Anda di halaman 1dari 13

I.

PENDAHULUAN

Epidural hematom adalah salah satu jenis perdarahan intrakranial yang


paling sering terjadi karena fraktur tulang tengkorak. Otak ditutupi oleh tulang
tengkorak yang kaku dan keras. Otak juga dikelilingi oleh sesuatu yang
berguna sebagai pembungkus yang disebut dura. Fungsinya untuk melindungi
otak, menutupi sinus-sinus vena, dan membentuk periosteum tabula interna
(Gilroy J, 2008).
Epidural hematom sebagai keadaan neurologis yang bersifat emergensi
dan biasanya berhubungan dengan linear fraktur yang memutuskan arteri yang
lebih besar, sehingga menimbulkan perdarahan. Arterial hematom terjadi pada
arteri meningeal media yang terletak di bawah tulang temporal. Perdarahan
masuk ke dalam ruang epidural, bila terjadi perdarahan arteri maka hematom
akan cepat terjadi (Duus, 2010).
Cedera kepala adalah kondisi yang umum secara neurologi dan bedah
saraf dan merupakan salah satu penyebab kematian utama di kalangan usia
produktif khususnya di negara berkembang. Hal ini diakibatkan karena
mobilitas yang tinggi di kalangan usia produktif sedangkan kesadaran untuk
menjaga keselamatan di jalan masih rendah disamping penanganan pertama
yang belum benar, rujukan yang terlambat (Sjamsuhidajat R, 2008).
Kasus terbanyak cedera kepala adalah kecelakaan mobil dan motor. Di
Amerika Serikat pada tahun 1990 dilaporkan kejadian cedera kepala
200/100.000 penduduk pertahun. Pada penderita dengan cedera kepala ringan
dan sedang hanya 3% - 5% yang memerlukan tindakan operasi kurang lebih
40% dan sisanya dirawat secara konservatif (Gilroy J, 2008).

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Epidural hematoma adalah perdarahan akut pada lokasi epidural.
Fraktur tulang kepala dapat merobek pembuluh darah, terutama arteri
meningea media yang masuk di dalam tengkorak melalui foramen
spinosum dan jalan antara duramater dan tulang di permukaan dalam os

temporale (Gilroy J, 2008).


Perdarahan yang terjadi menimbulkan epidural hematoma.
Desakan oleh hematom akan melepaskan duramater lebih lanjut dari
tulang kepala sehingga hematom bertambah besar (Sjamsuhidajat R,
2008).
Hematoma epidural (EDH) merupakan kumpulan darah di antara
duramater dan tabula interna karena trauma (Gambar-1). Pada penderita
traumatic hematoma epidural, 85-96% disertai fraktur pada lokasi yang
sama. Perdarahan berasal dari pembuluh darah -pembuluh darah di dekat
lokasi fraktur (PERDOSSI, 2006).
Sebagian besar hematoma epidural (EDH) (70-80%) berlokasi di
daerah temporoparietal, di mana bila biasanya terjadi fraktur calvaria yang
berakibat robeknya arteri meningea media atau cabang-cabangnya,
sedangkan 10% EDH berlokasi di frontal maupun oksipital. Volume EDH
biasanya stabil, mencapai volume maksimum hanya beberapa menit
setelah trauma, tetapi pada 9% penderita ditemukan progresifitas
perdarahan sampai 24 jam pertama (PERDOSSI, 2006).
B. ETIOLOGI
Kausa yang menyebabkan terjadinya hematom epidural meliputi (Duus,
2010) :
1.

Trauma kepala

2.

Sobekan a/v meningea mediana

3.

Ruptur sinus sagitalis / sinus tranversum

4.

Ruptur v. diplorica
Hematom epidural ini biasanya berasal dari perdarahan arterial

akibat adanya fraktur linier yang menimbulkan laserasi langsung atau


robekan arteri meningea mediana.Fraktur tengkorak yang menyertainya
dijumpai 85-95 % kasus, sedang sisanya ( 9 % ) disebabkan oleh regangan

dan robekan arteri tanpa ada fraktur terutama pada kasus anak-anak
dimana deformitas yang terjadi hanya sementara (Gilroy J, 2008).
Hematom jenis ini yang berasal dari perdarahan vena lebih jarang
terjadi, umumnya disebabkan oleh laserasi sinus duramatris oleh fraktur
oksipital, parietal atau tulang sfenoid (Sjamsuhidajat R, 2008).
C. EPIDEMIOLOGI
Hematoma epidural merupakan 2% dari seluruh kasus trauma
kepala, sekitar 40.000 kaus pertahun. Angka kejadian hematoma epidural
sekitar setengah dari hematoma subdural. Sekitar 70-80 % penderita
hematoma epidural berlokasi di lobus parietotemporal, sedangakn 10% di
lobus parietal. Hematoma epidural dapat bersifat akut (58%), subakut
(31%), atau kronik (11%) (Huisman, 2008).
D. FAKTOR RESIKO
Hematoma epidural lebih sering terjadi pada dewasa muda, lakilaki dengan perbandingan 4:1 dan jarang dialami oleh anak di bawah usia
2 atau setelah 60 tahun. Alkohol juga berhubungan dengan tingginya
insidensi hematoma epidural. Hematoma epidural sering disebabkan oleh
fraktur os cranial pada masa kanak-kanak atau remaja. Jenis hematoma ini
lebih sering pada orang muda karena selaput meninges yang melindungi
otak tidak begitu kuat melekat pada tengkorak sebagaimana pada orang
yang lebih tua (Huisman, 2008).
E. TANDA DAN GEJALA
Gejala dan tanda yang tampak bervariasi, tetapi khasnya, penderita
hematoma epidural memiliki riwayat cedera kepala dengan periode tidak
sadar dalam waktu pendek, diikuti dengan periode lusid. Namun interval
lusid bukan merupakan tanda diagnostik yang dipercaya karena interval
lusid mungkin berlalu tanpa diketahui (Price, 2005).
Hematoma epidural di daerah parietotemporal yang tidak segera
ditangani akan berlanjut menyebabkan herniasi yang memberikan gejala
dan tanda seperti hilangnya kesadaran, dilatasi pupil dan ptosis kelopak
mata, kelemahan respon motoric kontralateral, refleks hiperaktif, tanda
Babinsky positif, tanda-tanda peningkatan intracranial, gangguan tanda
vital dan fungsi pernapasan. Hematoma epidural di daerah frontal dan

oksipital sering tidak dicurigai dan memberi tanda-tanda setempat yang


tidak jelas (Price, 2005).
Gejala lain diantaranya (Yahya, 2008) :
1.

Kebingungan

2.

Nyeri kepala

3.

Penurunan kesadaran

4.

Pembesaran pupil pada satu mata

5.

Mual dan muntah

6.

Kelemahan dari bagian tubuh, biasanya pada sisi berlawanan dari


pupil yang membesar.

F. PENEGAKAN DIAGNOSIS
Diagnosis hematoma epidural ditegakkan berdasarkan tanda gejala,
arteriogram karotis, echoensefalogram, serta CT Scan (Price, 2005).
Tanda dan Gejala
Gejala yang dikeluhkan penderita hematoma epidural antara lain

1.

(Chang, 2005) :
a. Nyeri Kepala
b. Mual/muntah
c. Kejang
d. Defisit Neurologis fokal (afasia, kelemahan, dll)
Pada pemeriksaan fisik, ditemukan tanda-tanda sebagai berikut
(Chang, 2005):

2.

a. Penurunan kesadaran (GCS menurun)


b. Bradikardi dan atau hipertensi karena peningkatan intrakranial
c. Kelemahan seperti hemiparesis kontralateral
d. Anisokor, dilatasi pupil ipsilateral
e. Defisit neurologis seperti afasia, gangguan visual, ataksia, dll)
Pemeriksaan Laboratorium
Pemriksaan laboratorium yang dilakukan pada penderita hematoma
epidural antara lain (Chang, 2005):
a. Pemeriksaan Darah lengkap untuk mengetahui adanya infeksi.
b. Prothrombin time (PT)/Activated partial thromboplastin time
(aPTT) untuk mengidentifikasi pembekuan darah.
c. Elektrolit, BUN, kreatinin, glukosa untuk mengetahui adanya
gangguan metabolik.
4

3.

CT-Scan
Hasil pemeriksaan CT-scan menunjukkan gambaran sebagai berikut
(Chang, 2005):
a. Hematoma epidural akut menunjukkan adanya hiperdens lenticular
antara serebri dengan os cranium. Tepi berbentuk planoconvex atau
crescent.
b. Hematoma epidural subakut menunjukkan adanya gambaran
hiperdens homogen.
c. Hematoma epidural kronik menunjukkan penampakan heterogen
yang disebabkan oleh neovaskularisasi dan granulasi.

G. PATOMEKANISME
Perdarahan epidural timbul akibat cedera terhadap arteri atau vena
meningeal. Arteri yang paling sering mengalami kerusakan adalah cabang
anterior arteri meningea media. Suatu pukulan yang menimbulkan fraktur
kranium pada daerah anterior inferior os parietal, dapat merusak arteri.
Cedera arteri dan venosa terutama mudah terjadi jika pembuluh memasuki
saluran tulang pada daerah ini (Liebeskind, 2014).
Perdarahan yang terjadi melepaskan lapisan meningeal duramater
dari permukaan dalam kranium. Tekanan intrakranial meningkat, dan
bekuan darah yang membesar menimbulkan tekanan pada daerah motorik
gyrus presentralis dibawahnya. Darah juga melintas kelateral melalui garis
fraktur, membentuk suatu pembengkakan di bawah muskulus temporalis
(Liebeskind, 2014).
Apabila tidak terjadi fraktur, pembuluh darah bisa pecah juga,
akibat daya kompresinya. Perdarahan epidural akan cepat menimbulkan
gejala gejala, sesuai dengan sifat dari tengkorak yang merupakan kotak
tertutup, maka perdarahan epidural tanpa fraktur, menyebabkan tekanan
intrakranial yang akan cepat meningkat. Jika ada fraktur, maka darah bisa
keluar dan membentuk hematom subperiostal (sefalhematom), juga
tergantung pada arteri atau vena yang pecah maka penimbunan darah
ekstravasal bisa terjadi secara cepat atau perlahan lahan (Liebeskind,
2014).
Pada perdarahan epidural akibat pecahnya arteri dengan atau tanpa

fraktur linear ataupun stelata, manifestasi neurologik akan terjadi beberapa


jam setelah trauma kapitis (Liebeskind, 2014).

Cedera Kepala di
daerah parietotemporal

Terjadi robekan pada


arteri meningea media
Perluasan hematoma
di daerah lobus
temporal
Penekanan lobus
temporalis serebri ke
arah bawah dan dalam
6

Bagian medial lobus


temporalis mengalami
herniasi
Penekanan herniasi
pada :
Medulla Oblongata

Saraf kranial III

Jaras kortikospinalis
asendens

Penurunan kesadaran

Dilatasi pupil dan


kelopak mata

kelemahan respon
motorik kontralateral,
refleks hiperaktif,
tanda Babinsky positif

Gambar 1.1 Patomekanisme Hematoma epidural (Price, 2005).


Hematoma epidural paling sering terjadi di daerah parietotemporal
akibat robekan arteri meningea media. Perluasan hematoma di daerah
temporal menyebabkan tertekannya lobus temporalis serebri ke arah
bawah dan dalam. Tekanan ini menyebabkan bagian medial lobus (unkus
dan sebagian dari gyrus hipokampus) mengalami herniasi di bagian bawah
tepi tentorium (Price, 2005).
Tekanan herniasi unkus pada sirkulasi arteri ke formasio retikularis
medulla oblongata menyebabkan hilangnya kesadaran. Selain itu, herniasi
ini dapat menekan saraf kranial III (okulomotorius) yang dapat
menyebabkan dilatasi pupil dan ptosis kelopak mata. Tekanan pada jaras
kortokospinalis asendens menyebabkan kelemahan respon motorik
kontralateral, refleks hiperaktif, dan tanda Babinsky positif. Semakin
meluasnya hematoma, seluruh isi otak akan terdorong ke arah yang
berlawanan sehingga terjadi peningkatan tekanan intrakranial (Price,
2005).
H. GAMBARAN MAKROSKOPIS
Secara makroskopis, terlihat bekuan darah di atas permukaan
eksternal dari dura dalam rongga tengkorak setelah pengeluaran bagian
atas tengkorak pada saat otopsi. Lokasi perdarahan tersebut merupakan
akibat dari trauma. Sumber perdarahan ini berasal dari arteri meningeal

media. Perdarahan ini berlangsung cepat dan darah berkumpul dengan


cepat, menyebabkan tanda-tanda neurologis dan gejala dalam beberapa
menit sampai beberapa jam (Townsend, 2015)

Gambar 1.2 Epidural Hematoma (Townsend, 2015)


I. PENATALAKSANAAN
Soertidewi et al., (2012) menyatakan bahwa dalam Penatalaksanaan
Kedaruratan Cedera Kranioserebral, Epidural hematoma termasuk salah
satu cedera kranioserebral. Penatalaksanaan cedera kranioserebral dapat
dibagi berdasarkan:
1. Kondisi kesadaran pasien
a. Kesadaran menurun
b. Kesadaran baik
2. Tindakan
a. Terapi non-operatif
b. Terapi operatif
3. Saat kejadian Manajemen prehospital Instalasi Gawat Darurat
Perawatan di ruang rawat Terapi non-operatif pada pasien cedera
kranioserebral ditujukan untuk:
a. Mengontrol fisiologi dan substrat sel otak serta mencegah
kemungkinan terjadinya tekanan tinggi intrakranial
b. Mencegah dan mengobati edema otak (cara hiperosmolar,
diuretik)
c. Minimalisasi kerusakan sekunder
d. Mengobati simptom akibat trauma otak
e. Mencegah dan mengobati komplikasi trauma otak, misal kejang,
infeksi (antikonvulsan dan antibiotik)
4. Terapi operatif terutama diindikasikan untuk kasus:
a. Fraktur impresi (depressed fracture)

b. Cedera kranioserebral tertutup


c. Perdarahan epidural (hematoma epidural /EDH) dengan volume
perdarahan lebih dari 30mL/44mL dan/atau pergeseran garis
tengah lebih dari 3 mm serta ada perburukan kondisi pasien
d. Perdarahan subdural (hematoma subdural/SDH) dengan
pendorongan garis tengah lebih dari 3 mm atau kompresi/
obliterasi sisterna basalis
e. Perdarahan intraserebral besar yang menyebabkan progresivitas
kelainan neurologik atau herniasi
f. Pada cedera kranioserebral terbuka
1) Perlukaan kranioserebral dengan ditemukannya luka kulit,
fraktur multipel, dura yang robek disertai laserasi otak
2) Liquorrhea yang tidak berhenti lebih dari 14 hari
3) Pneumoencephali
4) Corpus alienum
5) Luka tembak
5. Pasien dalam kesadaran sadar
Simple Head Injury (SHI), pada pasien ini biasanya tidak ada riwayat
penurunan kesadaran sama sekali dan tidak ada defisit neurologik, dan
tidak ada muntah. Tindakan hanya perawatan luka. Pemeriksaan
radiologik hanya atas indikasi. Umumnya pasien SHI boleh pulang
dengan nasihat dan keluarga diminta mengobservasi kesadaran. Bila
dicurigai kesadaran menurun saat diobservasi, misalnya terlihat seperti
mengantuk dan sulit dibangunkan, pasien harus segera dibawa kembali
ke rumah sakit.
Penderita mengalami penurunan kesadaran sesaat setelah trauma
kranioserebral, dan saat diperiksa sudah sadar kembali. Pasien ini
kemungkinan mengalami cedera kranioserebral ringan (CKR).
6. Pasien dalam kesadaran menurun
Cedera kranioserebral ringan (SKG=13-15)1-6
Umumnya didapatkan perubahan orientasi atau tidak mengacuhkan
perintah, tanpa disertai defi sit fokal serebral. Dilakukan pemeriksaan
fisik, perawatan luka, foto kepala, istirahat baring dengan mobilisasi
bertahap sesuai dengan kondisi pasien disertai terapi simptomatis.
Observasi minimal 24 jam di rumah sakit untuk menilai kemungkinan
hematoma intrakranial, misalnya riwayat lucid interval, nyeri kepala,
muntah-muntah, kesadaran menurun, dan gejala-gejala lateralisasi

(pupil anisokor, refleksi patologis positif). Jika dicurigai ada


hematoma, dilakukan CT scan. Pasien cedera kranioserebral ringan
(CKR) tidak perlu dirawat jika:
a. orientasi (waktu dan tempat) baik
b. tidak ada gejala fokal neurologic
c. tidak ada muntah atau sakit kepala
d. tidak ada fraktur tulang kepala
e. tempat tinggal dalam kota
f. ada yang bisa mengawasi dengan baik di rumah, dan bila dicurigai
ada perubahan kesadaran, dibawa kembali ke RS.
7. Cedera kranioserebral sedang,
Pasien dalam kategori ini bisa mengalami gangguan kardiopulmoner.
Urutan dilakukan tindakan:
a. Periksa dan atasi gangguan jalan napas (Airway), pernapasan
(Breathing), dan sirkulasi (Circulation)
b. Pemeriksaan singkat kesadaran, pupil, tanda fokal serebral, dan
cedera organ lain. Jika dicurigai fraktur tulang servikal dan atau
tulang ekstremitas, lakukan fiksasi leher dengan pemasangan kerah
leher dan atau fi ksasi tulang ekstremitas bersangkutan
c. Foto kepala, dan bila perlu foto bagian tubuh lainnya
d. CT scan otak bila dicurigai ada hematoma intrakranial
e. Observasi fungsi vital, kesadaran, pupil, dan defisit fokal serebral
lainnya
8. Cedera kranioserebral berat
Pasien dalam kategori ini, biasanya disertai cedera multipel. Bila
didapatkan fraktur servikal, segera pasang kerah fiksasi leher, bila ada
luka terbuka dan ada perdarahan, dihentikan dengan balut tekan untuk
pertolongan pertama. Tindakan sama dengan cedera kranioserebral
sedang dengan pengawasan lebih ketat dan dirawat di ICU. Di samping
kelainan serebral juga bisa disertai kelainan sistemik. Pasien cedera
kranioserebral berat sering berada dalam keadaan hipoksi, hipotensi,
dan hiperkapni akibat gangguan kardiopulmoner.
9. Tindakan Unit Gawat Darurat
Tindakan yang dilakukan di Unit Gawat Darurat (UGD) meliputi ABC
(Airway, Breathing, Circulation). Airway berupa pembebasan jalan
napas, Breathing berupa koreksi oksigenasi, sedangkan Circulation
merupakan evaluasi jika terjadi gangguan tekanan darah seperti

10

hipotensi.
J. KOMPLIKASI
Komplikasi dapat berupa kelainan neurologik (defisit neurologis),
berupa sindrom gegar otak dapat terjadi dalam beberapa jam sampai
beberapa bulan. Kondisi yang kacau, baik fisik maupun mental serta
kematian (Liebeskind, 2014).
K. PROGNOSIS
Prognosis tergantung pada (Ekayuda, 2006) :
a. Lokasinya ( infratentorial lebih jelek )
b. Besarnya
c. Kesadaran saat masuk kamar operasi.
Jika ditangani dengan cepat, prognosis hematoma epidural
biasanya baik, karena kerusakan otak secara menyeluruh dapat dibatasi.
Angka kematian berkisar antara 7-15% dan kecacatan pada 5-10% kasus.
Prognosis sangat buruk pada pasien yang mengalami koma sebelum
operasi (Japardi, 2005).
Prognosis epidural hematoma biasanya baik. Mortalitas pasien
dengan epidural hematoma yang telah dievakuasi mulai dari 16% - 32%.
Seperti trauma hematoma intrakranial yang lain, biasanya mortalitas
sejalan dengan umur dari pasien. Resiko terjadinya epilepsi post trauma
pada pasien epidural hematoma diperkirakan sekitar 2% (Evans, 2006).

11

III.

KESIMPULAN

1. Epidural hematoma adalah perdarahan akut pada lokasi epidural.


Perdarahan yang terjadi menimbulkan epidural hematoma yang sebagian
besar hematoma epidural (EDH) (70-80%) berlokasi di daerah
temporoparietal, di mana bila biasanya terjadi fraktur calvaria yang
berakibat robeknya arteri meningea media atau cabang-cabangnya,
sedangkan 10% EDH berlokasi di frontal maupun oksipital.
2. Hematoma epidural memberikan gejala dan tanda seperti hilangnya
kesadaran, dilatasi pupil dan ptosis kelopak mata, kelemahan respon
motoric kontralateral, refleks hiperaktif, tanda Babinsky positif, tandatanda peningkatan intracranial, gangguan tanda vital dan fungsi
pernapasan.
3. Penatalaksanaan pada hamatom epidural dilakukan berdasarkan kesadaran
pasien yang berupa tindakan operatif dan tindakan non operatif.

12

DAFTAR PUSTAKA
Chang, F.C., Lirng J.F., & Luo C.B. 2005. Evaluation of Clinical and MRI
Findings for the Prognosis of Epidural Haematomas. Clinical
Radioogyl.;60(7):762-70.
Duus P. 2010. Diagnosis Topik Neurologi Anatomi, Fisiologi, Tanda, Gejala.
Jakarta: EGC
Ekayuda I. 2006. Radiologi Diagnostik Edisi Kedua. Jakarta: Gaya Baru. p. 35965, 382-87
Evans, RW. 2006. The postconcussion syndrome and the sequelae of mild head
injury. In: Neurology and Trauma, 2nd ed, Evans, RW (Ed). New York :
Oxford
Gilroy J. 2008. Basic Neurology. USA: McGraw-Hill. p. 553-5
Huisman, T.A. & Tschirch F.T. 2008. Epidural Hematoma in Children. Journal of
Neuroradiology.
Japardi I. 2005. Penatalaksanaan Cedera Kepala Secara Operatif. Bagian Bedah
Fakultas
Kedokteran
USU.
Didapat
dari
:
http://library.usu.ac.id/download/fk/bedah-iskandar%20japardi61.pdf
Liebeskind,
D.
2014.
Epidural
Hematoma.
Available
at:
http://emedicine.medscape.com/article/1137065-overview (Diakses pada
23 Maret 2015, 20:19)
PERDOSSI. 2006. Konsensus Nasional Penanganan Trauma Kapitis dan Trauma
Spinal. Jakarta: PERDOSSI Bagian Neurologi FKUI/RSCM, p. 9-11
Price, Sylvia A. & Lorraine M. Wilson. 2005. Patofisiologi : Konsep Klinis dan
Proses-proses Penyakit. Edisi 6. Jakarta : EGC
Sjamsuhidajat R, Jong WD. 2008. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3. Jakarta: EGC
Soertidewi, L., 2012. Penatalaksanaan Kedaruratan Cedera Kranioserebral.
Journal Continuing Medical Education. IDI -193/ vol. 39 no. 5. Available
at:http://www.kalbemed.com/Portals/6/05_193Penatalaksanaan
%20Kedaruratan.pdf. (Diakses pada 23 Maret 2015, 20:38)
Townsend, J., 2015. Gross Epidural Hematoma. University of Utah. Available at:
http://library.med.utah.edu/WebPath/CNSHTML/CNS020.html. (Diakses
pada 23 Maret 2015, 20:14)
Yahya, Rachmanuddin C. 2007. Artikel Kedokteran Radiologi : Epidural
Hematoma. Available at : www.jevuska.com/2008/01/09/epiduralhematoma/

13