Anda di halaman 1dari 2

II.

Tinjauan Pustaka

Kromatografi adalah proses melewatkan sampel melalui suatu kolom, perbedaan


kemampuan adsorpsi terhadap zat - zat yang sangat mirip mempengaruhi resolusi zat
terlarut dan menghasilkan apa yang disebut kromatogram (Khopkar, 2008).
Teknik kromatografi kertas diperkenalkan oleh Consden, Gordon dan Martin (1994),
yang menggunakan kertas saring sebagai penunjang fase diam. Kertas merupakan
selulosa murni yang memiliki afinitas terhadap air atau pelarut polar lainnya. Bila air
diadsorbsikan pada kertas, maka akan membentuk lapisan tipis yang dapat dianggap
analog dengan kolom. Lembaran kertas berperan sebagai penyangga dan air bertindak
sebagai fase diam yang terserap di antara struktur pori kertas. Cairan fase bergerak yang
biasanya berupa campuran dari pelarut organik dan air, akan mengalir membawa noda
cuplikan yang didepositkan pada kertas dengan kecepatan yang berbeda. Pemisahan
terjadi berdasarkan partisi masing-masing komponen di antara fase diam dan fase
bergeraknya. Kromatografi kertas digunakan baik untuk analisis kualitatif maupun
kuntitatif. Senyawa - senyawa yang dipisahkan kebanyakan bersifat sangat polar,
misalnya asam amino, gula - gula, dan pigmen - pigmen alam (Yazid, 2005).
Dalam teknik kromatografi kertas, proses pengeluaran asam mineral dari kertas disebut
desalting. Larutan ditempatkan pada kertas dengan menggunakan mikropipet pada jarak
2-3 cm dari salah satu ujung kertas dalam bentuk coretan garis horizontal. Setelah kertas
dikeringkan, diletakkan di ruang yang sudah dijenuhkan dengan air atau dengan pelarut
yang sesuai. Penjenuhan dapat dilakukan 24 jam sebelum analisis. Descending adalah
salah satu teknik di mana cairan dibiarkan bergerak menuruni kertas akibat gravitasi.
Pada teknik ascending, pelarut bergerak ke atas dengan gaya kapiler. Nilai Rf harus
sama baik pada descending maupun ascending. Sedangkan yang ketiga dikenal sebagai
cara radial atau kromatografi kertas sirkuler. Kondisi - kondisi berikut harus
diperhatikan untuk memperoleh nilai Rf yang reprodusibel. Temperatur harus
dikendalikan dalam variasi tidak boleh lebih dari 0,5oC. Kertas harus didiamkan dahulu
paling tidak 24 jam dengan atmosfer pelarutnya, agar mencapai kesetimbangan sebelum
pengaliran pelarutnya pada kertas. Dilakukan beberapa pengerjaan yang parallel, Rfnya
tidak boleh berbeda lebih dari 0,02 (Khopkar, 2008).
Prinsip kromatografi kertas adalah adsorbsi dan kepolaran, di mana adsorbsi didasarkan
pada panjang komponen dalam campuran yang diadsorbsi pada permukaan fase diam.
dan kepolaran komponen berpengaruh karena komponen akan larut dan terbawa oleh
pelarut jika memiliki kepolaran yang sama serta kecepatan migrasi pada fase diam dan
fase gerak (Yazid, 2005).

Suatu atomiser umumnya digunakan sebagai reagent penyemprot bila batas permukaan
pelarut dan zat terlarut dalam kertas ingin dibuat dapat dilihat. Atomiser yang halus
lebih disukai. Gas - gas juga dapat digunakan sebagai penanda bercak, untuk
karbohidrat notasi Rg digunakan untuk menggantikan Rf. Setelah penandaan bercak
batas permukaan, selanjutnya dapat dilakukan analisis kalorimetri atau spektroskopi
reflektansi bila sampel berupa logam. Materi yang terdapat di dalam kertas dapat
ditentukan secara langsung dengan pelarutan. Kromatografi kertas selain untuk
pemisahan dan analisis kuantitatif, juga sangat bermanfaat untuk identifikasi. Hal ini
dapat dilakukan misalkan dengan membuat grafik antara Rm terhadap jumlah kation
dalam suatu deret homolog (Khopkar, 2008).
Susunan serat kertas membentuk medium berpori yang bertindak sebagai tempat untuk
mengalirnya fase gerak. Berbagai macam kertas yang secara komersial tersedia adalah
whatman 1, 2, 31 dan 3 MM, kertas asam asetil, kertas kieselgurh, kertas silikon dan
kertas penukar ion juga digunakan. Tersedia juga kertas selulosa murni, kertas selulosa
yang dimodifikasi dan kertas serat kaca. Zat - zat hidrofobik dapat dipisahkan pada
kedua jenis kertas terakhir ini. Kertas asam asetil atau kertas silikon dapat digunakan
untuk zat - zat hidrofobik, sedangkan untuk reagent yang korosif, kertas serat kaca dapat
digunakan. Untuk memilih kertas, yang menjadi pertimbangan adalah tingkat dan
kesempurnaan pemisahan, difusivitas pembentukan spot, efek tailing dan pembentukan
komet serta laju pergerakan pelarut terutama untuk teknik descending (Khopkar, 2008).

DAPUS
Khopkar, SM. 2008. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI-Press. Jakarta.
Yazid, Estien. 2005. Kimia Fisik untuk Paramedis. ANDI. Yogyakarta.