Anda di halaman 1dari 14

BAB I

STATUS PASIEN
A. Anamnesis
Tanggal 10 Juni 2014
1. Identitas Penderita
Nama
: Ny. U
Umur
: 21 tahun
Jenis Kelamin
: Perempuan
Pekerjaan
: Ibu rumah tangga
Agama
: Islam
Alamat
: Sindang Jawa
Status perkawinan : Kawin
Tanggal masuk : 10 Juni 2014
2. Keluhan pertama
Ibu merasa mual berlebihan disertai muntah.
3. Keluhan tambahan
Pasien datang ke ponek RSUD Arjawinangun tanggal 10 Juni 2014 pukul 09:00 WIB
dengan keluhan G0P1A0, usia kehamilan 9 bulan dengan mual hebat disertai muntah
makanan sejak 1 minggu yang lalu, gerakan janin masih dirasakan oleh ibu, ibu
belum merasa mulas. Perdarahan serta keluar air-air disangkal oleh ibu.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat Hipertensi
Riwayat Penyakit Jantung
Riwayat DM
Riwayat Asma
Riwayat Alergi Obat
Riwayat Kebiasaan merokok

: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal
:Disangkal
: Disangkal

5. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat Hipertensi
Riwayat Penyakit Jantung
Riwayat Asma
Riwayat DM
Riwayat Alergi Obat

: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal

6. Riwayat obstetric
Pasien belum pernah hamil sebelumnya.

7. Riwayat Ante Natal Care ( ANC)


Teratur, pertama kali periksa kepuskesmas pada usia kehamilan 1 bulan.
8. Riwayat Haid
Pasien lupa haid pertama dan haid terakhir
9. Riwayat Perkawinan
Menikah 1 kali
10. Riwayat keluarga Berencana
Pasien tidak mengikuti KB karena baru menikah
B. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Interna
Keadaan Umum : Baik, CM,Gizi kesan cukup
Tanda Vital
:
o Tensi
: 110/70 mmHg
o Nadi
: 80 x/menit
o Respirasi Rate
: 20 x/menit
o Suhu
:36,8 C
Kepala

: Normochephal

Mata

: konjungtiva anemis (-/- ), sclera ikterik (-/- )

THT

: Tonsil tidak membesar, Faring hiperemis tidak ada

Leher

: KGB tidak tampak membesar

Thorax

: Glandula Mamae dalam batal normal, areola mamae hiperpigmentasi (+)

Cor

:
Inspeksi

: IC tidak tampak

Palpasi

: IC tidak kuat angkat

Perkusi

: Batas jantung kesan tidak melebar

Auskultasi

:Bunyi jantung I-II intensitas normal,regular,bising (-)

Pulmo :
Inspeksi

: pengembangan dada kanan = kiri

Palpasi

: Fremitus raba dada kanan = kiri

Perkusi

: Sonor / sonor

Auskultasi

: Suara dasar vesikuler ( N/N ), ronkhi basah kasar (-/-).


2

Abdomen

Inspeksi

: Dinding perut > dinding dada


Stria gravidarum ( + )
Linea nigra (+)

Palpasi

: Supel , NT (-). Hepar lien tidak membesar

Perkusi

: Timpani dibawah prosesus xiphoideus redup pada daerah uterus.

Auskultasi

: Peristaltik (+) normal

Genital

: Lendir darah (+), air ketuban (+)

Ekstremitas

: oedema
-

Akral dingin

2. Status Obstetri
Mata
: Conjungtiva Anemis (-/-), sclera ikterik (-/-)
Abdomen
:
Inspeksi : dinding perut > dinding dada, striae gravidarum (+).
Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), TFU 30, PUKA, janin tidak masuk ke
PAP letak obliq
Genital Eksterna : Vulva/vagina tidak ada kelainan.
Pemeriksaan Dalam :
V/v : t.a.k P : tebal Pembukaan: 1 cm (terdapat stosel)
C. PEMERIKSAAN PENUNJANG
D. Kesimpulan

Ny. U, G1P0A0, 21 tahun, gravida 37-38 minggu, dengan hyperemesis gravidarum +


placenta previa totalis + kalsifikasi placenta garde IV + letak obliq. Janin tunggal, hidup
presentasi kepala djj dalam batas normal.
E. Diagnosis
G1P0A0 gravida 37-38 minggu dengan placenta previa totalis + kalsifikasi placenta
grade IV + letak obliq.
F. Diagnosis Banding
Hiperemesis gravidarum + dispepsia
Kehamilan abdominal
G. Tindakan Sectio Saecarea
Tanggal
10 Juni

2014

Follow Up
Ibu merasa hamil 9 bulan, gerakan janin (+) keluhan

Planning
Cefo 2 x 1

mulas, keluar air-air serta keluar lendir darah

Tranex 3 x 1

disangkal oleh ibu. TT : 1x, USG : (+), ANC (+).

As. Mef. 3 x 1
Ketorolac 3 x 1

T : 120/80 mm/Hg
P: 80 x/menit
R: 20 x/menit
S: 36,4C
DJJ : 140 x/menit
KU : Sedang
Kesadaran : CM
Lab : Darah rutin

Leu : 8,1 x 10 gr/dl


HB : 10 x 10 gr/dl
PLT : 245 x 10 gr/dl

Gol. Darah : A

HBSAG (-)
HIV Rapid (-)
SGOT : 15 (0-38)
SGPT : 7 (0-41)
Pemeriksaan Leopold

LI : Tfu : 30
LII : Puka
LIII : kepala janin tidak masuk ke PAP

Hasil USG dr. R


Gravida 37-38 minggu + placenta previa totalis +
kalsifikasi placenta grade IV + letak obliq.
11 Juni

2014
Pagi

Pasien masih merasakan gerakan janin. Mulas, lendir

Hasil konsul dr. Obgyn

darah dan keluar air-air tidak dirasakan ibu.

Planning SC.

T : 110/80 mm/Hg

Siapkan darah 1

P : 83 x/menit

labu post SC

R : 24 x/menit
S: 36,2C
DJJ : 132x/menit
KU : Sedang
Kesadaran : CM
PD: tidak dilakukan
A

G1PoAo Gravida 37-38 minggu dengan placenta


previa totalis + letak obliq + kalsifikasi placenta
grade IV

Pukul

Dilakukan tindakan Sectio Caesarea pukul 11:30-

11: 30

12:58
Diagnosis post SC : G1PoAo gravida 37-38 minggu
dengan kehamilan abdominal
Hasil SC:

Protab post SC

Gastrul

sublingual
Oxytocin drip 2

ampul
Tranfusi 1 labu
Kembali ke
bangsal untuk

Bayi lahir dengan Sectio Caesarea dengan jenis

observasi

kelamin perempuan

BB: 3600 gr
PB: 50 cm
LK: 35 cm
LD: 34 cm

APGAR score 7/8/9


12 Juni

2014

Pasien merasa nyeri pada bekas luka sayatan operasi.

Inject antibiotic

(cefo) 2x1
Inject tranexid

3x1
As. Mefenamat

per oral
Inject

Ketorolac 3x1
Diet tinggi

Pasien belum dapat mobilisasi.


O

T : 120/80 mm/Hg
P : 83 x/menit
R : 24 x/menit
S : 36,5C
Lab

A
13 Juni

2014

Leu : 14,4 x 10 gr/dl


HB : 10,3 x 10 gr/dl
PLT : 205 x 10 gr/dl

protein

P1A0 Post SC hari ke-2


Pasien merasa luka jahitannya sedikit nyeri,

Clyndamicin

3x1
Tablet Fe
1x1

mobilisasi (+)
O

T : 110/70 mm/Hg

P: 80 x/menit
R: 20 x/menit

14 Juni
2014

protein
Clyndamicin

S: 36,5C
A
S

Vit. B complex
3x1
As. Mefenamat
3x1
Diet tinggi

P1A0 Post SC hari ke-3


Pasien masih merasakan sedikit nyeri pada daerah
luka operasi, mobilisasi (+).

S: 36,6C

3x1
Tablet Fe
1x1
Vit. B complex
3x1
As. Mefenamat
3x1
Diet tinggi

P1A0 Post SC hari ke-4

protein
Pasien boleh

pulang
Pasien diberikan

T : 120/70 mm/Hg

P: 80 x/menit

R: 20 x/menit

edukasi untuk
diet tinggi
protein serta
kontrol 1
minggu lagi.

BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI
Kehamilan ekstrauterin di mana konsepsi berkembang dalam rongga perut setelah keluar
fimbriae dari ujung tuba falopi atau melalui defek pada tuba fallopi/rahim. Plasenta bisa tertanam
pada lapisan peritoneum atau visceral abdomen. Kehamilan abdomen bisa dicurigai saat perut
sudah membesar namun rahim tetap kecil untuk usia kehamilan. Kehamilan abdomen terjadi 2%
dari kehamilan ektopik dan 0,01% dari seluruh kehamilan. Kejadian kehamilan abdominal
adalah satu dari 8000 kelahiran. Kondisi ini merupakan penyebab kematian perinatal terbanyak,
7

sedangakan kasus kematian ibu sekitar 6%. Karena kehamilan abdomen sangat jarang
ditemukan, kasusnya tidak dapat diduga, dan diagnosis sering tertunda. USG atau x-ray
menunjukkan visualisasi gas dalam usus ibu bawah janin merupakan diagnosis yang mengarah
kehamilan abdominal. Operasi pengangkatan plasenta, kantung, dan embrio diperlukan jika
melekat pada bagian posterior dari tuba fallopi, ovarium, ligamentum latum, atau uterus.
Prosedur ini sering dipersulit oleh perdarahan masif, karena plasenta cenderung untuk menempel
erat pada peritoneum dan usus, pengangkatan lengkap jarang dilakukan karena plasenta bisa
diserap tubuh sehingga tidak menjadi masalah. Kelanjutan dari pasca operasi antara lain
tertinggalnya jaringan plasenta, infeksi, perdarahan terus menerus dan sterilitas disebut juga
abdominocyesis.1,2,3
B. Klasifikasi
Dalam sebagian besar kasus, kehamilan abdominal yang terjadi merupakan akibat dari implantasi
sekunder dari suatu kehamilan tuba yang pecah. Jarang sekali dijumpai kehamilan abdominal
primer langsung dari kavum abdomen.1,2,3,4,5,6
Kehamilan ektopik biasanya disebabkan oleh terjadinya hambatan pada perjalanan sel telur, dari
indung telur (ovarium) ke rahim (uterus). Pada kasus yang jarang, kehamilan ektopik disebabkan
oleh terjadinya perpindahan sel telur dari indung telur sisi yang satu, masuk ke saluran telur sisi
seberangnya.2,6,7
Berdasar etiologinya kehamilan abdominal terbagi dua, yaitu:
(1) Kehamilan abdominal primer; Terjadi apabila ovum difertilisasi dan berimplantasi langsung
dikavum abdomen. Studdiford (1942) membuat suatu kriteria untuk memastikan kehamilan
abdominal primer, yaitu tuba dan ovum normal tanpa dijumpai bekas trauma, tidak dijumpai
adanya fistula uteroplasenta, dan hasil konsepsi benar-benar murni melengket di permukaaan
peritoneal.
(2) Kehamilan abdominal sekunder; Ini terjadi bila fetus keluar dari tempat inplantasi primernya
melalui suatu robekan ataupun melalui ujung fimbria dan berimplantasi di kavum abdomen.
Sebagian besar kehamilan abdominal merupakan jenis ini.
C. FAKTOR RISIKO
1. Infeksi dan kerusakan tuba
8

Pada pasien dengan kerusakan tuba memiliki kemungkinan 3,5 kali mengalami kehamilan
ektopik. Gangguan tuba biasanya disebabkan oleh infeksi pelvis.
2. Salpingitis isthmica nodosa
Adalah suatu gangguan berupa penebalan pada bagian proksimal tubafalopi dengan
divertikula luminal multiple. Patologi ini meningkatkan kemungkinan kehamilan ektopik
52% lebih tinggi.
3. Kelainan zigot
Yaitu kelainan kromosom dan malformasi.
4. Faktor ovarium
Yaitu migrasi luar ovum (perjalanan ovum dari ovarium kanan ke tuba kiri atau sebaliknya),
pembesaran ovarium dan unextruded ovum.
5. Merokok
Pasien merokok memiliki peningkatan kemungkinan kehamilan ektopik, diduga disebabkan
oleh adanya gangguan imunitas sehingga mudah terkena infeksi pelvis.
6. Penggunaan hormon eksogen (estrogen) seperti pada kontrasepsi oral, IUD, sterilisasi tuba
dengan elektrokoagulasi meningkatkan kemungkinan untuk kehamilan ektopik. Sedangkan
kontrasepsi barrier menurunkan kemungkinan untuk kehamilan ektopik dengan menurunkan
kemungkinan infeksi pelvis.
7. Riwayat menderita kehamilan ektopik sebelumnya
8. Riwayat operasi tuba
9. Endometriosis
10. Cacat bawaan (abnormalitas kongenital) dari saluran telur
D. PATOFISIOLOGI
Prinsip patofisiologi yakni terdapat gangguan mekanik terhadap ovum yang telah dibuahi dalam
perjalanannya menuju kavum uteri. Pada suatu saat kebutuhan embrio dalam tuba tidak dapat
terpenuhi lagi oleh suplai darah dari vaskularisasi tuba itu. Ada beberapa kemungkinan akibat
dari hal ini yaitu :2,4,6
1. Kemungkinan tubal abortion, lepas dan keluarnya darah dan jaringan ke ujung distal
(fimbria) dan ke rongga abdomen. Abortus tuba biasanya terjadi pada kehamilan ampulla,
darah yang keluar dan kemudian masuk ke rongga peritoneum biasanya tidak begitu banyak
karena dibatasi oleh tekanan dari dinding tuba.

2. Kemungkinan ruptur dinding tuba ke dalam rongga peritoneum, sebagai akibat dari distensi
berlebihan tuba.
3. Faktor abortus ke dalam lumen tuba. Ruptur dinding tuba sering terjadi bila ovum
berimplantasi pada ismus dan biasanya pada kehamilan muda. Ruptur dapat terjadi secara
spontan atau karena trauma koitus dan pemeriksaan vaginal. Dalam hal ini akan terjadi
perdarahan dalam rongga perut, kadang-kadang sedikit hingga banyak, sampai menimbulkan
syok dan kematian.
E. MANIFESTASI KLINIK
Trias gejala klinis hamil ektopik terganggu sebagai berikut :
1. Amenorea. Lamanya amenorea bervariasi dari beberapa hari sampai beberapa bulan. Dengan
aminorea dapat dijumpai tanda-tanda hamil muda, yaitu morning sickness, mual atau muntah,
terjadi perasaan ngidam. Biasanya darah berwarna gelap kecoklatan dan keluarnya
intermitten atapun kontinyu.
2. Terjadi nyeri abdomen.
Nyeri abdomen disebabkan oleh kehamilan tuba yang pecah. Timbunan darah menimbulkan
iritasi dan manifestasi rasa nyeri, darah dalam ruangan perut tidak berfungsi dan
menyebabkan pasien tampak pucat (anemia), TD turun sampai shock, bagian ujung-ujung
anggota badan terasa dingin, perut kembung karena darah. Nyeri dapat menjalar keseluruh
abdomen bergantung pada perdarahan di dalamnya. Bila rangsangan darah dalam abdomen
mencapai diafragma, dapat terjadi nyeri di daerah bahu. Bila darahnya membentuk
hematokel (timbunan di daerah kavum douglas) akan terjadi rasa nyeri di bagian bawah dan
saat devekasi.
3. Perdarahan.
Terjadinya abortus atau ruptura kehamilan tuba menimbulkan perdarahan kedalam kavum
abdomen dalam jumlah yang bervariasi. Darah yang tertimbun dalam kavum abdomen tidak
berfungsi sehingga terjadi gangguan dalam sirkulasi umum yang menyebabkan frekuensi
nadi meningkat, tekanan darah menurun, hingga shock. Hilangnya darah dari peredaran darah
umum mengakibatkan penderita tampak anemis, daerah ujung ekstremitas dingin,
berkeringat dingin, kesadaran menurun, dan pada abdomen terdapat timbunan darah.
Gejala-gejala kehamilan ektopik lainnya :1,3,5,6
10

1. Pada pemeriksaan vagina terdapat nyeri goyang bila serviks digerakkan,nyeri pada perabaan
dan kavum douglas menonjol karena ada bekuan darah.
2. Pleuritic chest pain, bisa terjadi akibat iritasi diafragma akibat perdarahan
3. Perubahan uterus
Uterus dapat tumbuh membesar pada 3 bulan pertama akibat hormone yang dilepaskan
plasenta. Uterus dapat terdesak ke sisi yang berlawanan dengan masa ektopik
4. Tekanan darah normal
Kecuali bila terjadi ruptur, perubahan yang terjadi antara lain adanya peningkatan ringan,
respon vasovagal seperti bradikardi dan hipertensi ataupun penurunan tensi tajam disertai
peningkatan nadi bila perdarahan terus berlangsung dan hipovolemia
5. Temperatur
Setelah perdarahan akut suhu tubuh dapat turun atau meningkat > 38Cbila terjadi infeksi.
Gejala
Amenorrhea
Nyeri perut
Mual & muntah
Malaise
Nyeri pada gerakan janin
Perdarahan uterus abnormal

Rahman (1982)
100
70
40
40
-

%
Delke (1982)
100
100
40
70

Costa (1991)
79
20
20
48
31

F. DIAGNOSIS
1. Anamnesis
-

Nyeri perut

Terlambat haid

Perdarahan pervaginam

pingsan

2. Pemeriksaan Fisik
-

Tanda-tanda syok hipovolemik

Tanda-tanda akut abdomen (tegang bagian bawah perut, nyeri tekan, cairan bebas intra
abdomen)

Ditemukan janin dalam letak tidak normal

Tes oksitosin

VT :
11

Fluxus (+)

Portio lembut, nyeri goyang & putar (slinger pain)

Adnexa massa konssistensi lunak keras, ada nyeri tekan

CD menonjol & fluktuasi (cairan) hematokel

3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit serial tiap satu jam menunjukkan
penurunan kadar Hb akibat perdarahan.
Adanya leukositosis ( dapat mencapai > 30.000/L).
Urinary Pregnancy Test, dengan metode inhibisi aglutinasi hanya menunjukkan
positif pada kehamilan ektopik sebesar 50-69%.
Serum -hCG assay.
Serum progesteron, pada kehamilan ektopik, kadarnya lebih rendah dibanding
kehamilan normal intrauterin. Kadar < 5 mg/L menunjukkan kemungkinan besar
adanya kehamilan abnormal.
Kuldosintesis bila hasil aspirasi dari kavum douglas didapatkan jendalan darah dan
darah apapun penyebabnya.
b. Ultrasound Imaging
USG abdominal, kehamilan tuba sulit dideteksi dengan metode ini.
USG vaginal, untuk mendeteksi letak gestational sac. Pada usia kehamilan 6
minggu, bila tidak dijumpai gestational sac maka bisa dicurigai kehamilan ektopik.
Color and Pulsed Doppler Ultrasound, untuk mengidentifikasi karakteristik warna
vaskular, apakah terletak di intrauterine atau ekstrauterine.
c. Kombinasi Serum -hCG dan Sonography
Peningkatan serum hCG> 2000 mIU/mL disertai gestational sac intrauterine yang tidak
dapat diidentifikasi, kemungkinan adanya kehamilan ekstrauterine sangat besar.
d. Laparoskopy
Merupakan gold standar untuk mendiagnosis kehamilan ektopik. Laparoskopi dilakukan
jika dengan pemeriksaan lain diagnosis kehamilan ektopik masih belum dapat
ditegakkan. Dengan metode ini tuba falopi dan ovarium dapat tervisualisasi dengan baik.

12

Akhan dkk. (1990) membuat suatu kriteria untuk kehamilan abdominal, adalah
sebagai berikut: 4,8
-

Tampak janin terpisah dari uterus.

Tidak terlihatnya dinding uterus antara janin dan kandung kemih.

Jarak antara bagian-bagian janin dengan dinding abdomen yang sangat dekat.

Posisi yang tidak wajar (janin terhadap uterus), sikap janin yang tidak wajar, dan dijumpai
plasenta di ekstra uterin.

Yang paling baik sebenarnya pada USG kehamilan abdominal adalah dijumpai kantong
gestasi atau janin di luar kavum uteri 1,9

G. PENATALAKSANAAN
-

Terapi perbaikan keadaan umum IV/transfuse

Memberikan konseling dan membuat persetujuan / penolakan tindakan

Operasi (salpingostomi, salpingektomi, wedge resection konus uerus, ooforektomi, ambil


bagian biopsy gangguan lain

Pasca bedah jika tidak ada komplikasi

H. KOMPLIKASI8
1. Jaringan tropoblastik persisten
2. Kehamilan ektopik persisten. Merupakan komplikasi yang tersering
I. PROGNOSIS
Tergantung kecepatan diagnosis dan penanganan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Joseph HK, M. Nugroho S. 2010. Catatan Kuliah GINEKOLOGI DANOBSTETRI
(OBSGYN ). Yogyakarta : Nuha Medika

13

2. Wiknjosastro, Prof. Dr. Hanifa,SpOG. 2009. Ilmu Kandungan. Jakarta : PT.Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo
3. Mansjoer, Arief. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : MediaAesculapius
4. Manuaba, Prof. Dr. Ida Bagus Gede, SpOG. 1998. Memahami KesehatanReproduksi Wanita.
Jakarta : Arcan
5. Kusmiyati, Yuni, S.ST. 2009. Perawatan Ibu Hamil (Asuhan Ibu Hamil).Yogyakarta:
FitramayaSuryasaputra Manuaba, dr. I.A Sri Kusuma Dewi. 2006. Buku AjarGinekologi
Untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta : EGC
6. Kehamilan Ektopik Lanjut. Diunduh dari : www.scribd.com. 28 Maret 2012
7. Prawirohardjo, Sarwono.Buku Acuan Nasional Pelayanan KesehatanMaternal Dan Neonatal.
2006. Jakarta: PT. Bina Pustaka SarwonoPrawirohardjo
8. Cunningham FG, MacDonald PC, Gant NF. Obstetri Williams (Williams Obstetrics).Edisi
ke-18. Alih Bahasa: Suyono J, Hartono A. EGC. Jakarta. 1995; 599-623.

14