Anda di halaman 1dari 18

I.

II.
III.
IV.

Judul Percobaan
Tanggal Percobaan
Tujuan Percobaan
Dasar Teori
Air adalah

: Penentuan Zat Organik


: 11 Maret 2015
: Untuk mengetahui zat organik dalam air
kebutuhan dasar bagi kehidupan di muka bumi, tak

terkecuali bagi manusia. Setiap penggunaan air untuk suatu kebutuhan, diperlukan
syarat-syarat kualitas air sesuai peruntukannya. Salah satu syarat yang penting
adalah ukuran banyaknya zat organik yang terdapat dalam air. Oleh karena
itu penentuan zat organik dalam air menjadi salah satu parameter penting
dalam penentuan kualitas air. Banyaknya zat organik dalam air menjadi salah satu
ukuran seberapa jauh tingkat pencemaran pada suatu perairan (Febrian, 2008).
Penentuan kandungan zat organik dalam air biasanya dilakukan dengan mengukur
kebutuhan oksigen dalam air untuk mendegradasi zat organik, baik dengan
bantuan mikroorganisme, zat kimia dan cara lainnya. Saat ini telah ada dua
metode standar dalam pengukuran kebutuhan oksigen di air, yaitu Biological
Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD). Kedua metode
tersebut berhubungan dengan kebutuhan oksigen untuk mendegradasi zat organik
yang ada pada contoh air. Pada metoda BOD digunakan proses oksidasi melalui
bantuan mikroorganisme. Sedangkan pada metoda COD, proses oksidasi zat
organik dalam sampel menggunakan pereaksi kimia, seperti dikromat, sebagai
oksidatornya (Febrian, 2008).
Zat organik adalah zat yang pada umumnya merupakan bagian
dari binatang atau tumbuh-tumbuhan dengan komponen utamanya adalah
karbon, protein, dan lemak. Zat organik ini mudah sekali mengalami pembusukan
oleh bakteri dengan menggunakan oksigen terlarut (SMK Negeri 3 Kimia
Madiun, 2008). Limbah organik adalah sisa atau buangan dari berbagai aktifitas
manusia seperti rumah tangga, industri, pemukiman, peternakan, pertanian
dan perikanan yang berupa bahan organik; yang biasanya tersusun oleh karbon,
hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, sulfur dan mineral lainnya (Polprasert,1989
dalam SMK Negeri 3 Kimia Madiun, 2008). Limbah organik yang masuk ke dalam
perairan dalam bentuk padatanyang terendap, koloid, tersuspensi dan terlarut.
Pada umumnya, yang dalam bentuk padatan akan langsung mengendap menuju
dasar perairan. Sedangkan bentuk lainnya berada di badan air, baik di bagian yang
aerob maupun anaerob. Dimanapun limbah organik berada, jika tidak

dimanfaatkan oleh fauna perairan lain, seperti ikan, kepiting, bentos dan lainnya,
maka akan segera dimanfaatkan oleh mikroba baik mikroba aerobik (mikroba
yang hidupnya memerlukan oksigen), mikroba anaerobik (mikroba yang hidupnya
tidak memerlukan oksigen), maupun mikroba fakultatif (mikroba yang dapat
hidup pada perairan aerobik dan anaerobik) (Halim, 2007). Makin banyak limbah
organik yang masuk dan tinggal pada lapisan aerobik, maka akan makin besar
pula kebutuhan oksigen bagi mikroba yang mendekomposisi, bahkan jika
keperluan oksigen bagi mikroba yang ada melebihi konsentrasi oksigen terlarut
maka oksigen terlarut bisa menjadi nol dan mikroba aerobpun akan musnah
digantikan oleh mikroba anaerob dan fakultatif yang untuk aktifitas hidupnya
tidak memerlukan oksigen (SMK Negeri 3 Kimia Madiun, 2008).
Adanya zat organik dalam air menunjukan bahwa air tersebut telah tercemar oleh
kotoran manusia, hewan, atau oleh sumber lain. Zat organik merupakan bahan
makanan bakteri atau mikroorganisme lainnya. Makin tinggi kandungan zat
organik didalam air, maka semakin jelas bahwa air tersebut telah tercemar
(Kurniawan, 2009). Zat organik ini mudah sekali mengalami pembusukan oleh
bakteri dengan menggunakan oksigen terlarut. Di dalam sistem air, tanah yang
belum terkontaminasi senyawa organik yang dominan adalah senyawa humus
(humic substances). Senyawa tersebut merupakan hasil dekomposisi tumbuhan
dan hewan secara biologis dan tidak memiliki struktur yang baku (Halim, 2007).
Oleh karena itulah mengapa pengidentifikasiannya memerlukan serangkaian
proses yang cukup panjang. Ada tiga kelompok senyawa humus, yaitu:
1. Asam fulvik (fulvic acid), merupakan senyawa yang terlarut di dalam air
2. Asam humik (humic acid), senyawa yang tidak larut di dalam air pada pH
rendah
3. Humin, tidak larut di dalam air pada semua pH (Krisma, 2008).
Permanganometri merupakan metode titrasi dengan menggunakan kalium
permanganat, yang merupakan oksidator kuat sebagai titran. Titrasi ini didasarkan
atas titrasi reduksi dan oksidasi atau redoks. Kalium permanganat telah digunakan
sebagai pengoksida secara meluas lebih dari 100 tahun. Reagensia ini mudah
diperoleh, murah, dan tidak memerlukan indikator kecuali bila digunakan larutan
yang sangat encer. Permanganat beraksi secara beraneka, karena mangan dapat
memiliki keadaan oksidasi +2, +3, +4, +6, dan+7 (Day & Underwood, 1999). Asam

sulfat adalah asam yang paling sesuai, karena tidak bereaksi terhadap
permanganat dalam larutan encer. Dengan asam klorida dan sedikit permanganat
dapat terpakai dalam pembentukan klor, ada kemungkinan terjadi reaksi :
2MnO4- + 10Cl- + 16H+ 2Mn2+ + 5Cl2 + 8H2O
Pereaksi kalium permanganat bukan merupakan larutan baku primer dan
karenanya perlu dibakukan terlebih dahulu. Pada percobaan ini untuk
membakukan kalium permanganat ini dapat digunakan natrium oksalat yang
merupakan standar primer yang baik untuk permanganat dalam larutan asam
(Basset, 1994). Kalium permanganat (KMnO4) telah lama dipakai sebagai
oksidator pada penentuan konsumsi oksigen untuk mengoksidasi bahan organik,
yang dikenal sebagai parameter nilai permanganat atau sering disebut sebagai
kandungan bahan organik total atau TOM (Total Organik Matter). Akan tetapi,
kemampuan oksidasi oleh permanganat sangat bervariasi, tergantung pada
senyawa-senyawa yang terkandung dalam air.
Penentuan nilai oksigen yang dikonsumsi dengan metode permanganat
selalu memberikan hasil yang lebih kecil dari nilai BOD (Biological Oxygen
Demand).

Kondisi

ini

menunjukkan

bahwa

permanganat

tidak

cukup

mengoksidasi bahan organik secara sempurna (Effendi, 2003). Untuk mengatasi


kelemahan permanganat ini, digunakan oksidator yang lain, misalnya kalium
dikromat dan kalium iodat. Ternyata kalium dikromat dianggap sebagai oksidator
yang paling baik untuk digunakan pada penentuan nilai COD (chemical oxygen
demand), karena dapat mengoksidasi berbagai jenis bahan organik (Effendi,
2003). Berdasarkan kesempurnaan proses oksidasi bahan organik, pada penentuan
nilai permanganat atau kandungan bahan organik total (TOM), BOD dan COD,
berturut-turut persentase bahan organik yang dioksidasi adalah 25%, 70% dan
98%. Berdasarkan kemampuan oksidasi ini, penentuan nilai COD dianggap paling
baik dalam menggambarkan keberadaan bahan organik, baik yang dapat
didekomposisi secara biologis (biodegradable) maupun yang sukar didekomposisi
secara biologis (non biodegradable) (Effendi, 2003). Nilai permanganat adalah
jumlah miligram kalium permanganat yang dibutuhkan untuk mengoksidasi
organik dalam 1000 mL air pada kondisi mendidih, larutan induk kalium
permanganat, KMnO4 adalah larutan yang mempunyai normalitas kalium
permanganat, KMnO4 0,1 N yang digunakan untuk membuat larutan baku dengan

kadar yang lebih rendah sedangkan larutan baku kalium permanganat, KMnO4
adalah larutan induk kalium permanganat, KMnO4 0,1 N yang diencerkan dengan
air suling sampai normalitas 0,01 N (SNI 06-6989.22-2004, 2004). Penentuan zat
organik dengan cara oksidasi dapat dilakukan dalam suasana asam atau basa.
a. Metode asam untuk air yang mengandung ion Cl < 300 ppm.
b. Metode basa untuk air yang mengandung ion Cl > 300 ppm (Sodik, 2009).
Zat organik dalam air dapat dihitung dengan rumus:
mg KMnO 4 [ ( 10+a ) b( 10 c ) ] 31,6 1000
=
L
d
Dimana, a: mL KMnO4 0,01 N pada titrasi
b: normalitas KMnO4
c: normalitas asam oksalat
d: mL sampel yang digunakan
V.

VI.

Alat Dan Bahan


Alat-Alat:
- Erlenmeyer 250 mL (3 buah)
- Gelas kimia 250 mL (2 buah)
- Statif dan Klem (1 set)
- Pipet tetes (secukupnya)
- Gelas ukur (1 buah)
- Kompor listrik (1 buah)
- Stopwatch (1 buah)
- Labu ukur 250 mL
- Pipet gondok (1 buah)

Bahan-Bahan:
- Air limbah (sampel)
- Larutan KMnO4 0,01 N
- Larutan Asam oksalat 0,01 N
- Larutan H2SO4 8 N
- Aquades

Prosedur Percobaan
1. Standarisasi KMnO4 dengan Asam Oksalat
50 mL Aquades
Dimasukkan erlenmeyer
2,5 mL H2SO4 8N
Dimasukkan batu didih
Dipanaskan sampai suhu 60o C
5 mL Asam Oksalat 0,01N

Dititrasi dengan KMnO4 sampai larutan berwarna merah jambu


Volume KMnO4

2. Penentuan Kadar Zat Organik


50 mL Sampel
Dimasukkan erlenmeyer 250 mL
Beberapa tetes KMnO4 0,01N
Hingga timbul warna merah muda
5 mL H2SO4 8N
Dimasukkan batu didih
Dipanaskan di atas penangas air hingga mendidih
5 mL KMnO4 0,01 N
Didihkan lagi selama 10 menit
5 mL Asam Oksalat 0,01N
Dititrasi kelebihan asam oksalat dengan larutan standar KMnO4 sampai larutan berwarna merah

Volume KMnO4

VII.

Hasil Pengamatan
VIII.

IX.

X.

Prosedur Percobaan

XI.

Hasil Pengamatan

XII.

Dugaan/Reaksi

XIII. Kesimpulan

o
.
P
e
r
c
.
1.

XIV. Standarisasi KMnO4 dengan Asam

50 mL
Aquades
Oksalat

XV. Dimasukkan erlenmeyer

2,5 mL H2SO4 8N

Aquades : lar tak berwarna


H2SO4 : lar tak berwarna
Asam oksalat : lar tak
berwarna
KMnO4 : lar merah muda (+
+ + +)
XVI.
Dimasukkan
batu
didih
XXXII.
XVII.
XVIII.Dipanaskan sampai suhu 60o C Aquades + H2SO4 : lar tak
XIX.
berwarna
5 mL Asam Oksalat 0,01N
XX.
Setelah ditambah asam
XXI.
Dititrasi dengan KMnO4 sampai larutan berwarna merah
oksalat jambu
: lar tak berwarna
XXII.
Setelah dititrasi dengan
XXIII.
KMnO4 : lar merah muda
XXIV.
Volume KMnO4
Volume titrasi
XXV.
1. 4,9 mL
XXVI.
2. 4,6 mL
XXVII.

Reduksi: 10e-

+ Diperoleh nilai rata-rata

2MnO4- + 16H+

normalitas KMnO4

2Mn2+ + 8H2O
XXXVII. Oksidasi:

yaitu 0,0103N.

5C2O42- 10CO2
+ 8H2O + 10eXXXVIII. 2MnO4- +
16H+ + 5C2O42-
2Mn2+ + 10CO2 +
8H2O
XXXIX.

XXVIII.
XXIX.
XXX.
XXXI.

3. 5 mL
XXXIII.
XXXIV.
XXXV.
XXXVI.
2.
XL. Penentuan Kadar Zat Organik
Sampel : lar berwarna abu Standar SNI

XLI.
abu
konsentrasi zat
50 mL Sampel
Setelah diencerkan 2,5 mL
organik dalam air
: lar tak berwarna
bersih sebesar 10
Dimasukkan erlenmeyer 250
250mL
mL
XLII.
mg/L.
Beberapa tetes KMnO4 0,01N
Sampel + 5 tetes KMnO4
XLIV.
Reduksi: 10e+
0,01N
: lar merah muda
Hingga timbul warna merah
muda
Setelah + 2,5 mL H2SO4 8N :
2MnO4- + 16H+
5 mL H2SO4 8N
lar tak berwarna
2Mn2+ + 8H2O
Setelah + 5 mL mL KMnO4
Dimasukkan batu didih
XLV.
Oksidasi:
0,01N : lar merah muda (+
Dipanaskan di atas penangas air hingga mendidih
5C2O42- 10CO2
+)
Setelah + asam oksalat 0,01N
+ 8H2O + 10e5 mL KMnO4 0,01 N
: lar tak berwarna
XLVI.
2MnO4- +
Setelah dititrasi : lar merah
16H+ + 5C2O42-
Didihkan lagi selama 10 muda
menit
2Mn2+ + 10CO2 +
Volume titrasi :
5 mL Asam Oksalat 0,01N
1. 1,1 mL
8H2O
2.
1
mL
Dititrasi kelebihan asam oksalat dengan larutan standar KMnO4 sampai larutan berwarna
merah jambu
XLVII.
3. 1,1 mL
XLIII.
Volume KMnO4

Diperoleh rata-rata
kadar zat organik
dalam sampel yaitu
883,9573 mg/L.

XLVIII.
Analisis Dan Pembahasan
1. Standarisasi KMnO4 dengan Asam Oksalat
XLIX.
Mula-mula 50 mL aquades dimasukkan ke dalam erlenmeyer
kemudian ditambahkan 2,5 mL H2SO4 yang berupa larutan tidak berwarna
untuk memberi suasana asam dan agar lebih mudah dalam mengamati titik
akhir titrasinya. Kemudian beberapa butir batu didih dimasukkan. Penambahan
batu didih ini berfungsi untuk mempercepat proses pemanasan. Setelah itu
dipanaskan pada suhu 600C untuk mempercepat reaksi karena reaksi reduksi
Ion MnO4- menjadi ion Mn2+ dalam suasana asam berlangsung lamban. Lalu
ditambahkan 5 mL asam oksalat yang berupa larutan tidak berwarna untuk
mereduksi sisa KMnO4 berlebih dalam larutan. Larutan asam oksalat
merupakan standar yang baik untuk standarisasi permanganat dalam suasana
asam. Setelah itu dititrasi dengan KMnO4 yang berupa larutan berwarna merah
muda (+++) sampai berwarna merah jambu. Fungsi larutan KMnO4 sebagai
oksidator untuk mengoksidasi zat organik sekaligus sebagai indikator
perubahan warna. Berikut reaksi yang terjadi
L. Reduksi:
10e- + 2MnO4- + 16H+ 2Mn2+ + 8H2O
LI. Oksidasi:
5C2O42- 10CO2 + 8H2O + 10eLII.
2MnO4- + 16H+ + 5C2O42- 2Mn2+ + 10CO2 + 8H2O
LIII.
Dari hasil titrasi diperoleh volume titran sebanyak 4,9 mL; 4,6 mL;
5 mL. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai normalitas KMnO 4 rata-rata
sebesar 0,0103N.
2. Penentuan kadar zat organik
LIV.
Percobaan ini bertujuan untuk menentukan kadar zat organik dalam
sampel secara permanganometri. Permanganometri merupakan metode titrasi
dengan menggunakan kalium permanganat yang merupakan oksidator kuat
sebagai titran. Mula-mula 50 mL sampel air yang berupa larutan berwarna
keabu-abuan dimasukkan ke dalam erlennmeyer 250 mL kemudian
ditambahkan lima tetes KMnO4 0,01N yang berupa larutan berwarna merah
muda (++++) dan dihasilkan warna merah muda, dimana zat organik di dalam
sampel akan dioksidasi oleh KMnO4 yang merupakan oksidator kuat sekaligus
bertindak sebagai indikator. Kemudian ditambahkan 2,5 mL H 2SO4 8N yang
berupa larutan tak berwarna untuk memberi suasana asam dan agar lebih
mudah dalam mengamati titik akhir titrasinya. Setelah penambahan H2SO4
larutan menjadi tak berwarna, memudarnya warna merah muda pada larutan

menandakan semakin berkurangnya jumlah KMnO4. Ion MnO4- akan berubah


menjadi ion Mn2+ dalam suasana asam. Namun reaksi tersebut berjalan lambat
sehingga perlu dilakukan pemanasan untuk mempercepat reaksi. Sebelumnya
beberapa butir batu didih dimasukkan ke dalam erlenmeyer terlebih dahulu
baru kemudian dipanaskan. Penambahan batu didih ini berfungsi untuk
mempercepat proses pemanasan. Setelah itu ditambahkan 5 mL KMnO 4 0,01N
dan dihasilkan larutan berwarna merah muda. Fungsi penambahan larutan
KMnO4 adalah sebagai oksidator dan indikator. Lalu dididihkan lagi selama 10
menit untuk mempercepat reaksi. Kemudian ditambahkan 5 mL asam oksalat
0,01N yang berupa larutan tak berwarna dan dihasilkan larutan tak berwarna.
Fungsi dari penambahan asam oksalat adalah untuk mereduksi sisa KMnO 4
yang sebelumnya telah digunakan untuk mereduksi zat organik. Kemudian
kelebihan asam oksalat dititrasi dengan larutan standar KMnO 4 sampai
berwarna merah jambu. Berikut reaksi yang terjadi secara keseluruhan
LV. Reduksi:
10e- + 2MnO4- + 16H+ 2Mn2+ + 8H2O
LVI.
Oksidasi:
5C2O42- 10CO2 + 8H2O + 10eLVII.
2MnO4- + 16H+ + 5C2O42- 2Mn2+ + 10CO2 +
8H2O
LVIII.

Dari hasil titrasi diperoleh volume titran sebanyak 1,1 mL; 1 mL;

1,1 mL. Dari data tersebut dapat dihitung kadar zat organik dalam sampel
yakni sebesar 883,9573 mg/L. Menurut peraturan menteri kesehatan Nomor:
416/MenKes/Per/IX/1990 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air
menyatakan bahwa untuk parameter zat organik (KMnO 4) kadar maksimum
yang diperbolehkan yaitu 10 mg/L. Dengan demikian sampel air tersebut
bukan merupakan air bersih karena kandungan zat organik dalam sampel
sangat tinggi dan melebihi standar baku mutu yang diperbolehkan.
LIX.
LX.
LXI.
LXII.
LXIII.
LXIV. Kesimpulan
LXV. Kadar zat organik dalam sampel sebesar 883,9573 mg/L. Dengan
demikian sampel air tersebut bukan merupakan air bersih dan tidak layak
konsumsi karena kandungan zat organik dalam sampel yang sangat tinggi dan
melebihi standar baku mutu yang diperbolehkan yakni sebesar 10 mg/L.

LXVI.
LXVII.
Daftar Pustaka
LXVIII.
Adi. 2012.

Laporan

Penetapan

Bilangan

http://www.academia.edu. Diakses tanggal 8 Maret 2015.


LXIX. Iman, M. S. Laporan Praktikum Laboratorium

Permanganat.
Lingkungan.

http://id.scribd.com/doc/46938768/Lap-praktikum-10-Zat-Organik#scribd.
Diakses tanggal 15 Maret 2015.
LXX. Khopkar. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI Press.
LXXI. Tim Dosen Kimia Lingkungan. 2015. Penuntun Praktikum Kimia
Lingkungan. Surabaya: UNESA Press.

LXXII.

LAMPIRAN PERHITUNGAN
LXXIII.

1. Standarisasi KMnO4 dengan Asam Oksalat


a) Volume titrasi = 4,9 mL
LXXIV.
Asam Oksalat = KMnO4
V1.N1 = V2.N2
LXXV.
LXXVI.
5 mL x 0,01N = 4,9 mL x N2
= 4,9N2
LXXVII. 0,05
0,05
LXXVIII. N2
= 4,9
LXXIX.

N2

= 0,0102 N

LXXX.

b) Volume titrasi = 4,6 mL


LXXXI.
Asam Oksalat = KMnO4
LXXXII. V1.N1 = V2.N2
LXXXIII.
5 mL x 0,01N = 4,6 mL x N2
= 4,6N2
LXXXIV.0,05
0,05
LXXXV. N2
= 4,6
LXXXVI. N2

= 0,0108 N

LXXXVII.

c) Volume titrasi = 5 mL
LXXXVIII. Asam Oksalat = KMnO4
LXXXIX. V1.N1 = V2.N2
XC.
5 mL x 0,01N = 5 mL x N2
0,05 = 5N2
XCI.
0,05
XCII.
N2
=
5
XCIII.

N2

= 0,01 N
0,0102+ 0 ,0108+ 0,01
Normalitas KMnO4 rata-rata =
3
XCIV.
XCV.
XCVI.

= 0,0103 N

2. Penentuan Zat Organik


a) Volume titrasi = 1,1 mL

XCVII.
XCVIII.

mg KMnO4/L =
=

[( 10+ a ) b(10 xc)] x 31,6 x 1000


d

[( 10+1,1 mL ) 0,0103 N (10 x 0,01 N )] x 31,6 x 1000


50 mL

XCIX.

( 0,114330,1 ) x 31,6 x 1000


50

C.

(0,01433) x 31,6 x 1000


50

CI.
CII.
CIII.

= 9,05656 mg/L
Faktor pengenceran = 9,05656 x 100
= 905,656 mg/L

CIV.

b) Volume titrasi = 1 mL

CV.

mg KMnO4/L =

CVI.

[( 10+ a ) b(10 xc)] x 31,6 x 1000


d

[( 10+1 mL ) 0,0103 N (10 x 0,01 N )] x 31,6 x 1000


50 mL

CVII.

( 0,11330,1 ) x 31,6 x 1000


50

CVIII.

(0,0133)x 31,6 x 1000


50

CIX.
CX.
CXI.

= 8,4056 mg/L
Faktor pengenceran = 8,4056 x 100
= 804,56 mg/L

CXII.

c) Volume titrasi = 1,1 mL

CXIII.

mg KMnO4/L =

CXIV.

[( 10+ a ) b(10 xc)] x 31,6 x 1000


d

[( 10+1,1 mL ) 0,0103 N (10 x 0,01 N )] x 31,6 x 1000


50 mL

CXV.

( 0,114330,1 ) x 31,6 x 1000


50

CXVI.

(0,01433) x 31,6 x 1000


50

CXVII.
CXVIII.
CXIX.
CXX.

= 9,05656 mg/L
Faktor pengenceran = 9,05656 x 100
= 905,656 mg/L

mg KMnO4/L rata-rata =

905,656 mg/L+804,56 mg /L+9 05,656 mg/ L


3

CXXI.
CXXII.

= 883,9573 mg/L

CXXIII.

LAMPIRAN GAMBAR

1. Standarisasi KMnO4 dengan asam oksalat


CXXIV.

Aq

uad

es

+
H2

SO4

CXXV.
CXXVI.
CXXVII.
CXXVIII.
CXXIX.
CXXX.
CXXXI.
CXXXII.
CXXXIII.
CXXXIV.

Dip

an

ask
an pada suhu 600C

CXXXV.
CXXXVI.
CXXXVII.

Setelah

CXXXVIII.
CXXXIX.
CXL.
CXLI.

Setela

ditambahkan asam oksalat

dititrasi dengan KMnO4

CXLII.
CXLIII.
CXLIV.Setelah dititrasi dengan

CXLV.
CXLVI.
CXLVII.
Setelah dititrasi

KMnO4

dengan KMnO4

2. Penentuan kadar zat organik


CXLVIII.
mpel

Sa

CXLIX.
CL.
CLI.
utan

setelah diencerkan 100x

sampel pengenceran 100x

Lar

CLII.

Sa

mpel

CLIII.
CLIV.
CLV.

Sam

pel

tetes

+5

tetes

KMnO4
CLVI.
CLVII.
CLVIII.
elah

KMnO4 + H2SO4
CLIX.
CLX.
Set CLXI.
aat

ditambahkan 5 mL KMnO4

dididihkan selama 10 menit

CLXV.
CLXVI.

CLXII.
CLXIII.

CLXIV.

Setelah ditambahkan
asam oksalat

CLXVII.

Setelah dititrasi dengan


KMnO4

CLXVIII.
CLXIX.

CLXX.

Setelah dititrasi dengan


KMnO4

CLXXIV.
CLXXV.
CLXXVI.
CLXXVII.
CLXXVIII.
CLXXIX.

CLXXI.
CLXXII.

CLXXIII.

Setelah dititrasi dengan


KMnO4