Anda di halaman 1dari 18

PAPER AKUNTANSI KEUANGAN LANJUTAN II

AKUNTANSI DAN TRANSAKSI ATAS PENJABARAN


MATA UANG ASING

Halaman Judul

Kelompok

: B12.6.5

Disusun Oleh Kelompok 2:


1.
2.
3.
4.
5.
6.

Yuni Widiyasari
B12.2012.02208
Munika Sari
B12.2012.02218
Luthfiah Distaputri Ramuwisit
B12.2012.02233
Aisya Nuraida
B12.2012.02234
Novia Ratna P.
B12.2012.02241
Siti Septiani
B12.2012.02254

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO SEMARANG
2015
KATA PENGANTAR
AKUNTANSI DAN TRANSAKSI ATAS PENJABARAN MATA UANG ASING

Page iii

Segala puji bagi Allah SWT. Tuhan Semesta Alam yang telah menciptakan alam
beserta hukum-hukumnya, melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga dengan
pertolongan-Nya penyusun dapat meyelesaikan paper ini. Sholawat serta salam penyusun
sanjungkan untuk junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatsahabatnya serta orang-orang yang mengikuti ajarannya.
Penyusunan paper ini berjudul AKUNTANSI DAN TRANSAKSI ATAS PENJABARAN
MATA UANG ASING. Paper ini telah selesai disusun guna memenuhi tugas matakuliah
Akuntansi Keuangan Lanjutan II.
Penyusun menyadari dalam penyusunan paper ini terdapat banyak kekurangan dan
keterbatasan kemampuan, pengetahuan dan juga pengalaman yang penyusun miliki. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat membantu penyusun harapkan demi
kesempurnaan paper ini dan semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin
Semarang, 10 Maret 2015

AKUNTANSI DAN TRANSAKSI ATAS PENJABARAN MATA UANG ASING

Page iii

DAFTAR ISI
Halaman Judul.............................................................................................................................i
Kata Pengantar...........................................................................................................................ii
Daftar Isi...................................................................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN.........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang...............................................................................................................1
1.2 Ruang Lingkup...............................................................................................................1
BAB 2 PEMBAHASAN............................................................................................................3
2.1. Pengertian.......................................................................................................................3
2.2. Transaksi Mata Uang Asing...........................................................................................4
2.3. Pergerakan Nilai Valuta Asing........................................................................................8
2.4 Konsep Nilai Pertukaran................................................................................................9
2.4.1 Definisi....................................................................................................................9
2.4.2. Tiga alasan tambahan dilakukannya translasi mata uang asing..............................9
2.4.3. Transaksi mata uang bisa terjadi langsung di pasar: Spot, Forward, atau Swap.....9
2.5. Metode Untuk Mencatat Translasi Mata Uang Asing..................................................10
2.5.1. Metode current/non current...................................................................................10
2.5.2. Metode monetary/non monetary...........................................................................10
2.5.3. Metode temporal....................................................................................................11
2.5.4. Metode current rate...............................................................................................11
2.6. Akuntansi Untuk Mata Uang Asing Derivatif..............................................................11
2.6.1. Definisi..................................................................................................................11
2.6.2. Alasan penggunaan derivatif, antara lain :............................................................11
2.6.3. Intrumen derivatif..................................................................................................12
2.6.4. Kegunaan derivatif................................................................................................13
2.7. Lindung Nilai (Hedging)..............................................................................................14
2.7.1. Definisi..................................................................................................................14
2.7.2. Unsur aktivitas hedging.........................................................................................14
2.7.3. Catatan untuk pengukuran efektivitas lindung nilai..............................................15
2.8. Illustration Accounting For A Foreign Currency..........................................................15

AKUNTANSI DAN TRANSAKSI ATAS PENJABARAN MATA UANG ASING

Page iii

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Banyak perusahaan, baik besar maupun kecil, bergantung pada pasar internasional
dalam kegiatan jual beli produk dan jasa mereka. Setiap hari media massa memuat
berita mengenai dampak kegiatan ekspor dan impor pada perekonomian Indonesia
serta pengaruh dari aliran modal antar-negara besar di dunia.
Perusahaan yang beroperasi di pasar internasional dipengaruhi oleh risiko bisnis
normal, seperti kurangnya permintaan atas produk mereka di pasar luar negeri, unjuk
rasa buruh, dan transportasi yang tertunda dalam pengiriman produk mereka kepada
pelanggan luar negeri. Selain itu, perusahaan juga dapat mengalami risiko mata uang
asing ketika melakukan transaksi dalam mata uang lain.
Sebagai contoh, bila sebuah perusahaan Indonesia memperoleh mesin secara kredit
dari produsen di Swiss, perusahaan Swiss tersebut mungkin mengharuskan
pembayaran dalam franc Swiss. Ini berarti perusahaan Indonesia tersebut terkadang
harus menggunakan pedagang mata uang asing atau bank utnuk menukarkan rupiah
ke franc Swiss untuk membayar mesin yang dibeli. Selama proses tersebut,
perusahaan Indonesia dapat mengalami keuntungan atau kerugian kurs dari fluktuasi
dalam nilai rupiah relative terhadap franc Swiss.

1.2

Ruang Lingkup
1. Pernyataan ini harus diterapkan dalam akuntansi untuk transaksi dalam valuta
asing.
2. Pernyataan ini mengatur akuntansi hedge sebatas selisih kurs dalam transaksi
hedge. Aspek lain dari akuntansi hedge diatur dalam standar akuntansi keuangan
terkait.
3. Pernyataan ini tidak mengatur tentang penjabaran laporan keuangan dari
kegiatan usaha luar negeri untuk tujuan konsolidasi, atau konsolidasi parsial,
atau melalui penerapan dengan metode ekuitas (lihat Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan No. 11 tentang Penjabaran Laporan Keuangan dalam
Mata Uang Asing).
4. Pernyataan ini tidak mengatur penyajian laporan arus kas tentang arus kas yang
bersumber dari transaksi valuta asing (lihat Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan No. 2 tentang Laporan Arus Kas).

AKUNTANSI DAN TRANSAKSI ATAS PENJABARAN MATA UANG ASING

Page iii

AKUNTANSI DAN TRANSAKSI ATAS PENJABARAN MATA UANG ASING

Page iii

BAB 2
PEMBAHASAN
1.

Pengertian
Valuta asing atau biasa disebut juga dengan kata lain seperti valas, foreign
exchange, forex atau juga fx adalah mata uang yang di keluarkan sebagai alat
pembayaran yang sah di negara lain.
Uang selain di gunakan sebagai alat pembayaran yang sah, juga mempunyai fungsifungsi lainnya antara lain sebagai tolak ukur kekayaan sesorang, tingkat daya beli
seseorang, danjuga sebagai alat untuk mengukur tingkat kesejahteraan seseorang.
Dalam perkembangannya uang berkembang menjadi komoditas yang bisa di
perdagangkan.
Adapun yang menyebabkan pasar valuta asing bertumbuh dengan pesat antara
lain adalah:
1. Pergerakan nilai valuta asing yang mengalami pergerakan cukup signifikan
sehingga menarik bagi beberapa kalangan tertentu untuk berkecimpung di
dalam pasar valuta asing.
2. Bisnis yang semakin mengglobal. Dengan semakin sengitnya persaingan
bisnis membuat perusahaan harus mencari sumber daya baru yang lebih
murah, dan tersebar di seluruh dunia sehingga menimbulkan permintaan akan
mata uang suatu negara tertentu.
3. Perkembangan telekomunikasi yang begitu cepat dengan adanya sarana
telepon, telex, faximile, internet maka memudahkan para pelaku pasar untuk
berkomunikasi sehingga transaksi lebih mudah di lakukan.
4. Keuntungan yang di peroleh di pasar valuta yang cenderung besar
meningkatakan keinginan berbagai pihak berusaha memperoleh gain dari
pergerakan valuta asing.

Suatu entitas dapat melakukan aktivitas yang menyangkut valuta asing dalam dua
cara, yaitu:
1. Entitas mungkin memiliki transaksi dalam mata uang asing. Mata uang asing
adalah suatu mata uang selain mata uang fungsional suatu entitas, sedangkan

AKUNTANSI DAN TRANSAKSI ATAS PENJABARAN MATA UANG ASING

Page iii

definisi dari mata uang fungsional adalah mata uang pada lingkungan ekonomi
utama dimana suatu entitas beroperasi.
2. Memiliki kegiatan usaha luar negeri. Definisi dari kegiatan usaha luar negeri
adalah suatu entitas yang merupakan entitas anak, perusahaan asosiasi, ventura
bersama atau cabang dari entitas pelapor, yang aktivitasnya dilaksanakan di
suatu negara atau menggunakan mata uang selain mata uang entitas pelapor.

2.

Transaksi Mata Uang Asing


Transaksi dalam mata uang asing yang diatur dalam PSAK No. 10 tentang Transaksi
Mata Uang Asing adalah transaksi yang didominasi atau membutuhkan penyelesaian
dalam suatu mata uang asing, termasuk transaksi yang timbul ketika suatu perusahaan,
seperti:
a. Membeli atau menjual barang atau jasa yang harganya didenominasi dalam suatu
mata uang asing;
b. Meminjam (utang) atau meminjamkan (piutang) dana yang didenominasi dalam
suatu mata uang asing;
c. Menjadi pihak untuk suatu perjanjian dalam valuta asing yang belum terlaksana;
atau
d. Memperoleh atau melepaskan asset, dan menimbulkan atau melunasi kewajiban
yang didenominasi dalam suatu mata uang asing.
Dalam PSAK 10 Transaksi Dalam Mata Uang Asing meliputi :
i.
Pengakuan awal
(26) Transaksi dalam mata uang asing dibukukan dengan menggunakan kurs
pada saat terjadinya transaksi.
ii.

Pelaporan Pada Tanggal Neraca Berikutnya


(27) Pada setiap tanggal neraca, meliputi :
(a) Pos aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan
ke dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tanggal neraca
(b) Pos non-moneter tidak boleh dilaporkan dengan menggunakan kurs
tanggal neraca tetapi tetap harus dilaporkan dengan menggunakan kurs
tanggal transaksi
(c) Pos non-moneter yang dinilai dengan nilai wajar dalam mata uang
asing harus dilaporkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada

iii.

saat nilai tersebut ditentukan


Pengakuan Selisih Kurs

AKUNTANSI DAN TRANSAKSI ATAS PENJABARAN MATA UANG ASING

Page iii

(28) Kecuali untuk hal-hal yang diatur dalam paragraf 31 dan 32, selisih
penjabaran pos aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing
pada tanggal neraca dan laba rugi kurs yang timbul dari transaksi dalam
mata uang asing dikreditkan atau dibebankan pada laporan laba rugi
periode berjalan.
iv.

Transaksi Valuta Berjangka


(29a) Salah satu transaksi valuta berjangka SWAP adalah transaksi pertukaran
dua valuta asing melalui pembelian tunai dengan penjualan kembali
secara berjangka atau penjualan tunai dengan pembelian kembali secara
berjangka. Pada hakikatnya transaksi tersebut dilakukan untuk lebih
mendapatkan kepastian tentang kurs penjabaran yang bersifat tetap
selama dalam kontrak sehingga pembuat transaksi terhindar dari
kerugian akibat perubahan kurs. Dalam transaksi SWAP pembuat
transaksi umumnya memperhitungkan premi yang ditetapkan terlebih
dahulu.
(29b) Perlakuan akuntansi transaksi valuta berjangka yang dilakukan untuk
tujuan hedging hutang adalah sebagai berikut:
Selisih kurs tunai (spot rate) dan kurs masa depan (forward rate)
dicatat sebagai diskonto atau premi yang harus diamortisasi sesuai
dengan jangka waktu kontrak valuta berjangka .
Setiap akhir periode harus dihitung selisih kurs untuk hutang dalam
mata uang asing (yang diproteksi melalui hedging), forward
receivable dan forward payable dalam mata uang asing. Selisih kurs
yang timbul sebagai akibat perbedaan antara kurs tanggal neraca
dengan kurs tunai pada saat terjadinya transaksi diakui sebagai
keuntungan atau kerugian kurs periode berjalan.
Dalam neraca, forward receivable atau forward payable, dan diskonto
atau premi yang belum diamortisasi yang timbul dari kontrak valuta
berjangka yang berhubungan harus dijadikan satu di bagian aktiva

v.

atau kewajiban, tergantung pada posisi neto dari seluruh pos tersebut.
Investasi Neto dalam suatu Entitas Asing
(30) Selisih kurs yang timbul pada suatu pos moneter yang dalam
substansinya membentuk bagian investasi neto perusahaan dalam suatu
entitas asing harus diklasifikasikan sebagai ekuitas dalam laporan

AKUNTANSI DAN TRANSAKSI ATAS PENJABARAN MATA UANG ASING

Page iii

keuangan perusahaan hingga saat pelepasan (disposal) investasi neto dan


pada saat tersebut harus diakui sebagai pendapatan atau beban (lihat
PSAK No.11 tentang Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang
Asing).
(31) Selisih

kurs

yang

timbul

dari

kewajiban

valuta

asing

yang

diperhitungkan sebagai suatu hedging dari investasi neto perusahaan


dalam suatu entitas asing harus diklasifikasikan sebagai ekuitas dalam
laporan keuangan perusahaan hingga pelepasan {disposal) investasi neto,
dan pada saat tersebut harus diakui sebagai pendapatan atau sebagai
beban (lihat PSAK No. 11 tentang Penjabaran Laporan Keuangan
dalam Mata Uang Asing).
vi.

Perlakuan Alternatif yang Diijinkan


(32) Selisih kurs dapat disebabkan karena suatu devaluasi atau depresiasi luar
biasa suatu mata uang di mana tidak mungkin dilakukan hedging dan
menimbulkan kewajiban yang tak terselesaikan akibat perolehan aktiva
yang harus dibayar dalam suatu mata uang asing. Selisih kurs tersebut
dapat dimasukkan sebagai nilai tercatat (carrying amount) aktiva yang
bersangkutan dengan pengertian nilai tercatat yang disesuaikan tersebut
tidak melampaui jumlah terendah antara biaya pengganti (replacement
cost) dan jumlah yang mungkin diperoleh kembali (amount recoverable)
dari penjualan atau penggunaan aktiva tersebut Alternatif yang dipilih
harus diungkapkan secukupnya.

vii.

Pengungkapan
(33) Perusahaan harus mengungkapkan :

Jumlah selisih kurs yang diperhitungkan dalam laba neto atau kerugian

untuk periode tersebut;


Selisih kurs neto yang diklasifikasikan dalam kelompok ekuitas sebagai
suatu unsur yang terpisah, dan rekonsiliasi selisih kurs tersebut pada

awal dan akhir periode; dan


Jumlah selisih kurs yang timbul selama periode, yang termasuk dalam
nilai tercatat suatu aktiva sesuai dengan perlakuan alternatif yang
diijinkan dalam paragraf 32.

AKUNTANSI DAN TRANSAKSI ATAS PENJABARAN MATA UANG ASING

Page iii

Perlakuan akuntansi untuk transaksi dalam mata uang asing selain kontrak
berjangka adalah:
1. Pengakuan awal
Transaksi dalam mata uang asing dibukukan dengan menggunakan kurs pada
saat terjadinya transaksi. Kurs tunai yang berlaku pada tanggal transaksi sering
disebut kurs spot (spot rate). Untuk alasan praktis, suatu kurs yang mendekati
kurs tanggal transaksi sering digunakan, contohnya, suatu kurs rata-rata selama
seminggu atau sebulan mungkin digunakan untuk seluruh transaksi dalam
setiap mata uang asing yang terjadi selama periode itu. Namun, jika kurs
berfluktuasi secara signifikan, penggunakan kurs rata-rata untuk satu periode
tidak dapat diandalkan.
2. Pelaporan pada Tanggal Neraca Berikutnya Pada setiap tanggal neraca
a) Pos aktiva dan kewajiban moneter dalam mata uang asing dilaporkan ke
dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tanggal neraca. Apabila
terdapat kesulitan dalam menentukan kurs tanggal neraca, maka dapat
b)

digunakan kurs tengah Bank Indonesia sebagai indikator yang obyektif.


Pos non-moneter tidak boleh dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal
neraca tetapi tetap harus dilaporkan dengan menggunakan kurs tanggal

c)

transaksi.
Pos non-moneter yang dinilai dengan nilai wajar dalam mata uang asing
harus dilaporkan dengan menggunakan kurs yang berlaku pada saat nilai

tersebut ditentukan.
3. Pengakuan Selisih Kurs
Selisih kurs timbul apabila terdapat perubahan kurs antara tanggal transaksi
dan tanggal penyelesaian (settlement date) pos moneter yang timbul dari
transaksi dalam mata uang asing. Bila timbulnya dan penyelesaian suatu
transaksi berada dalam suatu periode akuntansi yang sama, maka seluruh
selisih kurs diakui dalam periode tersebut. Namun jika timbulnya dan
diselesaikannya suatu transaksi berada dalam beberapa periode akuntansi,
maka selisih kurs harus diakui untuk setiap periode akuntansi dengan
memperhitungkan perubahan kurs untuk masing-masing periode.
3.

Pergerakan Nilai Valuta Asing

AKUNTANSI DAN TRANSAKSI ATAS PENJABARAN MATA UANG ASING

Page iii

Pergerakan nilai valuta asing yang selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu karena
hukum demand dan supply selalu melibatkan berbagai pelaku pasar yang mempunyai
berbagai kepentingan. Pelaku pasar tersebut antara lain adalah :
1) Perusahaan.
Kegiatan impor.
Eksplorasi market untuk memperluas jaringan distribusi barang dan jasa yang
telah di produksi oleh perusahaan tersebut
2) Masyarakat atau perorangan.
Kegiatan spekulasi, yaitu dengan memanfaatkan fluktuasi pergerakan nilai
valuta asing untuk memperoleh keuntungan.
Konsumsi pada saat berada di luar negeri.
3) Bank Umum. Bank umum melakukan transaksi jual beli valas untuk berbagai
keperluan antara lain melayani nasabah yang ingin menukarkan uangnya kedalam
bentuk mata uang lain. Untuk memenuhi kewajibannya dalam bentuk valuta
asing.
4) Broker. Broker adalah perusahaan yang menjadi perantara terjadinya transaksi
valuta asing. Mereka membantu kita untuk mencarikan pembeli ataupun penjual.
5) Pemerintah. Pemerintah melakukan transaksi valuta asing untuk berbagai tujuan
antara lain membayar hutang luar negeri, menerima pendapatan dari luar negeri
yang harus di tukarkan lagi kedalam mata uang lokal.
6) Bank Sentral. Di banyak negara bank sentral adalah lembaga independent yang
bertugas menstabilkan mata uangnya. Biasanya bank sentral melakukan jual beli
valuta asing dalam rangka menstabilkan nilai tukar mata uangnya yang biasa
disebut dengan kegiatan intervensi.

2.4 KONSEP NILAI PERTUKARAN


2.4.1 Definisi
Translasi mata uang asing adalah proses pelaporan informasi keuangan dari
satu mata uang ke mata uang lainnya. Translasi mata uang asing dilakukan
untuk mempersiapkan laporan keuangan gabungan yang memberikan laporan
pada pembaca informasi mengenai operasional perusahaan secara global,
dengan memperhitungkan laporan keuangan mata uang asing dari anak
perusahaan terhadap mata uang asing induk perusahaan.
Translasi tidak sama dengan konversi. Translasi hanyalah perubahan satuan
unit moneter, seperti halnya sebuah neraca yang dinyatakan dalam pound
Inggris disajikan ulang kedalam nilai ekuivalen dollar AS. Tidak ada

AKUNTANSI DAN TRANSAKSI ATAS PENJABARAN MATA UANG ASING

Page iii

pertukaran fisik yang terjadi, dan tidak ada transaksi terkait yang terjadi seperti
bila dilakukan konversi.
2.4.2. Tiga alasan tambahan dilakukannya translasi mata uang asing, yaitu:
1. Mencatat transaksi mata uang asing
2. Memperhitungkan efeknya perusahaan terhadap translasi mata uang; dan
3. Berkomunikasi dengan peminat saham asing.
1.4.3.

Transaksi mata uang bisa terjadi langsung di pasar spot, pasar

forward, atau pasar swap.


Kurs pasar spot dipengaruhi berbagai faktor, termasuk juga perbedaan
tingkat inflasi antar negara, perbedaan pada saham nasional, dan ekspektasi
mengenai arah tingkat mata uang selanjutnya. Kurs ini bersifat langsung

atau tidak langsung.


Kurs pada pasar forward adalah persetujuan untuk mentranslasikan
sejumlah mata uang yang telah ditetapkan untuk masa yang akan datang.
Transaksi pada pasar forward mendapatkan potongan atau premi dari pasar

spot, atau sebagai tingkat palsu pasar forward.


Transaksi kurs swap melibatkan pembelian spot dan penjualan forward
yang simultan, atau penjualan spot dan pembelian forward mata uang.

1.5.

METODE UNTUK MENCATAT TRANSLASI MATA UANG ASING


1.5.1. Metode Current/non current
Metode ini merupakan metode yang paling tua di antara metode konversi mata
uang. Dengan metode ini, semua aset dan kewajiban lancar dari cabangcabang perusahaan dilaporkan dalam mata uang Negara asal dengan kurs saat
ini, yaitu kurs pada saat neraca disusun. Sedang aset dan kewajiban yang tidak
lancar (noncurrent), seperti biaya depresiasi, dilaporkan pada kurs historis,
yaitu kurs pada saat asset diperoleh ataupun pada saat kewajiban terjadi. Oleh
karena itu, cabang perusahaan di luar negeri yang memiliki modal kerja yang
dinilai positif dalam mata uang lokal akan meningkatkan resiko rugi
(translation loss) akibat devaluasi dengan metode current/non current.
Sebaliknya bila modal kerja ternyata negatif dinilai dalam mata uang lokal
berarti terdapat keuntungan (translation gain) akibat revaluasi dengan metode
tersebut.

AKUNTANSI DAN TRANSAKSI ATAS PENJABARAN MATA UANG ASING

Page iii

2.5.2. Metode Monetary/non monetary


Aset moneter (terutama kas, surat-surat berharga, piutang, dan piutang jangka
panjang) dan kewajiban moneter (terutama utang lancar dan utang jangka
panjang) ditranslasikan pada kurs saat ini. Sedang pos-pos nonmoneter, seperti
stock barang, asset tetap, dan investasi jangka panjang, ditranslasi pada kurs
historis.
Pos-pos dalam laporan laba/rugi ditranslasi pada kurs rata-rata pada periode
tersebut, kecuali untuk pos penerimaan dan biaya yang berkaitan dengan asset
dan kewajiban non moneter. Biaya depresiasi dan biaya penjualan ditranslasi
pada kurs yang sama dengan pos dalam neraca. Akibatnya, biaya penjualan
bisa saja ditranslasi dengan kurs yang berlainan dengan kurs yang digunakan
untuk mentranslasi penjualan. Perlu diperhatikan bahwa metode moneter-non
moneter bergantung pada klasifikasi skema neraca untuk menentukan kurs
translasi yang tepat. Hal ini dapat menghasilkan hasil yang kurang tepat.

2.5.3. Metode Temporal


Dengan metode temporal, translasi mata uang asing tidak mengubah sifat
sebuah item yang dihitung, hal tersebut hanya mengubah unit perhitungannya
saja. Metode tidak mengubah atribut suatu pos yang diukur, melainkan hanya
mengubah unit pengukuran. Translasi saldo-saldo dalam mata uang asing
menyebabkan pengukuran ulang denominasi pos-pos tersebut, tetapi bukan
penilaian sesungguhnya.
Pada metode kurs sementara, item moneter seperti kas, piutang, dan utang
ditranslasikan dalam kurs nilai saat itu. Item nonmoneter ditranslasikan pada
kurs yang menjadi dasar perhitungan awal. Secara spesifik, asset yang dihitung
harga peroleannya pada laporan dengan mata uang asing ditranslasikan pada
kurs historis.
2.5.4. Metode Current Rate
Metode ini merupakan metode yang paling mudah karena semua pos neraca
dan laba/rugi ditranslasikan pada kurs saat ini. Dengan metode ini, bila asset

AKUNTANSI DAN TRANSAKSI ATAS PENJABARAN MATA UANG ASING

Page iii

yang didenominasi dalam valas melebihi kewajiban dalam valas, suatu


devalusai akan menghasilkan kerugian.

2.6.

AKUNTANSI UNTUK MATA UANG ASING DERIVATIF


2.6.1.
Definisi
Derivatif adalah sebuah kontrak bilateral atau perjanjian penukaran
pembayaran yang nilainya diturunkan atau berasal dari produk yang menjadi
"acuan pokok" atau juga disebut " produk turunan" (underlying product)
daripada memperdagangkan atau menukarkan secara fisik suatu aset, pelaku
pasar membuat suatu perjanjian untuk saling mempertukarkan uang, aset atau
suatu nilai disuatu masa yang akan datang dengan mengacu pada aset yang
menjadi acuan pokok.
2.6.2. Alasan penggunaan derivatif, antara lain :
Peralatan untuk mengelola risiko
Pencarian untuk hasil yang lebih besar
Biaya pendanaan yang lebih rendah
Kebutuhan-kebutuhan yang selalu berubah dan sangat bervariasi dari
sekelompok pengguna
Hedging risiko-risiko saat ini dan masa datang
Mengambil posisi-posisi risiko pasar
Memanfaatkan ketidakefisienan yang ada di antara pasar-pasar
2.6.3. Intrumen Derivatif
1. Forward Contract, Menurut Siahaan (2008) definisi dari forward contract
atau kontrak penyerahan kemudian adalah perjanjian antara dua pihak,
dimana satu pihak diwajibkan menyerahkan sejumlah asset tertentu pada
tanggal tertentu yang akan datang dan pihak lainnya wajib membayar sesuai
dengan jumlah tertentu yang dikenakan atas asset pada tanggal penyerahan.
Sebagai kesepakatan pribadi antara dua pihak, forward contract diatur
secara khusus untuk memenuhi kebutuhan masing-masing pihak. Tujuan
dari kontrak ini adalah untuk melindungi kedua belah pihak dari fluktuasi
nilai asset yang mungkin terjadi selama kurun waktu tertentu, yaitu sejak
kontrak ditandatangani hingga penyerahan atau pembayaran yang
dilakukan.
2. Future Contract, Menurut Hull (2006) kontrak berjangka merupakan
perjanjian atau kesepakatan untuk membeli atau menjual asset tertentu pada
saat tententu dengan atau pada harga tertentu dalam kurun waktu tertentu di
masa yang akan datang. Future contract berbeda dengan forward contract

AKUNTANSI DAN TRANSAKSI ATAS PENJABARAN MATA UANG ASING

Page iii

dimana future contract bentuknya sudah standard (sudah dibuat baku), telah
disekuritisasi dan diperdagangkan di pasar tententu, di tengah-tengah
masyarakat. Kontrak tidak dilakukan secara pribadi oleh dua pihak, tetapi
dilakukan melalui bursa yang terorganisir.
3. Kontrak Opsi, dasarnya dibedakan menjadi dua macam, yaitu calls sebagai
hak beli dan puts sebagai hak jual. Pembeli calls atau pemilik calls memiliki
hak membeli asset tertentu pada harga tertentu dan tanggal tertentu di masa
yang akan datang. Sebaiknya pembeli puts atau pemilik puts memiliki hak
menjual asset tertentu pada harga tertentu dan pada tanggal tertentu di masa
yang akan datang. Harga dalam kontrak disebut strike price atau exercise
price, dan tanggal pada kontrak disebut maturity date. Gaya opsi ini ada
dua, gaya Eropa dan gaya Amerika. Opsi eropa dapat diexercise hanya
persis pada tanggal jatuh tempo saja, sedangkan opsi Amerika dapat
diexercise kapan saja sepanjang hidup opsi atau selama opsi belum jatuh
tempo maupun persis pada tanggal jatuh tempo.
4. Swaps Contract, Merupakan kesepakatan antara dua pihak atau perusahaan
untuk saling mempertahankan arus kas di masa tertentu (selama kurun
waktu tertentu) yang akan datang. Kesepakatan ini ditentukan secara
spesifik tanggal pembayaran tunai dan cara menghitung jumlah tunai yang
akan saling dipertukarkan (dibayarkan masing-masing pihak). Biasanya di
dalam perhitungan telah dipertimbangkan nilai yang akan datang, tingkat
bunga, kurs mata uang, dan variabel-variabel lainnya yang relevan.
3 Karakteristik instrumen derivatif
Instrumen derivatif, adalah suatu instrumen keuangan atau kontrak lain dengan
a)

tiga karakteristik berikut ini :


Nilainya berubah sebagai akibat dari perubahan variabel yang telah
ditentukan sering disebut dengan variabel yang mendasari/underlying,
antara lain suku bunga, harga instrumen keuangan, harga komoditas, nilai
tukar mata uang asing, indeks harga atau indeks suku bunga, peringkat
kredit atau indeks kredit, atau variabel lainnya. Untuk variabel nonkeuangan, variabel tersebut tidak berkaitan dengan pihak-pihak dalam

b)

kontrak
Tidak memerlukan investasi awal neto atau memerlukan investasi awal
neto dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan dengan jumlah yang

AKUNTANSI DAN TRANSAKSI ATAS PENJABARAN MATA UANG ASING

Page iii

diperlukan untuk kontrak serupa lainnya yang diharapkan akan


menghasilkan dampak yang serupa sebagai akibat perubahan faktor pasar.
Diselesaikan pada tanggal tertentu di masa mendatang.

c)
2.6.4.

Kegunaan derivatif
1. Asuransi dan lindung nilai
Salah satu kegunaan derivatif adalah sebagai suatu alat untuk mengalihkan
risiko. Contohnya, petani dapat menjual kontrak berjangka atas hasil
panenan kepada spekulator sebelum panen dilakukan. Si petani melakukan
lindung nilai atas risiko naik atau turunnya harga panenan dan si
spekulator menerima pengalihan risiko ini dengan harapan imbalan yang
besar. Sipetani mengetahui secara pasti nilai jual hasil panen yang akan
diperolehnya kelak dan si spekulator akan memperoleh keuntungan
apabila harga jual mengalami kenaikan namun apabila harga jual
mengalami penurunan maka ia akan mengalami kerugian.
2. Spekulasi dan arbitrasi
Arbitrasi atau juga dikenal dengan istilah asing "arbitrage" ini bisa
diartikan sebagai suatu tindakan mengambil keuntungan dengan
memanfaatkan perbedaan antara satu aset acuan dan aset acuan lainnya.
Spekulator dapat bertransaksi dengan spekulator lainnya juga dengan
orang yang membutuhkan lindung nilai (hedger). Pada umumnya transaksi
pasar pasar derivatif lebih didominasi oleh perdagangan spekulatif
daripada perdagangan lindung nilai dalam artian yang sesungguhnya.

2.7.

LINDUNG NILAI (HEDGING)


2.7.1.
Definisi
Lindung

Nilai

menggunakan

(Hedging)
derivatif

adalah
atau

teknik

instrumen

manajemen

risiko

dengan

hedging

lainnya

untuk

mengkompensasi (offset) perubahan nilai wajar atau perubahan arus kas terkait
asset, kewajiban, dan transaksi-transaksi di masa depan. IAS 39 mencakup
prinsip-prinsip akuntansi khusus untuk aktivitas hedging. Apabila kondisikondisi tertentu terpenuhi, entitas diperbolehkan untuk menyimpang dari
ketentuan-ketentuan akuntansi yang lazim dan menerapkan hedge accounting

untuk asset dan kewajiban yang terkait dengan aktivitas hedging.


IAS 39 mengidentifikasi tiga jenis hedging :
Fair value hedges, atau lindung nilai wajar.

AKUNTANSI DAN TRANSAKSI ATAS PENJABARAN MATA UANG ASING

Page iii

Cash flow hedges, atau lindung arus kas


Lindung investasi netto dalam operasi luar negeri.
2.7.2.
1)

Unsur Aktivitas Hedging


Instrumen hedging, mencakup derivatif, asset keuangan non-derivatif, atau
kewajiban keuangan non-derivatif. Semua kontrak derivatif dengan pihak
eksternal bisa digunakan sebagai instrumen hedging, kecuali untuk sebagian
written options. Asset dan kewajiban non-derivatif hanya bisa digunakan
sebagai instrumen hedging atas risiko mata uang asing. Untuk menjadi
instrumen hedging, nilai wajar instrumen hedging atau arus kas yang
diakibatkannya harus mengkompensasi perubahan nilai wajar atau arus kas
asset, kewajiban, atau transaksi yang dilindunginya. Untuk tujuan hedging,
hanya instrumen yang terkait dengan pihak eksternal saja yang boleh

2)

digunakan sebagai instrumen hedging.


Item yang dilindungi, (hedged item) mencakup asset, kewajiban, komitmen
perusahaan, transaksi yang akan terjadi di masa depan, atau investasi netto
dalam operasi luar negeri. Untuk menjadi item yang dilindungi, suatu item
harus berisiko bagi perusahaan, nilai wajar atau arus kas yang
diakibatkannya di masa depan mungkin berubah dan mempengaruhi laba
perusahaan.

2.7.3.
Catatan Untuk Pengukuran Efektivitas Lindung Nilai
PSAK 55 menyatakan bahwa, pada setiap awal transaksi lindung nilai,
perusahaan harus mendefinisikan metode yang digunakan untuk mengukur
efektivitas lindung nilai. Efektivitas berarti akan terdapat penghapusan, dalam
kisaran 80% sampai 125%, dari perubahan nilai wajar arus kas dan perubahan
nilai wajar risiko yang dilindung nilai. Efektivitas harus dinilai paling tidak
setiap tiga bulan dan pada saat perusahaan melaporkan laporan keuangan atau
laba. Perusahaan dapat memutuskan untuk memilih dari beberapa pengukuran
yang berbeda untuk menilai efektivitas lindung nilai.

2.8.

ILLUSTRATION ACCOUNTING FOR SALES AND PURCHASES


DENOMINATED IN A FOREIGN CURRENCY
The following entries illustrate the method requied by the IASB dan FASB. Assume
that a U.S firm imports equipment from Germany on March 1 for 200,000 when the

AKUNTANSI DAN TRANSAKSI ATAS PENJABARAN MATA UANG ASING

Page iii

exchange rate is $ 1.3112 per euro. Payment in euro does not have to be made until
April 30. Assume that on March 31, the exchange rate is $ 1.3500 and on April 30 is $
1.3300. Also, assume that the firms books areclosed at the end of the calender quarter.

ANSWER :
March 1

Purchases

262,240

Accounts Payable

262,240

( 200,000 x 1.3112)
March 31

Foreign Exchange Loss

7,760

Account Payable

7,760

( 200,000 x (1.3112-1.3500))
April 30

Account Payable

270,000

Foreign exchange gain


Cash (200,000 x 1.3300)

AKUNTANSI DAN TRANSAKSI ATAS PENJABARAN MATA UANG ASING

4,000
266,000

Page iii