Anda di halaman 1dari 11

Bromheksi Hcl

1. Rumus molekul : C14H20Br2N2.Hcl


2. Berat molekul : 412,6
3. Sifat fisika : organoleptis
a. Bentuk : serbuk kristal
b. Bau : Tidak berbau
c. Warna : putih
4. Kelarutan : Larut dalam air dan aseton, 1 bagian larut dala 100 bagian alkohol, dalam
300 bagian kloroform,dalam 50 metil alkohol.
5. Kestabilan
:6. OTT
:7. Titik lebur
:8. pH
:9. Penyimpanan
:Sumber : ( martindale : halaman 688)
Formulasi dan Metode Pembuatan
1. Formula dari literature
R/

Bromhexin
Dicalcium phosphate
Ludipress
Kollidon VA
Kollidon CL
Magnesium stearate

64

2. Usulan formula
R/

Bromhexin

8 mg

8 mg
179 mg

7 mg
5 mg
1 mg

8 mg

190 mg

1 mg

Dicalcium phosphate
Ludipress
Kollidon VA 64
Kollidon CL
Magnesium stearate

190 mg

1%

1. Dikalsium phosphate
CaHPO4
Bobot molekul

: 136,06

a. Pemerian

: serbuk atau kristal padat, tidak berbau, tidak berasa, tidak

berbau, , putih
b. Kelarutan

: Praktis tidak larut dalam eter, etanol, dan air

c. Titik leleh

: tidak dapat meleleh, hanya dapat mendekomposisi menjadi

kalsium pyriphospat pada suhu 4250C


d. Kegunaan

: diluen pada tablet dan kapsul.

e. Aplikasi dalam Teknologi atau Formulasi Farmaseutikal : sebagai diluen pada tablet
dan kapsul.
f. Densitas

: 2,89

g. Higroskopisitas

: Tidak higroskopis

h. Stabilitas

: stabil dalam penyimpanan.

i. Inkompatibilitas

: Tidak dapat digunakan untuk formulasi antibiotik tetrasiklin

j. Penyimpanan

disimpan

pada

wadah

sejuk

dan

kering,

tertutup

Sumber : Handbook of Pharmaceutical Excipient, 2nd ed, 1994, hal.252-257.

2. Kollidon VA 64
(C6H9NO)n.(C4H6)2)m
(111,1)n+(86,1)m
a. Pemerian

: serbuk amorf, kuning sampai putih, sedikit berbau dan

rasanya membuat pingsan.


b. Kelarutan

: Praktis tidak larut dalam eter, etanol, dan air

c. Titik leleh

: 1400C

d. Kegunaan

: pengikat pada tablet dan kapsul.

e. Aplikasi dalam Teknologi atau Formulasi Farmaseutikal : sebagai pengikat pada tablet
dan kapsul.
f. Densitas

: 0,24-0,28

g. Higroskopisitas

: Pada 50% relatif lembab, dan dapat kehilangan 10% dari berat

sebelumnya
h. Stabilitas

: stabil dalam penyimpanan.

i. Inkompatibilitas

: kompatibel dengan kebanyakan zat tambahan organik dan

nonorganik.
j. Penyimpanan

: disimpan pada wadah sejuk dan kering, tertutup

Sumber : Handbook of Pharmaceutical Excipient, 2nd ed, 1994, hal.252-257.


3. Kolidon CL
(C6H9NO)n
>10000
a. Pemerian
b. Kelarutan

: serbuk higroskopik, putih, tidak berasa, tidak berbau


: Praktis tidak larut dalam air dan banyak pelarut

organik.
c. Titik leleh
: 1400C
d. Kegunaan
: disintegran pada tablet dan kapsul.
e. Aplikasi dalam Teknologi atau Formulasi Farmaseutikal : sebagai disintegran
f.
g.
h.
i.

pada tablet dan kapsul.


Densitas
: 1,22
Higroskopisitas
: higroskopis
Stabilitas
: tidak stabil dalam penyimpanan.
Inkompatibilitas
: kompatibel dengan kebanyakan zat tambahan organik

dan nonorganik.
j. Penyimpanan

: karena higoskopik maka harus disimpan pada tempat

yang kedap udara


4. Lactosa monohidrat
C12H22O11. H20
Bobot molekul
Pemerian

: 360.31
: serbuk atau hablur berwarna putih, tidak berbau, berasa agak

manis : -lactose hampir 20% semanis sukrosa, sedangkan -lactose lebih manis 40%
daripada bentuk -nya.
k. Kelarutan

: Pada suhu 20C praktis tidak larut dalam kloroform,

etanol dan eter. Larut dalam 5,24 bagian air (40C)

l. Titik leleh

: 201C 2020C

m. Kegunaan

: pengisi tablet dan kapsul.

n. Higroskopisitas

: laktosa monohidrat stabil dalam air dan tidak

terpengaruh oleh kelembaban pada suhu kamar. Tetapi bentuk amorf,


tergantung pada pengeringannya, dapat dipengaruhi oleh kelembaban dan bisa
mengalami konversi menjadi monohidrat.
o. Aplikasi dalam Teknologi atau Formulasi Farmaseutikal : sebagai pengisi pada
tablet dan kapsul.
p. Densitas

: 1.545 untuk -lactose monohidrat

q. Kelembaban

: laktosa anhidrat secara normal mengandung air 1%

b/b. Laktosa monohidrat mengandung air hampir 5% b/b.


r. Stabilitas

: pada penyimpanan, laktosa dapat berubah warna

menjadi coklat.
s. Inkompatibilitas

: reaksi kondensasi antara laktosa dengan gugus amin

primer dapat menghasilkan produk berwarna coklat. Laktosa inkompatibel


dengan asam amino, aminopilin, amphetamine, lisinopril
t. Penyimpanan

: disimpan pada wadah sejuk dan kering, tertutup

Sumber : Handbook of Pharmaceutical Excipient, 2nd ed, 1994, hal.252257.Sumber :

5. Povidon (PVP)
1-Ethenyl-2-pyrrolidinone homopolymer.
(C6H9NO)n
Pemerian

BM = 2500 3 juta.
: Serbuk sangat halus, berwarna putih sampai krem, tidak atau
hampir tidak berbau, higroskopik.

Kegunaan

: Pensuspensi, pengikat tablet.

Aplikasi dalam Teknologi atau Formulasi Farmaseutikal : biasa digunakan pada


sediaan padat. Larutan povidon dapat digunakan sebagai coating agent.
Pemakaian :

Pembawa obat : 10 25 %

Pendispersi : sampai 5%

Suspending agent : sampai 5%

Pengikat, pengisi, atau penyalut tablet : 0,5 5%


pH

: 3,0 7,0 untuk larutan 5% b/v

Densitas

: 1,17-1,18 g/cm3

Higroskopisitas : sangat higroskopis, sejumlah lembab yang nyata terabsobsi


pada kelembaban relatif yang rendah.
Titik leleh

: melembut pada 150C.

Indeks refraksi : nD = 1,54 1,59


Kelarutan

: larut dalam asam, kloroform, etanol, keton, metanol, dan air.


Praktis tidak larut dalam eter, hidrokarbon dan minyak
mineral.

Stabilitas

: Povidone stabil dalam siklus pemanasan yang pendek sekitar


110 -130C.

Penyimpanan : disimpan dalam wadah tertutup, sejuk, dan kering.


Inkompatibilitas : dengan senyawa amonium kuarterner
Sumber : Handbook of Pharmaceutical Excipient, 2nd ed, 1994, hal.519.

1. Octadecanoic acid Mg salt (Magnesium stearat)


C36H70MgO4

BM = 591,27

a. Pemerian

: hablur sangat halus, putih, berbau khas dan berasa.

b. Kegunaan

: lubrikan untuk tablet dan kapsul.

c. Aplikasi dalam Teknologi atau Formulasi Farmaseutikal :


Digunakan untuk kosmetik, makanan, dan formulasi obat. Biasanya digunakan
sebagai lubrikan pada pembuatan kapsul dan tablet dengan jumlah 0,25 5,0 %.
d. Kelarutan

praktis tidak larut dalam etanol, etanol (95%), eter, dan air.

Sedikit larut dalam benzen hangat dan etanol (95%) hangat.

e. Densitas

: 1,03 1,08 g/cm3.

f. Sifat aliran

: sulit mengalir, bubuk kohesif.

g. Polimorfisme

: trihidrat, bentuk asikular dan dihidrat, bentuk lamellar

h. Titik leleh

: 88,5 C.

i. Stabilitas

: stabil

j. Inkompatibilitas : dengan asam kuat,alkali, dan garam besi.

k. Penyimpanan

: disimpan pada wadah sejuk, kering, tertutup.

Sumber : Handbook of Pharmaceutical Excipient, 2nd ed, 1994, hal.280-28


I. Alasan pemilihan metode dan zat tambahan.
Zat aktif memiliki sifat fisikokimia yang baik. Jika digunakan metode
granulasi basah/ kering, dikhawatirkan jumlah zat aktif berkurang karena proses yang
panjang. Selain itu agar jumlah zat aktif tiap tablet seragam . Proses lebih singkat,
efisiensi ruangan, tenaga kerja, konsumsi energi dan tahapan manufaktur. Dengan
tekanan yang teteap (kompres) sehingga menghindari terjadinya polimorfisme zat aktif,
menghindari terganggunya ketersediaan hayati dalam tubuh. Sifat alir zat tambahan
sudah baik.Serta waktu hancur lebih baik karena tidak melewati proses granulasi.
Semakin sedikit zat tambahan dalam suatu sediaan maka semakin baik.
Dengan ditambahkan zat tambahan pada sedian tablet memiliki tujuan untuk
memperbaiki sediaan tersebut. Dilihat pula OTT zat aktif terhadap zat tambahan.
Sehingga didapatkan metode yang tepat dengan zat tambahan yang sesuai.
Pertimbangan pemilihan zat aktif dapat dilihat dari segala aspek dari sifat fisikokimia,
farmakologi, farmakokinetik sampai ekonomisnya.
R/

Bromhexin
Dicalcium phosphate
Ludipress
Kollidon VA 64
Kollidon CL
Magnesium stearate

8 mg

190 mg

1% mg

Zat tambahan yang digunakan diantaranya avicell pH 102 yang lebih baik
daripada avicell pH 101 karena bentuk partikelnya lebih besar sehingga sifat alirannya
baik, oleh karena itu tidak diperlukan kombinasi zat tambahan lain untuk memperbaiki
sifat aliran yang buruk. Selain itu berfungsi sebagai pengisi .
Laktosa anhidrat digunakan sebagai pengisi. Pengisi ialah zat yang
ditambahkan untuk mencapai bobot tablet yang dinginkan.
Mg Stearat berfungsi sebagai lubrikan yang mengurangi gesekan/ friksi yang
terjadi antara permukaan tablet dengan dinding die selama proses pengempaan dan
penarikan tablet.
Talcum berfungsi sebagai glidan yang berfungsi meningkatkan aliran granul
dari hopper ke die.

Formulasi tablet terdiri dari fasa luar dan fasa dalam. Fasa luar saat proses
kempa berfungsi untuk menghindari penempelan serbuk pada punch. Juga berguna
untuk memperbaiki bentuk tablet menjadi lebih sempurna, karena dalam fasa luar
terdapat

bahan

pembantu

seperti

Mg

stearat

dan

Talcum.

untuk

aspek

farmakokinetiknya fasa luar berfungsi memecah bentuk tablet menjadi ukuran yang
lebih kecil ketika berada di dalam tubuh sebelum melarut. Sedangkan fasa dalam
berfungsi untuk memecahkan tablet yang berukuran lebih kecil menjadi partikulat agar
dapat melarut dengan cepat sehingga proses ADME menjadi lebih cepat.

II. Perhitungan dan penimbangan


1. Perhitungan
Formula yang akan dibuat :
Tiap tablet bromheksin mengandung bromheksin 8 mg.
Bobot tablet yang akan dibuat : 200 mg.
Jumlah tablet bromheksin yang akan dibuat : 10000 tablet.
Untuk tiap tablet :
Fasa luar

: 1%

Mg-stearat
Fasa dalam

0,01 x 200 mg

= 2 mg

: 100% - 1% = 99%
= 0,99 x 200 mg

Bahan fasa dalam tanpa Asam folat = 198 -8 mg

= 198 mg
= 190 mg

Ludipress
PVP 3%

= 3% x 190

= 5,7 mg

Laktosa monohidrat 97%

= 97% x 190

= 184,3 mg

Untuk 10000 tablet


Bobot granul teoritis :
Bromheksin

: 8 mg x 10000

= 80 g

PVP

: 5,7 mg x 10000

= 57 g

Laktosa monohidrat : 184,3 mg x10000

= 1843 g

Mg stearat

= 20 g

Jumlah

: 2 mg x 10000

= 2000 g

III.

Prosedur pembuatan
1. Menyiapkan alat alat serta bahan bahan yang akan digunakan.
2. Menimbang semua bahan yang digunakan.
3. Mencampur bromheksin dengan ludipress yang terdiri dari campuran PVP dan laktosa
monohidrat kedalamnya, lalu diaduk ad homogen.
4. Melakukan uji evaluasi serbuk, meliputi uji sifat alir (secara langsung dan secara tidak
langsung) dan uji kompresibilitas.
5. Tambahkan Magnesium stearat dan talk kedalam campuran serbuk sebelumnya
( yang telah dilakukan evaluasi serbuk), diaduk ad homogen.
6. Memasukkan campuran serbuk tersebut ke dalam mesin cetak, kemudian tablet
dicetak sesuai yang diharapkan.
7. Melakukan evaluasi tablet meliputi uji keseragaman bobot, waktu hancur, kekerasan,
keseragaman ukuran, dan friabilitas.
8. Memasukkan tablet ke dalam wadah beserta etiket, dan diserahkan.

IV.

Evaluasi
1. Masa siap cetak
a. Penetapan Bobot Jenis Nyata, Bobot Jenis Mampat, Kadar Pemampatan, dan
Porositas.
Sebanyak 100 g (B) granul atau serbuk dimasukkan ke dalam gelas ukur 250 mL,
catat volumenya (V0). Selanjutnya dilakukan pengetukan dengan alat. Volume
pada ketukan ke 10, 50, dan 500 diukur
b. Kecepatan aliran
timbang beker glass kosong (Wo)
set skala pada posisi 0
masukkan granul ke corong
alat dihidupkan
catat waktu alir (t)
timbang beker glass berisi granul (Wt)
Wt Wo
t
hitung aliran granul :
c. Sudut istirahat
dengan menggunakan prosedur yang sama pada prosedur 3
ukur tinggi puncak taburan serbuk (h)
ukur diameter lingkaran yang terbentuk dari taburan serbuk (d=2r)
hitung sudut yang terbentuk dari taburan serbuk tersebut antara bidang datar

denag tinggi granul : tan a = h/r


2. Tablet
a.
Penampilan

Tablet diamati secara visual, apakah terjadi ketidakhomogenan zat warna atau
tidak, bentuk tablet, permukaan cacat atau tidak dan bebas dari noda atau bintikb.

bintik. Bau tablet tidak boleh berubah.


Keseragaman Ukuran
Diambil secara acak 10 tablet, lalu diukur diameter tebalnya menggunakan jangka

c.

sorong.
Keragaman Bobot
Diambil 10 tablet secara acak lalu timbang masing-masing tablet. Hitung bobot

d.

rata-rata dan penyimpangan terhadap bobot rata-rata.


Kekerasan Tablet
Dilakukan menggunakan hardness tester terhadap 10 tablet yang diambil secara
acak. Kekerasan diukur berdasarkan luas permukaan tablet dengan menggunakan
beban yang dinyatakan dalam kg. Satuan kekerasan adalah kg/cm2. Dihitung

e.

kekerasan rata-rata dan standar deviasinya.


Friabilitas
Dilakukan dengan menggunakan alat friabilator terhadap 10 tablet yang diambil
secara acak. Parameter yang diuji adalah kerapuhan tablet terhadap bantingan
selama waktu tertentu. Friabilitas dipengaruhi oleh sudut tablet yang kasar, kurang
daya ikat serbuk, terlelu banyak serbuk halus, pemakaian bahan yang tidak tepat,
massa cetak terlalu kering.
diambil 10 tablet secara acak
tablet dibersihkan dari debu kemudian ditimbang (Wo)
tablet dimasukkan dalam alat
alat dinyalakan selama 4 menit
tablet dibersihkan dan ditimbang (Wt)
Tablet yang baik memiliki friabilitas kurang dari 1 %.

f
f.

Wo Wt
100%
Wo

Friksibilitas
Dilakukan dengan menggunakan alat friabilator terhadap 10 tablet yang diambil
secara acak. Parameter yang diuji adalah kerapuhan tablet terhadap gesekan antar
tablet selama waktu tertentu.
diambil 10 tablet secara acak
tablet dibersihkan dari debu kemudian ditimbang (Wo)
tablet dimasukkan dalam alat

alat dinyalakan selama 4 menit


tablet dibersihkan dan ditimbang (Wt)

Wo Wt
100%
Wo

g. Uji Waktu Hancur Tablet Tidak Bersalut (FI IV)


Masukkan 1 tablet pada masing-masing tabung dari keranjang, masukkan 1
cakram pada tiap tabung dan jalankan alat, gunakan air bersuhu 37 + 2 sebagai
media kecuali dinyatakan menggunakan cairan lain dalam masing-masing
monografi. Pada akhir batas waktu seperti yang tertera pada monografi, angkat
keranjang dan amati semua tablet : semua tablet harus hancur sempurna. Bila 1
tablet atau 2 tablet tidak hancur sempurna, ulangi pengujian dengan 12 tablet
lainnya : tidak kurang 16 dari 18 tablet yang diuji harus hancur sempurna.

V. Aspek farmakologi
a. Dosis
5 100mg, 3 kali sehari (DI edisi 88 hal. 2103)
b. Indikasi
Untuk batuk yang memerlukan pengenceran dahak (ekspektoran), misalnya pada
keadaan batuk karena influenza, iritasi membran mukosa.
c. Efek samping
Kadang-kadang gangguan GI. Pernah dilaporkan efek samping: Sakit kepala,
vertigo, berkeringat banyak dan ruam kulit, juga dapat terjadi kenaikan
transaminase.
d. Kontra indikasi
Ulkus GI
e. ADME
Bromheksin Hcl diabsorpsi dari jalur saluran pencernaan, puncak plasma pada 1
jam setelah pemberian. Bromheksin kebanyakan diekskresikan di urin dan
sebagian kecil di ekskresikan di feces.
k. Daftar pustaka
Anonym, 1979, Farmakope Indonesia, Jakarta : Departemen Kesehatan Republik
Indonesia

Anonim, 2007, USP NF Asian Edition, volume I,Rockville : The United Sates
Pharmacopeial Convention.
Lieberman, L Lachman, 1989, pharmaceutical Dosage Form : Tablet Volume I, New
York : Marcel Dekker.

Anda mungkin juga menyukai