Anda di halaman 1dari 20

L.I.1.

Memahami dan Mempelajari Genitalia Externa dan Interna Wanita


L.O.1.1. Menjelaskan Makroskopis Genitalia Eksterna dan Interna Wanita
L.O.1.2. Menjelaskan Mikroskopis Genitalia Eksterna dan Interna Wanita
L.I.2. Memahami dan Mempelajari Leukorea
L.O. 2.1. Menjelaskan Definisi dan Epidemiologi Leukorea
L.O.2.2. Menjelaskan Etiologi Leukorea
L.O.2.3. Menjelaskan Patofisiologi Leukorea
L.O.2.4 Menjelaskan Manifestasi Klinis Leukorea
L.O.2.5. Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding Leukorea
L.O.2.6. Menjelaskan Tatalaksana Leukorea
L.O.2.7. Menjelaskan Komplikasi Leukorea
L.O.2.8. Menjelaskan Pencegahan Leukorea
L.O.2.9. Menjelaskan Prognosis Leukorea
L.I.3. Memahami dan mempelajari Pemeriksaan PAP Smear
L.I.4. Memahami dan mempelajari Pandangan Islam terhadap Keputihan (Leukorea).

L.I.1. Memahami dan Mempelajari Genitalia Externa dan Interna Wanita


L.O.1.1. Menjelaskan Makroskopis Genitalia Eksterna dan Interna Wanita

Sumber : http://uncennursing.blogspot.com/2011/06/sistem-reproduksi-perkembangbiakan.html

Sumber : http://panduancaracepathamil.wordpress.com/category/organ-genitalia-interna-dan-eksterna/

Sumber : http://kelas-bidan.blogspot.com/2011/04/anatomi-fisiologi-organ-reproduksi.html

Sumber : http://bedahunmuh.wordpress.com/category/atlas-bedah-pelvis-and-perineum/
Genitalia Eksterna :
a.

b.

Mons Pubis
Daerah kulit yang menonjol di depan symphisis pubis
Kulit berambut banyak jaringan lemak.
Berisi jaringan lemak, jaringan ikat, pembuluh darah dan saraf-saraf
Meluas ke bwah belakanaglabium mayora.
Rambut kemaluan disebut pubes.
Labium Majus Pudendi
Suatu lipatan kulit, ke dorsocaudal berhubungan satu dengan yang lain membentuk comissura
posterior labiorum majorum, sedang yang ke ventrocrainal membentuk comissura anterior

labiorum majora.
Fascia lateralis memiliki rambut dan bnayka pigmen. Sedangkan, fascia medialis mempunyai
gld. Sebacea yang besar dan tidak mempunyai rambut.

c.

Terdapat jaringan pengikat, lemak dan jaringan menyerupai tunica dartos scorti.
Celah yang dibatasi oleh kedua labia majora disebut rima pudendi.
Labium Minus Pudendi
Labium minora ke dorsocaudal berhubungan satu dengan yang lain membentuk frenulum

d.

dorsocaudal glans clitoridis kanan kiri dari linea mediana disebut frenulum clitoridis.
Tidak ada foliculi rambut dan jaringan lemak.
Banyak pembuluh darah.
Vestibulum Vaginae
Daerah yang terletak diantara kedua bulbi vestibuli.
Batas-batasnya yaitu kanan dan kiri oleh labia minora, ventrocranial oleh frenulum clitoris,

e.

inferior osis pubis dengan dataran lateralnya.


Ke ventral kedua crura clitoridis bersatu membentuk corpus clitoridis. Terdapat corpus

cavernosum yang membentuk glans clitoridis.


Urethra Feminina
Berjalan dari leher kandung kemih menuju ostium urethrae eksternum yang terletak diantara

h.

vestibuli vaginae).
Di sebelah kanan dan kiri pada fossa naviculare terdapat saluran kedua glandula Bartholini

bermuara.
Clitoris
Terdiri dari ujun poksimal corpus cavernosum clitoridis melekat di dataran medial ramus

g.

dan dorsocaudal oleh frenulum labiorum minorum (frenulum labiorum pudendi)


Kedalam veestibulum vaginae bermuara urethra, vagina, gld. Paraurethralis, gld. Vestibularis

minor dan gld. Vestibularis major.


Ostium Vaginae
Muara vagina disebut juga introitus vaginae.
Diantara introitus vaginae dan frenulum labiorum minorum terdapat fossa navicularis (fossa

f.

labiorum minorum.
Ke ventrocrainal berhubunan satu dengan yang lain membentuk preputium clitoridis.
Dari labio minora berjalan suatu lipatan kulit ke ventral cranial melekat pada dataran

clitoris dengan vagina.


Disebelah kanan dan kiri lubang kemih terdapat dua lubang kecil dari saluran yang buntu

( ductus skene atau ductus parauretralis).


Perineum
Merupakan area berbentuk belah ketupat
Dibagi oleh ramus inferior ossis pubis dan ramus ossis ischii kanan dan kiri dan kedua lig.

Sacrotuberale.
Terbagi menjadi regio urogenitalis di anterior (ventral) dan regio analis di posterior (dorsal).
Genitalia Interna :
1. Ovarium
Terletak di dalam pelvis dan jumlahnya sepasang
Berbentuk bulat memanjang, agak pipih
Terdiri dari coretx dan medulla (berisi pembuluh darah, limfe dan saraf)
Dilekatkan oleh mesovarium pada ligamentum latum (berupa lipatan peritoneum sebelah kiri

dan kanan uterus. Meluas sampai dinding panggul dan dasr panggul)
Difiksasi oleh :
Ligamentum suspensorium ovarii (Lig.infudibulopelvicum) :
Ligamentum ini menggantungkan uterus pada dinding panggul antara sudut tuba
Ligamentum ovarii propium : menfiksasi ovarium ke uterus.
Ligamentum teres uteri (lig. Rotundum) : terdapat di bagian atas lateral dari uterus,
caudal dari tuba kedua ligamentum ini melalui canalis inguinalis ke bagian cranial
labium majus.

2.

Tuba Uterina (salpinx)


Jumlahnya sepasang kanan dan kiri dengan panjang 10 cm.
Menjulur dari uterus kearah ovarium dengan ujung distal terbuka kedalam rongga peritoneum

3.

disebut ostium abdominale.


Terdiri dari :
Infudibulum bangunan yang berbentuk seperti corong
Ampula, bangunan yang membesar dan tempat terjadinya fertilisasi.
Isthmus, bangunan ynag menyempit.
Pars uterina tubae ialah bagian yang melalui dinding uterus.
Ostium uterinum yaitu pintu muara tuba di dalam uterus.

Uterus
Organ muscular, berbentuk peer, dibedakan menjadi :
Fascia vesicalis, di dataran ventral menghadap ke vesica urinaria.
Fascia intestinalis, di dataran dorsal menghadap ke usus.
Margo lateralis kanan dan kiri.
Uterus dapat dibagi dalam :
Undus uteri , yang terletak pada bagian atas (proksimal ) osteum tuba uterina.
Corpus uteri , terletak pada bagian tengah uterus yang berbentuk bulat melebar. Batas
antara corpus uteri dan cervix uteri dibentuk oleh isthmus. Sebelum memasuki

cervix terdapat ostium uteri internum.


Cervix uteri , bagian yang paling sempit dan menonjol kedalam rongga vagina. Pada
bagian ujung distal cervix terdapat banguna ynag menyempit disebut ostium uteri

4.

externum. Rongga di dalam cervix uteri disebut canalis cervix.


Vagina
Berbentuk tabung muskular.
Panjangnya antara 8-12 cm.
Bagian distal cervix menonjol ke dalam rongga vagina, disebut portio vaginalis cervicis uteri.

Bagian cervix proksimalnya disebut portio supravaginalis cervicis uteri.


Rongga vagina yang mengelilingi portio vaginalis cervicis disebut fornix yang terbagi menjadi
:

Fornix lateralis dextra dan sinistra


Fornix anterior dan posterior
Tunica mucosa membentuk rugae yang transversal pada dinding ventral dan dorsal disebut

columna rugarum.
Pada virgo intacta introitus vaginae sebagian ditutupi oleh selaput disebut hymen.
Bentuk hymen :
Hymen anularis (cincin)
Hymen seminularis (bulan sabit)
Hymen cribriformis (berlubang-lubang seperti saringan)
Hymen fimbriatus (dengan tepi seperti jari-jari)
Hymen imperforatus (tidak berlubang)
Jaringan penunjang

5.

Ligamentum cardinale sinistra dan dekstra (Mackendrot)


Ligamentum terpenting untuk menahan uterus agar tidak turun.
Berjalan dari cerviks dan puncak vagina ke arah lateral dinding pelvis.
Ligamentum sakrouterinum sinistra dan dextra
Menahan uterus agar tidak banyak bergerak
Berjalan melengkung dari dorsal cerviks melalui dinding rectum ke arah os sakrum.
Ligamentum rotundum sinistra dan dextra
Menahan uterus dalam antefleksi
Ligamentum pubivesikale sinistra dan dextra
Berjalan dari os pubis melalui kandung kemih dan seterusnya sebagai ligamentum
vesikouterinum ke cerviks.
Ligamentum latum sinistra dan dextra
Berjalan dari uterus ke arah lateral dan tidak banyak mengandung jaringan ikat.
Merupakan bagian dari peritoneum viscerale yang meliputi uterus dan kedua tuba

dan berbentuk sebagai lipatan.


Ligamentum infundibulopelvikum
Menahan tuba falopi.
Berjalan dari arah infundibulum ke dinding pelvis.
Ligamentum ovarii proprium sinistra dan dextra
Berjalan dari sudut kiri dan kanan fundus uteri ke ovarium.
DIAPHRAGMA PELVIS
1. Pelvis mayor : berisi saluran cerna, VU, ureter, sistem genitalis
2. Pelvis minor
- PAP (aditus pelvis)
Dibentuk oleh : promontorium, linea terminalis, ala osis sacralis, dan supra pubis.
a. Conjugate vera : ukuran antero posterior
Jarak antara pinggir atas pubis sampai promontorium, penting untuk menentukan dapat

todaknya bayi melewati sehingga dapat menentukan tindak lanjut persalinan pervaginam
atau section secaria.

Dengan bantuan conjugate diagonalis (diukur dengan vaginal touch) sampai


b.

promontorium. Conjugate diagonalis(12,5 cm) 1,5 = 11-13cm


Conjugate transversa : diukur dari titik terjauh linea terminalis kiri dan kanan tegak lurus
dengan conjugate vera. 13-

c.

14,5 cm.
Conjugate obstetrica : jarak
antara

promontorium

ke

pinggir tengah simpisis pubis.


Bagian aditus pelvis yang
paling sempit, 10,6 cm.
-

Mid pelvis
Dibentuk oleh : apex arcus pubis,
spina ischiadica, ujung os.sacrum.
Paling sempit, bentuk oval, sering
terjadi kemacetan pada persalinan.
Ukuran yang penting :
a. Anteroposterior : tepi bawah
simp.pubis
pertengahan
b.

sampai
os.sacrum

4.

11,5-12 cm.
Transversa : spina ischiadica
kanan kiri. 10-10,5 cm

c.
-

Sagittal : anteroposterior dengan potongan transversa

PBP (exitus pelvis)


a. Anteroposterior : 9,5-11,5 cm
b. Transversa : tuber ischiadicum kanan kiri. 10,5-11 cm
c. Sagitalis posterior : ujung os sacrum dengan perpotongan antara anteroposterior
dengantransversa.10,5-11cm.

Bidang Hodge : untuk menentukan petunjuk turunnya bagian bawah fetus.


- Hodge I : bidang yang sama dengan PAP
- Hodge II : sejajar H I setinggi pinggir bawah sim.pubis
- Hodge III : sejajar H I melalui spina ischiadica
- Hodge IV : sejajar H I setinggi ujung os.sacrum
Perdarahan :

Arteri iliaca interna -> arteri uterina -> arteri vaginalis. Arteri vaginalis ke arah fundus kemudian bercabang
menjadi :

R.ovaricus melalui ligamentum ovarii proprium menuju ovarium


A. Ligamenti teretis uteri, mengikuti lig. Teres uteri
R. Tubarius mengikuti tuba uterina.

Persarafan :
N.pudendus untuk persarafan genitalia eksterna , n.pudendus masuk ke foramen ischiadicum sebagai n.
Clitoridis. Cabang yang lain: n.hemorrhoidalis inferior utnuk m.spinchter ani externus dan ke kulit regio analis.
N. Perianalis berkahir sebagai n.labialis untuk labium majus. Plexus hypogastricus superior dan inferior untuk
persarafan genitalia interna.
Pembuluh lympe:
Bagaian proximal mengikuti kembali r.vaginalis a. Uternae ke lnn. Illiaci interni.
Bagian medial mengikuti kembali r.Vaginali a.Vesicalis inferior ke Inn sepanjang a.Vesicalis inferior ke

Inn. Illiaca interni.


Bagian dari vagina distal, dinding vestibulum vaginae, labia minora, labia major.

L.O.1.2. Menjelaskan Mikroskopis Genitalia Eksterna dan Interna Wanita


Ovarium :

Epitel sel kuboid rendah atau gepeng yaitu epitel germinal


Dibawah epitel germinal adalah jaringan ikat padat yang disebut tunika albuginea.
Ovarium memiliki :
Korteks di tepi : folikel-folikel, fibrosit dengan serat kolagen dan retikular.
Medulla di tengah : pembuluh darah,saraf dan pembuluh limfe.
Folikel primordial -> folikel primer -> folikel sekunder -> folikel tersier atau de graaf -> corpus luteum

-> corpus albicans


Folikel yang mengalami atresia pada semua tahap perkembangan folikel menajdi folikel atretik.
Ovum : ovum dikelilingi sel granulosa yang membentuk bukit kecil yaitu kumulus ooforus. Satu

lapisan sel granulosa yang berdekatan dengan oosit primer membentuk korona radiata. Di antara
korona radiata dan sitoplasma oosit primer adalah glikoprotein

terpulas asidofilik disebut zona

pellusida.
Tuba Uterina :
Epitel selapis silindris bersilia (epitheliocytus ciliatus) dan tidak bersilia (sel sekretorik)
Sel bersilia menciptakan arus ke arah uterus dan menjadi predominan dalam fase proliperatif.
Sel sekretorik menghasilkan nutrisi
Mukosa terdiri dari banyak plica dan membentuk lumen yang tidak rata.

Uterus

Dinding luar

yaitu

perimetrium, tengah miometrium dan sebelah dalam endometrium.


Endometrium dilapisi oleh epitel selapis silindris.Dibagi dalam dua lapisan yaitu stratum basale dan

stratum functionale
Terdapat kelenjar uterus di lamina propia.
Terdapat arteri spiralis di endometrium.
Miometrium terdiri dari otot polos, dipisahkan oleh jaringan ikat interstisial dengan banyak pembuluh
darah .

Serviks, Kanalis dan Forniks Vagina


Kanalis servikalis dilapisi oleh epitel kolumner tingi penghasil mukus.
Epitel serviks dilapisi oleh kelenjar serviks ke dalam lamina propia.
Kelenajar serviks yang tersumbat dan berkembang menjadi kista glandular.
Jaringan ikat di lamina propria serviks lebih fibrosa daripada di uterus.
Porsio vagina dilapisi epitel berlapis gepeng tanpa tanduk.
Vagina
Dilapisi epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk.
Lamina propria tidak memiliki kelenjar tetapi mengandung banyak pembuluh darah dan lomfosit.

L.I.2. Memahami dan Mempelajari Leukorea


L.O. 2.1. Menjelaskan Definisi dan Epidemiologi Leukorea

10

Leukorea adalah sekret berwarna putih dan kental dari vagina dan rongga uterus (dorland, 2010). Vagina yang
normal selalu berada dalam kondisi lembab dan permukaannya basah oleh cairan/lendir. Sekret diproduksi oleh
kelenjar pada leher rahim (serviks), dinding vagina dan kelenjar bartholin dibibir kemaluan, menyatu dengan
sel-sel dinding vagina yang lepas serta bakteri normal didalam vagina, bersifat asam.
Leukorea penyebab terseringnya ialah 40-50% bakteri vaginosis. Penyebab lainnya 20-25% candidiasis
yaitu 80-90% oleh candida albicans dan 15% oleh candida glabiata. Trichomoniasis 5-20% dari kasus infeksi
vagina.
L.O.2.2. Menjelaskan Etiologi Leukorea
Leukorea normal umumnya terjadi pada :

Bayi yang baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari, penyebabnya adalah pengaruh estrogen dari
plasenta terhadap uterus dan vagina janin.

Waktu disekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen.

Wanita dewasa saat dirangsang sebelum dan pada waktu koitus, disebabkan peningkatan transudasi dari
dinding vagina

Waktu disekitar ovulasi, dengan sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri menjadi lebih encer.

Pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri pada saat menopause.

Leukorea patologis :
Infeksi :

Bakteri
Gardnerella Vaginalis
Menyebabkan peradangan vagina yang tidak spesifik dan kadang dianggap sebagai bahan dari

mikroorganisme normal dalam vagina karena seringnya ditemukan. Bakteri batang gram positif ini biasanya
mengisi penuh sel epitel vagina dengan membentuk bentukan khas dan disebut sebagai clue cell. Gardnerella
vaginalis menghasilkan asam amino yang diubah menjadi senyawa amin yang menimbulkan bau amis seperti
ikan. Cairan vagina tampak berwarna keabu-abuan pH.sekret vagina > 4,5 ( pH normal adalah < 4,5 ).
Secara klinik menurut Amsel (1983), untuk menegakkan diagnosis vaginosis bakterial harus ada tiga
dari empat kriteria sebagai berikut, yaitu:
1) Sekret vagina homogen, tipis, putih, melekat pada dinding vagina. Sekret vagina bakterial vaginosis ini
biasanya tipis, putih keabu-abuan, homogen, dan melekat pada dinding vagina
2) pH vagina > 4,5. pH vagina mudah ditentukan dengan menggunakan kertas lakmus ( interval 4,0 7,0 ).
Biasanya pH vagina pada kasus bakterial vaginosis > 4,5
3) Bau amis dari vagina setelah penambahan KOH 10 %.
Whiff test dinyatakan positif: bila bau amis atau bau amin terdeteksi dengan penambahan KOH 10 % pada sekret
vagina. Bau disebabkan pelepasan amin terutama putresin dan kadaverin dan asam organik hasil alkalisasi
bakteri anaerob.
4) Adanya clue cell ( lebih dari 20 % )
Identifikasi clue cell pada preparat basah saline :
- clue cell yang merupakan epitel vagina yang terlepas dimana pada permukaan sel-sel ini terdapat bintik-bintik
keabuan, penuh dengan Gardnerella vaginalis merupakan gejala patognomonis dari vaginosis bakterial.

11

- Untuk diagnosis vaginosis bakterial berdasarkan patokan jumlah clue cell 20% dari seluruh jumlah sel epitel
vagina per lapangan pandang. Jumlahnya dihitung berdasarkan jumlah rata-rata dari 5 area pada satu lapang
pandang.
- clue cell memiliki tepi yang ireguler dan sitoplasmanya dipenuhi dengan bakteri, memberikan gambaran
granuler.
Sumber :http://thunderhouse4-yuri.blogspot.com/2010/11/bacterial-vaginosis.html
Chlamydia trachomatis
Infeksi klamidia sering ditemukan pada wanita dewasa yang seksual aktif. Infeksi klamidia ini juga
didapatkan pada bayi dan anak-anak. Infeksi pada bayi didapatkan pada masa perinatal. Infeksi pada bayi yang
paling sering didapatkan adalah konjungtivitis neonatal, terjadi pada 20 50% bayi yang dilahirkan dengan
infeksi klamidia trakomatis. Klamidia ini mempunyai dinding sel kuman gram negatif, berukuran 0,2-1,5
mikron, berbentuk sferis, tidak bergerak.
Mobilunkus
Genus ini terdiri dari bakteri motil, berbentuk lengkung, gram negatif batang anaerob.
Neisseria gonorrhoeae
Gonokokus adalah bakteri yang umumnya menginfeksi karena kontak seksual. Biasanya pada wanita
mengenai membrane mukosa uretra dan endoserviks, selanjutnya infeksi akan menyebar ke jaringan yang
lainnya. Neisseria gonorrhoeae ini merupakan bakteri gram negatif, diplokokkus, berdiameter 0,6 1,0 m,
koloni berbentuk cembung, berkilau, sifat mukoid, transparan, tidak
berpigmen. Bersifat fakultatif aerobik. Bakteri ini dapat ditemukan
ekstraseluler dan intraseluler dalam leukosit polimorfonuklear
( neutrofil ). Gonokokus mempunyai koloni kecil yang khas
mengandung bakteri yang berpili. Pili merupakan struktur antigen
yang berbentuk seperti rambut menjulur keluar dari permukaan
gonokokus. Struktur ini berfungsi untuk menempel pada sel pejamu
dan resisten terhadap fagositosis.

Protozoa
Trichomonas vaginalis
Trichomonas merupakan protozoa yang bergerak dengan flagel. Protozoa ini berbentuk oval, panjang

4-32 mikrometer dan lebar 2,4-14,4 mikrometer, memiliki flagella dan undulating membran yang panjangnya
hanya setengah panjang tubuhnya. Intinya berbentuk oval dan terletak di bagian atas tubuhnya, di belakang inti
terdapat blepharoblast sebagai tempat keluarnya 4 buah flagella. Flagella kelima melekat ke undulating
membrane dan menjuntai ke belakang sepanjang setengah panjang tubuh protozoa ini. Sitoplasma terdiri dari
suatu struktur yang berfungsi seperti tulang yang disebut axostyle. Trichomonas vaginalis tidak memiliki bentuk
kista. Perkembang biakannya dengan cara membelah diri.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3501/1/06001195.pdf

Jamur
Candida albicans
Candida termasuk spora aseksual yaitu spora yang dibentuk dari hifa reproduktif, termasuk blastospora.

Candida albicans bersifat dismorfik yaitu memiliki bentuk kapang (sel-sel yang memanjang dan bercabang) dan

12

bentuk khamir (sel berbentuk bulat, lonjong atau memanjang yang berkembang biak dengan membentuk tunas
dan koloni yang basah atau berlendir). Selain ragi dan pseudohifa, juga dapat menghasilkan hifa sejati. Pada
medium agar atau dalam 24 jam pada suhu 37 oC atau suhu ruangan, kandida menghasilkan koloni lunak
berwarna krem dengan bau seperti ragi. Kandidiasis kutan atau mukosa terjadi melalui peningkatan jumlah
kandida lokal dan adanya kerusakan pada kulit atau epitel yang memungkinkan invasi lokal oleh ragi dan
pseudohifa.

sumber : http://www.ppdictionary.com/mycology/albicans.htm

Virus
Virus herpes simpleks
Herpes simpleks genitalis dapat ditularkan melalui kontak seksual tetapi tidak dapat ditularkan melalui

udara atau melalui air, misalnya jika seseorang berenang di kolam renang.
Herpes simpleks disebabkan oleh Herpes Virus Hominis atau Herpes Simpleks virus merupakan salah
satu infeksi yang tersering pada manusia .Struktur virus terdiri atas genom DNA untai ganda linier berbentuk
toroid, kapsid, dan selubung. Herpes simpleks termasuk alfaherpesvirus yaitu virus sitolitik yang tumbuh cepat,
cenderung menyebabkan infeksi laten di neuron. Siklus pertumbuhan HSV berlangsung cepat, selesai dalam
waktu 8-16 jam. Genom HSV besar dan dapat menyandikan 70 polipeptida.
Infeksi dapat berupa kelainan pada daerah orolabial serta daerah genital, dengan gejala khas adanya
vesikel berkelompok di atas dasar yang eritema .Ada 2 tipe mayor antigenik dimana Herpes Simpleks virus tipe
I berhubungan dengan infeksi pada wajah dan Herpes Simpleks virus tipe II berhubungan dengan infeksi genital.
Infeksi herpes genital primer dapat berat yang berlangsung sekitar 3 minggu. Herpes genital ditandai dengan lesi
vesikuloulseratif pada penis atau serviks, vulva,vagina dan perineum pada perempuan. Lesi sangat nyeri dan
disertai demam, malaise, disuria dan limfadenopati inguinal.

sumber : http://www.oculist.net/downaton502/prof/ebook/duanes/pages/v4/v4c019.html
Human papilloma virus
Human Papilloma Virus (HPV) merupakan virus DNA famili Papovaviridae. Terdiri dari double strand
DNA dan sirkular dengan 5-8 gen dan virus ini tidak berselubung. Virus ini menginfeksi sel pipih epitelium dan
menyebabakn kaedaan hiperplasia epitel.

13

Benda asing.
Adanya benda asing seperti tertinggalnya kondom atau benda tertentu yang dipakai pada waktu

senggama, adanya cincin pesarium yang digunakan wanita dengan prolapsus uteri dapat merangsang
pengeluaran cairan vagina yang berlebihan. Jika rangsangan ini menimbulkan luka akan sangat mungkin terjadi
infeksi penyerta dari flora normal yang berada di dalam vagina sehingga timbul leukorea.
Neoplasma/ keganasan.
Kanker akan menyebabkan leukorea patologis akibat gangguan pertumbuhan sel normal yang
berlebihan sehingga menyebabkan sel bertumbuh sangat cepat secara abnormal dan mudah rusak, akibat terjadi
pembusukan dan perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah yang bertambah untuk memberikan makanan dan
oksigen pada sel kanker tersebut. Pada keadaan ini akan terjadi pengeluaran cairan yang banyak disertai bau
busuk akibat terjadinya proses pembusukan dan disertai oleh adanya darah yang tidak segar.

Keputihan akibat sering dibersihkan


Kebiasaan yang sebetulnya tidak sehat dalam memperlakukan vagina. Terlalu sering membersihkan

vagina dengan bahan dengan bahan antisepsis tidaklah menyehatkan. Kuman kuman yang bermukim disekitar
saluran vagina ikut terbunuh oleh bahan antisepsis yang sering digunakan (Handrawan, 2008).
L.O.2.3. Menjelaskan Patogenesis Leukorea
Flora vagina normal mencakup Streptokokus alfa hemolitik, Streptokokus anaerob( peptostreptokokus),
spesies prevotella, klostridia, Gardnerella vaginalis, Ureaplasma urealyticum, dan kadang-kadang listeria atau
spesies mobilunkus. Lactobacillus acidophilus ( Doderleins bacillus ) yang paling dominan.
Gangguan keseimbangan flora normal atau perubahan suasana asam menjadi alkalis memicu kolonisasi
mikroorganisme lain. Keadaan ini dapat mengakibatkan kelainan berupa vaginosis bakterialis, vaginitis, dan
servisitis sehingga sekret vagina menjadi abnormal dan jumlahnya berlebihan. Pada vaginosis bakterialis terjadi
pertumbuhan berlebihan bakteri Gardnerella vaginalis akibat peningkatan pH asam vagina alkalis dan
pertumbuhan berlebihan bakteri anaerob lainnya, Bacteroides spp, dan Mobiluncus spp. Vaginitis dapat
disebabkan oleh jamur Candida albicans ( kandidosis, kandidiasis ), serta dapat disebabkan oleh protozoa
Trichomonas vaginalis ( trikomoniasis ). Sevisitis dapat disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae dan
parasit Chlamydia trachomatis.
Pada keadaan normal, cairan yang keluar dari vagina wanita dewasa sebelum menopause terdiri dari
epitel vagina, cairan transudasi dari dinding vagina, sekresi dari endoserviks berupa mukus, sekresi dari saluran
yang lebih atas dalam jumlah yang bervariasi serta mengandung berbagai mikroorganisme terutama
Laktobasilus doderlein.
Peranan basil Doderlein dianggap sangat penting dalam menjaga suasana vagina dengan menekan
pertumbuhan mikroorganisme patologis karena basil Doderlein mempunyai kemampuan mengubah glikogen
dari epitel vagina yang terlepas menjadi asam laktat, sehingga vagina tetap dalam keadaan asam dengan pH 3,0
4,5 pada wanita masa reproduksi. Suasana asam inilah yang mencegah timbulnya mikroorganisme.
Bila terjadi suatu ketidakseimbangan suasana flora vagina yang disebabkan oleh beberapa faktor maka
terjadi penurunan fungsi basil Doderlein dengan berkurangnya jumlah glikogen karena fungsi proteksi basil
Doderlein berkurang maka terjadi aktifitas dari mikroorganisme patologis yang selama ini ditekan oleh flora
normal vagina. Progresifitas mikroorganisme patologis secara klinis akan memberikan suatu reaksi inflamasi di

14

daerah vagina. Sistem imun tubuh akan bekerja membantu fungsi dari basil Doderlein sehingga terjadi
pengeluaran leukosit PMN, maka terjadilah leukorea.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/38795/4/Chapter%20II.pdf
Patologi dan patogenesa
Trichomonas vaginalis masuk ke dalam vagina melalui hubungan seksual, yang kemudian menyerang epitel
squamosa vagina dan berproliferasi. Hal ini menyebabkan suplai glikogen untuk lactobacillus menjadi
berkurang. Akibatnya jumlah lactobacillus Doderlein menjadi sedikit sehingga produksi asam laktat akan
semakin menurun. Kemudian, terjadi peningkatan pH vagina anatara 5 5,5. Pada suasana basa seperti ini
selain Trichomonas vaginalis berkembang semakin cepat, akan memungkinkan untuk berkembangnya patogen
lain.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3501/1/06001195.pdf
L.O.2.4 Menjelaskan Manifestasi Klinis Leukorea
Gejala akibat candida albicans :
Flour albus atau keputihan berwrna putih, keju lembut seperti dadih
Gatal dan seperti terbakar pada vulva
Nyeri, rasa panas, dispreunia dan disuria
Biasanya sekret tidak berbau
pH < 4,5
preprat KOH memperlihatkan tangkai ragi dan pseudohifa
Gejala akibat vaginosis bakteri :
Sekret bau bususk, mungkin gatal
Sekret vagina meningkat , homogen, berwarna abu-abu
pH >4,5
Bau seperti bau ikan
Mikroskopis : aada clue cell dengan basil adheren, tidak ada PMN
Gejala akibat trichomonas vaginalis :
Leukorea encer sampai kental
Berwarna kuning dan agak berbau
Rasa gatal dan membakar
Disuria dan sering kencing.
Gejala akibat herpes genitalis :
Terdapat vesikel di daerah labia minora, bagian dalam labia mayora dan prepusium clitoridis.
Adanya gatal dan panas, jika digaruk timbul infeksi sekunder.
Tampak ulkus-ulkus kecil yang dangkal.
Leukorea, perdarahan dan disuria.
Gejala kondiloma akuminatum :
Berbentuk seperti kembang kubis dengan ditengahnya jaringan ikat dan ditutup terutama dibagian atas
oleh epitel dengan hiperkeratosis.
Leukorea
Gejala akibat chlamydia trachomatis
Keluhan tidak khas dan serupa dengan servisitis gonore, yaitu adanya cairan vagina.
Serviks eritem, mukopurulen dan mudah berdarah saat pengambilan bahan pemeriksaan.
L.O.2.5. Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding Leukorea
Diagnosis
1. Anamnesis

15

Usia, jumlah, masa inkubasi/lama terjadinya, paparan PHS, pemakaian antibiotic (kortikostreroid),
hubungan dengan menstruasi ovulasi dan kehamilan, antibiotic vaginal touche, warna, iritatisi : infeksi,
2.

benda asing, neoplasma. Pruritus : T.vaginalis/ C.albikans. penyakit sistemik, pil KB.
Pemeriksaan fisik :
Inspeksi kulit perut bawah terutama perineum dan anus, inspeksi rambut pubis, inspeksi dan palpasi
genitalia eksterna, pemeriksaan speculum untuk vagina dan serviks, pemeriksaan bimanual pelvis,

3.

palpasi pembesaran KGB inguinal dan femoral.


Pemeriksaan penunjang
Nilai sekresi dinding vagina (warna, konsistensi, bau), kertas indicator PH (n=4-4,5), swab untuk
pemeriksaan dengan larutan garam fisiologis dan KOH 10%, kultur (pila perlu), pewarnaan gram,
serologi sifilis, tes PAP.

Diagnosis penyebab infeksi:


1. Trikomoniasis
- Anamnesis:
sering tidak menunjukkan keluhan , kalau ada biasanya berupa duh tubuh vagina yang banyakmdan
baerbau maupun dispareunia, perdarahan pasca coitus dan perdarahan intermestrual. Jumlah lekore
banyak, berbau, menimbulkan iritasi dan gatal.Warna sekret putih, kuning atau purulen.Konsistensi
homogen, basah, frothy atau berbusa (foamy).Terdapat eritem dan edema pada vulva disertai dengan
-

ekskoriasi.Sekitar 2-5% tampak strawberry servix yang sangat khas pada trichomonas.
Laboratorium: pH>4,5 dan Sniff test (+)
Mikroskopik: pemeriksaan sediaan basah dengan larutan garam fisiologis terlihat pergerakan
trichomonas berbentuk ovoid, ukuran lebih besar dari PMN dan mempunyai flagel, leukosit (+) dan

2.

clue cell dapat (+)


Kandidosis vulvovaginal
- Anamnesis:
keluhan panas, atau iritasi pada vulva dan keputihan yang tidak berbau. Rasa gatal/iritasi disertai
keputihan tidak berbau atau berbau asam. Keputihan bisa banyak, putih keju atau seperti kepala
susu/krim, tetapi kebanyakan seperti susu pecah. Pada dnding vagina biasanya dijumpai gumpalan
keju (cottage cheeses). Pada vulva/dan vagina terdapat tanda-tanda radang, disertai maserasi,
-

psuedomembran, fissura dan lesi satelit papulopustular


Laboratorium: pH vagina <4,5 dan Whiff test (-)
Mikroskopik: pemeriksaan sediaan basah dengan KOH 10% atau dengan pewarnaan gram ditemukan
blastopora bentuk lonjong, sel tunas, pseudohifa dan kadang kadang hifa asli bersepta

3.

Vaginosis bacterial
- Anamnesis:
Mempunyai bau vagina yang khas yaitu bau amis terutama waktu berhubungan seksual, namun
sebagian besar dapat asimtomatik. Keputihan dengan bau amis seperti ikan. Sekret berlebihan,
banyaknya sedang sampai banyak, homogen, warna putih atau keabu-abuan, melekat pada dinding
-

4.

vagina.Tidak ada tanda-tanda inflamasi.


Laboratorium: pH >4,5 biasanya berkisar antara 5-5,5 dan Whiff test (+)
Mikroskopik: clue cell (+) jarang terdapat leukosi

Servisitis Gonore
- Anamnesis:
Gejala subjektif jarang ditemukan .Pada umumnya wanita datang berobat kalau sudah ada
komplikasi.Sebagian besar penderita ditemukan pada pemeriksaan antenatal atau pemeriksaan

16

keluarga berencana.Duh tubuh serviks yang mukopurulen.Serviks tampak eritem, edema, ektopi dan
-

mudah berdarah pada saat pengambilan bahan pemeriksaan.


Laboratorium: kultur
Mikroskopik: Pemeriksaan sedian langsung dengan pengecatan gram ditemukan diplokokus gram
negatif, intraseluler maupun ekatraseluler

5.

Klamidiasis
- Anamnesis: gejala sering tidak khas, asimtomatik, atau sangat ringan. Eksudat seviks mukopurulen,
-

erosi seviks, atau folikel-folikel kecil (microfollicles)


Laboratorium: pemeriksaan serologis untuk deteksi antigen melalui ELISA
Mikroskopik: dengann pengecatan giemsa akan ditemukan badan elementer dan badan retikulat
DD :Kanker serviks (keputihan warna putih purulent yang berbau dan tidak gatal)
L.O.2.6. Menjelaskan Tatalaksana Leukorea
L.O.2.7. Menjelaskan Komplikasi Leukorea

Gangguan Psikologis
Respon psikologis seseorang terhadap keputihan akan menimbulkan kecemasan yang berlebihan dan

membuat seseorang merasa kotor serta tidak percaya diri dalam menjalankan aktifitasnya sehari hari
(Manuaba, 1998)

Vulvitis
Sebagaian besar dengan gejala keputihan dan tanda infeksi lokal, penyebab secara umum jamur.Bentuk

vulvitis adalah infeksi kulit berambut dan infeksi kelenjar bartholini.Infeksi kulit berambut terjadi perubahan
warna, membengkak, terasa nyeri, kadang kadang tampak bernanah dan menimbulkan kesukaran
bergerak.Infeksi kelenjar bartholini terletak di bagian bawah vulva, warna kulit berubah, membengkak, terjadi
penimbunan nanah di dalam kelenjar, penderita sukar untuk berjalan dan duduk karena sakit.

Vaginitis

Vaginitis merupakan infeksi pada vagina yang disebabkan oleh berbagai parasit atau jamur. Infeksi ini sebagian
besar terjadi karena hubungan seksual.Tipe vaginitis yang sering dijumpai adalah vaginitis candidiasis dan
trikomonalis vaginalis. Vaginitis candidiasis merupakan keputihan kental bergumpal, terasa sangat gatal dan
mengganggu, pada dinding vagina sering dijumpai membran putih yang bila dihapus dapat menimbulkan
perdarahan, sedangkan trikomonalis vaginalis merupakan keputihan yang encer sampai kental, kekuningan,
gatal dan terasa membakar serta berbau.

Serviksitis
Serviksitis merupakan infeksi dari servik uteri.Infeksi serviks sering terjadi karena luka kecil bekas

persalinan yang tidak dirawat dan infeksi karena hubungan seksual.Keluhan yang dirasakan terdapat keputihan,
mungkin terjadi kontak bleeding saat berhubungan seksual.

Penyakit radang Panggul (Pelvic Inflammantory Disease)


Penyakit radang Panggul merupakan infeksi alat genetalia bagian atas wanita, terjadi akibat hubungan

seksual. Penyakit ini dapat bersifat akut atau menahun atau akhirnya akan menimbulkan berbagai penyulit yang
berakhir dengan terjadinya perlekatan sehingga dapat menyebabkan kemandulan. Tanda-tandanya yaitu nyeri
yang menusuk-nusuk di bagian bawah perut, mengeluarkan keputihan dan bercampur darah, suhu tubuh
meningkat dan pernafasan bertambah serta tekanan darah dalam batas normal.
(Manuaba, 1998).

17

L.O.2.8. Menjelaskan Pencegahan Leukorea


Hal yang menjaga kebersihan organ kewanitaan yaitu :
1.
2.
3.

Membersihkan genital dari depan ke belakang sacra satu arah.


Membasuh sacara teratur bagian bibir vagina dengan menggunakan air bersih.
Janagn terlalu sering membasuh vagina dengan cairan kimia dan penggunaan deodoran disekitar vagina

4.
5.

karena akan merusak kesimbangan organisme


Mengeringkan alat kelamin dengan tissue atau handuk agar tidak lembab.
Gunakan celana dalam yang kering.
L.O.2.9. Menjelaskan Prognosis Leukorea
Biasanya kondisi-kondisi yang menyebabkan fluor albus memberikan respon terhadap pengobatan

dalam beberapa hari. Kadang-kadang infeksi akan berulang. Dengan perawatan kesehatan akan menentukan
pengobatan yang lebih efektif.
L.I.3. Memahami dan mempelajari Pemeriksaan PAP Smear
Tes Pap Smear adalah pemeriksaan sitologi dari serviks dan porsio untuk melihat adanya perubahan
atau keganasan pada epitel serviks atau porsio (displasia) sebagai tanda awal keganasan serviks atau prakanker
(Rasjidi, Irwanto, Sulistyanto, 2008).
Manfaat Pap Smear
Pemeriksaan Pap Smear berguna sebagai pemeriksaan penyaring (skrining) dan pelacak adanya
perubahan sel ke arah keganasan secara dini sehingga kelainan prakanker dapat terdeteksi serta pengobatannya
menjadi lebih murah dan mudah (Dalimartha, 2004).
Manfaat Pap Smear secara rinci dapat dijabarkan sebagai berikut (Manuaba, 2005):
a. Diagnosis dini keganasan
Pap Smear berguna dalam mendeteksi dini kanker serviks, kanker korpus endometrium, keganasan tuba fallopi,
dan mungkin keganasan ovarium.
b. Perawatan ikutan dari keganasan
Pap Smear berguna sebagai perawatan ikutan setelah operasi dan setelah mendapat kemoterapi dan radiasai.
c. Interpretasi hormonal wanita
Pap Smear bertujuan untuk mengikuti siklus menstruasi dengan ovulasi atau tanpa ovulasi, menentukan
maturitas kehamilan, dan menentukan kemungkunan keguguran pada hamil muda.
d. Menentukan proses peradangan
Pap Smear berguna untuk menentukan proses peradangan pada berbagai infeksi bakteri dan jamur.
Petunjuk Pemeriksaan Pap Smear
American Cancer Society (2009) merekomendasikan semua wanita sebaiknya memulai skrining 3
tahun setelah pertama kali aktif secara seksual. Pap Smear dilakukan setiap tahun. Wanita yang berusia 30 tahun
atau lebih dengan hasil tes Pap Smear normal sebanyak tiga kali, melakukan tes kembali setiap 2-3 tahun,
kecuali wanita dengan risiko tinggi harus melakukan tes setiap tahun. Pap Smear tidak dilakukan pada saat
menstruasi. Waktu yang paling tepat melakukan Pap Smear adalah 10-20 hari setelah hari pertama haid terakhir.

18

Pada pasien yang menderita peradangan berat pemeriksaan ditunda sampai pengobatan tuntas. Dua hari sebelum
dilakukan tes, pasien dilarang mencuci atau menggunakan pengobatan melalui vagina. Hal ini dikarenakan obat
tersebut dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Wanita tersebut juga dilarang melakukan hubungan seksual
selama 1-2 hari sebelum pemeriksaan Pap Smear (Bhambhani, 1996).
Prosedur Pemeriksaan Pap Smear
Menurut Soepardiman (2002), Manuaba (2005), dan Rasjidi (2008), prosedur pemeriksaan Pap Smear
adalah:
1. Persiapan alat-alat yang akan digunakan, meliputi spekulum bivalve (cocor bebek), spatula Ayre, kaca objek
yang telah diberi label atau tanda, dan alkohol 95%.
2. Pasien berbaring dengan posisi litotomi.
3. Pasang spekulum sehingga tampak jelas vagina bagian atas, forniks posterior, serviks uterus, dan kanalis
servikalis.
4. Periksa serviks apakah normal atau tidak.
5. Spatula dengan ujung pendek dimasukkan ke dalam endoserviks, dimulai dari arah jam 12 dan diputar 360
searah jarum jam.
6. Sediaan yang telah didapat, dioleskan di atas kaca objek pada sisi yang telah diberi tanda dengan membentuk
sudut 45 satu kali usapan.
7. Celupkan kaca objek ke dalam larutan alkohol 95% selama 10 menit.
8. Kemudian sediaan dimasukkan ke dalam wadah transpor dan dikirim ke ahli patologi anatomi.
Interpretasi Hasil Pap Smear
Terdapat banyak sistem dalam menginterpretasikan hasil pemeriksaan Pap Smear, sistem Papanicolaou, sistem
Cervical Intraepithelial Neoplasma (CIN), dan sistem Bethesda.
Klasifikasi Papanicolaou membagi hasil pemeriksaan menjadi 5 kelas (Saviano, 1993), yaitu:
a. Kelas I : tidak ada sel abnormal.
b. Kelas II : terdapat gambaran sitologi atipik, namun tidak ada indikasi adanya keganasan.
c. Kelas III : gambaran sitologi yang dicurigai keganasan, displasia ringan sampai sedang.
d. Kelas IV : gambaran sitologi dijumpai displasia berat.
e. Kelas V : keganasan.
Menurut sistem CIN pengelompokan hasil uji Pap Semar terdiri dari (Feig, 2001):
a. CIN I merupakan displasia ringan dimana ditemukan sel neoplasma pada kurang dari sepertiga lapisan
epitelium.
b. CIN II merupakan displasia sedang dimana melibatkan dua pertiga epitelium.
c. CIN III merupakan displasia berat atau karsinoma in situ yang dimana telah melibatkan sampai ke basement
membrane dari epitelium.

19

Klasifikasi Bethesda pertama kali diperkenalkan pada tahun 1988. Setelah melalui beberapa kali pembaharuan,
maka saat ini digunakan klasifikasi Bethesda 2001. Klasifikasi Bethesda 2001 adalah sebagai berikut
(Marquardt, 2002):
1. Sel skuamosa
a. Atypical Squamous Cells Undetermined Significance (ASC-US)
b. Low Grade Squamous Intraepithelial Lesion (LSIL)
c. High Grade Squamous Intraepithelial Lesion (HSIL)
d. Squamous Cells Carcinoma
2. Sel glandular
a. Atypical Endocervical Cells
b. Atypical Endometrial Cells
c. Atypical Glandular Cells
d. Adenokarsinoma Endoservikal In situ
e. Adenokarsinoma Endoserviks
f. Adenokarsinoma Endometrium
g. Adenokarsinoma Ekstrauterin
h. Adenokarsinoma yang tidak dapat ditentukan asalnya (NOS)
L.I.4. Memahami dan mempelajari Pandangan Islam terhadap Keputihan (Leukorea).
Perlu kita ketahui,bahwa Keputihan Tidak termasuk haid. Cairan putih sebab keputihan hukumnya
najis, karena keluar dari dalam ms V . Untuk masalah shalat bagi wanita yang menderita keputihan, apabila
cairan itu keluar terus menerus seperti orang beser, maka berlaku hukum seperti orang yang beser. Cara yang
harus dilakukan adalah dengan mensucikan kemaluan/ms.V setelah itu disumbat dengan pembalut atau kapas.
Barulah kemudian berwudlu dengan menyegerakan shalat. Penderita keputihan dan orang yang beser tidak
boleh menunda-nunda shalat setelah berwudlu, kecuali untuk kemaslahatan shalat seperti menjawab adzan atau
menunggu jamaah.

20