

No
1. DS :
-

Data

Kemungkinan Penyebab
Luka insisi operasi

Masalah
Gangguan rasa

Klien

nyaman nyeri

mengatakan

nyeri

pada luka operasi

jaringan

Klien

mengatakan
bertambah

nyeri

Vasokontrikisi

bila

bergerak
-

Reaksi hemostatis

Klien

mengatakan

nyeri

seperti diiris-iris dan


perih

histamin

Peningkatan permeabilitas

Ekspresi
tampak

Pengeluaran serotinin dan

DO :
-

Terputusnya kontinuitas

wajah
meringis

bila bergerak

kapiler

Eksudasi cairan menyebabkan

Skala nyeri 6 (1-10)

sel radang disertai

Terdapat luka insisi

vasodilatasi

yang masih tertutup

Bentuk

insisi

vertikal
-

Panjang luka 8 cm

Tanda-tanda vital :

Edema dan pembengkakan

Nyeri

sedang

TD : 120/90 mmHg
N : 98 x/menit
RR: 20 x/menit
S : 36 x/menit

PERENCANAAN
Diagnosa Keperawatan

Tujuan

Gangguan rasa nyaman

Tupan :

nyeri sedang berhubungan

Rasional

1. Evaluasi derajat nyeri dan catat

5 hari Nyeri hilang

dengan terputusnya

Intervensi

1. Merupakan intervensi

tanda-tanda vital dan emosi

monitoring yang efektif, karena


tingkat kegelisahan

Tupen :

kontinuitas jaringan : fase


inflamasi

Kualitas

mempengaruhi reaksi nyeri


nyeri

berkurang dalam
waktu

3 hari

dengan kriteria :
-

Klien

dapat

2. Bantu

klien mendapatkan posisi

otot sehingga diharapkan nyeri

miring pada bagian perut diganjal

berkurang

bantal

Ekspresi wajah

teknik dan distraksi

Skala nyeri 1

Tanda-tanda vital
dalam batas

3. Masase pada daearah luka dan

3. Ajarkan teknik penanganan nyeri


dengan masase pada daerah luka

mengurangi ketegangan

yang nyaman dengan posisi klien

mentoleransi nyeri
tidak meringis

2. Dapat

distraksi dapat mengalihkan


perhatian klien terhadap nyeri
4. Dapat menekan pelepasan

4. Kolaborasi untuk pemberian

substansi P dan bradikinin

analgetik Dolos 3 x 1 kaplet per oral


1.

sehingga dapat menurunkan


ambang nyeri

normal :
-

TD : 120/90
mmHg
- N : 98 x/menit
- RR: 20 x/menit

S
36 x/menit

Tanggal
12-9-2014

Implementasi
- Mengukur tanda-tanda
vital, TD

Evaluasi
S : Klien mengatakan nyeri

: 120/90

berkurang

mmHg, N : 98 x/menit,
RR : 20 x/menit, S : 36
x/menit dan

O:
-

mengobservasi derajat

Ekspresi
wajah klien agak

nyeri
meringis ketika berusaha
Reaksi respon : tidak ada

merubah posisi duduk

penaikan suhu, nadi, tensi


dan respirasi
1.

Jam 08.45

Skala nyeri 2

Tanda-tanda

Mengatur posisi klien

vital :

dengan posisi miring


dengan diganjal bantal
pada bagian belakang

dan depan ( posisi


memeluk bantal )
Reaksi respon : klien

Melakukan teknik
distraksi dengan mengajak
ngobrol klien dan

: 36 x/menit

A : Klien dapat beradaptasi


dengan nyeri

merasa nyaman
2.

TD : 120/90 mmHg
N : 98 x/menit
RR: 20 x/menit

P:
-

Atur posisi

mengajarkan masase

tidur senyaman klien

pada daerah sekitar luka

mungkin

bila nyeri
Reaksi respon : klien terlihat
nyaman

Evaluasi
derajat nyeri dan catat
perubahan tanda-tanda
vital dan emosi

Lanjutkan
tindakan teknik distraksi
dan masase pada daerah
sekitar luka

Berikan
therapi analgetik Dolos
1 tab per oral

I:
-

Jam 07.00 :
membantu
memposisikan klien
duduk sambil bersandar
bantal

07.15 :
mengevaluasi derajat
nyeri dan mengukur
tanda-tanda vital

Melakukan
teknik distraksi dengan
mengajak ngobrol dan
melakukan masase
daerah sekitar luka

Jam 09.00 :
memberikan therapi

analgetik Dolos 1 tab


per oral
-

E : Klien tampak lebih


aktif mobilisasi mika /
miki dan duduk, skala
nyeri 2, TD : 120/90
mmHg, N : 98 x/menit,
RR : 20 x/menit, S : 36
x/menit

Anda mungkin juga menyukai