Anda di halaman 1dari 3

PENGARUH SUHU TERHADAP DENYUT JANTUNG KATAK

Katak merupakan hewan yang dapat hidup di darat dan di air, Katak termasuk
kedalam kelas amphibi. Katak muda hidup di air dan bernapas dengan insang. Katak dewasa
hidup di darat dan bernapas menggunakan paru-paru. Ketika katak dewasa akan bertelur,
katak tersebut akan menuju air untuk mengeluarkan telur-telurnya. Katak mempunyai kulit
yang selalu basah untuk membantu pernapasannya karena kulit yang selalu basah ini banyak
mengandung pembuluh darah sehingga dapat membantu oksigen berdifusi melalui kulitnya.
Katak bergerak dengan keempat kakinya.
Katak ini merupakan hewan poikiloterm, yaitu suhu tubuhnya selalu berubah seiring
dengan berubahnya suhu lingkungan. Jantung katak (Rana sp.) terdiri dari tiga ruang yaitu
dua atrium dan satu ventrikel. Kecepatan denyut jantungnya dipengaruhi beberapa faktor
antara lain aktivitas, ukuran dan umur, cahaya, temperatur (suhu), Obat-obat (senyawa
kimia). Suhu mempengaruhi proses fisiologi organisme termasuk frekuensi denyut jantung.
Suhu tubuh yang konstan sangat dibutuhkan oleh hewan karena perubahan suhu dapat
mempengaruhi konformasi protein dan aktivitas enzim. Apabila aktivitas enzim terganggu,
reaksi dalam sel juga akan terganggu.
Suhu merupakan salah satu pembatas penyerapan hewan dan menentukan aktivitas
hewan. Banyak hewan yang suhu tubuhnya disesuaikan dengna suhu linhkungan yang disebut
dalam kelompok hewan poikilitermik. Poikilotermik berarti suhu berubah (labil) sesuai
dengan perubahan suhu lingkungan. Jadi suhu tubuh hewan poikilotermik mengikuti atau
bergantung pada suhu lingkungan.
Berdasarkan pengaruh suhu lingkungan terhadap hewan, hewan dibagi menjadi dua
golongan, yaitu poikiloterm dan homoiterm. Hewan poikiloterm suhu tubuhnya dipengaruhi
oleh lingkungan. Suhu tubuh bagian dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu tubuh luar.
Hewan seperti ini juga disebut hewan berdarah dingin. Suhu tubuh hewan ini berubah sesuai
dengan suhu lingkungannya. Hewan ini akan aktif bila suhu lingkungan panas dan akan pasif
(berdiam di suatu tempat) bila suhu lingkungan rendah. Hewan yang tergolong poikiloterm
antara lain : Pisces, Amphibi dan Reptilia.
Hewan homoiterm sering disebut hewan berdarah panas. Pada hewan homoiterm
suhunya lebih stabil, hal ini dikarenakan adanya reseptor dalam otaknya sehingga dapat
mengatur suhu tubuh. Hewan homoiterm dapat melakukan aktifitas pada suhu lingkungan
yang berbeda akibat dari kemampuan mengatur suhu tubuh. Hewan homoiterm mempunyai
variasi temperatur normal yang dipengaruhi oleh faktor umur, faktor kelamin, faktor

lingkungan, faktor panjang waktu siang dan malam, faktor makanan yang dikonsumsi dan
faktor jenuh pencernaan air.
Hewan berdarah panas adalah hewan yang dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhusuhu tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya.
Sebagian panas hilang melalui proses radiasi, berkeringat yang menyejukkan badan. Melalui
evaporasi berfungsi menjaga suhu tubuh agar tetap konstan. Contoh hewan berdarah panas
adalah bangsa burung dan mamalia, hewan yang berdarah dingin adalah hewan yang suhu
tubuhnya kira-kira sama dengan suhu lingkungan sekitarnya.
Menghadapi fluktuasi suhu lingkungan hewan poikilotermik melakukan konformitas
suhu (termokonformitas), suhu tubuhnya terfluktuasi sesuai dengna suhu lingkunganya. Laju
kehilangna panas pada hewan poikilotermik lebih tinggi dari pada laju produksi panas,
sehingga suhu tubuhnya ditentukan oleh suhu lingkungan eksternalnya dari pada suhu
metabolisme internalnya. Dilihat dari ketergantungan terhadap suhu lingkungan. Hewan
poikilotermik disebut juga sebagai hewan ektoterm.
Menghadapi suhu lingkunganya, hewan homeotermik melakukan regulasi suhu
(termortegulasi), suhu tubuhnya konstan walaupun suhu lingkungna ya berfluktuasi (sampai
pada batas tertentu). Kehilangna panas lebih sedikit dibvandingkan dengna laju produksi
panas internalnya, sehingga suhu tubuhnya lebih ditentukan oleh suhu internalnya.( Isnaeni,
2006)
Perubahan suhu memiliki pengaruh besar terhadap berbagai tahap proses fisiologi.
Misalnya, pengaruh suhu terhadap konsumsi oksigen. Dalam batas-batas toleransi hewan,
kecepatan konsumsi oksigen akan meningkat dengan meningkatnya suhu lingkungan. Pada
seekor hewan yang memiliki rentangan suhu toleransi luas, kecepatan konsumsi oksigennya
akan meningkat dengan cepat begitu suhu lingkunganya naik. Suatu metode untuk
menghitung pengaruh suhu terhadap kecepatan reaksi adalah perkiraan Q 10, yaitu peningkatan
kecepatan proses yang disebabkan oleh peningkatan suhu 10 oC. Q10merupakan perbandingan
antara laju reaksi (A) yang terjadi pada suhu (t + 10) oC dan laju reaksi (A) pada suhu t 0 oC
atau dapat dituliskan dengan rumus :
Q10 = A ( t + 10)oC
A ( t0)oC

Pada seekor hewan yang memiliki rentangan suhu toleransi luas, kecepatan konsumsi
oksigenya akan meningkat dengan cepat begitu suhu lingkungannya naik. Bila pengaruh suhu
terhadap kecepatan konsumsi oksigen ini digambarkan grafiknya, akan diperoleh kurva
eksponensial.
Suhu mempengaruhi proses fisiologis organisme termasuk frekuensi denyut jantung.
Penaikan ataupun penurunan tersebut dapat mencapai dua kali aktivitas normal. Perubahan
aktivitas akibat pengaruh suhu. Aktivitas akan naik seiring dengan naiknya suhu sampai pada
titik dimana terjadi kerusakan jaringan, kemudian diikuti aktivitas yang menurun dan
akhirnya terjadi kematian.
Pada umumnya, hewan poikilotermik akan mati jika dihadapkan pada suhu yang amat
rendah, walaupun masih diatas titik beku air untuk hewan akuatik. Sebaliknya hewan akan
mati jika dihadapkan pada suhu yang yang tinggi, meskipun masih dibawah suhu yang dapat
menyebabkan denaturasi protein. Begitu suhu tubuh hewan poikiloterm turun, maka aktivitas
jantung dan pernafasan menjadi lambat dan hewan mungkin hipoksia. Hewan poikiloterm
suhu tubuhnya sangat ditentukan oleh keseimbangan konduktif dan konfektif dengan air
mediumnya dan suhu tubuhnya mirip dengan suhu air. Hewan memproduksi panas internal
secara metabolik. Karena air memiliki konduktifitas dan kapasitas panas yang tinggi. Seekor
hewan kecil kehilangan panas lebih cepat, sehingga suhu tubuh tidak berbeda jauh dengan
suhu lingkungan.