Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perubahan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia yang telah
dilakukan sebanyak empat kali telah mempengaruhi secara substansial dan telah
mengubah sistem ketatanegaraan Indonesia secara mendasar. Aturan dasar atau yang
disebut dengan konstitusi ini, pada hakekatnya merupakan landasan eksistensi suatu
negara sebagai organisasi kekuasaan, pembagian dan pembatasan kekuasaan. Setelah
Indonesia merdeka pada tahun 1945, sistem hukum yang berlaku tidak segera
mengalami perubahan. Untuk mengatasi agar tidak terjadi situasi tersaebut, maka
undang-undang maupun peraturan-peraturan yang ada sebelum kita merdeka tetap
berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Undang Undang Dasar 1945. 1
Konstitusi atau Undang Undang Dasar yang disusun dan ditetapkan untuk
mencegah adanya kemungkinan menyalahgunakan kekuasaan. Dengan perkataan
lain, dalam konstitusi berisi pembatasan kekuasaan dalam negara. Adapun
pembatasan kekuasaan tersebut terlihat dengan adanya tiga hal dalam setiap
konstitusi, yaitu (a) Bahwa Konstitusi atau Undang Undang Dasar harus menjamin
hak-hak manusia atau warga negara; (b) Konstitusi atau Undang Undang Dasar juga
harus memuat suatu ketatanegaraan pada suatu negara yang bersifat mendasar; (c)
1

Abdy Yuhana, Sistem Ketatanegaraan Indonesia Pasca Perubahan UUD 1945,


Bandung, Fokusmedia, 2007, hal. 9

Konstitusi harus mengatur tugas serta wewenang dalam negara yang juga bersifat
mendasar. 2
Dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia, konstitusi yang diberlakukan di
Indonesia telah mengalami perubahan-perubahan dan masa berlakunya sejak Orde
Lama hingga Orde Reformasi yaitu; UUD 1945 (18 Agustus 1945 - 27 Desember
1949); Konstitusi RIS (27 Desember 1949 17 Agustus 1950); UUDS 1950 (17
Agustus 1950 5 Juli 1959 19 Oktober 1999); UUD 1945 ( 5 Juli 1959 19
Oktober 1999) UUD 1945 dan Perubahan Pertama ( 19 Oktober 1999 18 Agustus
2000); UUD 1945 dan Perubahan Pertama, dan Kedua ( 18 Agustus 2000 10
November 2001 ); UUD 1945 dan Perubahan Pertama, Kedua dan Ketiga ( 10
November 2001 10 Agustus 2002); dan UUD 1945 dan Perubahan Pertama, Kedua,
Ketiga dan Keempat (10 Agustus 2002 sekarang). 3
Perubahan Pertama terjadi pada Sidang Umum MPR tanggal 14-21 Oktober
1999, kemudian Perubahan Kedua berlangsung dalam Sidang Tahunan MPR 7-18
Agustus 2000, Perubahan Ketiga berlangsung pada Sidang Tahunan MPR tanggal 1-9
November 2001, dan Perubahan Keempat berlangsung pada Sidang Tahunan MPR
dari tanggal 1-11 Agustus 2002. 4 Salah satu gejala yang menandai perubahan tersebut

PadmoWahjono, Masalah Ketatanegaraan Indonesia, Jakarta, Rajawali, 1984, hal.4


Titik Triwulan Tutik, Konstruksi Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Amandemen
UUD 1945, Jakarta, Prenada Media Group, 2010 hal. 15
4
Firdaus, Perubahan Sistem Ketatanegaraan Indonesia, Bandung, Yrama Widya,
2007 hal.56
3

adalah adanya perubahan terhadap lembaga-lembaga negara. Ada yang dihapuskan,


dan sebaliknya timbul pula beberapa lembaga baru. 5
Secara kronologis substansi pengaturan kelembagaan negara dalam perubahan
UUD 1945 terdapat pada setiap masa perubahannya.
Perubahan pertama, UUD 1945 memuat pengendalian kekuasaan presiden
dan tugas serta wewenang Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden dalam hal
pembentukan undang-undang. 6
Perubahan kedua, UUD 1945 menata ulang keanggotaan, fungsi, hak maupun
cara pengisian lembaga negara. 7
Perubahan ketiga, membahas ulang kedudukan dan kekuasaan MPR, jabatan
Presiden yang berkaitan dengan tata cara pemilihan dan pemilihan secara langsung,
pembentukan lembaga negara baru meliputi Mahkamah Konstitusi (MK), Dewan
Perwakilan (DPD), dan Komisi Yudisial (KY) serta pengaturan tambahan Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK).
Dan perubahan keempat, UUD 1945, meliputi keanggotaan MPR, pemilihan
presiden dan wakil presiden tahap kedua dan kemungkinan presiden/wakil presiden
berhalangan tetap serta kewenangan presiden. 8
Menurut Prof. Jimly Assidiqie ada beberapa lembaga-lembaga Negara
Indonesia yang menjadi organ konstitusional dan subjek jabatan atau subjek hukum
5

Ibid., hal. 1-2


Titik Triwulan Tutik, posit., hal. 19.
7
Ibid.,
8
Ibid.,
6

kelembagaan yang ditentukan oleh Undang Undang Dasar 1945 maupun undangundang di luar UUD 1945 yaitu: 9
1. Presiden
2. Wakil Presideen
3. Dewan Pertimbangan Presiden;
4. Kementerian Negara;
5. Menteri Luar Negeri;
6. Menteri Dalam Negeri;
7. Menteri Pertahanan;
8. Duta;
9. Pemerintahan Daerah Provinsi;
10. Gubernur/ Kepala Pemerintahan Daerah Provinsi;
11. DPRD Provinsi;
12. Pemerintahan Daerah Kabupaten;
13. Bupati/ Kepala Pemerintahan Daerah Kabupaten;
14. DPRD Kabupaten;
15. Pemerintahan Daerah Kota;
16. Walikota/ Kepala Pemerintahan Daerah Kota;
17. DPRD Kota;
18. Majelis Pemusyawaratan Rakyat (MPR);
19. Dewan Perwakilan Rakyat;
9

Ibid., hal. 14

20. Komisi Pemilihan Umum yang bersifat nasional tetap dan mandiri, yang diatur
lebih lanjut dengan undang undang;
21. Bank Sentral yang susunan, kedudukan, kewenangan, tanggung jawab dan
independensinya diatur lebih lanjut dengan undang undang;
22. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK);
23. Mahkamah Agung (MA);
24. Mahkamah Konstitusi (MK);
25. Komisi Yudisial (KY);
26. Tentara Nasional Indonesia (TNI);
27. Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI);
28. Angkatan Darat (AD);
29. Angkatan Laut (AL);
30. Angkatan Udara (AU);
31. Satuan Pemerintah daerah yang bersifat khusus atau istimewa;
32. Badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman seperti
Kejaksaan Agung, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Komisi Nasional Hak
Asasi Manusia (Komnas HAM) dan sebagainya;
33. Kesatuan masyarakat hukum adat.
Oleh karena perubahan-perubahan sistem ketatanegaraan yang tidak menentu,
maka dibentuklah lembaga baru yaitu Mahkamah Konstitusi. Kehadiran Mahkamah
Konstitusi sebagai lembaga baru di bidang kekuasaan Kehakiman merupakan salah
satu perkembangan mutakhir ketatanegaraan Indonesia.

Mahkamah Konstitusi sebagai salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman


yang berfungsi menangani perkara tertentu di bidang ketatanegaraan yang
dimaksudkan untuk menjaga konstitusi agar dilaksanakan secara bertanggung jawab
sesuai dengan kehendak rakyat dan cita-cita demokrasi.
Hal ini tercantum dalam perubahan konstitusi, khususnya Pasal 24C ayat (1)
UUD 1945:
Mahkamah Konstitusi yang berwenang mengadili pada tingkat pertama dan
terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang
terhadap Undang Undang Dasar, memutus pembubaran partai politik, dan
memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum. 10

Fungsi Mahkamah Konstitusi tersebut sebagai salah satu bentuk Judicial


Control dalam kerangka sistem check and balances diantara cabang-cabang
kekuasaan pemerintahan

11

yang pada hakikatnya mengawal supaya konstitusi

dijalankan dengan konsisten (the guardian of constitutions) dan menafsirkan


konstitusi atau UUD (the interpreter of constitutions).
Berdasarkan ketentuan Pasal 24C Ayat (3) Perubahan Ketiga UUD 1945 bahwa;
Mahkamah Konstitusi mempunyai sembilan orang anggota hakim konstitusi
yang ditetapkan oleh Presiden, yang diajukan masing-masing tiga orang oleh
Dewan Perwakilan Rakyat, dan tiga orang oleh Presiden. 12

Pengangkatan atau penetapan hakim konstitusi dilakukan oleh Presiden


dengan menerbitkan Keputusan Presiden, tetapi bukan berarti para hakim konstitusi
10

Pasal 24 C ayat (1) Perubahan Ketiga UUD 1945


Nurudin Hadi, Wewenang Mahkamah Konstitusi, Prestasi Pustaka PUB, Jakarta,
2007, hal.xi
12
Ikhsan Rosyada P.D, Mahkamah Konstitusi: Memahamai Keberadaannya dalam
Sistem Ketatanegaraan Indonesia, Rineka Cipta, Jakarta, 2006, hal.20
11

berada di bawah Presiden, melainkan dipandang sebagai salah satu tugas Presiden
dalam kapasitasnya selaku kepala negara. 13
Secara konsepsional ada empat pokok pikiran yang menjadi landasan
Mahkamah Konstitusi dalam kerangka amandemen UUD 1945, antara lain:
Penegasan dianutnya cita demokrasi dan nomokrasi secara saling melengkapi;
Pemisahan kekuasaan dan prinsip checks and balances; Pemurnian sistem
Presidensial; dan Penguatan cita persatuan keragaman dalam wadah Negara
Kesatuan Republik Indonesia. 14
Jika kita melihat perkembangan sistem presidensial Indonesia yang dianut
pada masa sebelum perubahan UUD 1945 terjadi pemusatan kekuasaan negara
kepada satu lembaga yaitu Lembaga Kepresidenan dan Presiden tidak bertanggung
jawab langsung kepada DPR. Pada masa ini pejabat-pejabat negara yang diangkat
cenderung dimanfaatkan untuk loyal dan mendukung kelangsungan kekuasaan
kekuasaan presiden. Oleh karena hal tersebut, maka kekuasaan Presiden sebagai
kepala negara tidak tak terbatas ditutupi oleh kekuasaan tertinggi negara yaitu di
tangan DPR (Dewan Perwakilan Rakyat).
Namun sistem presidensial pada masa tersebut berdampak positif bagi
kelangsungan kinerja pemerintahan karena Presiden dapat mengendalikan seluruh
penyelenggaraan pemerintahan karena konflik dan pertentangan antar pejabat negara
dapat dihindari.
13

Ibid., hal.21
Jimly Assidiqie, dalam Firdaus, Pertanggungjawaban Presiden Dalam Negara
Hukum Demokrasi, Bandung Yrama Wijaya, 2007, hal.2
14

Sebelum Perubahan UUD 1945, lembaga kepresidenan merupakan salah satu


lembaga negara yang dominan karena memiliki kekuasaan yang besar. Atas dasar
itulah Nimatul Huda menyebutkan bahwa UUD 1945 biasa disebut executive heavy,
menurut istilah Soepomo : concentration of power and responsibility upon the
president. 15
Dalam sejarah perjalanan Lembaga Kepresidenan (presidential institution)
sebagai penyelenggaraan negara Indonesia dimana pada awal kemerdekaan
penyelenggaraan negara Indonesia dimana pada awal kemerdekaan penyelenggaraan
pemerintahan berdasarkan UUD 1945 telah menganut sistem presidensial. Hal ini
dapat dilihat dari kedudukan Presiden yang memegang kekuasaan sebagai Kepala
Pemerintahan dan juga sebagai Kepala Negara, sebagaimana yang terdapat dalam
Pasal 4 ayat (1) Undang Undang Dasar 1945 bahwa Presiden memegang kekuasaan
pemerintahan menurut Undang Undang Dasar artinya Presiden dalam menjalankan
roda pemerintahannya dibantu oleh wakil presiden dan menteri-menterinya
(kabinet). 16
Menteri-menteri itu diangkat dan diberhentikan oleh Presiden, menterimenteri itu memimpin departemen pemerintahan. Walaupun demikian sebagaimana
yang diatur dalam UUD 1945, Presiden dalam menggunakan kewenangannya

15

Ibid., hal.3
Bagir Manan, Lembaga Kepresidenan, Yogyakarta, Gama Media-Pusat Studi
Hukum Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, 1999, hal.20
16

haruslah berjalan dengan baik dengan menjalin hubungan antar lembaga-lembaga


yang lain termasuk juga lembaga pemerintahan yaitu Kejaksaan. 17
Dalam sistem ketatanegaran Indonesia, menurut Pasal 24 ayat 3 UUD 1945
amandemen ke-4 disebutkan bahwa badan-badan lain yang fungsinya berkaitan
dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam undang-undang. Ketentuan tentang
badan-badan lain tersebut dipertegas dalam Pasal 41 UU No.4 Tahun 2004 Tentang
Kekuasaan Kehakiman. Dengan ketentuan dasar tersebut, kejaksaan berfungsi
sebagai aparat penegak hukum yang melaksanakan tugasnya dan mewujudkan
supremasi hukum dalam suatu negara hukum (rechstaat). 18
Dari latar belakang sistem ketatanegaraan Indonesia di atas, menimbulkan
dampak terhadap hubungan antar lembaga yang tersebut di atas, Mahkamah
Konstitusi

telah

mengeluarkan

putusan

Nomor

49/PUU-VIII/2010

melalui

permohonan yang diajukan oleh Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra dengan materi Pasal
22 ayat (1) huruf d Undang Undang Nomor 16 Tahun 2004, bahwa Jaksa Agung
sebagai Pejabat Negara ( yang pada masa itu diduduki oleh Hendarman Supandji
S.H., CN,) seharusnya diberhentikan dengan hormat dari jabatannya oleh Presiden
berdasarkan kondisi yang pasti, yaitu, jika ia meninggal dunia, atas permintaan
sendiri, atau karena sakit jasmani dan rohani terus-menerus, namun demikian tentang
kapan berakhir masa jabatannya merupakan kondisi yang tidak menentu. 19
17

Ibid., hal.2
Marwan Effendy, Kejaksaan RI, Posisi dan Fungsinya dari Perspektif Hukum,
Jakarta, Gramedia, 2009, hal. 19
19
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 49/PUU-VIII/2010 hal. 18
18

Hal itu menimbulkan perbedaan pendapat dengan para ahli, bahwa jika Jaksa
Agung yang diangkat dalam jabatan politik setingkat Menteri maka masa jabatannya
harus sudah berakhir bersamaan dengan masa jabatan Presiden yang mengangkatnya,
sedangkan apabila Jaksa Agung diangkat berdasarkan karirnya sebagai Jaksa maka
masa tugasnya harus berakhir pada saat mencapai usia pensiun. 20
Ada juga yang berpendapat bahwa jika masa bakti Jaksa Agung yang dilantik
bersamaan dengan Kabinet Indonesia Bersatu (periode 2004-2009, yang dikenal
dengan KIB I) telah berakhir pada tanggal 20 Oktober 2009 maka bersamaan
berakhirnya masa pemerintahan (yang pada saat itu diduduki oleh Susilo BAmbang
Yudhoyono sebagai Presiden dan Wakil Presiden Jusuf Kalla) telah berakhir pula
masa jabatan Jaksa Agung. 21
Berangkat dari perbedaan pendapat tersebut, kedudukan Kejaksaan sebagai
non Departemen maka Jaksa Agung dimasukkan menjadi anggota kabinet dengan
kedudukan setingkat menteri negara sesuai dengan masa jabatan Presiden. Dengan
demikian Jaksa Agung diangkat dan diberhentikan oleh Presiden sesuai dengan Pasal
19 ayat (2) UU No. 16 Tahun 2004. 22
Sebagai rujukan, bahwa berdasarkan Keppres Nomor 83/P Tahun 2009, yang
telah membubarkan Kabinet Indonesia Bersatu yang dibentuk berdasarkan Keputusan
Presiden Republik Indonesia Periode 2004-2009 pada tanggal 20 Oktober 2009, maka
berakhir pula masa jabatan Hendarman Supandji selaku Jaksa Agung dengan
20

Ibid., hal. 19
Ibid., hal.20
22
Ibid., hal.3
21

kedudukan setingkat Menteri Negara berdasarkan Keppres Nomor 31/P Tahun


2007. 23

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang terdapat latar belakang, penulis berpendapat bahwa
studi Hubungan Jaksa Agung dan Presiden dalam Ketatanegaraan Indonesia menjadi
perhatian para ahli hukum, khususnya hukum tata negara. Hal ini disebabkan Pejabat
Negara setingkat menteri diangkat dan diberhentikan oleh Presiden yang secara
otomatis berakhir masa jabatannya sesuai dengan masa jabatan Presiden, namun
belum ada undang undang yang mengatur hal tersebut.
Maka penulis melakukan suatu penelitian, yang pada hakekatnya setiap
permasalahan yang akan diteliti berkaitan dengan latar belakang dapat dikemukakan
sebagai berikut:
1. Bagaimanakah sejarah perkembangan institusi Kejaksaan di Indonesia?
2. Bagaimana hubungan kelembagaan Presiden dan Kejaksaan?
3. Bagaimana dampak Implementasi Kewenangan Presiden dalam mengangkat dan
memberhentikan Jaksa Agung dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor
49/PUU-VIII/2010 ?

23

Ibid., hal.18

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan


1. Tujuan Penulisan
Adapun yang menjadi tujuan penulisan skripsi ini dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui sejarah institusi Kejaksaan Republik Indonesia
b. Untuk mengetahui hubungan kelembagaan antara Mahkamah Konstitusi,
Presiden dan Kejaksaan
c. Untuk mengetahui dampak implementasi kewenangan Presiden tersebut
sesuai dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 49/PUU-VIII/2010

2. Manfaat Penulisan
a. Secara Teoritis
Secara teoritis, pembahasan terhadap hubungan kelembagaan negara
khususnya Jaksa Agung dan Presideen yang dikaji melalui amar Putusan Mahkamah
Konstitusi Nomor 49/PUU-VIII/2010 mengenai pengangkatan dan pemberhentian
Jaksa Agung oleh Presiden. Jadi secara teoritis manfaat penulisan skripsi ini adalah
untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, menambah dan melengkapi
perbendaharaan dan koleksi karya ilmiah serta memberikan kontribusi pemikiran
yang menyoroti dan membahas kekuasaan Presiden sebagai lembaga pemerintahan
serta hubungannya dengan lembaga-lembaga pemerintahan lainnya.

b. Secara Praktis
Hasil penulisan ini semoga bermanfaat bagi semua orang, terutama untuk
peminat pada perkuliahan di Fakultas Hukum khususnya Hukum Tata Negara dan
untuk sumbang pemikiran ilmiah hukum positif di Indonesia. Hal ini tidak terlepas
dari penempatan hukum tata negara sebagai unsure terpenting dalam sistem hukum
Indonesia, dimana salah satu ciri dari negara yang demokratis dengan menjunjung
tinggi supremasi hukum (supremacy of law). Penulisan ini diharapkan mampu
menggambarkan hubungan kelembagaan pemerintahan khususnya Presiden dan Jaksa
Agung terhadap Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 49/PUU-VIII/2010.

D. Tinjauan Kepustakaan
Adapun definisi negara menurut para ahli adalah sebagai berikut; Menurut
Aristoteles, Negara adalah persekutuan dari pada keluarga 24 dan desa guna
memperoleh hidup yang sebaik-baiknya; Menurut Jean Bodin, Negara adalah suatu
persekutuan dari pada keluarga dan keluarga dengan segala kepentingannya yang
dipimpin oleh akal dari suatu kuasa yang berdaulat. 25
Menurut Hugo de Groot, Negara adalah suatu persekutuan yang sempurna
dari orang-orang yang merdeka untuk memperoleh perlindungan hukum. 26

24

Inu Kencana Syafiie, Sistem Pemerintahan Indonesia, Refika Aditama, Jakarta.


2005, hal. 15
25
Ibid.,
26
Ibid.,

Menurut Bluntschil, Negara adalah suatu diri rakyat yang disusun dalam suatu
organisasi politik di suatu daerah tertentu. 27
Menurut Hans Kelsen, Negara adalah suatu susunan pergaulan hidup bersama
dengan tata paksa. 28
Menurut Prof. Sumantri, Negara adalah suatu organisasi kekuasaan oleh
karenanya dalam setiap organisasi yang bernama Negara selalu kita jumpai adanya
organ atau alat perlengkapan yang mempunyai kemampuan untuk memaksakan
kehendaknya kepada siapapun juga yang bertempat tinggal di dalam wilayah
kekuasaannya. 29
Menurut Leon Duguit, Negara adalah kekuasaan orang-orang yang kuat, yang
memerintah orang-orang yang lemah dan kekuasaan orang-orang yang kuat tersebut
diperoleh karena faktor-faktor publik. 30
Menurut Herman Finer, Negara adalah organisasi kewilayahan yang bergerak
di bidang kemasyarakatan dan kepentingan perseorangan dari segenap kehidupan
yang multidimensional untuk pengawasan pemerintahan dengan legalitas kekuasaan
tertinggi (kedaulatan yang sah). 31
Pemerintahan adalah suatu ilmu dan seni. Dikatakan sebagai seni karena
berapa banyak pemimpin pemerintahan yang tanpa pendidikan pemerintahan mampu
berperan serta dengan kharismatik menjalankan roda pemerintahan. Sedangkan
27

Ibid.,
Ibid.,
29
J.C.T. Simorangkir, Kamus Hukum, Jakarta, Sinar Grafika, 1998, hal. 123
30
Ibid.,
31
Ibid.,
28

dikatakan sebagai suatu disiplin ilmu pengetahuan adalah karena memenuhi syaratsyaratnya yaitu dapat dipelajari dan diajarkan, memiliki objek, baik objek material
maupun formal, universal sifatnya, sistematis secara spesifik (khas). 32
Adapun ilmu pemerintahan menurut para ahli adalah sebagai berikut; Menurut
D.G.A van Poelje De bestuurskunde leert, hoe men de openbare dienst het beste
inricht en leidt, maksudnya adalah ilmu pemerintahan mengajarkan bagaimana
dinas umum disusun dan dipimpin dengan sebaik-baiknya. 33
Menurut U. Rosenthal De bestuurwetenschap is de wetenschap die zich
uitsluitend bezighoudt met de studie van interneen externe werking van de structuren
en prosessen, maksudnya ilmu pemerintahan adalah ilmu yang menggeluti studi
tentang penunjukkan cara kerja ke dalam dan keluar struktur dan proses pemerintahan
umum. 34
Menurut H.A. Briasc: De bestuurwetenschap waaronder het verstaat de
wetenschap die zich bezighoudt met de wijze waarop de openbare dienst is ingericht
en functioneert, intern en naar buiten tegenover de burgers, maksudnya ilmu
pemerintahan dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang cara bagaimana
lembaga pemerintahan umum itu disusun dan difungsikan baik secara ke dalam
maupun ke luar terhadap warganya. Maksudnya pemerintah dalam definisi terbaiknya

32

Inu Kencana Syafie, Sistem Pemerintahan Indonesia Jakarta, Refika Aditama,


2005, hal.11
33
Ibid., hal. 12
34
Ibid.,

adalah sebagai organisasi dari negara, yang memperlihatkan dan menjalankan


kekuasaannya. 35
Menurut C.F. Strong: Government in the broader sense, is changed with the
maintenance of the peace and security of state with in and with out. It must therefore,
have first military poweror the control of armed forces, secondly legislative power or
the means of making laws, thirdly financial power or the ability to extract sufficient
money from the community to defray the cost of defending of state and of enforcing
the law it makes on the states behalf. Maksudnya adalah pemerintahan dalam arti
luas mempunyai kewenangan untuk memelihara keamanan dan kedamaian negara, ke
dalam dan ke luar. Oleh karena itu pertama harus mempunyai kekuatan militer atau
kemampuan untuk mengendalikan angkatan perang, yang kedua harus mempunyai
kekuatan legislatif atau dalam arti pembuatan undang-undang, yang ketiga harus
mempunyai kekuatan financial atau kemampuan untuk mencukupi keuangan
masyarakat

dalam

menyelenggarakan

rangka
peraturan,

membiayai
hal

ongkos

tersebut

keberadaan

dalam

rangka

negara

dalam

penyelenggaraan

kepentingan negara. 36
Menurut R. Mac. Iver Government is the organization of men under
authorityhow men can be governed, maksudnya pemerintahan itu adalah sebagai
suatu organisasi dari orang-orang yang mempunyai kekuasaan bagaimana manusia itu

35
36

Ibid.,
Ibid., hal.13

bisa diperintah. Jadi bagi Mac Iver ilmu pemerintahan sebuah ilmu tentang
bagaimana manusia-manusia dapat diperintah (a science of how men are governed). 37
Menurut Wilson, Government in last analysis, is organized armed force, but
two of a few men, of many men, or of a community prepared by organization to
realize its own purpose with references to the common affairs or the community,
artinya bahwa Pemerintah dalam akhir uraiannya adalah suatu pengorganisasian
kekuaatan angkatan bersenjata, tetapi dua atau kelompok orang yang dipersiapkan
oleh suatu organisasi untuk mewujudkan maksud-maksud bersama mereka, dengan
hal-hal yang memberikan keterangan bagi urusan-urusan umum kemasyarakatan. 38
Menurut Apter, Government is the most generalized membership unit
possessing (a) defined responsibilities for maintenance of the system of which it is a
part and (b) a practical monopoly of coercive power, bahwa Pemerintah itu
merupakan satuan anggota yang paling umum yang memiliki (a) tanggung jawab
tertentu untuk mempertahankan sistem yang mencakupnya, itulah bagian dan (b)
monopoli praktis mengenai kekuasaan paksaan. 39
Menurut Merriam, tujuan pemerintah meliputi external security, internal
order, justice, general welfare dan freedom, maksudnya bahwa ilmu pemerintahan
adalah

ilmu

yang

mempelajari

bagaimana

menyeimbangkan

pelaksanaan

kepengurusan (eksekutif), pengaturan (legislatif), kepemimpinan dan koordinasi

37

Ibid., hal. 14
Ibid., hal. 15
39
Ibid.,
38

pemerintahan (baik pusat dengan daerah, maupun rakyat dengan pemerintahannya)


dalam berbagai peristiwa dan gejala pemerintahan, secara baik dan benar. 40
Presiden dalam kamus bahasa Indonesia dipergunakan dalam dua arti yaitu
lingkungan jabatan (ambt) dan pejabat (ambtsdarager). Dalam bahasa asing, seperti
bahasa Inggris, dipergunakan istilah yang berbeda. Untuk lingkungan jabatan
dipergunakan istilah presidency atau kalau sebagai ajektif presidential seperti
presidential government. Sebagai pejabat digunakan istilah president. Untuk
menghindari kerancuan pemakaian dua pengertian tersebut, penulisan skripsi ini
mempergunakan istilah lembaga kepresidenan sebagai lingkungan jabatan dan
presiden sebagai pejabat. 41
Dalam sistem pemerintahan Republik Indonesia jabatan kepala negara dan
kepala pemerintahannya hanyalah dijabat oleh satu orang yang sama yaitu Presiden.
Di dalam suatu negara pada umumnya kepala negara adalah symbol dari suatu
negara, sedangkan kepala pemerintahan yang menjalankan kekuasaan eksekutif.
Berdasarkan Pasal 1 ayat 1 UUD 1945, Negara Indonesia adalah negara kesatuan
yang berbentuk republic. Selain bentuk negara kesatuan dan bentuk pemerintahan
republic, Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan sebagai kepala negara
sekaligus kepala pemerintahan. Hal itu didasarkan pada Pasal 4 ayat 1 yang berbunyi,

40
41

Inu Kencana Syafiie, op.cit. hal.14


Bagir Manan, Lembaga Kepresidenan, op.cit. hal.15

Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang


Undang Dasar. 42
Secara umum kewenangan Presiden berdasarkan UUD 1945 terbagi atas
beberapa kewenangan seperti: (a) kewenangan yang bersifat eksekutif atau
kewenangan dalam penyelenggaraan pemerintahan berdasarkan undang undang
dasar; (b) kewenangan yang bersifat legislatif atau kewenangan untuk mengatur
kepentingan; (c) kewenangan yang bersifat judicial dalam rangka pemulihan keadilan
yang terkait dengan putusan pengadilan, yaitu untuk mengurangi masa hukuman,
pengampunan ataupun menghapuskan tuntutan yang terkait dengan kewenangan
pengadilan; (d) kewenangan yang bersifat diplomatik yaitu kewenangan dalam
menjalin hubungan dengan negara lain atau subjek hukum internasional yang lainnya
dalam konteks hubungan luar negeri, baik dalam keadaan perang atau damai; (e)
kewenangan bersifat administratif. 43
Ciri-ciri dari sistem pemerintahan presidensial adalah sebagai berikut 44;
a. Penyelenggara negara berada di tangan presiden. Presiden adalah kepala negara
sekaligus kepala pemerintahan. Presiden tidak dipilih oleh parlemen, tetapi dipilih
langsung oleh rakyat atau suatu dewan majelis.
b. Kabinet (dewan menteri) dibentuk oleh Presiden. Kabinet bertanggung jawab
kepada Presiden dan tidak bertanggung jawab kepada parlemen atau legislatif.

42

http://arwan black74.blogspot.com, terakhir diakses tanggal 14 Februari 2013


Ibid.,
44
Ibid.,
43

c. Presiden tidak bertanggung jawab kepada parlemen. Hal itu dikarenakan presiden
tidak dipilih oleh parlemen.
d. Presiden tidak dapat membubarkan parlemen seperti pada sistem parlementer.
e. Parlemen memiliki kekuasaan legislatif dan sebagai lembaga perwakilan.
Anggota parlemen dipilih oleh rakyat.
f. Presiden tidak berada di bawah pengawasan langsung parlemen.

Adapun kelebihan Sistem Pemerintahan Presidensial antara lain 45;


A. Badan eksekutif lebih stabil kedudukannya karena tidak tergantung pada
parlemen.
B. Masa jabatan badan eksekutif lebih jelas dengan jangka waktu tertentu. Misalnya,
masa jabatan Presiden Amerika Serikat adalah empat tahun, Presiden Indonesia
adalah lima tahun.
C. Penyusunan program kerja kabinet mudah disesuaikan dengan jangka waktu masa
jabatannya.
D. Legislatif bukan tempat kaderisasi untuk jabatan-jabatan eksekutif karena dapat
diisi oleh orang luar termasuk anggota parlemen sendiri.

45

Ibid.,

Namun adapun kekurangan Sistem Pemerintahan Presidensial antara lain 46;


a. Kekuasaan eksekutif di luar pengawasan langsung legislatif sehingga dapat
menciptakan kekuasaan mutlak.
b. Sistem pertanggungjawaban kurang jelas.
c. Pembuatan keputusan atau kebijakan publik umumnya hasil tawar menawar
antara eksekutif dan legislatif sehingga dapat terjadi keputusan tidak tegas dan
memakan waktu yang lama.
Istilah konstitusi berasal dari bahasa Prancis (constituer) yang berarti
membentuk. Pemakaian istilah konstitusi yang dimaksud adalah pembentukan suatu
negara atau menyusun dan menyatakan suatu negara. 47 Selain istilah konstitusi
dikenal pula istilah konstitusional dan konstitusionalisme. Secara etimologis
antara ketiga kata tersebut ini maknanya sama, namun penggunaan atau penerapan
katanya berbeda. Konstitusi adalah segala ketentuan dan aturan mengenai
ketatanegaraan (Undang Undang Dasar, dsb), atau undang undang dasar suatu negara.
Dengan kata lain, segala tindakan atau perilaku sesorang maupun penguasa berupa
kebijakan yang tidak didasarkan atau menyimpang dari konstitusi, berarti tindakan
(kebijakan) tersebut adalah tidak konstitusional. 48

46

Ibid.,
Nimatul Huda, Teori dan Hukum Konstitusi, Jakarta, Edisi Revisi, Rajawali Press,
2003, hal.7
48
Ibid.,
47

K. C. Wheare menulis, bahwa istilah konstitusi yang dipakai untuk menyebut


sekumpulan prinsip fundamental pemerintahan, baru dimulai digunakan ketika
bangsa Amerika mendeklarasikan konstitusinya, pada tahun 1787. 49
Wirjono Prodjodikoro berpendapat bahwa istilah konstitusi berasal dari kata
kerja costituer (bahasa Perancis) yang berarti membentuk suatu negara. Sehingga
konstitusi mengandung permulaan dari segala peraturan mengenai suatu negara,
dengan demikian suatu konstitusi memuat suatu peraturan pokok (fundamental)
mengenai pertama untuk menegakkan bangunan besar, yaitu negara. 50
Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim berpendapat bahwa Konstitusi yang
berasal dari istilah constitution (bhs. Inggris dan Perancis), constitution (bahasa
Latin) atau Verfasung (Bahasa Belanda) memiliki perbedaan dari undang undang
dasar atau Grundgesetz. Jika ada kesamaan, itu merupakan kekhilafan pandangan di
negara-negara modern. Kekhilafan tersebut disebabkan oleh pengarus paham
kodifikasi yang mengkehendaki setiap peraturan harus tertulis, demi mencapai
kesatuan hukum, kesadaran hukum dan kepastian hukum. 51

49

Wheare, K.C., Konstitusi Konstitusi Modern, Surabaya, Terj. Muhammad Hardani


Penerbit Uereka, 2003, hal.4
50
Titik Triwulan Tutik, Konstruksi Hukum Tata Negara Indonesia Pasca
Amandemen UUD 1945, Jakarta, Prenada Media Group, 2010, Hal. 87
51
Ibid., hal.88

Sehubungan dengan istilah konstitusi tersebut para sarjana dan ilmuan Hukum
Tata Negara terjadi perbedaan pendapat:
1. Kelompok yang mempersamakan konstitusi dengan UUD, antara lain;
G.J. Wolhaff berpendapat bahwa kebanyakan negara-negara modern adalah
berdasarkan atas suatu UUD (konstitusi). Sementara itu Sri Sumantri menggunakan
istilah konstitusi sama dengan UUD (grondwet) dan J.C.T. Simorangkir menganggap
bahwa konstitusi adalah sama dengan UUD.

2. Kelompok yang membedakan konstitusi dengan UUD, antara lain;


van Apeldoorn, bahwa UUD adalah bagian tertulis dari konstitusi. Konstitusi
memuat baik peraturan tertulis maupun yang tidak tertulis; M Solly Lubis, akhirnya
jika kita lukiskanpembagian konstitusi itu dalam suatu skema, maka terdapatlah
skema sebagai konstitusi tertulis (UUD) dan konstitusi tidak tertulis (konvensi);
Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim berpendapat bahwa setiap peraturan hukum,
karena pentingnya harus ditulis dan kontitusi yang ditulis itu adalah UUD. 52
Pengertian Kejaksaan menurut Undang Undang Nomor 15 Tahun 1961
Tentang Ketentuan Pokok Kejaksaan pada Pasal 1 ayat 1 (1) ialah : Kejaksaan
Republik Indonesia selanjutnya disebut Kejaksaan, ialah Alat Negara Penegak
Hukum yang terutama bertugas sebagai Penuntut Umum.
Secara etimologi bahasa, Jaksa berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu
Adhyaksa. Kata tersebut dari yang dapat diartikan dalam berbagai arti, seperti:
52

Ibid,. hal. 89.

Superintendant atau superintendence (Mr. Susanto Kartoatmodjo, dalam Varia


Perailan No.2 Tahun I) berfungi sebagai Pengawasan dalam urusan kependetaan, baik
agama Budha maupun Syiwa dan mengepalai kuil-kuil yang didirikan di sekitar
istana. Disamping itu juga bertugas sebagai Hakim dan demikian ia berada di bawah
perintah serta pengawasan Maha Patih (Dr. W.F. Stutterheim, Het Hindoisme in de
Archipel). Adhyaksa sebagai opperechter-nya (Geireke dan Roorda, kamus Jawa
Belanda, dikutip dari Susanto Kartoatmodjo). 53
Adhyaksa sebagai Rechter vab instuctie bijde Landraad, yang kalau
dihubungkan dengan jabatan dalam dunia modern sekarang dapat disejajarkan dengan
Hakim Komisaris (Dr. Th Pigeaud Kamus Jawa Modern Belanda, dikutip dari
Mr. Susanto Kartoatmodjo). 54
Dalam hal kedudukan kejaksaan dalam sistem ketatanegaraan Indonesia,
merupakan satu-satunya lembaga pemerintah pelaksana kekuasaan negara yang
mempunyai tugas dan wewenang di bidang penuntutan dalam penegakan hukum dan
keadilan di lingkungan peradilan umum. 55

53

Djoko Prakoso, Mengenal Lembaga Kejaksaan di Indonesia, Jakarta, PT. Bina


Aksara, 1987, hal 16.
54
Ibid.,
55
A.A. Oka Mahendra, Undang Undang Kejaksaan Republik Indonesia dalam
Memantapkan Kedudukan dan Perananan Kejaksaan, Jakarta, Pustaka Sinar
Harapan, 1993, hal.38

Dalam Pasal 8 ayat (1) Undang Undang Kejaksaan Nomor 5 Tahun 1991
ditentukan bahwa Jaksa adalah pejabat fungsional yang diangkat dan diberhentikan
oleh Jaksa Agung. 56
Penjelasan pasal tersebut menguraikan bahwa jabatan Jaksa sebagai jabatan
fungsional, terkait dengan fungsi yang secara khusus dijalankan oleh Jaksa dalam
bidang penuntutan sehingga memungkinkan organisasi Kejaksaan menjalankan tugas
pokoknya. 57
Ditentukan

Jaksa

adalah

pejabat

fungsional

dimaksudkan

untuk

memungkinkan terlaksananya tugas dan wewenang Kejaksaan dengan lebih baik dan
untuk lebih mengembangkan profesionalisme Jaksa. Dengan adanya jabatan
fungsional memungkinkan Jaksa berdasarkan prestasinya mencapai pangkat puncak.
Dan sebaliknya Jaksa yang tidak cakap menjalankan tugas misalnya banyak
melakukan kesalahan besar dalam menjalan tugasnya diberhentikan dengan hormat
dari jabatannya sesuai dengan ketentuan Pasal 12 huruf a Undang Undang Kejaksaan
Nomor 5 Tahun 1991. Atau bila seorang Jaksa terus menerus melalaikan
kewajibannya dalam menjalan tugas/pekerjaannya maka menurut Pasal 13 huruf b
UU No. 5 Tahun 1991, ia diberhentikan tidak dengan hormat dari jabatannya. 58

56

Ibid., hal. 39
Ibid.,
58
Ibid.,
57

E. Keaslian Penulisan
Sepanjang pengetahuan Penulis, HUBUNGAN JAKSA AGUNG DAN
PRESIDEN DALAM KETATANEGARAAN INDONESIA yang diangkat menjadi
judul skripsi ini belum eprnah ditulis di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Topik permasalahan ini sengaja dipilih dan diulas oleh penulis karena sepengetahuan
penulis, topic permasalahan ini semakin menghangat pembahasannya dalam
amsyarakat.
Penulisan skripsi ini oleh penulis adalah berdasarkan hasil pemikiran penuli
sendiri. Skripsi ini belum pernah ada yang membuat,. Kalaupun sudah ada, penulis
yakin bahwasanya substansi pembahasannya adalah berbeda. Dalam skripsi ini,
penulis mencoba mengarahkan pembahasannya ke arah bagaimana hubungan
kelembagaan Presiden dengan Kejaksaan. Dengan demikian keaslian penulisan
skripsi ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

F. Metode Penulisan
Metode dapat diartikan sebagai jalan kea tau suatu jalan/cara untuk mencapai
sesuatu. Namun demikian, menurut kebiasaan,metode dfapat dirumuskan dengan
kemungkinan-kemungkinan sebagai berikut :
1. Suatu tipe pemikiran yang dipergunakan dalam penelitian dan penilaian
2. Suatu proses pelaksanaan
3. Suatu teknik yang umum bagi ilmu pengetahuan

Dalam pembahasan skripsi ini, metodologi penelitian hukum yang digunakan


penulis adalah sebagai berikut :
1. Spesifikasi Penelitian
Penulis menggunakan metode penelitian hukum normative. Dalam hal
penelitian hukum normative, penulis melakukan penelitian terhadap peraturan
perundang-undangan dan bahan hukum yang berhubungan dengan judul skripsi
penulis ini, yaitu HUBUNGAN JAKSA AGUNG DAN PRESIDEN DALAM
KETATANEGARAAN INDONESIA (Sudy Kasus Putusan Mahkamah Konstitusi
Nomor 49/PUU-VIII/2010).

2. Metode Pendekatan
Dalam menyelesaiakan penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode
pendekatan yuridis (Legal Approach) mengingat permasalahan-permasalahan yang
diteliti adalah kewenangan Presiden dalam mengangkat dan memberhentikan Jaksa
Agung maka penulis melakukan pendekatan terhadap Undang Undang Kejaksaan
Republik Indonesia dengan Keppres Nomor 84/P Tahun 2009 dalam Putusan
Mahkamah Konstitusi Nomor 49/PUU-VIII/2010). Sehingga dapat diketahui
hubungan kelembagaan negara tersebut.

3. Alat Pengumpul Data


Penguluan data yang diperlukan penulis yang berkaitan dengan penyelesaian
skripsi ini ditempuh melaluji cara penelitian kepustakaan (Library Research). Dalam

hal ini, penulis melakukan penelitian terhadap literature-literatur untuk memperoleh


bahan teoretis ilmiah yang dapat digunakan sebagai dasar analisis terhadap substansi
pembahasan dalam penulisan skripsi ini. Tujuan penelitian kepustakaan (Library
Research) ini adalah untuk memperoleh data sekunder yang meliputi peraturan
perundang-undangan, buku-buku, majalah, surat kabar, situs internet, maupun bahan
bacaan lainnya yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini.

4. Analisis Data
Data yang diperoleh dari penelitian kepustakaan (Library Research) akan
dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan metode induktif dan deduktif yang
berpedoman

kepada

bagaimana

implementasi

kewenangan

Presiden

dalam

mengangkat dan memberhentikan pejabat negara khususnya Jaksa Agung.


Analisis deskriptif artinya penulis semaksimal mungkin berupaya untuk
memaparkan data yang sebenarnya. Metode deduktif artinya berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku di Indonesia tentang kewenangan Presiden dalam
mengangkat dan memberhentikan pejabat negara khususnya Jaksa Agung.
Metode induktif artinya dari data-data khusus mengenai implementasi
kewenangan Presiden akan dapat ditarik kesimpulan umum yang akan digunakan
dalam pembahasan selanjutnya.

G. Sistematika Penulisan
Dalam menghasilkan karya ilmiah yang baik maka pembahasan harus
diuraikan secara sistematis. Oleh karena itu, untuk memudahkan pembahasan ini
maka diperlukan sistematika penulisan yang teratur, terbagi dalam bab/sub bab, serta
berkaitan satu dengan yang lain.
Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah :
BAB I : PENDAHULUAN, yang merupakan pengantar yang di dalamnya terurai
mengenai Latar Belakang penulisan skripsi, Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat
Penulisan, Tinjauan Pustaka, Keaslian, Metode Penelitian, dan kemudian diakhiri
dengan Sistematika Penulisan.

BAB II : KEDUDUKAN PRESIDEN DALAM SISTEM KETATANEGARAAN


INDONESIA, yang didalamnya meliputi tentang Sistem Pemerintahan Indonesia,
Tugas dan Wewenang Presiden dan Presiden sebagai Kepala Negara sekaligus
Kepala Pemerintahan.

BAB III : JAKSA AGUNG SEBAGAI PEJABAT NEGARA, yang didalamnya


terurai tentang Sejarah Kejaksaan Indonesia, Susunan Organisasi Kejaksaan RI,
Wewenang Jaksa Agung dan Syarat Menjadi Jaksa Agung.
BAB IV : IMPLEMENTASI PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR
49/PUU-VIII/2010 yang menguraikan Penetapan Masa jabatan Jaksa Agung dalam
Jabatan Pejabat Negara, Kedudukan Institusi Kejaskaan dalam Penyelenggaraan

Kekuasaan Negara dan Implementasi Mahkamah Konstitusi Indonesia Nomor


49/PUU-VIII/2010.

BAB V :

PENUTUP yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran-Saran.