Anda di halaman 1dari 33

Laporan Praktikum Urea Formaldehid

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Urea adalah senyawa turunan dari asam karboksilat yang mengikat gugus amida.Urea
disintesis di industri dari amonia dan karbon dioksida untuk digunakan sebagai bahan
dalam sintesa polimer, obat obatan, sumber nitrogen non-protein bagi ternak
ruminansia dan untuk pupuk nitrogen .
Formalin adalah gas yang mudah terbakar, tidak berwarna, gas beracun dengan bau
yang menusuk dan menyesakkan. Formalin biasa digunakan sebagai desinfektan dan
pengawet untuk spesimen hayati .
Resin urea formaldehid adalah hasil polimerisasi kondensasi urea dengan formaldehid.
Resin ini termasuk dalam kelas resin thermosetting yang mempunyai sifat tahan
terhadap asam ,basa , idak dapat melarut dan tidak dapat meleleh. Karena sifat-sifat
tersebut, aplikasi resin urea-formaldehid yang sangat luas sehingga industri ureaformaldehid berkembang pesat. Contoh industri yang menggunakan industri
formaldehid adalah laminating, coating, tekstil resin finishing.
I.2. Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mempelajari pengaruh perubahan kondisi reaksi
antara urea dan formalin pada kecepatan reaksi dan hasil reaksi pada tahap
intermediate .

BAB II
TEORI PENUNJANG

Urea merupakan amida yang bersifat basa karena karbonil tunggalnya tidak cukup
untuk mengkompensasi dua gugus amino. Urea adalah senyawa kovalen yang memiliki
tiga atom iner (dalam). Berat molekulnya 60,06 gram/mol, titik leleh 133 oC(406 K) dan
densitas 1 gr/ml .
Meskipun dalam udara bebas formaldehida berada dalam wujud gas, tapi bisa larut
dalam air (biasanya dijual dalam kadar larutan 37% menggunakan merk dagang

formalin atau formol). Dalam air, formaldehida mengalami polimerisasi, sedikit sekali
yang ada dalam bentuk monomer H2CO. Umumnya, larutan ini mengandung beberapa
persen metanol untuk membatasi polimerisasinya. Formalin adalah larutan
formaldehida dalam air, dengan kadar antara 10%-40%.
Meskipun formaldehida menampilkan sifat kimiawi seperti pada umumnya aldehida,
senyawa ini lebih reaktif daripada aldehida lainnya. Formaldehida merupakan elektrofil,
bisa dipakai dalam reaksi substitusi aromatik elektrofilik dan sanyawa aromatik serta
bisa mengalami reaksi adisi elektrofilik dan alkena. Karena keadaannya katalis basa,
formaldehida bisa mengalami reaksi Cannizaro menghasilkan asam format dan
metanol.Formaldehida bisa membentuk trimer siklik, 1,3,5-trioksan atau polimer linier
polioksimetilen. Formasi zat ini menjadikan tingkah laku gas formaldehida berbeda dari
hukum gas ideal, terutama dalam tekanan tinggi atau udara dingin. Formaldehida bisa
dioksidasi oleh oksigen atmosfer menjadi asam format, karena itu larutan formaldehida
harus ditutup serta diisolasi supaya tidak kemasukan udara. Urea dengan formaldehid
akan bereaksi membentuk kopolimer yang disebut urea formaldehid.
Polimer adalah suatu senyawa yang terbentuk dari dua molekul atau lebih dengan
rantai yang panjang . Molekul dan berat molekulnya besar . Unit unit molekulnya
dikenal sebagai monomer monomer yang berikatan secara berangkai rangkai .
Monomer ini bisa berulang berkali kali .
Berdasarkan jenis ikatannya , polimer dibedakan menjadi 2 yaitu:
1.Homopolimer yaitu polimer yang terbentuk dari monomer monomer yang sejenis .
2.Kopolimer yaitu polimer yang terbentuk dari monomer monomer tak sejenis.
Berdasarkan mekanisme reaksinya , proses polimerisasi dibagi menjadi dua yaitu :
1.Polimerisasi adisi , yang terjadi jika monomer monomer mengalami reaksi adisi
tanpa terbentuk zat lain. Jadi yang terbentuk hanya polimer yang merupakan
penggabungan monomer monomernya .
2.Polimerisasi kondensasi , yaitu suatu reaksi dari dua buah molekul atau gugus fungsi
dari molekul ( biasanya senyawa organik ) yang membentuk molekul yang lebih besar
dan melepaskan molekul yang lebih kecil yaitu air.
Berdasarkan sifatnya, polimer dapat dibagi menjadi dua yaitu :
1.Polimer thermosetting yaitu polimer yang tidak lunak apabila dipanaskan, sehingga
sulit dibentuk ulang.

2.Polimer thermoplastic yaitu polimer yang lunak bila dipanaskan sehingga mudah
untuk dibentuk ulang
Urea-formaldehid resin adalah hasil kondensasi urea dengan formaldehid. Resin jenis
ini termasuk dalam kelas resin thermosetting yang mempunyai sifat tahan terhadap
asam, basa, tidak dapat melarut dan tidak dapat meleleh. Polimer termoset dibuat
dengan menggabungkan komponen-komponen yang bersifat saling menguatkan
sehingga dihasilakn polimer dengan derajat cross link yang sangat tinggi. Karena sifatsifat di atas, aplikasi resin urea-formaldehid yang sangat luas sehingga industri ureaformaldehid berkembang pesat. Contoh industri yang menggunakan industri
formaldehid adalah addhesive untuk plywood, tekstil resin finishing, laminating, coating,
molding, casting, laquers, dan sebagainya. Pembuatan resin urea-formaldehid secara
garis besar dibagi menjadi 3. Yang pertama adalah reaksi metiolasi, yaitu
penggabungan urea dan formaldehid membentuk monomer-monomer yang berupa
monometilol dan dimetil urea. Reaksi kedua adalah penggabungan monomer yang
terbentuk menjadi polimer yang lurus dan menghasilkan uap air. Tahp ini disebut tahap
kondensasi. Proses ketiga adalah proses curing, dimana polimer membentuk jaringan
tiga dimensi dengan bantuan pemanasan dalam oven.
Reaksi urea-formaldehid pada pH antara 8 sampai 10 adalah reaksi metilolasi, yaitu
adisi formaldehid pada gugus amino dan amida dari urea, dan menghasilkan metilol
urea. Pada tahap metilolasi , urea dan formaldehid bereaksi menjadi metilol dan dimetil
urea. Rasio dari senyawa mono dan dimetilol yang terbentuk bergantung pada rasio
formaldehid dan urea yang diumpankan. Reaksi berlangsung pada kondisi basa dengan
amoniak (NH4OH) sebagai katalis dan Na2CO3 sebagai buffer. Buffer ini berfungsi
menjaga kondisi pH reaksi agar tidak berubah tiba-tiba secara drastis. Analisa awal
dilakukan dengan menggunakan blanko berupa larutan formaldehid, NH4OH dan
Na2CO3. Sampel ke-0 diambil setelah urea ditambahkan pada larutan dan diaduk
sempurna. Setelah itu dilakukan pemanasan sampai 70 0C untuk mempercepat reaksi.
Reaksi metilolasi diteruskan dengan reaksi kondensasi dari monomer-monomer mono
dan dimetilol urea membentuk rantai polimer yang lurus. Derivat-derivat metilol
merupakan monomer, penyebab terjadinya reaksi polimerisasi kondensasi. Polimer
yang dihasilkan mula-mula mempunyai rantai lurus dan masih larut dalam air. Semakin
lanjut kondensasi berlangsung, polimer mulai membentuk rantai 3 dimensi dan semakin
berkurang kelarutannya dalam air. Reaksi kondensasi ini dilakukan dalam sebuah labu
berleher yang dilengkapi kondensor ohm meter, termometer, agitator dan pipa untuk
sampling point. Labu berleher ini ditempatkan dalam waterbath.
Kondensor berfungsi mengembunkan air yang menguap selama proses
polimerisasi. Hal ini dimaksudkan mempercepat tercapainya kesetimbangan reaksi.

Agitator berfungsi membuat larutan tetap homogen selama proses pembentukan


produk urea formaldehid.

Pada prinsipnya, pembuatan produk-produk urea-formaldehid dilakukan melalui


beberapa tahapan:
1.Tahap intermediate
Merupakan suatu tahap untuk mendapatkan resin yang masih berupa larutan dan larut
dalam air atau pelarut lainnya .
2.Tahap persiapan
Pada tahap ini resin merupakan produk dari tahap intermediate yang dicampurkan
dengan bahan lain . Penambahan bahan akan menentukan produk akhir dari polimer .
3.Tahap curing
Pada proses curing, kondensasi tetap berlangsung, polimer membentuk rangkaian 3
dimensi yang sangat kompleks dan menjadi thermosetting resin. Hasil reaksi dan
kecepatannya, sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor:
1.Perbandingan umpan
Umumnya , Perbandingan mol umpan (formalin/urea) yang digunakan pada percobaan
ini adalah 1,25 dimana perbandingan umpan berada pada batas standar yang
ditentukan, perbandingan umpan harus berada dalam range antara 1,25 2,0 hal
tersebut dimaksudkan agar larutan resin yang terbentuk tidak kental dan tidak encer.
Sehingga mempermudah analisis baik analisis densitas, viskositas, kadar resin dan
formalin bebas. Besarnya perbandingan mol umpan formalin dengan urea sangat
mempengaruhi pada produk (polimer) yang dihasilkan, bila perbandingan umpan
kurang dari 1,25 maka resin yang dihasilkan memiliki kadar formalin yang rendah dan
menghasilkan polimer yang kekerasan dan kepadatannya rendah ,sedangkan bila
perbandingan umpan lebih dari 2 maka resin yang dihasilkan memiliki kadar formalin
yang tinggi dan menghasilkan polimer yang kekerasan dan kepadatannya tinggi.
2.Pengaruh pH
Kondisi reaksi sangat berpengaruh terhadap reaksi atau hasil reaksi selama proses
kondensasi polimerisasi terjadi . Dalam suasana asam akan terbentuk senyawa
Goldsmith dan senyawa lain yang tidak terkontrol sehingga molekul polimer yang

dihasilkan rendah .
Senyawa Goldsmith tidak diinginkan karena mempunyai rantai polimer lebih pendek
tetapi stabil terhadap panas.
Dalam suasana basa kuat , formaldehid akan bereaksi secara disproporsionasi dimana
sebagian akan teroksidasi menjadi asam karboksilat dan sebagian tereduksi menjadi
alkohol. Reaksi yang terjadi adalah :
2H-CO-H +OH- ===> H-CO-O + CH3OH
formaldehid basa kuat asam karboksilat alcohol
3.Katalis
Menurut JJ. Berjelius, katalis merupakan senyawa yang ditambahkan untuk
mempercepat reaksi tanpa ikut bereaksi. Sedangkan menurut W.Ostwald, katalis
merupakan senyawa yang ditambahkan untuk mempercepat reaksi tanpa tergabung
dalam produk. Artinya katalis dapat mempercepat reaksi, ikut aktif dalam reaksi, tetapi
tidak ikut tergabung didalam produk. Untuk proses ini digunakan katalis NH3 yang
dapat menurunkan energi aktivasi dengan menyerap panas pada saat curing, fungsinya
adalah untuk mengatur penguapan agar tidak gosong. Energi aktivasi adalah energi
minimum yang dibutuhkan agar molekul molekul yang di dalam larutan bertumbukan,
sehingga reaksi menjadi cepat.
4.Temperatur reaksi
Temperatur reaksi tidak boleh melebihi titik lelehnya karena dimetilol urea yang terjadi
akan kehilangan air dan formaldehid . Menurut Kadowaki dan Hasimoto , temperatur
optimum reaksi adalah 85oC . Sedangkan titik lelehnya menurut De Chesne adalah 150
oC . Dan menurut Einhorn adalah 126 oC . Kenaikan temperatur akan mempercepat
laju reaksi , hal ini dapat ditunjukkan dengan persamaan Arrhenius yaitu :
K = A e-Ea/RT
5.Buffer
Buffer (larutan penyangga) digunakan untuk menyangga kondisi operasi pada pH yang
diinginkan. Dalam hal ini pH yang diinginkan antar 8 sampai 10. Buffer yang digunakan
pada percobaan ini adalah Na2CO3.H2O
6.Kemurnian zat umpan

Zat umpan yang digunakan harus murni karena adanya zat pengotor dikhawatirkan
akan mempengaruhi terbentuknya polimer atau terjadinya reaksi samping .
7.Laju Reaksi
Laju reaksi atau kecepatan reaksi ialah laju atau kecepatan berkurangnya pereaksi atau
terbentuknya produk reaksi. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi ialah :
konsentrasi,temperatur,katalis,dan luas permukaan.
Persamaan yang menyatakan laju sebagai fungsi konsentrasi setiap saat yang
mempengaruhi laju reaksi disebut hukum laju atau persamaan laju reaksi.
Konsentrasi merupakan salah satu faktor yang memepengaruhi laju reaksi,dimana
sebagai contoh pada reaksi A + B C . Dimana pada waktu reaksi berlangsung, zat C
terbentuk dan semakin lama jumlahnya semakin banyak sebaliknya zat A dan zat B
berkurang, dan semakin lama semakin sedikit.
Orde reaksi adalah jumlah pangkat konsentrasi dalam hukum laju bentuk diferensial.

Resin Urea-Formaldehid
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Resin urea-formaldehid adalah salah satu contoh polimer yang merupakan hasil kondensasi urea dengan
formaldehid. Polimer jenis ini banyak digunakan di industri untuk berbagai tujuan seperti bahan adesif (61%),
papan fiber berdensitas medium (27%), hardwood plywood (5%) dan laminasi(7%) pada
produk mebelir (furniture), panel dan lain-lain.
Urea-formaldehid (dikenal juga sebagai urea-metanal) adalah suatu resin atau plastik thermosetting yang
terbuat dari urea dan formaldehid yang dipanaskan dalam suasana basa lembut seperti amoniak atau piridin.
Resin ini memiliki sifat tensile-strength dan hardness permukaan yang tinggi, dan absorpsi air yang rendah.
Reaksi urea-formaldehid merupakan reaksi kondensasi antara urea dengan formaldehid. Pada umumnya
reaksi menggunakan katalis hidroksida alkali dan kondisi reaksi dijaga tetap pada pH 8-9 agar tidak terjadi
reaksi Cannizaro, yaitu reaksi diproporsionasi formaldehid menjadi alkohol dan asam karboksilat. Untuk
menjaga agar pH tetap maka dilakukan penambahan ammonia sebagai buffer ke dalam campuran.

Reaksi ini secara umum berlangsung dalam 3 tahap yakni inisiasi, propagasi (kondensasi), dan proses curing.
1. Tahap metilolasi, yaitu adisi formaldehid pada gugus amino dan amida dari urea, dan menghasilkan
metilol urea
2. Tahap selanjutnya propagasi, yaitu reaksi kondensasi dari monomer-monomer mono dan dimetilol
urea membentuk rantai polimer yang lurus
3. Tahap terakhir adalah proses curing yaitu ketika kondensasi tetap berlangsung, polimer membentuk
rangkaian 3 dimensi yang sangat kompleks dan menjadi resin thermosetting. Resin thermosetting
mempunyai sifat tahan terhadap asam, basa, serta tidak dapat melarut dan meleleh. Temperatur
curing dilakukan pada sekitar temperatur 120 Celcius dan pH < 5

Katalis[sunting | sunting sumber]


Penggunaan katalis pada suatu reaksi akan meningkatkan laju reaksi tersebut. Begitu juga yang terjadi
pada reaksi urea-formaldehid ini. Laju reaksinya akan meningkat jika digunakan katalis. Katalis yang
diguanakan pada percobaan ini adalah NH4OH karena reaksi ini berlangsung pada kondisi basa.

Temperatur[sunting | sunting sumber]


Kenaikan temperatur selalu mengakibatkan peningkatan laju suatu reaksi. Namun, kenaikan temperatur
ini dapat mempengaruhi jumlah produk yang terbentuk, bergantung pada jenis reaksi tersebut (eksoterm
atau endoterm). Oleh karena itu, diperlukan suatu optimasi untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Kenaikan temparatur juga dapat menurunkan berat molekul (Mr) resin urea-formaldehid. Hal tersebut
dikarenakan adanya pembentukan pusat-pusat aktif yang baru, sehingga memperkecil ukuran molekul
resin.

Waktu Reaksi[sunting | sunting sumber]


Jumlah dan sifat produk yang dihasilkan dari suatu reaksi juga dipengaruhi oleh waktu reaksi. Makin lama
waktu reaksi, jumlah produk yang dihasilkan makin banyak akibatnya, resin yang dihasilkan akan
berkadar tinggi dan memiliki Mr tinggi.

Reaksi Pembuatan[sunting | sunting sumber]


Kondensasi[sunting | sunting sumber]
Reaksi kondensasi ini dilakukan dalam sebuah labu berleher yang
dilengkapi kondensor ohmmeter, termometer, agitator. Kondensor berfungsi mengembunkan air yang

menguap selama proses polimerisasi. Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat tercapainya
kesetimbangan reaksi. Agitator berfungsi membuat larutan tetap homogen selama proses berlangsung.
Kerugian penggunaan urea-formaldehid sebagai resin dibandingkan polimer lain adalah resistensinya
terhadap kadar air (moisture) apalagi jika dikombinasikan dengan panas. Kondisi ini dapat menyebabkan
reaksi balik dan melepaskan monomer monomer yang belum sempurnya bereaksi membentuk polimer.
Monomer ini biasanya beracun misalnya formaldehid yang dapat menyebabkan kanker. Oleh sebab itu,
ada baiknya bila kita akan menggunakan peralatan makan yang terbuat dari bahan polimer, sebaiknya
peralatan tersebut direndam dahulu dengan air panas dengan tujuan agar monomer monomer yang
belum sempurna bereaksi terlepas pada air rendaman.

Polimer dan Monomer


Polimer
Molekul besar (makromolekul) yang terbangun oleh susunan unit ulangan kimia
yang kecil, sederhanadan terikat oleh ikatan kovalen. Unit ulangan ini biasanya
setara atau hampir setara dengan monomer yaitu bahan awal dari polimer.

Monomer
Zat yang dapat dikonversi menjadi suatu polimer. Untuk contoh, etilena adalah
monomer yang dapat dipolimerisasi menjadi polietilena (lihat reaksi berikut). Asam
amino termasuk monomer juga, yang dapat dipolimerisasi menjadi polipeptida
dengan pelepasan air.

Sumber polimer dibagi dua yaitu alami contohnya Pati, Selulosa, Protein, Lipid,
Asam Nukleat, dsbdan Sintetik contohnya Polietilena, Polivinil Klorida, dsb. Cara
Pembuatan dibagi menjadi dua proses yaitu Polimer Adisi dan Polimer Kondensasi.
Polimerisasi Adisi, Monomer mengadisi monomer lainsehingga produk polimer
mengandung semua atom yang ada pada monomer awal. Polimerisasi Kondensasi,
Sebagian dari molekul monomer tidak termasuk dalam polimer akhir. Polimer
memiliki 2 Reaksi terhadap Kalor yaitu Polimer Termoplastik Bila dipanaskan
melunak dan dapat dibentuk dengan bantuan tekanan dan Polimer Termoset Dapat
dilebur dalam pembuatannya tapi menjadi kerasselamanya tidak melunak dan tidak
dapat dicetak ulang. Contoh polimer termoset ialah :
a.Resin Phenol

Merupakan
resin
sintetik
yang
dibuat
dengan
mereaksikan
phenol
denganformaldehida, wujud nya keras, kuat, awet dan dapat dicetak pada berbegai
kondisi.Bahan ini mempunyai daya tahan panas dan air yang baik dan dapat diberi
macam-macam warna,sering digunakan sebagai bahan pelapis dan laminating,
pengikat batu gerinda, pengikat logam ataugelas, dapat dicetak menjadi kotak,
isolator listrik, tutup botol dan tangkai pisau.
b. Resin Amino
2 jenis resin amino, yakni: formaldehida urea dan formaldehida melamin.
Formaldehida melamin banyak di pasarkan dalam bentuk serbuk, untuk kemudian
di cetak, sedangkan bila bentuk cair (larutan), untuk digunakan sebagai
perekat.Untuk meningkatkan sifat mekanik dan listrik, maka pada melamin
ditambahkan
bahan
pengisi,sehingga
dapat
juga
digunakan
untuk
membuat sendok-garpu, bagian busi, tombol-tombol dan alat cukur.
Formaldehida urea. Resin urea, dapat dicetak tekan, memiliki permukaan yang
keras dan mempunyainilai dielektrik yang tinggi dan dapat diberi berbagai warna.
Produk yang dihasilkan dari resin urea adalah: peralatan listrik, kancing, dll. Kedua
jenis resin ini banyak juga digunakan untuk mencegah berkerut dan kusut nya kain
katun dan untuk mencegah menyusutnya kayu.
c.

Resin Furan.
Resin ini berasal dari hasil pengolahan limbah pertanian, seperti: tongkol jagung
dan bijikapas. Warna produk nya agak tua, tahan air dan mempunyai sifat-sifat
listrik yang baik.

d.

Resin Epoksida.
Resin jenis ini banyak dipakai untuk keperluan: pengecoran, pelapisan, protektor
alat-alat listrik, campuran cat dan sebagai adhesif (perekat/lem).Karena alasan resin
ini tahan terhadap aus dan beban kejut, maka sering juga digunakan
untuk membuat cetakan tekan (metalurgi serbuk), panel sirkuit listrik, tangki dan
jig.

e.

Resin SilikonPolimer dengan silikon sebagai bahan dasar


Mempunyai sifat yang sangat berbeda dengan bahan dasar plastik (atom karbon)
lain nya. Sifat-sifat spesifik nya adalah: stabilitas (tahan terhadapsuhu tinggi),
kedap air, oleh karena itu sering digunakan untuk membuat: minyak gemuk (fat),
resin, perekat dan karet sintetis.Contoh polimer termoplastik ialah Selulosa yang

dibuat dari serat kapas dan kayu, namun sangat kuat dan ulet serta dapat diberi
ber- bagai warna.

Pengertian Resin
Resin adalah suatu campuran yang kompleks dari ekskret tumbu-tumbuhan dan
insekta, biasanya berbentuk padat dan amorf dan merupakan hasil terakhir dari
metabolisme dan dibentuk dari ruang-ruang skizogen dan skizolisigen. Secara fisis,
resin ini biasanya keras, transparan plastis dan pada pemanasan menjadi lembek.
Secara kimiawi, resin adalah campuran yang kompleks dari asam-asam resinat,
alkoholresinat, resinotannol, ester-ester dan resene-resene. Bebas dari zat lemas
dan mengandung sedikit oksigen karena mengandung zat karbon dalam kadar
tinggi, maka kalau dibakar menghasilkan angus. Ada juga yang menganggap bahwa
resin terdiri dari zat-zat terpenoid, yang dengan jalan addisi dengan air menjadi
dammar dan fitosterin.sifatny tidak larut dalam air, sebagian larut dalam alcohol,
larut dalam eter, aseton, petroleum eter, kloroform, dan lain-lain. Apabila resin-resin
dipisahkan dan dimurnikan, biasanya dibentuk dalam zat padat yang getas dan
amorf, yang kalau dipanaskan akan menjadi lembek dan akan habis terbakar. Resin
ini juga tidak larut dalam air, tetapi larut dalam alcohol dan pelarut organic
lainnya. Isi dari resin pada umumnya adalah asam-asam resinat dan alkohol-alkohol
resinat

BAB II
ISI
2.1 Resin Urea Formaldehid
Resin urea-formaldehid adalah salah satu contoh polimer yang merupakan hasil
kondensasi urea dengan formaldehid. Urea-formaldehid (dikenal juga sebagai ureametanal) adalah suatu resin atau plastik thermosetting yang terbuat dari urea dan
formaldehid yang dipanaskan dalam suasana basa lembut seperti amoniak atau
piridin.
Sifat fisik

Memiliki sifat tidak dapat meleleh

Absorpsi air yang rendah

Dapat dicetak tekan atau transfer

Memiliki permukaan yang keras

Dapat diberi berbagai jenis warna

Sifat mekanik

Massa jenis 1,47-1,52 (g/cm3)

Kekuatan tarik 4,2-9,1 (kgf/mm2)

Perpanjangan 0,4-1,0%

Ketahanan panas 750C

Sifat kimia

thermosetting

Tidak larut dalam pelarut apapun

Kenaikan temperatur dapat menurunkan berat molekul (Mr) resin urea-formaldehid.


Hal tersebut dikarenakan adanya pembentukan pusat-pusat aktif yang baru,
sehingga memperkecil ukuran molekul resin.

Resin urea formaldehid lebih buruk daripada resin fenol, resin melamin, dsb, yaitu
dalam hal ketahanan air, kestabilan dimensi, dan ketahanan terhadap penuaan,
sehingga sifat-sifat tersebut diperbaiki dengan penambahan bahan lain atau
diproses menjadi kopolimer dengan fenol, melamin, dsb.

Struktur resin urea formaldehyd

2.1.1 Pembuatan Resin urea-formaldehid


a) Sintesis amonia dari karbondioksida
Amonia dan karbondioksida (reaktan) dicampurkan pada tekanan tinggi
menghasilkan ammonium karbamat. Amonium karbamat selanjutnya dipekatkan
pada evaporator vakum menghasilkan urea. Urea yang dihasilkan dari hasil reaksi
akan dipisahkan menggunakan evaporator. Evaporatot bekerja dengan prinsip
destilasi, yatu berdasarkan perbedaan titik didih. Komponen yang akan dipisahkan
adalah urea dari dari air yang melarutkannya. Air akan terpisahkan menuju labu lan
karena titik didihnya yang lebih rendah dari urea, yaitu 100 oC sedangkan urea
132,7oC.
Prinsip kerja : Evaporator berfungsi untuk mengurangi bahkan menghilangkan
kadar air dari suatu zat cair, sehingga didapat zat cair yang lebih pekat,
berkonsentrasi tinggi, dan lebih murni. Dalam hal ini zat yang menjadi lebih murni
dan pekat adalah urea.

Evaporator vakum
b) Kondensasi urea dengan formaldehyd
Reaksi urea-formaldehid merupakan reaksi kondensasi antara urea dengan
formaldehid. Pada umumnya reaksi menggunakan katalis hidroksida alkali dan
kondisi reaksi dijaga tetap pada pH 8-9 agar tidak terjadi reaksi Cannizaro, yaitu
reaksi diproporsionasi formaldehid menjadi alkohol dan asam karboksilat. Untuk
menjaga agar pH tetap maka dilakukan penambahan ammonia sebagai buffer ke
dalam campuran.
Reaksi ini secara umum berlangsung dalam 3 tahap yakni metlolasi, propagasi
(kondensasi), dan proses curing.
1. Tahap Metilolasi, yaitu adisi formaldehid pada gugus amino dan amida dari urea,
dan menghasilkan metilol urea. Urea dan formaldehid direaksikan dengan
ditambahkannya katalis basa. Basa yang digunakan dapat berupa barium hidroksida
ataupun kalium hidroksida.Dari reaksi tsbt diperoleh monomer atau yang disebut
mono-metilol dan dimetilol. Monometilol adalah hasil reaksi penggabungan antara 1
molekul urea dengan 1 molekul formaldehid, sedangkan dimetilol adalah hasil
reaksi penggabungan 2 molekul formaldehid dan 1 molekul urea.Baik mono-metilol
urea maupun dimetilol urea larut dalam air sehingga reaksi pembentukannya
dilakukan dalam fasa pelarut air.

2. Tahap Propagansi

Tahap propagasi (kondensasi), yaitureaksi kondensasi dari monomer-monomer


mono dan dimetilol urea membentuk rantai polimer yang lurus. Kondensasi
lanjutan ini akan menghasilkan jembatan metilen antara dua molekul urea.
3. Tahap Curring
Tahap curing, yaitu proses terakhir yang dipengaruhi oleh katalis, panas dan
tekanan tinggi. Pada proses ini,ketika kondensasi tetap berlangsung, polimer
membentuk rangkaian 3 dimensi yang sangat kompleks dan menjadi resin
thermosetting. Temperatur curing dilakukan pada sekitar temperatur 120 Celcius
dan pH < 5

2.1.2 Faktor-faktor
Formaldehid

yang

Mempengaruhi

Reaksi

Urea-

1. Katalis
Penggunaan katalis pada suatu reaksi akan meningkatkan laju reaksi tersebut.
Begitu juga yang terjadi pada reaksi urea-formaldehid ini. Laju reaksinya akan
meningkat jika digunakan katalis. Katalis yang diguanakan pada percobaan ini
adalah NH4OH karena reaksi ini berlangsung pada kondisi basa.
2. Temperatur
Kenaikan temperatur selalu mengakibatkan peningkatan laju suatu reaksi. Namun,
kenaikan temperatur ini dapat mempengaruhi jumlah produk yang terbentuk,
bergantung pada jenis reaksi tersebut (eksoterm atau endoterm). Oleh karena itu,
diperlukan suatu optimasi untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Kenaikan temperatur juga dapat menurunkan berat molekul (Mr) resin ureaformaldehid. Hal tersebut dikarenakan adanya pembentukan pusat-pusat aktif
yang baru, sehingga memperkecil ukuran molekul resin.
3. Waktu Reaksi
Jumlah dan sifat produk yang dihasilkan dari suatu reaksi juga dipengaruhi
oleh waktu reaksi. Makin lama waktu reaksi, jumlah produk yang dihasilkan
makin banyak akibatnya, resin yang dihasilkan akan berkadar tinggi dan
memiliki Mr tinggi.
Pembuatan resin urea formaldehid skala laboratorium dapat dilakukan
dengan langkah kerja sebagai berikut:

Reaksi kondensasi ini dilakukan dalam sebuah labu berleher yang dilengkapi
kondensor ohm meter, termometer, agitator. Kondensor berfungsi mengembunkan
air yang menguap selama proses polimerisasi. Hal ini dimaksudkan untuk
mempercepat tercapainya kesetimbangan reaksi. Agitator berfungsi membuat
larutan tetap homogen selama proses berlangsung.

Kerugian penggunaan urea-formaldehid sebagai resin dibandingkan polimer lain


adalah resistensinya terhadap kadar air (moisture) apalagi jika dikombinasikan
dengan panas. Kondisi ini dapat menyebabkan reaksi balik dan melepaskan
monomer monomer yang belum sempurnya bereaksi membentuk polimer.
Monomer ini biasanya beracun misalnya formaldehid yang dapat menyebabkan
kanker. Oleh sebab itu, ada baiknya bila kita akan menggunakan peralatan makan
yang terbuat dari bahan polimer, sebaiknya peralatan tersebut direndam dahulu
dengan air panas dengan tujuan agar monomer monomer yang belum sempurna
bereaksi terlepas pada air rendaman.

2.1.3 Pencetakan Resi n urea-formaldehid


a. Cetak Tekan
Prinsip cetak tekan dibambarkan pada gambar di bawah ini. Sejumlah bahan
dimasukan dalam cetakan logam yang telah dipanaskan terlebih dahulu. Pada
waktu cetakan ditutup, bahan yang telah lunak tertekan sehingga mengalir mengisi
rongga cetakan. Bahan yang digunakan dapat berbentuk serbuk atau tablet
prabentuk. Tekanan yang lazim digunakan berkisar antara 0,7 sampai 55 Mpa,
tergantung pada bahan yang digunakan dan bentuk produk. Suhunya berkisara
antara 120 hingga 205C. Panas sangat penting bagi resin termosetting, karena
pertama-tama diperlukan untuk plastisasi, kemudian untuk polimerisasi atau untuk
pengerasan. Serbuk perlu dipanaskan secara merata, suatu hal yang cukup sulit
karena daya hantar panas bahan tidak baik.
Beberapa jenis bahan diolah dengan penekanan, akan tetapi siklus pemanasan
dan pendinginan cetakan yang cepat akan menimbulkan kesulitan. Produk mungkin
cacat sewaktu dikeluarkan bila pendonginan cetakan tidak sempurna.
Ada bermacam jenis mesin pres hidrolik, mulai dari yang dikendalikan dengan
tangan sampai kepada jenis otomatik. Fungsi dari pres adalah memberikan tekanan
dan panas yang cukup sekaligus sehingga terjadi plastisasi yang sempurna dari
bahan. Panas yang diperlukan dapat dialirkan melalui pelat peemanas, atau
langsung ke cetakan dan berasal dari uap, cairan yang dipanaskan, listrik atau
berfrekuensi tinggi.

Gambar. Proses cetak-tekan


b. Cetak Transfer
Pada proses cetak transfer, serbuk termosetting atau benda prabentuk diletakkan
pada tempat tersendiri atau alam ruang tekanan di atas rongga cetakan, seperti
tampak pada gambar di bawah ini. Di sini bahan mengalami plastisasi akibat panas
dan tekanan dan diinjeksikan ke dalam rongga cetakan, sebagai cairan panas, di
sini bahan tersebut kemudian mengalami pengerasan. Waktu reaksi pengerasan
untuk cetak-transfer lebih singkat dibandingkan proses cetak-tekan. Waktu
pengisian pun lebih singkat karena digunakan bahan pembentuk yang lebih besar
yang dapat dipanaskan lebih cepat. Proses ini sangat cocok untuk membuat bagianbagian yang memerlukan sisipan logam yang keecil, karena bahan plastik yang
panas memasuki rongga cetakan secara bertahap tanpa tekanan yang tinggi.
Bentuk yang rumit dan bentuk dengan variasi penampang yang besar dapat juga
duhasilkan dengan cara cetak transfer. Keterbatasan dari proses ini ialah:
kehilangan bahan dalam saluran pengalir, spru dan harga cetakan yang lebih mahal
dibandingkan dengan cetakan pada proses cetak-tekan.

Gambar. Proses cetak-transfer

c.

Cara Injeksi Bahan Termosett

Bahan termosett dalam batas-batas tertentu dapat dibentuk dengan cara cetakjet. Setelah dimodifikasi mesin cetak-injeksi untuk bahan termoplastik, dapat diubah
untuk keprluan cetak jet. Nosel, yang merupakan bahan terpenting dari mesin harus
dapat dipanaskan dan didinginkan selama siklus injeksi. Mula-mula resin dipanaskan
dalam silinder yang menglilingi penekanan, sampai lunak namun belum
terpolimerisasi. Pada waktu penekan menekan resin melalui nosel ke dalam
cetakan, terjadi panas tambahan. Pada saat cetakan penuh, nosel didinginkan
dengan cepat dengan mengalirkan air untuk mencegah polimerisasi bahan yang
tersisa.
Mesin ulir umpan balik kini mulai digantikan dengan mesin cetak-jet seperti
tampak pada gambar di bawah ini. Bahan masuk, (di bawah pengaruh gravitasi),
sementara didorong oleh ulir yang berputar, bahan sekaligus dipanaskan. Pada
waktu ulir berputar, bahan terplastisasi di muka ulir, dan masih terhalang oleh
plunyer sampai terkumpul sejumlah bahan tertentu. Plunyer kemudian turun, dan
ulir memaksa bahan memasuki ruang transfer. Bahan kemudian ditekan memasuki
rongga cetakan.

Gambar. Siklus cetak-injeksi sekrup


Penjelasan gambar :
A Sekrup berputar kembali dan bahan masuk ke dalam tabung (di bawah pengaruh
gaya gravitasi).
B. Ulir (tidak berputar) menekan bahan memasuki ruang transfer vertikal.
C. Plunyer hidrolik menekan bahan yang telah terplastisir ke dalam cetak

Tidak terjadi pematangan dari bahan karena bahan didinginkan dengan air. Proses
ini sama dengan cetak-transfer dengan catatan bahwa operasi di sini berjalan
secara otomatik.

2.1.4 Kegunaan resin urea-formaldehid


1. Bahan ini digunakan untuk barang-barang kecil yang digunakan seharihari seperti pelindung cahaya, soket, alat-alat listrik, kancing, tutup wadah, kotak,
baki, dan mangkuk.
2. Salah satu jenis resin yang digunakan sebagai bahan perekat dan pelapis kayu atau
kertas.
3. Resin ini digunakan untuk mencegah berkerut dan kusutnya kain katundan untuk
mencegah menyusutnya kayu.
4.

Digunakan untuk laminating.

5. Karena resin ini sangat terang warnanya dan sehingga lebih cocok untuk
pemakaian dekoratif. Contohnya : Counter berwarna cerah dan taplak-taplak dibuat
dengan kertas yang diimpregnasi resin urea, serta kayu lapis interior dekoratif
biasanya menempel dengan resin urea karena resin fenol yang berwarna gelap bisa
mendai lapisan pernisnya. Akan tetapi, kayu lapis eksterior merekat dengan damar
fenol karena mempunyai ketahanan cuaca yang lebih baik.
6. Dalam bidang koting, resin urea-formaldehid kadangkala dipadukan dengan alkyd
baking enemels untuk memperbaiki kekerasan.
7. Resin urea dipergunakan untuk memberikan ketahanan crease danshrink kepada
produk melalui reaksi-reaksi ikat silang.
8. Aplikasi utama lainnya dari polimer urea-formaldehid adalah dalam menginsulasi
busa. Hal ini biasanya difabrikasi on-site dengan peralatan pembusaan
yang portable. Bahan-bahannya mencakup resin, surfaktan untuk menstabilkan
busa, katalis (biasanya asam fosfat), dan udara bertekanan. Surfaktan dan katalis
biasanya dicampur terlebih dahulu. Ketiga komponen tersebut (resin, surfaktan plus
katalis, dan udara) kemudian dipompakan secara terpisah ke dalam wadahnya
untuk diisikan. Busa terbentuk dalam beberapa menit dan mengeras secara
sempurna dalam sehari. Telah banyak kontroversi di sekitar pemakaian busa ureaformaldehid untuk menginsulasi rumah karena aspek-aspek kesehatan yang timbul
dari lepasnya uap formaldehida.

2.1.5 Dampak resin urea formaldehid


2.1.5.1 Dampak terhadap tubuh

Resin urea formaldehid ini memiliki resistensi yang rendah terhadap air dan kondisi
yang panas. Kondisi ini dapat menyebabkan reaksi balik dan melepaskan monomer
monomer yang belum sempurnya bereaksi membentuk polimer. Monomer ini
biasanya dilepaskan dalam bentuk formaldehid atau formalin.

Jika terpapar formaldehida dalam jumlah banyak, misalnya terminum, bisa


menyebabkan kematian. Dalam tubuh manusia, formaldehida dikonversi jadi asam
format yang meningkatkan keasaman darah, tarikan nafas menjadi pendek dan
sering, hipotermia, juga koma, atau sampai kepada kematiannya.

Apabila bahan yang menggunakan resin urea formaldehid terpapar panas, maka
resin urea ini akan melepaskan molekul formaldehid. Formaldehid dalam suhu
ruangan ditemukan dalam bentuk gas. Apabila kadar di udara lebih dari 0.1 mg/kg,
formaldehida yang terhisap bisa menyebabkan iritasi kepala dan membran mukosa,
yang menyebabkan keluar air mata, pusing, tengorokan serasa terbakar, serta
kegerahan.

Iritasi kepala dan membran mukosa, yang menyebabkan keluar air mata, pusing,
teggorokan serasa terbakar, serta kegerahan

Di dalam tubuh, formaldehida bisa menimbulkan terikatnya DNA oleh protein,


sehingga mengganggu ekspresi genetik yang normal. Binatang percobaan yang
menghisap formaldehida terus-terusan terserang kanker dalam hidung dan
tenggorokannya, sama juga dengan yang dialami oleh para pegawai pemotongan
papan artikel. Tapi, ada studi yang menunjukkan apabila formaldehida dalam kadar
yang lebih sedikit, seperti yang digunakan dalam bangunan, tidak menimbulkan
pengaruh karsinogenik terhadap makhluk hidup yang terpapar zat tersebut.

2.1.5.2 Dampak terhadap lingkungan


Resin ini termasuk kedalam golongan polimer thermosetting sehingga tahan
terhadap panas. Penanggulangan bahan ini tidak dapat dilakukan secara sederhana.
Karena bahan ini jika rusak tidak dapat dibentuk kembali, maka hal yang dapat
dilakukan adalah :
-

Membuatnya menjadi barang baru (recycle)

Dibakar dengan suhu pemanasan yang sangat tinggi, yaitu menggunakan


insenerator ( suhu 800-1000oC)

2.1.6
Penanggulangan
formaldehid

limbah

polimer

resin

urea-

Alat yang digunakan untuk melakukan pembakaran polimer ini adalah


insenerator. Insenerator dapat membakar dan mengubah limbah hingga yang
tersisa hanya abu dan gasnya saja. Insenerator akan membakar polimer ini dengan
suhu sangat tinggi, yaitu 800-1000oC.
.

2.1.8.a Insenerator skala kecil


2.1.8.b Insenerator skala besar

Gas hasil pembakaran polimer tersebut masih mengandung zat berbahaya,


maka untuk meminimalisirnya dilakukan proses pengolahan lanjutan, yaitu
dengna kondensasi. Kondensasi merupakan satu metoda untuk mengubah gas
menjadi zat cair. Hasil dari kondensasi ini (cairan) akan mengandung za
berbahaya lebih sedikit dari limbah dalam bentuk gasnya. Setelah cair, limbah
tersebut dapat diolah atau difiltrasi untuk menjadi air pemakaian luar (bukan
untuk konsumsi makhluk hidup) atau dapat langsung dibuang ke lingkungan

2.2.

Resin Fenol Formaldehid

Fenol formaldehid merupakan resin sintetis yang pertama kali digunakan secara
komersial baik dalam industri plastik maupun cat (surface coating). Sifat bahan
keras, kuat dan awet dapat dicetak dengan berbagai kondisi.

Definisi Resin Phenol Formaldehide

Phenol formaldehid termasuk kelompok resin sintetis yang dihasilkan dari reaksi
polimerisasi antara phenol dengan formaldehid. Phenol formaldehid dapat
diaplikasikan sebagai vernis karena dapat membentuk lapisan film yang kering.

Resin Fenol Formaldehid termasuk polimer thermoset. Polimer Thermoset memiliki


perilaku sebagaimana logam yang getas, gelas, atau keramik sebagai akibat dari
struktur rantai molekulnya yang kaku dengan ikatan kovalen membentuk jejaring 3
dimensi. Pada saat polimerisasi jejaring terbentuk lengkap dan terbentuk kaitan
silang tiga dimensi secara permanen.

Proses pembentukan tidak bersifat irreversible. Tidak seperti halnya polimer


thermoplastik, thermoset tidak memiliki Tg (temperatur transisi gelas yang jelas.
Kekuatan dan kekerasan dari thermoset pun tidak banyak dipengaruhi oleh
kenaikan temperatur dan laju deformasi.

Sifat-Sifat Polimer Termosetting


Sifat produk akhir berbeda terutama karena rumusan bahan mentahnya, jenis dan
banyaknya katalis, pengisi, dan pemilihan medium dalam hal resin fenol.
Keuntungannya adalah sebagai berikut :

1.

Mudah dibentuk, dan menguntungkan


penyusutannya dan kurang keretakannya.

dalam

2.

Unggul dalam sifat isolasi listrik.

3.

Relatif tahan panas dan dapat padam sendiri.

4.

Unggul dalam ketahanan asam

kestabilan

dimensi.

Kurang

Kerugiannya adalah sebagai berikut :

1.

Kurang tahan terhadap alkali

2.

Aslinya agak berwarna, jadi tak bebas dalam pewarnaan

3.

Ketahanan busur listriknya tidak baik

2.2.1. Jenis resin fenol formaldehid


Berdasarkan perbandingan mol reaktan dan jenis katalis yang digunakan, resin
phenol formaldehid dibagi menjadi 2 jenis yaitu novolak dan resol.

Novolak yang bersifat termoplast. Jenis novolak dibuat pada suasana asam dengan
penambahan HCl, suhu 900C, dan waktu reaksi 5 jam. Novolak merupakan hasil
reaksi antara phenol ekses dengan formaldehid oleh adanya katalis asam. Jenis
katalis asam yang sering digunakan adalah asam sulfat, asam klorida, dan asam
oksalat dengan konsentrasi rendah. Hasil reaksi akan membentuk produk yang
termoplast dengan berat molekul500 - 900. Kondisi optimum jenis novolak diperoleh
pada pH 2,5 dan perbandingan reaktan 1 : 0,8. Agar novolak menjadi bersifat

termoset maka membutuhkan pemanasan dan penambahan crosslinking agent


(Frisch, 1967). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan bertambahnya pH dan
perbandingan
reaktan,
waktu
kering
semakin
lama. Pada
novolak,
reaksi polikondensasi dapat berlangsung sempurna sampai membentuk rantai
dengan struktur methylenelink dan phenol terminate tanpa adanya gugus
fungsional dan tidak dapat cure dengan sendirinya.Pada suasana asam, raeksi
kondensasi
(pembentukan
jembatan
methylene)
berjalan
cepat
dibanding pembentukan gugus methylol (Hesse, 1991). Aplikasi jenis novolak
sebagai vernis kayu menghasilkan warna yang lebih cerah (tingkat gloss tinggi)
dibanding dengan jenis resol.

Resol bersifat
thermoset, merupakan
hasil
reaksi antara phenol
dengan formaldehid ekses oleh adanya katalis basa. jenis resol dibuat pada suasana
basa dengan penambahan NaOH, suhu 800C dan waktu reaksi 3 jam. Untuk jenis
resol dicapai pada pH 10 dan perbandingan mol reaktan 1 : 2. Jenis katalis basa
yang sering digunakan adalah natrium hidroksida dan ammonium hidroksida pada
pH =8-11. Produk phenol formaldehid yang dihasilkan dengan katalis natrium
hidroksida akan mempunyai sifat larut dalam air dan apabila katalis yang digunakan
ammonium hidroksida akanmemberikan sifat tidak larut dalam air yang dikarenakan
terbentuk bis dan trishydroksylbenzylamin (Martin, 1956).

Adapun cara pembuatan Novolak adalah sebagai berikut (Rokhati, 2008) :


Disiapkan fenol
Ditambahkan formaldehid
Diperoleh monomethylol phenol
Ditambahkan fenol
Diperoleh dihidroksi diphenil methane
Selesai

2.3. Pembuatan Resin Fenol Formaldehida


Phenol formaldehid dihasilkan dari reaksi polimerisasi antara phenol dan
formaldehid. Reaksi terjadi antara phenol pada posisi ortho maupun para dengan
ormaldehid untuk membentuk rantai yangcrosslinking dan pada akhirnya akan
membentuk jaringan tiga dimensi (Hesse, 1991).

2.4. Kegunaan resin Fenol Formaldehida

Salah satu aplikasi dari resin phenol formaldehid adalah untuk vernis. Vernis
adalah bahanpelapisakhir yang tidak berwarna (clear un pigmented coating ). Istilah
vernis digunakan untuk kelompok cairan jernih yang memiliki viskositas 2 3 poise,
yang bila diaplikasikan akan membentuk lapisanfilm tipis yang kering dan bersifat
gloss (glossy film). Proses pengeringan pada vernis dapat melalui penguapan
(evaporasi) dari solvent, oksidasi dengan udara, dan polimerisasi sejumlah unsur
yangterkandung dalam vernis. Hasil akhir dari vernis adalah lapisan film transparan
yang memperlihatkantekstur bahan yang dilapisi.Perkembangan phenol formaldehid
untuk aplikasi vernis dan lacquer telah mampu menyaingi produk melamin
formaldehid karena harganya yang lebih murah. Selain itu, hasil aplikasinya
dapat memunculkan jenis vernis dan lacquer yang berwarna sedangkan melamin
formaldehid tidak berwarna sehingga bila diinginkan hasil aplikasi yang berwarna
tidak perlu penambahan zat warna.Produk phenol formaldehid ada yang
memberikan warna jernih kekuning-kuningan tetapi ada jugayang kecoklatan
sampai kemerah-merahan.
Selain itu digunakan untuk bahan pelapis dan laminating pengikat batu gurinda
dan pengikat logam, dapat dicetak menjadi kotak, tutup botol, tangkai pisau, kotak
radio dan TV
Aplikasi Penggunaan Resin Phenol Forlmaldehide

Bentuk yang rumit dapat dicetak. Digunakan untuk komponen dalam bidang listrik
dan komunikasi. Tabel di bawah ini menunjukan jenis, karakteristik dan
penggunaan.

Tabel 12.1 Karakteristik Dan Penggunaan Polimer Termosetting

Jenis

Dasar

Karakteristik

Penggunaan

Umum

Bubuk kayu
atau bubuk
tanaman

Murah, isolasi
listrik yang baik.

Alat listrik secara


umum soket dst.

Isolasi
listrik

Bubuk kayu
atau bubuk
tanaman

Sifat listrik dan


tahan air serta
sifat mekanisnya
cukup baik

Komponen yang
isolasi listriknya
diperlukan, untuk alat
komunikasi, otomotif
dan mesin lainnya.

Isolasi
frekuensi
tinggi

Anorganik

Sifat listrik yang


sangat baik
terutama untuk
frekuensi tinggi

Komponen untuk alat


komunikasi tanpa
kabel, jaringan listrik
frekuansi tinggi.

Mesinmesin
listrik

Bubuk kertas
dan bahan
berserat
lainnya.

Sifat listrik dan


mekaniknya
baik, terutama
kekuatan
impaknya.

Komponen mesinmesin listrik (kotak,


tutup dan komponen
lainnya untuk operasi
mekanik)

Tahan
panas

Asbes dan
bahan
anorganik
lainnya.

Tahan panas, baik


untuk
penggunaan
komponen tahan
bakar dan tahan
busur listrik.

Komponen untuk
kapal laut, kereta api,
dan peralatan listrik
berat.

Selain hal di atas, resin fenol juga kadang-kadang digunakan sebagai resin tukar ion
ketika gugus-gugus fungsional yang lain hadir, juga dipakai sebagai lak dan pernis,
senyawa cetakan, bahan laminating (teristimewa untuk panel dinding dekorasi dan
taplak meja, dan bahan perekat (khususnya untuk kayu lapir dan particle board).

2. Penggunaan Resin Phenol Forlmaldehid Sebagai Vernis

Novolak yang bersifat termoplast dan resol yang bersifat termoset. Jenis novolak
dibuat pada suasana asam dengan penambahan HCl, suhu 90 oC, dan waktu reaksi 5
jam, sedangkan jenis resol dibuat pada suasana basa dengan penambahan NaOH,
suhu 80 oC dan waktu reaksi 3 jam. Hasil resin phenol formaldehid diaplikasikan
sebagai vernis pada kayu jati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan
bertambahnya pH dan perbandingan reaktan, waktu kering semakin lama. Kondisi
optimum jenis novolak diperoleh pada pH 2,5 dan perbandingan reaktan 1 : 0,8,
sedangkan untuk jenis resol dicapai pada pH 10 dan perbandingan mol reaktan 1 :
2.

Aplikasi jenis novolak sebagai vernis kayu menghasilkan warna yang lebih cerah
(tingkat gloss tinggi) dibanding dengan jenis resol.

Tabel 12.2 Hubungan pH dan perbandingan reaktan terhadap waktu kering


(Jenis
novola
k) pH

Waktu kering (jam)


P:F =
1:0,5

P:F =
1:0,75

P:F =
1:0,8

P:F =
1:0,85

P:F =
1:0,9

1.5

2.5

2.25

5.5

Dari data
tabel 12.2
2,5
2
4
5.25
12
48
dapat
dilihat
3
4,25
5
16
24
72
bahwa
4
24
24
24
48
72
dengan
semakin
tinggi pH
reaksi, waktu kering vernis semakin lama. Dengan naiknya pH maka kecepatan
reaksi kondensasi semakin lambat, semakin naik pH maka rantai yang dibentuk
semakin bercabang sehingga BM polimer bertambah besar. Perbandingan reaktan
(rasio mol phenol : formaldehid) akan berpengaruh pada properties produk dan
struktur polimer yang dihasilkan.
2

1.5

12

24

Tabel 12.2 juga menunjukkan bahwa semakin tinggi perbandingan reaktan (P:F),
waktu kering vernis semakin lama. Semakin tinggi perbandingan P:F maka struktur
rantai
yang
dibentuk
semakin
kompleks
(mulai
dari short
chain
polimers hingga high cross-linked polymers). Semakin besar BM senyawa resin yang
dihasilkan, mengakibatkan waktu kering semakin lama. Karena rasio Formaldehid
kurang dari satu mol per mol phenol maka walaupun mempunyai fungsionalitas
yang cukup namun tidak mampu untuk membentuk produk yang termoset tetapi
membentuk produk yang termoplast dengan berat molekul 500-900. Agar novolak
menjadi
bersifat
termoset
maka
dibutuhkan
pemanasan
dan
penambahan crosslinking agent (Frisch, 1967).

Pada jenis resol, reaksi berlangsung pada suasana basa. Pada suasana basa reaksi
addisi berjalan dengan cepat sedangkan reaksi kondensasi (pembentukan jembatan
methylen) berjalan lambat sehingga produk yang terbentuk bersifat termoset.
Tabel 12.3 Hubungan pH dan perbandingan reaktan terhadap waktu kering
(Jenis
resol) pH

Waktu kering (jam)


P:F =
1:1,25

P:F =
1:1,5

P:F = 1:2

P:F =
1:2,5

P:F = 1:3

0.5

0.75

1.25

1.5

10

1.25

1.25

1.75

1.75

11

1.5

1.67

1.67

2.25

2.25

12

2.25

2.42

2.42

3.25

3.25

13

2.5

2.87

2.87

Tabel 12.3 menunjukkan bahwa pengaruh pH dan perbandingan reaktan terhadap


waktu kering vernis tidak berbeda dengan yang terjadi pada jenis novolak. Namun
waktu kering vernis jenis resol lebih cepat dibanding dengan jenis novolak, karena
resin jenis novolak mempunyai sifat termoplast, sedangkan resol mempunyai sifat
termoset.

Nilai gloss merupakan pengamatan secara visual hasil refleksi dari permukaan
suatu bahan. Semakin tinggi nilai gloss, maka permukaan bahan yang dilapisi akan
semakin mengkilap. Oleh karena itu sering kali nilai gloss dapat digunakan untuk
menggambarkan kualitas dari vernis. Tabel 3 dan 4 menggambarkan hasil
pengukuran gloss dari resin phenol formaldehid yang digunakan sebagai vernis
pada kayu jati.

Tabel 12.4 Hubungan pH dan perbandingan reaktan terhadap Nilai Gloss

(Jenis
novolak
) pH

Nilai Gloss (%)


P:F =
1:0,5

P:F =
1:0,75

P:F =
1:0,8

P:F =
1:0,85

P:F =
1:0,9

52,7

60,5

73,1

60

60

60,4

71

75

70,5

63

2,5

67,6

70,5

78,4

64,7

63

60,1

58,5

63,5

54,8

57,2

43,3

50,5

50

48,1

45

Tabel 12.5 Hubungan pH dan perbandingan reaktan terhadap Nilai Gloss

(Jenis
resol)
pH

Nilai Gloss (%)


P:F =
1:1,25

P:F =
1:1,5

P:F =
1:2

P:F =
1:2,5

P:F = 1:3

7,5

8,5

21,5

15

6,8

10

12

26,6

18,8

11

5,6

12

7,3

4,6

12

3,9

3,4

9,5

4,7

2,5

13

3,2

8,6

2,7

Data hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat gloss tertinggi pada jenis novolak
diperoleh pada pH 2,5 (tabel 12.4), sedangkan pada resol diperoleh pada pH 10
(tabel 12.5). Pada pH semakin tinggi, selain formaldehid bereaksi dengan phenol
membentuk resin phenol formaldehid, formaldehid juga akan mengadakan
reaksi canizzaromenghasilkan asam formiat dan methanol sehingga reaksi
polimerisasi akan berjalan lambat dan tingkat gloss menjadi turun. Pengaruh
perbandingan reaktan terhadap nilai gloss menunjukkan bahwa nilai gloss tertinggi
untuk novolak diperoleh pada perbandingan mol phenol : formaldehid 1:0,8 (tabel
12.4), sedangkan untuk resol pada perbandingan 1:2 (tabel 4). Nilai gloss novolak
lebih tinggi dibanding resol.

Tabel 12.6 Perbandingan P:F terhadap warna vernis

Resol

Novolak

P:F

Warna

P:F

Warna

1:1,25

Merah kecoklatan

1:0,5

Kuning
kecoklatan

1:1,5

Merah kekuningan

1:0,75

Kuning
kecoklatan

1:2

Merah kekuningan

1:0,8

Kuning
kecoklatan

1:2,5

Merah kecoklatan

1:0,85

Kuning
kecoklatan

1:3

Merah kecoklatan

1:0,9

Kuning
kemerahan

Tabel 12.6 menunjukkan hasil warna kayu jati yang telah divernis dengan vernis
jenis novolak dan resol dari berbagai perbandingan phenol dan formaldehid. Vernis

jenis resol yang memberikan warna yang lebih tua dibanding dengan vernis jenis
novolak

2.5. Pengaruh Terhadap Badan


Karena resin formaldehida dipakai dalam bahan konstruksi seperti kayu
lapis/tripleks, karpet, dan busa semprot dan isolasi, serta karena resin ini
melepaskan formaldehida pelan-pelan, formaldehidamerupakan salah satu polutan
dalam ruangan yang sering ditemukan. Apabila kadar di udara lebihdari 0,1 mg/kg,
formaldehida yang terhisap bisa menyebabkan iritasi kepala dan membran
mukosa,yang menyebabkan keluarnya air mata, pusing, teggorokan serasa
terbakar, serta kegerahan.Jika terpapar formaldehida dalam jumlah banyak,
misalnya terminum, bisa menyebabkan kematian.Dalam tubuh manusia,
formaldehida dikonversi menjadi asam format yang meningkatkan keasamandarah,
tarikan nafas menjadi pendek dan sering, hipotermia, juga koma, atau sampai
kepada kematiannya. Di dalam tubuh, formaldehida bisa menimbulkan terikatnya
DNA oleh protein, sehingga menggangguekspresi genetik yang normal. Binatang
percobaan yang menghisap formaldehida terus-terusan erserang kanker dalam
hidung dan tenggorokannya, sama juga dengan yang dialami oleh para pegawai
pemotongan papan artikel. Tapi, ada studi yang menunjukkan apabila formaldehida
dalamkadar yang lebih sedikit, seperti yang digunakan dalam bangunan, tidak
menimbulkan pengaruhkarsinogenik terhadap makhluk hidup yang terpapar zat
tersebut.

2.6.

Pertolongan pertama bila terjadi keracunan akut

Pertolongan tergantung pada konsentrasi cairan dan gejala yang dialami korban.
Sebelum ke rumahsakit, berikan arang aktif (norit) bila tersedia. Jangan melakukan
rangsangan agar korban muntah,karena akan menimbulkan resiko trauma korosif
pada saluran cerna atas. Di rumah sakit biasanya timmedis akan melakukan bilas
lambung (gastric lavage), memberikan arang aktif (walaupun pemberianarang aktif
akan mengganggu penglihatan pada saat endoskopi). Endoskopi adalah tindakan
untuk mendiagnosis terjadinya trauma esofagus dan saluran cerna. Untuk
meningkatkan eliminasi formalindari tubuh dapat dilakukan hemodialisis (cuci
darah). Tindakan ini diperlukan bila korbanmenunjukkan tanda-tanda asidosis
metabolik berat.