Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERWATAN PADA KLIEN DENGAN SECTIO CAESAREA ATAS


INDIKASI KETUBAN PECAH DINI (KPD)
DI RUANG OK IGD RSUD Dr.MOEWARDI SURAKARTA

A. KONSEP DASAR SECTIO CAESAREA


1.Pengertian Sectio Caesarea

Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui
suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam
keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram (Sarwono, 2009)
Sectio caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada
dinding uterus melalui depan perut atau vagina. Atau disebut juga histerotomia untuk
melahirkan janin dari dalam rahim. (Mochtar, 1998)
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa section caesaria adalah
suatu pembedahan untuk melahirkan janin dengan berat badan diatas 500 gram melalui
suatu insisi pada dinding perut, dinding uterus ataupun pada vagina.
2.Klasifikasi Sectio Caesarea

Berdasarkan letak insisi:


a. Abdomen (SC Abdominalis)
1) Sectio Caesarea Transperitonealis
Sectio caesarea klasik atau corporal dengan dilakukan insisi memanjang pada
corpus uteri. Kelebihan dari section caesaria jenis ini adalah dapat mengeluarkan
janin lebih cepat, tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik, dan
sayatan dapat diperpanjang proksimal maupun distal. Sedangakan kekurangan
dari cara ini adalah infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak
ada reperitonealisasi yang baik dan untuk persalinan berikutnya lebih sering
terjadi ruptura uteri spontan.
2) Sectio caesarea profunda dengan dilakukan insisi pada segmen bawah rahim.
Insisi pada bawah rahim, bisa dengan teknik melintang atau
memanjang. Kelebihan pendarahan luka inisisi tidak terlalu banyak,
bahaya peritonitis tidak besar, perut uterus umumnya kuat sehingga
bahaya rupture uteri dikemudian hari, penjahitan luka lebih

mudah, penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik. Sedangkan kekurangan


luka dapat melebar kekiri, bawah, dan kanan sehingga mengakibtakan pendarahan
yang banyak serta keluhan pada kandung kemih.
3) Sectio caesarea ekstra peritonealis
Merupakan sectio caesarea tanpa membuka peritoneum parietalis dan dengan
demikian tidak membuka kavum abdominalis. Biasanya dilakukan pada pasien
infeksi uterin berat.
4) Sectio caesarea Hysteroctomi
Setelah dilakukan section caesaria, dilakukan hysteroktomy dengan indikasi
atonia uteri, plasenta accrete, myoma uteri, infeksi intra uteri berat.
b. Vagina (sectio caesarea vaginalis)
Berdasarkan teknik:
a. Seksio caesarea primer (efektif)

b.

c.

d.

e.

Dari semula telah direncanakan janin akan dilahirkan secara Seksio sesarea, tidak
diharapkan lagi kelahiran biasa. Misalnya pada panggul yang sempit (CV kecil dari 8
cm)
Seksio caesarea sekunder
Dalam hal ini kita bersikap mencoba menunggu kelahiran biasa (partus percobaan),
bila tidak ada kemajuan persalinan atau partus percobaan gagal, baru dilakukan
Seksio sesarea.
Seksio caesarea ulang (repeat caesarean section)
Ibu pada kehamilan yang lalu mengalami Seksio sesarea (previous caesarean section)
dan pada kehamilan selanjutnya dilakukan Seksio sesarea ulang.
Operasi Porro (Porro Operation)
Adalah suatu operasi tanpa mengeluarkan janin dari kavum uteri (tentunya janin
sudah mati), dan langsung dilakukan histerektomi, misalnya pada keadaan infeksi
rahim yang berat.
Seksio caesarea pastmortem (postmortem caesarean section)
Adalah seksio caesarea segera pada ibu hamil cukup bulan yang meninggal tiba-tiba
sedangkan janin masih hidup.

3.Etiologi

Operasi section caesarea dilakukan apabila kelahiran pervagina mungkin dapat


menyebabkan resiko pada ibu ataupun pada janin. Menurut Manuaba (2002) indikasi ibu
dilakukan sectio caesarea adalah ruptur uteri iminen, perdarahan antepartum, ketuban

pecah dini. Sedangkan indikasi dari janin adalah fetal distres dan janin besar melebihi
4.000 gram. Dari beberapa faktor sectio caesarea diatas dapat diuraikan beberapa
penyebab sectio caesarea sebagai berikut:
a. Indikasi pada ibu
1) CPD ( Chepalo Pelvik Disproportion)
Chepalo Pelvik Disproportion (CPD) adalah ukuran lingkar panggul ibu tidak
sesuai dengan ukuran lingkar kepala janin yang dapat menyebabkan ibu tidak
dapat melahirkan secara alami.
2) PEB (Pre-Eklamsi Berat)
Pre-eklamsi dan eklamsi merupakan kesatuan penyakit yang langsung disebabkan
oleh kehamilan, sebab terjadinya masih belum jelas. Setelah perdarahan dan
infeksi, pre-eklamsi dan eklamsi merupakan penyebab kematian maternal dan
perinatal paling penting dalam ilmu kebidanan.
3) KPD (Ketuban Pecah Dini)
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan
dan ditunggu satu jam belum terjadi inpartu. Sebagian besar ketuban pecah dini
adalah hamil aterm di atas 37 minggu.
4) Faktor Hambatan Jalan Lahir
Adanya gangguan pada jalan lahir, misalnya jalan lahir yang tidak memungkinkan
adanya pembukaan, adanya tumor dan kelainan bawaan pada jalan lahir, tali pusat
pendek dan ibu sulit bernafas.
5) Uteroplasenta
Bedah Uterus sebelumnya, riwayat rupture uteri, plasenta previa, abruption
plasenta berukuran besar.
b. Indikasi pada Janin
1) Bayi KembarTidak selamanya bayi kembar dilahirkan secara caesar. Hal ini
karena kelahiran kembar memiliki resiko terjadi komplikasi yang lebih tinggi
daripada kelahiran satu bayi. Selain itu, bayi kembar pun dapat mengalami
sungsang atau salah letak lintang sehingga sulit untuk dilahirkan secara normal.
2) Kelainan letak janin, seperti letak lintang, letak sungsang (janin besar, kepala
defleksi), presentasi ganda, presentasi muka atau dahi, kelainan letak pada gemili
anak pertama.
3) Gawat janin
4) Janin besar
5) Prolaps tali pusat.

c. Kontra indikasi dilakukannya section caesarea adalah adanya infeksi intra uterine,

janin mati, syok/anemia berat yang belum diatasi, kelainan congenital berat
(Saifuddin, 2002).
4.Manifestasi Klinis

Persalinan dengan Sectio Caesaria, memerlukan perawatan yang lebih


komprehensif yaitu perawatan perioperatif, intraoperatif, dan post operatif.
Manifestasi klinis menurut Doenges (2001) antara lain :
a. Nyeri akibat ada luka pembedahan
b. Adanya luka insisi pada bagian abdomen
c. Fundus uterus kontraksi kuat dan terletak di umbilicus
d. Aliran lokhea sedang dan bebas bekuan yang berlebihan (lokhea tidak
banyak)
e. Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600-800 ml
f. Emosi labil / perubahan emosional dengan mengekspresikan ketidakmampuan
menghadapi situasi baru
g. Biasanya terpasang kateter urinarius
h. Auskultasi bising usus tidak terdengar atau samar
i. P e n g a r u h a n e s t e s i d a p a t m e n i m b u l k a n m u a l d a n m u n t a h
j. Status pulmonary bunyi paru jelas dan vesikuler
k. Pada kelahiran secara SC tidak direncanakan maka bisanya kurang paham prosedur.
5.Patofisiologi

Sectio Caesarea merupakan tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat di atas
500 gr dengan sayatan pada dinding uterus yang masih utuh. Indikasi dilakukan tindakan
ini yaitu distorsi kepala panggul, disfungsi uterus, distorsia jaringan lunak, placenta
previa, preeklamsi dan eklamsi pada ibu. Sedangkan untuk janin adalah gawat janin,
kehamilan kembar, presentasi janin.
Pada ibu hamil dengan ketuban pecah dini, ika ada infeksi dan inflamasi, terjadi
peningkatan aktifitas IL-1 dan prostaglandin, menghasilkan kolagenase jaringan,
sehingga terjadi depolimerisasi kolagen pada selaput korion / amnion, menyebabkan
selaput ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan. Mekanisme terjadinya ketuban
pecah dini dapat berlangsung sebagai berikut selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat
kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi, serta bila terjadi pembukaan serviks maka
selaput ketuban sangat lemah dan mudah pecah dengan mengeluarkan air ketuban.

Dalam proses persalinan normal, ketuban akan pacah secara spontan menjelang
pembukaan lengkap. Dengan pecahnya ketuban tersebut terjadi tekanan pada fleksus
fraken hauser yang terletak pada pertemuan ligamentum uterosakralis dan akan
merangsang terjadinya reflek mengedan. Sedangkan pada kasus ketuban pecah dini,
pecahnya ketuban disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran atau
meningkatnya tekanan intra uterin atau dapat juga karena kedua faktor tersebut. Hal
dapat menyebabkan sirkulasi uteroplasenta menurun sehingga dapat mempengaruhi
kinerja uterus serta janin yang ada dalam kandungan. Pada janin dapat menyebabkan
janin menjadi cemas, sehingga kadar kortisol menurun yang dapat menyebabkan
metabolism karbohidrat, lemak dan protein terganggu. Sedangakan sirkulasi utero
plasenta yang menurun dapat menyebabkan tidak terjadinya HIS, sehingga perubahan
pada serviks terhambat yang dapat mengakibatkan kelahiran terhambat atau post date.
Kondisi seperti inilah yang perlu dilakukan section caesaria.
Dalam proses operasinya dilakukan tindakan anestesi yang akan menyebabkan
pasien mengalami imobilisasi sehingga akan menimbulkan masalah intoleransi aktivitas.
Adanya kelumpuhan sementara dan kelemahan fisik akan menyebabkan pasien tidak
mampu melakukan aktivitas perawatan diri pasien secara mandiri sehingga timbul
masalah defisit perawatan diri.
Kurangnya informasi mengenai proses pembedahan, penyembuhan, dan
perawatan post operasi akan menimbulkan masalah ansietas pada pasien. Selain itu,
dalam proses pembedahan juga akan dilakukan tindakan insisi pada dinding abdomen
sehingga menyebabkan terputusnya inkontinuitas jaringan, pembuluh darah, dan saraf saraf di sekitar daerah insisi. Hal ini akan merangsang pengeluaran histamin dan
prostaglandin yang akan menimbulkan rasa nyeri (nyeri akut). Setelah proses
pembedahan berakhir, daerah insisi akan ditutup dan menimbulkan luka post op, yang
bila tidak dirawat dengan baik akan menimbulkan masalah resiko infeksiI (Saifuddin,
Mansjoer & Prawirohardjo, 2002).
6.Pathway

(Terlampir)
7.Komplikasi Sectio Caesarea

Komplikasi yang sering terjadi adalah sebagai berikut :


a. Infeksi puerperial adalah kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa nifas
dibagi menjadi:
1) Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari

2) Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit

b.
c.
d.
e.

kembung
3) Berat, dengan peritonealis, sepsis dan usus paralitik. Hal ini sering dijumpai pada
partus terlantar, dimana sebelumnya terjadi infeksi intrapartal karena ketuban
yang telah pecah terlalu lama.
Perdarahan : perdarahan banyak bisa terjadi jika pada saat pembedahan cabangcabang arteri uterine ikut terbuka atau karena atonia uteri.
Komplikasi-komplikasi lainnya antara lain luka kandung kencing, embolisme paru
yang sangat jarang terjadi.
Kurang kuatnya parut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa
terjadi ruptur uteri.
Kematian perinatal

8. Prosedur Tindakan Sectio Caesarea


a. Izin Keluarga

b.
c.
d.

e.

f.

g.
h.

Pihak rumah sakit memberikan surat yang harus ditanda tangani oleh keluarga, yang
isinya izin pelaksanaan operasi.
Pembiusan
Pembiusan dilakakukan dengan bius epidural atau spinal. Dengan cara ini ibu
akantetap sadar tetapi ibu tidak dapat melihat proses operasi karena terhalang tirai.
Disterilkan
Bagian perut yang akan dibedah, disterilkan sehingga diharapkan tidak ada bakteri
yang masuk selama operasi dengan cairan betadin dan alcohol.
Pemasangan Alat
Alat -alat pendukung seperti infus dan kateter dipasangkan. Macam peralatan yang
dipasang disesuaikan dengan kondisi ibu.
Pembedahan
Setelah semua siap, dokter akan melakukan sayatan demi sayatan sampai mencapai
rahim dan kemudian selaput ketuban dipecahkan. Selanjutnya dokter akan
mengangkat bayi berdasarkan letaknya
Mengambil Plasenta
Setelah bayi lahir, selanjutnya dokter akan mengambil plasenta.
Menjahit
Langkah terakhir adalah menjahit sayatan selapis demi selapis sehingga tetutup
semua. (Juditha, dkk, 2009, hal. 90-91)

9. Hal Yang Harus Diperhatikan Pada Sectio Caesarea


a. Secsio caeesarea efektif

Secsio caesarea ini direncanakan lebih dahulu karena sudah diketahui bahwa
kehamilan harus diselesaikan dengan pembedahan itu. Keuntungannya adalah bahwa
waktu pembedahan dapat ditentukan oleh dokter yang akan menolongnya dan segala
persiapan dapat dilakukan dengan baik. Kerugiannya adalah karena persalinan belum
dimulai, segmen bawah uterus belum terbentuk dengan baik sehingga menyulitkan
pembedahan dan lebih mudah terjadi atonia uteri dengan perarahan karena uterus
belum mulai dengan kontraksinya. Pada umumnya keuntungan lebih besar dari
kerugian.
b. Anestesia
Anestesia umumnya mempunyai pengaruh positif degresif pada pusat pernafasan
janin. Sehingga kadang-kadang bayi lahir dalam keadaan apnea yang tidak dapat
diatasi dengan mudah, selain itu ada pengaruh terhadap tonus uterus sehingga
kadang-kadang timbul perdarahan post partum karena atonia uteri. Anestesia spinal
aman buat janin, akan tetapi selalu ada kemungkinan bahwa tekanan darah penderita
menurun dengan akibat yang buruk bagi ibu dan janin. Cara yang paling aman adalah
anestesia lokal, akan tetapi tidak selalu akan dapat dilakukan berhubungan dengan
sikap mental penderita. Pemutusan untuk dilakukan anestesi total setelah anestesi
spina. Di lihat rentang dari injeksi: tunggu 10-15 menit apakah klien merasa sakit atau
tidak, apabila dosis terlalu tinggi diberikan dapat menyebabkan sesak nafas (sulit
bernafas) sehingga langsung diputuskan untuk anestesi total.
c. Transfusi darah
Pada umumnya perdarahan pada seksio sesarea lebih banyak dari pada persalinan
pervagina. Perdarahan tersebut disebabkan oleh insisi pada uterus, ketika pelepasan
plasenta, mungkin juga karena terjadinya atonia uteri post partum. Berhubung dengan
itu pada tiap-tiap secsio caesarea perlu diadakan persediaan darah.
d. Pemberian antibiotik
Walaupun pemberian antibiotik sesudah secsio caesarea efektif dapat dipersonalkan,
namun pada umumnya pemberian dianjurkan (Ilmu Kebidanan, 2002).

10. Pemeriksaan Penunjang


a. Elektroensefalogram ( EEG )

b.
c.

d.

e.

f.
g.
h.
i.

Untuk membantu menetapkan jenis dan fokus dari kejang.


Pemindaian CT
Untuk mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan.
Magneti resonance imaging (MRI)
Menghasilkan bayangan dengan menggunakan lapangan magnetik dan gelombang
radio, berguna untuk memperlihatkan daerah daerah otak yang itdak jelas terlihat
bila menggunakan pemindaian CT.
Pemindaian positron emission tomography ( PET )
Untuk mengevaluasi kejang yang membandel dan membantu menetapkan lokasi lesi,
perubahan metabolik atau alirann darah dalam otak.
Uji laboratorium
1) Fungsi lumbal
: menganalisis cairan serebrovaskuler
2) Hitung darah lengkap
: mengevaluasi trombosit dan hematokrit
3) Panel elektrolit
4) Skrining toksik dari serum dan urin
5) AGD
6) Kadar kalsium darah
7) Kadar natrium darah
8) Kadar magnesium darah
9) Kadar Hematocrit/Ht: sebagai status hemodinamika untuk mengetahui adanya
penurunan hematokrit (< 35 mg%)
10) Kadar Hemoglobin : sebagai Status Hemodinamika untuk mengetahui adanya
penurunan hemoglobin atau tidak (< 10 mg%)
11) Kadar SDP : untuk mengetahui adanya Resiko Infeksi Meningkat(>10.000 U/dl)
Ultra Sonografi : untuk melokalisasi plasenta, menentukan pertumbuhan, kedudukan
dan presentasi janin.
Pelvimetri : menentukan KPD
Amniosintesis : mengkaji maturasi pada janin.
Tes stress kontraksi/tes non stress : mengkaji respon janin terhadap gerakan/stress dan
pola kontraksi uterus.

11. Penatalaksanaan Medis


a. Penatalaksanaan peri operatif
1)

Persiapan Kamar Operasi, seperti persiapan kamar operasi telah dibersihkan dan
siap untuk dipakai, peralatan dan obat-obatan telah siap semua termasuk kain
operasi

2) Persiapan Pasien
a) Pasien telah dijelaskan tentang prosedur operasi.
b) Informed consent telah ditanda tangani oleh pihak keluarga pasien

Perawat member support kepada pasien.


d) Daerah yang akan di insisi telah dibersihkan (rambut pubis di cukur dan
sekitar abdomen telah dibersihkan dengan antiseptic).
e) Pemeriksaan tanda-tanda vital dan pengkajian untuk mengetahui penyakit
yang pernah di derita oleh pasien.
f) Pemeriksaan laboratorium (darah, urine).
g) Pemeriksaan USG.
h) Pasien puasa selama 6 jam sebelum dilakukan operasi.
b. Penatalaksanaan intra operatif
1)Insisi dinding perut pada garis tengah simfisis beberapa sentimeter di bawah pusat.
Setelah peritoneum dibuka pasang spekulum perut dan lapangan operasi dari
rongga perut dengan satu kain panjang/ lebih.
2)Pegang peritoneum pada dinding uterus depan dan bawah dengan pinset, buka plika
vesika uterine dan insisi ini diteruskan melintang ke lateral.
3)Dorong kandung kencing dengan peritoneum di depan uterus ke bawah dengan jari.
4)Insisi segmen bawah uterus selebar 10 cm dengan ujung kanan dan kiri agak
melengkung ke atas
5)Di tengah-tengah, teruskan insisi sampai dinding uterus terbuka dan tampak
ketuban. Lebarkan luka ini dengan gunting berujung tumpul ikuti sayatan yang
telah dibuat
6)Pecahkan ketuban dan isap air ketuban yang keluar
7)Angkat spekulum perut, masukkan tangan ke dalam uterus di belakang kepala janin,
pegang kepala janin dari belakang dan lahirkan kepala melalui insisi. Pakai cunan
boerma bila kesulitan melahirkan kepala dengan tangan
8)Pada presentasi sungsang/ letak lintang, cari kaki janin dan lahirkan kepala dengan
tangan
9)Berikan suntikan oksitosin pada 10 unit dalam dinding uterus
10)Pegang pinggir luka insisi dengan beberapa cunan ovum, keluarkan plasentra dan
selaput ketuban secara normal. Masukkan tangan ke dalam rongga uterus untuk
memudahkan jahit dinding uterus.
11)Jahit uterus 2 lapis. Lapisan pertama ialah simpul dengan cargut kromik 00 yang
dimulai dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Lapisan kedua dijahit jelujur.
12)Jahit plika vesikuterina dengan catgut (Mansjoer A, 1999).
c)

c. Penatalaksanaan post operatif


1) Perawatan awal
a) Letakan pasien dalam posisi pemulihan
b) Periksa kondisi pasien, cek tanda vital tiap 15 menit selama 1 jam pertama,

kemudian tiap 30 menit jam berikutnya. Periksa tingkat kesadaran tiap 15


menit sampai sadar
c) Yakinkan jalan nafas bersih dan cukup ventilasi
d) Transfusi jika diperlukan
e) Jika tanda vital dan hematokrit turun walau diberikan transfusi, segera
kembalikan ke kamar bedah kemungkinan terjadi perdarahan pasca bedah
2) Diet
Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita flatus lalu
dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral. Pemberian minuman
dengan jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan pada 6 - 10 jam pasca operasi,
berupa air putih dan air teh.
3) Mobilisasi
a) Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi :
b) Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 - 10 jam setelah operasi
c) Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur telentang sedini
mungkin setelah sadar
d) Hari kedua post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5 menit dan
diminta untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya.
e) Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi setengah duduk
(semifowler)
f) Selanjutnya selama berturut-turut, hari demi hari, pasien dianjurkan belajar
duduk selama sehari, belajar berjalan, dan kemudian berjalan sendiri pada hari
ke-3 sampai hari ke5 pasca operasi.
4) Kateterisasi
Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri yang tidak enak pada
penderita, menghalangi involusi uterus dan menyebabkan perdarahan. Karena itu
di anjurkan pemasangan kateter tetap : douer kateter/ balon kateter yang terpasang
selama 24 jam, sampai 48 jam atau lebih lama lagi, tergantung jenis operasi dan
keadaan penderita. Hal yang perlu diperhatikan:
a) Jika urin jernih, kateter dilepas 8 jam setelah pembedahan atau sesudah
semalam

b) Jika urin tidak jernih biarkan kateter terpasang sampai urin jernih
c) Jika terjadi perlukaan pada kandung kemih biarkan kateter terpasang sampai

5)

6)
7)

8)
9)

minimum 7 hari atau urin jernih.


d) Jika sudah tidak memakai antibiotika berikan nirofurantoin 100 mg per oral
per hari sampai kateter dilepas
e) Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak pada
penderita, menghalangi involusi uterus dan menyebabkan perdarahan. Kateter
biasanya terpasang 24 - 48 jam / lebih lama lagi tergantung jenis operasi dan
keadaan penderita.
Health education pasca operasi
a) Dianjurkan jangan hamil selama kurang lebih 1 tahun, dengan memakai
kontrasepsi
b) Kehamilan berikutnya hendaknya diawasi dengan ANC yang baik
c) Dianjurkan untuk bersalin di rumah sakit yang besar
d) Apakah persalinan berikutnya harus SC bergantung dari indikasi section dan
keadaan kehamilan berikutnya
e) Yang dianut adalak sekali sectio, tidak selamanya SC kecuali pada panggul
sempit/ disproporsi sevalo-pelvik
Pemberian obat-obatan antibiotic dan anlgetik.
Perawatan luka
Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi, bila basah dan berdarah
harus dibuka dan diganti. Penggantian balutan dengan cara steril. Jika terdapat
perdarahan lakukan masase fundus uterus dan beri oksitosin 10 unit dalam 500 ml
cairan I.V. (garam fisiologik atau RL) 60 tetes/menit, ergometrin 0,2 mg I.M. dan
prostaglandin
Perawatan rutin. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah suhu,
tekanan darah, nadi,dan pernafasan.
Perawatan Payudara
Pemberian ASI dapat dimulai pada hari post operasi jika ibu memutuskan tidak
menyusui, pemasangan pembalut payudara yang mengencangkan payudara tanpa
banyak menimbulkan kompesi, biasanya mengurangi rasa nyeri.

B. KONSEP DASAR KETUBAN PECAH DINI


1. Definisi Ketuban Pecah Dini

Ketuban Pecah Dini (KPD) atau Spontanieus/Early Ruptur of The Membrane


(PROM) adalah pecahnya ketuban sebelum inpartu yaitu bila pembukaan pada primi
kurang dari 3 cm dan pada multi kurang dari 5 cm (Buku Sinopsis Obstetri, Jilid I : 255).
Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan berlangsung.
Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membrane atau
meningkatnya tekanan intra uterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya
kekuatan membran disebabkan adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina serviks
(Sarwono Prawirohardjo, 2002).
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa ketuban pecah dini adalah
pecahnya ketuban sebelum inpartu karena disebabkan oleh karena berkurangnya
kekuatan membrane atau meningkatnya tekanan intra uterine.
2. Etiologi Ketuban Pecah Dini

Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran atau
meningkatnya tekanan intrauterin atau oleh kedua faktor tersebut. Berkurangnya kekuatan
membran disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks.
Selain itu ketuban pecah dini merupakan masalah kontroversi obstetri. Penyebab lainnya
adalah sebagai berikut :
a. Inkompetensi serviks (leher rahim)
Inkompetensia serviks adalah istilah untuk menyebut kelainan pada otot-otot leher
atau leher rahim (serviks) yang terlalu lunak dan lemah, sehingga sedikit membuka
ditengah-tengah kehamilan karena tidak mampu menahan desakan janin yang semakin
besar (Manuaba, 2002).
b. Peninggian tekanan intra uterin
Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan dapat
menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini. Misalnya :
1) Trauma : Hubungan seksual, pemeriksaan dalam, amniosintesis
2) Gemelli
Kehamilan kembar adalah suatu kehamilan dua janin atau lebih. Pada kehamilan
gemelli terjadi distensi uterus yang berlebihan, sehingga menimbulkan adanya
ketegangan rahim secara berlebihan.
3) Makrosomia
Makrosomia adalah berat badan neonatus >4000 gram kehamilan dengan
makrosomia menimbulkan distensi uterus yang meningkat atau over distensi dan
menyebabkan tekanan pada intra uterin bertambah sehingga menekan selaput

c.

d.
e.
f.

g.

h.
i.
j.
k.

ketuban, manyebabkan selaput ketuban menjadi teregang,tipis, dan kekuatan


membrane menjadi berkurang, menimbulkan selaput ketuban mudah pecah.
Hidramnion
Hidramnion atau polihidramnion adalah jumlah cairan amnion >2000mL. Uterus dapat
mengandung cairan dalam jumlah yang sangat banyak.
Kelainan letak janin dan rahim : letak sungsang, letak lintang.
Kemungkinan kesempitan panggul : bagian terendah belum masuk PAP (sepalo pelvic
disproporsi).
Korioamnionitis
Adalah infeksi selaput ketuban. Biasanya disebabkan oleh penyebaran organisme
vagina ke atas. Dua factor predisposisi terpenting adalah pecahnya selaput ketuban >
24 jam dan persalinan lama.
Penyakit Infeksi
Adalah penyakit yang disebabkan oleh sejumlah mikroorganisme yang meyebabkan
infeksi selaput ketuban. Infeksi yang terjadi menyebabkan terjadinya proses
biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga memudahkan
ketuban pecah.
Faktor keturunan (ion Cu serum rendah, vitamin C rendah, kelainan genetik)
Riwayat KPD sebelumya
Kelainan atau kerusakan selaput ketuban
Serviks (leher rahim) yang pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23 minggu

3. Manifestasi Klinis

Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina.
Aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut
masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. Cairan ini
tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila
Anda duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya
"mengganjal" atau "menyumbat" kebocoran untuk sementara. Demam, bercak vagina
yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda
infeksi yang terjadi.
4. Patofisiologi

Ketuban pecah dini berhubungan dengan kelemahan menyeluruh membrane fetal


akibat kontraksi uteri dan peregangan berulang. Membran yang mengalami rupture
premature ini tampak memiliki defek fokal dibanding kelemahan menyeluruh. Daerah

dekat tempat pecahnya membrane ini disebut restricted zone of extreme altered
morphology yang ditandai dengan adanya pembengkakan dan kerusakan jaringan kolagen
fibrilar pada lapisan kompakta, fibroblast maupun spongiosa. Daerah ini akan muncul
sebelum ketuban pecah dini dan merupakan daerah breakpoint awal. Patogenesis terjadinya
ketuban pecah dini secara singkat adalah akibat adanya penurunan kandungan kolagen
dalam membrane sehingga memicu terjadinya ketuban pecah dini dan ketuban pecah dini
preterm terutama pada pasien risiko tinggi.Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini dapat
berlangsung sebagai berikut :
- Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi.
- Bila terjadi pembukaan serviks maka selaput ketuban sangat lemah dan mudah pecah
dengan mengeluarkan air ketuban.
Dalam proses persalinan normal, ketuban akan pacah secara spontan menjelang
pembukaan lengkap. Dengan pecahnya ketuban tersebut terjadi tekanan pada fleksus
fraken hauser yang terletak pada pertemuan ligamentum uterosakralis dan akan
merangsang terjadinya reflek mengedan. Sedangkan pada kasus ketuban pecah dini,
pecahnya ketuban disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran atau
meningkatnya tekanan intra uterin atau dapat juga karena kedua faktor tersebut.
Berkurangnya kekuatan disebabkan oleh adanya infeksi yang berasal dari vagina dan
serviks (Saifuddin, 2001)
5. Pathway

(Terlampir)
6. Komplikasi
a. Infeksi

Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun asenden dari
vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya KPD.
b. Partus peterm
Persalinan preterm atau partus prematur adalah persalinan yang terjadi pada
kehamilan kurang dari 37 minggu ( antara 20 37 minggu ) atau dengan berat janin
kurang dari 2500 gram.
c. Distasia ( partus Kering)
Pengeluaran cairan ketuban untuk waktu yang akan lama akan menyebabkan dry
labour atau persalinan kering
d. Ketuban pecah dini merupakan penyebab pentingnya persalinan premature dan
prematuritas janin.

e. Resiko terjadinya ascending infection akan lebih tinggi jika persalinan dilakukan

setelah 24 jam onset


f. Hipoplasia pulmonal janin sangat mengancam janin, khususnya pada kasus
oligohidramnion
7. Pemeriksaan penunjang
a.Pemeriksaan laboratorium

Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna, konsentrasi, bau dan pH nya.
Cairan yang keluar dari vagina ini kecuali air ketuban mungkin juga urine atau sekret
vagina. Sekret vagina ibu hamil pH : 4-5, dengan kertas nitrazin tidak berubah warna,
tetap kuning.
1)Tes Lakmus (tes Nitrazin), jika kertas lakmus merah berubah menjadi
birumenunjukkan adanya air ketuban (alkalis). pH air ketuban 7 7,5, darah dan
infeksi vagina dapat mengahsilakan tes yang positif palsu.
2)Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan
dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun pakis.
b.Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum
uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit.

8. Penatalaksanaan medis
a. Konservatif
1)Rawat rumah sakit dengan tirah baring.
2)Tidak ada tanda-tanda infeksi dan gawat janin.
3)Umur kehamilan kurang 37 minggu.
4)Antibiotik profilaksis dengan amoksisilin 3 x 500 mg selama 5 hari.
5)Memberikan tokolitik bila ada kontraksi uterus dan memberikan kortikosteroid

untuk mematangkan fungsi paru janin.


6) Jangan melakukan periksan dalam vagina kecuali ada tanda-tanda persalinan.
7)Melakukan terminasi kehamilan bila ada tanda-tanda infeksi atau gawat janin.
8)Bila dalam 3 x 24 jam tidak ada pelepasan air dan tidak ada kontraksi uterus maka
lakukan mobilisasi bertahap. Apabila pelepasan air berlangsung terus, lakukan
terminasi kehamilan.

b. Aktif
Bila didapatkan infeksi berat maka berikan antibiotik dosis tinggi. Bila ditemukan
tanda-tanda inpartu, infeksi dan gawat janin maka lakukan terminasi kehamilan.
1)Induksi atau akselerasi persalinan.
2)Lakukan seksiosesaria bila induksi atau akselerasi persalinan mengalami kegagalan.
3)Lakukan seksio histerektomi bila tanda-tanda infeksi uterus berat ditemukan.
c. Terapi

Apabila terjadi pecah ketuban, maka segeralah pergi ke rumah sakit. Dokter
kandungan akan mendiskusikan rencana terapi yang akan dilakukan, dan hal tersebut
tergantung dari berapa usia kehamilan dan tanda-tanda infeksi yang terjadi. Risiko
kelahiran bayi prematur adalah risiko terbesar kedua setelah infeksi akibat ketuban
pecah dini. Pemeriksaan mengenai kematangan dari paru janin sebaiknya dilakukan
terutama pada usia kehamilan 32-34 minggu. Hasil akhir dari kemampuan janin untuk
hidup sangat menentukan langkah yang akan diambil.
C. PROSES KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Biodata klien

b.

c.

d.

e.

Berisi tentang : Nama, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Suku, Agama, Alamat, No.
Medical Record, NamaSuami, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Suku, Agama, Alamat,
TanggalPengkajian.
Keluhan utama
Keluar cairan warna putih, keruh, jernih, kuning, hijau / kecoklatan sedikit / banyak,
pada periksa dalam selaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah kering, inspeksikula
tampak air ketuban mengalir / selaput ketuban tidak ada dan air ketuban sudah
kering
Riwayat haid
Umur menarche pertama kali, lama haid, jumlah darah yang keluar, konsistensi,
siklus haid, hari pertama haid dan terakhir, perkiraan tanggal partus
Riwayat Obstetris
Berapa kali dilakukan pemeriksaan ANC, hasil laboraturium : USG , darah, urine,
keluhan selama kehamilan termasuk situasi emosional dan impresi, upaya mengatasi
keluhan, tindakan dan pengobatan yang diperoleh.
Riwayat penyakit dahulu

Penyakit yang pernah di diderita pada masa lalu, bagaimana cara pengobatan yang
dijalani nya, dimana mendapat pertolongan, apakah penyakit tersebut diderita sampai
saat ini atau kambuh berulang ulang
f. Kebiasaan sehari hari
1) Pola nutrisi : pada umum nya klien dengan KPD mengalami penurunan nafsu
makan, frekuensi minum klien juga mengalami penurunan
2) Pola istirahat dan tidur : klien dengan KPD mengalami nyeri pada daerah
pinggang sehingga pola tidur klien menjadi terganggu, apakah mudah terganggu
dengan suara-suara, posisi saat tidur (penekanan pada perineum)
3) Pola eliminasi : Apakah terjadi diuresis, setelah melahirkan, adakah inkontinensia
(hilangnya infolunter pengeluaran urin),hilangnya kontrol blas, terjadi over
distensi blass atau tidak atau retensi urine karena rasa takut luka episiotomi,
apakah perlu bantuan saat BAK. Pola BAB, freguensi, konsistensi,rasa takut BAB
karena luka perineum, kebiasaan penggunaan toilet.
4) Personal Hygiene : Pola mandi, kebersihan mulut dan gigi, penggunaan pembalut
dan kebersihan genitalia, pola berpakaian, tata rias rambut dan wajah.
5) Aktifitas : Kemampuan mobilisasi klien dibatasi, karena klien dengan KPD di
anjurkan untuk bedresh total
6) Rekreasi dan hiburan : Situasi atau tempat yang menyenangkan, kegiatan yang
membuat fresh dan relaks.
g. Pemeriksaan Fisik
1) Pemeriksaan umum: suhu normal kecuali disertai infeksi.
2) Inspeksi
Pengamatan dengan mata biasa akan tampak keluarnya cairan dari vagina, bila
ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban masih banyak, pemeriksaan ini akan
lebih jelas.
3) Pemeriksaan dengan spekulum.
4) Pemeriksaan dengan spekulum pada KPD akan tampak keluar cairan dari
orifisium uteri eksternum (OUE), kalau belum juga tampak keluar, fundus uteri
ditekan, penderita diminta batuk, megejan atau megadakan manuvover valsava,
atau bagian terendah digoyangkan, akan tampak keluar cairan dari ostium uteri
dan terkumpul pada fornik anterior.
5) Pemeriksaan dalam
Didapat cairan di dalam vagina dan selaput ketuban sudah tidak ada lagi.
Mengenai pemeriksaan dalam vagina dengan tocher perlu dipertimbangkan, pada
kehamilan yang kurang bulan yang belum dalam persalinan tidak perlu diadakan

pemeriksaan dalam. Karena pada waktu pemeriksaan dalam, jari pemeriksa akan
mengakumulasi segmen bawah rahim dengan flora vagina yang normal.
Mikroorganisme tersebut bisa dengan cepat menjadi patogen. Pemeriksaan dalam
vagina hanya diulakaukan kalau KPD yang sudah dalam persalinan atau yang
dilakukan induksi persalinan dan dibatasi sedikit mungkin.
6) Pemeriksaan abdomen: uterus lunak dan tidak nyeri tekan. Tinggi fundus harus
diukur dan dibandingkan dengan tinggi yang diharapkan menurut hari haid
terakhir. Palpasi abdomen memberikan perkiraan ukuran janin dan presentasi
maupun cakapnya bagian presentasi. Denyut jantung normal.
2. Diagnosa Keperawatan

Menurut Nurarif (2013) diagnosa keeprawatan yang muncul adalah sebagai berikut:
a. Pre operasi
1) Nyeri berhubungan dengan peningkatan kontraksi yang lebih lama.
2) Ansietas berhubungan dengan akan dilakukannya operasi
b. Intra operasi
1) Perdarahan berhubungan dengan insisi pembedahan
c. Post Operasi
1) Nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan, efek anestesi, efek hormonal,
distensi kandung kemih/abdomen.
2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan insisi bedah.
3) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tindakan anestesi, kelemahan,
penurunan sirkulasi
3. Intervensi
a. Pre operasi
1) Nyeri berhubungan dengan peningkatan kontraksi yang lebih lama.

Tujuan : mengungkapkan penurunan ketidaknyamanan nyeri.


Intervensi :
a) Kaji lokasi, sifat dan durasi nyeri. Khususnya berhubungan dengan indikasi

kelahiran sesaria.
b) Kontrol lingkungan yang dapat berkontribusi terhadap nyeri seperti suhu,
suara, dll.
c) Ajarkan pasien teknik non farmakologis seperti nafas dalam.

d) Ajarkan pada keluarga klien cara mengontrol nyeri dengan counter pressure.
2) Ansietas berhubungan dengan akan dilakukannya operasi

Tujuan : Ansietas dapat teratasi


Kriteria Hasil :
a) Pasien tampak siap untuk menjalankan operasi
b) Menunjukkan teknik relaksasi yang efektif
c) Pasien mengetahui tujuan dilakukannya operasi
Intervensi:
a) Kaji tingkat kecemasan pasien
b) Berikan informasi yang benar mengenai prosedur pembedahan, penyembuhan,

dan perawatan post operasi.


c) Ajarkan teknik relaksasi
d) Berikan semangat dan motivasi kepeda pasien
b. Intra operasi
1) Perdarahan berhubungan dengan insisi pembedahan
Tujuan
: perdarahan minimal atau tidak terjadi
Kriteria hasil : tidak ada tanda-tanda syok akibat perdarahan yang berlebihan
Intervensi
:
a) Siapkan kantong darah sesuai golongan darah pasien untuk transfusi klien
b) Siapkan suction pump atau kassa untuk menekan perdarahan agar perdarahan
tidak lebih banyak.
c) Monitor keluaran darah/perdarahan.
c. Post Operasi
1) Nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan, efek anestesi, efek hormonal,
distensi kandung kemih/abdomen.
Tujuan : Nyeri berkurang
Kriteria hasil :
a) Nyeri hilang atau terkontrol.
b) Tampak rileks, mampu tidur atau istirahat dengan tepat.
c) Ekspresi wajah menyeringai
Intervensi :

a) Lakukan pengkajian secara komprehensif tentang nyeri meliputi lokasi,

karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri dan faktor presipitasi.


b) Observasi respon nonverbal dari ketidaknyamanan (misalnya wajah meringis)
terutama ketidakmampuan untuk berkomunikasi secara efektif.
c) Kaji efek pengalaman nyeri terhadap kualitas hidup (beraktivitas, tidur,
istirahat, rileks, kognisi, perasaan, dan hubungan sosial)
d) Ajarkan menggunakan teknik nonanalgetik (relaksasi, latihan napas dalam,,
sentuhan terapeutik, distraksi.)
e) Kontrol faktor - faktor lingkungan yang yang dapat mempengaruhi respon
pasien terhadap ketidaknyamanan (ruangan, suhu, cahaya, dan suara)
f) Kolaborasi untuk penggunaan kontrol analgetik
2) Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan insisi bedah.
Tujuan : tidak terjadi infeksi dan tidak adanya tanda-tanda infeksi.
Intervensi :
a) Monitor tanda-tanda infeksi sistemik maupun lokal.
b) Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan.
c) Pertahankan lingkungan aseptik dalam melakukan tindakan ganti balut luka
post operasi craniotomy.
d) Batasi pengunjung bila perlu.
e) Dorong intake nutrisi yang cukup pada klien.
f) Kolaborasi dengan dokter pemberian antibiotik.
3) Intoleransi aktivitas Berhubungan dengan tindakan anestesi, kelemahan,
penurunan sirkulasi
Tujuan : Klien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi
Kriteria Hasil : klien mampu melakukan aktivitasnya secara mandiri
Intervensi :
a) Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas
b) Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi luka dan kondisi tubuh umum
c) Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari.
d) Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan /kondisi
klien
e) Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas
4. Evaluasi
a. Pre Operasi
1.Nyeri berkurang

2.Ansietas berkurang.
b. Intra Operasi
1. Perdarahan minimal
c. Post Operasi
1. Nyeri berkurang
2. Tidak terjadi infeksi dan tidak adanya tanda-tanda infeksi.
3. Klien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi