Anda di halaman 1dari 142

t^

1*,

't:
),

i l?t
\!

"

"*t*rg*i,r,V,:t..i,

qk)

Qmr

.fi

z-

7*,'
4-

MEKANIKA

TEKNIK
2
STATIKASKEGUNAANNYA

,-i

!r

it

BALOK TERUSAN
KONSTBUKSI PORTAL STATIS TIOAK TERTENTU
PERUBAHAN BENTUK EIASTIS'
GARIS PENGARUH

PERBAIKAN

BUKU RUSAK
{trH. l9e7 11995

/'1\
JV)
YJV

PENERBIT KANISIUS

lr. HEINZ FRICI(

Mekanika Teknik

Statika dan Kegunaannya 2

02801 8

Kata pengantar

O Kanisius 1979
PENERBIT KANISIUS (Anggota IKAPI)
Jl. Cempaka 9, Deresan, Yogyakarta 55281
Telepon (0274) 88783, Teleks 25243, Fax (0274) 63349
Kotak Pos 1125Nk, Yogyakarta 55011
Cetakan perlama 1979
Cetakan kedua 1981
Cetakan ketiga 1982
Cetakan
Cetakan
Cetakan
PERPUSTAKAA..I DAERAH
Cetakan
Cetakan
1991
J {W q, Til\{U;{
Cetakan

1e88

ISHO

MILIK

* statika dan kegunaannya ini mencakup sebuah Pengantar ke dalam Metode perhitungan sistim statis tidak tertentu dan sebuah
bab tentang garis pengaruh. Lampirannya dengan jumlah tabel-tabel yang cukup luas
juga dapat mengisi kekosongan dalam bidang ini di pasaran buku statika. Di samping
itu tabel-tabel itu akan berguna sekali dalam praktek. Buku ini ditutup dengan daftar
kependekan, daftar istilah penting dan pustaka.
Atas dasar kenyataan, bahwa di lndonesia nilai ukuran-ukuran seperti kg, kgi cm2. t,
tm dsb. masih berlaku, maka tidak digunakan nilai ukuran-ukuran yang baru seperti N
(Newton), KN (Kilonewton) dan MN (Meganewton). Untuk kebutuhan konversi dapat
digunakan petunjuk berikut:
Gaya-gaya : dasarnyaialahkN (kilonewton) : 1'000 N :0.001 MN
Beban : kN/m dan kN/m2
Momen : kNm
Jilid kedua buku llmu mekanika teknik

Tegangan

N/mm2

Dasar-dadbr Newton dihasilkan dari Fisika, yang menentukan kecepatan jatuh g :


9.80665 rirls2. Diatifrkan dalam bidang pembangunan, yang men{hitung dengan
faktor keamanan yang besar. maka 9: 10.0 m/s2 boleh dikatakan cukup teliti.
Untuk konversi dapat dikatakan, bahwa:

1kg:1kP=t0N

atau 1t : 1Mp : 10kN

0.01 MN dsb.

Ucapan banyak terima kasih saya sampaikan pertama-tama kepdda VEB-Verlag f0r
Bauwesen di Berlin, Jerman Timur, yang telah menyerahkan dengan cuma-cuma
copyright bab 8. (Perubahan bentuk elastis) dan 9.'(Garis pengaruhl, serta B.G.
Teubner Verlag di Stuttgart, Jerman Barat. Kemudian pengajar statika saya, lr. Adam
Magyar'di Z0rich, Swis, yang telah memperkenalkan kepada saya rahasia-rahasia
statika pada tahun 1962-65, Wakil Pimpinan Pendidikan lndustri Kayu Atas (PIKA)
Semarang, Sdr. l. Susmadi, sebagai korektor bahasa lndonesia dan lr. Mlodzik dari
Biro lnsinyur Fietz + Leuthold AG di ZUrich, Swis, yang telah rnenyediakan diri
meneliti semua rumus dan menghitung kembali contoh-contoh.
Perlu ditambahkan di sini, bahwa baik dalam pemelihan bahan maupun dalam susunan kepustakaan diusahakan selengkap mungkin. Semoga buku ini akan bermanfaat sekali bagi para mahasiswa dan para arsitek dalam praktek dan mendapatkan
sambutan seperti yang saya harapkan dan yang memberikan kekuatan kepada saya
untuk menyelesaikan tugas ini. Kebahagiaan akan memenuhi hati saya menerima imISBN 979-413-345-0
Hak Cipta dilindungi Undang-undang.

Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apa pun,
termasuk fotokopi, tanpa izin tertulis dari penerbit.
Dicetak oleh Percetakan Kanisius Yogyakarta

balan jasa itu.

Kami menantikan saran dan usul ke arah perbaikan, yang pasti akan timbul setelah
penggunaan buku ini, dengan tangan terbuka dan senang hati. Terbitan pertama ini
dimungkinkan oleh subsidi yang kami terima dari Liechtenstein Development, Vaduz,
Principality of Liechtenstein.
Semarang, Maret 1978

lsi buku:
1.

lr. Heinz Frick

Jilid l, halaman:

Pengetahuan dasar tentang statika

13

1. 1

13

Pengetahuan dasar

1. 1. 1 Pembangunan pada konstruksi batang dan rangka


1. 1. 2
1. 1.3

batang
Beban pada konstruksi batang dan rangka batang
Tumpuan pada konstruksi batang dan rangka

't4

batang

17

1. 1. 4 Sifat-sifat

2.

bahan bangunan

19

1. 2 Gaya
1. 3 Mengumpulkan dan membagi gaya dalam satu bidang
1. 3. 1 Ukuran dan jurusan pada gaya
1. 3. 2 Gaya-gaya dengan titik tangkap bersama
1. 3. 3 Poligon batang tarik
"l. 3. 4 Pembagian satu gaya R pada tiga garis kerja
1. 4 Momen
1: 4. 1 Momen satu gaya
1. 4. 2 Momenkumpulangaya
1. 4. 3 Gayaganda
1. 4. 4 Pindahan sejajar dari satu gaya
1. 5 Syarat-syarat keseimbangan
1. 6 Penggunaan syarat-syarat keseimbangan pada perhitungan

20
21
21

23

26
32

35
35
35
37
38

38
40

konstruksi batang dan rangka batang


1. 6. 1 Perhitungan reaksi pada tumpuan

1. 6.
1. 6.

Gaya dalam

Pdrjanjian tanda

44

2
3

llmu inersia dan ketahanan

46

2. :l Besaran-besaran lintang
2. 1. 1 Titik berat pada bidang t'.'
2. 1. 2 Momen lembam dan momen sentrifugal

bidang

2. 1.
2. 1.
2. '1.
tv

16

46

pada

3 Momen lemban pada sistim koordinat berpindah


4 Momen lembam pada sistim koordinat terputar
5 Lingkaran Mohr

49
50
52
55

2. 2 Tegangan normal
2. 2. 1 Ketentuan keseimbangan
2. 2. 2 Ketentuan perubahan bentuk
2. 2. 3 Hubungan antara masing-masing tegangan
2. 2. 4 Garis sumbu nol
2. 2. 5 Gaya tekarr dan gaya tarik
2. 2. 6 Momen lentur
2. 2. 7 Momen tahanan
2. 2. 8 Besaran inti
2, 3 Tegangan geser
2. 3. 1 Tegangan geser oleh gaya lintang
2. 3. 2 Tegangan geser oleh gaya torsi
2. 4 Fegangan-tegangan
2. 4. 1 Tegangan linear
2. 4. 2 Tegangan dalam bidang
2. 5. Penggunaan dan keamanan
2. 5. 1 Keamanan
2. 5. 2 Beban yang berulang-ulang
2. 5. 3 Teori-teorititik patah
2. 6 Tekukan
2. 6. 1 Macam-macam tekukan
2. 6. 2 Contoh-contoh
2. 6. 3 Tekukan pada topang ganda

2.7

2. 8

3.

97
98
101

3. 1 Pengetahuan dasar
3. 2 Balok tunggal
3. 2. 1 Balok tunggal

101

dengan satu gaya


Balok tunggal dengan beberapa gaya
Balok tunggal dengan beban merata
Balok tunggal dengan beban merata terbatas

103
103
105
108
110

dengan satu gaya pada ujung yang bebas


3. 2 Konsole dengan beberapa gaya
3. 3 Konsole dengan beban merata
3. 4 Konsole dengan gaya horisontal
3. 5 Konsole dengan macam-macam beban dan gaya
Balok tunggal dengan konsole
3. 4. 1 Balok tunggal dengan satu konsole
3. 4. 2 Balok tunggal dengan dua konsole

Balok tunggal bersudut


3. 5. 1 Pengetahuan dasar
3. 5. 2 Balok tunggal bersudut siku
3. 5. 3 Balok tunggal bersudut miring
3. 5. 4 Balok tunggal dengan lengkungan miring
6 Balok rusuk Gerber
3. 6. 1 Pengetahuan dasar dan kemungkinan-kemungkinan
pemasangan engsel pada Balok rusuk Gerber

3. 6. 2 Contoh-contoh

87

Kontruksi batang

3. 2. 2
3. 2. 3
3. 2. 4

3.

86

96

120
120

3. .1 Konsole

3. 5

81

93
95
96
96

117

Konsole

3. 4. 3 Contoh-contoh

81

91

Syarat Mohr
Penentuan lendutan menurut Mohr secara grafis
Contoh-contoh

3. 4

115

3. 2. 7 Contoh-contoh
3.
3.
3.
3.
3.

B1

91

2. 8. 2
2. 8. 3
2. 8. 4

3. 3

63
63
64
65
69
69
72
73
73
76
79
79
79

fekukanex-sentris

113

dan

gaya

61

2. 7. 1
2. 7. 2
2. 7. 3

Tiang terbengkok
Tiang yang tertekan ex-sentris
Tiang dengan beban lintang
Perhitungan lendutan dan garis elastis
2. 8. 1 Pengetahuan dasar

3. 2. 5 Balok tunggal dengan beban segitiga


3. 2. 6 Balok tunggal dengan macam-macam beban

57
57
59
60

3. 7 Konstruksi portal tiga ruas dan konstruksi


3. 7. 1 Pengetahuan dasar
3. 7. 2 Konstruksi portal tiga ruas
3. 7. 3 Konstruksibusurtiga ruas
4.

Konstruksi rangka batang (vakwerk)


4. 1 Pengetahuan dasar
4.

4. 3

Pembangunan konstruksi rangka

busur tiga ruas

123
123
127

129
134
134
134
143

152
153
153
158
160
160
161

168

176
176
178
178

batang

4. 2. 1 Ketentuan statis
4. 2. 2 Kestabilan konstruksirangka batang
4. 2. 3 Pembangunan dan bentuk konstruksi rangka

121
121
121
122

180

batang

181

183

Penentuan gaya-gaya batang


4. 3. 1 Perhitungan gaya batang menurut
4. 3. 2 Perhitungan gaya batang menurut

Cremona
Cullmann
4. 3. 3 PerhitungangayabatangmenurutA. Ritter

183
185
186

4. 4 Tambahan pengetahuan tentang konstruksi rangka batang


belah ketupat dan konstruksi rangka batang berbentuk

4. 5

Contoh-contoh

188
190
vil

5. Perhitungan alat-aiat sambungan

5.

1 Alat-alat sambungan baja

5. 2

203
203

5. 1. 1
5. 1. 2
5. 1. 3

207
212

5. 2. 1 Gigitunggal

226
226

Sambungan keling dan baut pada konstruksi baja


Sambungan las
Contohsambungan-sambunganbaja
Alat-alat sambungan kayu

5.2.2

6.
6.
6.
6.

203

Paku

5. 2. 3 Baut dan baut pasak khusus


5. 2. 4 Pasak cincin, bulldog connector dan plat paku
5. 2. 5 Konstruksi berlapis majemuk dengan perekat
5. 2. 6 Contoh sambungan-sambungan kayu

227

230
235
239
241

6. 1 Balok terjepit
6. 1. 1 Pengetahuan dasar
6. 1. 2 Gaya-gaya pada balok
6. 1. 3 Lendutan
6. 1. 4 Balokterjepitsebelah
6. 2 Balok terjepit elastis
6. 2. 1 Pengetahuan dasar

7. 2. 2 Pengaruh atas titik simpul yang goyah


7. 2.3 Contoh-contoh
7. 2. 4 Konstruksi portal bertingkat dengan titik simpul

terjepit

6. 2. 2 Sistim titik potong


6. 2. 3 Jarak penting pada titik potong
6. 2. 4 Macam-macamjepitan

6. 3 Sistim titik potong pada balok terusan


6. 3. 1 Pengetahuan dasar
6. 3. 2 Menentukan titik potong
6. 3. 3 Gaya-gaya pada balok terusan
6. 4 Persamaan tiga momen (Clapeyron)
6. 5 Sistim Cross pada balok terusan
6. 5. 1 Pengetahuan dasar
6. 5. 2 Perjanjian tanda pada sistim Cros
6. 5. 3 Momenjepitan
6. 5. 4 Momen pada titik simpul
6. 5. 5 Momen jepitan dan momen distribusi yang disalurkan
vil

yang goyah

253
253
253

2il

262

2U
265
265
266
270
271

274
274
275
277

282
286
286
287
287

28
289

engsel
distribusimomen
Cara distribusi momen menurut Cross
Contoh-contoh
Balok terusan dengan ujung pada
Persiapan cara

7. Konstruksi portal statis tidak tertentu


7. 1 Konstruksi portaldengan titik simpulyang kaku
7. 1.'l Pengetahuandasar
7. 1. 2 Cara distribusi momen menurut Cross
7. 1. 3 Contoh-contoh
7. 2 Kontruksi portal dengan titik simpulyang goyah
7. 2. 1 Penurunan tumpuan pada balok terjepit

Jilid ll, Halaman:


6. Balok terusan

5. 6
5. 7
5. 8
5. I

8.

Perubahan bentuk elastis

8. 1 Pengetahuan

dasar

8. 2 Teoriter,tang kerja virtual


8. 2. 'l Kerja virtual
8. 2. 2 Persamaan kerja pada konstruksibatang
8. 2. 3 Persamaan kerja pada konstruksirangka batang
8. 2. 4 Hasil pOng-integral-an pada kerja virtual
8. 3 Syarat-syarat brikatan pada perubahan bentuk elastis
8. 3. 1 Syarat Betti
8. 3. 2 Syarat Maxwell
8. 3. 3 Syarat Castigliano
8. 3. 4 Syarat Mohr
8. 3. 5 Ringkasan
8. 4 Contoh-contoh
8. 4. 1 Pergeseran dan'perputaran pada konstruksi batang
8. 4. 2 Pergeseran pada konstruksi rangka batang
8. 5 Garis elastis pada konstruksi batang
8" 5. 1 Pengetahuan dasar
8. 5. 2 Penentuan bobot-beban W
8. 5. 3 Penentuan garis elastis dengan bobot beban W pada
konstruksi batang

290

292
292
293

304
304
304

304
305
322

322
324

326

82

u2
342
343
343
345
350
351

354

3il
355
356
357

358
359
359
369
372

372
372

374
ix

8.

Garis elastis pada konstruksi rangka batang

379

8. 6. 1
8. 6. 2

379

8.6.3
8.6.4

Pengetahuan dasar
Penentuan garis elastis dengan bobot beban W pada
konstruksi rangka batang
Ringkasan

Contoh

9. Garis pengaruh

9. 1 Pengetahuan dasar dan penggunaan garis pengaruh


9. 1. 1 Pengetahuan dasar
9. 1. 2 Penentuan garis pengaruh
9. 1. 3 Penggunaangarispengaruh
9. 1. 4 Ringkasan
9. 2 Garis pengaruh pada balok tunggal
9. 2. 1 Garis pengaruh pada reaksi tumpuan
9.
9.
9.
9.
9.
9.
9.

2. 2 Garis pengaruh pada gaya lintang


2. 3 Garis pengaruh pada momen lentur
2. 4 Beban yang tidak langsung
2. 5 Garis pqngaruh pada lendutan
2. 6 Ringkasan
2. 7 Contoh-contoh

384
384

389
389
389
390
391

393
393
393

9.

6. 2

9.

6. 3

9. 6. 4

l. 1

Rumus-rumus yang penting

l. 1. 1
l. 1. 2
l. 1. 3

l. 1. 6

407

l. 1. 7

409
410

l.

1.

Garis pengaruh pada busur tiga ruas

415
415

l.

1.

Perhitungan dengan beban yang tetap

4. 2 Garis pengaruh pada reaksi tumpuan


4. 3 Garis pengaruh pada momen lentur
4. 4 Garis pengaruh pada gaya normal dan
4. 5 Ringkasan
4. 6 Contoh,

gaya lintang

Garis pengaruh pada konstruksi rangka batang


9. 5. 1 Pengetahuan dasar
9. 5. 2 Konstruksi rangka batang dengan tepi sejajar

9. 5. 3

411
418
419
421
421

424
424
425

l. 2. 6

Konstruksi rangka batang dengan batang tepi tidak


sejajar

429

terusan
Rumus-rumus yang penting pada bab: Konstruksi
portal statis tidak tertentu
Rumus-rumus yang penting pada bab: Perubahan
bentuk elastis
Rumus-rumus yang penting pada bab: Garis peng-

Tabel-tabel
l. 2. 1 Penentuan titik berat pada bidang yang datar
l. 2. 2 Penentuan momen lembam dan momen tahanan
l. 2. 3 Nilai-nilaibahan baja profil
l. 2. 4 Nilai-nilaibalok kayu segiempat

l. 2. 5

459
461

462
462

Rumus-rumus yang penting pada bab: Balok

aru h

l. 2

459

,lumus-rumus yang penting pada bab: Perhitungan


alat-alat sambungan

406

459

Rumus-rumus yang penting pada bab: Konstruksi


rangka batang

l. 1. 5
2106

452
452

Rumus-rumus yang penting pada bab: Konstruksi


batang

l. 1. 4

399
399

450

Rumus-rumus yang penting pada bab: llmu inersia


dan ketahanan

398

49
49

Rumus-rumusyang penting pada bab: Pengetahuan


dasar

395
396

437

rB8

459

411

4: 1

Pengetahuan dasar
9.6.1
Garis pengaruh pada reaksi tumpuan yang statis berlebih
Garis pengaruh pada reaksi tumpuan, momen lentur
dan gaya lintang
Penentuan garis.garis pengaruh secara grafis

Lampiran

394

Gerber
konsole
balok tunggaldengan konsole
balok rusuk Gerber

Garis pengaruh pada balok terusan

9. 3. 5 Contoh-contoh
9.
9.
9.
9.
9.
9.
9.

9.

379

Garis pengaruh pada konsole, pada balok tunggal dengan


konsole dan pada balok rusuk
9. 3. 1 Garis-pengaruh pada
9. 3. 2 Garis pengaruh pada
9. 3. 3 Garis pengaruh pada
9. 3. 4 Ringkasan

9.

9. 5. 4 Ringkasan
9. 5. 5 Contoh-contoh

462

4U
464
465
467
467

470

472
484

Tegangan tekuk yang diperkenankan untuk baja

ST 37

87

Faktor tekuk yang diperkenankan untuk kayu kelas


I s/d lV

/l88
xi

l. 2. 7

Penentuan tegangan

l. 2. I

maksimal pada konstruksi batang


Penentuan momen dan reaksi tumpuan pada balok
rusuk Gerber

l. 2. I

maksimal dan lendutan

499
505

2.12 Penentuan bagian beban pada syarat persamaan

tiga momen menurut Clapeyron


Penentuan momen dan reaksi tumpuan pada balok
terusan
l. 2.'14 Hasil peng-integral-an pada kerja virtual
t. 3 Daftar kependekan
t. 4 Daftar istilah penting
t.

496

Penentuan momen jepitan pada balok terjepit dan


pada balok terjepit sebelah

t.

Balok terusan

494

Nilai-nilai alat sambungan kayu seperti paku, baut,


baut pasak khusus, pasak cincin, bulldog connector
dan pelat paku

l. 2.11

6.

Nilai-nilai alat sambungan besi seperti keling, baut


dan las

l. 2.10

rtg3

509

2.13

512
516
518

6.
6.

1. Balok teriepit
1.1. Pengetahuan dasar

Jepitan pada suatu balok terjadi kalau sudut putar tumpuan o dan B lebih
kecil daripada balok tunggal garis elastis mengubah lengkungan makin keras penjepitan makin lebih dekat pada pertengahan balok terjepit.
Jepitan maximal terjadi kalau sudut o dan l) : 6.
Oleh karena balok terjepit merupakan tiga kali statis tidak tertentu, maka kita tidak
dapat berhasil menggunakan syarat-syarat perseimbangan.
Yang sebetulnya harus kita cari ialah:

M,; Mrdan H

520

t. 5 Pustaka

Gambar6. 1. 1. a.

Pada umumnya gaya H boleh dihapuskan, jikalau digunakan sistim tumpuan jepitan
seperti berikut, tinggallah perhitungan M, dan Mr.

Gambar6. 1. 1. b.

xI

253

6.1.2. Gaya-gaya pada balok terjepit


Kita memilih suatu sistim dasar yang serupa dengan sistim yang kita
punyai, kita terapkan untuk balok terjepit dengan panjang (lebar bentang) / kita
memilih satu balok tunggal dengan lebar bentang /.
Pada sistim dasar ini kita pasang semua gaya dan beban yang ada dengan tambahan momen M, dan Mr.
Dengan menentukan sudut putar tumpuan (pada contoh ini a = D : 0l kita bisa

t, b-asl'[]r-$-Adoz
tYtt-w

Mz:

(0

Pada contoh di atas dengan sudut putar tumpuan

menentukan syarat-syarat elastis dan selanjutnya dengan superposisi perhitungan


statika dengan menggunakan persamaan elastis.

llol ' at

or'

Dz

[]

- la - ool' At
- 0t' az

(6.2.)

o momen jepitan M ,; M,

menjadi:

Mr

b-3-t-:-a-F^ '
rvr: at'P2^
Pl'02

y1.

'

!t-!tl-o-:t
: or'
0z

- At' az

(6.3.

Cara.perhitungan sudut putar tumpuan:


Cara paling mudah untuk mencari sudut putar tumpuan ialah dengan membebani
sistim dasar dengan diagram (bidang) momen yang direduksikan dengan faktor

Perubahan bentuk

t/E.

pada sistim dasar:


oleh gaya dan beban

aJ 0o sudut

a., dan B,

putar

tumpuan

olehM,:1
dti A1 sudut

t.

Sistim dasar
A

putar

tumpuan
Diagram momen

\----..\

pt,-1

t'

Bidang momen yang


dibebani

oleh M,
1
a2; ll2putar tumpuan

Gambar 6. 1. 2. b.

Gambar 6. 'l. 2. a.

Dengan superposisi bagian-bagian dari sudut putar tumpuan kita mendapat persamaan elastis seperti berikut:

e : eo * M.,.a, -f Mr.a,

A=0"+M.,.A1 +M2.A2
254

(6.1)

'l

['

at:

I
3Er

0r:#

(6:4.

255

I
Untuk mencari M,dan Mryang sebenarnya kita hanya harus mencari ao dan Bo.

ardan l),

Mencari ao dan

fi6.

Sebagai dasar dapat dikatakan, bahwa oo dan Bo bisa didapat dengan membebani
sistim dasar dengan M,diagram (bidang) momen yang direduksikan dengan faktor
I / E.tl.
Contoh beban merata:
i

Diagram momen

|,

Sistim dasar

tsidang momen yang


dibebani

t.l

Gambar 6.

I
lJz =
3Et
I
a2 =
6Et

Diagram momen
I

2. c.

I
Bidang momen yang

(6.5.)

dibebani
Gambar6. 1.2. d.

l'l

Hasil tentang

ai 0i

A1

az; 02

il

= []t

0, =

oo

Ao

= Ra = Rrdari bidang momen yang dibebani

(6.6.)

Ra=Re:+

az

i t#t

do=

ao=f,

(6.9.)

Dengan hasil ini kita bisa mengisi persamaan elastis. Maka:

u, =
rv,

ltzo
ltzB

fit

- at

Dan pada contoh dengan

Mr= -t2os-fist
Mz=

eos

- Bryf .4t

tztt,

.Tt

- "d)

: [] : o - M,;

Sekarang momen jepitan M, dan M, dapat dihitung:

M,=-P#,-#;lT',

$.7.1

Mrmenjadi:

,'l
Mt= Mz=

Mr=Mz

(6.8.)

karena sistim symetris

-qi'z

(6.10.

-(2Bs-asl'+
I

256

257
,t

-r:i-rl

:-"-:':-

',J

irr

'$i.r,

iifl.Anl

i
I

Ir

Contoh gaya Pusa t:

Sistim dasar

P.a

ao: [Jo: E.l ',

,r4
4,

4z

m,=-lz

=4./

ffi

l-

- -a-P'l
qo-Po4El
dan untuk

Mt =

M,= -1,

P.

l1

16El

P.a
E.t

- P.a
0o:fi0:
Z.f t(a+c)

(6.13.

(6.14.

dan untuk M, = Mz

Dlagram momen

P'

lfi u+c) - lfi o*a)

2Et
I

P'a (a
+ c)
Mt: Mz -

Bidang momen yang


dibebani
Gambar 6. 1. 2. e.

Contoh dengan beberapa gaya:

oo=

fio:

P.12
16El

(6.11.)

Sistim dasar
Mz

+# -

P. l' | 2El
16Et '' t

Mt= Mz=

-+

(6.12.

Diagrap momen

Contoh dua gaYa Yang simetris:

Bidang momen yang


dibebani
Gambar6. 1.2. g.

Sistim dasar

Diagram momen

Bidang momen Yang


dibebani
Gamb'ar 6. 1. 2. f .

288

Mencari bidang M menurut bab. 3. 2.2. Mekanika teknik - Statika dan kegunaannya jilid l"
Selanjutnya dibebani sistim dasar dengan bidang M"yang dibagi dengan f . /.
Selanjutnya menentukan reaksi tumpuan ao dan Bo.

Menentukan diagram momen dan diagram gaya lintang

Untuk memungkinkan gambaran diagram momen kita menggarBbar diagram


momen Mr, diagram momen jepitasn M, dan M, dan selanjutnya semua disuperposisi. Hasil sekarang menjadi momen dari balok terjepit.
259

Harus memperhatikan tanda (+,-) dari M, dan Mr. Biasanya gaya lintang yang
lebih besar harus berada pada tumpuan dengan momen jepitan yang lebih besar.
Dengan rumus tentang gaya lintang bisa juga ditentukan reaksi tumpuan seperti
berikut:

Sistim dasar
x

Rt:

Diagram momen

l+

lr(

H, ll

uX'

Diagram momen oleh

l'1,

--/1

'l

Mt

.I

t,,

Diagram momen oleh


M2

rt

t/2

yang disuperposisi
Gambar6.

tllHl

momen

l.2.

i*', I

(perhatikan tanda ( +,

-)

L!,
I

dtiiltY

q.l?

MF-r,

q-

12

2l
Gambar 6.

--t

Qokarena M,

Mol

Ra: Ra: RAo:

- Mt =

2. k

R1n

Balok terjepit dengan gaya pusat


(6.15.

Diagram.momen:

p.l

T
Untuk menggambar diagranr gaya lintang kita

P.

tambah On dari sistim


dasar dengan M, - M,

Momen, gaya lintang, tumpuan:

Gambar 6. 1. 2. i.

MFmar:

260

'l .

(6.18.)

24

h.

lt

q.

pada momen M, dan Mrl

Rumus untuk menentukan O

1T

Momen, gaya lintang, tumpuan:

Momen pada titik x adalah:

M=Mo+Mr.

(6.17.

tM'

Contoh-contoh:
Balok terjepit dengan beban merata
Diagram momen:

Diagram
tlt

n'll

oleh Mo

I
I

Re: Ran +

Rao

a:ao+ryiM'

(6.16.

!*

:+

Gambar6. 1.2.

(6.19)

A=
.Mol

Rt:

Aokarena
Re

Mr- Mt:0

= RAo:

Rao

261

d 1.3. Lendutan

Contoh gaya pusat:

Perhitungan lendutan pada balok teriepit didapat dengan superposisi dari


lendutan-lendutan pada sistim dasar:
Gaya-gaya dan beban pada sistim dasar
fo
memperlakukan lerrdutan sebesar .
Jepitan atau momen jepitan pada sistim
., f
dasar memperlakukan lendutan sebesar
Lendutan pada balok terjepit adalah
(6.20.)
,
superposisi lfo- f^l

Re=

fo

= Ra,* *

#,

q'lo

'": 3f4'E.r

*.-,e

Ro:+*

l' _ q'lo
8 96.8/

q-P
'm 12'E'l
t:-

I
8ft
P.

Contoh beban merata:

Re=Ra=+#
ilo

ro: Ratt

- 1l'

t
'o--

q'ln
5
384: E.l

.
-

g.12
12.

E-l

Gambar6. 1.3. b.

- 4p'P p'P
'?=
4aEt ilEl
q.

l2

lo

6.

, _ P'P
'192Et

16.?21

1.4. Balok terjepit sebelah

%.El

Seperti pada balok terjepit, kita pilih juga satu sistim dasar, yaitu balok
tunggal.

t2tt
Gambar6. 1.3. a'

Gambar6. 1.4. a.

4g'lo

5q.lo
r=
'naE - 3tqr|

', -

Q' lo

38/.-Et

(6.21.

Pada sistim dasar ini kita pasang semua gaya dan beban yang ada dengan tambahan M,.

Kita menentukan selanjutnya, bahwa sudut putar tumpuan o

= 0.

Syarat-syaratelastis: q= eo+

Mr=-00
A1

Mr =

262

q-:o
A7

(kalau a

(kalau a

0)

0)

M,.a,, =

(6.23.)

$.24.1

263

6.2.

Contoh beban merata:

q.

Mo*r. -.

12

6.2.

Mri ao=

q.

t.

Balok terjepit elastis


Pengetahuan dasar

It

24.E1

or=__TEl_
o.13 3El
- t
Mr=-zlr--t
Gambar 6. 2. 1 . a.

(6.25)

E,="#l

pada besarnya momen jepitan.

o:= -rr'Mradalah jephan elastis


jepitan

r:3
r---;-l
*

llt

l'*'=

nAo

(6.26.

Hanya pada tumpuan dengan

momen M -- 0.

Gambar6. 1,4. b.

Suatu ujung balok pada umumnya terjepit elastis jikahu sudut putar tergantung
pada tumpuan sebelah kiri. e, adalah ukuran
pada tumpuan sebelah kiri dan sudut pada tumpuan yaryg terpotong dari
balok terjepit pada momen M r =
- 1.
ll = - e7' M2adalahjepitan elastis pada tumpuan sebelah kanan.
e 2 adalah ukuran jepitan pada tumpuan sebelah kanan.
a = - l,' Mr dan B = - ez' Mz adalah syarat-syarat elastis pada baloil< terjepit
elastis. Atas rfasar ini kita juga bisa menggunakan sebagian dari persamaan elastis
yang sudah ditentukan pada bab 6. 1. Balok terjepit.
catatan: persamaan elastis hanya boleh digunakan untuk konstruksi balok di atas

tiang yang kaku dan bukan di atas tiang yang goyah atau tumpuan yang bisa
mengalami penurunan.
Persamaan elastis yang baru adalah:

M,_M,
A = ao+ --T-'
A=Ao+

A:Oo+\l

Ra

M
I

,^=
l6.Tt.l

Reol-

ao

M1' a1 * M2' a2=

+
Mt'
+
Mz'
flz=
0 = Ao
At
-

Reaksi pada tumpuan:

Gaya lintang:

g.l

as

M1(a,

e1)

M2' o2 =

0o+Mr'0r+Mrlfi2+ql=0
Atas dasar persamaan elastis ini kita bisa mencari momen jepitan

M,

dan M,

menurut rumus berikut:

(6.28.)

2U

Ez. Mz

atau:

,^=Y
rr:3#

et' Mr

Mt=

(a1

fio'az- o61fi, + e
* e1) (82+ e2l - o2

(6. 29.)

265

Mz=

ao' Dt
(a1

e1)

lB,

Be

(a1

erl

Mr. llt + Mrlp, + er) = O


e1)

az'

Dt

6.29.

alau,

M'=Mt

Dt

fiz*

ez

menurut Gambar 6.2.2.b.:

M2

Kita memilih satu balok terjepit sebelah tanpa gaya dan tanpa beban,
hanya dengan momen sebelah tumpuan sendi. Atas dasar ini balok akan
melengkung dan kita bisa menggambar diagram momen.

\ n,
,,
\
'

Gambar 6.2.2.b.

Dengan persamaan elastis atas


dasar ao : o kita boleh berkatat

b:

dan selanlutnya:

M{a1

*ql+Mr'qz=0

atau:
?

Gambar6.2.2. a.

Oleh karena diagram momen adalah satu garis lurus, kita bisa menghitung tempat
per-

bandingan dengan momen M,dan Mr'.


M2

atau:

dan selanjutnya:

t_b
llt t

Ao'a'b-ao'a(l-b)
a2'd'l
i6,32.)

Mz=
(6.30
e1

'a'B-lJo(l*a)b
o2' d' I

Pada bagian kanan kita bisa menggunakan perhitungan yang sama dengan hasil
seperti berikut:
(K menjadi titik potong sebelah kanan dengan jarak bl
266

lt2+Ez:

Menurut rumus (6.29. ) kita boleh menghitung M1 dan M2*bagai;

Er

a.' I
ot+ a2+

(6.31.l

-a
ar + et= o, I-Z-

az
ar+Er =l-l-a
o, : bAz*ez l-b

Mt=

l-a

a:a2
qr+
l-a

Dt'l
B1+p2+e2

Dengan perhitungan ini kita mempelajari bahwa: Jarak titik potong a.dan b tidak
bergantung pada besarnya momen M,dan Mr.
Dengan menggunakan pengetahuan ini kita bisa mencari M,dan Mrseperti berikut:

#: -;i,

titik potong J. Boleh dikatakan jarak a untuk titik potong J adalah suatu

Mr -_ l-b
atau: A' - b
lJt* tz l-b

6.2.2. Sistim titik potong

Kalau kita menarik garis siku-siku dengan balok pada titik potong J dan titik potong
K (garis titik potong). garis titik potong itu menentukan momen titik potong sebesar
M,dan M*. Keuntungan pada M,dan Mradalah bahwa mereka dapat dihitung lebih
mudah daripada M, dan Mz dan pada bagian besar M, dan Mrbisa juga ditentukan
secara grafis:
267

Jarak titik potong untuk / tetap menurut rumus (6' 30.) dan (6. 31. ):

,,1
az'I

d1

r'

+ aZ+

'= t.

I
aet
I
-+
3Et

t1

---] o"**,u

t1

6fl+

b=

M*=-+ x

az

,*ry

.2.2.c.
Momen pada titik potong untuk / tetap menurut rumus (6. 33. )

Mi: y!#ry

Atau dengan bantuan rumus (6. 32. ) hasilnya M ,dan M


rseperti berkut:

Mt=-'r'oo
I

"f
(6.35.)

Mi=Mr'+.urI
M*= Mt
1* *, Lf

M, = -a---!o
'loz

(6.33.)

6' a' E' l'

an

(6.36.)

ta

Mx:-y!+ru

Hasil ini berdasarkan pada konstruksi sederhana yang dinamakan garis bersilang
dan potongan garis bersilang:

IK-Mx

M,.t

''' -

at

^tK'=M,
atau: K't-

Contoh beban merata:

ao.l
a2a

t--

Mt

q'a'l
dan selanjutnya:

K':-'o
a2l0tI x=--o

(6.34.)

c'b'l

Gambar 6. 2. 2. d.

Dengan pengetahuan tentang titik potong dan garis bersilang dan pada balok
dengan momen lembam / tetap kita bisa menentukan garis penutup pada segala
diagram momen pada balok terjepit dan balok terusan secara grafis.

Untuk balok dengan momen lembam / yang tetap adalah beberapa hubungan yang
memudahkan perhitungan jarak titik potong dan momen titik potong seperti
berikut:
268

Bukti dari gambar:

Mi

q.t2:, J
82

tvt, --

o'a'l
'
I

(sama juga untuk M*)


269

Jarak titik potong pada balok tunggal:

Contoh gaya P dengan jarak c dan c':

oz' I

(6.39.)

a1+d2+81
I
@
garis penutup

Gambar 6. 2. 3. b.

6. 2.

4. Macam-macam iepitan
Pada suatu

titik simpul kita bisa menerangkan persoalan:

.\.-.\.

_a_:u'.t-!
M,'
l2

p.c/!j

Gambar 6. 2. 2. e.

c')

6.l.El
Qo

p.u."J--!!L-!'
Mi:
,r=
' tt

_ P.b ,:_J!l_9)

Bukti dari gambar:

a
K'I=u.

Gambar 6. 2. 4. a.

Mi :u(l:"')
Mo
12

Mi= P'a

Batang 1 yang dihubungkan dengan kaku pada batang-batang2s/d 4 menerima


momen M.

P.c.c'

Y!- t
K' i+c'

Kejadian ini menimbulkan dua pertanyaan:


1. Bagaimasna besarnya bagian momen M padabatang-batang2s/ d 4.?
2. Berapa besarnya ukuran jepitan batang 1 terhadap batang-batang2s/d4?
Di bawah akibat momen M semua batang-batang memutar dengan sudut a karena
hubungannya yang kaku. Kita mengambil salah satu batang, umpamanya batang 2,
dan memperhatikan kejadian itu dengan teliti:
Andaikata sudut putar a - E' M' alau dengan kata lain, sudut putar a adalah
perbandingan dengan bagian momen pada batang 2. Ukuran jepitan e ' adalah sudut
pada ujung atas 2 atas momen M' : 1.

6.2.3. Jarak penting pada titik potong


Jarak titik potong pada balok ter.iepit kaku:

olehkarenaa

270

El = 2

:'0

|I b: llr't
'
a= az'l
at+q2 I ^_ fir+Az

Gambar 6. 2. 3. a.

bagi / tetap

d-

6-E.l

lt 1_
3.E.t ' 6.E.t

(6.37.)

Pendapat ini bisa digunakan juga pada batang-batang lainnya. Ukuran jepitan
menentukan daya pencegah terhadap putaran oleh momen pada batang 1.
Ukuran dan besarnya ukuran jepitan pada hal ini hanya tergantung pada momen
lembam /, modul elastis E dan macam tumpuan pada ujung bawah. Atas dasar ini
maka disebut ukuran jepitan sendiri.
Kebalikan dengan ukuran jepitan pada batang 1 yang hanya tergantung pada

:b

(6.38.)

momen lembam /, modul elastis Edan macam tumpuan pada ujung bawah batangbatang 2 sld 4, dan bukan pada momen lembam / dan modul elastis Fsendiri. Atas
dasar ini maka disebut ukuran jepitan asing.
271

Perhitungan ukuran jepitan sendiri

l. Jqitan pada ujung bwah yang sudah diketahui:


a- pada ujung bawah sebagaijepitan elastis berhku prsamaan
a=My|ar*M2'a2
11,

Az=

1.

fl

0.r

b.

01+

hh
02 =
6Ej

a2

E1

oz-f;.a,
I

q = at - ---:
al +E2
_

(6.,!0.)

c.

,,' =-!4
E

pada ujung bawah sebagai engsel berlaku persamaan elastis berikut:

h l0
hr
t':3'r-l,n'u6,1

'

llihat juga rumus {6. 42.)l

3Et

Perhitungan ukuran jepitan asing dan pembagian momen pada titik simpul
Persamaan momen pada titik simpul adalah:
dan selanjutnya:

dan selanjutnya:

: M'+ M" + M"'(11

oleh karena semua berputar dengan sudut a, maka dapat dikatakan:

G.42.)

a = M.Er=

M'.e': M".e":M".t"'

M'=!!--!'

; M":AL'

E.

2.
a.

dan selaniutnya:
llihat juga rumus (6. 41 . )l

o.2

t2=g

at =
lEi

a1

(6.44.)

h3h
tt= 3Ert- -3t'aCt

o - h .o - h
t'2'3El,Pr-6El

pada ujung bawah sebagai engsel berlaku persamaan


erastis berikut:

E2: a

I 2b -3a
6El t-a

'

pada ujung bawah sebgai jepitan yang kaku berlakrr persamaan elastis berikut:

et.=

oz

dan selanjutnya:

a=E7

(6.43.)

dan selanjutnya:

pada ujung bawah sebagai jepitan yang kaku


berlaku persamaan elastis berikut:

El=01-:=

c.

2.

Dz= ot

Gambar 6. 2. 4. b.

b'

lal *
,, :
t_i Alt
3 Et

o:Mt'ot-Mt.A'az
'llz+q
untukMl=1'

0,': att

',

elastis berikut:

fr = Mt'h + Mz'h= -,82.M2


dari2 : Mt' h =
- M2lE2 + lt2)
diisi dalam 1.

3Et

Titik potong pada ujung bawah yang sudah diketahui:


pada ujung bawah sebagaijepitan elastis berlaku persamaan

l2l

hasil ini dimasukan ke dalam (1):


elastis berikut:

,o=00+Mr'0t+Mz'[]z
\
' )n'=l i.o=o (karenatirjakacia

M=M.\
*u
LI,L

'-,',

E1

E'L

*M +,
Et =

't

t'L

beban)

Gambar 6. 2. 4. c.

272

Mz: -1;Mr= t a- ra.ner: -fi

1_1_11

(6.45)

273

Hasil ini melihatkan, bahwa kebalikan ukuran iepntan asing ialah jumlah kebalikan
ukuran jepitan sendiri.
Kita tadi sudah melihat bahwa

M' : M' il t' dan M' = M' 4/ e"


Bisa dikatakan bagian momsn M', M" dsb. bisa ditentukan dengan momen yang
dikalikan dengan satu perbandingan. Perbandingan ini kita tentukan dengan pr
(

Gambar6.3. 1. a.

koef isien distribusi).

Artinya: ukuran jepitan asing pada batang yang dibebani dibandingkan dengan
ukuran jepitan sendiri pada batang yang tidak dibebani.

Pada dua batang selalu ada dua perbandingan 1r (koefisien distribusi), dengan
memperhatikan batang yang mana yang dibebani. Sebagai keterangan, koefisien
distribusi p selalu diberi tanda panah seperti terlihat pada contoh berikut.

Sebagai sistim dasar kita memi!ih beberapa balok tunggal dengan momen tumpuan
yang disuperposisi pada sistim dasar.
Persamaan elastis dengan pengertian bahwa garis elastis berjalan harmonis,
adalah:

[]:-o'

Contoh perhitungan koefisien distribusi ir.

A':-o"

Atas dasar pengetahuan ini kita langsung bisa menentukan sebagai persamaan

rt= +
F,: ?
'1

(batanglyang

elastis syarat persamaan tiga momen (lihat bab. 6. 4.)secara analitis atau bisa juga
menggunakan cara graf is.

dibebani)
(batang 2yang
dibebani)

t1

pr+= q

,x:

E3
E1

dsb.

Kita memikirkan balok terusan hanya menerima beban pada satu bagian antara dua
tumpuan sebagai balok terjepit elastis dengan:

Gambar6.2.4. d.

Dengan rumus yang tadi (6.45.) digunakan untuk menghitung ukuran jepitan
asing, kita bisa menentukan p hanya dengan menggunakan ukuran jepitan sendiri
seperti terlihat pada rumus berikut:
Ez' El
_ : -----1
E2l.- L3

lt2

E3

E2*

E3

6.

3.

6. 3.

Gambar6.3. 1. b.

Sistim titik potong pada balok terusan

1. Pengetahuan dasar

Sistim atau konstruksi balok terusan terjadi kalau suatu balok lurus
menumpu tiga kali atau lebih. Balok terusan di atas tumpuan itu boleh berputar
bebas akan tetapi tumpuan itu menjadi kaku, dengan maksud agar tidak bisa turun

a:*tr.M,

D:*cz.Mz

Sekarang semua bagian balok terusan sebelah kiri dari bagian yang kita
memperhatikan adalah suatu sistim yang terjepit sebelah kiri dengan momen
sebelah kanan seperti dibicarakan pada bab 6. 1. 4. (balok terjepit sebelah).
Titik momen nol ada pada titik potong J"

Pada bagian balok terusan yang sebelah kanan dari bagian yang

Dengan cara ini ditentukan bagian per bagian dari balok terusan yang diperhitungkan. Sesudah ditentukan semua diagram momen pada semua bagian balok
terusan tinggal disuperposisi saja.

6.

3.2. Menentukan tatik potong

atau naik tempatnya. Lihat juga

bab7.2.'l . (penurunan tumpuan pada balok


terjepit). Pada konstruksi bangunan rumah syarat atau ketentuan ini biasanya boleh

Penentuan secara analitis:

digunakan.

momen lembam

274

kita

memperhatikan adalah suatu sistim yang terjepit sebelah kanan dengan momen
sebelah kiri dan titik momen nol ada pada titk potong K.

Ukuran iarak a dan b untuk titik potong

dan K pada balok dengan

tetap, telah kita tentukdn pada bab 6. 2. 2. dan 6. 2.

3.

275

pada balok terjepit:

Rumus-rumq5nya ialah seperti berikut:


1

pada balok yang terjepit elastis:

d-

b:

2.

pada balok terjepit:

l'

5+ 6 E ll't1

z+t,sl

3+1,5V

3.

3+ 6El'ez
I

d=b=

b'=

(6.47.)

pada balok tunggal dengan tumpuan yang bebas pada putaran:

a'=

,*'i

; b=

,* 7

(6.2t8.)

Penentuan secara graf is:

3.

pada balok tunggal dengan tumpuan yang bebas pada

Cara grafis hanya boleh dilakukan pada balok dengan momen lembam / tetap.

putaran: ? - jJ

Ukuran jarak a'dan b' untuk titik potong berikutnya J' dan K'pada balok dengan
momen lembam /tetap, kita menentukan atas dasar rumus (6.30.) rumus-rumus
berikut:

Gambar 6. 3. 2. a.

6.3.3. Gaya-gaya dan momen pada balok terusan


1.

pada balok yang terjepit elastis:

l'
/

lebar bentang dari bagian


Yan9 diperhatikan

lebar bentang dari bagian


YanO diperhatikan

Pada balok terusan menurut gambar berikut (6.3.3. a.) dengan beban merata
t/m ditentukan momen-momen dan diagram masing-masing momen dengan
superposisinya.

t*+tz--:rl

l'

lebar bentang bagian kanan


dari

1:

8.5

lebar bentang bagian kiri


dari

l'

Contoh

6.46.

3. +1r- *bl

l'

Gambar6" 3.3. a.

276

277

Contoh

2:

Pada balok terusan menurut gambar berikut (6.3.3.c.) dengan beban merata g =
5.2.t/m dan gaya-gaya Pt : 15.0 t dan Pz = 20.0 r ditentukan motnen-momen
dengan masing-masing diagram momen dan superposisinya dan diagram gaya
lintang dan reaksi pada masing-masing tumpuan.

,'T = 5.'z Llm

a = 5.6<.

I U= 2.9.

a-3.o

h,'-;1rc

Gambar 6.3.3.c

Diapram momen beban

s
rl

C-D

iagram momen

disuperposisi

penutup masing-ma
diagram momen gaYa P,

-\-

Gambar 6.3.3.d

;5

o
p
I

o'
ol

;t

279

F.

\t

"2

2-o

Menentukan masing-masing reaksi tumpuan secara grafis:


Q,

qr' 26'ot

!s.2a I l?' trot

Qr'

16.4

diagram momen beban


-+

diagram momen beban


Gambar situasi (dibagi sebagai 3 balok tunggal)

O : resultante g pada masing-

masing bagian.

*--/

Gambar gaya (1 cm

10

t)
Gambar 6.3.3.f

Menentukan diagram gaya lintang:

Dengan bantuan masing-masing reaksi tumpuan, kita dengan mudah

bisa

menggambar diagram gaya lintang seperti berikut:

-BiBt

Gambar 6.3.3.e

280

Gambar 6.3.3.9.

6.

4. Syarat persamaan
Kita perhatikan dua bagian

tiga momen (Clapeyron).

Untuk

memudahkan
kependekan berikut:

I dan l'yang berturut-turut pada suatu balok

terusan:

l.+
sebagai ,
+

sebagai

lc

perhitungan, maka biasanya digunakan kependekan-

Seoagar

6E 'ao

6E

n sebagai ,

' lJ,

Persamaan tiga momen menurut Clapeyron kemudian kita tentukan sebagai:

llr

11j

142

Gambar 6. 4. a

M1l" + 2M2(le + /[,) + M34

= -8'

l"

- 9'4

(6.49.)

Persamaan elastis yang berlaku pada tiap-tiap tumpuan adalah:

l.2.

momen, pada lampiran.

o' = qo' * Mz' .ar' + Mr'ar'


dan oleh fi + a' : 0

dan ,8 ini pada umumnya dapat kita tentukan menurut tabel


persamaan tiga
12. Tabel-tabel untuk menentukan bagian beban pada syarat

Bagian beban

D=Ao+Mt'pr+M2.02

Bagian beban pada beberapa balok terusan yang sering timbul:

kemudian kita dapat:

Mr'At + Mr(Jr+

o1'l

+ M.'at' *

Do *

l.
a6'

Balok terusan dengan beban merata:

Pada persamaan elastis ini ada tiga nilai yang belum diketahui, yaitu tiga momen
pada tiga tumpuan yang berturut-turut. Oleh karena itu persamaan elastis ini boleh
dinamakan persamaan tiga momen atau dalil tiga momen, ditemukan oleh
Clapeyron pada tahun 1857.

Persamaan tiga momen ini berlaku untuk semua kemungkinan seperti momen
lembam / tidak tetap, macam-macam gaya dan beban dan macam-macam lebar
bentang (l dan l'tidak sama).
Pada balok terusan dengan / tetap, dan dengan menggunakan nilai sudut putar
tumpuan o dan B yang sudah diketahui dapat kita tentukan:

M,.

+H *

M/+ * #,

*,.*-: *

oo'

fio

atau pada balok terusan dengan momen lembam / tidak tetap:

w' + + 2Mz. rr. l+ r lt+

M,t'+

:-

6Eoo'

? - u*, ?

Kita melihat, bahwa perbandingan momen lembam harus ditentukan demikian


rupa, sehingga /" menjadi momen lembam suatu bagian sembarang pada balok
terusan ini dan / menjadi momen lembam bagian balok terusan yang lain masingmasing.
Dalam persamaan tiga momen ini bagian kanan menjadi bagian beban oleh karena
hanya bagian ini yang mengalami perubahan oleh beban pada balok terusan.

282

Gambar6.4. b.

q' 13
ao: Do= Zq.et
dan kemudian dapat kita tentukan bagian beban sebagai:

=sF"6=#

=+0,=+

2.

Balok terusan dengan gaYa Pusat:

\-1J

Ltz

I
I

\V.

!t"

t!/,
I

Il

Gambar 6. 4. c.

283

P.

12

oo: Ilo=
lAf t

t: f,.e'. r
3.

Menerrtukan mcxren:

dan kemudian
dan

r:*

o' 12
Mor=Li=

-P.1.

6.5.

4.22

:14.3tm

6.5 . 5.32

:22.8tm

o' 12

M*=-;=

Balok terusan dengan satu gaya sembarang:

J \-

P_

t,

M, + Mtl + ZMrll+l'l + Mrl'


Ir+-l
4.2+5.3 0
0
!i,t
09.50

ffi

g" l'2

,,

Jyf+.2 _. 6.5r5'3', s.a


Gambar6.4. d.

12

44

,o=

q'

:-lnt-s,t'
\q#

rt

dan

o'o=l-3-!' b'

2.M2-t951
Momen tumpuan B lMzl

+ l'l

MB =

19.0

362.3

tm

Diagram momen:

dan kemudian dapat kita tentukan bagian beban sebagai:

n=Y

.., = l" i:r'o' ft, + t,)

* : T'0" 4.

''1r'b r, +

Gambar 6. 4.

Balok terusan dengan bentuk beban yang lain bisa dilihat pada tabel l.

2.

12.

pada lampiran

Menentukan masing-masing reaksi tumpuan:


q I
MB 6.5' 4.2_n=
^
RA
=t_i=-__,
'

Contoh:

(6.4. e.) dengan beban merata q =


dengan bantuan syarat persamaan tiga

Pada balok terusan menurut gambar berikut

6. 5

f.

a)

t/m ditentukan momen tumpuan

momen menurut Clapeyron. Selanjutnya kita menentukan tumpuan masing-masing


untuk menggambar diagram gaya lintang. (Momen lembam / tetap).

q'

19.0

MB 6.5'4.2 19.0

e.2t
r

l' + MB= 6.5' 5.3* 19.0= 20.8


I t
',
-t
S:
q't' ue :6.5:! _ I: = 13,6 t
^
Hs=2-r:2-53:'
q'

^
RBkun"n

=f

Rs

Re*iri

RBk"rrn

18'2 + 20'8

39'0 t

Dengan bantuan reaksi tumpuan masing-masing kita bisa menggambar diagram


Gambar 6. 4. e.

284

gaya lintang seperti berikut:

285

6.5.2. Perjanjian tanda pada sistam Cross


Perjanjian tanda pada sistim Cross hanya digunakan untuk melakukan
distribusi momen. Pada semua perhitungan dan penentuan yang lain kita menggunakan perjanjian tanda yang sudah diketahui dan yang ditentukan pada bab
1.6.3.
Perjanjian tanda pada sistim Cross adalah:

Momen jepitan adalah positif ( + ) jikalau momen jepitan akan berputar


pada suatu titik simpul searah jarum jam, dan menjadi negatif (-)jikalau
akan berputar berlawanan arah jarum jam.
Gambar 6. 4. g.

Misalnya:
Pada tempat gaya lintang menjadi nol {x1 dan x2) kita bisa menentukan momen
maximal Mrldan Mr, menurut rumus (6.26.)

Ro
q

,,' :

:
= :+
6.5 + 1.42m;

13.6
x, = R^ - -:-: + Z.O9m;
'q6.5

6.

5.
6. 5.

Y
13.0

6.5 tm

R",

13.62

2q

13.0

14.2 tm

Mxr
'r'xt =
- 2q =
MxZ =

trL
* [

ffi

Sistim Cross pada balok terusan

1. Pengetahuan dasar

Jikalau pada suatu balok terjepit elastis kita mengetahui nilai momen
jepitan. Kita dengan mudah bisa menghitung gaya-gaya yang timbul, menurut

rumus (6. 15.) dan (6.16.) misalnya:

M= Mo+Mt-l**r-1
L1:

tl^-i-

"t

. Mr-M,

Padahal jepitan kaku momen jepitan dapat dihitung dengan cepat atau dapat diambil dari tabel-tabel (lihat lampiran 9.2.6.).
Sistim Cross menggunakan keuntungan ini dengan ketentuan. bahwa pada suatu
balok terusan yang semua bagian-bagian berada dalam keadaan terjepit kaku
sebelah-menyebelah. Momen jepitan yang akan timbul pada tumpuan-tumpuan
pada umumnya bukan menjadi nol, melainkan timbul suatu momen jepitan pada
tiap jepitan yang ditentukan. Dengan sistim Cross kita sekarang melepaskan satu
demi satu jepitan dan momen jepitan yang timbul akan disalurkan pada balok
terusan.
Cara ini dapat dilakukan sampai pada tiap-tiap titik simpul atau tumpuan momen
jepitan menjadi nol, atau hampir nol (distribusi momen).

286

Gambar 6.5.2.a.

Dengan menggunakan perjanjian tanda pada sistim Cross ini, pada balok terusan
misalnya momen pada satu tumpuan sebelah kiri dan sebelah kanan tidak mempunyai tanda yang sama, melainkan mereka bertanda ( + ) dan (- ). Oleh karena itu
cara distribusi momen baru mungkin kalau jumlah momen suatu titik simpul menjadi nol.
Akan tetapi untuk menentukan diagram momen misalnya. kita harus melakukan
perjanjian tanda dari bab 1.6.3.

6.5.3. Momen jepitan


Pada balok terusan dengan lembam /tetap dan dengan beban sembarang
momen jepitan boleh ditentukan seperti berikut:

Mt: -l2ao-lrrrT'
Mz: -(2Ao-.rrT'
2a7

Sesudah sudut putar tumpuan oo dan fi,, ditentukan, momen jepitan pada balok terjepit kaku bisa dihitung atau diambil pada tabel-tabel {lihat lampiran 9.2.6.).

.6.5.4.

atau:

Mn:
"tt

Mr: M2: Ms:............

Momen pada titik simpul

Jikalau kita menjumlahkan semua momen jepitan pada suatu titik simpul.
jumlah momen jepitan tidak menjadi nol. melainkan jumlah itu menjadi resultante
momen jepitan (momen residu). Selanjutnya kita melepaskan titik simpul yang kita
perhatikan dengan jepitan kaku pada titik simpul sekeliling. Sebagai keseimhangan
pada titik simpul yang kita perhatikan kita pasang sekarang salu momen distribusi
dengan nilai yang sama dengan resultante momen jepitan tetapi dengan tanda ( + )
(-)terbalik. Oleh akibat ini momen distribusi (M,ratau M) titik simpul akan
berputar dengan sudut o seperti sudah ditentukan pada bab 6.2.4. (macam-macam
jepitan).

atau

!+t
lt

oF,'' ' 4El! ,............4Eb


lz
l, ' ""' ' ln

ketentuan ini boleh diperpendek lagi dengan 4 E dengan penentuan


kekakuan batang seperti berikut

l,

ln

- u

h=x'

t:r'

/<

sebagai angka

(6.50.)

boleh kita katakan:

Mr: M2: M,

........

1y1n

atau:

/]

Mt:M'*r,r,:M

hln
il1

perbandingan angka kekakuan batang.

Sebagai koefisien distribusi p pada titik simpul yang kita perhatikan kita boluh
berkata:
Gambar 6.5.4.a

Pada bab macam-macam jepitan itu kita tentukan ukuran jepitan e' sebagai sudut
putar a dengan momen M = 1 pada ujung batang itu. Oleh karena pada titik simpul
yang kita perhatikan semua batang berputar dengan sudut a yang sama. kita bisa
menulis:

-* Mz.tz =

Ms.4........ :

Mn.en

dan sebagai persamaaan momen pada titik simpul itu:

: Mr + M2 + M, + ............ M,

selanjutnya:

Mr:

Mr:

(6.51.)

yaitu: momen distribusi Ml atau M dapat membagi batang masing-masing menurut

ilt

l, l,

: Mt.tt

bu

Mq

et

tt

*i Mz=r'bu, *,:*

-t'. t.z

k1

t,|=Et

ur= >k
2

bagi batang 1, dan

bagibatang2dsb.

6.5.5. Momen jepitan dan momen distribusi yang disalurkan


Momen Mn yang berada sebagai bagian momen distribusi pada batang n
pada titik sinrpul yang kita perhatikan sebagai 'lepas' menyalurkan Momen /1,7',
kepada ujung batang, yang dijepit kaku.
Sebagai koefisien induksi y kita menentukan perbandingan antara momen distribusi
yang disalurkan dan dengan momen distribusi pada batang n.

atau:

111

',r

-:

1 2 3

.........En

{6.52.}

Ukuran jepitan c, s/d e, pada momen lembam / yang tetap.dan dengan ujung balok
terjepit menjadi'
ln

4Eln
288

Gambar6.5.5.a.

289

M', boleh diperhitungkan menurut bab 6.1.4. (balok terjepit


seperti berikut:

Pada umumnya
sebela

h)

M'n: -

lZ

Ir

30
a1

jikalau momen lembam I tetap pada baloknya:

oo= Mn'l
6Er

Akan tetapi momen jepitan pada balok terjepit sebelah bisa juga dihitung dengan
menggunakarr ketentuan tentang balok terjepit, misalnya:

q1:

I Hr

Gambar 6"5.5.c

Hrh

3Ei

Ms:Mr+0.5Ml

dengan hasil seperti berikut:

*;:t

(6.M.)

,,

(6.53.

Ma:

, - ) adalah sa'ma untuk M, dan M'n.


Hasil ini juga bisa kita cari dengan menggunakan metode atau sistim titik potong
dengan jarak titik potong a = l/3 seperti ditentukan pada batang yang terjepit kaku
sebelah dan dengan momen lembam /tetap (lihat juga bab6.2.3.).
Momen jepitan dan momen distribusi yang disalurkan harus diperhatikan nanti
kalau kita akan menentukan nromen jepitan pada titik simpul berikutnya.

M, +

0.5 M2

perlu diperhatikan, bahwa tanda ( +

6.5.6.

Harus diperhatikan, bahwa Ml dan M2mendapat tanda ( + , -, ) yang sama. Momen


lepitan ini sekarang bisa beraksi pada titik sirnpul.

Angka kekakuan k':


Pada distribusi momen kita harus memperhatikan juga perobahan angka kekakuan
batang (k1 pada batang yang punya tumpuan rol atau engsel sebelah:

Batang dengan engsel pada ujungnya

ukuran jepitan pada tumpuan rol


ukuran jepitan pada jepitan
Gambar 6.5.6. a

menjadi: r :

menjadi:

,' :

*r
01,

Pada bab 6.5.4. (Momen pada titik simpul), rurnus (6.50.) kita menentukan semua

Kalau kita melihat batang AB yang disambung kaku pada titik B dan
punya tumpuan rol atau engsel pada u.lung,4 perhitungan dapat dimudahkan sekali
kalau kita tidak memakai cara balok terjepit, melainkan langsung menggunakan
ketentuan tentang momen jepitan dan momen distribusi yang disalurkan, tentang
angka kekakuan batang dan tentang koefisien induksi.
M e nentu ka n momen jepita

Pada umumnya digunakan pengetahuan rumus (6.23.)

M.:'

untuk batang yang punya tumpuan rol atau engsel sebelah kita

harus

memperhatikan perbandingan Ildengan X' yang menjadi 3i4. (angka kekakuan


batang k').
Pada perhitungan angka kekakuan batang k' kita harus menghitung kali 0,7b
untuk mendapat k'pada batang yang punya tumpuan rol atau engsel sebelah:

k'

lto

0.75

'

-7

(6.55.)

fi,

Gambar 6.5.6.b

290

4Et

Dengan cara itu kita memudahkan perhitungan angka kekakuan batang k. Tetapi

Gambar 6.5.6.d.

291

Oleh karena tumpuan ro{ atau engsel tidak bisa menyalurkan momen apa pun koefisien induksi y menjadi nol.

6.5.9. Contoh-contoh
Contoh

(6.56.)

dan dengan momen lembam

6.5.7. Persiapan cara distribusi momen


l.

ln
ln

:kn

....

pada

Q. l+/m

tbptiap batang

pada tiaptiap titik simpul

2k

Gambar 6.5.9.a

....

pada tiap-tiap batang

Semua nilai ini kita isi pada gambar (lihat contoh-contoh bab 6.5.9.).
Perbedaan antara sistim titik potong dengan cara distribusi momen menurut Cross
adalah, bahwa dengan sistim Cross bisa digunakan momen lembam / yang berbeda
pada tiap-tiap bagian balok terusan.

2.

Kita menentukan momen jepitan pada balok terjepit atau balok terjepit sebelah
pada tiap-tiap bagian balok terusan yang dibebani dan mengisi hasil juga bersama
tanda ( + , - ) pada gambar (iihat contoh-contoh pada bab 6.5.9. )

0.?08 .0.75

0.167
0.

0.t56

IK

Menentukan momen jepitan:

6. 5.

&ban merara I t/m

/ yang tetap, ditentukan momen-mornen maximal

pada tumpuan dan pada bagian masing-masing. (oleh karena nilai I jikalau momen
lembam / tetap, tidak penting, karena sebenarnya hanya perbandingan, kita boleh
menggunakan nilai / = 1.)

Menentukan nilai-nilai bagi batang masing-masing:

kn

ln

1:

Pada balok terusan menurut gambar berikut (6.5.9.a.) dengan

{x

0.

95

0.529 0.471

. 07s

r39

0.1?5

0.

G4

o.527 0.473

-2.88 +4.32
@ -0.76 -0.68
+0.M

-4.32
-0.34
+0.08

+ 4.50

+0.6

8. Cara distribusi momen menurut Cross


Cara distribusi momen mulai dengan resultante momen jepitan (momen

residu) terbesar. Selanjutnya momen distribusi yang sama besarnya dengan


resultante momen jepitan tetapi dengan tanda (+,-) terbalik disalurkan pada
batang-batang yang dihubungkan pada titik simpul itu, dan kepada titik simpul
berikutnya. Momen yang disalurkan harus diperhatikan pada perhitungn momen
distribusi pada titik simpul berikutnya menurut koefisien induksi. Dengan menggunakan begitu persiapan pada titik simpul itu pada permulaan tidak seimbang dan
harus dikoreksi dengan perobahan momen distribusi sampai perhitungan ini cukup

teliti. (Jikalau dihitung dengan tm sampai satu angka sesudah koma).


Momen pada ujung batang masing-masing sekarang boleh digunakan untuk menggambar diagram momen dengan perhatian pada perjanjian tanda yang lama (lihat
bab 1.6.3.).

292

293

Perhitungan momen Mmax BC pada bidang 8C:


kita boleh menggunakan rumus yang baru seperti berikut:

Perhitungan momen jepitan Mo:


(lihat juga pada tabel-tabel bab 9.2.6.)

Momen

Momen

: -

2.88 tm

!'L2' : 12

4.32 tm

: -

4.32 tm

Bp;r;

Momen 9k"run
Momen

M.u,:

-0

Momen A

--

Momen B6nrn

Cp;r;

Cku,run

q't: :
12

= -

g:_!'
8

=_

'r

.6.0,
8

Momen jepitan yang terkecil


beban merata

Menurut rumus (6.17.) kita bisa menentukan reaksi tumpuan Ba

-* 4.50 tm

4.32: .+ 1.44tm
: t:tfie ' Fi,= - 1.44'0.529 : - 0.76 tm
AMa *i,i
LMB krnun : LMa pz
|-t.*,= - 1.44' 0.471 : - 0.68 tm
:
@ ttMc
-4.66 + 4.50: -0.16tm
AMcxi,i : AMc'Fz': * 0.16'0.527: + 0.08tm l
+0'16tm
f,Mckunun : AMc'j"r: ='f 0.16'0.473: +0.8&tm |
Perhitungan momen Mmax AB pada bidang l8:
menurut rumus (6.26.) kita boleh menentukan Mmax AB = Raz/2 g dengan reaksi
-- 2.88 -r

A4t-

!,

RB

Rau

RB

: Rao* M,:
I

Distribusi rnomen menurut Cross:

LMa

(6.57)

di dalam rumus ini, masing-masing bagian berarti:


Rc : Reaksi pada tumpuan dengan momen jepitan yang terkecil

Mc :

Momen D

1t _ *,

Reo

q.l
2

MmaxBC=

=2t. 7.2 = + 3.6t


M,

*Ma=ry -

3.66 + 4.58

: +3.6

= +4.06t

3.66: +4.satm

Contoh 2:
'l
Pada balok terusan menurut gambar berikut (6.5.9'b. ), lihat juga contoh pada bab
6.3.3. kita menggunakan cara distribusi momgn menurut Cross, kemudian kita
menentukan semua reaksi pada masing-masing tumpuan untuk menggambar
diagram gaya lintang dan menentukan maximsl pada masing-masing bidang.
q

total 8.5tm

lz

6.0O m

tumpuan Rapada tumpuan rol atau engsel, dan menurut rumus (6.17.)kita menentukan R4 itu sebagai:

:q-'-t *tvtq-:1i-1f
R"
IlA"7--l__-{-43_-

,*", o,

: H'

- ljq:+1.641

Gambar 6.5.9.b

1.642

: + 1.34tm

.)

Perhitungan momen MmaxcD pada bidang CD.'


menurut perhitungan momen Mmax Co kita tentukan:

=,;' -ry=

RD

Mmax

294

CD

ryp'
2q

T-T:1224'

2.242
--{

lc = 5,00 m

k= 7

:k =
k
Y: rtk

(k')0.167

0.167

0.500

(k') 0.150

0.667

0.500

0.500

0.250

0.750

0.769

231

+ 2"50 tm
295

21.25

25.50 - 25.W + 2.83 - 2.83 + 26.56


- 9.12 - - 18.25 - 5.48
3.92 * + 7.95 + 23.4 - + 11.92
- 9.17 2,!5
+ 1.72
0.57 * + 1.14
4.37

* +

* + 0.4
0.98 0.73 * + 0.37
0.14 * -- 0.28
0.18 * + 0.09

12

MomenC

Momen 017

g.12

Momen Dpru,

1.6i

@*

o.2o

0.25
0.10
0.06

12

Momen

0.11

: -2.83tm
8.5 . 5.02

0.12 * +
0.20 * +

8.5-2.0'

2.83tm

2.18
0.55

_ g.l'

C6r",

Momen

26.ffitm

Distribusi momen menurut Cross:

o
Perhitungan momen jepitan Mo:
(lihat juga pada tabel-tabel bab 9. 2. 6.)

Momen/

MomenB*i,i--+=-!.5#g
=-

21.25tm

LMo

+26.56-2.83= +23.73tm

aMo *iri

LMo'rr: -

LMD kurun :

LMo'y= *23.73.0.231 : -5.8tm

aMc

LMc riri
LMc kunun :

LMo' u :
LM"'tr:

LMo

+ 11.92tm

LMo *iri

LMo'

kurr, = LMo. t, =

LMc

LMc k"nrn

Momen
296

- t#:

--9'5#g'

= - 25.fi tm
C*;;= MomenB = -25.50tm

y-

LMD

aMc xi,

Momen Bkanan:

25.50

aMa
aB kiri

LMa'P

23.73.0.769:

6.29

: -

31.79

+ 31.79'0.750

18.25tm

tm

+ 23.4tm

+31 .790.250: +7.95tm

: .52 .A.231 : -

-'11.92.0.769

'l

9.17 tm
2.75 tm

31.79

tm

11.92

tm

4.58 tm

LMc'y = +4.58.0.750= +3.4tm


: LM"' t, : + 4.58. 0.250 = + 1.14 tm
*21 .25 + 29-99: + 8.74tm
La. t, = - 8.74. 0.500 : * 4.37 tm

- 23.73 tm

8.74. 0.500

=-

4.37 tm

4.58 tm

8.74tm

dsb. "....
297

Menentukan momen maximal pada rnasing-masing bagian balok:

Menentukan masing-masing reaksi tumpuan:

Re

Ab 19.13 5.76 = 13.371


l'
211
: 9-!-L + M| = 19.13 + 5.76 = 24.Bgt
2t

RA

*iri

R B k"nun

R c

*iri

Rckrru,
RD

RD

RE

uri

kur*

q'

-- Q.lt
'
lz
2 *ryL--n4,
_
- Q.lr
2

Mc

- Mo =
lJ

MD
Q.lq + ---::

lo

a.n + o.1o = 8.60t


B.Eg

* Q'lq - YL :
lo
2

1,57 m)

MmaxDE=

(xpo=-'R. =
q

2.'l6m)

32.75t

=+19'74tm

- -;

- i - Mc : 34.31 - 17.80 = + 16.51tm


MmaxcD : rf, *Ma :+ 4.18 - 17.60: + 13.45tm
MmaxBC

R1^

Dengan hasil ini kita bisa menggambar diagram momen:

Gambar 6. 5. 9. d

0.10 = 8.60 t
32.58

t*as

51.741

Q'lz

: zs.il+ 1"35 = 26.851


I
211*ryt-Mc
_ ryE--itc : 25.s0 - 1.3b :24.1st
- Q.tz
l,
2
I
-

R"

MntaxAts:*=+10.521m

t1
^ .24 + 2.93

2r.2s,, 2.93 :

Us

24.1.81

18.32

-fte

+
Dengan hasil ini kita menggambar diagram gaya lintang:
Pada contoh 2 ini kita perlu memperhatikan dengan khusus momen maximal pada

tumpuan I yang dengon -25.85 tm jauh lehih besar daripada momen terbesar
berikutnya (bidang DE, + 19.74 tm.) Kemungkinan untuk mengawasi kejadian ini
tergantung pada bahan bangunan yang dipilih:

1.
a.

Konstruksi beton bertulang:


Pada konstruksi beton bertulang ada dua kemungkinan:
dengan merendahkan ketinggian puncak momen pada tumpuan I jikalau tiang
beton bertulang yang menjadi tumpuan I cukup lebar, kita boleh menggunakan rumus berikut:

Ms':Ms*

ms-4LAt
2

*, =Li * hlt4 ln
Gambar6.5.9. c

298

(6.58.

Gambar 5.5.9.e.

299

Perhitungan momen jepitan Mo:

Momen A,

A'

:0

Momen D

Momen Bp;,;

_q_'

l'

5.2. 6.42

l-

-26.62 tm

Momen D'

Momen Ckurun

P' a2' b

-21.23 tm

t, :-- LU =-l1.5qj!
20.32 . 4

: -

Momen D

35.92 tm

Distribusi momen menurut Cross:

Momen

B'p11

P'a.b
(t1al=
= --t,

15'3.6.28

2.e+

' to =

Momen B*i,i

18.46 tm

@ LMe
AMakiri

*45.08tm

aMc

Momen C1;

g'12

'LM,

12

Momen Bsrnu,

= -10.83

tm

10.83 ..

34.?q

- LMs.y- +34.2s 0.369: + l2.Mtnr


AMBkur", = LMe U=*34.25 0.63 1 = +21.61 tm

@ aMc
Momen 8.Kanan

45.08

xirt

rrrun

aM a xiri
aM I

-0.02+40.82= - +o.agll
AMc'y - *40.80'0.583 =
-23.79tm
AMc y =-40.80.0.417- +17.01 tm

=-

aMa

krnun

+ 34.25 tm

1'l

..

40.80 tm

11.90tm

.90 rm

tMe.p = + 11.90.0.369
AMe s = + 11.90.0.631

tnr

= +

4.39

= +

7.51 tm

dsb...... ......
Momen

C6r*

Momen C'kr*n

*
_

___tg' 12

5.2. 7.02
=__/__=

_ ._P.a.bz_ 20.3.4,
12 -- 7^0,
Momen C6n.n

--21 .23 tm

19.59 tm

t10.82

Menggambar diagram momen dan diagaram gaya rintang bisa rihat pada
contoh 2

bab 6.3.3. (gaya-gaya dan momen pada balok terusan).

tm

302
303

selanjutnya melepaskan satu per satu titik simpul sampai semua momen pada satu

titik simpul menjadi seimbang. atau boleh dikatakan resultantenya menjadi

7.

Konstruksi Portal statis tidak


tertentu

7.1. Konstruksi portal dengan titik simpul yang


kaku

7. 1.

4.

1. Pengetahuan dasar

sistim cross yang digunakan untuk perhitungan statika pada balok


pada sudut
terusan pada bab 6 juga dapat digunakan untuk menentukan momen
pada konstruksi porral, jikalau titik simpul tidak bisa bergerak, walaupun boleh
memutar.

(tidak
Titik simpul atau titik sudut pada konstruksi portal menjadi kaku

bisa

gaya horisontal
bergerak), iikalau misalnya konstruksi portal itu bisa menyalurkan

kepadalotengbetonatausuaianginhorisontaldankepadadindingbangunanyang
kaku. Akan tstapi hafrls dikatakan bahwa pada banyak konstruksi portal titik simpul tidak boleh dinilai sebagai kaku.

Misalnya pada konstruksi portal dua ruas dengan


gaya Fo (lihat gambar 7.1- 1. a. sebelah kanan) titik
simpul (titik sudut) dengan pasti akan bergerak di
bawah gaya Fo. Soal-soal seperti itu kita namakan
konstruksi porial dengan titik simpul yang goyah

nol.

Semua batang harus dihitung sebagai balok terjepit atau terjepit sebelah. Selama
pada satu titik simpul resultante momen belum menjadi nol kita harus memasang
satu momen distribusi seperti pada balok terusan.
Perhitungan momen boleh digunakan menurut urutan berikut:
1. Perhitungan momen iepitan pada ujung kiri dan kanan batang masing-masing
sebagai balok terjepit atau balok terjepit sebelah'
2. Menentukan resultante momen jepitan lLMl pada titik simpul masing-masing'
3. Membagi momen distribusi menurut angka kekakuan batang pada batang

5.

masing-masing
(zt) ke
Menyalurkan momen jepitan (momen residu) menurut koefisien induksi
titik simpul berikutnya.

Menentukan resultante momen jepitan (AlV) pada titik simpul berikut dan

seterusnYa menurut 2' s/d 4'

Memperhatikan perjanjian tanda ( +


bab 6. 5. 2.

) pada sistim Cross seperti dibicarakan pada

7.1.3. Contoh-contoh
contoh

1: Konstruksi portal dengan titik simpul yang kaku, lihat Gambar 7. 1. 3. a.

berikut.

Dicari: Mirmen-momen pada tumpuan. titik simpul dan pada batang, reaksi tumpuan-tumpuan dan diagram gaya normal dan gaya lintang'
2

Fo

(lihat bab 7. 2.).


GambarT' 1' 'l ' a'
gaya
Pada perhitungan momen pada sudut portal pengaruh atas gaya normal dan
lintang boleh pada prakteknya dihapuskan'
portal menurut cross boleh digunakan hanya pada

Perhitungan konstruksi

konstruksi portal dengan momen lembam

pada masing-masing batang meniadi

tetap.

7.1.2. Cara distribusi momen menurut Gross


DenganmenggunakansistimCrosspadakonstruksiportalkitabisa
akan bisa
menentukan momen piaa suout-sudut. Dengan momen itu kita
normal dan gaya
menentukan reaksi tumpuan, momen pada batang-batang,'gaya
lintang.

MenurutCrosskitatentukansemuatitiksimpulsebagaikakudandenganbegitu,

batangmasing.masingmenjadibalokterjepit.Sepertipadabalokterusankita
304

Gambar 7. 1. 3. a.

Momen lembam /:

batangl
batang2
batang3
batang4
batang3

-3\*
- 4| +
-4 +
5
-6
- +

B, H,

l=-=
'12

67'500 cm{

/ = 686'6O0 cma
I = 416'000cma
/ = 160'000cma
305

batano4
uatanJ5

7I

| = 312'5oo4cm4

- 8l-

Perhitungan momen jepitan:


q = 4tlm

Angka kekakuan batang k:

batangl-3
batangz-4
batang3 - 4
batang4 - 5
batang3 - 6

i::ffi;_;

*,, I
krn I

k..
ko.,

kr"

I[]

Koefisien distribusi p:
Titik simpul3:

L"

= . 981

Lr.u

= 320 cm3
- 1'465.75 cm3

rkg

168.75 cm3
cm3

981 cm3
832 cm3
320.cm3

625 cm3

#Mqs=M?.q="

batang

3-l

batang 3.-4
batang

-,

g.,:

-, yrn:

3-6 -. pr3_u:

rq6e7s =
981

1469.75
320

= Sl

cm3

batang

4-3

1.0(X)

0.376
zooo.Ts =

batang

kn-s

832

cm3

ko-z

625

cm3

4-5 -, po_u: 832 = 0.319


2606j5
625
batang 4-7 -, po., =
= 0.240

1O4O

tcm

-6
+1

f-T7jd1

_t9

GamLrar 7. 1. 3. b.

oo
:H:]I;H

tE8

:-,

**l**NBlBgs

=1

l-196

H:tlffiiq

r273

F] r+lt{l+tt++t
I I l**:
LLlt

3
+ ll

eooo iZ

eoo

+369

+17

:_3.
L{!9J

0.065
zooo7s =

&r

k4

= &12

cm3

[ratang

5-4 -, p5-o=

Lr{

= 625

cm3

batang

5-8 -,g5"=

:lq

cm3

832

u57
625
1457

f;td
.6
3t)
-+l17

t:iid

zoooTs

-19

-t7E

1.000

0.570

'I

koefisien distribusi p:

1'457

batang

2'606.75 cm3

Titik simpul 5:

12 = -10'40tm=
- 104O tcm

L2261

168.75 cm3

12

5.0 . 5.02

t.J0t

168.75

4-2 -, yo_r=

Mq.s

-35/,

981

..,r4_3:

Ms,c=

0.667

(5)

koefisien distribusip

_q'l'=

-'Y'3'4=-12=

0.1'15

0.218
raogTs =

rFs

Mq,s-

Distribusi momen menurut Cross:

168.75

\n

:&

306

=
=
=

: -16.3[ttm=
- 1G33 tcm
- 1633 tcm

---=;-tz

Titik simpul4:

k3.

67',500

= 400 = 1i8.75 cm

koefisien distribusip

k,_r

4.0 .7.02

p1.,_*9_!,

&s = I.000

-+8
+

/65

Kita mulai dengan distribusi momen pada titik simpul dengan resultante momen
jepitan aM yang terbesar, pada contoh I ini, dengan titik simpul 3. Resurtante
jepitan LMrpada titik simpul 3 ini nrenjadi + 1,633.tcm, yang akan
Tomen
dibagi sebagai momen distribusi kepada batang 1 _ 3, batang 3 _ 4 dan

batang 3

= 0.0

r.10a

6 menurut koefisien distribusi g:

AM3= + 1633tcm.
AM31 ..
- 1633 0. 115 : - 188tcm
LMro- -- 15i!3.ttE7 - -108gtcm
AMs'= -1633.0,218= - 356tcm

l
J

^M.=-1633tcm
307

Momen distribusi ini .akan disalurkan kepada tiap-tiap titik simpul yang
berikut menurut koefisien induksi y:

kepadatitiksimpul 1:- 188.0.5=


kepada titik simpul4 : - 1089 . 0.5 :
kepadatitiksimpul6 : - 356. 0.5 :

2. AMq = -

1633

545

10210

94tcm

=-

tcm
178tcm

545

Disitribusi momen berikut dilakukan pada titik simpul 3 dengan AM, : 1 214
- 216 : + 168 tcm dsb. sampai distribusi momen kesepuluh (sampai semua
resultante momen jepitan pada titik simpul masing-masing menjadi nol).

Menggambar diagram momen :


Pertama kita tentukan tanda (+,-) dari momen-momen yang baru diteniukan
dengan sistim Cross.

1138tcm

= + 1138' 0,376 = + 428tcm


AMq,z= + 1138'0,065 = + 74tcm
LMq,s = + 1138' 0,319 = + 363tcm
AMqt = + 1138'0,240 = + 273tcm
LMq,s

5.

t
I

AMq

=*

Momen pada batang-batang yang horisontal adalah positif ( + )jikalau ada


gaya tarik pada sisi bawah dari batang horisontal itu, dan menjadi negatif
(- ) sebaliknya.
Momen pada batang-batang yang berdiri adalah posisif (+ ) jikalau ada
gaya tarik pada sisi dalam (pada portal) atau sisi kanan (pada tiang tengah)
dari batang vertikal itu, dan menjadi negatif (- ) sebaliknya.

1138rtcm

Momen distribusi ini akan disalurkan kepada tiap-tiap titik simpul yang
berikut menurut koefisien induksi y:
kepada titik simpul 3 '. + 428. 0.5 :
kepada titik simpul 2 : + 74 .0.5 :

kepadatitiksimpul 5:+ 363.0.5


kepada titik simpul 7 : + 273. 0.5

3.

=+
=+

214 tcm
37

Atas dasar perjanjian tanda

tcm

182tcm
137

Pada

tcm

- - 1040 + 182: - 858tcm


LMs,o: +858.0,57: +489tcm
AM5

LMs,= +858.0,43: +369tcm

-L

Mu

= + 858tcm

: + 245tcm
8: + 369.0.5: + 185tcm

kepadatitiksimpul4 : + 489. 0.5

titik simpul 3:

batang3-4=-6.02tm
batang3-1: +2.O8tm
batang3-6= -3.96tm
Pada

Momen distribusi ini akan disalurkan kepada tiap-tiap titik simpul yang berikut menurut koefisien induksi y:
kepadatitiksimpul

(+,-!

ini kita boleh menentukan tanda-tanda momen

seperti berikut:

titik simpul4:

batang4-3*-18.82tm
batang4-2= - 0.61 tm
batang4-5=-15.95tm
batang4-7 = + 2.26tm

titik simpul 5:
batang5 - 4 : - 3.83tm
Pada

batangS*8: -3.83tm
Padatumpuanl

= -1.04tm

Pddatumpuan2: - 1.30tm
Padatumpuan6: + 1.98tm
PadatumpuanT

=-

1.13tm

PadatumpuanS: + 1.92tm

-1,04

4.

Distribusi momen sekarang mulai lagi pada titik simpul dengan resultante
momen jepitan yang terbesar. pada contoh 1 ini, pada titik simpul 4:
LMA: + 245tcm
LM^.s: -- 245 .0,376 : - 92 tcm
AMo.z= *245.0,065: - 16tcm
-245tcm

: *
AMo., : *
AMq,s

: 245. 0,240 : 245.0,319

78tcm

59tcm

- ^M4=

Momen distribusi ini akan di5alurkan kepada tiap-tiap titik simpul yang berikut menurut koefisien induksi y:
kepada
kepada
kepada
kepada

titik simpul
titik simpul

3:
2:

titiksimpul5 : titik simpulT : -

92. 0.5
16. 0.5
78. 0.5
59 . 0.5

: ==: -

3,04

tcm
tcm
39tcm
30 tcm
46
8

299
2

Gambar 7. 1 . 3. c.
+1,98

308

Mpn

309

(Penentuan momen maksimal pada bidang masing-masing lihat selanjutnya


sesudah penentuan reaksi tumpuan dengan gambarT. 1. 3. h.).
Menentukan gaya lintang (O):
Oleh momen iepitan pada ujung-ujung batang dan bebanan pada batang itu kita
bisa menentukan ukuran gaya lintang menurut rumus (6. 16.) berikut:

Rs,q=-14.92+5,0'5,0

^.,u=H#&=1,le*

dengan Oo : Gaya lintang oleh beban pada sistim dasar (balok tunggal)
Untuk menerangkan momen pada ujung batang masing-masing untuk perhitungan
gaya lintang kita gambar sistim statis dari portal tsb. dengan ukuran dan jurusan
momen:

86 = 1,19t*
,0,,

M".M

= 10,08

AsA=

10'08t

..".Os,0-Oo=-1,191

=ulii4:0,68t*

R7 = 0,68t*

""'Ql-Q7=+0'68t

,r.r=E*W=1,15t*

Rs = 1,15t -

OO)

tl

Hasil digambar pada sistim statis dari portal tsb:

GambarT. 1.3. d.

Untuk perhitungan gaya lintang pada batang yang vertikal dan yang tanpa beban
kita hanya perlu menentukan reaksi pada tumpuan dengan hasil berikut:
Gaya lintang:

Reaksi pada tumPUan:


R1

_ 1,M + 2,08:

R?,.r

4,0

0.78t

0.78tt

Rq,z

= 0,23t *

Rs,t

4,0.7,0
2'

Dengan menentukan tanda ( +


gambar diagram gaya lintang.

...C,2:O.q,z- -0,231

I
6,02

18,82

7,0

12,17

tt

Q,+

=+

) dari gaya

.l.3.

e.

lintang seperti berikut. kita bisa meng-

Gaya lintang pada batang yang horisontal adalah positif ( + ) jikalau


batang sebelah kiri dari satu potongan sembarang akan naik ke atas, dan
menjadi negatif (- ) sebaliknya.
Gaya lintang pada batang yang berdiri adalah posisif (+ ) jikalau balok
sebelah bawah dari satu potongan sembarang akan bergerak ke kiri, dan
menjadi negatif ( - ) sebaliknya.
Pada gambar diagram gaya lintang kita perhatikan ketentuan-ketentuan berikut:

15,83

O+,s

=-

15'831

5,0 ' 5,0


x+s=
2 -

14.92

Q,s

=+

14,921

310

GambarT.

12,17t

Rq,s=-12,17+4,0'7,0
15,95 -'3,83
5,0

2s=1.1s

.....O1 :Os,r:-0,78t

:0,23t-

R2

PrQm

Pada batang yang horisontal gaya lintang yang positif ( + ) cligambar sebelah atas
dari batang itu, dan yang negatif (- ) sebaliknya. Pada batang yang berdiri gaya lintang yang positif ( + ) digambar pada sisi luar (pada portal) atau sisi kiri (pada tiang
tengah) dari batang vertikal itu, dan yang negatif ( - ) sebaliknya.
311

a78I

Gambar 7. 1. 3. g.

q68

l0tt

1,15

Gambar 7.

. 3. f

Gaya pengikat horisontal pada titik simpul (Fr):

Konstruksi portal dengan titik simpul yang kaku pada contoh 1 ini menjadi kaku

Menentukan reaksi-reaksi tumpuanr


Dengan ketentuan momen-momen jepitan, gaya lintang dan gaya normal dan gaya
pengikat horisOntal pada titik simpul 3 sebetulnya semua 14 reaksj tumpuan sudah
diperhitungkan.
Reaksi tumpuan tsb. adalah:

oleh pengikatan horisontal pada titik simpul 3.


Reaksi tumpuan horisontal {Fr} adalah:

padatumpuanl:

o,nt
b uett

pada tumpuan

+
+

A23

q8

u,f
ZH = 0 = - 161*0,78 + 1,'19 + 0,23 - 0,68 Fs= 1,42-2,61 = - 1,19t(gayatekan)

1,15

Menentukan gaya normal (lV):


Pada konstruksi portal seperti pada contoh 1 ini gaya normal bisa ditentukan
sesudah gaya lintang ditentukan.
Menurut gambar 7, 1. 3. e. dan perhitungan reaksi tumpuan pada titik simpul 3 kita
bisa menentukan pada bdtang-batang yang horisontal:
Nr.o

No.s=

1.,19
- 1,19 = - l,60t
1,60-0,23+0,68:
-1,15t
-

Q,'78-

dan pada batang-batang vang berdiri:

Ns.o= -12,17t
Net= - 15,&3- 14,92= -30,75t
N s.a =
- 10,08 t

R,n = -

M1

2: Rrn =
M2 =
padatumPuan6: F. =
padatumpuano: nru =
8'n =
Mo =
padatumpuanT: R* =
R-ln =
M7
padatumpuanS: 8ru =
8rn
MB =

0.78

1.O4tm

+ 0.23 t
- 0'30tm
+ 1.19t
- 12.17t
$ 1'19t
$ 1'98tm
-30.75t

0'68

tm
10.08t
1.'13

1.15

1'92tm

Pemeriksaan mnurllt syarat-syarat perseimbangan

2V = 4,0.7,0 + 5,0. 5,0 - 12,17 -30,75 - 10,08 = 28 + 25- 52,0 = 0


2H = *0,78 + 0,23 + 1,19 + 1,19*0,68- 1.15 = -2,61 + 2,61 = 0
Reaksi pada tiap-tiap tumpuan:

t&'tm

Gaya normal diperhitungkan gaya tarik sebagai positif (+ ) dan gaya tekan
sebagai negatif (-).
Pada gambar diagram gaya normal kita perhatikan ketentuan-ketentuan berikut:

Pada batang yang horisontal gaya normal yang positif (+ ) digambar sebelah bawah
dari batang itu, dan yang negatif (- ) sebaliknya.
Pada batang yang berdiri gaya normal yang positif (+ ) digambar pada sisi dalam
(pada portal) atau sisi kanan (pada tiang tengah) dari batang vertikal itu, dan yang
negatif (- ) sebaliknya.

312

GambarT. 1.3. h.

t!fr

Menentukan momen maximal lMrdan M*l:


Momen maximal bisa ditentukan seperti pada
balok terusan pada rumus (6. 57):
313

rumus (6.57.)i

yaitu:

M^r,

R-2

Angka kekakuan batang

i--Mc
12.172

Mx

*#-3.&l-

+ 6.32tm

Ukuran x dan xr dapat ditentukan pada tempat gaya lintang menjadi nol:

A,

batans't

-2'

ki,r=

!]- = 3 lgp
14h,45O0

batang3

- 4t

ki," =

14hr4m
-b'!- =g'

Z.q.O-6.02:+12.5tm

M,,

batans2-3*

k;r=+

Koefisien distribusi

12.17-4.0'x:0

f:

kr,z

. t'-;

t6

=,.:],",",2eemdaritianstensah)

x dan x,dapat diukur dari tumpuan dengan

reaksi iumpuan verfikal yang terkecil


(lihat gambar 7. 1. 3. h. dan diagram momen 7. 1. 3. c. ).

Contoh 2: Konstruksi portal dua ruas. Dengan suai angin konstruksi menjadi kaku
pada titik simpul (sudut). Menentukan momen jepitan untuk beban konstruksi atap
(loteng) dan untuk beban horisontal oleh tekanan angin.

kz.r

=
Ekz =

= #=?fficnf

koefisien distrilcusi p:
batang 1

24O cm3

batang

2'?fscm3

- 2- ur,., =ffi=0.095

2-3*ur.r:ffi:qS
ZPz

2'520 cm3

titik simpul 3:

koefisien distribusi p:

kr.r

batang 2

2,2&) cm3

=
Ik, :

2OI cm3

ke,r

2'431

201 cm3

p:

titik simpul 2:

or' = -10;G

1073P

= 240cm3

- 3* nr., :#=0.920

batans3-4*r.,.=ffi=o-.P

&s:

"* '

Perhitungan momen jepitan:


momen jepitan oleh beban merata (konstruksi atap) g

M,: M,:

1'000

- # : -i#

1'000

4.0

t/m

-21,33tm

Distribusi momen menurut Cross: (diperhitungkan seperti biasa)

oooo@@

6 Ed66rbNr6brcoi**lJo]

Gambar 7. 1. 3. i.

Momen lembam

-296

/:

'batangl-2 - /: 1e_l{' :
12

34it4'

batang2

-3

/=

batang3

-4

:
l: 3,0:ry'
12

3t4

:BEESIPTF\I I IISI
I *1'1*,1* ,l* ,l* 'l*,lL!

12

_lJ

't6,00 dma

182,@dma
10,72dma

16O(XX) cma

---J

-t

trT7d

qts *rs qrsqET


lEllrotq
l{t
t\Eh6N5tqsts.
15il
I
I
tNNN+tqr
I rll+ rl+ rl+ rl+ rl+ rl+

eocooe

1.r71

l;m

;-5
@

1822000cma

10710 cma

GambarT. 1.3. k.

315

Menggambar diagram momen:

Pada permulaan contoh 2 ini kita menentukan bahwa konstruksi portal dua ruas ini

dengan memperhatikan perjanjian tanda kita bisa menggambar diagram momen


oleh beban merata (konstruksi atap)

o=

boleh dihitung dengan titik simpul sebagai kaku oleh konstruksi suai angin.
Sekarang kita harus memeriksa, apakah suai angin betul cukup kuat untuk

4.0 tl m seperti berikut:

menerima gaya horisontal oleh tekanan angin.

Menentukan gaya lintang (O):


Untuk perhitungan gaya lintang pada.batang yang vertikal kita hanya perlu menentukan reaksi horisonlal pada tumpuan masing-masing.

ZMz= o = Rn's.oo +
Rtt

Gambar7.1.3.1.
Perhitungan jepitan momen jepitan:
momen jepitan oleh beban (tekanan) adgin

w = 1.2t/

M2=
^ -375
(l)+
36
-

+--2

r--2.
l-d291

-ry{

-*(1!_!g

12'!t
+

M2l

m"

=-3,0+

tf

1.2'5.02 0+3.29
xzl=
z - s.o

-12y

Mz- Mz ^
n2'3=8po =-

= _3,75tm

Rs,z
=11
-J

3,29

0,18

= * z,ut

-01

= + 3.66

=42

=+0'431

8po

+ 0.43t

Mz
0,1R
^Re,q: - ?,
= -rn = -o,ost

E,!J
Distribusi momen menurut Cross:

fiqA=

-o.ost

Gaya pengikat horisontal pada titik

=Q2's

o,,o

simgul2lF):

Dengan memperhatikan catatan di bawah gambar 7. 1.3. n. reaksi gaya pengikat


horisontal F, harus disalurkan oleh suai angin: (pada perhitungan kita memilih
jurusan F, dari kirl ke kanan)

Gambar 7. 1. 3. m.

Menggambar diagram momen:


dengan memperhatikan perjanjian tanda kita bisa menggambar diagram momen
oleh beban (tekanan) angin w = 1 .2t/ m seperti berikut:

Fz:

R2,.,

Be,o

Tanda minus

=-

(-)

3,66

1-

0.05 1

=-

3.71

menentukan bahwa pilihan jurusan

F,

dari kiri ke kanan

sebetulnya salah, dan F, berjurusan dari kanan ke xiri, yaitu gaya tarik.
Menentukan gaya normal

(y't/):

N,,r= Or,r= +0.213t


Ns.a=

-Qz,s: -0.43t
Nz,s:Fz*O2,,= -3.71 + 3.66=-0.05t
Menentukan reaksi-reaksi tumpuan:
reaksi tumpuan masing-masing oleh tekanan angin (w) adalah:

R,* = -2.!ll
R'u = -0'43t
pada tumpuan 2 : F, =
- 3.71t (oleh suai angin)
padatumpuan4: Rou = +0.t
Ro* = -0'05t
padatumpuanl:

Gambar7.1.3.

316

n.

317

Koefbien distdrusi p:
titik simpul 1:

Menentukan momen maximal dsb. menurut contoh. 1.

Contoh 3:
Konstruksi portal bertingkat menurut garnbar 7. 1. 3.

pengikat horisontal Fo, dan

o. Dengan pertolongan gaya

d,, kita bisa menentukan sistiminisebagai

kaku.

Dicari: Momen-momen menurut Cross.

tot
3p0

q=\0t'/n

Fot

tot

25/35

For

2s/60

-25/65

2s/45

25/t

batangl

-2

r1,2= 1251 = 0.762

batangl

-4

111,4=

titik oimpul2:

koefisien distribwi p:

a
s

krz =
L. zh =

g(Dcnf
2S crf

l'198crrP

=450000crd

fficnf
kr,
kr, = 953 cnf
kt, = 474crr?
Ik = 1'725"*r

batang3 -2 +
batang3

25.46

It"
La
|!*
q"
:\

= 189600 cma
/s,s : 260000 crna
/a,z

=
=
=
=

318

r.,r=

batans4._S -

batans4-1

-7'

p4.1

=#=0.173

Fr,s

= 0.552

ret

ffi

=-!.ns

'+4

cnf

2'e+z

cnf

batang 5

batang 5

900crYf

batanss

F5,6=

ku = So"t

L, = Ecrnr
k'u-e = 250 cnr3
:\ = 1',r148 cnf

= 1'([0
=0.32i!

=o.ru,

# =0.*

P5,8=ffi=o.u
IPs

titik simpul6:

1'000

ffi -o'^t

651

444cnf

-4 + rr.o= #
batanss -2 + ,r.r= #

953 cnr3

:953cms
I :- s7?W
600

kr,, t
batangl-2
kr,rdanks,o:900cms
batang2 - 3danbatang5 - 6
k,.o dan k..u -- 298 cm3
batang 1 - 4 dan batang 3 - 6
batang2-5 kz_s=444cm3
batang4-7 ko,:474cnf
batangS-8 ks.s =650cm3
batango-e ,'o, : 1_ffi = 25ocm3

'+2

koef isien distribusi p:

Angka kekakuan batang k:

yz.t=

koefisien dbtribusi p:

titik simpul 5:

= l.(trO

+ F3.6: M :_ j!1s
- 6
iiss
:re = l.(trO

batans4

25 - 353

=_0!s

# = o.oto
batans2-3 + ,".r= ffi:0.$2
batans2-s * ,r,u=#-iJg
kof isien distribusi,r

titik simpul3:

titk simpul4:

25.653

batang4-5 + ko,u

:rr

1-

batans2-

Momen lembam /:

lz,z: ls,a=25'a603

2S
1%1

Gambar 7. 1. 3. o.

953

kr-, = 963 crnl


kr. = fficrna
Ek, = 1'251
"rP
9tB cnf
L-, =
l9:. : 900 cnf
t-. = 444cm3
z\= 2'an cms

koefisien distribusi p:

= l'GD

koefisien distribusi p:

+ ,.,u= #
batang6*3 + r.,.= ffi
batans6-9 4 ,r,r=ffi
batans6-5

-O.V2
=0.Z)6

=-o.y

:+t6 =

1'000

319

--\
Perhitungan momen jepitan:

pada titik simpul3

Mt,t= Mz,t= -4r!gj!{eu =


Mz) =

M\t=
Mt,s
Ms,n

Ms,a=

-'o'H#'*
-

1o'o 'l-Lq' 5'0'?

1,0)

padatitiksimpul

8,ootm

15,0 . 6.0
8

15,0' 6.0

=-

M,s= -18'oo- 5'oo=

=-

18,19 tm

=-

12,64 tm

1l,25tm

Distribusi momen menurut Cross:

Menggambar diagram momen

TIT]T]B

-303

:rra

+78

;Ti|

+41

ft-rTit

;t0
+l
fiia

oo

Pl

t:

2.48tm

=
=
=
=
=
=
=
=
=

+ 4.37 tm
-* 9.10tm
4.73 tm
16.61
tm
- 'l
+
+

5.14
0.95
0.52
4.55
2.80

tm
tm
tm

tm
tm

1.75 tm

GTBa-l

o@o

-1

-10

+210

-291

-t

_Jl

+8

l-12d

+12

2
6

+180

+21
-,

-o

oo@

@o@

sxE$Br**NI
Nqtn$t
i * ,l * rl* .l[*]

Enil,

batang 3
batang 3

4: batang4batang 4
- 5
batang 4
- 7
pada titiksimpul5 : batang 5
- 4
batang 5 - 6
batang 5 - 2
batang 5 - I
padatitik simpul6 : batang6 * 5
batang 6 - 3
batang 6 - 9
pada tumpuan 7:
= + 2.37 tm
pada tumpuan 8:
= - 0.26 tm

12,otm

(5,0

+00

52

-463

lEll'9sEle*
+l

lPll rl+
I rl+r

=-0
-1

Lltr+

@oo

l-4731

l-uitr*qrqqs
*lB*i

lsllr +l+ +
lLl

oo

+175

I
Gambar 7.

3. p.

Atas dasar perjanjian tanda ( +, - ) bagi momen-momen kita dapat menentukan


tanda-tanda momen seperti berikut:

1: batangl-2 \
batangl-4 t
pada titiksimpul2 : batang2
padatrtiksimpul

batang2

batang

320

2-

3
5

= - 4.28 tm
- 13.95tm
= - 12.57 tm
= + 1.38 tm
321

7"2. Konsiruksi portal dengan titik


simpul yang goyah

7.2.1. Penurunan tumpuan pada balok terjepit

Gambar 7. 2. 1. c.

Jikalau pada satu balok terjepit satu tumpuan mulai turun vertikal ke
bawah, penurunan tumpuan itu mengakibatkan momen jepitan pada dua tumpuan
jepitan yang mempunyai ukuran dan tanda (+,-) yang sama sebelah kiri dan
sebelah kanan. Besarnya ukuran tergantung pada ukuran penurunan tumpuan d

(yang selanjutnya dinamakan sebagai koefisien pergoyangan) dan pada angka


kekakuan batang. Pada balok terjepit dengan momen lembam / tetap, momen
jepitan (Mn) menjadi:

Mix=

=u*',0 r

dsn.k: l/l

3E. l.d

4E'd

--tk'

dgn.

k'

3t
4l

, ='u;:" :

ffi000 cm{

Angka kekakuan batang k'.'

3 880000 :
k'tz: 4
800

- 3

k'z-r--

3 880000

?'

600

825 cm3

1100 cmr

Koefisien distribusi:

terusan misalnya atau konstruksi portal menurut sistim Cross.

koefisien distribusi:

825 cm3

batangl

-2

Ft.z*

ki-: = 1'100 crn3


Ik, : 1'925.'n'

batang2

- 3

Fz,t=

k'r-t

0.2.t

ditentukan, kita selanjutnya bisa mencari momen masing-masing pada balok

825
1925
1

100

1925

Zp,

A,4fr3

=__qtr

1,000

Perhitungan momen koreksi pergoyangan (M4):

Gambar balok terjepit


dengan penurunan tumpuan

Mi*z,t =
Gambar7.2. 1.

sebelah L

titik simpul 2:

Sesudah momen jepitan (M,rl oleh ukuran penurunan tumpuan d pada balok terjepit

Gambar balok teriepit

batang 1 -- 2dan batang2

batang2

(7.1.1

dan pada balok terjepit sebelah momen jepitan (M,rl menjadi:

1t

/-'

batangl-2

+6+d

Mi*: +

Momen lembam

!:f*!

Mikz,t:Ll-!

k,t.z

: 4-?1#ryj

k,z-t

B2s

2600000 kscm

1'219009'3 1r00

4620000kscm = 46,2tm

26,00 tm

Distribusi rnomeft menurut Cros6:

+Hi*

dengan penurunan tumpuan rol

|
0,42s

l+

Ek.ts2s I a2y 0.572

Gambar7.2. 1. b.

Contoh: Pada balok terusan dari beton bertulang tumpuan 8 mengalami


penurunan tumpuan sebesar 3 cm oleh karena pondasi di bawah tiang itu tidak
cukup kuat. (E : 210'000 kg/cm2).
Dicari: Momen koreksi pergoyangan lM,rl yang timbul oleh penurunan tumpuan I
itu.
322

Contoh ini memperlihatkan dengan Mix = - 34.65 tm suatu tegangan yang tihggi
sekali pada sistim statis tidak tertentu oleh suatu turunan tumpuan yang agak kecil.

323

,/
7.2.2. Berpengaruh atas titik simpul yang goyah

Momen jepitan Mopada konstruksi portal yang terjepit dan dengan titik simpul yang

Seperti berulang kali ditentukan sistim cross sampai sekarang hanya


boleh dilakukan kalau titik simpul pada waktu mendistribusi momen menjadi kaku.
Ketentuan ini pada banyak hal tidak betul. Tanpa misalnya loteng dari beton bertulang atau konstruksi suai angin yang khusus, hampir semua konstruksi portal

kaku adalah:

menjadi goyah.

Mo.r: *
Mo., -* *
Mo,z =
Mo,t- *

contoh: Konstruksi portal yang terjepit. Untuk memudahkan perhitungan ini kita
tentukan, bahwa angka kekakuan batang k : 1 untuk semua batang. Atas dasar
itu, koefisien distribusi F : o.s untuk semua batang. Harus diperhatikan, bahwa

Momen jepitan dengan tanda (index) Mo menentukan, bahwa momen jepitan itu
ditentukan pada konstruksi portal dengan titik simpul yang kaku. lni hanya mungkin
oleh gaya Fyang menerima gaya horisontal pada batang 2
3.

koefisien induksijuga menjadi

y:

2.69tm
5.38 tm
4.22tm
2.11tm

0.5 seperti biasa.

Suatu gaya pengikat horisontal (F) menjadi positif (+ ) jikalau jurusannya


ke kanan, dan menjadi negatif (- ) sebaliknya.

Untuk menerangkan momen jepitan pada tiap-tiap ujung batang pada perhitungan
gaya pengikat horisontal (fl kita menggambar sistim konstruksi portal yang rer.jepit
dengan masing-masing momen.

Gambar7.2.2.

Perhitungan momen jepitan

Mt,z : -

P' a'

bz

t?

P'
Mt,z : *

a2' b

t,

12,0:?,9_-:,0' _ _
8 64
9,0,

Gambar-l

,3t;_9.4=_5,76tm

Perhitungan gaya pengikat horisontal F0:


Gaya pengikat horisontal Fo = gaya lintang A.,.,

ZMt =
Distribusi momen menurut Cross:

ocoe
rll

= Qr,z' 4,0 + Msj +

ArA

Ms,2

At.z: -114(Mo,j+ Ms,2l: -114


ZM4 = 0 = O:,q' 4,0 - Mo,s
- Mo,q

(2,69

+ 5,38) = -2,02r

As,q: 1/4(MsB + Mo,ql = 114A,22 + 2,11r,: 1.58t


Fo= -2,02+1,58: -0,44t

BBlagRe**tm
6+R
I
ldl
* ' + r+ r+

.2.2.

t_

il

Atas dasar perhitungan ini kita lihat, bahwa gaya pengikat (Fo)jurusannya ke kiri.

Tanpa gaya pengikat horisontal (Fo) konstruksi portal yang terjepit bergerak ke
kanan dan perlu diperhitungkan lagi sebagai konstruksi portal dengan titik simpul
yang goyah dengan koefisien pergoyangan d. Koefisien pergoyangan d mengakiGamt:ar7.2.2.tt
324

batkan momen jepitan M,* sebagai tambahan bagi momen jepitan Mo yang bisa kita
tentukan dengan cara distribusi momen menurut Cross.
t

325

Jalan lain sebotulnya lebih berguna. Kita memilih suatu koefisien pergoyangan J
(ukuran bergerak) dan menentukan momen jepitan M;p menurul bab 7. 2. 1. Oleh
momen jepitan Mp pada batang vertikal kita mendapat suatu gaya pengikat
horisontal F;1
Oleh karena gaya pengikat horisontal Fo pada konstruksi portal dengan titik simpul
yang goyah harus menjadi nol kita memilih koefisien pergoyangan J {ukuran
bergerak ) begitu, supaya :

Fo-i'F*=O

atau n=-

F9

(7.3.)

Fik

Selanjutnya momen jepitan Mp oleh kcefisien pergoyangan


dengan fektor oengikaf g. Momen jepitan Makhirnya menjadi

d harus

Perhitungan gaya pengikat horisontal (F;1i;

3,00tm

r\

1l-

2M.r:0

400 tm

I
J-i- J*

!00

tm

400 tm

Fik' 4,0 + 3,0 + 4,0 + 3,0 + 4,0 = 0

- = 3,0+4,0+3,0+40
t*
=
q,o
Gambar 7. 2. 3. c.

dikalikan
menurut rumus (7. 3.) kita boleh menentukan

Mo + F' Alli*

3.5t

v.4.t

Lebih mudah lagi momen jepitan M bisa kita tentukan jikalau kha tidak memilih
J, rtelainkan langsung memilih momen jepitan /1,f1.

koef isien pergoyangan

7.2.3. Contoh-contoh
Contoh 1: Konstruksi portal vang terjepit, lihat gambar 1.2.2. a. mengalami
pergerakan sebesar d (koefisien pergoyangan). Pergerakan d menjadikan momen
Mp.1 ,2danM;p43sebesar + Stmpadabatang 1-2dan mornen M,y1,1 danMp3.4
sebesar "+ 5 tm pada hratang 3-4.

t,: . #

:0,126

dengan:

(F" lihat pada gambar 7 .2.2. d.l

menurut rumus (7. 4.) kita boleh menentukan momen jepitan M seprti berikut (Mo
lihat di bawah gambar 7. 2.2. b.l:

M : Mo + i' M, = Mo* 0,126 tm


Mt: Mo,t+ y'Mr,, : + 2,69 -0,126'4,0
Mz: Mo,z+i'Mt,z: - 5,38+0,126'3,0
Mz: Mo,z+y'Mt,t - - 4,22-0,126'3.0
Ma : Mo,o + y' Mr,o = + 2,11 + 0,126' 4,0

:
:
:
:

+ 2,'l9tm
- 5.00 tm
- 4,60tm
+ 2,6'l tm

Contoh 2: Konstruksi portal yang terjepit seperti pada contoh 1, tetapi dibebani
oleh gaya horisontal P

3.0 t pada tiang 1-2.

Angka kekakuan batang * = 1 untuk semua batang. Atas dasar ini koefisien
distribusi g = 0.5 untuk semua batang.

Gambar 7. 2. 3. a

Distribusi momen (Ma) menurut Cross:


Hasil momen Mipadalah:

Mi*.t =
Mi*.2 :
Mi*,s =
Mi*.q =

-4.0tm
+3.0rm

-3.0tm
+ 4.0tm

Gambar 7

326

2.3.

Gambar 7. 2. 3. d

321

Perhitungan momen jepitan

M, "

h
88 = -3-.9_-4'0 = -

P'

: M,. = -

1,Stm

Distribusi momen menurut Cross:


s .. b,i<-

';',i -l:

Hasil momen jepitan Mo adalah:

t5a

Mo.r = - 1.9tm
Mo.z = -0.7tm
Mo,r = +0'2tm
Mo,a : - 0.1tm

t5-

"a:a

Catatan: Pada contoh 1 dan 2 momen Mp oleh pergerakan d (koefisien pergoyarrgan) adalah simetris (panjangnya dan momen lembam yang sama pada dua
kaki konstruksi portal, batang 1-2 dan batang 3-4) oleh karena itu angka kekakuan
batang k1.2dan k3-a menjadi sama juga.
Tetapi misalnya pada contoh konstruksi portal dua ruas dengan tumpuan berengsel
atau terjepit menurut gambar 7.2.3 g. dan h. momen M;pberlainan pada batang
1-2dan batang 3-4.

Gambar 7. 2. 3- e.

g.

7. 2. 3. g.
Gambar7.2.3.
Gambar

Perhitungan gaya pengikat horisontal (Fo):


A7

tm

Menurut rumus (7. 1.) kita boleh menentukan momen jepitan Mpseperti berikut:

A2 tm

(lihat gambar 7. 2. 3. h)

lMro-g
co

N'

3t

Fo'4,0 + 3,0.2,0 + 0,7 - 1,9 + 0,2 + 0,1

sa

-+'

\J

5
S

"

s-

:0

6,0-0,7+1.9-0.2-0.1
4,0

_.t

Ql tm

1,9tm

Gambar 7. 2. 3. f

Perhitungan momen lMipl seperti pada contoh

oleh

d-:

1,275 + t1 3,5 = 0

Menurut rumus (7.

4. )

dengan:

F=1ff

=0,3M

kita boleh menentukan momen jepitan M seperli berikut:

M - Mo + 0,364 Ml
Mt = - 1,9 + 0,364(-4,0) = - 1,9 * 1,456 = - 3,356 tm
Mz : - 0,7 + 0,364'3,0 : * 0,7 + 1,092
+ 0,392 tm
M,= +0,2+0,364(-3"01 = -0,892tm
Mn: - 0,1 +0,364.4,0 = + 1,356tm
328

3-4 Ul *

Mi*,, =

6!:!Ld :61'
ht'

&:d

hr

-d = y+!f!6 E' kt

6!.!r.d _6E.kr-d A utu_h,


h,,
h,
6E.k,

oleh karena d parla titik simpul 2 dan d pada titik simpul 3 harus sama. kita boleh
menulis:

Yu h, = Y-t&t:L
68.k,

berikut:

Menurut rumus (7. 3. ) kita boleh menentukan


F,k

M*
t=
"tK't

Atas dasar pengetahuan ini, kita bisa menentukan perbandingan antara Mik,l
(momen jepitan sebelah kiri) dan M6., (momen jepitan sebelah kanan) seperti

Perhitungan gaya pengikat horisontal (Fa)seperti pada contoh 'l : F;1 = 3.51.

y.

pada batang

_ztn

pada batang 1

6E.kt

Mrk,l -. 4.0 rm
Mir.,z : +3.0tm
Mtr,r : -3.0tm
Mit,q : +4'0tm

Fo +

Gambar7.2.3. h.

W-kr.k,
Mi*.,

ht '

(7.5.)

h,

pada konstruksi portal dengan dua ruas dengan tumpuan berengsel lihat pada gam-

bar7.2.3. g. kita menentukan:

w=ki.k"
Mi*,, ht h,

(7.6.

Jikalau pada konstruksi portal dua ruas satu kaki tertumpu engsel dan kaki kedua
terjepit seperti pada gambar 7.2. 3. i. berikut, kita menentukan momen jepitan M;p
oleh pergerakan d (koefisien pergoyangan) menurut rumus berikut:

329

Gaya pengikat horisontal Fo* bagi tekanan angin sudah ditentukan di muka dengan
i:2 .,. 3.71 t.

Gambar7.2.3.

i.

Seka!'i:in;J kita memilih suatu pergerakan d (koetisien pergoyangan) yang mengakibatkan satu momen Mi*,2 = 10 tm. Jikalau titik simpul 2 bergerak oleh M7r,2
sebesar d, ritik simpul 3 bergerakjuga sebesar d; menurut rumus (7. 6.) kita boleh

nrenurut rumus (7. 1.) dan (7. 2.) momen jepitan M;1 adalah:
pada batang 1 -2Ul

padabatang3-4(r)

Mi*.r

Mi*.,

6+?d :

4+d

9!#j
4 E'

a=

menentukan:

Ua.t!,

fl

uu :

{}.L.

Mi*.r=

*,*,,

!il :

Mi*,, hr,z hr,o

!"' d * a = Ut*t!,,

kemudian:

o#:

2Q . 201
'
1o,o

400

500

o,
0,503

'# : 'to,zt6tm

oleh karena pada titik simpul 2 dan d pada tkik simpul 3 d harus sama kita bisa
menentukan perbandingan antara rnomen jepitan M;p1dan M;p,rseperti berikut:

w:3kt.2k,'
'
Mi*,,
hr

h,

Distribusi momen Mik menurut Cross:

17.7.t

'i*+1000

-01
+5

kita

+26

tidak mencari gaya pengikat horisontal Fpada konstruksi portal dengan titik simpul
yang kaku, melainkan dihitung sebagai konstruksi portal dengan titik simpul yang

ffi

contoh 3: Pada contoh 2 (konstruksi portal dua ruas) lihat gambar 7. 1. 3. i.

'^ tm
( .\_

gBTtm

9.37

r'i'

(IIII:Ii:FiFT
lT) (--) (+,

rN

goyah.

r__l

q=40t/m

3,75

tm

Ql3tm

ss

Ti
J

k.

Garflbar 7.2"
Garnbar
7.2"3.
3. k

I'l
i_l*
Gambar 7. 2. 3. l.

-Mo.z: Mo.s = -

3.75tm
3. 13 tm (lihat gambar 7.3.2. l.l

Gaya pengikat horisontal Fobagibeban merata:

3,13
_ 3,75
Fa:-.
_-_ *
"
- =-0,75+0,78=+0,03t
5,0 4,0

330

GambarT" 2.3.

m.

Momen M,radalah:

Gambar7.2.3. n.

Mix.z: + 9.37tm

M*.s:-9.87tm
Gaya pengikat horisontal F,1 oleh momen Mik:

Fx

Ukuran konstruksi portal, beban merata, tekanan angin, angka-angka kekakuan


batang dan koefislen distribusi dsb. diambil dari contoh 2, bab7. 1.3.

Momen Mo adalah:

: +ffi . ffi

1,874 + 2,47 =

4,s4t

Menurut rumus (7. 3.) kita bisa menentukan rl:

u --

F./Ft^

,t=- 0.03
4,U

=-0,0069=0

Oleh karena r: (hampir) nol pergoyangan pada konstruksi porta{ dua ruas ini karena beban merata (konstruksi atap) boleh dikata.kan tidak ada.
Akan tetapi pergogyangan ada oleh beban (tekanan) angin. Menurtrt rumus (7. 3.)
kita blsa menentukan pr:

u=-

(-3.7)

454 ==+0,85
3['1

Momen Mo sudah ditentukan pada gambar 7. 1. 3. m. dan 7. 1. 3. n. dengan:

'tr.t

Mo,z= -3,29tm
= + 0,18tm

FI

Mo,t

Menurut rumus (7. 4. ) kita bisa menentukan momen M2dan M, seperti berikut:

M = Mo+ l'Mix
Mt= -3,29+ 9.37'0,85: -3,29 + 7,96: + 4,67tm
Mt: + 0.18-9,87'0.85: +0,18-8,39= -8,21tm

Gambar

Gambar7.2.4. a.

dan rumus (7. 4. ) seperti berikut:

Ft,o
Ftt.,

t lrt' Ft,, + w'


*

irr ' Ftt..

Ft,z

+ ttz' Ftt,z:

dengan faktor pergoyangan


N
b

I-r1

(7.8.

(7.9.)

3,00 w7

lt< |

o
c)

iW+
..l+
t3,5

iil

7.38

2,48

l;-'1,I'
11,l*- q95 *

437

tm

4,

/J

+,.\-

o
it'

Fto

14

J--

2,80

Gambar7.2.4. d.

5,00,
Gambar7.2.4. c

332

428

,u

<!)'

Sistim perhitungan pada konstruksi portal dengan titik simpul yang goyah
menjadi lebih sulit jikalau ada beberapa gaya pengikat horisontal (Fo). Misalnya
pada konstruksi portat bertingkat pertama kita menggerakkan tingkat satu dengan
koefisien pergoyangan d-1. Selanjutnya kita memperhatikan tingkat satu sebagai
kaku dan menggerakkan tingkat dua dengan koefisien pergoyangan J,, dsb. Pada
prakteknya kita mulai perhitungan pada tingkat teratas dan menurun tingkat demi
tingkat ke bawah.

(7.10.)

Contoh: Pada contoh 3, konstruksi portal bertingkat dengan titik simpul yang kaku,
Iihat gambar 7. 1. 3. o., kita tidak mempunyai lagi gaya pengikat horisontal Fo.1 dan
Fo,11 melainkan suatu tekanan angin W, ..- 1.5 t dan Wo: 3.5 t.
Ukuran portal, beban merata dsb., angka kekakuan batang dan koefisien distribusi
masing-masing diambil juga pada contoh 3 bab 7. 1. 3. Gambar situasi dan gambar
dengan momen masing-masing diperingatkan sebelah bawah:

2.3. o

goyah

dan p, kita boleh menentukan M seperti berikut:

M = Mo + yi Mt + yz'Mz

7.2.4. Konstruksi portal bertingkat dengan titik simpul yang

2. 4. b.

Dengan memperhatikan perhitungan secara ini, kita boleh memenuhi rumus (7.3.)

Perhatikan perobahan besar bagi momen ini kalau dibandingkan dengan momen
Modari portal dua ruas dengan titik simpul yang kaku.
Menggambar diagram momen-(Mo + y.Mll oleh tekanan angin:

Gambar 7.

7.

J,._
tm

?,37

a52
t,

ls-

1,75

lo

l,* l'*

0,26

Gambar7.2.4.

e.

333

Gaya pengikat horisontal F1,o dan


F;1,o

Fs1.o oleh gaya dan beban yang vertikal menjadi:


oleh momen jepitan dari batang 1-4,2-5 dan 3-6 menurut Gamhrar 7.2. 4. d.

M11

menurut Cross:

o(9o

-,-- =- *0,vl7t
- 4,28 * 4,37 + 1,8 + 0,95 + 2*9t 39
3,00--:*-

Fu,o
Fq,o

Distribusi momen

eo@

*l3gP-llpl

sRtB;t*lisl
ll+

rl+lLIl

rlt

+r

I+lLrl

oleh momen jepitan dari batang 4-7 ,5-B dan 6-9 menurut gambar 7 .2. 4. e.

Fr,o: + 0,347 +

4,73

2,37 + 0,52 + 0,26

4,00

1,15

=-

0,796

,rLLo
+26-

@oo

Gaya pengikat horisontal Fyyl,o dan F1ry11,o oleh gaya (tekanan) angin. Oleh karena
tekanan angin W, dan Wo membebani konstruksi portal ini pada titik simpul 'l dan 4,

tekanan angin tidak mengakibatkan momen pada konstruksi portal ini, Gaya

Ganl

pengikat horisontal

-_-J
-9
I
- l2t
-83

Fwrr,u

: -

F,,ry1,o

dan

F*,,

1,5t

F1ry'1.o

: -

menjadi sama dengan WrdanWo.

3,5t

Perhitungan rnomen M1 dan Mnoleh pergerakan (koefisien pergoyangan) d, dan d,,


sembarang:
Atas penentuan koefisien pergoyangan d1 yang sembarang bagi tingkat satu pada
konstruksi portal bertingkat ini, kita juga harus mencari koefisien pergoyangan ,11
untuk tingkat dua untuk menentukan momen Mldan Mupada akhirnya.
Setindak demi setindak kita bisa menghitung seperti berikut:

+1000

lEllt*ro+iG
lNq+6
I
l+N
Llllr+ll+lt
lHll
lA[

@
-96

Penentuan momen Mil:

Koefisien pergoyangan d', sembarang pada titik simpul 1 rnengakibatkan pada

batang 1-4 suatu momen M6,rdan Mi*,. : +


Menurut rumus (7. S.)tita boleh menghitung:

'10

hz,s

Atas dasar distribusi momen menurut Cross momen-momen Mn rneniadi:


pada titik simpul

hr,o

kz

-Miu,, - kr,.o

tvtik'2. -= M.1.. !-]-L


-M,
'vt*'r k*

Menurut contoh 3 pada bab 7 . 1 . 3. angka kekakuan batang kr-r


zlzl.t[,

Mix,,

10.0. 444/298

298 dan

kr-, =

14,90 tm

Oleh karena angka kekakUan batang 3-6 sama dengan batang 1-4 kita boleh menentukan, bahwa Mi*,. = M;1,6 juga menjadi 10 tm seperti juga Mip,rdan M;p.0.

334

2l

7.54tm

3 2\
batans3-6t
pada titik simpul 4: batang 4
batang 4
- 5
batang 4 - 7
pada titik simpul 5: batang 5
- 4
batang 5 - 2
batang 5 - 6
batang 5 - 8
pada titik simpul 6: batang 6
- 5
batang 6 - 3
batang 6 - 9

6.37 tm
6.13 tm
12.50 tm

pada titik simpul3: batang

s6l66jrr16ya kita menentu kan

Mi*,r:

1: batang 1 -

batang 1 - 4l
pada titik simpul2: batang 2
- 1
batang 2
- 3
batang 2 - 5

oleh karena h2 5 soma dengan hj_4 kita menentukan:

Garnbar 7. 2. 4. f.

tm.

Mir.r-&;-.luMix.,

CIo@

7.34tm
7.78tm

5.72
2.06
5.17
12.6'l
+ 5.30

tm
tm
tm

tm
tm

2.14tm
+
+

6.19 tm
7.49 tm
1.30

tm
335

-v
7: : +

rumpuan

Distribusi momen M7 menurut Cross:

1.03tm

: + 1'07 tm

\r6a rumpuan 8:

, oengikat horisontal Fx,2dan

o@e

@eo

\ad'

sr-:t**li{l
+1 I r1+ rll +t

* ctr do cJls-l
Nq
t$l
+|lr.lrqt+l

F1,2oleh My:

Gay'"'

12.5

-41

734

4'li-\-\2-

i\-

{u-

tnt

1,03

1,30

tr

J,* I,*

l,

7,49

12,61

.rnin

2,14

2,06

1,07

Gambar 7. 2. 4. h.

-n67.2.4.9-

E@

+2
+6

G|f'-

:.-T

.rrrut gambar

.2.4. g. gaya pengikat horisontal

F11,2

meniadi:

-txtt

lle"'l
z

-140nurut

+1380

- t!!
Bl. l.,i-Tlrl il5
e@oo +7

3'oo

Ft,,

[.r r;al

gambar7. 2. 4. h. gaya F1,2menjadi:

dlt'

2.06

il-.--18,42*ff

1.03

2,14

1,07

momen Mi.

*.]13!

^ooilan
p0r'l-1sn
pergoyangan d1 sembarang pada titik
yoe"no4_7 pada titik simpul 4 dan 7 suatu momen

= _ 20,31

4 mengakibatkan
Mi*,a - M*.7 - + '10 tm.
simpul

bat'',irtrumus (7. 5.) dan rumus (7. 7.) kita boleh menghitung:
t\,lEI'"

M,r.o
tril,b,

[*]l**1.:lesisl

+ 7J8 + 12,fi + \2,61 + 7,34 + 7,49 _ .a


lg'azA.r +t

,il

,*,

:1o,oo

2 k6.g

3 kq.t

'

H:

,o,oo

13,8

?:ffi=

tm

3.5tm

Gambar7.2.4.

pada

Atas dasar distribusi momen menurut Cross. momen-momen Ml meniad|.

padatitiksimpul 1: batangl

-2\=
4t
pada titik simpul 2:
1 =
batang2-3 =
batang2-5 =
pada titik simpul 3: batang 3 - 2
I=
batang 3 - 6,
padatitiksimpul4: batang4-1 batang4-5 batang4-7 pada titik simpul 5: batang 5
-4 =
batang5-2 =
batangS-6 =
batang5-8 =
pada titik simpul 6: batang 6 .. 5 =
batang6-3 =
batang6-9 =
batang 1 batang 2 -

_
+
*
+
+
+
+
+

0.57tm
0.46 tm

0.25tm
0.71tm
0. 17

tm

1.35tm
6.35tm

7.70tm
5.84 tm

l.60tm

3.94tm
+ 11.38rm
- 2.fXl tm
-* 0.35tm
3.18tm
337

pada tumpuan
pada tumpuan

7: :
8: :

Mornen pada titik simpul 1:


bratang 1-2 =- 4,28+0,1094'(*

8.85 tm
12.59 trn

batang
Gaya pengikat horisontal

057

F11.1

Q7t

tt;-

batang 2*1
batang 2 * 3
batang 2*5

t,

1,60

k.

GambarT' 2.4. l.

a,57

0,71

0,17 - 1,35
3,00

F11,1

4,',r3

tm

4,13 tm

= -13.95+0,'1094'(+ 0,46) + 0,0282'(- 6,37) =


= - 12,57 + 0,i094' {- 0,25) + 0,0282'( + 6,131 =
- + 1,38 + 0,1094'(- 0,71) + 0,A282 '(+ 12,501 =

-* 14.08 tm
12,43tm
+'l ,65tm

+1,8+

7,70

11,38 + 3.18 + 8,85

12,59

4,m

3-2 : 3-6 = -

0,17) + A,0282'(- 7.34) "=


2,M +0,'1094'(+ 0,17) + A,0282'l-- 7,&l =
2,48 +0,1094'{+

Momen pada titik simpul 4:

Eo .i
- 0,35 : .r.CO

1,60

batang
batang

2,67 tm
2,67 tm

menjadi:

4*1 : +
4--5 = batang 4-7 = -

batang
batang

dan menurut gambar 7. 2.4.1. gaya F;.1 menjadi:

FLr=

+0,0282'(+ 7,54l=
+0,0282'(+ 7,541 -

0,35

menurut gambar 7. 2. 4. k. gaya pengikat horisontal

il.t -

0,57)
0,57)

Momen pada titik simpul3:

Gambar7.2.4.

+0,1094'(-

Momen pada titik simpul2:

,1,* *lr- ,]r.-

l,J|tm

4,28

clan F1,1 oleh Mp

An

ri-

1*4:*

=+

12,51

4,37 +0,1C8)4'("r9.10 + 0,1094'(+

4,73+ 0,1094'(+

'1,35) + 0,0282 '


6,35) + 0,0282'
7.7 l .+ 0.0282'

(- 7,78) = +
(+ 5,721 = { - 2.06i = -

4,30 tm
8,24 tnt
3,95 tm

Penentuan faktor pergoyangan tr1 dan 1t2i


Faktor-faktor pergoyangan 1,lt dan p2 bisa diperhitungkan dengan penggunaan

rumus (7.8.)dan rumus (7.9.)seperti berikut:

+ ltr' Ft,, + irr' Ft,z :O


Ftt,o + lrr ' Flt,, + lrz' Ft,z: O

Momen pada titik simPul 5:


batang 5*4 = * 16,61 + 0.1094'(batang 5 -- 2 = -- 0,95 + 0,1094'( +

batang
batang

5-O :
5-8 :

5,84) + 0,0282' (- 5,171 =


1,6 ) +" a,0282 '(-- 12,61) =
+0,1094'(+
3,9'4) + 0,0282' (+ 5.30) =
-15,14
+ 0,52 + 0,1094'(+ '11,38) + 0,0282 ' (-. 2,14) =

* 17,40 tm
-* 1,13tm
14,56tm
+ 1,70 tm

Ft,o

Momen pada titik simpul6:

a) dengan hasil pada gaya dan beban vertkal:

- 0,796 + lL'12,51 + lz' l- 20,3) : 0


- 0,U7 + lrr'(- 1,58) + lz'18,42:0
b) dengan

Fr = 0,1094

yz'(- 20,3) :
'l
- ,5 + lr''(- 1,58) + ttz'18.42:

0
O

6-5 : 6-3 : +
6--9 : -

4,55 + 0,1094't- 2,83) + 0,0282 '{- 6,19} = - 5,03tm


2,80 + 0,1094'(-' 0,35) +0,0282'lt'7,491 =+ 2,97tm
1,75 + 0,1094' (- 3,18) +0,0282'(+ 1,30)=- 2,06tm

lz= 0,0282
Momen pada tunrpuan 7:

hasil pada gaya (tekanan) angin:

3,5 + itt'12,51 +

batang
batang
batang

lVl.r

t\:

,=

2,37 + 0,1094.

(*

8,85)

+0,0282.{+

1"03}

= + 1,43tm

A,0282.1+

1,07)

=-

O,479

b:0,123

Momen-momen oleh beban vertikal sebetulnya bisa ditentukan menurut


17. 10.1 seperti berikut:

Momen pada tumpuan 8:

Me: * 0,26+ 0,1094. (*

12,59) +

1.61tm

M = Mo+ ltt'Mr + iz' Mt


Momen Mo diambil pada contoh 3 di bawah gambar 7. 1. 3. p.
338

339

Gambar diagram momen oleh gaya dan beban vertkal:

Momen pada titik simpul 4:

batang4-1:0,479'l+
batang4- 5 = 0,479.(+
batang4-7:0,479'(+

r'
6

t\
lo
3's{'

Momen pada titik simpul 5:

batang
batang
batang
batang

5555-

4 = 0,479' (2: 0,479 . (+


6 : 0,479 . (+
8 = 0.479' (+

Momen pada titik simpul 6:

batang
batang
batang

Ir;ii

+ 0,123.1*
+lO,tZS.l+
7,70t. +0,123.(1,35)

6.35)

6- 5=
6- 3=
6- I =

5,84)

1,6

3,94)
11,38)

+ o,'t23 . (- 5,17) =
+ 0,123 . (- 12,61 ) =
+ 0,123 . (+ 5,3 ) :
+ 0.123 l- 2,141 =

. l. l. (-

2,831
0,35)
3,18)

+ 0,123 . (+ 0,123 . l+
+ 0,123 . (+

6,19)

0,479 (-

8,85)

' (+

1,03)

0,479
0,479
0,479

Momen pada tumpuan 7:

Mz =

Momen pada tumpuan 8:

Ma

= -0,31 tm
= + 3,74tm
2,06) = +3.2t4tm

7,781
5.721

0,479

0,123

. (_ j2,S9t + 0,123 . (+

- 3,42 tm
- 0,78 tm
+ z,il tm
+ 5.18 tm

: - 2,"12 tm
7,491 = + 0,75 tm
'1.3 ) =
- 1,S tm
: -

1,07) =

4,10 tm

5,89 tm

Gambar diagram momen oleh gaya (tekanan) angin:


(o

(o

Gambar7.2.4. n.

?+r,20

Gambar7.2.4.m.

Momen-momen oleh tekanan angin yang sebetulnya bisa ditentukan juga menurut
rumus (7. 10). perlu hanya diperhatikan. bahwa Mo : O.
Momen pada titik simpul

batang

1:

1-2 =0,479'l-

batangl-4=+0.62tm

0,57)

+ 0,123'l +

7,5a1

= + 0,65tm

Momen pada titik simpul 2:

batang2-1=0,479 '(+ 0,46) + 0,123'l+ 6,37) = -0,56tm


batang2-3:0,479 '(-0,25) + 0,123'(+ 6,13) = + 0.63tm
batang 2 - 5 = 0,479' l- 0,711 + 0,123' (- 12,50) = + 1,20 tm
Momen pada titik simpul 3:

batang
batang
340

3 - 2: 0,479'l+
3-6 : -0,73tm

0,171

+ 0,123'l-

7,231

: -

0,82 tm

341

Dengan pengetahuan yang ada sampai sekarang kita hanya bisa menentukan len-

dutan pada balok tunggal menurut bab 2.8. (Perhitungan lendutan dan garis
elastis). Untuk perhitungan lendutan pada konstruksi rangka batang misalnya

Perubahan bentuk elastis

8.

belum ada pengetahuan dasar.

Pada bab-bab berikut kita menentukan cara untuk memperhitungkan perubahan


bentuk elastis tidak hanya pada konstruksi batang dan rangka batang melainkan
juga perubahan titik simpul pada tiap jurusan sembarang'.

8.1.

Pengetahuan dasar

8.2.

Teoritentang keria virtual

Pada bab 2. (llmu inersia dan ketahanan) sudah ada beberapa ketentuan
dan rumus tentong perubahan bentuk. Dengan pengetahuan itu, terutama bab 2. 3.

8.2.1. Kerja virtual

2. (Gaya torsi) dan 2. 8. (Perhitungan lendutan dan garis elastis), kita bisa
menghitung lendutan dan putaran pada konstruksi batang dengan garis sumbu
yang lurus. Pada perhitungan perubahan bentuk untuk konstruksi rangka batang
dan untuk konstruksi derrgan sistim statis tidak tertentu kita dalam bab ini mencari
metode-metocje untuk menentukan perubahan bentuk pada konstruksi-konstruksi

Asas tentang kerja virtual ditemukan oleh Lagrange pada tahun 1788.
Tetapi harus dikatakan, bahwa pada prinsipnya kerja virtual sudah diketahui lebih
dahulu. Mengenai asas kerja virtual kita mengakui bahwa ini bukan satu ketenttlan
atau perjanjian, oleh karena dalam beberapa hal asas ini tidak mungkin dibuktikan.
Akan tetapi dari penggunaan dan pengalaman kebenaran asas tentang kerja virtual

dalam bidang. Selanjutnya kita terutama memperhatikan perubahan bentuk elastis,


sedang hubung6n hubungan teoretis hanya ditrerikan sedikit saja, menurut keoerluan dan secara umunl.
Teori-teori tentang perubahan bentuk elastis yang lebih luas dan lebih dalam membr.rtuhkan keluasan studi/mata kuliah jurusan arsitektur.
Berikut daftar perubahan bentuk dalam alasan yang bisa mengakibatkannya:

Gaya normal
perubahan suhu seragam

Momen lentur
ba-

wah pada suatu konstruksi batang

Pada konstruksi batang dan rangka batang momen torsi tidak timbul, karena itu
selanjutnya kita membatasi diri pada pembicaraan tentang pemutaran. Juga pada
bab 2. (llrnu inersia dan ketahanan), kita telah mempelajari, bahwa pengaruh gaya

lintang pada lebar bentang dan ukuran balok yang biasa, pada umumnya kecil
sekali. Karona itu selanjutnya kita juga mernbatasi diri pada pembicaraan tentang
hal itu dalam buku ini. Fada umumnya kita hanya memperhatikan gaya normal,
momen lentur dan perbedaan suhu untuk menentukan perubahan bentuk, dan
terutarna yang harus diperhatikan ialah lendutan.

342

menerangkan seluruh Statika atas dasar asas tentang kerja virtual, kebalikan
dengan misalnya buku ini, yang menerangkan dasar-dasar statika atas jajaran
(belah ketupat) gaya-gaya.

Selanjutnya penerangan mengenai asas kerja virtual langsung mulai pada


konstruksi batang dan rangka batang dalam bidang. oleh karena bagi kita dalam
buku ini yang penting ialah prakteknya. Oleh karena itu asas tentang kerja virtual
pada suatu titik atau suatu benda dalam ruang kita terbatas.
Kata 'virtual' dari bahasa latin = virtus : kemungkinan, kemampuan, mengandung maksud, bahwa pergeseran/pergerakan dalam jurusan sembarang harus
mungkin. akan tetapi hubungan antara bagian-bagian konstruksi batang atau
rangka batang tidak boleh terusakkan.

Gaya lintang

Suhu yang berbeda pada sisi atas dan sisi

sebetulnya sudah cukup dibuktikan. Ada beberapa buku ilmu mekanika teknik yang

Sebagai keterangan kita membayangkan suatu konstruksi batang atau rangka


batang dikenai gaya-gaya P1 dan momen-momen M1.
Gaya-gnya dan momen-momen ini menjadi satu kumpulan yang seimbang. Kita
boleh rnengntakan:

trr-o tr*r* t*r=o

Dalam rumus ini ry menjadi jarak siku-siku dari gaya Ppdan suatu titik kutub sembarang. Perubahan bentuk pada konstruksi batang atau rangka batang mengakibatkan pergeseran d dan perputaran (p, pergeseran titik simpul k yang bertepatan
dengan jurusan gaya-gaya P1 disebtltkan sebagai d1.
Selanjutnya kita membayangkan beban konstruksi batang atau rangka batang oleh
suatu kumpulan gaya virtual. Untuk gaya-gaya virtual dan momen-momen virtual
ini kita boleh juga mengatakan:
343

4F* =

itrrrr

* |Mx:

Selanjutnya kita menyebutkan sernua g6ya, momn, ukuran atau nilai yang
berhubungan dengan kumpulan gaya virtual dengan garis melintang di atas hurufnya. oleh kumpulan gaya virtual titik simpul k mengalami suatu pergeseran virtual
d1. Tergantung pada bentuk dan cara konstruksi batang atau rangka batang dan
menurut besarnya kumpulan gaya virtual, pergeseran virtual bisa amat kecil.
Batasan ini sebetulnya suatu keharusan supaya jurusan gaya-gaya p1 tidak mengalami perubahan.
Pada gambar (8.2. 1. a.) berikut kita melihat suatu titik simpul

pada suatu
konstruksi batang atau rangka batang dikenai gaya-gaya p1 (resultante). oleh
beban kumpulan gaya virtual titik simpul k mengalami pergeseran ke k-. Karena
penggeseran lurus v1 menjadi amat kecil kita juga boleh mengatakan, bahwa penggeseran itu menjadi satu sektor lingkaran dengan jari-jari ek, atau dengan kata-kata
lain, tiap pergeseran yang amat kecil boleh juga ditentukan sebagai suatu putaran O
pada suatu titik kutub O.

\
Gambar8.2.1.a.
Pada persarnaan keseimbangan di atas titik kutub masih sembarang.
Pada gambar 8.2. 1. a. dipilih titik kutub O dan boleh dikatakan:
so<p

d1-vlcosW
&: qrcosV
6] = p^a*cos V=

2Ppi 1+ \Mptp = g

momen virtual) menjadi nol.


Antara gaya-gaya P1 dan momen-momen Mkyang diterima oleh konstruksi batang
atau rangka batang, dan gaya virtual P1 dan momen virtual Mptidak ada hubungan.
Hanya dasar-dasarnya yang sama yang menentukan bahwa jumlahnya harus seimbang.
Giliran ini boleh juga dibalik, sehingga pertama kumpulan kerja virtual meng,enai
konstruksi batang atau rangka batang, dan pergeseran diakibatkan oleh kumpulan
gaya Ppdan momen M1. Ketentuannya tidak diubah, dan hasilnya seperti berkut:

lMr*=s

(8.2.)

Rumus (8. 2.) boleh digunakan untuk menentukan konponen perubahan bentuk
oleh suatu kejadian perubahan bentuk yang tertentu dan oleh suatu kefadian
perubahan bentuk sembarang. lsi rumus ini dinamakan sebagai asas kerja virtual.
Rumus ini menjadi dasar $erhitungan-perhitungan perubahan bentuk pada sistim
statis tidak tertentu.
Sebagai kebalikan dari dasar itu kita bisa mengatakan selanjutnya:

tadi, maka rerdapat rumus (8. l.):

(8.1.1

Menurut ketentuan ilmu alam suatu hasil kali di bawah satu angka jumlah r adalah
suatu kerja. Oleh karena kerja ini diakibatkan oleh suatu kumpulan gaya virtual kita
menamakan kerja ini kerja virtual.
344

beban. gaya dan momen menjadi seimbang, seharusnya jumlah pergeser-

an oleh kerja virtual yang amat kecil (jumlah gaya virtual dan jumlah

gaya menjadi nol, gaya-gaya itu berarti dalam keseimbangan.

hasil-hasil ini bisa diiskan pada rumus ZM

Jikalau suatu konstruksi batang atau rangka batang yang menerima

Jikalau pada suatu pergeseran virtual sembarang pada suatu konstruksi


batang atau rangka batang jumlah semua pekerjaan dan junrlah semua

r*tp

rk= {r
q
=
n

Rumus (8. I.) menentukan, bahwa jumlah semua kerja virtual menjadi nol, atau
dengan kata-kata lain:

iPkdk

tr :

Jikalau gaya virtual dan pergeseran berjurusan sama atau momen virtual
dan perputaran jurusannya sama, kerja virtual menjadi positif (+ ) jikalau
krorlawanan menjadi negatif (-).

8.2.2. Persamaan keria pada konstruksibatang


Pandangan-pandangan dari bab 8. 2. 1. yang umum kita lanjltkan pada
konstruksi batang. Pada bab 8.2.'l . ditentukan, bahwa jumlah gaya dalam dan
gaya luar seimbang. Juga pada konstruksi batang jumlah kerja virtual harus menjadi nol. lni berarti, bahwa kerja virtual luar 4, menjadi sama dengan kerfa virtual
dahmA;.
345

selalriutnya kita perhatikan kerja virtual luar. sampai pada saat ini belum ada ketentuan apa pun bagi gaya virtual baik banyaknya maupun ukurannya. sebetutnya
srrttu gaya

Fatau yang berhubungan dengan satu

mo{yleR &ddengan reaksi-reaksi

tumpuannya sudah mencukupi untuk penentuan nihi beban virtual. pada umurnnya dianggap F

1.0 atau M

1.0 maka kita katakan:

Ai

dengan Pk = 1,0
Aa = f,O,px + ZCc: Ao, dengan Mk : 1,0
Aa

t,Oa* + ZCc:

2. lVlomen lentur
Oleh pembebanan dengan momen lentur maka batang akan melengkung.
Perubanan J:entuk oleh sudut putar rp pada garis elastis boleh ditentukan seperti

berikut:

A:,J"'-i

: 41-

2Cc

1,4 qk

= Ai

-ds
EI

keria virtual dalam oleh momen lentur boleh kita tentukan sebagai berikut:

Nilai dpada penentuan ini meniadi reaksi tumpuan oleh beban virtual dan c meniadi
pergeaeran tumpuan pada arah (jurusan) reaksi tumpuan. Penentuan ini b&h
iuga
dirrbah dengan hail berkut:
1,0 dk

,^- q--) (
oan

!=A.].Y.'rq--M
- Et 'G--E/
Aiw =

rMM o"

(8.4.)

) -pT

- tCc

Pergeseran pada titik simpul k sebetulnya adalah kerja virtual dalam, dikurangi
dengan kerja virtual tumpuannya. Kemudian kita harus menentukan kerja virtual
dalam. oleh karena kerja virtual luar menjadi hasil kali gaya virtual luar dan penggeseran yang sebenarnya. Atas dasar ini boleh kita katakan, bahwa kerja virtual
dalam seharusnya hasil kali beban virtual dan perubahan bentik yang sebenarnya.
Selanjutnya kita menentukan kerja virtual dalam oleh pengaruh masing-masing.

1. Gaya normal
Perubahan memanjang pada suatu batang oleh gaya normal dapat ditentukan

3. Perubahan suhu seragam (t"l


Perubahan paniangnya batang oleh perubahan suhu seragam adalah:

As

- 4/ss

t'

atau: As - J

or'rds

kerfa virtual dalam oleh perubahan suhu seragam boleh kita tentukan sebagai
berkut:

r rly'a,tds

Ao,: J

(8.5.)

dengan:

As=

4. Suhu yang berbeda.pada sisi atas dan sisi bawah pada konstruksi

EF'

betang (Atl

Baiklah kita meneliti rumus ini obh karena mernilng mungkin gaya normal (rv) atau
luas batang (F) tidak menjadi tetap pada selr.rruh paniang (s) dari batarlg itu, rnaka
kita menulis:

a": Joa" :

I !, o'

346

8rro,

melengkung. Perubahan bentuk oleh sudut putar


tukan sebagai berikut:

1
1 _ d<p dan
p ="_4f
h'a
ds

kerja virtual dalam obh gaya normal bobh kita tentukan sebagai berikur:

o,r=

Oleh suhu yang berbeda pada sisi atas dan sisi bawah maka batang akan

q= )

pada garis elastis boleh diten-

(o.At
, d"

kerja virtual dalam oleh suhu yang berbeda pada sisi atas dan sisi bawah boleh kita
tentukan sebagai berikut:

(8. 3.)

a,o,=

{ nff

a'

(8.6.)

347

5. Gaya lintang
Walaupun kita menentukan atas dasar bab 8. 1., bahwa pengaruh gaya lintang
terlalu kecil dan boleh diabaikan, kita menentukan selanjutnya kerja virtual dalam.
Pergeseran pada garis sumbu oleh gaya lintang adalah:

w= )

(xA
*

ds

kerja virtual dalam oleh gaya lintang boleh kita tentukan sebagai berikur:

a,o-Jffa"

(8.7.)

Dengan begitu kita sudah mengetahui masing-masing bagian dari kerja virtual
dalam. Persamaan kerja pada konstruksi batang dibaca seperti berikut:

t,odr=

I#a"+ J !,

o,:

I#

a"--

f N,s,a,+ J u ff

a,->cc
(8.8.)

'l

Sebetulnya faktor. .O pada sebelah kiri boleh dihapuskan oleh karena tidak ada
pengaruh atas hasil persamaan kerja ini, walaupun kita tidak boleh lupa, bahwa
faktor il6 sebelah kiri menjadi kerja virtual luar.
Pada persamaan kerja pada konstruksi batang ini masing-masing bagian berarti:
M, N, Q
Momen. gaya normal. gaya lintang pada titik x oleh beban yang

Dengan bantuan rumus (8.8.)kita bisa menentukan pergeseran d* pada suatu titik
pada satu konstruksi batang di bawah pengaruh momen lentur, gaya normal,
gaya lintang dan perubahan suhu. Selanjutnya kita menentukan masing-masing
diagram gaya lintang, gaya normal dan momen oleh beban sebenarnya (dasar) dan
selanjutnya kita tentukan diagram masing-masing tsb. oleh gaya virtual Fr = 1.0.
Pada waktu itu gaya virtual F1 = 1.0 bekerja pada titik dan jurusan pergeseran d1
yang dicari.
Jikalau kita mencari perputaran 91 garis sumbu batang pada titik k kita juga boleh
menggunakan rumus (8.8.). Sekarang hanya kita pasang momen virtual ilr = l.g
pada titik dan jurusan putaran yang dicari. Bagi beban ini kita menentukan diagram
masing-masing tersebut.
Momen, gaya normal dan gaya lintang berhubungan dengan suatu bagian batang
yang amat kecil (ds) pada suatu titik sembaran S. M, N, Q dan il, y'rl, O menentukan
nilai-nilai pada titik x pada suatu konstruksi batang. Pada perhitungan integral
fungsi-fungsi pada tiap-tiap gaya harus dikalikan sebelum diintegralkan. Pengintegralan berhubungan dengan seluruh panjangnya konstruksi batang. Pengintegralan
itu mula-mula kita rasa agak sulit. Akan tetapi pada pembebanan yang biasa timbul,
kita mempunyai tabel-tabel yang sudah diintegralkan pada lampiran l. 2. dan penggunaannya dapat diterangkan pada bab 8. 2. 4. (Hasil pengintegralan pada kerja
virtual).
Persamaan kerja pada konstruksi batang (8. 8. ) diisi semua kemungkinan
pembebanan pada konstruksi batang dalam bidang. Suatu perubahan tumpuan

tidak terjadi selalu, dan pengaruh pada .suatu perubahan suhu

Atas dasar ini, selanjutnya tinggallah suatu rumus yang jauh lebih sederhana:

sebenarnya

M, N,

d
c

Af
h
s
ds
I, F, E,
G

at
x

348

Momen, gaya normal, gaya lintang pada titik x oleh beban virtual
= 1.O atau M* = 1.Q pada titik ke arah d1 atau dengan sudut p1

Fp

Reaksi tumpuan oleh beban virtual


Pergeseran sebenarnya dari titik tumpuan dalam jurusan reaksi tumpuan (pada umumnya menjadi nol)

Perubahan suhu seragam


Perbedaan suhu antara sisi atas dan sisi bawah pada suatu batang
Tinggi balok (batang)
Panjangnya balok (batang)
Sebagian dari batang yang amat kecil
Momen lqpbam, iuas batang dan modul elastis pada batang
Modul pergeseran (lihat bab 2. 3. 1.)
1 /oC angka penguluran suhu
faktor koreksi (kappa) bagi gaya lintang, oleh karena gaya lintang
sebetulnya tidak tetap pada tingginya bentuk batang. Nilai tergantung
pada bentuk (m,isalnya bagi bentuk segiempat sejajar x = 1.2)

biasanya

diperhitungkan terpisah. Pengaruh pada gaya normal dan gaya lintang, seperti
sudah dikatakan pada bab 8. 1. (Pengetahuan dasar) blasanya boleh diabaikan.

1,Odk:

f uart
) :; a"

Jikalau kita perhatikan momen lembam / yang tidak tetap, kita isikan suatu perbandingan momen lembam l./ I ke dalam rumus yang tadi seperti pada syarat persamaan tiga momen (Clapeyron) (6. zl9.) atau pada bab 2. 8. (Perhitungan lendutan
dan garis elastis) dan menghasilkan:

l,oEtcau:

ft

)uula"

{8.9.}

Biasanya digunakan hanya persamaan kerja pada konstruksi batang ini untuk
menentukan pergeseran pada konstruksi batang. Pada bab8.4. 1. (Pergeseran dan
perputaran pada konstruksi batang) kita mendapatkan beberapa contoh yang
menggunakan persamaan kerja pada konstruksi batang (8. 8) dan (8: 9.).

8.2.3. Persamaan kerja pada konstruksi rangka batang

8.2.4. Hasil pengintegralan pada keria virtual

Atas dasar pengetahuan persamaan kerja pada konstruksi batang kita


bisa dengan mudah menentukan persamaan kerja pada konstruksi rangka batang.
Pada konstrukei rangka batang tidak ada momen lentur dan gaya lintang. Gaya normal, pada konstruksi rangka batang ditentukan sebagai gaya batang S dan .S menjadi tetap pada seluruh panjangnya batang s, dan oleh karena itu tidak perlu lagi
menghitung dengan integral. Selanjutnya cukup jikalau dihitung dengan I (jumlah)
batang dan beban.
Maka persamaan kerja pada konstruksi rangka batang dibaca sebagai berikut:

Pertama kita menghitrng pergeseran dengan bantuan persamaan kerja


pada konstruksi batang pada suatu contoh sederhana. Kita akan menentukan lendutan pada pertengahan suatu balok tunggal dengan momen lembam / tetap dan
beban merata S. (lihat gambar 8. 2. 4. a.l .
Pada contoh ini kita mendapat momen lentur dan gaya lintang, yang pada contoh

ini kita abaikan. oleh karena pada contoh ini tidak ada perubahan suhu

atau

penurunan tumpuan kita boleh menggunakan persamaan kerja pada konstruksi


batang {8. 9.). Gaya virtual P = 1.0 kita tempatkan pada tempat dan jurusan
pergeseran yang dicari.

Loa*

=:H

"

+ :s-a,rp-

Ic"

Contoh:

(8. 10.)

Beban yang sebenarnya


dengan bidang momen M

Pada persamaan kerja pada konstruksi rangka batang ini masing-masing bagian
berarti:
S gaya normal pada batang vang sebenarnya
5 gaya normal pada batang oleh beban virtual P1 = I.0 pada titik simpul t pada
jurusan pergeseran d1
s panjangnya batang masing-masing
Bagien-bagian yang lain sama seperti pada bab 8. 2.. 2. Persamaan kerja pa(a
konstruksi batang (8. 8.). Oleh karena sekarang kita memperhatikan konstruksi
rangka batang kita lmrus mengawasi, bahwa gaya virtual P : 1.0 tidak bekerja lagi
pada suatu titik k sembarang, melainkan pada suatu titik simpul *.
Untuk menentukan pergeseran dp, kita pertama-tama dengan bantuan Cremona
atau Cullmann-Ritter mencari gaya batang S masing-masing yang se[enarnya.
Selanjutnya sekali lagi untuk mencari gaya batang S masing-masing oleh gaya virtual P: 1.0 pada titik simpul k, yaitu pada titik simpul yang akan kita cari pergeserannya d1. Kemudian kita meng-superposisikan-kan dua hasil ini pada batang
masing-masing.
Seperti sudah ditentukan pada bab 8. 2. 2. (Persamaan kerja pada konstruksi
batang) kita boleh menyederhanakan persamaan kerja pada konstruksi rangka
batang (8. 10.) Eeperti berikut:

oleh

_E

1,OEFc6k: ).SS

Pada bab 8.

4.2.

;:

(8. 11.)

dan(8. 11.).

350

M,

Garnbar 8. 2. 4. b.

g!2,

10.)

*.

*,

oler,F =1,0,

fr, -

]rl* -ull

oleh karena batang pada contoh ini menjadi lurus dengan morlen lembom / tetap
kita boleh mengatakan, bahwa ds = dx dan kemudian I = lcdan l"/t
- 1.
t/2

Etd:2[(qrr- *,) la^


4

t/2

! (* -

*,1 a, =

Et6=*('rz-"1

(Pergeseran pada konstruksi rangka batang) kita mendapat con-

toh yang menggunakan persamaan kerla pada konstruksi rangka batang (8.

q:

lk?

Gambar 8. 2. 4. a

Et6
_

Bebanvirtual P= t.O
dengan bidang momen

:#

*1,

- iL;

denoan
-

6 =5

3!:-

wEt

Hasil ini sudah kita ketahui dari bab 2. 8. (Perhitungan lendutan dan garis elastis)
hanya penentuannya dengan cara ini lebih sulit. Akan tetapi hasil ini boleh kita ubah
lagi seperti berikut:

Etd-*r,= fr+[r="unrr
351

r
Perhitungan f./.d pasti akan lebih sederhana lagi jikalau kita mngetahui nilai c. M
dan M menjadi ukuran momen maximal yang sebenarnya dan oleh beban virtual F
: 1.0. c menentukan bentuk-bentuk dari tiap-tiap bidang (diagram) momen yang
akan dikalikan.
Selanjutnya kita menentukan beberapa persamasn untuk kombinasi bntuk bidang
momen masing-masing. Ordinat-ordinat bagi bidang momefl kemudian ditentukan
dengan i dan k dengan s sebagai panjangnya batang. Pada persamaan berikut kita
litrat, bahwa E/.d,1 meniadi sama dengan integral JMi M* ds oleh bidang momen
M;dan Mppda paniangnya batang s.

1. Trapesium

3. Trapesium - bidang segiempat:

Kejadian ini merupakan suatu kelanjutan dari kejadian


kt - k2 -- k.

ke2dengan

Eldik

Ul

{r,a*

ir3kl

Etr);p:)t,,*,.t*,

c=1

(8. 14.)

bidang sembarang:
Gambar 8. 2. 4. e.

,,ffi]ilIflffiflu

.,;i

Mi=itf

ss

rs

Etdip=)Utr*o,:
0

4.

Bidang segiempat

gf un*a,
*lr*'**
00

segiempat:
Kejadian ini merupakan suatu kelanjutan dari kejaCian
ke 3 dengan i1 = i2 = i.

Gambar 8. 2. 4. c.

lntegral pada rumus ini berarti momen pada bidang motren M1 dibandingkan pada
ordinat sisi kanan fi) dan ordinat sisi kiri (77i. Selanjutnya dapat kita katakan:

El6ik=

2.

!liry,+

Trapesium

Eld,r = ;11"

Gambar 8. 2. 4. f.

trapesium:
Kejadian ini merupakan suatu kelanjutan dari kejadian
ke 1.:

Etdik=

El6ik

5.

Bidang segitiga

segiempat:
Kejadian, ini merupakan suatu kelanjutan clari kejadian

|t1t,"3"***o]") *f tlr,"{"*
|

El6ik=

Wr*,

irk,

+ i2& + 2i2k2l

t,;fr*,+k2) + irlkr+2k)l

Gambar8.2.4.

ke3dengan i7

= il6nir:

.''flffilffirm**,,-,

] *, f"t

*rt
(8.13.)

tt,:,r:Iifs
Gambar8.2.4.

c:1

(8. 16.)

FUI''ilGAS
352

(8. 15.

k,'k

(8. 12.)

iryll

c=

T. A.
t9,.'7 I i*98

353

6.

Bidang segitiga

segitiga searah:
Kejadian ini merupakan suatu kelanjutan dari kejadian
ke2 dengan it = i: iz - O; kt : k dan kz : O

*'fill.llllmffirrrrTn,, ,-,

Etr\;1,=fuz**ot
rns,r

: ! *s

Bidang segitiga

I, u o *, - In ,

o;,

(8.2.Ikita tentukan, bahwa giliran kumpulan gaya s,),renarnya dan kumpulan gaya virtual boleh juga bolak-balik sehingga kita jugla boleh
Pada rumus (8. 'l .)dan

berkata:

.:+

(8.17.)

A, I*r 4u.rJ oo

q'GF*

jrn4r,

jikalau kita memperbandingkan rumus,47 dengan rumus 4; kita boleh menentukan,

bahwa A,
A,.
Kerja virtual luar pada ,'{ menjadi A" = Z P.J (lihat juga rumus (8. 1. )) ctan kerja luar
pada,4i menjadi Aa >P.a ttifratluga rumus (8. 2.)).
Dengan ini syarat Sefti berbunyi:

GambarB.2.4. h.

7.

o,: JN * i'r r

segitiga berlawanan:
Keladian ini merupakan suatu kelanjutan dari kejadian
ke2dengan it = i;iz: O;kr: Odan kz= k

Jumlah kerja virtual oleh gaya F pada pergeseran d oleh P menjadi sarna
dengan jumlah gaya P pada pergeseran J oleh gaya virtual P.

Et(tik=f,t**oi
tu,r

: !o i*s

c=

(8. 18. )

Gambar 8. 2. 4. i.

Pada semua kemungkinan yang lain bisa digunakan tabel-tabel 1.2. 14. (Tabel-tabel
hasil pengintegralan pada kerja virtual) pada lampiran buku ini. Biasanya hanya
dikerjakan dengan menggunakan tabel-tabel itu. Harus dipe;hatikan, bahwa tabeltabel itu hanya boleh digunakan jikalau momen lembam / tetap. Contoh-contoh

pada bab 8.4. 1. (Pergeseran dan perputaran pada konstruksi batang) menerangkan penggunaan tabel-tabel itu.

8.3.

(8.19.

'P.d:>P,F

Syarat-syarat berikatan pada perubahan


bentuk elastis

8.3. 1. Syarat dari Betti


Betti menentukan pada tahun 1872 tentang ikatan pada perubahan
bentuk elastis:
Kita perhatikan hasil kerja virtual dalam oleh suatu gaya normal N, gaya lintang O
dan momen M dengan gaya-gaya virtual oleh Pyang menjadi N; A dan ili. Menurut
rumus (8.3.); (8.4.)dan (8.7.)kita boleh berkata:

Syarat ini juga boleh digunakan jikalau tidak ada gaya P dan gaya virtual P,
melainkan momen M dan momen virtual M. Pergeseran d dapat diganti dengan
sudut putaran rp dan Jdengan 9.

8. 3.

2. Syaratdari Maxwell

Maxwell menentukan pada tahun '1864 tentang keterikatan pada perubahan bentuk elastis sesuatu yang sebetulnya menjadi suatu kelanjutan dari syarat
dari Betti.
Jikalau kita menentukan, bahwa:
d1o menjadi pergeseran titik k pada jurusan gaya Pp ,= 1.0 oleh beban yang
sebenarnya.
dri menjadi pergeseran titik k pada jurusan gaya Pp: 1.0 oleh gaya Pi : 1.0
pada titik

dir

menjadi pergeseran titik i pada jurusan gaya P;

1.0 oleh gaya P1

1.0

pada titik k.
dsb.

....

Selanjutnya bidang momen yang akan diintegralkan mendapat indizes yang sama
seperti d, maka misalnya:
rlIX
,

rM

M,

I - "
EI

ds

atau

,\*o:

rM, M
) -ff

dt

354
355

r
Pada rumus ini bagian masing-masing berarti:
Mi = bidang momen oleh gaya P : 1.0 pada titik i
Mr : bidang momen oleh gaya P : 1.0 pada titik k
Mo : bidang momen oleh beban yang sebenarnya

Sebagai fungsi dari Pi kita tentukan:

. 1^. 1 Pi
Ar:iPi6ir:Z
c

pr : 1.0 dan oleh


Selanjutnya diintegralkan.
Untuk menentukan misalnya d1; bidang momen yang harus kita cari sebetulnya
sama jalannya seperti tadi (gaya Pi : 1.0 dan gaya virtual e* : 1.91
Kemudian seharusnya hasil masing-masing menjadi sama, atau dengan kata-kata
lain syarat dari Maxwellberbunyi:
Untuk menentukan d,1 kita mencari bidang momen oleh gaya

gaya virtual Pi

dan

A1x

kemudian

lo?
A": i a* *o,

= 1.0

Pergeseran suatu titik i oleh gaya P : 1.0 pada titik


dengan pergeseran titik k oleh gaya P : 1.0 pada titik i.

(kerja pada jurusan pergeseran)


(kerja tidak pada jurusan pergeseran)

Pld1n

1P;,\,,1

dengan memperhatikan, bahwa P;tidak terganrung dari Ax boleh kita tentukan:

JAa _

k menjadi sama

OPi

*o

*'lill

=rl/l +{J/tt:t\i'

(i) = derivasi)

dengan hasil yang menjadi syarat dari Castigliano:

0A.
lPi

(8. 20)

1Ai

8.21.t

aP,

Syarat ini boleh dilakukan pada konstruksi batang maupun konstruksi rangka
batang.

8. 3.

8.

3. Syarat dari Castigliano


Syarat yang ditentukan Castigliano pada tahun 1879 tentang perubahan

bentuk elastis sebetulnya bisa berguna pada konstruksi batang dan konstruksi

3.4. Syarat dari Mohr

Syarat yang ditemukan Mohr pada tahun 1868 menentukan perubahan


bentuk. oleh karena mudah digunakan, syarat Mohr pada umumnya paling disukai.
Penggunaannya terbatas pada balok tunggal.

rangka batang tetapi syarat dari castigliano jauh lebih rumit daripada sistim yang

lf ..-# *

lain yang lebih mudah dan merupakan kelanjutan pada praktek.

(t)

Atas dasar lengkungan k pada suatu balok boleh kita tentukan:

Pada suatu balok tunggal dengan gaya P; kita

*:1=

tambahkan beban dengan suatu kumpulan

s/d Pr. Kita boleh mengsuperposisikan dua beban ini untuk menerima
gaya P1

jumlah kerjaluar A,.

__y:_
..,,,,
y'z1t1z r

11

8.22.t

Gambar 8. 3. 4. a.

Oleh karena itu kita selanjutnya boleh menentukan untuk suatu potongan balok
yang melengkung menurut gambar 8. 3. 4. a.:

k-it--f::-

ds

lr+tr)
Gambar8.3.3. a. s/d c.

Atau dengan bentuk lain,4, menjadi:

Aa,=Ar+A1 +Alt.

1161q=

jy

Persamaan pada garis elastis kemudian terbaca:

dq'l

,ir=;=Y

,,M

=- rt

(8. 23.

356
357

a
Selaniutnya kita menentukan hubungan-hubungan seperti berikut:

tetap. Jikalau tidak. kita boleh menggunakan suatu momen lembam dengan per-

M-Mo+)Odx,

dMr
,1, -o

o' )odx'

d2M

0x'

bandingan l"/1.
Pada konstruksi rangka batang persamaan kerja menjadi suatu jumlah, dan oleh
karena itu penggunaannya tidak mengalami kesulitan.
5. Syarat dari Maxwell menentukan, bahwa pergeseran dp suatu titik i oleh gaya P
: 1.0 pada titik k menjadi sama dengan pergeseran dki titik k oleh gaya P : 1.0

4.

pada titik

8.24.)

tl

Jikalau kita menrbandingkan persamaan (8. 23.) dan (8. 24"1 kita bisa melihat,
bahwa mereka beiarti berkeluarga.

'\
dx'
,l

M
Ll

dall

d2M

;;(, x'

Persamaan ini menjadi dasar syarat Mohr yang bisa selanjutnya digunakan secara
grafis atau secara analitis seperti sudah diterangkan pada bab 2. 8. (perhitungan
lendutan dan garis elastis).

8.3. 5. Ringkasan

Contoh-contoh

Dasar perhitungan adalah rumus (8.8.) dan yang dipersingkat (8.9.).


Rumus (8. 8.) kita tambah dengan perbandingan momen lembam /. dan tiap-tiap
bagian dengan perbandingan luas batang F" seperti berikut:

1,oEt"dr

I *n j

o,

atau

rangka batang yang dibebani, ada dalam keadaan seimbang (termasuk reaksi
pada tumpuan masing-masing) dan konstruksi ini rnenerima suatu pergeseran oleh
suatu kumpulan gaya virtual, kita boleh mengatakan, bahwa jumlah kerja virtual
oleh gaya itu menjadi nol.
Jikalau kita membalik urutan ini, kita mendapat asas tentang kerja virtual. Asas ini
menjadi dasar untuk perhitungan perubahan bentuk.
2" Pergeseran pada suatu titik pada suatu konstruksi batang atau rangka batang
dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan kerja dengan menggunakan
satu gaya vitual Pp: 1.0 atau satu momen Mr : 1.0. Kerja virtual luar ini menjadi
sama dengan kerja virtual dalam, dikurangi oleh pergeseran reaksi tumpuan yang
biasanya menjadi nol.

pada
umumnya dengan menggunakan tabel-tabel tentang hasil peng-integral-an di

mana bentuk-bentuk dan kombinasi-kombinasi yang sering timbul sudah ditentukan sebagai nilai integral JW,Wods.
JW,Wrds menunjuk bahwa tabel-tabel tentang hasil peng-integral-an tidak hanya
berlaku untuk bidang (diagram) momen, melainkan juga untuk bidang gaya normal
dan gaya lintang, walaupun biasanya pengaruh pada gaya lintang dan gaya normal
boleh dihapuskan.
oleh karena itu pada umumnya pada tabel-tabel hasil peng-integral-an digunakan
nilai integral I M;Mrds.
Pada batang atau bagian batang yang diperhatikan seharusnya momen lembam /

rr"l

No,t,as

-*

*I

| o, * ff,j.oo';*
n

-f

(8.25.)

as-:cc ]

Dengan rumus (8.25.) ini kita bisa menentukan d* dengan memperhatikan segala
pengaruh dan kemungkinan. Menurut keperluan, kita juga bisa menggunakan
bagian masing-masing dari rumus (8.25.)ini.
Dalam perhitungan kita perhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Menentukan sistim statis, gaya dan beban dengan diagram momen (M"1, gaya
normal (/U.) dan gaya lintang (O,i.
2. Menentukan momen lembam / (jikalau belum tentu kita memilih suatu momen

lembam taksiran) atau menentukan perbandingan momen lembam pada

3. Ferhitungan kerja virtual dalam pada konstruksi batang bisa dilakukan

358

4.

8.4.1. Pergeseran dan perputaran pada konstruksi batang

1. Asas tentang kerja virtual menentukan: Jikalau suatu konstruksi batang

8.

/.

masing-masing batang.

3.
4.
5.
6.

Jikalau perlu menentukan panjangnya batang s. atau /" dengan perbandingan


momen lembam /" seperti ditentukan pada syarat persamaan tiga momen
(ClaPeYron) lc : l' lc/1.
Menentukan pergeseran dan perputaran yang akan dicari dan memasang gaya
virtual P = 1.0 atau momen vitual M = 1.0 pada tempatnya.
Menentukan diagram momen M, dan jikalau perlu juga diagram gaya normal rV
dan gaya lintang O.
Memperhitungkan pergeseran atau perputaran dengan rumus (8. 25.) dan
dengan bantuan tabel-tabel hasil pengintegralan pada kerja virtual pada lampian 1.2. 14.
359

Contoh 1: Pada konstruksi portal dua ruas dengan momen lembam / tetap (lihat
gambar Lrerikut) dicari:

E;
El

t-

Fertanyaan 1: Pada tempat dan jurusan d6 kita menempatkan gaya virtual P


dan menentukan diagram momen M berikut:

tlcm2

:P

E
w -1.0t/ n
46- 1,0 t

I
MS

Gambar 8. 4- 1 . a

1.

2.
3.

1.0

diagram M
(nilai dalam t)

300'000 cma
200 cm2
2'1OO

Pergeseran tumpuan b oleh beban angin w : 1.0 t/m dengan memperhatikan


pengaruh momen lentur.
Pergeseran titik simpul (sudut) c oleh beban angin w dengan memperhatikan
pengaruh momen lentur dan gaya normal.
sudut perputaran garis elastis kaki a-c pada tumpuan a dengan perhatian
pengaruh-pengaruh seperti pada titik 2.

Penyelesaian:

Menurut ketentuan untuk perhitungan titik 1 s/d 6 kita sudah mengetahui titik 1,
sistim statis. Titik 2 dan 3 tidak perlu diperhatikan oleh karena momen lembam I
sudah diketahui dan menjadi tetap. Akan tetapi kita harus menentukan diagram
momen Mo dan diagram gaya normal y'y'o menurut ketentuah pada bab 7. (Konstruksi portal statis tidak tqrtentu) kita mendapat hasil berikut:

Momen-momen digambarkan pada sisi yang menerima gaya tarik. Penentuan tan(+,-) sebetulnya tidak perlu, yang penting hanya penentuan ordinat masingmasing dan bentuk bidang (diagram) momen.
Selanjutnya kita dapat menghitung dengan urutan kaki kiri, batang horisontal, kaki

da

kanan:
1,0

1l
Et)t,o i24,0 6,0 ' 6,0 r 4,Ol2' 24,0' 6,0 ' 24,0'4,0 '
U
148,0.4,0
-q,o
2
4,ot .
4.0

1,0 Ehbo
El(\ bo

diagram

tJbo

,\

diagram M
(nilai dalam tm)

Gambar 8. 4. 1 . c.

tt

650,67 t2nrl
650,67 tmr
650,67

2,1 . 101 . 3,0'

8,0 . 6,0 '

10-3

0,0103 m

1,03 cm

y'V

(nilaidalam t)

Pada perhitungan ini pada kaki kiri kita mengintegralkan segitiga-segitiga, pada
batang horisontal trapesium-trapesium, dan pada kaki kanan parabol
segitiga.

Jikalau dua bidang (diagram) momen berada pada sisi batang yang sama,
hasil pengintegralan menjadi positif ( + ), jikalau tidak hasilnya menjadi
negatif ( - ).

Gambar 8
36C)

4.1

Jikalau hasil pengintegralan men.jadi positif ( + ), maka jurusan gaya virtual P menjadi sarna dengan jurusan rj.
Pada pertanyaan2: Pada tempat dan jurusan d. kita menempatkan gaya virtual P =
1.0 dan menentukan diagrarn momen dan diagram gaya normal
361

P =10

diagram

Tl,5
lu

diagram

rV

GambarS. 4. 1. d.

Kita menentukan pergeseran d. oleh tiap-tiap akibat tersendiri:


pengaruh oleh momen lentur (lihat gambarS. 4. 1. b.dan d.):

11 '6,0'6,0
+ 6 4,0'6,02'
i24,0

24,0 + 8,0) + 0

E16", :2gg + 224:5'l2tms

512

d"M

.lO7
2."1 .

dcrvr

0,814 cm

.35.

,,0-3

diagram

fi

0,00814 m

kita menentukan perputaran <pa oleh tiap-tiap akibat tersendiri:


pengaruh oleh momen lentur (lihat gambar 8. 4. 'l . b. dan e. ):

a)

11

'1,0

- 6 4,0.1,0.2

Elq'uy

Elqupl

= *72,0-37,3 - *i09,3tm

QaM '=

b)
b)

fr

Gambar 8. 4. 1 . e

a)

EldcM =

diagram

224,0

6,0

_ 109,3

,-1_TO, :"0. rOa =

24,0 + 8,0)

0,00174

pengaruh olch gaya normal (lihat gambar 8. 4. 1. b. dan

e. ):

pengaruh oleh gaya normal (lihat gambar8. 4. 'l . b. dan d.):

- -i,0' 4,0' 0,25' 6.0-1,0' 4,0' 0,25. 4,0,. -10,0t


, 10,0
,paN =,
1 . 10?. ) o. 1,,,2= -0,00002

EFgpuu

= 1,0' 4,0' 1,5'6,0' : 0 - 1,0'4,0"1,5'


EFI"N = 36.0+24,0= 60,0tm
EFdcN

.
d"N

,r"*

c)

60,0

,j. ,pa:10,:

4,0

o,ooo14m

c)

perputaran gs, diterima oleh superposisi:


(Pao

eao

: -0,00176Pq

0,014 cm

pergeseran d" diterima oleh superposisi:

r\ro: r\", + drN = 0,814 + 0,014 = 0,828cm


Dengan hasil ini kita sudah membuktikan, bahwa pengaruh pada pergeseran oleh
gaya normal biasanya begitu kecil maka kita boleh mengabaikan perhitungan.
Pada pertanyaan 3: Pada tempat dan jurusan rpu kita tempatkan momen vitual M
: 1.0 tm dan kita tentukan diagram momen dan diagram gaya normal

-0,00174-0,00002

-0,00176

= -0,'lo

Tanda negalif (-) menunjukkan, bahwa perputaran rpa berlaku terhadap jurusan
momen virtual M. Dengan hasil ini kita juga membuktikan, bahwa pengaruh pada
perputaran oleh gaya normal biasanya begitu kecil, sehingga kita boleh mengabaikan perhitungan.

Contoh 2: Pada rusuk 'Gerber' berikutnya dicari lendutan di tengah bagian balok
yang tergantung antara engsel dan tumpuan C. Beban merata sebesar q = 1.0 tl m;
nrodul elastis E = 2'100 t/cm2 dan laa : lec: 9'800 cma.

362
363

r
A-B -

Selanjutnya kita dapat menghitung (dalam urutan; bagian balok


- bagian balok tergantung):
El6mo

111
a4,0.

1,0.5,0 +

34'0.1'0.2'O

diagram momen Mo

Penyelesaian:
Diagram momen Mo sudah ditentukan pada gambar 8. 4. 1. f. Oleh karena dengan
menggunakan tabel-tabel hasil pengintegralan kita dengan bidang momen Mo ini
tidak dapat ditemukan, kita akan membagi diagram momen pada empat bebanan

dasar, yaitu: momen pada bagian balok yang tergantung, gaya pada engsel,
,4

-I

1,0.5,0

f,r,0.'t,0.2,0

+o*

T3,125.

]z,o

1,0.5,0 + 0

.1,0.4,0.f, +o+o+o

Eldmo = 11,78 tm3

Gambar8.4. 1. f

momen pada konsole dan momen pada balok

i2,0.

konsole

seperti berikut:

11,78 . 105
s_
vm|
- z,t .ror.s3. to, = 0,572 cm

Contoh 2 ini menerangkan, bahwa pada diagram (bidang) momen agak rumit kita
boleh membagi diagram momen itu ke dalam beberapa diagram momen yang agak
sederhana supaya kita bisa menggunakan tabel-tabel hasil pengintegralan pada kerja virtual {r1.2. 14.1.

diagram momen oleh beban merata

Contoh3: Pada konstruksi portal berikutdengan dt

pada bagian balok yang tergantung

/=

150'000 cma;

12' 10-6Srd

70cm dan E = 2'100tlcm2 menurut gambarS. 4. f . i.

diagram momen oleh gaya yang timbul pada engsel

diagram momen oleh beban merata


pada bagian konsole

diagram momen oleh beban merata


pada bagian .4

-I

Gambar 8. 4. 1. g.

Untuk menentukan lendutan maksimal pada tengah-tengah bagian balok yang.


tergantung, kita memasang satu gaya virtual P = 1.0 pada tempat dan jurusan lendutan yang dicari, dan menentukan diagram momen

fr

menurut gambar berikut:

Gambar8.4. l.

Dicari:

1.

2.

Pergeseran vertikal pada

1.0

t/m

pada batang

Pergeseran vertikal pada titik 1 oleh suhu yang berbeda pada sisi atas dan sisi
1
dan 2-b oleh At = 20o.

-2

Penyelesaian:

diagram momen M
Gambar8.4. 1. h.

364

2-b.
bawah pada batang

fi;tooo-4,*:.

titik 1 oleh beban merata e

i.

Penentuan bidang (diagram) momen oleh beban merata dan oleh gaya virtual
1.0 t pada titik 1 seperti berikut:

P:
365

dicari:

P=fit

1.
2.
3.

diagram momen Mo

- - !n,s.4,0.

Etdlo

dro =

1o,o

0.53 cm

166,7. 106
-.10t.

2,'t

150.

103

Pergeseran vertikal pada engsel c oleh perubahan suhu pada sisi atas batang
horisontal dengan tr : 40o dan pada sisi bawah tZ : 10".
Perputaran garis sumbu pada tumpuan b oleh perubahan suhu seperti
diterangkan pada titik 2.

Penyelesaian:
Gambar8.4. 1. k.

Pada pertanyaan 1:

Pergeseran vertikal pada engsel c oleh beban angin w.

Penentuan bidang momen oleh beban angin w pada batang (kaki) kiri:

166,7tm1
diagram M (tml

Pada pertanyaan 2: Atas dasar rumus (8. 8.) dan rumus (8. 25.) kita dapat menentukan pergeseran oleh perbedaan suhu seperti berikut:

o,=

Gambar8.4. 1. m.

Init":H Jno"

Untuk telitinya pengertian kita menggambar pada batang vertikal sebelah kiri

lntegral ini menentukan bidang momen M oleh gaya virtual P.


12.10'6.20 'l
,
ot
=
+ 4,0) : 0,0096m

diagram momen oleh beban angin w, dan diagram momen oleh reaksi tumpuan a
yang horisontal sebelah kanan. Selanjutnya kita tentukan momen lembam perbandingan seperti berikut:

drr = 0,96 cm

l" = l"

O,

Hasil integral

Z4,O(10,4

f Mlf

ds menjadi positif (+ ) jikatau pembengkokan garis sumbu

oleh perbedaan suhu berjurusan sama dengan beban virtual P yang dipilih sembarang, dan bagian konstruksi batang yang lebih panas adalah juga pada sisi yang
menerima beban virtual.

contoh 4: Pada konstruksi portal tiga ruas menurut gambar berikut dengan s
sebagai tiang (batang) yang vertikal dan rg sebagai batang yang horisontal dengan
nilai-nilai berikut /n = 100'000 cma; /" = 120'000 cma; f = 2'1@ tlm2; hs: 50 cm;
h" = 60 cm dan at = 12.10-6/grd.

4:L+=

th

: tn

u,o

1-3i1910,

7,2 m

5,0 m

Pada pertanyaan 1: Pada tempat dan jurusan d" kita menempatkan gaya virtual P:
1.0 dan menentukan diagram momen, dan untuk penyelesaian pertanyaan 2 juga

langsung diagram gaya normal.

diagram momen M

q
I

I
diagram gaya normal

1,,
t,ut
366

ltoo

Gambar 8. 4.

l.

l.

ff(=

tt

Gambar8.4. 1. n.
367

r
Selanjutnya hasil pengintegralan menjadi:

Et"6"s: 11
412,5.1,5.5,0 - 5 18,75.1,5.5,0 +- 3
Elcdco = 23,4 -46,9 + 15,6 :
-7,9tm3
1

- 7,9 . 106
6co =
.
2,1 103 . 1.2. 10s

=-

Oleh karena bidang momen pada batang yang horisontal sebelah kiri dan kanan dari
engsel meniadi sama besarnya dengran tanda (+,-) berlawarian, maka jumlah

bidsng momen itu meniadi nol. Selaniutnya kita hanya perlu memperhatikan

6,25. 1,5.5,0

diagram gaya normal untuk menentukan

qot :
96.0

0,0314 cm

Oleh karena hasil menjadi negatif (-) maka kita ketahui, bahwa jurusan d"oterhadapjurusan gaya virtual P, atau dengan kata lain, berjurusan dari bawah ke atas.
Pada pertanyaan 2: Perubahan suhu itu kita bagi atas: a) Perubahan suhu seragam
ts : 10o dan b) Perbedaan suhu pada sisi atas dan sisi bawah batang sebesar At

30o.

Menurut rumus (8.25.)kita dapat menentukan:

a,=

No,t,arn

,
dcts :

qt t" f ruAs
dan
J -

(*
6rar:a,Lt
T )

Mds

lntegral ini menentukan diagram (bidang) momen M dan diagrarn gaya normal
oleh gaya virtual P(lihat juga gambar8.4. 1. n.).

: - 12' 10 9' 10'0,3'600 : - 0,02cm


._, = 12. 10 6.30 22
- 1 150.300
: + 0,27 cm
dcLt
dcrs

d"t : -4,02 + 0,27 : + 0,25cm


Pada pertanyaan 3: Pada tempat dan putaran qpo kita memasang suatu momen virtual:M 1.0 dan menentukan bidang (diagram) momen dan diagram gaya normal:

Gambar8.4. 1. o
368

O,OO72

0,130

1.

4.

Penentuan gaya batang masing-masirrg oleh beban sebenarnya dengan


meGggiunaka n cara Cremona atau Cu Jlman- R itter.
Penentuan gaya batang Smasing-masing oleh beban virtual P * 1.0 denE;an
cara grafis (Cremona) atau analitis (Cultrnann-Bitter).
Mencari haeil dengon menggunakan persamaar'! kerja pada konstruk$i rangka

batang. Perhitungan oleh beban atau perutlahan suhu iebih baik dilaksanakan

5.
ly'

Daaarnya pacJa perhiturrgan adalah rumus {8. 10.}dan rumus (8. 11.). Untuk mencari hasilnya kita bekerja setapak demi setapak seperti berikut:
Fenentuan paniangnya s dan luas batang Fbagi tiap-tiap batang. Pengurangan
luas bateng oteh lobang baut atau alat sambungan lain tidak usah diperhatikan.

3.

Oleh karena perubahansuhu ini hanya dialami batangyang horisontal (R) kita dapat
menentukan bagi ts dan At masing-masing d",. dan d"41 berikut:

' 10-5' 10'0,10'600

8.4.2. Fergeseran pada konstruksi rangka batang

2.

nrffa,

12

rp61"

masing-masing tersendiri.

Menjumlal*an hasil pada semua batang pada konstruksi rangka hatang'


Perhiturygan ini pada umumnya dilalwanakan dengan beban dalam f dan ukuran

dalarn cm sebagai tabel seperti terlihat pada eontoh-contoh berikut.

Pada

prakteknya persamaan kerja pada konstruksi rangka batang digunakan dalarn bentuk berikut:

6d(

:SSi-

(8.26")

Contoh 1: Pada konstruksi rangka hatang berikutnya dicari pergeseran pada titik
sinrpul m. Ukuran masing-masing batang terlihat pada tabel berikut. E -= 100'000
kg/cm2:

Gambar 8.4.2.a.

369

Penyelesaian:
Pada titik simpul dan jurusan d- kita tempatkan suatu gaya virtual P
terlihat pada gambar 8. 4.2. b. berikut.

,0 seperti

At-

15,0

t
GambarB.4.2. c.

Penyelesaian:

Gambar8.6.4.

Padatitiksimpul sdan jurusandskitaternpatkansuatugayavirtual P

Dengan mengunakan sistim Cremona atau Cullmann-Ritter kita menentukan gaya


batang S oleh beban sebenarnya dan gaya batang S-oleh beban virtual, dan mengisi hasilnya pada tabel berikut.
Perlu diperhatikan, bahwa pada jumlahan batang 1 sld 4 bersifat ganda (kiri dan
kanan) maka batang 5 hanya timbul satu kali.
batang

s/F

Dlm.

Icml

lcm2l

[1/cml

(t)

(t)

600
360

1m

+ 4,5

360
360

160

6,00
2,25
2,25

120

3"00

-*
-0

2.

3
4

160

>1....7
211....4
5
Edn

400

100

4,00

5,4

3,6
1,8

2,

(t/cml
0,75
0,90
0,90

+ 1,0

20,25
10,92

7,28
0,00

370

s/F

SSs/F

lcml

lcm2l

[1/cm]

(t)

(t)

(t/cm)

24,6
38,4

29,3
15,6
29.0

720
600
400

'r3,8

2....7

18,0
15,0
10.0

1,8
1,5
1,0

950
351

290
1591

d",=ffi:o,76cm
Pada pertanyaan 2: Perubahan suhu hanya dialami batang 1 dan 2, dan oleh karena

Contoh 2: Pada konstruksi rangka batang berikutnya dicari penurunan titik simpul s

1.
2.
3.

1,2

perhitungan, kita bisa memudahkan perhitungan dengan menentukan pertama

2'100t/ cm2, a1: 12.10-6 grd'1 , F1 = Fz:24.6cm2,


13.8 cm2, oleh:
Gaya P = 10 t pada titik simpul s
Perubahan suhu t : 20" pada batang 1 dan2
Pergeseran tumpuan a sebesar ca : 1.0 cm ke kanan

batang

3,4

84.90

: fi:

Pada pertanyaan 1: kita gunakan tabel seperti berikut:

8,00

semua batang nol.

F7:

dan .93

Gambar8.4.2. d

38,45
76,90

Oleh karena tiap batang yang tidak punya gaya batang (batang nol) tidak ikut dalam

cm2,

t =S

= l.0seperti

SSs/F

u,9
.
d*o=
,Oa =0,85cm

dengan E

terlihat pada gambar 8. 4.2. d. berikut.


Pada beban ini batang 5 dan 6 menjadi batang nol, dan

Ft: Fq:

38.4

itu persanraan kerja pada konstruksi rangka batang hanya perlu pada dua batang
itu. Oleh karena batang'l dan2 nrempunyai beban Syang sama, perhitungan dr,
kemudian menjadi:
d"1 : sa1f"s : 1,8-12. 10 6 .20 .720 = 0,31 cm
Fada pertanyaan 3: Pergeseran ca pada tumpuan a berjurusan ke kanan. Oleh
karena reaksi tumpuan A6oleh beban virtual F - l.O berjurusan ke kiri, kerja virtual
menjadi negatif (* ):

An = 1,gr
cu = 1,0cm
e, =- 1,5.1,0= -1,5tcm
t,od. = ->Ci
ds: + 1.5cm

371

8.5.

Garis elastis pada konstruksi batang

8.5. 1. Pengetahuan dasar

Gambar 8. 5. 2. a

2.8.

(Perhitungan lendutan dan garls


elastis) pada bab ini tidak dikemukakan pengetahuan baru, melainkan bersifat
memperdalam pengetahuan yang sudah-sudah.
Sebagai peringatan kita selanlutnya mengatasi setindak demi setindak penentuan
garis elastis menurut syarat Mohr (lihat bab 2.8.2. dan 8. 3. 4.):
Seperti telah dikatakan pada bab

1.
2.
3.
4.
5.
6.
1.
8.

Penentuan reaksi tumpuan dan diagram momen oleh beban sebenarnya.


Pembebanan konstruksi batang pada titik 1. dengan diagram (bidang) momen
itu yang dinegatifkan (-).
Perhatikan perubahan momen lembam .dengan mempereduksikan diagram
momen yang sepadangnya.
Pemotongan diagram momen itu ke dalam bagian-bagian. Garis batas diagram
momen yang lengkung dengan begitu dapat diluruskan pada bagian masingmasing. Penentuan titik berat pada bagian masing-masing.
Pembebanan konstruksi batang dengan gaya-gaya yang menjadi resultanteresultante pada bagian masing-masing diagram momen.
Penentuan reaksi tumpuan oleh bebanan titik 5. itu. Reaksi tumpuan ini menjadi
sudut putar tumpuan (o,p) dikalikan dengan F. /.
Penentuan diagram (bidang) momen oleh bebanan titik 5. itu. Garis batas
diagram momen sekarang menjadi garis elastis dikalikan dengan E /.
Penentuan momen maximal oleh bebanan titik 5. itu, pada tempat dengan gaya
lintangnya menjadi nol. Momen maksimal itu menjadi lendutan maksimal
dikalikan dengn E /.

Penentuan garis elastis menurut syarat Mohr ini tidak rnenjadi sulit. Oleh karena
pelrentuan secara analitis memerlukan banyak waktu, biasanya digunakan cara
graf is.

Yang menjadi paling sulit pada perhitungan itu, yalah penentuan titik berat dari
bagian masing-masing dari bidang momen.
Selaniutnya kita menentukan suatu persamaan yang mernungkinkan perhitungan
tsb. tanpa menentukan titik berat masing-masing bagian bidang momen dahulu.
Dengan menggunakan persamaan yang baru ini, kita bisa memudahkan titik 3 s/d 5
pada perhitungan garis elastis menurut syaral Mohr.

8. 5.

2. Penentuan bobot-beban W
Kita memperhatikan suatu balok tunggal yang dibebani oleh suatu dia-

gram (bidang) momen seperti berikut:


372

Suatu potongan sembarang, kita tontukan dengan

k, potongan di samping

kiri

dengan k-1 dan yang di samping kanan dengan k+1. Jarak k*1 sld k kita tentukan dengan,{p dan jarak k sld k+ 1 dengan ,i1 * 7 dsb. Ukuran atau iarak bagiarrbagian diagram momen ini menjadi sembarang. Akan tetapi seharusnya momen
lembam / menjadi tetap pada satu bagian.
Ukuran dan luas pada bagian-bagian bidang momen ditentukan begitu, maka gaya
sebagai resultante bagian bidang momen tidak bekeria pada balok tunggal pacia
titik beratnya, melainkan pada tempat potongan, misalnya & k + 1 dsb'

aza:--\-

r; t
-*i,--

<*- t'l

f?

Gambar8.5.2. b

Gaya-gaya ini ditentukan dengan E. lr. Wp. Nilainya ditentukan sebagai reaksi
tumpuan pada dua balok tunggal dengan lebar bentang,Il dan,l1* 7. Dengan gayagaya E. l"' Wx ini kita membatasi lagi balok tunggal dari gambar 8. 5. 2. a. dan
mendapatkan garis elastis sebagai diagram momennya. Namanya bobot-beban W
Perhitungan E. lc. Wk dilakukan dengan meratakan bagian bidang mon'len yang
sebenarnya melengkung. Kita mendapatkan trapesium yang bisa dibagi dalam dua
segitiga. Nilasi We ditentukan seperti berikut:

1
t-2 * lrrr^r*,
1
l^
El"Wp=rMrr^rii*
iM*),* i 5
'l

Et".wp

*i

= [ tr*r, + 2Ml li + QMp + M1,ar),\i ]1l

* irr.,^0,,

il;

18.27.1

dengan penentuan, bahwa:

ti:I*

l^

dan trirt:

LL,r,'l;q,,

?B

----

Pada tumpuan sebelah kiri dapat kita katakan, bahwa ,(


itu ,\1* 1 : ,tr. Bobot-beban Wo menjadi pada titik itu:

Elcwo =

,\i
6

0 dan ,l*

0 dan karena

(8.28.)

12Mo + Mrl

diagram gaya lintang O


Sebaliknya pada tumpuan sebelah kanan kita tentukan
,1, dengan bobot-beban W,:

Etcwn- * rr,r+2Mnt

k = nl ,lr* r =

o dan 11 =

Au= Qu-i-

(8.29.)

Jikalau misalnya semua bagian dari suatu bidang momen sama lebarnya dan
momen lembam / dari balok tunggal menjadi tetap kita bisa menyederhanakan

M*= Mx, + O1l1

rumus (8. 27.) seperti berikut:

Etwk

:t

Px.t

Gambar8.5.3.

rrr., + 4M*

-+

Mk+lt

a.

(8.30.)
Persamaan kedua tentang diagram momen bisa kita tentukan juga dengn kata-kata

Selanjutnya pada tumpuan kiri bobot-beban Wo menjadi:

Etwo:IOmo*u,t

(8. 3'r.)

berikut:

Momen lenlur Mp pada suatu titik sembarang k pada suatu balok tunggal
menjadi sama dengan momen lentur M2-1 pada titik k-l sebelah kiri, ditambah dengan hasil kali gaya lintang Oft antara titik

dan kemudian pada tumpuan kanan bobot-beban W, menjadi:

Etwn: tr*,,,+2M,)

(8. s2.)

k dan titik k-l

dengan jarak 11.

Contoh 1: Pada balok tunggal A-B berikut dicari garis elastis dengan menggunakan bobot-beban W. lo : 24'0O0 cma; l, = 4,W cma dan E = 2'100 t/ cm2.

20

t/m

8.5.3" Penentuan garis elastis dengan bobot beban W pada


konstruksi batang

Pada bab 8.5.2. tadi kita rentukan persarnaan yang membantu kita pada
perhitungan pembebanan oleh diagram mornen dengan gaya-gaya yang dikalikan
dengan E.l. Pada bab ini kita mencari jalan untuk menentukan garis elastis dengan
cara yang paling mudah. Kita ingat konstruksi diagram gaya lintang dan diagram
momen, dengan ketentuan seperti berikut:

374

Gambar8.5.3.

b.

Penyelesaian:

Beban merata dibagi sembarang seperti misalnya pada gambar


dan reaksi tumpuan Radan R6dapat ditentukan sebagai:

berikut8.5.3' c.,
375

uo =

i_ror,oo.

,, = #2,0.

5,10. 7,6b = 7.65t

E,10 " 2,58

2,sEt

8lrl

1l'

eIE
co

aN

I
Gambar8.5.3. c.

t\
rl
ro

Sebagai perbandingan momen lemban kita memilih /1 oleh karena /1 sudah berada
pada bagian besar pada balok tunggal ini. Selanjutnya ditentukan:

lc:lt

l: =r
l1

t^

i-

ltl1300

24000

= 1,*5

Pada perhitungan ini kita menggunakan suatu tabel seperti berikut. Baris 1 s/d 6
berisikan data-data dari beban yang sebenarnya. baris 7 s/d 1'l berisikan data-data
untuk penentuan bobot-beban W, baris '12 dan 13 brerisikan data-data yang
diperlukan untuk reaksi tumpuan R; dan fr6 yang rnenjadi sudut putar tu{tlFxren o,
B dikalikan dengan E.l dan baris 14 sld 17 berisikan data-data dari beban oleh
bobot-beban W"

1r'
(o

ti
I

376

l-

l.

Bobot-beban Wditentukan menurut rumus (8. 27.):

lMr-, +

ElcWk

ElcWk: mk + nk
Elcwk =

2 Mkl

*,-r

8.6.

lk + Q Mk + Mp11l ),iaa1

npl

8. 6.

Misalnya pada titik 4:

6ElcW4: lMt+2M4ll'4+ (2M4+ Msli's: m4+


mq

{'12,N +

2'

na

12' 14,36

+ 14,50)'0,90 :

ElcW4:

6137,2

Penentuan R a dan

14,361.'

196

n4

38,9tm2

1m2

seperti berikut:

Rr=

+ElZW4;: Et">wi +

Ra =

l"LWi

Re

= ElcZWi

1. Pengetahuan dasar

Pada konstruksi batang garis elastis menjadi garis surnbu batang yang
melengkung. Pada konstruksi rangka batang ketentuan ini tidak lagi benar, oleh
karena perubahan bentuk berasal dari perubahan panjangnya batang masingmasing, dan pergeseran titik simpul masing-masing selanjutnya.
Pada konstruksi rangka batang kita menentukan suatu garis elastis pada batang
tepi bawah. Garis elastis ini tidak merupakan suatu garis melengkung, melainkan
suatu poligon. Semua batang pada suatu konstruksi rangka batang harus tetap

0.90 = 37,2tm2

+ 38,9) :12,7

Garis elastis pada konstruksi


rangka batang

- E t">Wi I;

Hasil masing-masing boleh digambar seperti berikut sampai kita mendapat garis
elastis:

diagram momen lentur (tm)

menjadi lurus, karen mereka menerima gaya normal saja dan bukan momen lentur.
Garis elastis pada suatu batang tepi menjadi tentu sesudah pergeseran masingmasing titik simpul rnenjadi tetap.
Dengan diagram pergeseran Williot kita mengetahui secara grafis untuk menentukan pergeseran titik simpul pada konstruksi rangka batang, walaupun dalam
rangka buku ini, kita tidak bisa mempelajari diagram pergeseran Williot tsb. di atas.
Pada konstruksi rangka batang dengan hanya beberapa titik simpul dan bentuknya
simetris kita bisa menggunakan rumus jumlahan, yang akan diterangkan pada bab
ini. Hanya jarrglan meremehkan keluasan kumpulan angka-angka.
Pada konstruksi rangka batang dengan banyak titik simpul kita selanjutnya menentukan suatu perhitungan atas dasar perhitungan garis elastis pada konstruksi
batang.

8.6.2. Penentuan garis elastis dengan bobot-beban W pada


konstruksi rangka batang

Penentuan garis elastis pada konstruksi batang dilaksanakan dengan


bobot-beban W. Bobot-beban W itu yang dikalikan dengan E' / menjadi suatu
bagian dari diagram momen. Kita mengerti, bahwa kejadian ini tidak mungkin pada
konstruksi rangka batang, oleh karena pada konstruksi ini hanya tirnbul gaya normal dan bukan momen lentur. Berdasarkan atas pengetahuan ini kita harus menentukan pertama bobot-beban W pada konstruksi rangka betang dengan rumus-

bobot-beban W (tm2)

rumus yang baru. Sesudah bobot-beban

garis elastis (ukuran dalam cm)

W ditentukan, baru kita

boleh

menyelesaikasn perhitungan seperti pada konstruksi batang.

Atau dengan kata-kata lain kita memilih suatu balok tunggal sebagai sistim dasar
dan membebani sistim dasar ini dengan bobot-beban W yang ditentukan secara
baru dan kemudian menggambar diagram momen yang menentukan garis elastis
8. 5.3. d.

378

konstruksi rangka batang itu.


379

Selanjutnye kltaraenentulan bobot-bebon W pada konstnlksi rangka

bat4:
l6p

d*

6p.)

tr**,

- 6x-,

= {d,+r -

11

dx-,

+ Wrl**,

d1)

d*

T':-^i;;;-"**
wk:6\y,-dq#

(8.33.)

Pada rumus (8. 33.) ini hubungan antara bobot-beban W dengan orclinat garis
elastis sudah ada, walaupun rumu6 ini belum dapat digunakan untuk prhitungan
nilai bobot-beban Wp.
Selanjutnya kita mengubah rumus (8. 33. ) sebagai berkut:

wk:i d1,wx

Gambar8.6.2. a.
Pada gambar

8.

: * lr

6* .

tk _ lk
ak"Fr-- l--

-lk*r_--o**'
oki

dan selaniutnya:

a*: dx-6x-,

dk+t: dk+r: 6**r-

dp

* bpal

Jikalau kita kemudian membandingkan segitiga yang diarsir pada gambar situasi
dan gambar gaya (lihat gambar 8.6.2. a.). Oleh karena semua tiga sisi meniadi sejajar kita boleh mengatakan segitiga-segitiga itu menjadi sebangun dan per-

dkn,

dk

&-ln_rt,rn-or,+ (

r**1,)

a*

-,r,**1,d**,

Rumus ini terdiri dari hasil kali faktornya yang meniadi pergmeran sebenarnYa.
Kalau kita mengetahui 1ii1 dan 1/11*1 sebagai beban virtual dengan haEilnya,
bahwa bobot-beban Wsebetulnya menjadi kerja virtual luar. Pada bab 8. 2. 2. lPersamaan kerja pada konstruksi batang) kita sudah menentukan, bahwa keria virtual
luar lA,l meniadi sama dengan keria virtual dalam (,4/.

Atas dasar pengetahuan ini kita boleh menentukan bobot-beban yy

6.2. a. teb. di atas kha lihat suatu bagian konstruksi rangka batang

dengan garis elastb pada batang tepi bawah. Garis elastis dapat ditentukan dengan
gambar poligon batang iarlk oleh bobot-beban W. Atas dasar pengertian konstruksi grafis ini kita boleh menentukan perbandingan-perbandingan berikut:

sebagai:

(8.34.)
Dalam rumus (8. 34.) ini As menjadi perubahan panisngnya batang s oleh bebon
yang sebenarnya. S menjadi gaya oleh beban virtual 1/i1 dan 1l)q*1. Padegnmbar 8. 6. 2. b. kita melihat beban keria virtual yang harus kita pasang pada titik simpul k untuk menentukan bobot-beban W. kita juga melihat, bahwa jurnlah beban
menjadi seimbang. Harus dikatakan di sini, bahwa beban virtual tidak selalu harus
menjadi P-: 1 .0 t.
Gambar8.2.6. c.

Gambar 8. 2. 6. b

bandingan dibaca seperti berikut:

bu-, : W,
't'
:^*'
Ak+t
17

dan

b*+t: W*l*n,

Kita selaniutnya mengisi hasil a1;

jikalauH =
a1

11d6r1 bpl1 ke dalam rumus tsb. di atas

dengan tujuan menentukan hubungan antara bobot-beban Wdengnn ordinat garis


elastis:

r?,-**,,

380

381
I

Oleh karena kumpulan beban virtual menjadi seimbang mereka tidak menyebabkan

reaksi-reaksi tumpuan. Oleh karena itu hanya batang-batang antara titik simpul
1 dan k + I menerima beban S. Tanda I dalam rumus (8. 34. ) selanjutnya hanya
berisi bagian konstruksi rangka batang tsb. di atas. Jikalau kita pada kumpulan
gaya virtual menentukan dimensi sebagai (1/dimensi panjangnya) kita mendapat
bobot-beban W tanpa dimensi.
Bobot-beban W pada konstruksi rangka batang pada umumnya ditentukan menurut gambar 8. 2" 6. b. dan c. seperti berikut:
Gaya virtual S menurut gambar 8. 2. 6. b.:

k-

Op

= Oo*,

=.

*'
hpcosy

U*:U*+r:0

rkr
ur,:-*

vr=o

|tnur

+ Auk+r)

- #-*rw.,Mr_ nr"#.,^dk+l

o**;,
v*+t=**,

+,L)av*
Ak+1
(8.36.)

Dengan rumus (8.35.)dan rumus (8.36.)ini kita bisa menentukan bobot-beban W


pada konstruksi rangka batang. Harus diperhatikan tanda ( + , - ) pada perobahan
panjangnya As pada batang masing-masing.
Pada konstruksi rangka batang dengan batang tepi atas dan bawah sejajar dan
masing-masing bagian dengan ukuran yang sama kita boleh menentukan:

gt: tpr+1: q:
y*:0
It:lr+t:,\=konstant
ht: h = konstant

D*,t= *

Dr= +

konstanttetap)

Gaya virtual S menurut gambar 8. 2. 6. c.:


,|

U*

= U**t

h pcos

Vqa:0

Op:Qo*.'t=g

ht
<p

p.1

Vk=

Dqx*t: *

hpcostPpll
GambarS. 2. 6. e.

GEmbar 8. 2. 6. d.

11
lp lq**r

vqt*t

-* o

Selanjutnya pada konstruksi rangka batang dengan diagonal yang naik (gambar 8.

Selanjutnya pada konstruksi rangka batang dengan diagonal yang naik (gambar 8.
2.6. d.), kita boleh menentukan bobot-beban Wsebagai:

2.6. b.), kita boleh menentukan bobot-beban Wsebagai:

wt: -|toor*

*r = -E*ru(ao1,

+ Ao111)

a**rodk

+ hk*,pk-

Lo1,ai*

fi-*tur+

Ad111)

-]ror*,

+ avk+r)

Ldr*t
(8.37.

dan pada konstruksi rangka batang dengan diagonal yang turun (gambar 8.2.6. e. ),
bobot-beban Wmeniadi:

-;Avk1-i-Ayr,.t
Ak
Ak+1
(8.35.)
dan pada konstruksi rangka batang dengan diagonal yang turun (gambar 8. 2. 6.
c. ),

382

bobot-beban I4lmenjadi:

*r = +

tLup

^uk+1t

fi*toru + adp,"1l * |

or*

(8.38.

383

Penyelesaian:
Pada pertanyaan 1: Karena sistim menjadi simetris kita hanya harus menentukan
beban pada batang masing-masing yang sebenarnya So dan beban oleh gaya virtual P = 1.0 pada titik simpul 1,2dan 3 pada batang masing-masing (51, 52 dan
se).
Penentuan ini boleh dilakukan dengan empat kali menggunakan cara grafis
(Cremonalatau cara analitis (Cullmann-Ritter). Oleh karena Oz = Ozdan O'2: g',
dan U1 = Uzdan U's = U3,dan U'2 = U'lmempunyai gaya yang masing-masing
sama, tabel 1 dijadikan satu batang dengan panjangnya s misalnya 02 + 03 dsb.
a) Beban virtual P : 1 .O pada titik simul 1 (nilaiSl ):
Ukuran dan sebagainya seperti pada gambarS.6.4. a.

Ssudah kita menentdRafi bobot.beban W kita membebani suatu balok tunggal


sebagai rbJim dasar dengan bobot-beban Witu dan mendapat garis elastis dengan
orclinat yang di*alikan derqnn F.

8.6.3. Ringkastrt
1. Sebagai goris elastis

pada konstruksi rangka batang pada umumnya kita


tentukan garis eta'stie pada batang tepi bavrmh. Garis elastis menjadi suatu
poligon bukan garis lengkung, oleh karena batang masing-masing tidak mebngd<ung, hanya berubah panjangnya. Oleh perubahan pada titik simpul ma-

2.
3.
4.
5.

sing-masing kita tentukan gario elastis itu.


Pada konstruksi rangka batang dengan beberapa titik simpul saja kita boleh
menggunakan rumus jumlahan yang berulang kali digunakan.
Pada konstruksi rangka batang dengan banyak titk simpul kita menentukan
gnrie elastis dengan bmntuan bobot-beban W.
Kita nnenentukan bobot-beban wmenurut rumus (8.35.) s/d rumus (8.38.).
Untuk itu kita memerlukan peru.lcahan panjangnya batang masing-masing oleh
beben yang sebenarnYa.

Dengnn bobot-beban w kita membebani sistim dasar


dan menerima garis elastis sebagai diagram rnomen'

suatu balok tunggal --

Gambar 8. 6. 4. b

b)

Beban virtual P

1.0 pada titik simpul2 (nilai52):

8.6.4. Contoh
Pada ksnstruksi rangka batang berikut dengan beban yarq tentu dan
: 2'lC{Jllem2 harus ditentukan garis elastis menurut/dengan:
bantuan rumus iurnlahan

dengran E
1

2. bafiuanbobot-beban W

I A';',- qtost
I

c)

Gambar 8. 6. 4. a.

384

Beban virtual P

Gambar 8. 6. 4. c.

1.0 pada titik simpul 3 (nilai 53):

Gambar8.6.4. d.

385

Tabel 1:

Pergeseran vertikal pada titik simpul 1 s/d 3 menurut rumus jumlahan moniadi:

Baris 1 s/d 4 berisikan data-data konstruksi rangka batang, baris 5 s/d 8 berisikan

gaya batang masing-masing oleh beban sebenarnya dan oleh beban virtual dan
baris9s/d 1l menjadi hasil rumus jumlahan, yaitu SoSl s/F: E. d1 dan SoS2s/F
: E.dzdan SoS3s/F = E.6t.

,i.'

1?J g:0,725cm

2100
3172,1

r].:

'

gaya batang

tang

s/F

E. d,

E. 6,

E' dt

Itl

(t/cm)

(t/cm)

(t/cm)

10

l1

so

sr

s2

sr

(cm tl It)

(t)

(t)

lcm)

lcn|)

oI

424 60,0

7,07

-26,7 -1,237

o ,o,

912 70,0

13,03

-29,6 -0.587

o io;

912 70,0

13.03

oI

424 60,0

7,07

U ,U,

700 20,2

34,65

-29,6 -o,242

,1,000

-0,701

-1,370 -0.968
*0,562

-0,968

-26.7 -0.177 -0,410 -o,707


+ 18,9

+ 0.875

U,ui

1000

24.6

N,70

+28,8

U ;U;

7N

20,2

34.65

+ 18.9 +0.125

+ 0,333

+ 0,708

+ 0.500

+0,778 + 1,333
+ 0,290

+ 0,500

s(n 12,63 39,65

+ 12,9 -0,309

+ 0.800

+ 0.569

D3

673

9.67

70,00

+ 0,54

+ 0,772

-0.509

D:

673

9,67

70.00

+ 0,54

-0,128 -0,301

500

12,63

39,65

+ 12,9

+0,141

300

9.60

31.25

0,0

+ 1,00

8,1

0,00

0.00

0,0

0,00

8,1

0,0

367 31,0

450

9.60

V"7

367 31.0

V:I

300

Jumlah

11

,82

't6,90

11,U

9,60 31,25

+ 0.332

+
+

+ 0.569

0,00

0,00

226,5

+ 188,5
+ 529,0
+ 217,0
+ 77,3

+ 93,2
+ 33,4
+ 573.5 + 463.0
+ 390,0 + 912,0
+ 81,8 + 189,8
+

188.8

410,0

12,5

29,2

167,7

4,8

-0,509

+ 0.328

233,0

72,1

11,4

+ 327, 5
+ 291,0
_ 19. 2
291,0
0

0,00

1.000

0,00

0,00

0,00

0.00

0,00

0.00

0
+ 3775.2

Cm

cm

'l
= 0,00333

'l

19. 2

:34].2 = 1 8o
21ffi

1',|
"
i,, aOO

+ 1563, 0

=1.51

Pada pertanyaan 2'. Pada penentuan garis elastis dengan bobot-beban W kita
menentukan pertama perobahan paniangnya batang masing-masing As = So s/F.
Karena itu kita tentukan gaya batang So oleh beban sebenarnya. Semua dihitung
sebagai tabel pada tabel 2 yang berikut. Karena konstruksi rangka batang pada contoh ini menjadi simetris kita hanya memperhatikan satu bagian saia.
Penentuan E. W1 dan E. W3 leriadilah dengan rumus (8. 36.) dan E. Wz dengan
rumus (8.35.). Sebagai pendahuluan kita menentukan beberapa nilai yang akan
diperlukan.untuk menentukan E. W1 sl d E. W3:

+ 373,5
+ 373 5
+ 133, 3
+ 327, 5

0,00

}3172

'

133, I

+ 1521.9

,\-

2'too

i-

0,0[,0472
300'0,707 --

tp,
1',I
ircot,4r, -

367 '0,743

h2cos

4so:0,743

0,00417

0,00367

0.00299

= 0,00222

hrcosyl
11
h, cos rp1
11

300 ' C),800

4rlo

h2cosy2
11
hrcos rp2

367'0,987
367 ' 0,800

0.00276

0.00341

Misalnya penentuan W, menurut rumus (8.35.):

11111

'

h2cosyt

h2copq2 '

hrcosrpl '

)2

il

dan selanjutnya:

386

EW2

= -0,00276 (-385,0) + 0,00341

EW,

+'l ,062+ 1,745+0,139

' 512,0 + 0,00367 ' 37,9

2,946t/cm'?

3Bl

Tabel 2:
s

EAs

EW,

Icm1

lcm2

Icml

It/ cml

It/ cm|l

or

424

60,0

-26,7

Orot

912

70,0

-29,6

-385.0

U,U,

700

20,2

+ 18,9

+ 655,0

500

24,6

+28,8

+ 586,0

500

12,6

+ 12,9

+512,0

D2

673

9.6

+ 0,*

+ 37,9

300

9,6

367

31,0

450

9,6

batang
Dimensi
I

188,8

[t/

cm21

Y2EW!

9. 1. Pengetahuan dasar dan penggunaan

+1,62

+ 1,745

-2,135

+0,139

9. 1.
-0,114

0
+ 0,953

+ 2.946

+ 1.188

Dengan bobot-beban W yang baru ditentukan pada tabel 2 kita akan membebani
sistim dasar (balok tunggal) pada/dalam tabel 3. dan mendapat garis elastis dengan
pergeseran d pada titik simpul masing-masing.
Tabel 3:
EW*

[t/ cmzl

lcml

k
Dim.
Sp.

E.o

E.O.l

EM

[t/ cm2l

It/ cml

[t/ cml

Icm)

a
1

0.953
400

4,134

500

1.188

1526,1

0,725

1653,6

2,9tt6

1. Pengetahuan dasar
Dengan ketentuan-ketentuan statika yang kila ketahui sampai sekarang,

kita dapat menentukan reaksi tumpuan dan gaya batang pada. suatu konstruksi

95,8
0

batang atau rangka batang dan kemudian menentukan ukuran batang, tegangantegangan yang timbul dan perubahan bentuk elastis. Penentuan-penentuan ini selalu berdasarkan atas beban dan gaya yang tentu dengan nilai, jurusan dan titik
tangkapnya. Pada beban merata kita memperhatikan berat sendiri beserta beban
berguna, yang walaupun bergerak dan tidak tetap, dihitung juga seperti beban
tetap. Akan tetapi pada banyak konstruksi bangunan timbul beban bergerak
misalnya jembatan lalu lintas, jembatan kereta api, rel derek dsb. dengan titik
tangkapnya yang selalu beralih-alih. Pada umumnya beban bergerak ini bekerja sejajar anting dan pada bab ini kita hanya memperhatikan beban yang berjurusan sejajaranting. Kemudian juga beban bergerak ini berjarak.tetap.
Pada beban yang tetap (mati) walau gaya-gaya dalam suatu batang berubah. pada
tiap-tiap potongan tertentu ada juga gaya-gaya dalam tertentu. Pada beban yang
bergerak nilai gaya dalam berubah pada tiap-tiap gerakan beban itu. Untuk menentukan ukuran-ukuran batang selanjutnya kita harus memperhatikan nilai reaksi
tumpuan dan gaya batang yang maksimal dan yang minimal pada potongan
mming-masing. Untuk penentuan nilai-nilai maksimal dan minimal ini,kita menggunakan garis pengaruh'
Gambar g. 1. 1. a.

7-gaya-gaya
3179,7

1,51

3773,7

1,80

beban merata
-to.r t/h

2,376

Hasil-hasil ini menjadi sama dengan hasil-hasil pada pertanyaan 1, walaupun pekeriaan
2 (dengan mengunakan bobot-beban Wl jauh lebih sederhana
daripada dengan penggunaan rumus jumlahan.

pada pertanyaan

388

qr-

t0.0 t /n

594,0

A00
3

garis

pengaruh

+1,n2
+1,fi2

+2,18

tal

9. Garis pengaruh

It/ cmzl

+ 0,88,

8,1

Ewz

------+--

=32500

Garis pengaruh harus kita tentukan untuk semua nilai statika seperti reaksi tumpuan, gaya lintang atau lendutan pada suatu titik tertentu, dan menjadi suatu garis
dengan sifat khusus masing-masing. Penentuannya hanya menjadi satu bagian dari
389

soal-soal yang timbul tetapi penggunaannya terletak pada penyelesaian yang

Untuk menentukan ordinat-ordinat 4 salah satu garis pengaruh kita menggulingkan suatu gaya P : 1 .0 (t) pada seluruh konstruksi batang.
Pada titik tangkap masing-masing oleh gaya P = 1 .0 ini kita menentukan
pengaruh atas nilai statika yang dicari dan menentukan hasil ini sebagai
ordinat 4 di bawah titik tangkap itu. Ujung-ujung ordinat 4 masing-masing

menentukan gaya-gaya dalam yang dicari.


sebagai gaya-gaya P kita menentukan misalnya roda-roda suatu kereta api dsb.
dan beban merata menjadi misalnya lalu lintas mobil dsb. seperti dilihat pada gambar 9. 1.

9.

a. di atas.

yang dihubungkan dengan suatu garis kita tentukan sebagai garis

1.2. Penentuan garis pengaruh

pengaruh dan luasnya sebagai bidang pengaruh.

Pada perhitungan statika pada suatu konstruksi batang atzu rangka


batang dengan gaya-gaya dan beban mati kita menentukan suatu potongan sembarang untuk penentuan gaya-gaya dalam. Juga pada gaya-gaya dan beban yang
bergerak kita harus tahu di mana potongan sembarang bermanfaat dan untuk gaya
dalam yang mana kita harus menentukan garis pengaruh. Dengan pengetahuan ini
kita dapat menentukan titik tangkap dari gaya atau beban yang kita perlukan pada
penentuan gaya dalam yang maksimal dan yang minimal. walau nilai maksimal dan
minimal ini mungkin tidak menjadi nilai maksimal dan minimal pada batang yang
diperhatikan, nam!n menolong menentukan garis pengaruh dan titik tangkap yang
bersangkutan.
P

Catatan: Pada beberapa buku statika lain untuk kependekan ordinat garis pengaruh
juga digunakan I atau y.
Ordinat-ordinat pada suatu garis pengaruh dapat meniadi positif atau negatif.
Selanjutnya kita menentukan, bahwa ordinat yang positif kita gambar ke bawah
dan ordinat yang negatif kita gambar ke atas dari suatu garis dasar dengan titik
batasan (n = 0) antaranya. Walaupun suatu garis pengaruh digambar pada seluruh

konstruksi batang, pengaruhnya tergantung hanya pada satu titik yang di-

perhatikan (misalnya tumpuan ,4). Garis pengaruh meniadi terlepas/bebas dari


gaya-gaya atau beban yang bekerja pada konstruksi batang dan dapat juga ditentukan tanpa memperhatikan beban yang bekerja pada konstruksi batang itu.

pada titik tangkap

1,2dan3

9.

1.3. Penggunaan garis pengaruh

Keterangan-keterangan berikut membicarakan satu gatis pengaruh pada


reaksi tumpuan sebagai contoh. Caranya sebenarnya dapat iugn dilakukan pada
garis-garis pengaruh yang lain.

t1r' A pada titik tangkap


112'

11r'

A pada titik tangkap 2


A pada titik tangkap 3

Gambar

9.1.2.a.

untuk menentukan garis pengaruh kita menggulingkan suatu gaya p pada seluruh

panjangnya konstruksi batang dan menentukan pada tiap-tiap

titik tangkap
pengaruhnya atas reaksi tumpuan atau gaya dalam.
sebagai keterangan kita perhatikan gambar g. l. 2. a. di atas. Gaya p pada bagian
kiri dari balok terusan itu menyebabkan reaksi tumpuan A yang positif (+ ). Reaksi
tumpuan 4 ini makin besar makin dekat gaya ppada tumpuan,4. Jikalau gaya p
misalnya bekerja pada bagian kanan, maka reaksi tumpuan.4 menjadi negatif (-).
Nilai reaksi tumpuan A oleh gaya P yang bergerak kita tentukan sebagai ordinat
4
pada titik tangkap masing-masing. Hubungannya dapat kita lihat pada gambar
9. 1.2. a. Garis itu sebetulnya sudah menjadi suatu garis pengaruh pada reaksi
tumpuan 4.
390

Ordinat 4' A untuk gaya P' 1,0 pada


titik tangkap A' P1q1 * P242 + Ptnt

Gambar 9. 1.3. a.

Suatu gaya P = 1 .0 (t) mengakibatkan pada tumpuan 4 suatu gaya (reaksi tumpuan) sebesar (1. 0) 4. Oleh karena itu, satu gaya sebesar Pmengakibatkan suatu
reaksi tumpuan sebesar P. 4 .
Jikalau pada konstruksi batang di atas bekerja suatu kumpulan gaya dengan n gaYa
P, tiap-tiap gaya P; mengakibatkan reaksi tumpuan Pi.ei.
391

Reaksi tumpuan dapat kita tentukan:

Ra =

l=n
i+1

Fini

9.

1.4. Ringkasan

1.

{9. 1.}
I
I

Sebagai penentuan reaksi tumpuan Fa dengan bantuan garis pengaruh kita dapat
menentukan: tiap=tiap gaya P1 harus dikalikan dengan ordinatnya 4i dengan
memperhatikan tanda (+, -)kemudian hasil kali masing-masing dijumlahkan. Fa
maksimal kita dapatkan dengan memasang kumpulan gaya itu pada bagian dengon
ordinat garis pengaruh 4 yang positif, dan Ra minimal dengan memasang kumpulan
gqya itu pada bagian konstruksi batang dengan ordinat garis pengaruh 4 yang
negatif . Gambar garis pengaruh membantu kita dalam pencarian titik-titik yang paling jelek dan yang paling ideal.
Nilai maksimal kita dapatkan dengan memasang gaya-gaya yang terbesar
pada tempat dengan ordinat garis pengaruh 4 yang terbesar.

Jikalau kita atas dasar ketentuan ini belum dapat menentukan titik-titik tangkap
kumpulan gaya, kita harus mendorong kumpulan gaya itu demikian rupa, eehingga
gaya berikut bekerja pada titik dengan 4r"r.
d,

2.

I
l
l

Garis pengaruh kita gunakan untuk penentuan nilai maksimal dan minimal pada
reaksi tr-rmpuan dan gaya dalam pada beban yang bergerak.
Dengan mernperhatikan bentuk garis pengaruh dapat kita menentukan cara
pembebanan pada suatu konstruksi batang atau rangka batang supaya beban
itu mengakibatkan reaksi tumpuan atau gaya dalam yang maksirnal atau yang

mimimal.
Garis pengaruh dapat kita gambar dengan satu gaya P = 1 .0 (t) yang kita gulingkan pada seluruh panjangnya konstruksi batang atau rangka batang.
4. Pada penggunaan garis pengaruh kita membebani hanya bagian-bagian dengan
ordinat 4 yang positif atau yang negatif saja. Pada beban merata kita mengalikan beban dengan bidang pengaruh. Pada gaya atau kumpulan gaya kita
mengalikan gaya masing-masing dengan ordinatnya 4 dan menjumlahkan hasil
kali itu.
Nilai maksimal kita dapatkan dengnn memasang gaya-gaya yang terbesar padg
tempat, yang ordinat garis pengaruhnya 4 terbesar.
3.

9.2. Garis pengaruh pada balok tunggal


9.2. 1. Garis pengaruh pada roaksitumpuan

Gambar

9.1.3.

b.

Beban merata akan kita bagi atas potongan dx yang kecil. sehingga beban itu
bekerja sebagai satu gaya P. Hasilnya dapat diringkaskan menurut rumus (9. 1.)
dan gambar 9. 1. 3. b. di atas sebagai:
nn
rr
Ra = ) Q dx 4 = s) n dx :
mm

eF(m.n)

Seperti telah dibicarakan pada bab 9. 'l . 2. garis pengaruh pada misalnya
tumpuan .4 dapat kita tentukan dengan menggulingkan suatu gaya P = 1,0 (t) pada
seluruh panjangnyo lebar bentang 1 pada balok tunggal yang diperhatikan. Pada
tumpuan A gaya P = 1,0 mengakibatkan suatu reaksi tumpuan sebesar I a = 1,0
yang menentukan ordinat 4 garis pengaruh sebagai n = 1 ,0.' Jikalau gaya P = 1,0
bekerja pada tumpuan I reaksi tumpuan pada tumpuan 4 menjadi nol (Ro = 91.
Oleh karena itu, ordinat 4 garis pengaruh pada tumpuan I menjadi n : 0 juga.
Jikalau gaya P: 1.0 bekerja pada titik tangkap sembarang dapat kita tentukan
reaksi tumpuan 4 sebagai Fn = 1,0 . z'/l dengan ordinat 11 garis pengaruh sebagai

4=

z'/l' 1,0.

Hasil ini menjadi persamaan suatu garis lurus, dan berarti, bahwa kita
hubungkan titik ordinat 4 = 1,0 pada tumpuan
dengan titik ordindt
tumpuan seperti terlihat pada gambar 9.2. 1. a. berikut:

b&h meng4 = 0 pada

Nilai lntegral ini menjadi luasnya bidang pengaruh antara titik m dan titik n..

t9.2.t
Pada beban merata kita harus mengalikan ordinat g dari beban merata dengan
luasnya bidang pengaruh di bawah beban merata itu.
Nilai maksimal juga kita dapatkan dengan memasang beban merata pada tempat,
yang ordinat garis pengaruhnya 4 terbesar.

392

DAI

Gambar 9.2. 1.

--i
a

Garis pengaruh pada reaksi tumpuan ,4

Garispengarur",#
393

Jikalau kita ingin menggambar garis pengaruh pada reaksi tumpuan I kita dapati
ordinat 4 garis pengaruh pada tumpuan B sebagai 4 - 1,0 dan pada tumpuan.4
sebagai 4= 0. Lihatjugagambar9.2. 1.a. di atas (Penggunaangarispengaruh).
Maka pada penentuan reaksi tumpuan oleh kumpulan gaya yang tertentu, dan be-

Kita dapat menggambar garis pengaruh pada gaya lintang pada suatu potongan
sembarang dengan menentukan ordinat 4 garis pengaruh pada tumpuan ,4 sebagai

kerja pada bagian garis pengaruh dengan ordinat 4 besar kita dapat menentukan reaksi tumpuan 4 sebagai jumlah gaya-gaya yang dikalikan dengan ordinat 4 masingnrasing seperti juga terlihat pada gambar 9.2. 1. b. berikut:

barang.

Ra=2P;4i =2P1

zi

i : j

'l

1,0 dan pada tumpuan I sebagai n :


- 1,0.
Hubungan vertikal antara dua garis ini dapat kita gambar pada potongan sem-

n=

Penggunaan garis pengaruh pada gaya lintang kita lakukan dengan mengalikan
bagian ordinat 4 yang positif dengan O dan bagian ordinat 4 yang negatif dengan
gaya lintang O.

>P,'i

9.2.3. Garis pengaruh pada momen lentur


Gambar9.2. 1. b.
Garis pengaruh pada reaksi tumpuan,4

9.2.2. Garis pengaruh pada gaya lintang


Gaya lintang sebetulnya jumlah semua gaya yang bekerja siku-siku pada
garis sumbu batang (balok tunggal) sebelah kiri atau yang dalam hubungan yang
sama sebelah kanan pada suatu potongan. Jikalau suatu gaya P : 1.0 bekerja
sebelah kanan dari potongan c maka gaya lintang Q" = Ra.
Oleh karena itu pada suatu gaya P = 1.0 yang bekerja antara potongan c dan tumpuan I garis pengaruh gaya lintang menjadi juga garis pengaruh reaksi tumpuan ,4.
Jikalau gaya P = 1.0 bekerja sebelah kiri dari potongan c maka gaya lintang O" :
RA - 1.0 = - Ra.Oleh karena itu pada suatu gaya P = 1.0 yang bekerja antara
tumpuan ,4 dan potongan c garis pengaruh pada gaya lintang menjadi juga garis
pengaruh pada reaksi tumpuan 8 yang negatif . Lihat gambar 9 .2.2. a. berikut:

Sudah kita ketahui, bahwa suatu gaya P = 1,0 pada suatu balok tunggal
pada tumpuan masing-masing tidak rnengakibatkan suatu momen. dan karena itu
ordinat 4 garis pengaruh pada momen lentur pada tumpuan masing-masing men-

jadia

g.

Jikalau kita memperhatikan suatu potongan c pada balok tunggal ini dan gaya P :
1,0 bekerja pada titik potong c, maka gaya P = 1,0 mengakibatkan suatu momen
sebesar M : 1,0. x. x' /1.
Hasil ini berarti bahwa ordinat 4 pada garis pengaruh pada titik potong c juga menjadi 4 : 1,0. x. x' /1. Jikalau gaya P = 1,0 bekerja di sebelah kanan potongan c
sembarang, maka momen itu menjadi M = R a. xdan ordinat 4 = R a.i. Hasil ini
berarti, bahwa garis pengaruh ini menjadi garis pengaruh pada reaksi tumpuan .4
yang dikalikan dengan x, dan menjadi suatu garis lurus.
Gaya P = 1.0 yang bekerja di sebelah kiri potongan c sembarang mengakibatkan
momen M = R6. r. dan ordinat n : Re. x,yang menjadi garis pengaruh pada
reaksi tumpuan I yang dikalikan dengan x ' . Lihat gambar 9. 2. 3, a. berikut:

Garis pengaruh pada momen /U

---.-.il

Garis pengaruh pada gaya lintang O"

--J-j
Garis pengaruh pada gaya lintang O7

Gambar

9.2.3.a.

Kemudian kita dapat menentukan garis pengaruh pada momen lentur dengan
= x . x' /l padatitik c dan menghubungkan nilai ini dengan
titik tumpuan A dan B.
menentukan ordinat 4

395

Cara lain dapat iuga kita lakukan dengon nrenggenrbar ukuran x di banreh tunpuan

Pada beban yang tidak langsung garis pengaruh harus menjadi suatu garis

di bawah tumpuaR 8, hubungkan titik-titik ini dengan titik tumpuan yang di depan, dua garis lurus ini harus rnerptrn1lai tit& potoflg cli bawah
potongan cdan ordinatnya harus n - x. x'/1.

lurus.

,4 dan ukuran

x'

9.2.4. Beban yang tidak langsung

Selanjutnya kita perhatikan satu balok tunggal dengan beban yang tidak langsung
menurut gambar 9.2. 4. c. berikut. Dicari: garis pengaruh pada tumpuan A, pada
gaya lintang O dan momen lentur M.

Pada banyak jenis konstrukei bangunan, terutama pada konstruksi jembatan beban berguna diterinra oleh balok tunggal yang melintang dan yang duduk
di atas konstruksi batang utama. Kejadian ini kita namakan beban yang tidak

Gambar9.2.4. c

hrqsung.
Beban yang tidak langsung

GarSar 9.2.4.

Suatu gaya P yang bekerja antara titik m-ldsrn titik rn rnengakilratkan


simgrl dengan konstruksi batang utama suatu beban sebesar:

P-', = P'T

Garis pengaruh pada reaksi


tumpuan,4

a.

@a titik

P-= P:

Pada penyelesaiannya gaya Psebenarnya harus menjadi sama dengan jurntah gaya
dan P.-1 dan kita dapat menentukan:

is
I

L--

P-:t4m-1 *Pm4m

h = Pfn,-.r*elnc'
14n-1

Garis pengaruh pada momen

lentur M"

c'

* T4-=4o*4u

Sebagai keterangan bisa dilihat gambar 9. 2. 4. b. berikut:

Gambar9.2.4. b

Ordinat 4 di bawah gaya P sebenarnya terdiri dari dua komponen 4o dan 4r.
Nilainya ditentukan dengan garis hubungan ordinat garis pengaruh 4* dan 4._1 .
Hasil ini dapat kita tulis sebagai:

396

Garis pengaruh pada gaya


lintang O,

P,

h =

__-1

Kita dapat menggambar garis pengaruh masing-masing pada beban yang tidak
langsung seperti garis pengaruh biasa. Kemudian kita menggambar garis hubungan
yang lurus antara ordinat 4 pada titik rn dan 4 pada titik rr-1, seperti terlihat pada
gambar 9. 2.4. c. di atas.
Dengan menggunakan cara ini kita dapat melihat, bahwa pada garis pengaruh pada
reaksi tumpuan tidak ada perubahan. Pada garis pengaruh'pada gaya lintang kita
dapatkan suatu garis penghubung miring dan pada garis pengaruh pada momen
lentur dapat kita potong titik puncak di bawah gaya P.
Pada penyelesaian penentuan ordinat-ordinat pada beban yang tidak langsung
sebaiknya kita menghitung dengan perbandingan-perbandingan berikut.
Pada beban merata yang tidak langsung garis pengaruh pada gaya lintang menjadi
agak sulit karena titik n = 0 tidak sama dengan titik potong c.
Untuk memudahkan perhitungan kita menentukan luasnya bidang ( + , - ) fi dan
dari bidang pengaruh dan luasnya bidang pengaruh seluruhnya'F seperti berikut:

F2

397

Dengan superposisi pengaruh masing-masing kita dapatkan:

2-1
I
I

(n

hl

drs: Pir + P2dD +

1,0)

Prdr,

+ ... +

Pndrn

Atau menurut syarat dari Maxwell llihat bab 8. 3.


lh

dn:

I.,

Gambar9.2.4. d.

P.f... + Pr6r,

13d31

2. )

dapat kita tentukan:

+ ... + Pndnl

Hasil ini berarti, bahwa d4menjadi lendutan atau dengan kata lain ordinat garis
elastis pada titik

1,2,3, ....., n oleh gaya P :

1.0 pada titik 1. Ordinat garis elastis

ini kita kalikan dengan nilai gaya P sebenarnya. Jumlah hasil kali masing-masing

Ft:-ln,t"+r,t
clic=hr:lhr+hrl

F,-

cr

-!nll,""*l

q, P2, P3, . .. .. . . , Pn
Karena ketentuan ini menjadi sama dengan ketentuan garis pengaruh pada lendutan, dapat kita tentukan:
menjadi lendutan pada titik 1 oleh gaya

h,:h!

h,=h1
a

- " a+b

Garis pengaruh pada lendutan titik

1 a2 a+b+c
2" I a+b
,!

_--

garis elastis oleh gaya P

ha2

-Z

'

2 a+b

F=fi+Fz:
F

Ft

'tF-:-- 2 a+b

h b2*a2

a+b

+ Fr: Iw-ul

(9. 3.

+ al

a+b

3.

(9.4.)

4.
5.

9.2.5. Garis pengaruh pada lendutan


Atas dasar pengetahuan pada bab 2. 8. (perhitungan lendutan) dan bab 6.
(Lendutan) kita perhatikan suatu balok tunggal yang dibebani dengan
beberapa gaya. Lendutan pada suatu titik 1 sembarang oleh beban yang sebenar-

1.3.

nya kita tentukan dengan kependekan d16.


= 1.0 yang bekerja pada titik 1 mengakibatkan lendutan pada titik
sebesar d11 dan kemudian oleh gaya P1 lendutan pr . d.1.
Suatu gaya P = 1.0 yang bekerja pada titik 2 mengakibatkan lendutan pada titik
sebesar d.12dan kemudian oleh gaya P2 lendutan pz. dn.

suatu gaya P

Seterusnya kita mendapatkan lendutan Ps.d asld


398

pr.

.0 pada

titik

sembarang menjadi sama seperti


rt sembarang.

9.2.6. Ringkasan
1. Garis pengaruh pada reaksi tumpuan ,4 mempunyai pada titik tumpuan 4
ordinat I : 1.0 dan pada titik tumpuan I ordinat 4 : 0 dan menjadi suatu garis

2.

h lb-allb

"+b

dan selanjutnya

-ha2_hb2
l-:-

61n.

lurus.

Garis pengaruh pada gaya lintang terdiri dari garis pengaruh pada reaksi
tumpuan A yang positif dan garis pengaruh pada reaksi tumpuan I yang
negatif dengan garis pengubung vertikal pada titik potong c. Garis pengaruh
pada gaya lintang menjadi negatif pada bagian balok tunggal sebelah kiri dan
menjadi positif pada bagian yang kanan.
Garis pengaruh pada momen lentur mempunyai nilai (ordinat) n = x . x'/l pada
titik potong c dan ordinat n : 0 pada titik tumpuan A dan 8. Antara titik-titik
tertentu ini garis pengaruh menjadi garis lurus.
Garis pengaruh pada beban yang tidak langsung harus menjadi garis lurus.
Garis pengaruh pada lendutan pada titik k sembarang menjadi sama seperti
garis elastis oleh gaya P = 1.0 pada titik k sembarang.

9.2.7. Contoh-contoh
Contoh 1: Pada gambar 9. 2. 7. 1. a. berikut kita melihat suatu balok tunggal (jem

batan) dengan suatu kumpulan gaya (kereta api). Jikalau dua kumpulan gaya itu
satu per satu atau bersama bisa lewat jembatan ini, dapat kita tentukan dengan
bantuan garis pengaruh nilai-nilai seperti berikut:
1. Reaksi tumpuan A maksimal
2. Momen maksimal pada titik potong c dengan jarak x

5.0 m
399

Contoh 2: Suatu balok tunggal {jembatan} dengan lebar bentang / = 25'00 m


dengan balok melintang dengan jarak = 5.00 m dibebani secara tidak langsung
oleh kumpulan gaya (kereta api) atau kumpulan gaya (gerbong). Berat sendiri

'konstruksi batangini menjadi g=1.5tlm, lihatjugagambar9.2.7.2'a,berikut.


Tempat kereta api dan gerbong menjadi sembarang. Nilai-nilai yang dicari:
1. Reaksi tumpuan ,4 maksimal
2. Momen maksimal pada titik potong c dengan iarak x = 10.0 m
3. Pada titik potong c itu ditentukan gaya lintang
4. Gaya lintang yang maksimal dan yang minimal pada titik potong c'dengan

jarakx = 6.00m.

Roda pertama dari kumpulan gaya (kereta api) kita pasang tepat di atas tumpuan A

dan kereta api kedua kita pasang sedekat mungkin (lihat gambar 9.2.7.2. b.l.
Penyelesaian kita pisahkan atas berat sendiri (g) dan kumpulan gaya (P seperti
berikut:

10.0 m:

10.0 m menjadi sama dengan titik tumpuan

pada beban yang tidak langsung rnenjadi suatu ganis lurus, hasil gaya lintang pada
potongan kiri atau kanan dari titik potong c harus menjadi sama (lihat gambar 9. 2.
7.2. e. dan f . berikut). Pembebanan harus sama seperti ditentukan pada gambar L

2.7.2.

anr

= 10,0(1.00 + 0.94 + 0,88 + 0,88 + 0,82 + 0,76 + 0,70 + 0,46


+ 0,210 + 0,34 + 0,28 + 0,22 + 0,161

Re

69,6

d"

10.0 m:

Karena kita pasang kumpulan gaya demikian rupa, sehingga salah satu gaya P
bekerja pada titik potong c kita tidak usah memotong puncak garis pengaruh pada
momen lentur dan ordinat 4 pada titik potong c dengan jarak x = 10.0 m dapat kita
tentukan sebagai:

10,0.15,9_

2ro

: t,s1)

tl5,0

as,= 1,5Tn

o,o

Penentuan momen maksimal pada titik potong c dengan x

n= xx'
r :

x=

18,75t

Rap

2.

Penentuan gaya lintang atas dasar beban tadi pada titik potong c dengan jarak

Selanjutnya kita dapatkan hasil gaya lintang sebagai:

Rnc: gF:1,521,0.25,0 =

1A,0. 6,96

3,

balok melintang (tiap-tiap 5.0 m) kita hanya dapat menentukan gaya lintang
sebelah kiri (/) dan sebelah. kanan(r) dari titik potong c itu. Karena garis pengaruh

Penentuan reaksi tumpuan ,A maksimal:

(0,60 + 1,50 + 4,2o + 5,10 + 6.00 + 5.40 + 4,80


+ 4,20 + 2,N + 1,80 + 0,20) : 10,0.36.20 = 362.0tm

Mp:10,0

Karena titik potong c dengan jarak

Penyelesaian:

1.

Karena kita tidak tahu apakah ini betul-betul men.iadi momen Mp maksimal, kita
harus juga memeriksa kemungkinan gerbong sebelah kiri dan sebelah kanan dari
kereta api itu (lihat gambar 9.2,7.2. d.) dan mendapatkan nilai yang sedikit lebih
tinggi dari nilai yang tadi:

Qp1

5,0) = 7,s t

1o,o) = o

= 1Q,Q(*0,04 -

0,10 + 0,12 + 0,36 + 0,60 + 0,54 + 0,48 + 0,42

+ 0,24 + 0,18 +

0,021

Ap1: 10,0.2,82 = 28,2t


Oo,

:10,0{-

0,04

0,10

+ 0,24 + 0,18 +

6,00
=
=o'(ru

Selanjutnya kita pasang kumpulan gayd (kereta api) demikian rupa, sehingga
bekerja pada titik potong c dengan jarak x = 10.0 m. Sebelah kanan kita tempatkan

Ao,

10,4

{-- 0,48} =

- 0,28* 0,34 -

0,40

0,16 + 0.08 + 0,32

0,02)

4,80 t

suatu kereta api lagi dan sebelah kirl suatu gerbong sedekat mungkin (lihat gambar
9.2.7.2. c. berikut) dan terdapat nilai-nilai seperti berikut:

Ms

225,O.

6,0. 1,5

112,5tm

Mp= 10,0(0,60 + 1,il + 4,20 + 5,10 + 6,0 + 5,40


+ 4,80 + 4,2O + 1,80 + 0,60)
Mp
402

10,0 .35,40

354,0 tm

Gambar situasi

Gambar 9.

2.7.2.

a.

403

tso t50 150 t'o


%tm_

150

-,150,t50,150 ts7

150

Garis pengaruh pada gaya lintang

0",

Garis pengaruh pada reaksi tumpuan ,4

s)

c)

_-r-

----

Garis pengaruh pada gaya lintang

t50

t0

Garis pengaruh pada momenlentur M"

A",-",

__

t50

i--r-

2000

h)
450

--.J:.1 -

100

-1

d)

Garis pengaruh pada gaya linlang Q",

4.

Garis pengaruh pada momenlentur M"

404

Gambar9.2.7.2. b. s/d e.

x=

6.0 m:

Menurut gambar 9. 2.7.2. g. kita mendapatkan Q",


-r, dengan memasang kereta
api dan satu gerbong pada bagian garis pengaruh yang positif. Kita mendapatkan
hasil:

1,sT

Apmax

10,0(0,36 + 0.@ + 0,54 + o.zl8 +o,42 + 0,36 + 0.18 +o,121

Apmax

10,0.3,06

os

Garis pengaruh pada gaya lintang O"7

Gambar 9.2.1.2. f. s/d h.

Penentuan gaya lintang yang maksimal dan yang minimal pada titik potong c'
dengan jarak

----1

-i,

tls,o

- s,o) = 7,s t
30.61
405

Selanjutnya menurut gambar 9.2.7

.2. h. kita dapatkan

Ar,

-6

dengan memasang

sebagian dari kereta api pada bagian garis pengaruh yang negatif.
dapatkan hasil:
Qpmin

9.3.

=
=

10,0
10,0

(-

(-0,440)
0,020

0,080

=-

4,40

0,140

Kiu

men-

(+.-)

garis

pengaruh pada gaya lintang domikian rupa, sehingga gaya lintang menjadi positif
jikalu tumpuan
iit.t", tr.puan konsole berada di sebelah kiri dan menjadi negatif
konaole berada di sebelah kanan.

0,200)

Garis pengaruh pada konsole, pada balok


tunggal dengan konsole dan pada balok
rusuk Gerber

9.3. 1. Garis pengaruh pada konsole


Penentuan garis pengaruh pada konsole sebenarnya tidak ada kesulitan-

9.3.2. Garis pengaruh pada balok tunggal dengan konsole

: 1'0 bergprak
Jikalau pada suatu balok tunggal dengan konsole gaya P
pengaruh
antara tumpuan.4 dan 8, konsole itu tidak mempengaruhi bentuk garis
ankonsole
dengan
atau dengan kata-kata lain: garis pengaruh pada balok tunggal
pada
tunggal.
pengaruh
balok
garis
tara tumpuan A dan B harus sama seperti
Jikalau gaya F: 1.0 bergerak pada konsole yang sebelah kiri, reaksi tumpuan R1
akan.tumbuh linearsampai gaya P = 1.0 bekeria pada ujung konsoleyang bebas
dengan nilai:

nya.

Jikalau gaya P = 1.0 bekerja pada suatu titik sembarang reaksi tumpuan juga menjadi Ra: 1.0, dan garis pengaruh pada $uatu titik sembarang juga harus mempunyai ordinat n : 1.0 maka garis pengaruh ini menjadi suatu segiempat menurut
gambar 9. 3. 1. b.

Gaya lintang hanya timbul jikalau P : I.0 bekerja pada ujung konsole yang bebas,
yaitu pada gambar 9. 3. 1. a. sebelah kanan dari potongan sembarang z'. Gaya lintang selalu menjadi O = 1.0 tidak terikat pada titik tangkap gaya P: 1.0 selama
titik tangkap itu berada antara potongan yang kita perhatikan dan ujung konsole
yang bebas. Garis pengaruh pada gaya lintang juga menjadi suatu segiempat antara
potongan z'yang diperhatikan dan ujung konsole yang bebas, seperti terlihat pada

garnbar9.3.

1. c.

Garis pengaruh pada momen lentur hanya timbul jikalau gaya P = 'l .0 bekeria antara titik potong z'yang kita perhatikan dan ujung konsole yang bebas. Antara tumpuan dan titik potong z'orclinat n garis pengaruh menjadi n : 0. Dari titik potong z;
ke kanan ordinat 4 tumbuh linear sampai gaya P = 1.0 bekerja pada titik ujung konsole yang bebas dan mengakibatkan suatu mornon sebeear M -= 1,0. z dengran ordinat 4 : z, seperti terlihat pada gambar 9. 3. 1. d. berikut:
al

Gambar9.3. 1. a. s/d d.

-t-

"--]-:ru-4,
at

406

Perlu diperhatkan, bahwa tempat tumpu'an menentukan tanda

Garis pengaruh pada reaksi tumpuan

Garis pengraruh pada gaya lintaqg Or,

RA:

a.+l
t-

1,0--!

Jikalau gaya P = 1.0 bergerak pada konsole yang sebelah kanan, reaksi tumpuan
86 akan tumbuh linear juga dan kita dapat menentukan pengaruh atas tumpuan ll
sebagai:

RA

a.
: - 1,0;

pada
Garis pengaruh pada reaksi tumpuan ,4 berbentuk selanjutnya seperti terlihat
gambar 9. 3. 2. b. Garis pengaruh pada reaksi tumpuan I kita dapatkan secara
kiasan (lihat gambar 9. 3' 2. c.).
Gayalintang-padatitikpotongcmenjadi samapadaP= l.0sebelahkiri dari titik
poiong c, dengan reaksi tumpuan RB yang negatif' Pada P : 1 '0 sebelah kanan
garis
dari titik porong c sama dengan reaksi tumpuan Ba' Kejadian ini menentukan
berikut'
gambar
pada
9 '3'2"d'
pengaruh pada gaya lintang O" seperti terlihat
p
Moien lentur pada titik potong c menjadi negatif jikalau gaya : 1 .0 bekerja pada
sebagai:
tentukan
kita
dapat
ordinat
atau
Hasil
4
salah satu konsole.

M:-Rsx'=-

Ir

M: - R4x: -

?,

pada konsole sebelah kiri, dan


pada konsole sebelah kanan.

gambar
Penentuan garis Pengaruh pada momen lentur dapat kita lihat pada

9. 3. 2, e, berikut:
Garis pengaruh pada momen lentw M,.
407

--1-)

Garis pengaruh oleh gaya P = 1.0 terhadap potongan z, atau 2,, sembarang pada bagian konsole dapat kita tentukan seperti pada konsole
Lriasa pada bab 9. 3. 1. (Garis pengaruh pada konsole).

Gambar 9. 3. 2. a. s/d g.

Garis pengaruh pada


reaksi tumpuan 4

9.3. 3. Garis pengaruh pada balok rusuk Gerber


Pada penentuan garis pengaruh pada balok rusuk Gerber kita perhatikan
balok rusuk Gerber menurut gambar 9. 3. 3. a s/d h. berikut. perhitungan balok
rusuk Gerber dengan beban yang tetap dapat dilakukan menurut bab 3. 6. (Balok
rusuk Gerber).

Garis pengaruh pada


reaksi tumpuan

lngat, bahwa bagian balok yang bergantung (tumpuan A s/d engsel 91 ) pada
perhitungan menjadi suatu balok tunggal. Ketentuan ini dapat kita lakukan juga
pada penentuan garis pengaruh. Jikalau suatu gaya bekerja sebelah kanan dari
engsel 91 maka gaya itu tidak berpengaruh atas tumpuan

A,

gaya lintang O maupun

momen lentur M.

Garis pengaruh pada


gaya lintang Oc

Garis pengaruh pada


momen lentur M"

Garis pengaruh pada


gaya lintang Qr, dan Q.r.,

el

il',

Garis pengaruh pada

momen lenlur Mz,dan Mz

Kesimpulan: garis pengaruh pada bagian balok rusuk Gerber yang bergantung
hanya menerima pengaruh oleh gaya-gaya pada bagian yang bergantung itu. Lihat
juga gambar 9. 3. 3. a., c. dan d.
Pada penentuan garis pengaruh bagian balok rusuk Gerber yang menjadi balok
tunggal dengan konsole pada kedua ujung (antara engsel g 1 dan 92) kita perhatikan
dahulu bab 9. 3. 2. (Garis pengaruh pada balok tunggal dengan konsole). Jikalau
misalnya gaya P: 'l .0 melewati engsel gt pada jurusan ke tumpuan A, maka
pengaruhnya atas tumpuan 8 makin lama makin kecil. Jikalau gaya p: 'l .0 bekerja
pada tumpuan A gaya P itr: tidak mengakibatkan reaksi lagi pada bagian balok
rusuk Gerber antara engsel-engsel g1 dan 92 maka ordinat garis pengaruh n : O.
Atas dasar kejadian ini dapat kita tentukan garis pengaruh pada bagian balok rusuk
Gerber antara engsel-engsel 91 dan 92pada reaksi tumpuan RB, gaya lintang O2
atau momen lentur M2, seperti pada balok tunggal dengan konsole. Kemudian dari
ujung konsole yang menjadi engsel 91 atau 92 kita hubungkan titik itu dengan titik
tumpuan A atau D, masing-masing karena ordinat n = 0. Lihat juga gambar 9. 3. 3.
b., e.,t., g. dan h. berikut.
Pada balok rusuk Gerber dengan beban yang tidak langsung. ketentuan-ketentuan
dapat kita lihat pada bab 9. 2. 4. (Beban yang tidak langsung).
Akhirnya dapat kita tentukan:
1.

Atas dasar gambar 9. 3.2. b. s/d e. dapat kita tentukan:


Garis pengaruh pada reaksi tumpuan, pada gaya lintang dan pada momen
fentur pada suatu potongan c antara tumpuan A dan B kita dapatkan dengan garis pengaruh pada balok tunggal yang diperpanjang lurus sampai

ujung konsole masing-masing.

2.

Garis pengaruh pada reaksi tumpuan, pada gaya lintang dan pada momen
lentur terdiri dari garis-garis yang lurus.

Garis pengaruh pada semua tumpuan mendapat ordinat


kekecualian misalnya tumpuan

n : 0

dengan

pada garis pengaruh pada reaksi tumpuan ,4

dsb.
Garis p,engaruh pada tiap-tiap titik engsel mengubah jurusan (titik engsel
patahan garis pengaruh).

titik

408
409

Gambar 9. 3. 3. a'

s/d

h.

Garis pengaruh
pada reaksi tum-

puan.4

Garis pengaruh
pada reaksi tumpuan

Garis pengaruh

pada gaya
tang

lin-

O1

Garis pengaruh

pada

momen

lentur M1

Garis pengaruh
pada gaya iintang A2

Garis pengaruh

pada

momen
lentur M2

Garis pengaruh

pada gaya

lin-

tang O1

Garis pengaruh pada balok tunggal dengan konsole pada reaksi tumpuan, pada
gaya lintang dan pada momen lentur pada suatu potongan sembarang antara
dua tumpuan balok tunggal ini kita dapatkan dengan memperpanjangkan lurus
garis pengaruh pada balok tunggal sampai ujung konsole masing-masing.
Garis pengaruh pada balok tunggal dengan konsole pada reaksi tumpuan, pada
gaya lintang dan pada momen lentur pada suatu potongan sembarang pada
bagian konsole, dapat kita tentukan seperti pada konsole biasa.
4. Garis pengaruh pada bagian balok rusuk Gerber yang bergantung, dapat kita
tentukan seperti pada balok tunggal biasa.
Garis pengaruh pada bagian balok rusuk Gerber di antara dua engsel, dapat kita
tentukan seperti pada balok tunggal dengan konsole dan kemudian menghubungkan titik ujung garis pengaruh pada engsel dengan titik tumpuan berikut
dengan ordinat 4 = 0 dengan garis lurus.
Garis pengaruh pada reaksi tumpuan, pada gaya lintang dan pada momen
lentur terdiri.dari garis-garis yang lurus (pada semua konstruksi batang yang
statis tertentu) dan selalu mengubah jurusan pada suatu titik engsel. Garis
pengaruh kemudian mendapatkan pada semua tumpuan ordinat 4 = 0 kecuali
pada tumpuan yang ditentukan dengan garis pengaruh pada reaksi tumpuan
itu.

2.

9.3.5. Contoh-contoh
Contoh 1: Pada suatu rel sebagai balok rusuk Gerber berjalan dua derek menurut
gambar 9. 3. 5. a. berikut (tekanan derek dalam kurung menjadi beratnya derek
sendiri). Dicari:

1. Reaksi tumpuan R4, Rsdan R6


2. Momen lentur pada pertengalun bagbn,4-B
3. Momen lentur pada pertengahan bogian engsel grC
4. Momen tumpuan M6
5. Gaya lintang pada tumpuan I

Garie pengnruh

pada

momen
lentur M1

9.3.4. Ringkasan
1. Garis pengaruh pada konsole membentuk

410

Gambar9.3.5. a.
Penyelesaian:

pada reaksi tumpuan dan pada gaya


pada
lentur suatu segitiga dengan titik
momen
persegi
dan
empat
lintang suatu
puncak di atas ujung konsole yang bebas dan titik ordinat4 = 0 pada potongan

Garis pengaruh pada reaksi tumpuan masing-masing yang maksimal dan yang

yang diPerhatikan'

minimal dapat dilihat pada gambar 9. 3. 5. b. berikut.

1.

Penentuan reaksi tumpuan Ra, Rsdan Rg;

411

Pada tumpuan,4 kita dapatkan nilai maksimal dan minimal seperti tergambar pada
gambar9. 3. 5. b. sebagai:

RA*", = 10,0(1,075 + O,U2l + 14,0$,741 + 0,4751 :36,2t


RA-i,: 10,0 (- 0,100 - 0,333) + 14,0 (-0,300 0,211) =
Pada tumpuan

11,51

maksimal dan kemudian dapat ditentukan:


14,0 (1,333 + 0,9fl7l = 54,7 t

Nilai minimal kita dapati dengan memasang derek pada bagian garis pengaruh yang
negatif karena pada derek kiri satu roda masih berdiri pada bagian garis pengaruh
yang positif (lihat gambar 9. 3. 5. b. ), maka kita menentukan, bahwa derek itu menjadi kosong (tidak bekerja) dan yang diperhatikan hanya berat sendiri. Nilai minimal
selanjutnya menjadi:
RB

-in =

5,0

(-0.075 + 0,158) +

14,0 (0,033

0,3221

: -

Penentuan momen lentur pada pertengahan bagian A_ B:


Kita menentukan ordinat 4 garis pengaruh pada titik potong di pertengahan bagian

,4

kita dapatkan nilai maksimal dengan memasang dua derek ini

pada tempat dengan ordinat 4


RB-u* 10,0 (1,000 + 1.233)

2.

3,635

-I

'

sebagai:

xx'
I

6,0'6,0
12,0

Kemudian dapat kita gambar garis pengaruh seperti terlihat pada gambar 9. 3. 5. c.
berikut. Nilai-nilai Mmax A_B dan M*;n 4-s kita dapat kita tentukan sebagai:

:
Mmin A-B :
Mmax

10.0(1,000 +2,4ol0)

A_B

14,0(3,000+ 1,4O0)

95,6tm

10,0(-0,600-2,000) + 14,0(-1,800-"t,2671:
-69,0tm

2W 2M t20

3m

Garis pengaruh pada momen

lenlur M^.r4_s

Garis pengaruh pada momen

lentur

Pada tumpuan C kita hanya dapat menentukan nilai maksimal. karena tidak ada
pengaruh yang negatif dan yang bisa menentukan nilai minimql. Selanjutnya nilai
maksimal menjadi:

Rc-"r= 10,0Q,ilz

+ 0,876) +

14,0 (0,975

1,2421

46,2t

Rc-in=o
Garis pengaruh
pada reaksi tumpuan

4-r,

Garis pengaruh
pada reaksi tumpuan.4n.';n

Gambar9.5.3. c.

3.

Penentuan momen lentur pada pertengahan bagian g-C..

Garis pengaruh dapat kita tentukan seperti pada titik 2. dan seperti terlihat pada
gambar 9. 5. 3. d. berikut. Pada penentu an M^lng-c kita mendorong satu derek ke
bagian kiri yang tidak mempengaruhi bagian g-i. Kemudian dapat kita tentukan
nilai M^rr*g dan M^inn-6 seperti berikut:

Garis pengaruh

Mmax

pada reaksi tum-

Mmin

puan

8-",

Mm6A-B

s*c =
s-c =

10,0(1,0O0

+2,4001.+ 14,0(3,000+ 1,40/ll. = 95.6tm

14,0(+0,150-1,450)

= -18,2tm

Garis pengaruh pada momen lentur


Mmarg-c

Garis pengaruh
pada reaksi tumpuan 8r;n

Garis pengaruh
pada reaksi tum-

puan

Cr*

Gambar9.3.5. b.

4't2

Garis pengaruh pada


momen lentur M.;nn_g

Gambar 9. 3. 5. d.

413

4.

Penentuan momen tumpuan 8:

Kita menggambar garis pengaruh pada momen tumpuan I pada bagian konsole
sbelah kanan dari tumpuan L Ujung konsole (engsel g) kita hubungkan dengan
garis lurus dengan tumpuan C fi - O) dan sampai ujung konsole yang di sebelah
kanan dari tumpuan C, seperti terlihat pada gambar 9. 3. 5. e. berikut. Nilai-nilai
M^r* gdan M,6n Bdapal kita tentukan sebagai:

= 10,0(-1,200-4,m0) + 14,0(-3,600-2,533) = -137,8tm


M.n a = 14,0(-0,100 + 0,967) = 12,15tm
MtmxB

Garis pengaruh pada momen


tumpuan Mmax B
Gambar 9. 3. 5. f.

Garis pengaruh pada gaya

lintang A^a*

B,

Garie pengaruh pada filornen tumpuan MminB


Gember 9. 3. 5. e.

5.

Penontuan gaya lintang pada tumpuan 8..

Karena pada titik potong yang kita perhatikan (titik tumpuan 8) ada bekerja suatu
gaya (reaksi tumpuan 8); maka kita harus menggambar garis pengaruh pada gaya
lintang sebelah kiri (4 dan sebelah kanan (r) dari tumpuan-B itu seperti terlihat pada
gambar 9. 3. 5. f. dan 9., dan kemudian kita dapatkan nilai O.u, dan Or;n juga
dengan nilai sebelah kiri (4 dan sebelah kanan (r) sebagai Amax Bt Amax B, Amin Bt
d6n O]n;n,sr seperti berikut:

=
Amax Br =
Amax B, =
Amin Br =
Amin

414

Bt

10,6'0,4@-0,63A + 14,0(-0,733-l,m) = -34,6t


5,0(+0,075-0,158) + 14,0(-0,088+0,081) = +0,6t
10,0(1,000+1,000)

Garis pengaruh pada


lintang Am6 Br
Gambar9.3.5. g.

9.4.

+ 14,0(1,000+0,733) = +4,25t

14,01+0,025-0,242)

= -3,04t

9. 4.

Garis pengaruh pada busur tiga ruas


1. Perhitungan dengan beban yang tetap

'

Sebagai dasar pada penentuan konstruksi busur tiga ruas dengan beban
yang tetap kita perhatikan penentuan-penentuan bab 3. 7. 3. 2. (Konstruksi busur
tiga ruas dengan gaya-gaya pada dua bagian busur), terutama penyelesaian secara
analitis (lihat gambar 3.7 . 3. f . pada jilid satu buku ini).
Atas dasar ketentuan-ketentuan itu dapat juga kita tentukan garis pengaruh pada
beban yang tetap.

4't5

Dangan v7 sebagni resultante semua gaya yang vertikal pada bagian konstruksi
busur tiga ruas yang sebelah kiri dari potongan $crnbarang x. y menjadi positif
iikalau berjurusan ke atas.

Hl rneniadi resultante semua gaya yang horisontal pada bagian konstruksi busur
tiga rllas yang sebelah kiri dari potongan sembarang x. l/ menjadi positif
iikalau berjurusan ke kanan.
Rurnus (9. 5.) dan rumus (9. 6.) hanya dapat digunakan pada konstruksri busur tiga
ruas dengan beban yang tetap.

9.4.2. Garie pengaruh pada reaksi tumpuan

Gambar9.4. 1. a.
Reaksi tumpuan R4 dan Rs dan kita bagi atas komponen 'horisontal' H'a dan H's
dan komponen vertikal, yaitu 8a, dan 86, menurut rumus berikut:
RAn

re,u, orn

Ra, =

Pada beban tetap reaksi tumpuan R4n dan ff6, menjadi sama pada
konstruksi busur tiga ruas dan pada sistim dasar (balok tunggal dengan lebar bentang = 0. Oleh karena itu garis pengaruh pada reaksi tumpuan )rang vertikal harus
menjadi sama $eperti pada garis pengaruh pada reaksi turnpuan pada balok tunggal
(lihat garnbar 9. 4. 2. a. dan b. ).
Komponen horisontal H pada beban yang tetap dapat kita tentukan tlengan rnorren

pada erqsel pada si$tim dasar, yang dibagi dengan tingginya titik puncak (cian

engsel) f pada konstruksi busur tiga ruas. Garis pengaruh komponerr horisontal

R4, dan R6, menentukan juga reaksi tumpuan pada sistim dasar, yaitu suatu balok
tunggal dengan lebar bentang I seperti terlihat pada gambar 9. 4. 1. a. di atas.

momen lentur pada sistim dasar (lihat bab g. 2. 3.) dengafl ordinatnya rnasing- masing dibagi dengan tingginya titik puncak f.
Jr.#OrO;nat garis &ngarr;4 pada engsel g kern"rudian menjadi: ,n

Kemudian komponen horisontal H menjadi:

H = Hn =

He:

H'4coso

H'Bcosa =

I/

dapat kita gambar demikion rupa. sehingga kita gambar garis pengaruh pada

ze'",

(lihat.iuga ganrbar 9. 4. 2. c.).

,,"o", ='fo

Garnbar 9. 4. 2. a.

s/tl c.

Dengan M* sebagaimomen lentur pada sistim dasar pada titik engsel g dan dengan fsebagai tingginya engsel dari garis penghubung tumpuan 4 dan tumpuan 8.
Momen lentur pada potongan sembarang x dapat kita tentukan sebagai:

Mr: Mw- HY

o'

Dengan M, sebagai momen pada titik x sembarang pada sistim dasar flihat juga
gambar 9. 4. 1. a.).
Pada penentuan gaya normal dan gaya lintang kita menggunakan rumus-rumus
dan pengetahuan dari bab 3. 7. 3.2. dan menentukan pada potongan x sembarang:

- N, =
Ax
416

IVTsin

2Vtcos

<p

<p

+ ZHlcostp
2H1sin

<p

L-ls

L--"''-

------]:=:"o

Garis pengelruh pada


reaksi tumpuan rt?7,

Garis pengaruh pada


reaksi tumpuan frp,

(9.5.)
(9.6.)

Garis pengaruh oleh

komponen horisontal H
417

Gambar9.4.3. a. s/d

e.

Garis pengaruh pada


reaksi tumpuan 4

#toro

Garis pengaruh pada


reaksi tumpuan 8
Gambar 9.

Garis pengaruh pada momen

4.2. d. dan e.

lentur Mo,

Penentuan garis pengaruh pada reaksi tumpuan .4 dan I dapat kemudian kita
lakukan dengan superposisi garis pengaruh pada reaksi tumpu?n Rqv atau Rs,
dengan garis pengaruh oleh komponen horisontal H seperti terlihat pada gambar 9.
4.2. d. dan e. di atas.

Jikalau tumpuan

dan

tidak berada dalam satu dataran maka kita

Garis pengaruh oleh komponen horisontal H yang dikali-

c)

kan dengan ukuran y

harus

Garis pengaruh pada momen


lentur M, yang di-superposisi-

memperhatikan pengaruh sudut a. Atau dengan kata-kata lain garis pengaruh oleh
komponen horisontal H harus dikalikan dengan tan a sebelum di-superposisi-kan
menurut gambar 9. 4.2. d. dan e. di atas.

kan

Garis pengaruh pada momen


lentur M, yang di-superposisi-

9.4.3, Garis pengaruh pada momen lentur

kan

Pada penentuan garis pengaruh pada momen lentur dengan beban tetap
perhatikan
rumus berikut:
kita

Mr: Mor- HY
seperti pada garis pengaruh pada reaksi tumpuan, garis pengaruh pada momen
lentur terdiri dari suatu kombinasi dua garis pengaruh .yang sudah kita ketahui.
Garis pengaruh pertama ialah garis pengaruh pada momen lentur pada suatu titik

9.4.4. Garis pengaruh pada gaya normal'dan gaya


Kita memperhatikan rumus

xx'

garis pengaruh kedua ialah garis pengaruh oleh komponen horisontal H yang
negatif dan yang dikalikan dengan ukuran y. Y ialah tingginya busur pada titik sembarang x ilihat gambar 9. 4. 3. a. berikut). ordinat 4s di bawah titik engsel I kemudian menjadi:

N, = IVTsin

<p

pada

ZHlcosQ

Karena sebenarnya Hr

H dapat kita tulis:

- Nr= (Ra*2P7)sinP
RA :

+ Hcosp

Ra, + //tan a

Jikalau kita men-superposisi-kan dua garis pengaruh ini kita dapatkan garis
pengaruh pada momen lentur seperti terlihat pada gambar 9. 4. 3. d. berikut

dan kemudian:

(bidang yang diarsir). Boleh juga menggambar garis pengaruh pada momen lentur
ini seperti terlihat pada gambar 9. 4. 3. e. berikut.

418

Menurut bab 9. 4. 2. dapatkita tentukan. bahwa

lrl,

n= tf

pada titik

konstruksi busur tiga ruas dengan beban tetap yang berbunyi:

sembarang x pada sistim dasar (lihat juga bab 9. 2. 3. ) dengan ordinatnya:

n: l

(9.5.) gaya normal

Iantang

N,

(Ra,

Htana

- ZP/sinq + H cosP
419

Pada rumus ini R4,


- EPt meniadi gaya lintang Oq, pada suatu balok tunggal
dengan lebar bentang = I oprda titik sembarang x:

Garis pengaruh oleh komponen horisontal l/ yang dikali-

- Nr= Osrsinrp + Htanasinrp + Hcostp


- N, = Osrsin 9 * ;;;

(sino sin rr

kan dengan

faktor

sin (rp-o)
COs

cosa cosp)

-'l

Garis pengaruh pada gaya lin-

tang O, yang disuperposisikan

cos(P

* N. = Qorsing * ,

o)

(9.7.)

COs a

e)

Garis pengaruh pada gaya lin-

tang Oor yang dikalikan

ngon sin

Penentuan gaya lintang atas dasar rumus (9. 6.) pada titik x ssmbararp pada
konstruksi hrsur tiga ruas dengan bebon tetap kha lakukan demikian ruia.
sehingga:

Garb pengaruh oleh komponen horisontal H yang dikali-

f)

kan dengan

Oorcos

a, =

- *"

aorcosp

-,

(sin rp cos a

sinlq

- o),

cos a

Gambar9. 4. 4. c. s/d g.

cos rp sin o)

9.4.5. Ringkasan
(9.8.)

Jikalau tumpuan A dan B berada dalam satu dataran, maka a = 0.


Rurnus (9. 7.) dan rumus (9. 8.) dapat kita tulis seperti berikut:

N, = Osrsinrp +
Q,

coe(r+r'o)

Garis pengaruh @a gaya normal fl, yang di-zuperposisi-kan

q + Htanoc,osg - Hsinq

ox = oorcos.

f6119;

cos o

Or=IYTcoeq-ZH1sin9
Ox

de-

<p

Penentuan garis pengaruh pada konstruksi busur tiga ruas berdasarkan


rumus-rumus penentuan reaksi tumpuan, !'nomen lentur, gaya norrnal dan gaya lintang pada konstruksi busur tiga ruas dengan beban tetap.

Kita dapot menggambar garis pongaruh pada konstruksi busur tiga ruas selalu
dengan men-superposisi-kan dua komponen dengan garis pengaruhnya yang
dikalikan dengan satu faktor.

Hcos<p

= Aorcosp - Hsinq

9.4.6. Contoh
Suatu konstruksi busur tiga ruas yang berbentuk parabol menurut gambar
9. 4. 6. a. berikut. Dengan bantuan garis pengaruh masing-masing kita cari: reaksi
tumpuan, momen lentur, gaya lintang dan gaya normal pada titik x oleh berat senGambar9.4.4. a. dan b.

\--------L-

ili
420

diri gr

1.0

1/mdanbobanq = 3.0t/m.

1,

Garis pengaruh pada gaya lin-

tang Qo, yang dikalikan


dengan cos

rp

Gambar 9. 4. 6. a.

421

Penyelesaian:
Penentuan nilai y dan rp menurut ilmu ukur:

en'

t=12,@m f=4,00m x=3,00m x,=9,00m


11

= lr=

menurut persamaan parabol dapat kita tentukan:

y' =

#,il - x) = \#3,0.s,0
#

tan(p =

Gambar9.4.6. d.

^s'

6,00m

-2x) =

)#

Garis pengaruh pada gaYa lintang

A, = QorcosP - Hsinrp Padax : 3'00 m


oleh Osrcosrp * 4, = l,Ocosrp = 0,882
oleh Hsin e - rlg= 0,750'0,555 = 0,416

= 3,oom

fi2n -2.3,0) = 0,667

0,667 p = 33,7o

sin(p =

9,5,55 cosp = 0,832

E.'

5B.

Penentuan garis pengaruh masing-masing:


Gambar 9. 4. 6. b. dan c.

Gambar 9. 4. 6. e.

Garis pengaruh pada gaya normal


Garis pengaruh pada reaksi
tumpuan i9a dengan 4, : t,@
Garis pengaruh oleh komponen
horisontal H dengan

nc:

lrl,
6,0.6,0
=ffi:0,750
-V

N, = Osrsinrp + HcosrpPadax:3.0m

oleh Oo, sinp * nr: l,Osine = 0.555


oleh Hcos q * Hg: 0,750.0,t1i]2 = 0,@4
Hasil oleh penentuan garis pengaruh:
Pada reaksi tumpuan masing-masing:
1

RA-"r=
Garis pengaruh pada momen lentur
M, = Mo, H.y pada x = 3.0 m

xx' 3,0.9,0
4ox: ,:6=2,250
ns =

t.l.

iv:

0,750.3,00 =

T
1

H-a, =

1,0.12,0(1,0+3,0) =24,0t
0,75.12,0 (1,0

+ 3,0) = 18,0t

Pada momen lentur:

2,2fi

Titik dengan momen nol kita dapatkan pada titik 4.&) m dari tumpuan ,4 menurut
gambar 9. 4. 6. c. di atas. Luasnya bidang momen yang negatif dan yang positif
selanjutnya meniadi:
1

F1: ,4,ffi.125:
422

+2,70
423

r_ = z 7,2O.0,7W= _2,70
F =F++F =0
Karena beban oleh berat sendiri selalu ada pada seluruh konstruksi busur tiga ruas
yang pada contoh ini meniadi simetris dengan garis / -- 8 yang horisontal dapat kita

tentukan: Ms =

A.

iJntuk menentukan nilai batasan pada momen lentur oleh beban q kita membetrani
hanya bagian dengan bidang pongaruh yang positif atau yang negatff, yaitu:

= + 2,70.3,00

Mpma'

Mpn* =

2,70.3.00

= 8,10tm

= - 8,10tm

Pada gaya lintang:

Os=0
Aon,,,

=*

Ool-iri= *-

0,416.3,0.3,0
1,87

* 't,87 t

Pada gaya normal:

= --1,0 r+ 12,0.0,6a4 -*a,o.o,rss *


]s,o.o+ror
Ns= - 1,0.5408 = -5,408t
Mrma = -- 3,0.5,rm = - 16,224t Nrr*o = O
N min= -21,53t
Ns

A. Ritter). Persamaan-petsarnaan itu memperlihatkan. bottwa


gayi, hdt,fitng dapat ditentukan dengan molnen lentur dan gaya lintang pada suatu
srstirn d{}s,ar (balok tunggal} dengan suatu faktor menurut bentuk korxstruksi rangka
batang rrnaring-masing. Karena itu garis pengaruh pada gaya batang {unpa faltorfaktor itu) biasanya meniadi sanxr saperti garis pengaruh pada ggya lintang dan
[rarang merurrut

mornen lentur pada balok tunggal. Kadang-kadang garis perqaruh hanrs disup6rp(,sisi-kan seperti pada konstruksi busur tiga rua$.
Pada dasar-dasar konstruksi rangka batang telah kita tentukan, bahwa gaya-gsy8
hanya dapar bekerja mda titik simpul masing-masing. Jikalau kernudian timbul
gaya-gaya yang bekerja antara dua titik simpul, kita harus memperhatikan
pengotahuan tentang beban yang tidak langsung {lihat bab 9. 2. 4. ).
Pada penentuan garis pengaruh pada konstrukai rangka baung harue kita
pertrotikan batang tepi yang menerima beban. Pada umumnya batang topi itu ditandai dengan garis putus.

9.5.2. Konstruksi rangka batang dengon batang tepi ceisiar


Fersarnaan gaya batang pada konstruksi rangka batang dengan batang
tepi seiajar menurut pengotahusn dacar A. Bitter (lihat bab 4. 3. 3.) dapat kita to{ttukan:
Pada batang tepi atas (O) dan bawah (U):
(9.9.1

ParJa

Garis pengaruh pada konstruksi rangka

9. 5.

batang
9.5.

f.

Pengetahuan dasar

Tidak mungkin dalam bab ini kita memperhatikan sernua kemungkinan


mengenai garis-garis pengaruh pada konstruksi rangka batang yang statis tertentu.
(ita akan membatasi diri pada beberapa macam konstruksi rangka batang yang
psnting. Ketentuan-ketentuan pada konstruksi rangka batang itu iuga dapat
digunakan pada konstruksi rangka batang yang lain.
Reaksi tumpuan pacia suatu konstruksi rangka batng biasa menjadi sama seperti
pada suatu balok tunggal dengan lebar bentang yang sama. Oleh karena itu juga
garis pengaruh menjadi sanra dan kita mengabaikan konstruksi garis pengaruh pada
reaksi tumpuan pada konstruksi rangka batang selan.iutnya.
Pada pener"ltuan garis pengaruh pada gaya batang kita menggunakan gmrsamaan
pada beban yang tetap yang telah kita pelajari pada bab 4. 3. 3. (Ferhitungan gaya
424

batang diagonal (O):

a
+'----:*-(p

(9.10.)

Sln

Pada batang vertikal ( V):

V=l:PalauV=OatauV=tA

(9. 1r.

Garis pengaruh pada gaya batang tepi dapat i(ita gambat dengan penentuan geris
pengaruh pada momen lentur lxda sistim dasar (balok tunggal) dengan ordinatnya
n yang dibagi atas ketinggian h konstruksi rangka batang itri (lihat iuga gambar

9. 5. 2.

a.

s/dc").

Garis pengaruh pada gaya batang diagonal dapat kita gambat dengan penentuan
garis pengaruh pada gaya lintang pada sistim dasar dengan ordinatnya 4 yang
425

dibagi atas sin g (dengan 9 sebagai miringnya diagonal menurut gambar 9. 5.2. a.,
d.dane.) 4 = l.0menjadi 4 = 1/sin<p.
Garis pengaruh pada gaya batang vertikal tergantung pada cara pemasangan
diagonal sebelah kiri dan sebelah kanan. Bisa garis pengaruh pada gaya batang vertikal seluas satu bagian sebelah kiri dan sebelah kanan dari titik simpul yang

diperhatikan, atau menjadi nol (lihat juga gambar 9. 5. 2. a. dan f.), atau garis
pengaruh pada gaya batang vertikal menjadi sama dengan garis pengaruh pada
gaya lintang (lihat juga gambar9. 5.2.5.,l. dan m. berikut).
Sebagai keterangan kita perhatikan pertama suatu konstruksi rangka batang
dengan batang tepi sejajar dengan diagonal yang turun naik seperti terlihat pada
gambar 9. 5. 2. a. berikut:

Gambar9.5.2.a.sldl.

Pada garis pengaruh pada gaya batang diagonal kita pertama menentukan garis
pengaruh pada gaya lintang dengan ordinat n : 1/sin rp.

Dua titik ujung diagonal yang diperhatikan kita hubungkan dengan dua garis
pengaruh itu (lihat gambar 9. 5. 2. d. dan e. di atas), Pada penentuan garis
pengaruh pada konstruksi rangka batang dengan beban yang tidak langsung kita
perhatikan rumus (9. 3.)dan rumus (9, 4.). Tanda (+,-) pada garis pengaruh pada
gaya batang diagonal menentukan juga tanda gaya batang masing-masing.
Pada penentuan garis pengaruh pada gaya batang vertikal kita pasang ordinat 4 =
1.0 di bawah batang vertikal itu (lihat juga gambar 9. 5. 2. f. di atas). Jikalau gava p

= 1.0 bekerja pada suatu titik simpul pada samping batang vertikal V1 yang kita
perhatikan, maka tidak ada gaya batang dan karena itu ordinat 4 = Q.
Pada konstruksi rangka batang dengan batang tepi bawah yang dibebani seperti
misalnya dapat dilihat pada gambar 9. 5. 2. a. di atas batang vertikal V6 dan Vp*1
menjadi batang tanpa gsya (batang noll dan karena itu juga ordinat goris pengaruh

4:0'
Sebagei kamungkinan keduc klta perhatikan suatu kon8trukei rangka batang
dengan diagonalnya naik (atau turun) semuanya, menurut gambar g. 5. 2. g.
berikut:
Garis pengaruh pada
gaya batang tepi bawah U1

Gambar9. 5.2. g. s/d l.

Garis pengaruh pada


gaya batang tepi atas

Garis pengaruh pada

A1

gaya batang
bawah

Garis pengaruh pada


gaya batang diagonal
Dp

Garis pengaruh pada


gaya batang diagonal

tepi

V1

Garis pengaruh pada


gaya batang tepi atas

,7 /'fL,-.;Ela#

O1

Garis pengaruh pada


gaya batang diagonal

Dk*t

Dp

Garis pengaruh pada


gaya batang vertikal

Garis pengaruh pada

V*

gaya batang vertikal

Vp dengan batang

Garis pengaruh pada gaya batang tepi dapat kita gambar rnenurut ketentuan tadi
(lihat gambar 9. 5. 2. b. dan c.). Karena titik k yang kita perhatikan menjadi juga
suatu titik simpul, garis pengaruh menjadi suatu garis lurus sebelah kiri dan sebelah
kanan dari titik k itu. Tanda (+,-) pada garis pengaruh pada gaya batang tepi
menentukan juga tanda gaya patang masing-masing.

tepi bawah yang me-

nerima beban atau


pada V*-'r dengan ba-

tang tepi atas yang


menerima beban

426

427

//t

E.l

Garis pengaruh pada


gaya batang vertikal
Vp dengan batang
tepi atas yang menerima beban atau pada
V1*1 dengan batang
tepi bawah yang menerima beban

sama timbul pada u,iung masing-masinS pada konstruksi rangka batang ini yang
dapat kita lihat pada gambar 9. 5. 2. a. di atas.
Sebagai kemungkinan ketiga perhatikan suatu konstruksi rangka batang dengan
batarrg tepi sejajar dan dengan diagonal saja seperti terlihat pada gambar 9. 5. 2. p.
berikut:
Gambar 9. 5. 2. p. s/d s.

tr-l-.-

Garis pengaruh pada

gaya batang V**2

Garie perpnruh pada

gaya batang tepi bawah Up dengan pe-

dengan batang tepi

bawah yang

mene-

ngaruh beban

rima beban

o/

IN

Gambor 9. 5. 2. m. e/d o

Garis pengaruh pada


gaya batang vertikal
Vo dengan batang
tepi atas Yang menerima beban

Penentuan garis pengaruh pada batang tepi dan pada gaya batang diagonal
,rrerrurut gambar 9. 5. 2. h. s/d k. di atas tidak mengalarni kesulitan dan dapat
dilakukan seperti pada contoh konstruksi rangka batang dengan diagonal yang
turun naik pada gambar 9. 5. 2. a. dsb.
Penentuan garis pengaruh pada gaya baung vertikal harus seimbang dengan gaya
lintang Oseperti ditentukan pada rumus (9. 11.). Batang vertikal Vsekarang berdiri
pada suatu titik simpul yang fuga menerirna beban. Fada titik itu gaya lintang O iuga
mengubah nilainya. Timbul sekarang pertanyaan apakah pilai gaya lintang sebelah
kiri atau sebelah kanan dari tltik itu berpengaruh. Jawaban pertanyaan ini pada
konstruksi rangka batang dengan semua diagonal turun atau naik menjadi penting
setali dan hanya mungkin jikalau batang tepi yang menerima beban sudah ditentukan.
Pada penentuan kita perhatikan potongan l-l menurut A. Ritter seperti digambar
pada gpmbor 9. 5. 2. g. di atas. Potongan l-l itu kena batang vertikal V1. Gaya lintsng yanq borpengaruh ada pada bagian yang potongannya l-l dikenai batang tepi
yang mone.fona beban.
Jikalau batang tefi yang menerima beban menjadi batang tepi bawah. maka garis
pongaruh pada gaya batang vertikal Vs dapat dilihat pada gambar 9. 5,2. 1. di atas.
Garis penganrh ini menjadi sama dengan garis pengaruh pada gaya batang vertikal
Vpl pada batang tepi atas yang menerima beban.
Pada keiadian yang berlawanan kita perhatikan gambar 9. 5. 2. m. Pada batang vertikal V1*2 yeng di tengah-tengah konstruksi rangka batang ini kita perhatikan
ketentuan-ketentuan pada konstruksi rangka batang dengan diagonal yang naik
turun dan mendapat hsil seperti terlihat pada gambar 9. 5. 2. n. Pendapatan yang
428

yang

tidak langsung
Garis pengaruh pada
gaya batang tepi atas

D---i;.,,

Q*

*2[-]-----.__,!
V-

I
fr I
___J

Garis pengaruh paoa


gaYa batang diagonal
Dk

Pada penentuan garis pengaruh pada batang tepi bawah pada konstruksi rangka
batang ini harus diperhatikan pengaruh oleh beban yang tidak langsung, seperti
dibicarakan pada bab 9.2."4. Atas dasar ketentuan itu garis pengaruh antara titik
sirnpul

k-

dan k +

harus menjadi garis lurus, seperti terlihat pada gambar 9. 5. 2.

q. di atas.

Pada penentuan garis pengaruh pada gaya batang diagonal O1 kita juga
menghubungkan dengan garis lurus suatu bagian yang ada antara dua titik simpul
pada batang tepi bawah. Karena itu garis pengaruh pada gaya batang diagonal
Dp* 1 menjadi sama dengan tanda ( +, - ) berlawanan.

9.5.3. Konstruksi rangka batang dengan batang tepi tidak


seiajar
Penentuan garis-garis pengaruh pada konstruksi rangka batang dengan
batang tepi tidak sejajar berdasarkan atas persamaan-persamaan penentuan gaya
batang oleh beban yang vertikal dan yang tetap (mati).
Kemudian kita perhatikan suatu bagian konstruksi rangka batang dengan batang
tepi tidak sejajar seperti terlihat pada gambar 9. 5. 3. a. berikut. tlagian konstruksi
rangka batang kita potong menurut potongan yang ditentukan dalam gambar 9. 5.
3. a. dan perhatikan bagian sebelah kiri potongan itu.
429

-r;-t.,

menurut rumus (9. 12.) dapat kita tentukan:

U cos0 --

ff o^"

ocosy =

-+

dan kemudian kita dapatkan:

Dcosy +
Gambar9.5.3.

Kita tentukan gaya batang tepi dengan syarat keseimbangan 2M : 0 dan sebagai
titik kutub kita pilih titik potong dua gaya batang yang lain seperti telah ditentukan
pada bab 4. 3. 3. Jumlah momen semua gaya luar selanjutnya kita tentukan sebagai
M dengan index , pada batang tepi atas dan dengan index , pada batang tepi
bawah.
Kita dapat menentukan:

Mo-Uro:Q

Mr+ Orr=g

rodan rrdapat kita tukar dengan:

ro = hocosA

r,,

hucosy

kemudian persamaan pada gaya batang tepi dapat ditulis demikian rupa, sehingga:

.MoMoM,
ro ho cos[t

ru

Mu
hu cosy

o:

i*

(eo,

(9.12.

berhadapan. Sebetulnya rumus (9, 9.) menjadi suatu bentuk khusus pada rumus (9.
12.)dengan A = 0,T - Odanr : h.
Atas dasar pengetahuan ini dapat kita tentukan, bahwa penentuan gaya batang
tepi pada konstruksi rangka batang dengan tepi yang sejajar dan dengan tepi yang
tidak sejajar menjadi sama, hanya dengan memperhatikan jarak r yang menggantikan ketinggian konstruksi rangka batang h.
Gaya batang diagonal dapat kita tentukan dengan syarat keseimbangan ZH : 0
dengan hasil seperti berikut:

(9.13.)

Atas dasar rumus (9. 13.) kita lihat, bahwa garis pengaruh pada gaya batang
diagonal menjadi suatu superposisi atas dua garis pengaruh yang sudah diketahui
seperti terlihat pada gambar 9. 5. 3. e. berikut.

Karena penentuan dan gambaran garis pengaruh ini menjadi agak rumit, maka
dapat kita hitung gaya batang diagonal dengan cara lain juga.
Kita memperhatikan gambar 9. 5. 3. b. berikut dengan potongan yang telah ditentukan. Dengan titik potong i bagi dua batang tepi konstruksi rangka batang ini
sebagai titik kutub kita menentukan syarat keseimbangan ZM, : g.
Jikalau sekarang suatu gaya P: 1.0 membebani bagian konstruksi rangka batang
yang sebelah kanan dari potongan kita dapat menentukan syarat keseimbangan
pada bagian kiri (tanpa beban) konstruksi rangka batang ini sebagai:

D*: - RA+
,dk

ra*:O

Garis pengaruh pada gaya batang diagonal Dppada bagian kanan konstruksi rangka

batang ini sebenarnya menjadi garis pengaruh pada reaksi tumpuan RA yang
negatif dan yang dikalikan dengan

p/ r4p.

Jikalau gaya P: 1.0 membebani bagian konstruksi rangka batang yang sebelah
kiri potongan. maka kita dapat menentukan persamaan pada bagian kanan (tanpa
beban) dari konstruksi rangka batang ini sebagai:

Rebr + Dr6r

Dx:

+ RB

-l!L

yang menjadi garis pengaruh pada reaksi tumpuan RB Yang dikalikan dengan
bp/r6p, seperti terlihat pada gambar 9. 5. 3. f. berikut. Pada bagian beban yang
tidak langsung kita hubungkan garis pengaruh dengan suatu garis lurus.
Konstruksi garis pengaruh pada gaya batang diagonal Dp dapat diperiksa karena
dua garis miring dari garis pengaruh harus mempunyai titik potong pada titik kutub i
dengan bukti seperti berikut:

dp : ak:

bp

fa*
430

- *l

-Raar:Pr

Jikalau kita sekarang membandingkan rumus (9. 12.) ini dengan rumus (9.9) kita
melihat, bahwa sebetulnya kita hanya mengganti ketinggian konstruksi rangka
batang h dengan jarak yang siku-siku r antara titik simpul (kutub) dan batang tepi

Dcos<p+Ucosfi+Ocosy=Q

Mo M,
ho hu

fa*

-:

Dk

431

Sedang pers{rmaan penentuan gaya batang vertikal pada konstruksi rangka batang
dengan batang tepi seiaiar berbeda menurut benruk diagonalnya maka penentuan
gaya batang vertikal pada konstruksi rangka batang dengnn batang tepi tidak sejajar menjadi lebih rumit lagi. Biasanya gaya batang vertikal hanya dapat ditentukan
dengan suatu potongan lingkaran, keliling tilik simpul yang diperhatikan, seperti
terlihat pada gambar 9. 5. 3. g. berikut. Persamaan percntuan gaya batang vertikal
terdiri dari beberapa bagian yang berarti, bahwa garis pengaruhnya kita dapatkan
dengan superposisi.

Pada penentuan gaya batang yang vertikal, sebagai keterangan kita perhatikan per-

tama suatu konstruksi rangka batang dengan diagonal yang turun naik rnenurut
Gambar 9. 5. 3. S. berikut:

i---#\:-

v;t/'
Gambar 9. 5. 3. g

Menurut persamaan keseimbangan


dengan suatu potongan lingkaran:
Vx

P*

U1 sin

A*

IV = 0 dapat kita tentukan

+ U**rsin p1*,

V*- Px* UlcosfltanDk + Upllcosfipartanpl*, :

Menurut rumus (9. 12.) dapat kita tentukan:

Garis pengraruh pada

gplm batang tepi ba-

tuf

lJpcosBl =

wah U

vx = P*

Garis pengaruh pada


gaya batang tepi atas

o
dua kemungkinan
menggambar garis

pada titik simpul k

lJp,,1cos{}pa, =

+
(9. 14.)

tang1,n1l

$r"nB1-

Jikalau kita memperlakukan penyelesaian ini pada titik simpul t- / kita dapatkan:

e)

Vx.,

A*.rsin y1-, + Olsin 7* = g

P*-,

Vkl + Pk-l f

01-1 CoS),1-1

pengaruh pada gaya


batang diagonal D

o1-1 cosy/<.r

l.hr'w1q

V*-,

:-

= -- +*h*-,

P*-,

tan y1-1 - O1 cos yk tanyk = 0


Op cos yk

(tan 7u-, -- tan y1 )

-!&'L
h*-,
(9. 15.

Dr

,a

Gambar9. 5. 3. b. s/d f.

432

Jikalau tidak ada gaya yang bekerja pada titik simpul yang kita perhatikan P = 0
rumus (9. 14.)dan (9. 15.)menjadi rumus (9. 11.)jikalau batang tepi menjadi sejajar, karena Dr = O, |x-r : 0,/t-r : 0 dan y1 = 0. Ketentuan ini mernbuktikan,
433

r
bahwa garis pengaruh pada gaya batang vertikal betul-betul menjadi suatu superposisi dari dua garis pengaruh yang sudah diketahui.
Jikalau kita perhatikan kemudian suatu konstruksi rangka batang dengan diagonal
berarah sama seperti terlihat pada gambar g. s. 3. h. berikut dan dengan batang
tepi bawah yang menerima beban, dapat kita tentukan:
k

RA- Z

Pp

opsinyp

R.q-lPx t A*nrsinyl*, +
or

&o t6n ytr*1

* ff

U1 sin

rrnr1x

Dr-

vt

V*

=0

* Uk*rsinpl*, + Vk:O

A**, *

Okcosy*tan yk

* lJ*+tcospl*ltanpp*, + Vk:

Gambar 9. 5. 3^ i.

Jikalau batang tepi atas menerima beban, maka kita harus memperhatikan gaya lintang 01*1 pada bagian kanan konstruksi rafigka batang yang terpotong. persamaan gaya batang vertikal V1 kemudian dapat kita tentukan seperti berikut:
Gambar9.5.3.

h.

Batang tepi atas


yang menerima beb,an: V1 =

Menurut rumus (9. 12. ) dapat kita tentukan:

Ol,cosyp=

okr,-

t)p,1cosfi1,.r=+

-+

ffru"yr

&t

rtanB1*t

+ vk:

* ak*,.

Batang tepi bawah


yang menerima beban: V1 = + ok +

ff

ftan Br

Ur. fip

-tan

y111)

tany1,*

(9.17.)
1l

Jikalau batang tepi atas menerima beban, maka beban ,,0"* ,"rp"ngaruhi bagian
kiri konstruksi rangka batang yang terpotong. Kemudian gaya lintang bagian kanan
itu o1 menggantikan o1* 1 . Persamaan gaya batang vertikal v1 kemudian dapat kita
tentukan seperti berikut:

Kemungkinan-kemungkinan superposisi garis pengaruh menurut rumus (9. .l4. ) s/d


rumus (9. 17.) dapat kita perhatikan pada gambar g. 5.3. k. berikut. Karena
penyelesaian pada gambar itu dapat dilakukan pada konstruksi rangka batang
dengan batang tepi sejajar maupun tidak sejajar kita memilih sebagai sistim dasar
suatu balok tunggal seperti terlihat pada bagian atas gambar 9. 5. 3. k. berikut.
Sistim dasar

Batang tepi bawah


yang menerima beban: V1 =
Batang tepi atas
yang menerima beban: V*

ak

*,

: - At +

+
Mk
hk

(tan y1

(tany1

tan B1.,

Garis pengaruh pada


1)

(9. 16.

gaya batang vertikal


)

tanBl*1)

-fftorD,

iantt,.,1

V1 menurut

rumus-

rumus:

(9.14.)
Jikalau kita memperhatikan selaniutnya suatu konstruksi rangka batang dengan
diagonal berarah sesama seperti terlihat pada gambar g. S. 3. i. berikut dan dengan
batang tepi bawah yang menerima beban, dapat kita tentukan:
434

(9. 15.1
435

r
(9. 16.1

At

dengan batang tepi


bawah yang menerima beban

---.*.--J

(9. 16.)

dengan batang tepi


atas yang menerima

Itan 7, - tan Br-r)

,*

0,!
EI

Garis pengaruh pada gaya batang vertikal V1


dengan batang tepi bawah yang menerima
beban

beban
{tdn lr\ - toh

h.t)

{9. 17.}

dengan batang tepi


atas yang menerima
beban

l\'tmy,.,1

(9.17.)

L**----

dengan batang tepi


bawah yang meneri-

Gambar9. 5.3. k.

ma beban

Penentuan garis pengaruh pada gaya batang vertikal pada konstruksi rangka
batang dengan batang tepi tidak sejajar dan dengan semua diagonal yang turun
atau naik, dapat kita lakukan menurut pengetahuan A. Ritter seperti pada penentuan garis pengaruh pada gaya batang diagonal.
P: 1.0 bekerja pada bagian kanan dari konstruksi rangka batang
yang terpotong penentuan dapat kita lakukan pada bagian kiri yang tidak dibebani:

Jikalau gaya

- R4ap- V1 rv*:0

V*:-R^+

Garis pengaruh pada gaya batang vertikal V1

dengan batang tepi atas yang menerima

(9. 18. )

beban
Gambar91 5.3.

Kita lihat, bahwa penentuan garis pengaruh pada goya batang vertikal menjadi
sebenarnya garis-garis pengaruh pada reaksi tumpuan masing-masing yang
dikalikan dengan faktor masing-masing. Harus diperhatikan ketentuan batang tepi
yang mana yang menerima beban seperti terlihat pada gambar 9. 5. 3. 1. di atas'

9.5.4. Ringkasan
1.

2.

Jikalau gaya P : 1.0 bekerja pada bagian kiri dari konstruksi rangka batang yang
terpotong penentuan dapat kita lakukan pada bagian kanan yang tidak dibebani:

-RBbk+Vk rv*=0

Vt-- + Ro

br
fvk

3.

(9. 19.)

1.

Penentuan garis pengaruh pada reaksi tumpuan pada konstruksi rangka batang
menjadi sama seperti pada balok tunggal dengan lebar bentang yang sama.
Penentuan garis pengaruh pada gaya batang kita lakukan atas dasar pengetahuan penentuan gaya batang menurut A. Ritter dsb. yang kita dapatkan dari
garis pengaruh pada momen lentur dan piada gaya lintang pada bakck tunggal
dengan lebar bentang yang sama.
Pada konstruksi rangka batang dengan batang tepi sejajar dapat kita tentukan:
Garis pengaruh pada gaya batang tepi kita dapatkan dengan membagi garis
pengaruh pada momen lentur dengan ordinatnya 4 oleh tingginya konstruksi
rangka batang h tsb. Garis pengaruh pada gaya batang diagonal kita dapatkan
dengan membagi garis pengaruh pada gaya lintang dengan ordinatnya 4 oleh
sin rp.

Pada penentuan garis pengaruh pada gaya batang vertikal kita

Sistim dasar
436

harus

memperhatikan cara pemasangan diar cnal-diagonal. Pada konstruksi rangka


batang dengan diagonal yang naik turun batang vertikal menerima gaya vertikal
menerima gaya vertikal pada titik simpul. Pada konstruksi rangka batang
dengan diagonal semua naik atau semua turun batang vertikal menerima gaya
lintang pada bagian kiri atau kanan dengan tanda (+.-) berlawanan dengan
437

r
diagonal. Pada konstruksi rangka batang dengan diagonal saja kita harus

4.

memperhatikan beban yang tidak langsung. Garis pengaruh menjadi suatu garis
lurus antara dua titik simpul.
Pada konstruksi rangka batang dengan tepi tidak sejajar dapat kita tentukan:
Garis pengaruh pada gaya batang tepi kita dapatkan dengan membagi garis
pengaruh pada momen lentur dengan ordinatnya 4 dengan jarak r yang sikusiku antara titik simpul (kutub) dan batang tepi berhadapan. Garis pengaruh
pada batang diagonal kita dapatkan dengan superposisi dua garis pengaruh
yang sudah diketahui atau dengan bantuan penentuan gaya batang menurut A.
Ritter.
Penentuan garis pengaruh pada gaya batang vertikal menjadi beraneka warna
menurut cara pemasangan diagonal-diagonal, menurut batang tepi yang mana

yang rnenerima beban dsb. Hanya pada konstruksi rangka batang dengan
diagonalnya yang turun semua atau naik semua, dapat kita menggunakan
pengetahuan penentuan gaya batang menurut A. Ritter.

1.

Penentuan garis-garis pengaruh pada gaya batang tepi bawah (lihat gambar

9. 5. 5. 'l . b. s/d e. berikut):

Batang Uldan U7 menjadi batang nol. Pada U2dan U3 momen pada tumpuan ,4
yang berpengaruh. Garis pengaruh pada gaya batang Uq, Usdan U6 berdasarkan
pada momen lentur pada sistim dasar pada titik simpul yang berhadapan. Juga
pada batang Uc, Us dan U6 harus kita perhatikan pengetahuan tentang beban
yang tidak langsung.
batang Uz

4o: -

= Ut:

a1

n,

batang Uo

_:j

= _2,000

xqX'q
6.0.15.0
=
lh
21,0.3.0

9.5..5. Contoh-contoh
Contoh 1: Pada suatu derek berkonstruksi rangka batang portal menurut gambar

9. 5. 5. 1. a. berikut dicari garis-garis pengaruh pada gaya batang

masing-

masing.

4o

= - 4a: -

= 1,428

1,428

h: 1,428ffi : o,zr+

tto:

-1,428#:

ns:

1,428H:

-0,286

't,141

batang Ur:
qe

12,0.9.0
:-ifx{'a =ffi

4o=

-i,714f,-:

ry= 1,714#=

=1,714

-0,857

4ro=

-1,714#:

-0,571

n,=1.714#=1,142

1,2tA

batang Ur:

x{'a

Gambar 9. 5. 5. 1 . a.

th
Penyelesaian:

Karena kita hanya memperhatikan gaya-gaya yang sejajar anting, reaksi tumpuan
masing-masing menjadi vertikal dan reaksi tumpuan H = O dan karena itu gaya
batang D : Ojuga.
438

4o=

#f,:f,

-0,*#=

= 0,8s8

-0,286

4ro

=-

0,858

439

b)

Garis pengaruh pada gaya batang lJz

= lJi

n,.-ry:;*=1,0s2
batang

O2:

n,=+=#=1.ooo
c)

Garis pengaruh pada gaya batang Ua:

4r=0

batang Ot

4r=0

0e:

4r=- *=-HH:-o,Bse
batang Os

d)

4,=

O7:

-1.714

O6:

# = -#f# = -t,4zl

batang Oe

O16:

n,n=f=*3 =t,*

Garis pengaruh pada gaya batang U6:

Garis pengaruh pada gaya batang O1:

g)
rll

Garis pengaruh pada gaya batang 02:

Gambar9.5. 5. l. b. s/d e.

?.

Ao:

n!:
=
'" - !#t
lh = --9'0-'12'0
21,0.3,0

Garis pengaruh pada gaya batang Us:

batang

e)

Penentuan garis-garis pengaruh pada gaya batang tepi atas (lihat gambar

9. 5. 5. f. s/d l.

berikut):

Pada batang O1 dan O2\ang berpengaruh adalah momen lentur pada titik simpul 1
pada konsole. Garis pengaruh pada gaya batang O3 s/d 06 berdasarkan pada
momen lentur pada sistim dasar, dan batang O9 dan 01g kita perhatikan momen
pada tumpuan 8.

h)

Garis pengaruh pada gaya batang 03

Oa,:

batang Or:
COSY

440

3.0

/tot+

1,o-

0,95 r = hcosy:3,0.0.95 :2,85

Gambar9.5.5.1. f. s/d

h.

441

i)

Garis pengaruh pada gaya batang 05

06:

batang D2:

D=

= stn
-l! g
srn (p
=:=

= 1,414 4o: 4t = 1,414 4r :

Antara titik simpul 1 dan titik simpul 2 harus kita perhatikan beban yang tidak
langsung.

k)

Garis pengaruh pada gaya batang Ot

batang Dss/d Ds:

Pada semua garis pengaruh pada gaya batang diagonal ini dapat kita tentukan:

Oe:

4a =

- 4r:;;;

1,0

*-

r/T: t,+t+

cp

45o

,,:nol=1,414ffi=o,4o4
l)

Garis pengaruh pada gaya batang O9

tto=*af=r,u+#=0,fr2

O16:

batang D1s:

1.0

4ro:--::-=-1,414
srn (p
Gambar9. 5. 5.

l.

i. s,/d

m)

3.

Penentuan garis-garis pengaruh pada gaya batang diagonal (lihat gambar

9. 5. 5. 1. m. s/d

4g=0

s.):

Garis pengaruh pada gaya batang diagonal D1 dapat kita tentukan menurut rumus

Garis pengaruh pada gaya batang D7:

IN

l: _\ \

lr

(9. 13.) dan pada garis pengaruh pada gaya batang diagonal yang lain kita
perhatikan rumus (9. 10.). Pada batang diagonal D2dan D1s kita gunakan garis
pengaruh pada gaya lintang konsole dan pada batang diagonal yang lain garis

n)

pengaruh pada gaya lintang pada balok tunggal.

Garis pengaruh pada gaya batang D2i

batang D1:

1 I M,
Mo
o= cos(p
hu - ho
'

r____v

'

1 = \raTi@-:1,2o
g

cos

Garis pengaruh pada gaya batang D3:

3,0

karena mornen lentur Mo

---;
:r

0 dapat kita tentukan:

o=*+ ,,=*l H=
M2

o)

sl

-1,20H=-1,200

:.1

L--

Gambar9.5.5.1. m. s/d o.
443

p)

Garis pengaruh pada gaya batang

-Dt = Dd

Karena batang tepi atas tidak menerima beba'n, rnaka Pl

= 0 dan kemudian

iuga

Iz=0danselanjutnYa:

:l

ffant, tanrr = $ =
4o= - {f o.rea= -0,333 4r=o
vr=

q)

Garis pengaruh pada gaya batang

Do

= Dl

O,aSa

batang Y3:

4a=-1,@0

4o=

_r,mo#=_1,2{t

batang Y8:
41e

r)

Garis pengaruh pada gaya batang

Da

t)

Ds:

1.000

4g=0

Garis pengaruh pada gaya tratang V

1:

u) Garis pengaruh pada gaya batang y2:


;[-->__
_

Garis pengaruh pada gaya batang D1o:

v)

Garis pengaruh pada gaya batang y3:

w)

Garis pengaruh pada gaya batang V6:

Gambr9. 5.5. 1. p. s/d s.

4.

Penentuan garis-garis pengaruh pada gaya batang vertikal (lihat gambar 9. 5.


berikut):

5. 1. t. s/d w.

Gaya batang vertikal V l dan Vs menjadi sama dengan beban pada titik simpulnya.
Gaya batang vertikal V3 menjadi sama dengn reaksi tumpuan,4. Batang vertikal l/2
menerima beban oleh batang tepi atas yang mengubah jurusannya pada titik sirnpul

l,

tetapi batang vertikal Vas/d V7 menjadi batang nol.

batang

Gambar9.5.5.

4o

t. s/d

w"

menurut rumus (9. 15.)

'

Vz

jembatan kereta api berkonstruksi rangka batang dengan


diagonal saja menurut gambar 9. 5. 5. 2. a. berikut, tentukanlah gayabatang u, o
dan D oteh berat sendiri S : 2-O t/m dan oleh kereta api seperti ditentukan pada
gambar 9. 1. 1. a. dan gambar 9. 5. 5. 2. b. dan c. Titik simpul pada batang tepi atas

Contoh 2:

= 1,000 4r = 0

batang Y2:

444

1.

t/1:

=-

Pr

ff

,ru"y,

tan y2).

Pada suatu

berada pada suatu garis Parabol.

M5

2.
hs

Penentuan garis pengaruh pada gaya batang O:

7,56

cos/=
12

12 (8,0

7,56)

-+=:V 4.02 + 0.442

7,78m
ts = hs cos y

=0.904

7,78.O,W = 7,73 m

xi's n,0.28,0
4s=- rh =Asra?,n=-r'5r

tt00 -4000
Gambar 9. 5. 5. 2. a.

og= -2,0 ,1,51

Penyelesaian:

2.

Penentuan garis pengaruh pada gaya batang U:

ht =
hq

ho

x4x'o = 4,0

= 4,@ + 3,56 =

xex'o
h,=
- th, -

Op

= -72,5t

+ 0,423 + 0,W + 0,664 + 0,785)


11
-5,2 18,02(0,905 + 1,51) + ,1,51.28,01

=-

ffi16,0.32,0

7.56 m

.48,0

12,5 |.0,302

Or= -12,5.2,718 -5,2(9.66 +21,14l,:

16,0'32,0

194,0t

1'41
4a,0.7,fi- =

Karena pada batang

harus kita perhatikan pengaruh oleh beban yang tidak

langsung, maka kita tentukan:

nt: r,arffi= 1,058

n5=

5.?0

1,41ffi='t,ztz

Selanjutnya kita harus mencari penempatan kereta api yang paling tidak menguntungkan sistimnya. Kita memilih jarak-jarak tsb. seperti terlihat pada gambar g. 5. 5.
2. b. berikut.

-1
Uo= 2,01

1,058 +

712,0.
Uc = 2.0 (6,35 + 9,16 +

Up :
Up

8,0,11fi,058 + i2i2t + ,28,0.1,232t

17,24t = 2,0.32,75: 65,6t

12,5(0,352 + 0.49t + 0.635 + 0J76 + 0,917)

+ 5,2(9,16 +
12,5.3,174
+
=
5,2. 26,4 = 39,6 + i37,2 = 176,8 t

17,241

Garis pengaruh pada gaya batang

3.

446

b.

Gambarg.5. S.2. c.

gambar

Kita tentukan pertama titik potong batang tepi bawah dan batang tepi atas dan
jarak siku-siku titik potong itu ke batang diagonal D yang kita perhatikan.

hz

Gambar9.5.5.2.

Penentuan garis pengaruh pada gaya batang D (lihat juga


9. 5. 5. 2. d. sld f. berikut):

a::ho=

Garis pengaruh pada gaya batang U

t/m

ai=

la1

ho

+ll:h,

* lt;!t rr*z:

4,0.8,0
2,22

di =

4,0 +

:14,4m

bi

hoA

hr4.

ho

4.O

48fr,

ai + I

8,0'210,0

14,4 +

6,22m

,0 + uE,0:62,4m
M7

Jarak 16 dapat kita tentukan dengan mudah karena dua segitiga yang di-arsir pada
gambar 9. 5. 5. 2. d. menjadi sebangun. Karena itu r4 rnenjadi 15.5 m. Ordinat-

ordinat 4 pada reaksi tumpuan masing-masing kemudian menjadi:


d;

qo=

a=

14'4
15,5

9.6.

n,=*=W=4,02

o.g3o

Penentuan penempatan kereta api yang paling tidak menguntungkan sistimnya


dapat kita lihat pada gaya batang D maksimal (gambar 9, 5. 5. 2' e. ) dan pada gaya
batang D minimal (gambar 9. 5. 5. 2. f . )

Ds = z,o( o,sss ' 6.ao


|

=
Dpmin =

Dpnnx

-:-

o,osz ' 41,60}

12,5(0,067 + 0,201 + 0,335 + 0,1121

*26,84 t

= +8,941

+ 0,666 + 0,636 + 0,605)


-12,51O,4g7 + 0,697

Garis pengaruh pada balok terusan

9.6.
1.

Pengetahuan dasar
Sampai saat ini kita hanya

memperhatikan dan menentukan garis

pengaruh pada sistim statis tertentu. Sesudah kita ketahui beberapa ordinat 4 yang
penting, maka garis pengaruh sudah dapat digambar.
Garis pengaruh pada sistim statis tidak tertentu menjadi bukan garis lurus, melainkan garis bengkok. Penentuan ordinat-ordinat 4 pada urnumnya nremerlukan
banyak pekerjaan dan perhitungan sampai garis pengaruh itu dapat digambar.
Pada gambar9.6. 1. a. berikut dapat dilihat garis-garis pengaruh pada suatu balok
terusan. Kita melihat, bahwa terutama pada bagian balok terusan dengan nilai yang
kita cari, bentuk garis pengaruh, walaupun melengkung, meniadi sebangun dengan
garis-garis pengaruh pada balok tunggal. Oleh karena itu, pengetahuan garis-garis
pengaruh pada balok tunggal dapat membantu tanggapan kita pada penentuan
garis pengaruh pada balok terqsan.

-2,0 129,6'0,s74
Dpmin

-12,5'3,101

17,0

.)n

V7,.

'////z

72.

Gambar

9.6.

1. a

77.

= -55,8t

Garis pengaruh r:'ada


reaksi tumpuan,4

Garis pengaruh pada


reaksi tumpuan B

_.=Il

+.t?.5

Garis pengaruh pada gaYa batang

D-r,

e)

Garis pengaruh pada

momen lentur M pada titik sembarang m

Garis pengaruh pada gaya batang Dmin

48

Gambar

9.5.5.2. d^ s/d f

Garis pengaruh pada


gaya lintang O pada
titik sembarang n
449

Garis pengaruh pada


momen pada tumpu-

anB

Karena penentuan garis-garis pengaruh pada balok terusan sering diperlukan


walaupun penentuan menjadi agak rurnit maka biasanya digunakan tabel-tabel.
Tabel-tabel itu pada balok terusan dengan jarak tumpuan masing-masing menjadi
sama dan dengan momen lembam / tetap ditentukan ordinat-ordinat 4 pada titiktitik sepersepuluhan lebar bentang /. Tabel-tabel itu ditemukan oleh misalnya:
A n g e r- T ra m, Zel lerer, Ka pf erer atau K le i nl og el.
Penentuan garis-garis pengaruh pada balok terusan dengan beban tidak langsung
masih tetap berlaku seperti pada balok tunggal dsb., maka oleh itu garis-garis
pengaruh bukan lagi menjadi garis lengkung r'nelainkan gar'is poligon'
penentuan garis-garis pengaruh pada balok tefusan dapat dilakukan secara analitis
atau secara grafis dengan bantuan sistim titik potong, lihat bab 6' 3'
Dalam rangka buku ini garis pengaruh pada balok terusan kita bicarakan hanya
pada prinsipnya dan tanpa contoh-cgntoh karena penyelesaian terlalu luas untuk
tujuan buku ini.

9.6.2. Garis pengaruh pada reaksi tumpuan yang statis ber'


lebih
Garis-garispengaruhpadareaksitumpuan,momenlenturmaupungaya

lintang pada suitu sistim statis tidak tertentu berdasarkan pada garis pengaruh
pada reaksi tumpuan yang statis berlebih. Karena'itu pertama kita tentukan garis
pengaruh itu'
Sebagai keterangan kita perhatikan suatu balo,k t"rrr"n terletak di atas lima tumpuan, seperti terlihat pada gambar 9 .6.2. a. berikut.
Kemudian kita menentukan reaksi tumpuan vertikal Ra, RC dan Lgp,sebagai reaksi
tumpuan yang statis berlebih dengan nilai X,, X, dan X.. Pada beban yang mati
(tetap) dapat kita tentukan tiga persamaan berikut untuk mencari tiga nilai yang
statis berlebih , Xr, Xrdan Xr:

6rrXr+dnX2+d,,X3--d.,
62rXr

d22X2

+ dpX3 = -

6ro

=*

63s

6rrX, + drrX, +

d31X3

Pada rumus-rumus ini d1; misalnya menjadi pergeseran titik k oleh gaya X7 Bagian
beban d1o rnenjadi p"ig"rerrn titik k oleh beban yang sebenarnya. Semua
pergeseran ditentukan pada sistim dasar, yaitu pada balok tunggal'
450

bo

Gambar 9" 6.2. a.

Pada penentuan garis pengaruh beban atau cara pembebanan pada sistim statis
biasanya belum diketahui. Karena itu nilai d1o belum dapat kita tentukan dengan
suatu angka tertentu. Jikalau kita menggulingkan suatu gaya P = 1,0 pada seluruh
panjang balok terusan ini nilai dp, berubah pada tiap-tiap pergeseran gaya P itu.
Jikalau kita menentukan pergeserart dro dengan P : 1,0 sebagai ordinat di l r:wah
tiap-tiap titik tangkap gaya P itu, maka d16 sebetulnya menjadi garis pengaruh pada
lendutan'pada titik 1 pada sistim dasar yang statis tertentu. Sama saja dapat kita
tentukan pada d2s dan d36 Menurut bab 9. 2. 5. garis pengaruh pada lendutan rnenjadi garis elastis oleh suatu gaya F = 1,0 pada titik 1,2atau 3. Nilainya dapat kita
tentukan dengan cara-cara yang sudah diketahui, dan yang kita tentukan sebagai

d*..
Selanjutnya kita memperhatikan tiga persamaan di atas. Sebagai nilai dr* d2- dan
kita ketahui garis-garis pengaruh pada lendutan pada titik 1,2 dan 3 yang menjadi identik dengan garis elastis pada sistim statis tertentu oleh gaya P : 1.0 pada
titik 1.2 atau 3. Bagian kanan pada tiga persamaan d1., dz. dan dr,, itu pada tiaptiap titik sembarang pada balok terusan ini berisi suatu nilai. Karena itu pada Xr, X,
dan X, kita mendapatkan nilai-nilai yang tergantung dari titik tangkap gaya P : 1,0
dan yang rnenjadi ordinat-ordinat pada garis pengaruh pada reaksi tumpuan yang
statis berlebih.
Karena nilai-nilai 6kntidak menjadi tetap kita belum menrlapatkan hasil pada tiga
persamaan ini. Tetapi karena d,1 rnenjadi pergeseran suatu titik i oleh x1 : 1"0 pada
titik k. Dengan d1- kita menentukan garis elastis oleh gaya P = 1 ,0 pada titik k.
Jikalau kita memperhatikan ordinat garis elastis pada titik i yaiig menjadi d,1 yang
pada saat ini menjadi juga dp, (Lihat juga rumus (8. 20.), Syarat dari Maxwell).
Pada sistim $tatis tertentu dengan satu nilai yang statis berlebih, perhitungan ini
menjadi mudah karena kita hanya membagi ordinat garis elastis d1p atas d11 dan
mendapat ordinat garis pengaruh pada X7.

dr-

451

bab 6. 3. 3. contoh 2 (lihat gambar 6. 3. 3. f. dan 9. 6. 4. 1. d.) dan dengan hasil


reaksi tumpuan masing-masing dapat digambar diagram gaya lintang (lihat gambar
6. 3. 3. g. dan 9. 6. 4. 1. e. berikut):

Atas dasar penentuan-penentuan di atas dapat kita menentukan garis elastis pada
reaksi tumpuan yang statis berlebih X t , X z , - . X n ' Tinggallah kemudian penentuan garis pengaruh pada reaksi tumpuan, momen lentur dan gaya lintang.

9.

6.3. Garis pengaruh pada reaksi tumpuan, momen lentur dan


gaya lintang
Pada balok teRlsan dengan beban tetap (mati) dapat kita tentukan reaksi

tumpuan, momen lentur dan gaya lintang dengan bantuan reaksi tumpuan yang
. Xn dengan superposisi:
statis berlebih Xr, Xz
R,rlo +

XrRa, + X2RA2 +

Mo

Qo

X,M,
XrA,

Ra

XrM,

Xra,

+
X*Mr + ...'.
XrQ* + ....
XpRap

*
+
+

XnR4n
XnMn
XnAn

Pada penentuan garis-garis pengaruh kita gunakan cara yang sama. Garis pengaruh
pada reaksi tumpuan ,4 kita dapatkan oleh superposisi ordinat garis pengaruh ,94p.
dengan Ra1, \anQ dikalikan dengan ordinat garis pengaruh pada X1, dengan Ra2
yang dikalikan dengan ordinat garis pengaruh pada X2 dsb. Pada penentuan ini Ra7
menjadi reaksi tumpuan oleh X7 -- 1.0, Rnz menjadi reaksi tumpuan oleh X2 : 1'0
dsb. Sebagai ringkasan dapat kita katakan, bahwa garis-garis pengaruh pada balok
terusan atau pada sistim statis tidak tertentu yang lain terdiri dari bagian-bagian
seperti berikut:
1. ordinat garis pengaruh pada sistim dasar (balok tunggal dsb.) dengan nilai

/-J
r=r:1"

Ra6, Asdan Ms.

2. Ordinat garis pengaruh pada reaksi tumpuan yang statis berlebih Xt, Xz

.. . Xndanyangdiakibatkan olehXT = 1'0, Xz: 1.0, .'..' Xn : 1'0pada


titik yang kita perhatikan dan yang harus dikalikan dengan Rnr, Raz, ..."
R4naldu Mr, Mz, . Mnatau Q1, Qz, ..... Qu'
Kita melihat bahwa pemborosan perhitungan untuk penentuan garis-garis

-:

pengaruh pada sistim yang statis tidak tertentu menjadi besar sekali.

Akan tetapi kalau kita memperhatikan cara perhitungan ini kita dapat melihat,
bahwa caranya menjadi sebetulnya sama seperti pada perhitungan balok terusan
secara grafis dengan menggunakan slstim titik potong (lihat bab 6.3.).
9.

1.

"l':

/t

Hfr,
-1,_l

6.4. Penentuan garis-garis pengaruh secara grafis


Penentuan momen lentur dan gaya lintang pada balok terusan dengan
beban yang tetap (mati):

Pada suatu balok terusan dengan macam-macam beban dan gaya seperti terlihat
pada gambar 9. 6. 4. 1. a. berikut kita tentukan titik potong menurut bab 6. 3. 2'
(lihatgambar9.6.4. L b.)dan kemudian dengan superposisi dapat kita menggambar diagram momen menurut bab 6. 3. 3. (lihat gambar 9. 6. 4. 1 . c. ). Kemudian kita
menentukan masing-masing reaksi tumpuan secara grafis seperti diterangkan pada
452

Yz'

{
t

Gambar9. 6. 4. 1. a. s/d e.

453

2.

Penentuan garis-garis pengaruh pada balok terusan dengan beban yang


tadak tetap (bergerak):

Supaya penentuan garis-garis pengaruh yang menjadi garis lerigkung menjadi


seteliti mungkin, biasanya bagian balok terusan masing-masing dibagi sepuluh.
Pada contoh berikut, lihat gambar 9. 6. 4. 3. a. s/d g. kita hanya membagi empat
supaya gambar tidak menjadi terlalu rumit.
Seperti pada beban tetap kita pertama menentukan titik potong J,

a/
AQ2-auqk0r

rlJ

Qz-+

J',6

utk0u

H7

y'

Q2:a'utl.<

6'

bt

S,

J"'4'

J,
4

1t3'utk

ct'qr:r,utk ll,

n2-4

J', J'dsb.

/Q2:a'utk0r

Ht-

llt Ia

dan

K, K', K'dsb. (lihat garnbar9.6.4. 1. b.). Kemudian kita menggulingkarr suatu


gaya P - 1.0 pada seluruh panjangnya balok terusan ini. Gaya P = 1.0 selalu
berhenti sebentar pada msing-masing titik yang kita tentukan tadi. Pada tiap-tiap

perhentian ini kita menggambar diagram momen Mo (lihat gambar 9. 6. 4. 3. a. dan


b.). Diagram momen itu dapat digambar dengan bantuan potongan garis bersilang, lihat juga gambar 6.2.2. c. pada bab 6. 2. 2.
Karena contoh ini menjadi simetris, cukup jikalau digambar garis pengaruh pada
bagian pertama dan kedua.
3. Garis pengaruh pada mornen lentur:
Jikalau kita mau menggambar garis pengaruh pada momen lentur pada titik sembarang 3 (M3) kita rnengukur dari diagram momen pada titik 3 semua nilai42sld4a
yang sebagai ordinat garis pengaruh kita gambar pada tiap-tiap titik. misalnya 42
pada titik 2, 16 pada titik 3 dsb. Ujung-ujung ordinat ini dihubungkan dengan garis
lengkung dan mendapat garis pengaruh pada momen lentw M3 (lihat gambar 9. 6.
4. 3. a. dan c.)
Cara ini berlaku pada bagian balok terusan yang diperhatikan. Pada bagian-bagian
yang lain kita mengukur nilai ordinat 46 si d 49 antara garis sumbu balok terusan dan
garis penutup dari diagram momen (lihat gambar 9. 6. 4. 3, b. dan c.). Karena balok
terusan pada contoh ini menjadi simetris nilai ordinat 42'sld
'.i4'dan 46's/d 49'
dapat diambil pada titik 3'sebelah kanan (lihat gambar 9. 6. 4. 3. a. dan b.).
Maka dapat kita lakukan penentuan garis pehgaruh pada momen lentur M7.
Kita lihat, bahwa penentuan momen maksimal kita dapatkan jikalau semua beban
berada pada satu bagian dari balok terusan, dan bagian sebelah kiri sena bagian
sebelah kanan tinggal kosong. Pengaruh suatu gaya atau beban atas bagian ketiga
sudah hampir menjadi nol.
Yang harus kita perhatikan dengan khusus ialah suatu titik sembarang (9) yang
berada antara suatu titik potong (K) dan suatu tumpuan (C2l seperti terlihat garis
pengaruhnya pada gambar S. 6. 4. 3. a. berikut. Nilai momen maksimal kita
dapatkan pada suatu beban merata terbatas. Sebagai garis putus pada gambar itu
dapat dilihat garis pengaruh pada momen lentur pada titik potong K'.
Pada penentuan garis pengaruh pada momen tumpuan Mlkita dapat mengukur 42'
s/d qa' dan 46' s/d qe' pada C3 (lihat gambar 9. 6. 4. 3. f.). Pada penentuan garis
pengaruh pada momen tumpuan Mil kita dapat mengukur semua ordinat 4 pada
tumpuan C2 (lihat gambar9. 6.4. 3. a., b. dan g.).
Kita lihat. bahwa penentuan momen maksimal kita dapatkan iikalau semua beban
berada pada bagian sebelah kiri dan kanan pada tumpuan yang kita perhatikan.
Bagian-hagian sesudahnya sebaiknya ditinggalkan kosong.
454

/Qsts'utkQ5

15'-n,utkl,ft

Z'
45:-s'utk ll7

tl zioislo'

utk l/3

knt4e-eutku'

il,S*,s

s
'S-s +x:
Garis pengaruh pada momen lentur M3

Garis pengraruh pada mornen lentur lVfi

Garis pengaruh pada momen lentur M9

455

7
89t0g',g',
' ./;
Garis pengaruh pada momen tumpuan

Mg

Garis pengaruh pada momen tumpuan

4.

{a 1 !
ls

Gambar 9. 6. 4. 3. a- s/d g.

M11

Garis pengaruh pada gaya lintang O3

$
{<

\
R-'

Garis pengaruh pada gaya lintang:

Pada penentuarr garis pengaruh pada gaya lintang (lihat gambar 9. 6. 4. 4. a. s/d

s.

mengingat, bahwa dua momen tumpuan menurut perbandingan nilainya dan tanda
(+,-) mengakibatkan suatu tambahan atau kurangan pada gaya lintang atau
reaksi tumpuan menurut rumus (6. 16.) dan (6. 17.) yang kemudian dapat ditulis
seperti berikut:

oo(Ras) * ta--lm1 =

Qo

Perbedaan AO dapat kita tentukan secara grafis dengan mudah. Seperti terlihat
misalnya pada contoh 2. gambar 6. 3. 3. f . pada gambar gaya dapat kita tentukan
dengan suatu garis sejajar dengan garis penutup s yang kena titik kutub, nilai reaksi
tumpuan kiri atau kanan. Pada poligon batang tarik menurut gambar 9. 6. 4. 3. a.
dan b. garis penurut menjadi garis horisontal. Perbedaan antara garis horisontal dan
garis sejajar pada garis penutup masing-masing kiri dan kanan pada suatu tumpuan
menentukan nilai AO pada garis pengaruh pada gaya lintang, seperti terlihat pada
gambar 9. 6. 4- 4" g. berikut.
Karena pada bagian pertama pada balok terusan ini semua garis penutup naik ke kiri
dan

kurangan-kurangan pada bidang gaya lintang yang negatif. Jarak antara dua garis
ini selalu harus menjadi 1 (lihat gambar9. 6. 4. 4. b dan c.).
Karena pada bagian-bagian yang kita perhatikan hanya timbul momen pada tumpuan dapat kita tentukan ordinat-ordinat untuk garis pengaruh dengan mengukur
ukuran H (jaraktitik kutub pada gambar gaya) dari titik potong J ke kanan atau K ke
kiri. Pada titik itu kita dapat mengukur siku-siku pada garis sumbu balok terusan
sampai garis penutup rnasing-masing.
Jarak titik kutub H dapat kita tentukan dengan menggambar garis sejajar dari
poligon batang tarik pada bagian balok terusan yang diperhatikan oleh p 1.Q pada
ujung-ujung gaya P = 1.0 itu. Jarak H sebenarnya selalu harus menjadi sama
karena P : 1.0 juga selalu sama.
456

Garis pengaruh pada gaya lintang 07

-t/

Ao

kita terima tambahan-tambahan pada bidang gaya lintang yang positif

RS

berikut) kita sebaiknya mernperhatikan suatu balok tunggal (lihat bab 9. 2. 2.1 dan

o(RA)

s
Re

Garis pengaruh pada reaksi tumpuan

Garis pengaruh pada reaksi tumpuan

C1

s
RS

&

RS
{

s,

Rl

R{?

ll*

R9

Re

Garis pengaruh pada reaksi tumpuan C2


Gambar 9. 6. 4. 4. a. s/d f.

Gambar 9. 6. 4. 4. g.

457

I
5.

Garis pengaruh pada reaksi tumpuan:


Penentuan garis pengaruh pada reaksi tumpuan menjadi sebetulnya suatu garis
pengaruh pada gaya lintang pada suatu titik tumpuan. Garis pengaruh pada reaksi
tumpuan sebetulnya juga dapat ditentukan dengan melankaui tumpuan yang
diperhatikan, dan memasang suatu gaya P = 1.0 yang membebani balok terusan
pada titik tumpuan itu. Sekarang kita tentukan garis elastis pada balok terusan itu
dan garis elastis ini menjadi garis pengaruh pada reaksi tumpuan itu. (Syarat dari
Land. ).

I
8
I

Garis pengaruh pada reaksi tumpuan,4

Garis pengaruh pada reaksi tumpuan Cr

Garis pengaruh pada reaksi tumpuan C2

Gambar9.6.4.5.

a.

[*ampiran
l.

1.

Rumus-rumus yang penting

1.1.1. Rumus-rumus yang penting pada bab 1. Penge


tahuan dasar
Nomor:

Uraian rumus:

(1.1.)

Penghubung antara tegangan yang timbul dan tegangan yang


diperbolehkan
Syarat Hook

20

11.2.1

Penentuan dasar suatu gaya P


Penentuan dasarsuatu gaya P

22
22

Hubungan antara nilai dari ilmu ukur dan nilai dari mekanika teknik
(statika)
Penentuan resultante pada dua gaya
Penentuan resultante pada dua gaya
Syarat tangkai pengungkit
Fersamaan momen pada gaya yang sejajar
Penentuan resultante pada beberapa gaya yang tidak sejajar
Tiga persamaan untuk membagi suatu resultante r9 atas tiga garis

22
24
25
30
30
32

kerja

33

(1. 3.)

(1.4.)

(1.5.)

6.)
7.)
8.)
)
. 0. )

(1.
(1.
(1.
(1. 9.
(1

(1.11.)
11

Halaman:

. 12.1 Syarat persantaan momen Ritter

(1. 13.l
(1. 14. )
(1. 15.)
(1. 16.)

Momen dari satu gaya


Momen dari kumpulan gaya
Syarat-syarat keseimbangan gaya
Syarat-syarat keseimbangan momen
11 . 17.1 Syarat-syarat keseimbangan gaya dan molnen

20

v
35
36

38
39
39

1.1.2. Rumus-rumus yang penting pada bab 2. llmu inersia


dan ketahanan
,2.

1.1

12.2.1

{2.3.)

12.4.1

(2.

458

5.)

Ketentuan jarak titik berat pada umumnya


Ketentuan jarak titik berat pada trapesium
Penentuan momen lembam pada umumnya
Penentuan jari-jari lembam pada umumnya
Momen lembam oleh jari-jari lembam dan F

6
I
49
50
50

r
Momen lembam pada sistim koordinat berpindah
Momen lembam pada sistim koordinat pada titik berat
Momen lembam pada segiempat pada titik berat (x, y)
Momen lembam pada segiempat pada sisi-sisi (x', y')
(2. 10.) Momen lembam pada segitiga
(x1
Q.'11 .l Momen lembam pada trapesium pada sisi bawah
(x)
12. 12.1 Momen lembam pada trapesium pada titik berat
(u, v)
12. 13.1 Koordinat u dan v pada sistim koordinat terputar
(u,
v)
terputar
pada
koordinat
sistim
lembam
12. 14.1 Momen
(2. 15. ) Momen lembam pada sistim koordinat terputar (u, v)
(2. 16. ) Sudut putar a pada sistim koordinat terputar
12. 17.1 Momen lembam utama /1 dan /2
(2. 18.) Syarat-syarat perseimbangan gaya luar dan gaya dalam
(2. 19.) Persamaan penguluran pada potongan yang datar
12.2O.l Tegangan o pada penguluran yang datar dan Etetap
Q.21 .l Persamaan penentuan gaya normal N
12.22.1 Tegangan o pada sistim koordinat bertitik tangkap pada titik
(2.23.1 Tegangan o pada sistim koordinat terkonyungsi
12.24.1 Persamaan garis sumbu nol

50

)
Q.7.1
(2.8.\
(2. 9. )
(2. 6.

n.l

berat

U.l

.l

12. N.l Tegangan utama dalam bidang


,.2.
41.1 Hubungan antara gaya tekuk dan lendutan batang tekuk
.2.42.1 Penentuan pelengkungan pada batang tekuk
12.43.1 Penentuan pelengkungan pada batang tekuk a ( 1
12. M.l Penentuan gaya tekan Psryang bahaya
12.45.1 Penentuan gaya tekan PpfanQ bahaya
.2. 6.1 Penentuan tegangan o17 |on$ bahaya
12.47.1 Penentuan tegangan okr pada sepenjangkanan plastis pada baja

460

37

61

6'l
61
61

62
63
63
63

64
64

.)

ST

Q.5"t.l

55
58
59
60
60

Rumus garis sumbu n<ll linear


Tegangan o pada gaya tarik dan gaya tekan
Tegangan o pada sistim koordinat terkonyungsi

(2. 30.) Tegangan o oleh momen lenlur Mr, Mrsaja


(2. 31
Tegangan o oleh momen lentur M, saja
Q.32.1 Tegangan omaxpada sisi atas dan sisi bawah
(2. 33.) Penentuan besaran inti k
Syarat keseimbangan tegangan geser
Q.
(2. 35.) Syarat keseimbangan tegangan geser
(2. 36.) Penentuan omaxpada segiempat sejajar
(2. 37
Penentuan o -urpada prof il baja berbentuk /
(2. 38.) Tegangan linear
(2. 39.) Tegangan dalam bidang

(2.50.)

51

t2.52.t
(2.53.)

il
il

terkonYungsi

Q.

5'l

52
52
53
53

,.2.26.1 Tegangan o pada sistim koordinat terkonyungsi

Q.28.1

M.t

Q.49.1

51

Q.25.1 Koordinat xn dan yn dari garis sumbu nol dengan garis sumbu
12.27.1

t2.

51

65
67
70
71
71

72
74

77
82

82
82
83

u
u

Penentuan ),iapada topang ganda konstruksi

baja

Penentuan t4pada topang ganda konstruksi kayu


Penentuan tegangan omax pada tiang terbengkok
Hubungan antata a* yang sebenarnya dan orft yang diperbolehkan
pada tiang terbengkok
Hubungan antara o,1 yang sebenarnya dan or1 yang diperbolehkan
pada tiang yang tertekan eksentris
Hubungan antara o6 yang sebenarnya dan or1 yang diperbolehkan
pada tiang dengan beban lintang

Nomor:

Uraian:

(3.1.)

Reaksi tumpuan pada balok tunggal dengan satu

)
)

(3.4.)
(3.5.)
(3.6.)
(3.7.)

o2

95

(3.9.)
(3. 10.)

(3.11.)
13.12.1

halaman:

gaya
Momen maksimal pada balok tunggal dengan satu gaya
Reaksi tumpuan pada balok tunggal dengan gaya pusat
Momen maksimal pada balok tunggal dengan gaya pusat
Reaksi tumpuan pada balok tunggal dengan beberapa gaya

103
103
104
105
105

Reaksi tumpuan pada balok tunggal dengan dua gaya Pyang simetris 107

Momen makimal pada balok tunggal. dengan dua gaya

simetris
(3. 8.

92

Rumus-rumus yang penting pada bab 3.


Konstruksi batang

t.1.3.

(3. 2.
(3. 3.

88
90
92

yang

merata
dengan beban merata

Fleaksi tumpuan pada balok tunggal dengan beban

Momen maksimal pada balok tunggal


Momen pada titik x sembarang pada balok tunggal dengan beban

107
108
108

merata

108

Momen maksimal pada balok tunggal dengan beban merata terbatas


Momen maksimal pada balok tunggal dengan beban segitiga yang

111

simetris

113

(3. 13.)

Momen maksimal pada balok tunggal dengan beban segitiga yang

(3. 14.)

114
satu hadap saja
Momen maksimal pada konsole dengan satu gaya pada ujung yang

bebas

(3.
(3.
(3.
(3.
(3.

15.)
16.)
17.)
18.)
19.)

(3.20.)

Momen maksimal pada konsole dengan beban merata


Momen maksimal pada konsole dengan gaya horisontal
Gaya normal dan gaya lintang pada balok tunggal yang miring
Tegangan amaxpada balok tunggal dengan lengkungan miring
Momen maksimal yang bercita-cita pada balok rusuk Gerber
Jarak engsel yang bercita-cita pada balok rusuk Gerber

120
121

122

144
152
155
156

85
461

1.1.4.

Rumus-rumus yang penting pada bab 4.


Konstruksi rangka batang

(4. 1.)
14.2.t

Persamaan keseimbangan pada rangka batang

(4.3.)
(4.4.)
(4.5.)

Penentuan
Penentuan
Penentuan

!.1.5.
(5.

1.)

(5.2.)
(5.3.)
(5.4.)
{5. 5. )
(5. 6. )

(5.7.)

Penentuan

konstruksi rangka batang yang statis tertentu


gaya batang tepi atas O menurut Rhter
gaya batang tepi bawah U menurut Rifter
gaya batang diagonal D menurut Ritter

179

179
187

187
188

Rumus-rumus yang penting pada bab 5.


Alat-alat sambungan
Beban yang diperkenankan satu keling atau baut terhadap tegangan
geser
204

Beban yang diperkenankan satu keling atau baut terhadap tekanan


dinding lobang
204
Gaya lintang A6pada topang ganda dari baja
223
Gaya pergeseran fpada topang ganda dari baja
?23
Momen M pada topang ganda dari baja
224
Tegangan normal o6 pada gigi tunggal
227
Tegangan geser r pada gigi tunggal
227

(6. 16.)
(6. 17. )
(6. 18.)
(6. 19. )

Balok
Balok
Balok
Balok
(6. 20.
Balok
(6. 21 .
Balok
{'6.22.1 Balok
(6. 23.
Balok
i6.24.1 Balok
(6. 25.
Balok

teriepit dengan beban merata: momen maximal


terjepit derorgan gaya pusat: mo{nen maximal
terjepit: menentukan lendutan f
)
terjepit dengan beban merata: lendutan maxirnal
)
terjepit dengan gaya pusat: lendutanmaxirnal
terjepit sebelah: momen jepitan kalau a = 0
)
terjepit sebelah: momen jepitair kalau a ) 0
terjepit sebelah dengan beban merata:
)
momen jepitan
(6. 26. ) Balok terjepit sebelah dengan beban merata:
momen maximal
i.6.27.1 Balok terjepit sebelah dengan beban merata:
gaya lintang
(6. 28. ) Balok terjepit sebelah dengan beban merata:

(6.29.)
(6.30.)
(6.31.)
(6.32.)
(6.33.)
(6.34.)
(6. 35.

t. 1.6.

Nomor: Uraian rumus:


(6.1.)
Balok terjepit: persamaan elastis
(6. 2. )
Balok terjepit: momen jepitan

(6.3.)
(6.4.)
(6. 5. )
(6. 6. )

(6.7.)

(6.8.)
(6.9.)
(6. 10.)
(6. 11.)

(6.12.)
(6. 13. )
(6. 14.)

(6.15.)
462

2il

:
oleh Mt :

Perhitungan sudut tumpuan


Perhitungan sudut tumpuan oleh M2
Persamaan sudut tumpuan
Balok terjepit: momen jepitan

Balokterjepit: momenjepitan a = 0
Balok
Balok
Balok
Balok
Balok
Balok
Balok

(6. 37.

halaman:

Balokterjepit: momenjepitan o = D

0
1

=l
=

terjepit dengan beban merata: sudut tumpuan


terjepirdengan beban merata: momen jepitan
terjepit dengan gaya pusat: sudut tumpuan
terjepit dengan gaya pusat: momen jepitan
terjepit dengan dua gaya: sudut tumpuan
terjepit dengan dua gaya: momen jepitan
terjepit: menentukan momen pada titik x

(6.36.)

Rumus-rumus yang penting pada bab 6.


Balok terusan

255
255
255

(6.38.)
t6.39.)
(6.40.)
(6.41.)

$.42.t
(6.43.)
(6. 44.
(6. 45.

256
256

(6.46.)

256

$.47.t

256

258

(6.
(6.
(6.
(6.

258

(6.52.)

259
259

(6. s3.)
(6. s.)
(6. 55. )

257
257

2ffi

terjepit: menentukan gaya lintang


terjepit: menentukan reaksi pada tumpuan

48.
49.

)
)

s0.)
51.)

tumpuan
jepitan
Jarak titik potong a
Jarak titik potong b
reaksi pada
Balok terjepit elastis: momen

Perhitungan momen jepitan dengan jarak titik potong


Perhitungan momen pada titik potong J dan K
Potongan K dan K' pada garis bersilang

Jaraktitikpotong adanb

dengan/tetap

Perhitungan momen pada titik potong dengan /tetap


Jarak titik potong pada balok teriepit
Jarak titik potong pada balok terjepit dengan / tetap
Jarak titik potong pada balok tunggal
Perhitungan ukuran jepitan sendiri pada jepitan elastis
Perhitungan ukuran jepitan sendiri pada jepitan yang kaku
Perhitungan ukuran jepitan sendiri pada engsel
Perhitungan ukuran jepitan sendiri pada jepitan elastis
Perhitungan ukuran jepitan sendiri pada jepitan elastis
Perhitungan ukuran jepitan asing
Jarak titik potong a' dan b' pada balok terjepit elastis
Jarak titik potong a' dan b' pada balok terjepit
Jarak titik potonq a' dan b' pada balok tunggal
syarat persamaan rrga mornen (clapeyron)
Penentuan angka kekakuan batang k
Perhubungan antara momen distribusi dan angka kekakuan batang
Penentuan koefisien induksi y
Penentuan koefisien induksi y pada balok dengan /tetap
Perhitungan momen jepitan pada balok terjepit sebelah
Penentuan angka kekakuan batang k' pada balok terjepit sebelah

2@
261
261
261

b2
2f,2
263
263
243

2U
2U
2M

2U
265

ffi

267
267

28
268
269
269
270
270
271

272
272
272
273
273
273

276
277
277
283
289
289
289
290
291
291
463

r56.)
(6.57.)
(6.

292

Penentuan koefisien induksi y pada balok terjepit sebelah

Balok terusan dengan beban merata: momen maksimal pada satu


295

bagian

(6.58.)

1.1.7.
17.

1.1

17.2.1

(7.3.)
17.

4.1

(7.5.)
(7.6.)
(7.7.1

(7.8.)
(7.9.)
(7.

r.

10.)

1.8.

)
)
)
(8.4.)
(8. 5. )
(8. 6)

(8.

1.

(8. 2.
(8. 3.

(8. 7)
(8. 8)

(8.9.)
(8. 10.)

(8.11.)

Merendahkan ketinggian puncak momen pada momen yang negatif


299
(
- ) di atas tumpuan pada konstruksi beton bertulang.

Rumus-rumus yang penting pada bab 7.


Konstruksi portal
Momen jepitan M;ppada penurunan tumpuan pada balok

Momenjepitan Mppadatumpuanpadabalokterjepitsebelah
Faktor pengikat t' pada gaya pengikat horisontal pada konstruksi

322
322

panjangnya kaki berbeda dan yang terjepit sebelah dan


berengsel

menYebelah

330

Penentuan gaya pengikat horisontal rl = 0 pada konstruksi portal


333
bertingkat pada tingkatsatu
:
portal
pada
konstruksi
0
Penentuan gaya pengikat horisontal Frr
333
bertingkat pada tingkat dua
333
Penentuan momen M pada konstruksi portal bertingkat

(8.20.)
(8.21.)

8.22.1
(8.23.)
t8.24.t
(8.25.)
(8.26.)
t8.27.t
(8.28.)
(8.29.)
(8.30.)
(8.31.)
(8.32.)
(8.33.)
(8.34.)
(8.35.)
(8" 36.)

(8.37.)
(8.38.)

Rurnus-rumus yang pentang pada bab 8.


Perubahan bentuk elastis

Hasil pengintegralan pada kerja virtual:


Bidang limas - bidang sembarang
Bidang limas - bidang limas
Bidang limas - bidang segiempat
Bidang segiempat - bidang segiempat
Bidang segitiga - bidang segiempat
Bidang segitiga * bidang segitiga sejajar
bidang segitiga tidak sejajar
Bidang segitiga

dari Betti
dari Maxwell
dari Castigliano
dari Mohr tentang lengkungan k
dari Mohr tentang persamaan garis lengkung
dari Mohr
Pergeseran dan perputaran pada konstruksi batang
Persamaan kerja pada konstruksi rangka batang pada prakteknya
Penentuan bobot-beban W I pada konstruksi batang
Bobot-beban Wopada tumpuan kiri
Bobot-beban Wnpada tumpuan kanan
Bobot-beban Wppada momen lembam /tetap
Bobot-beban Wopada /tetap, pada tumpuan kiri
Bobot-beban Wrpada /tetap, pada tumpuart kanan
Bobot-beban Wppada konstruksi rangka batang
Bobot-beban W p pada konstruksi rangka.batang
Bobot-bieban Wppada diagonal yang naik
Bobot-beban Wppada diagonal yang turun
Bobot-beban Wp pada diagonal yang naik pada konstruksi rangka
batang dengan tepi sejaiar
Bobot-beban Wp pada diagonal yang turun pada konstruksi rangka
batang dengan tepi sejajar

Syarat
Syarat
Syarat
Syarat
Syarat
Syarat

352
352
353
353

353
354

3il
355

356
357
357
357

358
3s9
369
373

374

374
374
374
374
381
381

382
383
383
383

344

Persamaan keseimbangan kerja virtual


Persamaan keseimbangan kerja virtual dengan giliran terbalik
Kerja virtual dalam oleh gaya normal
Kerja virtual dalam oleh momen lentur
Kerja virtual dalam oleh perubahan suhu seragam

345
346

r. 1. 9.

u7
u7

Kerja virtual dalam oleh suhu yang berbeda pada sisi atas dan sisi
u7
bawah
3A
Kerja virtual dalam oleh gaya lintang
Persamaan kerja pada konstruksi batang
349
Persamaan kerja yang diperpendekkan pada konstruksi batang
350
pada
rangka
batang
konstruksi
Persamaan kerja

Persamaan kerja yang diperpendekkan pada konstruksi

(8.15.)
(8.16.)
(8.17.)
(8. 18.)
(8. 19.)

326
yang goyah
perhatikan
faktor
yang
goyah
jepitan
dengan
pada
konstruksi
Momen
326
pengikat!
Perbandingan antara momen jepitan pada konstruksi portal dengan
panjangnya kaki berbeda dan yang terjepit pada tumpuannya 329
Perbandingan antara momen jepitan pada konstruksi portal dengan
panjangnya kaki berbeda dan yang berengsel pada tumpuannya 329
Perbandingan antara momen jepitan pada konstruksi portal dengan

batang

terjepit

18.12.t
(8. 13.)
(8. 14.)

rangka
350

(9.1.)
(9.2.)
((9.3.)

Rumus-rumus yang penting pada bdb 9.


Garis pengaruh
392
Reaksi tumpuan oleh kumpulan gaya P dengan garis pengaruh
392
Reaksi tumpuan oleh beban merata g dengan bidang pengaruh
Luasnya bagian (+)atau bagian (-) pada bidang pengaruh pada
398
beban yang tidak langsung

(9.4.)

Luasnya bidang pengaruh seluruhnya pada beban yang tidak

(9.5.)

Gaya normal pada titik

langsung
beban

tetap

398

pada konstruksi busur tiga ruas dengan


416
465

(9.6.)
(9.7.)
(9.8.)

Gaya lintang pada


bebasan tetap

t.2.

titik x pada konstruksi busur tiga ruas dengan

Gaya normal pada titik

416

pada konstruksi busur tiga ruas dengan


420

beban tetap

Gaya lintang pada titik x pada konstruksi busur tiga ruas dengan
421

425

sejajar

(9.11.) Gaya batang vertikal pada konstruksi rangka batang dengan

tepi

sejajar

425

1.9.12.1 Gaya batang tepi pada konstruksi rangka batang dengan tepi tidak
seja.jar

13.)

(9.

14.)

(9.

15.)

(9.

16.)

(9.
(9.

17.)
18.)

(9.19.)

Gaya batang diagonal pada konstruksi rangka batang dengan tepi


tidak sejajar
Gaya batang vertikal pada konstruksi rangka batang dengan diagonal
turun naik dan tepi tidak sejajar
Gaya batang vertikal pada konstruksi rangka batang dengan diagonal
turun naik dan tepi tidak sejajar
Gaya batang vertikal pada konstruksi rangka batang dengan semua
diagonal berarah sesama dan tepi tidak sejaiar
Gaya batang vertikal pada konstruksi rangka batang dengan semua
diagonal berarah sesama dan tepi tidak se.iaiar
Gaya batang vertikal pada konstruksi rangka batang dengan semua
diagonal naik atau turun dan tepi tidak seiajar
Gaya batang vertikal pada konstruksi rangka batang dengan semua
diagonal naik atau turun dan tepi tidat< sejajar

430
431

433
433
434
435

Persegi-empat

ESH

,ffi

*ffi
,/\

,f"\ I
"//\ \ i
ti

_ n:m.n
F: a+b.
2

h'+h"
: ---z
--'s

L-:_rl

A-:--

h a+2b
3 a+b

S pada titik F"rotong garis

FJ dan Glt, F dan G


men jadi titik tengah
diagonal ,a,C dan BD,
cian jarak Cll - AE dan
DJ = BE.

Segitiga

/,{

r,{flfl

"= i

Trapesiurn

Segiempat sembarang

.d1\
.e

e:,

F=a2

F:a'h
n : /6t-.t

436
436

F:a'b
dengan sama sisi:

Jajaran

t#i:s\

466

jarak titik berat e

luasnya F

Bentuk
420

beban tetap

) Gaya batang tepi pada konstruksi rangka batang dengan tepi sejajar
(9. 10.) Gaya batang diagonal pada konstruksi rangka batang dengan tepi

(9. 9.

(9.

Penentuan titik berat pada bidang yang datar

1.

F=,

9-:I'

:' l-:lu

h = b.siny

467

Bentuk

iarak titik berat e

Segi-banyak sama sisi

u U_--

n' R2
__qi64

p;

^u
= n.r..tg
I

n
3
4
5

1.132
1.414

R
R

2r

r,176

1,453 r

1R

1t

0.8678R
0,7654R

9
'to

0,6840R
0,6180R

3,4M

0,5635R
0.51 76R

0,39028
0.3129R

0,5774s
0.7071s
0,8506s

'ls

0,9631 r

0,8284r
0,7279r
0.6498r

1.307 s
1,462 s
1,6',t8 s

0.5873r
0,5359r
0,3979r
0.3'r67r

1.775 s
1.932 s

.152

2r

seperempat lingkaran

r
180

-n

0,5

0,5

0,7071

1s?

0.6882s
0,8660s

0,8090
0.8600

s1

2,598 s'

1,038 s
1,207 s
s

0,9010
0,9239
0.9397

0,9511

1.035r

1,703 s
1,866 s

1,O20r

2,514

2.563r

'1,012 s

0.9595
0,9659
0.9809
0,9877

.1

,'l

55r
55r

,374
1,539
1

1,O42r

0,4330s'
1,772

3,634 s2
4,828 sl
6,182 s?
7.694 s']
9,366 s'

11,20
20,11
31

,57

1,299R,

5,1961

412

2,378R1

3,633r?

2.599R'

3,4&r2

5
6

2F'2

2.736R'

3,371rt

2.82tiqt

3,314tt

2.893R'
2,939R'

3,27612

8
q

2,974R7

3.23012

sz

3R,

s2

3,061R'

s1

3.090R1

s =30 mm
R -- 0.8506 30 = 25.52 mm
r - 0,6882 30 . 20.65 mm
F -1.72A 30, = 1548 mm,

conloh2:

'

3,24612

10

3,1831
3.1 681

R 75 rnrn
n 12
r = 0,9659 '15 = 72,44 mm
s =0,5176 75 =.38,82 mm
F ,3. 75'? ..16875 mnr'l

,2.-

=d2

e," =--r

F,

rz(1-

= 0,2234?

o,urcr,

it:

Sektor lingkaran

e' =

12-3n'

luasnya F':

b : t2 n'ao

-t =
2
360- =o'0a87266' qo'
. 2'F = roo'n :0,017453 . (
o =;
qo
-1808t-s ) co < 900
_
- 3 le(1500
e' :# = s7,2s69

2s
"3b

12inr

= 0.7766 r

2 sino
- 3 ' arc,

12

12' s

=3.F
sektor

=-2n

sektor

600

900

4\[2
I
8:-^-

Jn

:0,6002

= 0,6366 t

segmen lingkaran

rz,qo'n

u'd

Setengah lingkaran

= 0,5756 r

3,215t

Lingkaran

F =r2.r=Or+

= 0,4244 r

'10*.3r

'
contohl;n -5

JN

180
n
180
n

e2: 3n-4
^-r
Jtr

r::_l'

F=r2'n

2vrR'?

0.2887s

o,414r

lstn-

180

- r,: 2 R "in
s
- cos180
=H
n =2 ctg

banyaknya sudut

2.563 s
2.563 s

jarak titik berat

0o :180-,,

cos

u
= n'S2
o_ "rn,

R=-

Eentuk

360

r{b-s, +s.h

2'180
s2h
th2+r'ao'n

= 2. r. sn

186-

sl

"- l2r

r3

' sin3 o

-- 0,017453r.q00

r ( 1 -cos+

zr/

l :r

uzr-nl

- vC=

1,

tso

=ts$

il=

Elips

er= *r:0,4244r
ez

3n-4
= Jn- :

,lt -";o - v/ibl

0,5756 r

468
469

1.2.2. Penentuan momen lembam dan mornen tahanan


Mornen I

Momen
tahanan Ut/

Momen
fid1

flt'

:
*

:
-

0,7854 ra
0,05

A-

d.

19t-a:y

64

e:---

lx:

12

6bllJrirlb-"
2b * br

32

: !-l
b trl

h2 6b2+6b_b1+b12

!dt

64

momen tahanan t/l/

momen lembam /

0,7854 r3
0,1 d3
H4

tt

-n

D4

lt

R4

-ra

-n-hl
H1

t/.
ltz

Pada pipa dengan dinding yang tipis:

_ ha
: 0.1179 I: H
12H

_H4

l:W'R

0,1'1785 hr

"- lrfr

-BI! :--!

0,1098 ra

bh2

qn!{,
2

ls

J-., :
st/t
:
:

9,525.,

0,0549

rr

l))* o'"" "

:
lss :
lxy

r{
0,0165 r{

0,865

5vl

0,5413 ra

r3
-J-16
: 0,54'13 rr

2,598 rz

ls

et: 0.42:44 r
er :0,5756 r

0,125

0,0075

lxy :
l5s s

0,125

.l:a.:-

+ g}1

et
ez

:
:

w:

Bll3-bh3
-;.H

B-[ -t ! !1
6H

Be,3-bh3+ae23
e1

1
2

aH2*bd2
aH+bd

'
ez: H -et

rr

l))- o,'' "

j1

12

a:rvi

16

ll t
2- t'

17

Wt - 0,2587 rr
w2 : 0,1908 r!
et :0,4244 r
ez :0,5756 r

h".

e:

w:T- q.[,.(+)']

n,

-h4

5H

-d1

_Ii
17

3b+2br
h 3b+2bl
3 2b+bl

W:

0,2234 r
0,7766

11

Q,@{'( ;a

1+2]/2
___-_
r.
6

:
:

0,6906 rr

0,5381 r'.

:
:

0,8758 er
0,0547 a{

0,8758 c:
0,1095 a3

:0,974 r

Lb

b^,

0,7854 b a:

",

0,7854 b a,

471

'-1e2

1.2.3. Tabel nilai-nilai pada bahan baja profilmasing-masing


1. 2. 3. 1. Tabelnilai-nilaiprofilbaja I NP
Sx

-_-

momn statis pada separuh luasnya profil

= {i jarak titik berat pada bagian ta!'ik dan tekan


momen lembam
., -- l, -ux
^,
momen statis pada sayap
Jx
S,.

It :

momentembam

: +[2b.

tr + (h - 2t]s3l

torsi menurut
rumus A. F6ppl

Bentuk

ukuran-ukuran
h

41lt

lo
lmm

r2

mm

mm

35
40
42

3,75
3,9

qg

7,3

100
170

50

4,5

5,8

)1

58

5,1

11+O

66

8,6

3,4

74
87
90

6,3
6,9

20

160
180
200

2t

770

9B

8,1

12,2

24

2A

740
750
260
280

30
32
34
36

300
320
340
360

125

143

13

3B

a0

380
400

4211t

42'5

14,4
15,3

60
80

t0

12
14

l5
t8

25

76

qq
10,4

4,1

11 ,3

4,5
4,9

106

8,7

13,1

13,6

113
119

14,1

10,8
'1
1,5

45

454

149
155
163
170

tt?1lt

4t5

118

50
55
60

500
550
600

185

472

7,1

1'10

131
137

200
215

cm2
4,7
5,9
7,58
10,6
14,2
'18,3

3,7
4,6
5,95

't7,9
21,9
26,3

46,1

31,1

1tt,1

36,7
39,0
41,9

15,2

6,1

61,1

48,O

16,2
17,3
18,3
19,5

6,5
6,9
??

69,1

54,2

77,8
86,8

61,1
68,1

7,8

97,1

76,2

20,5
71,6

8,2
8,6

107
1't8

132

24,3

9,7

17,1
1B
'19

25,6
27,0
30
32,4

10,3
10,8
41 0
13

81r,0

92,6
104

147

180
713
754

34,1

77,8

8,32
11,7
14,4

72,8
77,9
33,5
39,5

q?Z

15,3

141
167
199

328
573

iy

cmalcmll.-

cm4

49,7

23

garis sumbu y-y

ry I wy'l

lx

5,4
5,6

16,)

21,6

garis sumbu x-x

berat

6,8
11,4
19,5

'1,8

34,2
54,7
81,9

4,O1

12,2

4i81

I t,)

5,61

35,2
54,7
o. )

935

117

1 450

161

2 140
3 060

214

4 750
4 970

354

5740
7 590

442

9 800
12 510
15 700
19 610

653
923
1090

24
79
35
45

278

397

3,6
5,9
6,29

7,4
3,20

6,40
7,20
8,00
8,80

117

162

2,0
3,0
3,00

0,87
0,96

4,88

4,73
6,79
11,4

3,67
5,02
6,84

1,07
't,23

19,9

o<?

10,7

't,40

47,7

12,0

14,8
19,8
26,0
JJ, I

1,55
'l,v1
1,87

q?1

68,0

13,7
15,5
17,7
18,9

2,20
2,27
2,37
2.45

98,4
114

7,56
2,67
2,80
2.90

7,41

9,59
10,0
10,4
't1,1

221
288
364

41,7
46,5
51,0
61,7

11,9
12,7
13,5

451

72,2

756

lobang

Sxls*ls',
cm3 l.-1.-

0.91

ana

'10,3

125

162
706
231
?57
316

20,6
21,5

17,4
14,6

4,66

16,8
19,1
21.1

7,08
10,3
14,6

23.4

20,1

16,t

2:t,o
31,3

27
76
30
34
38

44
46
57
56

11

14
14
17
17

78
4'l
59

0,210
0,2s7
0,304

75
92
109

0,370
o,439
0,502

125

0,575

142

0,640

l6
l8

159
175

0,709
o,775

20
22

o,877
0,906

715

0,966

23
26
28

20

241

1,03

30

2A

257
274

'1,09

t2

290

1,21

36

1,27
1,33
't,41

38
40
4211t

1,48

1.5

1,55
1,63
1,80
't,92

50
55
50

457

27,4

540
638

29,1

32,4
34,6
36,9

-?0,7

39,1

61,2
78,2
97,5
173

64
70
74
74

41,4
43,6
46,5

150
183
233
288

80
84
86
92

26
26

305
373
343
363

354
449
618
875

96
100
110
120

16
76
26
26

444
485

74',1

3?,4
34,1

970
850

203

3,30
3,43

857
1020
1 200

56 480
68 740
99 180
1 39 000

2380
2750
361 0
4630

18,6
19,6
?1,6
23,4

2090
2090
7480
2480

235
768
349
434

3,50
3,72
4,07
4.30

1m
1670

2120
2730

36,2

49,1

40,4
42,4
46,8
50,9

52,1

54,6
60,0
66,5

o,844

1E 7

3,1 3

!0

l2
l4

200
208

481

3,02

19?.

58

149
176

4112

17
17
20
20

62

't31

4674

1,72

mzlm

36,1

975
60
1440
r 730

.490

'10,2

mm

47,8

15,0
15,7
16,7
17,7

r1

0,488
0,552
0,928

30,1

1160
1460
1740
7040

010

3,94
5,68
6,93

bentuk
h1

27,8

't4,2

210

cm4

w
ldrmax
mmlmm

14,U

s55
674
818

782

l1

20
23
1?
23

384
404

't,15

?t

47112

473

1.2.3.2. Tabel nilai-nilai profil baia U NP


Sx

= momen statis pada separuh luasnya profil


I

S, : * jarak titik berat pada


Jx

)^= E:

bagian tarik dan tekan

tekan momen lembam


momen statis pada sayaP

[2b.t3 + (h-2t)

It =

momen lembam

6:

torsi menurut rumus A. FoPPI


jarak yang menentukan lr2 = lv2

: 2l'

s3]

pada dua prosil

baia U NP

Bentuk

'.l'l

t0
12

'. T-.;
rot
lool
120 I
55

l4oleol
tt
'160 I es
rol
lsol
200 7s

l4
16

t8
20
27

I rol
240 I ,,
2601 901
I

220

24
76

2Boj gsl
3oo I roo

B
30
12
35
38
40

T-

320
350

100
100

381

102

400

1'10

mm

mm

ev]r,

cm2

o"'I

6
7
7

8,5
9
10

7q

10,5

11
11 ,5

8,5
9
9,5
10
10
10
14
14
13,3
14

4
4,5
4,5
5

5,5
5,5

,0
13,5
17,0
20,4

11

24,O

17,5

6.5

28,0
32,2
37,4

13
14
15
16

6,5

47,3

48,3

s8.8

17,5
16
'16

18

8,75
o

11,2
9

75,8
77,3
79,7
91,5

a,s+

la

::l :l-

| t,+s

106

10,511,ss1206
13,4 1 1,60 364
ta.o : t;ts I 605
92s
18,8 I 1,84 |
zz.o 't t,gz J I :so
1910
25,3 2,0',1
29,4 2,14 | 2690
37,2 2,73 | 3600
37,9 2,35 i 4870
41.8 \ 2.53 I 6280
46,2 z,to | 8o3o
s9,5 I 2,50 I 10 870
60,6 2,40 | 17840
ez,o i z,ts I rsz:o
zr,alz,eslzotso

I - --:11t''i1::n'"'*r1*n11"":11"1-l--l l-l :-i ;TT EJff l- l: I

-1

fw
t05.
tg5.

mmmm]

rl

cm3

ty
cm4

*r]iy
cm3 i

26,5

3,10

19,4

41,2

3,91

29,1

60,7
86,4

4,62
5,45

43,2

11 ,1

62.,7

14,8

813

16,3

'115

6,2',1

150
191

114

245

6,95
1,70
8,48

197

300

9,22

248

37'.i.

9.,99

317
399
495

148

448
s35

10,9
11,7

679
734

12,1

826

14,1

597
570
613

1 020

14,9

846

1?,9

6,36
8,49

2?-,4

s'x

cm

.*r | .-

cm

cm4

1,33
1"47
1 ,59
41<

15,9
24,5
36,3
51,4

6,65
8,42
10,0
11,8

7,41
9,61
'12,0

2,74

't,89
v,o?

r'r8,8

13,3

dl,6

r3,r

16,4
18,8
21,3
23,5

9,98
12,6
17,0

75,9
28,2
30,2
32,3

20,8
23,7
33,2
40,6

35,4
40,2
45,9
46,9

69,2
63,2

11.',l

33,6

7,14
2,30

39,6
47,7
57,7
67,8

7,42
2,56
2,74
2,90

179
221

80,6
75,0

2,81

413
459
505
618

2'1,0

78,4
102

235. 90
300. 7s
300. 78

474

105

65

145

bU

235
300
300

90
78

2,77
7,78
3,04

10
10
10

12
10
13

5
5
5,5

42,4
42,8
47,6

266
316

16,8
18,5
24,1

21,8
23.6
75,4
7'6,3
?.8,6

3't,1
32,9

14,1

l1

i
+ar+

"
lxfifx
ll-ll wrdlin,
I '

^'

I lobano,

l_-La_]+l

t,Y6
4,30
6,02
7,81

67,1

85.2

zB

mA:

1.. l-.i.,,:"J
ttL
I - I,zslt+

mm

m2/m

+o

o,312
o,377
0,434

t0

a,489

t4

42l',to4 130114
64
s51120i30117
s2
70 I 14A I 3s I 17 I 98
8211s6135120111s
96t174'401201133
io8 I rqo +o I z: I rsr
'tLz I 208 I 45 I 23 167
134 i 724 I 45 I 26 )184
146121+olsol26i200
160 I 262 I 50 26 I 716
174 I 282 | ss ) ?6 1232
182 I 286 5s I 26 I 246
204 | 300 I ss I 26 1282
230 I 324 I s5 | 26 1312
240 I 346 I 60 I 26 1324

Profil baja dengan ukuran khusus

8
12

o,546

16

0,6't1
0,661

zo

0,718

22

o.775

24
26
28
30

0,834
0,890
0,950
0,982
1,05
1,11

1,18

bangunan

i8

t2
35
38
40

I tt

I ":
f \i,

Profil baja dengan ukuran khusus bangunan

--l -'-

4,07
5.43

xliEx

s*1,,

Profil baja dengan ukuran knusus kereta api

65
60

gans sumbu y-y

garis sumbu x-x

berat

ukuran-ukuran

9,00
10,7
11,1

61,2
53,it

272
145
209

't3,2
11,9
40,5
24,2
34,7

l--l-'- 4,18
,,,ur]rr,.'r,rol,o,o
8,80 | 10,4 Iio,',,

-- 1 -- r---t36 i ',,2 I ,, |
36
t.

I 49,2 1i,9 I 15,8 4,76 68 't?.8 '


2,s3 i 17s ,1e,2 12s,8 t1e,s eB ] raa I
1,84 i204 1241 40,6 116,1 182 t 242
z,'to t, zlt
24,7 :e,r I z:,0 raz ] zs4

1,6s

ilirr:r

35 i

-r----

I ,o
,0,
1o,o:.
17 | 111 |

so I ze I ro:
A
23 I 257
40 ' 23 j z+s i

105. 65

0,494

t45.

o,zas

235.

0,857

300.

o,esa

300. 78

60

r5
'0

475

T
1.2.

3.3. Tabel nilai-nilai profil baja

lxy - momen sentrifugal

It :

momen lembam

-0

J9

12u-.1

,'

torsi menurut rumus A. F6PPel

-11
12 =,
jarak garis sumbu

Bentuk

1. a.

mm

15.3
t5.'4

3,5

20. 20' 3

30.

t0.

4
5

35.35.{
6

10. 40.

{
5
a

0,48

1,05

0.51

0,60
o,64

1,12
1,45

25.25.3

0,82

3,5

1,42
1,85
2,26

1,12
1,45
1,77

0,73
0,76
0,80

1,74
2,27
2.75

't,36
1,78
2,18

0,84
0,89
0,92

ajo

1,00
1,08

2,67
3,87
3,08
3,79
4,48

3,04

2,42
2,97
3,52

0,67
0,73
1

,41

1,77

2,47

l1

wx

lX

t(

cm4

cm3

cm

0,t5

0,15
0,19

o,43
o,42

0,19
0,39
0.48

0,28
0,35

0,59
0,58

1,03
1,08

o.79

1,'13

1,1I

u,45
0,58
0,69

0,75
o,74
o,77

1,18
1.24
1.30

1,41

0,65
0,86
1,O4

0,90
0,89
0,88

1,42
1,53

7,96
4,14

1,18

1,05

't,71

1,O4

0,85

0,90

1,O1

1,8'l
2.16

4.48
5,43
6,33

't,56

1,97

7,43
't0,4

2,43

1,98

't1,o

1,51

2,2',1

14,6
17,9

3,05
3,6'l
4,15
5,20

1.56
1,64
1,72

2,71

17,3

4.&

1,66

2,32

22,1

'1,64

2.,43

25,3

5.72
6,97

1,69
1.77
1,85

2,39
2,50
2,62

22,8

1,85
1,93

2,62
2,73
2,83

1,12
1,16

2,83

1,58
1,64

't,70

'1,20

bentuk

garis sumbu x-xdany-y

4,30

1o,50.5

4,80

3,Tt

5,69
6,56
8.24

4,47
5,15
6,47

53'tt.6

6,31

4,95
6,46

t0
40. 60. a

t0

63.6t''

1o.70

fi
-,
)
tl

13.,5-'

t0

l2

3,38

5,86

4,60

8,23
10,1

7,90

6,91

5,42

9,03

7,@

1',t,1

8,70
11,0
13,2
9,40
11,9
14,3

10,r

ll,5
14.1

15.7

8,69
6,83
8,62
10,3

't,28
1,36

3,18

1,40
1,45
1,49
1,56

3,54

2,@

1,8',1

7,O4
7,1',|

7,38
9,34
11,2

1,97
2,05
2,11

2,79
2,90

7,94

2.@

9.03

2,13

2,95
3,Ol
3,12
3,24

11,1
11,1

2.2'l
2,79

3,0'1

,t2,8

hl

tfl

cm4

cm

cm4

cm

115
139
161

29,6
35,9
43,0

181

3,06
3,03
3,00
2,96

1,55
1,54
1,53
1,54

184

3,45

47,8

218

3,4',1

57,1

1,75

68,2
80,9

250

3,39

55,9

1,7 4

92,1

280

3,82
3,80
3,77

328

372

3,31

34,9

8,4',1

33,4

7,18

4',1,3

9,W

66,4

,95

86,7
98,3

1,95
1,94

98,6
116
133

2.,16

140

10,7
16,8

12

14

23
?3
26

0"351

t0. 90. I
ii

23
23
76

0,390

100. t00. t0

0,430

t3

'14

701

10,1

16,5

186

7,34

23
26
26

0,469

232
264

5,00
4,97
4,94

194
223
751

2,54
2,51

278

14,1

0,508

2,t2

354

31,0

23
26
76

5,38
5,36
5,33

262

2,74
2,73
2,72

376
475

19,4
79,5

76

o,547

1150
1 280
1340
510
1670

5,77
5,74
5,70

347
438

750
950
2140

6,15
5,13
6,10

453
506
558

705

4,62
4qq
4,56

750
857
959
10',10

2,15
2,14

'10,8

1,35
1,33

1,50
1,49
1,47

298
334

25,1

11

rr0. tt0.

)3

10
17
14

76

t20. t20' t!
t3
t5

t30. t30.

12

l4
!6
t&0. tgo. t3

42,6

1,82
1,80
1,78
1.96
1,94
1.91

2690

2,C8

3260

6,96
6,93
6,90

7',1,4

9,67
11,0
13,5

82,4

'15,8

1,78
2,76
2,25
2.72

3740
50
4540

7,78
7,75
7,7?

)970

41

391

558

498

25,9
38,4

617

54,3

3,14

648

34,0

3,13
211

722

49,1

791

68,1

2,94
2,93
I q?

t6
t8
4,625

l9

46,5
65.8
89,8
400

51 ,9

o.185

550

73,5
100

3,50
3,49
3,49

943
050
11 60

3,91

3,90
3.89

1
1

690

t60. t60. t5
11

0,705

619
757
830

0,586

180. t80. t6
18

20
200 . 200. 't6

t8
20

477
476

72

1,62

2,'t2
2,10

8,43

162

l0

2.35

541

4,',l8

140
164

80. 80.

20
23
23
23

23

4,21

12,7

58,9

59,0

2,57
4,95
8,44
13,2

6,93
11,9
18,7

4,73

'1o,6

5?.,4

'l

42,7
,6

51

186

379
444
s05

2,2e

79,1

42.4
52,6
61,8

48,6

a.a'5

1,91

5,29
6,88

48,8

rl:71
i

675

45.15.5

t -e

garis sumbu x-x dan Y-Y

Bentuk
I

a. a.

lxlWt

cm

mm

8tt" 80.

crh
2.42

102
115

12,6
15,5
18,2
20,8

116

18,0

2,74

138
158

21.6

7,72

25,1

2,69

171
241
23s

24,7
29,2
33.s

3,M

30,1
41,O

3,36
3,34
3.32

72.3
87.5

3,20

15,1

9,66
11,9

2,26
2,34

l2
t4

17,9

14,1

2,41

20,6

'16,1

2,49

,0. ,0. ,
il

12,7
14,7
17,1

2,54
2,62
2,74

3,59
3,70

t3

15,5
18.7
71,8

t00. 100. l0

'19,2

15,1

2,82

l2

22,7

lt1

26,2

17,8
20,6

2,90
2,98

3,99
4,10

fio- lr0.l0

21,2

16,6

4,34

75,1
29,O

'19,7

3,07
3,15

/+,45

239
280

22,8

3,21

4,54

3'19

25,4
29,7
33,9

19,9
23,3
26,6

3,36
3,44

341

3,5'.1

4.75
4,86
4,96

30,0
34,7
39,3

73,6
27,2
30,9

3,64
3,72
3,80

5,15
5,76
5,37

4"12

35,0
40,0
45,0

27,5
31,4
3s,3

3,92.

40,3
45,7
51,0

31,6
35,9

4.21

4,29
4,36

36,7

12,3

t0

l7
l4

t20. r20-

li

l3

t5
t30. 130.

12

lt

t6

3,31
3,41
3,51

3,81

4,21

ix

.-'

cm{ I

394
446

54
605

rf

35,7

2,41

7,39
2,36

cm4

t6
t8

q,1

4,00
4,08
10,6

15

46,1

l7

s13

q,7

57,5

45,1

43,5
48,6
s3,7

5,02
5,10
5,18

12,7

70

55,4
61,9
68,4

la

61,8

48,5
54,3
59,9

5,52
5,50
5,68

14,1

l,

rto. lEo. 16

!8

200. 200 -

39,5
46,0
52,5

3,66
3,64
3,63

50.4
58,2
55,8

3.97
3,94
3,92

63,3
72.3
91,2

4,27
4,75
4,23

5,95

78,7

6,17

845
949
1050

88,7
99,3

4,58
4,56
4,54

6,35
6,46
5,58

1100
1 230
1 350

95,5
108
118

4,88
4,86
4.84

7,11

680
1870

130

5,51

5,49

7040

145
164
162
181

6,15
6,13

t0

fr
478

69,1

76,4

199

6.1',|

7,80
7,92
8,04

7340
2600
2850

1,,

cm4 I ..

cm

a.a.s

mmlmmlmm

66.4

2,51
4,95
8.44
13,7

68,2

4.',t1

80,9

7,47

,55

47,1

1,54
1,53
1,54

51 ,6

mm

3.45

47,8

218
250

3,41

57,1

3,3e

55,9

280
328

3,82
3,80
3.77

7?'l

104

86,2
98,3

121
137

10,7
15,8

)3

379
444
505

4,?.3

6,93
11,9
18,1

23

59,0

1,16
1,75
1,74

92,1

12.1

6,21

80.80.8

20

184

48,6

t0

23
23
13

'14
0,351

98,6
I tb

7,16

140

4,71

4,18

'133

2,14

186

23

0,390

2,

201

10,1

162

134

232

6,5

185

2,34

260

25,1

76
26

750
857
959

s,00
4,97
4,94

194

2,54
2,53

278

14,1

010
50
1 280
11

762

5,38
5,36
5,33

298

334

2,11

)ai

19,4
)qq

25,9
38,4

612

54,3

3,14
3,13

648

34,O

3,12

791

68,1

3,50
3,49

000

1+6,5

1110

830

3,49

1210

65,8
89,8

943
050
1 160

3,91

400

51 ,9

3,90

550

73,5

3.89

690

5,77

341

5,74
5,70

391

438

750
950
2140

6,15
5,13
6.10

506
558

2690
7970
3260

6,96
6,93
5,90

3740
4150
4540

7,78
7,75
7.72

453

679

2,93
2,93

tt0.tt0.t0
17

ll.

23
26
26

o.469

0,508

o,541

t5
17

0,586

t50.t50.t4

t6
t8

t6 I

0,625

t60.160.15
17

49,1

5,4'l
1

0,430

42,6
498
558

1340
1510
1670

33,0

316
475

l2

26

140

-154

r00.100.t0

)3

4,62
4,59
4,56

317

It

1q

625
70s

l5

l7

i3

)6

2l

541

90. t0.

73

3,00

638
723
805

7,22
7,33

wllwrldr

181

161

t60. t50.

4,49
4,57
4,65

tn -rl
79,6
35,9
43,0

3,4;i"

5,54
5,66
5,77

6,O7

1l

3,06
3,03
3,00
2,96

115
139

t40-l{0.ll
t5
l,
.
ll
lso
t50.

bentuk

-t if

t9
0,705

t80. t80. t6
t8
20

0.78 5

200. 200. t6
IE
20

100

4t9

1.2.3.4. Tabel momen lembam I dari bagian badan dari profil baja

1.2.3.5. Tabel nilai-nilai pipa air


,t

i
Momen lembam / pada badan dengan tebalnya
dalam tabel berikut dapat kita menggunakan nilai
saja, yang dikalikan seperlunya.

f tidak ada
t = 10 mm

o
!

o
G

:
f

txh
mm
50
60
70

/, (cma) dengan t (mm):


8

8,&t
14,4
22,5

10

10,4
18,0
28,6

15

12,5
21,6
34,3
51,2
72,9

15,6
27,0
42,9
64,0
125
166

144

100
133
173

80
90

34,1

42,7,

48,6

60,8

100

66,7
88,7
115

8it,3

110
120

12

111

h
mm
500
550
600
650
700

9'1,1

130

147

Stit

220

216
275

140

1&t

229

274

343

750
800
850
900
950

/,

(cma) dengan

83&!

10/.17
13865
18000

11092

14400
18i,08

22885

22ffi7

28s8tit

28125

35r56

34r38

42667
tr1177

40942
48600
57158

60750
71448

225

457

572

200

533
617
710

667

210

273
328
389

281
341

&t8

409
486

491

772

24A

922

887
1014
1152

2fi

1042
1172
1312
146it
1626

1302
1 465
1640
1829
2032

1800

2250

1986

24A3
2731
2995
3275

220
230

811

422
512
614
729
857

410
583
686
800
926
1065

1000
1158

1217

1331
1521

1382

1728

563
1758
1968
2't 95
2439

2700
2979
3277
3594
3930

3375
3724
4096
4492
4913

428

5359
5832

1000
1050
11 00
1 150
1200

06067
77175
8873ii
't 01392
1 I 5200

r250
1300
1350
1400
1450

130208
146467
164025
182933
203242

500
1550
1600
1650
1 700

225000
248258
273066
299475
327534

281250
310323
341333
374344

I 750

357292
388800
422108
457266
494325

44061

260
270
280
290
300
310
320
330
340
350
360
370
380

390
400
425
450
475

2185
2396
2620
2858
3110
3377
3658
3955
4267

5118
6075
7145

3573
3888
4221

4573
4943
5333
6397
7594
8931

954
2197
2460
2744
3048

10.2
13,6

6,2
8,9
17,4

2
2,35
2,35
2,65
2,65

0,410
0,654
0,858
1,43
1,59
2,46
3,17
3,65
5,17
6,63
8,64
12,4
't6,7
19,8

inch

tlt

15625

20797
27000

u328

tls'
lz'

,ll

1tL'

42875

11lt'

5273/

21lz'

64000
76766

17,1

v,4

21,6

33,8
42,4
48.4
60,2

27,2
36,0
41,8

76,O

68,6

3,25
3.25
3.25
3.65
3,65

88.8

80,6
105
130
156

4,05
4,50
4,85
4,85

4666
5065
5487
5932
6400
7677
9113
10717

632
6859
7415
8000
9596
1

1391

13396

1800
1850
1900
1950

244141

219700
246038
274400
304863

274625
307547
343000
42',1875

mm I

465484

614125

7 II

869922
729000

8
9

5615'.16

0,888

1423828

101391 7

1520875

490

2W0

81 1 133
8651 92

921600
980408

olr

dm3/m

0,407
0,650
0,8s2
1,22
1,58

0,515

0,302

0.0302

0,831

o,622

o,0622

1,@
1,56

'1,21

2,O2

3,66

o,121
0,204
0,366

2,44
3,14

3.1',1

4,00

'1o,2

3,61

4,&

13,8

5,10

6,49
8,29

27,O

6,51

10,8
15,5
20,s
24.4

8,47
12,',|

't6,2
19,2

2,M
5,83

37,0

0,583
1,02
1,38
2,20
3,70

51,1

5,'11

86,7
133
190

8,67
13,3
19,0

nilai-nilai sta trs

wl,

.-, I

6275 | cm.

o"o:zol o.o<l

o,uttl

o.'nt

cm

.;l
.;
o.zozl

o.qoo

o.os:rl o.ro+l o.:ssl o.sze


o.oezzl o,zool o.esal o.eeg
o,os4sl i,so I r,rz I o.aoz
ttt

o.roel r.eol z.rzlr.oe


o:ttz I t.tt, | :,es I r.rs

I
I

o.rszlrr.a
ojag lzai
o,z:r s+,:
I
o,ztglso,s
o,:sglz::
0,43e 467
0,s1e
i785

a.ezlr.oo
s.eo

z.or

lt+,2 | z,se
lzr,e l:.oo
l+o,a lr,ee
i se,r
I o,tt
es.2
|

s,67

,@

:__

i-l

_l

'

1_-.__

| r _l :_ l

l_tl

0,78s,

0,e82

1,57
2,26
3,08

1,71
2.54
3,46

1,964
2,827
3,848

4,02
5,09
6,28
6,79
9,24

7,92

9,05

4,52
5,73

5,O21

6,362
7,8s4

7,O7

4,02

ilo.l

'10,8

8,04

'12,3

10,1
3.9

12,"1

14,1

16,',|

18,1

20.11

t8

2,00
2,47
2,98

20,4

22,0
26,6

25,1

27,9
28,3
14,2

25,45
31,42

119.0

15,3
18,8
22,8

.17,8

7,60 11',1,4 115,2

38.01

17,1

31,7
37.2

35,2

43,1

49,!

44,7
47,8
55,4

45,24
53,09
61,58

63,6
72,4
81,7

70,69
80,42
90,79

x
u
B

1622234

1382400

I 728000

30

1225510
1302083

't470613

8it8266
r953125

t2
g

38

480

> o-lj:.o

1,58

1297784

1562500

o
o

t6

ll

152000

I 081

co

r,r: i r,+r
1,s4 | 1,e2
r,o, l r.r.,
z,sl I :.ra
t,st i z,to I t:rt 3,e3
,,r, l r,r, lo,r, lr.r,
:,ooln,ez{r,rslz,zo

0.302

l2

39062
1216700

.a laq

G
C

cm2

o.r, i o,rr, |
o,s6s o.a+a
o,nol1.1s )I
i,or l r,r.r l
'r,zt I t,gt I

0,222

857375
926859

r57625

luasnya dalam cm2 total

o,rsl

to

1242297
1331000

-o

cm2

kg/m

791453

1 1

1I

0,395
o.499
o,617

949219

795375

s6 I

512000

8873i13

2230

717921

771750
8281 98

.g
.o

Banyaknya besi beton

dlc

1000000
1076890

6 ls,
e l:s
8lE E

o.

'd.

1.2.3.6. Tabel besi beton

38t078

800000
861 51 3
926100
993838
1064800

533331
574342
61 7400
662558
709867

1041667

195313

1830&t

666667

2000
2050
2100
2150
2200

2350
2400
2450
2500

162760

535938
583200
633163
685900
741482

53,O

12s000
114704

216000

5
486000
527635
571583
617906

16,1

46,9

114
1@

125

101172

00000
1 576:l

40941 7

kg/m

16538

337500
372388
409600
449212
491 300

-o

mm

172800

254052

o)

mm

166375
190109

22ffi67

o)

o
93
C:
69 Po
o6'
-oE -Oo

mm

133100
152088

205031

.9.

er)
ke/m

1001 7

126740
144000

.9.

J- -o
gE

g2)

o)

83i|33
96469

dii)

165
150
160
170
180
190

T
G
o)

o'o

ar)

12500

91

o)

sc',

CD

1D

12188
51200
61413
72900
8s738

G
G

=)

15

21600
27463
34300

a
f
!

th3

t(mm):

l2

10

1,71

6,03

,.,
1r,., 1,0,, lrr.,
6,28 19.42 l't2.6 t1s.7

118,1 122,6
'to,6 1113,6
15,9 171,7 1 26,5
12,3 118,s 124,6 l:O,s
14,1 12',t,2 128,3 135,3
16,1 i74.1 132,2 14o,2
18,2 :l17,2 136,3 l+S,q
|,r,o
|
I
I 22.7 I 34,0 | ts,e I| ss.z
12s.1 137.7 1s0.3 67,a
9,O5

3,55
4,17
4,83
5,55
6,3'l
7.13
7,99
8,90
9,86

10,2
11,3
12,6

,,r *., L.,

31,9
36,9

i
I

30,4

41,5

4L,4

49,5

48,3

56,3

64,3

54,5

63,6

72,6

6',1,'l

71,3
79,4
88.0

68,0
75.4

56,5

81,4
90,7
101

91,6

11,31

5,39

101,8

102

1',13,4

113

125,7

1.2.3.8. Tabel nilai-nilai profil kanal

C berkembar

-+- I

garis sumbu Y-Y

u kuran-ukuran

hb
mm mm
l00x50x20

mm

mm

125x50x20

l, IW, li,

cm4l cm3 I cm

2.3
3.2

5.17i 4.06 1.86 80.7 16.1 3.95 19.01 6.06 | 1.92


7.01 I 5.50 1.86 107 21.3 3.90 24.51 7.81 | 1.87

4.0
4.5

8.551 6.71
9.4t1 7.43

1.86
1.86

2.3
3.2
4.0

5.75 4.51
7.81 6.13
9.55 7.50
a.32

1_69

4.5

125 x

50

6.321 rq6
8.61 | 6.76
11.71 9.2A

3.2
4.

4.0

150x75x20
1&x75x26

3.2
4.0

| 7.01

217
238

sl

1.il

5.50 2.121
't.51 2.11

9.571

l rr al

9.22

2.11

lrozl

8.01

2.51

lrz.ol

9.85 2.51
11.0 2.50

4.5

3.2
4.0

l,nul

ra.o

6.33 l 1.86
8.19 1.81

J 55I

3.2

1.68

6.22 1.89
21.9 4.88
8.02 1.85
29.0 4.U
34.7 4.77 33.1 9.38 1.81
38.0 4.74 33.5 10.0 1.78

181

1.81

4.9s 11.s5 1379 21.9 4.88 20.6 6.22 1.89


6.76 I 1.54 181 29.0 4.82 26.6 8.02 1.85
9.55 7.s0 | 1.86 217 34.7 4.71 33.1 9.38 1.81
10.0 1.78
38.0 4.74 33
10.6 8.32 I 1.86

2.J

65

1.ffi|

137

3o.el 9.82 |

8.61

4.5

150 x

I
I

25.4 3.85
27.7 3.82

hbc
mm mm

mm

mm

lrs.ol

4.5

Ir+al

3.2

I rr.el

4.0
4.5

I ro.z

8.27 2.66
10.2 2.65
11 .3 2.85

10.5

1.75

9.37 2.42
12.2 2.37
'14.5 2.32

20

2.3
3.2

10.34
't4.01

8.12
11.0

214

2.3
3.2

11.rNl

9.02

274

15.60

12.3

garis sumbu y-y

ty I wri

17.8 2.76
21.3 2.72
23"3 2.69

zfix75x25

4.5

l,o,

23.8 2.62

I
I

l,utl

14.9

150x130x
200x150x

20
20

140

28.0

3.90

187

37.4

43.8
58.0

4.88
4.82

167

255

33.4
45.0

3.81

362

66.1

351

il.0

476

73.2

5.00
4.99

834

1',t1

5.94

2.3
3.2

19.14

11.0
15.0

496
6An

88.6

5.94
5.89

3.2

23.62

18.5

1432

1zl3

7.79

14.O2

3.68
3.65
3.38

2.82
tl.J
20.6 2.78
22"5 2.75

3.2 | ,,,1 9.52 12.33


4.0 lrs.ol 11 .1 lz.sz
4.5 I ro.z I i3.1 lz.zz

12.7

20

3.95

19.8 2.66

2@x75x25

125x100x

32.2
42.8

161

15.3 2.74
1A.2 2.69

z.rs

lra.sl

9.27 12.19
11 .4 lz rg

100x100x

|
I

15.8 2.61
18.9 2.62
20.6 i.m

200x75x20

garis sumbu x-x

Ukuran-ukuran

6.32

2.3
3.2
4.0

50 x20

1.68

28.71 9.131 1.83

121
135

483

482

I
Ukuran-ukuran

hbc
mm mm

100x100x
125x100x

garis sumbu y-y

mm
20
20

mm

2.3

10.34

8.12

16't

2.,

32.2

3.94

73.8

14.01

1'1.0

214

42.8

3.91

97.5

2.3
3.2

11.49
15.60
't4.02

9.02

274

43.8

74.1

12.3

362

58.0

4.88
4.82

20

2.3
3.2

200x150x

20

3.2

130

lv IW, I

19.14
23.62

11.0
15.0
18.5

14.8
19.4

2.67

14.9
19.4

2.55

2.U

2.fi

't45

22.3

88.6

5.95
5.89

193

29.7

3.22
3.18

144

7.81

297

39.6

3.54

496

66.1

6&
1442

97.2

4.2.4. Tabel nilai-nilai balok kayu segi empat


Momen

'Y

lsa

wx

ly

ly

wv^

tY

cm4

cm3

cm

cm4

cmJ

cm

m3/m

2.4

4.8

11.5

22.1

9.2

1.39

qtr

4.6

15

31.3

12.5

'1.45

11.3

AF

0.69
0.87

0.0012

169

24
42
66
95
129

1.73

24
32
40

71

4
4

2.31

32
43

21

2.89
3.47

18

72

1925

214

4.62
5.20

40

213

53

2.31

83

33

1.M

0.0040

6
6

36

108

36

1.73

108

2,31

144

60
72

36
48
60
72

1,73
1,73
1,73
1,73
1,13
1,73
1,73
1,73
1.73

0,0036
0,0048
0,0060

2,31
2,31
2,31
2,31

0,m64
0,m80
0,m96

2,31

0.0128
0,0144
0,0160
0,0176
0,0192

14

56

W, =

lembam i,

1.'16

43
4t]

16

96

20/,8

256

4,62

28

18

108

324

5,20

324

108

120
132

400

20
22

2916
4000

5324

4U

5,77
6,35

360
396

120
132

8
8

64
80

y1

85

't0

6
6
6
6
6

12

12

()6

14

112
128
144

16

't76

10

100

12

120

10
10

0,289 b

3l

'10

8
8

: rf +F = 0,289 h

75
85
96

14

12

169

4.U

53

256
500
864
1372

18

bh'

0.m24
0.0032
0.0040

20
22
24

12

aa

0.00'15

16

't2

hb3

32

1.16
1 .16
1 .16
1.16

16

333
570
906
1352

10

4
4
4
4

:
1..:/i
YF
4U

F
cm2

bh3

*rY
Jari-jari

h
CM

lembam l^ =

Mom.en penahan

b
CM

y1

160

't92

426

106

192

512

128

1829

261

4,U

597

149

2730
3888
5333
7098
9216

u1

ffi2

170
192

533
645
768

4,62
5,20
5,77
6,35
6,93

833
144o

2N

2286

'160

10

20

10
10

22

2@
220

3413
4860
6666
8873

't0

260

284

96

2,89
3,46

140

10

2,31

14

4,M

180

85

16
't8

2N

196

216
252

133

10

24
26
28

2,89
3,46

666
1152

10
10

180

144

100

1520

14646
18293

432

166

326
426
540
666
806
960
1126
1306

2,89
3,46

768
853
938
1024

213

2U

2fi

233

26

2,W

300
333

2,89
2,89
2,89
2,89
2,89
2,89

166

200

7,51

2000
2166

8,08

2333

400
433
466

4,U

2,31
2,31
2,31
2,31

2,89
2,89
2,89

833
1000
1 166
1333
1500
1666
1833

4,62
5,20
5,77
6,35
6,93

.16
1.16

366

0.0@8
0.0056
0.0064

0.c072

o,@72

0,m84
0,0096
0,0108
0,0120

0,0r32

0,0112

0,0100
0,0120
0,0140
0,0160

0,0180
0.0200

0,0220
0,0240
0,0260
0.0280

I
l. 2.5. Tegangan tekuk yang diperkenankan untuk baia ST 37

lx

CM

cnl

F
crn2

12

12

1M

1724

12

14

168

12

16

192

1?

1B

12

20

216
240

2144
4096
5832
8000

12

Zil

10&8

12

22
24

12

26

cm4

3824
17516

288
312

wx

a
CMJ

512

4,62
5,20
5,17
6,35
6,93
7 tr1

2304
2592

1568

8.08

4032

o/t

3,46
3,46
3,46
3,46
3,46
3,46
3,46
3,46
J,40

451
597

4.O4

3201

4,62
5,20
5,77
6,35
6,93
/,51
8,08

3658
4116

457
E11

4,U
4,U

4,62
5,20

648
800
968
1152

14

196
224

3201

)q1

6804
9333
12422

156

16128

344

'20

14

22

14

24

14

26
28

14

280
308
338

3&
20,

933
129

20505
25610

577
829

5461

682

t6
t8

256

16

288

7116

16

)n

320

L roooo

It)

22

1)

16

BM

26

384
416

Il2uu

/o

M8

zszos

066
1290
1 536
1 802
2090

8748

o)a

16

24

16
16

I
I

rargz

tusz

0,01441

28

1128

14

l4

m3/m'

201 6

21952

14

ty
CM

4,U

336

16

wY^

CMJ

3,46

28

14

ly
cm4

288
392

12

4778

tX

crn

336
384

432

2880
31 68
3456

480

37M

624

0,02u
0,0288
0,0312
0.0336

/*

0.0196
0,0224
o,0252

itL:

4,u

7U

4,U

849
914

4,U

5461

682

6144
6826
7509

768
853
838
1024

4,62 | 0,0256
4.62 I 0,0288
4.62 lo.032o
q,oz lo,ozsz
4,62 | 0,0384
4,62 10,0416
4.62 | a,o448

5030
5488
5945
MO2

6,35
6,93

576

192

1,51

8874

109

8.08

9557

194.

4,04

4,M

4M

ro
,18

18
20
?2

324
360
396

18
18
1B

26
2A

468
504

i2000
15972
20136
26364

32928

JJJJ

1200
1452
1728

2028
2352
333

5,20

6.35 I 10692

2A

24

480

17746
23040

20
20

26

520

29293

an(c

7,51

AQ

560

36586

2613

8,08

aa

1')

19521

22

25344
32222
40245

6,35
6,93

26
28

528
572
616

1114
2112
2478
2874

24

24

576

27&,8

24
24

26

624
672

22

28

rs6o8
3333
1 4666
16000
1 7333
1 8666

5,77
6,35
6,93

MO

22

18B

1512

22

920

e,oe I

20

080

r296

20

1613

6,s3 I I r6M
t ,51 | 12636

20

all

8748

sr I stzo

400

1404

333
1466

t600
r 733
r866

19521

1714
1936

7,51

21296
23070

8,08

248M

23M

6,93

276/

351 52

27M

7,51

43904

31

36

8.08

2097
alaQ

l2w
29952 I 24%

322s6 I 2683

5,20
5,20
5,20
5,20
5,20
5,24
5,77
5,71

Raa
5,77
5,17

6,35
6,35
6,35
6,35
6,93
6.93
6,93

panjang tekung

menurut Euler

0,0280
0,0308

1,.

2t

0.7

Pada gaya batang S atas


dasar beban tetap (induk) H

0,4324
0,0360
0,0396
0,0432

0,M68

"

;;

|
I

'

10
20
30

1400
I 330

40
50
60

1180

regangan vang diizinkan dalam

't2&
11m
1030

0,0440
0,0480

0,0520
0.0560

0,04&l
0,0528

0,0572
0.0616

0,0576
0,0624
o.C512

1380
I 310
1230

1380
1 300
1720

1370
1290

60
1090
1020

1't60
1080
1010

1150
1080
1000

1140

1170
1100
1020

1't

't220

1070

992

+I

kg/cm2

"

't340

'1340

1270
1200

120
1040
1970

't110

827

895
820

745

887
812
737

670

662

350
1280
1200

360
1 280
1210

1140
1060
985

1130
1050

910
835

n2

'r

9'n

260
1190

'1040

962

70
80
90

955
880
805

947

9Q

,32

925

g'.t7

872

855

857

850

842

797

790

782

Tt5

767

760

752

100

730

722

715

707

700

692

685

6n

1r0

655

649

637

626

604

594

584

120
130
140

555

546
456

s:z

528

61s |
s20 I

512

+ra

503
432

496
426

488
420

480
414

0,0504
0.0400

390
1 320
124o

1400
1320
1250

tie" \

0.0392

kelanosrnoan
^--

0.5

I
!

angkakelangsingan
!

0,0336
0,0364

't8

Kondisi-kondisi tekuk

o,a2N

588
b5J
718

4573

5,7V

528

0,0168I
0,0192
0.0216

473
408

150
170
180
190

I|

4s8

jembata
k max Pa( ,a

452

35s
312

3s1

309
273
244
219

746
LZ1

200

210
270

165

230

151

240

138

181

l:+e
lur
iembatan lalu linta

386

337

380
333

375
329

370
324

365
320

360
316

I
I
|
I

286
255
229
206

?83

280
249

D6
2U

224

186
169
155

185
163
153
141
130

183

,tk max pada

776

2m

41,6

564

kereta at

t$7
40713971391
I 397
391

'140

150
160

,t1

304

301

797

293

2X)

270

267
238

2&

261
233

258
231
208

190
173
158
145
133

188

241
217

214

236
a1a

1?4
176
160
147
135

1?2
174
15?
146
134

vo

E2

NI

max pada bangunan


198
179
163
150
t5t

196
162

148
136

17'.|

156
143

't32

142
131

't66
15?

1Q
129

!
Pada gaya batang S atas dasar
beban tetap dan hidup (HZ)

r'lz

t.

i" - i

rl4

= angkakelangsingan

Tegangan yang diizinkan dalam kg/cm2


10
20
30

600
1510

590
1500

580

1420

1420

1490
1410

't

40
50
60

70
80
90

1080
1000

1080

915

906

340

1260
1170

330

1250
1't

320

1244
't150

60

"t070
983
898

9r1

560

1480
390

1310
1230

I 310
"t220

1140

1110

1060
974
889

1050
881

804

796

966

550

1470
1

380

540

15{o

'1520

1460

1450

1430

370

1370

280
1 200

350

129t)
1200

12@

1120

1110

1180
1090

1030

1030

9Q

872

949
864

855

101o
923
838

787

Tt9

7:10

753

13@
1210
1130
1040
957

Faktor tekuk

itt
(o

745 I

110

7301ti 717 I

705

62s | 5141 604l se4


53215241516'509

't20
130
140

459

l1 max paoa lembatan kereta

150
160

351 ik max pada

160
110
180
190
200

zu
'185

230

't70

?40

155

558

549

4T'

472

434
379

428

422

46

410

3'14

370

:t55

3@

339

334

330

326

322

319

304

3m

297

290

265
139

287
257

2U

268

293
763
236

232

229

225 Ik max pada bangunan

220

567
486

343

2771274127',1
24912461244

210

493

540

45
405
3s6

iembatan lalu lintas

347
307

2m

576

501
apr

4ool14s31447144o
rssl:asl:s4

1/tO

585

?41

223
202

2n

218

2@

198

216
196

184
168

1g?.

181

179

167

165

14

153

152

't 51

1y

214
194

1n

162
149

7&

2v
211
192
176
't61
148

2v

315
280

1v'l

8[]
173

158

187
171
157

147

1$

145

untuk kayu

Kondisi-kondisi tekuk

&

488

panjang tekung
menurut Euler =

1,U

1,05

8
o

1,06

10

1,07
1.08

0.7

'1,06

13

1,09
1,09

14

1.10

'15

45
45
45
44
44
44
43
43
43
43

127

126
126
125
124
123
122
121

120

1t9
119
118

83
83
82
82
81

80
80
79
79
78
78
77
77

59
59
58
58
58
57
57
57
56
56
55
55
55

u
il

75
75
74
74
73

53
53
52
52
52

'111

73

51

110
109

72

5l

71

108

71

1,21

107

70
70

50
50
50

117

116
115

114

19

1,14
1,15

113

20

1,15

113

21

1,16

112

22
23
24
25
26
27
28
29

17

u
u

76

,11

1,12
1,13

16

30

2l

'1,0'l

1,02
1,03
1,03

18

1.2.6. Faktor tekuk dan tegangan tekuk yang diperkenankan

60
60

129
128

12

174
'r60

85

130

227

206

IV

kg/cm2

1,00

11

2S

ilt

kg/cm2

i,01

752

210

il

kg/cm2

64$

kg/cm2
0
.)

't00

Tegangan tekuk yang diperkenankan untuk kayu


dengan kelas kuat:

,17
1,18

1,19
1,20
1,22

107

1,23

106

1,24

105

1,25

104

69
69
68

49
49
48

42

42
41
41
41
41

N
N
Q
39
39

39
38
38

38
38
37
37

37
36

36

0.5 t

ZE9

T\

Faktor tekuk Tegangan tekuk yang diperkenankan untuk kayu dengan


kelas kuat:

lr

trtt
G)

31

32

33

35
36
37

38
39
40
41

42
43
44
45
46
47

1,26
1,27
1,28
1,29
1,30
1,32
1,33

1,4
1,35
1,36
1,38
1,39
1,40
1,42
1,43

1,4
1,46
1,47

50

1,49
1,50

51

1,52

52
53

1,53
1,55
1,56
1,58
1,60

49

u
55

56
57
58

1,61

59
60

1,65
1,67
1,69
1,70
1,72
1,74
1,76
1,79

61

62
63

&l
65
66
67
68
69

Tegangan tekuk yang diperkenankan untuk kayu dengan


kelas kuat;

't,63

1,81

1,83
1,85
1,87

il

ilt

IV

kg/cm2

kg/cm2

kg/cm2

kg/cm2

103

67

102
102

67
66
66
65

48
47
47
47
46
46
45
45

36
35
35
35
35

101

100

99
98
97
96
95
94

gt

u
u
63
63
62
62
61

93
92

61

91

59
59
58
58
57

90
89
88
87

86
85
85

u
83
82
81
81

80
79
78
77
77
76
75
74
73
72
71

70
70

60

57,
56
56
55
55

il

53
53
52
52

4
4
4

33
33
33
32

41

31

41

31

40
40
39
39
38

30
30
30
29
29
29

38

28

38

28
28
28
27

39

51

50
50

36
35

49
49

35
35

47

33
33
32

46
46
45

43
43
42
42
42

37
37
36
36

u
u

a,

32
32
31
31

27
27

26
26
26
26
25
25
25

24
24

Faktor tekuk

(,

71

1,90
1,92
1,95
1,97

il

kg/cm2

kg/cm2

69

45
44

68
67
66
65

72
73
74
75

2,N

re

2,O3

77
78
79

2,05
2,11

63
62

80

2,14

61

81

2,17

82
83
84
85
86
87
88
89
90

2,21

60
59

2,08

2,24
2,27

58

2,31

56
56
55
54
53
52

2,v
2,38
2,42
2,46

92

2,fi
2,9
2,8

93

2,63

95

2.68
2,73

91

gl

64
63

5l

98

2,8

99
101

2,91
3,00
3,07

102

3,14

41

103
104
105
106

3,21

41

100

107

108
'r09
110

3,28
3,35
3,43
3,50
3,57
3,65
3"73

39
39
38
37
37
36
36
35

.35

3'r

47

31

46
45
44
43

30
30
29
28
28
27
26
26
25
25
24
24
23
23

42

N
39
38
37
36
36
35

23
23
23

31

29
28
28

33
32
32

97

24

31

41

50

32

30

33

49
49

kglcm2

43
43
42
42

5'r

2,78
2,83

96

lll
kg/cm2

30

30
29

IV

23
22
22
22
21
21

28

21

27
27
26

20
20

26
26
25
25
24

20
20
19
19
19
18

24

18

24
23
22
22
22
22

18

21
21

17
17
17
17
16
16
'16

20
20

15

20

15

15

19

14

19

14

18

14

18

'r3

18

13

17

13

17

13

16

12

16

12

Tegangan tekuk yang diperkenankan untuk kayu dengan


kelas kuat:
,Itr

Faktor tekuk
(n

il

ilt

IV

kg/cm2

kglcm2

kg/cm2

kg/cm2

22
22

16
15

12
11

1t1
112

3,81

3,89

33

'113

3,97

21

15

114

4,05
4,13

33
32

21

15

32

21

15

't1

4,21

31

11

30
30

20
20
19

14

14

11

14

10

29
29

19

13

10

120

4,29
4,38
4,46
4,55

19

13

't0

121

4,U

18

13

122
123
124
125
126

4,73
4,82

28
28

18

13

10
10

27
27

18

12

17
17
17

12
12
12

25
25

16

12

16

't1

24
24

16

11

16

11

23

'15

11

115
116
117
118
119

4,91

5,00

128
129

5,09
5,19
5,28
5,38

130

5,48

127

131

132
133

1y

5,57
5,67
5,77

135
136
137
138
139

5,88
5,98
6,08
6.19
6,29
6,40

140

6,51

141

6,62

142

143
144
145

6.73
6,84
6,95
7,07
7,18

146
147

7,30

14!

7,41

149
150

7,53
7,65

26
26

4.2.7. Penentuan tegangan

omax

pada konstruksi batang

Gaya luar seperti P dan Q diisi dalam f


Panjangnya /, ukuran c dan x, tingginya batang h dan lendutan /diisi dalam cm.
Tegangan o,r dan modul elastis Ediisi dalam t/cm2,lpadabaja E : 2' 100t/ cmzl,
momen lembam / : cma dan momen tahanan W : cm3

12
'11

Pl!

3,17

qt1

2,3s

9,794

3,r7

8EI

Pt3

aEt

I
9
I
I
9

9I"t l'

iel

t"il
8Et

q.3r

r1

r1
'1

o-Y

9M

12

,;

cr cr r;

:r,rgd'1*r'')
h

23
23

15

11

15

10

8
8

22
22

15
14

10
10

8
8

21

14

10

21

14

10

21

14

r0

20
20
20

13

7
7
7
7
7
7
7

19

13
13
13

19

12

19

12

18

12

18
18
18

12

17
17

12
1',I
'11

11

9
o

I
I
9

8
8

6
6
6
b
6
6
6

I t ti t.+ 3l\:
I| 3Er\ 2.t

Ol

sQl3

8W

Pada
A'B
'

384Et

r.1romar(c.

o,ee2

F 1'5-l)g

,.)

qIgI-I1 !)
h

pada
c.
3/
2w'r I -L lor, 1s 5c +5
-(
(;)i.(;)
,.
:)']
lzaerlre-zr
^
' I
.1,;(.-.)

lvv \ 4

Qr3-.
ar] c l=1600Et
,.1;1.:t^^^-.
KrtoUc:o.2o7t:* o)*1

Pada,a
3pr

j
I

16W
I
A = 11 p/16';'t: t rl1, |

pada,i
QI

A:5Q/8;

8w

B::Q/a

paOa,

oj13I

11 1)

x:0,447t

,,,

+e[s'tt

I p.dr,,:or;
QI'

e,26s

raser

s,473

o:!11P- 1)
h

g.a12

9-u !
h

1)

('r

5
(o

5
(0
5

il11

9i

il

NNN

DDO

ll

gsE

nIn
l++
ooo
b60@
b'o

1:

ES

o@
[il
-o
'oL
6+

il

il

NNN

o:o

l++

IJXUX 6xil!
rElrH *cl
I

IECA3

Elqra bqlaH qN]t!


, l.FgtH r,Rr g

l-ll-

o+-{fl.^.
i- fl li'ti-

0,1250 /
0,1465 /

c,1250 /

0,1465 /

1 0.1465 /
2 0,1?fl I

))= o,*u

CL

tac

!O

Oo
o
*o
o3
*6
LA

0,4142
1,1090
0.9768
1,0000
1,0625
0,4375

/
/
/

q /
q /
q I

q'

q
q

q 2
q 2
q 4
q E
Mcl =-0,0858 q 2
Mc24=*0,0025 q 2

C)

Cj

C2

Cl

A.B

0,4375
1,0625
1,0000

13 = 1,66

I1 =1,79

M3 /

1,79 Ml /
13 = 1,66 M3 /

t2=1,66M2/

It =

[41 /

M3

M1

1=s641=6

200

Momen lembam I
untuk lendutan

Ir,

,lll3

lq

-o

-t

-t
Sl-

I2 =

1,66 lv13 /

r1 = 1,90 M1 /

I1 = 1,90 M1 /
M1 =+0,0957'q 2
M2 =M3=+0,0625q I
Mcl 3
=-0p625q n 13 = 1,66 M3 i

M1 = +0,@58 q 2
M2 = +0.051 t q 2
M3 = +0.0625q (
Mcl =-0,0858q/2
Mc2-3=-0'0625qP

q i Mr ='0,0951 q R
q / MZ =+A,0625 q 2
q / Mc1 z= -0.0625 ' q 2

0,4375 q. /
1,0625 q /
1,0000 q /

cr =r,1o9o a /
c2 =0,9768q/
c3 =l,ooooq/

A=B=0,4142q./

lx
g-

,llt!l

@
lq

-o
N

-t

ml--

Blo

ul

Mt =MA=+0,0957 q I l1 = 1,90
M2 =Mg= +0,0625 q I
l!'1cr-4 =-0,06.25 q /, 13 = 1,66

Mt =+0,0858
M2 =+0,0511
N43 =+a.0625
M4 =+0.0957

A.=B =0,4375q/ Ml =+0,0951 q 2


Cr
= 1,0625 q'/ M2 =+0,o625"q 2
C2
=1.0000q/ Mc1 2= -0,0625 q P

A =B =0,4375q/
Ct=Ca=1,0625q/
Cz=C:=i,m00q/

Ca
C4

Cl
a2

0r_

6'

o-

c-&

Gt^
th

x;
ot

qr'
a(o
q,

M= kgm,L=
m

ET

o
o

q = kg/m,L:

'1

a\
L*
o6

J=

9e

c trf
o ola
c J

0)

Oa
=3

Ny'omen maxrmal

.'^81-;g

il tr E<
c-3
q -l

36

-O
@>
fe

<i
il:

1l

>o
3)

.,

CL

!,0) !q.

@o,

NE

Tumouan

!
@

il

NN

oo

ss

B8

l+

ilx

?Y

!l

0,1570 i
0'1465 i
0.1250 '

C,2035

In
JO
'-$

lt

O@

0.2035 /
= A,1570 /
X3 .01465 /

=
.

x1
x2

x2

x1

iiI

(t \2 .13 =
x4 -

Jarak engsei

!
@

ll

NNN

ooo

888
gsg

-o.o.o

ilil|

8r
9*
lo

-o

I
O@
ll
--o

"lr'

1++
ooo
HEH
oo!

*Pt'|l
Aaratrdrdt6rc,l t.+'i'
!CEJ

I t-

IH 't-i-iti

'1-

lt ill

AO

BS

o@
ilil
JO

9el.AI{ J(AqH 6EX,P,


ICB|H clts 5

M uata n

Bs
oJ

Ill

EE

N,NNNNN

oo!or@
!40000

8888S8
tuNON-O

|
oooooo

ooSoNJ

<<<3<<
f,nrrrr
!++++

DOOOO

;388S

@ooo>
[[nnil
-o--o:r-o
o6!or

---

ooo

NOO
@

tlt il
.o.o I

ll I

N J\,N

oo!
o aD

8 88

-o -o.o

l++

gNol

ooD

88&
8Bd

il ill
:--.o

O@

o o>
nil

83
--

9-o

+JLr-

n[ffi1.

:i+i

&

t. 2. 9. Nitai-nilai alat sambungan besi seperti keling, baut dan


las
1. Penentuan garis tengah d dari keling atau baut menurut tebalnya

;n terkecil

Daftar faktor reduksi fpada barisan-barisan baut atau keling:

banyalnya
keling/baut

18 ...20

kg/cm2

23l' zsl za
11 I,rlnL,'t
MnlMelMrclM20 M22lM25lM27

1ut00

1330

1858

3180

4850

5820

8620

6870

tetap dan hidup


angin dsb.)HZ

1600

1521

2120

3630

5540

terhadap

o lobang (keling) dan o baut dalam mm

11

dengan:

kglcm2

2800

3080

rc lM 20 lM 22lM

3@0

4760

5880

6/40

7000

lM

496

3520

0"321

4,22m

0,m0

o,278

0,2381

0,N2

0,245
0,219

0,2143
0,1944

0,267
0,227
0,198
0,175

o,x7

0,1s

AjTE

0.1 57

0.1ix}3

0,321

0,533

10

o,'t91

0,ru

0,zts

0,r80

0,1636

0,142

o,1xt7

1t

0,r85

0,227

0,1410

13
14

0,4,8

0,qcl

0,212
0,r98

0,1im
0,120

0, I 139

o,4B

0,165
0,153

0,1 51 5

12

0,280
0,239

0,1t12

0,

t3t9

0,111

0,09*r

0,371
0,350

0,208

0,1

0,1ait

0,1338

0.r93

0,175

0,124

0,1 167

0,181

0,165
0,157

0,1 17

0.1 103

0,0929
0,0r/6
0.0827

17

0,331
0,3'14

0,103
0,097
0,00'l

0,11

o,glu

0,296
0,284

0,1048
0,@94
0,@47

0,@

18
19

0,81

0,0746

a,on

0,071

20

0,1rS

?2

0,271
0,260
0,249

0,29,

0,1

0,0679
0,0650
0,0623
0,0598

24
25

0.230

0,1D.

o,).,

0.1

0,800

0,643

7UO

5.

0,714
0,8&r

0,171
0,162
0,154

0,1

86

4t)

0,139
0,133
28

l8

0,1

06

o,142

0,t00

0,136
0,130

0,0s
0,091

0,0905
0;0866

0,073
0,070

0,r25

0,087

0,ffip

0,m7

0,120

0,0&,

0,crc,

r5

0,m

0,044
0,06'l

0,111

0,0n

0,0m7
0,onts

0,1

0,0s

0,1786
0,1607

0,1.s8

0,1058

0,0sr5
0,0584

Daftar bataesn togangan pada bahan baia:

4160

54/;0

6720

7360

8000

8960

Jenis baja

Tegangan

o dan
3200

0.3t 00
0,2667

0,44

27

gaya batang .S
atas dasar beban

tetap dan hidup


(angin dsb. ) HZ

0,25m

0,375
0,320

0,5m

0,500
0,450
0,400
0.357

,l)

I ''s I 't, I ,, I ,, I ,u24 I ,t

M n lM plM

gaya batang .S
atas dasar beban

tetap (induk) H

0,2500

0,400

0,5m

6
6

21

tekanan dinding lobang pada plat baja setebal 10 mm:

pada bangunan

0,5m

0,333

1,m

r,0@
0,m0

9850

7850

3. Daftar beban yang diperkenankan dalam kg per keling atau baut

0,33tr1

t,0m

0,800
0,e43
0,533
0,455
0,396
0,350
0,314

r6

6650

,p

fry

?
3

15

gaya batang S
atas dasar beban

fry

hv

f,

gaya batang S
atas dasar beban

tetap (induk) H

ompdt barts

6-d

o lobang (keling) dan 0 caut dalam mm

dengan:

tiga baris

dahm

2. Daftar beban yang diperkenankan dalam kg per keling atau baut terhadap pergeseran (tampang satu, iikalau tampang dua boleh mengambil dua kali tampang
satu):

pada bangunan

dua baris

satu boris

yang
msk6im6l
poda baris

pada plat baja:

t ...5 5 ... 8 7 ...12 1o ... 14 12...20 14 ...20


d1l172123252831

4.

o+

t/7

sT37 I
+ "r!, masing-masing

'/7+4

950 kg/cm2

1350 kg/cm2

Sr52

l2([

kg/cm2

1700 kg/cm?
497

6.

!.2. 10. Nilai-nilaialat sambungan kayu

Daftar tegangan-tegangan yang diperbolehkan pada bahan baia:

1. Daftar beban yang diperkenankan per paku untuk kayu dengan berat ienis
rata-rata 0.5 gr/cm3 kering udara:

Pada bahan baja ST 37 dan ST 52

Jenis
tegangan

Bentuk
sambungan las

1r

5'/
il

o=tr

Semua

nn

tetap (induk) H
ST 37

tekanan
lentur

1600

sambungan

@
paku

mm
mm

kg/cmz

1800

kg/cm2

ST 52
2400 kg/cm2

ST 52

ST 37

ST 37

1600 kg/cm2

2700kglcmz

*)
1800 kg/cm2

*)

ST 52

ST 52

22100

27C/:.kglcm2*l

kg/cm2 *)

ST 37

Tekanan dan
tekanan lentur,
Tarikan dan
tarikan
lentur

1350

ST 37

kg/cm2

1500

ks/cm2

ST 52

ST 52

1700'kglcm2

1900

ST 37

ST 37

1350

kg/cm2

St52
1700

1500

kglcmz

kg/cm2

kg/cmz

3"BWG

10

3%" BWG I 4".BWG

4%" BWG

5" BWG 6

4.19

5.20

5.20

63

73

89

102

114

130

20

25

30

35

40

40

31

40
80

50
100

61

94

94

62

122

188

r88

keperluan ukuran sambungan per paku min. cm2

6.2

8.0

10.0

12.2

18.8

18.8

Jumlah paku kira-kira


per kg

2W

185

r30

93

53

47

Kekuatan 1 paku
tampang satu
tampang dua

kg
kg

paku

2.

ptg

Daftar beban yang diperkenankan per baut untuk k6yu dengan beral
jenis rata-rata 0.5 grlcm3 kering udara:

Baut garis tengah O

Garis tengah di dalam


drat/snail

mm

Cincin minimum g
Cincin segiempat
Cincin tebalnya

mm
mm
mm

Ukuran kayu rhinimal

dengan satu tarisan


Papan pengapit
Kayu tengah

ST 37
1500

kg/cmz

1700

kg/cm2

ST 52
1900

kg/cm2

mm

12

14

1/2"

1900 kg/cm2

'1350

kg/cmz

sampai mm

ST 52

ST 37

ST 52

Kekuatan

16

18

5/8"

r05

12.5

14

58

63

68

74

50/50

55/55
5.5

60/60

65/65

22

16

18

80

o')

70/70 80/80

,E

t"

3/4"

20.5
105

95/95

bar t:

cm
cm

3.6/B 4.5/ 10 5/ 10
8/8 10/10 10/10

6/

6112

6/12

12/ 12

12/ 12

14/14

't6i 16

il4

626

t11

856

1088

1253
1096

1422
1244

1713

952
816

940

1067

1499
1285

l5@

2W

2500

3200

14]|

6/

1A

baut

g =0o

kg

308

384

463

kg
kg
kg

615
538

768

461

576

925
809
694

kg

625

850

12m

Kekuatan 1 baut

tampangdua

9 = 0'
9=45(

9=90'

672

Sambungan las sudut K bersela, jikalau mungkin diabaikan


Kekualan

498

11

3.76

tampangsatu

*)

2Yz" BWG
3.05

3.40

papan tebalnya

ST 37

Tarikan dan
tarikan
lentur siku
dengan jurusan
sambungan

Pergeseran

Ukuran paku
Paku garis tengah
Panjangnya

Dapat digunakan untuk

Tekanan dan

Tarikan dan
tarikan
lentur siku
dengan jurusan

gaya batang S
atas dasar beban
tetap dan hiduP HZ

gaya batang S
atas dasar beban

gaya tarik

I baut untuk

3.Daftarbebanyangdiperkenankanperbautpasakkhususuntukkayu
berat.ienis rata-rata 0.5 grlcm3 kering udara:

mm

tampang dua dan lebih


pada batang tengah

tampang satu

tet ral kayu a dalam :m

tebal kayu a dalam cl n

4 I 6 | 8 I roi',

14

16

18

128

147

147

147

147

147

147

147

10

160

2n

230

2n

23t)

230

2n

2n

lol

12

t4

16

18

326

326

326

3fr

3il6

326

12

192

248

331

3:}t

381

331

33t

272

326

331

8
10

340

5lo

510

510

510

510

510

5ro

t4

224

3i:16

44

450

450

450

450

450

12

4(}8

612

7U

7v

7v

7U

7y

?vl

l6

266

384

512

589

589

589

589

589

t4

476

714

952

1(m

tflx)

1(m

1fi)O

t(m

t8

288

432

576

7n

745

745

745

745

16

816

1088

13(m

13{E

138

r3(D

r3(E
320

480

640

8m

920

920

920

920

612

918

1224

r530.

1652

1652

1652

1652^

20

18

20

680

r020

13fl)

17m

2M

2fiO

2(XO

2Dt()

22

352

52f3

7M

880

r056

113

1113

tlt3

x2

78

tlzt

t4$

187O

2,24,4.

2&

2468

2tm

24

384

576

768

960

325

1325

24

816

1224

1632

20{0

24{/8

2456

2938

2938

x)

416

624

832

884

1826

t768

2it10

m52

c,o4

34/t8

3|{8

896

t9(x

2Ag8

3UB

3m

672

142tr

3gIr

4$

952

xm

28

ro:lo

?550

nEo

3570

txE

tl8)

c)

'180

9d)

1530

v040

720

3t}

tl[n

152

r325

lorto

124a

1456

1555

120

1344

568

1792

1803

1200

144D

1680

1920

2070

555

pada papan p6ngarrit

tel ral kayu

dalam :m

10

12

t4

r6

t8

176

211

211

211

211

?11

211

211

3:n

10

2?f)

330

3[n

3A)

33)

f,p

an

12

2A4

396

478

475

4t5

475

175

475

14

308

62

6r6

u7

ill

ill

u7

u:t

16

352

524

7M

845

845

845

845

845

t8

3S

594

792

9g)

1(89

1069

1(E9

1(f,g

20

660

8g)

nm

r320

r320

t32()

r320

?2

Qtl

7m

968

1210

1452

r597

r507

1697

r848

1901

1901

2231

24

528

7gt

1056

r320

r5B4

26

572

858

114,.

lrlil0

1716

Zffit

zB1

2A

616

924

1232

r5|{)

1848

2156

24li,

2fi87

660

gso

23ro

zffi

29'tO

3)

1320

1650

r9D

501

500

4.

5.

Daftar beban yang diperkenankan pada pasak cincin untuk kayu dettgm
berat jenis rata-rata 0.5 grlcm3'kering udara:

Pasak geris

tengah

6 luar Dl
a dalam Dd

Bulldoglconnector

Pasak lebarnya b
Baut pegang tengah
Cincin segi empat
Cincin tebalnya

mm
mm
mm

60

mm
mm
mm

12

52
18

1N

160

88

120
108

1X

22

26

30

14

14

16

80
70

100

50/5( IJl

OL

200

14

180
164

36

zm

46

50

16

18

18

to/7c t0l7c t0t7(


7

Daftar beban yang diperkenankan per Bulldog Connector untuk kayu


dengan berat ienis rata-rata 0.5 grlcm3 kering udara:

lU

VA
8

Garis tengah D

Tingginya
Tebal

seng

b
s

Baut pegang tengah


Cincin segiempat

mrn
mm
mm
mm
mm

50

62

75

10

17

19

1.3

1.3

1.3

12

16

't6

50/50

95
25

r.3
't6

117
30
1.5

140
31

1.5

165

33
'1.8

25

60/60 70/70 70t70 80/80 90/90 lm/100

Ukuran kayu minimal:


Ukuran kayu minimal:
Papan pengapit

I = s/d 30o
I = lebih dari 30o

cm
cm

6/12 6/14 6/1t 6t 2t 8t22 8t 24 \J/ J\J 10/32


6/10 611i BlU 6/ 1 8/18 6l N 8/24 8t26

=
I:

s/d

30o

lebih dari 30o

cm
cm

8/12 8114

Jarak antara baut dan ujur rg


kayu (kayu muka) cm

Jarak antara dua

baut

Jarak antara pinggir


Pasak dan tepi kayu:

yang dibebani

yang tidak dibebani


Diperkecilnya luas
kayu tanpa baut

502

6/ 10

6/12

6/12

6/8

6/ 10

6/ 10

6/14
6/12

8/ 18

10/20
8/ 18

10/24

8/16

Bl20

10/24 r0/m 10t32


8118 gl20 tot24 rcl26

8t2{ 10/22

ule

Jarak antara baut dan


ujung kayu, dan antara

dua baut

cm

12

12

14

14

17

20

23

kg
kg
kg

350
300

550
475
400

7W

1000

1350

17fl

24C0

650

875

1175

1525

21n

550

750

1000

1300

1800

Kekuatan 1 Bulldog

12

15

18

21

24

27

30

.n

24

28

32

3
2

4
2

cm?

4.3

7.1

1'-t.2

't5.6

22.3

28.4

kg
kg
kg

420
315
210

7W

1140 1620 2m 2880 3780 4600


855 1215 1695 21ffi 2835 3450
570 810 1 130 1M 1890 2m

36

40

.,

9=0o
9:45'
? =96o

2N

Kekuatan 1 pasak

9:0o
9:45o
9:9go

8llt

8t'ti 8llt

16

cm

8/1A

t2

cm

cm

Kayu tengah

I = s/d 30o
i = lebih dari 30o

585

3m

37.3 45.0

503

6.

Oaftbr beban yang diperlenankan per plat paku-paku untuk kayu


dengan berat jenis rota-rata 0.5 grlcm3 kering udara:

Pelat paku-paku
let'arnya
paniangnya

cm
cm

'l

Kepsrluan tekanan untuk pasang

kg

50

kekuatan terhadap penc&utan

kg

Ukuran kayu minimal:


tebalnya

0o

i=90o

10

10

10

1250

25m

5m0

16

ll()0

800

16m

cm

kg
kg

10

250

5m

lm

r88

375

760

7.5

Kekuatan tampang

dua ?=

0o

9=30o
9=69o
?=90o

kg
kg
kg
kg

Xt

6m

18.5

$2

17

4N
3E

15

Tabel untuk monentukan iepitan pada bolok tar-

iopit sebelah

Kekuatan tampang

satu 9 =

1.2. 11. 1.

lm

925
8S0

1850
1700

750

l6m

r.-l
Momen japitan

r'l- rj

ffi

ffi

Mao

fia

u,=

*l; - *l "

*,= 1k*

iln

*r**L,

Mr=t#s

ffi

*,*

*(,-$l "

Ma=

!u

NB=

-1,5lr:'ft

Perubahan suhu
504

t=
L--Hrart.r
to,lo

ffi

w
ffi

ffi

1.2. 11.2. Tabel untuk menentukan momen iepltan pada balok torlopit

Momen jepitan

,f

*r=+

,,=+(r-+l

ffi
L,*L-,,

Ma=

qc''
8

(r*f)'

u,=*k-+l

IP IP
t
t

! ,

M^=#
J

IP

t*,**i

u,=sk* rt

Ma

Mn:

,r:#
io ,,,

Me= Ma=

Ma=Ma=prlr-+l

uu:

"ffi

Momen jepitan

Ma

"l**'u ,

Me:'i;r'

,^-#(+-)

,
'= +(t-t' - 'l

Perubahan suhu

w::;,

Ma=Me=-r,o'io'

MA=

{ rze- nr

llB -

rzn

-sr

,rffin,

tu

Momen jepitan

Persamaan tiga momen menurut Clapeyron:

12

.,rl,rfrfu.

LJ*-.-J-dJ

Bidangmomen M

un=#tBc'2+4cc'+c)

l-r_-l-.J

nd.rl"
b.,,h
l-l-l

Mtlc + 2Mzltc + l'"1 +

M1= ft4, = s!:

fuw
fuw
l-i .l i-t
%.

1.2.12. Tabel-tabel untuk menentukan bagian beban @a eyarat


persamaan tiga momen (Chpsyronl dan luasnya bidang
momen ili

*, = #(4cc'+

Mzl'c: -9
M

r-+r:.l-o*--b--1
l--z

c2)

* 8' l'"

= i M,' x' dx

Beban:

' l"

[tm2]

tub

ffo

---_-{

H1

u,**0,,

tult

al

ffu*"t

"fih
LLI

',nw

#Bt -

Ma=Me*#t ,-#

L'.1

U".,rqrffnff,n,*.,l

b- |t)
tL.P

M4=Mr=

M^=*

d*ffi

0,,

Jfa

'fi

fia

fin

Hh- *l

nil, - |,1

nil, - )l

Tl,.*l

nih. *l

a ih.';Fl

{u,-,'t

{v,-",t

n,

i u'- c'l

ffi

t0

la*-b-4
b_ L-------4

-,1

ffa

*r=#

3+v

ftn,
6

zct

$a

tn

Ma =

ffo+n

!a

Ma=Ma=#(3/,-c)

Me:

ltml

f,n,

4
W,

*,t

f,n

mn=Sot

ttml

,{ro-

hanyapadan = godil

ll

'fro

l,'-o'- f",

' ,?'"

(u-"- f

"'
"r)
5@

beban

tt

ttmrl

p4

P12

ar. za

pl'3

r3

t1

DC

'

24

l3ab- c'l

pflltnud?

a5

et

fr

ct'

(3/2

24

r6

c2)

of,l''-o' *{)
l3lt

13

13

Dl5

17

ffiilflll fiilfltte
?w*us*wi
F-! ------r

r8

r9

fiinm fiilllhr
I

l-Lt2-?-112-i.

Pc 1911'-ut1*"
12

13 lt?

pl'

60'

!:'

l2l - cl

24

P"'

2i,

24

l4t

g"l

pcl

a2l

'f

lZJ

al

37 p2l

L h'-u *
4

i)

*..r*
L

(,,

-2a2

.+t

t2

lP'

Pzl

fit

o,*ros

(7P, + 8Pr)

czl

3r

2al

t2

D[3(/2-a2)-c2l
'41

ffil*,-.ou,*,ri

ffi12

ol'/

(frt2 -15ic +3c

SG,-' ";r

, \a-b\

ll2

l+

35

q(6n)xt
-l--, ----l

ffi;;
rgElro

!,

3b2\

ff w'-

I*,

luz*uz4

60'
3c2)

r.fnr\fl

+*

)D pt'

.eL

,01, n

,rt

zMr +

r'r

2M

Mz

6Et

V (vz- vi

M, + 2M,

6El (Y,
l7

Yrl

z3

510

-21a2 + a3l

#,*r,

15

l3l

2t

pcz

il'

l3

Dl.

ail

ot'

(10/2

6012

:,*

"l

108'

$,n-*'
Pqt

*'

24

2l

Dlt

It3

12

19

13

Lor

ot3

162',

czl

ffe,-*t
TLc.l
I.c,lt
l*a4

-P" lgl'_
at

108'

--324'

ttml

^r2
g2 u'

ffw-"t

or*,r

!) s, * o,t

'f,("*u'- "')
4

8l

0,,

64 Pl'

t,

pc

pc

32

$'

28

r5

ltml

pl'

f*uz-lttz-l
l---:- L

---{

El

czl

,,,

24

,rtz

M [tm!l

beban:

ltml

p4l1

lz

1t

l,

ttml

*,,,
TP

Lo*-t--l
l-- t -----l

ffv'+aot

$(,.f)

0,,

G-t'oi

*0,,

fft,.11t,-'S

t
,il

,(

suhu
rrubahan
'

ruH
-htb

SElo,Lt

3ElarLt

511

l. e" 13.

Pensntran rekei

mpuan dan momen pada belok

2.

Balok terusan dengan gaya pusat

torusan
Momenmax.=MPl

lvluatan

1. Batot teruean dengan bban miata

Ml

rft';

Momnmor - Mql2

.rdrth
J--tt

).

M3

M4

l55i ),1562

).2031

1751

).162t

.L-J_
.Lr,-+

),1697

J--

512

0,6875
0,6875

0.0938

o.M2

0,5s8
0.@88
0,6500
0,5000

0.0750

0,0750

0,425(

115i.

0.0750

0,0750

),137t

0,1750

0,0500

0,1m0

+ 0,0250

0,1607

0,1071

0.0804

0.0536

0.1808

0.053[

I 161

l16l

),1697

),183(

,1596 ),1462

1428

.1998

).2065

.'t42t

c kiri

kiri

0,312t

0,3500

),212t

0,1875

0,1500

1130
0,5715
0.3715

,2W

.-r-r-

MD

17y.

A+'+-++

MC

MB

0,1 500

),100c

).2121

-+J-I--

M2

Tumpuan

D kiri
D
kdnan

0,3125

0,0938

0,50m

0.3500

0,6500

0,5750

0.5750

0.075r

0,0750
0,5000

0,5000
0,0750

0,0750

o,325/.

0,6750
0,6250

0.3750
0.0500

0,05m

0,40J

0,6000
0,1250

0,1607

0.3391

0,6607
0,5536

0,@0

0_419(

0,5801
0,0268

0.0268

0.0871

0,319i

0,1m7

0.05&

0.1001

+ 0,0268

0,006

o,o737

0,G01 + 0.0201

0.053(

0,3s9(

o.o737

0,1250
0,0250

0,0250

0,5636
0,6607

o,4404

0,0268

0,5268
0.0804

0,4732
0,3460

0,m7r

),392

0,m71

0,3929
0,0536

o,1272

0,03t6

0,c836

0,0067

0,0737

0,5067

c,4*,3

0,1m5

0.3393

0,0603
0.5871

0.mG3

),053(

),6@4
),1272

o,4m

4,4&

);680
).654C

-*

0,1m6
0,0201

o,Bot

0,4129

0,0636

0.m67

0,0201

513

3. Balok terusan dengan dua gaya yang simetris

4.

Belok terusan dengan beban merata dengan jarak tumpuan yang


berlainan

Momnmax.=MPl

Muatan

M,

M2

Mg

Tumpuan

Md

M4

MC

I riri

MD

B
kanan

/+tr

o,2/.

0,333

0.666;

"$-

),2771

0,r667

0_83r

C+rtlrih

-qm1 -

t,2444

),28&

J-rl--

0, t333

0,866;

0_1333

0,1333

0,133

0,311

0,G89

0,739

0,m67

0.133(

0,6888

r,3133
r.3333
1,1667

0,r667

...

D
kanan

tia

kaMn

0_6667

0,1667

1,M7

1,0000

1,m00

1,2ffi1
0

1,'1333

1,m00

t.0m

0,1333

1,3111

0.7778

1.2222

0.0889

loll

Reaksi tumpuan
(kg)

0,4

A - - 0,0375.q.t
8 = 0,40fi.q.t

0,8667

t.1333

),'t333

perbandingan

0.733

0.1333

0,0889

0,5

rll,...*

d\#Jts

),238r

.il--Jt--

t,2ffii

#JIJ{
--axJfn

t't 1'l

514

,,2381

J.m
),r94

174t

J-.-.
-*-

lltt

),19&

).2811

1741

o,17n + 0,U44

0.2857

o.w2 1,1718
).2U
0.2857

0,1429

0.857r

0,u76 -

0.154a

0,6786

0,0052

0,2857

0,0952

-o.w2

0,1786

+ 0,0476

0,01 19

0,4214

0,1310

0,1906

0,142s

0,0962

0.3214

0.1423 + 0.0357

1.2S57

o_7143 't,G52

0.1310

1,r421

),u7i
1,3214
1.273E

0,2222

o.0444

o,M44
0,9048
0,9048

1.0952
1.2857

0,c471
0,9523

1,0/77
o,1429

0,7

o,1072

o.'1o72

l.1548

,,@5'

1,1905

),8094

1,r905

0,80s5
0,0s62

r786

t,2262

0,05s5

0.2262
0.0595

,1310

1,0tt9

,9881

0,1 786

0,01

l9

0,1786
0,0357

=
A=
8=
C=
C

0,7143

0,6
-

0.1429

0,u52

0,7

0.0952

0,01 19

0,035i

0,8

Mlkgml
Mr4 M,
Mz

O,0[l2O'q'12

1,0325.q.t

M"= *0,0950'g'lr

0,625.q.t

Mr

Mt

=
=

0,00'195.q./

0,4ffi3.s.t

M"= -0,W7'q'lz

0,1420.q.t

Mr

0,40fi.q.l

=
Mt-

1,0530.q./

Mc=

0,2f00'q.t
0,4o10.q.t
1,0900.q./

Mr=
Mt=
Mc=

0,26fi.q.t

Mt

0,3950.q'l

Mz

1,13fi.q.t

=
=

Mc

A=
B=

=
=
C=

0,828'q'l'2

1,0312.q.t

fl =

Momen maksimal

'q'l z
0,ff]2o'q'lz
0,0101

0,0950'g'/z

0,02t8'q't

0,0805 'q'l I
0,09X).q.t z

0,0362'q'l z
0,0980'q'/ I
0.1050'g'/z

515

-'(r'

'1

.2.14, Tabel-taber hasil peng-integrat-an pada kerja virtual


Segiempat
,r.

IIIIIIIIIII,.

Segitiga

sM;Mp

ffiffi
l-r<l

|sm;mp

lsMiup

fsfr

lsuiml,

t:*'*r

fs{r

fsfr + alM1M1

+ M;,t M1

tor,,

+ 2M;,t

M1

lrsutux

lsuiu2

!su;ur

lsuiup

i"MiMx

#,u- o-rtlwink

frsfr+

keuo+sMizr
tz

$au^ + tM;2r M1

lrsM;Mr'

*'u'*r

#,,,r

ftsuu2

nsMiM*

#*,'r

i"Mi

lms + 3 Mp2l

lsu;rttp

ftsu1up

{su1u1

,lr't'
(3 Mp + Mp2l

I su1ul

lsuiup

$suiul

Ml,
lstul,.
r M21Mp2l

lrsuPl

?r'*r'r

lsu1,Mp

+ alMiM1,

{smfiuy, + M22t
+ 0l MiMk

lsmlmp

t'',u1
I

tt*rr11 + fi) Mi,


+

11

+ al Mi,l

Parabel

ftsu;tvrl

,1sts- 0-0\tt,rttr

f,suiup

*Ou-

a-o2tM1Mp

Parabel

lsmiup

lsu;rvrl

,1s{t

+o*

{ urura,

lsniux
sMpMp

$sm;nt1,

lsupup

frsfr + P+B2lM;Mp

lstaeup

]s{r

+ oB)M;Mp

a*o2lsM1M1

+ M;rMp
+ M;rMp1
+ 2Mi,Mpl

*^r^

M;2r M1

Mk

13

Mr, + 5 Mprl

|'ut

1'

a2lM1M1

Parabel

4h,r'r

+ olM*zl

$Mp + 3Mpl

lsm1u1,

$r

M21

Parabel
,&tlliT,nrr*

fi

+ {lt

sQsM1,Ms,

';sMi

''
lsu;rttp

-4

tsu1u1

Trapesium

trr,,

+ Mr,l

sMlMy, + 2Mp2l

lsu;u1

4ffffn,

fi:[tttfr+

lsu;up

Segitiga

c,tfirrflT-flla,,

@'

lsu1u1

tsMlMp

Segitiga

,r@L

a,1fiil,fffltrr,

Parabol

lsu1u1

I
lsuiup

Parabol

lsMitup,

Segitiga

tt

Parabol

Segitiga

Segiempat

,,W,

Trapisium

517

l.

3. Daftar kependekan
D
E

F
G

H
HZ

lK
N

o
P

o
R

s
T
U
V

w
z
abd

f9hik-

tgsuv-

xY_

batang diagonal pada konstruksi rangka batang


modul elastis
gaya pengikat horisontal
modul pergeseran
gaya horisontal
penentuan beban atas dasar beban tetap (induk)
penentuan beban atas dasar beban tetap dan hidup (angin
dsb.
momsn lembam
titik potong pada sistim titik potong
titik potong pada siatim titik potong
gaya normal
momen lentur, momen jepitan
batang tepi atas pada konstruksi rangka batang
gaya, gaya pusat, gaya tekan, gaya tarik
gaya lintang

delta
sigma

diferensi
jumlah

q-

alpha
beta

sudut putar tumpuan


sudut putar tumpuan
koefisien induksi

T_

av*
6)

reEultante
gaya batang pada konstruksi rangka batang

momen torsi
batang tepi bawah pada konstruksi rangka batang
gaya vertikal, batang vertikal pada konstruksi rangka batang
momen tahanan, bobot-beban
momen sentrifugal

gamma
delta

epsilon

4
x,

eta
kappa

lambda
my

'l-

aoT_
q

pi

rho
sigma

tau
phi

psi

omega

pergeseran

ukuran penurunan tumpuan


lendutan pada batang atau konstruksi rangka batang.
ukuran jepitan. ukuran penguluran
ordinat garis pengaruh
faktor koreksi pada gaya lintang
angka kelangsingan
jarak balok melintang pada beban yang tidak langsung
koefisien distribusi
faktor pergoyangan

faktor3.

14159
jarr-jari lingkaran pada kerja virtual

tegangan normal
tegangan geser
sudut antara dua batang
sudut pada penentuan kerja virtual
faktor tekuk

farak titk potong J


jarak titik potong K
dalamnya gigi tunggal, garis tenEah paku, baut, pasak dsb., suatu
potongan yang sangat kecil, muatan gempa
lendutan
berat atau bobot sendiri
tingginya batang atau konstruksi rangka batang
besaran inti

angka kekakuan
panjangnya batang, lebar batang
beban merata. beban berguna
panjangnya batang pada konstruksi rangka batang
sistim koordinat terputar
sistim koordinat terputar
tekanan angin
koordinat yang horisontal
koordinat yang vertikal
lsndutan ke samping pada tiang teklk

518

519

-'

,(

1" 4. Daftar istilah penting


Gambar, situasi 23

-, kayu 226
Arigka, kelangsingan 84
'-, kekakuan k 291

gaya 23
Garis bersilang 268
Garis olastis, 96, 372

Balok teriepit, 102, 253


* . sebelah 2&3
- , elastis 265
Balok terusaR, 103,253
, garis pengaruh zl49
Balok tunggal, 102, 103
*, dengan gaya 103, 105
- , dengan beban merata 108, I
, dengan beban segitiga 1 13

-,

-,
*,

, dengan konsole 123,407


, bersudut 134. 143
, dengan lengkungan miring 152
, garis pengaruh 333
Batang dengan engsel pada uiungnya 290
Baut, 203,230

pasak khusus 231


Beban, yang tetap 16

-.,

. yang bergerak

penontuan dengan bobot-beban W 374


pada konstruksi rangka batang 379

Garis kerla 2l
Garis pengaruh, 3&9
-, penntuan 390
- , penggunaan 391
balok tunggal 3!13
-, pada
-, psd reaksi tumpuan 393, 417, 452
-', pada gaya lintang 394, 419, 452

t0

l6

berguna 16
. yang berulang-ulang 79
Berat sendiri 16
Bernoulli, Jakob 59
Besaran inti 65
Betti (Syarat) 354
Bobot-beban W 372
Bulldog connector 237

-,

Castigliano { Syarat} 356

Clapeyron, Syarat persamatn tiga momen

ao,

Cremona l83
Cross (lihat: Sistem Cross)
Culmann, Karl 176, 185

Distribusi momen, persiapan 292


-- , menrut Cross 292, $4

-,
-,
-,

, 6rada momen lentur 395, 418,452


, pada beban yang tidak langsung 396

pada
pada
pada
, pada
- , pada
-, pada
--, pada
-, pada
--, pada

lendutan

3S

konsole 406
balok tunggal dengan konsole 407
balok rusuk Gerberzl09
busur tiga ruas 41 5
gaya normal 419
konstruksi rangka batang 424
balok rerusan 449
reaksi tumpuan statis berlebih 450
--, penentuan secara grafis 452
Garis sumbu nol 61

Gaya,20,21
titik tangkap bersama 23
-, dengan
- , yang seiajar 30
--, yang tidak seiaiar 31

-,
-,
-,
-,
-,
-,
-,

ganda 37

tarik G3
tekan 63
lintang 45
, normal 44
dalam

torsi 72
yang berbahaya 83
, pengikat horisontal 312,325
Gerber, Heinrich 153
Gigi tunggal 226
Hetzer 239

Hook (Syarat) 20, 59


Engesser 88
Euler, Leonhard 83

520

Mohr, lingkaran 55, 75

-,
-,

pnentuen lendutan 97
(Syarot) 81,357,372

-,
-,
-,
-,
-,
-,
-,
-,
-,

satu gays 35
kumpulan gaya 35
lentur 45, 63
lembang tt9, 5O, 52

Keamanan 79

Alat sambungan, bafa 203

Balok rusuk Gerber, 103,253


, garis pengaruh 409

Jari-lari lembang 84

Jepitan, sendiri 27 1, 272


- , asing271,273

lnti, besaran 65

Keling 203
Kerja virtual, 343
hasil pengintegralan 351
Koefisien, distribusi 274
induksi 289
pergoyangan 3?2

-,
-,
-,
Konsole, 102,120
dengan gaya l?0, 121
-, dengan
beban merata 121
-, garis pengaruh
406
-,
Konstruksi batang, 14, 101
*, pergeseran dan perputaran 359
Konstruksi berlapis maiemuk dengan perekat
239

Konstruksi bingkai 15
Konstruksi busur tiga ruas 103, lm, 168,415
Konstruksi parabol 109, 110
Konstruksi portal, tiga ruas 103, 160, 161
statis tidak tertentu 304
dengan titik simpul yang kaku 3O4
pertingkct 318, 3lil2
dengan titik simpul yang goyah 322
Konstruksi rangka batang, 15, 176
pembangunan 178
kestabilan 180
bentuk 181
p6n6ntuan gaya batang 1&l
belah ketupat 188
berbentuk K 189

-,
-,
-,
-,

-,
*,
-,
-,
-,
-, pergeseran
369
-, garis pengaruh
424
-,
Konstruksi
tangga 149

Lagrange (Asas tentang kerja virtual) 343


Las (sambungan),207
sudut 207
tumpul 208
tepi 208
--, cekung 207
pipi207

-,
-,
-,
-,
207
-, cembung
kepala 208
-, sela
208
-,
Lendutan, 96,262. Y2
-, penentuan menerut Mohr97
Maxwelt (Syarat) 355
Modul elastis 59

Momen,35

-',

sentrilwal 49
tahanan 64
jepitan 287, 289
distribusi 288)
koreksi pergoyangan 322
residu 288

Navier, Louis 59, 92


Paku227
Pasak cincin 235
Pelat paku 235

Penurunan tumpuan pada baiok terjepit

V')

Perekat 239
Perjanjian tanda tl4
Persamaan kerja, poda konstruksi batang 3{5
pada konstruksi rangka batang 350
Perubahan bentuk, 59
elastis 342, 354
Polygon batang tarik 26

-,

-,

Pytagoras (hukum)

Ritter, A", sYarat persamaan momen 34


perhitungan gaya batang 186

-,

Sifat-sifat bahan bangunan 19


Sistim Cross, pada balok terr:san 286

--,

perianiian randa 286

momen 292, 3C$


-, distribu3i
pada konstrukli portal, dengan titik sim-,
pul yang kaku 3&l
- , -, dengan titik simpul yang goyah 324
potong,

Sistim titik
266, 453
--, jarak penting 270
pada balok terusan 274
--, penentuan secara analytis 275
, penentuan secara grafis 277
Stegtrdger 239
Sudut putar tumpuan 255
Syarat, tangkai pengungkit 29, 1 19
keseimbangan 38, tl0, 253

-,
-

-,
-,
-,

elastis 265
persamaan tiga rnornen (Clapeyron) 282
, dari Betti 354
--, dari Maxwell 355

521

t:/

-,
-,

dari Castigliano 356


dari Mohr 357, 372

Tegangan,20,80

-,
-,
-,
-,

normal57, fl)
geser 58, @, 72
linear 73

dalam bidang 76

-,las2G

Tekukan, 81, 87
- , ex-sentris 91, 93
Tetmajer, L. von 85
Tiang terbengkok, 91
dengan beban lintang 95
Titik berat 4,6

-,

Titik patah {teoril 81


Titik simpul, macam-macam jephan 271
momen 288
Topang ganda,8l
konstruksi baia 88
konslruksi kayu 90
Tumpuan, sendi 17

-,

-,
-,
-,
-,
-,
-,

rd

17

1.5. Pustaka
1.

Bochmann, Fritz

iodtan 18,87

Statik im Bauwesen
Jilid 2, edisi ke-9, Frankfurt/Basel 1976
Statik im Bauwesen
Jilid 3, edisi ke-6. Frankfurt/Basel 1977

engsel 87

porhitungn reaksi 40, 44

Urat nisbi 134


UYilliot (Diagram pergeseranl 379

Statik im Bauwesen

Jilid 1, edisi ke-12, Berlin 1976

2.

Darmawan, Loa W.

Konstruksi Baja ll
2. revised edition, Bandung 1976

3.

Dirdjosapoetro, Soad.

Pengantar menghitung balok gelagar pada


konstruksi bangunan, edisi pertama, Jakarta
1972

4.

Frick, Heinz

5.

Gattnar/Trysna

llmu konstruksi kayu


edisi pertama, Yogyakarta 1977
Htilzerne Dach- und Hallenbauten
edisi ke-7, Berlin'196'l

Harasim. Alfons

Statik
edisi pertama, Wtirzburg 1970

Hempel, G.

Freigespannte Holzbinder, BauFachschriften No. I


edisi ke-10, Karlsruhe 1973

8.

Hirschfeld, Kurt

9.

Hofsteede/ Kramer/ Soemargono

Baustatik
edisi ke-2, Berlin-GOttingen-Heidelberg 1965
llmu Mekanika Teknik
Jilid A, edisi ke-2, Jakarta 1976
llmu Mekanika Teknik
Jilid B, edisi ke-3, Jakarta 1976
llmu Mekanika Teknik
Jilid C, edisi ke-2, Jakarta 1977

10.

ofsteede/ Kramer/ Baslim

11.

olsteede/ Kramer/Zeiruddin

llmu Mekanika Teknik

Jilid D, edisi ke-2, Jakarta 1977


12.

Johannson, Johannes

r3.

Kaufmann, W.

Das Cross-Verfahren
edisi ke-2, Berlin-Gottingen-Heidelberg 1955

Statik der Tragwerke


edisi ke-4, Berlin 1957

522

14.

Kirchhoff, R.

15.

Ktiderli + Co.

Die Statik der Eauwerke


Jilid 1, edisike-6, 1960
Handbuch l, Tabellen
edisi ke-2, 1963, Ztirich, Basel

E-I
{l

'lB.

17.

Mriller_Breslau, H.

18. Salinger, R.
19. Soemono. B.

20.
21

I lCNtrM, Arlrcitslyr;rnci,,s.,l-raf
lirr r[rs Holz

St0ssi, F.

Wagner/Erlhof

Dokunrerftation Holz
Jilid 2 dan 3 (hiiau), Ztirich .1960

Die graphische Statik t


edisi ke-6, Leibzig,rrl"'',rronstruktionen

Praktische.Sfatlk, Wien g5l


I

Statika

edisi pertama, Bandung


1g77

Baustatik

edisi ke-3, Basel 1962

Praktische Baustatik

Jilid 1, edisi ke-16, Stuttga


rt1975

Piaktische Baustatik
ke_12, Sturtga rt1977
Praktrbche Baustatik
Jilid 3, edisi ke_6. Stuttgart
1977

Jilid2, edisi

22.

Wendehorst/Muth

B a.u te ch n is c h e Za h le
nta

23.

Yayasan Dana Normalisasi


tndonesia

eorsr ke-19,

feln

Stuttgart 1976

P::?.tr:gl Konstruksi Kayu tndonesia,


Nt-i
P! K /. I 96 t,
ke_8, Bandung

1 976
Pe:a.t:tra n M-edisi
ua ta n t ndo nesia, Nl_1g
edisi ke-2, Bandung ,l976

x
I

_:-

I
I

t'
I
I

522

(
i