Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU MATERIAL I

Topik

: Manipulasi resin akrilik aktivasi kimia (Cold Cured Acrylic)

Kelompok

: B12

Tgl. Praktikum: 17 Maret 2015


Pembimbing

: Helal Soekartono, drg., M. Kes.

Penyusun :
1. Daniel H.

021411131117

2. Rifatul Jannah

021411131118

3. Anis Setyaningrum 021411131119


4. Danny H.

021411131120

5. Arseto Tri B.021411131121

DEPARTEMEN MATERIAL KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2015

1.

TUJUAN
Pada akhir praktikum mahasiswa dapat memanipulasi resin akrilik,
aktivasi kimia dengan cara yang tepat sebagai bahan denture base dan bahan
reparasi, serta dapat membedakan manipulasi resin akrilik aktivasi kimia yang
digunakan sebagai denture base dan bahan reparasi.

2.

CARA KERJA
2.1 Persiapan alat
a. Alat dan bahan disiapkan.
Bahan dan alat adalah sebagai berikut :
1. Bahan :

Bubuk polimer dan cairan monomer (Pro Base).

Bubuk polimer dan cairan monomer (Hillon).

Cairan CMS.

Malam perekat.

2. Alat :

Pot porselin / mixing jar

Pipet ukur

Timbangan

Pisau malam

Plastik selopan

Kuvet logam

Press kuvet

Kuas

Mesin bur dengan mata bur

Gelas ukur

2.2 Resin akrilik aktivasi kimia sebagai bahan denture base


1.
2.

Bahan resin akrilik dan peralatan untuk packing disiapkan.


Permukaan mould diolesi secara searah dan sekitarnya dengan CMS
memakai kuas, ditunggu sampai kering.

3. Cairan monomer diukur menggunakan gelas ukur sebanyak 10 ml


(sesuaiaturan pabrik), kemudian dituangkan kedalam bowl.
4. Bubuk polimer ditimbang sebanyak 20,5 gram. Masukan polimer kedalam
bowl yang sudah terisi oleh monomer.
5. Hitung awal waktu penuangan dengan stopwatch (working time selama 2
menit). Setelah tahap dough (3-4 menit) tercapai, masukkan adonan resin
akrilik kedalam cetakan (mould).
6. Lapisi permukaan resin akrilik dengan plastik, kemudian kuvet atas
dipasang dan dilakukan pengepresan. Tuas press dipompa sampai angka
1000. Setelah pengepresan, kuvet dibuka, dan kelebihan resin akrilik
dipotong dengan menggunakan pisau malam tepat pada tepi cetakan.
7. Pada pengepresan terakhir masih menggunakan plastik, kuvet atas dan
bawah harus rapat kemudian dipindah pada press masing-masing.
8. Setelah dipres minimal 30 menit sampel diambil dari cetakan.
2.3 Resin akrilik aktivasi kimia sebagai bahan reparasi dengan teknik wet
packing
1. Bahan resin akrilik dan peralatan untuk mereparasi plat akrilik
dipersiapkan.
2. Plat akrilik diletakkan dengan sesuai pada model gip dan kemudian ujungujung plat akrilik ditaindai pada model gip.
3. Bagian yang patah pada plat akrilik diasah untuk tempat bahan reparasi.
Pengasahan dilakukan sedimikian rupa pada sisi yang tidak menempel gip
sehingga ujung daerah patahan menjadi tajama tau berbentuk V. Sisi
yang terkena gip tidak diasah. Seperti ilustrasi di bawah.

4. Plat akrilik diletakkan dengan sesuai kembali pada model gip dengan
bantuan tanda yang telah dibuat.
5. Permukaan model gip di bawah garis patah akrilik dan sekitarnya yang
kemungkinan akan terkena resin akrilik diolesi CMS kemudian ditunggu
kering. Pengolesan CMS dilakukan dengan sekali olesan untuk tiap
daerah. Jika akan dilakukan olesan tambahan, tunggu olesan CMS
sebelumnya kering terlebih dahulu kemudian baru oleskan tambahan
CMS.
6. Bubuk polimer dimasukkan kedalam pot aduk, kemudian cairan monomer
dituangkan hingga monomer dan polimer tercampur rata.
7. Adonan akrilik diambil kemudian diletakkan pada bagian yang patah dan
telah diasah lalu diratakan sehingga semua bagian yang patah tertutupi
adonan.
8. Sampel yang telah direparasi dimasukkan kedalam air selama 20 menit.
2.4 Resin akrilik aktivasi kimia sebagai bahan reparasi dengan teknik salt
and pepper
1. Disiapkan bahan resin akrilik dan peralatan untuk reparasi
2. Fragmen akrilik diletakkan dan disesuaikan pada model gip kemudian
ujung-ujung plat akrilik yang patah ditandai pada model gip dengan
spidol.
3. Sampel pada bagian patah diasah sebagai tempat untuk bahan reparasi.

4. Sampel dimasukan ke mould, disesuaikan tanda pada akrilik dan pada


permukaan gip.
5. Pada permukaan model gip tepat di bawah garis patahan akrilik dan
sekitarnya diolesi CMS memakai kuas dan ditunggu sampai kering.
6. Bahan reparasi pada daerah fraktur diaplikasi menggunakan tekniksalt
and pepper.
7. Pada bagian fraktur yang sudah dibasahi dengan monomer, kemudian
diberi polimer, selanjutnya diberi monomer lagi sampai daerah tersebut
penuh dengan bahan reparasi tersebut.
8. Sampel yang telah direparasi dimasukan kedalam air selama 20 menit.
3. HASIL PRAKTIKUM
3.1 Resin akrilik aktivasi kimia salt and pepper dan wet packing

Gambar di atas merupakan hasil praktikum pada percobaan


pembuatan bahan repasasi resin akrilik dengan teknik salt and pepper dan
wet packing. Adonan akrilik yang dibuat telah menutupi plat akrilik yang
sebelumnya fraktur. Dengan teknik salt and pepper maupun wet packing,
menunjukkan hasil akhir yang sama.

3.2 Resin akrilik aktivasi kimia sebagai bahan denture base

Gambar di atas merupakan hasil praktikum pada percobaan pembuatan resin


akrilik sebagai denture base yang mengalami pengerasan lebih cepat karena
berbagai faktor sehingga membuat sisa adonan setelah pengepresan pertama
sudah mengeras dan harus dipotong dengan bor.
4. TINJAUAN PUSTAKA
Resin Akrilik
Aktivasi polimerisasi resin akrilik bisa dengan heat, microwave, atau cold
cure. Pada heat cure, energi panas menyebabkan pembusukan benzoil peroksida,
dan pembentukan radikal bebas sehingga memulai proses polimerisasi. Cold cure
(aktivasi kimia) dapat dilakukan pada suhu kamar. Aktivasi kimia berlangsung
karena

tambahan

tertiary

amine

seperti

dimethyl-para-toluidine.

Pada

pencampuran polimer dan monomer, tertiary amine menyebabkan pembusukan


benzoil peroksida sehingga terbentuk radikal bebas dan memulai proses
polimerisasi. Proses polimerisasi selanjutnya sama dengan heat cure (Anusavice
et al. 2012, hal. 483 )

Table: Composition of acrylic denture base materials.


Powder

Polymer

Polymethyl methacrylate beads

Initiator

A peroxide

such

as

benzoyl

peroxide

(approximately 0.5%)

Liquid

Pigments

Salts of cadmium or iron or organic dyes

Monomer

Methyl methacrylate

Cross-linking agent

Ethylene

glycol

dimethacrylate

(approximately 10%)
Inhibitor
Activator

N-dimethyl-p-toluidine

(approximately

1%)
* Only in self-curing materials.
Sumber: McCabe and Walls 2008, hal. 113
Cold cure resin akrilik memiliki working time yang cukup singkat serta
memiliki sifat mekanis yang rendah dan monomer sisa yang tinggi sehingga
penggunaannya terbatas, seperti repairing dan relining of denture. Beberapa cold
cure resin akrilik yang dikenal sebagai pourable resins kadang digunakan sebagai
basis konstruksi denture (McCabe and Walls 2008, hal. 116 ).
Pada cold cure resin akrilik, derajat polimerisasi tidak sesempurna heat cure
sehingga terdapat sejumlah besar monomer yang tidak bereaksi. Monomer ini
dapat berperan menjadi plasticizer yang mengurangi kekuatan denture resin dan
membahayakan biokompatibilitas denture resin dengan jaringan mulut. Selain itu,
stabilitas warna cold cure resin akrilik lebih rendah daripada heat cure
dikarenakan adanya tertiary amine yang teroksidasi sehingga terjadi perubahan
warna. Perubahan warna ini dapat dikurangi dengan penambahan

stabilizing

agent. Meskipun demikian, cold cure resin akrilik memberikan shrinkage yang
lebih kecil daripada heat cure sehingga memiliki akurasi dimensi yang tinggi
(Anusavice et al. 2012, hal. 483 ).
Pencampuran bubuk (polimer) dengan cairan (monomer) melalui 5 fase,
sandy, stringy, doughlike, rubbery dan stiff.
a. Sandy

:Terjadi sedikit atau tidak ada sama sekali

interaksi molekul.

b. Stringy : Polimer menyerap monomer. Beberapa


ikatan polimer terpecah akibat absorbs monomer
sehingga viskositas meningkat.
c. Doughlike

: Campuran berbentuk seperti adonan

lunak dan tidak lengket pada mangkok atau spatula.


Pada fase ini sebaiknya adonan dimasukkan ke
dalam mould (working time). Fase ini tidak bertahan
lama (1 menit - 2 menit), maka dari itu diperlukan
cara kerja yang cepat dan hati-hati. Karena working
time yang singkat pada cold cure resin akrilik, hal ini
bisa

diperpanjang

dengan

cara

mendinginkan

monomer / mixing vessel dalam lemari es sebelum


proses pencampuran. Ketika pencampuran, proses
polimerisasi melambat sehingga fase dough resin
menjadi lebih lama dan working time menjadi lebih
panjang.
d. Rubbery : Monomer sisa menguap dan monomer
semakin masuk dalam butir polimer. Massa tidak
lagi flowable untuk mengambil bentuk dari cetakan.
e. Stiff

: Massa dibiarkan dalam waktu yang lama

dan akan memasuki fase stiff (kaku). Menandakan


penguapan dari monomer yang tidak bereaksi.
Massa terlihat sangat kering dan tahan terhadap
perubahan mekanis (Anusavice at al 2012, hal. 478).

5. PEMBAHASAN
Percobaan pertama

Pada percobaan pertama dilakukan terhadap akrilik yang fraktur. Pada


percobaan ini teknik yang digunakan adalah salt and pepper.
Pada cold cure resin akrilik, derajat polimerisasi tidak sesempurna heat
cure sehingga terdapat sejumlah besar monomer yang tidak bereaksi. Monomer
ini dapat berperan menjadi plasticizer yang mengurangi kekuatan denture resin
dan membahayakan biokompatibilitas denture resin dengan jaringan mulut
(Anusavice et al. 2012, hal. 483 ).
Pigmen berwarna merah muda pada denture base resins adalah garam
cadmium.

Kekhawatiran

bagaimanapun,

terhadap

toksisitas

mengarahkan kepada

dari

senyawa

cadmium,

bahan pengganti garam cadmium

dengan bahan yang lebih aman lainnya (McCabe and Walls 2008, hal. 112).
Berdasarkan teori di atas yang menyebutkan resin akrilik bersifat toksik,
sebelum dilakukan penuangan adonan akrilik ke plat yang fraktur dilakukan
grinding terlebih dahulu. Grinding dilakukan pada akrilik dibuat sebagaimana
mungkin tidak menghasilkan permukaan yang lebar seperti pada gambar
berikut.

Hal ini dimaksudkan agar resin akrilik yang digunakan tidak terlalu
banyak karena sifatnya yang sangat toksik sehingga menekan risiko buruk
terhadap kesehatan.

Percobaan kedua
Pada percobaan kedua teknik yang digunakan adalah wet packing.
Perbedaan teknik ini dengan teknik salt and pepper adalah pada pencampuran
adonannya. Teknik wet and packing pencampuran monomer dan polimer
dilakukan di suatu wadah sedangkan teknik salt and pepper langsung
dilakukan di daerah frakturnya.
Percobaan ketiga
Pada percobaan satu, menggunakan resin self-cured dengan merek ProBased. Pada percobaan satu hanya dilihat bagaimana proses manipulasi dan
curing, finishing dan polishing dari akrilik dengan sistem self-curing. Termasuk
mengetahui working time resin ini sekitar 3-4 menit.

Percobaan kali ini

digunakan perbandingan powder dan liquid dari aturan pabrik, yaitu 20,5:10
karena akan dibuat denture base lengkap.
Kami mendapatkan adonan akrilik mengeras lebih cepat setelah
pengepresan pertama sehingga sisa adonan harus dipotong menggunakan mata
bor. Hal ini dikarenakan pengamat melakukan kesalahan dan keragu-raguan
dalam mengidentifikasi waktu fase dough adonan yang kemudian akan
langsung dipres sehingga mengalami keterlambatan dan adonan mengeras lebih
cepat.
Polimer dan monomer dipasok dalam bentuk bubuk dan cairan. Komponen
tersebut diaduk sesuai pabrik dan dibiarkan sampai memperoleh konsistensi
seperti adonan.Waktu kerja untuk resin akrilik yang diaktivasi secara kimia
adalah lebih pendek dibandingkan bahan yang diaktivasi secara panas.
Karenanya harus diperhatikan konsistensi bahan dan kecepatan polimerisasi.
Periodeinisiasi yang panjang diinginkan karena memberi waktu yang cukup
untuk penekanan (trial closure). Satu metode untuk memperpanjang inisiasi
adalah dengan menurunkan temperature massa resin. Ini dapat dicapai dengan
memasukkan kedalam lemari es komponen cair atau alat pengaduk sebelum
proses pengadukan. Ketika bubuk dan cairan diaduk, kecepatan proses

polimerisasi menurun. Sebagai akibatnya, massa resin tetap dalam tahap


menyerupai adonan untuk periode yang lebih panjang dan waktu kerja
meningkat (Anusavice at al 2004, hal. 208-209).
Bedasarkan hal tersebut faktor lain yang mempengaruhi kecepatan
pengerasan adonan akrilik adalah temperatur. Pabrik pembuat akrilik
menginstrusikan pembuatan adonan pada suhu 23oC, akan tetapi pembuatan
adonan dilakukan pada suhu ruangan 26,05oC sehingga pengerasan terjadi
lebih cepat dari waktu yang diinstruksikan oleh pabrik pembuatnya.
6. SIMPULAN
Manipulasi resin akrilik cold cured dapat sebagai bahan denture base dan
sebagai bahan reparasi. Sebagai bahan reparasi teknik manipulasinya dapat
dilakukan dengan dua cara yaitu, Salt and Pepper dan Wet Packing. Proses
manipulasi ini tidak membutuhkan waktu yang cukup lama, namun resin
akrilik ini tidak tahan lama. Penggunaan resin akrilik cold cured tidak boleh
terlalu banyak karena bahan resin akrilik ini bersifat toksik dan berbahaya di
dalam rongga mulut.

7. DAFTAR PUSTAKA
Anusavice, KJ 2012, Phillips Science of Dental Materia, 12th ed., W.B
Saunders, p. 478 and 483

Anusavice, KJ 2004, Phillips Science of Dental Materia, 9th ed., W.B


Saunders, p. 212
McCabe JF, and Walls AWG, 2008, Applied Dental Materials, 9th ed.,
Australia, Blackwell Publishing L.td, p. 112-113 and 116