Anda di halaman 1dari 41

BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN

PEDOMAN TEKNIS
PENYELENGGARAAN SPIP
SUB UNSUR
PEMANTAUAN BERKELANJUTAN
(5.1)

NOMOR : PER-1326/K/LB/2009
TANGGAL : 7 DESEMBER 2009

KATA PENGANTAR

Pembinaan penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern


Pemerintah (SPIP) merupakan tanggung jawab Badan Pengawasan
Keuangan

dan

Pembangunan

(BPKP),

sesuai

dengan

pasal 59 Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang


Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. Pembinaan ini merupakan
salah satu cara untuk memperkuat dan menunjang efektivitas
sistem

pengendalian

intern,

yang

menjadi

tanggung

jawab

menteri/pimpinan lembaga, gubernur, dan bupati/walikota sebagai


penyelenggara sistem pengendalian intern di lingkungan masingmasing.
Pembinaan penyelenggaraan SPIP yang menjadi tugas dan
tanggung jawab BPKP tersebut meliputi:
1. penyusunan pedoman teknis penyelenggaraan SPIP;
2. sosialisasi SPIP;
3. pendidikan dan pelatihan SPIP;
4. pembimbingan dan konsultasi SPIP; dan
5. peningkatan kompetensi auditor aparat pengawasan intern
pemerintah.
Kelima

kegiatan

dimaksud

diarahkan

dalam

rangka

penerapan unsur-unsur SPIP, yaitu:


1. lingkungan pengendalian;
2. penilaian risiko;
3. kegiatan pengendalian;
4. informasi dan komunikasi; dan
5. pemantauan pengendalian intern.
5.1 Pemantauan Berkelanjutan

Untuk memenuhi kebutuhan pedoman penyelenggaraan


SPIP,

BPKP

telah

menyusun

Pedoman

Teknis

Umum

Penyelenggaraan SPIP. Pedoman tersebut merupakan pedoman


tentang hal-hal apa saja yang perlu dibangun dan dilaksanakan
dalam rangka penyelenggaraan SPIP. Selanjutnya, pedoman
tersebut dijabarkan ke dalam pedoman teknis penyelenggaraan
masing-masing sub unsur pengendalian. Pedoman teknis sub unsur
ini merupakan acuan langkah-langkah yang perlu dilaksanakan
dalam penyelenggaraan sub unsur SPIP.
Pedoman

Teknis

Penyelenggaraan

SPIP

Sub

unsur

Pemantauan Berkelanjutan pada unsur Pemantauan merupakan


acuan yang memberikan arah bagi instansi pemerintah pusat dan
daerah dalam menyelenggarakan sub unsur tersebut, dan dapat
disesuaikan dengan karakteristik masing-masing instansi, yang
meliputi fungsi, sifat, tujuan, dan kompleksitas instansi tersebut.
Pedoman ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
masukan dan saran perbaikan dari pengguna pedoman ini, sangat
diharapkan sebagai bahan penyempurnaan.

Jakarta, Desember 2009


Plt. Kepala,

Kuswono Soeseno
NIP 19500910 197511 1 001
5.1 Pemantauan Berkelanjutan

ii

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR .................................................................

DAFTAR ISI ................................................................................

iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .........................................................

B. Sistematika Pedoman ...............................................

BAB II GAMBARAN UMUM


A. Pengertian ................................................................

B. Tujuan dan Manfaat ..................................................

C. Parameter Penerapan ..............................................

D. Peraturan Perundang-undangan Terkait .................. 14

BAB III LANGKAH-LANGKAH PENYELENGGARAAN


A. Tahap Persiapan ..................................................... 17
B. Tahap Pelaksanaan .................................................. 20
C. Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemantauan
Berkelanjutan ............................................................ 23
D. Tahap Pelaporan ...................................................... 29

BAB IV PENUTUP

5.1 Pemantauan Berkelanjutan

iii

5.1 Pemantauan Berkelanjutan

iv

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun
2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP),
para menteri/ pimpinan lembaga, gubernur, bupati/walikota wajib
melakukan

pengendalian

atas penyelenggaraan kegiatan

pemerintahan. Pengendalian atas penyelenggaraan kegi atan


pemerintahan

tersebut

dilaksanakan

dengan

berpedoman

kepada sistem pengendalian intern pemerintah, sebagaimana


diatur dalam peraturan pemerintah tersebut.
Pimpinan

instansi

pemantauan terhadap

pemerintah

wajib

melakukan

kinerja sistem pengendalian intern

pemerintah untuk memastikan bahwa sistem telah berjalan


efektif. Pemantauan sistem pengendalian intern dilaksanakan
melalui pemantauan berkelanjutan (on going
evaluasi

monitoring),

terpisah (separate evaluation), serta tindak lanjut

rekomendasi hasil audit dan reviu lainnya.


Untuk

meningkatkan

pengendalian intern

efektivitas

tersebut,

pemantauan

diperlukan

Pedoman

sistem
Teknis

Penyelenggaraan SPIP. Sesuai dengan amanah Peraturan


Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008, BPKP memiliki kewajiban
untuk menyusun pedoman teknis dimaksud. Pedoman ini
merupakan pedoman tentang hal-hal apa saja yang perlu
dibangun dan dilaksanakan dalam rangka penyelenggaraan
SPIP.
5.1 Pemantauan Berkelanjutan

Buku ini merupakan

Pedoman

Teknis

Pemantauan

Berkelanjutan atas Sistem Pengendalian Intern di lingkungan


pemerintahan pusat dan daerah yang merupakan bagian yang
tak terpisahkan dari Pedoman Teknis Penyelenggaraan SPIP
lainnya.
Pedoman ini disusun dengan tujuan agar tersedia standar
acuan yang memberi arah bagi instansi pemerintah pusat dan
daerah

dalam melaksanakan pemantauan penyelenggaraan

sistem pengendalian intern. Dalam penerapannya, pedoman


ini hendaknya disesuaikan dengan karakteristik masing-masing
instansi, yang meliputi fungsi, sifat, tujuan, dan kompleksitas
instansi tersebut.
B. Sistematika Pedoman
Sistematika penyajian

Pedoman

Teknis

Pemantauan

Berkelanjutan ini adalah sebagai berikut:


Bab I

Pendahuluan
Bab ini menguraikan latar belakang perlunya pedoman,
tujuan dan ruang lingkup pedoman, serta sistematika
pedoman.

Bab II

Gambaran Umum Pemantauan Berkelanjutan


Bab ini menguraikan pengertian, maksud, tujuan, dan
parameter penerapannya.

Bab III Langkah-Langkah

Penerapan

Pemantauan

Berkelanjutan
Bab ini menguraikan langkah -langkah yang perlu
dilaksanakan

dalam

menerapkan

sub

unsur

Pemantauan Berkelanjutan, yang terdiri dari tahap


persiapan, pelaksanaan, dan pelaporan
5.1 Pemantauan Berkelanjutan

Bab IV Penutup
Bab

ini

merupakan

penutup,

yang

berisi

hal-hal

penting yang perlu diperhatikan kembali dan penjelasan


atas penggunaan pedoman ini.

5.1 Pemantauan Berkelanjutan

5.1 Pemantauan Berkelanjutan

BAB II
GAMBARAN UMUM
Pemantauan sistem pengendalian intern adalah suatu proses
penilaian kualitas kinerja pengendalian intern dalam suatu periode
tertentu. Pemantauan pengendalian intern pada dasarnya adalah
memastikan bahwa sistem pengendalian intern pada suatu instansi
pemerintah berjalan sesuai dengan yang diharapkan dan perbaikanperbaikan yang diperlukan telah dilaksanakan sesuai dengan
perkembangan.
Sebagai ilustrasi dari halaman 45 Guidelines for Internal
Control Standards for the Public Sector INTOSAI menyatakan:
Internal Auditors regularly provide information about the functioning
of internal control, focusing considerable attention on evaluating the
design and operation of internal control.. Artinya, auditor intern
secara berkala memberikan informasi terkait fungsi-fungsi dari
pengendalian intern yang menitikberatkan pada evaluasi atas desain
dan operasional dari pengendalian intern tersebut.

Dengan

demikian, terkait pengembangan Sistem Pengendalian Intern


di instansi pemerintah yang berkaitan dengan unsur pemantauan
(monitoring), pimpinan instansi pemerintah harus memahami bahwa:
1. Penilaian atau evaluasi atas SPI adalah sesuatu hal yang biasa
dilakukan;
2. Pihak yang dapat melakukan penilaian tersebut adalah pihak
yang tidak terkait dengan kegiatan dan independen, seperti unit
lain dalam organisasi, APIP, konsultan, atau auditor eksternal.

5.1 Pemantauan Berkelanjutan

Dalam penilaian atas SPI, fokus perhatian yang besar


diarahkan

kepada

rancangan/desain

dan

operasional

dari

pengendalian intern. Rancangan dan operasional dari pengendalian


tersebut merupakan tanggung jawab pimpinan instansi pemerintah.
Pimpinan instansi harus mempunyai perhatian serius terhadap
kegiatan pemantauan sistem pengendalian intern. Pengendalian
intern tidak terlepas dari

perkembangan

visi

dan

misi

organisasi. Berhubung visi dan misi organisasi berkembang


terus,

pengendalian

intern

tidak

boleh

sta tis,

tetapi

juga berkembang mengikuti perkembangan organisasi. Salah


satu bentuk pemantauan yang dapat dilakukan adalah pemantauan
berkelanjutan.
A. Pengertian
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pemantauan
berarti:
1. Menengok, menjenguk;
2. Mengawasi, mengamati atau mengecek dengan cermat,
terutama untuk tujuan khusus;
3. Mengatur

atau

mengontrol

kerja

mesin,

proses,

dan

sebagainya;
4. Mengecek atau mengatur volume bunyi atau suara dalam
merekam.
Makna berkelanjutan adalah terus menerus dan tidak
berhenti. Hakikat dari

prinsip

yang

terus-menerus untuk perbaikan yang

berlangsung

berkelanjutan

adalah

proses

berkesinambungan.
5.1 Pemantauan Berkelanjutan

Dengan

demikian,

pemantauan

berkelanjutan

adalah

pengecekan atas mutu kinerja sistem pengendalian intern


secara terus menerus dan menyatu dalam kegiatan instansi
pemerintah.
kualitas

Hal

ini

mencakup

pengendalian

intern

tertentu, memastikan apakah

proses

dalam

penilaian capaian

suatu

jangka

waktu

pengen dalian

intern

telah

berfungsi seperti yang diharapkan, dan memastikan bahwa


perbaikan yang dilakukan telah sesuai dengan kebutuhan.
Pemantauan harus menilai apakah seluruh tujuan umum yang
ditetapkan dalam pengendalian intern telah tercapai. Pengertian
tersebut telah sejalan dengan pasal 43 Peraturan Pemerintah
Nomor 60 Tahun 2008 tentang SPIP dan penjelasannya.
Pemantauan berkelanjutan mencakup pelaksanaan atau
prosedur rutin, seperti: supervisi dan reviu atas transaksi yang
terjadi, yang membantu untuk memastikan apakah kegiatan
operasional telah

sesuai dengan sistem dan prosedur

pengendalian intern yang telah ditetapkan. Pemantauan


berkelanjutan

dibangun

dalam

kegiatan

normal

instansi

pemerintah dan bersifat fleksibel, sehingga dapat berfungsi


meskipun terjadi perubahan dalam kegiatan normal.
Lebih lanjut, dengan perkembangan teknologi informasi,
pemantauan berkelanjutan juga sudah memanfaatkan kemajuan
teknologi tersebut, antara lain otomatisasi alat yang secara
elektronis melakukan evaluasi terhadap sistem pengendalian
atau suatu transaksi.

5.1 Pemantauan Berkelanjutan

Untuk

melihat

sejauh

mana

efekti vitas

pemantauan

berkelanjutan, maka dilakukan evaluasi terpisah secara berkala.


Apabila pemantauan berkelanjutan sudah berjalan efektif, maka
evaluasi terpisah digunakan hanya untuk konfirmasi ulang
terhadap

apa

yang

sudah

dihasilkan

pada

pemantauan

berkelanjutan, dan sasaran evaluasi difokuskan pada efektivitas


pengendalian

intern

yang

tidak

tercakup

dalam

sasaran

pemantauan berkelanjutan.
Setiap orang dalam organisasi bertanggung jawab atas
kegiatan pemantauan pengendalian intern walaupun fokusnya
tidak sama. Fokus utama bagi
memantau

bahwa

sebagaimana

pekerjaan

pegawai
tersebut

mestinya. Pimpinan

staf

adalah

telah dilaksanakan

menengah menilai sejauh

mana pengendalian berfungsi pada berbagai unit di bawah


kendalinya. Sementara

pimpinan tertinggi dalam

memusatkan kegiatan pemantauan

pada

organisasi

kegi atan

utama

instansi. Karena fokusnya lebih luas, pimpinan suatu instansi


pemerintah perlu menekankan pemantauan pada pencapaian
tujuan instansinya.
B. Tujuan dan Manfaat
Pemantauan sistem pengendalian intern bertujuan untuk
menilai kinerja sistem tersebut sudah berjalan sebagaimana
mestinya.

Dengan

adanya pemantauan, diharapkan dapat

mengidentifikasi kelemahan dari pengendalian yang dirumuskan


oleh manajemen, menentukan penyebab gagalnya aktivitas
pengendalian, serta pengaruhnya terhadap

pencapaian

tujuan instansi.
5.1 Pemantauan Berkelanjutan

Pemantauan

sistem

pengendalian

intern

juga

dimaksudkan untuk menilai efisiensi prosedur yang telah


ditetapkan manajemen. Prosedur yang tidak efisien akan
dikomunikasikan kepada manajemen untuk diperbaiki.
Dengan adanya pemantauan berkelanjutan, maka setiap
saat dapat dilakukan pengecekan apakah pelaksanaan seluruh
kegiatan sudah sesuai dengan standar yang ditentukan dan
tindakan

perbaikan

dapat

segera direncanakan dan

dilaksanakan.
Bila pemantauan berkelanjutan dirancang dan diterapkan
dengan baik, instansi pemerintah akan mendapatkan manfaat,
yaitu:
1. Dapat

mengidentifikasi

dan

memperbaiki

masalah

yang

berhubungan dengan pengendalian intern;


2. Menghasilkan informasi yang akurat dan terpercaya untuk
pengambilan keputusan;
3. Menghasilkan laporan keuangan yang akurat dan tepat waktu;
4. Dapat

memberikan

penilaian

secara

berkala

terhadap

efektivitas pengendalian intern.

C. Parameter Penerapan
Dalam menyelenggarakan SPIP, terdapat faktor-faktor
utama

atau

hal-hal penting

yang

perlu dipertimbangkan

sebagai penentu berfungsinya pengendalian intern. Sebagai


parameter penerapan

penyelenggaraan perlu diperhatikan hal

sebagai berikut:

5.1 Pemantauan Berkelanjutan

1. Pimpinan

instansi

pemerintah

memiliki

strategi

untuk

meyakinkan bahwa pemantauan berkelanjutan efektif dan


dapat

memicu

evaluasi

terpisah pada

saat

persoalan

teridentifikasi atau pada saat sistem berada dalam keadaan


kritis, serta pada saat pengujian secara berkala diperlukan.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut:
a. Strategi pimpinan instansi pemerintah menyediakan umpan
balik

rutin,

pemantauan kinerja, dan mengendalikan

pencapaian tujuan.
b. Adanya strategi pemantauan yang meliputi metode untuk
menekankan pimpinan program atau operasional bahwa
mereka bertanggung jawab atas pengendalian intern dan
pemantauan efektivitas kegiatan pengendalian sebagai
bagian dari tugas mereka secara teratur dan setiap hari.
c. Adanya strategi pemantauan yang meliputi metode untuk
menekankan

pimpinan

program

bahwa

mereka

bertanggung jawab atas pengendalian intern dan bahwa


tugas mereka adalah untuk memantau efektivitas kegiatan
pengendalian secara teratur.
d. Adanya strategi pemantauan yang mencakup identifikasi
kegiatan

operasi

penting

dan

sistem

pendukung

pencapaian misi yang memerlukan reviu dan evaluasi


khusus.
e. Adanya strategi yang meliputi rencana untuk mengevaluasi
secara berkala kegiatan pengendalian atas kegiatan
operasi penting dan sistem pendukung pencapaian misi.

5.1 Pemantauan Berkelanjutan

10

2. Dalam proses melaksanakan kegiatan rutin, pegawai instansi


pemerintah

mendapatkan

informasi

berfungsinya

pengendalian intern secara efektif. Hal-hal yang perlu


dipertimbangkan adalah sebagai berikut:
a. Laporan operasional sudah terintegrasi atau direkonsiliasi
dengan data laporan keuangan dan anggaran dan
digunakan untuk mengelola operasional berkelanjutan,
serta pimpinan instansi pemerintah memerhatikan adanya
ketidakakuratan

atau

penyimpangan

yang

dapat

mengindikasikan adanya masalah pengendalian intern.


b. Pimpinan

yang

operasional

bertanggung

membandingkan

jawab
informasi

atas

kegiatan

kegiatan

atau

informasi operasional lainnya yang didapat dari kegiatan


sehari-hari dengan informasi yang didapat dari sistem
informasi, dan menindaklanjuti semua ketidakakuratan atau
masalah lain yang ditemukan.
c. Pegawai operasional harus menjamin keakuratan laporan
keuangan unit dan bertanggung jawab jika ditemukan
kesalahan.
3. Komunikasi dengan pihak eksternal harus dapat menguatkan
data yang dihasilkan secara internal atau harus dapat
mengindikasikan adanya masalah dalam pengendalian intern.
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut:
a. Pengaduan rekanan mengenai praktik tidak adil oleh
instansi pemerintah harus diselidiki.

5.1 Pemantauan Berkelanjutan

11

b. Badan legislatif dan badan pengawas mengomunikasikan


informasi kepada instansi pemerintah mengenai kepatuhan
atau

hal

lain

yang

mencerminkan

berfungsinya

pengendalian intern dan pimpinan instansi pemerintah


menindaklanjuti semua masalah yang ditemukan.
c. Kegiatan

pengendalian

yang

gagal

mencegah

atau

mendeteksi adanya masalah yang timbul harus direviu.


4. Struktur organisasi dan supervisi yang memadai dapat
membantu mengawasi fungsi pengendalian intern. Hal-hal
yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut:
a. Pengeditan dan pengecekan otomatis, serta kegiatan
penatausahaan

digunakan

untuk

membantu

dalam

mengontrol keakuratan dan kelengkapan pemrosesan


transaksi.
b. Pemisahan tugas dan tanggung jawab digunakan untuk
membantu mencegah penyelewengan.
c. Aparat pengawasan intern pemerintah harus independen
dan

memiliki

wewenang

untuk

melapor

langsung

ke pimpinan instansi pemerintah dan tidak melakukan tugas


operasional apapun bagi kepentingan pimpinan instansi
pemerintah.
5. Data yang tercatat dalam sistem informasi dan keuangan
secara berkala dibandingkan dengan aset fisiknya, dan jika
ada selisih, harus telusuri. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan
adalah sebagai berikut:

5.1 Pemantauan Berkelanjutan

12

a. Tingkat persediaan barang, perlengkapan, dan aset lainnya


sudah dicek secara berkala; selisih antara jumlah yang
tercatat

dengan

jumlah

aktual

harus

dikoreksi

dan

penyebab selisih tersebut harus dijelaskan.


b. Frekuensi pembandingan antara pencatatan dan fisik aktual
didasarkan atas tingkat kerawanan aset.
c. Tanggung

jawab

untuk

menyimpan,

menjaga,

dan

melindungi aset dan sumber daya lain dibebankan kepada


orang yang ditugaskan.
6. Pimpinan instansi pemerintah mengambil langkah untuk
menindaklanjuti rekomendasi penyempurnaan pengendalian
internal yang secara teratur diberikan oleh aparat pengawasan
intern pemerintah, auditor, dan evaluator lainnya.
7. Rapat dengan pegawai digunakan untuk meminta masukan
tentang efektivitas pengendalian intern. Hal-hal yang perlu
dipertimbangkan adalah sebagai berikut:
a. Masalah, informasi, dan masukan yang relevan berkaitan
dengan pengendalian intern yang muncul pada saat
pelatihan, seminar, rapat perencanaan, dan rapat lainnya
diterima dan digunakan oleh pimpinan untuk mengatasi
masalah atau untuk memperkuat sistem pengendalian
intern.
b. Saran dari pegawai mengenai pengendalian intern harus
dipertimbangkan dan ditindaklanjuti sebagaimana mestinya.
c. Pimpinan instansi pemerintah mendorong pegawai untuk
mengidentifikasi

kelemahan

pengendalian

intern

dan

melaporkannya ke atasan langsungnya.


5.1 Pemantauan Berkelanjutan

13

8. Pegawai secara berkala diminta untuk menyatakan secara


tegas apakah mereka sudah mematuhi kode etik atau
peraturan sejenis mengenai perilaku yang diharapkan. Hal-hal
yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut:
a. Pegawai secara berkala menyatakan kepatuhan mereka
terhadap kode etik.
b. Tanda

tangan

dilaksanakannya

diperlukan
fungsi

untuk

pengendalian

membuktikan
intern

penting,

misalnya rekonsiliasi.
Setiap pimpinan instansi pemerintah wajib menetapkan dan
mengembangkan parameter penerapan SPIP, sebagaimana
daftar uji Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008, yang
disesuaikan dengan situasi, kondisi dan risiko masing-masing
instansi pemerintah.
D. Peraturan Perundang-undangan Terkait
Ketentuan yang terkait dengan pemantauan berkelanjutan, antara
lain:
1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara;
2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara;

5.1 Pemantauan Berkelanjutan

14

BAB III
LANGKAH-LANGKAH PENYELENGGARAAN
Agar pemantauan berkelanjutan terlaksana dengan baik, maka
harus memenuhi prinsip dasar berikut ini.
1. Membangun dasar untuk melakukan pemantauan, mencakup:
a. Sikap dan perilaku para pimpinan terhadap penerapan sistem
pengendalian intern dengan memberikan keteladanan dan
memotivasi

seluruh

pegawai

untuk

peduli

terhadap

pengendalian (tone at the top);


b. Struktur

organisasi

yang

efektif,

yang

menugaskan

pemantauan kepada pihak yang memiliki kemampuan yang


memadai, obyektif, dan memiliki wewenang yang cukup;
c. Ada titik awal yang jelas untuk melakukan pemantauan. Dalam
melakukan pemantauan berkelanjutan pimpinan instansi
pemerintah harus mendasarkan pada perencanaan yang
matang sehingga dalam pelaksanaannya dapat dilakukan
secara efektif dan efisien.
2. Merancang dan melaksanakan prosedur pemantauan, mencakup:
a. Prioritas risiko;
b. Identifikasi pengendalian;
c. Identifikasi informasi yang tersedia mengenai pengendalian;
dan
d. Menerapkan prosedur pengendalian
3. Menilai dan melaporkan hasil pemantauan, mencakup:
a. Prioritas temuan;
b. Melaporkan hasil; dan
c. Menindaklanjuti dengan koreksi.
5.1 Pemantauan Berkelanjutan

15

Hal
al tersebut di atas dapat digambarkan sebagai berikut:

Pemenuhan

prinsip

dasar

tersebut

dilakukan

dengan

melaksanakan berbagai kegiatan dari tahap penyelenggaraan SPIP


berikut ini:
1. Tahap Pemahaman dan Penyamaan Persepsi (Knowing
(Knowing);
2. Tahap Pemetaan (Mapping);
(
3. Tahap Pembangunan Infrastruktur (Norming);
(
4. Tahap Internalisasi (Forming);
(
dan
5. Tahap Pengembangan Berkelanjutan (Performing).
(
Tahap-tahap
tahap di atas dapat dikelompokkan menjadi tiga
kelompok, yaitu:
1. Tahap Persiapan,, merupakan tahap awal implementasi
implementasi, yang
ditujukan

untuk

memberikan

pemahaman

(knowing
knowing)

atau

kesadaran yang lebih baik,


baik serta pemetaan (mapping
mapping) kebutuhan
penerapan;
5.1 Pemantauan Berkelanjutan

16

2. Tahap Pelaksanaan, merupakan langkah tindak lanjut atas hasil


pemetaan, yang meliputi pembangunan infrastruktur (norming);
internalisasi (forming), dan upaya pengembangan berkelanjutan
(performing);
3. Tahap pelaporan, meliputi pelaporan semua kegiatan yang
dilakukan pada tahap persiapan dan pelaksanaan.
Dalam pelaksanaannya, tahapan berikut langkah-langkahnya dapat
dilakukan secara bersamaan dengan pelaksanaan penyelenggaraan
unsur/sub unsur lainnya.
Berikut ini merupakan langkah-langkah nyata yang perlu
dilaksanakan dalam rangka pemantauan berkelanjutan.
A. TAHAP PERSIAPAN
1. Penyiapan Peraturan, SDM, dan Rencana Penyelenggaraan
Tahap ini dimaksudkan untuk menyiapkan peraturan
pelaksanaan penyelenggaraan SPIP di setiap kementerian,
lembaga, dan pemerintah daerah. Berdasarkan peraturan
penyelenggaraan

SPIP,

selanjutnya

instansi

pemerintah

membuat rencana penyelenggaraan, yang antara lain memuat:


a. Jadwal pelaksanaan kegiatan;
b. Waktu yang dibutuhkan;
c. Dana yang dibutuhkan; dan
d. Pihak-pihak yang terlibat.
Berdasarkan peraturan tersebut, perlu dibentuk Satuan
Tugas (Satgas) Penyelenggaraan SPIP yang ditugaskan untuk
mengawal pelaksanaan penyelenggaraan SPIP, termasuk
penerapan pemantauan berkelanjutan.
5.1 Pemantauan Berkelanjutan

17

Satgas tersebut terlebih dulu diberi pelatihan tentang


SPIP, khususnya sub unsur pemantauan berkelanjutan agar
dapat menyelenggarakan sub unsur tersebut.
2. Pemahaman (Knowing)
Pada

tahap

mengenai
kepada

pemahaman dan penyamaan persepsi

SPIP, diberikan pemahaman


seluruh

pegawai

mengenai

SPIP

secara mendalam untuk

membangun kesadaran mengenai penting dan manfaat


pemantauan berkelanjutan. Pada tahap ini juga diberikan
pemahaman kepada seluruh pegawai instansi mengenai
peran

dan

tanggung jawab mereka

dalam

proses

pengendalian.
Metode

yang

dapat

ditempuh

untuk

melakukan

sosialisasi dapat dipilih dari beberapa metode komunikasi


penyampaian informasi yang dirasa cocok dan tepat bagi
instansi dalam membangun pemahaman yang dimaksudkan.
Adapun metode tersebut antara lain menggunakan:
a. metode tatap muka;
b. metode penggunaan situs jaringan (website) penyampaian
informasi;
c. metode penyampaian dengan menggunakan multimedia
interaktif;
d. metode penyampaian yang menggunakan majalah atau
buku saku;
e. metode

penyampaian

dengan

penggunaan

saluran

komunikasi yang umum; dan


f. metode pemberian akses ke jaringan informasi (network),
dengan menggunakan password.
5.1 Pemantauan Berkelanjutan

18

Kegiatan tersebut di atas,

selain ditujukan untuk

memberikan pemahaman kepada semua pihak yang terkait


dengan

pelaksanaan

menimbulkan

pemantauan,

kepedulian

untuk

juga

diharapkan

membangun

dan

mengembangkan sistem pengendalian intern.


3. Pemetaan (Mapping)
Setelah dilakukan kegiatan sosialisasi, diperlukan suatu
kegiatan pemetaan atau diagnostic assessment terhadap
keberadaan infrastruktur untuk menerapkan pemantauan
berkelanjutan atas sistem pengendalian intern tersebut.
Keberadaan infrastruktur diwujudkan dalam bentuk kebijakan
dan prosedur. Pemetaan juga diarahkan untuk mendapatkan
gambaran bagaimana kondisi penyelenggaraan SPIP
sudah

berjalan,

kesesuaian

penyelenggaraan

yang

dengan

kebijakan sehingga didapatkan area of improvement (AOI).


Kegiatan

ini

dilakukan

melalui

pemetaan

untuk

mengetahui antara lain apakah:


a. instansi pemerintah telah memiliki peraturan/kebijakan yang
melandasi kegiatan pemantauan berkelanjutan;
b. peraturan/kebijakan yang ada tersebut telah sesuai dengan
ketentuan di atasnya;
c. instansi pemerintah telah memiliki SOP atau pedoman
untuk menyelenggarakan peraturan tersebut;
d. SOP atau pedoman dimaksud telah sesuai dengan
peraturan yang ada dan atau yang akan dibangun;
e. SOP atau pedoman yang ada telah dilaksanakan dan
didokumentasikan dengan baik.
5.1 Pemantauan Berkelanjutan

19

Hasil pemetaan tentunya dapat untuk mengetahui


infrastruktur apa saja yang masih perlu dibangun (area of
improvement). Area of improvement (AOI), yaitu area untuk
perbaikan

atau

pembangunan

SPIP.

Pembangunan

infrastruktur dilaksanakan berdasarkan hasil pemetaan melalui


pembentukan

kebijakan

dan

prosedur

yang

harus

dilaksanakan untuk memastikan dilaksanakannya arahan


pimpinan instansi pemerintah untuk mengurangi risiko yang
telah teridentifikasi selama proses penilaian risiko.
B. Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan meliputi pembangunan infrastruktur
(norming), internalisasi (forming), dan tahap pengembangan
berkelanjutan (performing).
1. Pembangunan Infrastruktur (Norming)
Setelah dilakukan pemetaan, akan diketahui kebijakan
dan aturan apa saja yang perlu dibuat atau ditetapkan.
Kebijakan atau peraturan atau prosedur kegiatan baku yang
perlu dibuat/disusun dan ditetapkan , meliputi semua bidang
yang berhubungan dengan pengendalian intern bidang tugas
yang bersangkutan. Dalam menyusun infrastruktur perlu
memerhatikan kebijakan atau aturan lebih tinggi yang berlaku
pada instansi, teori, serta indikator penerapannya. Kebijakan
terkait

pemantauan

berkelanjutan yang

perlu

dibangun

setidak-tidaknya meliputi:
a. Pelaksanaan

pemantauan

berkelanjutan.

Kebijakan ini

mencakup strategi pimpinan untuk memperoleh umpan balik


rutin, pemantauan atas kinerja, dan pengendalian dalam
5.1 Pemantauan Berkelanjutan

20

mencapai

tujuan

instansi.

Kebijakan

pemantauan

berkelanjutan menekankan bahwa tanggung jawab atas


pengendalian

intern

dan

merupakan tanggung

pemantauan

jawab

pimpinan

efektivitasnya
program

atau

operasional dan hal tersebut merupakan bagian dari tugas


operasional mereka.
b. Pimpinan instansi pemerintah menetapkan kewajiban untuk
melakukan inspeksi mendadak (sidak) sebagai upaya untuk
menilai berjalannya sistem pengendalian intern sehingga
jika

ditemukan

suatu

yang

menghambat

atau

penyimpangan dalam program atau kegiatan dapat segera


diperbaiki dan dibangun mitigasi yang diperlukan.
c. Struktur organisasi
diperlukan

untuk

pengendalian

dan

supervisi

membantu

intern.

Dalam

yang

memadai

mengawasi

fungsi

hal tertentu, pimpinan

instansi pemerintah dapat menunjuk/menugaskan tim


yang

akan

melakukan

pemantauan

atas

sistem

pengendalian intern instansi tersebut.


2. Internalisasi (Forming)
Tahap

internalisasi

adalah

proses

mewujudkan

infrastruktur yang sudah dibangun menyatu atau menjadi


bagian

dari

kegiatan

operasional

instansi.

Terwujudnya

internalisasi tercermin pada sejauh mana infrastruktur yang


ada

memengaruhi

keputusan

dan

pimpinan

memengaruhi

instansi
perilaku

dalam

mengambil

pegawai

dalam

melaksanakan kegiatan.
5.1 Pemantauan Berkelanjutan

21

Internalisasi pemantauan berkelanjutan dilakukan dengan


kegiatan berikut:
a. Adanya

strategi

pimpina n

dalam

melakukan

pemantauan sistem pengendalian intern yang ada pada


lingkup kerjanya.
b. Pembuatan

laporan

operasional

direkonsiliasi dengan data


anggaran.

Sebagai

laporan

hasilnya,

terintegrasi

atau

keuangan

dan

informasi tersebut dapat

digunakan untuk mengelola operasi yang berkelanjutan. Bila


terjadi ketidakakuratan pada saat dilakukan rekonsiliasi,
pimpinan

segera

memerhatikan

ketidakakuratan

atau

penyimpangan dan mengambil langkah perbaikan.


c. Dilakukan pembandingan antara informasi yang diperoleh
dari sistem informasi dan informasi yang diperoleh dari
kegiatan lainnya.
d. Adanya jaminan bahwa laporan keuangan masing-masing
unit atau informasi pendukung yang berasal dari masingmasing unit akurat.
e. Pimpinan membuat sarana

komunikasi

yang

dapat

mengakomodasi pengaduan, baik dari pihak luar maupun


dalam instansi.
f. Struktur organisasi untuk melaksanakan

pemantauan

berkelanjutan yang memadai sehingga dapat membantu


mengawasi fungsi pengendalian intern.
g. Pembandingan antara data sistem informasi dan keuangan
dengan fisik aset.
h. Peningkatan tingkat pemahaman dan kepatuhan terhadap
kode etik.
5.1 Pemantauan Berkelanjutan

22

3. Pengembangan Berkelanjutan (Performing)


Penyelenggaraan pengendalian intern harus terus
dipantau dan dievaluasi secara
mengetahui

apakah

terselenggara

terus

menerus

pengendalian

sesuai

dengan

Pemantauan dilaksanakan

untuk

intern

yang

untuk
tersebut

diharapkan.

membantu

meyakinkan

bahwa pengendalian intern secara terus menerus berfungsi


dengan efektif.
Pengendalian intern yang tidak dipantau makin lama
cenderung semakin memburuk. Lingkungan organisasi, baik
lingkungan intern maupun ekstern selalu berubah, sehingga
pengendalian

juga

harus

berkembang

sesuai dengan

perkembangan organisasi. Pemantauan diperlukan untuk


melihat apakah pengendalian yang ada masih memadai
sesuai dengan perkembangan organisasi.
C. Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemantauan Berkelanjutan
Tindak

lanjut

atas

Rekomendasi

Hasil

Pemantauan

Berkelanjutan lainnya merupakan bagian dari unsur pemantauan


(monitoring), yang merupakan salah satu kekhasan dari Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah yang ditetapkan dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008.
Faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas tindak lanjut:
1. Peran Pimpinan Instansi Pemerintah
Beberapa hal yang perlu dibangun oleh pimpinan instansi
pemerintah agar prosedur tindak lanjut Rekomendasi Hasil
Pemantauan Berkelanjutan dapat berjalan secara efektif:
5.1 Pemantauan Berkelanjutan

23

a. Kebijakan dari pimpinan instansi pemerintah tentang


pentingnya prosedur tindak lanjut Rekomendasi Hasil
Pemantauan Berkelanjutan harus dibuat secara tertulis
dan
di

dikomunikasikan kepada seluruh


bawahnya,

sedapat

mungkin

pimpinan unit
kebijakan

dan

pengomunikasian kebijakan tersebut diperbarui setiap awal


tahun anggaran.
b. Pimpinan instansi pemerintah harus menunjuk salah satu
pimpinan unit di bawahnya yang bertanggung jawab untuk
mengoordinasikan

pelaksanaan

evaluasi,

pemberian

tanggapan, dan proses perbaikan yang diperlukan dalam


rangka menindaklanjuti Rekomendasi Hasil Pemantauan
Berkelanjutan.
c. Pimpinan instansi pemerintah dapat meminta APIP untuk
membantu pelaksanaan tindak lanjut yang berkaitan
dengan

perbaikan

dan

penyempurnaan

sistem

pengendalian intern instansi pemerintah.


d. Pimpinan

instansi

pemerintah

menetapkan

pedoman

tertulis yang berisi prosedur untuk memastikan bahwa


seluruh Rekomendasi Hasil Pemantauan Berkelanjutan
ditentukan tanggapan yang tepat, dan dilaksanakannya
tindakan perbaikan. Pedoman tersebut dikomunikasikan
kepada

seluruh

pejabat

unit

di

bawahnya

untuk

dilaksanakan dan dikoordinasikan oleh pimpinan unit yang


ditunjuk.
e. Kegiatan tindak lanjut yang dilakukan oleh setiap unit
dilaporkan secara berkala kepada pimpinan instansi
pemerintah.
5.1 Pemantauan Berkelanjutan

24

f. Monitoring atas efektivitas pelaksanaan tindak lanjut perlu


dilakukan untuk mencegah agar Rekomendasi Hasil
Pemantauan

Berkelanjutan

yang

sama

tidak

terjadi

berulang di dalam organisasi instansi pemerintah.


2. Pengendalian

atas

Pelaksanaan

Rekomendasi

Hasil

Pemantauan Berkelanjutan
Beberapa komponen aktivitas pengendalian yang harus
dibangun dan dipelihara oleh pimpinan instansi pemerintah
dalam

melaksanakan

tindak

lanjut

Rekomendasi

Hasil

Pemantauan Berkelanjutan, antara lain:


a. Setiap instansi pemerintah harus mempunyai pedoman
tertulis yang memuat prosedur untuk memastikan bahwa
seluruh Rekomendasi Hasil Pemantauan Berkelanjutan
lainnya segera dievaluasi, ditentukan tanggapan yang
tepat, dan dilaksanakann tindakan perbaikannya.
b. Prosedur tindak lanjut harus dilaksanakan dalam waktu
sesegera mungkin, terutama untuk Rekomendasi Hasil
Pemantauan Berkelanjutan yang memiliki nilai signifikan,
memengaruhi penyajian laporan keuangan, berkaitan
dengan

pengamanan

aset

instansi

pemerintah,

memengaruhi efektivitas dan efesiensi pencapaian tujuan


organisasi, dan berpotensi menimbulkan masalah hukum
di kemudian hari.
c. Pejabat

yang

ditunjuk

untuk

mengoordinasikan

pelaksanaan tindak lanjut Rekomendasi Hasil Pemantauan


Berkelanjutan, membuat daftar rencana tindak lanjut yang
berisi rekomendasi yang akan ditindaklanjuti oleh pejabat
terkait, waktu pelaksanaan tindak lanjut, dan hasil atau
output dari tindak lanjut yang dilaksanakan.
5.1 Pemantauan Berkelanjutan

25

d. Terdapat mekanisme pelaporan berkala dari pejabat yang


mengoordinasikan

pelaksanaan

tindak

lanjut

serta

komunikasi yang efektif dengan unit atau instansi yang


melaksanakan Pemantauan Berkelanjutan.
3. Pengomunikasian

Tindak

Lanjut

Rekomendasi

Hasil

Pemantauan Berkelanjutan
Pengomunikasian tindak lanjut merupakan kegiatan
yang melibatkan pimpinan instansi pemerintah dan pejabat
unit di bawahnya dengan tim dan pimpinan unit/instansi yang
melaksanakan Pemantauan Berkelanjutan. Beberapa hal yang
perlu dibangun dalam pengomunikasian tindak lanjut hasil
Rekomendasi Hasil Pemantauan Berkelanjutan adalah:
a. Komunikasi yang efektif harus dibangun dengan tim
audit/tim reviu pada saat pelaksanaan audit. Pimpinan
instansi pemerintah dan pejabat unit terkait dengan proses
Pemantauan Berkelanjutan harus memastikan keandalan
temuan

Pemantauan

Berkelanjutan

pada

saat

pembahasan temuan tersebut dengan tim Pemantauan


Berkelanjutan.
b. Pimpinan instansi pemerintah dan pejabat unit terkait harus
mengapresiasi temuan-temuan Pemantauan Berkelanjutan
yang bersifat memperkuat sistem pengendalian intern dan
mendiskusikan dengan tim audit/tim reviu terkait mengenai
permasalahan yang ditemukan.
c. Dalam hal temuan hasil audit dan hasil reviu lainnya
berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan
tidak tepat, maka informasi berupa tanggapan atas hasil
5.1 Pemantauan Berkelanjutan

26

Pemantauan Berkelanjutan supaya segera disampaikan


kepada tim Rekomendasi Hasil Pemantauan Berkelanjutan
dan mengupayakan adanya persepsi yang sama mengenai
permasalahan tersebut sehingga dicapai kesepakatan
bahwa temuan Hasil Pemantauan Berkelanjutan tersebut
tidak perlu ditindaklanjuti.
d. Pimpinan instansi harus memberi perhatian terhadap
semua temuan Hasil Pemantauan Berkelanjutan yang
sudah disepakati dan harus segera ditindaklanjuti. Untuk
mencapai tindak lanjut yang efektif dan efisien, pimpinan
instansi pemerintah atau pejabat unit terkait, terlebih
dahulu dapat melakukan konsultasi dengan unit yang
merekomendasi hasil Pemantauan Berkelanjutan.
e. Pimpinan instansi pemerintah dalam kesempatan pertama
segera menginformasikan kepada pimpinan unit yang
melakukan

Pemantauan

Berkelanjutan

perihal

pelaksanaan tindak lanjut yang telah dilakukan oleh


instansi pemerintah atau unit di bawahnya.
f. Pimpinan instansi pemerintah harus memiliki database
yang

mencatat

semua

informasi

hasil

Pemantauan

Berkelanjutan berdasarkan laporan hasil Pemantauan


Berkelanjutan yang diterima dari unit yang melakukan
Pemantauan Berkelanjutan. Database tersebut di-update
berdasarkan tindak lanjut hasil Pemantauan Berkelanjutan
lainnya yang telah dilaksanakan dan disetujui oleh unit
yang melakukan Pemantauan Berkelanjutan.

5.1 Pemantauan Berkelanjutan

27

Hasil updating database tersebut dilaporkan oleh pejabat


yang mengordinasikan tindak lanjut hasil Pemantauan
Berkelanjutan kepada pimpinan instansi pemerintah.
4. Pemantauan atas pelaksanaan tindak lanjut
Pemantauan atas pelaksanaan tindak lanjut hasil
Pemantauan Berkelanjutan merupakan tahap penting yang
harus dilakukan oleh instansi pemerintah, dengan maksud
untuk memastikan bahwa tindak lanjut yang dilakukan telah
dapat memerbaiki kondisi yang tidak diharapkan atau
menghilangkan penyebab dari kelemahan, serta memberikan
penekanan kepada pimpinan instansi pemerintah atau pejabat
unit di bawahnya bahwa dengan sudah dilaksanakannya
tindak lanjut atas temuan Pemantauan Berkelanjutan tersebut,
maka temuan yang sama diharapkan tidak terjadi berulangulang di tempat yang sama.
Beberapa hal yang harus dibangun dalam rangka pemantauan
atas pelaksanaan tindak lanjut Pemantauan Berkelanjutan
adalah:
a. Pimpinan instansi pemerintah bersama-sama dengan
pimpinan

unit

yang

melaksanakan

Pemantauan

Berkelanjutan, secara berkala melakukan koordinasi untuk


melakukan pemantauan atas pelaksanaan tindak lanjut
hasil Pemantauan Berkelanjutan lainnya.
b. Untuk

efektivitas

pemantauan

tindak

lanjut

hasil

Pemantauan Berkelanjutan, pimpinan instansi pemerintah


dapat mendelegasikan tugas pemantauan tersebut kepada
pejabat unit di bawahnya.
5.1 Pemantauan Berkelanjutan

28

c. Secara berkala pejabat unit yang mempunyai tugas,


melakukan koordinasi untuk Pemantauan Berkelanjutan
dengan pimpinan instansi pemerintah.
d. Pimpinan instansi pemerintah harus melakukan analisis
yang cukup terhadap temuan-temuan hasil Pemantauan
Berkelanjutan yang tidak dapat ditindaklanjuti secara
tuntas. Hasil analisis tersebut dapat digunakan oleh
pimpinan instansi pemerintah untuk memutuskan alternatif
tindak lanjut yang harus dilakukan agar permalahan
temuan Pemantauan Berkelanjutan menjadi tuntas dan
kegiatan organisasi dapat dilaksanakan secara efektif dan
efisien.
e. Pimpinan instansi pemerintah juga harus melakukan
evaluasi yang cukup atas efektivitas pelaksanaan tindak
lanjut hasil Pemantauan Berkelanjutan, yang dilakukan
dengan

maksud

agar

kondisi

yang

menunjukkan

kelemahan sistem pengendalian intern dan penyebab dari


kelemahan yang ditemukan sudah dapat diatasi, serta
mencegah agar permasalahan yang sama tidak terulang
dalam pelaksanaan kegiatan yang sama.
D. Tahap Pelaporan
Setelah tahap pelaksanaan selesai, seluruh kegiatan
penyelenggaraan

sub

unsur

perlu

didokumentasikan.

Pendokumentasian ini merupakan satu kesatuan (bagian yang


tidak terpisahkan) dari kegiatan pelaporan berkala dan tahunan
penyelenggaraan SPIP. Pendokumentasian dimaksud meliputi:

5.1 Pemantauan Berkelanjutan

29

1. Pelaksanaan kegiatan yang terdiri atas:


a. Peningkatan

pemahaman

yang

mencakup

kegiatan

sosialisasi (ceramah, diskusi, seminar, rapat kerja, dan


fokus grup) mengenai pentingnya penerapan pemantauan
berkelanjutan dan kegiatan penyampaian pemahaman
melalui website, multimedia, literatur, dan media lainnya.
b. Pemetaan infrastruktur dan penerapan, yang mencakup
penjelasan mengenai pentingnya penerapan sub unsur
pemantauan
kebijakan,

berkelanjutan,
pedoman,

persiapan
mekanisme

penyusunan
pemantauan

berkelanjutan yang efektif, serta pemberian masukan atas


rencana tindak yang tepat untuk internalisasi penerapan
pemantauan berkelanjutan.
c. Kegiatan pembangunan infrastruktur, yang mencakup
penyusunan kebijakan, pedoman, mekanisme pemantaan
berkelanjutan, serta penyusunan kebijakan, pedoman,
mekanisme reviu atas kinerja instansi pemerintah.
d. Pelaksanaan internalisasi, yang mencakup kegiatan dalam
rangka pemantapan penerapan pemantauan berkelanjutan
dalam

kegiatan

operasional

di

lingkungan

instansi

pemerintah masing-masing.
e. Pengembangan berkelanjutan, yang mencakup kegiatan
pemantauan, usaha

meningkatkan kualitas

komunikasi,

baik kepada internal dan eksternal yang efektif, serta usaha


meningkatkan kualitas sarana komunikasi.

5.1 Pemantauan Berkelanjutan

30

2. Hambatan kegiatan
Apabila ditemukan hambatan-hambatan dalam pelaksanaan
kegiatan yang menyebabkan tidak tercapainya target/tujuan
kegiatan tersebut, agar dijelaskan penyebab terjadinya
hambatan kegiatan.
3. Saran
Saran

diberikan

pelaksanaan

berkaitan

kegiatan

masalah agar

dengan

yang

adanya

memerlukan

hambatan
pemecahan

kejadian serupa tidak terulang dan guna

peningkatan pencapaian tujuan. Saran/rekomendasi yang


diberikan agar realistis dan benar-benar dapat dilaksanakan.
4. Tindak lanjut atas saran periode sebelumnya
Bagian ini melaporkan tindak lanjut yang telah dilakukan atas
saran/rekomendasi yang diberikan pada kegiatan periode
sebelumnya.
Dokumentasi
penyusunan

ini

laporan

merupakan
berkala

dan

bahan

dukungan

tahunan

bagi

(penjelasan

penyusunan laporan dapat dilihat pada buku Pedoman Teknis


Umum Penyelenggaraan SPIP). Kegiatan

pendokumentasian

menjadi tanggung jawab pelaksana kegiatan, yang hasilnya


disampaikan kepada pimpinan instansi pemerintah sebagai
bentuk akuntabilitas, melalui Satuan Tugas Penyelenggaraan
SPIP di instansi pemerintah yang bersangkutan.

5.1 Pemantauan Berkelanjutan

31

5.1 Pemantauan Berkelanjutan

32

BAB IV
PENUTUP

Pemantuan berkelanjutan yang efektif merupakan salah satu


sub unsur penting dalam unsur pemantauan pengendalian intern.
Dengan dilaksanakannya hal ini secara efektif

memungkinkan

dilaksanakannya kewajiban pengendalian intern dan tanggung


jawab operasional secara optimal. Setiap personil dalam organisasi
akan dapat segera melakukan tindakan koreksi atas kelemahan yang
muncul dari pelaksanaan sistem pengendalian intern.
Pemantauan berkelanjutan

menun jukkan arti strategis

unsur pemantauan pengendalian intern terhadap pelak sanaan


pengendalian

intern secara keseluruhan. Tanpa melaksanakan

pemantauan yang teratur dan sistematis, keempat aspek lainnya


yang telah dibangun dengan sumber daya yang besar akan
menjadi tidak efektif, karena tidak mendapatkan umpan balik
berupa penilaian dan perbaikan guna penyempurnaan sistem
pengendalian intern pada suatu organisasi.
Hal-hal yang dicakup dalam pedoman teknis ini adalah
acuan mendasar yang berlaku secara
instansi

pemerintah,

menerapkan

yang

minimal

pemantauan berkelanjutan,

umum

bagi

perlu dipenuhi

seluruh
dalam

dan tidak mengatur

secara spesifik bagi instansi tertentu. Instansi pemerintah


hendaknya dapat mengembangkan lebih jauh langkah-langkah
yang perlu diambil sesuai dengan kebutuhan organisasi, dengan
tetap

mengacu

dan

tidak

bertentangan dengan peraturan

perundang-undangan yang berlaku.


5.1 Pemantauan Berkelanjutan

33