Anda di halaman 1dari 18

Bab 2

Diferensiasi dan Integrasi Numerik


2.1.

Diferensiasi Numerik

Fungsi analitik f(x) dan fungsi pendekatan p(x) mempunyai hubungan sebagai berikut:
f(x) = p(x) + e(x)

(2-1)

e(x) adalah error atau beda harga antara f(x) dan p(x). Dalam diferensiasi numerik, error
ini akan mempunyai harga yang cukup signifikan, sehingga diferensiasi numerik mungkin
akan mempunyai hasil yang tidak akurat.
f'(x) = p' (x) + e'(x)
e'(x) >> e(x)

(2-2)

Persamaan (2-1) secara umum dinyatakan dengan :

f ( x ) p k ( x ) f x0 ,......x k k (x)
k

k (x) ( x x i )
i 0

(2-3)
pk adalah polinominal dengan orde k yang digunakan untuk menginterpolasi /
mendekati f(x) di x = x0, xk. Dari persamaan (2-3) ke (2-1) akan diperoleh error
dengan ekspresi berikut:

e(x) f x 0 ,......x k k (x)


(2-4)
harga e(x) dalam persamaan (2-4) dapat berupa pengurangan (negatif) maupun
penambahan (positif), sehingga persamaan (2-3) dapat juga dinyatakan sebagai berikut:

p k ( x ) f ( x ) f x0 ,......x k k (x)
(2-5)
Untuk k = 1, maka persamaan (2-5) akan menjadi seperti berikut:
p 1 ( x ) f ( x 0 ) f x0 , x1

x x0

p'1(x) f x 0 , x1

II-1

f ' (x) p'1(x) f x0 , x1

(2-6)
Untuk a = x0 dan x1 = a + h, maka diferensiasi pertama numerik berdasar 'backward
difference' dapat dinyatakan sebagai berikut:

f ' (a) f a,a h

f a h f ( a )
h

(2-

7)
Untuk a = 1/2( x0 + x1), sehingga x0 = a h dan x1 = a + h, maka diferensiasi pertama
numerik berdasar 'central difference' dapat dinyatakan sebagai berikut:

f ' (a) f a - h, a h

f a h f a h
2h

(2-

8)
Untuk k = 2, maka persamaan (2-5) akan menjadi seperti berikut:

p 2 (x) f(x0 ) f x0 ,x1 x0 -x1 f x0 ,x1 ,x 2 x x0 x x1


p'2 (x) f x0 ,x1 f x0 ,x1 ,x 2 2 x-x0 x1

(2-

9)
f ' (x) p'2 (x) f x0 ,x1 f x0 ,x1 ,x 2 2 x x0 x 1

(2-

10)
Untuk a = x0, x1= a + h dan x2 = a + 2h, maka diferensiasi pertama numerik berdasar
'forward difference' dapat dinyatakan sebagai berikut :

f ' a

-3 f a 4 f a h f a 2 h
2h

(2-

11)
Rumus untuk mendekati turunan dengan orde lebih tinggi dapat diperoleh dengan cara
yang sama. Jika persamaan (2-9) diturunkan sekali lagi, maka akan diperoleh:

p"
2 (x) 2 f x
f x0
(2-12)

II-2

p"
2 (x)
f x 0 ,x

f ' ' ( x )
(2-13)

Untuk a = x0, x1= a + h dan x2 = a + 2h, maka diferensiasi kedua numerik berdasar
'forward difference' dapat dinyatakan sebagai berikut :
f '' a

f ( a ) 2 f a h f a 2h
h2

(2-14)

Contoh soal diferensiasi:


Posisi pelacak (tracer) polusi air tanah yang bergerak sepanjang sumbu x diidentifikasi
sebagai fungsi waktu dan diberikan dalam tabel 2.1. Dari posisi ini diminta menentukan
kecepatan dan percepatan pelacak sebagai fungsi waktu:
Tabel 2.1: Posisi Pelacak sebagai Fungsi Waktu
t (satuan waktu)

Posisi (m)

0
1.5
2.0
3.0
5.7
6.0
8.0
11.0
12.0
15.8
18.0
20.0

0
100
140
200
405
425
577
838
898
1172
1338
1500

Jawaban:
v1 = f ' (a)

f a h f ( a )
h

II-3

f 0.5 0.5 f ( 0.5 ) 205 100

210
0.5
0.5
f a h f a h
v2 = f ' (a)
2h
f ' ( 0.5 )

f ' ( 0.5 )

-3 f a 4 f a h f a 2h
2h

v3 = f ' a

f ' 0.5
''
a = f a

''

f 0.5 0.5 f 0.5 0.5 205 0

205
2( 0.5 )
1.0

-3 f 0.5 4 f 0.5 05 f 0.5 1.0 3( 100 ) 4( 205 ) 295

225
2( 0.5 )
1.0

f ( a ) 2 f a h f a 2h
h2

0.5

f ( 0.5 ) 2 f 0.5 0.5 f 0.5 1.0 100 2( 205 ) 295

60
0.25
( 0.5 ) 2

Tabel 2.2: Perhitungan Deferensiasi Numerik dengan Berbagai Rumus


t
(a)

x
f(a)

v1
pers. (2-7)

v2
pers. (2-8)

v3
pers. (2-11)

a
pers. (2-14)

0.0
0.5
1.0
1.5
2.0
2.5
3.0
3.5
4.0
4.5
5.0
5.5
6.0

0.0
100
205
295
385
486
581
678
777
873
975
1078
1178

0.0
100
105
90
90
101
95
97
99
96
102
103
100

200,0
210,0
180,0
180,0
202,0
190,0
194,0
198,0
192,0
204,0
206,0
200,0
-

205,0
195,0
180,0
191,0
196,0
192,0
196,0
195,0
198,0
205,0
203,0
-

195,0
225,0
180,0
169,0
208,0
188,0
192,0
201,0
186,0
203,0
209,0
-

20,0
-60,0
0,0
44,0
-24,0
8,0
8,0
-12,0
24,0
4,0
-12,0
-

II-4

Kurva Kecepatan
230
220

Kecepatan

210
200
190
180
v1

170

v2

160

v3

150
1

10 11 12 13

Waktu

Gambar 2.1: Kurva Kecepatan terhadap Waktu sebagai Contoh Perhitungan


Deferensiasi Numerik dengan Berbagai Rumus

2.2.

Integrasi Numerik

Integrasi sering dipakai secara luas dalam bidang rekayasa. Kasus-kasus yang melibatkan
integrasi numerik lebih banyak dijumpai dibanding dengan kasus diferensiasi numerik.
Diferensiasi biasanya dipakai secara analitik untuk mendiskripsikan fenomena alam
(govern equation) dalam medium atau domain yang tidak terbatas (infinite). Lingkup
terapan dalam bidang rekayasa menyangkut solusi persamaan ini dalam medium yang
terbatas (finite). Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan yang dilakukan bersifat lokal dan
kecil. Selanjutnya untuk memperoleh hasil global dalam medium tertentu, hasil lokal dan
kecil tersebut diintegrasi dalam keseluruhan medium yang ditinjau. Pendekatan ini
memungkinkan penerapan komputer dalam pemecahan integrasi numerik dengan sangat
baik dan meluas. Seiring perkembangan teknologi komputer, maka berkembang pula
teknologi solusi persamaan diferensial yang akhirnya berkembang menjadi cabang ilmu
sendiri. Dasar-dasar solusi persamaan diferensial parsial secara numerik akan ditinjau
secara khusus dalam Bab VI dan VII.
Integrasi secara simbolik dinyatakan secara analitik sebagai berikut:
I

(2-15)

f ( x )dx

II-5

dan identik dengan menyelesaikan nilai I y(b) untuk persamaan diferensial berikut:
dy
f(x)
dx

(2-16)

dengan syarat batas:


y(a) = 0

(2-17)

2.2.1. Formula Klasik Tertutup dengan Interval Absis Konstan


Absis biasanya dinyatakan dengan x0, x1, x2, xn. Untuk interval absis yang konstan,
nilai absis ke i dengan interval konstan sebesar h dapat dinyatakan sebagai berikut:
xi = xo + ih

untuk

i = 0,1,, n + 1

(2-18)

Suatu fungsi di xi akan mempunyai nilai sebagai berikut:


f(x) fi

(2-19)

Jika integrasi fungsi f(x) dihitung di antara limit batas bawah a dan batas atas b, akan
menghasilkan f(a) dan f(b), maka integrasi tersebut menggunakan formulasi integrasi
tertutup. Jika batas integrasi memakai nilai di sekitar a dan b, misalnya a1 dan b1, dimana
a1 > a dan b1 < b, maka integrasi yang dimaksud menggunakan formulasi integrasi
terbuka. Berikut ini akan diberikan beberapa formula itegrasi tertutup.
Formula trapesium:

1 1

I f ( x ) dx h f1 f2 O h3 f "
x
2 2
1

(2-20)

Suku O( ) mengekspresikan error yang merupakan beda antara solusi numerik dengan
solusi analitik. Formula di atas menggunakan dua titik, yaitu f1 dan f2 serta cocok untuk
polinomial dengan orde sampai dengan orde 1, misalnya f(x) = x.
Formula Simpson:
I

x
1

4
1

f
f
f
O h5 f
3 1 3 2 3 3

f ( x ) dx h

(4)

(2-21)

Formula dengan tiga titik ini cocok untuk polinomial dengan orde tertinggi sampai dengan
orde 3, misalnya f(x) = x3.
II-6

Formula Simpson 3/8:


I

x
1

9
9
3

f
f
f
f
O h5 f
8 1 8 2 8 3 8 4

f ( x ) dx h

(4)

(2-22)

Formula ini merupakan modifikasi formula Simpson dengan tiga titik serta cocok untuk
polinomial dengan orde sampai dengan orde 3.
Formula Bode:
I

x
1

64
24
64
14
14

f ( x ) dx h
f
f
f
f
f
O h7 f
45 1 45 2 45 3 45 4 24 5

(6 )

(2-23)

Formula dengan lima titik ini cocok untuk polinomial dengan orde sampai dengan orde 5.
Formula di atas diberi nama sesuai dengan nama penemunya. Disamping formula-formula
tersebut masih banyak lagi formula semacam itu dan tidak akan diberikan disini.

2.2.2. Formula Klasik Terbuka dengan Interval Absis Konstan


Salah satu contoh formula integrasi terbuka adalah formula integrasi terbuka Newton
seperti berikut ini:
I

x
0

55

5
5
55

f
f
f
f
O h7 f
24 1 24 2 24 3 24 4

f ( x ) dx h

(4)

(2-24)

Nilai integrasi dalam formula di atas yang dibatasi oleh nilai a = x0 dan b = x5 hanya
dievaluasi berdasar nilai di x1, x2, x3 dan x4 saja, yaitu nilai dalam rentang a dan b. Formula
ini tidak optimal seperti formula integrasi tertutup.

2.2.3. Formula Lanjut Tertutup dengan Interval Absis Konstan


Jika persamaan (2-20) digunakan sebanyak n - 1 kali untuk mengevaluasi integral dalam
interval (x1,x2), (x2,x3), (xn-1,xn), selanjutnya hasilnya dijumlahkan, maka kita akan
mendapatkan formula trapesium lanjut untuk integral dari x1 sampai xn sebagai berikut:
Formula trapesium lanjut:

II-7

3"

1 (b a ) f
1
I (f x ) dx h f1 f f . . . f f O 2
2 3 n 1 2 n n
2
x

xn

(2-25)

Dalam persamaan ini suku O( ) atau error dinyatakan tidak dalam kriteria h, melainkan
dalam interval b - a dan n. Persamaan (2-25) dalam kenyataannya merupakan persamaan
yang terpenting dan menjadi dasar untuk sebagian besar formula-formula integrasi dalam
praktek. Pengembangan persamaan (2-21) seperti penurunan persamaan (2-25) akan
menghasilkan formula Simpson lanjut sebagai berikut:
Formula Simpson lanjut:
I

xn

f ( x ) dx h

x
1

f1

4
2
4
2
4
1
1
f f f .... f
f
f O 4
3 2 3 3 3 4
3 n 2 3 n 1 3 n
n

(2-26)
Sampai dengan formula ini, kita meninjau formula integrasi dengan interval absis yang
konstan. Berikut ini akan dijelaskan formula integrasi dengan interval absis yang tidak
konstan.

2.2.4. Formula dengan Interval Absis Tidak Konstan (Quadratur Gauss)


Perbedaan formula klasik dan lanjut dengan formula quadratur Gauss yang selanjutnya
disebut dengan formula Gauss dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pada formula klasik dan lanjut, batas-batas integrasi a dan b bersifat sembarang,
sedangkan pada formula Gauss sudah ditentukan, misalnya a = -1 dan b = 1,
Formula klasik dan lanjut didasarkan pada interval absis yang konstan, sedangkan
formula Gauss menggunakan interval absis yang tidak konstan,
Pada formula klasik dan lanjut, koefisien-koefisien f1, f2, fn bersifat tetap,
sedangkan pada formula Gauss dapat ditentukan secara bebas,
Formula Gauss menggunakan sistem pembobotan agar diperoleh hasil yang optimal
yang dinyatakan dengan simbol wi.
Sampai saat ini dikenal beberapa varian formula Gauss diantaranya adalah: formula
Gauss-Legendre, Gauss-Laguerre, Gauss Chebyshev serta Gauss-Hermite. Dalam
kesempatan berikut hanya dijelaskan formula Gauss-Legendre saja. Formula GaussLegendre secara sederhana dapat dinyatakan sebagai berikut:
I

f ( x ) dx

F ( z ) dz

w F z
i

(2-27)

i 0

II-8

Pada formula klasik, variabel bebas mempunyai batas a x b, sedangkan pada formula
Gauss variabel bebas berada dalam interval -1 z 1. Untuk itu, transformasi antar
variabel z dan x dilakukan sebagai berikut:

2x ( a b )
ba

(2-28)

sehingga fungsi integran yang baru akan mempunyai bentuk sebagai berikut:
( b a )z ( a b )

f(x) f

(2-29)

dan persamaan (2-27) akan berubah menjadi sebagai berikut:


b

f ( x )dx

( b a )z ( a b )
dx
2

(2-

30)
Jika batas integrasi dipertahankan sebagai a x b seperti dalam integral berikut:
I

f ( x ) dx
a

dimana a dan b besarnya sembarang dan tertentu, maka sebagai alternatif yang lebih
sederhana dari pendekatan di atas, adalah melakukan transformasi formula GaussLegendre dari bentuk standar dengan interval -1 z 1 menjadi a x b dengan
menggunakan inverse (kebalikan) persamaan (2-28) sebagai berikut:

z( b a ) b a
2

(2-31)

sehingga persamaan (2-30) akan menjadi:

(ba )
I
2
(2-32)

z( b a ) b a
dz
f
1
2

Berdasar persamaan (2-27), maka persamaan (2-32) dapat didekati dengan formula:

II-9

(ba )
f ( x ) dx
2

i 0

zi ( b a ) b a

w f
i

(2-33)
Tabel 2.3 menyajikan faktor bobot formula Gauss-Legendre sampai dengan n = 14.
Formula Gauss-Legendre pada persamaan (2-33) sangat sesuai untuk komputasi digital,
karena tidak dibutuhkan transformasi simbolik f(x). Dalam hal ini hanya titik referensi zi
yang ditransformasikan serta bobot dimodifikasi dengan konstanta (ba) / 2.
Tabel 2.3: Akar Polinomial Legendre (z) dan Bobot (wi ) untuk Formula GaussLegendre (Sumber: Carnahan et al, 1969)

zi

F ( z )dz

wi F ( z
i 0

wi
i

0.57735 02691 89626

dua titik (n = 1)

1.00000 00000 00000

0.00000 00000 00000


0.77459 66692 41483

tiga titik (n = 2)

0.88888 88888 88889


0.55555 55555 55556

0.33998 10435 84856


0.86113 63115 94053

empat titik (n = 3)

0.65214 51548 62546


0.34785 48451 37454

0.00000 00000 00000


0.53846 93101 05683
0.90617 98459 38664

lima titik (n = 4)

0.56888 88888 88889


0.47862 86704 99366
0.23692 68850 56189

0.23861 91860 83197


0.66120 93864 66265
0.93246 95142 03152

enam titik (n = 5)

0.46791 39345 72691


0.36076 15730 48139
0.17132 44923 79170

0.14887
0.43339
0.67940
0.86506
0.97390

43389
53941
95682
33666
65285

81631
29247
99024
88985
17172

0.00000 00000 00000


0.20119 40939 97435
0.39415 13470 77563
0.57097 21726 08539
0.72441 77313 60170

sepuluh titik (n = 9)

0.29552
0.26926
0.21908
0.14945
0.06667

42247
67193
63625
13491
13443

14753
09996
15982
50581
08688

lima belas titik (n = 14)

0.20257
0.19843
0.18616
0.16626
0.13957
0.10715

82419
14853
10001
92058
06779
92204

25561
27111
15562
16994
26154
67172

II-10

0.07036 60474 88108


0.84820 65834 10427
0.03075 32419 96117
0.93727 33924 00706
0.98799 25180 20485
Contoh 1 integrasi: integrasi dengan batas integrasi -1 z 1
Hitung integral berikut dengan formula Gauss-Legendre 2 titik:
I

F ( z ) dz

z 3 z 2 z 1 dz 2 2
3

(2-

34)
Jawaban:
Dari table 2.3, dengan menggunakan formula 2 titik akan diperoleh:
I

F ( z ) dz

w F ( z i ) 1 x F ( 0.57735...) 1 x F ( 0.57735...)
i

i 0

0.56353297 2.10313369 2.66666666

(2-35)
Untuk formula dengan 2 titik, hasil ini adalah eksak (seperti diharapkan), karena formula
dua titik (n=1) adalah eksak jika F(z) adalah polinomial dengan orde (2n + 1) atau kurang.
Contoh 2 integrasi: dengan transformasi integran menyesuaikan pada formula Gauss
Hitung integral berikut dengan formula Gauss-Legendre 5 titik:
I

dx 1n x
x

2
1

1n 2 0.69314718

(2-

36)
Jawaban:
Transformasi variabel dari x dengan batas integrasi 1 x 2 ke dalam z dengan batas
integrasi -1 z 1 menggunakan persamaan (2-28) menghasilkan:

2x ( b a ) 2x 2 1

2x 3
ba
2 1

dz 2 dx

(2-37)

selanjutnya transformasi integran akan menghasilkan

II-11

f(x)

1
x

(2-

2
F( z )
z3

38)
sehingga integrasi akan berubah menjadi sebagai berikut:

dx
x

dz
2

1 z 3 2

1
dz
z 3

(2-39)
I

F( z )

w F( z
i

) 0.69314712

(2-

i 0

40)
Perhitungan integrasi Gauss-Legendre dengan lima titik dilakukan dalam tabel berikut ini.
Tabel 2.4: Perhitungan Integrasi Gauss-Legendre dengan Lima Titik
untuk Persamaan (2-39)
i

zi

wi

0
1
2
3
4

0.00000000
+ 0.53846931
0.53846931
+ 0.90617985
0.90617985

0.56888889
0.47862867
0.47862867
0.23692689
0.23692689

F( zi )

1
z 3
i

wi F ( z i )
0.18962962
0.13526433
0.19444351
0.06065437
0.11315529

0.33333333
0.28260808
0.40625128
0.25600460
0.47759593
4

w F( z
i

0.69314712

i 0

Contoh 3 integrasi: dengan transformasi integran formula Gauss menyesuaikan diri


Hitung integral berikut dengan Gauss-Legendre dua titik berdasar persamaan (2-33):
I

41)

x
3

x 2 x 1 dx 34

2
3

(2-

Jawaban:

II-12

Berdasar persamaan (2-33) dengan a = 1 dan b = 3 serta w1, z1 dari tabel 2.3 untuk n = 1
didapatkan:

.0 577350269189626( 31)31

1.0 f
3
2
( 31)

I f ( x ) dx x

2
1
.0 577350269189626( 31)31

1.0 f
2


f ( .1 4226497309 ) (f .2 5773502691)

(2-42)

.7 32592866 27.34073801 34.66666667


2.2.5. Integral Multi Dimensi

Metoda Suksesi

Integral multi dimensi terjadi jika fungsi integran harus dievaluasi terhadap lebih dari satu
variabel bebas. Berikut ini integrasi multi dimensi akan direduksi menjadi integral satu
dimensi dengan cara suksesi atau iterasi yang secara matematik dinyatakan sebagai
berikut:
I

dt n

tn

dt n 1

dt 2

f ( t 1 )dt 1

1
( n 1 )!

( x t ) n 1 f ( t )dt

(2-43)
Langkah-langkah reduksi integral multi dimensi menjadi integral satu dimensi diberikan
sebagai berikut:

Step 1
Step 2

:
:

Step 3

tentukan limit batas bawah dan atasnya pada sumbu x, yaitu x1 dan x2.
tentukan batas integrasi pada sumbu y, untuk nilai x tertentu, yang
dinyatakan sebagai y1 (x) dan y2 (x).
tentukan batas integrasi pada sumbu z, untuk nilai x,y tertentu, yang
dinyatakan sebagai z1(x,y) dan z2(x,y).

setelah itu, maka akan didapatkan intgral multi dimensi dengan ekspresi berikut:

II-13

dx dy dz

f ( x, y, z )

dx

x
1

y (x)
2

y (x)
1

dy

z ( x ,y )
2

z ( x ,y )
1

dz f ( x , y , z )

(2-44)
Misalkan
G( x , y )

z ( x,y )
2

z ( x ,y )
1

H( x )

dan

f ( x , y , z ) dz

y (x)
2

y (x)
1

G( x , y )dy

(2-45)

Maka integral dalam persamaan (2-43) dapat dimodifikasi menjadi sebagai berikut:
I

x (x)
2

x (x)
1

H ( x ) dx

(2-46)

Metoda Gauss Quadrature untuk Integrasi Multi Dimensi

Formula Gauss dalam dua dimensi dapat dinyatakan sebagai berikut:


I

f ( , ) d d

1 1

Ne

w (
i

(2-47)

) w j ( j ) f ( i , j )

i 1 j 1

0 wi ( i ) 1
0 w j (

)1

dimana wi ( i ) dan w j ( j ) adalah faktor bobot untuk fungsi f pada titik Gauss
( i , j ) , sedangkan N dan N adalah jumlah titik Gauss pada interval -1 i 1
dan 1 j 1 . Dalam tiga dimensi, formula Gauss akan mempunyai ekspresi seperti
berikut:

1 1 1

f ( , , ) d d d

w (
i

) w j ( j ) wk (

) f ( i , j ,

i 1 j 1 k 1

(2-48)

0 wi ( i ) 1

II-14

0 w j (

)1

0 wk (

)1

dimana wi ( i ) , w j ( j ) dan wk ( k ) masing-masing adalah faktor bobot untuk fungsi f


pada titik Gauss ( i , j , i ) dan N, N serta N masing-masing adalah jumlah
titik Gauss pada interval -1 i 1 , 1 j 1 dan -1 i 1 .
Jumlah dan lokasi titik Gauss serta faktor bobot dipilih sedemikian rupa, sehingga
diperoleh akurasi yang cukup tinggi. Jika fungsi f merupakan polinomial, maka formula
Gauss menghasikan integrasi yang eksak. Sejumlah (n+1) / 2 titik Gauss dibutuhkan agar
menghasilkan integrasi yang eksak untuk polinomial dengan orde n. Jumlah serta lokasi
titik Gauss diberikan dalam tabel 2.5.

Tabel 2.5: Lokasi Titik Gauss dan Faktor Bobot untuk Integrasi Eksak
Polinomial (Sumber: Dhatt and Touzot, 1984)
Orde
Polinomial

Jumlah Titik
Gauss

zi

wi

0 atau 1

2 atau 3

1/
1/

4 atau 5

1
1

3
3

8/9
5/9
5/9

3/5

6 atau 7

3/ 5

32 6 / 5
7

3 2 6 / 5
7

3 2 6 / 5
7

8 atau 9

3 2 6 / 5
7

1
2

1
6 6/5

1
2

1
6 6/5

1
2

1
6 6/5

1
2

1
6 6/5

128
225

II-15

1 54
3
1 54
3
1 54
3
1 54
3

5 / 14

161
450

13
180 5 / 14

5 / 14

161
450

13
180 5 / 14

5 / 14

161
450

13
180 5 / 14

5 / 14

161
450

13
180 5 / 14

Contoh integrasi dua dimensi:


Hitung integral berikut:
I

49)

( 4

(2-

) d d

Dalam persamaan (2-49), orde polinomial tertinggi adalah 4 atau (4). Untuk itu
dibutuhkan formula Gauss dengan 3 titik dalam masing-masing arah yang jumlah totalnya
adalah 9, yaitu (, ):

0, 0

0 , 3 / 5
0 , 3 / 5

3 / 5, 0

3 / 5,

3/ 5

3 / 5, 3 / 5

3 / 5, 0

3 / 5,

3/ 5

3 / 5, 3 / 5

Dari persamaan (2-47) didapatkan:


3

w (
i

i 1

) w j ( j ) ( 4j

2
i

3j )

(2-50)

j 1

( 8 /

9 )( 8 / 9 ) [( 0 )4 ( 0 ) 2 ( 0 )3 ]
3 / 5 )4 ( 0 ) 2 (

( 8 / 9 )( 5 / 9 ) [(

3 / 5 )3 ]

( 8 / 9 )( 5 / 9 ) [( 3 / 5 )4 ( 0 )2 ( 3 / 5 )3 ]

II-16

( 5 / 9 )( 8 / 9 ) [( 0 )4 ( 3 / 5 )2 ( 0 )3 ]
( 5 / 9 )( 5 / 9 ) [( 3 / 5 )4 ( 3 / 5 )2 ( 3 / 5 )3 ]
( 5 / 9 )( 5 / 9 ) [( 3 / 5 )4 ( 3 / 5 )2 ( 3 / 5 )3 ]

( 5 / 9 )( 8 / 9 ) [( 0 )4 ( 3 / 5 )2 ( 0 )3 ]
( 5 / 9 )( 5 / 9 ) [( 3 / 5 )4 ( 3 / 5 )2 ( 3 / 5 )3 ]
( 5 / 9 )( 5 / 9 ) [( 3 / 5 )4 ( 3 / 5 )2 ( 3 / 5 )3 ]

= 0 + 0.230 - 0.230 + 0 + 0.210 - 0.077 + 0 + 0.210 - 0.077


= 0.266

Contoh integrasi tiga dimensi:


Hitung integral berikut:
I

(2-51)

) d d d

Orde tertinggi polinomial adalah 3, dalam hal ini (3). Untuk itu dibutuhkan titik Gauss
sejumlah 2 dalam setiap arah yang totalnya berjumlah 8, yaitu (,, ):

1 , 1 , 1
3
3
3

1 , 1 , 1

1 , 1 , 1
3
3
3

1 , 1 , 1

1 , 1 , 1
3
3
3

1 , 1 , 1

1 , 1 , 1
3
3
3

1 , 1 , 1

Dari persamaan (2-48) didapatkan:


2

w (
i

i 1

) w j (

) w k ( k ) i 2j

j 1 k 1

3
k

i2 j

2
k

= (1 / 3 )(1 / 3 ) 2 1 / 3 )3 (1 / 3 )2 (1 / 3 )(1 / 3 )3

( 1 / 3 )( 1 / 3 ) ( 1 / 3 ) ( 1 / 3 ) ( 1 / 3 )( 1 / 3 ) 2

(1/ 3)(1/ )3 (1/ )3 (1/ ()3 1/ 3)(1/ )3


2 3 2

(2-52)

II-17

( 1 / 3 )( 1 / 3 ) 2 ( 1 / 3 )3 ( 1 / 3 ) 2 ( 1 / 3 )( 1 / 3 )2

( 1 / 3 )( 1 / 3 )2 ( 1 / 3 )3 ( 1 / 3 )2 ( 1 / 3 ) ( 1 / 3 )2

( 1 /
( 1 /

( 1 / 3 )( 1 / 3 ) 2 ( 1 / 3 )3 ( 1 / 3 ) 2 ( 1 / 3 )( 1 / 3 ) 2

3 )( 1 / 3 ) 2 ( 1 / 3 )3 ( 1 / 3 ) 2 ( 1 / 3 )( 1 / 3 )2

3 )( 1 / 3 )2 ( 1 / 3 )3 ( 1 / 3 ) 2 ( 1 / 3 )( 1 / 3 ) 2
= 0.1012 + 0.0272 0.0272 01012 + 0.0272 0.1012 + 0.1012
0.0272
= 0.0

catatan: faktor bobot mempunyai harga 1 pada semua titik Gauss

II-18