Anda di halaman 1dari 18

PENDIDIKAN BERBASIS

KEUNGGULAN LOKAL

Makalah

oleh:

Sujud Marwoto
Pamong Belajar SKB

Kabupaten Pekalongan

PEMERINTAH KABUPATEN PEKALONGAN


DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
TAHUN 2014

A. Pengertian Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal


Sebelum melangkah lebih jauh, alangkah lebih baiknya kita

memahami terlebih dahulu maksud dari keunggulan lokal. Keunggulan lokal


adalah segala sesuatu yang menjadi ciri khas kedaerahan yang mencakup

aspek ekonomi, budaya, teknologi informasi, komunikasi, ekologi, dan lain


sebagainya. Sumber lain mengatakan bahwa keunggulan lokal ialah hasil
bumi, kreasi seni, tradisi, budaya, pelayanan, jasa, sumber daya alam, sumber

daya manusia, atau lainnya yang menjadi keunggulan suatu daerah. (Wasino
2008: 2)

Keunggulan lokal harus dikembangkan dari potensi daerah. Potensi

daerah merupakan potensi sumber daya spesifik yang dimiliki oleh suatu
daerah, misalnya potensi budaya daya apel dan pariwisata yang dimiliki oleh

kota Batu, Malang, Jawa Timur. Pemerintah dan masyarakat kota Batu dapat
melakukan sejumlah upaya dan program agar potensi tersebut dapat

diangkat menjadi keunggulan lokal kota itu, sehingga ekonomi di wilayah

kota tersebut dan sekitarnya dapat berkembang dengan baik. (Lif Khoirul
Ahmad 2012: 1)

Keunggulan

daya/kekuatan

yang

lokal

lokal

dimiliki

dapat

oleh

pula

dipahami

masing-masing

sebagai

daerah

untuk

sumber
dapat

dimanfaatkan dalam kegiatan-kegiatan tertentu. Keunggulan lokal lokal dapat


berupa sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya budaya dan sumber
daya teknologi (Sudjana, 2000:54).

Keunggulan

memberdayakan

lokal

yang

penduduknya

dimiliki

suatu

sehingga

daerah

mampu

dapat

lebih

meningkatkan

penghasilannya atau meningkatkan PAD (penghasilan asli daerah). Sebab,

manfaat dan penghasilan yang diperoleh menjadikan penduduk daerah


tersebut berupaya untuk melindungi, melesatarikan, dan meningkatkan
kualitas keunggulan lokal yang dimiliki daerahnya, sehingga bermanfaat bagi

penduduk daerah setempat, serta mampu mendorong bersaing secara

nasional maupun global. Dengan memberdayakan keunggulan lokal, kita


dapat menjawab permasalahan yang ada, misalnya:
1.

keunggulan lokal apa yang dapat dikembangkan?

3.

infra struktur apa yang diperlukan?

2.
4.
5.

bagaimana cara mengembangkannya?

berapa lama pembelajaran keunggulan lokal dilaksanakan? Dan,


bagaimana cara pembelajarannya yang efektif dan efisien.

Lima pernyataan yang harus dijawab dalam perencanaan pendidikan

berbasis keunggulan lokal tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi semua

sekolah di negeri ini. Pertanyaan pertama berkaitan dengan materi yang


diajarkan, kedua berkaitan dengan strategi yang akan diterapkan, ketiga

berkaitan dengan sarana prasarana yang dibutuhkan dalam proses

pelaksanaan, keempat berkaitan dengan alokasi waktu yang dibutuhkan, dan


kelima berkaitan dengan metodologi pembelajaran yang dipraktikkan.

Menurut Akhmad Sudrajat (2008), kualitas dari proses dan realisasi

keunggulan lokal tersebut sangat dipengaruhi oleh sumber daya yang

tersedia, yang lebih dikenal dengan istilah 7 M, yaitu man, money, machine,
material, method, marketing, and management. Jika sumber daya yang
diperlukan bisa dipenuhi, maka proses dan realisasi tersebut dapat
memberikan hasil yang bagus, demikian sebaliknya.
Kesimpulan

Pendidikan

berbasis

keunggulan

lokal

adalah

pendidikan yang memanfaatkan keunggulan lokal dalam aspek ekonomi,

budaya, bahasa, teknologi, informasi dan komunikasi, ekologi, dan lain-lain,


yang semuanya bermanfaat bagi pengembangan kompetensi peserta didik.

Keunggulan lokal ialah hasil bumi, kreasi seni, tradisi, budaya, pelayanan,
atau lainnya yang menjadi keunggulan suatu daerah.
B. Potensi Keunggulan Lokal
Dari manakah kita mengetahui potensi keunggulan lokal? Ini tidak terlepas

dari semua potensi yang ada di sekeliling kita, sesuai dengan daerah masingmasing. Menurut Akhmad Sudrajat, di dalam bukunya (Jamal Mamur Asmani
2012: 33). Konsep pengembangan keunggulan lokal diispirasi dari berbagai

potensi, yaitu potensi suber daya alam (SDA), sumber daya manusia (SDM),
geografis, budaya dan historis. Uraian selengkapnya ialah sebagai berikut :
1. Potensi Sumber Daya Alam

Sumber daya alam (SDA) adalah potensi yang terkandung dalam

bumi, air, dan dirgantara yang dapat didayagunakan untuk berbagai

kepentingan hidup. Contoh bidang pertanian ialah padi, jagung, buah-buahan,


sayur-sayuran, dan lain sebagainya; bidang perkebunan, seperti karet, tebu,

tembakau, sawit, cokelat, dan lain-lain; bidang peternakan, misalnya unggas,

kambing, sapi, dan lain sebagainya; bidang perikanan, seperti ikan laut dan
tawar, rumput laut, tambak, dan lain-lain.

Contoh lainnya, misalnya di provinsi Jawa Timur memiliki

keunggulan komparatif dan keragaman komoditas holtikultura buah-buahan


yang spesifik, dengan jumlah lokasi ribuan hektar yang hampir tersebar di

seluruh wilayah kabupaten/kota. Keunggulan lokal ini akan lebih cepat


berkembang, jika dikaitkan dengan konsep pembangunan agropolitan

(Teropong, edisi 21, Mei-Juni 2005, hlm. 24). Agropolitan merupakan


pendekatan pembangunan bottom-up untuk mencapai kesejahteraan dan

pemerataan pendapatan yang lebih cepat, pada suatu wilayah atau daerah
tertentu dibanding strategi pusat pertumbuhan (growth pole).
2. Potensi Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia (SDM) didefinisikan sebagai manusia dengan

segenap potensinya yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan menjadi


makhluk

sosial

yang

adaptif

dan

transformatif,

serta

mampu

mendayagunakan potensi alam di sekitarnya secara seimbang dan


berkesinambungan (Wikipedia, 2006).

Pengertian adaptif artinya mampu menyesuaikan diri terhadap

tantangan alam, perubahan IPTEK, dan perubahan sosial budaya. Bangsa


Jepang, karena biasa diguncang oleh gempa menjadi bangsa yang unggul

dalam menghadapi gempa, sehingga cara hidup dan sistem arsitektur yang

dipilih diadaptasikan bagi risiko menghadapi gempa. Kearifan lokal

(indigenous wisdom) semacam ini agaknya juga dimiliki oleh penduduk pulau
Simeulue di Aceh. Saat tsunami datang yang ditandai dengan penurunan

secara tajam dan mendadak muka air laut, banyak ikan bergelimpangan

menggelepar, mereka tidak turun terlena mencari ikan, namun justru


terbirit-birit lari ke tempat yang lebih tinggi, sehingga selamat dari murka
tsunami.

Sedangkan,

transformatif

artinya

mampu

memahami,

menerjemahkan, serta mengembangkan seluruh pengalaman dari kontak

sosialnya dan dengan fenomena alam, bagi kemaslahatan dirinya di masa


depan, sehingga yang bersangkutan menjadi makhluk sosial yang
berkembangan berkesinambungan.

SDM merupakan penentu semua potensi keunggulan lokal. SDM

sebagai sumber daya, bisa bermakna positif dan negatif, tergantung pada

paradigma, kultur, dan etos kerja. Dengan kata lain, tidak ada realisasi dan

implementasi konsep keunggulan lokal tanpa melibatkan dan memosisikan

manusia dalam proses pencapaian keunggulan. SDM dapat mempengaruhi

kualitas dan kuantitas SDA, mencirikan identitas budaya, mewarnai sebaran


geografis, dan dapat berpengaruh secara timbal balik kepada kondisi geologi,

hidrologi, dan klimatologi setempat akibat pilihan aktivitasnya, serta


memiliki latar sejarah tertentu yang khas. Pada masa awal peradaban, saat

manusia masih amat tergantung pada alam, ketergantungannya yang besar


terhadap air telah menyebabkan munculnya peradaban pertama di sekitar
aliran sungai besar yang subur.

3. Potensi Geografis
Objek geografis, antara lain meliputi objek formal dan material.

Objek geografi adalah fenomena geosfer yang terdiri atas atmosfer bumi,
cuaca dan iklim, litosfer, hidrosfer, biosfer (lapisan kehidupan fauna dan

flora), secara antroposfer (lapisan manusia yang merupakan tema sentral).

Sidney dan Mulkerne (Tim Geografi Jakarta, 2004) mengemukakan bahwa


geografi ialah ilmu tentang bumi dan kehidupan yang ada di atasnya.

Pendekatan studi geografi bersifat khas. Dengan demikian,

pengkajian keunggulan lokal dari aspek geografi perlu memperhatikan


pendekatan studi geografi. Pendekatan itu meliputi, pendekatan keruangan

(spatial approach), lingkungan (ecological approach), dan kompleks wilayah


(integrated approach).

Pendekatan keruangan mencoba mengkaji adanya perbedaan tempat

melalui penggambaran letak distribusi, relasi, dan interrelasinya. Sedangkan,


pendekatan

lingkungan

berdasarkan

interaksi

organisme

dengan

lingkungannya. Dan, pendekatan kompleks wilayah memadukan kedua


pendekatan tersebut.

Tentu saja, tidak semua objek dan fenomena geografi berkaitan

dengan konsep keunggulan lokal. Sebab, keunggulan lokal dicirikan oleh nilai
guna fenomena geografis bagi kehidupan dan penghidupan yang memiliki,

dampak ekonomis, dan pada gilirannya berdampak pada kesejahteraan

masyarakat. Misalnya, tentang angin fohn yang merupakan bagian dari iklim

dan cuaca sebagai fenomena geografis di atmosfer. Angin fohn jatuh ialah

angin jatuh yang sifatnya panas dan kering. Fenomena ini terjadi karena

udara yang mengandung uap air, gerakannya terhalang oleh gunung atau

pegunungan. Contoh angin fohn di Indonesia adalah angin kumbang di


wilayah Cirebon dan Tegal karena pengaruh Gunung Slamet. Angin gending
di wilayah Probolinggo yang terjadi karena pengaruh gunung Lamongan dan

pegunungan Tengger. Dan, angin bohorok di daerah Deli, Sumatera Utara


karena pengaruh pegunungan Bukit Barisan.

Sebagaimana diketahui, angin semacam itu menciptakan keunggulan

lokal sumber daya alam, yang umumnya berupa tanaman tembakau. Bahkan,
tembakau Deli berkualitas prima dan disukai sebagai bahan rokok cerutu.

Semboyan kota Probolinggo sebagai kota Bayuangga (bayu = angin, anggur


dan mangga), sebagai proklamasi keunggulan lokal tidak lepas dari dampak
positif angin gending.
4. Potensi Budaya
Budaya adalah sikap, sedangkan sumber sikap ialah kebudayaan.

Agar kebudayaan dilandasi dengan sikap baik, masyarakat perlu memadukan

antara idealisme dengan realisme, yang pada hakikatnya merupakan

perpaduan antara seni dan budaya. Ciri khas budaya masing-masing daerah
tertentu (yang berbeda dengan daerah lain) merupakan sikap menghargai

kebudayaan daerah sehingga menjadi keunggulan lokal. Beberapa contoh

keunggulan lokal menghargai kebudayaan setempat, yaitu upacara Ngaben di

Bali, Malam Bainai di Sumatera Barat, Sekatenan di Yogyakarta dan Solo,


serta upacara adat perkawinan di berbagai daerah.

Sebagai ilustrasi dari keunggulan lokal yang diinspirasi oleh budaya,

misalnya di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, telah dikenal bebeapa karya,

antara lain: a) teater Tombo Ati (Ainun Najib), b) musik Albanjari (hadrah),
c) kesenian Ludruk Besutan, dan d) ritualisasi Wisuda Sinden (Sendang Beji)
5. Potensi Historis
Keunggulan lokal dalam konsep historis merupakan potensi sejarah

dalam bentuk peninggalan benda-benda purbakala maupun tradisi yang


masih dilestarikan hingga saat ini. Konsep historis jika dioptimalkan

pengelolaannya bisa menjadi tujuan wisata yang dapat menjadi aset, bahkan

menjadi keunggulan lokal dari suatu daerah tertentu. Pada potensi ini,

diperlukan akulturasi terhadap nilai-nilai tradisional dengan memberi


kultural baru agar terjadi perpaduan antara kepentingan tradisional dan

kepentingan modern, sehingga aset atau potensi sejarah bisa menjadi


aset/potensi keunggulan lokal.

Salah satu contoh keunggulan lokal yang diinspirasi oleh potensi

sejarah adalah tentang kebesaran Kerajaan Majapahit. Pemerintah

kabupaten Mojokerto secara rutin menyelenggarakan perkawinan ala


Majapahit sebagai acara resmi yang disosialisasikan kepada masyarakat.
Bentuknya ialah sebagai berikut:

a.

b.

Pada bulan Desember 2002, diadakan Renungan Suci Sumpah Palapa di

makam Raden Sriwijaya (Desa Bejijong, Trowulan, Mojokerto), yang


dihadiri oleh Presiden RI, KH. Abdurrahman Wahid.

Festival Budaya Majapahit yang diselenggarakan oleh Lembaga


Kebudayaan dan Filsafat Javanologi dan Badan Kerja Sama Organisasi

Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (BKOK) bekerja sama


dengan Dinas Pariwisata dan Dinas P & K Kabupaten Mojokerto (27
Maret 2003). (Jamal Mamur Asmani 2012: 40)

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa potensi

keunggulan lokal terdiri dari lima hal: a) potensi sumber daya alam, b)
potensi sumber daya manusia, c) potensi geografis, d) potensi budaya, e)
potensi historis.

Kelima potensi tersebut menjadi sumber utama dalam menentukan

keunggulan lokal yang bisa dikembangkan sekolah dengan melibatkan


banyak pihak. Kelima potensi itu dapat menghasilkan keunggulan kompetitif
yang berimplikasi serius bagi peningkatan ekonomi, pengetahuan, dan daya
saing daerah.

C. Tujuan PBKL
Tujuan penyelenggaraan pendidikan berbasis keunggulan lokal

adalah agar peserta didik mengetahui keunggulan lokal daerah tempat


mereka tinggal, memahami berbagai aspek yang berhubungan dengan
keunggulan lokal tersebut. Kemudian, mampu mengolah sumber daya,

terlibat dalam pelayanan/jasa atau kegiatan lain yang berkaitan dengan

keunggulan lokal, sehingga memperoleh penghasilan sekaligus melestarikan


budaya, tradisi, dan sumber daya yang menjadi unggulan daerah, serta
mampu bersaing secara nasional dan global. (Wasino 2008:3)

Mulia sekali tujuan pendidikan berbasis keunggulan lokal ini. peserta

didik didorong untuk mencintai tanah kelahirannya, berjuang untuk


membesarkannya dan gigih mengembangkan semua potensinya. Tentunya,

ini barulah kabar berita, mengingat saat ini, sangat sulit mencari kader-kader
muda yang bercita-cita mengembangkan aspek pertanian karena dianggap
tradisional, tidak menjanjikan masa depan, dan identik dengan profesi yang

tidak terhormat. Kebanyakan dari mereka justru merantau ke ibu kota atau
kota-kota besar lainnya, mengadu nasib, seperti menjadi buruh, pembantu
rumah tangga, dan lain sebagainya. Walaupun banyak fakta yang memilukan,

nasib mereka di kota besar tidak sebaik di kampung halaman. Bahkan, lebih

mengenaskan karena mereka terlibat dalam kasus pembunuhan, bisnis


narkoba, terjerumus menjadi pekerja seks komersial, dan lain-lain.
Dengan

pendidikan

berbasis

keunggulan

lokal

ini,

mereka

diharapkan mencintai tanah kelahirannya, percaya diri menghadapi masa

depan, dan bercita-cita mengembangkan potensi lokal, sehingga daerahnya


bisa berkembang pesat seiring dengan tuntutan era globalisasi dan informasi.

Oleh sebab itu, seluruh komponen bangsa harus terlibat aktif dalam program

istimewa ini, karena benar-benar menjanjikan masa depan daerah yang


cerah yang terdiri dari ribuan penduduk.

D. Langkah Pengembangan Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal


Ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk mengembangkan pendidikan
berbasis keunggulan lokal seperti:
1.

Penyusunan desain,

3.

Study literatur dan lapangan,

2.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Kajian konsep,

Penyusunan model,
Uji coba model,
Analisis hasil,

Perbaikan/penyempurnaan model,
Seminar (presentasi hasil),
Finalisasi model, dan

10. Pelaporan. (Lif Khoirul Ahmad 2012: 11)

Langkah pengembangan pendidikan berbasis keunggulan lokal ini

sangat ideal. Namun, untuk satuan pendidikan yang baru memulai, tentu
tidak serumit dan seideal itu. Hal yang penting ada forum musyawarah

dengan para tutor, dimatangkan dalam forum diskusi terbatas, kemudian

hasilnya dikembangkan lagi dengan melakukan brainstorming (curah


gagasan) dengan birokrasi dan tokoh masyarakat. Hasilnya didiskusikan lagi

untuk menentukan potensi lokal yang akan digarap secara serius untuk

mencapai keunggulan lokal. Dalam pelaksanaannya juga harus terus

dievaluasi dan dikembangkan terus-menerus, sehingga tidak ketinggalan


zaman yang penuh dengan aroma persaingan ketat.

E. Pihak yang Terlibat


Dalam melaksanakan pendidikan berbasis keunggulan lokal ini,

pihak yang harus terlibat adalah:

1) tim pengembang kurikulum (TPK) terdiri dari Direktorat


pendidikan masyarakat, Dirjen PAUDNI, Kemendikbud RI, Dinas
Pendidikan Provinsi, Dinas Pendidikan Kab/kota

2) perguruan tinggi (PT) dan Balai Pengembangan Pendidikan Anak


Usia Dini Nonformal dan Informal (P2PAUDNI)

3) instansi lembaga di luar Depdiknas, Kepala Satuan pendidikan,

tutor/guru, dunia usaha, tokoh masyarakat. (Jamal Mamur


Asmani 2012: 46-47)

1.

Tim Pengembang Kurikulum (TPK)

a.

Mengidentifikasi keadaan dan kebutuhan daerah masing-masing,

c.

Mengidentifikasi bahan kajian keunggulan lokal sesuai dengan keadaan

Secara umum, peran, tugas, dan tanggung jawab TPK adalah:


b.

d.
e.

Menentukan komposisi atau susunan jenis keunggulan lokal,


dan kebutuhan daerah masing-masing,

Menentukan prioritas bahan kajian keunggulan lokal yang akan


dilaksanakan, dan

Mengembangkan silabus keunggulan lokal dan perangkat kurikulum

keunggulan lokal lainnya yang dilakukan bersama satuan pendidikan,


mengacu pada standar kompetensi pendidikan keaksaraan (SKK)

2.

Perguruan Tinggi dan P2PAUDNI

Perguruan tinggi dan P2PAUDNI memberikan bimbingan dan

bantuan teknis dalam beberapa hal, sebagaimana berikut:


a.

Mengidentifikasi dan menjabarkan keadaan potensi, serta kebutuhan

b.

Menentukan lingkup masing-masing bahan kajian/pelajaran.

c.

3.

lingkungan ke dalam komposisi jenis keunggulan lokal.


Menentukan

metode

pengajaran

yang

sesuai

dengan

perkembangan peserta didik dan jenis bahan kajian/pelajaran.

tingkat

Instansi atau Lembaga di Luar Depdiknas

Secara umum, instansi atau lembaga di luar Depdiknas berperan dalam


beberapa hal berikut:
a.

Memberikan informasi mengenai potensi daerah yang meliputi aspek


sosial, ekonomi, budaya, kekayaan alam, dan sumber daya manusia yang
ada di daerah yang bersangkutan, serta prioritas pembangunan daerah di

berbagai sektor yang dikaitkan dengan sumber daya manusia yang


b.
c.

dibutuhkan.

Memberikan

gambaran

mengenai

kemampuan-kemampuan

keterampilan yang diperluakan pada sektor-sektor tertentu.

dan

Memberikan sumbangan pemikiran, pertimbangan, dan tenaga dalam

menentukan prioritas keunggulan lokal sesuai dengan nilai-nilai dan


norma setempat.

d.

Pemda setempat berkewajiban melengkapi sarana prasarana pendidikan

yang diperlukan untuk kebutuhan penyelenggaraan pendidikan berbasis


keunggulan lokal.

Pihak-pihak tersebut ada pada level ideal. Sedangkan, di lapangan,

berdasarkan pengalaman penulis, pihak-pihak yang seharusnya melakukan

tugasnya ternyata bersifat pasif. Oleh sebab itu, pihak satuan pendidikan

seperti penyelenggara pendidikan keaksaraan dan tutor harus proaktif


melakukan kajian, konsultasi, sosialisasi, dan pemantapan manajemen untuk
melaksanakan pendidikan berbasis keunggulan lokal. Jika menunggu bola,

maka akan sulit mengaplikasikan program ideal ini. Dibutuhkan keberanian


ketua penyelenggara pendidikan keaksaraan dan segenap jajarannya untuk
melangkah secara dinamis melakukan trobosan program yang mengarah
pada realisasi program visioner ini.
F. Strategi Implementasi PBKL
Pendidikan berbasis keunggulan lokal merupakan program baru

dalam dunia pendidikan. Tidak banyak eksponen lembaga pendidikan yang


memahami implementasinya di lapangan. Berikut akan dijelaskan strategi

implementasi pendidikan berbasis keunggulan lokal yang disampaikan oleh


Mursal Y., S.Pd. (2011), dalam bukunya (jamal Mamur Asmani 2012: 62) Ada
beberapa langkah yang dilakukan, sebagaimana berikut:
1. Tahap investarisasi Keunggulan Lokal

Tahap ini dilakukan untuk mengidentifikasi seluruh keunggulan

lokal yang ada di daerah. Keunggulan lokal diinventarisasi dari setiap aspek
sumber daya menusia, sumber daya alam, geografis, sejarah, dan budaya

yang dapat dilakukan melalui teknik observasi, wawancara atau studi


literatur.

2. Tahap analisis Kesiapan Satuan Pendidikan


Pada tahap ini tutor/pendidik yang ditugaskan oleh satuan

pendidikan

menganalisis

semua

kelebihan/keunggulan

internal

dan

eksternal satuan pendidikan yang dilihat dari berbagai aspek dengan cara
mengelompokkan keunggulan yang saling berkaitan satu sama lain.
3. Tahap penentuan Tema dan Jenis Keunggulan Lokal
Tahap ini mempertimbangkan tiga hal, yaitu:
a.

Hasil inventarisasi potensi keunggulan lokal yang dihasilkan, dipilih

b.

Hasil analisis internal dan eksternal satuan pendidikan, serta

c.

d.

keunggulan lokal yang bernilai komparatif dan kompetitif,


Minat dan bakat peserta didik.

Setelah itu, baru kemudian ditentukan dan dijabarkan kompetensi


pendidikan berbasis keunggulan lokal.

4. Tahap Implementasi Lapangan

Tahap inplementasi lapangan harus disesuaikan dengan kemampuan

masing-masing satuan pendidikan, mengacu pada hasil analisis faktor


eksternal dan internal, hasil inventarisasi potensi keunggulan lokal, minat,
serta bakat peserta didik. Selain itu, harus memperhatikan kompetensi yang

telah dikembangkan/ditetapkan. Lebih baik yang dipilih adalah keunggulan

lokal yang dominan pada elemen skill (keterampilan), sehingga pendidikan


berbasis

keunggulan

keterampilan (life Skill).

lokal

bisa

dilaksanakan

melalui

pendidikan

Strategi implementasi pendidikan berbasis keunggulan lokal ini

tersebut menarik dipertimbangkan satuan pendidikan, sehingga proses yang

dilakukan benar-benar berkualitas, melibatkan banyak elemen yang


berkualitas, dan berpotensi menghasilkan hasil yang berkualitas. Namun,
yang paling penting ialah objektivitas dan demokratisasi yang harus

dijunjung tinggi dalam proses penentuan keunggulan lokal yang bisa

dijadikan program unggulan satuan pendidikan. Jangan sampai ada


pemaksaan kehendak. Sebab, program ini mempunyai efek jangka panjang
bagi lembaga pendidikan, masyarakat, serta bangsa dan negara dalam skala
lokal, regional, nasional, dan internasional.