Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pada zaman yang semakin modern ini kemajuan teknologi telah menunjang dalam bidang
kedokteran khususnya dalam pengobatan yang yang mengacu pada praktek kedokteran
radiografi. Dalam hal ini sangat membutuhkan diagnosis yang akurat dalam bentuk gambar pada
pemeriksaannya.
Sebagai tenaga paramedic, seorang radiographer dapat menyajikan gambar radiografi yang
berkualitas, terutama saat pelayanan di rumah sakit-rumah sakit, atau labolatorium klinik swasta
yang sudah banyak tersebar dimasyarakat.
Dalam menjaga kualitas kerja, seorang radiographer harus dapat memahami suatu bayangan
tersebut dapat terbentuk pada film radiografi. Dikarenakan hal ini dapat mempengaruhi kualitas
dari hasil gambar yang terbentuk.Faktor alat dan bahan serta processing film radiografi juga
dapat mempengaruhi suatu bayangan pada film radiografi tersebut terbentuk.
B.
1.
2.
3.

RUMUSAN MASALAH
Bagaimana penjelasan tentang radiofotografi?
Bagaimana bayangan laten dapat terbentuk?
Bagaimana proses pada film radiografi?

C.
1.
2.
3.

TUJUAN
Untuk mengetahui penjelasan tentang radiofotografi
Untuk mengetahui terbentuknya bayangan laten pada film radiografi
Untuk mengetahui proses pada film radiografi
1
MANFAAT
Dapat menjelaskan tentang radiofotografi
Dapat memahami terbentuknya bayangan laten pada film radiografi
Dapat mengetahui proses pada film radiografi

D.
1.
2.
3.

BAB II
PEMBAHASAN
A. RADIOFOTOGRAFI
Radiofotografi adalah proses pencatatan bayangan dengan menggunakan radiasi atau sinar-X
yang kualitasnya bergantung pada kualitas sinar-X. Dalam prakteknya radiofotografi
memerlukan beberapa perlengkapan diantaranya:
1. Pesawat sinar-X
Pesawat sinar-X memilki bagian tabung rontgen atau tabung sinar-x. Tabung sinar-X
memproduksi sinar-X yang digunakan pada proses radiofotografi.

Sinar-X atau sinar Rntgen adalah salah satu bentuk dari radiasi elektromagnetik dengan
panjang gelombang berkisar antara 10 nanometer ke 100 picometer (mirip dengan frekuensi
dalam jangka 30 PHz to 60 EHz). Sinar-X umumnya digunakan dalam diagnosis
gambar dan Kristalografi sinar-X. Sinar-X adalah bentuk dari radiasi ion dan dapat berbahaya.
Ciri-ciri sinar-X:
Sinar-X tidak dapat dipengaruhi atau dibelokkan oleh medan listrik (karena tidak bermuatan).
Sinar-X tidak dapat dipengaruhi atau dibelokkan oleh medan magnet (krn tidak bermuatan).
Daya tembusnya besar (karena tidak memiliki masa).
Merupakan Gel Elektromagnetik ( memancar tanpa zat perantara).
Mata tidak mampu merespon (tidak tampak). Karena sinar-X memiliki panjang gelombang
sangat pendek,karena Mata dapat merespon jika panjang gelombang 10-5 10-7 meter.
Sinar-X < 10-10 meter = 1 A0.
Daya ionisasi (tidak langsung) sangat besar contoh ; proses radiolisis air

2. Film rontgen
Suatu media perekam / penyimpan hasil radiografi terdiri dari bahan peka cahaya. Jenie-jenis
Film :
Menurut emulsi
1.
2
Film Single Emulsi
2. Film Double Emulsi

1.
2.
3.
4.

Menurut Sensitifitas / kepekaannya :


Blue sensitive
Green sensitive
Thermal
Laser
Bahan yang digunakan dalam film radiografi:
1. Supercoat/ Covercoat / mantel
Merupakan lapisan terluar, berupa gelatin tipis pada permukaan emulsi. Fungsi dari
supercoat adalah:
Pelindung emulsi dari tekanan-goresan yang bisa menimbulkan bayangan yang tdk diinginkan
pada hasil radiograf.
Membuat permukaan emulsi berkilau tapi tidak terlalu licin, agar film dapat diproses dengan
automatik pocesing.
2. Emulsi = Gelatin + Perak halogen
Emulsi = bahan peka cahaya, terdiri dari campuran:
a. Gelatin
Seperti Lem, tapi hanya memiliki sifat chohesi yang kuat. Terbuat dari Tulang dan Kulit
Hewan. Ekstrak gelatin dpt diregangkan sampai beberapa kali hingga menyerupai agar2. Dalam
larutan alkali akan membengkak melebihi batas normal dan tdk dapt di kembalikan lagi. Gelatin
harus bersifat:
- Tidak berubah oleh waktu
- Tidak merubah sifat Perak Halogen

Mudah menyerap proses kimia, tapi tanpa merubah sifat/ struktur kimia Perak Halogen
tersebut.
Fungsi dari gelatin:
- Mengikat perak halida (dalam bahan pembuatan film )
Melindungi butiran perak halogen yang belum terkena sinar dari reduksi bahan pencucian film
( developer / pembangkit)
Memberi kecepatan menyerap bagi bahan reduksi pada proses merobah butiran Ag (perak) yg
telah mendapat sinar dari Ag-laten menjadi Ag2 ( logam perak)
- Mempertinggi kecepatan dan kepekaan film.
b. Perak Halogen
Terdiri dari : Ag Br / Ag Cl / Ag I
- Merupakan bahan peka cahaya.
Dalam radiografi Perak halogen yg terkena sina akan menjadi flak hitam/ warna pada film
(dalam proses pencucian film).
Perak halogen yang tdk terkena sinar X akan direduksi (larut) oleh cairan fixer pada proses
pencucian.
3. Film Base / dasar film
Terbuat dari cellulos tri accetat dan bahan polyster, dengan sebagian kecil dari celupan biru yang
ditambahkan pada dasar film, hal ini akan mempertajam pandangan pada radiografi.
-

Polyster Base, sifatnya


Fleksibel/kuat/tidak mudah robek
Tidak Menyerap air / cairan prosesing
Tidak mudah di kontaminasi zat radioaktif
Warna bening dan tdk bernoda
Lebih tipis ( 7 / 1000 Inc )
Tidak mudah lengkung

4. Adhesive (Substratum)
Adalah campuran gelatin dan cellulose
Dilarutkan dalam aceton / etil-acetat
Dilumarkan pada base dan dibiarkan kering
Sebagai perekat emulsi film
Merupakan lapisan tipis yang kekal melekat pada base
3. Kaset radiografi
Kaset X - Ray Film adalah sebuah tempat untuk meletakkan film X-Ray baik yang sudah di
ekspose maupun yang belum di ekspose. Bagian-bagian kaset:
- Bagian Depan = Plastik/ aluminium
- Mudah ditembus X-Ray
- Ada Screen ( depan lebih tipis )
- Film X-Ray
- Screen Belakang ( lebih tebal )
- Bantalan / spon
- Bagian Belakang = Tidak mudah ditembus X-Ray ada lapisan Pb (timah hitam)

Casette Intensifying screen ( IS ) :


Digunakan dalam casette radiografi
IS akan merubah X-Ray menjadi cahaya, karena hanya sedikit saja X-Ray yang mampu
mempengaruhi emulsi
Sebagian besar X-Ray diserap screen dan dirubah menjadi cahaya
Kejadian tersebut berlangsung sangat pendek
Dengan menggunakan IS, Radiasi X-Ray yang diperlukan menjadi sedikit

B. TERBENTUKNYA BAYANGAN LATEN PADA FILM RADIOGRAFI


Setelah melakukan pengeskposan maka akan menimbulkan bayangan laten pada emulsi film.
Bayangan laten merupakan bayangan yang sudah ada tetapi tidak dapat dilihat dengan
menggunakan mata telanjang dan hanya dapat dilihat dengan microscope electron. Dalam film
yang telah dilakukan pengeksposan maka akan terjadi peristiwa konversi perak bromide menjadi
perak metalik.
Bagian film yang berperan sebagai pembentuk bayangan atau gambar adalah bagian/lapisan
emulsi yang tersusun dari Kristal-kristal perak bromide (AgBr). Reaksi yang terjadi pada
bayangan laten yaitu:
Emulsi film = AgBr + galatin
AgBr
ion Ag+ + ion BrPada saat eksposi, ion Br akan melepaskan electron bebas dan menjadi atom Br. Atom Br
tersebut akan diserap oleh bahan gelatin. Reaksi yang terjadi yaitu:
Br - + cahaya
Br + eSetelah electron bebas itu terbentuk, elektreon tersebut ditangkap oleh bagian sensitivity
speck (bintik peka) sehingga sensitivity speck bermuatan negative.
Selanjutnya ion Ag+ yang terbentuk masuk kedalam sensitivity speck sehingga terjadi
netralisasi pada ion Ag oleh electron.
Ion Ag+ bebas + e- dalam sensitivity speck
atom Ag (netralisasi)
Kumpulan sensitivity speck berisi atom Ag akan membentuk pola film radiografi menjadi
gambar latent (latent image).
Pembentukan bayangan dari suatu organ melalui proses radiografi tidak terlepas dari
pemakaian detector radiasi yang dalam hal ini adalah film radiografi. Selain film radiografi pada
proses pembentukan bayangan radiografi sering digunakan suatu bahan garam fosfor yang
memancarkan cahaya apabila terkena radiasi yang mengubah berkas sinar-X kedalam pola yang
serupa tetapi sebagai cahaya tampak. Untuk mendapatkan bayangan tampak dari suatu bayangan
laten hasil radigrafi perlu adanya suatu proses pengembangan yang dilakukan di kamar gelap,
baik secara manual maupun secara otomatis dengan menggunakan automatic processing unit.
Factor eksposi untuk proses radiografi suatu organ yang diikuti dengan pemilihan film dan
tabir penguat yang sesuai, serta teknik pengolahan film yang baik dikamar gelap sangat
membantu terbentuknya bayangan radiografi yang berkualitas tinggi. Penelitian secara
mendalam menunjukkan bahwa Kristal yang dipasang parallel di permukaanbn film memiliki
ukuran-ukuran kira-kira 1/1000 mm. Efek fotografi pada kristal muncul dari kesalah atau
ketidakmurnian ukuran dan jumlah Kristal yang ada, hal ini dapat mempengaruhi proses
pembentukan radiografi. Dengan keragaman ukuran-ukuran bentuk dapat menghasilkan film
dengan jenis yang berbeda dan juga manfaatnya.

C. PROSES PADA FILM RADIOGRAFI

Pengertian Prosessing Film Radiografi yaitu proses pembentukan bayangan laten menjadi
bayangan tampak dan permanen
Fungsi Prosessing Film Radiografi
Merubah bayangan Laten Menjadi bayangan tampak belum permanen
Merubah bayangan tampak belum permanen menjadi permanen
Meluruhkan Perak halogen yang belum tereksposi ke dalam larutan fixer
Mengeraskan emulsi film sehingga tahan terhadap gesekan mekanik
Jenis Prosessing Film Radiografi:
Manual :
Developing
Rinsing
Fixing
Washing
Drying
Otomatis :
Developing
Fixing
Washing
Drying

1. Developing (Pembangkit)
Merubah perak halogen menjadi perak logam hitam (bayangan hitam)
a. Metode pembangkitan : waktu 5 menit dengan suhu 200
b. Fungsi : Mereduksi kristal Perak bromida menjadi perak metalik
c. Bahan dasarnya adalah Benzena
o Bahan Pokok pada Saat Ini yaitu benzena dlm bentuk larutan :
Metol (Elon) /(C 7 H 10 NO) 2 SO 4 :
Bekerja sangat cepat
Menghasilkan kontras yang rendah
Pemakaiannya biasanya dikombinasikan dengan Hydroquinone = metol Hydroquinone (MQ
Dev.)
Phenidone :
Sangat cepat
Kemampuan reduksi tinggi : 10 - 15 x metol
Digunakan kombinasi dengan Hydroqinone (PQ Dev.)
o Bahan tambahan :
1) Akselerator
Membengkakkan emulsi film sehingga mudah ditembus oleh bahan reduksi
Bahan :
Alkali lemah : NaOH, KOH, Na2CO3, H2CO3, Na2B4O7 (Boraks)
2) Preservative
Mencegah Oksidasi

Bahan : Na2SO3
3) Restrainer
Penahan agar tidak terlalu aktif
Bahan : KBr ---> K+ + Br
4) Solvent
Air yang digunakan tidak kotor/ air asin.
d. Faktor yang mempengaruhi waktu pembangkitan ( Developing Time )
o Kepekatan
o Suhu
o Agitasi : menghindari Air Bubbles
Proses pembangkitan lebih merata, kekurangan agitasi akan menimbulkan edge effect dan
Bromide low lines (garis hitam didaerah yang densitasnya tinggi)
o Developer Baru / lama
o Jenis film ( Screen / non screen )
e. Inspeksi : metode ini kurang menguntungkan karena :
o Waktu kurang evisien
o Kemungkinan terjadinya oksidasi
o Kemungkinan terjadinya Light Fongging
o Kemungkinan cairan akan terbuang
f. Hal-hal yang menimbulkan kelemahan developer :
o Oxidation meningkat
o Endapan bromide : Mencuci Banyak film ( bisa 500 lbr)
g. Khusus untuk manual processing
o Satu tangki persegi berukuran 1 gallon atau 20 lt
o Dari bahan plastik/ fiber / acrelik/ stainless steel
o Standar urutan paling kiri
o Setelah penggunaan harus selalu ditutup
o Memuat hangger film dengan ukuran terbesar = 35 x 43 cm
o Memuat beberapa hanger sekaligus
o Untuk film yg sedikit/ film gigi dapat menggunakan tangki yg melebar seperti mampan
2. Rinsing (Pembilasan)
Menghilangkan sisa-sisa developer yang masih menempel pada film dengan air bersih yang
mengalir dan dingin supaya tidak masuk ke larutan fixer.
Bila sisa-sisa developer masuk ke fixer maka akan terjadi:
o Keasaman fixer akan menurun sehingga cepat lemah
o Pembangkit bayangan masih berlanjut di fixer sehingga menimbulkan dichroic fog (noda
berwarna pink pada foto dan warna biru atau hijaubila dilihat melalui cahaya)
o Timbul noda coklat akibat oksidasi dari sisa-sisa developer
Tujuan dari proses Rinsing antara lain adalah :
a. Menghindari terbawanya larutan pembangkit yang masih aktif dari developer ke dalam fixer.
b. Meminimalkan terjadinya kabut dikroik, noda coklat hasil developing yang teroksidasi,
c. Dan naiknya nilai pH fixer.

d. Menghentikan proses developing


Bahan bahan yang digunakan pada rinse:
1. Plain Rise Bath
Disebut juga pembilasan air bersih selama 30 detik.
Fungsinya:
a. Memperlambat aksi pembangkitan.
b. Menghilangkan sisa larutan dari permukaan film dengan cara melarutkannya dalam air.
2. Stop Bath adalah
a. Pembilasan yang dilakukan dengan cara menetralisir larutan developer yang terbawa dalam
emulsi
b. Menghilangkannya dari permukaan film dengan tujuan menghentikan kerja developer.
Dalam hal ini metode atau tata cara rinsing dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
a. Plain Rise Bath, terdiri dari:
a spray rinse
a running rinse
b. Stop Bath
Acid
Keuntungan dan kerugian menggunakan rise:
1. Keuntungan
Plain Rise Bath
a) a spray rinse
Airnya selalu baru
Ekonomis karena air mengalir hanya ketika film melewati tahap pembilasan
b) a running rinse
Aliran air melalui tangki, masuk pada level rendah dan keluar saat di level puncak
Metode ini banyak digunakan karena tidak memerlukan larutan asam pada tahap rinsing karena
asam sudah terdapat pada fixer.
Acid Stop Bath
Keuntungan dari metode ini adalah penghentian aksi pembangkitan lebih cepat karena dapat
dilakukan pada tahap pembilasan yang menggunakan larutan asam tanpa menunggu sampai
tahap fixing.
2.

Kerugian
Plain Rise Bath
a) A spray rinse
Kurang efisien karena dapat timbul kerusakan bila melalui tekanan tinggi air, kecerobohan
penggunaan rinse, kesalahan posisi pancaran , dan kurangnya pemeliharaan spraya
b) A running rinse
Tidak ekonomis dalam penggunaan air
Rendam film ke dalam tangki bilas selama dengan terus-menerus agitasi.
Acid Stop Bath

Harus membutuhkan larutan asam lebih banyak yaitu untuk pembilasan awal dan fixing.
Kesalahan yang mungkin terjadi yaitu munculnya noda coklat hasil pembangkitan yang
teroksidasi.
3. Fixing (Penetapan)
Berfungsi untuk :
a) Mendapatkan gambaran yang permanen dan jelas
b) Menghentikan pembangkit
c) Mengeraskan emulsi film untuk mencegah kerusakan
d) Merubah bayangan tampak belum permanen menjadi permanen
e) Melarutkan AgBr yang belum tereksposi
f) Menyamakkan emulsi film agar tidak rusak
g) Besifat Asam = ph 4.5 6
Bahan :
1. Bahan Pokok / Fixing agent
a. bereaksi dengan perak halogen belum tereksposi menjadi kompone yang larut dalam air
b. tidak merusak gelatin
c. tidak memberi efek terhadap bayangan
d. bahan yang digunakan : Na2S2O3 (Natrium thiosulfat) atau
(NH4)2 S2O3 (Amonium thiosulfat) --> fixer jenis rapid
2. Bahan Tambahan
Akselerator/Acid
Akselerator /Acid/ Acetid ( CH3COOH ) / asam cuka,
fungsinya :
Menyetop/ menghentikan aksi developer secara merata dan cepat dikala film masuk ke fixer
bahan :
H2SO4 (asam kuat)
CH3 COOH (asam lemah)
Preservative ( stabiliser )
Menghilangkan dan mencegah sulfurisasi
Bahan : Na2SO3 (Natrium sulfida)
Hardener
bahan :
1. Alumunium Chlorida / Al2Cl
2. Crom potasium alum (K2SO4, Cr2 (SO4)3, 24 H2O
Bekerja efektif pada pH 3,5 7
3.

Potasium alum (k2SO4, AL2 (SO4)3, 24 H2O


Bekerja efektif pada bentuk cair yang pekat
pH 4,5 - 5,0
Buffer (Penyangga)
Menjaga agar pH larutan konstan
Bahan : CH3 COONa
Solvent
Factor yang mempengaruhi waktu fiksasi:
a) Jenis fixing agent

Dengan bahan Amonium Thiosulfat waktu fiksasi lebih cepat disbanding dengan Natriun
Thiosulfat
b) Konsentrasi dari fixing agent
c) Temperature : Suhu berkisar (16-20)0C
d) Jenis emulsi
e) Agitasi
f) Umur fixing
Terminologi : Clearing Time dan Fixing Time
Clearing Time
Adalah waktu yang diperlukan untuk proses pembeningan ( pada proses fixing).
Fixing Time
Adalah waktu yang diperlukan untuk seluruh proses penetapan . Pada umumnya fixing time adl 2
kali clearing time meski lebih baik apabila fixing time agak lama misal sampai 10 menit
Faktor yang Berpengaruh pada Clearing Time dan Fixing Time
Bahan yang digunakan : Na2S2O3 punya Clearing Time yang lebih baik pada agen yang lain
Konsentrasi agen atau kepekatan penetap : Konsentrasi 60% akan menghasilkan Clearing Time
lebih singkat dibanding konsentrasi 40%
Suhu :
Clearing Time akan menurun jika suhu larutan meningkat.
Larutan fixer tidak menggunakan suhu standar, suhunya,
Suhunya tidak boleh terlalu beda dgn suhu developer untuk menghindari kerusakan emulsi
Adanya pengeras spt : potassium alum & Alumunium chlorida akan memperlambat Clearing
Time & Fixing Time, karena memperlambat larutnya perak bromida dlm emulsi
Jenis film : Film dgn emulsi tebal Clearing Time lebih lama dibanding dengan emulsi tipis.
Ukuran kristal yang lebih kecil memerlukan waktu pelarutan yang lebih pendek
Agitasi : Mempercepat Clearing Time & Fixing Time
Factor-faktor yang mempengaruhi umur larutan fixer:
a) Jumlah dan jenis serta ukuran film yang diproses
b) Substansi perak halogen pada emulsi
c) Terjadinya komponen-komponen perak (mengendap) dalam NaAg(S2O3)2
d) Terjadinya komponen bromida dalam bentuk NaBr
e) Adanya air yang terbawa film dari tahap procesing sebelumnya yaitu tahap rinsing
f) Adanya sisa developer yang terbawa film karena kurang bersih di tahap rinsing
g) Berkurangnya bahan-bahan aktif dengan adanya reaksi melarutkan AgBr yang tidak tereksposi
Efek menggunakan fixer yang lemah:
a. Cleaning time akan lama dan proses fiksasi kurang sempurna
b. Fungsi pengeras emulsi tidak sempurna
c. Akan timbul noda pada film
d. Clearing Time menjadi panjang & Fixing Time tidak cukup.
e. Film tidak cukup mengalami pengerasan / mudah tergores
f. Film mungkin mengandung noda pembangkit/ noda dichroic.
g. Film mengandung sisa larutan lain yg tdk lepas dari permukaan film.
4. Washing (Pencucian)

Membersihkan sisa-sisa larutan fixer yang menempel pada permukaan film dengan
menggunakan air yang mengalir, dingin dan bersih.
Tujuannya untuk menghilangkan bahan-bahan yang diperoleh selama fixing yang jika
dibiarkan menetap pada film akan berdampak merusak gambaran.
Washing rate adalah pernyataan yang tepat untuk menyatakan kecepatan penghilangan
thiosulfat dalam bak air, dan ini dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor. Faktor-faktor yang
mempengaruhi washing rate:
1. Konsentrasi thiosulfat dalam emulsi dan bak pencucian
2. Temperatur pencucian
Washing rate meningkat jika suhu air dinaikkan. Jika air menjadi lebih hangat dari 77 oF
(25oC) gelatin akan terlepas dari dasar film secara sebagian jika tidak dikeraskan secara cukup
pada tahap sebalumnya. Pada temperatur di bawah 60oF (16oC) washing rate sangat lambat.
3. Agitasi
Jika agitasi dilakukan, air segar terbawa melawan film secara terus menerus, dan washing rate
lebih cepat.
Waktu yang digunakan pada proses washing rate

Whasing pada automatik processing = 18 65 detik,

sedangkan pada film manual film biasanya berada pada tangki pembilasan 10 30 menit

Jangan biarkan film dalam air cuci untuk diperpanjang periode waktu (lebih dari 12 jam) karena
kerusakan gambar dapat terjadi.

5. Drying (Pengeringan)
Tujuan drying yaitu Menghilangkan kadar air dalam
emulsi sehingga hasil akhir dari
prosesing adalah emulsi yang tidak rusak,bebas dari partikel debu,endapan kristal,noda dan
artefak
Faktor yang Mempengaruhi Drying Time
1. Suhu udara diatur cukup untuk mengeringkan dalam wadah yang diisolasikan.
2. Kelembaban udara diatur sedemikian rupa sehingga perbedaan kelembaban antara emulsi dan
ruangan pengeringan cukup tinggi. Semakin rendah kelembaban ruangan pengeringan akan
semakin cepat proses pengeringan terjadi.
3. Aliran udara yang melewati emulsiyang memiliki peranan yang penting dimana udara yang
mengalir cukup dapat mengeringkan film
Catatan:
Suhu pengeringan daerah tidak boleh melebihi 120 F (49 C).
Pengeringan manual dapat dilakukan dengan menjemur film dengan sinar matahari.
Lemari pengering seharusnya tdk di ruang pemeriksaan / Kamar gelap.
Mengeringkan film dengan :
a) Drying cabinet dengan temperature sekitar 500 C
b) Rapid film drying
c) Automatic processo
Keuntungan dan kerugian antara manual proses dengan otomatis proses

Proses

Manual

Keuntungan
Leluasa
memperoleh
densitas yang
diinginkan
Dapat
memanipulasi
faktor eksposi
Tidak tergantung
pada listrik
Kualitas hasil stabil
Waktu proses lebih
cepat

Otomatis
Ruangan lebih kecil

Kerugian
Waktu lebih lama

Ruangan diperlukan
lebih besar
Kualitas hasil kurang
stabil
Tidak dapat
memanipulasi
developing timr
Tidak leluasa
memperoleh
densitas yang
diinginkan
Sangat bergantung
pada listrik
Roller rusak akan
mengakibatkan film
rusak

BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Terbentuknya bayangan pada film radiografi berawal dari kumpulan sensitivity speck berisi
atom Ag yang akan membentuk pola pada film radiografi menjadi gambar latent (latent image).
Dan kemudian setelah terbentuknya bayangan laten harus melalui beberapa proses lagi
diantaranya developer, rinsing, fixer, washing dan drying (kecuali pada manual proses tanpa
memalui proses rinsing).
Dari proses tersebut terbentuklah bayangan tampak pada film radiografi yang digunakan
untuk membantu mendiagnosa penyakit pada pasien melalui media dua dimensi atau disebut juga
dengan foto rontgen.
B. Saran
Demikianlah makalah yang telah kelompok kami susun. Kami berharap makalah ini berguna
sebagaimana mestinya dan dapat diterima dengan baik. Sebagai manusia biasa yang tidak luput
dari kekurangan, kami juga mengharapkan kritik dan saran yang membangun sehingga kami
sebagai pemakalah dapat memperbaiki kekurangan dan mempertahankan kelebihan yang ada
pada makalah kami. Terima kasih.

16
DAFTAR PUSTAKA
Baines, H. (1963), The Science of Photography, Fountain Press, London.
John, D.H.O., (1963), Photographic Chemistry, Chapman Hall Ltd, London
Haus, Arthur G., Susan M. Jaskulski, (1997), Medical Physics Publishin, Madison Wisconsin
Jenkins, David, (1980), Radiographic Photography and Imaging Process, Aspen Publisher,
Maryland
Robert, Derrick P., Nigel L. Smith, (1988), Radiographic Imaging a Practical Approach, Churchill
Livingstone, New York