Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

AUDIT MANAJEMEN

AUDIT PEMERINTAH

FALKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI

UNIVERSITAS JAMBI
TAHUN 2013

KATA PENGANTAR
Tiada kata yang paling awal penyusun ucapkan, selain puji syukur atas kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa, karena limpahan rahmat dan hidayahnya sehingga penyusun dapat
menyelesaikan Makalah Audit Manajemen ini tepat pada waktunya dengan judul Audit
Pemerintah. Shalawat dan salam tak lupa kami sampaikan kepada junjungan nabi besar
Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
Berkat kerja sama dengan semua pihak, kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Sudah sepantasnya kami menghanturkan terimah kasih yang sedalam-dalamnya kepada :
1.
2.

Dosen pembimbing mata kuliah Audit Manajemen, Fakultas ekonomi jurusan


akuntansi, Universitas Negeri Jambi.
Teman-teman yang telah memberikan inspirasi dan partisipasi dalam
penyelesaian makalah ini, tanpa disebutkan satu persatu.

Tidak ada hasil karya manusia yang sempurna. Begitupun dengan hasil penulisan
makalah ini, masih banyak terdapat kekurangan. Karenanya kritik dan saran sangat kami
butuhkan untuk perbaikan yang akan datang. Semoga makalah ini bisa memberikan inspirasi
dan dapat bermanfaat bagi kita semua.

Jambi, 12 November
2013

Kelompok 2

Audit Pemerintah

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .. i
DAFTAR ISI . ii
BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah .. 1
1.2. Rumusan Masalah 1
1.3. Tujuan .. 1

BAB II

PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Audit Sektor Pemerintah..................................... 2
2.2. Jenis- Jenis Audit Pemerintah................ 2
2.3. Standar Umum Audit Pemerintah......... 4
2.4. Standar Pekerjaan Lapangan Audit Kinerja................. 4
2.5. Standar Pelaporan Audit Kinerja................. 5
2.6. Standar Pekerjaan Lapangan Untuk Audit Keuangan........ 6
2.7. Standar Pelaporan Untuk Audit Keuangan.......................... 7
Audit Kasus...8

BAB III SIMPULAN


3.1. Simpulan ...........14
DAFTAR PUSTAKA ... iii

Audit Pemerintah

ii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

LATAR BELAKANG

Selama ini sektor publik tidak luput dari tudingan sebagai sarang korupsi,
kolusi,nepotisme, inefisiensi dan sumber pemborosan negara. Keluhan birokrat
tidak mampu berbisnis ditujukan untuk mengkritik buruknya kinerja perusahaanperusahaan sektor publik. Pemerintah sebagai salah satu organisasi sektor publik
pun tidak luput daritudingan ini. Pemerintah merupakan lembaga yang
menjalankan roda pemerintahan yangsumber legitimasinya berasal dari
masyarakat. Oleh karena itu, penyelenggara pemerintahan harus mampu
mempertanggungjawabkan kepercayaan yang telah diberikanoleh masyarakat.
Oleh karena itu, audit pemerintahan diperlukan untuk menjamin kualitas,
profesionalismedan akuntabilitas publik serta value for money dalam menjalankan
aktivitasnya sertauntuk menjamin dilakukannya pertanggungjawaban publik oleh
organisasi sektor publik.

1.2. RUMUSAN MASALAH


Ada beberapa masalah yang terjadi dirumuskan dalam makalah ini,
yaitu sebagai berikut:
1. Bagaimana mendefinisikan Audit Pemerintah
2. Bagaimana tahapan dalam Audit Pemerintah
3. Bagaimana menentukan metode laporan Audit yang tepat.
4. Bagaimana mengevaluasi kegiatan Pemerintah
1.3. TUJUAN
Setelah mempelajari makalah ini diharapkan mahasiswa mampu :
1. Mendefinisikan Audit Pemerintah
2. Mengerti tahapan dalam Audit Pemerintah
3. Menentukan jenis laporan audit yang tepat.
4. Dapat mengevaluasi kegiatan-kegiatan audit Pemerintah yang dilakukan
dalam suatu perusahaan.

BAB I

Audit Pemerintah

PEMBAHASAN
2 .1 . PE NG ERTIAN AUDI T SE KTOR P EM ER INTAH
Audit sektor publik adalah pemeriksaan terhadap pemerintah yang
dilakukan untuk mengetahui pertanggungjawaban (akuntabilitas) atas pengelolaan
dana masyarakat (publicmoney) yang bertujuan untuk membandingkan hasil
pencapaian program, fungsi ataukegiatan sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya.

2.2. JENIS- JENIS AUDIT PEMERINTAH


Berdasarkan UU No. 15 Tahun 2004 dan SPKN, terdapat tiga jenis audit
keuangan negara,yaitu:
1. Audit keuangan, merupakan audit atas laporan keuangan yang bertujuan
untuk memberikan keyakinan yang m e m a d a i (reasonable assurance),
apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar, dalam semua hal
yang material sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di
Indonesia atau basis akuntansi komprehensif.selain prinsip akuntansi yang
berlaku umum di Indonesia. Audit keuangan adalah audityang menjamin
bahwa sistem akuntansi dan pengendalian keuangan berjalan secaraefisien
dan tepat serta transaksi keuangan diotorisasi serta dicatat secara benar.
2. Audit kinerja, meliputi audit ekonomi, efisiensi, dan efektivitas, pada
dasarnya merupakan perluasan dari audit keuangan dalam hal tujuan dan
prosedurnya. Auditkinerja memfokuskan pemeriksaan pada tindakantindakan dan kejadian-kejadianekonomi yang menggambarkan kinerja
entitas atau fungsi yang diaudit. Audit kinerjamerupakan suatu proses yang
sistematis untuk memperoleh dan mengevaluasi buktisecara obyektif, agar
dapat melakukan penilaian secara independen atas ekonomi danefisiensi
operasi, efektifitas dalam pencapaian hasil yang diinginkan dan
kepatuhanterhadap kebijakan, peraturan dan hukum yang berlaku,
menentukan kesesuaian antarakinerja yang telah dicapai dengan kriteria
yang telah ditetapkan sebelumnya.

Berikut adalah jenis - jenis audit kinerja.

Audit Pemerintah

1. Audit Program (Audit Efektivitas)


Audit program mencakup penentuan atas :
1 . Tingkat pencapaian hasil program yangdiinginkan atau manfaat
yang telah ditetapkan oleh undang-undang atau badan lain yang
berwenang.
2 . Efektivitas kegiatan entitas, pelaksanaan program, kegiatan,atau
fungsi instansi yang bersangkutan
3 . Tingkat kepatuhan entitas yang diaudit terhadap peraturan
perundang-undangan yang berkaitan dengan pelaksanaan program
atau kegiatannya.
2. Audit Ekonomi dan Efisiensi (Management and Operational Audit)
Audit ekonomi dan efisiensi berfungsi untuk:
1 . Apakah entitas telah memperoleh, melindungi, dan menggunakan
sumber dayanya (seperti karyawan, gedung, ruang, dan peralatan kantor)
secara hematdan efisien.

2.Apa yang menjadi penyebab timbulnya pemborosan dan


efisiensi.
3.Apakah entitas tersebut telah mematuhi peraturan perundangundangan yang berkaitan dengan penghematan dan efisiensi.
3. Audit dengan tujuan tertentu, merupakan pemeriksaan yang tidak
termasuk dalam pemeriksaan keuangan dan pemeriksaan kinerja/audit
operasional. Sesuai dengandefinisinya, jenis audit ini dapat berupa semua
jenis audit selain audit keuangan danaudit operasional. Dengan demikian
dalam jenis audit tersebut termasuk diantaranyaaudit ketaatan dan audit
investigatif .
1. Audit Ketaatan
Audit ketaatan adalah audit yang dilakukan untuk menilai
kesesuaian antarakondisi/pelaksanaan kegiatan dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Audit Investigatif

Audit Pemerintah

Audit investigatif adalah audit yang dilakukan untuk membuktikan


apakahsuatu indikasi penyimpangan/kecurangan apakah memang
benar terjadi atautidak terjadi.
2.3. STANDAR UMUM AUDIT PEMERINTAH
a. Kualifikasi. Staf melaksanakan audit harus secara kolektif, memiliki
kecakapan profesional yang memadai untuk tugas yang disyaratkan.
b. Dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan audit harus
independen, bebasdari gangguan indepedensi yang bersifat pribadi dan
yang diluar pribadinya, yangdapat mempengaruhi independensinya,
serta harus dapat mempertahankan sikap dan penampilan yang
independen.
c. Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan pelaporannya, auditor wajib
menggunakan kemahiran profesionalnya secara cermat dan seksama.
d. Memiliki sistem pengendalian intern yang memadai, dan sistem
pengendalian mututersebut harus di review oleh pihak lain yang kompeten.

2.4. STANDAR PEKERJAAN LAPANGAN AUDIT KINERJA


1 . Perencanaan
Perencanaan harus direncanakan secara memadai.
2 . Supervisi
Staf harus diawasi (disupervisi) dengan baik.
3 . Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan.
Auditor harus merancang audit tersebut untuk memberikan keyakinan
yangmemadai mengenai kepatuhan tersebut. Dalam semua audit kinerja,
auditor haruswaspada terhadap situasi atau transaksi yang dapat
merupakan indikasi adanya unsur pembuatan melanggar hukum atau
penyalahgunaan wewenang.
4 . Pengendalian manajemen.
Auditor harus benr-benar memahami pengendalian manajemen yang
relevandengan audit.

2.5. STANDAR PELAPORAN AUDIT KINERJA


Audit Pemerintah

1.

Bentuk
Auditor harus membuat laporan audit secara tertulis untuk
dapatmengkomunikasikan hasil setiap audit.

2.

Ketepatan waktu
Auditor harus menerbitkan laporan untuk menyediakan informasi
yang dapatdigunakan secara tepat waktu oleh manajemen dan pihak
lain yang berkepentigan

3.

Isi laporan
a. Tujuan, Lingkup, Metodologi Audit
b. Hasil AuditAudit harus melaporkan temuan audit yang
signifikan.
c. Rekomendasi Auditor harus menyamaikan rekomendasi untuk
melakukan tindakan perbaikan atas bidang yang bermasalh dan
untuk meningkatkan pelaksanaankegiatan entitas audit.
d. Pernyataan Standar AuditAuditor harus melaporkan bahwa
audit melaksanakan berdasarkan SAP Kepatuhan terhadap
peraturan perundang-undangan.
e. Ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan
penyalahgunaanwewenang.
f. Pelaporan secara langsung tentang unsur perbuatan melanggar.
g. Pengendalian manajemen.
h. Tanggapan pejabat yang bertanggungjawab.
i. hasil/prestasi kerja yang patut dihargai.
j. Hal yang memerlukan penelaahan lebih lanjut.
k. Informasi istimewa dan rahasia.

4.

Penyajian pelaporan.
Laporan harus lengkap, akurat, objektif, meyakinkan, serta jelas dan
ringkas.

5.

Distribusi pelaporan.
Pejabat yang berwenang dalam organisasi pihak yang diaudit.
Kepada pejabat yang berwenang dalam organisasi pihak yang
meminta audit.
Pejabat lain yang mempunyai tanggungjawab atas pengawasan
secara hokum atau pihak yang bertanggungjawab untuk melakukan
tindak lanjut berdasarkan temuandan rekomendasi audit.
Kepada pihak lain yang diberi wewenang oleh entitas yang diaudit
untuk menerima laporan tersebut
2.6. STANDAR PEKERJAAN LAPANGAN UNTUK AUDIT KEUANGAN

Audit Pemerintah

Komunikasi auditor , auditor harus mengkomunikasikan informasi kpd


auditee,orang- orang yang mengontrak atau meminta jasa auditee
mengenai sifat serta luasrencana pengujian dan pelaporan ketaatan pada
hukum dan peraturan serta pengendalian intern atas pelaporan keuangan.

Tindak lanjut audit . Auditor harus menindaklanjuti temuan dan


rekomendasi material yang sudah diketahui dari audit sebelumnya.

Ketidaktaatan yang bukan tindakan ilegal . Auditor harus merancang


audit untuk memberikan keyakinan bahwa salah saji material yang
ditimbulkan olehketidaktaatan pada ketentuan kontrak, yang berdampak
langsung dan materialterhadap penentuan jumlah dalam laporan keuangan
akan terdeteksi. Jika adainformasi tertentu yang menarik perhatian auditor,
yang memberikan bukti adanyakemungkinan ketidaktaatan yang akan
mempunyai dampak material tidak lansung,maka auditor harus
menerapkan prosedur audit yang secara khusus diarahkanuntuk
memastikan apakah ketidaktaatan itu sudah terjadi.

Pendokumentasian penilaian resiko pengendalian untuk asersi-asersi yang


secara signifikan tergantung pada sistem informasi terkomputerisasi
Dalammerencanakan audit, auditor harus mendokumentasikan dalam
kertas kerja: (1)dasar untuk menilai resiko pengendalian pada tingkat
maksimum atas asersi- asersiyang berhubungan dengan saldo akun, kelas
transaksi dan komponen pengungkapan yang material dalam laporan
keuangan jika asersi tersebut secarasignifikan tergantung pada sistem
informasi yang terkomputerisasi, dan (2) pertimbangan bahwa prosedur
audit yang direncanakan telah dirancang untuk mencapai tujuan audit
serta untuk memperkecil resiko audit hingga ketingkat yangdapat
diterima.

Kertas kerja.Berisi informasi yang mencukupi agar memungkinkan


seorangauditor berpengalaman yang tidak mempunyai hubungan
sebelumnya denganauditor untuk mengetahui secara pasti dari kertas kerja
itubukti pendukungkesimpulan dan pertimbangan auditor yang signifikan.

2.7. STANDAR PELAPORAN UNTUK AUDIT KEUANGAN

Audit Pemerintah

Ketaatan pada GAGAS . Laporan audit harus menyatakan bahwa audit


telahdilakukan sesuai dengan standar auditing pemerintah yang berlaku
umum.

Ketaatan pada hukum dan peraturan serta pengendalian intern. Laporan


mengenailaporan keuangan harus (1) menguraikan ruang lingkup
pengujian auditor atasketaatan pada hukum dan peraturan serta
pengendalian internal dan menyajikanhasil pengujian itu. Atau (2)
mengacu kelaporan terpisah yang memuat informasitersebut. Auditor juga
harus melaporkan penyimpangan, tindakan ilegal,danketidaktaatan
material lainnya, serta kondisi yang dapat dilaporkan dalam pengendalian
internal atas pelaporan keuangan.

Informasi istimewa dan rahasia. Jika informasi tertentu dilarang


untuk diungkapkan kepada umum,maka laporan auditor harus menyatakan
sifat informasiyang tidak dicantumkan itu serta persyaratan yang
mengharuskan dilakukantindakan itu.

Pembagian laporan. Laporan audit tertulis harus diserahkan oleh organisasi


auditkepada pejabat yang tepat dari auditee dan kepada pejabat yang tepat
dariorganisasi yang mengharuskan atau mengatur dilakukannya audit
termasuk organisasi pendanaan eksternal. Selain itu laporan juga harus
diserahkan kepada pejabat lain yang mempunyai kewenangan pengawasan
legal atau yang mungkin bertanggungjawab untuk mengambil tindakan
berdasarkan temuan danrekomendasi audit, serta pihak lain yang diberi
kewenangan untuk menerimalaporan tersebut.

Kasus Pt KAI thn 2005

Audit Pemerintah

Salah satu contohnya adalah kasus audit umum yang dialami oleh PT.
Kereta Api Indonesia (PT. KAI). Kasus ini menunjukkan bagaimana proses tata
kelola yang dijalankan dalam suatu perusahaan, dan bagaimana peran dari tiaptiap organ pengawas didalam memastikan penyajian laporan keuangan tidak salah
saji dan mampu menggambarkan keadaan keuangan perusahaan yang sebenarnya.
Sebagai perusahaan BUMN yang bergerak di bidang pelayanan publik, PT.
KAI memiliki business environment yang berbeda dengan perusahaan swasta
lainnya dan merupakan pembelajaran yang menarik bagi perusahaan lainnya
terutama mengenai bagaimana mambangun pengawasan yang efektif. Kasus ini
juga dapat menjadi pembelajaran bagi departemen teknis maupun Kementerian
BUMN sebagai wakil pemegang saham untuk menerapkan public governance.
PEMBAHASAN KASUS PT. KERETA API INDONESIA
Kasus PT. KAI bermuara pada perbedaan pandangan antara Manajemen
dan Komisaris, khususnya Komisaris yang merangkap sebagai Ketua Komite
Audit dimana Komisaris tersebut menolak menyetujui dan menandatangani
laporan keuangan yang telah diaudit oleh Auditor Eksternal. Dan Komisaris
meminta untuk dilakukan audit ulang agar laporan keuangan dapat disajikan
secara transparan dan sesuai dengan fakta yang ada.
Perbedaan pandangan antara Manajemen dan Komisaris bersumber pada
perbedaan pendapat atas 4 (empat) hal, yaitu :
1. Masalah piutang PPN.
Piutang PPN per 31 Desember 2005 senilai Rp. 95,2 milyar, menurut Komite
Audit harus dicadangkan penghapusannya pada tahun 2005 karena diragukan
kolektibilitasnya, tetapi tidak dilakukan oleh manajemen dan tidak dikoreksi
oleh auditor. Manajemen menganggap bahwa pemberian jasa yang
dilakukannya tidak kena PPN, namun karena Dirjen Pajak menagih PPN atas
jasa tersebut, PT. KAI menagih PPN tersebut kepada pelanggan.
2. Masalah Beban Ditangguhkan yang berasal dari penurunan nilai persediaan.
Saldo beban yang ditangguhkan per 31 Desember 2005 sebesar Rp. 6 milyar
yang merupakan penurunan nilai persediaan tahun 2002 yang belum
diamortisasi, menurut Komite Audit harus dibebankan sekaligus pada tahun
2005 sebagai beban usaha.
3. Masalah persediaan dalam perjalanan.
Berkaitan dengan pengalihan persediaan suku cadang Rp. 1,4 milyar yang
dialihkan dari satu unit kerja ke unit kerja lainnya di lingkungan PT. KAI
yang belum selesai proses akuntansinya per 31 Desember 2005, menurut
Komite Audit seharusnya telah menjadi beban tahun 2005.

4. Masalah Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditentukan Statusnya (BPYBDS)


dan Penyertaan Modal Negara (PMN).

Audit Pemerintah

BPYBDS sebesar Rp. 674,5 milyar dan PMN sebesar Rp. 70 milyar yang
dalam laporan audit digolongkan sebagai pos tersendiri di bawah hutang
jangka panjang, menurut Komite Audit harus direklasifikasi menjadi
kelompok ekuitas dalam neraca tahun buku 2005.
Ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi mengenai peran dan
tanggung jawab Komisaris, beserta organnya Komite Audit dalam proses
good corporate governance di perusahaan, baik BUMN maupun swasta.
Menurut teori dan best practices dalam good corporate governance,
Dewan Komisaris dalam menjalankan peran dan tanggung jawabnya
memiliki 3 fungsi, yaitu :
1. Advising. Memberi nasehat bagaimana seharusnya Direksi bersikap.
Oleh sebab itu sebaiknya Dewan Komisaris terdiri dari beberapa latar
belakang.
2. Protecting. Melindungi perusahaan dari sesuatu yang tidak diharapkan.
Misalnya : memberikan argumentasi dan pendapat independen yang kuat
atas sesuatu yang dapat merugikan perusahaan dan tidak sejalan dengan
prinsip-prinsip GCG.
3. Supervising. Mengawasi pengelolaan perusahaan agar mampu
menciptakan value yang optimal bagi stakeholders.
Peran vital yang dijalankan oleh Komite Audit adalah membantu
Dewan Komisaris dalam 3 hal tersebut diatas, yaitu advising, supervising
dan protecting (dengan cara memberikan analisis bagaimana memproteksi
perusahaan). Hal terpenting yang harus dipahami adalah bahwa Komite
Audit tidak memiliki suara untuk mengatasnamakan perusahaan sehingga
tidak diperkenankan berbicara di luar perusahaan. Karena Komite Audit
merupakan tools Dewan Komisaris dengan demikian yang berhak untuk
berbicara adalah Dewan Komisaris.
Khusus dalam proses audit, Komite Audit memainkan peranan
yang sangat penting dalam :
1. Mereview audit plan
2. Mendiskusikan penunjukan auditor eksternal. Pada saat proses lelang,
Komite Audit harus sudah ikut untuk melihat apakah auditor eksternal
layak dipilih dan melihat fairness proses pemilihan. Yang akan bicara
kepada Direksi adalah Dewan Komisaris, bukan Komite Audit. Jangan
sampai Komite Audit over duties (berlebih-lebihan).
3. Mereview transaksi-transaksi besar untuk dilaporkan kepada Dewan
Komisaris, kemudian Dewan Komisaris berkomunikasi dengan
Direksi.
Agar pengawasan Dewan Komisaris dapat berjalan dengan baik, Komite Audit
dapat membantu Dewan Komisaris untuk memberikan nasehat dengan cara :

Audit Pemerintah

1. Mereview sistem internal control, ada pemisahan fungsi atau tidak


(internal control setting) bagus atau tidak. Hal ini dilaporkan kepada
Dewan Komisaris.
2. Komunikasi antara Komite Audit, Dewan Komisaris dan manajemen.
Seharusnya Komite Audit membantu Dewan Komisaris dalam
menelaah/mereview laporan manajemen karena tidak selalu 100 %
laporan keuangan dipahami oleh Dewan Komisaris, terutama karena
latar belakang yang bukan keuangan. Jadi fungsi Komite Audit adalah
mentransformasikan angka-angka kedalam suatu bentuk usulan kepada
Dewan Komisaris agar Dewan Komisaris dapat memberikan advise
kepada Direksi.
Kasus PT. KAI menarik untuk dicermati karena kasus ini dapat terjadi di
perusahaan lainnya. Apapun permasalahan yang terjadi apabila diantara Direksi
dan Komisaris terjadi perbedaan pendapat yang rugi adalah perusahaan, dimana
social and political costnya sangat tinggi. Selain itu masing-masing pihak yang
sedang berselisih pendapat (yaitu Direksi maupun Komisaris) akan dimanfaatkan
oleh pihak-pihak tertentu sehingga akan sangat merugikan perusahaan, yang pada
akhirnya akan mengganggu keberlangsungan (sustainability) perusahaan.
Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kasus PT. KAI adalah
karena rumitnya laporan keuangan PT. KAI. Hal ini karena terdapat ratusan
stasiun, puluhan depo dan gudang yang seluruhnya memiliki laporan keuangan
yang terpisah, sehingga yang berpotensi menyebabkan masalah maupun
perbedaan pendapat di kemudian hari. Hal ini ditambah lagi dengan kenyataan
bahwa baru sebagian kecil proses akuntansi dilaksanakan dengan komputer.
Sebenarnya sistem akuntansi PT. KAI cukup modern untuk penyusunan laporan
keuangan dan informasi manajemen, namun karena kedua hal tersebut diatas
maka sistem akuntansi tersebut tidak dapat berfungsi dengan baik.
Keterkaitan antara realisasi anggaran dengan akuntansi juga merupakan
masalah yang rumit karena sistem otorisasi anggaran yang kompleks. Kenyataan
lain yang turut mendorong terjadinya kasus laporan keuangan PT. Kereta Api
adalah bahwa proses akuntansi dan laporan keuangan adalah hanya urusan bagian
akuntansi, unit lain kurang terlibat dan tidak memiliki sense of belonging,
sehingga hal ini jelas menyulitkan bagi bagian akuntansi.
Selain beberapa hal teknis tersebut diatas, beberapa hal yang diidentifikasi
turut berperan dalam masalah pada laporan keuangan PT. Kereta Api adalah :
1. Auditor Internal tidak berperan aktif dalam proses audit, yang berperan hanya
Auditor Eksternal.
2. Komite Audit tidak ikut dalam proses penunjukan auditor sehingga tidak
terlibat dalam proses audit.
3. Manajemen (termasuk auditor internal) tidak melaporkan kepada Komite Audit
dan Komite Audit juga tidak menanyakannya.
4. Adanya ketidakyakinan manajemen akan laporan keuangan yang telah disusun,
sehingga ketika Komite Audit mempertanyakannya manajemen merasa tidak
yakin.
Audit Pemerintah

10

Beberapa aktifitas bisnis PT. Kereta Api yang juga berpotensi menimbulkan
masalah di kemudian hari adalah :
Adanya transaksi antara PT. Kereta Api dan Negara yang kebijakan dan sistem
perhitungannya belum dipahami dan disepakati dengan baik (PSO : Public
Service Obligation, IMO : Infrastructure Maintenance and Operation, TAC :
Track Access Charges)
Transaksi masa sebelumnya yang masih belum terselesaikan (BPYBDS,
perubahan status perusahaan)
Perubahan peraturan pemerintah (termasuk peraturan perpajakan)
Penyelesaian Past Service Liability /PSL Pensiun Pegawai
RUU Perkeretaapian dengan kemungkinan Unbundling dari aktifitas
perusahaan dan keikutsertaan swasta
SOLUSI DAN REKOMENDASI
Dengan pembahasan kasus audit umum PT. Kereta Api Indonesia, beberapa
pelajaran berharga dapat dipetik dari kasus tersebut, diantaranya adalah :
Pertama, perselisihan antara Dewan Komisaris dan Direksi sebenarnya
dapat diselesaikan dengan cara yang lebih elegan. Apabila Dewan Komisaris
merasa Direksi tidak capable memimpin perusahaan, Dewan Komisaris dapat
mengusulkan kepada pemegang saham untuk mengganti Direksi. Hal ini akan
jauh lebih baik dan tentunya mampu menghindarkan perusahaan dari social cost
yang tidak perlu. Social cost seringkali timbul karena public judgement yang
sudah terlanjur dijatuhkan dan seringkali public judgement ini tidak fair bagi
perusahaan.
Kedua, Dewan Komisaris merupakan suatu dewan, sehingga akan sangat
ideal apabila Dewan Komisaris mempunyai satu orang juru bicara yang
mengatasnamakan seluruh Dewan Komisaris sehingga Dewan Komisaris
memiliki satu suara. Namun demikian bukan berarti tidak diperkenankan adanya
perbedaan pendapat dalam Dewan Komisaris. Perbedaan pendapat diakomodir
dengan jelas dalam dissenting opinion yang harus dicatat dalam risalah rapat.
Untuk itulah perlunya kebijaksanaan (wisdom) dari anggota Dewan Komisaris
untuk memilah-milah informasi apa saja yang merupakan public domain dan
informasi yang merupakan private domain. Hal ini terkait dengan pelaksanaan
prinsip GCG yaitu transparansi, karena transparansi bukan berarti memberikan
seluruh informasi perusahaan kepada semua orang, namun harus tepat sasaran dan
memberikan nilai tambah bagi perusahaan.
Ketiga, sesuai dengan SA 380, Komunikasi Auditor Eksternal dengan
Komite Audit merupakan faktor yang sangat menentukan dalam proses audit suatu
perusahaan. Kasus PT. Kereta Api merupakan cerminan bahwa komunikasi yang
intens antara Auditor Eksternal dengan Komite Audit sangat diperlukan. Kendala
komunikasi yang dihadapi pada kasus PT. Kereta Api salah satunya dipicu oleh
adanya pergantian anggota Komite Audit pada saat pelaksanaan audit. Auditor
eksternal mengalami hambatan karena terdapat kekosongan beberapa bulan
sebelum anggota Komite Audit yang baru diangkat.
Audit Pemerintah

11

Keempat, komunikasi antara Komite Audit dengan Internal Auditor yang


belum tercipta dengan baik merupakan salah satu faktor yang turut memiliki andil
dalam memicu kasus ini. Sebagaimana diketahui bersama bahwa Komite Audit
sangat mengandalkan Internal Auditor dalam menjalankan tugasnya untuk
mengetahui berbagai hal yang terjadi dalam operasional perusahaan. Sebagai
ilustrasi mengenai kurangnya komunikasi antara Komite Audit dan Auditor
Internal, sejak Komite Audit aktif September 2005, sampai dengan saat ini belum
pernah satu kalipun terjadi komunikasi antara Komite Audit dengan Auditor
Internal untuk proses audit tahun buku 2006.
Kelima, terkait dengan prinsip konsistensi yang harus diterapkan dalam
akuntansi, perlu ditekankan bahwa pelaksanaan prinsip konsistensi dengan tetap
berpegang pada pengetahuan dan prinsip akuntansi yang berlaku. Dengan
demikian bukan berarti kebijakan akuntansi yang telah dilakukan tahun lalu akan
dianggap konsisten apabila tahun ini tetap dilakukan.
Keenam, beberapa hal teknis yang pelru dipertimbangkan untuk
dikembangkan adalah PSAK yang khusus mengatur mengenai PSO (Public
Service Obligation), IMO (Infrastructure Maintenance and Operation), TAC
(Track Access Charges) dan BPYBDS serta komputerisasi akuntansi dan
penyederhanaan chart of account atau penyederhanaan sistem akuntansi.
Khusus untuk PT. Kereta Api, beberapa masukan yang dapat diterapkan
untuk memperbaiki kondisi yang telah terjadi saat ini adalah :
1. Komite Audit tidak memberikan second judge atas opini Auditor Eksternal,
karena opini sepenuhnya merupakan tanggung jawab Auditor Eksternal.
2. Harus ada upaya untuk membenarkan kesalahan tahun-tahun lalu, karena
konsistensi yang salah tidak boleh dipertahankan. Kesalahan-kesalahan sudah
terakumulasi dari tahun-tahun sebelumnya sehingga terdapat dua alternatif, yaitu
di restatement atau dikoreksi. Keputusan mengenai opsi yang dipilih sepenuhnya
tergantung dari Badan Peradilan Profesi Akuntan Publik (BP2AP), karena kasus
PT. Kereta Api sedang diproses disana.
3. Komite Audit tidak berbicara kepada publik, karena esensinya Komite Audit
adalah organ Dewan Komisaris sehingga pendapat dan masukan Komite Audit
harus disampaikan kepada Dewan Komisaris. Apabila Dewan Komisaris tidak
setuju dengan Komite Audit namun Komite Audit tetap pada pendiriannya,
Komite Audit dapat mencantumkan pendapatnya pada laporan komite audit yang
terdapat dalam laporan tahunan perusahaan.
4. Komite Audit dan Dewan Komisaris sebaiknya melakukan inisiatif untuk
membangun budaya pengawasan dalam perusahaan melalui proses internalisasi,
sehingga pengawasan merupakan bagian tidak terpisahkan dari setiap organ dan
individu dalam organisasi.
5. Komite Audit berperan aktif dalam melakukan risk mapping,
mengkoordinasikan seluruh tahapan proses auditing, mulai dari penunjukan,
Audit Pemerintah

12

pembuatan program, mengevaluasi dan memberikan hasil evaluasi kepada Dewan


Komisaris, yang akan mengkomunikasikannya kepada Direksi.
6. Manajemen menyusun laporan keuangan secara tepat waktu, akurat dan full
disclosure.
7. Komite Audit menjembatani agar semua pihak di perusahaan terlibat aktif
dalam pengawasan. Kunci untuk merekatkan semua pihak dijalankan oleh Auditor
Internal yang berkomunikasi intens dengan Komite Audit.
Pembelajaran menarik dalam aspek public governance pada kasus ini
adalah mengenai Bantuan Pemerintah Yang Belum Ditentukan Statusnya
(BPYBDS). Sebagai perwakilan pemegang saham (yaitu Pemerintah), departemen
teknis terkait dan Kementerian BUMN seharusnya tegas dalam menentukan
BPYBDS ini, apakah merupakan penyertaan modal atau hutang. Fakta yang
terjadi saat ini adalah BPYBDS statusnya tetap dibiarkan tidak jelas sampai
bertahun-tahun sehingga nilainya di beberapa BUMN mencapai triliunan rupiah.
Hal ini jelas akan berpotensi menimbulkan masalah di masa yang akan datang,
karena akan menyulitkan perusahaan dalam mengelompokkannya, apakah
termasuk aset atau kewajiban (liability).
Terlepas dari kasus audit umum PT. Kereta Api Indonesia, concern yang
mengemuka terkait dengan Auditor Eksternal adalah merebaknya praktek
penipuan dan manipulasi yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung
jawab dengan mengatasnamakan Kantor Akuntan Publik yang ada atau
memalsukan/membuat nama Kantor Akuntan Publik yang sebenarnya tidak
terdaftar sebagai akuntan publik.
Secara prinsip Komite Audit sangat tergantung pada akuntan publik.
Terkait dengan praktek penipuan tersebut, untuk meningkatkan citra profesi IAI
Kompartemen Akuntan Publik telah membentuk Dewan Review Mutu untuk
mereview mutu pekerjaan akuntan publik. Untuk itu peran aktif pengguna jasa
akuntan publik sangat dibutuhkan karena hanya dengan pengaduan suatu tindakan
penipuan atau manipulasi dapat ditindaklanjuti oleh IAI.

BAB III
SIMPULAN

Audit Pemerintah

13

3.1

SIMPULAN

Selama ini sektor publik/pemerintah tidak luput dari tudingan sebagai


sarang korupsi, kolusi, nepotisme, inefisiensi dan sumber pemborosan negara,
padahal sektor publik merupakan lembaga yang menjalankan roda pemerintahan
yang sumber dayanya berasal dari masyarakat. Oleh karena itu, kepercayaan yang
diberikan oleh masyarakat kepada penyelenggara pemerintahan haruslah
diimbangi dengan adanya pemerintahan yang bersih.
Seiring dengan munculnya tuntutan dari masyarakat agar organisasi sektor publik
mempertahankan kualitas, profesionalisme dan akuntabilitas publik serta value for
money dalam menjalankan aktivitasnya, diperlukan audit terhadap organisasi
sektor publik tersebut. Audit yang dilakukan tidak hanya terbatas pada audit
keuangan dan kepatuhan tetapi juga audit kinerja. Karena audit kinerja
memfokuskan pemeriksaan pada tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian
ekonomi yang menggambarkan kinerja entitas atau fungsi yang diaudit.
Audit kinerja merupakan suatu proses yang sistematis untuk memperoleh dan
mengevaluasi bukti secara obyektif, agar dapat melakukan penilaian secara
independen atas ekonomi dan efisiensi operasi, efektifitas dalam pencapaian hasil
yang diinginkan dan kepatuhan terhadap kebijakan, peraturan dan hukum yang
berlaku, menentukan kesesuaian antara kinerja yang telah dicapai dengan kriteria
yang telah ditetapkan sebelumnya serta mengkomunikasikan hasilnya kepada
pihak-pihak pengguna laporan tersebut.

Audit Pemerintah

14

DAFTAR PUSTAKA

http://blog-indonesia.com/blog-archive-6332-16.html

http://visijobs.com/artikel.php?id=154&sub=news&page=8

http://www.academia.edu/4532501/Makalah Audit Pemerintahan dan


Komputer Audit

http://www.depkeu.go.id, http://www.bpk.go.id, http://www.stan.ac.id,

http://www.gao.gov, http://www.oag-bvg.gc.ca, http://www.rekenkamer.nl,

http://www.vtv.fi, http://www.anao.gov.au, http://www.intosai.org,

Audit Pemerintah

iii