Anda di halaman 1dari 71

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF UNTUK

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN KONSEP


BILANGAN (MAMA) DAN MENULIS (BI) MURID KELAS IV
MI. NW. REMPUNG TAHUN PEMBELAJARAN 2010

Oleh
MUHLIS
NIM. 813645773

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS TERBUKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIT PROGRAM BELAJAR JARAK JAUH
MATARAM

2010

LEMBAR IDENTITAS PENGESAHAN

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF UNTUK


MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN KONSEP
BILANGAN (MAMA) DAN MENULIS (BI) MURID KELAS IV
MI. NW. REMPUNG TAHUN PEMBELAJARAN 2010-2010
Nama
NIM

: MUHLIS
: 813645773

Program Studi

: Sl PGSD

Tempat Mengajar: MI. NW. REMPUNG


Tanggal Pelaksanaan:
No

Hari / Tanggal

Waktu

Mata Pelajaran

Siklus

Selasa, 10 Oktober 2010

07.30- 08.10

MAMA

I/I

Senin, 17 Oktober 2010

07.30- 08.10

B. INDO

I/II

Selasa, 5 November 2010

07.30- 08.10

MAMA

II/I

Senin, 16 November 2010

07.30- 08.10

B.INDO

II/II

Rempung, 16 November 2010


Mahasiswa,
Menyetujui
Supervisor

Drs. Cedin Atmaja, M.Si


NIP195612311983011004

MUHLIS
NIM.813645773

Ucapan Terima Kasih


Puji syukur dipanjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rakhmatNya sehingga penulisan laporan Penelitian Tindakan Kelas ini dapat diselesaikan dengan
baik. Dalam penyelesaian laporan ini, banyak pihak yang telah memberikan bantuan
secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu dalam kesempatan ini tidak lupa
diucapkan terima kasih banyak kepada:
1. Bapak Drs. L.M Tauhid, M.Pd selaku kepala UPBJJ UT Mataram
2. Bapak Pembimbing Drs. Cedin Atmaja, M.Si
3. Bapak Kepala MI. NW Rempung.
4. Semua pihak yang telah ikut memberikan sumbangsihnya.
Mudah-mudahan amal baik semua pihak mendapat imbalan yang setimpal dari
yang Mahakuasa.
Akhirnya, penulis mengharapkan semoga laporan yang sederhana ini dapat
memberikan sumbangan ilmu pengetahuan yang berharga bagi peningkatan mutu
proses pembelajaran berikutnya..

Rempung, 16 November 2010

HALAMAN JUDUL.................................................................................................i
HALAMAN PERSETUJUAN..................................................................................ii
KATA PENGANTAR................................................................................................iii
DAFTAR ISI .............................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................................4
Rumusan Masalah......................................................................................................8
1.3 Cara Pemecahan Masalah...........................................................................8
1.4 Tujuan Penelitian........................................................................................9
1.5 Manfaat Penelitian......................................................................................9
1.6 Hipotesis Tindakan.....................................................................................9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Motode Pembelajaran Kooperatif...............................................................10
2.1.1 Pembelajaran Model Kooperatif Membaca dan Menulis..............16
2.1.2 Langkah-Langkah Membentuk Kelompok Kooperatif ........ ........11
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Setting Penelitian........................................................................................23
3.2 Desain Penelitian .......................................................................................23
3.3 Populasi dan Sampel ..................................................................................24
3.4 Teknik Pengumpulan Data..........................................................................25
3.5 Teknik Analisis Data...................................................................................26
3.6 Indikator Kinerja.........................................................................................27
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Pelaksanaan Tindakan................................................................................30
4.2 Siklus I.......................................................................................................34
4.2.1 Perencanaan Tindakan.......................................................................34
4.2.2 Pelaksanaan Tindakan........................................................................35
4.2.3 Observasi...........................................................................................43
4.2.4 Refleksi..............................................................................................47
4.3 Siklus II.......................................................................................................48
4.3 1 Perencanaan Tindakan ......................................................................48
4.3.2 Pelaksanaan Tindakan........................................................................49
4.3.3 Observasi...........................................................................................52
4.3.4 Refleksi..............................................................................................54
BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan.....................................................................................................55
5.2 Saran...........................................................................................................55
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Upaya pemerintah dalam memperbaiki paradigma pendidikan dari tahun
ke tahun semakin tampak. Hal itu terlihat dari perubahan dan perbaikan kurikulum,
metode, dan pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran di kelas. Salah satu
bukti konkret realisasi upaya pemerintah dimaksud adalah dilaksanakannya
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum tersebut diharapkan
mampu merubah sistem pembelajaran di kelas termasuk pembelajaran bahasa
Indonesia.
Sesuai KTSP dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia terdapat sejumlah
kompetensi dasar yang harus terpenuhi guna membangun keterampilan siswa.
Kompetensi dasar itu mencakup aspek menyimak, berbicara, membaca, menulis,
sastra dan kebahasaan. Keterampilan menulis adalah salah satu keterampilan yang
harus mendapat perhatian yang lebih, karena ini merupakan salah satu keterampilan
berbahasa yang bersifat produktif. Namun demikian keterampilan menulis akan
terlaksana dengan baik apabila keterampilan berbahasa yang lain juga berjalan
dengan baik.
Pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran bahasa
Indonesia dan Matematika bergantung pada pelbagai sudut pandang, mulai dari
sudut pandang tujuan pembelajaran, cara mencapai tujuan pembelajaran,
penyusunan bahan pembelajaran, dan cara penyajian bahan pembelajaran (Tarigan,
1990: 22).

Seperti halnya pada konteks di atas, dalam pembelajaran matematika


pun terdapat proses yang sama dengan pembelajaran bahasa. Matematika
merupakan salah satu keterampilan yang erat hubungannya dengan proses berpikir.
Seseorang tidak mampu melihat gejala dan kejadian-kejadian yang dilihatnya tanpa
melalui proses berpikir yang dalam untuk mengembangkan hubungan-hubungan itu
dan menyusunnya ke dalam satu kesatuan yang teratur (Akhadiah, 1988;41).
Matematika juga merupakan salah satu usaha untuk mengembangkan kemampuan
siswa dalam berpikir kritis untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, siswa harus mampu menguasai baca-hitung.
Pendidikan juga merupakan interaksi pribadi di antara para siswa dan
interaksi antara guru dan siswa. Dalam hal ini, kegiatan pendidikan adalah suatu
proses sosial yang tidak akan terjadi tanpa interaksi antarpribadi. Belajar adalah
suatu proses pribadi, tetapi juga proses sosial yang terjadi ketika masing-masing
orang berhubungan dengan yang lain dan membangun pengertian dan pengetahuan
bersama (Johnson & Smith dalam Anita Lie, 2004:6)
Berdasarkan argumen tersebut, perlu adanya perubahan dalam proses
belajar mengajar di kelas. Sudah saatnya kegiatan belajar mengajar lebih
mempertimbangkan siswa. Siswa bukanlah sebuah botol kosong yang bisa diisi
begitu saja tanpa mempertimbangkan kebutuhan siswa. Sudah semestinya metode
dan strategi pengajaran guru di sekolah lebih banyak dari memotivasi potensi otak
siswa.
Banyak orang yang sudah mengetahui bahwa

ternyata potensi yang

dimiliki oleh otak manusia sungguh luar biasa. Akan tetapi, sebagian orang tidak
mengerti dan tidak mengetahui cara menggali potensi itu. Hal itu menyebabkan

potensi tersebut tidak saja belum tergali melainkan juga terisolasi rapat-rapat
sehingga potensi tersebut tidak berkembang.
Hal semacam ini pada gilirannya membuat siswa tidak mampu
mengaktifkan potensi otaknya sehingga mereka tidak berani menyampaikan apa
yang diinginkan, lemah penalaran, dan tergantung pada orang lain. Pada kondisi ini,
diperlukan teknik pembelajaran yang melibatkan aktivitas siswa secara maksimal
sehingga kreativitas yang dimiliki akan berkembang dan mereka dapat menyalurkan
ide, gagasan, dan kerangka berfikirnya melalui menulis.
Seiring dengan kondisi tersebut dan sesuai dengan apa yang terjadi pada
murid kelas IV MI. NW Rempung

yaitu memahami konsep bilangan dan

keterampilan menulis pun siswa masih kurang. Kurangnya keterampilan siswa


tersebut terjadi karena beberpa faktor , yaitu : (1) Dari diri siswa, kurang percaya
diri terhadap kemampuan yang dimiliki dan masih ada perasaan takut salah dalam
mengungkapkan sesuatu, sehingga mereka perlu diberikan suatu stimulus dan
respon yang baik terhadap proses belajar mengajar. (2) Dari luar siswa, metode atau
teknik yang digunakan oleh guru masih kurang tepat misalnya guru menjelaskan
kepada siswa bagaimana menulis cerita dan teori tentang sifat-sifat opersai hitung
tetapi siswa tidak diberikan latihan secara kontinyu .
Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan guru kelas dan hasil
pengamatan peneliti terhadap pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia dan
matematika di kelas diperoleh beberapa informasi bahwa (1) keterampilan menulis
telah diajarkan kepada siswa, tetapi hasilnya belum maksimal karena motivasi dan
kemauan dalam diri siswa masih kurang, (2) pembelajaran sifat-sifat opersai hitung
pada matematika masih jarang dilaksanakan, (3) ketika pembelajaran menulis dan
sifat-sifat opersai hitung siswa memiliki kesulitan dalam mengungkapkan ide atau

gagasan

masih kurang

dan kurang percaya diri terhadap kemampuan yang

dimilikinya, (4) rata-rata nilai kemampuan menulis (BI) dan sifat-sifat opersai
hitung (MAMA) siswa kelas IV MI. NW. Rempung menunjukkan, siswa yang
tuntas (mencapai KKM 68) baru berjumlah 17 orang dan yang belum tuntas
berjumlah 20 orang dari 37 siswa pada saat itu.
Terkait dengan hal di atas, salah satu teknik yang dapat digunakan dalam
memacu kreativitas siswa serta interaksi antara siswa dengan siswa yang lainnya
adalah teknik kooperatif. Teknik kooperatif ini memiliki beberapa keunggulan, di
antaranya (1) memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sendiri dan
bekerjasama dengan orang lain dalam suasana gotong royong, (2) optimalisasi
partisipasi siswa, dalam hal ini siswa mempunyai banyak kesempatan untuk
mengolah informasi, (3) merangsang siswa untuk mengembangkan kemampuan
berfikir dan berimajinasi. Buah pemikiran mereka akan dihargai sehingga siswa
merasa semakin terdorong untuk belajar.
Berdasarkan uraian di atas, penelitian dengan judul Penerapan Teknik
kooperatif

untuk

Meningkatkan

Kemampuan

memecahkan

konsep

bilangan

Matematika dan masalah menulis pada mata pelajaran bahasa Indonesia murid kelas IV
MI. NW Rempung. Penelitian ini diharapkan mampu memecahkan masalah yang
terjadi di sekolah tersebut, khususnya dalam hal matematika dan bahasa Indonesia.
1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang akan dibahas dalam Penelitian

Tindakan Kelas ini adalah bagaimakah penerapan model pembelajaran kooperatif dapat
meningkatkan kemampuan memecahkan masalah konsep bilangan dan kaidah menulis
murid kelas IV MI. NW Rempung tahun pembelajaran 2010-2011?
1.3

Cara Pemecahan masalah

Melihat permasalahan yang ada, maka untuk meningkatkan

kemampuan

memecahkan konsep bilangan pada matematika dan menulis materi bahasa Indonesia
murid kelas IV MI. NW Rempung dilakukan beberapa tindakan, untuk merealisasikan
hal tersebut yang dipecahkan dengan teknik kooperatif. Adapun tindakan yang akan
dilakukan sebagai berikut :
a. Persiapan
Pada tahap ini guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok. dalam
hal ini siswa dipasangkan. Para siswa tetap berada di kelas. Guru
mempersiapkan media yang akan digunakan dalam pembelajaran.
b. Pelaksanaan tindakan
1. Guru memberikan penjelasan singkat tentang cara kerja siswa, kemudian
memberikan bagian pertama bahan kepada siswa yang pertama, sedangkan
bagian kedua bahan diberikan kepada siswa yang kedua.
2. Siswa membaca/mendengarkan bagian mereka masing-masing.
3. Siswa mencatat beberapa frase/kata kunci yang ada dalam bagian masingmasing kemudian saling menukar daftar kata/frase kunci dengan pasangan
masing-masing (dalam kegiatan ini siswa membuat draf kata-kata yang
akan dikembangkan menjadi cerita).
4. Siswa yang mendapat bagian pertama berusaha menuliskan apa yang
terjadi selanjutnya sedangkan siswa yang mendapat bagian kedua berusaha
menuliskan apa yang terjadi sebelumnya sesuai dengan cerita yang
didapatkan (siswa mengembangkan idenya).
5. Setelah selesai menulis siswa diberikan kesempatan untuk membacakan
hasil karangan mereka. Siswa/guru memberikan komentar mereka terhadap
hasil pekerjaan siswa yang lain.

6. Siswa yang diberikan komentar berusaha untuk memperbaiki hasil


pekerjaan mereka (kegiatan ini termasuk dalam tahapan editing)
7. Hasil pekerjaan siswa kemudian dikumpulkan kepada guru untuk dinilai.
8. Untuk lebih memberikan semangat kepada siswa, karya karya mereka
dipublikasikan, diabadikan dan diberikan hadiah (termasuk dalam tahapan
publikasi).
1.4 Tujuan Penelitian
Untuk menjawab permasalahan tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah
meningkatkan kemampuan memecahkan masalah konsep bilangan (matematika)
dan kaidah menulis (bahasa Indonesia) dengan penerapan model pembelajaran
kooperatif murid kelas IV MI. NW Rempung.

1.5 Manfaat Penelitian


Dengan penelitian tindakan kelas ini diharapkan akan memberikan
manfaat, antara lain:
a. Bagi siswa
1. sebagai salah satu motivasi siswa untuk meningkatkan pemahaman secara
mandiri terhadap materi pembelajaran Bahasa Indonesia.
2. merangsang

siswa untuk mengembangkan

kemampuan

berfikir dan

berimajinasi.
3. mendorong siswa dalam mengembangkan keterampilan bekerja dengan
sesama siswa dalam suasana gotong royong.
b. Bagi guru

10

1. sebagai acuan bagi guru dalam menemukan dan mencari strategi dan
pembelajaran yang bervariasi sehingga dapat memperbaiki dan meningkatkan
sistem pembelajaran di kelas.
2

sebagai bahan evaluasi dalam penyusunan dan pengembangan tugas-tugas


profesi keguruan.

c. Bagi sekolah
1. sebagai bahan evaluasi dalam penyusunan dan pengembangan kebijakan
sekolah.
2. memberikan kontribusi yang berarti dalam rangka perbaikan pembelajaran di
sekolah.

11

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Motode Pembelajaran Kooperatif


Sebenarnya pembelajaran kooperatif merupakan ide lama. Pada awal abad pertama
seseorang filosof berpendapat bahwa untuk dapat belajar, seseorang harus memiliki
pasangan/teman. Dari situlah ide pembelajaran kooperatif itu berkembang (Nur,
2005:14).

Pembelajaran

yang

bernaung

dalam

metode

kontruktivistik

adalah

pembelajaran kooperatif. Muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah
menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan
temannya. Siswa

secara rutin bekerja

dalam kelompok untuk saling membantu

memecahkan masalah-masalah yang kompleks. Jadi, hakekat

sosial

penggunaan

kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif. Pembelajaran


kooperatif dilakukan dengan empat siswa yang berbeda-beda dari segi kemampuan atau
ukuran kelompok. Siswa ditempatkan kedalam kelompok kooperatif dan tinggal bersama
sebagai satu kelompok untuk beberapa hari. Mereka dilatih keterampilan khusus untuk
membantu mereka dapat bekerja sama dengan baik, memberikan penjelasan dengan
baik dan mengajukan pertanyaan dengan baik.
Dalam kooperatif terdapat berbagai metode sebagai berikut :
1) Student Teams- Achivement Divisions (STAD), yang menggunakan satu langkah
pengajaran di kelas dengan menempatkan siswa ke dalam tim campuran
berdasarkan prestasi, jenis kelamin dan suku. Akhirnya seluruh siswa dikenai
problem ( kuis ) berkaitan dengan materi dan sesama anggota tim, saat
mengerjakan kuis, siswa tidak boleh saling membantu.
2) Teams Assisted Individualization (TAI) yang lebih menekankan pengajaran
individual meskipun tetap menggunakan pola kooperatif.

12

3) Cooperatif Integrated Reading and Composition (CIRC) adalah bagian metode


koopertif yang komprehensif atau luas dan lengkap untuk pembelajaran membaca
dan menulis untuk kelas tinggi. Dalam CIRC, siswa dikelompokan berdasarkan
perbedaan masing-masing sebanyak empat orang.

Mereka terlibat ke dalam

rangkaian kegiatan bersama, temasuk saling membacakan satu sama yang lainnya,
menulis tanggapan terhadap cerita, saling membuat ikhtisar, berlatih pengejaan
serta pembedaharaan kata.
4.) Jigsaw, Dalam jigsaw siswa dikelompokan dalam tim beranggotakan enam
orang mempelajari akademik yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa subbab.
Misalnya, dari enam orang anggota kelompok saat mempelajari tema tokoh besar
, masing-masing mempelajari riwayat hidup, prestasi awal kemunduran, yang
dialami, tampak dari kiprahnya. Kemudian, para siswa kembali ketimnya dan
bergantian menceritakan hasilnya.
5) Belajar Bersama ( learning Together). Metode ini memperlibatkan siswa yang
bekerja dalam kelompok beranggotakan empat atau lima siswa heterogen untuk
menangani tugas tertentu. Kemudian, mereka

melaporkan tugas itu. Metode

belajar bersama lebih mengarah pada pembinaan kerjasama dan keberhasilannya.


6) Penelitian Kelompok (Group Investigation ) merupakan rencana organisasi kelas
umum. Siswa bekerja dalam kelompok

kecil dengan menggunakan inkuiri

kooperatif (pembelajaran kooperatif yang bercirikan penemuan diskusi kelompok


dan perencanaan serta proyek kooperatif.
Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang
mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok
mempunyai tingkatan kemampuan yang berbeda-beda ( tinggi , sedang , dan rendah ) dan
juga memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya , suku yang berbeda serta
memperhatikan kesetaraan gender. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja
sama dalam menyelesaikan

permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan

13

keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Ibrahim (2005:2-4)


semua model mengajar ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan dan
struktur penghargaan. Struktur tugas , struktur tujuan dan struktur penghargaan pada
model pembelajaran kooperatif berbeda dengan struktur tugas ,struktur tujuan serta
struktur

penghargaan

model pembelajaran yang lain.

Dalam proses pembelajaran

dengan model pembelajaran kooperatif , siswa didorong untuk bekerja sama pada suatu
tugas bersama dan mereka harus mengkoordinasikan usaha untuk menyelesaikan tugas
yang diberikan guru. Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar
akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai

keragaman dari

temannya, serta pengembangan ketrampilan sosial. Menurut Ibrahim ( 2005:6-7) unsureunsur dasar pembelajaran kooperatif sebagai berikut.
1) Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggungjawab atas segala sesuatu yang
dikerjakan dalam kelompok.
2) Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota
kelompok mmpunyai tujan yang sama.
3) Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab
yang sama diantara anggota kelompoknya.
4) Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
5) Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan
keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
6) Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggungjawabkan
secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Masih menurut Ibrahim (2005:6-7), cirri-ciri model pembelajaran
kooperatif sebagai berikut.
1) Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai
2)

kompetensi dasar yang akan dicapai.


Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang

berbeda-

beda

14

3) baik tingkat kemampuan tinggi , sedang dan jika mungkin anggota kelompok
bersal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan
gender.
4)
Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari pada masing-masing
5)

individu.
Dalam pembelajaran kooperatif dikembangkan diskusi dan komunikasi
dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling belejar berpikir
kritis, saling menyampaikan pendapat, saling memberi kesempatan menyalurkan
kemampuan, saling membantu belajar, saling menilai kemampuan dan peranan
diri sendiri maupun teman lain.
Menurut Ibrahim (2005:10) pembelajaraan kooperatif terdapat enam
langkah dalam model pembelajaran kooperatif.

Langkah-langkah tersebut

digambarkan pada tabel berikut ini :


Tabel 2.1
Skenario Model Pembelajaran Kooperatif
Langkah
Langkah I

Indikator

Tingkah Laku Guru

Menyampaikan

Guru menyampaikan semua tujuan

tujuan dan

pelajaran yang ingin dicapai pada

memotivasi siswa

pelajaran tersebut dan memotivasi


siswa belajar

Langkah 2

Langkah 3

Menyajikan

Guru menyajikan informasi kepada

informasi

siswa dengan jalan demontrasi atau

Mengorganisasikan

lewat bahan bacaan


Guru menjelaskan kepada siswa

siswa

Langkah 4

ke

dalam bagaimana caranya membentuk

kelompok-

kelompok belajar dan membantu

kelompok belajar

setiap kelompok agar melakukan

Membimbing

transisi secara efisien.


Guru membimbing kelompok-

kelompok-

kelompok pada saat mereka

15

kelompok

bekerja mengerjakan tugas mereka.

dan belajar
Langkah 5

Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar


tentang materi yang telah dipelajari
atau masing-masing kelompok

Langkah 6

Memberi

mempresentasikan hasil kerjanya


Guru memberi cara-cara untuk

penghargaan

menghargai baik upaya maupun


hasil belajar individu dan
kelompok

Berdasarkan beberapa konsep di atas, maka metode pembelajaran


kooperatif adalah metode pengajaran dimana siswa bekerja sama dalam kelompok
kecil dan saling membantu dalam belajar. Pembelajaran kooperatif memiliki
dampak yang positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya, karena siswa
yang rendah hasil belajarnya

dapat meningkatkan motivasi , hasil belajar dan

penyampaian materi pelajaran yang lebih lama. Agar pembelajaran kooperatif dapat
berjalan dengan baik siswa terlebih dahulu dilatih keterampilan-keterampilan
kooperatif sebelum pembelajaran kooperatif itu digunakan. Hal ini dilakukan agar
siswa telah memiliki keterampilan yang diperlukan untuk satuan pembelajaran
tertentu.

Keterampilan kooperatif yang dilatih seperti mengajukan pertanyaan,

menjawab pertanyaan/menanggapi, menyampaikan ide/pendapat , mendengarkan


secara aktif, berada dalam tugas, dan sebagainya. Agar tujuan pembelajaran
mencapai sasaran dengan baik seperti yang tercantum dalam kurikulum, selain
digunakan model pembelajaran yang sesuai, perlu adanya perangkat yang sesuai
pula.
2.2 Pembelajaran Model Kooperatif Membaca dan Menulis

16

Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) merupakan suatu


program komprehensif untuk pengjaran membaca dan menulis pada kelas tinggi
sekolah dasar dan sekolah menengah pertama (Nur, 2005: 12)
Menurut Suyatno (2004: 35) mengemukaan bahwa (CIRC) adalah bagian
metode kooperatif yang komprehensif atau luas dan lengkap untuk pembelajaran
membaca dan menulis kelas tingg. Rangkaian belajar kooperatif teknik Cooperative
Integrated Reading and Composition (CIRC).
1.Selain membaca dan menulis siswa juga dapat bekerja sama untuk memahami ide
pokok dan keterampilan pemahaman yang lain.
2. Pada aktivitas Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) siswa
melakukan langkah-Langkah yaitu mengikuti urutan intruksi guru, latihan tim, aresmen
awal tim, dan kuis. Siswa tidak akan diberi kuis sampai teman sesama timnya
menentukan, bahwa mereka siap. Penghargaan tim berupa sertifikat yang diberikan
kepada tim berdasarkan kinerja rata-rata dari semua anggota tim pada semua kegiatan
membaca menulis tersebut. Karena siswa bekerja pada bahan yang sesuai dengan
tingkat membaca mereka, mereka memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil.
Kontribusi siswa kepada timnya didasarkan pada skor kuis mereka dan karya tulis
akhir mandiri, yang menjamin tanggung jawab (Nur, 2005:13).
2.2.1 Siklus Pembelajaran Model Kooperatif
Kooperatif terdiri dari siklus kegiatan pembelajaran yang tetap seperti diuraikan
di bawah ini.
a) Mengajar
Kegiatan pembelajaran diawali dengan presentasi materi pelajaran oleh guru
kelas.
b) Belajar Dalam Tim
Guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4
sampai 5 orang, terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan mempunyai
kemampuan awal yang bervariasi. Sebelum kegiatan belajar dimulai, guru sudah
menyiapkan nama-nama dalam kelompok.
C) Tes

17

Penilaian dilakukan dengan cara guru menyuruh siswa menulis karangan


narasi berdasarkan media yang telah diterima.
2.2.2 Langkah-Langkah Membentuk Kelompok Kooperatif
1. Bagaimana siswa kedalam kelompok, masing-masing terdiri dari 4-5 anggota.
Membuat tim menjadi 5 anggota hanya jika jumlah siswa tidak dapat dibagi
menjadi 4 anggota. Untuk menempatkan siswa kedalam kelompok, urutkan
mereka dari atas sampai kebawah berdasarkan kinerja akademik tertentu dan
bagilah daftar siswa dari tiap penempatan itu berimbang menurut jenis kelamin
dan asal suku.
2. Buatlah lembar kerja siswa (LKS) untuk pelajaran yang direncanakan untuk
diberikan selama belajar menulis karangan narasi.
3. Mintalah anggota tim bekerja sama mengatur bangku mereka. Anjurkan agar siswa
pada tiap tim bekerja sama. Setiap anggota kelompok hendaknya saling mengecek
pekerjaan diantara sesama teman dalam satu kelompok. Beri penekanan kepada
siswa bahwa mereka tidak boleh mengakhiri kegiatan belajar sampai mereka
yakin seluruh anggota tim benar-benar sudah selesai menulis karangan narasi.
Apabila siswa memiliki pertanyaan mintalah mereka mengajukan pertanyaan itu
kepada teman satu timnya sebelum mengajukan pertanyaan kepada guru.
4. Pada saat siswa sedang bekerja dalam tim, guru berkeliling di dalam kelas untuk
memberikan pujian kepada tim yang bekerja baik, dan secara bergantian, duduklah
bersama tiap-tiap tim untuk memperhatikan bagaimana anggota-anggota tim itu
bekerja.
Berdasarkan beberapa konsep di atas, maka metode pembelajaran
kooperatif adalah suatu pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama pada
setiap kelompok-kelompok belajar.
Tabel 2.2
Langkah-langkah Membentuk Kelompok

18

Langkah 1

Awal
pembelajaran

Siswa membentuk kelompok, masing-masing


terdiri 4-5 anak dalam satu kelompok
berdasarkan yang sudah ditentukan

dalam
pembagian
kelompok
Langkah 2

Guru
membagikan
LKS

Masing-masing kelompok/individu mendapat


LKS yang akan dikerjakan

Langkah 3

Memberikan
keterangan
untuk saling
bekerja sama
dan
saling
bertanya

Setiap anggota kelompok saling mengecek


pekerjaan diantara sesama teman dalam satu
kelompok, tidak boleh mengakhiri kegiatan
belajar sampai mereka yakin seluruh anggota
tim benar-benar sudah selesai dan bertanya
kepada kelompok.

Langkah 4

Memberi
Pada saat siswa sedang bekerja dalam tim guru
dorongan dan berkeliling sambil memperhatikan bagaimana
pujian
anggota tim itu bekerja

2.2.3

Teknik Bercerita Berpasangan (Paired Story telling)


Teknik

mengajar

Bercerita

Berpasangan

(Paired

Storytelling)

dikembangkan sebagai pendekatan interaktif antara siswa, pengajar, dan bahan


pelajaran. Teknik ini bisa digunakan dalam pembelajaran membaca, menulis,
mendengarkan, ataupun berbicara. Teknik ini bisa digunakan juga dalam beberapa
mata pelajaran, seperti ilmu pengetahuan sosial, agama, dan bahasa (Lie, 2004 : 70).
Aplikasi teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang
pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan
pelajaran lebih bermakna. Dalam kegiatan ini siswa dirangsang untuk
mengembangkan kemampuan berfikir dan berimajinasi. Pemikiran mereka akan
dihargai sehingga siswa merasa makin terdorong untuk belajar. Selain itu, siswa
bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai

19

banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan


berkomunikasi. Bercerita Berpasangan bisa digunakan untuk semua tingkatan usia
anak didik. (Lie, 2004 :71)
2.2.4 Cara Kerja Teknik Bercerita Berpasangan (Paired Story telling)
Berdasarkan poin 2.2.1 di atas, cara kerja teknik bercerita berpasangan
(paired storytelling) adalah sebagai berikut :
1. Pengajar membagi bahan pelajaran yang akan diberikan menjadi dua bagian.
2. Sebelum bahan pelajaran diberikan, pengajar memberikan pengenalan
mengenai topik yang akan dibahas dalam bahan pelajaran untuk hari itu.
Pengajar bisa menuliskan topik di papan tulis dan menanyakan apa yang siswa
ketahui mengenai topik tersebut.
3. Siswa dipasangkan.
4. Bagian pertama bahan diberikan kepada siswa yang pertama, sedangkan siswa
yang kedua menerima bagian yang kedua.
5. Kemudian siswa disuruh membaca atau mendengarkan bagian mereka
masing-masing.
6. Sambil membaca/mendengarkan, siswa disuruh mencatat dan mendaftar
beberapa kata/frase kunci yang ada dalam bagian masing-masing.
7. Setelah selesai membaca siswa saling menukar daftar kata/frase kunci dengan
pasangan masing-masing (dalam kegiatan ini siswa membuat draf/susunan
kata-kata yang akan dikembangkan menjadi sebuah cerita).
8. Sambil mengingat-ingat/memperhatikan bagian yang telah dibaca atau
didengarkan sendiri, masing-masing siswa berusaha untuk mengarang bagian
lain yang belum dibaca/didengarkan (atau yang sudah dibaca/didengarkan
pasangannya) berdasarkan kata-kata/frase-frase kunci dari pasangannya.

20

Siswa yang telah membaca/mendengarkan bagian yang pertama berusaha


menuliskan apa yang terjadi selanjutnya. Sementara itu, siswa yang
membaca/mendengarkan bagian yang kedua menuliskan apa yang terjadi
sebelumnya (dalam hal ini siswa mulai mengembangkan draf yang telah
ditulisnya sehingga menjadi sebuah cerita).
9. Tentu saja, versi karangan sendiri tidak harus sama dengan bahan sebelumnya.
Tujuan kegiatan ini bukan untuk mendapatkan jawaban yang benar, melainkan
untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar dan mengajar.
Setelah selesai menulis, beberapa siswa diberi kesempatan untuk membacakan
hasil karangan mereka.
10. Siswa/guru memberi komentar terdap hasil pekerjaan siswa.
11. Siswa yang diberikan komentar berusaha untuk memperbaiki hasil pekerjaan
mereka (kegiatan ini termasuk dalam tahapan editing).
12. Hasil pekerjaan siswa kemudian dikumpulkan kepada guru untuk dinilai.
13. Untuk lebih memberikan semangat kepada siswa, karya-karya mereka
dipublikasikan di depan kelas, diabadikan serta diberikan hadiah (kegiatan ini
termasuk dalam tahapan publikasi).
14. Kemudian, pengajar membagikan bagian cerita yang belum terbaca kepada
masing-masing siswa. Siswa membaca bagian tersebut.
15. Kegiatan ini bisa diakhiri dengan diskusi mengenai topik dalam bahan
pengajaran hari itu. Diskusi bisa dilakukan antara pasangan atau dengan
seluruh kelas.
2.2.5

Rambu-rambu pembelajaran Bahasa Idonesia SD


Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan

emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari

21

semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal
dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan,
berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan
serta menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya.
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan
peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik
secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan
manusia Indonesia.
Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi
kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan,
keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar
kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon
situasi lokal, regional, nasional, dan global.
Standar kompetensi mata pelajaran bahasa dan sastra Indonesia diharapkan dapat:
1. Peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan,
kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil
karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri;
2. Guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi peserta
didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar;
3. Guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan
kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta
didiknya;
4. Orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program
kebahasaan dan kesastraan di sekolah;

22

5. Sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan


sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia;
6. Daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan
sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan
kepentingan nasional.
Mata pelajaran bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki
kemampuan sebagai berikut:
1.

Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang


berlaku, baik secara lisan maupun tulis

2.

Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa


persatuan dan bahasa Negara

3. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif


unruk berbagai tujuan
4. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual
serta kematangan emosional dan social
5. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan,
memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan
berbahasa
6. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan
intelektual manusia Indonesia.
2.2.6 Rambu-rambu pembelajaran Matematika SD
Mata pelajaran Pemecahan Masalah Matematika membahas mengenai pemecahan
masalah matematika dalam kehidupan sehari-hari yang terkait bidang aritmatika, aljabar,
geometri, pengukuran, trigonometri dan peluang dengan menggunakan penalaran
matematika yang tepat. Kompetensi yang harus dikuasai setelah mengikuti mata

23

pelajaran ini adalah mampu memecahkan masalah matematika dalam kehidupan seharihari, yang terkait bidang aritmatika, aljabar, geometri, pengukuran, trigonometri dan
peluang dengan menggunakan penalaran matematika yang terintegrasi secara tepat. Tentu
saja sebelum

dapat memecahkan masalah matematika dalam kehidupan sehari-hari,

terlebih dahulu harus

menguasai dan mampu menggunakan konsep-konsep dasar

matematika dalam bidang aritmatika, aljabar, geometri, pengukuran, trigonometri dan


peluang. Selain itu, harus dibekali pengetahuan mengenai penalaran matematika,
penalaran induktif dan deduktif serta matematisasi horizontal dan vertikal yang akan
sangat berguna pada saat menyelesaikan suatu model matematika dan melakukan validasi
terhadap penyelesaian model matematika tersebut.
2.2.7

Standar Kompetensi mata pelajaran Matematika diharapkan dapat:

1. Memahami konsep bilangan bulat dan pecahan, operasi hitung dan sifat-sifatnya, serta
menggunakannya dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari.
2. Memahami bangun datar dan bangun ruang sederhana, unsur-unsur dan sifat-sifatnya,
serta menerapkannya dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari
3. Memahami konsep ukuran dan pengukuran berat, panjang, luas, volume, sudut, waktu,
kecepatan, debit, serta mengaplikasikannya dalam pemecahan masalah kehidupan
sehaji-hari.
4. Memahami konsep koordinat untuk menentukan letak benda dan menggunakannya
dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari.
5. Memahami konsep pengumpulan data, penyajian data dengan tabel, gambar dan grafik
(diagram), mengurutkan data, reritangan data, rerata hitung, modus, serta
menerapkannya dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari.
6. Memiliki sikap menghargai matematika dan kegunaannya dalam kehidupan
7. Memiliki kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif.

24

BAB III
PELKASANAAN PERBAIKAN
3.1 Subjek Penelitian
Sesuai dengan judul penelitian, maka subjek penelitian ini dibatasi oleh
beberapa hal sebagai berikut :
a. Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV MI. NW Rempung.
b. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan November-Desember 2010. Dengan
rincian sebagai berikut.
-Siklus I dilaksanakan pada tanggal 4 dan 10 Desember 2010
-Siklus II dilaksanakan pada tanggal 19 dan 24 Desember 2010
c. Subjek dalam penelitian ini adalah murid kelas IV MI. NW Rempung tahun
Pelajaran 2010/2011.
Berdasarkan judul penelitian yaitu penerapan model pembelajaran kooperatif
dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah matematika dan bahasa
Indonesia murid kelas IV MI. NW Rempung tahun pembelajaran 2010-2011, maka
yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah :
a) Variabel bebas (independent variable) yaitu variabel yang dinilai atau
besarnya

tidak dipengaruhi oleh perubahan nilai variabel lainnya.

Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah teknik


penerapan model pembelajaran kooperatif

memecahkan masalah

matematika dan bahasa Indonesia.

25

b) Variabel terikat (dependent variable) yaitu variabel yang dinilai dan


besarnya dipengaruhi oleh perubahan nilai variabel lainnya. Dalam
penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah Kemampuan
Menulis dan memecahkan masalahkonsep bilangan matematika.
3.2 Desain penelitian
Dalam rangka mengoptimalisasikan penelitian ini, peneliti menggunakan
beberapa siklus tindakan. Tiap-tiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan yang
ingin dicapai. Adapun yang direncanakan dalam penelitian ini adalah sebanyak dua
siklus. Tahapan pelaksanaan siklus tersebut sebagai berikut:
1.

Tahap perencanaan
Ada beberapa hal yang dilakukan dalam tahapan ini yaitu: membuat rencana
pembelajaran (RPP), membuat lembar observasi untuk melihat bagaimana kondisi
belajar mengajar di kelas, merumuskan alternatif tindakan yang akan dilaksanakan
dalam pembelajaran sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan menulis, dan
membuat alat evaluasi .

2.

Tahap pelaksanaan tindakan


Pada tahap ini peneliti melaksanakan pembelajaran sesuai dengan yang telah
direncanakan dalam skenario pembelajaran serta memberikan pengarahan serta
motivasi dalam melaksanakan perannya berdasarkan apa yang telah direncanakan.

3.

Tahap observasi
Tahap ini dilakukan dengan observasi secara kontinu terhadap pelaksanaan
proses pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi.

26

Agar pelaksanaan tindakan berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan,


peneliti melakukan pengamatan sebagai bahan pertimbangan untuk evaluasi lebih
lanjut pada pelaksanaan tindakan.
4. Tahap refleksi
Dari hasil observasi peneliti sebagai guru dapat merefleksi diri terhadap
kekurangan-kekurangan yang ada selama proses pembelajaran. Hasil refleksi
dijadikan acuan untuk melaksanakan siklus berikutnya.
3.3 Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2006:130). Dalam
penelitian ini, yang menjadi populasinya adalah keseluruhan murid kelas IV MI. NW
Rempung

yang menjadi objek penelitian sebagai sumber data yang mempunyai

karakteristik tertentu di dalam penelitian.


Sedangkan sampel adalah sebagian besar atau wakil populasi yang diteliti
(Arikunto, 2006:131). Teknik pengambilan sampel yang akan digunakan dalam
penelitian ini adalah dengan acak sederhana. Dari hasil acak tersebut

peneliti

memperoleh murid kelas IV MI. NW Rempung.


Jumlah sampel penelitian dalam penerapan teknik penerapan model
pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan kemampuan Menulis dan memecahkan
masalah Matematika murid IV MI. NW Rempung adalah semua murid kelas IV MI.
NW Rempung

tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 27 orang.

Adapun rincian jumlah murid kelas IV MI. NW Rempung

dapat dilihat

tabel 3.1 berikut.


Tabel 3.1 Rincian Jumlah Murid Kelas IV MI. NW Rempung.
No
1.

Kelas
IV

Laki-laki
16

Perempuan
11

Jumlah
27

27

Jadi sampel pada penelitian ini sebanyak 27 orang. Sampel diambil di kelas
IV dengan alasan kemampuan menulisnya dan memecahkan masalah matematika
masih kurang. Informasi ini diperoleh dari guru kelas pada hari Senin, 22 Oktober
2010
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) termasuk pada
tahap observasi. Oleh karena itu, teknik utama pengumpulan data pada penelitian ini
adalah dengan pengamatan. Dalam hal ini dengan mengamati pelaksanaan
pembelajaran menulis dan memecahkan masalah Matematika murid kelas IV MI. NW
Rempung

dengan teknik

penerapan model pembelajaran kooperatif

secara

menyeluruh.
1. Sumber data
Sumber data penelitian ini adalah guru, siswa dan proses belajar murid kelas
IV MI. NW Rempung khususnya dalam pembelajaran kemamapuan menulis dan
memecahkan masalah Matematika murid kelas IV MI. NW Rempung

dengan

teknik penerapan model pembelajaran kooperatif.


2. Jenis data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan kualitatif yang
terdiri atas (a) rencana pelaksanaan pembelajaran, (b) hasil belajar siswa dan (c)
hasil observasi selama kegiatan belajar yang menyangkut tingkat kemampuan siswa
dalam menulis dan memecahkan masalah.
3. Cara pengumpulan Data
a.

Data hasil belajar diambil dengan menggunakan tes kepada siswa, berupa
pretes dan posttes.

28

b.

Data situasi pembelajaran (proses) diambil dengan menggunakan lembar


observasi.

3.5

Teknik Analisis Data


Analisis data dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) masuk pada tahap
refleksi. Analisis data dilakukan pada tahap refleksi setiap siklus. Data proses (situasi
pembelajaran) dianalisis dengan cara menata, menyajikan, dan menyimpulkan hasil
observasi. Adapun data hasil dianalisis dengan menilai hasil karangan begitu juga
dengan pemecahan masalah Matematika.
Analisis data dilakukan pada tahap refleksi setiap siklus. Dalam hal ini,
akan menggunakan model alir (flow model) dari Miles dan Huberman (1992:16-20).
Teknik ini terdiri atas tiga fase kegiatan, yaitu: (1) mereduksi data, yakni kegiatan
pemilahan data-data yang relevan, penting, dan bermakna untuk menjelaskan sasaran
analisis dengan cara membuat fokus, klasifikasi, dan abstraksi data kasar menjadi
data bermakna; (2) penyajian data, berupa narasi-deskripsi dan visual gambar agar
mudah dipahami, lalu disajikan secara sistematis dan logis; dan (3) penarikan
simpulan dan verifikasi data untuk menguji kebenaran, kekokohan, dan kecocokan
dari semua fakta yang dihimpun sehingga mencapai tingkat validitas yang akurat.
Kriteria keberhasilan tindakan dilihat dari dua segi, yakni proses dan produk
(hasil). Dari segi proses, tindakan penelitian ini dikatakan berhasil jika respons
tindakan dalam semua tahapan pembelajaran dilaksanakan oleh sebagian besar atau
semua siswa (berkategori baik). Sementara itu, dilihat dari segi produk (hasil),
tindakan dianggap berhasil jika kualitas keterampilan berbicara siswa telah mencapai
nilai 75. Artinya, 75% siswa memperoleh rerata nilai lebih besar atau sama dengan 75
Nilai = skor yang diperoleh siswa X 100
skor maksimum (16)

29

3.6 Indikator Kinerja


Dalam penelitian ini yang menjadi tolak ukur keberhasilan penelitian ini
adalah apabila pembelajaran menulis dan memecahkan masalah Matematika dengan
metode kooperatif ini mampu meningkatkan kemampuan siswa mencapai tingkat
keberhasilan 75 % secara klasikal dan memperoleh hasil dengan kriteria baik (68)
berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
Indikator pencapai dalam penelitian ini berdasarkan Penilaian Acuan Patokan
(PAP) dan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang digunakan murid kelas IV MI.
NW Rempung.
Indikator menurut Penilaian Acuan Patokan (PAP) adalah sebagai berikut:
A. 80 -100 (baik sekali)
B. 66 -79

(baik)

C. 56 -65

(cukup baik)

D. 46 -55

(kurang)

E. 0 -45

(tidak baik)

Indikator pencapaian menurut Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang


digunakan di murid kelas IV MI. NW Rempung
Tabel 3.2 Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
Kompetensi
pencapaian

Dasar/indikator

4.2 Menulis cerita pendek


berkenaan dengan kehidupan
seseorang
dengan
sudut
penceritaan orang ketiga.
- Mengekspresikan gagasan
dalam
bentuk
cerpen
berkenaan dengan kehidupan
seseorang dengan
4.3 Menuliskan cara penulisan
-

KKM

Kriteria Penentuan KKM


Esensial
Kompleksitas

Intake
Siswa

Sarana
Pendukung

Tinggi

Cukup

68

Penting

Rendah

Bilangan bulat
Bulat Negatif ketiga.
Bilangan Nol
Bulat positif

30

Untuk menghitung nilai rata -rata siswa secara klasikal, dipergunakan rumus
berikut :
X= f (x)
n
Keterangan :
X

= nilai rata-rata secara klasikal

f (x)

= jumlah nilai siswa secara keseluruhan

= jumlah siswa

31

BAB IV
PEMBAHASAN
Pelaksanaan Tindakan
Tindakan dalam penelitian ini dilaksanakan

dua siklus dan setiap siklus

dilakukan latihan. Sebelum tindakan pembelajaran I dilaksanakan terlebih dahulu


dilakukan pretes untuk mengetahui tingkat kemampuan awal siswa baik dalam materi
matematika maupun menulis (BI). Siklus I pertemuan pertamaz guru memberikan
materi yang berkaitan dengan menulis. Setelah memberikan materi guru memberikan
latihan untuk menulis cerpen. Peneliti memberikan penggalan dari cerita pendek,
selanjutnya siswa menulis awal cerita atau melanjutkan penggalan cerita dengan
menggunakan teknik penerapan model pembelajaran kooperatif dan sesuai dengan
bagian masing-masing. Langkah tindakan siklus II sama seperti siklus I, tetapi siklus
II memberikan materi yang masih kurang dipahami pada siklus I, dan lebih
memfokuskan pada siswa yang belum mencapai indikator penilaian.
Untuk mengetahui kemampuan awal siswa dalam menulis atau menuangkan
ide/gagasan dalam sebuah cerita pendek, peneliti memberikan pretes. Kegiatan ini
dilaksanakan sebelum tindakan pembelajaran siklus I dilakukan. Adapun hasil pretes
dimaksud dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut.
Tabel 4.1 Hasil Pretes Kemampuan Menulis murid kelas IV MI. NW
Rempung
No

Nama siswa

Nilai

Ket.

32

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27

Asrian Efendi
Anisa Yuliana
Agus Sandoni
Aprizal
Bayu Pratondo
Bq. Rikhiatuladiana
Bq. Susilawati
Etika Ayu
Heni Sarini
Haerul Pahmi
Helia Hulfa
Heri Kusniawan
Isroudin
Ismawati
Laren Dina Viona
Maesuro
Maesofa
Mia Juniati
Kariadi
Tama Prabu
Rina
Reksabandi
Pebrianti
Ufarianti
Zaenul Irfan
Sohibbuniah
Slamet Riadi

62,5
25
75
75
37,5
50
56,25
68,75
75
75
75
43,75
68,75
50
68,75
43,75
43,75
62,5
56,25
62,5
62,5
25
56,25
56,25
75
75
50

Jumlah

2.187,5

Tuntas
Tuntas

Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas

Tuntas
Tuntas

Tabel 4.1. 1 Hasil Pretes Kemampuan Tiap-tiap sub/unit murid kelas IV MI. NW
Rempung
Nama Siswa
Koherensi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

Asrian Efendi
Anisa Yuliana
Agus Sandoni
Aprizal
Bayu Pratondo
Bq. Rikhiatuladiana
Bq. Susilawati
Etika Ayu
Heni Sarini
Haerul Pahmi
Helia Hulfa
Heri Kusniawan
Isroudin
Ismawati

3
1
3
3
1
2
2
3
3
3
3
2
3
2

Keadaan skor
Kohesi
Pilihan
kata
3
2
1
1
3
3
3
3
2
2
2
2
3
2
2
3
3
3
3
3
3
3
2
2
2
3
2
2

Nilai
Pengungkapan
ide/gagasan
2
1
3
3
1
2
2
3
3
3
3
1
3
2

Ket .

Skor

No

10
4
12
12
6
8
9
11
12
12
12
7
11
8

62,5
25
75
75
37,5
50
56,25
68,75
75
75
75
43,75
68,75
50

Tuntas
Tuntas

Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas

33

15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.

Laren Dina Viona


Maesuro
Maesofa
Mia Juniati
Kariadi
Tama Prabu
Rina
Reksabandi
Pebrianti
Ufarianti
Zaenul Irfan
Sohibbuniah
Slamet Riadi
Jumlah
Rerata
Nilai Tertinggi
Nilai Terendah
Tuntas
Tidak Tuntas

3
2
2
2
2
2
2
1
2
2
3
3
2
84
56,75

2
2
2
3
2
3
3
1
3
3
3
3
2
89
60,13

3
1
2
2
2
2
2
1
2
2
3
3
2
82
55,4

3
2
1
3
3
3
3
1
2
2
3
3
2
86
58,1

11
7
7
10
9
10
10
4
9
9
12
12
8

68,75
43,75
43,75
62,5
56,25
62,5
62,5
25
56,25
56,25
75
75
50
2.187,5
59,12
75
25
13
24
35,13%

Tuntas

Tuntas
Tuntas

Ket : Nilai rata-rata (klasikal), Ketuntasan belajar (klasikal) dan rata-rata setiap
aspek (klasikal) yang dinilai diperoleh dengan perhitungan sebagai berikut.
a. X= f (x)
n
Keterangan :
X

= nilai rata-rata (klasikal)

f (x)

= jumlah nilai siswa secara keseluruhan

= jumlah siswa
= 2.187,5
27
= 59,12

b. Ketuntasan Belajar (Klasikal)= Jumlah siswa yang tuntas X 100%


Jumlah siswa
= 13 X 100%
27
=35,13 %
c. Xn =As X 100
Js(x)
Keterangan :
Xn

= nilai rata-rata setiap aspek (klasikal)

As

= jumlah nilai setiap aspek secara keseluruhan

Js(x) = jumlah ideal (jumlah siswa x nilai tertinggi setiap aspek)

34

a.

X koherensi = 84 X 100
148
= 56,75
= 89 X 100
148
= 60,13

b.

X kohesi

c.

X pilihan kata= 82 X 100


148
= 55,4

d.

X pengungkapan ide/gagasan = 86 X 100


148
= 58,1

Berdasarkan tabel 4.1 di atas, gambaran kemampuan murid kelas IV MI. NW


Rempung sebagai berikut: (1) nilai tertinggi kemampuan menulis cerpen siswa kelas IV
75; (2) nilai terendah 25; (3) nilai rata-rata kemampuan murid kelas IV MI. NW
Rempung sebelum adanya tindakan pembelajaran adalah 59,12; (4) jumlah siswa yang
tuntas 13 orang; (5) jumlah siswa yang tidak tuntas 24 orang atau 64,17 %; (6) ketuntasan
belajar (klasikal) 35,13 %.
Adapun nilai rata-rata setiap aspek yang dinilai pada tabel 4.1 sebelum adanya
tindakan pembelajaran sebagai berikut : (1) nilai rata-rata aspek koherensi 56,75; (2)
nilai rata-rata aspek kohesi 60,13; (3) nilai rata-rata aspek pilihan kata 55,4; dan (4)
nilai rata-rata aspek pengungkapan ide/gagasan yang menarik 58,1.
Gambaran di atas menunjukkan bahwa kemampuan murid kelas IV MI. NW
Rempung

masih belum maksimal. Oleh karena itu, diperlukan perbaikan melalui

pemberian tindakan pembelajaran. Adapun tindakan pembelajaran yang akan


dilakukan adalah penerapan teknik penerapan model pembelajaran kooperatif.
Tabel 4.1.2 Hasil Pretes Kemampuan memecahkan masalah Matematika
murid kelas IV MI. NW Rempung

35

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27

Nama siswa
Asrian Efendi
Anisa Yuliana
Agus Sandoni
Aprizal
Bayu Pratondo
Bq. Rikhiatuladiana
Bq. Susilawati
Etika Ayu
Heni Sarini
Haerul Pahmi
Helia Hulfa
Heri Kusniawan
Isroudin
Ismawati
Laren Dina Viona
Maesuro
Maesofa
Mia Juniati
Kariadi
Tama Prabu
Rina
Reksabandi
Pebrianti
Ufarianti
Zaenul Irfan
Sohibbuniah
Slamet Riadi

Nilai

Ket.

67,75

Tuntas

Jumlah

67,75

51
81,25

Tuntas

75

Tuntas

68,75

Tuntas

43,75
75

Tuntas

75

Tuntas

81,25

Tuntas

75

Tuntas

68,75

Tuntas

50
87,5

Tuntas

50
81,25

Tuntas

50
50
50
62,5
68,75

Tuntas

75

Tuntas

25
62,5
43,75
75

Tuntas

75

Tuntas

50
Tuntas

Ket : Nilai rata-rata (klasikal), Ketuntasan belajar (klasikal) dan rata-rata setiap
aspek (klasikal) yang dinilai diperoleh dengan perhitungan sebagai berikut.
a. X= f (x)
n
Keterangan :
X

= nilai rata-rata (klasikal)

f (x)

= jumlah nilai siswa secara keseluruhan

= jumlah siswa
= 2.187,5
27
= 59,12

36

b. Ketuntasan Belajar (Klasikal)= Jumlah siswa yang tuntas X 100%


Jumlah siswa
= 13 X 100%
27
=35,13 %
c. Xn =As X 100
Js(x)
Keterangan :
Xn

= nilai rata-rata setiap aspek (klasikal)

As

= jumlah nilai setiap aspek secara keseluruhan

Js(x) = jumlah ideal (jumlah siswa x nilai tertinggi setiap aspek)


4.2 Siklus I
Pada bagian ini akan diuraikan (1) Perencanaan Tindakan; (2) Pelaksanaan
Tindakan; (3) Observasi; dan (4) Refleksi .
4.2.1 Perencanaan Tindakan
Setelah melihat hasil yang didapatkan siswa pada tes awal atau pretes perlu
diupayakan suatu metode pembelajaran yang lebih baik agar hasil yang didapatkan
siswa jauh lebih baik dari sebelumnya. Pada tahap perencanaan tindakan ini, peneliti
melakukan tindakan sebagai berikut :
a. melakukan observasi mengenai masalah-masalah yang dialami siswa sebelum
melakukan tindakan siklus I, yaitu berdasarkan hasil dari pretes. Hasil observasi
tersebut digunakan untuk merumuskan alternatif tindakan yang akan dilakukan.
Adapun masalah tersebut adalah (1) minimnya kemampuan siswa dalam menulis,
khususnya menulis cerpen, (2) kegiatan latihan menulis sangat kurang
disebabkan guru kurang melatih siswa dalam menulis, (3) siswa kurang aktif
dalam proses pembelajaran sehingga hanya merespon atau bertanya jika ditunjuk

37

oleh guru, (4) siswa masih sering menggunakan bahasa ibu sebagai alat
komunikasi sehingga menyebabkan terjadinya komunikasi yang tidak lancar.
b.

Memilih strategi atau metode pembelajaran yang tepat dengan kondisi tersebut.

c. Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran.


d. Menyediakan alat bantu/media yang membantu kegiatan pembelajaran di kelas
agar mendapat hasil yang lebih baik.
e. Merancang soal penilaian hasil yang sesuai dengan standar kompetensi.
4.2.2 Pelaksanaan Tindakan
Dalam pelaksanaan tindakan, peneliti melaksanakan kegiatan pembelajaran
yang sesuai dengan rancangan pembelajaran yang telah dibuat sesuai dengan teknik
yang digunakan. Pelaksanaan tindakan pada siklus I ini adalah siswa menulis awal
dan sifat-sifat bilangan yang telah disediakan oleh guru.
Tindakan ini disertai dengan langkah-langkah sebagai berikut :
A. Pendahuluan
1. Guru mengucapkan salam
2. Guru mengabsensi siswa
3. Guru mengkondisikan siswa agar siap menerima pelajaran.
4. Guru menyiapkan media dan sumber belajar.
5. Guru menjelaskan kompetensi yang akan dicapai jika siswa menguasai
kompetensi tersebut.
6. Guru memperkenalkan materi dan melakukan tanya jawab dengan siswa.
B. Kegiatan Inti
Guru membagi siswa menjadi kelompok berpasangan.
1. Guru membagikan cerita pendek yang belum disempurnakan.

38

2.

Guru memberikan

penguatan

tentang

cara

melakukan

kegiatan

pembelajaran hari itu.


3. Bagian pertama bahan diberikan kepada siswa yang pertama, sedangkan
siswa yang kedua menerima bagian yang kedua.
4. Siswa membaca atau mendengarkan bagian mereka masing-masing.
5. Sambil membaca/mendengarkan, siswa mencatat dan mendaftar beberapa
kata/frase kunci yang ada dalam bagian masing-masing.
6. Setelah selesai membaca, siswa menukarkan daftar kata/frase kunci dengan
pasangan masing-masing (dalam kegiatan ini siswa membuat draf/susunan
kata-kata yang akan dikembangkan menjadi sebuah cerita).
7.Sambil mengingat-ingat/memperhatikan bagian yang telah dibaca atau
didengarkan sendiri, masing-masing siswa berusaha untuk mengarang
bagian

lain

yang

belum

dibaca/didengarkan

(atau

yang

sudah

dibaca/didengarkan pasangannya) berdasarkan kata-kata/frase kunci dari


pasangannya. Siswa yang telah membaca/mendengarkan bagian yang
pertama berusaha menuliskan apa yang terjadi selanjutnya. Sementara itu,
siswa yang membaca/mendengarkan bagian yang kedua menuliskan apa
yang terjadi sebelumnya.
8.Setelah selesai menulis, beberapa siswa diberi kesempatan untuk
membacakan hasil karangan mereka.
9.Siswa/guru memberi komentar terhadap hasil pekerjaan siswa.
10. Siswa yang diberikan komentar berusaha untuk memperbaiki hasil
pekerjaan mereka (kegiatan ini temasuk ke dalam tahapan editing).
11. Siswa mengumpulkan hasil karangannya.

39

12. Guru membagikan bagian cerita yang belum terbaca kepada masingmasing siswa.
13. Untuk lebih memberikan semangat kepada siswa, karya-karya mereka
dipublikasikan di depan kelas.
14. Guru memberikan penguatan sepenuhnya.
C. Penutup
1. Guru dan siswa mengadakan refleksi terhadap proses pembelajaran hari
itu.
2. Guru dan siswa mengakhiri pembelajaran dengan doa.
Berdasarkan rencana pelaksanaan tersebut, guru mengarahkan siswa untuk
melaksanakan pembelajaran sesuai yang telah direncanakan. Guru menyediakan
cerita pendek yang berjudul Bukan Tanggal Itu yang akan dikembangkan oleh
siswa. Prosedur pelaksanaannya adalah guru memberikan intruksi kepada masingmasing kelompok berpasangan berupa LKS (Lembar Kerja Siswa) dengan batasan
waktu yang telah ditentukan. Aspek yang dinilai dari hasil pembelajaran tersebut
adalah aspek koherensi, kohesi, diksi (pilihan kata), dan pengungkapan ide/gagasan
yang menarik. Sebagai hasil tindakan pembelajaran , berikut disajikan beberapa hasil
karya siswa yang terbagi dalam kelompok atas, kelompok sedang, dan kelompok
rendah.
Peningkatan secara kualitatif pada penelitian ini dapat dilihat pada observasi
yang dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran berlangsung. Kegiatan
pengamatan (observasi) dilakukan untuk mengetahui tingkat antusiasme siswa dalam
kegiatan belajar mengajar, kerjasama dalam kelompok, keaktifan, tanggung jawab
terhadap tugas yang diberikan. Hal-hal yang perlu diamati yaitu : (1) apakah siswa
memperhatikan pelajaran dengan serius selama proses belajar mengajar berlangsung,

40

artinya siswa tidak terganggu dengan situasi di luar kelas dan tidak mengganggu
kegaitan belajar mengajar, (2) apakah tugas kelompok yang diberikan dikerjakan oleh
seorang atau ada pembagian tugas dalam kelompok tersebut sehingga tugas yang
diberikan dikerjakan dengan seksama, (3) apakah siswa aktif bertanya serta
memberikan respon ataupun tanggapan selama proses pembelajaran, (4) apakah tugas
yang diberikan dikerjakan sesuai petunjuk guru.
Setelah diadakan kegiatan pembelajaran siklus I, maka hasil kegiatan tersebut
dapat dilihat pada tabel 4.2 berikut :
Tabel 4.2 : Hasil siklus I/I Kemampuan Memahami Kaidah Bahasa Indonesia
Murid Kelas IV MI. NW Rempung

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.

Nama Siswa

Asrian Efendi
Anisa Yuliana
Agus Sandoni
Aprizal
Bayu Pratondo
Bq. Rikhiatuladiana
Bq. Susilawati
Etika Ayu
Heni Sarini
Haerul Pahmi
Helia Hulfa
Heri Kusniawan
Isroudin
Ismawati
Laren Dina Viona
Maesuro
Maesofa
Mia Juniati
Kariadi
Tama Prabu
Rina
Reksabandi
Pebrianti
Ufarianti
Zaenul Irfan

Keadaan skor
Koherensi
Kohesi

Pengungkapan
ide/gagasan
3

Nilai

Ket .

11

68,75

Tuntas

Pilihan
kata
3

50

13

81,25

Tuntas

12

75

Tuntas

11

68,75

Tuntas

43,75

12

75

Tuntas

12

75

Tuntas

13

81,25

Tuntas

12

75

Tuntas

11

68,75

Tuntas

50

14

87,5

50

13

81,25

50

50

50

10

62,5

11

68,75

Tuntas

12

75

Tuntas

25

10

62,5

43,75

12

75

Skor

No

Tuntas
Tuntas

Tuntas

41

26.
27.

Sohibbuniah
Slamet Riadi

12

75

50

Tuntas

Tabel 4.3 : Hasil siklus I/II Kemampuan Memecahkan Konsep Bilangan


Matematika Murid Kelas IV MI. NW Rempung

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.

Nama Siswa

Asrian Efendi
Anisa Yuliana
Agus Sandoni
Aprizal
Bayu Pratondo
Bq. Rikhiatuladiana
Bq. Susilawati
Etika Ayu
Heni Sarini
Haerul Pahmi
Helia Hulfa
Heri Kusniawan
Isroudin
Ismawati
Laren Dina Viona
Maesuro
Maesofa
Mia Juniati
Kariadi
Tama Prabu
Rina
Reksabandi
Pebrianti
Ufarianti
Zaenul Irfan
Sohibbuniah
Slamet Riadi
Jumlah nilai
Rata-rata

Nilai teringgi
Nilai terendah
Jumlah siswa tuntas
Jumlah siswa tidak tuntas
Ketuntasan belajar (klasikal)

Bilangan
bulat
3

Keadaan skor
Bulat
Bilangan
Negatif
Nol
2
3

3
3

Bulat positif

Nilai

Ket .
Tuntas

Skor

No

11

67,75

51

13

81,415

Tuntas

13

76

Tuntas

11

68,75

Tuntas

43,75

12

75

Tuntas

12

75

Tuntas

13

81,25

Tuntas

12

75

Tuntas

11

68,75

Tuntas

50

14

87,5

50

13

81,25

50

50

50

10

62,5

11

68,75

Tuntas

12

75

Tuntas

25

10

62,5

43,75

12

75

Tuntas

12

75

Tuntas

50

90
60,81

92
62,16

87
58,78

101
68,24

Tuntas
Tuntas

2.450
66,21
87,5
27
17
15
51,35%

42

Keterangan : Nilai rata-rata klasikal, Ketuntasan belajar (klasikal) dan rata-rata


setiap aspek (klasikal) diperoleh dengan perhitungan sebagai
berikut:
a. X= f (x)
n
Keterangan :
X

= nilai rata-rata siswa secara klasikal

f (x)

= jumlah nilai siswa secara keseluruhan

= jumlah siswa
= 2.450
27

= 66,21
b. Ketuntasan Belajar (Klasikal) = Jumlah siswa yang tuntas x 100%
Jumlah siswa
= 19 X100
27
= 51,35 %
c. Xn=As X 100
Js(x)
Keterangan :
Xn

= nilai rata-rata setiap aspek (klasikal)

As

= jumlah nilai setiap aspek secara keseluruhan

Js(x) = jumlah ideal (jumlah siswa x nilai tertinggi setiap aspek)


a.

X koherensi = 90 X 100
148
= 60,81

Berdasarkan tabel 4.2 dan 4.3 di atas, gambaran kemampuan murid kelas IV MI.
NW Rempung

sebagai berikut : (1) nilai tertinggi kemampuan menulis

dan

memahami kosep matematika masing-masing siswa kelas adalah X 87,5; dan 85,5 (2)
nilai terendah 25; (3) nilai rata-rata siswa kelas IV mengalami peningkatan setelah
diadakannya

sistem pembelajaran dengan teknik penerapan model pembelajaran

43

kooperatif adalah 66,21; (4) jumlah siswa yang tuntas 19 orang; (5) jumlah siswa yang
tidak tuntas 18; (6) ketuntasan belajar (klasikal) 51,35%.
Nilai rata-rata setiap aspek yang dinilai pada tabel 4.2 dan 4.3 setelah diberikan
tindakan pembelajaran berupa teknik bercerita dan memahami kosep matematika
dengan teknik penerapan model pembelajaran kooperatif dapat dikemukakan sebagai
berikut : A.(1) nilai rata-rata aspek koherensi 60,81; (2) nilai rata-rata aspek kohesi
62,16; (3) nilai rata-rata aspek pilihan kata (diksi) 58,78; dan (4) nilai rata-rata aspek
pengungkapan ide/gagasan yang menarik 68,24.
B. (1) nilai rata-rata aspek Bilangan bulat 60,81; (2) nilai rata-rata aspek Bulat
Negatif 62,16; (3) nilai rata-rata aspek Bilangan Nol 58,78; dan (4) nilai rata-rata
aspek Bulat positif 68,24.
Gambaran di atas menunjukkan bahwa kemampuan murid kelas IV MI. NW
Rempung mengalami peningkatan setelah diberikan tindakan pembelajaran berupa
penerapan

teknik penerapan model pembelajaran kooperatif

memahami konsep

matematika dan bahasa Indonesia. Adapun peningkatan dimaksud adalah dari rata-rata
59,12 atau 35,13% secara klasikal sebelum diberikan tindakan menjadi rata-rata 66,21
atau 51,35% secara klasikal pada siklus I. Peningkatan juga terlihat pada setiap aspek
yang dinilai yaitu dari nilai rata-rata 56,75 menjadi 60,81 pada aspek koherensi, dari
nilai rata-rata 60,13 menjadi 62,16 pada aspek kohesi, dari nilai rata-rata 55,4 menjadi
58,78 pada aspek pilihan kata (diksi), dan dari nilai rata-rata 58,1 sebelum diberikan
tindakan menjadi 68,24 pada aspek pengungkapan ide/gagasan yang menarik setelah
adanya tindakan. Pada siklus I guru memberikan latihan dari cerita pendek yang telah
disediakan, cerita itu dikembangkan oleh siswa, baik dengan menulis awal cerita atau
melanjutkan cerita.
4.2.3 Observasi

44

Observasi tindakan dilakukan selama proses belajar mengajar berlangsung. Pada


tahap ini, kegiatan observasi dilakukan oleh teman sejawat.
Hasil obeservasi selama proses pembelajaran dapat dilihat pada tabel di bawah
ini.

Tabel 4.4
Hasil Observasi Aktivitas Guru Siklus I
No

Aktivitas Guru

Membuka Kegiatan Pelajaran


a. Menyampaikan materi/Apersepsi
b. Memotivasi Siswa untruk memulai
pembelajaran
c. Menyampaikan Kompetensi yang harus
dicapai siswa

Mengelola Kegiataan Pembelajaran Inti:


a. Penguasaan Materi pembelajaran
b. Memberi contoh/ilustrasi
c. Menggunakan sumber, alat, dan media
pembealajaran
d. Mengarahkan siswa untuk aktif berbicara
e. Memberi penguatan
f. Melakasanakan kegiaan pembelajaran dengan
urutan yang logis
g. Merespon secara positif keingintahuan siswa
h. Menunjukkan antusiasme/gaerah mengajar

Skor
Siklus II Siklus III
1 2 3 1 2 3

Mengorganisasikan Waktu, Siswa, dan Alat media


Pembelajaran:
a. Mengatur penggunaan waktu
b. Melaksanakan pengorganisasian siswa
c. Menyiapkan sumber dan alat pembelajaran

Melaksanakan Penilaian:

45

a. Melaksanakan penilaian proses


b. Melaksanakan penilaian hasil/akhir
Menutup Kegiatan Pembelajaran:
a. Merangkum materi
b. Memberi tindak lanjut

Penilaian Guru:
a. Kesan umum
b. Penampilan dan
pembelajaran.
Jumlah

sikap

guru

dalam

59

Keterangan: 3. Optimal. 2. Kurang Optimal. 1. Tidak Optimal

No

Tabel 4.5
Hasil Observasi Aktivitas siswa dalam Pembelajaran Siklus I
Aktivitas Siswa
Skor
Siklus II
1
2 3

Mendengarkan penjelasan guru

Siswa melaksanakan semua arahan dan perintah


guru

Bertanya kepada guru dengan antusias

Menjawab pertanyaan dari guru

Siswa aktif mengikuti kegiatan pembelajaran

Berdiskusi dengan teman kelompoknya

Siswa serius mengikuti kegiatan pembelajaran

Siswa aktif memberikan tanggapan

Menyimpulkan hasil pembelajaran hari itu

10

Mengerjakan soal

Siklus III
1 2 3

Jumlah

26

Keterangan:3 : Optimal. 2. Kurang Optimal. 1. Tidak Optimal


Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan di atas, dapat dilihat bahwa
proses pembelajaran berlangsung dengan kondusif. Siswa yang mengalami kesulita

46

dalam belajar hampir tidak ada, selain iu sebagian besar siswa aktif bertanya dan juga
bergairah selama proses pembelajaran berlangsung.
5. Refleksi
Berdasarkan hasil pelaksanaan tindakan dan observasi pada siklus I, maka dapat
diambil beberapa hal penting yang berhubungan dengan proses pembelajaran serta hasil
dari pembelajaran yang telah dilakukan. Pada tahap ini, nilai rata-rata kelas yang
diperoleh adalah sebesar 75,10 dan persentase ketuntasan siswa dalam belajar adalah
94,87%.
Berdasarkan hasil pencapaian di atas, maka nilai rata-rata kelas mengalami
peningkatan. Pada pre test yang dilakukan terlebih dahulu, perolehan nilai rata-rata kelas
hanya sebesar 61,3 pada siklus I nilai rata-rata kelas meningkat menjadi 72,5 dan pada
siklus I juga mengalami peningkatan menjadi 75,10. Hal tersebut berarti, pencapaian nilai
rata-rata kelas tiap tahap pelaksanaan kegiatan pembelajaran tetap mengalami
peningkatan.
Meningkatnya nilai rata-rata kelas, diimbangi juga dengan meningkatnya
persentase ketuntasan siswa dalam proses pembelajaran. Hal tersebut dapat dilihat dan
semakin tingginya jumlah siswa yang tuntas dalam setiap tahapan siklus yang telah
dilaksanakan. Pada kegiatan pre test, jumlah siswa yang mampu menuntaskan
pembelajaran hanya sebesar 15 orang, kemudian pada kegiatan siklus I, jumlah siswa
yang tuntas meningkat menjadi 35 orang dan pada siklus I hanya tinggal 2 (dua) orang
yang belum mampu menuntaskan proses pembelajaran tersebut. Hal tersebut berarti
bahwa proses pencapaian yang diperoleh sudah melebihi standar yang telah ditargetkan
dalam penelitian ini yaitu sebesar 75%.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh guru selama kegiatan belajar
mengajar pada siklus I, dapat dikemukakan beberapa hal sebagai berikut :

47

a. Siswa antusias dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru.


b. Kegiatan diskusi kelompok berjalan dengan lancar
c. Siswa masih ragu bertanya.
Kemampuan siswa dalam menulis pada siklus I masih kurang walaupun ada
beberapa orang siswa yang dapat menulis dengan cukup baik.
4.3 Siklus II
Pada bagian ini akan diuraikan (1) Perencanaan Tindakan; 2) Pelaksanaan
Tindakan; (3) Observasi; (4) Refleksi .
4.3.1 Perencanaan Tindakan
Berdasarkan hasil tindakan dan observasi pada siklus I, maka penelitian ini
dilanjutkan dengan pelaksanaan siklus II. Pelaksanaan siklus lebih difokuskan pada
siswa yang belum mengerti dan kurang mampu menulis dan memahami konsep
matematika.
Berdasarkan hasil pembelajaran pada siklus I, maka pada siklus II peneliti
merumuskan alternatif tindakan dalam upaya meningkatkan kemampuan siswa, yaitu :
1. melaksanakan rencana pembelajaran yang lebih efektif.
2. menyediakan alat bantu/media pembelajaran yang mengacu pada peningkatan
pemahaman siswa terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dalam prose
pembelajaran.
3. memberikan soal-soal latihan kepada siswa agar pemahaman siswa mengenai
materi yang telah disampaikan lebih mendalam.
4.3.2 Pelaksanaan Tindakan
Dalam pelaksanaan tindakan siklus II, peneliti melaksanakan kegiatan
pembelajaran dengan pemberian materi yang lebih efektif dan lebih terfokus. Pada

48

materi apa yang akan disampaikan. Pelaksanaan tindakan siklus II hampir sama dengan
pelaksanaan siklus I.
Dengan adanya kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan pengetahuan
yang cukup kepada siswa terhadap kemampuan menulis dan memahami konsep
matematika, dengan demikian segala kesulitan yang dialami siswa dapat diatasi dengan
baik.
4.3.3

Observasi
Peningkatan secara kualitatif pada penelitian ini dapat dilihat pada observasi

yang dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran berlangsung. Kegiatan


pengamatan (observasi) dilakukan untuk mengetahui tingkat antusiasme siswa dalam
kegiatan belajar mengajar, kerjasama dalam kelompok, keaktifan, tanggung jawab
terhadap tugas yang diberikan. Hal-hal yang perlu diamati yaitu : (1) apakah siswa
memperhatikan pelajaran dengan serius selama proses belajar mengajar berlangsung,
artinya siswa tidak terganggu dengan situasi di luar kelas dan tidak mengganggu
kegiatan belajar mengajar, (2) apakah tugas kelompok yang diberikan dikerjakan oleh
seorang atau ada pembagian tugas dalam kelompok tersebut sehingga tugas yang
diberikan dikerjakan dengan seksama, (3) apakah siswa aktif bertanya serta
memberikan respon ataupun tanggapan selama proses pembelajaran, (4) apakah tugas
yang diberikan dikerjakan sesuai petunjuk guru.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh guru selama kegiatan belajar
mengajar pada siklus II, maka diperoleh data sebagai berikut :
1. siswa sudah berani bertanya.
2. kemampuan

menulis

dan

memahami

matematika

murid

meningkat

dibandingkan pada siklus I.


3. kegiatan pembelajaran berjalan dengan lancar .

49

4. siswa antusias dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru.


Setelah diadakan kegiatan pembelajaran pada siklus II, maka hasil dari kegitan
tersebut dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut.
Tabel 4.4 : Hasil siklus II/I Kemampuan Menulis Murid Kelas IV MI. NW
Rempung
Nama Siswa
3

Keadaan skor
Kohesi
Pilihan
kata
2
3

Pengungkapan
ide/gagasan
3

Nilai

Ket .

11

68,75

Tuntas

50

14

87,5

Tuntas

12

75

Tuntas

11

68,75

Tuntas

50

12

75

Tuntas

14

87,5

Tuntas

13

81,25

Tuntas

12

75

Tuntas

14

87,5

Tuntas

11

68,75

Tuntas

14

87,5

Tuntas

11

68,75

Tuntas

12

75

Tuntas

12

75

Tuntas

50

50

11

68,75

Tuntas

11

68,75

Tuntas

12

75

Tuntas

11

68,75

Tuntas

12

75

Tuntas

50

13

81,25

Tuntas

12

75

Tuntas

50

98

99

99

111

66,21

66,89

66,89

75

Koherensi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.

Asrian Efendi
Anisa Yuliana
Agus Sandoni
Aprizal
Bayu Pratondo
Bq. Rikhiatuladiana
Bq. Susilawati
Etika Ayu
Heni Sarini
Haerul Pahmi
Helia Hulfa
Heri Kusniawan
Isroudin
Ismawati
Laren Dina Viona
Maesuro
Maesofa
Mia Juniati
Kariadi
Tama Prabu
Rina
Reksabandi
Pebrianti
Ufarianti
Zaenul Irfan
Sohibbuniah
Slamet Riadi
Jumlah nilai
Rata-rata

Nilai Tertinggi
Nilai terendah
Jumlah siswa tuntas
Jumlah siswa tidak tuntas
Keuntasan belajar (klasikal)

Skor

No

2.637,5
71,28
87,5
43,75
29
8
78,37%

50

Tabel 4.5 : Hasil siklus II/II kemampuan Memecahkan Masalah Konsep


Bilangan Matematika MI. NW Rempung

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.

Nama Siswa

Asrian Efendi
Anisa Yuliana
Agus Sandoni
Aprizal
Bayu Pratondo
Bq. Rikhiatuladiana
Bq. Susilawati
Etika Ayu
Heni Sarini
Haerul Pahmi
Helia Hulfa
Heri Kusniawan
Isroudin
Ismawati
Laren Dina Viona
Maesuro
Maesofa
Mia Juniati
Kariadi
Tama Prabu
Rina
Reksabandi
Pebrianti
Ufarianti
Zaenul Irfan
Sohibbuniah
Slamet Riadi
Jumlah nilai
Rata-rata

Nilai Tertinggi
Nilai terendah
Jumlah siswa tuntas
Jumlah siswa tidak tuntas
Keuntasan belajar (klasikal)

Keadaan skor
Bilangan
Bulat
bulat
Negatif
3
2

Bilangan
Nol
3

Bulat positif

Nilai

Ket .

11

68,75

Tuntas

50

14

87,5

Tuntas

12

75

Tuntas

11

68,75

Tuntas

2
3

50

12

75

Tuntas

14

87,5

Tuntas

13

81,25

Tuntas

12

75

Tuntas

14

87,5

Tuntas

11

68,75

Tuntas

14

87,5

Tuntas

11

68,75

Tuntas

12

75

Tuntas

12

75

Tuntas

50

50

11

68,75

Tuntas

11

68,75

Tuntas

12

75

Tuntas

11

68,75

Tuntas

12

75

Tuntas

50

13

81,25

Tuntas

12

75

Tuntas

50

98
68,21

99
67,89

99
70,89

111
79

Skor

No

2.637,5
79,37%
88,5
45,75
29
8
79,37%

51

Keterangan : Nilai rata-rata klasikal, Ketuntasan belajar (klasikal) dan nilai rata-rata
setiap aspek (klasikal) diperoleh dengan perhitungan sebagai berikut:
a. X= f (x)
n
Keterangan :
X
= nilai rata-rata (klasikal)
f (x) = jumlah niali siswa secara keseluruhan
n= jumlah siswa
= 2.637,5
27
= 71,28
b. Ketuntasan Belajar (Klasikal) = Jumlah siswa yang tuntas x 100%
Jumlah siswa
= 29 X100
27
= 78,37 %
c. Xn=As X 100
Js(x)
Keterangan :
Xn

= nilai rata-rata setiap aspek (klasikal)

As

= jumlah nilai setiap aspek secara keseluruhan

Js(x) = jumlah ideal (jumlah siswa x nilai tertinggi setiap aspek)


Berdasarkan tabel 4.4 dan 4.5 di atas dapat dikemukakan beberapa hal pada
tindakan pembelajaran siklus II adalah (1) nilai tertinggi 87,5; (2) nilai terendah 43,75;
(3) nilai rata-rata murid kelas IV MI. NW Rempung

setelah adanya tindakan

pembelajaran pada siklus II adalah 71,28; (4) jumlah siswa yang tuntas 29 orang; (5)
jumlah siswa yang tidak tuntas 8 orang; (6) ketuntasan belajar (klasikal) 78,37%.
Nilai rata-rata pada setiap aspek yang dinilai pada tindakan pembelajaran siklus
II/I dan siklus II/II dapat dikemukakan beberapa hal :

52

A. (1) nilai rata-rata aspek koherensi 66,21; (2) nilai rata-rata aspek kohesi
66,89 ; (3) nilai rata-rata aspek pilihan kata (diksi) 66,89 ; (4) nilai ratarata aspek pengungkapan ide/gagasan yang menarik 75.
B. (1) nilai rata-rata aspek Bilangan bulat 68,21; (2) nilai rata-rata aspek
Bulat Negatif 67,89 ; (3) nilai rata-rata aspek Bilangan Nol 70,89 ; (4)
nilai rata-rata aspek Bulat positif 79.
Adapun prosentase peningkatan pada setiap aspek yang dinilai dengan teknik
penerapan model pembelajaran kooperatif memahami konsep bilangan matematika dan
menulis (bahasa Indonesia) murid kelas IV MI. NW Rempung

siklus I dan siklus II

dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut.

Tabel 4.6

: Prosentase Peningkatan pada Setiap Aspek yang dinilai dengan teknik


Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif

Murid Kelas IV MI. NW

Rempung siklus I/I dan siklus II/I sebagai berikut:


No Aspek yang dinilai
1.
2.
3.
4.

Tabel 4.7

Koherensi
Kohesi
Pilihan kata (diksi)
Pengungkapan
ide/gagasan

Jumlah skor yang dicapai


Siklus I
Siklus II Selisih
skor
90
98
8
92
99
7
87
99
12
101
111
10

8,16
7
12,1
9

: Prosentase Peningkatan pada setiap Aspek yang dinilai dengan Teknik


Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif
Rempung

Murid Kelas IV MI. NW

siklus II/I dan siklus II/II sebagai berikut:

No Aspek yang dinilai


1.
2.

%
Peningkatan

Bilangan bulat
Bulat Negatif

Jumlah skor yang dicapai


Siklus I
Siklus II Selisih
skor
89
96
7
92
99
7

%
Peningkatan
8,16
7

53

3.
4.

Bilangan Nol
Bulat positif

87
102

99
111

12
12

12,1
10

Dari data di atas dapat dikemukakan bahwa peningkatan setiap aspek yang
dinilai sebagai berikut:
a. As Bilangan bulat

= Selisih skor X 100%


Siklus II/I
= 8 X 100%
98
= 8,16 %

b.

As Bulat Negatif

= Selisih skor X 100%


Siklus II
= 7 X 100%
99
=7%

c. As Bilangan Nol = Selisih skor X 100%


Siklus II
= 12 X 100%
99
= 12,1 %
d. As Bulat

= Selisih skor X 100%


Siklus II
= 10 X 100%
111
=9%
Begitu pula dengan prosentase peningkatan kemampuan menulis murid kelas IV
positif

MI. NW Rempung

siklus I dan siklus II dengan teknik

penerapan model

pembelajaran kooperatif dapat dilihat pada tabel 4.8 berikut.


Tabel 4.8

: Prosentase peningkatan kemampuan murid kelas IV MI. NW Rempung ,


siklus I dan siklus II sebagai berikut:

No
1.

Siklus I
2.450

Jumlah skor yang dicapai


Siklus II
Selisih skor
2.637,5
187,5

% Peningkatan
7,10

54

Dari data di atas dapat dikemukakan bahwa peningkatan kemampuan menulis


siswa sebagai berikut :
= Selisih skor x 100 %
Siklus II
= 187,5 x 100 %
2.637,5
= 7, 10 %
Dengan demikian hasil pembelajaran pada siklus II mengalami peningkatan dari
51,35 % pada siklus I menjadi 78,37 % pada siklus II atau telah mencapai indikator
keberhasilan. Dengan teknik bercerita dan memahami konsep matematika dapat
meningkatkan kemampuan menulis dan memahami konsep matematika siswa dengan
nilai rata-rata 66,21 atau 51,35 % secara klasikal pada siklus I dan pada siklus II
mengalami peningkatan yaitu dengan nilai rata-rata 71,28 dan 78,37 % secara klasikal.
Dengan demikian peningkatan kemampuan menulis dan memahami konsep matematika
siswa secara kuantitatif telah mencapai indikator

pencapaian, sehingga tidak perlu

dilanjutkan ke siklus berikutnya. Artinya penelitian ini menjawab permasalahan


mengenai

penerapan teknik penerapan model pembelajaran kooperatif untuk

meningkatkan kemampuan menulis dan memahami konsepbilangan matematika murid


kelas IV MI. NW Rempung .
Refleksi
Berdasarkan hasil observasi pada siklus II, dapat dikemukakan beberapa hal
sebagai berikut :
1. siswa sudah berani bertanya.
2. kemampuan siswa dalam menulis dan memahami konsep matematika
mengalami peningkatan.

55

3. partisipasi siswa dalam kelompok berpasangan meningkat, tetapi masih


terdapat beberapa siswa yang masih perlu dimotivasi dan diberikan
bimbingan
Peningkatan kemampuan menulis dan memahami konsep matematika siswa
secara kuantitatif telah mencapai indikator pencapaian, sehingga tidak perlu dilanjutkan
ke siklus berikutnya.
Adapun peningkatan nilai rata-rata pada setiap aspek yang dinilai dan
prosentase peningkatan kemampuan murid kelas IV MI. NW Rempung

dapat dilihat

pada tabel 4.9 dan 4.10 berikut.

Tabel 4.9

: Peningkatan nilai rata-rata pada setiap aspek yang dinilai dengan teknik
penerapan model pembelajaran kooperatif
Rempung

No Aspek
dinilai
1.
2.
3.
4.

siklus I, dan siklus II adalah sebagai berikut:

yang

Skor yang diperoleh


Pretes
Siklus Siklus II
I
84
90
98
89
92
99
kata 82
87
99

Koherensi
Kohesi
Pilihan
(diksi)
Pengungkapan
ide/gagasan

Tabel 4.10

murid kelas IV MI. NW

86

101

111

Pretes

Nilai rata-rata
Siklus I Siklus II

56,75
60,13
55,4

60,81
62,16
58,78

66,21
66,89
66,89

58,1

68,24

75

: Peningkatan nilai rata-rata pada setiap aspek yang dinilai

dalam

memahami konsep matematika murid kelas IV MI. NW Rempung


siklus I, dan siklus II adalah sebagai berikut:
No Aspek
dinilai
1.
2.
3.
4.

yang

Bilangan bulat
Bulat Negatif
Bilangan Nol
Bulat positif

Skor yang diperoleh


Pretes
Siklus Siklus II
I
82
91
95
84
90
97
83
85
97
84
100
111

Pretes
55,73
62,15
56,6
57,5

Nilai rata-rata
Siklus I Siklus II
63,78
68,24
58,78
67,27

69,26
69,88
68,88
76

56

Berdasarkan tabel 4.9 dan 4.10 dapat diberikan gambaran bahwa nilai rata-rata
pada setiap aspek yang dinilai mengalami peningkatan setelah dilakukannya tindakan
pembelajaran berupa penerapan teknik bercerita dan memahami konsep matematika.
Hal ini dapat dilihat dari gambaran tabel di atas yang menunjukkan peningkatan hasil
pada setiap aspek .
Tabel 4.11 : Prosentase peningkatan kemampuan murid kelas IV MI. NW Rempung
siklus I, dan siklus II adalah sebagai berikut :
No
1.
2.
3.

Pretes
Siuklus I
Siklus II

Skor yang dicapai

Rata-rata

2.187,15
2.450
2.637,5

59,12
66,21
71,28

Ketuntasan
Klasikal
35,13 %
51,35 %
78,37 %

Berdasarkan tabel 4.11 dapat diberikan gambaran bahwa kemampuan murid


kelas IV MI. NW Rempung mengalami peningkatan setelah dilakukannya tindakan
pembelajaran berupa penerapan teknik penerapan model pembelajaran kooperatif. Hal
ini dapat dilihat dari gambaran tabel di atas yang menunjukkan peningkatan hasil yaitu
rata-rata 59,12 atau 35,13 % secara klasikal pada pretes menjadi rata-rata 66,21 atau
51,35% secara klasikal pada siklus I, kemudian meningkat kembali menjadi rata-rata
71,28 atau 78,37% secara klasikal pada siklus II.
Dengan demikian penelitian ini telah menjawab permasalahan mengenai
penerapan teknik penerapan model pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan
kemampuan murid kelas IV MI. NW Rempung
.

57

BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil pembelajaran, secara kuantitatif kemampuan menulis dan
memahami konsep matematika siswa mampu ditingkatkan, hal ini dapat terlihat dari
hasil yang kurang pada siklus I menjadi hasil baik pada siklus II dan sesuai dengan
indikator pencapaian. Hal ini dapat dibuktikan dengan peningkatan hasil yaitu rata-rata
pada setiap aspek yang dinilai maupun rata-rata kemampuan secara umumnya.
Gambaran yang menunjukkan peningkatan hasil pada setiap aspek dapat dikemukakan
sebagai berikut. A. (1) aspek koherensi, dari rata-rata 56,75 pada pretes menjadi 60,81
pada siklus I kemudian meningkat kembali menjadi rata-rata 66,21 pada siklus II; (2)
aspek kohesi, yaitu rata-rata 60,13 pada pretes menjadi 62,16 pada siklus I kemudian
meningkat kembali menjadi rata-rata 66,89 pada siklus II; (3) aspek piliha kata (diksi),
yaitu rata-rata 55,4 pada pretes menjadi rata-rata 58,78 pada siklus I kemudian
meningkat kembali menjadi rata-rata 66,89 pada siklus II; (4) aspek pengungkapan
ide/gagasan dan memahami konsep matematika, yaitu dari rata-rata 58,1 pada pretes

58

menjadi rata-rata 68,24 pada siklus I kemudian meningkat kembali menjadi rata-rata 75
pada siklus II. Hal ini juga dapat dilihat dari peningkatan hasil secara keseluruhan yaitu
rata-rata 59,12 atau 35,13 % secara klasikal pada pretes menjadi rata-rata 66,21 atau
51,35 % secara klasikal pada siklus I, kemudian meningkat kembali menjadi rata-rata
71,28 atau 78,37 % secara klasikal pada siklus II.
B. (1) aspek bilangan bulat, dari rata-rata 55,73 pada pretes menjadi 63,78 pada
siklus I kemudian meningkat kembali menjadi rata-rata 69,26 pada siklus II; (2) aspek
Bulat Negatif, yaitu rata-rata 62,15 pada pretes menjadi 68,24 pada siklus I kemudian
meningkat kembali menjadi rata-rata 69,88 pada siklus II; (3) aspek Bilangan Nol, yaitu
rata-rata 57,5 pada pretes menjadi rata-rata 67,27 pada siklus I kemudian meningkat
kembali menjadi rata-rata 76 pada siklus II; (4) aspek Bulat positif , yaitu dari rata-rata
58,1 pada pretes menjadi rata-rata 68,24 pada siklus I kemudian meningkat kembali
menjadi rata-rata 75 pada siklus II.
5.2 Saran
Mengingat hasil penelitian tindakan kelas ini cukup baik di dalam
pembelajaran siswa maka diharapkan adanya tindak lanjut guna peningkatan sistem
pembelajaran yang lebih berhasil.
Dengan demikian dituntut kreativitas dari para guru kelas di dalam mendisain
model-model pembelajaran yang lebih menarik bagi siswa. Tentu dibalik semua
terdapat kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan, untuk itu menjadi bahan
penelitian selanjutnya yang lebih sempurna.

59

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. Prof. 2006. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktis.
Jakarta : PT Rineka Cipta.
Akhadiah , Sabartti dkk. 1996. Menulis . Jakarta : Depdikbud.
Darajat, Zakiah. 1982. Kepribadian Guru. Jakarta : N. V. Bulan Bintang.
Dimyati dan Mudjiono.2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Djajasudarma, Fatimah. 2006. Wacana ; Pemahaman dan Hubungan Antarunsur.
Bandung : PT Rafika Aditama.
Gazaliudin. 2000. Meningkatkan Kemampuan Menulis Prosa Siswa Kelas 2 SLTP
Negeri Praya Barat dengan Strategi Pembelajaran Integratif. Skripsi.
Mataram : FKIP Universitas Mataram.
Ibrahim, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : University Press.
Keraf, Gorys. 1990. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta : PT Gramedia.
Lie, Anita. 2004. Cooperative Learning. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Nuraini. 2007. Meningkatkan Kemampuan Siswa membuat paragraf Eksposisi dengan
Metode Struktural Analisis Sintesis (SAS) Pada Siswa Kelas X2 SMA
Negeri 1 Kediri Tahun Pengajaran 2006-2007. Skripsi. Mataram : FKIP
Universitas Mataram.
Nurwahidah. 2008. Meningkatkan Kemampuan Menulis Cerita dengan Teknik
Menarasikan Puisi pada Siswa Kelas X2 SMA Negeri 3 Mataram Tahun
Pelajaran 2007/2008. Skripsi. Mataram : FKIP Universitas Mataram.
Poerwadarminta , W.J.S. 1986. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Depdikbud : Balai
Pustaka.
Sudiati, Vero dan Widyamartaya. 1995. Kiat Menulis Cerita.Yogyakarta : Yayasan
Pustaka Nusatama.
Suciati,dkk. 2002. Belajar dan Pembelajaran 2. Universitas Terbuka.
Zulkifli , Muhammad. 2005. Meningkatkan Kemampuan Menulis Siswa Kelas II MTS
Al-Ittihadiyah Sepakat Tahun Pelajaran 2004/2005 Melalui Penerapan
Strategi Konstruktivisme. Skripsi. Mataram : FKIP Universitas Mataram.

60

------------.2001. Materi Pengembangan Wawasan dan Profesionalisme Keguruan.


Mataram : Basic Education Project (BEP) Depag RI.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


Mata Pelajaran
Nama Sekolah
Kelas / Semester
Hari / Tanggal
Waktu
Pertemuan
Siklus

: Bahasa Indonesia
: MI. NW Rempung
: IV/I
: Sabtu, 15 Oktober 2010
: 2 x 35 menit (2 jam pelajaran)
: Kedua
: Pertama

A. Standar Kompetensi:
Mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan secara lisan melalui
mendeskripsikan benda atau seseorang.
B. Kompetensi Dasar:
Mendeskripsikan seseorang.
C. Indikator:
Siswa menjelaskan ciri-ciri seseorang secara rinci dengan bahasa yang runtut dan
mudah dipahami.
D. Hasil Belajar:
Tindakan atau kinerja siswa selama mengikuti tahapan pembelajaran.
Deskripsi seseorang berdasarkan ciri-cirinya dengan bahasa yang komunikatif dan
menggunakan pilihan kata yang tepat.
E. Metode Pembelajaran:
Demonstrasi

61

Pemodelan
Diskusi
Tanya jawab
Penugasan

F. Kegiatan Pembelajaran:
N
O
1

KEGIATAN
Kegiatan Pendahuluan (Fase Perhatian)
a. Guru menyapa siswa, memeriksa kehadiran
siswa, dan mengondisikan siswa agar siap
menerima pelajaran.
b. Guru menyiapkan media dan sumber belajar.
c. Guru melakukan apersepsi tentang materi
pembelajaran.
d. Guru menginformasikan materi dan tujuan
pembelajaran.
Kegiatan Inti (Tahap Latihan Berbicara)
a. Guru mengondisikan siswa agar siap
mendeskripsikan seseorang berdasarkan ciricirinya.
b. Siswa mendeskripsikan seseorang
berdasarkan ciri-cirinya dengan bahasa yang
komunikatif dan menggunakan pilihan kata
yang tepat (Tahap Latihan Berbicara):
- Siswa kembali melihat hasil pekerjaannya
pada tahap sebelumnya (tahap menganalisis
model berbicara; LKS 2).
- Siswa berinteraksi dengan guru berkaitan
dengan deskripsi seseorang yang akan
disampaikan termasuk kata-kata yang perlu
penekanan maupun disertai gerakan.
- Siswa mendeskripsikan seseorang
berdasarkan ciri-cirinya di depan kelas
secara bergantian (diusahakan semua siswa
mendapat giliran terutama siswa terteliti).
- Siswa mendapat perbaikan dan penguatan
dari guru dan teman lainnya.
Kegiatan Penutup (Fase Motivasi
a. Guru dan siswa menyimpulkan kegiatan
pembelajaran hari itu.
b. Guru dan siswa mengadakan refleksi
terhadap pembelajaran hari itu.
c. Guru menampilkan satu siswa yang dianggap
paling bagus sebagai penguatan.

PENGORGANISASIAN
SISWA
WAKTU
Klasikal
8 menit
2 menit
2 menit
3 menit
1 menit

Klasikal
(perhatian)
Individual
(reproduksi)

52 menit
2 menit
50 menit

Individual
(retensi)
Individual

Individual
(reproduksi)
Individual
(motivasi)
Klasikal
Klasikal

10 menit
2 menit

Klasikal

2 menit

Klasikal

5 menit

62

d. Guru menutup pembelajaran.

Klasikal

1 menit

G. Penilaian
1. Prosedur Penilaian
a. Penilaian Proses: Kinerja siswa selama kegiatan mendengarkan model
berbicara, menganalisis model berbicara, dan latihan berbicara.
b. Penilaian Produk: Kualitas penampilan latihan berbicara dan tes berbicara
2. Alat Penilaian
a. Panduan Pengamatan (Pedoman Pengamatan dan Rambu-rambu Analisis
Data Proses).
b. Panduan Penskoran Kualitas Berbicara Siswa (Pedoman Penskoran dan
Rambu-rambu Analisis Data Produk).

63

H. Media dan Sumber Belajar


1. Media
: Deskripsi Seseorang, LKS, dan
Buku Teks Penunjang
2. Sumber Belajar :
a. Depdiknas. 2004. Kurikulum 2004, Standar Kompetensi Mata Pelajaran
Bahasa Indonesia SD dan MI. Jakarta: Depdiknas
b. Depdiknas. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan untuk SD/MI.
Jakarta: Depdiknas
c. Nurcholis, H. dan Mafrukhi. 2006. Saya Senang Berbahasa Indonesia
(Sasebi) Jilid 4 untuk SD Kelas 5. Jakarta: Erlangga
d. Surana. 2004. Aku Cinta Bahasa Indonesia Jilid 4 untuk SD Kelas 5. Solo:
Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
I. Rangkuman Materi (Terlampir)
Rempung, 17 Oktober 2010
Pengamat,

Guru Kelas,

Murniati, S.Pd
NIP. 197212311997032020

MUHLIS
NIM 813645773
Mengetahui:
Kepala MI NW Rempung

AHMAD JUHAENI, S.Pdi


NIP .

64

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

A.
B.
C.

D.
E.

Jenjang
: MI. NW Rempung
Kelas / Semester : 4/I
Waktu
: 12 jam pelajaran/4 kali pertemuan (@ 2 x 35 menit)
Tema
: Kehidupan sehari-hari
Standar Kompetensi:
1. Matematika: Memahami dan menggunakan sifat-sifat operasi hitung bilangan
dalam pemecahan masalah.
Kompetensi Dasar:
1. Matematika: Memecahkan masalah yang melibatkan uang.
Indikator:
1.1
Matematika:
2.1.1 Menuliskan cara penulisan nilai uang rupiah.
2.1.2 Menaksir jumlah harga dari sekumpulan barang ada atau dijual sehari-hari
2.1.3 Menghitung uang sisa pembelian/penjualan dalam kegiatan sehari-hari.
Hasil Belajar:
1.1 Hasil penjumlahan dan pengurangan uang.
Media dan Literatur:
a. Media:
Aula/panggung.
Uang rupiah.
Beberapa jenis tumbuhan lengkap dengan akarnya (bisa diganti poster
anatomi tumbuhan).
Poster aktivitas kegiatan pasar (kepingan CD tentang aktivitas
pasar/perdagangan), VCD, dan perangkatnya.
b. Literatur (buku lain dari pengarang yang sama untuk mendukung
penggunaan buku inti) dan buku penunjang lainnya:
Sasongko, Setiawan G. 2007. Cipo Si Wartawan Cilik: Membongkar Penadah
Berlian. Jakarta: Zikrul Hikmah
Sasongko, Setiawan G. 2007. Cipo Si Wartawan Cilik: Hilangnya Anak
Jalanan. Jakarta: Zikrul Hikmah
Sasongko, Setiawan G. 2006. Cipo Si Wartawan Cilik: Nenek Misterius.
Jakarta: Zikrul Hikmah
Sasongko, Setiawan G. 2006. Cipo Si Wartawan Cilik: Matador Aspal.
Jakarta: Zikrul Hikmah
Sasongko, Setiawan G. 2005. Ali Si Profesor Cilik: Wayang-wayang Kardus.
Jakarta: Branda Hikmah
Sasongko, Setiawan G. 2005. Ali Si Profesor Cilik: Kepak Sayap Merpati.
Jakarta: Branda Hikmah
Sasongko, Setiawan G. 2005. Ali Si Profesor Cilik: Memburu Katak Pohon.
Jakarta: Branda Hikmah
Sasongko, Setiawan G. 2005. Ali Si Profesor Cilik: Jejak-jejak UFO. Jakarta:
Branda Hikmah
Sasongko, Setiawan G. 2005. Ali Si Profesor Cilik: Semut-semut Kecil.
Jakarta: Branda Hikmah
Surana. 2004. Aku Cinta Bahasa Indonesia. Jakarta: Tiga Serangkai

65

Tim Bina Karya Guru. 2007. Sains untuk SD Kelas V A. Jakarta: Erlangga
Tim Bina Karya Guru. 2007. Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SD Kelas V A.
Jakarta: Erlangga
F. Metode Pembelajaran:
Demonstrasi
Pemodelan
Tanya jawab
Penugasan
G. Kegiatan Pembelajaran
PERTEMUAN KEDUA (Fokus Matematika)
PENGORGANISASIAN
N
KEGIATAN
O
SISWA
WAKTU
1 Prakegiatan
Klasikal
3 menit
a. Guru menyapa siswa, memeriksa kehadiran
siswa, dan mengondisikan siswa siap belajar.
b. Guru menyiapkan media dan sumber belajar.
2 Kegiatan Awal
Klasikal
10 menit
a. Guru kembali membacakan beberapa
fragmen buku inti yang akan menjadi sumber
pembelajaran (cerita bagian 2, hal. 36,37, 45,
47, 48, 49, 50, 51, 54, 55).
b. Guru melakukan apersepsi tentang materi
pembelajaran terkait buku inti.
c. Guru menginformasikan materi
pembelajaran.
d. Guru menginformasikan tujuan
pembelajaran.
3 Kegiatan Inti
47 menit
a. Guru mengondisikan siswa siap
Klasikal
1 menit
mendengarkan pembacaan cerita.
b. Siswa menuliskan cara penulisan nilai uang
Kelompok
15 menit
rupiah:
- Siswa dibagi dalam beberapa kelompok.
Kelompok
- Siswa membaca kembali fragmen cerita
Kelompok
yang telah disiapkan dengan seksama.
- Siswa menulis bagian cerita yang
Kelompok
menyebutkan uang rupiah (mengerjakan
tugas yang diberikan guru melalui LKS
yang disiapkan).
- Siswa dan guru membahas hasil karya
Klasikal
siswa.
- Siswa memperoleh penguatan dari guru.
Kelompok
c. Siswa menaksir jumlah harga dari
sekumpulan barang ada atau dijual seharihari.
- Siswa masih dalam kelompok semula.
- Siswa memperkirakan harga semua bambu

Kelompok

17 menit

Kelompok
Kelompok

66

pethuk pedagang keliling jika jumlahnya


dan ditentukan (pada LKS yang telah
disiapkan).
- Siswa mendapat penguatan dari guru dan
teman lainnya.

Kelompok

d. Siswa menghitung uang sisa


pembelian/penjualan dalam kegiatan seharihari.
- Siswa masih dalam kelompok semula.
- Siswa menghitung keuntungan hasil
penjualan (pada LKS yang telah disiapkan).
- Siswa mendapat penguatan dari guru dan
teman lainnya.
Kegiatan Akhir
a. Guru dan siswa menyimpulkan kegiatan
pembelajaran hari itu.
b. Guru dan siswa mengadakan refleksi
terhadap pembelajaran hari itu.
c. Guru menutup pembelajaran.

Kelompok

14 menit

Kelompok
Kelompok
Kelompok
Klasikal
Klasikal

10 menit

Individual
Klasikal

H. Evaluasi (terlampir)
Jenis tes
: tertulis
Bentuk tes
: subyektif
Alat penilaian
: rubrik dan tugas (LKS) atau hasil kerja siswa.
Prosedur penilaian
:
o Penilaian proses : Pengamatan selama pembelajaran berlangsung
o Penilaian hasil : LKS dan rubrik penilaian proses
Rempung, 17 Oktober 2010
Pengamat,

Guru Kelas,

Murniati, S.Pd
NIP. 197212311997032020

MUHLIS
NIM 813645773
Mengetahui:
Kepala MI. NW Rempung,

AHMAD JUHAENI, S.Pdi


NIP .

67

FORMAT OBSERVASI
Hari/Tanggal
Mata Pelajaran

: Senin, 17 Oktober 2010


: Bahasa Indonesia

Kelas
Siklus

: IV
: I/II

NO PENGAMATAN
1.

Ketepatan Pelaksanaan Sekenario Pembelajaran


Pelaksanaan proses pembelajaran sudah dilaksanakan dengan baik
sesuai dengan rencana pembelajaran yang dibuat.

2.

Keterlibatan siswa selama proses pembelajaran


- Semua siswa aktif mengikuti penjelasan guru, sehingga siswa
memperhatikan penjelasan guru
- Siswa sudah memiliki keberaniann untuk bertanya
- Suasana kelas tenag, terkendali, dan aman.
Prilaku Mengajar Yang Positif dan Negatif
- Guru mengajar dengan baik dan bersemangat sehingga siswa aktif
memperhatikan penjelasan guru
- Guru aktif membimbing siswa yang kurang
Komentar Siswa
- Kami merasa puas dan senang cara mengajar guru dan dengan
hasil yang
kami peroleh.
Unjuk Kerja Siswa
Setelah diadakan evaluasi pada akhir PBM: hasil reratanya di atas
75 % yang dicapai dari 19 orang murid.
Rempung, 17 Oktober 2010

Pengamat,

Guru Kelas,

Murniati, S.Pd
NIP. 197212311997032020

MUHLIS
NIM 813645773
Mengetahui:
Kepala MI. NW Rempung,

AHMAD JUHAENI, S.Pdi

68

SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama

: MUHLIS

NIM

: 813645773

UPBJJ UT

: Mataram

Menyatakan bahwa:
Nama

: (Murniati, S.Pd

NIP

: 197212311997032020

Tempat Tugas

: MI. NW. REMPUNG

Guru Keas

: VI

Adalah teman sejawat yang akan membantu dalam pelakasanaan perbaikan


pembelajaran, yang merupakan tugas Mata Kuliah PDGK 4501 Pemantapan Kemampuan
Profesional (PKP)
Demikian surat pernyataan ini dibuat untuk dapat digunakan sebagaimana
mestinya.
Rempung, 17 Oktober 2010
Pengamat,

Guru Kelas,

Murniati,g S.Pd
NIP. 197212311997032020

MUHLIS
NIM 813645773
Mengetahui:
Kepala MI. NW Rempung,

AHMAD JUHAENI, S.Pdi

69

FORMAT OBSERVASI
Hari/Tanggal
Mata Pelajaran

: Selasa, 10 Oktober 2010


: Matematika

Kelas
Siklus

: IV
: I/I

NO PENGAMATAN
1.

Ketepatan Pelaksanaan Sekenario Pembelajaran

2.

Keterlibatan siswa selama proses pembelajaran

Prilaku Mengajar Yang Positif dan Negatif

Komentar Siswa

Unjuk Kerja Siswa

Rempung, 17 Oktober 2010


Pengamat,

Guru Kelas,

Murniati,g S.Pd
NIP. 197212311997032020

MUHLIS
NIM 813645773
Mengetahui:
Kepala MI. NW Rempung,

AHMAD JUHAENI, S.Pdi

70

71