Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

GENETIKA
PERSILANGAN MONOHIBRID PADA TANAMAN KACANG
PANJANG

Oleh :
Kelompok I
Utami Amardi Putri (12308144002)
Martha Lina (12308144008)
Wahyu Nuryadi H (12308144018)
Hilman Muannis (12308144027)

Biologi (E) 2012


JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2014

A. Judul
Persilangan monohibrid pada tanaman kacang panjang
B. Latar Belakang
Persilangan merupakan upaya memperbesar keragaman genetik dengan memadukan
sifat tetua untuk mendapatkan varietas unggul. Persilangan adalah salah satu cara
memperbesar keragaman genetik melalui perpaduan sifat tetua untuk mendapatkan suatu
varietas baru yang diharapkan (Hidayat.1989). Hukum I Mendel atau Hukum Pemisahan Gen
yang sealel diperoleh dari hasil perkawinan monohibrid, yaitu persilangan dengan satu sifat
beda. Mendel melakukan persilangan antara tanaman ercis batang tinggi dengan tanaman
ercis batang kerdil. (Suryo, 10: 2102)
Pada Persilangan monohibrid, diharapkan keturunan pertamanya (generasi F1) akan
memiliki sifat dengan salah satu tetua jika sifat tersebut dipengaruhi oleh alel dominan dan
resesif serta tidak ada tautan seperti yang ditemukan Mendel pada tanaman kapri (Pisum
sativum).

Mendel menggunakan tanaman kapri karena mudah dipelihara, dapat

menghasilkan banyak biji (banyak keturunan), mempunyai sifat-sifat yang dapat dibedakan
antar varietas, dapat diperbanyak secara selfing atau disilangkan, dan mudah tumbuh di
daerah tempat tinggal Mendel. Sebagai tanaman model untuk menunjukkan hasil persilangan
monohibrid di daerah tropis seperti Indonesia dapat digunakan tanaman kacang panjang
dengan alasan yang sama dengan Mendel dan mudah tumbuh di daerah tropis. Kacang
panjang digunakan sebagai tanaman model pengganti kapri karena lebih mudah tumbuh di
Indonesia, dapat menghasilkan banyak biji, mempunyai beberapa sifat yang membedakan
antar varietas dan dapat disilangkan. Tanaman kacang panjang juga termasuk famili yang
sama dengan kapri sehingga mempunyai struktur bunga yang serupa.

Klasifikasi Kacang Panjang :


Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Fabales
Famili: Fabaceae (suku polong-polongan)
Genus: Vigna
Spesies: Vigna unguiculata
Sub Species : sesquipedalis
(Sumber : www.plantamor.com)
Tahap Hibridisasi
Menurut Nasir (2001) hibridisasi terdiri dari beberapa tahap diantaranya :
1. Persiapan
Persiapan untuk melakukan kastrasi dan penyerbukan silang meliputi penyediaan
alat-alat antara lain : pisau kecil yang tajam, pinset dengan ujung yang runcing, jarum
yang panjang dan lurus, alkohol (75-85%) atau spiritus dalam botol kecil untuk
mensterilkan alat-alat tersebut, wadah untuk tempat benang sari, sikat kecil untuk
mengeluarkan serbuk sari dari benang sari, kuas untuk meletakkan serbuk sari di atas
kepala putik
Penutupan bunga sebelum dan sesudah penyerbukan dapat menggunakan
kantong dari kain, kelambu, kantong plastik yang telah diberi lubang-lubang kecil untuk
pernafasan (peredaran udara) atau isolatif, sesuai dengan ukuran bunga.
Perlengkapan lain yang perlu disediakan yakni label dari kertas yang tahan air,
selanjutnya label tersebut diberi nomor urut. Untuk keperluan penyerbukan silang antara
jenis-jenis tertentu sebaiknya kertas label mempunyai warna tertentu, misalnya untuk
persilangan A X B warna labelnya merah, untuk A X C warna labelnya putih, untuk D X
B warnanya hijau dan seterusnya dengan warna lain.
2. Kastrasi

Kastrasi adalah kegiatan membersihkan bagian tanaman yang ada di sekitar bunga
yang akan di emaskulasi dari kotoran, serangga, kuncup-kuncup bunga yang tidak
dipakai serta organ tanaman lain yang mengganggu kegiatan persilangan. Membuang
mahkota dan kelopak juga termasuk kegiatan kastrasi. Kastrasi umumnya menggunakan
gunting, pisau atau pinset.
3. Emaskulasi
Emaskulasi adalah kegiatan membuang alat kelamin jantan (stamen) pada tetua
betina, sebelum bunga mekar atau sebelum terjadi penyerbukan sendiri. Emaskulasi
terutama dilakukan pada tanaman berumah satu yang hermaprodit dan fertil. Cara
emaskulasi tergantung pada morfologi bunganya.
4. Isolasi
Isolasi dilakukan agar bunga yang telah diemaskulasi tidak terserbuki oleh serbuk
sari asing. Dengan demikian baik bunga jantan maupun betina harus dikerudungi dengan
kantung. Kantung bisa terbuat dari kertas tahan air, kain, plastik, selotipe dan lain-lain.
Ukuran kantung disesuaikan dengan ukuran bunga tanaman yang bersangkutan.
5. Penyerbukan
Penyerbukan buatan dilakukan antara tanaman yang berbeda genetiknya.
Pelaksanaannya terdiri dari pengumpulan polen (serbuk sari) yang viabel atau anter dari
tanaman tetua jantan yang sehat, kemudian menyerbukannya ke stigma tetua betina yang
telah dilakukan emaskulasi.
6. Pelabelan
Ukuran dan bentuk label berbeda-beda. Pada dasarnya label terbuat dari kertas
keras tahan air, atau plastik. Pada label antara lain tertulis informasi tentang: (1) Nomor
yang berhubungan dengan lapangan, (2) Waktu emaskulasi, (3) waktu penyerbukan, (4)
Nama tetua jantan dan betina, (5) Kode pemulia/penyilang.
7. Pendeteksian Keberhasilan Persilangan Buatan
Keberhasilan suatu persilangan buatan dapat dilihat kira-kira satu minggu setelah
dilakukan penyerbukan. Jika calon buah mulai membesar dan tidak rontok maka
kemungkinan telah terjadi pembuahan. Sebaliknya, jika calon buah tidak membesar atau
rontok maka kemungkinan telah terjadi kegagalan pembuahan.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hibridisasi

Internal :
Menurut Syukur (2009) factor internal yang mempengaruhi hibridisasi adalah :

Pemilihan Tetua
Ada lima kelompok sumber plasma nutfah yang dapat dijadikan tetua
persilangan yaitu: (a) varietas komersial, (b) galur-galur elit pemuliaan, (c) galurgalur pemuliaan dengan satu atau beberapa sifat superior, (d) spesies introduksi
tanaman dan (e) spesies liar. Peluang menghasilkan varietas unggul yang dituju
akan menjadi besar bila tetua yang digunakan merupakan varietas-varietas
komersial yang unggul yang sedang beredar, galur-galur murni tetua hibrida, dan
tetua-tetua varietas sintetik.
Waktu Tanaman Berbunga
Dalam melakukan persilangan harus diperhatikan: (1) penyesuaian waktu
berbunga. Waktu tanam tetua jantan dan betina harus diperhatikan supaya saat
anthesis dan reseptif waktunya bersamaan, (2) waktu emaskulasi dan penyerbukan.
Pada tetua betina waktu emaskulasi harus diperhatikan, seperti pada bunga kacang
tanah, padi harus pagi hari, bila melalui waktu tersebut polen telah jatuh ke stigma.
Juga waktu penyerbukan harus tepat ketika stigma reseptif. Jika antara waktu
antesis bunga jantan dan waktu reseptif bunga betina tidak bersamaan, maka perlu
dilakukan singkronisasi. Caranya dengan membedakan waktu penanaman antara
kedua tetua, sehingga nantinya kedua tetua akan siap dalam waktu yang bersamaan.
Untuk tujuan sinkronisasi ini diperlukan informasi tentang umur tanaman berbunga.

Eksternal
Menurut Syukur (2009) factor internal yang mempengaruhi hibridisasi adalah :
Pengetahuan tentang Organ Reproduksi dan Tipe Penyerbukan
Untuk dapat melakukan penyerbukan silang secara buatan, hal yang paling
mendasar dan yang paling penting diketahui adalah organ reproduksi dan tipe
penyerbukan. Dengan mengetahui organ reproduksi, kita dapat menduga tipe
penyerbukannya, apakah tanaman tersebut menyerbuk silang atau menyerbuk
sendiri. Tanaman menyerbuk silang dicirikan oleh struktur bunga sebagai
berikut :
a. secara morfologi, bunganya mempunyai struktur tertentu
b. waktu antesis dan reseptif berbeda
c. inkompatibilitas atau ketidaksesuaian alat kelamin
d. adanya bunga monoecious dan dioecious
Cuaca Saat Penyerbukan

Cuaca sangat besar peranannya dalam menentukan keberhasilan


persilangan buatan. Kondisi panas dengan suhu tinggi dan kelembaban udara
terlalu rendah menyebabkan bunga rontok. Demikian pula jika ada angin
kencang dan hujan yang terlalu lebat.
Pelaksana
Pemulia yang melaksanakan hibridisasi harus dengan serius dan
bersungguh-sungguh dalam melakukan hibridisasi, karena jika pemulia ceroboh
maka hibridisasi akan gagal.
Tanda Keberhasilan Hibridisasi
Menurut Syukur (2009) tanda keberhasilan hibridisasi adalah pada proses
perkembangan biji dapat dilihat pada hari 2-7 hari setelah penyerbukan. Jika pada bagian
petal telah mengering, namun pada bakal buah tetap segar selanjutnya bakal buah
membesar atau memanjang kemudian telah terjadi pembuahan. Bunga yang gagal
mengadakan fertilisasi biasanya gugur atau pada bagian kepala putiknya terlihat layu dan
bakal buah rontok.

C. Bahan dan Alat


Peralatan bercocok tanam
Lanjaran bambu 5 m
Gunting
Pinset
Benih Kacang panjang (2 varietas : merah dan hitam)

D. Metode
Waktu : Rabu, 26-Maret-2014
Tempat : Kebun Biologi FMIPA UNY
Cara Kerja :
1. Mempersiapkan alat berupa gunting, pinset, plastik,label dan tali

2. Mengkastrasi dan mengemaskulasi bunga kacang panjang biji merah sebagai indukan
dengan cara membuang stamen-stamen nya
3. Mengkstrasi dan mengemaskulasi bunga kacang panjang biji hitam sebagai indukan
dengan cara membuang putiknya.
4. Mengisolasi bunga tanaman kacang panjang berbiji merah dan bunga tanaman kacang
panjang berbiji hitam yang telah di emaskulasi menggunakan kantung plastik dan di
biarkan satu hari.
5. Menaburkan atau menempelkan serbuksari dari bunga kacang panjang biji hitam yang
telah ditentukan sebagai indukan
6. Mengisolasi bunga yang telah diserbuki dengan menggunakan plastik, diikat
menggunakan tali dan dilabeli.

E. Hasil dan Pembahasan


Data Persilangan kacang panjang :
Warna Biji Indukan

Warna Biji Hasil Persilangan


Jumlah Biji

Merah

Hitam

Kacang Panjang I
Merah bercak hitam
15

Kacang Panjang II
Merah bercak hitam
13

Pembahasan
Praktikum kali ini berjudul Persilangan monohibrid pada tanaman kacang
panjang (Vigna unguiculata Subsp. sesquipedalis). Yang bertujuan untuk mengamati
beberapa sifat yang berbeda antar 2 tetua lini murni dan menghasilkan populasi F1 dari
persilangan dan menentukan dominasi sifat pada tanaman kacang panjang.

Pada praktikum ini menggunakan 2 varietas kacang panjang yang berbeda dan
dilakukan pada dua bunga pada individu tanaman yang berbeda, yaitu tanaman kacang
panjang berbiji merah yang digunakan sebagai indukan betina dan tanaman kacang panjang
berbiji hitam digunakan sebagia indukan jantan. Dipilihnya kacang panjang dan digunakan
sebagai tanaman model pengganti kapri karena lebih mudah tumbuh di Indonesia, dapat
menghasilkan banyak biji, mempunyai beberapa sifat yang membedakan antar varietas dan
dapat disilangkan. Tanaman kacang panjang juga termasuk famili yang sama dengan kapri
sehingga mempunyai struktur bunga yang serupa.
Praktikan hanya belajar bagaimana cara menyilangkan antar parental untuk
didapatkan dan diamati F1, dan tidak melakukan persilangan resiprok atau persilangan yang
tidak memandang jenis kelamin indukannya.
Metode yang digunakan sama seperti yang dikatakan oleh nasir (2001), yaitu dengan
alur :
1. Persiapan
Persiapan untuk melakukan kastrasi dan penyerbukan silang meliputi penyediaan
alat-alat antara lain : pisau kecil yang tajam, pinset dengan ujung yang runcing.
Penutupan bunga sebelum dan sesudah penyerbukan menggunakan kantong kantong
plastik, dan tidak lupa label.
2. Kastrasi
Kastrasi adalah kegiatan membersihkan bagian tanaman yang ada di sekitar bunga
yang akan di emaskulasi dari kotoran, serangga, kuncup-kuncup bunga yang tidak
dipakai serta organ tanaman lain yang mengganggu kegiatan persilangan. Membuang
mahkota dan kelopak juga termasuk kegiatan kastrasi. Kastrasi umumnya menggunakan
gunting, pisau atau pinset.
3. Emaskulasi
Emaskulasi adalah kegiatan membuang alat kelamin jantan (stamen) pada tetua
betina, dalam praktikum ini, kacang panjang berbiji merah yang diemaskulasi
pertama sebelum bunga mekar atau sebelum terjadi penyerbukan sendiri.
4. Isolasi
Isolasi dilakukan agar bunga yang telah diemaskulasi tidak terserbuki oleh serbuk
sari asing. Maka bunga jantan maupun betina dikerudungi dengan kantung plastik.
5. Penyerbukan
Penyerbukan buatan dilakukan antara tanaman kacang panjang berbiji
merah dengan tanaman kacang panjang berbiji hitam. Polen (serbuk sari) yang
viabel atau anter dari tanaman indukan jantan tanaman kacang panjang berbiji hitam,

kemudian menyerbukannya ke stigma tetua betina tanaman kacang panjang berbiji merah
yang telah dilakukan emaskulasi.
6. Pelabelan
Pada label ditulis informasi tentang: (1) Nomor yang berhubungan dengan
lapangan, (2) Waktu emaskulasi, (3) waktu penyerbukan, (4) Nama tetua jantan dan
betina, (5) Kode pemulia/penyilang.
7. Pendeteksian Keberhasilan Persilangan Buatan
Keberhasilan suatu persilangan buatan dapat dilihat kira-kira satu minggu setelah
dilakukan penyerbukan. Jika calon buah mulai membesar dan tidak rontok maka
kemungkinan telah terjadi pembuahan. Sebaliknya, jika calon buah tidak membesar atau
rontok maka kemungkinan telah terjadi kegagalan pembuahan.
Pada tabel hasil persilangan didapatkan bahwa pada kedua individu tanaman
kacang yang telah disilangkan terdapat kesamaan yaitu hasil nya adalah biji nya berwarna
merah, sedangkan bercak hitam dimungkin diakibatkan oleh keadaan biji saat diamati
telah mengering, hal ini akibat kelalaian praktikan tidak rajin mengamati tanaman.
Seharusnya biji diamati saat buah kacang panjang tersebut telah masak, jangan saat telah
mengering agar dapat teramati dengan lebih baik. Jumlah biji dari masing-masing
individu adalah 15 dan 13, hal ini adalah relatif tergantung pada kemampuan tanaman
dalam menghasilkan biji. Bila di lihat dari data diatas, maka dapat kita gambarkan skema
persilangan :
P:

MM

><

(Merah)
F1:

hh
(Hitam)

Mh
(Merah)
Dapat kita katakan bahwa Tanaman kacang panjang berbiji merah merupakan

bersifat dominan dan tanaman kacang panjang berbiji hitam adalah bersifat resesif,
karena dari hasil persilangan terlihat semua biji berwarna merah. Termasuk kedalam
persilangan monohibrid karena memiliki satu sifat beda yaitu pada warna biji dari
tanaman kacang panjang. Namun hasil diatas belum dapat kita ketahui kebenarannya
apakah tanaman berbuah karena hasil perkawinan yang telah praktikan buat atau sudah
terlebih dahulu menyerbuki sendiri, karena waktu penyerbukan dilakukan pada siang
hari, yang seharusnya dilakukan pada pada hari.

Menurut syukur (2009), ada faktor-faktor yang mempengaruhi hibridasi, yaitu


faktor internal dan faktor eksternal. Pada faktor internal yang pertama yaitu pemilihan
tetua, kita memilih kelompok tetua dari varietas komersial, yang kedua adalah waktu
tanaman berbunga yang dilakukan sebaiknya pada pagi hari karena pada waktu itu
tanaman kemungkinan besar belum menyerbuki sendiri. Pada faktor eksternal yaitu
pertama tentang pengetahuan organ reproduksi dan tipe penyerbukan, yang kedua adalah
cuaca saat penyerbukan dan kesungguhan pelaksana untuk melakukan hibridisasi.

F. Diskusi
1.

Berapa sifat yang dapat membedakan kedua tetua varietas kacang panjang yang
digunakan ? sebutkan!
Jawab :
Pada praktikum ini hanya menggunakan satu sifat, yaitu warna biji dari tanaman
kacang panjang

2.

Apakah kedua tetua yang digunakan dalam persilangan monohibrid (seperti


mendel) harus merupakan lini murni ? Jelaskan ?
Jawab:
Kedua tetua yang digunakan harus lini murni agar sift parentalnya merupakan sifat
asli bukan dari persilangan.

3.

Apa hasil kesimpulan anda mengenai biji pada F1 ? apakah hasil nya sama untuk
semua jenis persilangan ? Jelaskan !
Jawab :
Kesimpulannya, mengenai biji F1 mempunyai semua sifat yang dimiliki tetuanya,
hasil semua jenis adalah sama.

4.

Pad percobaan ini telah dilakukan persilangan resiprok. Apa yang dimaksud dengan
persilangan resiprok ? Hasil apa yang akan diperoleh ?
Jawab :
Pada kesempatan praktikum ini tidak dilakukan persilangan resiprok. Namun

pengertian persilangan resiprok adalah persilangan kebalikan, yaitu persilangan


dilakukan dengan tidak memerhatikan jenis kelamin induknya.

G. Kesimpulan dan Saran


Pada F1 hasil hibridisasi tanaman kacang panjang ini, diketahui F1 mendapatkan
semua berwarna merah, hal ini mengindikasikan bahwa warna merah adalah bersifat
dominan terhadap warna hitam.
Saran pada praktikum ini adalah sebaiknya kemampuan dan pengetahuan tentang
organ reproduksi dan teknik penyerbukan harusnya dikuasai oleh praktikan dan waktu
untuk melakukan hibridisasi harus sesuai dengan teori yang ada, yaitu pada pagi hari.
H. Daftar Pustaka

Hidayat, J.R. 1989. Teknik Persilangan dan Penanganan generasi lanjut pada kedelai. Latihan
Field Insfection and Maintanance of Varieties of Food Legummes. Bogor. 1-12 P.
Nasir. M, 2001. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Depatemen Pendidikan Nasional: Jakarta.
Suryo. 2012. Genetika untuk strata 1. Yogyakarta : UGM Press
Syukur, M., S. Sujiprihati, dan R. Yunianti. 2009. Teknik pemuliaan tanaman. Bagian Genetika
dan Pemuliaan Tanaman. Departemen Agronomi dan Hotikultura IPB. Bogor. 284 hal.