Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perencanaan wilayah dan kota merupakan suatu kegiatan pengalokasian sumber daya yang tersedia, berorientasi kepada masa depan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, dan dilakukan secara kontinu. Diantara banyak tujuan dalam perencanaan wilayah dan kota, Glasson (1977:4) mengungkapkan salah satu tujuannya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi. Kawasan perkotaan pada umumnya didominasi oleh lahan terbangun dengan mayoritas penduduknya yang bermatapencaharian di sektor industri dan jasa. Menurut Jayadinata (1992: 84), suatu kota dapat dicirikan dengan adanya prasarana perkotaan, seperti bangunan yangbesar-besar bagi pemerintah, rumah sakit, pasar, sekolah, taman serta alun- alun yang luas dan jalan aspal yang lebarlebar, merupakan ciri suatu kota. Dalam perkembangannya, suatu kota pasti mempengaruhi kota-kota lain disekitarnya. Keterkaitan ini membuat suatu hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi satu sama lain. Hal tersebut juga membuat suatu sistem, di mana pada dasarnya interaksi pada suatu kota terkait dalam orde yang berbeda satu sama lain. Orde ini ditentukan dengan metode tertentu dan salah satunya ditentukan dengan menggunakan metode analisis skalogram Guttman dan Indeks Sentralitas Marshall. Pada laporan kali ini, akan dianalisis mengenai orde Kecamatan

Temanggung, salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Temanggung. Kecamatan Temanggung memiliki 25 kelurahan yang akan dianalisis fasilitas- fasilitasnya dan akan ditentukan hirarki tiap kelurahan.

1.2

Tujuan dan Sasaran

Laporan analisis sistem pusat permukiman yang menggunakan metode skalogram Guttman dan Indeks Sentralitas Marshall ini memiliki tujuan dan sasaran sebagai berikut:

1.2.1 Tujuan

Tujuan dari penyusunan laporan ini adalah mengetahui orde kelurahan yang ada di Kecamatan Temanggung dengan menggunakan dua metode yaitu metode Skalogram Guttman dan metode Indeks Sentralitas Marshall.

1.2.2 Sasaran Dalam mencapai tujuan laporan ini, ada beberapa sasaran yang harus

dicapai yaitu :

1. Menganalisis fasilitas publik yang berhirarki dengan menggunakan metode Skalogram Guttman.

2. Menganalisis fasilitas publik yang berhirarki dengan menggunakan Indeks Sentralitas Marshall.

3. Menentukan orde kelurahan yang ada di Kecamatan Temanggung.

1.3. Ruang Lingkup Ruang lingkup pembahasan pada laporan ini terbagi menjadi dua yaitu ruang lingkup materi dan ruang lingkup wilayah.

1.3.1 Ruang Lingkup Materi Ruang lingkup materi dalam laporan ini mencakup seluruh fasilitas publik

di Kecamatan Temanggung yang memiliki berhirarki atau berjenjang.

1.3.2 Ruang Lingkup Wilayah

Ruang lingkup wilayah meliputi 25 kelurahan/desa yang ada di Kecamatan Temanggung dengan luas sebesar 3.339 Ha. Wilayah Kecamatan Temanggung terletak pada ketinggian tanah rata-rata 569,08 mdpl dengan suhu maksimal 30ºC dan suhu minimum 20ºC. Posisi wilayah tersebut merupakan pusat pemerintahan baik bagi Kecamatan Temanggung maupun Kabupaten Temanggung.

Sumber: BAPPEDA Kabupaten Temanggung, 2011 Gambar 1.1 Peta Administrasi Wilayah Perkotaan Temanggung 1.4. Metodologi

Sumber: BAPPEDA Kabupaten Temanggung, 2011

Gambar 1.1 Peta Administrasi Wilayah Perkotaan Temanggung

1.4. Metodologi Dalam laporan ini digunakan dua metode pendekatan, yaitu metode penyusunan laporan (tahap persiapan, tahap pengumpulan data dan tahap pengolahan data) dan metode analisis. 1.4.1. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data-data yang berhubungan dengan wilayah studi, dilakukan dengan menggunakan metode pengumpulan data sekunder. Data-data sekunder yang digunakan adalah data-data yang sudah diketahui sumbernya serta memiliki keterkaitan dengan masalah yang dibahas dalam laporan ini. Data-data ini dapat diperoleh dari buku-buku referensi atau literatur dan internet, serta dari instansi-instansi terkait seperti BPS dan Bappeda.

1.4.2. Metode Analisis Metode analisis dalam laporan ini menggunakan data kuantitatif atau data yang dinotasikan dalam angka. Adapun angka yang dianalisis merupakan jumlah fasilitas yang ada di Kecamatan Temanggung yang mana fasilitas tersebut haruslah berhirarki atau berjenjang.

1.5 Sistematika Penulisan

Laporan Analisis Sistem Pusat Permukiman di Kecamatan Temanggung ini terdiri dari lima bab. Adapun sistematika penulisannya adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN Meliputi latar belakang, tujuan dan sasaran, ruang lingkup, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan. BAB II KAJIAN TERATUR Menjelaskan teori-teori yang berkaitan dengan analisis sistem pusat permukiman. Meliputi teori tempat pusat dan metode analisis Skalogram Guttman dan metode analisis Indeks Sentralitas Marshall. BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH KECAMATAN TEMANGGUNG Meliputi kondisi geografis, kondisi demografi serta sarana dan prasarana yang terdapat di Kecamatan Temanggung. BAB IV ANALISIS SISTEM PUSAT PERMUKIMAN WILAYAH KECAMATAN TEMANGGUNG Meliputi analisis fasilitas yang ada, yang mana fasilitas tersebut memiliki hirarki atau berjenjang yang selanjutnya ditentukan orde kotanya melalui metode yang digunakan. BAB V PENUTUP Meliputi kesimpulan dari analisis sistem pusat permukiman dengan mengguanakan metode analisis Skalogram Guttman dan analisis Indeks Sentralitas Marshall.

BAB II KAJIAN LITERATUR

2.1. Teori Tempat Pusat

Dalam penentuan lokasi pemukiman, dibutuhkan analisis dengan metode yang tepat agar lokasi tersebut optimal. Penentukan lokasi permukiman ini perlu

memperhatikan aspek-aspek yang terdapat di dalamnya. Adapun syarat dari satuan permukiman antara lain adanya lokasi (lahan) dengan lingkungan dan sumber daya yang mendukung, adanya kelompok manusia (masyarakat), sumber daya buatan, dan terdapat fungsi kegiatan ekonomi sosial dan budaya. Walter Cristaller (1933) mengemukakan tentang teori tempat sentral (Theory of Central Place). Teori ini menyangkut hirarki permukiman dan persebarannya secara geografis. Menurut Christaller terdapat konsep yangdisebut jangkauan (range) dan ambang (treshold). Prinsip yang dikemukakan oleh Christaller adalah :

1. Range Adalah jarak jangkauan antara penduduk dan tempat suatu aktivitas pasar yang menjual kebutuhan komoditi atau barang. Apabila jarak ke pasar lebih jauh dari kemampuan jangkauan penduduk yang bersangkutan, maka penduduk cenderung akan mencari barang dan jasa ke pasar lain yang lebih dekat.

2. Threshold

Adalah jumlah minimum penduduk atau konsumen yang dibutuhkan untuk menunjang kesinambungan pemasokan barang atau jasa yang bersangkutan, yang diperlukan dalam penyebaran penduduk atau konsumen dalam ruang (spatial population distribution). Dari komponen range dan threshold maka lahir prinsip optimalisasi pasar. Prinsip ini antara lain menyebutkan bahwa dengan memenuhi asumsi di atas, dalam suatu wilayah akan terbentuk wilayah tempat pusat (central place). Pusat tersebut menyajikan kebutuhan barang dan jasa bagi penduduk sekitarnya. Apabila sebuah

pusat dalam range dan threshold yang membentuk lingkaran, bertemu dengan pusat yang lain yang juga memiliki range dan threshold tertentu, maka akan terjadi daerah yang bertampalan. Perubahan penduduk yang besar akan menjadikan pola tidak menentu terhadap pola segi enam yang seharusnya terjadi. Keterbatasan aksesibilitas transportasi ke suatu wilayah akan menjadi kebiasaan pola segienam, terutama bila terdapat keterbatasan fisik wilayah. Dalam kenyataannya, konsumen atau masyarakat tidak selalu rasional dalam memilih barang atau komoditi yang diinginkan.

rasional dalam memilih barang atau komoditi yang diinginkan. Sumber: Alexander, 1963 Gambar 2.1. Hipotesis Christaller

Sumber: Alexander, 1963

Gambar 2.1. Hipotesis Christaller

Terbentuknya hipotesis christaller akan dijelaskan pada tabel di bawah ini :

Tabel II.1 Terbentuknya Hipotesis Christaller

Gambar Keterangan Mula-mula terbentuk area pelayanan berupa lingkaran- lingkaran. Setiap lingkaran memiliki pusat dan
Gambar
Keterangan
Mula-mula terbentuk area pelayanan berupa lingkaran-
lingkaran. Setiap lingkaran memiliki pusat dan menggambarkan
threshold. Lingkaran ini tidak tumpang tindih.
Kemudian digambarkan lingkaran-lingkaran berupa range dari
pelayanan tersebut, lingkarannya boleh tumpang tindih.
Range yang tumpang tindih dibagi antara kedua pusat yang berdekatan sehingga terbentuk areal yang heksagonal
Range yang tumpang tindih dibagi antara kedua pusat yang berdekatan sehingga terbentuk areal yang heksagonal

Range yang tumpang tindih dibagi antara kedua pusat yang berdekatan sehingga terbentuk areal yang heksagonal yang menutupi seluruh dataran yang tidak lagi tumpang tindih.

Tiap pelayanan berdasarkan tingkat ordenya memilik heksagonal sendiri-sendiri. Dengan menggunakan k=3, pelayanan orde I lebar heksagonalnya adalah 3 kali heksagonal pelayanan orde II. Pelayanan ordeII lebar heksagonalnya adalah 3 kali heksagonal pelayanan orde III, dan seterusnya. Tiap heksagonal memiliki pusat yang besar kecilnya sesuai dengan besarnya heksagonal tersebut. Heksagona yang sama besarnya tidak saling tumpang tindih, tetapi antara heksagonal yang tidak sama besarnya akan terjadi tumpang tindih.

Sumber: www.elearning.upnjatim.ac.id

2.2. Sistem Pusat Permukiman

Pemukiman merupakan salah satu elemen pembentuk ruang, dalam Undang- undang No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang, disebutkan bahwa “struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional”. Jelaslah bahwa pemukiman merupakan salah satu elemen yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Pemukiman dalam perencanaan, tebentuk dalam rencana sistem pusat-pusat pemukiman yang terangkum dalam Rencana Tata Ruang Wilayah. Analisis sistem pusat permukiman bertujuan untuk mengetahui luas jangkauan kota dipandang dari fasilitas-fasilitas yang terdapat di dalamnya yang kemudian dapat memenuhi seberapa besar penduduk yang hidup di dalamnya. Kebanyakan pola permukiman di Indonesia adalah berbentuk suatu titik pusat yang banyak dengan dikelilingi hinterland. Konsep ini termasuk dalam sistem perkotaan multiple nuclei. Untuk mengetahui keberadaan pusat permukiman dapat dianalisi dengan analisis skalogram (Skala Guttman) dan indeks sentralitas Marshall.

2.2.1. Skalogram (Skala Guttman) Adalah versi manual skala Guttman terutama perangkat statistik grafis dan nonstatistik yang ditunjukkan oleh susunan fungsi dengan frekuensi kehadiran dan barisan pemukiman dengan kompleksitas fungsional pada grafik matriks. Skala Guttman dihitung dengan program komputer. Digunakan untuk mengidentifikasi jenis dan jumlah fasilitas yang diperlukan sebagai SOC yang mendukung perkembangan perekonomian di tingkat kota/kabupaten. Fasilitas ini mencakup empat kelompok, yaitu:

1. Prasarana pendidikan, meliputi fasilitas sekolah, tempat pelatihan dan lembaga-lembaga pelatihan,kursus dan lainnya

2. Prasarana kesehatan, meliputi fasilitas rumah sakit,puskesmas, balai-balai pengobatan, jumlah dokter, bidan dan tenaga kesehatan lainnya

3. Prasarana sosial, meliputi fasilitas ibadah, kelembagaan masyarakat, tempat hiburan dan lainnya

4. Prasarana ekonomi, meliputi fasilitas pasar, fasilitas lembaga perkreditan, fasilitas koperasi, dan lainnya

Pengumpulan data dan perhitungan dibutuhkan untuk membangun sebuah skalogram. Adapun informasi yang dibutuhkan adalah:

1. Daftar semua permukiman di wilayah (dusun, desa, kota-kota pasar, kota-kota

kecil, pusat kota besar).

2. Ukuran populasi di setiap pemukiman.

3. Peta penentuan lokasi permukiman.

4. Inventarisasi yang menunjukkan ada atau tidak adanya fungsi (layanan,

organisasi, fasilitas, infrastruktur, kegiatan ekonomi) di setiap pemukiman. Prosedur untuk membangun skalogram adalah sebagai berikut:

1. Di sisi kiri dari lembar kerja, daftar permukiman sebagai baris dengan urutan populasi dari yang lebih banyak sampai yang lebih sedikit.

2. Di bagian atas worksheet, daftar fungsi yang ditemukan di wilayah dalam rangka menurun berdasarkan frekuensi kehadiran mereka.

3. Gambar baris dan garis kolom sehingga worksheet menjadi matriks dimana setiap sel merupakan fungsi yang mungkin muncul dalam pemukiman.

4. Isi dengan warna gelap, X, atau 1 semua sel dimana fungsi sebenarnya ditemukan dalam pemukiman, biarkan sel yang fungsinya tidak muncul di pemukiman kosong, atau isikan dengan 0.

5. Susun ulang baris dan kolom sehingga meminimalkan sel kosong yang muncul dalam pola gelap yang ditemukan di bagian kiri atas dari matriks, atau dalam urutan penurunan kehadiran fungsi.

6. Skalogram ini lengkap bila tidak ada pergeseran dari baris pemukiman atau kolom penyelesaian fungsi karena dapat mengurangi jumlah sel kosong dalam pola ini.

7. Urutan terakhir dari baris pemukiman mengidentifikasi peringkat

permukiman yang dapat diartikan sebagai skor sentralitas ordinal Skalogram dalam perencanaan wilayah memiliki beberapa manfaat antara lain :

Dapat digunakan untuk mengkategorikan perumahan menjadi tingkat kompleksitas fungsional dan menentukan jenis dan keragaman layanan dan fasilitas yang terletak di tempat-tempat sentral di berbagai tingkat hirarki.

Menunjukkan asosiasi kasar antara layanan dan fasilitas di lokasi tertentu dan hubungan potensial antara mereka.

Menunjukkan urutan dimana pemukiman menumpuk fungsi dan implikasi untuk mengurutkan investasi komplementer atau catalytical.

Dengan membaca setiap kolom frekuensi keberadaan layanan atau fasilitas, dan distribusi di antara permukiman, dapat dengan mudah dilihat.

Pengelompokkan item dalam skalogram tersebut, setelah dianalisis, dapat digunakan untuk membuat keputusan tentang kecukupan layanan dan fasilitas di wilayah tersebut.

Fungsi yang “hilang” atau tiba-tiba hadir secara jelas diidentifikasi dan dapat dibuat menjadi alasan bahwa permukiman pada tingkat skala tidak memiliki layanan atau fasilitas, dan keputusan dapat diambil tentang kelayakan investasi dalam fungsi-fungsi.

Fungsi yang tiba-tiba hadir juga diidentifikasi, dan alasan untuk munculnya layanan dan fasilitas dapat ditentukan.

Indikator kasar dari ukuran populasi ambang yang diperlukan untuk mendukung berbagai layanan dan fasilitas dapat ditentukan dari skalogram yang menunjukkan ukuran populasi dari permukiman di mana fungsi saat ini muncul.

Dapat digunakan untuk membuat keputusan tentang "paket" layak dari investasi untuk permukiman pada tingkat yang berbeda dalam hirarki spasial.

Indikator Uji Kesalahan Skala :

(1)

(2)

(3)

Coefficient of reproducibility (CR) =

1

e

NxK

Minimum marginal of reproducibility (MMR)

K

i 1

p

i

K

p i atau q i adalah nilai maksimum

Percentage of improvement (PI) = CR – MMR

(4)

Coefficient of scalability (CS) =

2.2.2. Threshold Analisis

PI

1

MMR

Cara lain untuk menilai dengan karakteristik fungsional dari pemukiman di suatu wilayah adalah melalui analisis dari ukuran populasi yang diperlukan untuk mendukung layanan tersebut, sarana dan prasarana yang sudah ada dalam suatu daerah. Beberapa perencana telah mengadaptasi prosedur analisis Threshold yakni sebagai berikut:

1. Buatlah tabel dengan daftar peringkat pusat menurut populasi, suatu daftar yang sesuai data penduduk dan kehadiran (1) atau tidak adanya (0) dari

setiap fungsi di setiap pusat-pusat yang terdaftar; 2. Menerapkan aturan Marshall dan mengidentifikasi ambang populasi masing-masing fungsi; 3. Menerapkan aturan tambahan Marshall dan fungsi mengabaikan dihilangkan dengan proses ini.

Baca pendekatan Muench juga dapat digunakan untuk menentukan ambang batas perkiraan fungsi. Rumusnya:

Th= (100 x Ps)/(Ps x Ag) Ps: jumlah pemukiman di bawah tingkat populasi tertentu yang memiliki fungsi Ag: jumlah pemukiman di atas ini tingkat populasi tidak memiliki fungsi

2.2.3. Indeks Sentralitas Tertimbang Prosedur untuk menghitung Weighted Centrality Index adalah sebagai

berikut:

Mereproduksi skala Guttman dalam bentuk terbalik dengan kasus disusun secara vertikal dan horizontal item.

Jumlah setiap baris dan kolom.

Menggunakan asumsi bahwa jumlah atribut fungsional dalam seluruh sistem memiliki nilai sentralitas gabungan dari 100, menentukan berat atau "koefisien lokasi" dari atribut fungsional dengan menerapkan dalam formula :

C = t/T

C = berat atribut fungsional t

t = nilai sentralitas gabungan dari 100

T = jumlah atribut dalam sistem

Tambahkan satu blok ke meja dan masukkan berat dihitung.

Mereproduksi meja lain mirip dengan yang di langkah '1 'menampilkan berat yang dihitung pada langkah '3' dan nilai sentralitas total.

Menjumlahkan bobot dari setiap baris untuk menghasilkan indeks sentralitas.

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH KECAMATAN TEMANGGUNG

3.1. Kondisi Geografis Wilayah Kecamatan Temanggung

3.1.1 Kecamatan Temanggung

Wilayah studi meliputi 25 kelurahan/desa yang ada di Kecamatan Temanggung dengan luas sebesar 3.339 Ha. Wilayah Kecamatan Temanggung terletak pada ketinggian tanah rata-rata 569,08 mdpl dengan suhu maksimal 30ºC dan suhu minimum 20ºC. Posisi wilayah tersebut merupakan pusat pemerintahan

baik bagi Kecamatan Temanggung maupun Kabupaten Temanggung.

3.1.2 Tata Guna Lahan

Tata guna lahan di Kecamatan Temanggung terdiri dari permukiman, perkebunan, pertanian, air tawar, industri, perkantoran dan tegalan. Mayoritas guna

lahan di Kecamatan Temanggung berupa permukiman yang terkonsentrasi di pusat kecamatan, hal ini dapat disebabkan karena perkembangan Kecamatan Temanggung sebagai ibu kota kabupaten yang memiliki kelengkapan fasilitas yang lebih baik dibandingkan dengan kecamatan kecamatan lain di sekitarnya. Hal ini menimbulkan kecenderungan masyarakat untuk bermukim di sana karena kemudahan aksesibilitas dalam menjangkau pelayanan atau fasilitas yang tersedia.

Sumber: Bappeda Kabupaten Temanggung, 2011 Gambar 2.6 Peta Tata Guna Lahan Kecamatan Temanggung 3.2. Kondisi

Sumber: Bappeda Kabupaten Temanggung, 2011

Gambar 2.6 Peta Tata Guna Lahan Kecamatan Temanggung

3.2. Kondisi Demografi Kecamatan Temanggung

Dari aspek kependudukannya, Kecamatan Temanggung merupakan

kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak dan terpadat di Kabupaten

Temanggung. Jumlah penduduk Kecamatan Temanggung pada tahun 2012 tercatat

sebesar 78.938 jiwa dengan komposisi laki-laki sebesar 38.954 jiwa dan perempuan

sebesar 39.984 jiwa. Umumnya jumlah penduduk di setiap kelurahan yang berada

di Kecamatan Temanggung mengalami peningkatan secara signifikan setiap

tahunnya. Namun ada beberapa kelurahan yang mengalami penurunan, salah

satunya yaitu Kelurahan Mungseng.

Sumber: BPS Kabupaten Temanggung, 2013 Gambar 2.33 Kepadatan Penduduk Kecamatan Temanggung Tahun 2012 Sumber: Badan

Sumber: BPS Kabupaten Temanggung, 2013 Gambar 2.33 Kepadatan Penduduk Kecamatan Temanggung Tahun 2012

2.33 Kepadatan Penduduk Kecamatan Temanggung Tahun 2012 Sumber: Badan Pusat Statistik Kecamatan Temanggung,2012

Sumber: Badan Pusat Statistik Kecamatan Temanggung,2012 Gambar 2.34 Peta Kepadatan Penduduk Kecamatan Temanggung

Untuk komposisi penduduk berdasarkan jenis kelamin dan umur maka dapat dilihat

di Kecamatan Temanggung menggalami bonus penduduk hal ini terlihat pada

diagaram penduduk di bawah ini.

Sumber : BPS Kabupaten Temanggung, 2011 Gambar 2.35 Piramida Penduduk Kecamatan Temanggung

Sumber : BPS Kabupaten Temanggung, 2011 Gambar 2.35 Piramida Penduduk Kecamatan Temanggung

BAB IV ANALISIS SISTEM PUSAT PEMUKIMAN KECAMATAN TEMANGGUNG

4.1. Analisis Skalogram Guttman Kecamatan Temanggung

Analisis skalogram merupakan tahapan awal dalam menganalisis sistem pusat pemukiman yang menghasilkan orde kota. Analisis yag disampaikan oleh Guttman ini merupakan analisis tentang kelengkapan fasilitas dalam sebuah kota. Tahapan pertama dalam analisis ini adalah memilih jenis fasilitas apa yang akan digunakan sebagai variabel dalam matriks skalogram. berikut ini adalah tabel fasilitas di Kecamatan Temanggung :

berikut ini adalah tabel fasilitas di Kecamatan Temanggung : Analisis Sistem Pusat Pemukiman Kecamatan Temanggung 16
berikut ini adalah tabel fasilitas di Kecamatan Temanggung : Analisis Sistem Pusat Pemukiman Kecamatan Temanggung 16

Tabel IV.1 Tabel Jumlah Fasilitas Kecamatan Temanggung

   

EKONOMI

   

Transportasi

 

PENDIDIKAN

 

KESEHATAN

JUMLAH

 

TOKO

PASAR

RESTORAN

HOTEL

BECAK

OJEK SEPEDA MOTOR

MINI BUS

TK

SD

SMP

SMA

Rumah Sakit

RS Bersalin

Poliklinik

Puskesmas

Puskesmas Pembantu

Posyandu

Purworejo

41

0

2

0

1

0

3

1

1

0

0

0

0

0

0

0

4

53

Mudal

45

0

19

0

0

0

0

3

4

1

0

0

0

0

0

0

7

79

Ngampirejo

32

0

3

0

0

0

0

1

2

0

0

0

0

0

0

0

3

41

Lungge

44

0

1

0

0

0

0

1

1

0

0

0

0

0

0

0

3

50

Madureso

43

0

25

0

2

46

0

2

1

0

0

0

0

0

0

0

8

127

Guntur

12

0

0

0

0

0

0

1

1

0

0

0

0

0

0

0

2

16

Kowangan

32

0

23

1

0

0

0

1

5

1

1

0

0

0

0

0

10

74

Jampirejo

87

0

15

0

30

0

0

2

2

1

4

0

0

0

0

0

6

147

Butuh

29

0

7

0

0

0

0

2

1

0

0

0

0

0

1

0

6

46

Giyanti

48

0

15

0

6

0

5

2

2

0

1

0

0

0

0

0

6

85

Mungseng

63

0

10

0

0

0

0

1

2

0

1

0

0

0

0

0

4

81

Gilingsari

11

0

2

0

0

0

0

1

1

0

0

0

0

0

0

0

3

18

Kebonsari

27

0

3

0

0

0

0

2

1

0

0

0

0

0

0

0

7

40

Manding

92

0

6

0

0

0

0

2

1

0

0

1

0

0

0

0

7

109

Temanggung II

80

0

30

0

0

0

0

3

3

3

1

0

0

0

1

0

7

128

Temanggung I

149

0

17

0

0

31

1

1

2

0

4

1

0

1

0

0

1

208

Jampiroso

168

1

69

0

0

31

4

3

5

3

1

0

0

1

0

0

5

291

Kertosari

54

0

19

0

0

0

1

4

4

1

0

0

1

1

0

0

5

90

Banyuurip

56

0

21

0

0

0

0

2

2

0

0

0

0

0

0

0

5

86

Walitelon Utara

35

0

2

0

0

0

0

1

1

0

0

0

0

0

0

0

9

48

Walitelon Selatan

66

0

2

0

0

0

0

1

2

1

0

0

0

0

0

0

9

81

Sidorejo

127

0

18

0

0

0

0

3

4

1

1

0

0

0

0

0

7

161

Jurang

52

0

3

0

0

11

0

1

1

0

0

0

0

0

0

0

7

75

Tlogorejo

25

0

7

0

0

0

0

1

2

1

1

0

0

0

0

0

5

42

Joho

16

0

2

0

0

0

0

1

1

0

0

0

0

0

0

0

2

22

Sumber : Kecamatan Temanggung Dalam Angka 2013

Pada tabel di atas, terdapat tujuh belas jenis fasilitas perkotaan di Kecamatan Temanggung yang telah dipilih, seperti fasilitas ekonomi, fasilitas transportasi, fasilitas pendidikan dan fasilitas kesehatan. Dapat dilihat bahwa kelurahan yang memiliki jumlah fasilitas terbanyak adalah Kelurahan

Jampiroso dengan 291 fasilitas. Tahap selanjutnya dari analisis skalogram adalah mengkonversi seluruh fasilitas yang ada ke dalam angka (1) dan fasilitas yang tidak ada ke dalam angka (0), kemudian menjumlahkan total fasilitas berdasarkan baris dan kolom lalu langkah selanjutnya adalah menentukan total kesalahan (eror).

Tabel IV.2 Perhitungan Skalogram

 

Jumlah

 

RESTO

         

BEC

MINI

OJEK

Polikl

         

Puskesma

     

TOKO

TK

SD

Posyandu

SMP

SMA

SEPEDA

Rumah Sakit

Puskesmas

PASAR

HOTEL

RS Bersalin

s

Eror

Jumlah

Orde

Penduduk

RAN

AK

BUS

MOTOR

inik

Pembantu

Jampiroso

3.578

1

1

1

1

1 1

 

1

0

1

1

1

0

0

1

0

0

0

2

11

1

Temanggung I

3.782

1

1

1

1

1 0

 

1

0

1

1

1

1

0

0

0

0

0

4

10

1

Kertosari

5.548

1

1

1

1

1 1

 

0

0

1

0

1

0

0

0

0

1

0

4

9

2

Jampirejo

4.508

1

1

1

1

1 1

 

1

1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

8

2

Temanggung II

4.313

1

1

1

1

1 1

 

1

0

0

0

0

0

1

0

0

0

0

2

8

2

Kowangan

4.064

1

1

1

1

1 1

 

1

0

0

0

0

0

0

0

1

0

0

2

8

2

Sidorejo

4.686

1

1

1

1

1 1

 

1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

7

2

Madureso

3.800

1

1

1

1

1 0

 

0

1

0

1

0

0

0

0

0

0

0

4

7

2

Giyanti

3.069

1

1

1

1

1 0

 

1

1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

2

7

2

Tlogorejo

2.895

1

1

1

1

1 1

 

1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

7

2

Purworejo

2.225

1

1

1

1

1 0

 

0

1

1

0

0

0

0

0

0

0

0

4

7

2

Mudal

4.529

1

1

1

1

1 1

 

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

6

3

Manding

3.542

1

1

1

1

1 0

 

0

0

0

0

0

1

0

0

0

0

0

2

6

3

Butuh

3.312

1

1

1

1

1 0

 

0

0

0

0

0

0

1

0

0

0

0

2

6

3

Jurang

3.110

1

1

1

1

1 0

 

0

0

0

1

0

0

0

0

0

0

0

2

6

3

Walitelon Selatan

2.967

1

1

1

1

1 1

 

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

6

3

Mungseng

2.790

1

1

1

1

1 0

 

1

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

2

6

3

Banyuurip

3.638

1

1

1

1

1 0

 

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

5

3

Walitelon Utara

2.784

1

1

1

1

1 0

 

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

5

3

Kebonsari

2.666

1

1

1

1

1 0

 

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

5

3

Lungge

2.091

1

1

1

1

1 0

 

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

5

3

Ngampirejo

1.964

1

1

1

1

1 0

 

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

5

3

Joho

1.090

1

1

1

1

1 0

 

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

5

3

Gilingsari

1.047

1

1

1

1

1 0

 

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

5

3

Guntur

940

1

1

1

1

1 0

 

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

5

3

Jumlah

 

25

25

25

25

25

9

9

4

4

4

3

2

2

1

1

1

0

32

165

 

Sumber : Hasil Analisis Kelompok, 2014.

Tahap terakhir dari analisis skalogram adalah perhitungan tingkat

kesalahan yang biasa disebut juga sebagai COR (Coefficient of Reducibility), cara

menghitung nilai COR ini adalah dengan rumus :

cara menghitung nilai COR ini adalah dengan rumus : Dengan keterangan sebagai berikut : CR :

Dengan keterangan sebagai berikut :

CR : Tingkat kesalahan

: Jumlah k : kesalahan

berikut : CR : Tingkat kesalahan : Jumlah k : kesalahan N : Jumlah fasilitas K

N

: Jumlah fasilitas

K

: Jumlah kecamatan

Perhitungan COR dari tabel skalogram Kecamatan Temanggung di atas

adalah sebagai berikut ini:

COR = (4125/4125)-(32/4125) = 0,992

Sehingga, tingkat kesalahan tabel skalogram di atas adalah 0.992. Hal ini

menandakan bahwa analisis skalogram di atas layak untuk dianalisis lebih lanjut

dan menurut Guttman, bahwa nilai COR yang lebih dari 0,90 mendekati skala yang

sebenarnya.

4.2. Analisis Indeks Sentralitas Marshall

Analisis indeks sentralitas Marshall merupakan langkah lanjutan untuk

mencari orde kota. Tahap pertama dari perhitungan indeks sentralitas Marshall

adalah menghitung bobot masing-masing fasilitas. Bobot masing-masing fasilitas

ini didapatkan dari rumus : C = T dengan C adalah bobot per fasilitas, t adalah nilai

sentralitas total, diambil sama dengan 100, T adalah jumlah total fungsi dalam wilayah yang ditinjau. Berikut adalah hasil perhitungan bobot dari tabel di atas:

t

Berikut adalah hasil perhitungan bobot dari tabel di atas: t Analisis Sistem Pusat Pemukiman Kecamatan Temanggung
Berikut adalah hasil perhitungan bobot dari tabel di atas: t Analisis Sistem Pusat Pemukiman Kecamatan Temanggung

Tabel IV.3 Perhitungan Bobot Indeks Sentralitas Marshall

           

OJEK SEPEDA

                 

Puskesmas

     

NAMA KELURAHAN

TOKO

PASAR

RESTORAN

HOTEL

BECAK

MOTOR

MINI BUS

TK

SD

SMP

SMA

Rumah Sakit

RS Bersalin

Poliklinik

Puskesmas

Pembantu

Posyandu

JUMLAH

ORDE

Jampiroso

11,76

100,00

21,53

0,00

0,00

26,04

28,56

6,99

9,60

23,07

6,67

0,00

0,00

33,33

0,00

0,00

3,60

271,15

1

Kertosari

3,78

0,00

5,93

0,00

0,00

0,00

7,14

9,32

7,68

7,69

0,00

0,00

100,00

33,33

0,00

0,00

3,60

178,47

2

Temanggung I

10,43

0,00

5,30

0,00

0,00

26,04

7,14

2,33

3,84

0,00

26,68

50,00

0,00

33,33

0,00

0,00

0,72

165,81

2

Kowangan

2,24

0,00

7,18

100,00

0,00

0,00

0,00

2,33

9,60

7,69

6,67

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

7,20

142,91

2

Jampirejo

6,09

0,00

4,68

0,00

76,80

0,00

0,00

4,66

3,84

7,69

26,68

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

4,32

134,76

2

Temanggung II

5,60

0,00

9,36

0,00

0,00

0,00

0,00

6,99

5,76

23,07

6,67

0,00

0,00

0,00

50,00

0,00

5,04

112,49

2

Giyanti

3,36

0,00

4,68

0,00

15,36

0,00

35,70

4,66

3,84

0,00

6,67

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

4,32

78,59

3

Manding

6,44

0,00

1,87

0,00

0,00

0,00

0,00

4,66

1,92

0,00

0,00

50,00

0,00

0,00

0,00

0,00

5,04

69,93

3

Madureso

3,01

0,00

7,80

0,00

5,12

38,64

0,00

4,66

1,92

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

5,76

66,91

3

Butuh

2,03

0,00

2,18

0,00

0,00

0,00

0,00

4,66

1,92

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

50,00

0,00

4,32

65,11

3

Sidorejo

8,89

0,00

5,62

0,00

0,00

0,00

0,00

6,99

7,68

7,69

6,67

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

5,04

48,58

3

Mudal

3,15

0,00

5,93

0,00

0,00

0,00

0,00

6,99

7,68

7,69

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

5,04

36,48

3

Purworejo

2,87

0,00

0,62

0,00

2,56

0,00

21,42

2,33

1,92

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

2,88

34,60

3

Tlogorejo

1,75

0,00

2,18

0,00

0,00

0,00

0,00

2,33

3,84

7,69

6,67

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

3,60

28,06

3

Walitelon Selatan

4,62

0,00

0,62

0,00

0,00

0,00

0,00

2,33

3,84

7,69

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

6,48

25,58

3

Mungseng

4,41

0,00

3,12

0,00

0,00

0,00

0,00

2,33

3,84

0,00

6,67

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

2,88

23,25

3

Jurang

3,64

0,00

0,94

0,00

0,00

9,24

0,00

2,33

1,92

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

5,04

23,11

3

Banyuurip

3,92

0,00

6,55

0,00

0,00

0,00

0,00

4,66

3,84

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

3,60

22,57

3

Kebonsari

1,89

0,00

0,94

0,00

0,00

0,00

0,00

4,66

1,92

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

5,04

14,45

3

Walitelon Utara

2,45

0,00

0,62

0,00

0,00

0,00

0,00

2,33

1,92

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

6,48

13,80

3

Ngampirejo

2,24

0,00

0,94

0,00

0,00

0,00

0,00

2,33

3,84

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

2,16

11,51

3

Lungge

3,08

0,00

0,31

0,00

0,00

0,00

0,00

2,33

1,92

0,00