Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar belakang
Keluarga berencana (KB) merupakan salah satu pelayanan kesehatan
preventif yang paling dasar dan utama bagi wanita, meskipun tidak selalu
diakui demikian. Peningakatan dan perluasan pelayanan keluarga berencana
merupakan salah satu usaha untuk menurnukan angka kesakitan dan kematian
ibu yang sedemikian tinggi akibat kehamilan yang dialami oleh wanita.
Banyak wanita harus menentukan pilihan keontrasepsi yang sulit, tidak hanya
karena terbatasnnya jumlah metode yang tersedia tetapi juga karena metodemetode tertentu mungkin tidak dapat diterima sehubungan dengan kebijakan
nasional KB, kesehatan individual dan seksualitas wanita atau biaya untuk
memperoleh kontrasepsi (Gunawan, 1998).
Pelayanan keluarga berencana yang merupakan salah satu didalam paket
pelayanan kesehatan reproduksi esensial perlu mendapatkan perhatian yang
serius, karena dengan mutu pelayanan keluarga berencana berkualitas
diharapkan akan dapat meningkatkan tingakat kesehatan dan kesejahteraan.
Dengan

telah

berubahnya

paradigma

dalam

pengelolaan

masalah

kependudukan dan pembangunan dari pendekatan pengendalian populasi dan


penurunan fertilitas menjadi pendekatan yang berfokus pada kesehatan
reproduksi. Maka, pelayanan keluarga berencana harus menjadi lebih
berkualitas serta memperhatikan hak-hak dari klien/masyarakat dalam
memilih metode kontrasepsi yang diinginkan.
Sebenarnya ada cara yang baik dalam pemilihan alat kontrasepsi bag ibu.
Sebelumnya ibu mencari informasi terlebih dahulutentang cara-cara KB
berdasarkan informasi yang lengkap, akurat, dan benar. Untuk itu dalam
memutuskan

suatu

cara

kontrasepsi

sebaiknya

mempertimbangkan

penggunaan kontrasepsi yang rasional, efektif, dan efesien. Pada tahun 1960

angka kematian balita mencapai lebih dari 200 per 1000 orang, dua kali lebih
besar dari angka kematian balita di Filipina atau Thailand. Pada tahun 2005
angka tersebut turun hingga kurang dari 50 per 1000 orang, yang merupakan
salah satu penurunan tertinggi yang terjadi di kawasan ini. Seorang anak yang
lahir pada tahun 1940 hanya memiliki sekitar 60% kesempatan untuk
mengenyam pendidikan, 40% untuk menamatkan sekolah dasar dan 15%
untuk menamatkan pendidikan di sekolah menengah pertama. Sebaliknya,
lebih dari 90% anak-anak yang lahir sejak tahun 1980 berhasil menamatkan
pendidikan sekolah menengah pertama. Sebagian besar kemajuan yang
diperoleh semata-mata berkaitan dengan peningkatan pendapatan. Pendapatan
perkapita berlipat ganda antara tahun 1970 sampai dengan 1980 dan berlipat
ganda lagi pada akhir tahun 1990 (sebelum terjadi krisis ekonomi tahun 1997).
Berbagai jenis alat kontrasepsi diantaranya pil, suntik, susuk, tubektomi,
dan vasektomi . Dalam makalah ini kami akan membahas mengenai salah satu
alat yaitu mengenai KB susuk. Susuk merupakan alat KB yang terdiri dari 6
tube kecil dari plastik dengan panjang masing-masing 3cm. Susuk disebut alat
kontrasepsi bawah kulit, karena dipasang di bawah kulit pada lengan atas, alat
kontrasepsi ini disusupkan di bawah kulit lengan atas sebelah dalam.
Bentuknya semacam tabung-tabung kecil atau pembungkus plastik berongga
dan ukurannya sebesar batang korek api. Hormon yang dikandung dalam
susuk ini adalah progesterone, yakni hormon yang berfungsi menghentikan
suplai hormon estrogen yakni hormon yang mendorong pembentukan lapisan
dinding lemak dan, dengan demikian menyebabkan terjadinya menstruasi.
Alat KB yang ditempatkan di bawah kulit ini efektif mencegah kehamilan
dengan cara mengalirkan secara perlahan-lahan hormon yang dibawanya.
Selanjutnya hormon akan mengalir ke dalam tubuh lewat pembuluh-pembuluh
darah. Susuk KB bekerja efektif selama 5 tahun. Jika dalam waktu tersebut si
pemakai menginginkan kehamilan, maka susuk dapat segera diangkat. Tapi
jika tidak, si pemakai tidak perlu repot-repot lagi menggunakan alat KB lain.
Hanya sesekali ia perlu memeriksakan kesehatan ke dokter atau bidan yang
memasangkan susuk tersebut. Pemakaian susuk dapat diganti setiap 5 tahun, 3

tahun, dan ada juga yang diganti setiap tahun. Penggunaan kontrasepsi ini
biayanya ringan. Pencabutan bisa dilakukan sebelum waktunya jika memang
ingin hamil lagi. Berbentuk kapsul silastik (lentur), panjangnya sedikit lebih
pendek daripada batang korek api. Dibandingkan pil atau suntikan KB,
hormon yang terkandung dalam susuk ini lebih sedikit. Namun demikian, efek
sampingan yang dibawanya tetap ada. Oleh karena itu, sebelumnya pemakai
harus mengkonsultasikan riwayat dan kondisi kesehatannya terlebih dulu
kepada dokter.
1.2

Tujuan
Tujuan dialakukan penelitian dibawah ini adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian KB Implan.
2. Mengetahui jenis KB Implan.
3. Mengetahui Cara pemasangan KB Implan.
4. Mengetahui Cara pencabutan KB Implan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kontrasepsi Implant

1. Pengertian Kontrasepsi Implant


Kontrasepsi adalah suatu upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan
(Sarwono,2002). Implant adalah suatu alat kontrasepsi yang mengandung
levonogestrel yang dibungkus dalam kapsul silasticsilikon (polidemetsilixane)
dan di susukkan dibawah kulit (Sarwono,1999). Implant adalah metode
kontrasepsi yang hanya mengandung progestin dengan masa kerja panjang, dosis
rendah, reversible untuk wanita (Speroff leon , 2005). Kontrasepsi yang popular
dengan nama susuk KB ini berisi lovonorgestrel, terdiri dari 6 kapsul yang
diinsersikan di bawah kulit lengan atas bagian dalam, kira-kira 6-10 cm dari lipat
siku. Levonorgestrel adalah suatu progestin yang telah banyak dipakai dalam pik
KB seperti ovral dan nordette. Setiap kapsul mengandung 38 mg lovonorgestrel.
Setiap hari ke enam kapsul akan melepas 50 mikro gram levonorgestrel. Dan akan
efektif sebagai kontrasepsi untuk 5 tahun (Gunawan, 1999). Sebagian besar
masalah yang berkaitan dengan pencabutan disebabkan oleh pemasangan yang
tidak tepat, oleh karena itu ,hanya petugas klinik yang terlatih (dokter,bidan,dan
perawat) yang diperbolehkan memasang maupun mencabut implan.untuk
mengurangi masalah yang timbul setelah pemasangan,semua tahap proses
pemasangan harus dilakukan secara hati-hati dan lembut,dengan menggunakan
upaya pencegahan infeksiyang dianjurkan (Sarifiddin, 2006).
2. Jenis jenis kontrasepsi
a. Norplant
Terdiri dari 6 batang silastis lembut berongga dengan panjang 3,4 cm dengan
diameter 2,4 mm yang diisi dengan 36 mg levonogestrel dan lama kerjanya 5
tahun.
b. Implanon
Terdiri dari 1 batang putih lentur dengan panjang kira-kira 40 mm, dan diameter 2
mm, yang di isi dengan 68 mg 3- keto- desogestrel dan lama kerjanya 3 tahun.
c. Jadena

Terdiri dari 2 batang yang di isi dengan 75 mg levonogestrel dan lama kerja 3
tahun.
3. Efek samping
a. Efek samping paling utama dari implant adalah perubahan pola haid, yang
terjadi pada kira-kira 6 % akseptor terutama selama 3-6 bulan pertama dari
b.
c.
d.
e.

pemakaian. Yang paling sering terjadi :


Bertambahnya hari-hari perdarahan dalam 1 siklus haid
Perdarahan bercak (spotting)
Berkurangnya panjang siklus haid
Amenore, meskipun jarang terjadi dibandingkan perdarahan lama atau

perdarahan bercak.
f. Umumnya perubahan-perubahan haid tersebut tidak mempunyai efek yang
membahayakan diri akseptor. Meskipun terjadi perdarahan lebih sering
daripada biasanya, volume darah yang hilang tetap tidak berubah.
g. Pada sebagian akseptor, perdarahan ireguler akan berkurang dengan
berjalannya waktu.
h. Perdarahan hebat jarang terjadi (Cahyani, 2009).
i. Perubahan dalam periode menstruasi merupakan keadaan yang paling
sering ditemui. Kadang-kadang ada akseptor yang mengalami kenaikan
berat badan (Gunawan, 1999).

4. Mekanisme kerja
a. Lendir servik menjadi kental
b. Mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi
implantasi
c. Mengurangi transportasi sperma
d. Menekan ovulasi
5. Waktu mulai menggunakan Implant
a.
b.
c.
d.

Implant dapat dipasang selama siklus haid hari ke -2 samapai hari ke 7


Bila tidak hamil dapat dilakukan setiap saat
Saat menyususi antara 6 minggu sampai 6 bulan pasca persalinan
Pasca keguguran implant dapat segera di insersikan

e. Bila setelah beberapa minggu melahirkan dan telah terjadi haid kembali,
insersi dapat dilakukan setiap saat jangan melakukan hubungan seksual
selama 7 hari.
6. Keuntungan dan kerugian kegunaan Kontrasepsi Implant
a. Keuntungan implant
1) Daya guna tinggi
2) Perlindungan jangka panjang
3) Pengambilan tingkat kesuburan yang cepat setelah pencabutan
4) Tidak memerlukan pemeriksaan dalam
5) Bebas dari pengaruh estrogen
6) Tidak menggangu kegiatan senggama
7) Tidak menggangu ASI
8) Klien hanya perlu kembali ke klinik bila ada keluhan
9) Dapat dicabut setiap saat sesuai dengan kebutuhan
b. Kerugian Kontrasepsi Implant
1. Menimbulkan gangguan menstruasi yaitu tidak dapat menstruasi dan
terjadi perdarahan yang tidak teratur
2. Berat badan bertambah
3. Menimbulkan akne, ketegangan payudara
4. Liang senggama terasa kering
7. Yang boleh menggunakan Kontrasepsi Implant
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Usia reproduksi
Telah memiliki anak
Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi
Pasca persalinan tidak menyusui
Pasca keguguran
Tidak menginginkan anak lagi, tetapi menolak sterilisasi
Riwayat kehamilan ektopik
Tekanan darah <180/ 110 mmhg, dengan maslah pembekuan darah.
Tidak boleh menggunakan kontrasepsi hormonal yang mengandung

estrogen.
j. Sering lupa menggunakan pil
8. Yang tidak boleh menggunakan Kontrasepsi Implant.
a. Hamil atau diduga hamil
b. Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya
c. Benjolan / kanker payudara atau riwayat kanker payudara

d. Tidak dapat menerima perbahan pola haid yang terjadi


e. Miom uterus dan kanker payudara
f. Gangguan toleransi glukosa.
9. Pemasangan Kontrasepsi Implant
Pemasangan Implant biasanya dilakukan dibagian atas (bawah kulit) pada lengan
kiri wanita (lengan kanan bagian yang kidal ), agar tidak menggangu kegiatan.
Implant dapat dipasang pada waktu menstruasi atau setelah melahirkan oleh
dokter atau bidan yang terlatih. Sebelum pemasangan dilakukan pemeriksaan
kesehatan terlebih dahulu danjuga disuntik untuk mencegah rasa sakit. Luka bekas
pemasangan

harus dijaga agar tetap bersih keringdan tidak boleh terkena air

selama 5 hari. Pemeriksaan ulang dilakukan oleh dokter seminggu setelah


pemasangan. Setelah itu setahun sekali selama pemakaian dan setelah 5 tahun
implant harus diambil atau di lepas.
10. Cara kerja susuk (implant)
Segera setelah implant dimasukkan ke bawa kulit lengan atas ekseptor, secara
tetap sejumlah levenorgestrel akan dilepaskan. Keadaan inilah yang melindungi
akseptor dari kehamilan, selama implant tatap berada di tempat tersebut
(GUNAWAN, 1999).
11. Persiapan pemasangan
1. Pelaksanaan Pelayanan
Ruangan klinik pasien rawat jalan maupun ruang operasi cocok untuk
pemasangan maupun pencabutan implan.Bila mungkin,ruangan sebaiknya jauh
dari area yang sering digunakan (ramai) di klinik maupun di rumah sakit,serta
harus :
Mamiliki pencahayaan yang cukup
Berlantai keramik atau semen sehingga mudah di bersihkan Terbebas dari debu
dan serangga

Memiliki ventilasi udara yang baik


Selain itu juga perlu ada fasilitas untuk mencuci tangan termasuk air bersih dan
mengalir (air kran dan lain-lain).
2. Pencegahan Infeksi
Untuk meminimalisasi resiko infeksi pada klien setelah pemasangan maupun
pencabutan implan, petugas klinik harus berupaya untuk menjaga lingkungan dari
bebas infeksi. Untuk itu petugas perlu melakukan hal-hal :
Meminta klien untuk membersihkan dengan sabun seluruh lengan yang akan
dipasang implan dan membilasnya hingga tidak ada sabun yang tertinggal (sisa
sabun dapat mengurangi efektifitas beberapa anti septik). Langkah ini sangat
penting khususnya bila kebersihan klien sangat kurang
Cuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir. Untuk pemasangan dan
pencabutan batang, cuci tangan dengan sabun selama 5-10 detik kemudian bila
dengan air bersih yang mengalir sudah cukup
Pakai kedua sarung tangan yang telah disterilisasi atau diDTT. (Gunakan
sepasang sarung tangan yang berbeda untuk tindakan guna menghindari
kontaminasi silang
Siapkan daerah pemasangan dan pencabutan dengan kapas yang telah diberi anti
septik:

gunakan

forsep

untuk

mengusap

kapas

tersebut

pada

daerah

pemasangan/pencabutan implan.
Setelah selesai pemasangan maupun pencabutan batang implan,dan sebelum
malepas sarung tangan, dekontaminasi instrumen dengan larutan clorin 0,5%.
Sebelum membuang atau merendam jarum dan alat suntik,isi dahulu dengan
larutan clorin. Setelah pemasangan, pisahkan plunger dari trokar. Darah kering
akan menyulitkan waktu memisahkan plunger dari trokar. Rendam selama 10
menit;kemudian bilas segera dengan air bersih.

Kain operasi (drape) harus dicuci sebelum digunakan kembali. Setelah dipakai,
taruh pada wadah kering dan bertutup
Dengan tetap memakai sarung tangan, buang bahan-bahan terkontaminsi
(kassa,kapas,dll) kedalam wadah tertutuprapat atau kantong plastik yang tidak
bocor. Jarum dan alat suntik sekali pakai (disposable) harus dibuang kedalam
wadah yang tahan tusuk.
Masukkan kedua tangan yang masih memakai sarung tangan kedalam larutan
clorin 0,5%. Lepaskan sarung tangan dari dalam ke luar.
3. Persiapan
a. Persiapan Klien
Walaupun kulit dan instrumennya sulit untuk disterilisasi, pencucian dan
pemberian antiseptik pada daerah operasi tempat implan akan dipasang dan
mengurangi jumlah mikroorganisme di daerah kulit klien. Kedua tindakan ini
pada kenyataannya sangat bermanfaat dalam mengurangi resiko terjadinya infeksi
pada insersi atau pencabutan implan Norplant.
b. Peralatan dan Instrumen untuk Insersi

Meja periksa untuk berbaring klien


Alat penyangga lengan (tambahan)
Batang implan dalam kantong
Kain penutup steril (disinfeksi tingkat tinggi) serta mangkok untuk tempat

meletakkan implan Norplant.


Pepasang sarung tangan karet bebas bedak dan yang sudah steril (atau

didisinfeksi tingkat tinggi)


Sabun untuk mencuci tangan
Larutan anti septik untuk disinfeksi kulit(mis,betadin atau sejenis gol

povidon iodin lainnya), lengkap dengan cawan/mangkok anti karat.


Zat anastesi lokal (konsentrasi 1% tanpa epinefrin)
Semprit(5-10ml), dan jarum suntik (22G) ukuran 2,5 sampai 4 cm (1-1

1/2inch)
Trokar 10 dan madrin

Skalpel 11 atau 15
Kassa pembalut, band aid, atau plester
Kassa steril dan pembalut
Epinefrin untuk renjatan anafilaktik (harus tersedia untuk kaperluan

darurat)
Klem penjepit atau forsep mosquito (tambahan)
Bak/tempat instrumen (tertutup)

12. Penatalaksanaan umum


Kapsul implan dipasang tepat di bawah kulit di atas lipat siku di daerah medial
lengan atas. Untuk tempat pemasangan kapsul pilihlah lengan klien yang jarang
digunakan. Pertama, cuci lengan dengan air dan sabun, kemudian usap dengan
antiseptik dan suntik anestesi lokal. Buat insisi kecil hanya sekedar menembus
kulit, sekitar 8 cm di atas lipat siku. Setiap kapsul dimasukkan melalui trokar
khusus dan dipasang tepat di bawah kulit. Sebelum memulai tindakan, periksa
kembali untuk memastikan apakah klien :

Sedang minum obat yang dapat menurunkan efektivitas implan


Sudah mendapat anestesi lokal sebelumnya
Alergi terhadap obat anestesi lokal atau jenis obat lainnya

13. Tindakan sebelum pemasangan


Langkah 1
cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, keringkan dengan kain bersih.
Langkah 2
Pakai sarung tangan steril atau DDT (ganti sarung tangan untuk setiap klien guna
mencegah kontaminasi silang).
Langkah 3

Atur alat dan bahan-bahan sehingga mudah dicapai. Hitung kapsul untuk
memstikan jumlahnya.

Langkah 4
Persiapkan tempat insisi dengan larutan antiseptik. Gunakan klem steril atau DTT
untuk memegang kasa berantiseptik. (bila memegang kasa berantiseptik hanya
dengan tangan, hati-hati jangan sampai mengkontaminsai sarung tangan dengan
menyentuh kulit yang tidak steril). Mulai mengusap dari tempat yang akan
dilakukan insisi ke arah luar dengan gerakan melingkar sekitar 8-13 cm dan
biarkan kering (sekitar 2 menit) sebelum memulai tindakan. Hapus antiseptik
yang berlebihan hanya bila tanda yang sudah dibuat tidak terlihat.
Langkah 5
Bila ada gunakan kain penutup (doek) yang mempunyai lubang untuk menutupi
lengan. Lubang tersebut harus cukup lebar untuk memaparkan tempat yang akan
dipasang kapsul. Dapat juga dengan menutupi lengan di bawah tempat
pemasangan dengan kain steril.
Langkah 6
Setelah memastikan tidak alergi terhadap obat anestesi, isi alat suntik dengan 3 ml
obat anestesi . Dosis ini sudah cukup untuk menghilangkan rasa sakit selama
memasang kapsul implan.
Langkah 7
Masukkan jarum di bawah kulit pada tempat insisi, kemudian lakukan aspirasi
untuk memastikan jarum tidak masuk ke dalam pembuluh darah. Suntikkan
sedikit obat anestesi untuk membuat gelembung kecil di bawah kulit. Kemudian
tanpa memindahkan jarum, masukkan ke bawah kulit sekitar 4 cm. Hal ini akan

membuat kulit terangkat dari jaringan lunak di bawahnya. Kemudian tarik jarum
pelan-pelan sehingga membentuk jalur sambil menyuntikkan obat anestesi
sebanyak 1 ml di antara tempat untuk memasang kapsul.

14. Pemasangan kapsul


Sebelum membuat insisi, sentuh tempat insisi dengan jarum atau skalpel untuk
memastikan obat anestesi telah bekerja.
Langkah 1
Pegang skalpel dengan sudut 45, buat insisi dangkal hanya untuk sekedar
menembus kulit. Jangan membuat insisi yang panjang atau dalam.
Langkah 2
Ingat kegunaan ke-2 tanda pada trokar. Trokar harus dipegang dengan ujung yang
tajam menghadap ke atas. Ada 2 tanda pada trokar, tanda (1) dekat pangkal
menunjukkan batas trokar dimasukkan ke bawah kulit sebelum memasukkan
setiap kapsul. Tanda (2) dekat ujung menunjukkan batas trokar yang harus tetap di
bawah kulit setelah memasang setiap kapsul.
Langkah 3
Dengan ujung yang tajam menghadap ke atas dan pendorong di dalamnya
masukkan ujung trokar melalui luka insisi dengan sudut kecil. Mulai dari kiri atau
kanan pada pola seperti kipas, gerakkan trokar ke depan dan berhenti saat ujung
tajam seluruhnya berada di bawah kulit. Memasukkan trokar jangan dengan
paksaan. Jika terdapat tahanan coba dari sudut lainnya.
Langkah 4

Untuk meletakkan kapsul tepat di bawah kulit angkat trokar ke atas sehingga kulit
terangkat. Masukkan trokar perlahan-lahan dan hati-hati ke arah tanda (1) dekat
pangkal. Trokar harus cukup dangkal sehingga dapat diraba dari luar dengan jari.
Trokar harus selalu terlihat mengangkat kulit selama pemasangan. Masuknya
trokar akan lancar bila berada di bidang yang tepat di bawah kulit.
Langkah 5
Saat trokar masuk sampai tanda (1) cabut pendorong dari trokar.
Langkah 6
Masukkan kapsul pertama ke dalam trokar. Gunakan ibu jari dan telunjuk atau
pinset atau klem untuk mengambil kapsul dan memasukkan ke dalam trokar. Bila
kapsul diambil dengan tangan pastikan sarung tangan tersebut bebas dari bedak
atau pertikel lain.
Langkah 7
Gunakan pendorong untuk mendorong kapsul ke arah ujung trokar sampai terasa
ada tahanan, tapi jangan mendorong dengan paksa.
Langkah 8
Pegang pendorong dengan erat di tempatnya dengan satu tangna untuk
menstabilkan. Terik tabung trokar dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk ke
arah luka insisi sampai tanda (2) muncul di tepi luka insisi dan pangkalnya
menyentuh pegangan pendorong. Hal yang penting pada langkah ini adalah
menjaga pendorong tetap di tempatnya dan tidak mendorong kapsul ke jaringan.
Langkah 9
Saat pangkal menyentuh pegangan pendorong tanda (2) harus terlihat di tepi luka
insisi dan kapsul saat itu keluar dari trokar tepat berada di bawah kulit. Raba
ujung kapsul dengan jari untuk memastikan kapsul sudah keluar seluruhnya dari

trokar. Hal yang penting adalah kapsul bebas dari trokar untuk menghindari
terpotongnya kapsul saat trokar digerakkan untuk memasang kapsul berikutnya.

Langkah 10
Tanpa mengeluarkan seluruh trokar, putar ujung dari trokar ke arah laterla kanan
dan kembalikkan lagi ke posisi semula untuk memastikan kapsul pertama bebas.
Selanjutnya geser trokar sekitar 15-25 derajat. Untuk melakukan itu mula-mula
fiksasi kapsul pertama dengan jari telunjuk dan masukkan kembali trokar pelanpelan sepanjang sisi jari telunjuk tersebut sampai tanda (1). Hal ini akan
memastikan jarak yang tepat antara kapsul dan mencegah trokar menusuk kapsul
yang dipasang sebelumnya. Bila tanda (1) sudah tercapai masukkan kapsul
berikutnya ke dalam trokar dan lakukan seperti sebelumnya.
Langkah 11
Pada pemasangan kapsul berikutnya, untuk mengurangi resiko infeksi atau
ekspulsi pastikan bahwa ujung kapsul yang terdekat kurang lebih 5 mm dari tepi
luka insisi.
Langkah 12
Sebelum mencabut trokar, raba kapsul untuk memastikan kapsul semuanya telah
terpasang.
Langkah 13
Ujung dari semua kapsul harus tidak ada tepi luka insisi. Bila sebuah kapsul
keluar atau terlalu dekat dengan luka insisi, harus dicabut dengan hati-hati dan
dipasang kembali di tempat yang tepat.
Langkah 14

Setelah kapsul terpasang semuanya dan posisi setiap kapsul sudah diperiksa,
keluarkan trokar pelan-pelan. Tekan tempat insisi dengan jari menggunakan kasa
selama 1 menit.
15. Tindakan setelah pemasangan kapsul
1. Menutup luka insisi
- Temukan tepi kedua insisi dan gunakan band aid atau plester dengan kassa steril
untuk menutup luka insisi. Luka insisi tidfak perlu dijahit karena dapat
menimbulkan jaringan parut
- Periksa adanya perdarahan. Tutup daerah pemasangan dengan pembalut untuk
hemostasis dan mengurangi memar (perdarahan subkutan)
2. Perawatan klien
- Buat catatan pada rekam medik pemasangan kapsul dan kejadiian tidak umum
yang mungkin terjadi selama pemasangan.
- Amati klien kurang lebih 15-20 menit untuk kemungkinan perdarahan dari luka
insisi atau efek lain sebelum memulangkan klien. Beri petunjuk untuk perawatan
luka insisi setelah pemaasangan, kalau bisa diberikan secara tertulis.

BILA TERJADI INFEKSI

Obati dengan pengobatan yang sesuai untuk infeksi lokal


Bila terjadi abses (dengan atau tanpa eksplusi kapsul) cabut semua kapsul.

Petunjuk untuk menjaga agar trokar tetap tajam


Pemakaian yang berulang-ulang akan menyebabkan trokar menjadi tumpul.

Trokar harus diperiksa dengan hati-hati setelah setiap 10 kali pemasangan.


Setelah selesai dipakai, dipisahkan trokar dari pendorongannya. (hal ini untuk

menjaga trokar agar tetap tajam).


Bila trokar telah menjadi tumpul, harus diasah seperti mengasah pisau atau
gunting dengan menggunakan batu asah yang halus.

Pada waktu mengasahntrokar,jangan terlalu berlebihan oleh karena dapat


mengubah sudut ketajamannya sehingga trokar tidak bisa dipakai lagi.
Pengasahan yang berlebihan akan memperpendek trokar, mengurangi jarak ke

tanda (2) dekat ujung trokar.


Masalah lain yang ditimbulkan karena pengasahan yang erlebihan adalah pada
waktu memasukkan pendorong sepenuhnya, maka ujung tumpul pendorong
akan menonjol keluar melewati ujung tajam trokar. Hal ini akan menyulitkan
waktu memasukkan trokar tepat di bawah kulit. Bila hal ini terjadi, tarik
kembali pendorong sehingga ujung tumpulnya tidak menonjol keluar dari

ujung tajam trokar.


Setelah kira-kira 50 sampai 100 kali pemasangan , trokar harus diganti, tidak
boleh diasah lagi.

B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Rendahnya Minat Ibu Untuk Memilih


Implant Sebagai Alat Kontrasepsi.
Beberapa hal yang merupakan faktor sehingga rendahnya minat ibu unntuk
memilih implant sebagai alat kontrasepsi antara lain :
1. Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan
pengindraan terhadap suatu objek tertantu yang terjadi melalui panca indra
manusia yaitu indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.
(Notoadmodjo, 2005). Tingkat Pengetahuan yang dicakup di dalam domain
kognitif mempunyai 6 tingkat menurut Notoatmodjo, yaitu:
a. Tahu (Know). Tahu diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah
dipelajari
b. Memahami (Comprehension). Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan
menjelaskan

secara

benar

tentang

objek

yang

diketahui

dan

dapat

menginterpretasi materi tersebut secara benar. Sehingga dapat menjelaskan,

menyebutkan

contoh,

menyimpulkan,

meramalkan,

tentang

objek

yang

dipelajarinya.
c. Aplikasi (Application). Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk
menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.
d. Analisis (Analysis). Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan
materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam
suatu stuktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e. Sintesis (Synthesis). Sintesa menunjuk kepada suatu kemampuan untuk
meletakan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan
yang baru.
f. Evaluasi (evaluation). Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk
melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.
2. Pendidikan
Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam menentukan kulitas
manusia, dengan pendidikan manusia dianggap akan memperoleh pengetahuan.
Semakin tinggi pendidikan, hidup manusia semakin berkualitas. Pendidikan
kesehatan menjebatani kesenjangan dalam informasi kesehatan dan praktek
kesehatan yang memotivasi seseorang untuk memperoleh informasi dalam berbuat
sesuatu sehingga dapat menjaga dirinya menjadi lebih sehat dengan menghindari
yang buruk dan membentuk kebiasaan yang menguntungkan kesehatan.
(Notoatmodjo,2003).
3. Sumber Ekonomi
Sumber ekonomi adalah jumlah penghasilan seluruh anggota keluarga.
Pendapatan berhubungan langsung dengan kebutuhan-kebutuhan keluarga,
penghasilan yang

tinggi dan teratur membawa damfak positif bagi keluarga

karena keseluruhan kebutuhan sandang, pangan, papan dan transportasi serta


kesehatandapat terpenuhi. Namun tidak demikian dengan keluarga yang

pendapatannya rendah akan mengakibatkan keluarga mengalami kerawanan


dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya yang salah satunya adalah pemeliharaan
kesehatan (Keraf, 2001).

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Alat kontrasepsi susuk atau implan berisi lovonorgestrel, terdiri dari 6 kapsul yang
diinsersikan di bawah kulit lengan atas bagian dalam, kira-kira 6-10 cm dari lipat
siku. Indikasi penggunaan KB susuk adalah pemakaian KB yang jangka waktu
lama, masih berkeinginan punya anak lagi, tapi jarak antara kelahirannya tidak
terlalu dekat.tidak dapat memakai jenis KB yang lain. Banyak alasan dapat
dikemukakan mengapa implant dikembangkan dan diperkenalkan sebagai cara
KB yang baru. Alasan-alasan tersebut antara lain implant merupakan cara KB
yang sangat efektif dalam mencegah kehamilan dan dapat mengembalikan
kesuburan secara sempurna, tidak merepotkan. Setelah pemasangan, akseptor
tidak perlu melakukan atau memikirkan apa-apa misalnya pada penggunaan pil.
Implant merupakan cara KB yang ideal bagi ibu yang tidak amau mempunyai
anak lagi, akan tetapi belum siap untuk melakukan sterilisasi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Gunawan, Nardho, dkk. 1999. Buku Pedoman Petugas Fasilitas Pelayanan


Keluarga Berencana. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia
2. Saifufuddin, A. B., dkk. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi.
Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
3. Rayax.
2007.
Alat
Kontrasepsi
Implant.

http://rayax

alatkontrasepsiimplan.blogspot.com/2007/06/pemasangan-dan-pencabutanimplan-susuk.html. Diakses 18 Desember 2010.


4. http://kesmas-unsoed.blogspot.com/2011/01/alat-kontrasepsi-susukimplant.html.