Anda di halaman 1dari 11

A.

Sejarah dan Pengertian Taksonomi


Kata taksonomi pertama kali diciptakan oleh A.P. de Candolle, seorang
ahli tumbuhan berkebangsaan Swiss di herbarium Genewa, yang artinya teori
tentang klasifikasi tumbuhan (Rideng, 1989). Secara etimologi taksonomi
berasal dari bahasa Yunani yaitu takson artinya unit atau kelompok, dan
nomos artinya hukum. Sehingga taksonomi dapat diartikan sebagai hukum
atau aturan yang digunakan untuk menempatkan suatu makhluk hidup pada
takson tertentu.
Ilmu taksonomi digunakan untuk penemuan flora dan fauna, memberikan
sebuah metode identifikasi yang tepat sehingga menghasilkan sistem
klasifikasi yang terkait dan menyeluruh sehingga dapat dihasilkan nama
ilmiah yang benar pada setiap takson tumbuhan ataupun hewan sesuai dengan
aturan tata namanya, membuat keteraturan dan keharmonian ilmu
pengetahuan organisme sehingga tercipta suatu sistem yang sederhana dan
dapat digunakan orang lain.
Sejak tahun 1753 sistem polynomial digantikan dengan binomial sejak
publikasi Systema Plantarum oleh Carolus Linnaeus dan berlaku secara
internasional.
Sistem binomial yaitu sistem penamaan di mana nama jenis terdiri dari
dua kata, kata pertama adalah nama marga/genus dan kata kedua
merupakan penunjuk jenis atau spesies. Contoh: Vigna sinensis, yaitu nama
ilmiah dari tanaman kacang panjang.
Klasifikasi ilmiah menunjuk ke bagaimana ahli biologi mengelompokkan
dan mengkategorikan spesies dari organisme yang punah maupun yang hidup.
Klasifikasi

modern

berakar

pada

sistem

Carolus

Linnaeus,

yang

mengelompokkan spesies menurut kesamaan sifat fisik yang dimiliki.


Pengelompokan ini sudah direvisi sejak Carolus Linnaeus untuk menjaga
konsistensi dengan asas sifat umum yang diturunkan dari Darwin.

Klasifikasi

makhluk

hidup

adalah

suatu

cara

memilah

dan

mengelompokkan makhluk hidup menjadi golongan atau unit tertentu. Urutan


klasifikasi makhluk hidup dari tingkat tertinggi ke terendah mulai dari
Domain (Daerah), Kingdom (Kerajaan), Phylum atau Filum (hewan)/Divisio
(tumbuhan), Classis (Kelas), Ordo (Bangsa), Famili (Suku), Genus (Marga),
dan Spesies (Jenis).
Klasifikasi makhluk hidup didasarkan pada persamaan dan perbedaan ciri
yang dimiliki makhluk hidup, misalnya bentuk tubuh atau fungsi alat
tubuhnya. Makhluk hidup yang memliliki ciri yang sama dikelompokkan
dalam satu golongan. Contoh klasifikasi makhluk hidup adalah:
1. Berdasarkan ukuran tubuhnya. Contoh: Tumbuhan dikelompokkan
menjadi pohon, perdu, dan semak.
2. Berdasarkan lingkungan tempat

hidupnya.

Contoh:

Tumbuhan

dikelompokkan menjadi tumbuhan yang hidup di lingkungan kering


(xerofit), tumbuhan yang hidup di lingkungan air (hidrofit), dan tumbuhan
yang hidup di lingkungan lembap (higrofit).
3. Berdasarkan manfaatnya. Contoh: Tumbuhan dikelompokkan menjadi
tanaman hias, tanaman obat-obatan, tanaman sandang, tanaman pangan
dan sebagainya
4. Berdasarkan jenis makanannya. Contoh: Hewan dikelompokkan menjadi
hewan

pemakan

daging

(karnivora),

hewan

pemakan

tumbuhan

(herbivora), dan hewan pemakan hewan serta tumbuhan (omnivora).


Cara pengelompokan makhluk hidup seperti ini dianggap kurang sesuai
yang disebabkan karena dalam pengelompokan makhluk hidup dengan cara
demikian dibuat berdasarkan keinginan orang yang mengelompokkannya.
B. Tujuan Pengklasifikasian Makhluk Hidup
1.
Mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan ciri-ciri
yang dimiliki
2.
Mengetahui

ciri-ciri

suatu

jenis

makhluk

membedakannya dengan makhluk hidup dari jenis lain

hidup

untuk

3.

Mengetahui hubungan kekerabatan makhluk hidup memberi nama


makhluk hidup yang belum diketahui namanya atau belum memiliki nama

C. Manfaat Klasifikasi Makhluk Hidup


1. Klasifikasi memudahkan kita dalam mmpelajari makhluk hidup yang
sangat beraneka ragam
2. Klasifikasi membuat kita mengetahui hubungan kekerabatan antarjenis
makhluk hidup
3. Klasifikasi memudahkan komunikasi
D. Sejarah Klasifikasi
1. Aristoteles (384 322 SM), mengelompokkan makhluk hidup menjadi dua
kelompok, yaitu tumbuhan dan hewan. Tumbuhan dikelompokkan menjadi
herba, semak dan pohon. Sedangkan hewan digolongkan menjadi
vertebrata dan avertebrata.
2. John Ray (1627 1708), merintis pengelompokkan makhluk hidup kearah
grup-grup kecil. Ia telah melahirkan konsep tentang jenis dan spesies.
3. Carolus Linnaeus (1707 1778), mengelompokkan makhluk hidup
berdasarkan pada kesamaan struktur. Ia juga mengenalkan pada system
tata nama makhluk hidup yang dikenal dengan binomial nomenklatur.
Karena itu Carolus linneaus dikenal sebagai bapak Taksonomi dunia.
4. R.H Whittaker pada tahun 1969 mengelompokkan makhluk hidup menjadi
5 (lima) kingdom / kerajaan, yaitu : Monera, Protista, Fungi, Plantae dan
Animalia.
a. Monera (bakteri dan ganggang biru)
Makhluk hidup yang dimasukkan dalam kerajaan Monera memiliki sel
prokariotik. Kelompok ini terdiri dari bakteri dan ganggang hijau biru
b.

(Cyanobacteria).
Protista (ganggang dan protozoa)
Makhluk hidup yang dimasukkan dalam kerajaan Protista rnemiliki sel
eukariotik. Protista memiliki tubuh yang tersusun atas satu sel atau
banyak sel tetapi tidak berdiferensiasi. Protista umumnya memiliki
sifat antara hewan dan tumbuhan. Kelompok ini terdiri dari Protista
menyerupai hewan (Protozoa) dan Protista menyerupai tumbuhan

c.

(ganggang), dan Protista menyerupai jamur.


Fungi (jamur)

Fungi memiliki sel eukariotik. Fungi tak dapat membuat makanannya


sendiri. Cara makannya bersifat heterotrof, yaitu menyerap zat organik
dari lingkungannya sehingga hidupnya bersifat parasit dan saprofit.
Kelompok ini terdiri dari semua jamur, kecuali jamur lendir
d.

(Myxomycota) dan jamur air (Oomycota).


Plantae (tumbuhan)
Tumbuhan memiliki sel eukariotik. Tubuhnya terdiri dari banyak sel
yang telah berdiferensiasi membentuk jaringan. Tumbuhan memiliki
kloroplas sehingga dapat membuat makanannya sendiri (bersifat
autotrof). Kelompok ini terdiri dari tumbuhan lumut, tumbuhan paku,

e.

tumbuhan berbiji terbuka, dan tumbuhan berbiji tertutup


Animalia (hewan)
Hewan memiliki sel eukariotik. Tubuhnya tersusun atas banyak sel
.yang telah berdiferensiasi membentuk jaringan. Hewan tidak dapat
membuat makanannya sendiri sehingga bersifat heterotrof. Kelompok
ini terdiri dari semua hewan, yaitu hewan tidak bertulang belakang
(invertebrata) dan hewan bertulang belakang (vertebrata).

E. Prinsip dan Peraturan Tata Nama


Tata nama botani tidak berhubungan dengan tata nama zoologi. Nama
yang sama yang diberikan pada tumbuhan bisa juga digunakan ahli zoologi
pada hewan.
Pelaksanaan penamaan di dalam kelompok taksonomi ditentukan dengan
menggunakan tipe tata nama. Tipe untuk famili adalah genus, tipe untuk
genus adalah jenis, tipe untuk jenis adalah spesimen dan seterusnya.
Tata nama dari kelompok taksonomi haruslah berdasar pada prioritas
publikasi, dan nama yang benar adalah nama yang telah dipublikasi terlebih
dahulu dan mengacu pada aturan-aturan. Tata nama yang telah dipublikasikan
lebih dulu harus dipakai sebagai dasar pada publikasi berikutnya.
Setiap kelompok taksonomi, batasannya, posisinya, dan urutannya bisa
membuat satu nama yang benar. Nama ilmiah kelompok taksonomi disajikan
dalam bahasa latin tanpa menghiraukan asalnya. Aturan untuk penamaan

genus dan penunjuk jenis sama juga dengan yang lain harus dalam bahasa
Latin.
Suatu nama yang sah tidak boleh ditolak karena alasan tidak disukai atau
karena kehilangan arti aslinya. Perubahan nama hanya boleh dilakukan biala
sudah betul-betul diteliti taksonominya
Tingkat-tingkat kesatuan taksonomi (dalam urutan menurun, beserta
akhiran-akhiran nama ilmiahnya):
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Dunia tumbuh-tumbuhan (Regnum Vegetabile)


Divisi (divisio -phyta)
Anak divisi (sub divisio -phytina)
Kelas (classis -opsida, khusus untuk Alga phyceae)
Anak kelas (subclassis idea)
Bangsa (ordo ales)
Anak bangsa (subordo ineae)
Suku (familia aceae)
Anak suku (subfamilia oideae)
Puak (tribus eae)
Anak puak (subtribus inae)
Marga (genus; nama ilmiah marga dan semua tingkat di bawahnya tidak

diseragamkan akhirannya)
13. Anak marga (subgenus)
14. Seksi (sectio)
15. Anak seksi (subsectio)
16. Deret (series)
17. Anak deret (subseries)
18. Jenis (species)
19. Anak jenis (sub species)
20. Varietas (varietas)
21. Anak varietas (subvarietas)
22. Forma (forma)
23. Anak forma (subforma)
Nama ilmiah suatu jenis merupakan penggabungan 3 hal :
1.
Genus
2. Spesies epithet (penunjuk jenis)
3. Author
F. Sistem Klasifikasi Domain
Belakangan, sistem Kingdom sempat dianggap basi, sehingga dibentuk
sistem baru yang menambah urutan dan memiliki lebih sedikit jenis, yaitu
Domain. Ada tiga jenis Domain, yaitu:

1. Archaea (dari Archaebacteria)


2. Bacteria (dari Eubacteria)
3. Eukarya (termasuk fungi, hewan, tumbuhan, dan protista)

G. Sistem Klasifikasi Enam Kingdom (Menurut Woese tahun 1977)


Semula para ahli hanya mengelompokkan makhluk hidup menjadi dua
kerajaan, yaitu kerajaan tumbuhan dan kerajaan hewan. Dasar para ahli
mengelompokkan makhluk hidup menjadi dua kerajaan yaitu:
1. Kenyataan bahwa sel kelompok tumbuhan memiliki dinding sel yang
tersusun dari selulosa.
2. Tumbuhan memiliki klorofil sehingga dapat membuat makanannya sendiri
melalui proses fotosintesis dan tidak dapat berpindah tempat dan hewan
tidak memiliki dinding sel sementara hewan tidak dapat membuat
makanannya sendiri dan umumnya dapat berpindah tempat.
Namun ada tumbuhan yang tidak dapat membuat makanannya sendiri,
yaitu jamur (fungi). Berarti tumbuhan berbeda dengan jamur maka para ahli
taksonomi kemudian mengelompokkan makhluk hidup menjadi tiga
kelompok, yaitu Plantae (tumbuhan), Fungi (jamur), dan Animalia (hewan).
Setelah para ahli mengetahui struktur sel (susunan sel) secara pasti,
makhluk hidup dikelompokkan menjadi empat kerajaan, yaitu Prokariot,
Fungi, Plantae, dan Animalia. Pengelompokan ini berdasarkan ada tidaknya
membran inti sel. Sel yang memiliki membran inti disebut sel eukariotik
sedangkan sel yang tidak memiliki membran inti disebut sel prokariotik.
Pada tahun 1969 Robert H. Whittaker mengelompokkan makhluk hidup
menjadi lima kingdom, yaitu Monera, Protista, Fungi, Plantae, dan Animalia.
Pengelompokan ini berdasarkan pada susunan sel, cara makhluk hidup
memenuhi makanannya, dan tingkatan makhluk hidup.

Namun sistem ini kemudian diubah dengan dipecahnya kingdom monera


menjadi kingdom Eubacteria dan Archaebacteria.
H. Sistem Klasifikasi Enam Kingdom
Pada

tahun

2004,

seorang

ilmuwan,

Thomas

Cavalier-Smith

mengklasifikasikan makhluk hidup menjadi k Kingdom juga, namun dengan


memisahkan Eukaryota dari Protista yang bersifat autotrof menjadi Kingdom
baru, yaitu Chromista.
Enam Kingdom menurut Klasifikasi Cavalier-Smith, yaitu:
1. Bacteria
2. Protozoa
3. Chromista
4. Fungi
5. Plantae
6. Animalia
I.

Tata Nama Binomial


Tata nama binomial (binomial berarti dua nama') merupakan aturan
penamaan baku bagi semua organisme (makhluk hidup) yang terdiri dari dua
kata dari sistem taksonomi (biologi), dengan mengambil nama genus dan
nama spesies. Nama yang dipakai adalah nama baku yang diberikan dalam
bahasa Latin atau bahasa lain yang dilatinkan. Aturan ini pada awalnya
diterapkan untuk fungi, tumbuhan dan hewan oleh penyusunnya (Carolus
Linnaeus), namun kemudian segera diterapkan untuk bakteri pula. Sebutan
yang disepakati untuk nama ini adalah nama ilmiah (scientific name). Orang
awam seringkali menyebutnya sebagai "nama latin" meskipun istilah ini tidak
tepat sepenuhnya, karena sebagian besar nama yang diberikan bukan istilah
asli dalam bahasa latin melainkan nama yang diberikan oleh orang yang
pertama kali memberi pertelaan atau deskripsi (disebut deskriptor) lalu
dilatinkan.

Penamaan organisme pada saat ini diatur dalam Peraturan Internasional


bagi Tata Nama Botani (ICBN) bagi tumbuhan, beberapa alga, fungi, dan
lumut kerak, serta fosil tumbuhan; Peraturan Internasional bagi Tata Nama
Zoologi (ICZN) bagi hewan dan fosil hewan; dan Peraturan Internasional
bagi Tata Nama Prokariota (ICNP). Aturan penamaan dalam biologi,
khususnya tumbuhan, tidak perlu dikacaukan dengan aturan lain yang berlaku
bagi tanaman budidaya (Peraturan Internasional bagi Tata Nama Tanaman
Budidaya, ICNCP).
1. Aturan Penulisan

a. Aturan penulisan dalam tatanama binomial selalu menempatkan nama


("epitet" dari epithet) genus di awal dan nama ("epitet") spesies
mengikutinya.
b. Nama genus selalu diawali dengan huruf kapital (huruf besar,
uppercase) dan nama spesies selalu diawali dengan huruf biasa (huruf
kecil, lowercase).
c. Penulisan nama ini tidak mengikuti tipografi yang menyertainya
(artinya, suatu teks yang semuanya menggunakan huruf kapital/balok,
misalnya pada judul suatu naskah, tidak menjadikan penulisan nama
ilmiah menjadi huruf kapital semua) kecuali untuk hal berikut:
Pada teks dengan huruf tegak (huruf latin), nama ilmiah ditulis
dengan huruf miring (huruf italik), dan sebaliknya. Contoh:
Glycine soja, Pavo muticus. Perlu diperhatikan bahwa cara
penulisan ini adalah konvensi yang berlaku saat ini sejak awal abad
ke-20. Sebelumnya, seperti yang dilakukan pula oleh Carolus
Linnaeus, nama atau epitet spesies diawali dengan huruf besar jika

diambil dari nama orang atau tempat.


Pada teks tulisan tangan, nama ilmiah diberi garis bawah yang

terpisah untuk nama genus dan nama spesies.


d. Nama lengkap (untuk hewan) atau singkatan (untuk tumbuhan) dari
autoritas boleh diberikan di belakang nama spesies, dan ditulis dengan
huruf tegak (latin) atau tanpa garis bawah (jika tulisan tangan). Jika
suatu spesies digolongkan dalam genus yang berbeda dari yang berlaku
sekarang, nama autoritas ditulis dalam tanda kurung. Contoh: Glycine

max Merr., Passer domesticus (Linnaeus, 1978) yang terakhir


semula dimasukkan dalam genus Fringilla, sehingga diberi tanda
kurung (parentesis).
e. Pada penulisan teks yang menyertakan nama umum/trivial, nama ilmiah
biasanya menyusul dan diletakkan dalam tanda kurung. Contoh pada
suatu judul: "Pengujian Daya Tahan Kedelai (Glycine max Merr.)
Terhadap Beberapa Tingkat Salinitas". (Penjelasan: Merr. adalah
singkatan dari autoritas (dalam contoh ini E.D. Merrill) yang hasil
karyanya diakui untuk menggambarkan Glycine max. Nama Glycine
max diberikan dalam judul karena ada spesies lain, Glycine soja, yang
juga disebut kedelai.).
f. Nama ilmiah ditulis lengkap apabila disebutkan pertama kali.
Penyebutan selanjutnya cukup dengan mengambil huruf awal nama
genus dan diberi titik lalu nama spesies secara lengkap. Contoh:
Tumbuhan dengan bunga terbesar dapat ditemukan di hutan-hutan
Bengkulu, yang dikenal sebagai padma raksasa (Rafflesia arnoldii). Di
Pulau Jawa ditemukan pula kerabatnya, yang dikenal sebagai R. patma,
dengan ukuran bunga yang lebih kecil. Sebutan E. coli atau T. rex
berasal dari konvensi ini.
g. Singkatan "sp." (zoologi) atau "spec." (botani) digunakan jika nama
spesies tidak dapat atau tidak perlu dijelaskan. Singkatan "spp."
(zoologi dan botani) merupakan bentuk jamak. Contoh: Canis sp.,
berarti satu jenis dari genus Canis; Adiantum spp., berarti jenis-jenis
Adiantum.
h. Sering dikacaukan dengan singkatan sebelumnya adalah "ssp."
(zoologi) atau "subsp." (botani) yang menunjukkan subspesies yang
belum diidentifikasi. Singkatan ini berarti "subspesies", dan bentuk
jamaknya "sspp." atau "subspp."
i. Singkatan "cf." (dari confer) dipakai jika identifikasi nama belum pasti.
Contoh: Corvus cf. splendens berarti "sejenis burung mirip dengan
gagak (Corvus splendens) tapi belum dipastikan sama dengan spesies
ini".
j. Penamaan fungi mengikuti penamaan tumbuhan.

k. Tatanama binomial dikenal pula sebagai "Sistem Klasifikasi Binomial".


2. Penyebutan Autoritas

Dalam naskah-naskah ilmiah, paling tidak salah satu nama spesies


(biasanya pada penyebutan pertama kali atau pada tempat utama) diikuti
oleh "autoritas" - suatu cara penyebutan untuk orang yang pertama kali
mempublikasikan deskripsi yang valid mengenai spesies tersebut. Cara
penulisan ini memiliki perbedaan di antara bidang zoologi dan botani
(termasuk mikologi). Nama autor ditulis di belakang nama takson. ICZN
mengatur penulisan nama autor di bidang zoologi dalam bentuk nama
akhir (nama keluarga) diikuti oleh tanggal (boleh hanya tahun) publikasi.
Di bidang botani, ICBN menggunakan singkatan nama (terdaftar) dan
mengabaikan tanggal (hal ini dulu pernah digunakan pula di bidang
zoologi).
Apabila nama awal diganti, misalnya karena spesies dipindahkan ke
genus yang lain, kedua sistem tata nama menggunakan tanda kurung
(parentesis) yang mengapit autor awalnya. Contoh:

(Tumbuhan) Amaranthus retroflexus L. "L." adalah singkatan baku


untuk "Linnaeus".

(Tumbuhan) Hyacinthoides italica (L.) Rothm. Linnaeus pertama


kali menamakan tumbuhan ini sebagai Scilla italica; Rothmaler
memindahkannya ke genus Hyacinthoides.

(Hewan) Passer domesticus (Linnaeus, 1758) nama asli diberikan


oleh Linnaeus sebagai Fringilla domestica; tidak seperti ICBN, ICZN
tidak memerlukan penulisan nama orang yang memindahkan nama
spesies ke genus lainnya.

Daftar Pustaka
Anonim.2011.http://perpustakaan-online.blogspot.com/2011/04/pengertiantaksonomi.html.Diakses tanggal 7 Maret 2014
Anonim.2013.http://id.wikipedia.org/wiki/Tata_nama_biologi. Diakses tanggal 7
Maret 2014
Anonim.2014.http://id.wikipedia.org/wiki/Klasifikasi_ilmiah. Diakses tanggal 7
Maret 2014
Anonim.2012.http://biologimediacentre.com/macam-klasifikasi-makhluk-hidup/.
Diakses tanggal 7 Maret 2014
Anonim.2011.http://mediabelajaronline.blogspot.com/2011/11/klasifikasi-dantata-nama-ilmiah.html. Diakses tanggal 7 Maret 2014

Anonim.2012.http://faridaayur.blogspot.com/2012/10/pendahuluan-dan-ruanglingkup-taksonomi.html. Diakses tanggal 7 Maret 2014