Anda di halaman 1dari 5

Winfika Wibisono Putri

GLENN
CBT ( Cognitif Behaviour Therapy ) SEBAGAI TERAPI EFEKTIF
DENGAN MOOD CHART BAGI BIPOLAR DISORDER
Penyakit yang menyerang pada manusia ada banyak jenisnya dan tidak
hanya menyerang fisik seseorang tetapi juga mentalnya. Pada penyakit yang
menyerang mental seseorang salah satunya adalah gangguan bipolar, banyak
diantara masyarakat Indonesia yang tidak mengetahui apa itu bipolar.
Gangguan bipolar adalah suatu gangguan yang ditandai dengan perubahan
mood antara rasa girang yang ekstrim dan depresi yang parah. Orang dengan
gangguan bipolar (bipolar disorder) seperti mengendarai suatu roller coaster
emosional, berayun dari satu ketinggi rasa girang ke kedalaman depresi tanpa
adanya penyebab eksternal (Lam et al, 2004).
Gangguan mood (bipolar) adalah bagian integral dari psikologi klinis.
Terdapat dua jenis gangguan mood yaitu mania dan depresi. Depresi adalah
gangguan nomor 2 di dunia yang paling mematikan, dan diperkirakan pada
2020 akan menjadi wabah diseluruh penjuru dunia. Bunuh diri sebagai
akibat dari tidak tertanganinya pasien penderita depresi dengan baik adalah
masalah utama dalam kesehatan publik. (Stein et al, 2006).
Kasus bunuh diri juga terjadi pada remaja. Bahkan ada kecenderungan
meningkat. Ini terlihat dari data World Health Organization (WHO) di tahun
2001 yang menyebutkan bahwa angka bunuh diri akibat depresi di Indonesia
sekitar 1,6 1,8 orang per 100.000 penduduk, sementara laporan WHO di
tahun 2005 4 tahun kemudian - menyebutkan ada sekitar 24 orang dari
100.000 penduduk Indonesia. Data terakhir dari Kementerian Kesehatan RI
untuk wilayah Jakarta saja, angka kematian akibat bunuh diri karena depresi
mencapai 160 orang per tahun. (Veronica, 2011).

Oleh karena banyaknya faktor yang terlibat, penderita bipolar juga


disebut dengan penyakit multifaktor. Sebenarnya, penyebab bipolar disorder
mungkin beragam antara individu yang satu dengan yang lain. Akan tetapi,
banyak penelitian yang menunjukkan kontribusi genetik dan pengaruh
lingkungan memiliki peran besar dalam penyakit ini. Berikut ini adalah
beberapa faktor yang menyebabkan bipolar disorder yaitu; Faktor Genetik,
Faktor Lingkungan, Sistem Neurochemistry dan Mood Disorders, Sistem
Neuroendokrin (Yosianto, 2010)
Meskipun gangguan bipolar bisa sangat mengganggu dan berjangka
lama, namun kondisi tersebut dapat dikendalikan dan dipulihkan dengan
pengobatan dan konsultasi psikologis.
Penderita bipolar membutuhkan proses kesembuhan yang memakan
waktu yang cukup lama tidak hanya membutuhkan kesembuhan dari terapi
farmakologi dari rumah sakit tetapi juga dengan terapi-terapi psikologis. Salah
satu terapi psikologis yang efektif yaitu CBT ( Cognitive Behaviour Therapy )
adalah sebuah pendekatan psikoterapi yang bertujuan untuk memecahkan
masalah mengenai disfungsional emosi, perilaku, dan kognisi melalui
berorientasi tujuan, prosedur sistematis (Lieberman et al, 2009). Terapi
pendamping berupa CBT ( Cognitive Behaviour Therapy ) yang kerap kali
diterapkan di beberapa kasus bipolar disorder adalah dengan penggunaan
mood chart untuk mengurangi frekuensi kekambuhan/hospitalisasi, selain itu
juga untuk mengetahui adakah pengaruh intervensi CBT pada penderita
Bipolar.
CBT dipilih karena adanya penelitian terdahulu yang mengatakan
bahwa pengobatan psikososial, khususnya CBT, adalah tritmen utama untuk
penderita bipolar utamanya pasien rawat jalan, sebelum era farmakoterapi dan
dikenalnya litium dan obat penstabil mood yang lain. CBT yang diterapkan
adalah dengan penggunaan mood chart guna mengurangi frekuensi

kekambuhan/hospitalisasi, selain itu dapat mengetahui adakah pengaruh


intervensi CBT pada penderita bipolar.
Mood Chart adalah sebuah grafik yang menunjukkan naik turunnya
tingkat suasana hati dari waktu ke waktu. Grafik suasana hati yang sangat
berguna

dalam

memprediksi

terjadinya

episode

mood

dan

mendokumentasikan respon subjek penelitian terhadap obat-obatan yang


diberikan (Lam et al, 2004). Keuntungan penggunaan mood chart antara lain:
Mood chart memaksa penggunanya untuk lebih berfikir tentang kesehatan
mental harian dan pemikiran yang sedang dipikirkan kala itu. Mood chart
dapat merekam kejadian penting pada saat itu dan bagaimana penggunanya
merespon kejadian tersebut. Sebagai contoh, menerima berita buruk, atau
promosi jabatan, atau peristiwa lain yang mampu mempengaruhi perubahaan
mood. Mood chart dapat melacak jam tidur, siklus personal (haid) dan faktor
lain yang dapat menjadi pencetus. Sebagai contoh, ketika pengguna mood
chart terdeteksi tidur kurang dari 4 jam dan menjadi mudah marah, hal itu bisa
jadi sebagai tanda awal dari gejala mania, sementara itu, jika pengguna
terdeteksi tidur lebih dari 8 jam, hal itu adalah tanda awal dari gejala depresi.
Mood chart dapat merekam penggantian obat yang digunakan oleh
penggunanya (Yosianto, 2010)
CBT telah terbukti sebagai pengobatan yang efektif untuk depresi
klinis. Sebuah studi skala besar pada tahun 2000 menunjukkan hasil yang
lebih tinggi secara substansial respon dan pengampunan (73% untuk terapi
kombinasi vs 48% untuk baik CBT atau antidepresan dihentikan tertentu saja)
Perbedaan CBT dengan terapi lain dalam sifat hubungan yang terapis
akan mencoba untuk membangun. Beberapa terapi mendorong penderita
bipolar menjadi tergantung pada terapis., sebagai bagian dari proses
pengobatan. Penderita bipolar dapat dengan mudah dating untuk melihat
terapis sebagai maha tahu dan maha kuasa. Hubungan itu berbeda dengan

CBT. CBT memakai hubungan yang lebih setara yang seperti hubungan
bisnis. Berfokus pada apa yang menjadi masalah dan praktis. Terapis akan
meminta penderita bipolar untuk memberikan umpan balik dan untuk
mendapat pandangan mereka tentang apa yang terjadi di dalam terapi. Beck
menciptakan istilah Empirisme Kolaboratif yang menekankan pentingnya
kerjasama antara penderita bipolar dengan terapis untuk menguji bagaimana
ide dibalik CBT bisa berlaku untuk situasi penderita bipolar dan masalah.
Berdasarkan pembahasan diatas, Cognitive Behaviour Therapy (CBT)
memberikan hasil yang baik dalam intervensi psikologis dan sudah banyak
ditemukan efektifitas dan efisiensi dari penerapan pendekatan ini untuk kasuskasus bipolar disorder. Metode CBT dengan menggunakan Mood Chart telah
terbukti sebagai salah satu metode intervensi pada penderita bipolar. Namun
akan lebih baik lagi bila selanjutnya dilakukan penelitian-penelitain dengan
menggunakan metode CBT atau metode psikoterapi yang lain yang memiliki
efektivitas terapi untuk penderita bipolar. Namun CBT tidak dapat diterapkan
untuk menyelesaikan semua masalah psikologis dan tidak dapat dilaksanakan
terpisah dari pendekatan lain. Oleh sebab itu, diharapkan Cognitive Behaviour
Therapy (CBT) ini dapat menjadi terapi wajib bagi penderita-penderita bipolar
diluar sana khususnya metode Mood Chart dan juga penderita-penderita
gangguan mental lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Lam D, Wright K, Smith N. 2004. Dysfunctional assumptions in bipolar disorder.
Journal of Affective Disorders
Lieberman, Daniel Z. George K, Suena HM, and Kenneth PW. 2009. AntidepressantInduced Mania with Concomitant Mood Stabilizer in Patients with Comorbid
Substance Abuse and Bipolar Disorder. Journal of Addictive Diseases
Stein, Dan J, David JK, and Alan FS. 2006. Textbook of Mood Disorder. Washington
DC: APP,Inc.
Sri Utami, Veronica. 2011. Data Kasus Bunuh Diri di Indonesia. (online).
http://www.nirmalamagazine.com/articles/viewArticleCategory/35/page:6 (diakses
tanggal 10 Maret 2015)

Yosianto, Herditya F. 2010. Laporan PKL bidang klinis (tidak diterbitkan) Studi
Kasus Psikotik Individual. Program Studi Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Surabaya