Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dewasa ini banyak ditemukan beberapa bentuk roman muka bumi yang bervariasi mulai dari
pegunungan, sesar, kekar, lipatan, dan lain-lain. Pada dasarnya semua itu terbentuk akibat adanya proses
atau gejala alam yang menunjang terbentuknya bentuk muka bumi yang demikian. Disini penulis akan
membahas mengenai hal-hal yang dapat menunjang terbentuknya roman muka bumi yang bervariasi yang
disebabkan oleh salah satunya yaitu Deformasi Batuan (Perubahan bentuk, ukuran, atau volume batuan).
Disamping itu, penulis juga membahas salah satu proses yang menyebabkan terjadinya deformasi
batuan yaitu Tektonik Lempeng. Dimana indonesia merupakan salah satu negara bagian dari Ring Of
Fire. Untuk mengetahui bagaimana hal itu bisa terjadi yang berakibat pada bentuk muka bumi yang
bervariasi, maka dengan itu penulis akan membahas beberapa proses dari Tektonik Lempeng.
B.
1.
2.
3.
4.
C.
1.

Rumusan Masalah
Apakah deformasi batuan itu?
Apa saja faktor yang dapat mempengaruhi deformasi batuan?
Bagaimana dampak dari terjadinya deformasi batuan?
Bagaimana proses tektonik lempeng?
Tujuan
Menjelaskan kepada pembaca mengenai apa itu deformasi batuan, bagaimana proses dari
deformasi batuan, apa saja fakto-faktor yang mempengaruhi, dan apa penyebab dari terjadinya

deformasi batuan tersebut.


2. Memberikan gambaran kepada pembaca bahwa salah satu penyebab terjadinya variasi muka
bumi seperti: sesar, kekar, lipatan dll. Adalah deformasi batuan.
3. Memberikan gambaran kepada pembaca mengenai bentuk muka bumi yang tidak rata
diakibatkan oleh terjadinya proses tektonik lempeng.
D. Manfaat
1. Pembaca dapat memahami dampak dari deformasi batuan.
2. Pembaca dapat mengetahui hal-hal yang disebabkan oleh proses tektonik lempeng yang terjadi
disekitarnya.

BAB II
PEMBAHASAN
1

A. DEFORMASI BATUAN
1. Pengertian Deformasi Batuan
Deformasi adalah perubahan bentuk, dimensi dan posisi dari suatu materi baik merupakan bagian
dari alam ataupun buatan manusia dalam skala waktu dan ruang. Deformasi disebabkan oleh gaya atau
tekanan yang bekerja pada materi tersebut.
2. Faktor-Faktor Yang Mengontrol Terjadinya Deformasi Suatu Materi
a.

Temperatur dan tekanan ke semua arah; pada temperatur dan tekanan yang rendah akan lebih cepat

terjadi patahan, pada temperatur dan tekanan yang tinggi akan terjadi lenturan atau bahkan lelehan.
b.
Kecepatan gerakan yang disebabkan oleh gaya yang diberikan; gerakan yang cepat dapat
menyebabkan patahan, sedangkan gerakan yang lambat dapat menimbulkan lenturan, tergantung dari
c.

bahan yang bersangkutan dan dari keadaan-keadaan lain.


Sifat material, yang bisa lebih rapuh atau lebih lentur.
Tekanan merupakan gaya yang diberikan atau dikenakan pada suatu medan atau area. Tekanan terbagi
menjadi tekanan seragam (uniform stress) yaitu gaya yang bekerja pada suatu materi sama atau
seragam di semua arah, dan tekanan diferensial atau tekanan dengan gaya yang bekerja tidak sama di
setiap arah. Tekanan diferensial terbagi menjadi tensional stress, compressional stress, dan shear
stress.
3. Tahapan Deformasi
Ketika suatu batuan dikenakan tekanan dengan besar tertentu, maka batuan itu akan mengalami

tiga tahap deformasi, yaitu :


a. Elastic deformation
Elastic deformation adalah deformasi batuan yang bersifat sementara atau tidak permanen. jadi ketika
tekanan yang diberikan pada batuan tersebut dihilangkan, maka bentuk batuan tersebut akan kembali
seperti semula. Elastisitas ini memiliki batas yang disebut elastic limit. Apabila batas elastisitas ini
dilampaui, maka bentuk batuan tidak akan kembali seperti semula.
b. Ductile deformation
Ductile deformation merupakan tahapan deformasi setelah elastic limit dilampaui dan perubahan bentuk
dan volume batuan tidak kembali.
c. Fracture deformation
Fracture deformation merupakan tahapan deformasi yang tejadi setelah batas atau limit elastic
deformation dan ductile deformation dilampaui.
2

4. Pengontrol Deformasi
Percobaan-percobaan di laboratorium menunjukkan bahwa deformasi batuan, selain tergantung pada
besarnya gaya yang bekerja, juga kepada sifat fisika dan kompisis batuan serta lingkungan tektonik dan
waktu.
Faktor-faktor yang mengontrol terjadinya deformasi adalah :
1. Suhu
Makin tinggi suhu suatu benda padat semakin ductile sifatnya dan keregasannya makin
berkurang. Misalnya pipa kaca tidak dapat dibengkokan pada suhu udara normal, bila dipaksa akan patah,
karena regas (brittle). Setelah dipanaskan akan mudah dibengkokan. Demikian pula halnya dengan
batuan. Di permukaan, sifatnya padat dan regas, tetapi jauh di bawah permukaan dimana suhunya tinggi,
bersifat ductile.
2. Waktu dan strain rate
Pengaruh waktu dalam deformasi batuan sangat penting. Kecepatan strain sangat dipengaruhi
oleh waktu. Strain yang terjadi bergantung kepada berapa lama batuan dikenai stress. Kecepatan batuan
untuk berubah bentuk dan volume disebut strain rate, yang dinyatakan dalam volume per unit volume per
detik, di bumi berkisar antara 10-14/ detik sampai 10-15/ detik. Makin rendah strain rate batuan, makin
besar kecenderungan terjadinya deformasi ductile.
Pengaruh suhu, confining pressure dan strain rate pada batuan, seperti ciri pada kerak, terutama
di bagian atas dimana suhu dan confining pressure rendah tetapi strain rate tinggi, batuan cenderung
rapuh (brittle) dan patah. Sedangkan bila pada suhu tinggi, confining pressure tinggi dan strain rate
rendah sifat batuan akan menjadi kurang regas dan lebih bersifat ductile. Sekitar kedalaman 15 km,
batuan akan bersifat regas dan mudah patah. Di bawah kedalaman 15 km batuan tidak mudah patah
karena bersifat ductile. Kedalaman dimana sifat kerak berubah dari regas mulai menjadi ductile, disebut
brittle-ductile transition.
3. Komposisi
Komposisi batuan berpengaruh pada cara deformasinya. Komposisi mempunyai dua aspek.
Pertama, jenis dan kandungan mineral dalam batuan, beberapa mineral (seperti kuarsa, garnet dan olivin)
sangat brittle, sedangkan yang lainnya (seperti mika, lempung, kalsit dan gypsum) bersifat ductile.
Kedua, kandungan air dalam batuan akan mengurangi keregasannya dan memperbesar keduktilannya.
Pengaruh air, memperlemah ikatan kimia mineral-mineral dan melapisi butiran-butiran mineral yang
memperlemah friksi antar butir. Jadi batuan yang basah cenderung lebih ductile daripada batuan
kering. Batuan yang cenderung terdeformasi ductile diantaranya adalah batu gamping, marmer, lanau,
3

serpih, filit dan sekis. Sedangkan yang cenderung brittle adalah batupasir, kuarsit, granit, granodiorit, dan
gneiss

B. STRUKTUR GEOLOGI
Foto ini menunjukkan deformasi batuan yang mengakibatkan struktur terlipat - forces internal Bumi dapat
menyebabkan struktur geologi tersebut kepada bentuk
struktur geologi yang dapat mengandung sumber
energi penting dan deposit bijih mineral berharga.
Struktur geologi adalah struktur perubahan lapisan
batuan

sedimen

akibat

kerja

kekuatan

tektonik,sehingga tidak lagi memenuhi hukum superposisi disamping itu struktur geologi juga merupakan
struktur kerak bumi produk deformasi tektonik.
I. Strike dan Dip
adalah sikap atau karakteristik dalam batuan yang dihasilkan oleh forces geologi maupun sekarang
setelah batuan terlipat (ditekuk) atau faulted (retak dan bergerak di sepanjang celah jarak yang cukup
jauh.
a) Srike adalah garis imajiner dengan arah kompas membangun pada permukaan tempat sedimen
atau kesalahan di mana semua titik pada garis yang elevasi setara - arah kompas biasanya
ditunjukkan sebagai bantalan.
b) Dip adalah garis imajiner membangun menuruni lereng di tempat sedimen atau fault arah dip
tegak lurus terhadap arah strike dan biasanya dinyatakan dalam bantalan dan sudut kemiringan
(dip) diukur dari bidang horizontal ke bagian atas tempat atau fault, sudut dip tidak boleh
melebihi 90 derajat
II. Struktur Lipatan (Fold/Folded/Folding)
adalah lekukan-lekukan di lapisan batuan dan terjadi atas bended, bawah, atau kekuatan tekanan
samping adalah penyebab utama dari lipatan. Lipatan adalah perubahan bentuk dan volume pada batuan
yang ditunjukkan dengan lengkungan atau melipatnya batuan tersebut akibat pengaruh suatu tegangan
(gaya) yang bekerja pada batuan tersebut. Pada umumnya refleksi pelengkungan ditunjukkan pada
pelapisan pada batuan-batuan sedimen atau foliasi pada batuan metamorf. lipatan adalah penyebab
penting dari pembentukan gunung.
4

A. Jenis lipatan
1. Antiklin adalah serangkaian lapisan atas melengkung dengan bagian sisi (kaki) mencelupkan ke
arah yang berlawanan dari bagian tengah lipatan perpecahan dengan plane yang disebut bidang
aksial dan diamati pada puncak (plan) pandangan sebagai sumbu lipatan permukaan yang tererosi
ini menunjukkan batuan menjadi semakin muda jauh dari sumbu lipatan (fold axis)
2. sinklin adalah serangkaian lapisan bawah melengkung dengan kaki mencelupkan ke dalam arah
yang berlawanan terhadap sumbu lipatan permukaan yang tererosi ini menunjukkan batuan
menjadi semakin tua jauh dari sumbu lipatan.
Beberapa defenisi tentang lipatan :
a. Sayap Lipatan, yaitu bagian sebelah menyebelah dari sisi lipatan
b. Puncak Lipatan, yaitu titik atau garis yang tertinggi dari sebuah lipatan
c. Bidang Sumbu Lipatan, yaitu suatu bidang yang memotong lipatan,membagi sama besar sudut
yang dibentuk oleh lipatan tersebut.
d. Garis Sumbu Lipatan,yaitu perpotongan antara bidang sumbu dengan bidang horizontal.
e. Jurus (Strike), yaitu arah dari garis horizontal dan merupakan perpotongan antara bidang yang
bersangkutan dengan bidang horizontal.
f. Kemiringan (Dip), yaitu sudut kemiringan yang tersebar dan dibentuk oleh suatu bidang miring
dengan bidang horizontal dan diukur dengan tegak lurus dengannya.
B. Tipe khusus anticlines dan synclines
1

Lipatan Simetris - adalah lipatan dengan sisi menunjukkan gambar cermin sehubungan dengan
bidang aksial

Lipatan Asimetris - lipat tanpa bayangan cermin dalam terhadap bidang aksial

Lipatan Terbalik - lipatan di mana bidang aksial dimiringkan dan tempat Dip akan ke arah yang
sama di kedua sisi bidang aksial

Lipatan Telentang - lipat dengan bidang horisontal aksial

Lipatan non-plugging dan plugging : lugging adalah memiringkan lipatan ke arah depan atau
belakang - semua anticlines dan synclines memiliki beberapa tingkat terjun non-plugging lipatan
garis hubungan memisahkan formasi ditampilkan dalam tampilan permukaan sejajar dan lurus
garis hubungan dalam salah satu dari dua pandangan profil horisontal dan sejajar hubungan dalam
tampilan profil lain melengkung ke atas atau bawah dalam plugging lipatan hubungan baris di
tampilan permukaan melengkung garis hubugan dalam salah satu pandangan profil dip ke arah
5

garis hubungan terjun dalam tampilan profil lain yang melengkung ke atas atau bawah garis
hubungan permukaan antara formasi yang convexed (ditutup) ke arah terjun untuk antiklin yang
dan cekung (terbuka) ke arah terjun untuk sinklin
6

pembentukan dan lokasi minyak bumi dan gas alam dikaitkan dengan anticlines dan synclines

3. Kubah (Dome) adalah seri atas-melengkung dari lapisan dengan tempat di semua sisi dipping jauh
dari pusat sepanjang 360 derajat - permukaan yang tererosi ini menunjukkan batuan menjadi semakin
muda jauh dari pusat struktur
4. Cekungan (Basin) adalah serangkaian bawahmelengkung dari lapisan dengan tempat di semua sisi
dalam dipping menuju pusat sepanjang 360 derajat - permukaan yang tererosi ini menunjukkan
batuan menjadi semakin tua jauh dari pusat struktur.
5. Monoklin adalah sebuah tikungan di lapisan mengakibatkan lokal steepening di kemiringan
lapisan yang hampir datar berbaring di kedua sisi jauh dari tikungan - hanya ada satu arah Dip di
monoklin tersebut.
III. Kekar (Joint)
Rekahan adalah sebutan untuk struktur rekahan dalam batuan dimana tidak ada atau sedikit sekali
mengalami

pergeseran.

Rekahan

yang

telah

bergeser

disebut

sesar.

Struktur kekar merupakan gejala yang paling umum dijumpai dan justru karenanya banyak dipelajari
secaras luas. Struktur-struktur ini merupakan struktur yang palinbg sukat untuk dianalisa. Struktur ini
banyak

dipelajari

Geologi

teknik,

karena
Geologi

hubunganya
minyak,

yang

terutaam

dengan

erat

dengan

masalah

masalah-masalah

cadangan

dan

produksi

Geologi pertambangan, baik dalam hal system penambangan maupun pengarahan terhadap bentuk-bentuk
mineralisasi, dll.
Umumnya dalam batuan sedimen, kekar dapat terbentuk mulai saat pengendapan atau terbentuk
setelah pengendapannya, dimana sedimen tersebut sedang mengeras. Struktur kekar dipelajari dengan
cara statistic, mengukur dan mengelompokan dalam bentuk diagram Rosset atau dengan diagram kontur
(kutub).
IV. Struktur Sesar (fault)
A. Definisi
6

adalah struktur dengan perpindahan besar material batuan di sepanjang celah di batu.

B. Jenis-jenis sesar
1. Vertical atau dip slip patahan(fault) adalah tipe yang dengan pergerakan sepanjang kemiringan patahan
- konsep hiasan dinding dan footwall penting dalam menentukan jenis patahan vertikal
Jika sudut kemiringan 90 derajat bukanlah sisi fault dengan bagian tanah yang tampaknya tergantung di
atas bagian yang lebih rendah sebelum gerakan disebut hiasan dinding(hanging wall) dan pada bagian
bawah, footwall
Sesar adalah satuan rekahan pada batuan yang telah mengalami pergeseran sehingga terjadi perpindahan
anatara bagian-bagian yang berhadapan dengan arah yang sejajar dengan bidang patahan. Pergeseranpergeseran yang telah terjadi pasda sesar, ukuran panjang mauypun kedalaman sesar dapat berkisar antara
beberapa sentimeter saja sampai mencapai ratusan kilometer.
Macam-macam sesar secara umum :
Sesar normal, yaitu gerak relative hanging wall turun terhadap footwall.
Sesar naik, yaitu gerak relative hanging wall terhadap footwall
Sesar mendatar, yaitu gerak relative mendatar pada bagian yang tersesarkan.
Istilah-istilah penting yang berhubungan dengan gejala sesar antara lain :
1. Bidang Sesar Merupakan bidang rekahan pada batuan yang telah mengalami pergeseran.
2. Bagian-bagian yang tersesarkan (tergeser) Bagian ini terdiri dari Hanging Wall dan Foot Wall.
a. Hanging Wall (Atap sesar) Adalah bongkahan patahan yang berada dibagian atas bidang sesar.
b. Foot Wall (Alas sesar) Adalah bongkahan patahan yang berada dibagian bawah bidang sesar.
3. Throw dan Heave
a. Throw,adalah jarak yang memisahkan lapisan atau vein yang terpatahkan yang diukur pada sesar dalam
bidang tegak lurus padanya.
b. Heave,adalah jarak horizontal yang diukur normal (tegak lurus) pada sesar yang memisahkan bagianbagian dari lapisan yang terpatahkan.

Sesar normal - hiasan dinding bergerak ke bawah mengenai footwall Membalikkan patahan - hiasan
dinding bergerak naik sehubungan dengan footwall - rendah siku terbalik patahan disebut sebagai sesar
2. Horizontal atau strike slip patahan(fault) adalah tipe yang dengan gerakan horisontal sepanjang
gerakan batu retak dapat dibiarkan lateral atau kanan contoh terbaik samping dari lateral kanan strike Slip
fault merupakan sesar San Andreas di California melihat ke bawah garis patahan dalam rencana tampilan
depan, sisi kanan fault tampaknya telah bergerak ke arah Anda jika fault lateralis kanan atau kiri bergerak
ke arah Anda jika fault kiri lateral
3.

Oblique

fault

adalah

rekahan

yang

memiliki

dip

Slip

utama

dan

komponen

sesar

IV. Joint structures


A. Definisi Kekar (Joint)
patahan pada dalam batuan dimana tidak ada perpindahan yang cukup sepanjang retakan - sering joint
terjadi pada 2 set retak berpotongan antara 45-90 derajat membagi batu ke blok empat persegi panjang.
B. Penyebab Joint
1. Unloading atau efek lembaran (lihat Pelapukan)

2. Tekanan dalam magma pendinginan yang dapat menyebabkan columnar jointing di mana terdapat
fraktur 6-sisi yang terdiri dari pola jointing - Contoh terbaik adalah Devil's Tower, Wyoming.

V. Pentingnya struktur geologi

Minyak dan gas alam terbentuk dan ditemukan terjebak di dalam lipatan bawah permukaan

Faults, joint, dan fractures dapat berperan sebagai lorong untuk tanah dan rumah untuk deposit
mineral berharga sebagai bijih emas, perak, tembaga dll

Unconformities dapat digunakan untuk menandai batas-batas waktu geologi untuk era, periode,
dan zaman

C.
TEKTONIK LEMPENG

10

Teori lempeng tektonik dikemukakan oleh ahli geofisika Inggris, Mc Kenzie dan Robert Parker (1967).
Kedua ahli itu menjadikan teori-teori sebelumnya sebagai satu kesatuan konsep yang lebih sempurna
sehingga diterima oleh para ahli geologi.
Teori lempeng tektonik diyakini oleh banyak ahli sebagai teori yang menerangkan proses dinamika bumi,
antara lain gempa bumi dan pembentukan jalur pegunungan. Menurut teori ini kulit bumi (kerak bumi)
yang disebut litosfer terdiri dari lempengan yang mengambang di atas lapisan yang lebih padat yang
disebut astenosfer. Ada dua jenis kerak bumi, yaitu kerak samudra dan kerak benua. Kerak samudra
tersusun atas batuan yang bersifat basa, sedangkan kerak benua tersusun atas batuan yang bersifat asam.
Kerak bumi menutupi seluruh permukaan bumi. Namun, akibat adanya aliran panas yang mengalir di
astenosfer menyebabkan kerak bumi pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Bagian-bagian itulah
yang disebut lempeng kerak bumi (lempeng tektonik). Aliran panas tersebut untuk selanjutnya menjadi
sumber kekuatan terjadinya pergerakan lempeng. Lempeng tektonik; merupakan dasar dari
terbangunnya system kejadian gempa bumi, peristiwa gunung berapi, pemunculan gunung api bawah
laut, dan peristiwa geologi lainnya.
Pergerakan lempeng tektonik dibedakan menjadi tiga macam, yaitu pergerakan lempeng yang saling
mendekat, saling menjauh, dan saling melewati.

11

1.
Pergerakan lempeng saling mendekat (Konvergen)
Pergerakan lempeng yang saling mendekat dapat menyebabkan terjadinya tumbukan yang salah
satu lempengnya akan menunjam ke bawah tepi lempeng yang lain. Daerah penunjaman tersebut
membentuk palung yang dalam dan merupakan jalur gempa bumi yang kuat. Sementara itu di belakang
jalur penunjaman akan terjadi aktivitas vulkanisme dan terbentuknya cekungan pengendapan. Contoh
pergerakan lempeng ini di Indonesia adalah pertemuan Lempeng Indo- Australia dan Lempeng Eurasia.
Pertemuan kedua lempeng tersebut menghasilkan jalur penunjaman di selatan Pulau Jawa, jalur gunung
api di Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara, serta berbagai cekungan di Sumatra dan Jawa.
Batas antarlempeng yang saling mendekat hingga mengakibatkan tumbukan dan salah satu lempengnya
menunjam ke bawah lempeng yang lain (subduct) disebut batas konvergen atau batas lempeng
destruktif.

b. Pergerakan lempeng saling menjauh (Divergen)

12

Pergerakan lempeng yang saling menjauh akan menyebabkan penipisan dan peregangan kerak
bumi hingga terjadi aktivitas keluarnya material baru yang membentuk jalur vulkanisme. Meskipun saling
menjauh, kedua lempeng ini tidak terpisah karena di belakang masing-masing lempeng terbentuk kerak
lempeng yang baru. Proses ini berlangsung secara kontinu.
Contoh hasil dari pergerakan lempeng ini adalah terbentuknya gunung api di punggung tengah samudra di
Samudra Pasifik dan Benua Afrika.
Batas antarlempeng yang saling menjauh hingga mengakibatkan terjadinya perluasan punggung
samudra disebut batas divergen atau batas lempeng konstruktif.
c. Pergerakan lempeng saling melewati / Berpapasan (Transform)
Pergerakan lempeng yang saling melewati terjadi karena gerak lempeng sejajar dengan arah yang
berlawanan sepanjang perbatasan antarlempeng. Pada pergerakan ini kedua perbatasan lempeng hanya
bergesekan. Oleh karena itu, tidak terjadi penambahan atau pengurangan luas permukaan. Namun,
gesekan antarlempeng ini kadang-kadang dengan kekuatan dan tegangan yang besar sehingga dapat
menimbulkan gempa yang besar.
Contoh hasil dari pergerakan lempeng ini adalah patahan San Andreas di Kalifornia. Patahan tersebut
terbentuk karena Lempeng Amerika utara bergerak ke arah selatan, sedangkan Lempeng Pasifik bergerak
ke arah utara.
Batas antarlempeng yang saling melewati dengan gerakan yang sejajar disebut

batas

menggunting (shear boundaries).


Lempeng kerak bumi dibagi menjadi dua kelompok, yaitu lempeng mayor (lempeng besar) dan lempeng
minor (lempeng kecil). Perhatikan tabel berikut.
Lempeng mayor

Lempeng minor

Lempeng Eurasia

Lempeng Filipina

Lempeng Amerika Utara

Lempeng Juan de Fuka

Lempeng Amerika Selatan

Lempeng Lempeng Karibia

Lempeng Afrika

Lempeng Kokos

Lempeng Indo-Australia

Lempeng Nazca
13

Lempeng Pasifik

Lempeng Skotia

Lempeng Antartika

Lempeng Arabia

Pergerakan lempeng tektonik tersebut ternyata menimbulkan berbagai fenomena di permukaan


bumi, misalnya terjadinya gempa bumi. Gempa bumi yang terjadi akibat pergeseran lempeng tektonik
disebut gempa bumi tektonik. Gempa tektonik terjadi di daerah subduksi, yaitu batas pertemuan lempeng
yang bertumbukan.
Berlandaskan pada teori lempeng
tektonik, kerak bumi terpecah-pecah
menjadi lempengan-lempengan yang
mengapung di atas lapisan yang
kompresi

ektensi

lebih

cair.

Lempeng

tektonik

tebalnya dapat mencapai 80 km,


tetapi ada juga yang lebih tipis
dengan luas yang beragam. Jika
lempeng-lempeng tersebut bergerak
saling bertumbukan, maka akan
terjadi penunjaman. Sesuai dengan
hukum fisika sederhana, lempengan

transform

yang berat jenis atau massanya lebih

besar akan menunjam dan menyusup ke bawah lempeng yang lebih ringan. Pergerakan lempeng tektonik
tersebut sangat lambat, yaitu antara 1 dan 10 cm per tahun. Namun, pergerakan yang sangat lambat
tersebut ternyata mengumpulkan energi yang sangat kuat secara pelan-pelan di kedalaman sekitar 80 km.
Apabila tekanan dan regangan tumbukan lempeng mencapai titik jenuh, biasanya akan terjadi gerakan
lempeng tektonik secara tiba-tiba. Gerakan tersebut menimbulkan getaran di muka bumi yang disebut
gempa.
Jika lempeng tektonik saling memisah, maka terjadi aktivitas magmatis yang mengakibatkan
penambahan landas samudra. Di daerah pemisahan tersebut terdapat rekahan-rekahan yang menjadi jalan
untuk keluarnya cairan dari dalam bumi. Cairan yang keluar dari dalam bumi tersebut kemudian
mendingin menjadi batuan basalt. Banyaknya basalt yang terus terbentuk mendorong lempeng tektonik ke
arah yang saling berlawanan. Akibatnya, lempeng tektonik terpisah dengan jarak yang makin jauh.

14

Salah satu contoh lempeng yang saling memisah adalah antara Lempeng Australia dan Antartika. Kedua
lempeng tersebut memisah hingga membentuk pematang tengah samudra. Gerakan saling menjauh kedua
lempeng tersebut menyebabkan lempeng India-Australia terdorong ke arah utara hingga bertumbukan
dengan lempeng Eurasia. Lempeng India-Australia yang merupakan lempeng samudra selanjutnya
menunjam dan menyusup ke bawah lempeng Eurasia.
Daerah sekitar penunjaman lempeng antara lain terbentuk palung di selatan Pulau Jawa, jalur gunung api
Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara, serta cekungan Sumatra dan Jawa. Daaerah penunjaman juga
merupakan jalur gempa bumi yang kuat.
Pada setiap daerah penunjaman, kira-kira pada kedalaman 150 km, terjadi pelelehan batuan yang disebut
pelelehan sebagian (partial melting). Pelelehan terjadi karena adanya gesekan batuan dengan massa yang
sangat padat dan berat secara terus menerus. Melalui rekahan atau celah yang ada, lelehan tersebut akan
menyusup dan berusaha menembus kerak bumi. Jika lelehan tersebut berhasil menembus kerak bumi
berarti di tempat tersbut muncul gunung api. Oleh karena itu, dapat diketahui bahwa gunung api dapat
muncul di daerah terjadinya gesekan lempeng tektonik.

BAB III

15

PENUTUP
KESIMPULAN
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa salah satu penyebab terjadinya sesar, kekar,
lipatan di muka bumi terjadi akibat proses deformasi batuan serta akibat yang ditimbulkan dari proses
tektonik lempeng yaitu bentuk muka bumi yang tidak merata yang terdiri dari, pegunungan, bukit,
lembah, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan HMG UNPAD 2003

http://learnmine.blogspot.com/2013/04/geologi-struktur.html di akses pada tanggal 4 Mei


2014
http://pelatihan-osn.com di akses pada tanggal 4 Mei 2014

16