Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL


PEMBUATAN SEDIAAN OBAT TETES MATA CHLORAMPHENICOL 0,5% YANG
MEMPUNYAI PH =7,0 SEBANYAK 10 ML

Disusun Oleh :
1.
2.
3.
4.

Alifianti Balinda P
Aulia Aditya A
Nidia Rizqi I
Nora Putri N

122210101067
122210101071
122210101073
122210101075

BAGIAN FARMASETIKA
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS JEMBER
MARET, 2015

I.
TUJUAN PRAKTIKUM
1. Memahami dan dapat melakukan metode sterilisasi filtrasi dan sterilisasi basah
2. Mempelajari pembuatan sediaan obat tetes mata steril pH 7,0 dengan penambahan
bakterisida
II.
PRA FORMULASI
1. Tinjauan farmakologis kloramfenikol (Martindale: 1137 dan Farmakologi II)
Efek utama
: antibakteri
Bakteriostatik : terhadap enterobacter dan staphylococcus aureus
Bakterisid : terhadap str. Pneumoniae. Neiss. Meningitis,H. Infwanze
(martindale 36;2009;p.241)
Efek samping : reaksi hipersensitif termasuk rashes, demam, angiodema bisa terjadi,
khususnya setelah penggunaan topikal (martindale 36;2009;p.241)
Kontraindikasi : (martindale 36;2009;p.240)
- Pasien dengan riwayat hipersensitivitas atau reaksi toksik pada
kloramfenikol
- Tidak boleh diberikan secara sistemik untuk infeksi ringan atau
untuk profilaksis
- Program pengobatan berulang dan berkepanjangan
- Seharusnya tidak digunakan pada pasien dengan depresi sumsum
tulang atau diskisia darah
- Penggunaan kloramfenikol dihindari secara kehamilan dan dapat
mengganggu imunitas dan tidak boleh diberikan selama aktif
imunisasi
Perhatian dan peringatan : Pada penggunaan jangka panjang sebaiknya dilakukan
pemeriksaan hematologi secara berkala. Hati-hati penggunaan pada
penderita dengan gangguan gagal ginjal, wanita hamil dan menyusui,
bayi prematur dan bayi yang baru lahir (martindale 36;2009;p.240)
2. Tinjauan sifat fisika kimia (martindale 36;2009;p.239)
a. Kelarutan : 1:400 dalam air, 1: 2,5 dalam etanol 95% P, sukar larut dalam
kloroform P dan dalam eter P, 1:7 dalam propilen glikol P, Praktis tidak
larut dalam petrolatum dan minyak nabati (Martindale: 1136).
b. Stabilitas
- Terhadap cahaya: tidak stabil
Pemaparan kloramfenikol (eye drops 10 mg mg/L, dapar fosfat PH 7,0) terhadap
-

cahaya menebabkan degradasi 80% dalam waktu 45 menit.


Terhadap suhu: tidak stabil

Dalam air akan terhidrolisis 4% (pemanasan 100C 30 menit) dan 10%


(pemanasan 115C, 30 menit). Pada PH 7,2 lebih cepat terdegradasi daripada PH
-

4,8 (pemanasan 100C/120C)


Terhadap PH: PH larutan jenuh 4,5-7,5
PH stabilitas optimum 6,0 (FI IV,1995). Stabil terhadap larutan netral dan asam,
cepat rusakoleh larutan alkali (Remington). Stabil pada PH yang luas untuk

larutan air (PH 2-7)


Terhadap oksigen: tidak stabil.

c. Cara sterilisasi bahan


Sediaan dipanaskan pada suhu 100C selama 30 menit dengan prediksi kehilangan
hanya 3,6%. Pemanasan 98-100% selama 30 menit pada sediaan tetes mata tidak
akan kehilangan potensi lebih dari 10% (Martindale: 1137)
d. Inkompatibilitas
- Dengan parasetamol

: menurunkan waktu paruh dan klirens

- Dengan kontrasepsi oral : menurunkan efikasi kontrasepsi oral


- Dengan diuretic

: meningkatkan ekskresi kloramfenikol (furosemid)

e. Cara penggunaan
Dosis umum untuk infeksi ocular, optalmik, kloramfenikol 0,5% dosis 1-2tetes tiap
2 jam untuk 48 jam pemakaian pertama, tiap 4 jam untuk pemakaian setelahnya
III.
FORMULASI
1. Permasalahan dan penyelesaian
PH sediaan harus dibuat mendekati PH fisiologis untuk mencegah iritasi
Harga PH mata sama dengan PH darah yaitu 7,4 (Lukas, 2006). Harga PH
tetes mata kloramfenikol antara 7-7,5 pada larutan dapar (FI IV, 1995).
Sehingga pada sediaan tetes mata ditambahkan buffer borat yang memiliki
rentang PH 6,8-9,1 (Lukas, 2006) agar dihasilkan PH sesuai cairan fisiologis
mata.
Kloramfenikol tidak stabil pada pemanasan
Kloramfenikol pada air akan terhidrolisis 4% (pemanasan 100C, 3 menit) dan
10% (pemanasan 110C, 30 menit). Pada PH 7,2 lebih cepat terdegradasi
daripada PH 4,8 (pemanasan 100C/120C).
Kloramfenikol kurang larut dalam air
Apabila dilihat dari kelarutannya maka kloramfenikol sangat sukar larut dalam
air (1:400), sehingga untuk meningkatkan kelarutanya ditambahkan atau
dilarutkan dalam dapar borat, karena dapar borat juga berfungsi untuk
meningkatkan kelarutan.

Kemungkinan terjadi kontaminasi mikroorganisme karena termasuk sediaan dosis


ganda
Untuk mengantisipasi hal tersebut maka perlu ditambahkan bakterisida. Pada
praktikum ini dipilih fenil merkuri nitrat dengan konsentrasi 0,001-0,002%.
Dipilih fenil merkuri nitrat karena memiliki rentang PH yang luas. Selain itu
penambahan bakterisida juga dapat meningkatkan nilai SAL.
2. Formulasi
R/
cloramphenicol
500 mg
Boric acid
1,5 g
Borax
300 mg
Phenyl mercuric nitate
2 mg
Water forinjection
ad
100 ml
3. Perhitungan berat dan volume
Volume yang tertera pada kemasan adalah 10 ml, karena sterilisasi menggunakan
filtrasi, dikhawatirkan adanya bahan yang tertinggal, maka penimbangan dilebihkan
50%.
Penimbangan bahan
- Kloramfenikol = 500mg/100ml x 15 ml
= 75mg
- Boric acid
= 1,5g/100ml x 15 ml
= 225mg
- Borax
= 300mg/100ml x 15ml
= 45mg
Timbang = 50 mg lalu ditambahkan 5 ml fenil merkuri nitrat 0,002% ad larut.

x = 4,5 ml (dipipet 4,5 ml)


Phenyl mercuric nitrate = 2mg/100ml x 15ml = 0,3mg
Pengenceran dengan menimbang 50 mg lalu ditambahkan aq for injeksi 50 ml
lalu dipipet 0,3 ml. Pada percobaan, fenil merkuri nitrat telah diberikan dalam

bentuk terlarut.
Water for injection
Aq pro injeksi ditambahkan ad 15 ml
Vol yang tertera pada sediaan = 10 ml kelebihan 0,5 ml (FI IV, 1995). Jadi
sediaan yang dimasukkan pada botol adalah 10,5 ml.

d. Cara sterilisasi bahan


Sediaan disterilisasi dengan menggunakan sterilisasi filtrasi.
IV.
1.

PELAKSANAAN
Penyiapan Alat
a. Alat yang digunakan dan cara sterilisasi
No

Nama alat

Jumlah

Ukuran

Sterilisasi

Waktu

1
2
3

Kaca arloji
Kaca arloji
Pengaduk

2
1
2

3cm
5cm

Oven-180C
Oven-180C
Oven-180C

30
30
30

4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Gelas beker
Sendok logam
Pinset
Erlenmeyer
Botol tetes coklat
Pipet tetes pendek
Corong
Kertas saring
Gelas ukur
Pipet botol tetes
Tali

2
1
2
1
1
2
1
2
1
1
q.s

50ml
50ml
10ml
5cm

Oven-180C
Oven-180C
Oven-180C
Oven-180C
Oven-180C
Autoklaf-115C
Autoklaf-115C
Autoklaf-115C
Autoklaf-115C
Autoklaf-115C
Autoklaf-115C

30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30

b. Pencucian, pengeringan, dan pembungkusan alat


- Pencucian alat gelas
Mencuci alat gelas dengan air dan HCl encer
Merendam dalam larutan tepol 1% dan Na2CO3 0,5% (aa) dan didihkan
selama 1 jam
Ulangi ad larutan jernih (maksimal 3x)
Membilas dengan aquadest sebanyak 3x
-

Pencucian alat alumunium


Mendidihkan alat alumunium dalam tepol 1% selama 10 menit
Merendam dalam larutan Na2CO3 5% selama 5 menit
Membilas dengan aqua panas mengalir
Mendidihkan dengan air 15 menit kemudian dibilas
Mendidihkan dengan aquadet 15 menit
Membilas dengan aquadest sebanyak 3 x

Pengeringan dan pembungkusan


Mengeringkan alat di oven pada suhu 100-1050C selama 10 menit (dalam
keadaan terbalik)

Mendinginkan dan bungkus dengan alumunium foil rangkap 2


c. Sterilisasi alat

Sterilisasi alat dengan metode panas kering menggunakan oven pada suhu 180 C
selama 30 menit.
- Waktu pemanasan
- Waktu kesetimbangan
- Waktu pembinasaan
- Tambahan waktu untuk jaminan sterilitas
- Waktu pendinginan
Total waktu sterilisasi

= menit
= menit
= 30 menit
= menit
= menit
= menit

Sterilisasi alat dengan metode panas basah menggunakan autoklaf pada suhu
121C selama 15 menit.
- Waktu pemanasan
- Waktu pengeluaran udara
- Waktu menaik
- Waktu kesetimbangan
- Waktu pembinasaan
- Tambahan waktu untuk jaminan sterilitas
- Waktu penurunan
- Waktu pendinginan
Total waktu sterilisasi
2. Cara kerja

= menit
= menit
= menit
= menit
= 15 menit
= menit
= menit
= menit
= menit

Menyiapkan alat dan bahan

a. Pembuatan dapar
borat PH 7,0 botol tetes coklat 10,5 ml
Mengkalibrasi
Sejumlah 225mg Asam Borat
ditimbang, lalu dilarutkan dalam
5ml larutan Fenil Merkuri Nitrat
0.002%
Sejumlah 50 mg Borax
ditimbang, dilarutkan ke
dalam larutan Fenil Merkuri
Nitrat 0,002% 5 ml, pipet 4,5
ml
Larutan Borax dan Asam Borat

dicampur, dan diukur ad pH 7,0


b. Pembuatan sediaan tetes mata
Larutan Dapar Borat pH 7
Sejumlah 75 mg Kloramfenikol
ditimbang, lalu dimasukkan kedalam
beaker glass

75 mg Kloramfenikol dalam Beker Glass


ditambah larutan dapar, lalu diaduk ad
larut bila perlu dengan pemanasan
<50C
Larutan dapar + Kloramfenikol
Ditambah dengan fenil merkuri nitrat
0,002% ad 15 ml, lalu diaduk, dan dicek
PH
Larutan dapar + Kloramfenikol + Fenil Merkuri Nitrat 0.002%
Disaring dengan membran prefilter
dan membrane filter 1.2 m di LAF
Larutan dapar + Kloramfenikol + Fenil Merkuri Nitrat 0.002% telah disaring
dengan membran prefilter dan membrane filter 1.2 m di LAF
dimasukkan sebanyak 10,5 ml ke dalam botol
(FI IV,1995), kemudian botol ditutup rapat
Sediaan tetes mata kloramfenikol

3. Kemasan

KOMPOSISI
Mengandung Kloramfenikol .............................................. 0.5%
FARMAKOLOGI
Kloramfenikol merupakan antibakteri dengan spektrum luas, dapat mengatasi infeksi
superfisial pada mata yang disebabkan oleh mikroorganisme.
INDIKASI
Mengatasi infeksi superfisialis pada mata yang disebabkan oleh mikroorganisme
KONTRAINDIKASI
Penderita yang mengalami hipersensitivitas.
DOSIS DAN CARA PEMAKAIAN
Teteskan 2 tetes pada mata yang sakit 3-4 kali sehari.
PERINGATAN DAN PERHATIAN
Agar tidak terkontaminasi jagalah supaya ujung botol tidak terkena tangan atau suatu
benda. Tutup kembali botol setelah pemakaian. Hindari penggunaan lensa kontak ketika
menggunakan obat ini. Bila setelah 2 hari infeksi tidak membaik segera konsulatsikan
dengan dokter.

4. Brosur

EFEK SAMPING
Mata terasa pedih, terbakar, dan hiperemia dapat terjadi akibat penggunaan yang
berlebihan.
KEMASAN
Botol berisi 10ml
No. Reg : SRK8747881248B2
SIMPAN DI TEMPAT SEJUK, KERING DAN TERLINDUNG DARI CAHAYA
Batch : 571431
Mfg.date : Apr 15
Exp.date : Apr 19

5. Etiket

V.

HASIL PENGAMATAN
a. pH sediaan = 7

b. Volum sediaan yang dibuat = 10,5 ml


Karena untuk sediaan 10 ml , kelebihan volum yang dianjurkan adalah 0,5 ml
(Farmakope Indonesia IV, 1044)
c. Sterilisasi Sediaan dengan Autoklaf Suhu 121C selama 15 Menit
Waktu pemanasan
: 10 menit
Waktu pengeluaran udara
: 0 menit
Waktu menaik
: 0 menit
Waktu kesetimbangan
: 10 menit
Waktu pembinasaan
: 30 menit
Waktu tambahan jaminan sterilitas : 5 menit
Waktu penurunan
: 0 menit
Waktu pendinginan
: 7 menit
Total Waktu
: 62 menit
Proses sterilisasi dimulai pukul 15.03 sampai dengan pukul 16.05

VI.

PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakukam pembuatan sedian tetes mata kloramfenikol 0,5%

yang mempunyai pH 7 sebanyak 10 ml. Sediaan tetes mata adalah sediaan steril berupa
larutan atau suspensi yang digunakan pada mata dengan cara meneteskan obat pada selaput
lendir mata disekitar kelopak mata atau bola mata. Sterilitas adalah persyaratan yang sangat
penting dalam pembuatan larutan mata, karena pada larutan tersebut dimungkinkan

membawa banyak organisme yang berbahaya, contohnya Pseuodomonas aeroginosa. Infeksi


mata oleh Pseuodomonas aeroginosa ini dapat membuat kebutaan.
Bahan aktif yang digunakan dalam praktikum ini adalah kloramfenikol. Ada 3 jenis
kloramfenikol, yaitu kloramfenikol base, kloramfenikol palmitat dan kloramfenikol sodium
suksinat. Kloramfenikol suksinat dan palmitat merupakan formulasi proobat tidak aktif
antibiotik yang memerlukan pemecahan gugus ester dari senyawa induk untuk membebaskan
kloramfenikol yang bersifat antibakteria aktif (Bechmen,1996). Pada praktikum kali ini
dipilih kloramfenikol base, karena sediaan yang dibuat ditujukan untuk penggunaan pada
mata. Mata tidak mempunyai enzim hidrolitik seperti pada saluran cerna, sehingga untuk
sediaan tetes mata tidak dapat diberikan kloramfenikol palmitat maupun suksinat karena tidak
ada enzim yang memecah keduanya pada mata.
Kloramfenikol merupakan antibiotik bersifat bakteriostatik dan mempunyai spektrum
luas. Kloramfenikol efektif terhadap riketsia dan konjungtivitis akut yang disebabkan oleh
mikoroorganisme, termasuk Pseudomonas sp kecuali Pseudomonas aeroginosa. Senyawa ini
juga efektif untuk pengobatan infeksi berat yang disebabkan oleh bakteri gram positif dan
gram negatif.
Efek utama dari kloramphenikol pada sediaan tetes mata adalah sebagai antibiotik
spektrum luas dengan cara mengganggu sintesis protein dan bersifat bakteriostatik. Pada
penyakit mata digunakan untuk mengobati konjuntivis konjungtivitas. Efek sampingnya
adalah retikolopenia, anemia aplasia, gangguan penglihatan, ruam, demam, dan angio derma.
Pemaparan kloramfenikol (eye drops 10 mg mg/L, dapar fosfat PH 7,0) terhadap
cahaya menebabkan degradasi 80% dalam waktu 45 menit. Sehingga untuk menghindari
proses fotolisis digunakan wadah sediaan yang gelap terlindung dari paparan cahaya secara
langsung, misalnya menggunakan wadah berwarna coklat. Sediaan disimpan ditempat yang
terlindung dari cahaya, steril, dan kedap udara (British Pharmacopoeia, 2001).
Berlangsungnya hidrolisis kloramfenikol terkatalisis asam umum/basa umum, tetapi
pada kisaran pH 2 sampai 7, laju reaksinya tidak tergantung PH. Spesies pengkatalisasi
adalah asam umum atau basa umum yang terdapat pada larutan dapar yang digunakan;
khususnya pada ion monohidrogen fosfat, asam asetat tidak terdisosiasi, serta ion asam
monohidrogen dan dihidrogen sitrat dapat mengkatalisis proses degradasi. Dibawah pH 2,
hidrolisis terkatalisis ion hydrogen spesifik memegang peranan besar pada terjadinya
degradasi kloramfenikol. Obat ini sangat tidak stabil dalam suasana basa, dan reaksinya
terlihat terkatalisis baik asam maupun basa spesifik (Connors, 1992)

Air mata mempunyai pH normal 7,4 dan memiliki suatu kemampuan dapar.
Kloramfenikol memiliki stabilitas yang sangat baik pada kisaran pH 2 sampai 7, stabilitas
maksimumnya dicapai pada pH 6. Untuk sediaan tetes mata kloramfenikol
mempunyai pH optimal pada 7,0 7,5 (British Pharmacopoeia, 2001).
Dapar yang dipilih dalam formulasi adalah dapar borat. Untuk
penggunaan dapar ini bisa diganti dengan dapar fosfat. Namun menurut
penelitian Insan Sunan Kurniawan Syah (2006), penggunaan dapar fosfat dalam sediaan tetes
mata kloramfenikol menunjukkan perbedaan penurunan kadar kloramfenikol yang cukup
signifikan jika dibandingkan dengan penggunaan dapar borat.
Pada penggunaan dapar borat, reaksi penguraian kloramfenikol merupakan reaksi
orde pertama, dimana laju reaksi hanya berdasarkan pada satu reaktan saja. Sedangkan pada
penggunaan dapar fosfat, reaksi penguraian berubah menjadi reaksi orde nol, dimana laju
reaksi tidak tergantung pada konsentrasi reaktan tetapi dipengaruhi oleh adanya faktor lain
seperti katalis, dalam hal ini disebabkan karena adanya ion monohidrogen fosfat dalam dapar
fosfat yang bertindak sebagai katalis, sehingga laju penguraiannya dipengaruhi oleh katalis
tersebut.
Hasil uji stabilitas dengan metode uji dipercepat menunjukkan bahwa penggunaan
dapar fosfat dalam sediaan tetes mata kloramfenikol dapat menunjukkan bahwa adanya
katalis (ion monohidrogen fosfat dalam dapar fosfat) akan menurunkan energi aktivasi dari
suatu reaksi, mengubah orde reaksi, serta meningkatkan laju reaksi hidrolisis kloramfenikol,
sehingga waktu paruh serta batas umur simpannya menjadi lebih cepat dibandingkan dengan
tetes mata kloramfenikol yang menggunakan dapar borat. Sehingga lebih dipilih sediaan tetes
mata kloramfenikol menggunakan dapar borat.
Selain pemilihan dapar, penggunaan pengawer untuk sediaan tetes mata Kloramfenikol
0,5% steril juga perlu diperhatikan. Kontaminasi pada sediaan mata dapat menyebabkan
kerusakan yang serius. Misalnya menyebabkan radang kornea mata. Kontaminan yang
terbesar adalah Pseudomonas aeruginosa. Organisme lain yang bisa mengjasilkan infeksi
pada kornea seperti golongan proteus yang telah diketahui sebagai kontaminan dalam larutan
metil selulosa. Selain bakteri, fungi juga merupakan kontaminan. Misalnya Aspergilus
fumigatus. Virus juga merupakan kontaminan seperti herpes simplex. Umumnya pengawet
tidak cocok dengan virus.
Pengawet antimikroba merupakan zat yang ditambahkan pada sediaan obat untuk
melindungi sediaan terhadap kontaminasi mikroba dengan menghambat pertumbuhan

(bakteristatik) atau bahkan mematikan bakteri (bakterisida). Larutan tetes mata yang
mengandung bahan pengawet harus tidak mengiritasi serta dapat mencegah berkembang atau
masuknya mikroorganisme dengan tidak sengaja kedalam larutan obat mata ketika wadah
terbuka selama pemakaian. Contoh pengawet yang bersifat bakterisida yang banyak
digunakan dalam sediaan tetes mata adalah :
Pengawet

yang

dipilih

seharusnya

mencegah

dan

membunug

pertumbuhan

mikroorganisme selama penggunaan. Pengawet yang sesuai untuk larutan obat tetes mata
hendaknya memiliki sifat sebagai berikut:
a) Bersifat bakteriostatik dan fungistatik. Sifat ini harus dimiliki terutama
terhadap Pseudomonas aeruginosa.
b)

Non iritan terhadap mata (jaringan okuler yaitu kornea dan konjungtiva)

c)

Kompatibel terhadap bahan aktif dan zat tambahan lain yang dipakai.

d)

Tidak memiliki sifat alergen dan mensensitisasi.

e)

Dapat mempertahankan aktivitasnya pada kondisi normal penggunaan sediaan.

Golongan pengawet pada sediaan tetes mata (DOM hal 148:Diktat kuliah teknologi
steril, 291-293; Codex, 161-165; Benny Logawa, 43):
Jenis
Senyawa

Konsentrasi
0,004-0,02%

Inkompatibilitas
Keterangan
Sabun, surfaktan anionik, Paling banyak dipakai untuk

amonium

(biasanya 0,01

salisilat, nitrat, fluoresecin sediaan optalmik.

kuartener:

%)

natrium.

Benzalkonium

Efektivitasnya ditingkat-kan
dengan penambahan EDTA

klorida
Senyawa merkur 0,01-0,005 %

Halida tertentu dengan

0,02%
Biasanya digunakan seba-gai

nitrat: Fenil

fenilmerkuri asetat

pengawet dari zat aktif yang

0,005 %

merkuri nitrat

OTT dengan Benzalkonium

Thiomersal
Parahidroksi

Nipagin 0,18% + Diadsorpsi oleh makro-

Klorida
Jarang digunakan, banyak

benzoat:

Nipasol 0,02%

molekul, interaksi dg

digunakan untuk mence-gah

surfaktan nonionik

pertumbuhan jamur, dalam

Nipagin, Nipasol

dosis tinggu mem-punyai


Fenol:
Klorobutanol

0,5-0,7 %

Stabilitasnya pH depen-

sifat antimikroba yang lemah


Akan berdifusi melalui

dent; aktivitasnya tercapai kemasan polietilen lowpada konsen-trasi dekat


kelarutan max

density.

Pengawet yang biasa digunakan untuk tetes mata kloramfenikol adalah Nipagin,
Klorobutanol, Benzalkonium Klorida, dan Fenil Merkuri Nitrat. Berikut adalah beberapa
pertimbangan untuk pemilihan pengawet tersebut :
Benzalkonium klorida
Benzalkonium klorida merupakan senyawa turunan amonium kuartener yang
digunakan pada formulasi farmasetik sebagai pengawet antimikroba, disinfektan.
Rumus struktur :

R = campuran dari alkil ; n-C8H17 n-C18H37; dodecyl, tetradecyl dan hexadecyl.


Konsentrasi benzalkonium korida yang digunakan pada ophthalmic sebesar 0.01
0.02% w/v. Sering digunakan dalam kombinasi dengan pengawet atau bahan tambahan
lain terutama 0.1% b/v disodium edetat, untuk meningkatkan aktivitas antimikroba
terhadap Pseudomonas.
Pemerian :putih atau putih kekuningan, amorf, higroskopis, bau aromatik yang ringan
dan berasa pahit.
pH stabil : 5 8
Kelarutan :praktis tidak larut dalam eter, sangat larut dalam aseton, etanol, (95%),
metanol, propanol dan air.
Inkompatibilitas :
Benzalkonium klorida bersifat surfaktan kationik, yang aktivitasnya akan tidak
aktif oleh sabun dan surfaktan anionik. Benzalkonium klorida tidak tercampurkan
dengan alumunium, surfaktan anionik, sitrat, kapas, fluoresin, hidrogen peroksida
hidroksipropil metilselulosa, iod, kaolin, lanolin, nitrat, surfaktan nonionik dalam
konsentrasi tinggi, permangat, protein, salisilat, garam-gram perak, sabun, sulfonamida,
tartrat, seng oksida, seng sulfat, beberapa macam karet dan plastik.
Aktivitas antimikroba :
Larutan benzalkonium klorida aktif terhadap berbagai bakteri, ragi, dan fungi.
Lebih efektif terhadap bakteri Gram positif daripada bakteri gram negatif dan kurang
efektif untuk membunuh endospora. Benzokonium klorida tidak efektif terhadap
beberapa Pseudomonas aeruginosa, Mycobacterium tuberculosis, Trichophyton
interdigitale dan T. Rubrum. Namun, bila dikombinasikan dengan disodium edetat
(0.01-0.1% b/v), benzil alkohol, phenyletanol atau phenylpropanolol aktivitasnya
terhadap Pseudomonas meningkat.
Stabilitas :

Bersifat higroskopis dan dipengaruhi oleh cahaya, air dan logam. Larutan stabil
pada pH luas dan berbagai suhu. Larutan dapat disterilkan dengan autoklaf tanpa
kehilangan efektivitas. Larutan dapat disimpan dalam waktu yang lama dalam suhu
ruang.

Nipagin / Methylis Parabenum (Excipient Hal 441)


Rumus Molekul : C8H8O3
Berat Molekul
Pemerian

: 152,15
: hablur atau serbuk tidak berwarna, atau kristal putih, tidak berbau

atau berbau khas lemah, dan mempunyai rasa sedikit panas.


Kelarutan

: mudah larut dalam etanol, eter; praktis tidak larut dalam minyak;

larut dalam 400 bagian air


OTT

: surfaktan non-ionik seperti polisorbat 80, bentonit, magnesium

trisilikat, talk, tragakan, dan sodium alginat


Kegunaan

: antifungi

Konsentrasi

: 0.020.3% untuk topical

Nipagin memiliki aktivitas antimikroba pada pH 4-8, namun efikasinya


menurun seiring dengan meningkatnya pH. Nipagin juga lebih aktif terhadap ragi dan
kapang dibandingkan terhadap bakteri, serta lebih aktif terhadap bakteri gram psitif
dibandingkan dengan bakteri gram negative. Hal ini kurang sesuai jika digunakan
untuk sediaan tetes mata kloramfenikol yang dikehendaki bersifat bakteriosatatik pada
bakteri gram positif dan gram negative. (Rowe, 2009)
Selain itu, nipagin dalam larutan berair stabil pada pH 3-6 sementara larutan
air pada pH 8 ke atas secara cepat dapat mengalami hidrolisis sehingga tidak dapat
digunakan untuk sediaan tetes mata kloramfenikol dengan pH akhir sediaan adalah 7.

Klorobutanol
Klorobutanol Stabil pada suhu kamar pada pH 5 atau kurang. Klorbutanol
dapat berpenetrasi pada wadah plastik. Konsentrasi 0,5%, larut sangat perlahan.
stabilitas klorobutanol dalam larutan baik pada pH 3 dan menurun seiring

dnegan peningkatan pH.


Fenil Merkuri Nitrat
Fenil merkuri nitrat aktif pada spektrum pH yang luas melawan bakteri dan
jamur pada larutan netral sampai alkali, serta efektif juga jika digunakan pada pH
yang sedikit asam. Fenil merkuri nitrat memang biasanya digunakan terutama untuk
sediaan optalmik. Senyawa ini memiliki aktvitas bakterisidal dan fungisidal.

Aktivitasnya akan meningkat dengan meningkatnya pH walaupun pada pH 6 ke


bawah diketahui fenil merkuri nitrat memiliki aktivitas melawan Pseudomonas
aeruginosa (Rowe et al., 2009).
Pada pembuatan sediaan tetes mata kloramfenikol ini, pada tahap akhir pembuatan
adalah filtrasi dengan menggunakan membrane filter 0,45 m. Tujuan dari filtrasi tersebut
adalah untuk sterilisasi sediaan. Digunakan sterilisasi filtrasi karena kloramfenikol tidak
tahan atau sensitif terhadap pemanasan. Dengan difiltrasi tersebut akan menghilangkan
partikel-partikel asing atau mencegah adanya partikel-partikel asing yang dapat mengiritasi
mata. Proses filtrasi dilakukan di dalam chamber LAF ( Laminar Air Flow) untuk mencegah
tambahan kontaminasi dari lingkungan saat dilakukan filtrasi. Hasil filtrasi tersebut langsung
dimasukkan ke dalam wadah yang steril.
Proses filtrasi pada sediaan dilakukan sebanyak dua kali, yaitu dengan menggunakan
kertas saring Whatman no.54 (diameter pori 0,45 m) pada proses penyaringan pertama dan
milipore filter pada proses penyaringan kedua. Milipore filter terdiri dari filter dan tabung
syringe. Filternya menggunakan membrane milipore, yaitu membrane yang terbuat dari
selulosa dengan pori yang berliku-liku dan berukuran 0,45 0,22 m. Lewatnya larutan akan
dipercepat dengan adanya tekanan dari tabung syringe. Dengan menekan syringe, larutan
akan didesak melewati membrane. Saat menekan syringe harus dilakukan dengan hati-hati
karena jika menekannya terlalu keras dapat merobek membrane.
Proses penyaringan pertama bertujuan untuk mengurangi bioburden (jumlah
mikroorganisme awal) dan pengotor serta jumlah partikel besar yang ada pada sediaan
sehingga akan dihasilkan larutan yang jernih karena tidak mengandung partikel asing. Hal ini
dikarenakan salah satu syarat sediaan tetes mata yang ditetapkan oleh Farmakope Indonesia
Edisi IV adalah jernih. Untuk proses penyaringan kedua bertujuan untuk membersihkan
sediaan dari bakteri. Hal ini dikarenakan syarat lain dari sediaan tetes mata yang ditetapkan
oleh Farmakope Indonesia Edisi IV adalah steril.
Sediaan tetes mata kloramfenikol dibuat sebanyak 10 ml. namun dalam
pembuatannya volume dilebihkan 5 ml menjadi 15 ml, hal ini digunakan untuk
mengantisipasi kehilangan volume selama pembuatan yaitu saat pelarutan dengan bantuan
pemanasan suhu < 50C dan saat penyaringan. Selain itu, juga mengantisipasi kehilangan
volume saat pemindahan dari beaker glass ke dalam wadah tetes mata. Namun kelebihan
volume yang ditambahkan adalah 0,5 ml (FI IV, 1995), sehingga jumlah sediaan yang
dimasukkan dalam wadah tetes mata adalah 10,5 ml.

Selain menggunakan metode penyaringan sediaan tetes mata kloramfenikol juga dapat
disterilisasi dengan metode panas basah atau menggunakan autoklaf. Sterilisasi
mengguanakan autoklaf dapat diakukan pada suhu yang rendah sekitar 98 100 oC selama 30
menit dengan cara katup aoutoklaf dibiarkan terbuka dengan penambahan zat bakterisida
diketahui hanya terjadi degradasi sebesar 3 - 4% sedangakan sterilisasi pada suhu 115oC
selama 30 menit, dapat mengakibatkan 10% - 15 % kloramfenikol terdegradasi (Connors
dkk., 1986).
Kloramfenikol stabil terhadap pengaruh suhu baik dalam bentuk kristal maupun
larutan. Pendidihan dalam air selama 5 jam tidak merusak aktivitas mikrobanya. Berdasarkan
hasil pengamatan praktikum dihasilkan waktu kesetimbangan sterilisasi kloramfenikol adalah
10 menit.
Kloramfenikol tidak stabil terhadap cahaya oleh karena itu untuk mencegah reaksi
fotolisis maka menggunakan wadah sediaan yang tidak tembus cahaya. Botol berwarna coklta
diketahui mampu bertindak sebagai pelindung cahaya yang paling baik.

VII. KESIMPULAN
Sediaan tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi yang digunakan
pada mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak

mata atau bola mata.


Pemilihan kloramfenikol base, karena sediaan yang dibuat ditujukan untuk

penggunaan pada mata.


Efek utama dari kloramphenikol pada sediaan tetes mata adalah sebagai antibiotik
spektrum luas dengan cara mengganggu sintesis protein dan bersifat bakteriostatik.
Pada penyakit mata digunakan untuk mengobati konjuntivis konjungtivitas. Efek
sampingnya adalah retikolopenia, anemia aplasia, gangguan penglihatan, ruam,

demam, dan angio derma.


Dapar yang dipilih dalam formulasi adalah dapar borat.
Pengawet yang dipilih adalah Fenil merkuri nitrat aktif pada
spektrum pH yang luas melawan

bakteri dan jamur pada larutan

netral sampai alkali, serta efektif juga jika digunakan pada pH yang
sedikit asam. Fenil merkuri nitrat memang biasanya digunakan
terutama untuk sediaan optalmik. Senyawa ini memiliki aktvitas
bakterisidal dan fungisidal. Aktivitasnya akan meningkat dengan

meningkatnya pH walaupun pada pH 6 ke bawah diketahui fenil

merkuri nitrat memiliki aktivitas melawan Pseudomonas aeruginosa


Pada pembuatan sediaan tetes mata kloramfenikol ini, pada tahap akhir pembuatan
adalah filtrasi dengan menggunakan membrane filter 0,45 m dan sterilisasi dengan

autoklaf pada suhu 121C selama 15 menit.


Kloramfenikol tidak stabil terhadap cahaya oleh karena itu untuk mencegah reaksi
fotolisis maka menggunakan wadah sediaan yang tidak tembus cahaya. Botol
berwarna coklta diketahui mampu bertindak sebagai pelindung cahaya yang paling
baik.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia IV. Jakarta : Departemen Kesehatan RI
Ansel, H.C, 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi ke-4. Jakarta : UI Press
Bechman, Kliegman dan Arvin, Nelson. 1996. Nelson Textbook of Pediatrics 5thedition.
Saunders Company,Philadelphia.
Connors, Kenneth A., dkk.1986. Chemical Stability of Pharmacuticals : A Hanbook of
Pharmacist. Canada : Library of Congress Cataloging in Publication Date.
Connors KA, 1992. Stabilitas Kimiawi Sediaan Farmasi. Edisi Kedua. Semarang: IKIP
Semarang Press
Lund, W., 1994, The Pharmaceutical Codex, 20th edition, PhP, London.
Voight, R., 1994, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Rowe, Raymond C, dkk.2006.Handbook of Pharmacutical Excipirnts fifth Edition. London :
Pharmacutical Press
Sweetman, S.C. 2002. Martindale : The Complete Drud Reference Ed.86 . London :
Pharmaceutical Press

Syah, Kurniawan. 2006. Uji Stabilitas Sediaan Tetes Mata Kloramfenikol Menggunakan
Dapar Fosfat Dibandingkan Sediaan Tetes Mata Kloramfenikol Menggunakan Dapar
Borat
Dengan Metode Uji Dipercepat. Univ.Padjajaran.
The departement of health, social service and public safety. 2001. British pharmacopeia. The
stationery office,london

LAMPIRAN

Penimbangan Asam Borat

Dapar
Borat
7
Larutkan
dalam
5 mlpH
larutan
fenil
merkuri nitrat, pipet 4,5 ml

Larutkan dalam 5 ml larutan fenil


merkuri nitrat

Penimbangan Borax
Penimbangan Kloramfenikol