Anda di halaman 1dari 3

Terapi Non Farmakologi

1. Pengaturan Pola Makan


Terapi tanpa obat bagi penderita adalah diet yang seimbang dimana
jumlah kalori yang dibutuhkan sesuai dengan tinggi badan, berat badan,
dan aktivitas. Pada keadaan tertentu, diperlukan diet rendah protein,
banyak makan sayur dan buah serta melakukan aktivitas sesuai
kemampuan untuk mencegah sembelit, menjalankan pola hidup yang
teratur dan berkonsultasi dengan petugas kesehatan. Tujuan terapi diet
pada pasien penderita penyakit hati adalah menghindari kerusakan hati
yang permanen; meningkatkan kemampuan regenerasi jaringan hati
dengan keluarnya protein yang memadai; memperhatikan simpanan
nutrisi dalam tubuh; mengurangi gejala ketidaknyamanan yang
diakibatkan penyakit ini; dan pada penderita sirosis hati, mencegah
komplikasi asites, varises esofagus dan ensefalopati hepatik yang
berlanjut ke komplikasi hepatik hebat. Diet yang seimbang sangatlah
penting. Kalori berlebih dalam bentuk karbohidrat dapat menambah
disfungsi hati dan menyebabkan penimbunan lemak dalam hati. Jumlah
kalori dari lemak seharusnya tidak lebih dari 30% jumlah kalori secara
keseluruhan karena mbahayakan sistem kardiovaskular. Selain diet yang
seimbang, terapi tanpa obat ini harus disertai dengan terapi tanpa obat ini
harus disertai dengan terapi non farmakologi lainnya seperti segera
beristirahat bila merasa lelah dan menghindari minuman beralkohol
(Hidayati, 2013)
2. Terapi Farmakologi dengan Temulawak (Curcuma xanthorriza)
Hepatitis dapat dicegah dengan menghindari interaksi dengan cairan dari
tubuh penderita. Selain itu hepatitis juga dapat diatasi dengan
menggunakan herbal. Rimpang temulawak telah teruji klinis mampu
mengatasi hepatitis karena sifatnya yang bersifat hepatoprotektor
(melindungi hati). Temulawak merupakan tanaman asli Indonesia yang
memiliki zat berguna seperti kurkumin dan kurkuminoid. Dalam berbagai
studi dilaporkan bahwa kurkumin memiliki efek antihepatotoksik,
antioksidan, menurunkan tingkat kerusakan hati dan detoksifikasi. Selain
itu sejumlah laporan menunjukkan, kurkumoid dan kurkumin memiliki
aktivitas kemopreventif (pencegahan) dan kuratif (penyembuhan)
melawan kanker (Sari et al, 2008).
Dalam jurnal yang berjudul Turmeric curcumin inhibits entry of all
hepatitis C virus genotypes into human liver cells dilakukan penelitian
yang menguji kemampuan ekstrak temulawak dalam menghambat fasefase awal perkembangan virus hepatitis C. Dari penelitian tersebut

didapatkan bahwa temulawak dapat menghambat pemasukan virus


hepatitis C dimana penghambatan ini tidak dipengaruhi oleh genotipe dari
virus. Mekanisme penghambatan yang dilakukan oleh zat aktif pada
temulawak adalah dengan cara mempengaruhi fluiditas membran
sehingga mengganggu proses pengikatan dan peleburan virus ke dalam
sel (Anggakusuma et al, 2014).

3. Terapi dengan Buah dan Sayur


Buah-buahan dan sayuran adalah sumber alami yang bagus untuk
memperoleh
vitamin
dan
mineral
yang
penting
untuk
memelihara kesehatan tubuh. Berbagai penelitian juga menunjukkan
bahwa buah-buahan dan sayuran melindungi tubuh dari beragam jenis
penyakit. Buah-buahan dan sayuran mengandung berbagai jenis vitamin
dan mineral yang bagus untuk kesehatan, mulai dari vitamin A
(betakaroten), C, magnesium, zinc, fosfor, hingga asam folat. Selain itu,
buah-buahan dan sayuran rendah lemak, memiliki kandungan minim
garam, sedikit gula, dan sumber yang bagus untuk memperoleh serat
pangan. Dalam penelitian lain juga dikatakan bahwa buah-buahan dan
sayuran mengandung fitokemikal, komponen biologi aktif yang membantu
tubuh dalam melindungi diri dari berbagai jenis penyakit. Dalam
penyembuhan penyakit liver, zat-zat tersebut dapat membantu dalam
proses perbaikan sel-sel yang mengalami kerusakan sehingga penting
bagi penderita untuk secara rutin mengonsumsi buah dan sayur.
4. Terapi non farmakologi penyakit liver dengan pegagan (Centella
asiatica)
Tanaman obat pegagan (Centella asiatica Linn) sering digunakan
penderita hepatitis sebagai terapi alternatif. Pegagan mengandung
senyawa yang sangat penting untuk kesembuhan penyakit liver yakni
glikosida. Senyawa ini mempunyai khasiat anti lepra sehingga mampu
menjadi hepaprotektor atau pelindung sel-sel hati dari kerusakan dan
meregenerasi sel hati tersebut secara lebih cepat (Kusuma, 2008).
Adapun dalam penelitian yang dilakukan oleh Vidyaniati et al dalam jurnal
yang berjudul Perlindungan Hepatotoksisitas Ekstrak Metanol Pegagan
Dibanding Vitamin E pada Tikus Model Hepatitis didapatkan bahwa
ekstrak pegagan yang diberikan prainduksi dapat mencegah kenaikan
kadar SGPT dan luas nekrosis secara bermakna (p 0,05), tetapi
tidak mencegah kenaikan kadar MDA jaringan hati secara bermakna (p
>0,05). Pascainduksi, ekstrak pegagan menurunkan kadar SGPT, MDA
jaringan hati, dan luas nekrosis secara bermakna (p 0,05). Hasil ini dapat

menyimpulkan bahwa ekstrak pegagan dapat digunakan sebagai


hepatoprotektor dan membantu dalam proses penyembuhan penyakit
liver (Vidyaniati, 2010).
Daftar Pustaka
Hidayati, Balqish. 2013. Terapi Hepatitis A,B,C,D, dan E. Dapat dilihat
secara online di http://www.carabadansehat.com/2013/03/terapi-hepatitisb-c-d-dan-e.html
Sari, Wening. 2008. Care Yourself, Hepatitis. Jakarta : Penebar Plus
Anggakusuma, et al. 2014. Turmeric curcumin inhibits entry of all
hepatitis C virus genotypes into human liver cells. Gut Vol 63(7):1137-49
Kusuma, Wijaya Hembing. 2008. Tumpas Hepatitis dengan Ramuan
Herbal. Jakarta : Pustaka Bunda
Vidyaniati et al. 2010. Perlindungan Hepatotoksisitas Ekstrak Metanol
Pegagan Dibanding Vitamin E pada Tikus Model Hepatitis. Bandung
Medical Journal Vol. 42(3):101-7