Anda di halaman 1dari 14

Hipertensi Heart Disease

Hipertensi heart disease adalah tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya diatas
140 MmHg dan tekanan diastolik 90 MmHg sehingga meningkatnya tekanan darah menuju
jantung.
Hipertensi heart disease adalah meningkatnya tekanan darah menuju jantung merupakan
penyebab utama gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal.
Hipertensi heart disease adalah risiko merbiditas dan mertalitas prematur, yang meningkat
sesuai dengan peningkatan tekanan sistolik dan diastolik menuju jantung.
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya
diatas 140 mmHg dan tekanan diastoliknya diatas 90 mmHg.( Smith Tom, 1995 )
Menurut WHO, penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan sistolik lebih besar atau
sama dengan 160 mmHg dan atau tekanan diastolik sama atau lebih besar 95 mmHg
( Kodim Nasrin, 2003 ).
Penyebab dan Faktor Resiko
Tekanan darah tinggi akan meningkatkan kerja jantung, dan seiring waktu, hal ini dapat
menyebabkan otot jantung menjadi lemah. Fungsi jantung sebagai pompa terhadap
peninggian tekanan darah di atrium kiri diperbesar ke bilik jantung dan jumlah darah yang
dipompa oleh jantung setiap menit (output jantung) menjadi turun, dimana tanpa
pengobatan, gejala-gejala kegagalan janutng ingestive dapat berkembang.
Tekanan darah tinggi yang paling umum adalah faktor resiko untuk penyakit jantung dan
stroke. Ischemic dapat menyebabkan penyakit jantung (penurunan suplai darah ke otot
jantung pada kejadian anginapektoris dan serangan jantung) dari peningkatan pasokan
oksigen yang dibutuhkan oleh otot jantung yang lemah.
Tekanan darah tinggi juga memberikan kontribusi untuk bahan dari dinding pembuluh darah
yang pada gilirannya dapat memperburuk atheroscherotis. Hal ini juga akan meningkatkan
resiko serangan jantung dan stroke.
Gambaran Klinik
Pada stadium dini hipertensi, tampak tanda-tanda akibat rangsangan simpatis yang kronis.
Jantung berdenyut cepat dan kuat. Terjadi hipersirkulasi yang mungkin akibat aktifitas
sistem neurohumoral yang meningkat disertai dengan hipervolemia. Pada stadium
selanjutnya, timbul mekanisme kompensasi pada otot jantung berupa hipertrofi ventrikel kiri
yai.g difus, tahanan pembuluh darah perifer meningkat.
Gambaran klinik seperti sesak natas, salah satu dari gejala gangguan fungsi diastolik,
tekanan pengisian ventrikel meningkat, walaupun fungsi sistolik masih normal. Bila
berkembang terus, terjadi hipertrofi yang eksentrik dan akhirnya menjadi dilatasi ventrikel,
dan timbul gejala payah jantung. Stadium ini kadangkala disertai dengan gangguan pada
faktor koroner. Adanya gangguan sirkulasi pada cadangan aiiran darah koroner akan
memperburuk kelainan fungsi mekanik/pompa jantung yang selektif.
Keluhan dan Gejala

Pada tahap awal, seperti hipertensi pacla urmimnya kebanyakan pasien tidak ada keluhan.
Bila sitnioma ik, maka bins mya disebabkan oleh
1. Peninggian tekanan darah itu sendiri. Seperti berdebar-debar, rasa melayang (dizzy)
dan impoten
2. Penyakit jantung/hipertensi vaskular seperti cepat capek, sesak napas, sakit dada
(iskemia miokard atau diseksi aorta), bengkak kedua kaki atau perut. Gangguan
vaskular lainnya adalah epistaksis, hematuria, pandangan kabur karena perdarahan
retina, transient serebral ischemic.
3. Penyakit dasar seperti pada hipertensi sekunder: polidipsia, poliuria, dan kelemahan
otot pada aldosteronisme primer, peningkatfin BB dengan emosi yang labil pada
sindrom Cushing. Feokromositoma dapat muncul dengan keluhan episode sakit
kepala, palpitasi, banyak keringat dan rasa melayang saat berdiri (postural dizzy).
HHD (Hipertensi heart disease)
Tinggalkan Balasan
1. 1.

Definisi penyakit

Hipertensi heart disease adalah tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya diatas
140 MmHg dan tekanan diastolik 90 MmHg sehingga meningkatnya tekanan darah menuju
jantung.
Hipertensi heart disease adalah meningkatnya tekanan darah menuju jantung merupakan
penyebab utama gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal.
Hipertensi heart disease adalah risiko merbiditas dan mertalitas prematur, yang meningkat
sesuai dengan peningkatan tekanan sistolik dan diastolik menuju jantung.
1. 2.

Anatomi, Fisiologi, dan Partografi

Jantung merupakan sebuah organ yang terdiri dari otot. Otot jantung merupakan jaringan
istimewa karena jika dilihat dari bentuk dan susunannya sama denagan otot serat lintang,
tetapi cara bekerjanya menyerupai otot polos yaitu diluar kemauan kita (dipengaruhi oleh
susunan syaraf otonom).

Bentuk

Menyerupai jantung pisang, bagian atasnya tumpul (pangkal jantung) dan disebut juga basis
kordis. Disebelah bawah agak runcing yang disebut apeks kordis.

Letak

Didalam rongga dada sebelah depan (kavum mediastinum anterior), sbelah kiri bawah dari
pertengahan rongga dada, diatas diafpragma dan pangkalnya dapat dibelakang kiri antara
kosta V dan VI dua jari dibawah papila mamae. Pada tempat ini teraba adanya pukulan
jantung yang disebut iktrus kordis.

Ukuran

Lebih besardari genggaman tangan kanan dan beratnya kira-kira 250-300 gram.

Lapisan-lapisannya terdiri dari :

Endrokardium, merupakan lapisan jantung yang terdapat disebelah dalam sekali


yang terdiri dari jaringan endotel atau selaput lendir yang melapisi permukaan ongga
jantung.

Miokardium, merupakan lapisan inti dari jantung yang terdiri dari otot-otot jantung,
otot jantung ini membentuk bundalan-bundalan otot, yaitu :

1. Bundalan otot atria, yang terdapat dibagian kiri/kanan dan barsis kordis yang
membentuk serambi atau auvikula kordis.
2. Bundalan otot ventrikuler, yang membentuk bilik jantung yang dimulai dari cincin
atrio ventrikuler sampai diapek jantung.
3. Bundalan otot atrio ventrikuler, yang merupakan dinding pemisah antara serambi
dan bilik jantung.

Perikardium, lapisan jantung sbelah luar yang merupakan selaput pembungkus,


terdiri dari 2 lapisan yaitu lapisan pariebel dan viseral yang bertemu di pangkal
jantung membentuk kantung jantung.

Diantara dua lapisan jantung ini terdapat lendir sebagai pelicin untuk menjaga agar
pergeseran antara perikardium pleura tidak menimbulkan gangguan terhadap jantung.
Jantung bekerja selama kita masih hidup, karena itu membutuhkan makanan yang dibawa
oleh darah, pembuluh darah yang terpenting dan memberikan darah untuk jantung dari
aorta asendens dinamakan arteri koronaria.

Jantung di persyarafi oleh :

Nervus simpatikus/Nervus akselerantis, untuk menggiatkan kerja jantung dan nervus para
simpatikus, khususnya cabang dari nervus vagus yang bekerja memperlambat kerja jantung.

Jantung dapat bergerak yaitu :

Mengembang dan menguncup disebabkan oleh karena adanya rangsangan yang berasaldari
susunan syaraf otonom.
Rangsangan ini diterima oleh jantung pada simpul syaraf yang terdapat pada atrium dekstra
dekat masuknya venakava yang disebutnodus sino atrial. (sinus krop simpul keith flak). Dari
sini rangsangan akan diteruskan kedinding atrium dan juga kebagian septum kordis oleh
nodus atrib ventrikular atau simpul taara melalui berkas wenkebach. Dari simpul tawara
rangsangan akan melaui bundel atrio ventrikuler (berkas his) dan pada bagian cincin yang
terdapat antara atrium dan ventrikel yang disebut anulus fibrosus, rangsangan akan terhenti
kira-kira 1/10 detik. Seterusnya rangsangan tersebut akan diteruskan kebagian apeks kordis
dan melaui berkas punkinye disebarkan ke seluruh dinding ventrikel dengan demikian
jantung berkontraksi.
Dalam kerjanya jantung mempunyai 3 (tiga) periode :
1. Periode kontriksi (periode sistol)
2. Periode dilatas (periode diastol)
3. Periode istirahat.

Siklus jantung

Merupakan kejadian yang terjadi dalam jantung selama perdarahan darah. Gerakan jantung
terdiri dari 2 jenis yaitu konstriksi (sistol) dan pengendoran (iastol) konstriksi dari ke-2
atrium terjadi secara serentak yang disebut sistol atrial dan pengendorannya disebut diastol
atrial.
Lama kontriksi ventrikel + 0,3 detik dan tahap pengendoran selama 0,5 detik

Bunyi jantung

Selama gerakan jantung, dapat terdengar 2 macam suara yang disebabkan oleh katup-katup
yang menutup. Bunyi pertama, disebabkan menutupnya katupatrio ventrikel, dan bunyi
kedua karena menutupnya katup aorta dan arteri pulmonar setelah kontriksi dari ventrikel.
Bunyi yang pertama adalah panjang , yang kedua pendek dan tajam.

Debaran jantung (debaran apeks)

Merupakan pukulan ventrikel kiri terhadap dinding anterior yang terjadi selam kontriksi
ventrikel dan debaran ini dapat diraba dan sering terlihat pada ruang interkostalis kelima
kira-kira 4 cm dari garis sternum.

Sifat otot jantung

Otot jantung mempunyai ciri-ciri yang khas. Kemampuan berkontraksi otot jantung sewaktu
sistol maupun diastol tidak tergantung pada rangsangan saraf. Konduktivitas (daya hantar),
konstriksi melaui setiap srabut otot jantung secara halus sekali dan sangat jelas dalam
berkas his.

Denyut arteri

Merupakan suatu gelombang yang teraba pada arteri bila darah dipompakan keluar jantung,
denyut ini dapat diraba pada arteri radialis dan arteri dorsalis pedis yang merupakan
gelombang aorta ke arteriyang merambat lebih cepat.

Daya pompa jantung

Dalam keadaan istirahat jantung beredar 70 x/menit. Pada waktu banyak pergerakan,
kecepatan jantung bisa dicapai 150 x/menit dengan daya pompa 20-25 L/menit. Setiap
menit jumlah volume darah yang tepat sama sekali dialirkan dari vena ke janung, apabila
pengembalian dari vena tidak seimbang dan ventrikel gagal mengimbangnya dengan daya
pompa jantung maka vena-vena dekat jantung menjadi membengkak berisi darah sehingga
tekanan dalam vena naik dan dalam jangka waktu lama bisa menjadi enema.

Katup-katup pada jantung

Didalam jantung terdapat katup-katup yang sangat penting dan artinya dlam susunan
perbedaan darah dan pergerakan jantung manusia.
1)
Valvula trikuspidalis. terdapat antara atrium dekstra dengan ventrikel dekstra yang
terdiri dari 3 katup.
2)
Valvula bicuspidalis. terletak antara atrium sinistra dengan ventrikel sinistra yang
terdiri dari 2 katup.
3)
Valvula seminularis arteri pulmonalis, terletak antara ventrikel dekstra dengan areri
pulmonalis, dimana darah mengalir menuju paru-paru.
4)
Vulvula seminularis aorta, terletak antara vertikel sinistra dengan aorta dimana darah
mengalir menuju ke seluruh tubuh.

Fungsi jantung

1)
Alat transportasi 02, C02, hormon dan zat-zat makanan, sisa metabolisme dari dan ke
jaringan tubuh.
2)

Pengatur keseimbangan cairan ekstra sel dan sistem kardiovaskuler.

Gambar Anatomi Jantung

3)

Patofasiologi

Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat
vasomotor, pada medula diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jarak syaraf simpatis,
yang berlanjut ke bawah ke korda spinalisdan keluar dari kolumna medula spinalis ke
ganglia simpatis di torak dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam
bentuk impuls yang bergerak ke bawah melaui sistem saraf simpatis ke ganglia simpatis.
Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asettilkolin, yang akan merangsang srabut
saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya norepinefrin
mengakibatkan kontrikasi penbuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan
ketakutan dapat mempengaruhi respons pembuluh darah terhadaprangsangan
vasokontriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitif terhadap norepinefrin, meskipun
tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem syaraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai
rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas
vasokontriksi. Medula adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokontriksi.
Kortek adienal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respon
vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokontriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah
ke ginjal, menyebabkan pelepasan renin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I
yang kemudian dirubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada
gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan
poeningkatan volume intravaskuler. Semua faktor tersebut cenderung mencetuskan
keadaan hipertensi.
Pertimbangan gerontologis, perubahan struktural dan fungsioanal pada sistem pembuluh
perifer bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada lanjut usia.
Perubahan tersebut meliputi arteriosklerosit, hilangnya elastisitas jaringan ikat , dan
penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang pada umumnya menurunkan
distensi dan gaya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar
berkurang kemampuanya dakam mengakomodasi volume darah yang di pompa oleh
jantung (volume sekuncup), mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan
tahanan perifer.
4)

Tanda dan gejala

pada pemeriksaan fisik mungkin tidak di jumpai kelainan apapun selain tekanan darah yang
tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina, seperti perdarahan, eksudat
(kupulan cairan), penyenpitan pembuluh darah, dan pada kasus berat, edema pupil (edema
pada diskus optikus).
Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menampakan gejala sampai bertahuntahun. Gejala bila ada, biasanya menunjukan adanya kerusakan vaskuler, dengan
manifestasi yang khas sesuai sistem organ yang divaskularisasi oleh pembuluh darah
bersangkutan. Penyakit arteri koroner dan angina adalah gejala yang menyertai hipertensi.
Hipertrofi ventrikel kiri terjadi sebagai respons peningkatan beban kerja ventrikel saat
dipake berkontrasi melawan tekanan sistemik yang meningkat. Apabia jantung tidak
mampu lagi anahan peningkatkan beban kerja, maka dapat terjadi gagal jantung kiri.
Perubahan patologis pada ginjal dapat bermanifetasi sebagai nokturis (peningkatan urinasi
pada malam hari) dan azoremia (peningkatan nitrogen urea darah (BUN) dan kreatinin).
Keterlibatan pembuluh darah otak dapat menimbulkan stroks atau serangan stremik
transien yang termanifestasi sebagai patolisis sementara pada satu sisi (hemiplegia) atau
gangguan tajam penglihatan. Pada penderita stroks, dan pada penderita hipertensi disertai
serangan iskemia ansidens infark oatak mencapai 80%.
Manajemen medik
Beberap penelitian menunjukan bahwa pendekatan nonfarmakologis, termasuk penurunan
berat badan, pembatasan alkohol, natrium dan tembakau: latihan dan relaksasi merupkan
intervensi wajib yang harus dilakukan pada setiap terapi antihipertensi. Apabila penderita
hipertensi ringan berada dalam resiko tinggi (pria perokok) atau tekanan darah diastoliknya
menetap diatas 85 atau 95 mmHg dan sistoliknya siatas 130 sampai139 mmHg, maka perlu
dimulai terapi obat-obatan. Dua kelompok obat tersedia dalam terapi pilihan pertama.
Diuretika dan penyakit beta, contoh oabat yang diberikan pada penyakit hipertensi :

Obat verapamil (calan, isoptin)

Kerja utama :

Menghambat aliran masuk Ion kalsium kedalam sel

Memperlambat kecepatan hantaran impuls jantung

Kelebihan :

Antidiseitmia yang efektif

Awitan Iv cepat

Menyekat jalur nodus, SA dan AV

Kontra indikasi : penyakit nodus sinus atau AV, gagal jantung hebat, hipertensi berat.
Efek dan pendekatan keperawatan :

Berikan pada saat perut kosong atau sebelum makan

Jangan dihentikan secara mendadak

Depresi dapat hilang apabila obat dihentikan

Untuk sakit kepala : kurangi kegaduhan, monitor elektrilit

Turunkan dosis untuk gagal hati dan ginjal

Pertibangkan gerontologis :

6)

Memerlukan pengurangan dosis


Data fokus penkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses
yang sistematis dalam pengumpulan data ini dari berbagai sumber data untuk engevaluasi
dan untuk mengindenfiklasi status kesehatan klien. (Nursalam 2001 : 17)
1. Wawancara, memberikan data yang perawat dapatkan dari pasien dan orang
terdekat lainnya melalui percakapan dan pengamatan :
1)

Identitas klien :

Meliputi nama, umur, pendidikan, jenis kelamin, agama, pekerjaan, status marital, suku
bangsa, diagnosa medis, tanggal masuk, tanggal pengkajian, no.rekam medis, ruang dan
alamat.
Identitas penanggung jawab :
Meliputi nama, umur, pendidikan, hubungan dengan klien dan alamat.
2)

Riwayat kesehatan :

a)
Keluhan utama : apa yang paling dirasakan saat ini ditanyakan meliputi
paliative/propokativ, quality, region/radian, skala dan time (PQRST).
b)
Riwayat kesehatan sekarang : dikaji tentang proses penjalaran penyakit sampai
dengan timbulnyakeluhan 1 faktor yang memperberat dan yang memperingan kualitas dari
keluhan dan bagaimana klien menggambarkan yang dirasakan.
c)
Riwayat kesehatan dahulu : dikaji penyakit yang pernah dialami klienyang
berhubungan dengan penyakit sekarang/penyakit lain seperti riwayat penyakit kandung
kemih (gagal jantung), penyakit sistemik (DM), dan hipertensi.
d)
Riwayat kesehatan keluarga : dikaji kemungkinan pada keluarga ada riwayat penyakit
gangguan perkemihan, riwayat kesehatan yang menular/keturunan.
1. Pemeriksaan fisik.
1. Dikaji keadaan umum dan tanda-tanda vital
2. Sistem penglihatan : dikaji bentuk simetris, reflek pupil terhadap cahaya
positif, bisa membaca papan nama perawat dalam jarak 30 cm.
3. Sistem pernafasan : dikaji bentuk hidung simetris, mukosa hidung lembab,
septum letar ditengah, tidak terdapat pernafasan cupig hidung, pada palpasi
sinus frontalis dan sinus maksilaris tidak terdapat nyeri tekan, trakea
ditengah, tidak terdapat retraksi dinding dada, frekuensi nafas 24 x/menit,
paru-paru resonan.
4. Sistem pencernaan : dikaji bentuk bibir simetris, mukosa merah muda
lembab, jumlah gigi, tidak terdapat caries uvula ditengah, tidak ada
pembesaran, tonsil refleks menelan, bentuk abdomen, turgor, bising usus 10
x/menit.
5. Sistem kardiovaskuler : dikaji konjungtiva, oedema, sianosis, peningkatan JVC,
bunyi jantung 5152 tekanan darah.
6. Sistem perkemihan : dikaji vesika urinaria, pembesaran ginjal, ada nyeri
tekan.
7. Sistem persyarafan dikaji :
1. sistem syaraf cranial, dikaji GCS dan 12 nervus saraf otak.
2. Sistem motorik, dikaji gerakan tubuh dari ujung kepala sampai kaki.
3. Sistem sensorik, dikaji respon klien dengan menggunakan rangsangan.

4. Sistem endokrin : dikaji pembesaran kelenjar tyroid, kelenjar lemfe,


dan menanyakan riwayat penyakit DM.
5. Sistem integumen : dikaji suhu tubuh, turgor, lesi dan luka, warna kulit,
kepala.
6. Sistem genetalia, dikaji genetalia jika klien mau.

Data sosial, dikaji tingkat pendidikan, hubungan sosial, gaya hidup, dan pola
interaksi melalui wawancara / menanyakan kepada orang terdekat (keluarga).

Data psikologis, dikaji status emosi, gaya komunikasi, konsep diri, immage, harga
diri, ideal diri, peran diri, identitas diri.

Data spiritual, dikaji ibadah yang dilakukan klien jika berada di rumah sakit.
1. Pemeriksaan diagnostik
1. Jadwal rutin pemantauan tekanan darah
2. Rontgen foto
3. Pemeriksaan hematologi
4. Pemeriksaan urinalisa
5. Elektrokardiografi (EJG)
6. Pemeriksaan kimia darah

7)

Analisa data

Analisa data merupakan kemampuankognitif dalam pengembangan daya berfikir yang


dipengaruhi oleh latar belakang ilmu dan pengetahuan, pengalaman dan pengertian
keperawatan (Nasrul Effendy : 1998 :23).
Dasar analisa data didapatkan dari :
1. Anatomi dan Fisiologi
2. Patofisiologo penyakit
3. Mikrobiologi dan parasitologi
4. Farmakologi
5. Ilmu perilaku
6. Konsep-konsep manusia, sehat, sakit, stres adaptasi, etika keperawatan.
7. Tindakan dan prosedur keperawatan
8. Teori keperawatan dari berbagai sistem dan teori lain, yang berkaitan.

Analisa Data

No

DATA

ETIOLOGI

1.

Ds :

(penyebab : hipertensi, obesitas, Gangguan


hiperkolesterol) penurunan
rasa nyeri di
suplat 02 ke otot jantung
dada.
(miosardium) suplat 02 dan

Nyeri dada yang


menyebar / menjalar
kelengan (umumnya kekiri)

MASALAH

bahu, leher, rahang sesak. nutrisi ke jaringan berkurang


terjkadinya metabolisme anDo :
aerob meningkatkan asam
laktat merangsang thalamus

Gelisah
ambang nyeri menurun rasa

Ekspresi wajah
nyeri timbul.
tegang

Nadi > normal


(N:80-100 x/menit)

Respirasi > normal


(N:16-20 x/menit)

LOH, SGOT
meningkat

2.

Ds :

Peningkatan

Pasien merasakan
kepala terasa pusing

Volume darah

Do :

Pasien tampak
gelisah serta emosi lebih
dan cenderung iritable

Tekanan darah >


160/100 mmHg

Kesadaran
menurun.

3.

Ds :

stress emosional Gangguan


perfusi otak

Sensitabilitasrespon peningkatan
vaskuler menurun

kolesterol

darah

peningkatan tekanan darah di


ginjal merangsang sel
jugstaglome rulus untuk
mensekresi renin renin
mengubah angiotensinogen
(gluko protein yang dibuat oleh
sel-sel hati) menjadi angiotensis I
dengan bantuan
convectinenzime oleh kapiler
paru angiotensin I berubah
menjadi angiotensin II yang
merupakan vasokonstriktor kuat
vasokontriksi anterior kapiler
akibatnya di kepala suplai 02 dan
nutrisi yang dibawa oleh darah ke
otak berkurang pasien merasa
pusing, gelisah, dan perubahan
status mental.

Dengan adanya vasokontriksi


arteriol kapiler suplai 02 dan

Pasien mengatakan
nutrisi ke jaringan menurun
sesak nafas
aksigenisasi jaringan kurang,
sehingga kompensasi tubuh
Do :
untuk meningkatkan suplai 02 >

Frekuensi nafas >


banyak dengan meningkatkan
normal
upaya benafas

Gangguan
pola nafas

Nadi kesil dan kuat

4.

Ds :

Dengan adanya stimulus pusing


merangsang susunan saraf

Pasien tampak lesu


otonom mengaktifasi
norephineprin saraf simpatis
Do :
terangsang untuk mengaktifasi

Pasien mengatakan
RAS mengaktifkan kerja organ
sulit untuk tidur
tubuh REM menurun pasien
terjaga

5.

Ds :

Pasien bertanya
tentang tindakan yang
akan dilakukan
Do :

Klien belum
menyadari seberapa berat
ondisi yang dialaminya.

8)

Gangguan
pemenuhan
istirahat : tidur

Kurangnya informasi tentang


Gangguan
kondisi penyakit, prosedur
rasa aman :
pengobatan dan tindakan
cemas
perawatan akan meninbulkan
rasa ketidakamanan yang
dimanifestasikan dengan adanya
rasa cemas

Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan atau kesimpulanyang diambil dari


pengkajian tentang status kesehatan klien (menurut Yura).
Komponen dari diagnosa keperawtan meliputi :
1. Problem (masalah) adalah gambaran dimana keadaan klien diberikan tindakan
keperawatan / kesenjangan dari keadaan normal.
2. Etiologi (penyebab) enunjukan penyebab (masalah kesehatan yang memberikan arah
terhadap terapi keperawatan).
3. Sign / symptom (tanda dan gejala) adalah ciri yang merupakan informasi yang
diperlukan untuk merumuskan diagnosa.
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul :
1. Gangguan rasa nyeri : nyeri dada sehubungan dengan iskemia jaringan akibat
penurunan supali 02
2. Gangguan perfusi jaringan otak sehubungan dengan penurunan suplai 02 dan
nutrisidi otak akibat hipertensi.
3. Gangguan pada nafas sehubungan dengan peningkatan kompensasitubuh untuk
meningkatkan suplai 02 ke jaringan.
4. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat : tidur sehubungan dengan adanya rasa
pusing.
5. Gangguan rasa aman : cemas sehubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang
penyakit, program pengobatan dan tindakan perawatan yang akan dilakukan serta
yang dialami pasien.
9)

Perencanaan

Menurut Mayer

Rencana asuhan keperawatan adalah pengkajian yang sistematis dan indentifikasi masalah.
Penentuan dan pelaksanaan serta cara atau strategi. (Nasrul Efeendy, 1998 : 33).
Langkah-langkah dalam perencanaan :
1)

Menetukan urutan prioritas diagnosa keperawtan

2)

Menentukan tujuan asuhan keperawatan

3)

Menentukan rencana intervensi keperawatan

4)

Menuliskan rencana asuhan keperawatan

Tujuan

Dx 1 : Gangguan rasa nyeri dada sehubungan dengan iskemia jaringan akibat penurunan
suplai 02.

Nyeri dada hilang

Ekspresi wajah tenang

Tanda-tanda vital dalam batas normal

Dx 2 : Gangguan perfusi jaringan otak sehubungan dengan penurunan suplai 02 dan


nutrisi di otak akibat hipertensi.
Perfusi jaringan otak terpenuhi dengan kriteria :

Pasien tidak merasa pusing

Pasien tidak tampak gelisah

Tidak ada tanda perubahan status mental yang kurang

Tanda-tanda vital normal

Dx 3 : Gangguan pola nafas sehubungan dengan peningkatan kompensasi tubuh untuk


meningkatkan suplai 02 ke jaringan.
Pola nafas efektif dengan kriteria :

Pasien tidak merasa sesak

Frekuensi nafas normal

Irama nafas teratur

Tidak ada peningkatan rettraksi sinsing dada

Dx 4 : Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat : tidur sehubungan dengan adanya rasa


pusing.
Istirahat : tidur terpenuhi dengan kriteria :

Pasien dapat tidur sesuai dengan kebutuhannya

Pasien tidak tampak lesu

Tanda-tanda vital normal

Tekanan darah normal dalam 3 hari mas perawatan

Dx 5 : gangguan rasa aman : cemas dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit,


program pengobatan dan tindakan perawatan yang akan dilakukan serta kondisi yang
dialami pasien.
Rasa cemas teratasi dengan kriteria :

Pasien tenang

Pasien kooperatif dengan program perawatan dan pengobatan

Pengetahuan pasien meningkat tentang penyakit, tanda-tanda dan kondisi yang


dialami, serta komplikasi yang mungkin terjadi.

Tindakan keperawatan untuk tiap diagnosa

Dx 1 : Gangguan rasa nyeri dada sehubungan dengan iskemia jaringan akibat penurunan
suplai 02.
Rencana tindakan :

Atur posisi klien semifowler

Kolaborasi dengan dokter untuk terapi dan lembab

Berikan obat analgetik sesuai dengan program medis

Kaji nyeri dada sesuai setelah diberikan tindakan

Observasi tanda-tanda vital

Dx 2 : Gangguan perfusi jaringan otak sehubungan dengan penurunan suplai 02 dan


nutrisi di otak akibat hipertensi.
Rencana tindakan :

Observasi tanda-tanda vital

Kaji riwayat hipertensi

Observasi perubahan sensoris dan motoris

Anjurkan pasien untuk bedrese

Kolaborasi pemberian terapi anti hipertensi

Dx 3 : Gangguan pola nafas sehubungan dengan peningkatan kompensasi tubuh untuk


meningkatkan suplai 02 ke jaringan.
Rencana tindakan :

Kaji tingkat kecemasan pasien

Observasi tanda-tanda vital

Berikan 02 sesuai dengan kebutuhan

Atue duduk dengan posisi semi fowler

Dx 4 : Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat : tidur sehubungan dengan adanya rasa


pusing.
Rencana tindakan :

Kaji kemampuan pasien dalam beradaptasi dengan nyeri kepala

Kaji kemampuan pasien untuk kebutuhan istirahat dan tidur

Ajari teknik relasasi

Ciptakan suasana lingkungan yang tenang

Batasi pengunjung

Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian sedative

Dx 5 : gangguan rasa aman : cemas dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit,


program pengobatan dan tindakan perawatan yang akan dilakukan serta kondisi yang
dialami pasien.
Rencana tindakan :

Kaji rasa cemas pasien

Berikan kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa cemasnya

Berikan penjelasan informasi tentang :

Kondisi penyakitnya

Makanan yang di pantang dan alasanya

Program perawatan dan pengobatan yang akan dilakukan

Hubungan istirahat dengan kondisi penyakitnya

Berikan kesempatan pada pasien untuk menjelaskannya kembali penjelasan


tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Suzanne C. Smeltzer. Brenda. E. bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan. Medikal Bedah Brunner
dan Suddarth. Jakarta : EGC.
Pearce C. Evelyn. 2000. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia : Jakarta.
Doenges . E. Marilyn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC : Jakarta.
Syifussin . B. AC. Drs. H. 1997. Anatomi Fisiologi untuk Siswa Perawat Edisi 2 EGC : Jakarta.