Anda di halaman 1dari 19

RESUME MATERI

TOPIK 7
BIOMASSA (SOLID DAN BIOGAS)

Disusun untuk memenuhi tugas


Mata Kuliah Renewable Technology
yang dibina oleh Dr. M. Alfian Mizzar, M.P.

Oleh:
RIANA NURMALASARI

(140551807225)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEJURUAN


PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
Maret 2015

BIOMASSA
(SOLID DAN BIOGAS)
A. BIOMASSA
1. Pengertian
Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui pross
fotosintetik, baik berupa produk maupun buangan. Contoh biomassa antara
lain adalah tanaman, pepohonan, rumput, ubi, limbah pertanian, limbah
hutan, tinja dan kotoran ternak. Selain digunakan untuk tujuan primer
serat, bahan pangan, pakan ternak, miyak nabati, bahan bangunan dan
sebagainya, biomassa juga digunakan sebagai sumber energi (bahan
bakar). Umum yang digunakan sebagai bahan bakar adalah biomassa yang
nilai ekonomisnya rendah atau merupakan limbah setelah diambil produk
primernya.
Sumber energi biomassa mempunyai beberapa kelebihan antara
lain merupakan sumber energi yang dapat diperbaharui (renewable)
sehingga dapat menyediakan sumber energi secara berkesinambungan
(suistainable). Di Indonesia, biomassa merupakan sumber daya alam yang
sangat penting dengan berbagai produk primer sebagai serat, kayu,
minyak, bahan pangan dan lain-lain yang selain digunakan untuk
memenuhi kebutuhan domestik juga diekspor dan menjadi tulang
punggung penghasil devisa negara.

Gambar 1
2. Biomassa Sebagai Sumber Energi

Potensi biomassa di Indonesia yang bisa digunakan sebagai sumber


energi jumlahnya sangat melimpah. Limbah yang berasal dari hewan
maupun tumbuhan semuanya potensial untuk dikembangkan. Tanaman
pangan dan perkebunan menghasilkan limbah yang cukup besar, yang
dapat dipergunakan untuk keperluan lain seperti bahan bakar nabati.
Pemanfaatan limbah sebagai bahan bakar nabati memberi tiga keuntungan
langsung. Pertama, peningkatan efisiensi energi secara keseluruhan karena
kandungan energi yang terdapat pada limbah cukup besar dan akan
terbuang percuma jika tidak dimanfaatkan. Kedua, penghematan biaya,
karena seringkali membuang limbah bisa lebih mahal dari pada
memanfaatkannya.

Ketiga,

mengurangi

keperluan

akan

tempat

penimbunan sampah karena penyediaan tempat penimbunan akan menjadi


lebih sulit dan mahal, khususnya di daerah perkotaan.
Selain pemanfaatan limbah, biomassa sebagai produk utama untuk
sumber energi juga akhir-akhir ini dikembangkan secara pesat. Kelapa
sawit, jarak, kedelai merupakan beberapa jenis tanaman yang produk
utamanya sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Sedangkan ubi kayu,
jagung, sorghum, sago merupakan tanaman-tanaman yang produknya
sering ditujukan sebagai bahan pembuatan bioethanol.
3. Prinsip Pembakaran Bahan Bakar
Prinsip pembakaran bahan bakar sejatinya adalah reaksi kimia
bahan bakar dengan oksigen (O). Kebanyakan bahan bakar mengandung
unsur Karbon (C), Hidrogen (H) dan Belerang (S). Akan tetapi yang
memiliki kontribusi yang penting terhadap energi yang dilepaskan adalah
C dan H. Masing-masing bahan bakar mempunyai kandungan unsur C
dan H yang berbeda-beda.
Proses pembakaran terdiri dari dua jenis yaitu pembakaran lengkap
(complete combustion) dan pembakaran tidak lengkap (incomplete
combustion). Pembakaran sempurna terjadi apabila seluruh unsur C yang
bereaksi dengan oksigen hanya akan menghasilkan CO2, seluruh unsur H
menghasilkan H2O dan seluruh S menghasilkan SO2. Sedangkan

pembakaran tak sempurna terjadi apabila seluruh unsur C yang dikandung


dalam bahan bakar bereaksi dengan oksigen dan gas yang dihasilkan tidak
seluruhnya CO2. Keberadaan CO pada hasil pembakaran menunjukkan
bahwa pembakaran berlangsung secara tidak lengkap.
Jumlah energi yang dilepaskan pada proses pembakaran
dinyatakan sebagai entalpi pembakaran yang merupakan beda entalpi
antara produk dan reaktan dari proses pembakaran sempurna. Entalpi
pembakaran ini dapat dinyatakan sebagai Higher Heating Value (HHV)
atau Lower Heating Value (LHV). HHV diperoleh ketika seluruh air hasil
pembakaran dalam wujud cair sedangkan LHV diperoleh ketika seluruh air
hasil pembakaran dalam bentuk uap.
Pada umumnya pembakaran tidak menggunakan oksigen murni
melainkan memanfaatkan oksigen yang ada di udara. Jumlah udara
minimum yang diperlukan untuk menghasilkan pembakaran lengkap
disebut sebagai jumlah udara teoritis (atau stoikiometrik). Akan tetapi
pada kenyataannya untuk pembakaran lengkap udara yang dibutuhkan
melebihi jumlah udara teoritis. Kelebihan udara dari jumlah udara teoritis
disebut sebagai excess air yang umumnya dinyatakan dalam persen.
Parameter yang sering digunakan untuk mengkuantifikasi jumlah udara
dan bahan bakar pada proses pembakaran tertentu adalah rasio udarabahan bakar. Apabila pembakaran lengkap terjadi ketika jumlah udara
sama dengan jumlah udara teoritis maka pembakaran disebut sebagai
pembakaran sempurna.
4. Pemanfaatan Energi Biomassa
Agar biomassa bisa digunakan sebagai bahan bakar maka
diperlukan teknologi untuk mengkonversinya. Terdapat beberapa teknologi
untuk konversi biomassa, dijelaskan pada Gambar 2. Teknologi konversi
biomassa tentu saja membutuhkan perbedaan pada alat yang digunakan
untuk mengkonversi biomassa dan menghasilkan perbedaan bahan bakar
yang dihasilkan.

Secara umum teknologi konversi biomassa menjadi bahan bakar dapat


dibedakan menjadi tiga yaitu pembakaran langsung, konversi termokimiawi
dan konversi biokimiawi. Pembakaran langsung merupakan teknologi yang
paling sederhana karena pada umumnya biomassa telah dapat langsung
dibakar.

Beberapa biomassa perlu dikeringkan terlebih dahulu dan

didensifikasi untuk kepraktisan dalam penggunaan. Konversi termokimiawi


merupakan teknologi yang memerlukan perlakuan termal untuk memicu
terjadinya reaksi kimia dalam menghasilkan bahan bakar. Sedangkan
konversi biokimiawi merupakan teknologi konversi yang m
enggunakan bantuan mikroba dalam menghasilkan bahan bakar.
5. Pemanfaatan Energi Biomassa
5.1. Biobriket
Briket adalah salah satu cara yang digunakan untuk mengkonversi
sumber energi biomassa ke bentuk biomassa lain dengan cara
dimampatkan sehingga bentuknya menjadi lebih teratur. Briket yang
terkenal adalah briket batubara namun tidak hanya batubara saja yang bisa
di bikin briket. Biomassa lain seperti sekam, arang sekam, serbuk gergaji,

serbuk kayu, dan limbah-limbah biomassa yang lainnya. Pembuatan briket


tidak terlalu sulit, alat yang digunakan juga tidak terlalu rumit. Di IPB
terdapat banyak jenis-jenis mesin pengempa briket mulai dari yang
manual, semi mekanis, dan yang memakai mesin. Adapun cara untuk
membuat biobriket secara semi mekanis disajikan dalam bentuk video.
5.2. Gasifikasi
Secara sederhana, gasifikasi biomassa dapat didefinisikan sebagai
proses konversi bahan selulosa dalam suatu reaktor gasifikasi (gasifier)
menjadi bahan bakar. Gas tersebut dipergunakan sebagai bahan bakar
motor untuk menggerakan generator pembangkit listrik. Gasifikasi
merupakan salah satu alternatif dalam rangka program penghematan dan
diversifikasi energi. Selain itu gasifikasi akan membantu mengatasi
masalah penanganan dan pemanfaatan limbah pertanian, perkebunan dan
kehutanan. Ada tiga bagian utama perangkat gasifikasi, yaitu : (a) unit
pengkonversi bahan baku (umpan) menjadi gas, disebut reaktor gasifikasi
atau gasifier, (b) unit pemurnian gas, (c) unit pemanfaatan gas.

5.3. Pirolisa
Pirolisa adalah penguraian biomassa (lysis) karena panas (pyro)
pada suhu yang lebih dari 150oC. Pada proses pirolisa terdapat beberapa
tingkatan proses, yaitu pirolisa primer dan pirolisa sekunder.Pirolisa
primer adalah pirolisa yang terjadi pada bahan baku (umpan), sedangkan
pirolisa sekunder adalah pirolisa yang terjadi atas partikel dan gas/uap

hasil pirolisa primer. Penting diingat bahwa pirolisa adalah penguraian


karena panas, sehingga keberadaan O2 dihindari pada proses tersebut
karena akan memicu reaksi pembakaran.
5.4. Liquification
Liquification merupakan proses perubahan wujud dari gas ke
cairan dengan proses kondensasi, biasanya melalui pendinginan, atau
perubahan dari padat ke cairan dengan peleburan, bisa juga dengan
pemanasan atau penggilingan dan pencampuran dengan cairan lain untuk
memutuskan ikatan. Pada bidang energi liquification tejadi pada batubara
dan gas menjadi bentuk cairan untuk menghemat transportasi dan
memudahkan dalam pemanfaatan.
5.5. Biokimia
Pemanfaatan energi biomassa yang lain adalah dengan cara proses
biokimia. Contoh proses yang termasuk ke dalam proses biokimia adalah
hidrolisis, fermentasi dan an-aerobic digestion. An-aerobic digestion
adalah penguraian bahan organik atau selulosa menjadi CH 4 dan gas lain
melalui proses biokimia. Adapun tahapan proses anaerobik digestion
adalah diperlihatkan pada Gambar dibawah.
Selain anaerobic digestion, proses pembuatan etanol dari biomassa
tergolong dalam konversi biokimiawi. Biomassa yang kaya dengan
karbohidrat atau glukosa dapat difermentasi sehingga terurai menjadi
etanol dan CO2. Akan tetapi, karbohidrat harus mengalami penguraian
(hidrolisa) terlebih dahulu menjadi glukosa. Etanol hasil fermentasi pada
umumnya mempunyai kadar air yang tinggi dan tidak sesuai untuk
pemanfaatannya sebagai bahan bakar pengganti bensin. Etanol ini harus
didistilasi sedemikian rupa mencapai kadar etanol di atas 99.5%.

B. BIOGAS
1. Pengertian
Biogas merupakan gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik atau
fermentasi dari bahan-bahan organik termasuk di antaranya; kotoran manusia
dan hewan, limbah domestik (rumah tangga), sampah biodegradable atau
setiap limbah organik yang biodegradable dalam kondisi anaerobik.
Kandungan utama dalam biogas adalah metana dan karbon dioksida. Biogas
dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan maupun untuk menghasilkan
listrik.
2. Biogas dan Aktivitas Anaerobik
Biogas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik sangat populer
digunakan untuk mengolah limbah biodegradable karena bahan bakar dapat
dihasilkan sambil Mengurai dan sekaligus mengurangi volume limbah
buangan. Metana dalam biogas, bila terbakar akan relatif lebih bersih daripada
batu bara, dan menghasilkan energi yang lebih besar dengan emisi karbon
dioksida yang lebih sedikit. Pemanfaatan biogas memegang peranan penting
dalam manajemen limbah karena metana merupakan gas rumah kaca yang
lebih berbahaya dalam pemanasan global bila dibandingkan dengan karbon
dioksida. Karbon dalam biogas merupakan karbon yang diambil dari atmosfer
oleh fotosintesis tanaman, sehingga bila dilepaskan lagi ke atmosfer tidak akan

menambah jumlah karbon di atmosfer bila dibandingkan dengan pembakaran


bahan bakar fosil.
Saat ini, banyak negara maju meningkatkan penggunaan biogas yang
dihasilkan baik dari limbah cair maupun limbah padat atau yang dihasilkan
dari sistem pengolahan biologi mekanis pada tempat pengolahan limbah.
3. Gas landfill
Gas landfill adalah gas yang dihasilkan oleh limbah padat yang
dibuang di landfill. Sampah ditimbun dan ditekan secara mekanik dan tekanan
dari lapisan di atasnya. Karena kondisinya menjadi anaerobik, bahan organik
tersebut terurai dan gas landfill dihasilkan. Gas ini semakin berkumpul untuk
kemudian perlahan-lahan terlepas ke atmosfer. Hal ini menjadi berbahaya
karena:

Dapat menyebabkan ledakan

Pemanasan global melalui metana yang merupakan gas rumah kaca

Material organik yang terlepas (volatile organic compounds) dapat


menyebabkan (photochemical smog)

4. Rentang komposisi biogas umumnya


Komposisi biogas bervariasi tergantung dengan asal proses anaerobik
yang terjadi. Gas landfill memiliki konsentrasi metana sekitar 50%, sedangkan
sistem pengolahan limbah maju dapat menghasilkan biogas dengan 5575%CH4.
Tabel 1. Komposisi biogas

Komponen

Metana (CH4)

55-75

Karbon

dioksida

(CO2)

25-45

Nitrogen (N2)

0-0.3

Hidrogen (H2)

1-5

Hidrogen

sulfida

(H2S)
Oksigen (O2)

0-3
0.1-0.5

5. Kandungan energi
Nilai kalori dari 1 meter kubik Biogas sekitar 6.000 watt jam yang
setara dengan setengah liter minyak diesel. Oleh karena itu Biogas sangat
cocok digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan
pengganti minyak tanah, LPG, butana, batu bara, maupun bahan-bahan lain
yang berasal dari fosil.
6. Pupuk dari Limbah Biogas
Limbah biogas, yaitu kotoran ternak yang telah hilang gasnya (slurry)
merupakan pupuk organik yang sangat kaya akan unsur-unsur yang
dibutuhkan oleh tanaman. Bahkan, unsur-unsur tertentu seperti protein,
selulose, lignin, dan lain-lain tidak bisa digantikan oleh pupuk kimia. Pupuk
organik dari biogas telah dicobakan pada tanaman jagung, bawang merah, dan
padi.
7. Siloksan dan gas engines (mesin berbahan bakar gas)
Dalam beberapa kasus, gas landfill mengandung siloksan. Selama
proses pembakaran, silikon yang terkandung dalam siloksan tersebut akan
dilepaskan dan dapat bereaksi dengan oksigen bebas atau elemen-elemen lain
yang terkandung dalam gas tersebut. Akibatnya akan terbentuk deposit
(endapan) yang umumnya mengandung silika (

) atau silikat (

),

tetapi deposit tersebut dapat juga mengandung kalsium, sulfur belerang, zinc
(seng), atau fosfor. Deposit-deposit ini (umumnya berwarna putih) dapat
menebal hingga beberapa millimeter di dalam mesin serta sangat sulit
dihilangkan baik secara kimiawi maupun secara mekanik.
Pada internal combustion engines (mesin dengan pembakaran
internal), deposit pada piston dan kepala silinder bersifat sangat abrasif,
hingga jumlah yang sedikit saja sudah cukup untuk merusak mesin hingga

perlu perawatan total pada operasi 5.000 jam atau kurang. Kerusakan yang
terjadi serupa dengan yang diakibatkan karbon yang timbul selama mesin
diesel bekerja ringan. Deposit pada turbin dari turbocharger akan menurukan
efisiensi charger tersebut. Stirling engine lebih tahan terhadap siloksan,
walaupun deposit pada tabungnya dapat mengurangi efisiensi.
8. Biogas terhadap gas alam
Jika biogas dibersihkan dari pengotor secara baik, ia akan memiliki
karakteristik yang sama dengan gas alam. JIka hal ini dapat dicapai, produsen
biogas dapat menjualnya langsung ke jaringan distribusi gas. Akan tetapi gas
tersebut harus sangat bersih untuk mencapai kualitas pipeline. Air (H2O),
hidrogen sulfida (H2S) dan partikulat harus dihilangkan jika terkandung dalam
jumlah besar di gas tersebut. Karbon dioksida jarang harus ikut dihilangkan,
tetapi ia juga harus dipisahkan untuk mencapai gas kualitas pipeline. JIka
biogas harus digunakan tanpa pembersihan yang ektensif, biasanya gas ini
dicampur dengan gas alam untuk meningkatkan pembakaran. Biogas yang
telah dibersihkan untuk mencapai kualitas pipeline dinamakan gas alam
terbaharui.
9. Penggunaan gas alam terbaharui
Dalam bentuk ini, gas tersebut dapat digunakan sama seperti
penggunaan gas alam. Pemanfaatannya seperti distribusi melalui jaringan gas,
pembangkit listrik, pemanas ruangan, dan pemanas air. Jika dikompresi, ia
dapat menggantikan gas alam terkompresi (CNG) yang digunakan pada
kendaraan.

10. Proses Pembuatan Biogas


Prinsip pembuatan biogas adalah adanya dekomposisi bahan organik
secara anaerobik (tertutup dari udara bebas) untuk menghasilkan gas yang
sebagian besar adalah berupa gas metan (yang memiliki sifat mudah terbakar)
dan karbon dioksida, gas inilah yang disebut biogas.

Proses penguraian oleh mikroorganisme untuk menguraikan bahanbahan organik terjadi secara anaerob. Proses anaerob adalah proses biologi
yang berlangsung pada kondisi tanpa oksigen oleh mikroorganisme tertentu
yang mampu mengubah senyawa organik menjadi metana (biogas). Proses ini
banyak dikembangkan untuk mengolah kotoran hewan dan manusia atau air
limbah yang kandungan bahan organiknya tinggi. Sisa pengolahan bahan
organik dalam bentuk padat digunakan untuk kompos.
Secara umum, proses anaeorob terdiri dari empat tahap yakni:
hidrolisis, pembentukan asam, pembentukan asetat dan pembentukan metana.
Proses anaerob dikendalikan oleh dua golongan mikroorganisme (hidrolitik
dan metanogen). Bakteri hidrolitik memecah senyawa organik kompleks
menjadi senyawa yang lebih sederhana. Senyawa sederhana diuraikan oleh
bakteri penghasil asam (acid-forming bacteria) menjadi asam lemak dengan
berat molekul rendah seperti asam asetat dan asam butirat. Selanjutnya bakteri
metanogenik mengubah asam-asam tersebut menjadi metana.
10.1 Bahan Baku
Biogas berasal dari hasil fermentasi bahan-bahan organik diantaranya:

Limbah tanaman : tebu, rumput-rumputan, jagung, gandum, dan

lain-lain,
Limbah dan hasil produksi : minyak, bagas, penggilingan padi,

limbah sagu,
Hasil samping industri : tembakau, limbah pengolahan buahbuahan dan sayuran, dedak, kain dari tekstil, ampas tebu dari

industri gula dan tapioka, limbah cair industri tahu,


Limbah perairan : alga laut, tumbuh-tumbuhan air,
Limbah peternakan : kotoran sapi, kotoran kerbau, kotoran
kambing, kotoran unggas.

10.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Pembuatan Biogas


Laju proses anaerob yang tinggi sangat ditentukan oleh faktorfaktor yang mempengaruhi mikroorganisme, diantaranya temperatur, pH,
salinitas dan ion kuat, nutrisi, inhibisi dan kadar keracunan pada proses,

dan konsentrasi padatan. Berikut ini adalah pembahasan tentang faktorfaktor tersebut.
1) Temperatur
Gabungan bakteri anaerob bekerja dibawah tiga kelompok temperatur
utama. Temperatur kriofilik yakni kurang dari 20oC, mesofilik berlangsung
pada temperatur 20-45oC (optimum pada 30-45oC) dan termofilik terjadi
pada temperatur 40-80oC (optimum pada 55-75oC).
2) Derajat keasaman ( pH )
Pada dekomposisi anaerob faktor pH sangat berperan, karena pada rentang
pH yang tidak sesuai, mikroba tidak dapat tumbuh dengan maksimum dan
bahkan dapat menyebabkan kematian yang pada akhirnya dapat
menghambat perolehan gas metana. Bakteri-bakteri anaerob membutuhkan
pH optimal antara 6,27,6, tetapi yang baik adalah 6,67,5. Pada awalnya
media mempunyai pH 6 selanjutnya naik sampai 7,5. Tangki pencerna
dapat dikatakan stabil apabila larutannya mempunyai pH 7,58,5. Batas
bawah pH adalah 6,2, dibawah pH tersebut larutan sudah toxic,
maksudnya bakteri pembentuk biogas tidak aktif. Pengontrolan pH secara
alamiah dilakukan oleh ion NH4+ dan HCO3-. Ion-ion ini akan menentukan
besarnya pH. (Yunus, 1991).
3) Nutrisi
Mikroorganisme membutuhkan beberapa vitamin esensial dan asam
amino. Zat tersebut dapat disuplai ke media kultur dengan memberikan
nutrisi tertentu untuk pertumbuhan dan metabolismenya. Selain itu juga
dibutuhkan mikronutrien untuk meningkatkan aktivitas mikroorganisme,
misalnya besi, magnesium, kalsium, natrium, barium, selenium, kobalt dan
lain-lain (Malina,1992). Bakteri anaerobik membutuhkan nutrisi sebagai
sumber energi yang mengandung nitrogen, fosfor, magnesium, sodium,
mangan, kalsium dan kobalt (Space and McCarthy didalam Gunerson and
Stuckey, 1986). Level nutrisi harus sekurangnya lebih dari konsentrasi
optimum yang dibutuhkan oleh bakteri metanogenik, karena apabila terjadi
kekurangan nutrisi akan menjadi penghambat bagi pertumbuhan bakteri.
Penambahan nutrisi dengan bahan yang sederhana seperti glukosa,

buangan industri, dan sisa sisa tanaman terkadang diberikan dengan tujuan
menambah pertumbuhan di dalam digester (Gunerson and Stuckey, 1986).
4) Keracunan dan Hambatan
Keracunan (toxicity) dan hambatan (inhibition) proses anaerob dapat
disebabkan oleh berbagai hal, misalnya produk antara asam lemak mudah
menguap (volatile) yang dapat mempengaruhi pH. Zat-zat penghambat
lain terhadap aktivitas mikroorganisme pada proses anaerob diantaranya
kandungan logam berat sianida.
5) Faktor Konsentrasi Padatan
Konsentrasi ideal padatan untuk memproduksi biogas adalah 7-9%
kandungan kering. Kondisi ini dapat membuat proses digester anaerob
berjalan dengan baik.
6) Penentuan Kadar Metana Dengan BMP
Uji BMP (Biochemical Methane Potential) ditunjukan untuk mengukur gas
metana yang dihasilkan selama masa inkubasi secara anaerob pada media
kimia. Uji BMP dilakukan dengan cara menempatkan cairan contoh,
inokulan (biakan bakteri anaeorob) dan media kimia dalam botol serum.
Botol serum ini, diinkubasi pada suhu 35oC, lalu pengukuran dilakukan
selama masa inkubasi secara periodik (biasanya setiap 5 hari), sehingga
pada akhir masa inkubasi (hari ke-30) didapatkan akumulasi gas metana.
Pengukuran dilakukan dengan memasukkan jarum suntik (metoda syringe)
ke botol serum.
7) Rasio Carbon Nitrogen (C/N)
Proses anaerobik akan optimal bila diberikan bahan makanan yang
mengandung

karbon

dan

nitrogen

secara

bersamaan.

CN

ratio

menunjukkan perbandingan jumlah dari kedua elemen tersebut. Pada


bahan yang memiliki jumlah karbon 15 kali dari jumlah nitrogen akan
memiliki C/N ratio 15 berbanding 1. C/N ratio dengan nilai 30 (C/N = 30/1
atau karbon 30 kali dari jumlah nitrogen) akan menciptakan proses
pencernaan pada tingkat yang optimum, bila kondisi yang lain juga
mendukung. Bila terlalu banyak karbon, nitrogen akan habis terlebih
dahulu. Hal ini akan menyebabkan proses berjalan dengan lambat. Bila

nitrogen terlalu banyak (C/N ratio rendah; misalnya 30/15), maka karbon
habis lebih dulu dan proses fermentasi berhenti Sebuah penelitian
menunjukkan bahwa aktivitas metabolisme dari bakteri methanogenik
akan optimal pada nilai rasio C/N sekitar 8-20. (Anonymous, 1999a).
8) Kandungan Padatan dan Pencampuran Substrat
Menurut Anonymous (1999a), walaupun tidak ada informasi yang pasti,
mobilitas bakteri metanogen di dalam bahan secara berangsur angsur
dihalangi

oleh

peningkatan

kandungan

padatan

yang

berakibat

terhambatnya pembentukan biogas. Selain itu yang terpenting untuk proses


fermentasi yang baik diperlukan pencampuran bahan yang baik akan
menjamin proses fermentasi yang stabil di dalam pencerna. Hal yang
paling penting dalam pencampuran bahan adalah menghilangkan unsur
unsur hasil metabolisme berupa gas (metabolites) yang dihasilkan oleh
bakteri metanogen, mencampurkan bahan segar dengan populasi bakteri
agar proses fermentasi merata, menyeragamkan temperatur di seluruh
bagian pencerna, menyeragamkan kerapatan sebaran populasi bakteri, dan
mencegah ruang kosong pada campuran bahan.
10.3 Komposisi Biogas
Proses

dekomposisi

anaerobik

dibantu

oleh

sejumlah

mikroorganisme, terutama bakteri metan. Suhu yang baik untuk proses


fermentasi adalah 30-55C, dimana pada suhu tersebut mikroorganisme
mampu merombak bahan bahan organik secara optimal. Hasil
perombakan bahan bahan organik oleh bakteri adalah gas metan seperti
yang terlihat pada tabel dibawah ini:
Tabel : Komposisi biogas (%) kotoran sapi dan campuran kotoran ternak dengan sisa pertanian

Jenis Gas

Kotoran Sapi

Metan (CH4)
Karbon dioksida (CO2)
Nitrogen (N2)
Karbon
monoksida
(CO)
Oksigen (O2)

65,7
27,0
2,3
0
0,1
0,7

Campuran Kotoran +
Sisa Pertanian
54 70
45 57
0,5 3,0
0,1
6,0
-

Propena (C3H8)
Sedikit
Hidrogen sulfida (H2S) 6513
4800 - 6700
Nilai kalori (kkal/m2)
Komposisi biogas yang dihasilkan terdiri dari gas metan (55 - 65
%), karbondioksida ( 35-45%), nitrogen (0-3%), hydrogen (0-1 %), dan
hydrogen sulfida (0-1 %). (Anunputtikul, Rodtong, 2004).
Komposisi biogas bervariasi tergantung dengan asal proses
anaerobik yang terjadi. Gas landfill memiliki konsentrasi metana sekitar
50%, sedangkan sistem pengolahan limbah maju dapat menghasilkan
biogas dengan 55-75%CH4. (Sri Wahyuni, 2009)
11. Manfaat Biogas
Produk utama dari instalsi biogas adalah gas metan yang dapat
dimanfaatkan untuk mendukung kehidupan masyarakat. Manfaat biogas
yang tidak secara langsung adalah menjaga kelestarian lingkunagn hidup
dan konservasi sumberdaya alam, dan lain-lain. Secara lebih rinci manfaat
penggunaan biogas adalah sebagai berikut :
1. Manfaat Langsung :
Sebagai sumber energi untuk memasak
Biogas yang diproduksi oleh satu unit instalasi biogas dapat
digunakan sebagai sumber energi untuk memesak. Untuk biogas
yang menggunakan bahan baku kotoran sapi dari 3-4 ekor mampu
menghasilkan biogas setara dengan 3 liter minyak tanah per hari,
dan diperkirakan mampu untuk memenuhi energi memasak satu
rumah tangga dengan 5 orang anggota keluarga.

Sebagai sumber energi untuk penerangan


Biogas sebagai sumber energi untuk penerangan dengan cara yang
sama seperti pemanfaatan untuk memasak, artinya kompor sebagai
titik akhir penggunaan biogas diganti dengan lampu. Lampu yang
digunakan adalah lampu yang dirancang khusus atau lampu
petromaks

yang

dimodifikasi.

Pengalaman

di

lapangan

menunjukkan bahwa pemanfaatan biogas untuk memasak sekaligus


sebagai sumber penerangan, biasanya dilakukan bila jumlah sapi

paling sedikit 6 ekor dengan model digester permanen bata


kapasitasnya 9 M3 (Muryanto, 2006).

Penghasil pupuk organik siap pakai.


Manfaat lain dari penerapan biogas adalah dapat menyediakan
pupuk organik siap pakai dalan jumlah banyak sesuai dengan
kapasitas digester yang dibangun dan bahan baku yang digunakan.
Kotoran ternak yang telah diproses dalam digester biogas dapat
langsung digunakan sebagai pupuk organik, dan kaya akan
kandungan unsur Nitrogen (N). Bahan baku biogas seperti kotoran
ternak merupakan bahan organik yang mempunyai kandungan
Nitrogen (N) tinggi di samping unsur C, H, dan O. Selama proses
pembuatan biogas, unsur C, H, dan O akan membentuk CH4 dan
CO2, dan kandungan N yang ada masih tetap bertahan dalam sisa
bahan, yang akhirnya akan menjadi sumber N bagi pupuk organik.
(Suriawiria, 2005).

2. Manfaat Tidak Langsung


Mengurangi Efek Gas Rumah Kaca
Penerapan

biogas

pertanian

dengan

dapat

membantu

mendaur

ulang

pengembangan
kotoran

hewan

system
untuk

memproduksi biogas dan diperoleh hasil samping berupa pupuk


organik dengan mutu yang baik. Penerapan biogas dapat
mengurangi emisi gas metan (CH4) yang dihasilkan pada
dekomposisi bahan organik yang diproduksi dari sektor pertanian
dan peternakan, karena kotoran sapi tidak dibiarkan terdekomposisi
secara terbuka melainkan difermentasi menjadi energi biogas. Gas
metan termasuk gas rumah kaca (green house gas), bersama
dengan gas karbondioksida (CO2) memberikan efek rumah kaca
yang menyebabkan terjadinya fenomena pemanasan global.
Pengurangan gas metan secara lokal dengan mengembangkan
biogas dapat berperan positif dalam upaya penyelesaian masalah
global efek rumah kaca, sehingga upaya ini dapat diusulkan sebagai

bagian dari program Internasional Mekanisme Pembangunan


Bersih (Clean Development Mechanism).

Membantu Program Pelestarian Hutan, Tanah dan Air.


Meningkatnya harga BBM khususnya

minyak tanah, akan

mendorong masyarakat untuk mencari alternative bahan bakar


murah, salah satunya adalah kayu bakar. Hal ini sangat mungkin
terjadi di masyarakat yang berdomisili di sekitar kawasan hutan
dan perkebunan. Oleh karena itu, dengan menerapkan biogas
sebagai sumber energi di suatu wilayah, maka penebangan pohon
yang digunakan sebagai sumber energi oleh sebagian masyarakat
dapat dikurangi, bahkan dihilangkan. Dengan kata lain, bahwa
pengembangan biogas di suatu wilayah,secara tidak langsung dapat
mendukung upaya pelestarian hutan atau perkebunan di wilayah
tersebut.

Mengurangi Polusi Bau


Pengembangan biogas mempunyai sifat ramah lingkungan, disini
mengandung

pengertian,bahwa

penerapan

biogas

dapat

menghilangkan bau yang tidak sedap. Sebagai contoh, kotoran sapi


yang awalnya mempunyai bau yang tidak sedap, setelah
dimanfaatkan sebagai bahan baku biogas, makahasil akhir dari
proses tersebut merupakan pupuk organik yang tidak berbau.
Demikian pula untuk daerah yang banyak terdapat industri
pemrosesan makanan, misalnya tahu, tempe dan ikan pindang akan
menghasilkan limbah yang menyebabkan polusi bau yang
mencemari leingkungan. Dengan penerapan biogas di daerah
tersebut, maka limbah yang dihasilkan akan tidak mencemari
lingkungan lagi, bahkan dapat dimanfaatkan sebagai energi yang
dapat dimanfaaatkan sebagai sumber panas untuk memasak dan
penerangan.

Meningkatkan sanitasi lingkungan dan keindahan.


Kotoran ternak dan limbah organik lainnya apabila tidak dikelola
dengan baik dan berserakan dimana-mana, maka akan dapat

mengganggu

keindahan

dan

berdampak

negative

terhadap

kesehatan masyarakat di sekitarnya. Disamping itu, terdapat


kemungkinan bahwa kotoran ternak banyak mengandung bakteri
Colly

yang

membahayakan

bagi

kesehatan

manusia

dan

lingkungannya. Dengan penerapan biogas, dampak negatif tersebut


dapat dikurangi atau dihilangkan.

Meningkatkan Pendapatan Usaha Ternak.


Pengembangan biogas dapat memberi peluang untuk menambah
pendapatan dari hasil penjualan pupuk kompos hasil dari limbah
unit biogas. Selain pendapatan dari pupuk organik, maka penerapan
biogas menghasilkan gas metan yang mempunyai nilai ekonomis.
Jika seorang peternak memelihara 3 ekor sapi perah, maka akan
dihasilkan biogas setara dengan 3 liter minyak tanah sehari. Hal itu
berarti peternak dapat memperoleh tambahan pendapatan dari
penghematan penggunaan minyak tanah sebesar 3 liter per hari.

Mendukung kebijakan Pemerintah mengurangi Subsidi BBM


Penerapan biogas dalam suatu kawasan, dapat mendukung
kebijakan pemerintah untuk mengurangi subsidi BBM. Dengan
penggunaan biogas, maka kebutuan masyarakat akan minyak tanah
akan berkurang,hal ini akan mengurangi beban pemerintah untuk
mensubsidi BBM.