Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
Abortus adalah berakhirnya masa kehamilan melalui cara apa pun sebelum janin mampu
bertahan hidup. Abortus dapat terjadi secara spontan, yang biasa disebut abortus spontan atau
keguguran (miscarriage). Abortus juga dapat dilakukan dengan tindakan mekanis atau medis
untuk mengosongkan uterus, yang biasa disebut abortus provokatus (Cunningham et al, 2014).
Abortus spontan terjadi pada 12 minggu pertama dengan jumlah kurang lebih 80 %.
Kejadian. Penyebab abortus spontan dapat dibedakan menjadi faktor ibu dan faktor janin. Faktor
ibu dapat disebabkan karena infeksi, penyakit debilitas kronik, kelainan endokrin, nutrisi,
pemakaian obat dan faktor lingkungan, faktor imunologis, trombofilia herediter, gamet yang
menua, trauma fisik, cacat uterus, serta serviks inkompeten. Faktor janin dapat disebabkan
karena perkembangan zigot abnormal dan kelainan kromosom. 50-60 % abortus spontan dini
disebabkan oleh kelainan kromosom (Cunningham et al, 2014).
Abortus provokatus merupakan terminasi kehamilan secara medis atau bedah sebelum
janin mampu hidup. Indikasi dilakukannya abortus provokatus adalah apabila berlanjutnya
kehamilan dapat mengancam nyawa wanita yang bersangkutan secara serius atau mengganggu
kesehatan serius, kemungkinan besar menyebabkan lahirnya bayi dengan retardasi mental atau
deformitas fisik berat, atau dapat dilakukan apabila kehamilan terjadi akibat perkosaan atau
incest. Abortus provokatus dapat dilakukan dengan pembedahan atau dapat dilakukan dengan
pemberian obat-obatan (medicinalis) (Cunningham et al, 2014).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A TAHAP PERKEMBANGAN JANIN
Proses kehamilan adalah proses bertemunya sel telur dengan sel sperma hingga
terjadi pembuahan. Proses kehamilan (gestasi) berlangsung selama 40 minggu atau 280 hari
dihitung dari hari pertama menstruasi terakhir. Usia kehamilan sendiri adalah 38 minggu,
karena dihitung dari tanggal konsepsi (tanggal bersatunya sperma dengan telur), yang terjadi
dua minggu setelahnya.
Periode gestasi dibagi menjadi tiga periode penting yaitu :
1 Periode Perkembangan Zigot dan Blastokista
Fertilisasi terjadi di tuba falopii dan harus terjadi dalam beberapa menit atau tidak
lebih dari beberapa jam setelah ovulasi. Sehingga, sperma harus ada di tuba falopii pada
saat ovulasi. Biasanya kehamilan dapat terjadi saat 2 hari sebelum ovulasi atau pada hari
ovulasi (Cunningham et al, 2014).
Setelah terjadi fertilisasi di tuba falopii, ovum yang matang menjadi zigot yaitu
sebuah sel diploid dengan 46 kromosom, yang kemudian akan mengalami segmentasi
atau pembelahan (cleavage), menjadi blastomer. Saat zigot membelah menjadi dua sel,
blastomer dan polar body selanjutnya mengelilingi zona pelusida. Zigot mengalami
pembelahan secara lambat selama 3 hari saat masih di tuba falopii. Blastomer terus
membelah sampai membentuk bola sel padat yang disebut morula. Morula akan
memasuki cavum uteri 3 hari setelah pembuahan. Akumulasi cairan diantara blastomer
di dalam morula menyebabkan terbentuknya blastokista (Cunningham et al, 2014).
Empat sampai lima hari setelah fertilisasi, blastokista 58 sel berdiferensiasi menjadi
massa sel dalam dan 53 sel menjadi trophoblast. Pada blastokista 58 sel dan sel luar
disebut dengan trophectoderm yang dapat dibedakan dari massa sel dalam yang
membentuk embrio. Enam sampai tujuh hari setelah fertilisasi, embrio akan menempel
pada dinding uterus (Cunningham et al, 2014).

Gambar 1. Proses pembelahan zigot dan pembentukan blastokista


Periode Embrionik
Periode embrionik dimulai sejak awal minggu ketiga setelah ovulasi atau fertilisasi,
yang bersamaan dengan perkiraan waktu menstruasi berikutnya yang seharusnya
dimulai. Pada periode embrionik di akhir minggu ke delapan, lempeng embrionik sudah
terbentuk sempurna dan sebagian besar tes kehamilan yang mengukur human chorionic
gonadotropin

sudah

memberikan

hasil

positif.

Tangkai

tubuh

(body stalk)

berdiferensiasi dan kantung korion berdiameter sekitar 1 cm. terdapat ruang antara vili
sejati yang mengandung darah ibu dan vili yang berisi mesoderm korion angioblastik
(Cunningham et al, 2014).

Gambar 2. Perkembangan Embrio Manusia


3

Periode Janin
Pergantian dari periode embrionik ke periode janin terjadi pada 8 minggu setelah
fertilisasi atau 10 minggu setelah hari pertama menstruasi terakhir.
a Minggu ke 12 kehamilan

Pada akhir minggu ke 12 kehamilan, saat uterus mulai teraba diatas simphisis
pubis, maka panjang ubun ubun bokong (crown-rump length) janin adalah 6-7 cm.
pusat-pusat osifikasi telah tampak pada sebagian besar tulang janin. Jari tangan dan
kaki mulai berdiferensiasi. Kulit dan kuku telah tumbuh. Disana-sini mulai muncul
bakal rambut, genitalia eksterna telah mulai tanda-tanda definitive jenis kelamin pria
atau wanita. Janin mulai melakukan gerakan spontan (Cunningham et al, 2014).
b Minggu ke 16 kehamilan
Pada akhir minggu ke 16, panjang ubun-ubun bokong telah mencapai 12 cm
dan beratnya 110 gr. Jenis kelamin telah dapat ditentukan dengan tepat oleh
pemeriksaan yang berpengalaman melalui inspeksi genitalia eksterna pada mingu ke
c

14 (Cunningham et al, 2014).


Minggu ke 20 kehamilan
Pada akhir minggu ke 20 merupakan titik awal pertengahan kehamilan sesuai
perkiraan dari hari pertama menstruasi terakhir. Berat janin sekarang kurang lebih
300 gram dan berat mulai meningkat secara linier. Kulit janin mulai kurang
transparan, lanugo halus menutupi seluruh tubuhnya dan mulai tumbuh beberapa

rambut kepala (Cunningham et al, 2014).


d Minggu ke 24 kehamilan
Pada akhir minggu ke 24, janin memiliki berat sekitar 630 gram. Kulit
memperlihatkan keriput yang khas dan mulai terjadi penimbunan lemak. Kepala
masih relative cukup besar, bulu mata dan alis biasanya sudah dapat dikenali.
Periode kanalikular perkembangan paru , yaitu saat bronkus dan bronkiolus
membesar, dan duktus alveolaris terbentuk. Janin yang lahir pada periode ini akan
berusaha bernapas tetapi sebagian besar akan meninggal karenga sakus terminalis
e

(tempat pertukaran gas) belum terbentuk (Cunningham et al, 2014).


Minggu ke 28 kehamilan
Pada akhir minggu ke 28 panjang ubun-ubun bokong adalah sekitar 25 cm dan
berat janin sekitar 1100 gram. Kulit tipis, merah, dan ditutupi oleh verniks kaseosa.
Membrane pupil baru lenyap dari mata. Bayi yang lahir pada waktu ini, dapat
menggerakan ekstrimitasnya dengan cukup energik dan menangis lemah. Bayi
normal yang lahir pada usia ini memiliki kemungkinan 90 persen untuk bertahan

hidup (Cunningham et al, 2014).


Minggu ke 32 dan 36 kehamilan

Pada minggu ke 32 panjang ubun-ubun bokong adalah sekitar 28 cm dan berat


janin sekitar 1800 gram. Permukaan kulit masih berwarna merah dan keriput.
Sedangkan pada minggu ke 36 panjang ubun-ubun kepala sekitar 32 cm dan
beratnya kurang lebih 2500 gram. Lemak subkutan mulai mengendap, sehingga
tubuh menjadi lebih bulat, permukaan kulit yang keriput telah menghilang
(Cunningham et al, 2014).
g Minggu ke 40 kehamilan
Janin telah berkembang sempurna. Bayi telah aterm. Panjang ubun-ubun
bokong sekitar 36 cm dan beratnya sekitar 3400 gram (Cunningham et al, 2014).
B PENGERTIAN ABORTUS
Definisi abortus menurut National Center for Health Statistics, the Centers for
Disease Control and Prevention, dan World Health Organization adalah terminasi kehamilan
sebelum usia kehamilan 20 minggu atau dengan berat janin kurang dari 500 gram. Kriteria
ini, bagaimanapun, sesuatu yang kontradiksi karena rata-rata berat janin

pada usia

kehamilan 20 minggu yaitu seberat 320 gram, dimana berat janin 500 gram adalah rata-rata
berat janin pada usia kehamilan 22 sampai 23 minggu (Cunningham et al, 2014).
Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum janin dapat hidup di dunia luar, tanpa
mempersoalkan penyebabnya. Bayi baru mungkin hidup di dunia luar bila berat badannya
telah mencapai lebih daripada 500 gram atau umur kehamilan lebih daripada 20 minggu.
Abortus spontan merujuk kepada keguguran pada kehamilan kurang dari 20 minggu tanpa
adanya tindakan medis atau tindakan bedah untuk mengakhiri. Penyebabnya dapat oleh
karena penyakit yang diderita oleh ibu ataupun sebab-sebab lain yang pada umumnya
berhubungan dengan kelainan pada sistem reproduksi (Sastrawinata et al., 2005)
Abortus dapat dibagi atas dua golongan yaitu abortus spontan dan abortus
provokatus. Abortus spontan adalah abortus yang terjadi tanpa tindakan mekanis dan
disebabkan oleh faktor-faktor alamiah. Abortus provokatus adalah abortus yang terjadi
akibat tindakan atau disengaja, baik dengan memakai obat-obatan maupun alat-alat
(Sastrawinata et al., 2005).
C KLASIFIKASI ABORTUS
Kriteria abortus yang telah dipakai di dunia klinis selama beberapa decade terakhir
adalah seperti berikut (Cunningham et al, 2014).:

1. Abortus spontan adalah keluarnya hasil konsepsi tanpa intervensi medis maupun
mekanis, yang termasuk abortus spontan adalah abortus iminens (threatened abortion),
abortus insipiens (inevitable abortion), abortus inkomplets (incomplete abortion),
abortus kompletus (complete abortion), abortus tertunda (missed abortion) . Abortus
sepsis (septic abortion) diklasifikasikan dalam abortus yang memiliki komplikasi
infeksi yang akan terjadi selanjutnya
2. Abortus habitualis (Reccurent Abortion) adalah abortus yang terjadi secara berulang.
3. Abortus provokatus (Induced Abortion) adalah penghentian atau pengeluaran hasil
kehamilan dari rahim sebelum waktunya. Dengan kata lain pengeluaran itu
dimaksudkan bahwa keluarnya janin disengaja dengan campur tangan manusia, baik
melalui cara mekanik atau obat.
Klasifikasi abortus menurut Sastrawinata dan kawan-kawan (2005) adalah
seperti berikut :
1 Abortus spontan adalah keluarnya hasil konsepsi tanpa intervensi medis maupun
mekanis.
2 Abortus buatan, Abortus provocatus (disengaja, digugurkan), yaitu:
a Abortus buatan menurut kaidah ilmu (Abortus provocatus artificialis atau abortus
therapeuticus). Indikasi abortus untuk kepentingan ibu, misalnya : penyakit jantung,
hipertensi esential, dan karsinoma serviks. Keputusan ini ditentukan oleh tim ahli
b

yang terdiri dari dokter ahli kebidanan, penyakit dalam dan psikiatri, atau psikolog.
Abortus buatan kriminal (Abortus provocatus criminalis) adalah pengguguran
kehamilan tanpa alasan medis yang sah atau oleh orang yang tidak berwenang dan
dilarang oleh hukum.

D ABORTUS SPONTAN
1. Etiologi Abortus
Secara umum, terdapat tiga faktor yang boleh menyebabkan abortus spontan yaitu
faktor fetus, faktor ibu sebagai penyebab abortus dan faktor paternal. Lebih dari 80
persen abortus terjadi pada 12 minggu pertama kehamilan, dan kira-kira setengah dari
kasus abortus ini diakibatkan oleh anomali kromosom. Setelah melewati trimester
pertama tingkat aborsi dan peluang terjadinya anomali kromosom berkurang
(Cunningham et al., 2014).
a Faktor Fetus

Berdasarkan hasil studi sitogenetika yang dilakukan di seluruh dunia, sekitar


50 hingga 60 persen dari abortus spontan yang terjadi pada trimester pertama
mempunyai kelainan kariotipe. Kelainan pada kromosom ini adalah seperti
autosomal trisomy, monosomy X dan polyploidy .Abnormalitas kromosom adalah
hal yang utama pada embrio dan janin yang mengalami abortus spontan, serta
merupakan sebagian besar dari kegagalan kehamilan dini. Kelainan dalam jumlah
kromosom lebih sering dijumpai daripada kelainan struktur kromosom. Abnormalitas
kromosom secara struktural dapat diturunkan oleh salah satu dari kedua orang tuanya
yang menjadi pembawa abnormalitas tersebut (Cunningham et al., 2014).

Gambar 3. Kelainan Kromosom pada Abortus Trimester Pertama


Faktor Ibu
Ibu hamil yang mempunyai riwayat keguguran memiliki risiko yang tinggi
untuk terjadi keguguran pada kehamilan seterusnya terutama pada ibu yang berusia
lebih tua. Pada wanita hamil yan mempunyai riwayat keguguran tiga kali berturutturut, risiko untuk terjadinya abortus pada kehamilan seterusnya adalah sebesar 50
persen (Berek, 2011).
Berbagai penyakit infeksi, penyakit kronis, kelainan endokrin, kekurangan
nutrisi, alkohol, tembakau, deformitas uterus ataupun serviks, kesamaan dan
ketidaksamaan immunologik kedua orang tua dan trauma emosional maupun fisik
dapat menyebabkan abortus, meskipun bukti korelasi tersebut tidak selalu
meyakinkan. Isolasi Mycoplasma hominis dan Ureaplasma urelyticum dari traktus

genitalis beberapa wanita yang mengalami abortus, mengarahkan pada hipotesis


bahwa infeksi mycoplasma yang mengenai traktus genitalis, merupakan abortifasient.
Pada kehamilan lanjut, persalinan prematur dapat ditimbulkan oleh penyakit sistemik
yang berat pada ibu. Hipertensi jarang menyebabkan abortus, tetapi dapat
mengakibatkan kematian janin dan persalinan prematur (Cunningham, et al 2014).
Abortus sering disebabkan, mungkin tanpa alasan yang adekuat, kekurangan
sekresi progesteron yang pertama oleh korpus luteum dan kemudian oleh trofoblast.
Karena progesteron mempertahankan desidua, defisiensi relatif secara teoritis
mengganggu nutrisi konseptus dan dengan demikian mengakibatkan kematian. Pada
saat ini, tampak bahwa hanya malnutrisi umum yang berat merupakan predisposisi
meningkatnya kemungkinan abortus. Wanita yang merokok diketahui lebih sering
mengalami abortus spontan daripada wanita yang tidak merokok. Alkohol dinyatakan
meningkatkan resiko abortus spontan, meskipun hanya digunakan dalam jumlah
c

sedang (Sastrawinata et al., 2005).


Faktor Paternal
Translokasi kromosom dalam sperma dapat menyebabkan zigote mempunyai
terlalu sedikit atau terlalu banyak bahan kromosom, sehingga mengakibatkan abortus
(Cunningham et al., 2014).

2. Patofisiologi Abortus
Menurut Sastrawinata dan kawan-kawan (2005), kebanyakan abortus spontan terjadi
segera setelah kematian janin yang kemudian diikuti dengan perdarahan ke dalam desidua
basalis, lalu terjadi perubahan-perubahan nekrotik pada daerah implantasi, infiltrasi selsel peradangan akut, dan akhirnya perdarahan per vaginam. Buah kehamilan terlepas
seluruhnya atau sebagian yang diinterpretasikan sebagai benda asing dalam rongga rahim.
Hal ini menyebabkan kontraksi uterus dimulai, dan segera setelah itu terjadi pendorongan
benda asing itu keluar rongga rahim (ekspulsi). Perlu ditekankan bahwa pada abortus
spontan, kematian embrio biasanya terjadi paling lama dua minggu sebelum perdarahan.
Oleh karena itu, pengobatan untuk mempertahankan janin tidak layak dilakukan jika telah
terjadi perdarahan banyak karena abortus tidak dapat dihindari. Sebelum minggu ke-10,
hasil konsepsi biasanya dikeluarkan dengan lengkap. Hal ini disebabkan sebelum minggu
ke-10 vili korialis belum menanamkan diri dengan erat ke dalam desidua hingga telur

mudah terlepas keseluruhannya. Antara minggu ke-10 hingga minggu ke-12 korion
tumbuh dengan cepat dan hubungan vili korialis dengan desidua makin erat hingga mulai
saat tersebut sering sisa-sisa korion (plasenta) tertinggal kalau terjadi abortus.
a
b
c

Pengeluaran hasil konsepsi didasarkan 4 cara:


Keluarnya kantong korion pada kehamilan yang sangat dini, meninggalkan sisa desidua.
Kantong amnion dan isinya (fetus) didorong keluar, meninggalkan korion dan desidua.
Pecahnya amnion terjadi dengan putusnya tali pusat dan pendorongan janin ke luar, tetapi

mempertahankan sisa amnion dan korion (hanya janin yang dikeluarkan).


Seluruh janin dan desidua yang melekat didorong keluar secara utuh. Kuretasi diperlukan
untuk membersihkan uterus dan mencegah perdarahan atau infeksi lebih lanjut.

3. Gambaran Klinis Abortus


Aspek klinis abortus spontan dibagi menjadi abortus iminens (threatened abortion)
abortus insipiens (inevitable abortion), abortus inkompletus (incomplete abortion) atau
abortus kompletus (complete abortion), abortus tertunda (missed abortion), abortus
habitualis (recurrent abortion), dan abortus septik (septic abortion) (Cunningham et al.,
2014)
1. Abortus Iminens (Threatened abortion)
Vagina bercak atau perdarahan yang lebih berat umumnya terjadi selama
kehamilan awal dan dapat berlangsung selama beberapa hari atau minggu serta dapa
mempengaruhi satu dari empat atau lima wanita hamil. Secara keseluruhan, sekitar
setengah dari kehamilan ini akan berakhir dengan abortus (Cunningham et al., 2014).
Abortus iminens didiagnosa bila seseorang wanita hamil kurang daripada 20 minggu
mengeluarkan darah sedikit pada vagina. Perdarahan dapat berlanjut beberapa hari
atau dapat berulang, dapat pula disertai sedikit nyeri perut bawah atau nyeri
punggung bawah seperti saat menstruasi. Polip serviks, ulserasi vagina, karsinoma
serviks, kehamilan ektopik, dan kelainan trofoblast harus dibedakan dari abortus
iminens karena dapat memberikan perdarahan pada vagina. Pemeriksaan spekulum
dapat membedakan polip, ulserasi vagina atau karsinoma serviks, sedangkan
kelainan lain membutuhkan pemeriksaan ultrasonografi (Sastrawinata et al., 2005).
2. Abortus Insipiens (Inevitable abortion)
Abortus insipiens didiagnosis apabila pada wanita hamil ditemukan perdarahan
banyak, kadang-kadang keluar gumpalan darah yang disertai nyeri karena kontraksi
rahim kuat dan ditemukan adanya dilatasi serviks sehingga jari pemeriksa dapat
masuk dan ketuban dapat teraba. Kadang-kadang perdarahan dapat menyebabkan

kematian bagi ibu dan jaringan yang tertinggal dapat menyebabkan infeksi sehingga
evakuasi harus segera dilakukan. Janin biasanya sudah mati dan mempertahankan
kehamilan pada keadaan ini merupakan kontraindikasi (Sastrawinata et al., 2005)
3. Abortus Inkompletus (Incomplete Abortion)
Abortus inkompletus didiagnosis apabila sebagian dari hasil konsepsi telah
lahir atau teraba pada vagina, tetapi sebagian tertinggal (biasanya jaringan plasenta).
Perdarahan biasanya terus berlangsung, banyak, dan membahayakan ibu. Sering
serviks tetap terbuka karena masih ada benda di dalam rahim yang dianggap sebagai
benda

asing

(corpus

alienum).

Oleh

karena

itu,

uterus

akan

berusaha

mengeluarkannya dengan mengadakan kontraksi sehingga ibu merasakan nyeri,


namun tidak sehebat pada abortus insipiens (Cunningham, et al 2014)
4. Abortus Kompletus (Complete Abortion)
Jika hasil konsepsi lahir dengan lengkap, maka disebut abortus komplet. Pada
keadaan ini kuretasi tidak perlu dilakukan. Pada abortus kompletus, perdarahan
segera berkurang setelah isi rahim dikeluarkan dan selambat-lambatnya dalam 10
hari perdarahan berhenti sama sekali karena dalam masa ini luka rahim telah sembuh
dan epitelisasi telah selesai. Serviks juga dengan segera menutup kembali. Kalau 10
hari setelah abortus masih ada perdarahan juga, abortus inkompletus atau
endometritis pasca abortus harus dipikirkan (Sastrawinata et al., 2005).
Pada abortus kompletus, lapisan terakhir endometrium yang mengelupas dapat
terlihat sebagai kantong yang kempis. Apabila kantong

kehamilan tidak bias

diidentifikasi USG untuk menyingkirkan diagnosis banding seperti abortus iminenes,


kehamilan ektopik, kita dapat melihat dari pemeriksaan serum -hCG yang menurun
sangat cepat (Connoly, 2013)
5. Abortus Tertunda (Missed abortion)
Abortus tertunda adalah keadaan dimana janin sudah mati, tetapi tetap berada
dalam rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih. Pada abortus tertunda
akan dijimpai amenorea, yaitu perdarahan sedikit-sedikit yang berulang pada
permulaannya, serta selama observasi fundus tidak bertambah tinggi, malahan
tambah rendah. Pada pemeriksaan dalam, serviks tertutup dan ada darah sedikit
(Cunningham et al., 2014)
6. Abortus Habitualis (Recurrent abortion)

Anomali kromosom parental, gangguan trombofilik pada ibu hamil, dan


kelainan struktural uterus merupakan penyebab langsung pada abortus habitualis.
Abortus habitualis merupakan abortus yang terjadi tiga kali berturut-turut atau lebih.
Etiologi abortus ini adalah kelainan dari ovum atau spermatozoa, dimana sekiranya
terjadi pembuahan, hasilnya adalah patologis. Selain itu, disfungsi tiroid, kesalahan
korpus luteum dan kesalahan plasenta yaitu tidak sanggupnya plasenta menghasilkan
progesterone sesudah korpu luteum atrofis juga merupakan etiologi dari abortus
habitualis (Silver, 2011).
7. Abortus Septik (Septic abortion)
Abortus septik adalah keguguran disertai infeksi berat dengan penyebaran
kuman atau toksinnya ke dalam peredaran darah atau peritoneum. Hal ini sering
ditemukan pada abortus inkompletus atau abortus buatan, terutama yang kriminalis
tanpa memperhatikan syarat-syarat asepsis dan antisepsis. Antara bakteri yang dapat
menyebabkan abortus septik adalah seperti Escherichia coli, Enterobacter aerogenes
Proteus vulgaris, Hemolytic streptococci dan Staphylococci (Daif, 2009)
Diagnosa Abortus
Menurut WHO setiap wanita pada usia reproduktif yang mengalami dua daripada
tiga gejala seperti di bawah harus dipikirkan kemungkinan terjadinya abortus:
a Perdarahan pada vagina.
b Nyeri pada abdomen bawah.
c Riwayat amenorea.
Ultrasonografi penting dalam mengidentifikasi status kehamilan dan memastikan
bahwa suatu kehamilan adalah intrauterin. Apabila ultrasonografi transvagina
menunjukkan sebuah rahim kosong dan tingkat serum hCG kuantitatif lebih besar dari
1.800 mIU per mL (1.800 IU per L), kehamilan ektopik harus dipikirkan. Ketika
ultrasonografi transabdominal dilakukan, sebuah rahim kosong harus menimbulkan
kecurigaan kehamilan ektopik jika kadar hCG kuantitatif lebih besar dari 3.500 mIU per
mL (3.500 IU per L). Rahim yang ditemukan kosong pada pemeriksaan USG dapat
mengindikasikan suatu abortus kompletus, tetapi diagnosis tidak definitif sehingga
kehamilan ektopik disingkirkan (Sastrawinata, 2005).
Diagnosa abortus menurut gambaran klinis adalah seperti berikut:
a Abortus Iminens (Threatened abortion)

Anamnesis perdarahan sedikit dari jalan lahir dan nyeri perut tidak ada atau

ringan.
Pemeriksaan dalam fluksus ada (sedikit), ostium uteri tertutup, dan besar uterus

sesuai dengan umur kehamilan.


3 Pemeriksaan penunjang hasil USG.
b Abortus Insipiens (Inevitable abortion)
1 Anamnesis perdarahan dari jalan lahir disertai nyeri / kontraksi rahim.
2 Pemeriksaan dalam ostium terbuka, buah kehamilan masih dalam
3 rahim, dan ketuban utuh (mungkin menonjol).
c Abortus Inkompletus atau abortus kompletus
1 Anamnesis perdarahan dari jalan lahir (biasanya banyak), nyeri atau kontraksi
rahim ada, dan bila perdarahan banyak dapat terjadi syok.
2 Pemeriksaan dalam ostium uteri terbuka, teraba sisa jaringan buah kehamilan.
d Abortus Tertunda (Missed abortion)
1 Anamnesis - perdarahan bisa ada atau tidak.
2 Pemeriksaan obstetri fundus uteri lebih kecil dari umur kehamilan dan bunyi
3

jantung janin tidak ada.


Pemeriksaan penunjang USG, laboratorium (Hb, trombosit, fibrinogen, waktu
perdarahan, waktu pembekuan dan waktu protrombin)

Diagnosa abortus habitualis (recurrent abortion) dan abortus septik (septic abortion)
adalah seperti berikut:
a

Abortus Habitualis (Recurrent abortion)


1 Histerosalfingografi untuk mengetahui ada tidaknya mioma uterus submukosa
2

dan anomali kongenital.


BMR dan kadar yodium darah diukur untuk mengetahui apakah ada atau tidak

gangguan glandula thyroidea.


Abortus Septik (Septic abortion)
1 Adanya abortus : amenore, perdarahan, keluar jaringan yang telah ditolong di luar
2

rumah sakit.
Pemeriksaan : kanalis servikalis terbuka, teraba jaringan, perdarahan dan

sebagainya.
Tanda-tanda infeksi alat genital : demam, nadi cepat, perdarahan, nyeri tekan dan

leukositosis.
Pada abortus septik : kelihatan sakit berat, panas tinggi, menggigil, nadi kecil dan
cepat, tekanan darah turun sampai syok.

4. Penatalaksanaan Abortus
Pada abortus insipiens dan abortus inkompletus, bila ada tanda-tanda syok maka
diatasi dulu dengan pemberian cairan dan transfuse darah. Kemudian, jaringan
dikeluarkan secepat mungkin dengan metode digital dan kuretase. Setelah itu, beri obatobat uterotonika dan antibiotika. Pada keadaan abortus kompletus dimana seluruh hasil
konsepsi dikeluarkan (desidua dan fetus), sehingga rongga rahim kosong, terapi yang
diberikan hanya uterotonika. Untuk abortus tertunda, obat diberi dengan maksud agar
terjadi his sehingga fetus dan desidua dapat dikeluarkan, kalau tidak berhasil, dilatasi dan
kuretase dilakukan. Histerotomia anterior juga dapat dilakukan dan pada penderita,
diberikan tonika dan antibiotika. Pengobatan pada kelainan endometrium pada abortus
habitualis lebih besar hasilnya jika dilakukan sebelum ada konsepsi daripada sesudahnya.
Merokok dan minum alkohol sebaiknya dikurangi atau dihentikan. Pada serviks
inkompeten, terapinya adalah operatif yaitu operasi Shirodkar atau McDonald
(Sastrawinata., 2015)
E ABORTUS PROVOKATUS
1 Definisi
Abortus provokatus yang dikenal di Indonesia dengan istilah aborsi berasal dari bahasa
latin yang berarti pengguguran kandungan karena kesengajaan. Abortus provocatus
merupakan salah satu dari berbagai macam jenis abortus (Nainggolan, 2006). Menurut
Nainggolan (2006) dalam Kusmariyanto (2002), pengertian aborsi atau abortus
provokatus adalah penghentian atau pengeluaran hasil kehamilan dari rahim sebelum
waktunya. Dengan kata lain pengeluaran itu dimaksudkan bahwa keluarnya janin
2

disengaja dengan campur tangan manusia, baik melalui cara mekanik atau obat.
Indikasi
Abortus elektif atau sukarela adalah pengakhiran kehamilan sebelum janin mampu hidup
atas dasar permintaan wanita, dan tidak karena kesehatan ibu yang terganggu atau
penyakit pada janin. Abortus terapeutik adalah pengakhiran kehamilan sebelum saatnya
janin mampu hidup dengan maksud melindungi kesehatan ibu. Antara indikasi untuk
melakukan abortus therapeutik adalah apabila kelangsungan kehamilan dapat
membahayakan nyawa wanita tersebut seperti pada penyakit vaskular hipertensif tahap
lanjut dan invasive karsinoma pada serviks. Selain itu, abortus terapeutik juga boleh
dilakukan pada kehamilan akibat perkosaan atau akibat hubungan saudara (incest) dan

sebagai pencegahan untuk kelahiran fetus dengan deformitas fisik yang berat atau
retardasi mental (Cunningham et al., 2005). Kontraindikasi untuk melakukan abortus
terapeutik adalah seperti kehamilan ektopik, insufiensi adrenal, anemia, gangguan
3

pembekuan darah dan penyakit kardiovaskular (Trupin, 2002).


Teknik abortus provokatus
Teknik yang bisa digunakan baik pada trimester pertama maupun trimester kedua
adalah dengan teknik pembedahan maupun dengan menggunakan obat-obatan. Teknik
pembedahan yang biasa dilakukan antara lain (Cunningham et al, 2014):

Surgica
l

Medical

Trimester pertama
Dilatasi dan kuretase
Aspirasi menstruasi
Aspirasi vakum manual

Prostaglandin E2, F2, E1, dan

analognya, cara pemberian :


o Intravagina
o Injeksi parenteral
o Oral

o Sublingual
Antiprogesteron
Methotrexate
Variasi kombinasi diatas

Trimester kedua
Dilatasi dan kuretase
Dilatasi dan evakuasi
Dilatasi dan ekstraksi
Histerektomi
Histerotomi
Oxytocin intravena
Intraamnionic hyperosmotic fluid
o 20% saline
o 30% urea
Prostaglandin E2, F2, E1
o Injeksi intraamnion
o Injeksi ekstraovular
o Intravagina
o Injeksi parenteral
o Oral

Seluruh prosedur diatas didahului dengan pretreatment menggunakan hygroscopic


cervical dilators. Hal ini bertujuan untuk melebarkan servix secara perlahan-lahan dan
lembut sehingga dapat mengurangi trauma dari dilatasi mekanik (Newman, 2014).
dilator hygroscopic dan obat-obatan yang digunakan untuk mematangkan serviks sering
digunakan pada prosedur di trimester pertama. Dilator higroskopik adalah alat yang
akan menarik air dari jaringan serviks dan juga digunakan untuk pematangan serviks pra
induksi. Salah satu jenisnya didapat dari jenis Laminaria alga yang didapatkan dari
dasar samudra. Jenis lainnya adalah Dilapan-S yang terbuat dari akrilik gel
(Cunningham et al, 2014).
Serviks yang telah dibersihkan difiksasi dengan tenakulum di bagian depan.kanalis
servikalis secara hati-hati disonde tanpa memecahkan selaput ketuban untuk mengetahui

panjangnya. Laminaria yang ukurannya sesuai dimasukan sampai ujungnya berada di


ostium internum dengan menggunakan forceps tampon uterus. Setelah 4-6 jam,
laminaria akan membengkak sehingga terjadi dilatasi serviks sehingga dapat dilakukan
dilatasi mekanik dan kuretase (Cunningham et al, 2014).

Gambar 4. Pemasangan laminaria sebelum dilakukan dilatasi kuretase.


Selain menggunakan alat, obat-obatan juga dapat digunakan untuk persiapan serviks.
Obat-obatan yang paling sering digunakan adalah misoprostol (cytotec) (Tang,2013).
Dosis yang digunakan adalah 400-600 g yang dapat diberikan secara oral, sublingual,
atau dimasukan ke dalam fornix posterior. Obat lain yang dapat digunakan adalah
progesterone antagonis mifepristone (Mifeprex). Dosisnya 200-600 g yang diberikan
peroral. Pilihan lainnya adalah prostaglandin E2 dan F2 yang memiliki efek yang tidak
diharapkan sehingga biasanya menjadi pilihan kedua.
a Surgical Abortion
1 Dilatasi dan kuretase
Pendekatan transcervical untuk surgical

abortion

adalah

dengan

mendilatasikan serviks kemudian mengevakuasi kehamilan baik dengan


menggores isi uterus (kuretase tajam), menyedot isi uterus (suction kuretase),
atau keduanya. Kedua teknik kuretase ini direkomendasikan pada usia kehamilan
15 minggu. Komplikasi yang mungkin terjadi meningkat jika dilakukan setelah
trimester pertama (Cunningham et al, 2014).

Gambar 5. Suction kuretase

Gambar 6. Sharp kuretase

Dilatasi dan evakuasi


Dimulai saat umur kehamilan 16 minggu. Dilatasi servikal mekanik yang
luas, dapat dilakukan dengan metal atau hygroscopic dilators, dihancurkan secara
mekanik, dan mengevakuasi bagian-bagian fetus. Untuk melengkapi evakuasi
fetus, dilanjutkan dengan kuretase menggunakan large-bore vacuum untuk

membersihkan plasenta dan jaringan sisanya (Cunningham et al, 2014).


Dilatasi dan ekstraksi
Cara ini mirip dengan dilatasi dan evakuasi. Bedanya, pada teknik ini kanul
suction digunakan untuk mengevakuasi isi intracranial setelah melahirkan tubuh
janin melalui serviks yang telah dilebarkan. Ekstraksi ini dapat mengurangi
cedera uterus atau serviks dari alat atau tulang fetus. Prosedur ini biasa disebut

partial birth abortion (Cunningham et al, 2014).


Menstrual aspiration
Cara ini dilakukan satu sampai tiga minggu setelah pasien terlambat haid
dan dengan hasil tes kehamilan yang positif. Cara ini menggunakan kanul
Karman yang fleksibel 5 atau 6 mm yang ditambahkan dengan semprotan.
Prosedur ini digunakan sebagai ekstraksi haid, induksi haid, haid instan, abortus

traumatic dan mini-abortus (Cunningham et al, 2014).


Manual vacuum aspiration
Cara ini mirip dengan menstrual aspiration tetapi digunakan untuk
kegagalan di awal kehamilan atau terminasi kehamilan sampai umur kehamilan
12 minggu (Cunningham et al, 2014).

Histerotomi atau histerektomi


Pada perempuan dengan kehamilan trimester kedua yang menginginkan
sterilisasi, dapat dipilih histerotomi dengan ligase tuba. Pada pasien dengan
penyakit uterus dapat dipilih histerektomi sebagai terapi yang idel. Pada beberapa
kasus dengan kegagalan induksi dengan obat-obatan pada trimester kedua, kedua

cara ini dapat dipertimbangkan (Cunningham et al, 2014).


Medical Abortion
Saat ini hanya ada 3 obat yang digunakan untuk awal aborsi medis yang
dipelajari secara luas. Obat-obatan ini digunakan baik sendiri maupun kombinasi.
Obat-obatan tersebut antara lain :
1 Antiprogestin mifepristone
2 Antimetabolite methotrexate
3 Prostaglandin misoprostol

Mifepristone dan methotrexate meningkatkan kontraksi uterus dengan


membalikan inhibisi induksi progesterone, mengingat misoprostol secara langsung
menstimulasi myometrium.

Gambar 8. Regimen untuk terminasi kehamilan trimester pertama


Kontraindikasi abortus medisinalis adalah IUD in situ, anemia berat,
koagulopati, atau penggunaan antikoagulan, serta pasien dengan penyakit hepar yang
aktif, penyakit kardiovaskular, atau gangguan kejang yang tidak terkontrol.
Misoprostol dapat mengurangi aktivitas glukokortikoid, sehingga perempuan dengan
penyakit yang membutuhkan terapi glukokortikoid biasanya dieksklusikan
(American College of Obstetricians and Gynecologist, 2009). Perempuan dengan
insufisiensi renal, dosis methotrexate harus dimodifikasi dan harus diberikan secara
hati-hati, atau lebih baik dipilih regimen lain (Kelly, 2006).
Dengan regimen mifepristone atau misoprostol, pemberian mifepristone diikuti
pemberian misoprostol dalam waktu bersamaan atau sampe 72 jam setelahnya.
Gejala yang muncul biasanya nyeri abdomen, muntah, diare, demam, dan menggigil.
Pada beberapa jam setelah pemberian misoprostol, dilakukan pemeriksaan dalam.jika
kehamilan masih utuh, pemberian diulang satu sampai dua minggu kemudian.
Beberapa memilih untuk mengulang dengan menggunakan dosis prostaglandin
(Dickison, 2014). Sebaliknya, jika terjadi abortus incomplete pada evaluasi dengan
USG, dapat dilanjutkan dengan suction kuretase. Komplikasiyang mungkin terjadi
adalah perdarahan dan infeksi.

Dengan regimen methotrexate, misoprostol diberikan 2-7 hari kemudian, dan


akan dilihat lagi minimal 24 jam setelah pemberian misoprostol. 7 hari setelah
pemberian methotrexate dilakukan pemeriksaanUSG. Jika, kehamilan masih utuk,
dosis misoprostol yang lain diberikan. Dievaluasi setelah 7 hari, jika masih utuh
dilanjutkan dengan suction kuretase (Cunningham et al, 2014).

Gambar 9. Regimen untuk trimester kedua (Ramsey, 2000)


Prinsip metode noninvasive adalah pemberian oksitosin dosis tinggi melalui
intravena. Selain itu, dapat menggunakan analog prostaglandin yang dapat diberikan
secara oral, pervaginam, maupun parenteral (Cunningham et al, 2014).
Oksitosin yang diberikan dengan dosis tinggi akan menyebabkan abortus pada
trimester kedua sebanyak 80-90 persen kasus. Oksitosin diberikn dalam larutan
isotonic (Cunningham et al, 2014).
Prostaglandin E2 20 mg yang diberikan melalui fornix posterior vagina efektif
untuk induksi aborsi di trimester kedua. Obat ini tidak lebih efektif dari oksitosin
dosis tinggi karena lebih sering muncul efek samping seperti mual, muntah, demam
dan diare. Pemberian obat ini disertai antiemetic seperti metoclorpamid, antipiretik
seperti acetaminophen, dan antidiare seperti diphenoxylate atau atropine dapat
mengurangi gejala yang muncul (Cunningham et al, 2014).
Pemberian misoprostol (cytotec) sendiri juga efektif untuk terminasi kehamilan
di trimester kedua (Cunningham et al, 2014).
4 Konsekuensi abortus elektif
a Mortalitas ibu
Induksi abortus yang legal oleh ahli ginekologi relative aman terutama jika
dilakukan selama 2 bulan pertama kehamilan. Kematian hanya terjadi kurang dari 1
per 100.000 prosedur (Pazol, 2011).

Dampak pada kehamilan selanjutnya


Data yang berhubungan dengan kesehatan maternal pada kehamilan berikutnya
sangat sedikit. Dari beberapa penelitian, tidak ada dasar untuk terjadinya kelainan
mental yang terlalu banyak. Terdapat beberapa data mengenai kesehatan reproduksi
selanjutnya, meskipun rasio infertilitas atau kehamilan ektopik tidak meningkat.
Kecuali jika terjadi infeksi pasca abortus, terutama yang disebabkan oleh clamydiae.
Prosedur kuretase tajam multiple dapat meningkatkan resiko plasenta previa pada
kehamilan berikutnya (Johnson, 2003).
Hasil kehamilan berikutnya sama antara aborsi dengan menggunakan obatobatan maupun tindakan pembedahan. Angka kejadian kehamilan ektopik,
keguguran, dan persalinan preterm tidak berbeda secara signifikan antara terminasi
dengan obat-obatan maupun pembedahan (Cunningham et al, 2014).

F PEMBAHASAN JURNAL
Penelitiaan yang dilakukan oleh Virk dkk (2007) menunjukkan bahwa medical
abortion, yang dibandingkan dengan surgical abortion, tidak berkorelasi dengan
peningkatan resiko terjadinya kehamilan ektopik, abortus spontan, BBLR, atau kelahiran
prematur pada kehamilan pertama pasca abortus. Hal ini sedikit berbeda dengan
penelitian dari Bouyer dkk pada aspek kehamilan ektopik, dimana penelitian mereka
menunjukkan hubungan signifikan antara medical abortion dan kehamilan ektopik.
Sedangkan pada aspek lain yaitu BBLR dan kelahiran premature, hal ini konsisten
dengan hasil studi kohort di Tiongkok, yang mengevaluasi hasil kehamilan pada wanita
nulipara yang terdiri dari 3 kelompok, yaitu tidak memiliki riwayat abortus terinduksi,
riwayat medical abortion menggunakan mifepristone, dan riwayat surgical abortion. Hasil
penelitian di Tiongkok tersebut menunjukkan riwayat medical abortion sebelumnya tidak
menigkatkan resiko terjadinya BBLR atau kelahiran premature, yang dibandingkan
dengan kelompok yang tidak mempunyai riwayat abortus terinduksi maupun kelompok
dengan riwayat surgical abortion (Virk, 2007).

BAB III
KESIMPULAN
1

Abortus adalah terminasi kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu atau dengan berat

2
3

janin kurang dari 500 gram.


Abortus dapat dibagi atas dua golongan yaitu abortus spontan dan abortus provokatus.
Abortus spontan adalah abortus yang terjadi tanpa tindakan mekanis dan disebabkan oleh
faktor-faktor alamiah. Abortus provokatus adalah abortus yang terjadi akibat tindakan atau

disengaja, baik dengan memakai obat-obatan maupun alat-alat.


Secara umum terdapat tiga factor yang menyebabkan terjadinya abortus spontan yaitu, faktor

fetus, faktor ibu sebagai penyebab abortus dan faktor paternal.


Terdapat beberapa data mengenai dampak abortus provokatus bagi kesehatan reproduksi

selanjutnya, meskipun rasio infertilitas atau kehamilan ektopik tidak meningkat.


Menurut Virk dkk, medical abortion, yang dibandingkan dengan surgical abortion, tidak
berkorelasi dengan peningkatan resiko terjadinya kehamilan ektopik, abortus spontan,

BBLR, atau kelahiran prematur pada kehamilan pertama pasca abortus.


Menurut Bouyer dkk pada aspek kehamilan ektopik, menunjukkan hubungan signifikan

antara medical abortion dan kehamilan ektopik.


Hasil penelitian di Tiongkok menunjukkan riwayat medical abortion sebelumnya tidak
menigkatkan resiko terjadinya BBLR atau kelahiran prematur.

DAFTAR PUSTAKA

American College of Obstetricians and Gynecologists: Misoprostol for postabortion care.


Committee Opinion No. 427, February 2009
Cunningham, G.F et l. 2005. Obstetri William, edisi 22. Jakarta: EGC.
Cunningham, G.F et l. 2014. Obstetri William, edisi 24. Jakarta: EGC.
Connolly A, Ryan DH, Stuebe AM, et al. 2013: Reevaluation of discriminatory and threshold
levels for serum -hCG in early pregnancy. Obstet Gynecol 121(1):65.
Daif JL, Levie M, Chudnoff S, et al. 2009 : Group A streptococcus causing necrotizing fasciitis
and toxic shock syndrome after medical termination of pregnancy. Obstet Gynecol 113(2 Pt
2):504.
Dickinson J, Jennings B, Doherty D. 2014. Comparison of three regimens using mifepristone
and misoprostol for second trimester pregnancy termination. Am J Obstet Gynecol
210:S36.
Johnson LG, Mueller BA, Daling JR. 2003. The Relationship Of Placenta Previa And History Of
Induced Abortion. Int J Gynaecol Obstet 81:191.
Jonathan S. Berek et al. 2011. Berek and Novak's Gynecology. Department of
Obstetrics and Gynecology Stanford University School of Medicine
Stanford, California.

Kelly H, Harvey D, Moll S. 2006. A cautionary tale. Fatal outcome of Methotrexate Therapy
Given for Management of Ectopic Pregnancy. Obstet Gynecol 107:439.
Pazol K, Zane SB, Parker WY, et al: Abortion surveillanceUnited States, 2008. MMWR
60(15):1, 2011
Prawirohardjo, Sarwono.2008. Ilmu Kebidanan. Edisi Ketiga. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Ramsey PS, Owen J. 2000. Midtrimester cervical ripening and labor induction. Clin Obstet
Gynecol 43(3):495.
Sastrawinata, Sulaiman. dkk. 2005. Ilmu Kesehatan Reproduksi: Obstetri Patologi. Edisi Jakarta:
EGC
Silver RM, Branch DW, Goldenberg R, et al. 2011 : Nomenclature for pregnancy outcomes.
Obstet Gynecol 118(6):1402.
Virk, Jasveer. 2007. Medical Abortion and the Risk of Subsequent Adverse Pregnancy Outcomes
N Engl J Med 2007;357:648-53.