Anda di halaman 1dari 13

A.

Pemeriksaan Hitung Jumlah Leukosit


1. Pengertian Leukosit
Leukosit berasal dari bahasa Yunani yaitu leukos yang berarti putih dan kytos yang
berarti sel. Leukosit merupakan unit yang aktif dari sistem pertahanan tubuh yang terdiri dari
neutrofil, eosinofil, basofil, monosit, dan limfosit (Guyton 2008). Leukosit adalah sel darah
yang mengandung inti, disebut juga sel darah putih (Effendi 2003), bergerak bebas secara
ameboid, berfungsi melawan kuman secara fagositosis, dibentuk oleh jaringan retikulo
endothelium disumsum tulang untuk granulosit dan kelenjar limpha untuk agranulosit (LIPI,
2009).
Setelah dibentuk, sel-sel leukosit diangkut dalam darah menuju berbagai bagian
tubuh untuk digunakan. Fungsi leukosit adalah sebagai pertahanan tubuh untuk melawan
benda asing yang masuk ke dalam tubuh.Granulosit dan monosit melindungi tubuh terhadap
organisme penyerang terutama dengan cara mencernanya, yaitu melalui fagositosis. Fungsi
utama limfosit dan sel-sel plasma berhubungan dengan sistem imun yaitu produksi antibodi
(Guyton 2008).
Kondisi yang berubah setiap saat akan mengakibatkan perubahan fisiologis yang akan
berakibat juga pada perubahan nilai hematologi. Sebagai contoh, manusia yang terkena
infeksi bakteri secara akut akan memperlihatkan perubahan suhu tubuh. Perubahan ini akibat
aktivitas sistem kekebalan tubuh yang bekerja melawan agen penyakit. Jikadilihat dari nilai
hematologi, jumlah leukosit dalam darah akan mengalami peningkatan (Maruf et al. 2005).
Respon leukosit muncul pada keadaan fisiologis normal dan patologis.Manifestasi
respon leukosit berupa penurunan atau peningkatan salahsatu atau beberapa jenis sel
leukosit.Informasi ini dapat memberikan petunjuk terhadap kehadiran suatu penyakit dan
membantu dalam diagnosa penyakit yang diakibatkan oleh agen tertentu (Jain, 1993).
Diferensiasi leukosit sangat bermanfaat, tidak hanya untuk mengetahui persentase
leukosit tetapi juga memberikan informasi patogenesa suatu abnormalitas.Pemeriksaan
preparat ulas darah memberikan informasi lebih lanjut mengenai morfologi sel eritrosit,
leukosit, dan trombosit (Mills, 1998).
Berdasarkan ada atau tidaknya granul dalam sitoplasma hasil pewarnaan, leukosit
dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu granulosit dan agranulosit (Colville & Bassert
2008). Leukosit granulosit memiliki butir khas dan jelas dalam sitoplasma, sedangkan
agranulosit tidak memiliki butir khas dalam sitoplasma (Junqueira & Caneiro 2005).
2. Macam-macam Leukosit
Macam-macam sel leukosit adalah :
1. Neutrofil

Neutrofil disebut juga sebagai polimorfonuklear (PMN), karena inti memiliki


berbagai jenis bentuk dan bersegmen (Tizard 2000).Neutrofil berupa sel bundar dengan
diameter 12 m, memiliki sitoplasma yang bergranula halus dan di tengah terdapat nukleus
bersegmen. Neutrofil matang/dewasa yang berada dalam peredaran darah perifer memiliki
bentuk inti yang terdiri dari dua sampai lima segmen, sedangkan neutrofil yang belum
matang (neutrofil band) akan memiliki bentuk inti seperti ladam kuda (Colville & Bassert
2008).
Menurut Junqueira dan Caneiro (2005), neutrofil dikenal sebagai garis pertahanan
pertama (first line of defense). Neutrofil bersama dengan makrofag memiliki kemampuan
fagositosis untuk menelan organisme patogen dan sel debris (Lee et al. 2003). Neutrofil
merupakan sistem imun bawaan, dapat memfagositosis dan membunuh bakteri. Neutrofil
akan mengejar organisme patogen dengan gerakan kemotaksis (Weineret al. 1999).
Kemampuan neutrofil untuk membunuh bakteri berasal dari enzim yang terkandung dalam
granul yangdapat menghancurkan bakteri maupun virus yang sedang difagosit.Granul
neutrofil tersebut sering disebut dengan lisosom (Colville & Basster 2008).
Neutrofil diproduksi di dalam sumsum tulang bersamaan dengan sel granulosit
lainnya, kemudian bersirkulasi atau disimpan dalam depo marginal neutrofil setelah 4-6 hari
masa produksi. Neutrofil segera akan mati setelah melakukan fagosit terhadap agen penyakit
dan akan dicerna oleh enzim lisosom, kemudian neutrofil akan mengalami autolisis yang
akan melepaskan zat-zat degradasi yang masuk ke dalam jaringan limfe. Jaringan limfe akan
merespon dengan mensekresikan histamin dan faktor leukopoietik yang akan merangsang
sumsum tulang untuk melepaskan neutrofil muda untuk melawan infeksi (Dellman & Brown
1992).
Penyakit yang disebabkan oleh agen bakteri, pada umumnya menyebabkan
peningkatan jumlah neutrofil dan akan tampak neutrofil muda. Jumlah neutrofil di dalam
darah dipengaruhi oleh tingkat granulopoiesis, laju aliran sel darah dari sumsum tulang,
pertukaran antar sel di dalam sirkulasi dan depo marginal, masa hidup dalam sirkulasi dan
laju aliran sirkulasi darah menuju jaringan (Jain 1993).
2. Eosinofil
Eosinofil merupakan nama yang diberikan oleh Ehrlich yang didasarkan pada afinitas
sel terhadap pewarnaan anionik, seperti eosin (Hirsch & Hirsch 1980). Menurut Weiss dan
Wardrop (2010), sel ini memiliki kemampuan melawan parasit cacing, dan bersamaan dengan
basofil atau sel mast sebagai mediator peradangan dan memiliki potensi untuk merusak
jaringan inang.Eosinofil juga penting sebagai imunitas dapatan, bawaan, pembentukan
jaringan, dan perkembangan biologi.Eosinofil adalah sel multifungsi yang memegang
peranan fisiologis, dan merupakan fungsi eosinofil untuk melakukan fagositosis selektif
terhadap kompleks antigen dan antibodi. Eosinofil mengandung profibrinolisin, diduga
berperan mempertahankan darah dari pembekuan. Kortikosteroid akan menimbulkan
penurunan jumlah eosinofil darah dengan cepat (Effendi 2003).

Menurut Junqueira dan Caneiro (2005), eosinofil berdiameter 10-15 m, inti


bergelambir dua, sitoplasma dikelilingi butir-butir asidofil yang cukup besar berukuran 0.51.0 m, dengan jangka waktu hidup berkisar antara tiga sampai lima hari. Eosinofil berperan
aktif dalam mengatur alergi akut dan proses perbarahan, investasi parasit, memfagosit
bakteri, memfagosit antigen-antibodi kompleks, memfagosit mikoplasma dan memfagosit
ragi.
3. Basofil
Proses pematangan basofil terjadi di dalam sumsum tulang dalam waktu sekitar 2.5
hari. Basofil akan beredar dalam aliran darah dalam waktu yang singkat ( 6 jam) tetapi
dalam jaringan dapat hidup selama 2 minggu (Hirai et al. 1997). Basofil akan masuk ke
dalam jaringan sebagai respon terhadap inflamasi (Jain 1993).
Menurut Junqueira dan Caneiro (2005), basofil berdiameter 10-12 m, dengan inti
dua gelambir atau bentuk inti tidak beraturan.Granul basofil mengandung heparin, histamin,
asam hialuron, kondroitin sulfat, seroton, dan beberapa faktor kemotaktik.
Sel mast dan basofil berperan pada beberapa tipe reaksi alergi, karena tipe antibodi
yang menyebabkan reaksi alergi, yaitu Immunoglobulin E (IgE) mempunyai kecenderungan
khusus untuk melekat pada sel mast dan basofil (Guyton 2008). Bukti keterlibatan basofil
dalam reaksi alergi yaitu timbulnya kondisi rinitis, urtikaria, asma, alergi,konjungtivitis,
gastritis akibat alergi, dananafilaksis akibat induksi obat atau induksi gigitan serangga
(Casolaro et al. 1990).
4. Monosit
Monosit adalah leukosit berukuran terbesar, berdiameter 15-20 m denganpopulasi
berkisar antara 3-9% dari jumlah leukosit total. Sitoplasma monosit berwarna biru abu-abu
pucat dan berinti lonjong seperti ginjal atau tapal kuda (Junqueira & Caneiro 2005).Monosit
dibentuk di sumsum tulang, dan setelah dewasa akan bermigrasi dari darah ke jaringan
perifer. Monosit akan berdiferensiasi menjadi berbagai subtipe jaringan tergantung dari
proses inflamasi yang terjadi. Makrofag di jaringan antara lain sel Kupfer, makrofag
alveolar, sel mikroglia, dan osteoklas (Sharma 1986).
Fungsi monosit adalah 1) membersihkan sel debris yang dihasilkan dari proses
peradangan atau infeksi, 2) memproses beberapa antigen yang menempel pada membran sel
limfosit menjadi lebih antigenik sehingga dapat mudah dicerna oleh monosit dan makrofag,
3) menghancurkan zat asing yang masuk ke dalam tubuh (Colville & Bassert 2008).
5. Limfosit
Limfosit adalah leukosit jenis agranulosit yang mempunyai ukuran dan bentuk yang
bervariasi.Limfosit merupakan satu-satunya jenis leukosit yang tidak memiliki kemampuan
fagositik.Pengamatan pada sediaan ulas yang diwarnai, dapat dibedakan terhadap adanya

limfosit besar dan limfosit kecil.Limfosit kecil berdiameter 6-9 m, inti besar dan kuat
mengambil zat warna, dikelilingi sedikit sitoplasma yang berwarna biru pucat.Limfosit besar
berdiameter 12-15 m, memiliki lebih banyak sitoplasma, inti lebih besar dan sedikit lebih
pucat dibandingkan dengan limfosit kecil (Junqueira & Caneiro 2005).
Limfosit memiliki fungsi utama yaitu memproduksi antibodi sebagai respon terhadap
benda asing yang difagosit makrofag (Tizard 2000). Kebanyakan sel limfosit berada pada
jaringan limfoid dan akan bersirkulasi kembali secara konstan ke pembuluh darah (Colville &
Bassert 2008).
Limfosit dapat digolongkan menjadi dua yaitu limfosit B dan limfosit T. Sel limfosit
B akan berdiferensiasi menjadi sel plasma yang berperan dalam respon imunitas humoral
untuk memproduksi antibodi, sedangkan limfosit T akan berperan dalam respon imunitas
seluler (Junqueira & Caneiro 2005).
Jenis dan fungsi leukosit secara ringkas disajikan dalam tabel dibawah ini (Guyton,
2008)

% dalam
Tipe

Gambar

Diagram

tubuh

Keterangan

manusia
Neutrofil berhubungan dengan pertahanan tubuh

Neutrofil

65%

Eosinofil

4%

terhadap infeksi bakteri serta proses peradangan


kecil lainnya, serta biasanya juga yang memberikan
tanggapan pertama terhadap infeksi bakteri; aktivitas
dan matinya neutrofil dalam jumlah yang banyak
menyebabkan adanya nanah.

Eosinofil terutama dengan infeksi parasit,dengan


demikian meningkatnya eosinofil menandakan
banyaknya parasit.

Basofil terutama bertanggung jawab untuk memberi

Basofil

<1%

reaksi alergi dan antigen dengan jalan


mengeluarkan histamin kimia yang
menyebabkan peradangan.

Limfosit lebih umum dalam sistem limfa. Darah


mempunyai tiga jenis limfosit:

Limfosit

25%

Sel B :
Sel B membuat antibodi yang mengikat patogen
lalu menghancurkannya.
(Sel B tidak hanya membuat antibodi yang dapat
mengikat patogen, tapi setelah adanya serangan,
beberapa sel B akan mempertahankan
kemampuannya dalam menghasilkan antibodi
sebagai layanan sistem 'memori'.)
Sel T:
CD4+ (pembantu) Sel T mengkoordinir tanggapan
ketahanan (yang bertahan dalam infeksi HIV) sarta
penting untuk menahan bakteri intraseluler.
CD8+ (sitotoksik) dapat membunuh sel yang
terinfeksi virus.
Sel natural killer:
Sel pembunuh alami (natural killer, NK) dapat
membunuh sel tubuh yang tidak menunjukkan
sinyal bahwa dia tidak boleh dibunuh karena telah
terinfeksivirus atau telah menjadi kanker.

Monosit

6%

Makrofa
g

(lihat
atas)

Monosit membagi
fungsi
"pembersih
vakum"
(fagositosis) dari neutrofil, tetapi lebih jauh dia hidup
dengan
tugas
tambahan:
memberikan
potongan patogen kepada sel T sehingga patogen
tersebut dapat dihafal dan dibunuh, atau dapat
membuat tanggapan antibodi untuk menjaga.

di

Monosit dikenal juga sebagai makrofag setelah dia


meninggalkan aliran darah serta masuk ke dalam
jaringan.

3. Pemeriksaan Hitung Leukosit


Pemeriksaan hitung sel darah terutama leukosit dan trombosit banyak diminta di
klinik. Hal ini disebabkan oleh makin meningkatnya kebutuhan akan data tersebut dalam
upaya membantu membuat diagnosa. Dengan meningkatnya permintaan pemeriksaan hitung
sel darah maka pemeriksaan hitung sel secara manual tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan
tersebut.Oleh karena itu dibuatlah alat hitung sel otomatis. Dengan alat hitung sel otomatis
maka perhitungan sel menjadi lebih mudah, cepat, dan teliti di bandingkan dengan cara
manual. Walaupun demikian hitung sel secara manual masiah dipertahankan. Hal ini
disebabkan hitung sel darah cara manual masih merupakan metode rujukan.Keuntungan lain
ialah hitung sel cara manual dapat dilakukan di laboratorium yang tidak ada aliran listrik.
Disamping itu harga sebuah alat hitung sel otomatis cukup mahal (Arjatmotjokronegoro,
1996).

Sel darah putih atau leukosit adalah sel lain yang terdapat dalam darah dengan
fungsinya yang berbeda dari eritrosit. Sel darah putih atau leukosit ini umumnya berperan
dalam mempertahankan tubuh terhadap penyusupan benda asing yang dipandang mempunyai
kemungkinan untuk mendatangkan bahaya bagi kelangsungan hidup individu (Sadikin,
2002).
Menghitung sel-sel darah dari ketiga jenis sel darah leukosit, eritrosit, dan trombosit
dihitung jumlahnya persatuan volume darah. Upaya itu biasanya dilakukan dengan
menggunakan alat hitung elektronik. Pada dasarnya alat semacam itu yang lazimnya dipakai
bersama alat pengencer otomatik memberi hasil yang sangat teliti dan tepat. Harga alat
penghitung elektronik mahal dan mengharuskan pemakaian dan pemeliharaan yang sangat
cermat. Selain itu perlu ada upaya untuk menjamin tepatnya alat itu bekerja dalam satu
program jaminan mutu (quality control). Cara-cara menghitung sel darah secara manual
dengan memakai pipet dan kamar hitung tetap menjadi upaya dalam laboratorium
(Gandasoebrata, R. 2007).
Pada hitung jumlah leukosit cara automatik sampel yang digunakan sangat sedikit dan
ada kemungkinan kesalahan dalam pengenceran dan sampling. Karena darah mengandung
lebih sedikit leukosit dibanding eritrosit, pengencerannya lebih kecil dan volume sampel yang
digunakan lebih besar. Hampir semua laboratorium besar menggunakan cara automatik untuk
menghitung leukosit, baik dengan cara menghitung partikel secara elektronik maupun dengan
prinsip pembauran cahaya, yang disebut dengan prinsip impedensi elektrik yaitu metode
impedansi untuk penentuan WBC (White Blood Cell) (Mindray. 2006). Akan tetapi cara
manual dengan menggunakan haemositometer masih tetap dapat dipercaya bila dilakukan
dengan teliti (Widman, 1995).
Terdapat dua cara untuk menghitung leukosit dalam darah tepi. Yang pertama adalah
cara manual dengan memakai pipet leukosit, kamar hitung dan mikroskop. Cara kedua adalah
cara semi automatik dengan memakai alat elektronik. Cara kedua ini lebih unggul dari cara
pertama karena tekniknya lebih mudah, waktu yang diperlukan lebih singkat dan
kesalahannya lebih kecil yaitu 2%, sedang pada cara pertama kesalahannya sampai
10%. (Richard, 2008).
Keburukan cara kedua adalah harga alat mahal dan sulit untuk memperoleh reagen
karena belum banyak laboratorium di Indonesia yang memakai alat ini. Jumlah leukosit
dipengaruhi oleh umur, penyimpangan dari keadaan asal dan lain-lain. Pada bayi baru lahir
jumlah leukosit tinggi, sekitar 10.00030.000/l. Jumlah leukosit tertinggi pada bayi umur 12
jam yaitu antara 13.000 38.000 /l. Setelah itu jumlah leukosit turun secara bertahap dan
pada umur 21 tahun jumlah leukosit berkisar antara 4500 11.000/ l. Pada keadaan asal
jumlah leukosit pada orang dewasa berkisar antara 5000 10.0004/1. Jumlah leukosit
meningkat setelah melakukan aktifitas fisik yang sedang,tetapi jarang lebih dari 11.000/l.
(Richard, 2008)
Hitung leukosit menyatakan jumlah sel-sel leukosit perliter darah (System
International Units = SI unit) atau per satu mmk darah. Nilai normalnya 4000 - 11000 / mmk.
Untuk penerapan hitung leukosit ada dua metode, manual dan elektronik. Pada umumnya

metode elektronik belum digunakan secara umum, mungkin baru di laboratorium besar,
sehingga cara manual masih memegang peranan penting. Metode elektronik tidak
dibicarakan.
(Richard,
2008).

Hasil dan Pembahasan


Pemeriksaan Hitung Jumlah Leukosit
Praktikum perhitungan jumlah leukosit menggunakan alat-alat :
Hemositometer :
Kaca penutup.
Mikroskop.

-Bilik hitung Neubauer Improved/ Burker


-Pipet Leukosit.

Gambar Bilik Hitung Burker


Bilik hitung terbaik untuk pemeriksaan jumlah leukosit adalah bilik hitung Neubauer
Improved atau Burker karena mempunyai daerah perhitungan yang luas.
Neubauer Improved :
Luas seluruh bilik = 3 x 3 mm2.
Didalam bilik terdapat :
Kotak besar : 1 x 1 mm2.
Kotak sedang ada 2 macam :
Ditengah : 1/5 x 1/5 mm2.
Di empat sudut : x mm2.
Kotak kecil
: 1/20 x 1/20 mm2.
Tinggi / dalam : 0,1 mm.
Kotak sedang :
W
: Leukosit ( 1,3,7,9 ) : x mm2.
R
: Eritrosit ( 5 )
: 1/5 x 1/5 mm2.
Pada bilik hitung Neubauer Improved, perhitungan dilakukan pada kotak sedang nomor 7,

Gambar pengamatan
Pada percobaan mengenai hitung jumlah leukosit digunakan darah yang diambil dari
vena. Darah ini diambil dari pasien wanita dewasa Rumah Sakit Margono Purwokerto yang
tidak diketahui namanya. Darah vena yang telah diambil telah dicampurkan dengan EDTA
yang merupakan antikoagulan sehingga darah tidak mengalami pembekuan. Setelah itu darah
dimasukkan ke dalam pipet leukosit sampai garis tanda 1 tepat untuk kemudian ditambahkan
larutan turk sampai pada garis tanda 11 pada pipet. Larutan Turk adalah perpaduan antara
asam asetat glacial 1 % dan gentian violet 1 %. Karena leukosit bersifat tetap stabil dalam
larutan asam hingga kadar 3 %, asam asetat glacial digunakan untuk hemolisis eritrosit.
Sedangkan gentian violet digunakan untuk mewarnai leukosit (Harald Theml, 2004).
Larutan turk dan darah didalam pipet leukosit harus dikocok selama 15-30 detik
terlebih dahulu sebelum digunakan agar larutan turk dan darah benar-benar tercampur dengan
rata, setelah itu campuran antara larutan turk dengan darah diteteskan ( 3 tetes) dibuang
setelah itu baru diteteskan ke dalam kamar hitung (bilik hitung) selanjutnya segera dilakukan
perhitungan yang dilakukan di kamar hitung. Perhitungan dilakukan dengan cara melihat

bilik hitung dalam mikroskop dengan perbesaran 40 x. Perhitungan dilakukan secara teratur
mulai dari kiri ke kanan kemudian dari kanan ke kiri, membentuk alur gelombang agar tidak
terjadi pengulangan hitungan pada kamar hitung.
Urutan perhitungan jumlah leukosit, memutar seperti ular
1
2
3
8
7
6
9
10
11
16
15
14
Setelah melakukan perhitungan terhadap
leukosit pasien adalah

4
5
12
13
jumlah leukosit didapatkan hasil bahwa jumlah

2
11
2
4
Total : 109

6
9
12
9

5
8
5
5

8
7
9
7

Pengenceran = 10 x ( dalam pipet leukosit darah sampai angka 1)


Perhitungan :
Jumlah Leukosit =

Jumlahleukosit
16 X 10 ( tinggi bilik hitung ) X 10( pengenceran)
Jumlah kotak

Jumlah Leukosit =

109
16 X 10 ( tinggi bilik hitung ) X 10( pengenceran)
16
= 10.900 /L darah

perhitungan terhadap jumlah leukosit didapatkan hasil bahwa jumlah leukosit pasien adalah
10.900/L darah, jumlah ini sesuai dengan referensi jumlah leukosit normal pada orang
dewasa sebanyak 4.000 11.000 sel/L darah (Ganong, 2002).
Nilai rujukan menurut Dacie : (Dacie, 1992)
Dewasa pria

: 4 11 ribu / mm3.

Dewasa wanita

: 4 11 ribu / mm3.

Bayi

: 10 25 ribu / mm3.

1 tahun

12 tahun

: 4,5 13 ribu / mm3.

6 18 ribu / mm3.

Interpretasi = darah normal karena masuk rentang normal jumlah leukosit dewasa wanita (4
11 ribu / mm3 ) (Dacie,1992)
Keadaan dimana jumlah leukosit lebih dari normal disebut leukositosis. Keadaan
leukositosis karena jumlah leukositnya lebih dari nilai rujukan (Miale,1972). Meningkatnya
jumlah leukosit pada keadaan tubuh yang sakit berkaitan erat dengan fungsinya (Maruf et al.
2005) sebagai pertahanan tubuh untuk melawan benda asing yang masuk ke dalam tubuh
(Guyton 2008).
Keadaan dimana jumlah leukosit kurang dari normal disebut leukopenia. Leukopenia
adalah kondisi klinis yang terjadi bila sumsum tulang memproduksi sangat sedikit sel darah
putih sehingga tubuh tidak terlindung terhadap banyak bakteri dan agen-agen lain yang
mungkin masuk mengenai jaringan (Guyton, 2008).
Leukositosis
Jumlah leukosit dipengaruhi oleh umur, penyimpangan dari keadaan basal dan lainlain . Pada bayi baru lahir jumlah leukosit tinggi, sekitar 10.00030.000/l. Jumlah leukosit
tertinggi pada bayi umur 12 jam yaitu antara 13.000 38.000 /l. Setelah itu jumlah
leukosit turun secara bertahap dan pada umur 21 tahun jumlah leukosit berkisar antara 4500
11.000/l. Pada keadaan basal jumlah leukosit pada orang dewasa berkisar antara 5000
10.000/1. Jumlah leukosit meningkat setelah melakukan aktifitas fisik yang sedang, tetapi
jarang lebih dari 11.000/l. Bila jumlah leukosit lebih dari nilai rujukan, maka keadaan
tersebut

disebut

leukositosis.Leukositosis

dapat

terjadi

secara

fisiologik

maupun

patologik.Leukositosis yang fisiologik dijumpai pada kerja fisik yang berat, gangguan emosi,
kejang, takhikardi paroksismal, partus dan haid.Derajat peningkatan leukosit pada infeksi
akut tergantung dari beratnya infeksi, usia, daya tahan tubuh, efisiensi sumsum tulang
(Miale,1972).
Leukositosis yang terjadi sebagai akibat peningkatan yang seimbang dari masingmasing jenis sel, disebutbalanced leokocytosis. Keadaan ini jarang terjadi dan dapat dijumpai
pada hemokonsentrasi.Yang lebih sering dijumpai adalah leukositosis yang disebabkan
peningkatan

dari

salah

satu

jenis

leukosit

sehingga

timbul

istilah neutrophilic

leukocytosis atau netrofilia, lymphocytic leukocytosis atau limfositosis, eosinofilia dan


basofilia. Leukositosis yang patologik selalu diikuti oleh peningkatan absolut dari salah satu
atau lebih jenis leukosit (Miale,1972).
Leukopenia

Leukopenia adalah kondisi klinis yang terjadi bila sumsum tulang memproduksi
sangat sedikit sel darah putih sehingga tubuh tidak terlindung terhadap banyak bakteri dan
agen-agen lain yang mungkin masuk mengenai jaringan (Guyton, 2008).
Leukopenia terjadi karena berawal dari berbagai macam penyebab.Diantaranya adalah
radiasi sinar X dan sinar. Radiasi sinar X dan sinar (gamma) yang berlebihan serta
penggunaan obat-obatan yang berlebihan, akan menyebabkan kerusakan sumsum tulang.
Dengan rusaknya sumsum tulang, maka kemampuan sumsum tulang untuk memproduksi sel
darah (eritrosit, leukosit, dan trombosit) pun menurun (dalam kasus ini dikhususkan leukosit
yang mengalami penurunan). Kondisi tersebut akhirnya akan mengakibatkan neutropenia
(produksi neutrofil menurun), monositopenia (produksi monosit menurun), dan eosinopenia
(produksi

eosinofil

menurun).

Selain

itu,

jika

seseorang

mengidap

penyakit

immunodefisiensi, seperti HIV AIDS, maka virus HIV akan menyerang CD4 yang terdapat di
limfosit T dalam sirkulasi perifer. Kondisi ini akan menyebabkan limfosit hancur sehingga
mengalami penurunan jumlah, yang disebut dengan limfopenia.Oleh karena penyebabpenyebab di atas yang berujung pada menurunnya jumlah komponen-komponen leukosit
(neutropenia,

eosinopenia,

monositopenia,

limfopenia)

maka

terjadilah

leukopenia

(Hoffbrand, 2005).

Dafpus

Casolaro V, Spadaro G, Marone G.1990. Human basophil release ability: 6 changes in


basophil release ability in patients with allergic rhinitis or bronchial-asthma. Am
Rev Respir Dis 142: 1108 1111.
Colville T, Bassert JM. 2008. Clinical Anatomy & Physiology for Veterinary Technician.
Missouri: Elsevier.
Dacie, S.J.V. dan Lewis S.M., 1991, Practical Hematology, 7th ed., Longman
Singapore Publishers Ptc. Ltd., Singapore.
Dellman HD, Brown EM. 1992. Histologi veteriner. Jakarta: UI Press.
Effendi Z. 2003.Peranan leukosit sebagai anti inflamasi alergik dalam tubuh. [terhubung
berkala]. http://library.usu.ac.id/download/fk/histologi-zukesti2.pdf [25 Maret 2012].

Gandasoebrata, R., 1992, Penuntun Laboratorium Klinik, Dian Rakyat,


Bandung.
Gandasoebrata, R., 1992, Penuntun Laboratorium Klinik, Dian Rakyat, Bandung
Arjatmotjokronegoro,1996, Hematologi Sederhana, FKUI, Jakarta.
Ganong WF. 2003. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Terjemahan dari: Review of Medical Physiology.
Guyton AC. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Terjemahan dari: Textbook of Medical Physiology.
Harper, Rodwell, Mayes, 1977, Review of Physiological Chemistry Kee,
Joyce LeFever, 2007, Pedoman Pemeriksaan Laboratorium dan
Diagnostik, Edisi 6, EGC, Jakarta.
Hirsch JG , Hirsch BI. 1980. Paul Ehrlich and the discovery of the eosinophil.The
Eosinophil in Health and Disease. New York: Grune and Stratton.
Hoffbrand, AV. 2005. Kapita Selekta Hematologi. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
Jain NC. 1993.Essential of Veterinary Hematology. Philadelphia: Lea and
Febiger
Junqueira LC, Caneiro J. 2005. Basic Histology Text & Atlas. USA: The Mc Graw-Hill
Companies
Junqueira LC, Caneiro J. 2005. Basic Histology Text & Atlas. USA: The Mc Graw-Hill
Companies
Koepke, J.A., 1991, Practical Laboratory Hematology, 1st ed., Churchill
Livingstone, New York.
Lee WL, Harrison RE, Grinstein S. 2003. Phagocytosis by meutrophils.MicrobInfect 5:1299
1306.
Lee WL, Harrison RE, Grinstein S. 2003. Phagocytosis by meutrophils.MicrobInfect 5:1299
1306.
Maruf A, Atmoko T dan Syahbani I. 2005. Teknologi penangkaran rusa Sambar (Cervus
unicolor) di desa Api-api Kabupaten Penajem Paser Utara Kalimantan Timur. Di
dalam: Gelar dan dialog teknologi di Mataram; 29-30 Juni 2005. Mataram: Peneliti
pada Loka Litbang Satwa Primata Samboja; 2005. hlm 57 68.

Meyer DJ, Harvey JW. 2004. Veterinary Laboratory Medicine: Interpretation and
Diagnosis. St. Louis: Saunders.
Miale JB. 1972. Laboratory Medicina Hematology.St. Louis: The C.V. Mosby Companya
Mills J. 1998. Interpreting blood smears (or What blood smears are trying to tell you!).
Aust Vet J 76: 596 600.
Oesman, Farida & R. Setiabudy, 1992, Fisiologi Hemostasis dan
Fibrinolisis, dalam : Setiabudy, R. (ed.), 1992, Hemostasis dan
Trombosis, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.

Ratnaningsih, T. dan Usi Sukorini, 2005, Pengaruh Konsentrasi Na2EDTA


Terhadap Perubahan Parameter Hematologi, FK UGM, Yogyakarta.
Richard, Ronald A. Sacher, A. McPherson. 2008. Tinjauan Klinis Hasil
Pemeriksaan, Laboratorium. EGC : Jogjakarta

Sacher, Ronald A. dan Richard A. McPherson, alih bahasa : Brahm U.


Pendit dan Dewi Wulandari, editor : Huriawati Hartanto, 2004,
Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan Laboratorium, Edisi 11, EGC,
Jakarta.

Sadikin, Muhammad, 2002, Biokimia Dara., Jakarta, Widia Medika.


Tizard I. 2000. Veterinary Immunology An Introduction. Ed ke-6. Philadelphia: WB
Saunders Company.
UPT Balai Informasi Teknologi LIPI Pangan & Kesehatan.2009
Weiss DJ, Wardrop KJ. 2010. Schalms Veterinary Hematology. USA: Blackwell Publishing
Ltd.
Widmann, Frances K., alih bahasa : S. Boedina Kresno dkk., 1992, Tinjauan Klinis Atas Hasil
Pemeriksaan Laboratorium, edisi 9, cetakan ke-1, EGC, Jakarta, hlm. 117-132.