Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

IDENTIFIKASI KARBOHIDRAT

Nama

Asisten
Tgl Praktikum

Oleh:
:Sitta Fitriati / 10060313147
Keukeu Nurdianti/ 10060313148
Billy Fajriangi/10060313149
Maida Lismayanti/ 10060313150
:Budi Aryanto
:25-Februari-2015

Program Studi Farmasi


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Laboratorium Unit B
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2015

IDENTIFIKASI KARBOHIDRAT

I.

TUJUAN PERCOBAAN
Mahasiswa dapat memahami metode identifikasi karbohidrat.

II.

PRINSIP PERCOBAAN
1. Uji molisch : kondensasi senyawa furfural dan
turunannya dengan naftol
2+
+
2. Uji benedict : Reduksi Cu menjadi Cu
oleh karbohidrat yang mengandung aldehid dan
keton bebas.
3. Uji barfoed

: Reduksi

2+
+

Cu
menjadi
Cu

oleh karbohidrat yang mengandung aldehid dan


keton bebas.
4. Uji seliwanoff

: Konversi fruktosa menjadi

asam levulinat dan hidroksimetil furfural yang


kemudian dikondensasi dengan resorsinol
5. Uji Pati-Iodium
: Pembentukan kompleks pati
- iodium
III.

TEORI DASAR
Dalam melakukan fungsinya tubuh memerlukan tenaga/energi.
Energi yang diperlukan itu didapat dari energi potensial yaitu energi
yang tersimpan dalam bahan-bahan makanan berupa energi kimia,
dimana energi tersebut akan dilepaskan setelah bahan makanan
mengalami proses metabolisme dalam tubuh. Didalam tubuh zat-zat
makanan yang mengandung unsur karbon dapat dipergunakan sebagai
bahan pembentuk energi yaitu karbohidrat, lemak, protein (Kusharto
1992).
Biomolekul karbohidrat merupakan golongan utama bahan
organik, dan ditemukan pada semua bagian sel, terutama pada sel

tumbuhan. Sel tumbuhan paling banyak mengandung karbohidrat, 5080% bobot kering sel yaitu karbohidrat selulosa. Karbohidrat juga
merupakan komponen gizi utama bahan makanan yang berenergi lebih
tinggi dari biomolekul lain. Satu makromolekul karbohidrat adalah
satu polimer alam yang dibangun oleh monomer polisakarida.
Kedudukan karbohidrat sangatlah penting pada manusia dan hewan
tingkat tinggi lainnya, yaitu sebagai sumber kalori. Karbohidrat juga
mempunyai fungsi biologi lainnya yang tak kalah penting bagi
beberapa makhluk hidup tingkat rendah, ragi misalnya mengubah
karbohirat (glukosa) menjadi alkohol dan karbondioksida untuk
menghasilkan energi (Hawab, HM:2004).
C6H12O6 > 2C2H5OH + 2CO2 + energi Beberapa
turunan karbohidrat yang penting adalah glulosa, fruktosa dan
Deosiribosa. Glukosa disebut juga gula anggur karena terdapat dalam
buah anggur, gula darah karena terdapat dalam darah atau dekstrosa
karena memutarkan bidang polarisasi kekanan. Glukosa merupakan
monomer dari polisakarida terpenting yaitu amilum, selulosa dan
glikogen. Glukosa merupakan senyawa organik terbanyak. terdapat
pada hidrolisis amilum, sukrosa, maltosa, dan laktosa (Hawab,
HM:2004).
Karbohidrat sebenarnya merupakan nama umum senyawasenyawa kimiawi berupa bentuk hidrat dari karbon dan secara empiris
mempunyai rumus umum (CH2O)n. Salah satu perbedaan utama
antara berbagai tipe karbohidrat ialah ukuran molekulnya, diantaranya
monosakarida,

disakarida,

oligosakarida

dan

polisakarida

(Fessenden:1990).
A. Monosakarida
Monosakarida merupakan karbohidrat yang palingsederhana ka
rena tidak dapat dihidrolisis lagi menjadikarbohidrat yang lain
memiliki rumus empiris (CH2O)n.
menjadi 2 kelompok yaitu :

Monosakarida

terbagi

1. Aldosa
Mengandung gugus aldehid (CHO) bebas dan gugus
hidroksi

(OH)

bebas,

contoh:

glukosa

dan

galaktosa.

Gugus aldehid pada glukosa dan galaktosa dapatmenyebakan fehli


nakan membentuk endapan merah

bata

(Cu2O).

Aldosa

merupakan gula pereduksi yang berarti bahwa fungsi aldehid bebas


dari bentuk rantai terbuka mampu untuk dioksidasi menjadi gugus
asam karboksilat. Yang termasuk Aldosa antara lain :
a) Glukosa
Suatu aldoheksana yang sering disebut deksirona gula
darah dan juga gula anggur. Disebut dekstrona karena dapat
memutar cahaya terpolarisasi ke kanan, memiliki rumus

molekul

C6H1206, glukosa mengandung empat atom karbon simetrik yang


ditandai, yaitu :

(Fessenden, 1984)
b) Galaktosa
Merupakan monosakarida yang paling rendah kemanisanya,
dapat

memutar

cahaya

kanan, proses oksidasi oleh asam kuat

terpolarisasi

ke

dan dalam keadaan panas

galaktosa menghasilkan asam kuat yang kurang larut dalam


air.Galaktosa

merupakan hasil

hidrolisis dari

larutan

(gula

susu) yang melalui proses metabolisme diubah menjadi gula yang


dapat menghasilkan energi.

(Fessenden, 1984).
c) Ribosa dan deoksiribosa
Ribosa dan dioksiribosa membentuk kerangka polimer
dan asam-asam nukleus, awalan deoksi berarti

minus

satu

oksigen deoksi ribosa tidak memiliki oksigen pada karbon


kedua.

(Fessenden, 1984)
2. Ketosa
Merupakan monosakarida yang mengandung gugus

keton

dan sifarnya menyerupai keton alifatik (alkuna) contohnya yaitu


fruktosa, sifat-sifatnya adalah :

Mengandung gugus keton bebas atau karbonil bebas

disamping gugus hidroksida (OH).


Dapat terhidrasi jika dipanaskan bersama asam mineral

kuat.
Jika bereaksi dengan phernhyondino akanmembentuk
senyawa berwarna kuning.

Dapat mereduksi Fehling membentuk larutan merah


batadan juga mereduksi benedict.
Fruktosa

sering

disebut

selulosa

karena

memutar

bidang polarisasi ke kiri. Fruktosa merupakan gula termanis


(Fessenden, 1984).
B. Disakarida
Bila dihidrolisis akan menghasilkan 2 molekul monosakarida yang
sama atau berbeda. Disakarida terbentuk dari 2 molekul monosakarida
dimana tergabung melalui ikatan glioksida yang berbentuk antara karbon
aromatic

dan

salahsatu

monosakarida

dengan gugus hidroksil dari monosakaridalainnya,


terhadapaktivitasnya terhadap oksidator, maka disakarida dibedakan atas
disakerida produksi (maltosa, laktosa) dan disakarida non produksi
(sukrosa).

Hidrogen

disakarida

asam mineral energi panas atau oleh enzim

oleh

pengaruh

disakarida

pada

asamkondisi

tertentu akan dihasilkan monosakarida penyusunnya.


1. Maltosa
Pembentukan maltose : Glukosa + glukosa
maltosa + H2O
Maltosa terdapat pada gandum yang sedang berkecambah, Maltosa adalah
disakarida yang diperoleh sebagai hasil hidrolisis pati, hidrolisis
selanjutnya menghasilkan glukosa karenaitu maltosa terdiri dari 2 gugus
glukosa , memberi tes positif terhadap pereaksi tollens dan fehling.

( Arsyad, 2001)
2. Sukrosa
Sukrosa adalah gula yang kita kenal sehari-hari, baik yang berasal dari
tebu meupun dari bit. Selain dari tebu dan bit, sukrosa terdapat pada tumbuhan
lain, misalnya dalam buah nanas dan dalamwortel. Dengan hidrolisis sukrosa
akan terpecah dan menghasilkan glukosa dan fruktosa. Pada molekul sukrosa

terdapat ikatan antara molekul glukosa dan fruktosa, yaitu antara atom karbon
nomor 1 pada glukosa dengan atom karbon nomor 2 pada fruktosa melalui
atom oksigen. Kedua atom karbon tersebut adalah atom karbon yang
mempunyai gugusOH glikosidik atau atom karbon yang merupakan gugus
aldehida pada glukosa dan gugus keton pada fruktosa. Oleh karena itu molekul
sukrosa tidak mempunyai sifat dapat mereduksi ion-ion Cu2+atau Ag+ dan
juga tidak membentuk osazon.
Sukrosa mempunyai sifat memutar cahaya terpolarisasi ke kanan.
Hasil yang diperoleh dari reaksi hidrolisis adalah glukosa dan fruktosa dalam
jumlah yang ekuimolekuler. Glukosa memutar cahaya terpolarisasi ke kanan,
sedangkan fruktosa ke kira. Oleh karena fruktosa memiliki rotasi spesifik
lebih besar dari glukosa, maka campuran glukosa dan fruktosa sebagai hasil
hidrolisis itu memutar ke kiri. Proses ini disebut inverse. hasil hidrolisis
sukrosa yaitu campuran glukosa dan fruktosa disebut gula invert.

( Arsyad, 2001)
3. Laktosa
Dengan menghidrolisis laktosa akan menghasilkan D-galaktosa dan Dgluokosa, karena itu laktosa adalah suatu disakarida. Ikatan galaktosa dan
glukosa terjadi antara atom karbon nomor 1 pada galaktosa dan atom karbon
nomor 4 pada glukosa. Oleh karenanya molekul laktosa mempunyai sifat
mereduksi gugus OH glikosidik. Dengan demikian laktosa memiliki sifat
mereduksi dan mutarotasi. Biasanya laktosa mengkristal dalam bentuk a.
Dibandingkan dengan glukosa, laktosa memiliki rasa yang kurang manis.

Apabila laktosa dihidrolisis kemudian dipanaskan dengan asam nitrat akan


terbetuk asam musat.

( Arsyad, 2001)
C. Polisakarida
Pada umumnya polisakarida mempunyai molekul besar dan lebih
kompleks daripada mono dan oligosakarida, Molekul polisakarida terdiri
atas banyak molekul monosakarida. Polisakarida yang terdiri atas satu
macam monosakarida saja disebut homopolisakarida, sedangkan yang
menagdung

senyawa

lain

disebut

heteropolisakarida.

Umumnya

polisakarida berupa senyawa berwarna putih dan tidak berbentuk kristal,


tidak memiliki rasa manis dan tidak memiliki sifat mereduksi. Berat
molekut polisakarida bervariasi dari beberapa ribu hingga lebih dari satu
juta. Polisakarida yang dapat larut dalam air akan membentuk larutan
koloid. beberapa polisakarida yang penting diantaranya adalah amilim,
glikogen, dekstrin dan selulosa( Winarno, 1982)

Karbohidrat merupakan senyawa karbon, hydrogen dan oksigen yang


terdapat dalam alam. Banyak karbohidrat mempunyai rumus empiris CH2O.
Karbohidrat sebenarnya adalah polisakarida aldehida dan keton atau turunan
mereka. Salah satu perbedaan utama antara pelbagai tipe tipe karbohidrat ialah
ukurannya. Monosakarida adalah satuan karbohidrat yang tersederhana, mereka
tidak dapat dihidrolisis enjadi molekul karbohidrat yang lebih kecil.
Monosakarida dapat diikat bersama-sama membentuk dimer, trimer dan
sebagainya dan akhirnya polimer.. Sedangkan monosakarida yang mengandung
gugus aldehid disebut aldosa.Glukosa, galaktosa, ribose, dan deoksiribosa

semuanya adalah aldosa. Monosakarida seperti fruktosa dengan gugus keton


disebut ketosa. Karbohidrat tersusun dari dua atau delapan satuan monosakarida
dirujuk sebagai oligosakarida (Fessenden:1990).
Banyak tes digunakan untuk mengetahui karakteristik karbohidrat.
1. Uji Molisch adalah pengujian paling umum untuk semua karbohidrat, ini
berdasarkan kemampuan karbohidrat untuk mengalami dehidrasi asam katalis
untuk menghasilkan fulfural atau 5 hydroxymethylfurfural. Keberadaan
karbohidrat dapat kita lihat dengan uji Molisch atau uji bahan gula bebas,
alkohol naphthol, dan H2SO4. Pada uji benedict ion kupriCu2+ direduksi
menjadi Cu2O dalam larutan alkalin sitrat. Sitrat menahan kestabilan
Cu2+ selama reaksi dengan menjaga dari pengurangan menjadi hitam,
larutan CuO.
2. Uji Selliwanoff digunakan untuk membedakan aldosa dan ketosa. Ketosa
dan aldosa berbeda pada penyusun keton atau aldehid. Jika gula
mengandung keton maka itu adalah ketosa, sedangkan jika mengnadung
adehid maka itu adalah aldosa. Jika dipanaskan keton akan lebih cepat
terdehidrasi dibanding aldose. Reagen yang digunakan adalah resosinol
dan asam hidrocloric (Anonim:2013)
3. Uji Benedict digunakan untuk menentukan monosakari dan disakarida yang
mengandung grup aldehid yang dapat dioksidasi asam karboksil. Gula akan
mereduksi ion kupri pada larutan Benedict.
4. Uji Barfoed untuk memisahkan antara monosakarida dengan disakarida yang
dapat mereduksi ion kupri. Reagen barfoed bereaksi dengan monosakarida
untuk menghasilkan kupri oksida lebih cepat dibanding disakarida
(Eaton:1980). Dalam uji Barfoed Cu2+ tereduksi menjadi Cu2O pada
larutan asam lemah. Secara praktek,dapat terlihat bahwa monosakarida
mengurangi lebih cepat pada larutan asam lemah daripada disakarida. Uji
Selliwanof reaksi spesifik warna untuk ketosa. Pada larutan HCl,ketosa
mengalami dehidrasi menjadi fulfural lebih cepat dibanding aldosa. Lebih
jauh, fulfural akan bereaksi dengan resolsinol menghasilkan warna. Dengan
konsekuensi, tingkat perkembangan warna dan resolsinol menyediakan
bukti bahwa aldosa dan ketosa murni terdapat pada gula (Clark:1964).

IV.

ALAT DAN BAHAN

V.

A. ALAT
Tabung reaksi
Penangas air
Pipet tetes
Gelas ukur 10 ml
Penjepit
B. BAHAN
Pereaksi molish
Pereaksi benedict
Pereaksi barfoed
Pereaksi seliwanoff
Pereaksi pati iodium
Larutan glukosa
Larutan sukrosa
Larutan maltose
Larutan arabinose
Larutan amilum 1%
Selulosa
Alkohol
HCL 6N
Asam sulfat
NaOH 6 N
PROSEDUR DAN DATA PENGAMATAN

Nama
Percobaan
Uji
Molisch

Prosedur

Hasil Pengamatan

I ml glukosa

Larutan berwarna

ditambah 3 tetes

ungu dan ada endapan

molisch dan

serta terdapat cincin

ditambahkan 1 ml

berwarna ungu

asam sulfat pekat

Gambar

I ml sukrosa

Larutan berwarna

ditambah 3 tetes

ungu pekat

molisch dan
ditambahkan 1 ml
asam sulfat pekat

I ml maltose

Larutan berwarna

ditambah 3 tetes

ungu pekat dan ada

molisch dan

cincin berwarna ungu

ditambahkan 1 ml
asam sulfat pekat

I ml arabinose

Larutan berwarna

ditambah 3 tetes

ungu keruh dan ada

molisch dan

endapan

ditambahkan 1 ml
asam sulfat pekat

I ml 1% amilum

Larutan berwarna

ditambah 3 tetes

ungu dan ada endapan

molisch dan

putih

ditambahkan1 ml
asam sulfat pekat

Sedikit kapas atau

Kapasnya hancur

selulosa ditambah 3

terkena asam sulfat,

tetes molisch dan

larutan berwarna ungu

ditambahkan 1 ml

pekat

asam sulfat pekat

2 ml benedict

Banyak terdapat

ditambah 3 tetes

endapan berwarna

fruktosa,

merah bata

dipanaskan.

Uji
Benedict

2 ml benedict

Terdapat endapan

ditambah 3 tetes

berwarna merah bata

galaktosa,

sedikit

dipanaskan

Uji

1 ml barfoed

Terbentuk endapan

Barfoed

ditambah1 ml

merah bata sedikit

sukrosa, dipanaskan
1 ml barfoed

dalam waktu 65 menit


Terbentuk endapan

ditambah1 ml

merah bata dalam 2

fruktosa, dipanaskan

menit

1 ml barfoed

Terbentuk endapan

ditambah 1 ml

merah bata sedikit

laktosa, dipanaskan

dalam waktu 65 menit

3 ml seliwanoff

Larutan menjadi

ditambah 3 tetes

merah dalam waktu

fruktosa

singkat

Uji
Seliwanoff 3 ml seliwanoff
ditambah3 tetes
sukrosa

Larutan menjadi
merah dalam waktu
yang lama

3 ml larutan pati

Warna larutan

ditambah 2 tetes air

menjadi gumpalan

dan ditambahkan 1

biru tua, setelah

tetes iodium,

dipanaskan 45

dipanaskan

menit, warna jadi


keruh

Uji PatiIodium

3 ml larutan pati

Warna biru tua

ditambah 2 tetes HCl

terdapat di atas dan

ditambah 1 tetes

di bagian bawah

iodium, dipanaskan

larutan, setelah
dipanaskan 60
menit, warna jadi

3 ml larutan pati

bening
Warna biru tua tidak

ditambah 2 tetes

merata, setelah

NaOH ditambah 1

dipanaskan 16 detik,

tetes iodium,

warna jadi keruh

dipanaskan

VI.

PEMBAHASAN
Uji molisch adalah uji kimia kualitatif untuk mengetahui adanya
karbohidrat. Uji Molisch dinamai sesuai penemunya yaitu Hans
Molisch, seorang ahli botani dari Australia. Uji ini didasari oleh reaksi
dehidrasi karbohidrat oleh asam sulfat membentuk cincin furfural yang
berwarna ungu. Reaksi positif ditandai dengan munculnya cincin ungu
di permukaan antara lapisan asam dan lapisan sampel.
Sampel yang diuji dicampur dengan reagent Molisch, yaitu -naphthol
yang terlarut dalam etanol. Setelah pencampuran atau homogenisasi,
H2SO4 pekat perlahan-lahan dituangkan melalui dinding tabung reaksi
agar tidak sampai bercampur dengan larutan atau hanya membentuk
lapisan. H2SO4 pekat (dapat digantikan asam kuat lainnya) berfungsi
untuk menghidrolisis ikatan pada sakarida untuk menghasilkan
furfural. Sehingga hasil positif ditunjukkan ketika warna larutan ungu
pada batas kedua cairan, sedangkan warna hijau menunjukkan reaksi
negatif. Berdasarkan percobaan, semua senyawa uji hasilnya positif
karena semua membentuk cincin ungu. Ini menunjukkan bahwa semua
senyawa uji mengandung karbohidrat.
Prinsip uji Benedict ialah ketika suatu senyawa uji memiliki
gugus fungsi aldehida atau gugus fungsi hemiasetal yang dapat
membuka menjadi aldehida maka karbohidrat tersebut merupakan gula
pereduksi. Cu2+ yang terkompleks dengan benedict dapat direduksi
menjadi endapan merah bata (Cu2O). Persamaan reaksi yang terjadi
pada uji Benedict :

RCHO + 2 Cu2+ + 5 OH-

RCO2- + Cu2O + 3 H2O

Berdasarkan percobaan galaktosa dan fruktosa


mengandung

gula

pereduksi.

Berdasarkan

hasilnya positif
literatur

semua

monosakarida (glukosa, fruktosa, laktosa) dan kebanyakan disakarida


(sukrosa, maltosa) dapat mereduksi oksidator lemah. Polisakarida akan
menghasilkan

monosakarida

apabila

terjadi

hidrolisis

total,

kebanyakan polisakarida tidak larut dalam air dan tidak mereduksi


pereaksi benedict (Purba 2007). Berdasarkan percobaan fruktosa
memiliki endapan merah bata terbanyak karena fruktosa begitu mudah
teroksidasi dalam larutan basa fruktosa berada dalam kesetimbangan
dengan dua aldehida diastereometik serta penggunaan suatu zat antara
tautomerik enadiol (Fessenden 1982).
Prinsip uji Barfoed ialah pereaksi Barfoed juga mereduksi ion
Cu2+ menjadi Cu+. Uji ini termasuk uji spesifik. Karbohidrat direduksi
pada suasana asam dengan menambahkan asam laktat. Senyawa uji
yang membentuk endapan merah bata adalah monosakarida sedangkan
yang tidak membentuk endapan merah bata (larutan berwarna biru)
adalah disakarida. Berdasarkan percobaan fruktosa merupakan
monosakarida sedangkan sukrosa, laktosa merupakan disakarida. Pada
fruktosa endapan merah bata terbentuk dalam waktu 2 menit hasil ini
lebih cepat dibandingkan dengan laktosa dan sukrosa yang membentuk
endapan merah bata pada waktu 65 menit. Hasil tersebut terjadi karena
fruktosa merupakan monosakarida sedangkan sukrosa dan laktosa
termasuk disakarida. Hasil uji ini sesuai dengan literatur yang
menunjukkan bahwa fruktosa merupakan monosakarida sedangkan
sukrosa, laktosa merupakan disakarida (Kusharto 1992).
Pada uji Seliwanoff tabung pertama yang berisi sukrosa
menghasilkan warna merah sedangkan tabung 2 berisi fruktosa
menghasilkan warna merah lebih cepat. Larutan fruktosa berubah
warna menjadi berwarna merah lebih cepat. Penambahan asam pekat
dan pemanasan akan mengakibatkan terdehidrasinya fruktosa menjadi

hidroksimetilfurfural yang bereaksi dengan resorsinol yang terdapat di


dalam Reagent Selliwanof. Resorsinol akan bereaksi dengan
hidroksimetilfurfural yang terbentuk dari reaksi gugus keton dengan
selliwanof. Gugus keton tersebut berasal dari fruktosa. Sedangkan di
dalam sukrosa karena pemanasan dan suasana yang asam menjadi
fruktosa dan glukosa dimana fruktosa mempunyai gugus keton yang
bereaksi dengan uji selliwanof. Oleh karena itu pada tabung berisi
sukrosa lebih lama terjadi perubahan warnanya karena dengan adanya
gugus keton maka resorsinol dari fruktosa dapat bereaksi dan
menghasilkan warna merah bata. Hasil dari prkatikum yang kami
lakukan sesuai dengan teori.
Pati (starch) atau amilum merupakan polisakarida yang
terdapat pada sebagian besar tanaman, terbagi menjadi dua fraksi yaitu
amilosa dan amilopektin. Amilosa (kurang lebih 20 %) memilki
struktur linier dan dengan iodium memberikan warna biru serta larut
dalam air. Fraksi yang tidak larut disebut amilopektin (kurang lebih 80
%) dengan struktur bercabang. Pati dalam suasana asam bila
dipanaskan akan terhidrolisis menjdi senyawa-senyawa yang lebih
sederhana. Hasil hidrolisis dapat dengan iodium dan menghasilkan
warna biru samapi tidak berwarna. Dari hasil uji menggunakan
pereaksi iodium hasil positif dihasilkan pada amilum yang dihidrolisis
dengan air, NaOH dan asam (HCl). Dengan ditunjukannya perubahan
warna dari bening menjadi biru menunjukkan bahwa amilum dapat
terhidrolisis oleh air,asam dan basa menjadi amilosa dan amilopektin.
Dengan

bantuan

panas,

amilum

bisa

terhidrolisis

menjadi

monosakarida-monosakarida lebih cepat pada suasana asam dan air


ditandai dengan setelah pemanasan larutan kembali menjadi bening
sedangkan pada NaOH berikatan dengan iodin jadi tidak memberikan
reaksi.

VII.

KESIMPULAN

Berdasarkan

percobaan

dapat

disimpulkan

bahwa

uji

Molisch

menunjukkan bahwa semua senyawa uji merupakan karbohidrat. Uji Benedict


menunjukkan bahwa fruktosa dan

merupakan gula pereduksi yang memiliki

gugus fungsi aldehida atau hemiasetal. Uji Barfoed membuktikan fruktosa


merupakan monosakarida sedangkan sukrosa, dan laktosa merupakan disakarida.
Uji seliwanoff untuk fruktosa dan sukrosa memiliki gugus keton. Uji Pati-Iodium,
pati dalam suasana asam bila dipanaskan akan terhidrolisis menjdi senyawasenyawa yang lebih sederhana.

VIII.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad.M.N. 2001. Kamus Kimia . Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.


Eaton, David C. 1980. The World of Organic Chemistry. New york : Mc-GrawHill Book Company.
Fessenden R J, Joan S Fessenden. 1982. Kimia Organik. Ed. Ke-3. Penerjemah
Aloysius Hadyana P udjaatmaka. Terjemahan dari Organic Chemistry Third
Edition. Erlangga. Jakarta.
Fessenden, Ralp J. 1990. Kimia Organik Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga.
Fessenden. 1984. Kimia Organik Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
Hawab, HM. 2004.Pengantar Biokimia.Jakarta : Bayu Media Publishing.
Kusharto C M, Suhardjo. 1992. Prinsip-Prinsip Ilmu Gizi. Penerbit Kanisius.
Yogyakarta
Winarno, F.G. 1982. KIMIA PANGAN dan GIZI. Jakarta : Gramedia Pustaka
Utama