Anda di halaman 1dari 11

Blok 16 : Reproduksi

Tugas Jurnal

Pre-eklamsia Eklamsia

OLEH:
Arina Windri Rivarti
H1A011009

Fakultas Kedokteran Universitas Mataram


Nusa Tenggara Barat
2014

Preeklamsia - Eklamsia
Preeklamsia merupakan sindrom sistemik yang terjadi pada 3% - 5% wanita hamil
(Brett, C, et al., 2009). Wanita hamil dapat dikatakan preeklamsi, jika memenuhi beberpa
kriteria, yaitu: (1) proteinuria lebih dari atau sama dengan 30 m/hari dengan onset >20
minggu usia gestasi atau >/= 1+ pada dipstik dengan minimal 2 kali pengambilan tes dan
dengan jarak 4-6 jam tapi tidak lebih dari 7 hari; (2) tekanan darah sistolik >140 mmHg atau
diastolik >/= 90 mmHg diukur 2 kali, menggunakan manset yang sesuai, dengan jarak 4-6
jam dan kurang dari 7 hari; (3) hilangnya kelainan ini sebelum 6 minggu postpartum (Uzan,
J. et al., 2011).
1) Epidemiologi
Preeklamsia merupakan kelaianan multisistem yang menyumbang 3% - 8%
komplikasi kehamilan di daerah barat dan merupakan penyebab mayor mortalitas dan
morbidita di dunia. 10% - 15% kematian ibu berhubungan secara langsung dengan
preklamsia dan eklamsia. Resiko pre-eklamsia menjadi 2-5 kali lebih tinggi pada wanita
hamil dengan riwayat pernah menderita gangguan ini sebelumnya. Insidensi preeklamsi
sebesar 3% - 7% pada nulipara sehat dan 1%-3% pada multipara (Uzan, J. et al., 2011)
2) Faktor Resiko
Menurut Brett C. dkk (2009) faktor resiko preeklamsia antara lain:
- Kehamilan anak pertama.
- Riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya atau riwayat keluarga.
- Beberapa kondisi medis : hipertensi kronik, diabetes melitus, penyakit ginjal, sindrom
metabolik, dan hypercoagulable states.
- Usia ibu saat kehamilan yang terlalu
muda atau terlalu tua
- Kondisi yang meningkatkan masa
plasenta :

multifetal gestational,

hydatiform mole.
3) Patofisiologi dan Patogenesis
Patogenesis preeklamsia terbilang
kompleks karena merupakan interaksi dari
2

faktor genetik, lingkungan dan imunologi. Preeklamsia menunjukan dua gambaran klinis
yang dominan yaitu, proteinuria dan hipertensi karena organ target untamanya ginjal.
Preeklamsia dibagi menjadi dua stage, yaitu: (1) stage asimtomatik, ditandai dengan
perkembangan plasenta yang abnormal pada trisemester pertama, menyebabkan insufisiensi
plasenta dan pelepasan banyak zat dari plasenta yang masuk ke sirkulasi maternal; ( 2) tahap
simtomatis, wanita hamil menunjukan gejala hipertensi, gangguan ginjal dan proteinuria,
serta beresiko untuk terjadi HELLP syndrome (hemolysis, elevated liver function enzymes
and low platelets), eklamsia dan kerusakan end organ lain (Hladunewich, M. Et al., 2007).

1. STAGE 1

Plasenta memainkan peranan utama dalam patogenesis penyakit ini.


Pada pemeriksaan patologi pada wanita preeklamsia terjadi penyempitan
dan sklerosis serta gambaran infark pada arteri dan arteriol, dengan
karakteristik berkurangnya endovaskularisasi oleh cytotrophoblasts dan
remodeling arteri spiral uterina yang inadekuat. Secara makrokospis
terlihat abnormalitas arteri uterina dan abnormalitas dari morfologi
plasenta.

Sebelum

gejala

klinis

dari

preeklamsia

muncul

terjadi

peningkatan resistensi pembuluh darah uterus, konstriksi mekanik arteri


uterina menyebabkan hipertensi, proteinuria, beberapa kasus terdapat
endoteliasis glomerular (Hladunewich, M. Et al., 2007)..
Plasenta perlu memperluas daerahnya melalui angiogenesis untuk
tetap mempertahankan suply oksigen dan nutrisi ke fetus. Variasi dari
faktor

pro-

dan

antiangiogenik

berkerjasama

untuk

perkembangan

plasenta. Pada preeklamsia terjadi gangguan pada angiogenesis plasenta.


Hal ini ditandai dengan gagalnya sel cytotrophoblast berubah dari sel
epitel menjadi sel endotel (pseudogenesis). Pada preeklamsi terjadi
kegagalan

sel

cytotrophoblast

untuk

berubah

yang

menyebabkan

terjadinya iskemik (Hladunewich, M. Et al., 2007).


2. STAGE 2
Abnormalitas plasenta akibat kegagalan trophoblast meremodeling arteri spiral uterina
menyebabkan sekresi beberapa faktor ke sirkulasi ibu. Hal ini menyebabkan munculnya tanda
dan gejala klinis preeklamsia. Semua manifestasi klinis dari preeklamsia disebabkan oleh
endotheliosis glomerular, peningkatan permeabilitas vaskular, dan respon inflamasi sistemik
yang pada akhirnya terjadi kerusakan end organ atau hipoperfusi. Manifestasi klinis biasanya
muncul setelah minggu ke 20 kehamilan (Hladunewich, M. Et al., 2007).
a. Hipertensi
Pada kehamilan normal terjadi penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik karena
penurunan resistensi vaskular karena vasodilatasi. Hal ini disebabkan oleh hormon relaxin
dari ovarium dibawah pengaruh HCG yan meningkatkan regulasi NOS. Pada pasien dengan
preeklamsia pembentukan endotelial terganggu. Gangguan ini menyebabkan gangguan
sekresi faktor vasoaktif , sehingga menyebabkan faktor vasokonstriksi lebih predominan
4

(endotelin, tromboxan A2) daripada faktor vasodilator (NO dan prostacyclin). Namun teori
ini masih menjadi perdebatan. Teori lain mengungkapkan peran peningkatan curah jantung
(Hladunewich, M. Et al., 2007).
Hipotesis baru menunjukan adanya peran sistem Renin-Angiostensin-Aldosteron
(RAS). Pada wanita normal terjadi peningkatan hormon dalam sistem RAS namun tekanan
darah tetap normal. Hal ini dikarenakan penurunan sensitivitas terhadap angiostensin 2.
Wanita yang mengalami preeklamsi terbukti terjadi penurunan renin, angiostensin 1 dan
angiostensin 2 dibandingkan dengan wanita hamil normal, namun terjadi peningkatan
sensitivitas vaskular terhadap RAS pada pasien dengan preeklamsi. Belakangan ini, diketahui
penyebab peningkatan sensitivitas reseptor angiostensin karena adanya autoantibody terhadap
IgG yang stimulasi reseptor AT1. Selain itu autoantibody juga menstimulasu B2 reseptor
untuk bradikinin yang meningkatkan produksi spesies oksigen reactive. Spesies oksigen
reaktif berpengaruh terhadap blok invasi cytotrofoblast berakibat pada implantasi yang
dangkal dan akhirnya menyebabkan beberapa gambarn klinis preeklamsi (Hladunewich, M.
Et al., 2007).
b. Penurunan GFR
Pada wanita hamil normal terjadi hiperfiltrasi glomerulus, karena terjadi penurunan
dari tekanan onkotik kapiler glomerulus. Penurunan tekanan onkotik disebabkan oleh 2
fenomena, yaitu : (1) Hipervolemia karena hemodilusi berakibat penurunan konsentrasi
protein plasma pada mikrosirkulasi glomerulus; (2) Peningkatan renal plasma flow (RPF)
rate. Sebaliknya, Pada wanita dengan preeklamsi terjadi insufisiensi renal yang berhubngan
lesi glomerulus (glomerular endotheliosis). GFR wanita dengan preeklamsia 91 ml/min per
1,73 m2 jauh dibawah dibandingkan dengan wanita hamil normal 149ml/min per 1,73 m2
(Hladunewich, M. Et al., 2007).
c. Proteinuria
Preeklamsia dibedakan dari hipertensi gestational dari adanya proteinuria, dan
merupakan penyebab tersering sindrom nefrotik pada kehamilan. Proteinuria yang signfikan
sitandai dengan ekskresi protein lebih atau samadengan 300 mg dalam 24 jam urin atau 1+
atau lebih dalam urin dipstik untuk 2 kali tes random dengan jarak minimal 4 jam.
Mekanisme terjadinya proteinuria pada preeklamsi belum dimengerti. Karena hasil dari
pemeriksaan membran basal dan sel podosit masih normal. Beberapa penelitian menunjukan
bahwa hilangnya charge selectivity merupakan defek primer dari filtrasi glomerulus pada

kasus ini. Penelitian baru menunjukan adanya peranan faktor angiogenik terhadap gangguan
filtrasi glomerulus (Hladunewich, M. Et al., 2007).

d. Coagulopathy dan HELLP Syndrome


Pada wanita denga preeklamsia kerusakan endotel akan bermanifestasi pada
koagulopati melalui peningkatan fibronektin, peningkatan agregasi platelet, waktu hidup
platelet yang memendek, dan penurunan antitrombin 3. Syndrome HELLP berkembang
sampai 10 % wanita dengan preeklamsia (Hladunewich, M. Et al., 2007).
e. Eklamsia
Eklamsia merupakan tingkat ekstrem dari preeklamsia, ditandai dengan spastisitas
vaskular di seluruh tubuh, kejang kronik pada ibu, sering diikuti dengan koma, penurunan
hebat keluaran ginjal, malfungsi hati, seringkali dengan hipertensi berat, dan keadaaan toksik
umum pada tubuh. Biasanya eklamsia terjadi segera sebelum kelahiran. kejang dan gejala
neurologis terjadi kemungkinan karena spasme cerebral, edema dan hipertensi berat yang
mengganggu barir darah otak (Hladunewich, M. Et al., 2007).
f. Faktor Angiogenik dalam Preeklamsia
Diketahui 2 antiangiogenik protein dari plasenta yang dapat bersikulasi, yaitu: fmslike tyrosine kinase 1 (sFlt1) dan soluble endoglin (sENG). Kedua protein ini berperan dalam
patogenesis preeklamsia. sFlt1 bersofat antagonist potent dari VEGF dan Plasenta growth
faktor (PLGF). Normalnya, VEGF dan PLGF konsentrasinya meningkat saat kehamilan,
namun wanita preeklamsi sebelum timbul gejala klinis terjadi peningkatan kadar sFlt dalam
sirkulasi. SFlt bekerja dengan mengikat PlGF menyebabkan turunnya kadar PlGF bebas.
Selain itu, terjadi penurunan produksi VEGF sampai 50%. Hal ini tidak hanya menyebabkan
endotheliosis tetapi juga kehilangan glomerular endothelial fenestrae. Eng (Endoglin)
merupakan ko reseptor TGF-B. Eng diduga memediasi efek TGF-B1 dan TGF-B3 yang
berfungsi untuk meng inhibisi migrasi dan invasi trofoblast (Hladunewich, M. Et al., 2007).

4) Alur Diagnosis

5) Tatalaksana
Tatalaksana Darurat.Terapi kuratif untuk preeklamsia hanya dengan melahirkan.
Management preeklamsia bersifat multidisiplin yang melibatkan spesialist bedah, spesialist
anak, dan spesialis anestesi. Keputusan dari tatalaksana perlu mempertimbangkan antara
resiko maternal untuk melanjutkan kehamilan dengan resiko fetal untuk melahirkan preterm.
Kriteria untuk melahirkan berdasarkan dua faktor, yaitu : diagnosis usia gestasi
(memperkirakan berat badan fetal) dan derajat beratnya preeklamsia (Uzan, J. et al.,
2011).Tatalaksana untuk preeklamsia berat diawali dengan segera membawa ibu ke tempat
perawatan. Kemudian dilanjutkan pemeriksaan klinis, cardiotocographic, laboratorium dan
USG untuk mendeteksi derajat keberatan preeklamsia. Berdasarkan keberatan preeklamsia,
tidak ada keuntungan untuk melanjutkan kehamilan ketika preeklamsia ditemukan setelah
minggu ke 36-37. Selain itu, tidak menguntungkan juga untuk mempertahankan kehamilan
sebelum minggu ke 24, pada kasus preeklamsia yang berat, karena tingginya komplikasi
maternal dan prognosis neonatal yang buruk (Uzan, J. et al., 2011).
Mempertahankan

kehamilan

pada

kasus

preeklamsia

yang

ringan

dapat

dipertimbangkan. Pada usia 34-37 minggu, tatalaksana didasarkan derajat keberatan


preeklamsia. Tatalaksana dengan mempertahankan kehamilan mungkin untuk preeklamsia
ringan bertujuan untuk meminimalkan kelahiran prematur. Namun, untuk preeklamsia berat
8

persalinan tetap harus dilakukan, karena tingginya resiko komplikasi untuk maternal dan
fetal. Sama halnya, saat usia kehamilan 24-34 minggu, management didasarkan pada drajat
keberatan preeklamsia. Bila terdapat satu atau lebih anda berikut, diperlukan untuk
melakukan persalinan segera: (1) hipertensi yang tak terkontrol (tidak respon oleh terapi); (2)
eklamsia; (3) acute pulmonary edema; (4) abruptio plasentae; (5) subscapular hepatic
hematoma; atau (6) trombositopenia <50.000/mm3 (Uzan, J. et al., 2011).
Pemberian kosrtikosteroid sebelum kelahiran, penting untuk pematangan paru-paru
jika ada beberapa tanda, yaitu: nyeri epigastrik persisten, tanda eklamsia (sakit kepala atau
gangguan penglihatan persisten), kreatinin >120 umol/L, oliguria < 20 mLjam, sindrom
HELLP progresif. Betamethasone merupakan gold standar dengan dosis injeksi 12 mg
dengan jarak 24 jam. Terapi ini menurunkan resiko penyakit membran hialin, perdarahan
intraventrikular, mortalitas neonatus (Uzan, J. et al., 2011). || Terapi antihipertensi berguna
untuk preeklamsia berat untuk mengurangi komplikasi maternal (perdarahan cerebral,
eklamsia, atau edema pulmonal akut). Belum ada konsensus internasional yang membahas
terapi antihipertense. Empat obat yang diperbolehkan untuk hipertensi dengan preeklamsia
berat di France yaitu nicardipin, labetolol, clonidine, dan dihydralazine. Penurunan tekanan
darah yang terlalu agresif dapat berbaha bagi fetus, sehingga blum ada target tekanan darah
yang ideal (Uzan, J. et al., 2011).
Magnesium sulfate (MgSO4) dapat menjadi bagian terapi untuk preeklamsia berat.
Terapi ini diindikasikan untuk eclamtic convulsion sebaga prevensi sekunder dari eklamsia,
MgSO4 menggantikan diazepam, phenytoin dan pethidine. MgSO$ diberikan secara
intravena, dosis pertama 4 g selama 15-20 menit, kemudian bisa diulang dengan dosis
setengahnya (2g) apabila kejang muncul kembali, kemudian dosis maintenance 1g/24 jam.
Selama terapi ini perlu dilakukan menitoring pasien di ICU karena kemungkinan dapat terjadi
gagal organ. Monitoring dilakukan dengan melihat GCS, refleks tendon, frekuensi respirasi
>12 kali/menit, dan diuresis >30 mL/jam. Eklamsia merupakan indikasi dilakukan cesarean
section (Uzan, J. et al., 2011).

Kesimpulan
Faktor risiko pada preeklamsi dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu faktor risiko
maternal, faktor risiko medikal maternal, dan faktor risiko plasental atau fetal.
Sebab potensial yang mungkin menjadi penyebab preeklamsi adalah invasi
trofoblastik abnormal pembuluh darah uterus, intoleransi imunologis antara jaringan plasenta
ibu dan janin, maladaptasi maternal pada perubahan kardiovaskular atau inflamasi dari
kehamilan normal, faktor nutrisi, dan pengaruh genetik.
Anti hipertensi diberikan bila tekanan diastol mencapai 110 mmHg. Tujuan utama
pemberian obat anti hipertensi adalah menurunkan tekanan diastolik menjadi 90-100 mmHg.

10

Daftar Pustaka
Brett, C., Leviene, R.. and Karumanchi, A. 2009. Pathogenesis of preeclampsia. Annual
Review of Pathology: Mechanisms of Disease, [online]. 5:17392. Available at:
http://www.annualreviews.org/doi/abs/10.1146/annurev-pathol-121808-102149
[Acessed 26 Febuary 2014]
Hladunewich, M., Karumanchi, S.A. and Lafayette, R., 2007. Pathophysiology of the clinical
manifestations of preeclampsia. Clinical Journal of the American Society of
Nephrology, [online]. 2 : 543-549. Available at: http://cjasn.asnjournals.org/
content/2/3/543.full [Accessed 24 Febuary 2014].
Leeman, L., and Fontane, P., 2008. Hypertensive disorders of pregnancy. American Family
Physician, [online]. 78:(1). Available at: http://www.aafp.org/afp/2008/0701/p93.html
[Accessed 24 Febuary 2014].
Uzan, et al., 2011. Pre-eclampsia: pathophysiology, diagnosis, and management. Vascular
Health and Risk Management,[online]. Available at: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/
pmc/articles/PMC3148420/pdf/vhrm-7-467.pdf [Accessed 24 Febuary 2014].
Wagner, L.K., 2004. Diagnosis and Management of Preeclampsia. American Family
Physician, [online]. 70:(17). Available at: http://www.aafp.org/afp/2004/1215/
p2317.html [Accessed 24 Febuary 2014].

11