Anda di halaman 1dari 51

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES

OPERASI TEKNIK

HEAT EXCHANGER

DISUSUN OLEH :
GIHON ANDRE A. H.

0906553072

MIRADHA HERDINI W.

0906635646

NIDA ADILAH

0906635665

YUNI ELFANY F.

0906553135

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSTAS INDONESIA
DEPOK 2011

Heat Exchanger 2011


BAB I
PENDAHULUAN
A. Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui unjuk kerja alat penukar kalor jenis pipa ganda (double pipe heat
exchanger) dengan menghitung koefisien perpindahan panas, faktor kekotoran, efisiensi,
dan perbandingan untuk aliran searah dan berlawanan arah.
B. Prosedur Percobaan
No.

Prosedur Percobaan

Keterangan

Percobaan Aliran Searah (co-current)


Membuka penuh semua aliran uap air (steam) secara Valve yang dibuka secara

1.

penuh secara berurutan

berurutan adalah valve 1,


8,10, 12 dan 13

Membuka penuh semua aliran air secara penuh dan Valve yang dibuka untuk

2.

membuka kran 14 sebesar 1/5 putaran

aliran air secara berurutan


adalah valve 5 dan valve 14
sebesar 1/5 putaran

Menunggu suhu steam (T4) yang masuk hingga konstan Menunggu suhu steam yang

3.

atau sekitar 90-100oC

masuk

dibutuhkan

waktu

sekitar 10 menit.
Setelah suhu steam mencapai sekitar 90-100oC, Waktu yang digunakan untuk

4.

mengukur volume air yang keluar dan volume adalah 10 detik.


kondensat dengan menggunakan gelas ukur dan
stopwatch.
Mengamati dan mencatat suhu pada T1, T2, T3, T5, T6 Waktu yang digunakan untuk

5.

selama mengambil data volume air yang keluar dan mengamati adalah 10 detik.
volume kondensat.
Mengulangi percobaan dengan 5 variasi bukaan kran Variasi

6.

14 yang berbeda.

bukaan

kran

14

adalah 1/5, 2/5, 3/5, 4/5, 1

Percobaan Aliran Berlawanan (counter-current)


Membuka penuh semua aliran uap air (steam) secara Valve yang dibuka secara

1.

penuh secara berurutan

berurutan adalah valve 1, 8,

Heat Exchanger 2011


11, 9 dan 13
Membuka penuh semua aliran air secara penuh dan Valve yang dibuka untuk

2.

membuka kran 14 sebesar 1/5 putaran

aliran air adalah valve 5 dan


valve 14 sebesar 1/5 putaran

Menunggu suhu steam (T5) yang masuk hingga konstan Menunggu suhu steam yang

3.

atau sekitar 90-100oC

masuk

dibutuhkan

waktu

sekitar 10 menit.
Setelah suhu steam mencapai sekitar 90-100oC, Waktu yang digunakan untuk

4.

mengukur volume air yang keluar dan volume adalah 10 detik.


kondensat dengan menggunakan gelas ukur dan
stopwatch.
Mengamati dan mencatat suhu pada T1, T2, T3, T5, T6 Waktu yang digunakan untuk

5.

selama mengambil data volume air yang keluar dan mengamati adalah 10 detik.
volume kondensat.
Mengulangi percobaan dengan 5 variasi bukaan kran Variasi

6.

14 yang berbeda.

bukaan

kran

adalah 1/5, 2/5, 3/5, 4/5, 1

C. Data Hasil Percobaan


1. Percobaan aliran searah (co-current)
Bukaan
0,2
0,4
0,6
0,8
1

Vair
600
760
1120
1420
1470

Vkondensat
30
31
30
26
28

T1
84
84
77
66
58

T2
45
46
44
41
39

T3
37
37
36
35
25

T5
48
47
44
41
39

T6
51
50
48
46
43

T3
28
28
27
27
27

T4
68
62
56
50
88

T6
42
38
36
34
32

2. Percobaan aliran berlawanan (counter-current)


Bukaan Vair Vkondensat
T1
T2
515
28
92,5
34
0,2
880
32
90
33
0,4
1220
28
72
30
0,6
1310
28
60
29
0,8
1540
28
51
29
1
Diameter pipa kecil dalam Heat Exchanger = 0,014 m
Diameter pipa besar dalam Heat Exchanger = 0,025 m

14

Heat Exchanger 2011


BAB II
DASAR TEORI

Heat exchanger merupakan sebuah alat penukar kalor antara dua fluida yang melewati
dua bidang batas. Bidang batas disini adalah dinding pipa yang terbuat dari berbagai jenis
logam bergantung dari jenis heat exchanger itu sendiri.
Perpindahan panas dapat terjadi di heat exchanger karena dua fluida yang masuk
kedalam heat exchanger memiliki temperatur yang berbeda baik secara langsung maupun
tidak langsung. Perpindahan panas secara langsung terjadi ketika dua fluida dengan suhu
yang berbeda mengalami kontak langsung tanpa adanya dinding pembatas. Perpindahan
panas terjadi pada bagian penghubung antara dua fluida. Contoh fluida yang mengalami
perpindahan panas secara langsung adalah dua jenis fluida yang tidak saling bercampur, dan
campuran gas-liquid. Dua fluida yang mengalami perpindahan panas secara tidak langsung
ketika dua fluida tersebut mengalir dengan dibatasi oleh dinding pemisah.
1. Jenis jenis Heat exchanger
a. Berdasarkan konstruksi (bentuk)
Double-pipe Heat Exchanger
Heat exchanger ini terdiri dari satu buah pipa yang diletakkan di dalam sebuah
pipa lainnya yang berdiameter lebih besar secara konsentris. Fluida yang satu
mengalir di dalam pipa kecil sedangkan fluida yang lain mengalir di bagian luarnya.
Double pipe ini dapat digunakan untuk memanaskan atau mendinginkan fluida hasil
proses yang membutuhkan area perpindahan panas yang kecil (biasanya hanya
mencapai 50 m2).

Gambar 1. Double-pipe Heat Exchanger

Heat Exchanger 2011


Shell and tube
Jenis ini terdiri dari shell yang didalamnya terdapat rangkaian pipa kecil yang
disebut tube bundle. Perpindahan panas terjadi antara fluida yang mengalir di dalam
tube dan fluida yang mengalir di luar tube (pada shell side). Shell and tube ini
merupakan Heat exchanger yang paling banyak digunakan dalam proses-proses
industri.

Gambar 2. Shell and Tube Heat Exchanger

Plate Heat Exchanger

Gambar 3. Plate Heat Exchanger

Kedua aliran masuk dari sudut dan melewati bagian atas dan bawah plat-plat
parallel dengan fluida panas melewati jalan-jalan (ruang antar plat) genap dan fluida
dingin melewati jalan-jalan ganjil. Plat-plat dapat dipasang secara melingkar agar
dapat memberikan perpindahan panas yang besar dan mencegah terjadinya fouling

Heat Exchanger 2011


(deposit yang tidak diinginkan). Plate Heat exchanger juga mudah untuk dilepas dan
dipasang kembali sehingga mudah untuk dibersihkan. Plate Heat exchanger dibagi
atas 3 macam :
1. Plate and frame or gasketed plate exchanger
Jenis ini terdiri dari bingkai-bingkai dan plat-plat yang disusun rapat,
permukaan plat mempunyai alur-alur yang berpasangan sehingga jika dirangkai
mempunyai dua aliran. Heat exchanger ini digunakan untuk temperatur dan
tekanan rendah seperti mendinginkan cooling water.
2. Spiral plate heat exchanger

Gambar 4. Spiral Plate Heat Exchanger

Terbuat dari dua pelat logam melengkung paralel (spiral) yang berfungsi untuk
membuat aliran turbulen sangat tinggi dalam pola aliran berlawanan arah. Suatu
fluida mengalir dari luar, sedangkan aliran lain dari dalam. Dengan
memvariasikan perbedaan ketinggian piringan (h), desain ini sangat serbaguna
an dapat diaplikasikan pada cairan dengan viskositas tinggi dan cairan yang
mengandung suspensi padat tanpa terhalang atau pun memerlukan cairan
pembersih (make-up water). Konstruksi memiliki keuntungan dari tarif
penanganan ekspansi termal yang sangat tinggi yang diciptakan oleh perubahan
suhu antara cairan panas dan dingin

Heat Exchanger 2011


3. Lamella (ramen) heat exchanger

Gambar 5. Lamella (ramen) Heat Exchanger

Alat penukar kalor ini biasa terdiri dari cangkang silinder yang berada di
sekitar strip perpindahan panas. Lamella heat exchanger bekerja dengan media
dalam aliran sejajar tanpa pelat baffle yang dikombinasikan dengan turbulensi
yang tinggi disekitar lamella, yang bertujuan untuk meningkatkan perpindahan
panas yang terjadi. Tidak adanya baffle akan meminimalkan penurunan tekanan
dan membuat kinerja lebih baik.
Extended Surface

Gambar 6. Extended Surface Plate Fin Heat Exchanger

Permukaan tabung dan plat memiliki efisiensi yang terbatas. Untuk


meningkatkan heat fluks maka digunakanlah suatu Heat exchanger dengan extended
surface (permukaan yang dilebarkan) seperti fin, spine (duri), dan groove (kelokan),
sehingga permukaan fluida yang bersentuhan dengan Heat exchanger menjadi lebih
banyak, dan akan menyebabkan perpindahan panas yang lebih cepat. Jenis ini
mampu meningkatkan koefisen konveksi cukup besar. Heat exchanger jenis ini

Heat Exchanger 2011


dibagi menjadi dua macam yaitu plate-fin or matrix Heat exchanger dan high-finned
tube.
b. Berdasarkan jenis aliran
Co-current (aliran searah)

Gambar 7. Aliran searah (Co-current)

Seperti yang dapat dilihat pada gambar diatas, kedua aliran fluida yang berada
didalam heat exchanger mengalir masuk dengan arah yang sama (searah). Kedua
fluida memasuki heat exchanger dengan perbedaan suhu yang besar. Perbedaan
temperatur yang besar akan berkurang seiring dengan semakin besarnya x (jarak)
pada heat exchanger. Temperatur keluaran dari fluida dingin tidak akan melebihi
temperatur fluida panas.

Counter-current (aliran berlawanan arah)

Gambar 8. Aliran berlwanan arah (Counter-current)

Heat Exchanger 2011


Seperti yang dapat dilihat pada gambar diatas, kedua aliran fluida yang berada
didalam heat exchanger mengalir masuk dari arah yang berlawanan. Aliran keluaran
fluida dingin suhunya mendekati suhu dari masukan fluida panas sehingga hasil
suhu yang didapat lebih efektif dari paralel flow. Mekanisme perpindahan kalor jenis
ini hampir sama dengan paralel flow, dimana aplikasi dari bentuk diferensial dari
persamaan steady-state:

dQ U T t a" dL

(2.1)

dQ WCdT wcdt

(2.2)

Cross-current (aliran berseberangan)

Gambar 9. Cross Flow Heat Exchanger

Suatu aliran dimana satu fluida mengalir tegak lurus dengan fluida yang lain.
Aliran tersebut biasa dipakai untuk aplikasi yang melibatkan dua fasa. Misalnya
sistem kondensor uap (tube and shell heat exchanger), di mana uap memasuki shell,
air pendingin mengalir di dalam tube dan menyerap panas dari uap sehingga uap
menjadi cair.

Heat Exchanger 2011


2. Perhitungan dasar dalam Heat Exchanger
a. Koefisien kalor menyeluruh
TA

T1

T2

h1

h2

TB

Gambar 10. Perpindahan kalor menyeluruh melalui dinding bidang datar.

Koefisien perpindahan kalor menyeluruh di mana perpindahan kalor melalui dinding


bidang datar seperti pada gambar 10 dinyatakan sebagai:
q

TA TB
1 h1 A x kA 1 h2 A

(2.3)

dimana TA dan TB berturut-turut adalah suhu fluida pada kedua bidang sisi dinding itu.
Koefisien kalor menyeluruh U didefinisikan oleh hubungan

q UATmenyeluruh

(2.4)

Dari sudut pandang heat exchanger, dinding bidang datar jarang ada penerapannya.
Kasus yang lebih penting mendapat perhatian adalah double pipe heat exchanger,
seperti pada gambar 11a.

(a)

(b)

Gambar 11. Double pipe heat exchanger (a) bagan, (b) jaringan tahanan termal untuk perpindahan
kalor menyeluruh

Dalam penerapan ini salah satu fluida mengalir di dalam tabung yang kecil, sedang
fluida yang satu lagi mengalir di dalam ruang anulus di antara kedua tabung.
Perpindahan kalor menyeluruh didapatkan dari jaringan termal pada gambar 9b
sebagai

Heat Exchanger 2011


q

TA TB
1
ln r0 ri
1

hi Ai
2kL
h0 A0

(2.5)

dimana subskrip i dan 0 menunjukkan diameter dalam dan diameter luar tabung dalam
yang lebih kecil. Koefisien perpindahan kalor menyeluruh dapat didasarkan atas luas
dalam atau luas luar tabung menurut selera perancang. Sesuai dengan itu,

Ui

1 Ai ln r0 ri

hi
2kL

U0

1
A0 1 A0 ln r0 ri 1

Ai hi
2kL
h0

Ai 1
A0 h0

(2.6)

(2.7)

Koefisien perpindahan kalor keseluruhan (U), terdiri dari dua macam yaitu:
1. UC adalah koefisien perpindahan kalor keseluruhan pada saat alat penukar kalor
masih baru
2. UD adalah koefisien perpindahan kalor keseluruhan pada saat alat penukar kalor
sudah kotor.
Secara umum kedua koefisien itu dirumuskan sebagai:
(2.8)

(2.9)

b. Faktor pengotor
Setelah dipakai beberapa lama, permukaan perpindahan kalor heat exchanger
mungkin dilapisi oleh berbagai endapan yang biasa terdapat dalam sistem aliran atau
permukaan itu mungkin mengalami korosi sebagai akibat interaksi antara fluida
dengan bahan yang digunakan dalam konstruksi heat exchanger. Dalam kedua hal di
atas lapisan itu memberikan tahanan tambahan terhadap aliran kalor, dan hali ini
menyebabkan menuurunnya kemampuan kerja alat itu. Pengaruh menyeluruh dari hal
di atas, biasa dinyatakan dengan faktor pengotoran (fouling factor), atau tahanan

10

Heat Exchanger 2011


pengotoran, Rf yang harus diperhitungakan bersama tahanan termal lainnya, dalam
menghitung koefisien perpindahan kalor menyeluruh.
Faktor pengotoran harus didapatkan dari percobaan, yaitu dengan menentukan U
untuk kondisi bersih dan kondisi kotor pada heat exchanger itu. Faktor pengotoran
didefinisikan oleh
Rf

1
U kotor

(2.10)

U bersih

c. Logarithmic Mean Temperature Difference (LMTD)


Untuk menghitung perpindahan alor dalam Heat Exchanger Pipa Ganda (Double
Pipe Heat Exchanger), digunakan persamaan berikut :
(2.11)

=
dengan :
U : koefisien perpindahan kalor menyeluruh
A: luas permukaan perpindahan kalor
: beda suhu rata-rata yang tepat untuk digunakan dalam HE
Untuk menghitung , digunakan persamaan :

Ta Tb
Tmean
ln( Ta / Tb

(2.12)

Dengan :

Ta Th 2 Tc 2
Tb Th1 Tc1
Kemudian persamaan diatas dikenal juga sebagai persamaan LMTD. LMTD juga
dapat didefinisikan sebagai beda suhu pada satu ujung penukar kalor dikurangi beda
suhu pada ujung yang satu lagi dibagi dengan logaritma alamiah daripada perbandingan
kedua beda-suhu tersebut. Persamaan diatas digunakan dengan dua asumsi, yaitu : (1)
kalor spesifik fluida tidak berubah menurut suhu, dan (2) koefisien perpindahan kalor
konveksi tetap untuk seluruh penukar kalor.
Nilai LMTD juga dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut:
1. Bila UD konstan
Untuk aliran searah (co-current)

11

Heat Exchanger 2011

atau

Untuk aliran berlawanan arah (Counter Current)

(2.13)

12

Heat Exchanger 2011


Nilai LMTD yang diperoleh ini harus dikoreksi dengan faktor FT yang dicari dari
grafik yang sesuai. Caranya yaitu dengan menggunakan parameter R dan S:
(2.14)

(2.15)
dan harga tm =FT.LMTD
2. Bila UD tidak konstan (berubah) terhadap suhu
Untuk aliran searah atau aliran berlawanan arah, maka persamaan LMTD berupa
persamaan implisit:
(2.16)

d. Metode NTU-Efektivitas
Ada metode lain selain metode LMTD. Metode ini berdasarkan atas efektivotas
penukar kalor dalam memindahkan sejumlah kalor tertentu. Metode efektivitas ini juga
mempunyai beberapa keuntungan untuk menganalisis soal-soal dimana kita harus
membandingkan berbagai jenis penukar kalor guna memilih jenis yang terbaik untuk
melaksanakan sesuatu tugas pemindahan kalor tertentu.
Efektivitas heat exchanger dapat dirumuskan sebagai berikut :
=

Secara umum efektivitas dapat dinyatakan sebagai berikut


=

( )

Persamaan untuk efektivitas dalam aliran sejajar dapat kita turunkan sebagai berikut

2 2
1 1

(2.17)

2 2
1
1
= exp
+
1 1

Untuk mencari efektifitas untuk paralel single pass HE adalah sebagai berikut :

13

1 exp (1 C min / C max ) NTU


1 C min / C max

(2.18)

Heat Exchanger 2011


Sedangkan untuk counterflow adalah sebagai berikut :

1 exp (1 C min / C max ) NTU


1 (C min / C max ) exp (1 C min / C max ) NTU

(2.19)

Keterangan : NTU (Number of Transfer Unit) bisa didapatkan dari rumus :


NTU

UA
C min

Cmin merupakan nilai C tekecil antara Ch dan Cc, sedangkan Cmax merupakan nilai yang
terbesar.

14

Heat Exchanger 2011


BAB III
PENGOLAHAN DATA
Data pengamatan yang diperoleh oleh praktikan adalah sebagai berikut :
Panjang HE total , L : 162 cm = 1,62 m
Diamater pipa bagian luar (shell), D0 : 0,025 m
Diameter pipa bagian dalam (tube), D1: 0,014 m
Luas permukaan bidang tukar kalor, A0 = 0 = 0,127 m2
Luas permukaan bidang tukar kalor, A1 = 1 = 0,071 m2
Jenis Aliran
Countercurrent

Bukaan
valve
1/5

2/5

3/5

4/5

5/5

Co -current

1/5

2/5

3/5

4/5

5/5

15

Qair (ml/s)
515

880

1220

1310

1540

600

760

1120

1420

1470

Kondensat
(ml/s)
28

32

28

28

28

30

31

30

26

28

Stream
Water (l)

T inlet
(oC)
28

T outlet
(oC)
68

Steam (g)

96

42

Water (l)

28

62

Steam (g)

96

38

Water (l)

27

56

Steam (g)

98

36

Water (l)

27

50

Steam (g)

99

34

Water (l)

27

88

Steam (g)

100

32

Water (l)

37

48

Steam (g)

94

51

Water (l)

37

47

Steam (g)

93

50

Water (l)

36

44

Steam (g)

93

48

Water (l)

35

41

Steam (g)

93

46

Water (l)

35

39

Steam (g)

93

43

Heat Exchanger 2011

A. Perhitungan Metode LMTD aliran Counter-Current


1. Aliran dengan Qair = 51,5 ml/s
Qair = 0,515 x 10-4 m3/s
Qsteam = merupakan jumlah kondensat yang terjadi
= 2,8ml/s x 10-6 m3/ml
= 0,28 x 10-5 m3/s
Tavg water liquid =
Tavg steam =

+
2

96+42
2

28+68
2

= 48

= 69

0,025 2

D = Dh = (02 12 )/1 = 0,014 2 = 0,03064


Kemudian, kita menghitung nilai LMTD dari aliran ini :
=

1 1 (2 2 )

ln(1 1 )
2
2

dimana T1 = suhu fluida panas in ; T2 = suhu fluida panas out


t1 = suhu fluida dingin in ; t2 = suhu fluida dingin out

9628 (4862)
9668
ln (
)
(4862)

= 20,1980C

Kemudian, menghitung nilai h0 untuk saturated water:


Dari tabel A-9 (J.P Holman) pada Tavg = 480C, didapat properti untuk water liquid :
Cp (kJ/kg.0C)

(kg/m3)

(kg/m.s)

k (W/m.0C)

Pr

4,174

989,0881

5,7064.10-4

0,6429

3,70403

Massa air adalah, = = 0,0509

Reynold Number, Re dari aliran air dalam pipa ini adalah :


= / (hal.514, J.P Holman, Perpindahan Kalor)
dimana Dh = Diameter hidrauik;

G = laju alir massa per luas penampang aliran minimum ( )


= viskositas fluida

16

Heat Exchanger 2011


Kemudian, kita mengecek jenis aliran fluida dengan menggunakan pesamaan reynold

(hal.514, J.P Holman, Perpindahan Kalor)

4
(02 12 )

0,03064
4 0,0509
= 8122,306 ()
4
5,7064.10
(0,0252 0,0142 )

Kemudian, menghitung nilai h0, karena aliran turbulen, dan asumsi bahwa aliran
tersebut turbulen fully developed dalam pipa licin (no friction), maka digunakan
persamaan :

0 = 0,023 0,8 0,3 (persamaan 6-4, J.P. Holman, Perpindahan Kalor)

0 = 0,023 8122,3060,8 3,704030,3

0,6429
0,03064

= 1001,2752 /

Menghitung nilai hi untuk steam


Dari tabel A-9 (J.P Holman) pada Tavg = 690C, didapat properti untuk water liquid :
Cp (kJ/kg.0C)

(kg/m3)

(kg/m.s)

k (W/m.0C)

Pr

4,1849

978,4385

4,12.10-4

0,6627

2,6059

Massa steam adalah, = = 0,00274

Kalor dari steam yang dipindahkan ke air, = . . 1 2 +


Dengan, adalah kalor laten steam, yang besarnya 80 cal/kg (nilai ini digunakan
untuk asumsi keadaan steam saat masuk adalah jenuh seluruhnya)
= 0,00274.4,1849 . 96 42 + 0,00274.80
= 0,8383/

17

Heat Exchanger 2011


Kemudian, kita mengecek jenis aliran steam dengan menggunakan pesamaan Reynold
=

(hal.514, J.P Holman, Perpindahan Kalor)

4
(02 12 )

0,03064
4 0,00274
= 605,05 ()
4
4,12.10
(0,0252 0,0142 )

Kemudian, menghitung nilai h1, karena aliran laminer, sebelumnya perlu dihitung
nilai Nud untuk menghitung nilai h1, dengan persamaan :
1 =
= 1,86


,
1

0,333

0,333

Pr

1
> 10

Untuk dapat menggunakan persamaan ini, kita harus mengecek apakah nilai Pr

memenuhi kriteria di atas.


Pr

1
605,05 2,6059 0,014
=
= 13,626 ( )

1,62

= 1,86 605,05 2,6059

0,333

0,014
1,62

0,333

= 4,4387
1 =
=

0,6627 4,4387
= 210,12 /2
0,014

Menentukan koefisien perpindahan kalor keseluruhan (U)


Dari tabel A-2 (J.P.Holman, Perpindahan Kalor), didapatkan bahwa KFe murni , pada
T = 20oC, adalah 73 W/moC (diasumsikan bahwa pipa HE terbuat dari besi murni)
Dari persamaan (10-4a) buku J.P.Holman, Perpindahan Kalor, didapatkan
persamaan untuk menghitung U, yaitu :
=

18

1
ln( )
1
1
+
+

Heat Exchanger 2011


=

1
0,000154 ln(0,0125 0,007)
1
1
+
210,12 +
2 0,6265 1,62
1001,475
= 46,219/2

Menghitung nilai Ud, dengan persamaan :

.
0,8383
=
0,000154.20,198
=

= 269,75 /2
Menghitung nilai Rd, dengan persamaan :
=
=

1
1

1
1

269,75 46,219

= 0,01793 /2
2. Aliran dengan Qair = 88 ml/s
Qair = 0,88 x 10-4 m3/s
Qsteam = merupakan jumlah kondensat yang terjadi
= 3,2 ml/s x 10-6 m3/ml
= 0,32 x 10-5 m3/s
Tavg water liquid =
Tavg steam =

+
2

96+38
2

28+62
2

= 45

= 67

0,025 2

D = Dh = (02 12 )/1 = 0,014 2 = 0,03064


Kemudian, kita menghitung nilai LMTD dari aliran ini :
=

1 1 (2 2 )

ln(1 1 )
2
2

dimana T1 = suhu fluida panas in ; T2 = suhu fluida panas out


t1 = suhu fluida dingin in ; t2 = suhu fluida dingin out
=

19

9628 (3862)
96 68
ln (
)
(38 62 )

= 19,6110C

Heat Exchanger 2011


Kemudian, menghitung nilai h0 untuk saturated water:
Dari tabel A-9 (J.P Holman) pada Tavg = 450C, didapat properti untuk water liquid :
Cp (kJ/kg.0C)

(kg/m3)

(kg/m.s)

k (W/m.0C)

Pr

4,174

990,0594

5,998.10-4

0,6391

3,91986

Massa air adalah, = = 0,0871

Reynold Number, Re dari aliran air dalam pipa ini adalah :


= / (hal.514, J.P Holman, Perpindahan Kalor)
dimana Dh = Diameter hidrauik;

G = laju alir massa per luas penampang aliran minimum ( )


= viskositas fluida

Kemudian, kita mengecek jenis aliran fluida dengan menggunakan pesamaan reynold
=

(hal.514, J.P Holman, Perpindahan Kalor)


=

4
(02 12 )

0,03064
4 0,0871
= 13217,64 ()
4
5,998.10
(0,0252 0,0142 )

Kemudian, menghitung nilai h0, karena aliran turbulen, dan asumsi bahwa aliran
tersebut turbulen fully developed dalam pipa licin (no friction), maka digunakan
persamaan :

0 = 0,023 0,8 0,3 (persamaan 6-4, J.P. Holman, Perpindahan Kalor)

0 = 0,023 13217,640,8 3,919860,3

0,6391
0,03064

= 1497,791 /
Menghitung nilai hi untuk steam
Dari tabel A-9 (J.P Holman) pada Tavg = 670C, didapat properti untuk water liquid :
Cp (kJ/kg.0C)

20

(kg/m3)

(kg/m.s)

k (W/m.0C)

Pr

Heat Exchanger 2011


4,1838

4,224.10-4

979,5176

Massa steam adalah, = = 0,003135

0,6606

2,6778

Kalor dari steam yang dipindahkan ke air, = . . 1 2 +


Dengan, adalah kalor laten steam, yang besarnya 80 cal/kg (nilai ini digunakan
untuk asumsi keadaan steam saat masuk adalah jenuh seluruhnya)
= 0,003135.4,1927 . 96 38 + 0,003135.80
= 0,6924 /

Kemudian, kita mengecek jenis aliran steam dengan menggunakan pesamaan Reynold
=

(hal.514, J.P Holman, Perpindahan Kalor)


=

4
(02 12 )

0,03064
4 0,003135
= 675,15 ()
4
4,224.10
(0,0252 0,0142 )

Kemudian, menghitung nilai h1, karena aliran laminer, sebelumnya perlu dihitung
nilai Nud untuk menghitung nilai h1, dengan persamaan :
1 =
= 1,86


,
1

0,333

0,333

Pr

1
> 10

Untuk dapat menggunakan persamaan ini, kita harus mengecek apakah nilai Pr

memenuhi kriteria di atas.


Pr

1
675,15 2,6678 0,014
=
= 15,624 ( )

1,62
= 1,86 675,15 2,6778
= 4,6457
1 =

21

0,333

0,014
1,62

0,333

Heat Exchanger 2011


=

0,6606 4,6457
= 219,2 /2
0,014

Menentukan koefisien perpindahan kalor keseluruhan (U)


Dari tabel A-2 (J.P.Holman, Perpindahan Kalor), didapatkan bahwa KFe murni , pada
T = 20oC, adalah 73 W/moC (diasumsikan bahwa pipa HE terbuat dari besi murni)
Dari persamaan (10-4a) buku J.P.Holman, Perpindahan Kalor, didapatkan
persamaan untuk menghitung U, yaitu :
1
ln( )
1
1
+
+

1
0,000154 ln(0,0125 0,007)
1
1
+
+
219,2
2 73 1,62
1497,791
= 46,871 /2

Menghitung nilai Ud, dengan persamaan :

.
1,0014
=
0,000154.19,611
=

= 335,17 /2

Menghitung nilai Rd, dengan persamaan :


=
=

1
1

1
1

335,17 46,871

= 0,01835 /2

B. Perhitungan Metode LMTD aliran Co-Current


1. Aliran dengan Qair = 60 ml/s
Qair = 0,6 x 10-4 m3/s
Qsteam = merupakan jumlah kondensat yang terjadi
= 3 ml/s x 10-6 m3/ml
= 0,3 x 10-5 m3/s

22

Heat Exchanger 2011


Tavg water liquid =
Tavg steam =

+
2

94+44
2

36+50
2

= 43

= 69

0,025 2

D = Dh = (02 12 )/1 = 0,014 2 = 0,03064


Kemudian, kita menghitung nilai LMTD dari aliran ini :
1 1 (2 2 )

ln(1 1 )
2
2

dimana T1 = suhu fluida panas in ; T2 = suhu fluida panas out


t1 = suhu fluida dingin in ; t2 = suhu fluida dingin out
=

9436 (4450)
94 36
)
44 50

ln (

= 28,210C

Kemudian, menghitung nilai h0 untuk saturated water:


Dari tabel A-9 (J.P Holman) pada Tavg = 430C, didapat properti untuk water liquid :
Cp (kJ/kg.0C)

(kg/m3)

(kg/m.s)

k (W/m.0C)

Pr

4,174

990,7427

6,199.10-4

0,6366

4,069

Massa air adalah, = = 0,5944

Reynold Number, Re dari aliran air dalam pipa ini adalah :


= / (hal.514, J.P Holman, Perpindahan Kalor)
dimana Dh = Diameter hidrauik;

G = laju alir massa per luas penampang aliran minimum ( )


= viskositas fluida
Kemudian, kita mengecek jenis aliran fluida dengan menggunakan pesamaan reynold
=

(hal.514, J.P Holman, Perpindahan Kalor)

23

4
(02 12 )

Heat Exchanger 2011


=

0,03064
4 0,5944
= 87252,07 ()
6,199.104 (0,0252 0,0142 )

Kemudian, menghitung nilai h0, karena aliran turbulen, dan asumsi bahwa aliran
tersebut turbulen fully developed dalam pipa licin (no friction), maka digunakan
persamaan :

0 = 0,023 0,8 0,3 (persamaan 6-4, J.P. Holman, Perpindahan Kalor)

0 = 0,023 87252,070,8 4,0690,3

0,6366
0,03064

= 6836,581 /

Menghitung nilai hi untuk steam


Dari tabel A-9 (J.P Holman) pada Tavg = 690C, didapat properti untuk water liquid :
Cp (kJ/kg.0C)

(kg/m3)

(kg/m.s)

k (W/m.0C)

Pr

4,1849

978,4385

4,12.10-4

0,6627

2,6059

Massa steam adalah, = = 0,002935

Kalor dari steam yang dipindahkan ke air, = . . 1 2 +


Dengan, adalah kalor laten steam, yang besarnya 80 cal/kg (nilai ini digunakan
untuk asumsi keadaan steam saat masuk adalah jenuh seluruhnya)
= 0,002935.4,1849 . 94 44 + 0,002935.80
= 0,849 /
Kemudian, kita mengecek jenis aliran steam dengan menggunakan pesamaan Reynold
=

(hal.514, J.P Holman, Perpindahan Kalor)

24

4
(02 12 )

0,03064
4 0,002935
= 648,27 ()
4
4,12.10
(0,0252 0,0142 )

Heat Exchanger 2011


Kemudian, menghitung nilai h1, karena aliran laminer, sebelumnya perlu dihitung
nilai Nud untuk menghitung nilai h1, dengan persamaan :
1 =
= 1,86


,
1

0,333

0,333

Pr

1
> 10

Untuk dapat menggunakan persamaan ini, kita harus mengecek apakah nilai Pr

memenuhi kriteria di atas.


Pr

1
648,27 2,6059 0,014
=
= 14,599 ( )

1,62

= 1,86 648,27 2,6059

0,333

0,014
1,62

0,333

= 4,5419
1 =
=

1
0, 6627 4,5419
= 215 /2
0,014

Menentukan koefisien perpindahan kalor keseluruhan (U)


Dari tabel A-2 (J.P.Holman, Perpindahan Kalor), didapatkan bahwa KFe murni , pada
T = 20oC, adalah 73 W/moC (diasumsikan bahwa pipa HE terbuat dari besi murni)
Dari persamaan (10-4a) buku J.P.Holman, Perpindahan Kalor, didapatkan
persamaan untuk menghitung U, yaitu :
=

1
ln( )
1
1
+
+

1
0,000154 ln(0,0125 0,007)
1
1
+
+
2
73

1,62
215,5
6836,581
= 47,035 /2

Menghitung nilai Ud, dengan persamaan :


=

25

Heat Exchanger 2011


0,849
0,000154.28,21

= 195,61 /2
Menghitung nilai Rd, dengan persamaan :
=
=

1
1

1
1

195,61 47,035

= 0,01615

2. Aliran dengan Qair = 76 ml/s


Qair = 0,76 x 10-4 m3/s
Qsteam = merupakan jumlah kondensat yang terjadi
= 3,1ml/s x 10-6 m3/ml
= 0,31 x 10-5 m3/s
Tavg water liquid =
Tavg steam =

+
2

94+47
2

37+51
2

= 44

= 70,5

0,025 2

D = Dh = (02 12 )/1 = 0,014 2 = 0,03064


Kemudian, kita menghitung nilai LMTD dari aliran ini :
=

1 1 (2 2 )

ln(1 1 )
2
2

dimana T1 = suhu fluida panas in ; T2 = suhu fluida panas out


t1 = suhu fluida dingin in ; t2 = suhu fluida dingin out

9437 (4751)
9437
)
4751

ln (

= 22,96 0C

Kemudian, menghitung nilai h0 untuk saturated water:


Dari tabel A-9 (J.P Holman) pada Tavg = 420C, didapat properti untuk water liquid :

26

Cp (kJ/kg.0C)

(kg/m3)

(kg/m.s)

k (W/m.0C)

Pr

4,174

990,3831

6,095.10-4

0,6378

3,9918

Heat Exchanger 2011


Massa air adalah, = = 0,7527

Reynold Number, Re dari aliran air dalam pipa ini adalah :


= / (hal.514, J.P Holman, Perpindahan Kalor)
dimana Dh = Diameter hidrauik;

G = laju alir massa per luas penampang aliran minimum ( )


= viskositas fluida
Kemudian, kita mengecek jenis aliran fluida dengan menggunakan pesamaan reynold
=

(hal.514, J.P Holman, Perpindahan Kalor)


=

4
(02 12 )

0,03064
4 0,7527
= 112370 ()
6,095.104 (0,0252 0,0142 )

Kemudian, menghitung nilai h0, karena aliran turbulen, dan asumsi bahwa aliran
tersebut turbulen fully developed dalam pipa licin (no friction), maka digunakan
persamaan :

0 = 0,023 0,8 0,3 (persamaan 6-4, J.P. Holman, Perpindahan Kalor)

0 = 0,023 1123700,8 3,99180,3

0,6378
0,03064

= 8333,402 /

Menghitung nilai hi untuk steam


Dari tabel A-9 (J.P Holman) pada Tavg = 70,50C, didapat properti untuk water liquid :
Cp (kJ/kg.0C)

(kg/m3)

(kg/m.s)

k (W/m.0C)

Pr

4,1857

977,6291

4,042.10-4

0,6643

2,5519

Massa steam adalah, = = 0,003031

Kalor dari steam yang dipindahkan ke air, = . . 1 2 +

27

Heat Exchanger 2011


Dengan, adalah kalor laten steam, yang besarnya 80 cal/kg (nilai ini digunakan
untuk asumsi keadaan steam saat masuk adalah jenuh seluruhnya)
= 0,003031.4,1857 . 94 47 + 0,003031.80
= 0,8387 /
Kemudian, kita mengecek jenis aliran steam dengan menggunakan pesamaan
Reynold
=

(hal.514, J.P Holman, Perpindahan Kalor)


=

4
(02 12 )

0,03064
4 0,003031
= 682,28 ()
4
4,042.10
(0,0252 0,0142 )

Kemudian, menghitung nilai h1, karena aliran laminer, sebelumnya perlu dihitung
nilai Nud untuk menghitung nilai h1, dengan persamaan :
1 =
= 1,86


,
1

0,333

0,333

Pr

1
> 10

Untuk dapat menggunakan persamaan ini, kita harus mengecek apakah nilai Pr

memenuhi kriteria di atas.


Pr

1
682,28 2,5519 0,014
=
= 15,047 ( )

1,62
= 1,86 682,28 2,5519

0,333

0,014
1,62

0,333

= 4,5878
1 =
=

0,6643 4,5878
= 217,7 /2
0,014

Menentukan koefisien perpindahan kalor keseluruhan (U)


Dari tabel A-2 (J.P.Holman, Perpindahan Kalor), didapatkan bahwa KFe murni , pada
T = 20oC, adalah 73 W/moC (diasumsikan bahwa pipa HE terbuat dari besi murni)

28

Heat Exchanger 2011


Dari persamaan (10-4a) buku J.P.Holman, Perpindahan Kalor, didapatkan
persamaan untuk menghitung U, yaitu :
=

1
ln( )
1
1
+
+

1
0,000154 ln(0,0125 0,007)
1
1
+ 8333,402
217,7 +
2 73 1,62
= 47,189 /2

Menghitung nilai Ud, dengan persamaan :

.
0,8387
=
0,000154.22,96
=

= 237,4 /2
Menghitung nilai Rd, dengan persamaan :
=
=

1
1

1
1

237,4 47,189

= 0,01698 /2
Perhitungan diatas merupakan perhitungan untuk menghitung NTU dan efektivitas dari aliran
jenis counter-current dan co-current (data bukaan valve 1/5 dan 2/5). Untuk data bukaan
valve lainnya, kami menghitung dengan cara yang sama seperti diatas dan didapatkan hasil
sebagai berikut

29

Heat Exchanger 2011

Jenis

Bukaan LMTD

Re Water

h0

Re

Liquid

h1

qsteam

Aliran

Valve

Steam

Counter

1/5

20,198

6437,77122

884,938

710,61

211,64

0,8328

Current

2/5

19,611

10571,7711

1329,593

783,08

220,74

1,0054

3/5

21,422

142098,766

10714,733

669,4

210,82

0,9264

4/5

21,584

149318,251

11211,619

648,12

210,7

0,9619

5/5

7,9957

171860,108

12615,248

807,79

212,61

0,9864

Co-

1/5

22,921

82612,1256

6643,303496 672,6788

215,511

0,774207

Current

2/5

19,949

108486,457

8180,164583 699,4734 217,8961 0,787135

3/5

20,193

151527,957

10844,09785 656,2173

4/5

19,027

181184,874

12708,01138 551,8178 204,6645 0,768281

5/5

18,229

185641,318

12992,73754 587,2963 209,5498 0,873665

215,227

0,824073

Jenis Aliran

Bukaan Valve

Uc

Ud

Counter Current

1/5

46,21919

269,749

2/5

46,87114

335,1747

3/5

46,81751

282,411

4/5

46,81344

290,7313

5/5

46,82195

812,9743

1/5

47,03521

195,6077

2/5

47,18171

237,4012

3/5

47,0629

245,0039

4/5

46,55077

247,4872

5/5

46,80694

311,6283

Co-Current

C. Penentuan Nilai Keefetifan () dan NTU aliran Counter Current


1. Aliran dengan Q = 51,5 ml/s
Dari tabel A-9 (J.P. Holman, Perpindahan Kalor) didapatkan data Cp sebagai
berikut :

30

Heat Exchanger 2011


Saturated Water

Steam

Temperatur

Cp(kJ/kg0C)

C(kJ/0C)

Cp(kJ/kg0C)

C(kJ/0C)

Inlet

4,177802

0,21281

4,2069

0,01144

Outlet

4,184

0,21325

4,174

0,01153

Dengan nilai = ( ) ( )
Dari tabel diatas, kemudian kita mencari fluida minimum dan fluida maksimum
berdasarkan nilai C nya. Fluida minimum nya adalah steam, dengan nilai
Cmin = 0,01144 kJ/0C serta,
Cmax = 0,21325 kJ/0C
Menghitung nilai C*
=

0,01144
=
= 0,05365

0,21325

Menghitung efektifitas
Efektifitas dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :
=

1 2
96 42
=
= 0,79412
1 1
96 28

% = 79,412 %
Menghitung NTU
Dari tabel (cari di Holman), buku J.P. Holman, Perpindahan Kalor, nilai NTU
untuk aliran counter-current dapat digunakan persamaan :
=
=

1
1
ln
( 1) [( ) 1]

1
0,79412 1
ln
(0,05365 1) (0,05365 0,79412) 1]
= 1,62405

2. Aliran dengan Q = 88 ml/s


Dari tabel A-9 (J.P. Holman, Perpindahan Kalor) didapatkan data Cp sebagai
berikut :

31

Heat Exchanger 2011


Saturated Water

Steam

Temperatur

Cp(kJ/kg0C)

C(kJ/0C)

Cp(kJ/kg0C)

C(kJ/0C)

Inlet

4,177802

0,36399

4,2069

0,013083

Outlet

4,18

0,36418

4,174

0,013186

Dengan nilai = ( ) ( )
Dari tabel diatas, kemudian kita mencari fluida minimum dan fluida maksimum
berdasarkan nilai C nya. Fluida minimum nya adalah steam, dengan nilai
Cmin = 0,013083 kJ/0C serta,
Cmax = 0,36418 kJ/0C
Menghitung nilai C*
=

0,013083
=
= 0,035925

0,36418

Menghitung efektifitas
Efektifitas dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :
=

1 2
96 38
=
= 0,85294
1 1
96 28

% = 85,294 %
Menghitung NTU
Dari tabel (cari di Holman), buku J.P. Holman, Perpindahan Kalor, nilai NTU
untuk aliran counter-current dapat digunakan persamaan :
=
=

1
1
ln
( 1) [( ) 1]

1
0,85294 1
ln
(0,035925 1) (0,035295 0,85294) 1]
= 1,95607

D. Penentuan Nilai Keefetifan () dan NTU aliran Co Current


1. Aliran dengan Q = 60 ml/s
Dari tabel A-9 (J.P. Holman, Perpindahan Kalor) didapatkan data Cp sebagai
berikut :

32

Heat Exchanger 2011


Saturated Water

Steam

Temperatur

Cp(kJ/kg0C)

C(kJ/0C)

Cp(kJ/kg0C)

C(kJ/0C)

Inlet

4,174

2,48122

4,175

0,012252

Outlet

4,174

2,48181

4,174

0,012254

Dengan nilai = ( ) ( )
Dari tabel diatas, kemudian kita mencari fluida minimum dan fluida maksimum
berdasarkan nilai C nya. Fluida minimum nya adalah steam, dengan nilai
Cmin = 0,012252 kJ/0C serta,
Cmax = 2,48181 kJ/0C
Menghitung nilai C*
=

0,012252
=
= 0,004937

2,48181

Menghitung efektifitas
Efektifitas dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :
=

1 2
94 44
=
= 0,75862
1 1
94 36

% = 75,862%
Menghitung NTU
Dari tabel (cari di Holman), buku J.P. Holman, Perpindahan Kalor, nilai NTU
untuk aliran co-current dapat digunakan persamaan :
ln
(1 (1 )
=
1 +
ln
(1 1 0,004937 0,758621
=
1 + 0,004937
= 1,3991
2. Aliran dengan Q = 76 ml/s
Dari tabel A-9 (J.P. Holman, Perpindahan Kalor) didapatkan data Cp sebagai
berikut :
Saturated Water

33

Steam

Temperatur

Cp(kJ/kg0C)

C(kJ/0C)

Cp(kJ/kg0C)

C(kJ/0C)

Inlet

4,174

3,14173

4,1759

0,01265

Outlet

4,1759

3,14316

4,174

0,012656

Heat Exchanger 2011


Dengan nilai = ( ) ( )
Dari tabel diatas, kemudian kita mencari fluida minimum dan fluida maksimum
berdasarkan nilai C nya. Fluida minimum nya adalah steam, dengan nilai
Cmin = 0,01265 kJ/0C serta,
Cmax = 3,14316 kJ/0C
Menghitung nilai C*
=

0,01265
=
= 0,00402

3,14316

Menghitung efektifitas
Efektifitas dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :
=

1 2
94 47
=
= 0,75439
1 1
94 37

% = 75,439 %
Menghitung NTU
Dari tabel (cari di Holman), buku J.P. Holman, Perpindahan Kalor, nilai NTU
untuk aliran co-current dapat digunakan persamaan :
=

ln
(1 (1 )
1 +

ln
(1 1 0,00402 0,75439
1 + 0,00402
= 1,3862

Berikut data efektifitas dan NTU yang kami dapatkan secara keseluruhan akan ditampilkan
dalam tabel berikut :

34

Jenis

Bukaan

Efektifitas Water

NTU Water

Aliran

Valve

Liquid (%)

Liquid

Counter-

1/5

79,412

1,62363

current

2/5

85,294

1,95567

3/5

87,324

2,06814

4/5

90,278

2,33375

Heat Exchanger 2011

Co-current

35

5/5

93,151

2,68412

1/5

75,862

1,3991

2/5

75,439

1,3862

3/5

82,759

1,7659

4/5

88,333

2,153

5/5

95

5,0254

Heat Exchanger 2011

BAB IV
ANALISIS

A. Analisis Percobaan
Pada percobaan Heat Exchanger ini digunakan Double pipe Heat Exchanger, tujuan
dari percobaan ini adalah untuk mengetahui cara kerja dari Double pipe Heat Exchanger
dengan menghitung parameter-parameternya, dalam hal ini dihitung beberapa parameter
seperti koefisien perpindahan panas, efisiensi dan perbandingan antara aliran searah dan
berlawanan arah.
Mekanisme perpindahan kalor pada alat ini terjadi secara tidak langsung (indirect
contact type) karena terdapat dinding pemisah antara kedua fluida sehingga kedua fluida
tidak bercampur. Medium pemanas yang dipakai uap air panas (steam) dan air biasa
sebagai air pendingin (cooling water). Penukar panas dirancang sebisa mungkin agar
perpindahan panas antar fluida dapat berlangsung secara efisien. Pertukaran panas terjadi
karena adanya kontak tidak langsung antara steam dan air.
Pada heat exchanger ini, ada 2 macam perpindahan panas yaitu secara konveksi pada
kedua fluida yang mengalir dan secara konduksi dari fluida panas ke fluida dingin, dimana
keduanya dipisahkan oleh dinding.
Pada percobaan ini, fluida pendingin (air) mengalir melalui pipa annulus (shell),
sedangkan fluida pemanas (steam) mengalir pada pipa kecil. Terdapat beberapa alasan
mengapa steam ditempatkan pada pipa kecil (dalam), yakni :
-

Steam memiliki tekanan yang lebih tinggi. Sehingga penempatannya diletakkan pada
pusat tabung (pipa kecil) bertujuan agar alat tidak cepat rusak akibat tekanan tinggi.

Steam pada percobaan ini berlaku sebagai fluida pemanas. Penempatan steam pada
bagian dalam adalah upaya agar kalor yang dimiliki sepenuhnya diterima oleh air.
Jika steam dialirkan dalam pipa annulus, maka sebagian kalor akan terbuang ke
lingkungan dengan percuma karena adanya perpindahan kalor secara konveksi
alamiah yang disebabkan oleh adanya perbedaan temperatur antara steam dengan
lingkungan.

Alasan ekonomis, karena diameter pipa lebih kecil dibandingkan diameter anulus.
Dibandingkan dengan air harga steam tersebut mahal, sehingga penggunaannya harus

36

Heat Exchanger 2011


dihemat dengan mengalirkannya di pipa berarti jumlah steam yang digunakan relatif
sedikit dibandingkan jika dialirkan di anulus.
Penggunaan dua fluida yaitu steam dan air, tujuannya adalah untuk melihat kinerja alat
ini pada kedua fluida tersebut. Alasan penggunaan steam dan air sebagai fluida pada
percobaan ini adalah air dan steam tergolong fluida yang mudah ditemukan data-data
propertisnya dalam literatur, sehingga mudah untuk menghitung koefisien panas dan
efisiensinya. Parameter-parameter inilah yang akan menentukan baik atau tidaknya kinerja
dari Double pipe Heat Exchanger tersebut.
Secara sederhana, prinsip kerja Double pipe Heat Exchanger adalah sebagai berikut :
pertama-tama steam dibuat pada reaktor steam reforming selama kurang lebih 15 menit,
lalu kedua fluida yaitu steam reforming dan air yang berbeda temperatur dialirkan
bersama, steam dialirkan dalam tube dan air dalam shell hingga bersentuhan secara tidak
langsung, sehingga panas dari fluida yang temperaturnya lebih tinggi (steam) berpindah ke
fluida yang temperaturnya lebih rendah (air). Hasil dari proses ini adalah fluida panas
yang masuk akan menjadi lebih dingin dan fluida dingin yang masuk akan menjadi lebih
panas.
Aliran steam dan air dapat mempengaruhi kinerja dari heat exchanger, maka dalam
percobaan ini dilakukan perbandingan untuk heat exchanger aliran searah dan berlawanan
arah dengan cara membuka-tutup valve yang ada. Bila aliran searah, untuk aliran steam,
valve yang dibuka penuh secara berurutan adalah valve 1, 8,10, 12 dan 13. Sedangkan bila
aliran berlawanan, valve yang dibuka penuh secara berurutan adalah valve 1, 8, 11, 9 dan
13. Pada aliran air baik untuk aliran searah maupun berlawanan, valve yang dibuka adalah
valve 5 dan valve 14 sebesar 1/5 putaran. Bisa dilihat yang diatur untuk menentukan
kondisi alirnya adalah dengan mengatur aliran steamnya, steam berjalan searah dengan air
atau berlawanan dengan air. Jadi kita harus memperhatikan suhu yang steam yang masuk,
untuk mencapai hasil percobaan yang benar, suhu steam masuk harus konstan sekitar 90100oC. Untuk mencapai kondisi konstan ini kira-kira harus ditunggu selama 10 menit agar
suhu naik. Pada aliran searah, suhu masuk steam (T4) sekitar 94oC dan pada aliran
berlawanan suhu masuk steam (T5) sekitar 96oC. Seharusnya ini adalah suhu yang dicapai
saat steady state, jadi tidak naik lagi, namun saat percobaan berlangsung suhu ini masih
naik sekitar 3 4 derajat. Hal ini mungkin yang menyebabkan hasil suhu pada percobaan
tidak stabil.

37

Heat Exchanger 2011


Dalam percobaan ini juga dilakukan pengukuran laju alir, namun karena flowmeter
pada heat exchanger rusak maka valve ke arah flowmeter

ditutup dan praktikan

menghitungnya melalui volume air dan kondensat yang ditampung. Oleh karena itu
dibutuhkan waktu yang seragam dalam menampung air dan kondensat. Praktikan
mengambil waktu 10 detik untuk tiap bukaan valve 14. Variasi aliran air dari bukaan valve
14 adalah sebesar 1/5, 2/5, 3/5, 4/5, dan 5/5, lalu akan mendapatkan perbandingan laju alir
massanya untuk tiap bukaan valve tersebut. Semakin bukaan nya besar maka laju alirnya
akan naik. Jadi, variasi bukaan valve akan mempengaruhi laju alir massa yang melewati
bidang batas perpindahan panas. Teorinya, semakin besar bukaan valve akan
menyebabkan laju alir massa semakin besar sehingga akan semakin efektif peristiwa
perpindahan panas yang bekerja. Keefektifan ini dapat terlihat dari perbedaan suhu fluida
keluaran yang tidak jauh.
Untuk perpindahan kalor yang terjadi antara heat exchanger yang aliran berlawanan
dan searah, dapat diperkirakan bahwa hasil yang lebih baik itu diperoleh dari aliran yang
berlawanan arah karena pada aliran yang berlawanan perbedaan suhu awal pada titik-titik
tertentu akan lebih besar sehingga menghasilkan driving force yang besar, maka
pertukaran kalor pada aliran berlawanan arah akan lebih efektif. Driving force yang besar
ini akan mendorong steam dan air untuk saling bertukar panas secara lebih efektif.
Akibatnya, suhu keluaran steam akan lebih rendah dibandingkan pada aliran searah. Suhu
keluaran air juga akan lebih tinggi dibandingkan aliran searah pada laju alir air yang sama.
Selain perbedaan antara aliran searah dan lawan arah, faktor pengotoran juga
mempengaruhi perpindahan panas dalam Double Pipe Heat Exchanger. Faktor pengotoran
(fouling factor) merupakan angka yang menyatakan tingkat pengotoran suatu Heat
Exchanger. Fouling dapat didefinisikan sebagai akumulasi endapan yang tidak diiinginkan
pada permukaan perpindahan panas. Dikarenakan terdapat endapan atau deposit pada
permukaan perpindahan panas, maka dibutuhkan luas perpindahan panas yang lebih agar
perpindahan panas yang diinginkan dapat tercapai ( dengan beban atau duty yang
diberikan ). Fouling factor dipengaruhi oleh sifat fluida, kecepatan alir fluida, temperature
operasi, lama operasi.

38

Heat Exchanger 2011


B. Analisis Data
Dari percobaan didapatkan hasil sebagai berikut
Tabel 1. Data Pengolahan

Counter current
Percobaan

Q air

Q Steam

(m3/s)

(m3/s)

Steam

Air

T in

T out

T in

T out

(oC)

(oC)

(oC)

(oC)

0,0000515

0,0000028

96

42

28

68

0,000088

0,0000032

96

38

28

62

0,000122

0,0000028

98

36

27

56

0,000131

0,0000028

99

34

27

50

0,000154

0,0000028

100

32

27

88

Q air

Q Steam

(m3/s)

(m3/s)

Co- Current
Percobaan

Steam

Air

T in

T out

T in

T out

(oC)

(oC)

(oC)

(oC)

0,00006

0,000003

94

44

36

50

0,000076

0,0000031

94

47

37

51

0,000112

0,000003

94

42

36

46

0,000142

0,0000026

94

38

34

41

0,0000147

0,0000028

94

37

34

39

Dari data hasil percobaan diatas dapat dilihat bahwa data yang praktikan dapatkan
kurang memuaskan, karena kenaikan laju alir yang didapatkan tidak menyebabkan
kenaikan pada laju alir pada steam. Seharusnya, seiring dengan meningkatnya laju alir
pada air maka laju alir pada steam juga akan ikut meningkat. Hal ini sesuai dengan
pernyataan semakin banyaknya kalor yang diserap oleh air dari steam maka akan semakin
banyak pula steam yang terkondensasi menjadi air.
Selain itu, suhu keluaran aliran berlawanan arah lebih kecil dari suhu keluaran searah.
Hal ini menandakan bahwa perpindahan panas pada aliran berlawanan arah lebih besar
dari pada perpindahan panas pada aliran searah. Pada aliran searah, suhu keluaran air
semakin menurun hal ini disebabkan oleh laju alir air yang masuk lebih besar dari laju
steam yang masuk, sehingga akan menyebabkan suhu keluaran air semakin menurun.

39

Heat Exchanger 2011


C. Analisis Perhitungan
1. Menghitung LMTD aliran
Untuk menghitung LMTD aliran digunakan persamaan sbb :
=

1 1 (2 2 )

(4.1)


ln ( 1 1 )
2 2

dimana,
T1 = suhu fluida panas in ; T2 = suhu fluida panas out
t1 = suhu fluida dingin in ; t2 = suhu fluida dingin out
2. Menghitung Nilai h0, h1, Uc , Ud. Counter Current
a. Analisa perhitungan ho dan hi
Nilai ho untuk saturated water dengan menggunakan persamaan :

0 = 0,023 0,8 0,3

(4.2)

(persamaan 6-4, J.P. Holman, Perpindahan Kalor)


Dari persamaan diatas dapat dilihat bahwa untuk menghitung nilai h0 tersebut
dibutuhkan data-data Bilangan Prandtl (Pr) , nilai koefisien perpindahan kalor (k)
dan Bilangan Reynold (Re). Data-data seperti bilangan Pr dan k dapat dilihat dari
tabel A-9 (J.P Holman) sedangkan Re dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan berikut :
=

(02 12 )

(4.3)

Dengan menghitung Bilangan Reynold ini kita dapat mengetahui jenis aliran.
Dimana,
Aliran turbulen Re > 10000
Aliran transisi 2100 < Re < 10000
Aliran laminer Re < 2100

Nilai hi steam dihitung dengan menggunakan persamaan :


1 =

dimana nilai Nud dihitung berdasarkan jenis aliran.

40

(4.4)

Heat Exchanger 2011


Aliran laminer :
= 1,86

0,333

1 0,333

Pr

> 10

(4.5)

Aliran turbulen :
= 0,023 0,8

(4.6)

Tabel 2. Tabulasi data perhitungan h1 dan h0

Jenis

Bukaan

aliran

valve

LMTD

Re

Jenis

Water

aliran

ho

Re

Jenis

h1

Steam

aliran

Liquid
Counter

1/5

20,198

6437,771 Turbulen

884,938

710,61

Laminer

211,64

Current

2/5

19,611

10571,77 Turbulen 1329,593

783,08

Laminer

220,74

3/5

21,422

142098,8 Turbulen 10714,73

669,4

Laminer

210,82

4/5

21,584

149318,3 Turbulen 11211,62

648,12

Laminer

210,7

5/5

7,9957

171860,1 Turbulen 12615,25

807,79

Laminer

212,61

Co-

1/5

22,921

82612,13 Turbulen 6643,303 672,6788 Laminer

215,511

Current

2/5

19,949

108486,5 Turbulen 8180,165 699,4734 Laminer 217,8961

3/5

20,193

4/5

19,027

181184,9 Turbulen 12708,01 551,8178 Laminer 204,6645

5/5

18,229

185641,3 Turbulen 12992,74 587,2963 Laminer 209,5498

151528

Turbulen

10844,1

656,2173 Laminer

215,227

Jika dilihat berdasarkan persamaan (4.3) Bilangan Reynold sangat dipengaruhi


oleh laju alir. Semakin besar laju alirnya maka semakin besar nilai bilangan
Reynoldnya. Begitu juga yang terjadi dalam percobaan. Sehingga secara tidak
langsung, nilai sangat dipengaruhi oleh laju alir fluida. Dimana hi dengan laju alir
akan berbanding lurus. Pernyataan ini dapat dilihat dari persamaan berikut :
Persamaan untuk kalor yang dipindahkan oleh air ke steam dapat dinyatakan dengan
persamaan berikut :
= =

(4.7)

Dimana = sehingga persamaan diatas dapat disederhanakan menjadi :


=

41

(4.8)

Heat Exchanger 2011

(4.9)

dimana,
Q = Laju alir (mL/s)
A = Luas permukaan (2 )
Cp = Kapasitas panas (kJ/kg 0C)
= Massa jenis (kg/m3)
b. Analisa Perhitungan untuk Uc
Nilai Uc dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :
Uc

1
r
A1 ln 0
1
r1 A1 1

h1
2 KL
A0 h0

Dari tabel pada pengolahan data halaman 28 yang dilanjutkan halaman 29, dapat
dilihat bahwa semakin besar nilai hi dan ho maka nilai Uc akan semakin besar pula.
Hal ini sesuai dengan persamaan diaatas bahwa nilai Uc berbanding lurus dengan
nilai hi dan ho.
c. Faktor Pengotor
Setelah dipakai beberapa lama, permukaan perpindahan kalor Heat Exchanger
mungkin dilapisi oleh berbagai endapan yang biasa terdapat dalam sistem aliran.
Lapisan ini memberikan tahanan hambatan terhadap aliran kalor, dan hal ini
menyebabkan menurunnya kemampuan kerja alat itu. Pengaruh menyeluruh
daripada hal tersebut diatas biasa disebut dengan

faktor pengotoran. Faktor

pengotoran dapat dirumuskan dengan persamaan :


1

(4.10)

dimana,
Ud : Koefisien perpindahan panas saat heat exchanger dalam keadaan kotor,
dengan persamaan:

= .

42

(4. 11)

Heat Exchanger 2011


A : Luas bidang perpindahan panas, yakni luas pipa dalam (Ai).
LMTD : Logarithmic Mean Temperature Difference. LMTD dihitung dengan
menggunakan persamaan (4.1).

Pada tabel 2. Sudah disajikan datadata LMTD yang didapatkan baik dari data
aliran counter- current maupun aliran co current. Dari persamaan (4.11) dapat
dilihat bahwa nilai Ud akan berbanding terbalik dengan nilai LMTD. Sehingga
semakin besar nilai Ud maka nilai LMTD akan semakin kecil, begitupula
sebaliknya.
Pada aliran searah, nilai LMTD yang dihasilkan lebih besar dari pada nilai LMTD
berlawanan arah. Pada proses-proses di industri yang melibatkan proses HE, lebih
banyak menggunakan aliran berlawanan daripada searah.
Tabel 3. Data Faktor pengotoran

Jenis

Bukaan

Uc

Ud

Rd

Aliran

Valve

Counter-

1/5

46,21919

269,749

0,017928884

current

2/5

46,87114 335,1747 0,018351572

3/5

46,81751

4/5

46,81344 290,7313 0,017921783

5/5

46,82195 812,9743 0,020127454

Co-

1/5

47,03521 195,6077 0,016148397

current

2/5

47,18171 237,4012 0,016982375

3/5

47,0629

4/5

46,55077 247,4872 0,017441309

5/5

46,80694 311,6283 0,018155401

Dari persamaan

282,411

0,017818592

245,0039 0,017166593

(4.10) diatas dapat dilihat bahwa, faktor utama yang

mempengaruhi faktor kekotoran secara langsung adalah nilai koefisien transfer


panasnya, Uc dan Ud. Secara teoritis, nilai Uc > Ud. Sehingga nilai dari Rd tidak
bernilai negatif. Namun pada perhitungan kami mendapatkan bahwa nilai Uc < Ud
hal ini disebabkan oleh nilai konduktivitas termal bahan yang tidak bisa praktikan

43

Heat Exchanger 2011


tentukan dengan tepat dikarenakan praktikan tidak mengetahui bahan penyusun pipa
tersebut.
3. Menghitung nilai dan NTU
Untuk menentukan nilai efisiensi dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan :
Untuk aliran berlawanan arah :
=

1
( 1)

ln [( )1]

(4.13)

Untuk aliran searah :


=

ln
(1(1 )

(4.14)

1+

C*= Cmin/Cmax dan C = Cp.Q.

dengan

Seperti yang kita tau, bahwa semakin besar nilai efisiensi yang didapatkan, maka
semakin baik alat tersebut bekerja. Dari perhitungan didapatkan

Tabel 4. Perhitungan efisiensi data praktikum

Jenis

Bukaan

Efektifitas

NTU

Aliran

Valve

Water

Water

Liquid

Liquid

Counter-

1/5

0,79412

1,62363

current

2/5

0,85294

1,95567

3/5

0,87324

2,06814

4/5

0,90278

2,33375

5/5

0,93151

2,68412

Co-

1/5

0,75862

1,3991

current

2/5

0,75439

1,3862

3/5

0,82759

1,7659

4/5

0,88333

2,153

5/5

0,95

5,0254

Dari data diatas dapat dilihat bahwa nilai efisiensi dari aliran counter current lebih
besar dari pada aliran co-current. Dari sini dapat disimpilkan bahwa aliran counter
current lebih efisien dari pada aliran co-current. Hal ini disebabkan karena fluida

44

Heat Exchanger 2011


panas dan fluida dingin saling bertukar panas pada titik-titik yang memiliki perbedaan
suhu yang besar. Akibatnya pertukaran kalor akan lebih menyeluruh serta suhu steam
dan air keluar tidak terpaut jauh.
Jika ditelaah, berdasarkan perumusan, maka nilai efisiensi akan berbanding lurus
dengan NTU. Dan hal ini sesuai dari hasil perhitungan yang ada. Nilai efisiensi ini
tergantung dari suhu masukan serta keluaran dari fluida dingin dan steam. Jika kalor
yang diterima oleh fluida dingin dengan kalor yang dilepaskan oleh steam sama atau
mendekati sama, berarti secara tidak langsung, efisiensi dari HE tersebut juga baik.

D. Analisis Kesalahan
Beberapa kesalahan yang mungkin terjadi pada saat praktikum yang menyebabkan
kesalahan data dan kecenderungan yang terjadi, diantaranya:

Kesalahan pada saat menghitung debit air dan steam yang disebabkan oleh
ketidaktepatan dalam perhitungan waktu dan pengukuran volume air/steam karena
pada saat mengambil air dan kondensat di gelas ukur waktunya tidak semuanya tepat
10 detik.

Kesalahan pengukuran suhu air dan steam karena saat 10 detik berlalu suhu tidak
langsung dilihat sehingga memungkinkan terjadi transfer panas ke udara yang
menyebabkan suhu turun. Karena hal ini praktikan mengulang satu percobaan untuk
mendapatkan hasil yang lebih akurat

Kesalahan pengamatan suhu yang terukur pada pengukur suhu yang terdapat pada
heat exchanger. Hal ini disebabkan suhu pada feed steam awal yang diamati belum
mencapai kondisi stabil atau masih terus naik saat percobaan sudah berlangsung.
Sehingga pada percobaan aliran searah harus diulang karena suhu yang dihasilkan di
T1, T2, T3, T5, dan T6 tidak sesuai dengan seharusnya.

Laju alir air dari kran dan laju steam tidak selalu konstan sehingga menyebabkan laju
alir kondensat yang keluar tidak konstan. Hal ini akan mempengaruhi data volume
kondensat yang didapatkan oleh praktikan.

Kemungkinan adanya faktor pengotor karena alat tersebut sering digunakan sebelum
percobaan berlangsung. Adanya faktor pengotor menyebabkan perpindahan panas
yang terjadi kurang efektif.

E. Analisis Alat dan Bahan

45

Heat Exchanger 2011


1. Double Pipe Heat Exchanger
Double pipe Heat exchanger merupakan suatu alat yang didisain untuk mempelajari
dan mengevaluasi pengaruh perbedaan laju alir dan material teknik pada laju transfer
panas melalui dinding tipis.

Gambar 12. Double pipe Heat exchanger

Alat ini terdiri atas dua pipa logam berdinding tipis yang tersusun dalam suatu panel
vertikal. Pipa dapat beroperasi dengan baik pada aliran searah maupun berlawanan. Setiap
pipa terdiri dari sebuah pipa tembaga luar dan dalam. Fluida panas mengalir melalui pipa
bagian dalam, sedangkan fluida dingin mengalir melalui anulus antara pipa luar dan
dalam. Pengaturan terhadap valve dalam rangkaian ini akan menghasilkan aliran yang
sesuai dengan tujuan percobaan yaitu searah dan berlawanan arah.

46

Heat Exchanger 2011


Aliran searah

Aliran Berlawanan
Gambar 13. Aliran searah dan berlawanan arah

2. Valve
Heat exchanger juga terdiri dari valve yang berguna untuk mengatur kondisi aliran
yang diinginkan dan untuk mengatur laju alir dari dari fluida (steam dan air). Pada tiap
aliran dalam percobaan terdapat 7 valve yang dibuka. Dua valve pada masukan tangki
pencampuran dan dua lainnya pada keluaran. Semua valve yang lain berjenis global
type gate valve.

Gambar 14. Valve

3. Air
Air berfungsi sebagai fluida dingin yang dialirkan pada bagian anulus. Air
digunakan karena murah (ekonomis), mudah didapat, dan data-datanya mudah dicari
dalam berbagai literatur.
4. Steam
Steam berfungsi sebagai fluida pemanas yang akan memberikan kalor ke fluida
dingin. Steam yang dihasilkan oleh steam reformer ini dialirkan pada bagian pipa
dalam. Steam digunakan sebagai fluida panas karena tidak terlalu mahal, proses
pengadaannya mudah, serta datanya mudah dicari di berbagai literatur.
5. Gelas Ukur
Gelas ukur besar dan kecil digunakan untuk mengukur volume air dan kondensat
yang tertampung pada bagian outlet. Volume yang terukur digunakan dalam

47

Heat Exchanger 2011


perhitungan laju alir air dan kondensat karena saat percobaan tidak menggunakan
flowmeter.

Gambar 15. Gelas Ukur

6. Stopwatch
Stopwatch digunakan untuk mengukur jangka waktu penampungan air dan
kondensat dalam pengukuran laju alir (dalam percobaan waktu yang digunakan adalah
10 detik).

Gambar 16. Stopwatch

7. Thermocouples pada Heat Exchanger


Thermocouples digunakan untuk mengukur suhu pada masuk dan keluarnya air dan
steam, serta mengukur suhu saat sistem telah steady state pada suhu masuknya steam.
T1 dan T2 berguna untuk mengitung LMTD, T3 adalah suhu air masuk dan T6 adalah
suhu air keluar. Sedangkan T4 adalah suhu steam masuk dan T5 adalah suhu steam
keluar pada aliran searah (aliran berlawan sebaliknya).

Gambar 17. Thermocouples

48

Heat Exchanger 2011


BAB V
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Double Pipe Heat Exchanger merupakan salah satu penukar kalor dimana fluida panas
mengalir pada pipa bagian dalam dan fluida dingin mengalir pada pipa bagian anulus.
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi kerja dari alat Double Pipe Heat Exchanger adalah
faktor kekotoran (Rd), luas permukaan perpindahan kalor, koefisien perpindahan kalor,
beda temperatur rata-rata, jenis aliran (bilangan reynold) dan arah aliran (co-current
atau counter current).
2. Faktor kekotoran menjelaskan mengenai tahanan tambahan terhadap aliran kalor yang
menyebabkan menurunnya kinerja heat exchanger.
3. Perpindahan panas dengan aliran counter current (berlawanan arah) lebih efektif
dibandingkan dengan aliran co current (searah). Hal ini dilihat dari nilai efektivitas
kedua jenis aliran tersebut. Efektivitas dari counter current lebih besar dari pada co
current.
4. Data perhitungan koefisien perpindahan panas pada saat maksimal (Uclen), koefisien
perpindahan panas pada saat ada pengotor (Udirty), faktor kekotoran (Rd) , dan efisiensi.
Jenis

Bukaan

Efektifitas

NTU

Aliran

Valve

Water Liquid Water


(%)

Liquid

Uc

Ud

Rd

Counter-

1/5

79,412

1,62363

46,21919

current

2/5

85,294

1,95567

46,87114 335,1747 0,018351572

3/5

87,324

2,06814

46,81751

4/5

90,278

2,33375

46,81344 290,7313 0,017921783

5/5

93,151

2,68412

46,82195 812,9743 0,020127454

1/5

75,862

1,4299

47,03521 195,6077 0,016148397

2/5

75,439

1,4107

47,18171 237,4012 0,016982375

3/5

82,759

1,7659

47,0629 245,0039 0,017166593

4/5

88,333

2,153

46,55077 247,4872 0,017441309

5/5

95

5,0254

46,80694 311,6283 0,018155401

Co-current

49

269,749 0,017928884

282,411 0,017818592

Heat Exchanger 2011


DAFTAR PUSTAKA
Buku Panduan Praktikum Proses Operasi Teknik I, Teknik Gas dan Petrokimia UI
Holman, J.P. 1995. Perpindahan Kalor Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga.
Shah R.K , Dusan P, Sekulic. 2003. Fundamentals of Heat Exchanger. John Wiley & Sons,
Inc.,Hoboken, New Jersey.
Incropera, Frank P, dan DeWitt, David P. Fundamentals of Heat Transfer. 1981. New York:
John Wiley and Son
Anonim. Double pipe heat exchanger. http://heatexchanger-design.com/2011/04/01/doublepipe-heat-exchanger-5/ (diakses 11 November 2011 pukul 14.00)
Misiti,

Teresa,

Carly

Ehrenberger,

etc.

Heat

Exchange

https://controls.engin.umich.edu/wiki/index.php/HeatExchangeModel

Model.

(diakses

11

November 2011 pukul 13.30)


Queens

University.

Concentric

Tube

Heat

Exchanger.

http://www.chemeng.queensu.ca/courses/CHEE218/projects/HeatExchanger/

(diakses

11 November 2011 pukul 13.00)


Anonim. Spiral Plate Heat Exchangers. http://www.heatexchangerguy.com/spiral-heatexchangers.html (diakses 12 November 2011 pukul 13.00)

50