Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kita semua mengetahui bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi
(AKB) di Indonesia masih tinggi yaitu AKI 228/100.000 ketahiran hidup (KH) dan AKS
34/1000 kelahiran hidup (SDKI 2007), Sedangkan target RPJMN Depkes 2004-2009 AKI
226/100.000 KH dan AKB 26/1 000 KH. Dalam Konfrensi Tingkat Tinggi Persatuan
BangsaBangsa (2000) telah disepakati berbagai komitmen tentang Tujuan Pembangunan
Milenium (Milenium Development Goals) pada tahun 2015, ada dua sasaran dan indicator
secara khusus terkait dengan kesehatan ibu, bayi dan anak yaitu

Mengurangi Angka Kematian Bayi dan Bahta sebesar 2/3 dad angka pada tahun 1990
(menladi 20 dan 25/1 000 KH).
Mengurangi Angka Kematian Ibu sebesar 3/4 dan AKI pada tahun 1990 (menjadi
125/100.000 kelahiran hidup).
Survey Kesehatan Rumah Tangga tahun 2001 menyebutkan bahwa penyebab kematian ibu
terbanyak di Indonesia adalah perdarahan (28%), Eklampsia (24%), lnfeksi (11%), partus
macet/tama (8%) dan aborsi (5%) sedangkan penyebab kematian bayi baru lahir yang
terbanyak adalah karena BBLR (29%), Asfiksia (27%), lnfeksi dan tetanus (15%), masalah
pemberian minum (10%), gangguan hematologi (6%), lain-lain (13%). Hal tersebut
kemungkinan disebabkan oleh ketertambatan pengambilan keputusan, merujuk dan
mengobati. Sedangka kematian ibu umumnya disebabkan perdarahan (25%), infeksi (15%),
pre-eklamsia/eklamsia (15%), persalinan macet dan abortus. Mengingat kematian ibu
mempunyai hubungan erat dengan mutu penanganan ibu, maka proses persalianan dan
perawatan bayi harus dilakukan dalam sistem terpadu ditingkat nasional dan regional.
Pelayanan obstetri dan neonatal regional merupakan upaya penyediaan pelayanan
bagi ibu dan bayi baru lahir secara terpadu dalam bentuk Pelayanan Obstetri Neonatal
Emergensi Konfrehensif (PONEK) di rumah sakit dan Pelayanan Obstetri Neonatal
Emergensy Dasar (PONED) ditingkat Puskesmas.
Rumah Sakit PONEK 24 jam merupakan bagian dan sistem rujukan dalam pelayanan
kedaruratan dalam maternal dan neonatal, yang sangat berperan dalam menurunkan angka
kematian ibu dan bayi baru lahir. Kunci keberhasilan PONEK adalah ketersediaan tenaga
kesehatan yang sesuai kompetensi, prasarana, sarana dan manajemen yang handal.
Untuk mencapai dalam bidang tertentu, tenaga kesehatan memerlukan pelatihanpelatihan untuk meningkatkan pengetahuan keterampilan dan perubahan periaku daiam
pelayanan kepada pasien.

Komplikasi obstetric tidak selalu dapat diramalkan sebelumnya dan mungkin saja terjadi
pada ibu hamil yang diidentifikasi normal. Oleh karena itu kebijakan Rumah Sakit
Rawamangun adalah mendekatkan pelayanan obstetric dan neonatal sedekat mungkin kepada
setiap ibu hamil sesuai dengan pendekatan Making Pregnancy Safer (MPS) yang mempunyai
3 pesan kunci yaitu
1. Persalinan bersih dan aman oleh tenaga terampil.
2. Penanganan komplikasi kehamilan dan persalinan secara adekuat.
3. Setiap kehamilan harus dnginkan dan tersedianya akses bagi penanganan komplikasi abortus
tidak aman.
Penyebab kematian pada masa prenatal/neonatal pada umumnya berkaitan dengan
kesehatan ibu selama kehamilan, kesehatan janin selama didalam kandungan dan proses
pertolongan persalinan yang bermasalah. Oleh karena itu perlu adanya strategi penurunan
kematian/kesakitan maternal perinatal dengan Sistem Pelayanan Maternal Perinatal Regional
yaitu dukungan bagi MPS di Indonesia dengan upaya
a.
b.
c.
d.

Menyiapkan pelayanan yang siap siaga 24 jam.


Meningkatkan mutu SDM dengan pelatihan berkala mengenai pelayanan kegawat daruratan
Bertanggung jawab atas semua kasus rujukan
Bekerjasama dengan dinas dalam surveillance/audit kematian ibu dan bayi.
Selanjutnya diharapkan pedoman penyelenggaraan PONEK di RS ini dapat dijadikan
panduan bagi tim PONEK di RS kabupaten/kota serta bagi dinas kesehatan
propinsi/kabupaten/kota dapat dipergunakan untuk menurunkan Angka kematian ibu (AKI)
dan angka kematian bayi (AKS) diwilayah kerjanya.

B. Dasar Hukum
1. Undang-undang Republik Indonesia nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan ( Lembaran
Negara RI tahun 1992 nomor 100,tambahan lembaran negara RI nomor 2495 ).
2. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran
(Lembaga Negara RI tahun 2004 nomor 116, tambahan lembaran negara RI nomor 4431).
3. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
(lembaran negara RI tahun 2004 nomor 125, tambahan lembaran negara RI nomor 4437).
4. Peraturan Menteri Kesehatan RI no. 159b/menkes/SK/per/II/1 988 tentang RS.
5. Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 1333/menkes/SK/II/1999 tentang Standar Pelayanan
RS.
6. Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 131/menkes/SK/II/2004 tentang Sistem Kesehatan
Nasional diatur upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat.
7. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor l575/menkes/per/XI/2005 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Departemen Kesehatan.
8. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 1045/menkes/per/XI/2006 tentang Pedoman
Organisasi RS di Lingkungan Departemen Kesehatan.
9. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 512/menkes/per/IV/2007 tentang Iziri Praktek dan
Pelaksanaan Praktik Kedokteran.
C. VISI&MISI
2

VISI
Pada tahun 2015 tercapai tujuan pembangunan milenium (millenium Development Goals)
yaitu:
Mengurangi angka kematian bayi sebesar dua pertiga dan AKB pada tahun 1990 menjadi 20
dan 25/1000 kelahiran hidup.
Mengurangi angka kematian ibu sebesar tiga perempat dan AKI pada tahun 1990 menjadi
125/100.000 kelahiran hidup.
MISI
Menyelenggarakan pelayanan obstetri dan neonatal yang bermutu melalui standarisasi RS
PONEK 24 jam, dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi di
indonesia.

D. Tujuan
a. Umum
Meningkatkan Pelayanan Maternal dan Peninatal yang bermutu dalam upaya penurunan
Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayl di Rumah Sakit Rawamangun.
b. Khusus
1. Adanya kebijakan Rumah sakit dan dukungan penuh manajemen daiam pelayanan
PONEK.
2. Terbentuknya tim PONEK RS.
3. Tercapainya kemampuan teknis tim PONEK sesuai standar.
4. Adanya koordinasi dan sinkronisasi antara pengelola dan penanggung jawab pada tingkat
kabupaten/kota, propinsi dan pusat dalam manajemen program PONEK.
E. Sasaran
1. Seluruh pimpinan RS tingkat kabupaten/kota.
2. Seluruh dinas kesehatan propinsi dan kabupaten/kota.
3. Pengelola program kesehatan ibu dan anak diseluruh dinas kesehatan propinsi dan
kabupaten/kota.
F. Pengertian
1. Regionalisasi pelayanan obstetri dan neonatal
Adalah Suatu sistem pembagian wilayah kerja rumah sakit dengan cakupan area pelsyanan
yang dapat dijangkau oleh masyarakat dalam waktu kurang dan 1 jam, agar dapat
memberikan tindakan darurat sesuai standar. Regionalisasi menjamin agar sistem rujukan
kesehatan berjalan secara optimal.
2. Rujukan
Adalah pelimpahan tanggung jawab timbal balik dua arah dan sarana pelayanan primer
kepada sarana kesehatan sekunder dan tersier.
3. Rumah Sakit PONEK 24 JAM
Adalah rumah sakit yang menyelenggarakan pelayanan kedaruratan maternal dan neonatal
secara konfrehensif dan tenintegrasi 24 jam.
3

G. Ruang Lingkup
Upaya pelayanan PONEK:
1.
2.
3.
4.
5.

Stabilisasi di UGD dan persiapan untuk pengobatan definitif.


Penanganan kasus gawat darurat oleh tim PONEK RS diruang tindakan.
Penanganan operatif cepat dan tepat meliputi laparatomy dan sectio cesarea.
Perawatan intensif ibu dan bayi.
Pelayanan asuhan antenatal resiko tinggi.
Ruang lingkup pelayanan kesehatan materna dan neonatal pada PONEK terbagi atas 2 kelas,
yaitu rumah sakit kelas C dan B. Rumah sakit Rawamangun adalah rumah sakit type C
pelayanananya antara lain:
PONEK RUMAH SAKIT KELAS C

1. Pelayanan kesehatan maternal dan neonatal fisiologis


Pelayanan kehamilan
Pelayanan persalinan
Pelayanan nifas
Asuhan bayl baru lahir (level 1)
Irnunisasl dan stimulasi, deteksi, intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK)
2. Pelayanan kesehatan maternal dan neonatal dengan resiko tinggi
Masa Ante natal
Perdarahan pada kehamilan muda
Nyeri perut dalam kehamilan muda dan lanjut
Gerak janin tidak dirasakan
Demam dalam kehamilan dan persalinan
Kehamilan ektopik (KE) dan kehamilan ektopik teerganggu (KET)
Kehamilan dengan nyerl kepala, gangguan penglihatan, kejang dan koma, tekanan darah
tinggi
Masa intranatal
Persalinan dengan parut uterus
Persalinan dengan distensi uterus
Gawat janin dalam persalinanPelayanan terhadap syok
Ketuban pecah dini
Induksi dan akselerasi persalinan
Aspirasi vakum manual
Ekstrasi cunam
Sectio secarea
Episiotomi
Kraniotomi dan kraniosentesis
Maipresentasi dan malposisi
Distosia bahu
Prolapsus tali pusat
4

Plasenta manual
Perbaikan robekan servik
Perbaikan robekan vagina dan perineum
Perbaikan robekan dinding uterus reposisi inersia uteri
Histerektomi
Sukar bernafas
Kompresi bimanual dan aorta
Dilatasi dan kuretase
Ligase arteri uterina
Bayi baru lahir dengan asfiksia
BBLR
Resusitasi bayi baru lahir
Anastesi umum dan lokal untuk sectio secarea
Anastesi spinal, ketamin
Blok paraservikal
Blok pudendal
(bila memerlukan pemeriksaan specialistik, dirujuk ke RSIA /RSU)

Masa post natal


Masa nifas
Demam pasca persalinan
Perdarahan pasca persalinan
Nyeri perut pasca persalinan
Keluarga berencana
Asuhan bayi haru lahir (Invel 2)
3. Pelayanana kesehatan neonatal
Hiperbilirubin
Asfiksia
Trauma kelahiran
Hipiglikemi
Kejang
Sepsis neonatal
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
Gangguan pernapasan
Kelainan jantung (payah jantung, payah jantung bawaan, PDA)
Gangguan perdarahan
Renjatan (shock)
Aspirasi mekonium
Koma
Inisiasi dini ASI (breast feeding)
Kangaro mother care
Resusitasi neonatus
Penyakit membran hyalin
Pemberian minum pada bayi resiko tinggi
5

4. Pelayanan ginekologi
Kehamilan ektopik
Perdarahan uterus disfungsi
Perdarahan menorargia
Kista ovariurn akut
Radang pelvik akut
Abses pelvik
Infeksi saluran genitalia
HIV-AIDS
5. Perawatan khusus/ High Care Unit dan Transfusi darah
H. Pelayanan Penunjang Medik
1. Pelayanan Darah
a. Jenis pelayanan
Merencanakan kebutuhan darah di RS
Menerima darah dan UTD yang telah memenuhi syarat uji saring (non reaktif) dan
telah dikonfirmasi golongan darah
Menyimpan darah dan memantau suhu simpanan darah
Memantau persediaan darah harian/mingguan
Melakukan pemeriksaan golongan darah ABO dan rhesus pada darah donor dan
darah recepier
Melakukan uji silang serasi antara darah donor dan darah recepien
Melalcukan rujukan kesulitan uji silang serasi dan golong darah ABO / rhesus ke
unit tranfusi darah/UTD secara berjenjang
Bagi rumah sakit yang tidak memiliki fasilitas unit transfusi darah / Bank darah
dianjurkan untuk nembuat kerjasama dengan penyediaan tasilitas tersebut.

b. Tempat pelayanan
Unit transfusi darah / UTD PMI
Unit transfusi darah UTD Rumah sakit
Bank darah rumah sakit / BDRS
c. Kompetensi
Mernpunyai kemampuan manajemen pengelolaan tranfusi darah dan Bank Darah Rumah
sakit.
mempunyai sertifikasi pengetahuan dan ketrampilan tentang
Tranfusi darah
Penerimaan darah
Penyimpanan darah
Pemeriksaan golongan darah
Pemeriksaan uji silang serasi
Pemantapan mutu internal
Pencatatan,pelaporan,pelacakan dan dokumentasi
6

Kewaspadaan universal ( universal precaution )


d. Sumber Daya Manusia
Dokter
Para medis Tekhnologi Transfusi Darah (PTTD)
Tenaga administrator
Pekarya
e. Ruang Pelayanan Darah
Ukuran minimal 24m2
f. Fasilitas peralatan
Peralatan utama
2. Perawatan interisif
a. Jenis pelayanan
Pemantauan terapi cairan
Pengawasan gawat nafas / ventilator
Perawatan sepsis
b. Tempat Pelayanan
Unit Perawatan Intensif
c. Kompetensi
Pelayanan pengelolaan resusitasi segera untuk pasien gawat,tunjangan kardiorespirasi jangka pendek dan mempunyai peran memantau serta mencegah penyulit
pada pasien medik dan bedah yang beresiko.
Ventilasi mekanik dan pernantauan kardiovaskuler sederhana
d. Sumber daya rnanusia
Dokter jaga 24 jam dengan kemampuan metakukan resusitasi jantung paru.
Dokter Spesialis Anestesiologi.
e. Ruang pelayanan
Ruang pelayanan Intensif ( HCU ) 75m2
3. Pencitraan
a. Radiologi
b. USG/Ibu dan Neonatal
4. Laboratorium
a. Pemeriksaan rutin darah,urin
b. Kuitur darah,urin, pus
c. Kimia

BAB II
STRUKTUR ORGANSASI

Struktur Organisasi Penyelenggaraan pelayanan obstetri neonatal emergency


komprehensif (PONEK) dalam pelaksanaannya dilakukan secara terpadu oleh suatu panitia
yang terdiri dari berbagai unit dalam Rumah Sakit antara lain: bagian kebidanan dan
kandungan, bagian anak dan sebagainnya yang telah ditetapkan dengan surat keputusan
direktur Rumah Sakit.

PT. ELHAKIM RS RAWAMANGUN


STRUKTUR ORGANISASI PELAYANAN OBSTETRI
NEONATAL EMERGENSI KOMPREHENSIF
Direktur Utama

Komite Medik

Direktur Pelayanan
Medis

Kelompok Staf
Medis Kebidanan

Direktur

Kelompok Staff
Medis Anak

Panitia PONEK:
-Ketua
- Sekertaris
-Anggota

D. URAIAN
TUGAS
POKOK
DAN
FUNGSI
Penanggung
Jawab Pelayanan
Medis

Penanggung jawab
Keperawatan/Kebida
nan

Keterangan:
Garis Koordinasi
Garis Instruksi

Penanggung Jawab
I.
Direkt
Admin & Keuangan ur

Utama

1. Nama Jabatan : Direktur Utama


2. Uraian Tugas:
a. Merupakan penanggung jawab utama dalam pelayanan maternal dan
neonatal.
b. Menetapkan tim/panitia peristi dengan surat keputusan.
c. Berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Propinsi I Kabupaten I Kota)
dan Organisasi profesi untuk kegiatan yang berkaitan dengan
pelayanan maternal dan neonatal.
II.

Panitia PONEK
1. Nama Jabatan : Panitia
2. Uraian Tugas:
a. Sebagai koordinator penyelenggara pelayanan maternal dan perinatal di
Rumah Sakit.
b. Berkoordinasi dengan unit/bagian lain terkait pelayanan materna dan
perinatal di RS.
c. Memberikan laporan penyelenggaraan pelayanan maternal dan perinatal
di RS kepada Direktur Utama
d. Membuat SPO ( Standar Prosedur Operasional ) pelayanan maternal
dan perinatal untuk unit unit terkait.
e. Pengelola sarana, prasarana dan SDM untuk pelayanan maternal dan
perinatal.

III.

Penanggung Jawab Layanan Maternal


1. Nama Jabatan : Penanggung Jawab Layanan Maternal
2. Pengertian:
Adalah seorang dokter spesialis obsterti dan gynekologi yang bekerja di
instalasi / bagian Obsterti & Gynekologi.
3. Uraian Tugas:
a. Bertanggung jawab dalam pelaksanaan pelayanan maternal meliputi
konseling, tindakan medis dan tindakan operatif.
b. Dibantu oleh tenaga pelaksana pelayanan dokter umum terlatih,
perawat terlatih, bidan dan tenaga kesehatan Iainnya.
c. Bekerjasama dengan spesialisasi lain terkait pelaksanaan pelayanan
maternal.
d. Tenaga pelayanan wajib memberikan pelayanan maternal sesuai
dengan standar pelayanan yang berlaku (SOP) serta memberikan
pelayanan yang bermutu sesuai standar profesi.

IV.

Penanggung Jawab Layanan Perinatal


1. Nama Jabatan : Penanggung Jawab Layanan Perinatal
2. Pengertian:
Adalah seorang dokter spesialis anak yang bekerja di instalasi / bagian anak.
3. Uralan Tugas:
a. Bertanggung jawab dalam pelaksanaan perinatal meliputi konseling,
tindakan medis dan tindakan operatif.
10

b. Dibantu oleh tenaga pelaksana pelayanan : dokter umum terlatih dan


perawat dan tenaga kesehatan Iainnya.
c. Bekerjasama dengan spesialisasi lain terkait pelaksanaan pelayanan
perinatal.
d. Tenaga pelayanan wajib memberikan pelayanan neonatal sesuai dengan
standar pelayanan yang berlaku (SOP) serta memberikan pelayanan
yang bermutu sesuai standar profesi.
V.

Penanggung Jawab Layanan Keperawatan


1. Nama Jabatan : Penanggung Jawab Layanan Keperawatan
2. Pengertian :
Seorang tenaga perawat/bidan terlatih.
3. Uraian Tugas
a. Bertanggung jawab dalam membuat perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi asukan keperawatan.
b. Dalam pelaksanaan sehari-hari berkolaborasi dengan tenaga medis dan
tenaga kesehatan lairinya.
c. Bertanggung jawab dalam pencatatan dan pelaporan pelayanan
perinatal di RS.
d. Memberikan laporan status kesehatan pasien ke dokter.

VI.

Penanggung Jawab Layanan Kebidanan:


1. Nama Jabatan : Penanggung jawab Layanan Kebidanan
2. Pengertian: Seorang bidan yang diheri wewenang dan tanggung jawab dalan
mengkoordinasikan kegiatan pelayanan kebidanan di Kamar Bersalin dar turut
melaksanakan pelayanan keperawatan.
3. Uralan Tugas Perianggung Jawab Shift:
a. Bertanggung jawab dalarn membuat perencanaan, pelaksanaan dar evakiasi
asuhan kebidanan.
b. Dalam pelaksanaan sehari-hari berkolaborasi dengan tenaga medis dan
tenaga kesehatan lainnya.
c . Bertanggung jawab dalam pencatatan dan pelaporan pelayanan maternal di
Rumah Sakit.
d.Memberikan laporan status kesehatan pasien ke dokter.

E. TATA HUBUNGAN KERJA RUMAH SAKIT RAWAMANGUN

IGD

LOGISTI
K
UMUM
ADMISSIO
N

IRJ

KASIR

PONEK

LOGISTI
K
FARMA

OPERATO
R
UMUM/SUPI
R

11

UMUM/TEKNI
SI

KAMAR
OPERASI

VII.

REKAM
MEDIK

RADIOLOG
I

LABORA
TOTIUM

UMUM/KEAMAN
AN

Keterkaitan hubungan kerja dengan unit lain


1. Logistik Farmasi
Kebutuhan obat dan alat medis floor stock diperoleh dari bagian
logistik farmasi dengan prosedur permintaan.
2. Logistik umum
Kebutuhan alat-alat rumah tangga dan alat tulis kantor, diperoleh dari
logistik umum dengan prosedur permintaan.
3. Kamar OK
Bayi yang memerlukan tindakan operasi, akan dibuatkan surat
pengantar operasi dokter, kemudian penanggung jawab/keluarga
pasien dianjurkan ke bagian admission untuk dijelaskan biaya
operasi serta perawat kamar bayi memberitahu bagian OK tentang
rencana operasi (bila keluarga /penanggung jawab sudah setuju)
4. Laboratorium
Bayi yang membutuhkan pemeriksaan laboratorium akan dibuatkan
formulir permintaan laboratorium oleh dokter dan formulir
diserahkan kepada petugas laboratorium oleh perawat kamar bayi.
5. Umum/Tehnisi
Kerusakan alat-alat medis dan nonmedis di kamar bayi akan
dilaporkan dan diajukan perbaikan ke bagian umum dengan prosedur
permintaan perbaikan sesuai dengan SPO berlaku.
6. Rekam Medik
Bayi yang dirawat di ruang perinatal resiko tinggi bilang pulang
paksa atau meninggal dunia status akan dikembalikan ke rekam
medik, atau bila ada pasien yang dirawat maka rekam medik akan
memberikan status lamanya.
7. Admission
Setiap bayi yang dirawat di ruang pernatal resiko tinggi selalu
didaftarkan ke bagian admission, dari bagian admission disiapkan
status dan slip pembayaran pasien, kemudian status atau slip
pembayaran diantarkan oleh petugas admission ke ruang perinatal
resiko tinggi.
8. Radiologi
Bayi yang membutuhkan pemeriksaan radiologi, akan dibuatkan
formulir pemeriksaan radiologi oleh dokter, dan formulir diserahkan
ke petugas radiologi oleh perawat kamar bayi.
9. Operator
Apabila petugas kamar bayi membutuhkan sambungan telephone
keluar RSR(tanpa menggunakan PIN) maka bagian kamar bayi akan
12

meminta bantuan ke bagian operator dengan cara menekan angka 0


(nol) pada pesawat telephone.
10. Kasir
Bayi yang telah selesai dirawat akan menyelesaikan administrasi
pembayaran di kasir oleh keluarganya.
11. Instalasi Gawat Darurat (IGD)
Apabila ada pasien yang akan masuk rawat IGD, maka pasien akan
dibuatkan surat pengantar rawat kamar bayi oleh dokter, penanggung
jawab/keluarga pasien dianjurkan ke bagian admission untuk
menetapkan kamar, setelah penanggung jawab/keluarga pasien
menandatangani surat persetujuan rawat kamar bayi, maka pasien
diantar oleh perawat IGD ke ruang kamar bayi resiko tinggi.
12. Instalasi Rawat Jalan (IRJ)
Pasien yang memerlukan tindakan lanjut/konsul ke dokter spesialis
pada jam kerja, perawat akan menghubungi dokter konsulen dan bila
kondisi pasien yang memungkinkan untuk tindak lanjut di poli klinik
, maka pasien diantar oleh perawat ke bagian IRJ.
13. Umum/Supir
Pasien yang memerlukan rujukan ke RS lain dapat menggunakan
ambulance Rumah Sakit Rawamangun, bila keadaan memungkinkan
dengan melalui perawat.
14. Umum/Keamanan
Bila ada pasien yang meninggal, maka setelah jenazah dirapikan
akan diantar ke kamar jenazah dengan terlebih dahulu
menginformasika ke bagian umum /Keamanan.

13

BAB III
KRITERIA RUMAH SAKIT PONEK 24 JAM
A. KRITERIA UMUM RUMAH SAKIT PONEK
Ada dokter jaga yang terlatih di IGD untuk mengatsi kasus emergensi baik secara
umum maupun emergency obstetrik-neonatal
Dokter, bidan dan perawat telah mengikuti pelatihan PONEK di rumah sakit meliputi
resusitasi neonatus, kegawat daruratan obstetrik neonatus.
Mempunyai Standar Operasional Prosedur penerimaan dan penanganan pasieb kegawat
daruratan obstetrik neonatal
Kebijakan tidak ada uang muka bagi pasien kegawat daruratan obstetrik neonatal
Mempunyai prosedur pendelegasian wewenang tertentu
Mempunyai standar respon time di IGD selama 10 menit, di kamar bersalin kurang dari
30 menit, pelayanan darah kurang dari 1 jam
Tersedia kamar bersalin yang mampu menyiapkan operasi dalam waktu kurang dari 30
menit.
Memiliki kru /awak yang siap melakukan operasi untuk melaksanakan tugas sewaktuwaktu meskipun on call
Adanya dukungan semua pihak dalam yim PONEK, antara lain dokter kebidanan,
dokter anak, dokter/petugas anastesi, dokter penyakit dalam, dokter spesialis lain serta
dokter umum, bidan dan perawat
Tersedia pelayanan darah siap 24 jam
Tersedia pelayanan penunjang lain berperan dalam PONEK, seperti laboratorium dan
radiologi selama 24 jam, recovery romm 24 jam, obat, dan alat penunjang yang selalu
siap tersedia
Perlengkapan
Semua perlengkapan harus bersih (bebas debu, kotoran, bercak, cairan dd)
Permukaan metal harus bebas karat atau bercak
Semua perlengkapan harus kokoh (tidak ada bagian yang longgar atau stabil)
14

Permukaan yang di cat harus utuh dan bebas dari goresan besar
Roda perlengkapan (jika ada) harus lengkap dan berfungsi baik
Instrumen yang siap digunakan harus dsterilisasi
Semua perlengkapan listrik harus berfungsi baik (saklar, kabel dan steker
menempel kokoh)
Bahan
Semua bahan harus berkualitas tinggi dan jumlahnya cukup untuk memenuhi
kebutuhan unit.

B. KRITERIA KHUSUS
1. SUMBER DAYA MANUSIA
Memiliki tim PONEK essensial yang terdiri dari:
1 dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan
1 dokter Spesialis Anak
1 dokter di Unit Gawat Darurat
3 orang bidan ( 1 Koordinator dan 2 pelaksana)
2 orang Perawat
Tim PONEK Ideal di tambah

1 dokter Spesialis Anasthesi/ perawat Anasthesi


6 bidan pelaksana
10 perawat ( tiap shift 2-3 perawat jaga)
1 petugas laboratorium
1 pekarya kesehatan
11 petugas administrasi

15

BAB IV
STANDAR KETENAGAAN
Daftar Ketenagaan RS Penyelenggara PONEK
No
1

Jenis tenaga
Dokter spesialis obstetri &
ginekologi

Dokter spesialis anak

3
4
5

Dokter spesialis anastesi


Perawatan anastesi
Dokter terlatih

Bidaan koordinator

Bidan penyelia

Bidan pelaksana

Perawatan koordinator

10

Perawat Pelaksana

11

Petugas Laboratorium

12

Pekarya kesehatan

13

Petugas administari

Tugas
Penanggung
jawabkesehatan
maternal &
neonatal
Pelayanan
kesehatan perinatal
dan anak
Pelayanan anastesi
Pelayanan anastesi
Penyelenggaraan
pelayanan medik
Koordinatornasuha
n pelayanan
kesehatan
Koordinator tugas,
sarana dan
prasarana
Pelayanan asuhan
kebidanan
Asuhan
keperawatan
Asuhan
keperawatan
Pelayanan
pemeriksaan
penunjang
Membantu
pelaksaan
Administrasi dan
16

Jumlah
1-2

1-2

1
1-2
2-4
1-2

2-4

6-8
1-2
8-11
1-2

2-4
2-4

keuangan

A. Kualifikasi SDM
No Nama Jabatan

Pendidikan

Sertifikasi

Dokter spesialis
kebidanan
Dokter spesialis anak

Pelatihan
PONEK

Penanggung jawab
maternal dan neonatal

Penanggung jawab
keperawatan/kebidanan

Perawat pelaksana

D3
kebidanan/keperawata
n
D3 keperawatan

Bidan pelaksana

D3 kebidanan

1
Pelatihan
NICU
Manajemen
bangsal
NICU
Pelatihan
NICU

B. Distribusi Ketenagaan
Pola pengaturan ketenagaan di ruang perintal yaitu:
a. Untuk Dinas Pagi :
Petugas yang ada berjumlah 3 (tiga) orang dengan kategori:
1 orang Ka ru
1 orang pelaksana
1 orang TPK (gabung dengan perawat ibu)
b. Untuk Dinas Sore
Petugas yang ada brujumlah 2 (dua) orang dengan kategori:
1 orang PJ shift
1 orang TPK (gabung dengtan perawat ibu)
c. Untuk Dinas Malam:
Petugas yang ada berjumlah 2 (dua) orang dengan kategori:
1 orang PJ shift
1 orang TPK (gabung dengan perawat ibu)
17

Jumlah
Kebutuhan
1

1
5
12

C. Pengaturan Jaga
a. Pengaturan jadwal dines perawat dibuat dan dipertanggung jawabkan oleh Kepala
Ruangan (Ka ru) dan disetujui oleh Manajer Keperawatan
b. Jadwal dinas dibuat untuk jangka waktu satu bulan dan direalisasikan ke perawat
pelaksanan
c. Untuk tenaga perawat yang memiliki keperluan penting pada hari tertentu, maka
perawat tersebut dapat mengajukan permintaan dines pada buku permintaan .
Permintaan akan disesuaikan dengan kebutuhan tenaga yang ada (apabila tenaga
mencukupi dan berimbang serta tidak mengganggu pelayanan, maka permintaan
disetujui).
d. Setiap tugas jaga / shift harus ada perawat penanggung jawab shift (PJ Shift)
dengan syarat pendiidikan D3 Keperawatan /Kebidanan pengalaman minimal 2
tahun serta memiliki sertifikat
e. Jadwal dinas terbagi atas dinas pagi, dinas sore, dinas malam, lepas , libur dan cuti
f. Apabila ada tenaga perawat jaga karena sesuatu hal sehingga tidak dapat jaga
sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan (terencana), maka perawat yang
bersangkutan harus memberitahu Ka ru 2 jam sebelum dines pagi, 4 jam sebelum
dinas sore dan dinas malam. Sebelum memberitahu Ka ru, diharapkan perawat
yang bersangkutan sudah mencari pengganti. Apabila perawat yang bersangkutan
tidak mendapat perawat pengganti maka Ka ru akan mencari perawat pengganti
yaitu perawat yang pada hari itu libur atau perawat yang tinggal di asrama.
g. Apabila ada tenaga perawat yang tiba-tiba tidak dapat jaga sesuai jadwal yang
telah ditetapkan (tidak terencana), maka Ka ru akan mencari perawat pengganti
yang pada hari itu libur atau yang tinggal di asrama. Apabila perawat pengganti
tidak dappat didapatkan maka perawat yang dinas pada shift selanjutnya wajib
menggantikan.
D. Pelatihan
Untuk meningkatkan mutu pelayanan, keterampilan dan pengrtahuan perawat yang
bekerja di ruang perinatal maka dipeerlukan pelatihan-pelatihan yang mendukung
profesialisme agar senantiasa dapat memberikan pelayanan yang bermutu seiring
dengan perkembangan ilmu pengetahuan kedokteran keperawatan.
Pelatihan yang diperlukan yaitu:
a. Pengenalan tanda kegawat daruratan neonatal
Pentalaksanaan pada bayi dengan sepsis
Penatalaksanaan pada bayi dengan asfiksia
Penatalaksanaan pada bayi BBLR
b. Pelatihan kegawatan
Resusitasi Neonatus
c. Pelayanan perawatan sesuai dengan kebutuhan paasien:
Manajemen laktasi
d. Program pengendalian infeksi
Penyegaran SPO mencuci tangan
Penygaran SPO tindakan invasive
e. Program keselamatan dan kesehatan kerja
Penggunaan Alat pelindung diri (APD)
f. Apaenggunaan peralatan secara benar, efektif dan aman
18

Penyegaran SPO penggunaan alat medik: monitor, syringe pump, imfus pump,
incubator
g. Pelayanan prima
Komunikasi

BAB V
STANDAR FASILITAS

SARANA DAN PRASARANA


Dalam rangka Program Menjaga Mutu pada penyelenggaraan PONEK harus dipenuhi halhal sbb:

Ruang rawat inap yang leluasa dan nyaman


Ruang tindakan gawat darurat dengan instrumen dan bahan yang lengkap
Ruang pulih/ruang observasi paska tindakan
Protokol pelaksanaan dan uraian tugas pelayanan termasuk koordinasi internal
a. Kriteria umum ruangan
1. Struktur fisik
Spesifikasi ruang tidak kurang dari 15-20 m2
Lantai harus porslen atau plastik
Dinding harus di cat dengan bahan yang bisa di cuci atau
dilapisi keramik
2. Kebersihan
Cat dan lantai harus berwarna terang sehingga kotoran dapat
terlihat dengan mudah
Ruang harus bersih dan bebas debu, kotoran, sampah atau
limbah rumah sakit
Hal tersebut berlaku pula untuk lantai, mebel perlengkapan,
instrumen, pintu, jendela, dinding, steker listrik dan langitlangit
3. Pencahayaan
Pencahayaan harus terang dan hanya alami atau listrik
Semua jendela harus diberi kawat nyamuk agar serangga tidak
masuk
Listrik harus berfungsi baik, kabel dan steker tidak
membahayakan dan semua lampu berfungsi baik dan kokoh
19

Tersedia peralatan gawat darurat


Harus ada cukup lampu untuk setiap neonatus
4. Ventilasi
Ventilasi termasuk jendela, harus cukup jika dibandingkan
dengan ukuran ruangan.
Kipas angin atau pendingin ruang harus berfungsi baik.
Suhu ruangan harus dijaga 24-26
Pendingin ruangan harus dilengkapi filter (sebaiknya anti
bakteri)
5. Pencuci tangan
Wastafel harus dilengkapi dengan dispenser sabun atau
disinfektan yang dikendalikan dengan siku atau kaki.
Wastafel keran dan dispenser harus di pasang pada ketinnggian
yang sesuai ( dan Iantai dan dinding).
Tidak boleh ada saluran pembuangana air yang terbuka.
Pasokan air panas harus cukup dan dilengkapi pemanas air
yang di pasang kokoh di dinding, pipa ledeng sesuai dan tidak
ada kawat terbuka.
Harus ada handuk (kain bersih) atau tisu untuk mengeringkan
tangan, di letakkan disebelah Wastafef.
b. Kriteria Khusus Ruangan
Area Cuci Tangan di Ruang Obstetri dan Neonatus. Di ruang dengan lebih dari
satu tempat tidur, jarak tempat tidur adalah 6 meter dengan Wastafel.
c. Area resusitasi dan stabilisasi di Ruang Obstetri dan Neonatus/UGD
1. Paling kecil, ruangan berukuran 6 meter dan ada Unit Perawatan
Khusus
2. Kamar PONEK di unit gawat darurat harus terpisah dari kamar darurat
lain. Sifat privasi ini penting untuk kebutuhan perempuan bersalin dan
bayi.
3. Tujuan kamar ini adalah memberikan pelayanan darurat untuk
stabilisasai kondisi pasien, misalnya syok, henti jantung, hipotermia,
asfiksia dan apabila perlu menolong partus darurat serta resusitasi
4. Perlu di lengkapi meja resusitasi bayi, dan inkubator.
5. Kamar PONEK membutuhkan:
Ruang berukuran 15 m2
Berisi: lemari dan troli darurat
Tempat tidur bersalin serta tiang infus
Inkubator
Pemancar panas
Meja, kursi
Aliran udara bersih dan sejuk
Pencahayaan
Lampu sorot dan lampu darurat
Mesin sap
Defibrilator
20

Oksigen dan tabungnya atau berasal dan sumber dinding


(outlet)

Lemari
Isi:
perlengkapan
persalinan,vakum,
vorcep,kuret, obat/infus
Alat resusitasi dewasa atau bayi
Wastafel dengan air mengalir atau antiseftik
Alat komunikasi dan telpon ke kamar bersalin
Nurse station dan lemari rekam medik
USG mobile.
6. Sarana pendukung meliputi : toilet, kamar tunggu keluarga,
kamar persiapan peralatan (linen dan instrumen), kamar
kerja kotor, kamar jaga, ruang sterilisator dan jalur ke ruang
bersalin/kamar operasi terletak saling berdekatan dan
merupakan bagian dari unit gawat darurat.
d. Ruang Maternal
1. Kamar bersalin
Lokasi berdekatan dengan Kamar Operasi dan IGD
Luas minimal :6 m2 per orang Berarti bagi 1 pasien, 1
penunggu dan 2 penolong diperlukan 4x4m2=16m2.
Paling kecil. ruangan berukuran 12m2( 6 m2 untuk
masing-masing pasien ).
Harus ada untuk tempat isolasi ibu di tempat terpisah.
Tiap ibu bersalin harus punya privasi agar keluarga
dapat hadir.
Ruangan bersalin tidak boleh merupakan tempat lalu
lalang orang
Bila kamar operasi juga ada dalam lokasi yang sama,
upayakan tidak ada keharusan melintas pada ruang
bersalin
Minimal2 kamar bersalin terdapat pada setiap rumah
sakit
Kamar bersalin terletak sangat dekat dengan kamar
neonatal, untuk memudahkan transpor bayi dengan
komplikasi ke ruang rawat
ldealnya sebuah ruang bersalin merupakan unit
terintregasi: kala I, kala 2, dan kala 3 yang berarti
setiap pasien diperlakukan utuh sampai kala IV bagi
ibu bersama bayinya secara privasi. Bila tidak
memungkinkan maka diperlukan dua kamar kala I dan
sebuah kamar kala 2
K amar bersalin harus dekat dengan ruang jaga
perawat
(nurse
station)
agar
memudahkan
pengawasan ketat setelah pasien partus sebelum
dibawa keruang rawat (postpartum).selanjutnya bila
diperlukan operasi,pasien akan dibawa kekamar
operasi yang berdekatan dengan kamar bersalin.
21

Harus ada kamar mandi toilet berhubungan kamar


bersalin.
Ruang postpartum harus cukup luas, standar : 8m2 per
tempat tidur (bed) dalam kamar dengan multibed atau
standar 1 bed minimal: 10m2.
Ruang tersebut terpisah dan lasilitas: toilet, kloset,
lemari.
Pada ruang dengan banyak tempat tidur, jarak antar
tempat tidur minimum 1m s.d 2m dan antara dinding
1m.
Jumlah tempat tidur per ruangan maksimum 4.
tiap ruangan harus mempunyai jendela sehingga
cahaya dan udara cukup.
Harus ada fasilitas untuk cuci tangan pada tiap
ruangan.
Tiap pasien harus punya akses ke kamar mandi privasi
(tanpa ke koridor).
Kamar periksa/ diagnostik berisi: tempat tidur pasien/
obgin, kursi pemeriksa, meja, kursi, lampu sorot, troli
alat, lemari obat kecil,USG mobile dan troli emergensi.
Kamar periksa harus mempunyai luas sekurangkurangnya 11m2. Bila ada beberapa tempat tidur
maka per pasien memerlukan 7m2. Perlu disediakan
toilet yang dekat dengan ruang periksa.
Ruang perawat nurse station berisi
:meja,telepon,Iemari berisi perlengkapan darurat/obat.
Ruang isolasi bagi kasus infeksi perlu disediakan
seperti pada kamar bersalin.
Ruang tindakan operasi / kecil darurat /one day
care:untuk kuret,penjahitan dsb berisi :meja operasi
lengkap,larnpu sorot,Iemari perlengkapan operasi
kecil,wastafel cuci tangan operator,mesin
anastesi,inkubator,perlengkapan kuret(MVA)dsb.
Ruang tunggu bagi keluarga pasien : minimal 1
5m2,berisi meja,kursi-kursi serta telepon.
e. Unit Perawatan lntensif/Eklampsia/Sepsis
1. Unit ini harus berada disamping ruang bersalin,atau
setidaknya jauh dari area yang sering dilalui.
2. Paling kecil,ruangan berukuran 18m2 (6-8m2 untuk masingmasing pasien)
3. Di ruang dengan beberapa tempat tidur sedikitnya ada jarak
8 kaki (2,4 m) antara ranjang ibu.
4. Ruang harus dilengkapi paling sedikit enam steker listrik yang
dipasang dengan tepat untuk peralatan listrik.steker harus
mampu memasok beban listrik yang diperlukanaman dan
berfungsi baik.
f. Ruang Neonatal
1. Unit Perawatan Intensif
22

Unit ini harus berada disamping ruang bersalin atau


setidaknya jauh dan area yang sering dilalui.
Minimal ruangan berukuran 18m2 (6-8m2 untuk
masing-masing pasien)
Di ruang dengan beberapa tempat tidur sedikitnya ada
jarak 8 kaki (2,4 m) antara ranjang bayi.
Harus ada tempat untuk isolasi bayi diarea terpisah
Ruang harus dilengkapi paling sedikit enam sakiar
yang dipasang dengan tepat untuk peralatan listrik.
2. Unit Perawatan Khusus
Unit ini harus berada disamping ruang bersalin,atau
setidaknya jauh dari area yang sering dilalui.
Minimal ruangan berukuran 12m2 (4m2 untuk masingmasing pasien)
Harus ada tempat untuk isolasi bayi di tempat terpisah
Paling sedikit harus ada jarak 1m2 antara inkubator
atau tempat tidur bayi
3. Area Laktasi
Minimal ruangan berukuran 6m2
4. Area Pencucian Inkubator
Minimal ruangan berukuran 6-8m2
g. Ruang Operasi
1. Unit operasi dipenlukan untuk tindakan operasi seksio
sesarea dan laparatomia.
2. Idealnya sebuah kamar operasi mempunyai luas : 25m2
dengan lebar minimum 4m,diluar fasilitas:lemari dinding.unit
ini sekurang-kurangnya ada sebuah bagian kebidanan.
3. Harus di sediakan unit komunikasi dengan kamar bersalin.Di
dalam kamar operasi harus tersedia:pemancar
panas,inkubator dan perlengkapan resusitasi dewasa dan
bayi.
4. Ruang resusitasi ini berukuran 3m2. Harus tersedia 6 sumber
listrik.
5. Kamar pulih ialah ruangan bagi pasien pasca bedah dengan
standar luas 8m2/bed,sekurang kurangnya ada 2 tempat
tidur,selain itu isi ruangan ialah :meja,kursi perawat, lemari
obat,mesin pemantau tensi /nadi oksigen dsb, tempat rekam
medik inkubator bayi troli darurat
6. Harus dimungkinkan pengawasan Iangsung dan meja
perawat ke tempat pasien .Demikian pula agar keluarga
dapat melihat melalul kaca.
7. Perlu disediakan alat komunikasi ke kamar bersalin dan
kamar operasi serta telepon sekurang kurangnya ada 4
sumber listrik / bed
8. Fasilitas pelayanan berikut perlu disediakan untuk unit
operasi:
Nurse station yang juga berfungsi sebagai tempat
pengawas lalu lintas orang.

23

Ruang kerja - kotor yang terpisah dan ruang kerja


bersih ruang ini berfungsi membereskan alat dan
kain kotor. Perlu disediakan tempat cuci wastafel besar
untuk cuci tangan dan fasilitas air panas/dingin.Ada
meja kerja dan kursi kursi, troli troli.
Saluran pembuanqan kotoran/cairan.
Kamar pengawas KO :10m2
Ruang tunggu keluarga tersedia kursi kursi meja dan
tersedia toilet
Kamar sterilisasi yang berhubungan dengan kamar
operasi. Ada autoklaf besar berguna bila darurat.
Kamar obat berisi lemari dan meja untuk distribusi
obat.
Ruang cuci tangan(scrub) sekurangnya untuk dua
orang,terdapat didepan kamar operasi/kamar bersalin.
Wastafel itu harus dirancang agar tidak membuat
basah lantal. Air cuci tangan harus steril.
Ruang kerja bersih. Ruang ini berisi meja dan lemari
berisi linen, baju dan perlengkapan operasi. juga
terdapat troli pembawa linen.
Ruang gas / tabung gas
Gudang alat anestesi : alat /mesin yang sedang di
reparasi-dibersihkan, meja dan kursi
Gudang 12m2: tempat alat alat kamar bersalin dan
kamar operasi
Kamar ganti : pria dan wanita masing masing 1 2m,
berisi loker meja kursi dan sofa/ tempat tidur,ada toilet
3m2
Kamar diskusi bagi staf dan paramedik : 1 5m2
Kamar jaga dokter: 15m2
Kamar jaga paramedik : 15m2
Kamar rumatan rumah tangga (house keeping) : berisi
lemari meja,kursi peralatan mesin isap sapu ,ember
perlengkapan kebersihan.dsb
Ruang tempat brankar dan kursi roda.
h. Ruangan penunjang harus disediakan seperti :
Ruang perawat / bidan
Kantor perawat
Ruang rekam medik
Toilet staf
Ruang loker staf / perawat
Ruang rapat / konferensi
Ruang keluarga pasien
Ruang cuci
Ruang persiapan diperlukan bila ada kegiatan
persiapan alat / bahan
Gudang peralatan

24

Ruang kotor - peralatan - harus terpisah dari ruang cuci


/ steril
Ruang ini mempunyai tempat cuci dengan air panas dingin, ada meja untuk kerja.
Ruang obat : wastafel, meja kerja dsb.
Ruang linen bersih
Dapur kecil untuk pembagian makan pasien.

i. PRASARANA DAN SARANA PENUNJANG


Unit Transfusi Darah
Unit ini harus berfungsi untuk melakukan tes
kecocokan,pengambilan donor dan tes lab: infeksi
VDRL, hepatitis dan HIV. Diperlukan ruang 25m,berisi
lemari pendingin,meja kursi,lemari,telepon kamar
petugas,dsb. Memiliki peralatan sesuai dengan standar
minimal peralatan maternal dan neonatal. Bagi rumah
sakit yang tidak memiliki faislitas unit transtusi
darah/bank darah dianjurkan untuk membuat
kerjasama dengan penyedia fasilitas tersebut.
Laboratorium
Unit ini berfungsi untuk melakukan tes laboratorium
dalam penaganan kedaruratan maternal dalam
pemeriksaan hemostasis penunjang untuk pre
eklampsia dan neonatal.
Radiologi
Unit ini harus berfungsi untuk diagnosis obstetri dan
thoraks
DENAH RUANGAN RS RAWAMANGUN

25

BAB VI
STANDAR PELAYANAN
ALUR PELAYANAN DI RUMAH SAKIT
Pasien datang

Unit Gawat
Darurat

Unit Rawat
Jalan
Rawat Inap Unit
terkait
Kamar Tindakan

Kamar Operasi

Kamar Bersalin

Bank Darah
Pemeriksaan
Penunjang
Farmasi
26

Merupakan pelayanan keperawatan neonatus dengan ketergantungan tinggi.


Pelayanan tingkat II dibagi 2 kategori yaitu II A dan II B yang dibedakan
berdasarkan kemampuan memberikan ventilasi dengan alat bantu termasuk
CPAP (Continous Positive Airway Presure)

Pelayanan keperawatan neonatus pada tingkat II A


- Bayi prematur dan atau sakit yang memerlukan resusitasi stabilisasi sebelum
dipindahkan ke fasilitas asuhan keperawatan intensif neonatus
- Bayi yang lahir dengan usia kehamilan > 32 minggu dan memiliki berat
badan lahir > 1500 gram yang tidak memiliki ketidakmatangan fisiologis
seperti apnoe, prematuritas, ketidakmampuan menerima asupan oral atau
menderita sakit yang tidak diantisipasi sebelumnya
- Bayi yang memerlukan oksigen nasal dengan pemantauan saturasi oksigen
- Bayi yang memerlukan infus intravena ferifer dan mungkin nutrisi parenteral
untuk jangka waktu terbatas
- Bayi yang sedang dalam penyembuhan setelah perawatan intensif

Pelayanan keperawatan neonatus pada tingkat II B


Pelayanan keperawatan neonatus pada tingkat ini sama dengan peiayanan
keperawatan IIA ditambah dengan pelayanan keperawatan pada bayi dengan
penggunaan ventilasi mekanik selama jangka waktu yang singkat (<24 jam)
3. Pelayanan tingkat III (unit perawatan intensif neonatus)
Pelayanan dengan pengawasan paling ketat, dan segi penyakitnya dan
kemampuan dokter dan paramedik serta peralatanya
27

Setiap bayi yang tidak dapat dirawat di tingkat II merupakan kandidat untuk
pelayanan tingkat III
Indikasi perawatan tingkat III : bayi dengan apne berulang yang tidak dapat
diatasi dengan rangsangan taktil dan obat, bayi dengan gawat napas berat
yang memerlukan bantuan ventilator (misal sindrom aspirasi mekoneum,
pneumotoraks, penyakit membrane hialin, gagal napas, hernia diafragmatika),
bayi yang memerlukan transfuse tukar, bayi sebelum dan sesudah operasi.

TINGKAT PELAYANAN PERINATAL RESIKO TINGGI


A. Pengertian : Perawatan bayi baru lahir disesuaikan dengan keadaan klinis
bayi setelah lahir dan tingkat kemampuan perawatan di rumah sakit.
B. Tujuan
Mempertahankan kondisi bayi baru lahir dalam keadaan sehat secar
optimal
Melakukan perawatan terhadap bayi baru lahir sesuai dengan
tingkat pelayanan (tingkat I,II, dan III)
C. Pembagian Tingkat Pelayanan
1. Pelayanan tingkat I (ruang rawat gabung)
Merupakan pelayanan keperawatan dasar pada neonatus normal
meliputi :
- Neonatus normal, stabil, cukup bulan dengan berat badan
>2,5kg
- Neonatus hampir cukup bulan (masa kehamilan 35-37 minggu)
Saat rawat gabung dengan bantuan tenaga paramedis ibu belajar
merawat bayinya, mulai dari memandikan bayi, merawat tali pusat
dan menyusui bayinya
Pelayanan difokuskan pada
- Resusitasi neonatus
- Asuhan dan perawatan neonatus
- Evaluasi pasca lahir untuk neonatus yang sehat
- Stabilisasi dan pemeberian asuhan untuk bayi yang lahir pada
usia 35-37 minggu yang tetap dalam keadaan stabil secara
fisiologis

28

Perawaatan neonatus dengan usia kehamilan <35 minggu atau


sakit sampai neonatus dipindahkan ke fasilitas yang
menyediakan asuhan neonatal spesialistik (level II-III)
- Terapi sinar
2. Pelayanan tingkat II (unit perawatan khusus neonatus)
sebelum dinyatakan layak di rawat di tingkat II, semua bayi dengan
berat lahir <1500g, sebelum diputuskan dapat dirawat di tingkat II
D. Bayi baru lahir sehat
NCB-SMK
NKB (gestasi >36 minggu, dan atau BL >2000g)
BBLR dengan asfiksia ringan
Riwayat kehamilan, persalinan, kelahiran dan pasca persalinan normal.
Bila setelah di observasi di kamar bayi dan secara klinis tidak ada
kelainan (tanda vital dan pemeriksaan fisis normal), maka bayi
dilaksanakan rawat gabung (pelayanan tingkat I), paling lambat 4 jam
setelah lahir.
E. Bayi resiko tinggi
NKB <36 mgg
BBLR <2000g
Bayi BMK/IUGR
NLB
Bayi dengan riwayat asfiksia berat
Ibu mempunyai komplikasi dalam kehamilan persalinan atau
kelahiran.
Bayi dengan kriteria tersebut diobservasi di ruang kamar Perina selama
4-6 jam, bila klinis baik bayi dapat dilakukan rawat gabung, sedangkan
bila bayi perburukan/ sakit bayi dirawat di tingkat pelayanan II atau III.
F. Bayi sakit
Bayi baru lahir yang tampak tidak bugar dan atau disertai tanda
klinis yang tidak normal.
Bayi dalam kelompok ini mungkin saja sebelumnya termasuk
kelompok bayi sehat atau bayi dengan resiko tinggi
Bayi dengan kriteria tersebut di atas dapat di rawat pada pelayanan tingkat II
atau III setiap keputusan merawat bayi baru lahir ditentukan oleh dokter
Spesialis anak.

29

HOME VISIT
A. Pengertian memberikan pelayanan lanjutan langsung di rumah pasien
B. Tujuan :
- Memeantau kondisi pasien pasca rawat inap
- Memberikan rasa aman dan nyaman kepada pasien dan keluarga
- Mnegikut sertakan keluarga dalam perawatan ibu dan bayi
- Memperpendek hari perawatan
C. Pelaksanaan :
- Pelaksanaan home care 3 kali kunjungan atau lebih sesuai dengan
permintaan pasien
- Kunjungan dilakukan satu hari setelah pasien pulang atau setelah bayi
pulang
- Waktu pelaksanaan pukul 07.00-8.00 pagi
- Petugas yang melakukan home care adalah petugas shift pagi atau
petugas shift malam bila petugas shift pagi tidak dapat melaksanakan
home care
- Pada saat libur / tanggal merah yang melakukan home care petugas
shift malam kedua (lepas)
D. Pelayanan yang diberikan
1. Pelayanan post partum
- Perawatan payu darah (breast care)
- Perawatan luka operasi/luka episiotomi
- Perawatan nifas
- Edukasi laktasi
2. Pelayanan bayi
- Memandikan bayi
- Perawatan tali pusat
- Cara menjemur bayi
- Cara memberikan ASI/Formula
Ketentuan Home Visit
30

1. Rumah Sakit Rawamangun adalah sebagai rumah sakit yang menerima


rujukan dan puskesmas, bidan praktek swasta di wilayah Jakarta Timur
2. Pasien rujukan yang dirawat di rumah sakit rawamangun, setelah dinyatakan
sudah tidak perlu tindakan/pengobatan/perawatan di rumah sakit
rawamangun akan dikembalikan ketempat/sarana yang merujuk pasien
tersebut
3. Pasien rujukan pasca rawat inap dianjurkan untuk berobat ke sarana
kesehatan terdekat/sarana yang merujuk sesuai waktu/jadwal kontrol yang
dianjurkan oleh dokter yang merawat atau sewaktu-waktu jika dibutuhkan
harus kontrol ulang ke Rumah Sakit Rawamangun
4. Pelayanan lanjutan terhadap ibu dan bayi pasca rawat inap dan rumah sakit
rawamangun tidak dilakukan home visit oleh petugas dan pelayanan perinatal
resiko tinggi, karena pasien disarankan kembali ke tempat sarana kesehatan
yang merujuk pasien tersebut
5. Pada pasien non rujukan terlebih dahulu petugas menawarkan kepada pasien
dan keluarga untuk pelayanan home visit, jika pasien dan keluarga menyetujui
maka petugas dan pelayanan perinatal resiko tinggi akan melakukan home
visit

31

RAWAT GABUNG
A. PENGERTIAN
Rawat gabung adalah suatu cara perawatan dimana bayi baru lahir
ditempatkan bersama ibunya dalam suatau ruangan. Hal ini dimaksudkan agar
bayi mudah dijangkau oleh ibunya selama 24 jam/ hari sehingga
memungkinkan pemberian ASI kepada bayi sesuai dengan kebutuhannya.
B. TUJUAN
Tujuan dilakukan Rawat Gabung adalah:
1. Agar bayi segera mendapatkan colostrum maupun ASI
2. Agar bayi memperoleh stirnulasi mental dini demi tumbuh kembang anak
3 Agar ibu mendapat pengalaman dalam hal merawat payudara dan cara
menyusui yang benar
4. Agar ibu dan keluarganya mendapatkan pengalaman cara merawat bayi
baru lahir
5. Agar bayi bisa mendapat ASI setiap ia inginkan
C. JENIS
Terdapat dua jenis rawat gabung yang dapat dilakukan di Rumah Sakit, yaitu :
1. Rawat Gabung penuh : cara perawatan ibu dan bayi bersama-sama dalam
suatu ruangan secara terus menerus selama 24 jam

32

2. Rawat gabung Parsial : cara perawatan ibu dan bayi terpisah dalam waktuwaktu tertentu (misalnya malam hari dan waktu kunjungan)
D. MANFAAT
Rawat gabung merupakan cara yang sangat bermanfaat bagi ibu, keluarga, dan
juga bagi petugas kesehatan serta Rumah Sakit/ Rumah Bersalin

Manfaat terhadap ibu :


1. Manfaat ditinjau dari segi psikologi ibu
a. Meningkatkan keakraban ibu dan bayi, apabila sentuhan fisik antara
ibu dan bayi terjadi segera setelah lahir
b. Memberikan kesempatan pada ibu untuk belajar merawat sendiri bayi
yang baru dilahirkannya
c. Memberikan rasa percaya diri dan tanggung jawab kepada ibu untuk
merawat bayinya
d. Memberi kesempatan kepada ibu untuk belajar mengenal tangisan
sakit, lapar dan manja
2. Manfaat dari segi fisik ibu
a. Involusi uterus akan terjadi dengan baik, oleh karena dengan menyusui
bay akan terjadi kontraksi rahim dengan baik akibatnya perdarahan
post partum dapat dikurangi
b. Mempercepat mobilisasi ibu, karena aktifitas ibu merawat sendiri
bayinya
c. Mempercepat produksi ASI
d. Menghindari pembengkakan payudara
Manfaat terhadap bayi :
1. Manfaat ditinjau dari segi psikologi bayi
Dengan rawat gabung sentuhan fisik ibu dan anak segera terjadi. Hal ini
merupakan stimulasi mental dini yang diperlukan bagi tumbuh kembang
anak khususnya dalam memberikan rasa aman dan kasih sayang
2. Manfaat ditinjau dari segi fisik bayi
a. Melindungi bayi dari bahaya infeksi karena ASI terutama kolostrum
mengandung zat-zat antibodi (kekebalan)
b. Bayi akan mendapatkan makanan yang sesuai dengan kebutuhannya
c. Mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi nosokomnial (infeksi yang
berasal dari RS)
d. Mengurangi bahaya aspirasi yang disebabkan oleh susu botol
e. Mencegah timbulnya penyakit alergi terhadap susu buatan
f. Mengurangi Maloklusi gigi (pertumbuhan/penutupan gigi yang jelek)
g. Mengajar nayi untuk menghisap puting dan areola dengan benar
h. Memperlancar pengeluaran mekoneum
33

Manfaat teradap keluarga :


1. Manfaat dari segi psikologi keluarga
a. Rawat gabung memberikan peluang bagi keluarga untuk memberikan
dorongan pada ibu dalam memberikan ASI kepada bayinya
b. Memberi kesempatan kepada ibu dan suaminya untuk mendapatkan
pengalaman cara merawat bayinya sesudah melahirkan
2. Manfaat dari segi ekonomi keluarga
a. Biaya perawatn lebih sedikit, karena kesehatan ibu lebih cepat pulih
kembali
b. Tidak perlu membeli susu formula dan perlengkapannya karena ibu
menyusui sendiri bayinya
c. Anak jarang sakit sehingga biaya pengobatan anak menjadi kurang
sekali
Manfaat bagi petugas kesehatan
1. Manfaat dari segi psikologi petugas kesehatan
a. petugas di ruang perawatan akan merasa tenang dan dapat mealkukan
pekerjaan lain yang bermanfaat, karena bayi jarang menangis
b. petugas mempunyai lebih banyak kesempatan untuk berkomunikasi
dengan ibu yang telah melahirkan
2. Manfaat dari segi fisik petugas kesehatan
a. Pekerjaan petugas dalam merawat bayi dan ibu akan berkurang, oleh
karena sebagian tugasnya diambil alih oleh ibu. Petugas mempunyai
cukup waktu untuk melaksanakan pekerjaan lain, misalnya kegiatan
komunikasi, informasi dan edukasi (KIE)
b. tak perlu repot menyiapkan dan memberikan susu formula
Manfaat terhadap rumah sakit :
1. Manfaat dari segi kebutuhan susu formula dan perlengkapannya serta
obat-obatan
a. Kebutuhan rumah sakit akan susu formula serta perlengkapannya
menurun
b. Kebutuhan rumah sakit akan obat-obatan, cairan infus, dan lain-lain
menurun, sehingga mengurangi anggaran belanja rumah sakit
2. Manfaat dari segi kebutuhan tenaga medis
Kebutuhan akan tenaga paramedis untuk perawatan ibu dan bayi
berkurang, sehingga tebaga yang ada dapat dimanfaatkan untuk kegiatan
lain. Selain itu tenaga paramedis mempunyai kesempatan untuk
menambah ketrampilan yang akan bermanfaat pula bagi rumah sakit
3. Manfaat dari segi penurangan morbiditas
Morbiditas ibu dan bayi berkurang, sehingga mengurangi hari perawatan
serta subsidi yang diberikan rumah sakit. Frekuensi pergantian pengguna
tempat tidur menjadi lebih tinggi sehingga daya tampung rumah sakit
lebih banyak
4. Manfaat dari segi kebutuhan ruangan
Ruangan khusus untuk bayi dapat dikurangi. Sehingga dapat menghemat
penggunaan ruangan atau juga dapat digunakan sebagi perluasan
ruangan untuk keperluan lainnya
34

E. PERSYARATAN RAWAT GABUNG


Syarat utama dari Rawat Gabung Penuh dapat dilihat pada algoritme di
bawah ini

Algoritme
Perawatan Bayi
Baru Lahir

Bayi Sehat

- NCB SMK
-NKB (GESTASI
>36 mgg, dan
atau B,L >2000g)
-BBLR >2000g
-bayi dengan
asfiksia ringan

Riwayat kehamilan
Ruang Bayi
Rawat
Gabung

Bayi Risiko Tinggi

NKB < 36mgg


BBLR < 200g
Bayi BMK / IUGR
NLB
Bayi dengan
riwayat asfiksia
berat
Ibu mempunyai
komplikasi
dalam
35
kehamilan,
persalinan atau
Kondisi Stabilitasi di kamar
Perburukan /
bayi

4
membaik
sakit

Bayi Sakit

Bayi baru lahir yang


tampak tidak bugar
dan atau disertai
tanda klinis yang
tidak normal
Bayi dalam
kelompok ini
mungkin saja
sebelumnya
termasuk kelompok
Level
Idiatau
bayi
sehat
atau
Stabilisasi
Kamar
Level
III
Bayi

F. PELAKSANAAN RAWAT GABUNG DI RUMAH SAKIT


Rawat gabung dapat dilakukan sesuai dengan tujuannya, hal-hal yang
dilakukan berkenaan dengan pelaksanaan rawat gabung adalah sebagai
berikut :
1. Di Unit Rawat Jalan Kebidanan :
a. Melaksanakan KIE dengan pesan antara lain tentang manfaat ASI
dan rawat gabung
b. Melaksanakan KIE dengan pesan antara lain tentang perawatan
payudara dan makanan ibu hamil
c. Melaksanakan KIE tentang KB, imunisasi dan kebersihan
d. Mengatasi masalah pada payudara ibu, kalau perlu dirujuk ke klinik
laktasi
e. Menyelenggarakan senam hamil
2.

Di Ruang Bersalin :
a. Segera setelah bayi dilahirkan, bayi dibawa kepada ibunya agar
mulut bayi ditempelkan pada payudara ibu ( walaupun mungkin
saja ASI belum keluar ) untuk mulai menghisap payudara ibu agar
merangsang pengeluaran ASI
b. Untuk ibu yang mendapat narkose umum, bayi disusukan setelah
ibunya sadar

3. Di Ruang Rawat Gabung


a. Bayi didekatkan di dekat ibunya
36

b. Paramedis di ruang rawat gabung, harus mengawasi agar bayi


disusukan paling sedikit 8 kali dalam 24 jam tanpa perlu dilakukan
penjadwalan ( sesuai keinginan dan kebutuhan bayi on demand
feeding ). Setiap kali menyusukan, bayi harus mendapatkan susu
dari kedua payudara secara bergantian
c. Pada hari pertama tidak boleh Prelacteal Feeding ( larutan gula,
madu, air putih ). Bayi harus segera mendapatkan ASI dari ibunya,
bila pada hari berikutnya ASI belum keluar dan bayi rewel, boleh
diberi minum akan tetapi harus diberikan dengan sendok. Bila bayi
tidak rewel tetap diberikan ASI saja.
d. Memberi KIE tentang perawatan payudara dan tali pusat, cara-cara
mempertahankan atau memperbanyak produksi ASI, cara memberi
ASI pada ibu bekerja, makanan ibu menyusui, KB, cara memandikan
bayi, imunisasi dan penanggulangan diare.
e. Memotivasi ibu pada saat pulang dari rumah sakit tentang manfaat
klinik laktasi
4. Di Klinik Laktasi
Klinik laktasi adalah tempat konsultasi dimana dilakukan kegiatankegiatan.
a. Memantau kesehatan ibu nifas dan bayi
b. Memberi KIE dengan pesan tentang gizi ibu, mengatasi kesulitan
proses laktasi, dan menjaga kelangsungan proses menyusui
c. Melakukan demontrasi perawatan bayi

G. PERAN DOKTER DALAM RAWAT GABUNG


Peranan yang dapat dilakukan dokter dalam rawat gabung adalah :
1. Menggariskan kebijaksanaan dan tata tertib rawat gabung
2. Melaksanakan perawatan ibu dan anak
3. Merencanakan, melaksanakan, dan menilai kegiatan-kegiatan KIE
kepada ibu dan keluarganya tentang laktasi dan gizi ibu
H. PERAN PARAMEDIS DALAM RAWAT GABUNG
Peranan paramedis yang dapat dilakukan dalam rawat gabung adalah :
1. Mengajak atau memotivasi ibu melakukan perawatan payudara, cara
menyusui, merawat bayi, dan tali pusat serta memandikan bayi
2. Mengatasi masalah laktasi
3. Memantau keadaan ibu dan bayi terutama dapat menidentifikasi
keadaan yang tidak biasa.
I. PERAN IBU DALAM RAWAT GABUNG
Pada rawat gabung ibu dapat berperan sebagai berikut :
1. Mempraktekan hal-hal yang diajarkan petugas kesehatan misalnya
tentang merawat payudara, menyusui bayinya, merawat tali pusat, dan
lain-lainnya
2. Mengamati hal-hal yang tidak biasa ( kelainan ) yang terjadi pada bayi
atau dirinya dan melaporkan pada petugas

37

J. PERSYARATAN RAWAT GABUNG YANG IDEAL


1. BAYI
a. Bayi ditempatkan dalam box tersendiri dekat tempat tidur ibu
sehingga mudah dijangkau dan dilihat oleh ibu. Bila tidak terdapat
tempat tidur bayi, bayi boelh diletakkan di tempat tidur. Agar
mengurangi bahaya bayi jatuh dari tempat tidur, sebaiknya dua
tempat tidur ibu diletakkan.
b. Tersedianya pakaian bayi
2. IBU
a. Tempa tidur ibu
b. Tempat tidur ibu diusahakan rendah agar memudahkan untuk
naik/turun
c. Tersedianya perlengkapan perawatan nifas
3. RUANGAN DAN SARANA
a. Rungan cukup hangat, sirkulasi udara cukup
b. Ruang unit ibu/bayi yang masih memerlukan perawatan harus dekat
dengan ruangan petugas
4. PETUGAS
Mempunyai kemampuan dan keterampilan pelaksanaan rawat gabung
5. ADANYA SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN
Catatan medis diperlukan untuk mencatat keadaan bayi dan ibu setiap
hari
BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR)
DENGAN PERAWATAN METODE KANGURU (PMK)

1. Falsafah
Sesuai isi deklarasi bogota tentang Perawatan Metode Kanguru
tahun 1998:
Perawatan Metode Kanguru harus menjadi hak dasar bagi bayi baru
lahir
Perawatan Metode Kanguru harus menjadi bagian integrasi dari
manajemen BBLR dan bayi normal, dalam berbagai kondisi dan pada
semua tingkat pelayanan disemua negara
Program PMK terdiri atas empat komponen yaitu:
1. Kangoroo position yaitu posisi kanguru (kangoroo position merujuk
pada kontak kulit ibu dengan kulit bayi)
2. Kangoroo nutrition yaitu kangoroo nutrition merujuk pada praktek
pemberian ASI yang diperkuat dengan kontak kulit ibu dengan kulit
bayi
3. Kangoroo discharge yaitu kangoroo discharge merujuk pada kelanjutan
praktek PMK di rumah setelah keluar dari Rumah sakit
4. Kangoroo support yaitu kangoroo support merupakan bentuk dukungan
pada PMK dapat berupa dukungan fisik maupun emosional kepada ibu
38

2. Definisi
Perawatan Metode Kanguru (PMK) adalah perawatan Bayi berat Lahir
Rendah dengan melakukan kontak langsung antara kulit bayi dengan
kulit ibu ( skin to skin contact )
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah kelompok bayi lahir dengan
berat kurang dari 2500 gram tanpa memandang usia kehamilannya,
baik prematur atau cukup bulan
PMK berselang ( continuous KMC ) adalah Perawatan Metode Kanguru
yang dipraktekkan selama 24 jam terus menerus dalam sehari
PMK berselang ( intermitten KMC ) adalah Perawatan Metode Kanguru
yang dipraktekkan selama beberapa jam atau tiap beberapa hari
Bangsal / unit PMK adlah sarana kesehatan untuk mempraktekkan PMK
3. PELAYANAN PERAWATAN METODE KANGURU
3.1
1.
2.
3.
4.

Komponen Perawatan Metode Kanguru


Kangoroo Position
Kangoroo Nutrition
Kangoroo Discharge
Kangoroo Support

3.2
Konsep Pelayanan
1. Dilakukan secara komprehensif (promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif)
2. Hospital Based dan community based
3. Harus itegritas dengan pelayanan yang ada
4. Semua tindakan harus terdokumentasi
5. PMK utamanya merupakan intervensi perawatan dengan dukungan
medis
3.3

Alur pasien dalam pelayanan


Bayi dengan Berat Lahir rendah bisa mendapatkan Perawatan
Metode Kanguru ( PMK ) di dalam dan di luar rumah sakit. Bayi-bayi yang
masih memerlukan fasilitas perawatan spesialistikdirawat di RS.
Sedangkan bayi-bayi dengan kondisi umum stabil, toleransi minum baik
dan ibu dianggap mampu melakukan PMK dapat dirawat diluar RS atau di
rumah dengan pengawasan tenaga kesehatan terlatih. Jika bayi kembali
masuk dalam keadaan gawat dapat datang ke RS / UGD
Pasien
UGD

HCU
( Level
III)

Poli

R. Bersalin
Special care
(Level II)

R. Rawat
gabung ( Level
I)

DISCHARGE

Poli klinik /
puskesmas

Rumah
39

3.4

Prosedur / Algoritme Pelayanan


Pelayanan PMK di berikan sesuai dengan standar profesi, prosedur
pelayanan sebagai berikut :
1. PMK pada BBLR dilakukan setelah pemeriksaan dan persetujuan oleh
tenaga medis (dokter)
2. Setelah dokter memutuskan bahwa BBLR dapat dilakukan PMK,
selanjutnya inisiasi oleh tenaga keperawatan
3. Keluarga pasien diberikan informasi mengenai pelayanan PMK, setelah
setuju maka keluarga menandatangani informed consent
4. Edukasi kepada keluarga pasien mengenai pelaksanaan PMK,
sesuaikan dengan level perawatan bayi :
- Ruang Rawat PMK ( level 1 ) : dilakukan PMK secara kontinyu
- Level II-III : PMK intermitten
5. Melatih keluarga untuk melakukan PMK terutama mengenai posisi
bayi, cara menyusui dan personal hygiene. Setelah keluarga dilatih
maka dilakukan uji coba penerapan PMK (dengan persetujuan dokter)
6. Perawat melakukan observasi terhadap pasien dan keluarga pasien
selama melaksanakan perawatan PMK
7. Pulang dan kunjungan kontrol :
- Pemulangan (discharge) pasien dapat dilakukan setelah mendapat
persetujuan dari dokter
- Pada saat pulang keluarga diberikan edukasi mengenai hal-hal
yang perlu dilakukan dan diperhatikan selama melakukan PMK di
rumah. Dapat diberikan catatan mengenai kesehatan bayi
menggunakan buku KIA atau sejenisnya
- Kunjungan kontrol dapat dilakukan ditempat pemberi layanan Rs
atau fasilitas keehtan di luar rumah sakit ( puskesmas, klinik,
dokter/bidan swasta ) apabila pasien sebelumnya merupakan
kiriman/rujukan dari sarana pelayanan kesehatan tersebut.
3.5
Asuhan Keperawatan
Asuhan keperawatan merupakan suatu rangkaian kegiatan
keperawatan dalam upaya memenuhi kebtuhan bayi baru lahir dan
keluarganya. Pendekatan yang digunakan adalah proses keperawatan
yaitu suatu pendekatan sistematis dimulai dari pengkajian, perumusan
masalah, intervensi, implementasi dan evaluasi. Untuk mengidentifikasi
masalah pemenuhan kebutuhan dasar bayi baru lahir secara optimal,
pengkajian harus dilakukan secara seksama baik itu pengkajian pada bayi
maupun pengkajian terhadap kebutuhan belajar dari orang tua bayi.
Perawatan Metode Kanguru utamanya intervensi perawatan BBLR
dengan dukungan medis. Sehingga yang lebih banyak berperan untuk
melatih dan mendidik ibu adalah perawat atau bidan terlatih. Untuk itu
perlu diperhatikan hal-hal yang terkait dengan asuhan keperawatan yang
diberikan tidak hanya kepada si bayi tetapi juga kepada ibu, bahkan
keluarganya. Dalam memberikan asuhan keperawatan PMK, komponen
yang perlu dilakukan adalah :
A. Edukasi kepada ibu
Ada dua macam edukasi, yaitu saat :
40

1. Periksa kehamilan (ANC)


2. Setelah persalinan dengan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
Edukasi yang diberikan berisi :
a. Apa dan bagaimana terjadinya BBLR
b. Penanganan BBLR, dimana diantaranya dengan PMK
c. Informasi tentang PMK mulai dari tujuan sampai manfaatnya
d. Membangun kesadaran akan pentingnya mencegah dan menangani
masalah BBLR
B. Konseling
Konseling adalah cara berhubungan dengan orang dimana anda
mengerti apa yang mereka rasakan da menolong mereka untuk
memutuskan yang harus dilakukan.
Prinsip-prinsip konseling :
1. Menggunakan komunikasi bahasa non verbal
2. Pertanyaan terbuka
3. Merespon bahasa tubuh yang menunjukkan minat
4. Mengulang ucapan ibu
5. Empati perlihatkan bahwa anda mengerti yang ibu rasakan
6. Hindari kata-kata yang menghakimi
Setelah dikonseling dan ibu memutuskan untuk PMK maka dilanjutkan
dengan latihan penerapan.
Pendidikan dan konseling merupakan metode pemberian informasi
dalam upaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga,
informasi tentang PMK merupakan dasar bagi keluarga dalam
memutuskan kesediaannya melakukan PMK. Tujuan akhir dari kegiatan
ini adalah keluarga mampu melaksanakan perawatan metode kanguru
di rumah.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal, perawat dan tenaga
kesehatan lain harus memiliki keterampilan dalam memberikan
informasi, memahami perawatan metode kanguru, dan memahami
kesiapan keluarga dalam menerima informasi. Faktor-faktor tersebut
dapat mempengaruhi kualitas informasi yang diterima oleh keluarga
yang pada akhirnya mempengaruhi perubahan perilaku keluarga
terhadap pelaksanaan PMK.
Keluarga merupakan pemberi asuhan utama bayi premature keluar
dari rumah sakit melalui pemberian pendidikan kesehatan dan
konseling sangatlah penting mengingat bayi premature memerlukan
perawatan khusus dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.
C. Perawatan Metode kanguru
1. Persiapan
Sebelum ibu mampu melakukan PMK dilakukan latihan untuk
adaptasi selama lebih kurang 3 hari. Saat melakukan latihan ibu
diajarkan juga personal hygiene : dibiasakan mencuci tangan,
kebersihan kulit bayi ( tidak di mandikan dengan baby oil ),
kebersihan tubuh ibu dengan mandi sebelum melakukan PMK.
Serta diajarkan tanda-tanda bahaya seperti :
- Kesulitan bernafas ( dada tertarik ke dalam, merintih )
- Bernapas sangat cepat atau sangat lambat
41

- Serangan henti nafas ( apnea )


2. Pelaksanaan
Dalam pelaksanaan PMK perlu diperhatikan 4 komponen PMK, yaitu
:
a. Posisi bayi
Letakkan bayi di antara payudara dengan posisi tegak, dada
bayi menempel ke dada ibu. Posisi bayi di jaga dengan kain
panjang atau pengikat lainnya. Kepala bayi di palingkan kesisi
kanan atau kiri, dengan posisi sedikit tengadah (ekstensi).
Ujung pengikat tepat berada dibawah kuping bayi. Tungkai bayi
haruslah dalam posisi kodok, tangan harus dalam posisi fleksi.
Ikatkan kain dengan kuat agar saat ibu bangun dari duduk , bayi
tidak tergelincir. Pastikan juga bahwa ikatan yang kuat dari kain
tersebut menutupi dada si bayi. Perut bayi jangan sampai
tertekan dan sebaiknya berada di sekitar epigastrium ibu.
Dengan cara ini bayi dapat melakukan pernapasan perut.
Berikut adalah cara memasukkan dan mengeluarkan bayi dari
baju kanguru, misalnya saat akan di susui.
- Pegang bayi dengan satu tangan di letakkan di belakang
leher sampai punggung bayi.
- Topang bagian bawah rahang bayi dengan ibu jari dan jarijari lainnya agar kepala bayi tidak tertekuk dan tak menutupi
saluran napas ketika bayi berada pada posisi tegak.
- Tempatkan tangan lainnya di bawah bantal bayi.
b. Nutrisi dengan pemberian ASI
Dengan melakukan PMK, proses menyusui menjadi lebih
berhasil dan sebagian besar bayi yang di pulangkan
memperoleh ASI. Bayi pada kehamilan kurang dari 30-32
minggu biasanya perlu diberi minum melalui pipa nasogastrik,
untuk ASI yang diperas (expressed breast milk). Bayi dengan
masa kehamilan 32-34 minggu dapat diberi minum melalui
gelas kecil. Sedangkan bayi-bayi dengan usia kehamilan sekitar
32 minggu atau lebih sudah dapat mulai menyusu pada ibu.
c. Dukungan (support)
Saat bayi telah lahir, ibu memerlukan dukungan dari berbagai
pihak, diantaranya berupa :
- Dukungan emosional : ibu memerlukan dukungan untuk
melakukan PMK. Banyak ibu-ibu muda yang mengalami
keraguan yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan bayi
pertamanya sehingga membutuhkan dukungan dari keluarga,
teman serta petugas kesehatan.
- Dukungan fisik : selama beberapa minggu PMK, merawat bayi
akan sangat menyita waktu ibu. Istirahat dan tidur yang
cukup sangat penting peranannya pada PMK. Oleh karena itu,
ibu-ibu
memerlukan
dukungan
untuk
membantu
menyelesaikan tugas-tugas rumah.
- Dukungan edukasi : sangat penting memberikan informasi
yang ibu butuhkan agar ia dpat memahami seluruh proses
42

PMK dan mengetahui manfaat PMK. Hal ini membuat PMK


menjadi lebih bermakna dan akan meningkat kemungkinan
bahwa ibu akan berhasil menjalankan PMK baik di rumah sakit
ataupun saat di rumah.
Dukungan bisa diperoleh dari petugas kesehatan, seluruh
anggota keluarga, ibu dan masyarakat. Tanpa adanya dukungan
akan sangat sulit bagi ibu untuk dapat melakukan PMK dengan
berhasil.
d. Pemulangan (discharge)
Pemulangan
bayi
dilakukan
atas
persetujuan
dokter
berdasarkan laporan perawat. Bayi PMK dapat dipulangkan dari
rumah sakit setelah memenuhi kriteria di bawah ini :
- Kesehatan bayi secara keseluruhan dalam kondisi baik dan
tidak ada henti nafas (apnea) atau infeksi.
- Bayi minum dengan baik
- Berat
bayi
selalu
bertambah
(sekurang-kurangnya
15gr/kg/hari) untuk sekurang-kurangnya tiga hari berturutturut
- Ibu mampu merawat bayi dan dapat datang secara teratur
untuk melakukan follow up
- Mereka akan tetap memerlukan dukungan meskipun tidak
sering dan seintensif seperti sebelumnya. Jika tidak ada
layanan tindak lanjut atau lokasi rumah sakit letaknya jauh,
pemulangan dapat di tunda. Sebelum di pulangkan, pastikan
ibu sudah mengerti tanda-tanda bahaya pada bayi, jadwal
kontrol bayi, monitoring tumbuh kembang dan bagaiman cara
merujuk ke rumah sakit jika ada bahaya.
e. Monitoring kondisi bayi
Hal-hal yang harus di monitoring adalah :
Tanda vital 3x/hari (setiap ganti shift)
Timbang berat badan bayi 1x/hari
Panjang badan dan lingkar kepala 1x/minggu
Predischarge score setiap hari
Jejas pasca persalinan
Skrining bayi baru lahir
Tumbuh kembang bayi : terutama panca inderanya

f.

Monitoring kondisi ibu


Hal-hal yang perlu di monitoring, antara lain :
Tanda-tanda vital
Involusi uteri
Laktasi
Perdarahan post partum
Luka operasi
Luka perineum

g. Penanganan pencegahan
Untuk mencegah BBLR mendapat penyakit, maka BBLR perlu
mendapat imunisasi sesuai jadwal yang di anjurkan
43

Tanya dan cari tanda-tanda apapun yang mengindikasikan adanya


penyakit, baik yang dilaporkan atau tidak oleh ibu
Tangani setiap penyakit berdasarkan standar operasional prosedur
dan juklak lokal
Jika pertambahan berat badan tidak mencukupi, tanya dan cari
permasalahannya, penyebab dan solusi. Semua ini umumnya
berhubungan dengan pemberian minum dan penyakit.

3.6
Pencatatan dan Pelaporan
Berdasarkan pencatatan dan pelaporan maka kualitas asuhan dapat di
identifikasi dan di tingkatkan.
a. Pencatatan
Beberapa format pencatatan yang dapat digunakan dalam
pelaksanaan PMK :
1. Lembar Observasi Bayi dalam PMK : digunakan untuk memantau
bayi setiap hari, mencakup tanda-tanda vital, berat badan,
dukungan khusus yang diberikan seperti oksigen.
2. Catatan Harian Berat Badan Bayi : digunakan untuk melihat
kenaikan berat badan yang dilakukan PMK secara kseseluruhan.
Catatan diisi setiap hari oleh penanggung jawab PMK.
3. Lembar Penilaian Kesiapan Pulang (Predischarge scoring) : format
ini berisi tentang kondisi bayi saat menyusu, produksi ASI, rasa
percaya diri ibu dalam merawat bayi, dukungan sosial ekonomi,
pertambahan berat badan setiap hari, pengetahuan tentang PMK,
rasa percay ibu dalam memberikan obat, penerimaan dan
menerapkan PMK. Masing-masing pernyataan diberi nilai dengan
rentang 0-2. Nilai tinggi menggambarkan lebih siap. Kriteria bayi
boleh pulang adalah apabila nilai predischarge lebig dari 16.
Penilaian dilakukan oleh pemberi asuhan.
b. Pelaporan
Laporan tentang proses pelaksanaan harus mencakup :
Waktu pelaksanaan PMK : hal ini mencakup pada usia berapa hari
rata-rata PMK dilakukan
Tipe PMK : apakah PMK dilaksanakan berselang (intermitten) atau
24 jam secara terus menerus (continuos).
Masalah / kendala yang dihadapi : kendala selama pelaksanaan PMK
dapat diidentifikasi melalui proses pemantauan.
Sesuai dengan sifatnya, laporan dibagi menjadi dua yaitu :
1. Laporan internal : laporan terkait pelaksanaan PMK di ruang rawat,
dilakukan secara berkala setiap bulan.
2. Laporan eksternal : laporan yang disampaikan ke divisi laporan
mencakup semua hal terkait dengan pelaksanaan PMK. Laporan
dilakukan 6 bulan sekali.
3.7Model Implementasi Perawat Metode Kanguru (PMK)
Model A : perawat metode kanguru berselang sukarela dan tidak
menyediakan pelayanan PMK terus menerus.
Model B : berada dalam bangsal neonatal, dimana dilakukan PMK terus
menerus. Terdapat ruang terpisah untuk PMK dan dekat dengan
44

Model

Model

Model

Model

NICU dan High care. jika pemondokan tersedia, ibu dan bayi
langsung dimasukkan ke bangsal PMK dan ibu melakukan
sebagian besar perawatan bayi. Sedang jika fasilitas
pemondokan tidak tersedia, ibu pulang dan datang untuk
melakukan PMK berselang juga pemberian ASI.
C : bangsal PMK terpisah dengan bangsal neonatal. Perawatan di
NICU dan High care menggunakan inkubator dan PMK berselang.
Pada tahap ini bangsal PMK sebagai persiapan bayi untuk
dipulangkan.
D : merupakan variasi dari model C dimana terdapat unit PMK
terpisah dengan NICU tersendiri. Ibu dpat memutuskan apakah
dirawat secara PMK atau konvensional. Ibu mulai dengan PMK
berselang di ruang khusus walaupun bayi di ventilator. Setelah
kondisi bayi membaik dapat ditingkatkan menjadi PMK terus
menerus sampai bayi siap di pulangkan. Sesudah ibu dan bayi
pulang akan dilakukan kunjungan rumah oleh petugas
kesehatan. Model D sangat memakan biaya dan bukan pilihan
yang baik untuk negara miskin.
E : fasilitas High care tidak tersedia. Rs tidak punya ruang atau
pemondokan ibu dapat merujuk ibu dan bayi ke fasilitas lain
sampai bayi mencapai berat yang cukup.
F : ini adalah model perawatan PMK di rumah setelah bayi di
pulangkan. Bayi dirawat secara PMK terus menerus, dan ibu
membawa ke kilinik khusus setiap hari atau dua kali seminggu
untuk kontrol. Semakin kuat bai, frekuensi kunjungan kontrol
semakin jarang. Model ini dapat bekerja dimana sistem rawat
jalan dan transportasi umum tersedia.
RUMAH SAKIT SAYANG IBU DAN BAYI (RSSIB)

1. Definisi
Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi (RSSIB) adalah rumah sakit pemerintah
maupun swasta, umum maupun khusu yang telah melaksanakan 10 langkah
menuju perlindungan bayi dan ibu secara terpadu dan paripurna.
2. Tujuan
UMUM :
Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan ibu dan bayi secara terpadu dalam
upaya menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi
(AKB).
KHUSUS :
1. Melaksanakan dan mengembangkan standar pelayanan perlindungan ibu
dan bayi secara terpadu dan paripurna.
2. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi termasuk
kepedulian terhadap ibu dan bayi.
3. Meningkatkan kesiapan rumah sakit dalam melaksanakan fungsi
pelayanan obstetrik dan neonatus termasuk pelayanan kegawatdaruratan
(PONEK 24 jam)
45

4. Meningkatkan fungsi rumah sakit sebagi pusat rujukan pelayanan


kesehatan ibu dan bayi sarana pelaksanaan kesehatan lainnya.
5. Meningkatkan fungsi rumah sakit sebagai model dan pembina teknis
dalam pelaksanaan IMD dan pemberian ASI ekslusif.
6. Meningkatkan fungsi rumah sakit dalam perawatan metode kanguru
(PMK)
3. Sasaran
a. Rumah Sakit Umum Pemerintah dan Swasta
b. Rumah Sakit Khusus (Rs Bersalin ibu dan anak) pemerintah dan swasta.
4. Strategi pelaksanaan
Melaksanakan perlindungan ibu dan bayi secara terpadu melalui 10
(sepuluh) langkah menuju keberhasilan menyusui sebagai berikut :
1. Ada kebijakan tertulis tentang manajemen yang mendukung pelayanan
kesehatan ibu dan bayi termasuk pemberian ASI ekslusif dan Perawatan
Metode Kanguru (PMK) untuk bayi BBLR.
2. Menyelenggarakan pelayanan antental termasuk konseling kesehatan
maternal dan neonatal.
3. Menyelenggarakan persalinan bersih dan aman serta penanganan bayi
baru lahir dengan inisisasi menyusu dini dan kontak kuli ibu-bayi.
4. Menyelenggarakan pelayanan obstetrik dan neonatal emergency
komprehensif (PONEK).
5. Menyelenggarakan pelayanan adekuat untuk nifas, rawat gabung
termasuk membantu menyusui dengan benar dan pelayanan neonatus
sakit.
6. Menyelenggarakan pelayan rujukan dua arah dan membina jejaring
rujukan pelayanan ibu dan bayi dengan sarana kesehatan lain.
7. Menyelenggarakan pelayanan imunisasi bayi dan tumbuh kembang anak.
8. Menyelenggarakan pelayanan keluarga berencana termasuk pencegahan
dan penanganan kehamilan yang tidak diinginkan serta kesehatan
reproduksi.
9. Melenggarakan audit maternal dan perinatal rumah sakit seacara periodik
dan tindak lanjut.
10.Memperdayakan kelompok pendukung ASI dalam menindak lanjuti
pemberian ASI Eksklusif dan PMK.

46

INISIASI MENYUSU DINI

A. DEFINISI
Segera menaruh bayi di dada ibunya, kontak kulit dengan kulit (skin to
skin contact) segera setelah lahir setidaknya satu jam atau lebih sampai
bayi menyusu sendiri.
Apabila bayi sehat diletakkan segera pada perut dan dada ibu
setelah lahir untuk kontak kulit ibu dan kulit bayi, bayi memperlihatkan
kemampuan yang menakjubkan. Bayi dapat merangkak, dirangsang oleh
sentuhan ibu yang lembut, melintasi perut ibu mencapai payudara.
Sentuhan awal yang lembut oleh tangan atau kepala bayi pada payudara
merangsang produksi oksitosin ibu,
B. Tatalaksana Inisisasi Menyusui Dini secara umum :

47